
Happy Reading & Sorry For Typho
@miss_hoon
Memeriksa wajahku dua kali sebelum menyerahkan cermin pada Nammie. Hari ini kami melakukan perjalanan ke Goyang, disana Laura membuka store baru di Starfield. Salah satu pusat perbelanjaan yang masih berada di bawah Coex. Untungnya hari ini bukan hanya aku, tetapi juga ada So Ae perwakilan dari Coex dan Junsu, salah satu Idol Pria yang juga jadi Brand Ambassador Laura.
Para pengunjung, khususnya penggemar Junsu sudah memadati pintu masuk starfield. Para wanita penggila idol memang tidak bisa dikalahkan. Mereka membawa berbagai macam poster, lightstick, boneka dan pernak pernik Idol.
Ada staff starfield yang menjemput kami untuk melewati pintu khusus menuju ruangan yang sudah disediakan sebelum ke store Laura. Disana sudah ada tim marketing Cho Corp yang sedang bersiap.
Aku menunduk memberi salam. Mereka memintaku menunggu So Ae dan Junsu. Jadi kami bisa masuk bersama.
Dari sini aku bisa mendengar teriakan pengunjung yang begitu ramai. Jelas mereka datang untuk melihat Idol, dan bukannya untuk berbelanja.
Tidak butuh waktu lama. Selang dua menit So Ae memasuki ruangan. Wanita itu masih terlihat cantik di umurnya yang sudah kepala empat. Dia tersenyum ramah padaku dan memberi salam.
“Senang bertemu denganmu, Park Hyura ssi.” sapanya. “Kurasa mulai sekarang kita akan lebih sering bertemu.”
Aku mengangguk. “Ya, mohon bantuannya untuk kedepannya.”
Suara tawanya yang renyah membuat beberapa orang staff lain ikut tersenyum. Tidak heran dia dijuluki malaikat negara ini. “ Kau terlalu sungkan.”
Kemudian tidak lama Junsu bersama dua pria lain, yang kutebak sebagai pengawalnya一masuk. Dia pria tinggi, kurus dengan rambut pirang dengan wajah seperti lukisan dewa. Wajahnya sempurna. Mata jernih, alis tajam, hidung tinggi dan bibir yang membuatmu ingin menyentuhnya.
Seolah dia diciptakan tanpa kekurangan apapun. Tidak heran penggemar wanitanya sangat banyak.
Aku pernah melihat Junsu di televisi, atau iklan di berbagai tempat. Tapi baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Hingga tanpa sadar aku berkata. “Astaga, kau sangat tampan.”
Dan semua orang di ruangan itu tertawa mendengarku.
Termasuk Junsu.
Dia tersenyum malu-malu. “Terima kasih.” katanya. Dan aku tidak bisa tidak terpesona dengan suaranya yang merdu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana luar biasanya dia saat menyanyi.
“Salam kenal, Aku Jun Junsu.” dia menunduk dalam padaku dan So Ae. “Senang bertemu kalian dan mohon kerja samanya.”
Aku menunduk membalasnya. Begitu juga dengan So Ae.
“Baiklah.” kata seorang wanita dengan berkemeja hitam. “Aku Yuujin dari Laura dan Cho Corp.” Dia merentangkan tangan ke arah pintu. “Sudah waktunya. Silahkan Nona So Ae terlebih dulu lalu di ikuti Junsu dan Nona Hyura.” Katanya. “Di luar akan ada beberapa tim keamanan dari starfield yang akan membantu. Info dari pihak mall pengunjung sangat diluar dugaan.”
“Aku tidak masalah.” kataku.
“Ya, aku juga.” So Ae menimpali.
“Aku membawa dua pengawal. Jadi seharusnya kami aman.” sahut Junsu.
“Bagus sekali.” Yuujin membuka pintu dan mempersilahkan kami berjalan keluar.
~~~
Aku belum pernah berada disituasi seperti ini sebelumnya. Terlalu banyak orang, terlalu berisik dan terasa sesak.
Keamanan Starfield membuka jalan untuk kami agar bisa masuk ke Laura, juga menjaga disekitar kami. Tapi dorongan dan antusiasmu pengunjung benar-benar tidak terbendung. Aku kesulitan berjalan meskipun pihak keamanan membantuku. Sialnya aku berada di paling belakang dan Butuh usaha ekstra sampai kurasakan Nammie di belakang mendorongku keras agar bisa masuk.
“Nona Hyura, kau baik-baik saja?” Yuujin berteriak ditengah kebisingan, dia melihatku hampir terjungkal kedepan saat Nammie mendorongku tadi.
Aku mengangguk sambil merapikan gaun dan rambutku. “Ya, aku baik-baik saja.” Sahutku tak kalah keras “Aku tidak tau pengunjungnya akan sebanyak ini.”
Yuujin mengangguk kepada keamanan untuk menutup pintu kaca, dengan begitu suara berisik dari luar sedikit teredam.
Lalu Nammie berhasil masuk. Dia masuk susah payah dengan menunjukan kartu manajer pada petugas keamanan di pintu.
“Gila.” katanya terengah-engah. “Ini bahkan bukan jumpa penggemar.”
“Kau oke?” tanyaku.
Dia menghela nafas kasar. “Yah, seharusnya aku memanggil Minhyuk tadi.”
Aku menepuk bahu Nammie. Mengisyaratkan agar dia menenangkan diri.
Kemudian Yuujin meminta kami berdiri di undakan yang di buat panggung kecil dengan latar belakang logo Laura. Para wartawan yang sudah bersiap sejak tadi mengambil banyak foto kami. Tidak ada wawancara atau semacamnya semuanya hanya untuk dokumentasi pembukaan store. Awalnya mereka ingin membuka storenya namun melihat pengunjung yang terlalu banyak, tim Cho Corp memilih untuk menutup pintu kaca dan kami hanya melambaikan tangan dari dalam.
Meskipun di dalam aku mendengar teriakan-teriakan para penggemar wanita meneriakkan nama Junsu. Kemudian mataku menangkap salah satu poster yang bertuliskan. JUNSU MENIKAHLAH DENGANKU.
Setelah acara foto selesai tim marketing Cho Corp membagikan sedikit kudapan pada kami. Aku memperhatikan Junsu yang tidak berhenti tersenyum sambil melambaikan tangan. Puluhan ponsel kamera mengarah padanya di luar.
Para Fangirl memang luar biasa.
Kemudian ada seorang pria tinggi tegap dengan seragam keamanan starfield menghampiriku. Dia menunduk sopan sebelum berbicara. “Nona Park, untuk keamanan, sebaiknya nanti anda menunggu disini terlebih dulu sebentar sebelum keluar, menunggu para penggemar di luar pergi.”
“Aku mengerti,” kataku. “Terima kasih.”
Dia mengangguk, lalu kembali berdiri disudut. Tapi dari yang kulihat dia terus mengawasiku.
Itu aneh dan…. tidak nyaman.
“Nona Hyura…” So Ae mengalihkan perhatianku. Kami berbicara banyak, khususnya pengalamannya sebagai ambassador Coex selama tujuh tahun berturut-turut. Kami juga membicarakan filmku, lalu filmnya dan dia juga bercerita bagaimana dia menyeimbangkan karir dan keluarga. Secara tidak langsung dia memberikanku saran yang sebenarnya tidak kubutuhkan. Well, aku tidak berniat hamil dalam waktu dekat apalagi dengan Kyuhyun.
Di akhir sesi, kami berfoto kembali. Dan karena ketampanan Junsu, aku memintanya untuk berswafoto denganku. Lalu dia berjanji akan mengirimkanku album terbarunya.
Saat acara berakhir Yuujin meminta kami membentuk barisan seperti saat kami datang tadi, agar tim keamanan bisa dengan mudah mengawasi saat nanti berjalan keluar. Aku hendak keluar dari barisan, karena sepertinya percuma. Aku akan kesulitan berjalan lagi seperti tadi. Lebih baik mengikuti saran si petugas keamanan untuk tinggal saja lebih lama di Store Laura.
Namun disaat yang bersamaan Nammie menarik tanganku untuk berdiri di belakang Junsu.
“Apa yang kau lakukan! Ayolah! jangan sampai tertinggal.”
“Sebaiknya….”
“Nona Park,” tegur Yuujin agar aku mengikuti arahannya.
Junsu menoleh, dia ikut menarik tanganku yang lain. “Noona, ayo dibelakangku.”
Dan begitu kusadari aku kembali pada formasi awal. Berdiri di bagian belakang, namun kali ini Nammie di sisiku, jadi kurasa aku akan aman.
Yuujin memberikan aba-aba, lalu pintu terbuka dan aku merasa diserbu tsunami dalam bentuk manusia.
Tanganku mencoba menggapai Nammie saat berjalan, tapi begitu banyak tubuh, sentuhan kasar, teriakan dan dorongan brutal. Aku tidak bisa bernafas, aku tidak bisa merasakan kakiku menyentuh lantai, aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri, meskipun aku berteriak.
Kurasa inilah yang dirasakan Jon Snow saat melawan Ramsey. Tekanan tidak berujung, tak terkendali, aku bahkan tidak bisa mengendalikan tubuhku dan dunia rasanya berputar. Sekelilingku menjadi buram lalu nyeri hebat dipunggung, kaki dan tangan. Sampai kurasakan dorongan itu berhenti. Dan tiba-tiba teriakan-teriakan itu teredam…. menjauh.
Apa yang terjadi?
“Nona Park,” Seorang pria dengan penampilan klimis dan berjas, berjongkok di sisiku.
Aku membuka mata. Menunduk dan melihat posisiku yang jatuh terduduk dan hampir rebah dengan dada. Melirik kebelakang, sepatuku hilang sebelah, gaunku rusak dibagian bawah dan tersingkap hingga pangkal paha. Seharusnya aku baru-buru merapikan penampilanku berhubung sekarang aku berada di depan umum namun posisiku saat ini seperti berada di dalam cangkang.
Sekelilingku bukan para penggemar gila lagi melainkan punggung orang-orang berbaju hitam. Mereka berdiri seperti perisai, seperti sedang melindungiku. Aku bahkan tidak peduli siapa mereka. Aku hanya ingin ada yang menolongku untuk keluar dari sini.
Aku berusaha bangun saat pria didepanku berteriak “Kursi roda!”
“Aku….” Ucapanku terpotong karena nyeri hebat dipunggungku saat berusaha duduk.
“Nona, Anda baik-baik saja?”
Aku menggeleng sambil meringis menahan sakit.
Wajah pria yang tidak kutahu namanya ini berubah panik. Dan dalam sepersekian detik dia mengangkatku, membawaku di dadanya. Aku tidak sempat protes karena tindakannya yang tiba-tiba, dia bergerak dengan cepat dan berteriak “Lindungi kami!”
Perisai orang yang mengelilingi kami bergerak mengikuti langkah kaki menjauh dari sana. Aku tidak bisa melihat karena pandanganku tertutup orang-orang berjas itu. Tidak jauh, hanya beberapa langkah sampai kami tiba di pintu salah satu ruangan yang entah dari mana muncul seperti ruang kebutuhan di Hogwarts.
Si Pria klimis menurunkanku di sofa kulit berwarna hitam. Ruangan itu persis seperti ruang kerja para petinggi yang kulihat di drama-drama. Meja besar, dengan dua layar komputer saling sejajar, rak dokumen di setiap sisi dinding, mesin kopi dan sofa besar panjang yang kududuki.
Pria itu berbicara. “Apa aku perlu memanggilkan dokter atau….” Ucapannya terhenti saat pintu di depanku terbuka kasar. Lee Donghae berdiri disana dengan dada naik turun, seperti habis berolahraga.
Apa yang dia lakukan disini?
Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku belum selesai menata hatiku, kata-katanya yang menyakitkan masih begitu jelas terekam dikepalaku, dan bertemu secepat ini hanya akan membuatku goyah.
Donghae tidak melihatku melainkan melihat pria disampingku.
“Apa yang terjadi?” tanyanya menuntut.
Si Pria klimis terlihat gugup. “I..itu… sepertinya…” dia tergagap. “Petugas keamanan tidak…”
“Oppa.” Aku memotongnya.
Mata sendu Donghae menemukanku. Cemas, khawatir dan kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Dia berjalan perlahan lalu berjongkok di depanku. Rahangnya mengerat saat menunduk melihat gaunku yang rusak dan sepatuku yang tinggal sebelah.
Aku yakin dia juga melihat gelang 100 yen pemberiannya di tanganku. Dalam hati aku memarahi diri sendiri. Seharusnya aku melepasnya sejak lama, apa sih yang kupikirkan? Donghae bisa saja berpikir ya tidak-tidak.
Namun semua kekhawatiran itu lenyap saat dia bertanya dengan lembut.
“Hyura-ya, Apa ada yang sakit?”
Aku mengangguk. “Sepertinya ada yang menginjak punggungku.” sahutku.
Donghae melirik pria klimis lagi, tapi kali ini lebih tajam. Sementara dia hanya menunduk dalam.
“Ada lagi yang sakit?”
Aku menggeleng.
Donghae berdiri sambil berkata. “Sebentar tim medis akan mengobatimu, tunggu disini.” Dia menatap pria yang sejak tadi menunduk lalu berbalik berjalan ke pintu diikuti si pria klimis.
Mulutku terbuka untuk memanggilnya tapi kuurungkan niatku. Tidak ada yang bisa kami bicarakan dan aku tidak memiliki hak untuk menahannya disini. Dia membantuku itu hari ini sudah cukup membebani.
Begitu pintu tertutup, samar-samar aku masih bisa mendengar suaranya.
“Aku memintamu menjaganya, dan lihat apa yang kau lakukan?” itu suara Donghae.
“Maaf Direktur Lee.” Itu suara si pria klimis. “Aku sudah meminta tim keamanan untuk mengawasinya tapi…”
“Apa disini aku meminta penjelasannmu?” potong Donghae tajam.
“Tidak, Direktur. Ini sepenuhnya salahku, aku bersedia menerima hukuman.”
Dahiku berkerut. Apa dalam bekerja Lee Donghae seperti ini?
“Untungnya dia tidak terluka parah, atau sebaiknya besok aku menerima surat pengunduran dirimu.”
“Baik, Aku mengerti Direktur Lee.”
***
Di Van saat perjalanan pulang aku meminjam tablet Nammie dan membuka beberapa portal berita hari ini.
Acara pembukaan Brand Fashion berakhir ricuh.
Penggemar Junsu terluka saat acara pembukaan Brand Fashion.
Aku menggulir layar ke samping, membaca judul-judul artikel yang terbit beberapa jam pasca kejadian.
Starfield sepenuhnya bertanggung jawab atas terlukanya beberapa penggemar.
Junsu meninggalkan pesan mendalam untuk para penggemarnya yang terluka di SNS.
Tidak ada namaku atau So Ae, semuanya hanya berita Junsu dan penggemarnya, juga tidak ada gambarku yang terjatuh. Benar saat aku jatuh aku yakin sekali dikelilingi orang-orang berjas hitam. Tidak mungkin ada yang sempat mengabadikannya.
Mungkinkah Lee Donghae yang memerintahkannya?
Tapi kenapa?
Aku bukan siapa-siapa, baginya aku hanya artis kelas dua yang beruntung karena sokongan keluarga Kyuhyun. Dia tidak mungkin repot-repot menyuruh orang untuk menjagaku.
Tapi…
Aku masih ingat ekspresinya saat menemukanku tadi. Dia terlihat begitu…Khawatir. Seolah-olah keselamatanku sangat penting.
Tidak mungkin dia benar-benar mencemaskanku kan?
“Hyura-ya….” Panggil Nammie cemas.“Punggungmu masih sakit?”
Aku menggeleng dan mengembalikan tablet padanya.
“Kau yakin? raut wajahmu tidak mengatakan begitu.” Nammie menatapku menyelidik. “Jangan menyembunyikan apapun Park Hyura, kalau terjadi sesuatu padamu si Tuan Muda akan memarahiku lagi.”
“Aku baik-baik saja dan一” aku meliriknya memperingatkan. “Berhenti memanggil suamiku Tuan Muda. Itu terdengar menggelikan.”
“Oh ya?” sudut mulutnya bergetar saat berbicara lagi. “Jadi sekarang kau memanggilnya suamiku?”
“Lalu apa aku harus memanggilnya istriku?”
Nammie terkekeh. “Kalian suami istri sangat kompak.” katanya. “Dulu sebelum menikah dia selalu memanggilmu tunanganku, sekarang istriku. Aku juga tidak menyangka kau memanggilnya begitu.”
“Dia… bilang begitu?” sejujurnya aku tidak benar-benar percaya.
“Apa kau senang?” Dia mendengus. “Asal kau tau, aku sangat, sangat, membenci suamimu.”
“Tidak, aku tidak senang. Kurasa kaulah yang harusnya senang karena Kabar baiknya dia juga merasakan hal yang tentangmu.” aku tidak tau harus bereaksi bagaimana dengan hubungan Kyuhyun dan Nammie, mereka memang seperti anjing dan kucing.
Nammie memberikan ekspresi jijik.
Lihat, Kucing dan anjing.
“Ngomong-ngomong soal Kyuhyun,” kataku, “Kau tidak mengatakan apa-apa kan mengenai hari ini?”
“Meskipun aku tidak mengatakannya kau pikir dia tidak akan tau.” Nammie mencibir. “Tim dari Cho Corp pasti melaporkan padanya. Kuharap dia akan menegur Starfield. Ini semua gara-gara mereka tidak mempersiapkan tempat dengan baik.”
Untuk masalah itu aku setuju.
Tapi kurasa Starfield pasti juga mendapat teguran dari Coex, mengingat ada Lee Donghae tadi di sana.
“Nammie-ah,” panggilku ragu-ragu.
Nammie melihatku menunggu.
“Itu…menurutmu.” aku berpikir untuk menggunakan kata-kata yang tepat. “Bagaimana kita bisa tau kalau seseorang peduli atau mungkin menyukai kita? Maksudku memiliki perasaan istimewa.”
“Tanya saja langsung.” sahutnya menyarankan.
“Langsung bertanya?” tanyaku bingung.
Nammie mengangguk. “Ya kalau kau penasaran. Kurasa Kyuhyun akan menjawabnya.”
Dahiku berkerut. “Kenapa kau menyebut namanya? apa disini aku membicarakan Kyuhyun?”
Nammie menegakkan tubuhnya, sepenuhnya menghadapku. “Memangnya kau tidak membicarakan dia?”
Menghembuskan nafas kasar. “Tidak sama sekali, Nona Han Nammie.”
“Wow.” dia terlihat lebih antusias dari sebelumnya. “Ini baru. Kalau begitu katakan, apa kau menduga ada seseorang yang menyukaimu?”
Aku mengangguk.
“Dan kau ingin tau bagaimana perasaan orang itu yang sebenarnya?”
Aku mengangguk lagi.
Nammie berhenti sejenak. Dia melihatku hati-hati. “Dan dia bukan Kyuhyun.”
Memutar mataku bosan. “Sudah kubilang tidak ada hubungannya dengan Kyuhyun.”
“Oke,” Dia mengangguk. “Itu bagus, Kyuhyun itu bajingan sombong dia….”
“Han Nammie.” Potongku. “Bisakah kita fokus?”
“Oh maaf.” katanya. “Lupakan ucapanku soal bertanya langsung, karena kata-kata seseorang belum tentu mencerminkan perasaan yang sebenarnya.”
Aku mengangguk setuju. Selama ini Donghae adalah orang yang lembut, prilakunya hari ini membuktikan bahwa dia masih peduli padaku dan tidak mungkin mengatakan hal-hal buruk di belakangku.
“Kau bisa melihat reaksinya padamu.” saran Nammie. “misalnya saat kau berbicara padanya, apa dia mendengarkan atau mungkin tertarik pada apapun yang kau bicarakan seberapa membosankannya itu.” Dia memajukan duduknya, menatapku lebih serius. “atau kalau mau lebih ekstrim buat orang itu cemburu. Lihat bagaimana reaksinya saat kau bersama orang lain.”
Bahuku merosot.
Aku sudah tau jawabannya.
Lee Donghae sudah sering melihatku bersama Kyuhyun dan dia tidak bereaksi apapun. Tentu saja kami ini kan suami istri. Semua orang di negara ini tau hal itu.
Mungkin sikapnya hari ini hanya kepedulian seorang teman. Dan bukannya rasa suka yang selama ini kuharapkan.
Sepertinya aku terlalu banyak berharap.
***
Pikiran mengenai Lee Donghae menyelubungi otakku seperti gurita sepanjang sore. Setelah kembali ke rumah, aku menghabiskan satu jam pertama hanya memandangi jendela. Padahal aku memiliki empat skrip drama yang harus kubaca dan harus segera kuputuskan untuk memilih yang mana.
Tapi skrip manapun tidak menarik lagi buatku. Pekerjaan ini juga tidak menarik lagi. Sekarang aku tidak memiliki alasan kenapa aku harus mempertahankan karirku.
Tanganku meraba gelang pemberian Donghae. Hari ini dia melihatku memakainya. Saat hari pertama bertemu juga dia melihatku, bahkan saat acara pertunanganku dia juga melihatnya. Namun hingga saat ini dia tidak mengatakan apapun. Bisa jadi dia sendiri lupa bahwa dia pernah memberikannya padaku.
Memalukan.
Dengan perasaan teramat berat aku melepas kaitnya.
Gelang 100 yen yang sudah berada di sana kurang lebih delapan tahun.
Berdiri dengan kakiku lalu memasukkan benda itu ke laci nakas. Menutupnya rapat, seperti aku menutup dan menyudahi perasaanku.
Tidak mudah, aku menatap laci itu selama beberapa menit. Tergoda untuk membuka dan memakainya lagi. Namun disaat yang bersamaan pintu kamarku di ketuk dan suara Kyuhyun memanggilku.
“Hyura, kau di dalam?”
Dengan langkah malas aku membukakan pintu. Melongok melalui celah pintu.
Dia masih memakai baju kerja, sepertinya dia baru saja masuk.
“Oh, Kau sudah pulang.” sapaku.
Kyuhyun melihatku dari atas sampai bawah, seperti mesin laser yang memindai tubuh.
Otomatis membuatku menggeliat tidak nyaman dan memindahkan kakiku dari satu kaki ke kaki yang lain.
Aku berdehem. “Ada apa?”
Tatapannya yang menyelidik terasa lebih menusuk saat dia bertanya. “Kudengar ada kejadian buruk di pembukaan store, apa kau baik-baik saja?”
Mengangkat bahu acuh. “Aku tidak apa-apa. Seperti di berita, hanya penggemar yang terluka.”
Tidak ada Tim dari Cho Corp yang tau aku terjatuh, Lee Donghae melindungi privasiku dengan baik. Bawahan si Pria klimis itu juga hanya memberi tau Nammie dimana keberadaanku dan setelah itu mereka tetap mengawal kami sampai ke Van.
Kyuhyun tidak perlu mengetahui hal yang tidak perlu.
Kami tidak sedekat itu.
Dia mengangguk. “Kau sudah makan?”
“Aku sedang diet.” aku berbohong. Aku kelaparan tapi moodku terlalu buruk bahkan untuk makan.
“Di kulkas tidak ada makanan diet,” katanya setengah curiga. “Kau tidak pernah makan dirumah?”
Aku mendesah berat. “Bisakah kau jangan ganggu aku? aku lelah.”
Kyuhyun menatapku selama dua detik sebelum akhirnya dia mengangguk dan mundur dari pintu sebelum aku menutupnya.
***
“Dari mana kau mempelajarinya?”
Sehelai rambut coklat Kyuhyun jatuh di dahinya saat dia menunduk memakan roti lapis daging miliknya. Kalau boleh kukatakan ini roti lapis terenak yang pernah kumakan. Kyuhyun menggunakan mayonaise buatan sendiri yang membuatnya berbeda.
“Dari Youtube.” sahutnya tanpa melihatku.
Ini pertama kalinya kami sarapan bersama semenjak menikah. Saat bangun tidur aku menemukan Kyuhyun sudah berada di meja makan lengkap dengan sarapan buatannya.
Dia juga sudah rapi. Dengan setelan berwarna hitam seperti biasa.
“Itu hebat.” kataku sambil menggigit roti milikku. “Kau bisa membuatnya hanya dengan menonton. Aku tidak memiliki kemampuan seperti itu.”
Dia mendongak, senyum sombong terukir di sudut bibirnya. “Bahkan jika ada yang mengajarimu kau belum tentu bisa membuatnya.”
“Aku menarik kata-kataku barusan.”
Dia tertawa, maksudku benar-benar tertawa. Ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa tanpa senyum sinis atau seringaian sombongnya. Dan bohong jika kukatakan aku tidak menyukainya.
“Kau tidak perlu membuat apapun, Hyura-ya. Kau hanya perlu memintanya dan aku akan membuatkannya untukmu.”
Seharusnya itu terdengar seperti rayuan murahan, tapi aku tergoda untuk membalasnya.
“Aw, itu sangat manis, suamiku.”
Kyuhyun tersedak makanannya, matanya melebar dan batuk keras. Aku tidak bermaksud jahat tapi reaksi terkejutnya membuatku terhibur jadi aku tertawa sambil menyodorkan segelas air.
“Minumlah, sebelum aku harus memanggil ambulan.”
Dia meneguk air banyak-banyak masih sambil terbatuk. Aku berdiri dan membantu menepuk pelan punggungnya.
“Ayolah, Kyu, sangat tidak keren kalau aku menjadi janda karena suamiku mati tersedak.” kataku dengan nada menggoda. Dia melotot dari bahunya dan justru membuat tawaku semakin keras.
Dengan kasar dia menyingkirkan tanganku dari punggungnya. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti dan menatapnya seperti orang tolol. Air di gelasnya sudah habis dan tanpa berpikir dia mengambil gelasku dan meminumnya. Kurasa dia juga tidak sadar saat melakukannya.
Kyuhyun sering memegang tanganku ataupun bergandengan dan tak terhitung berapa kali kami melakukannya. Lebih sering di depan umum, jarang sekali kami bersentuhan saat tidak ada siapa-siapa yang harus kami berikan pertunjukan.
Meskipun kami sering bersentuhan, tapi belum pernah berbagi barang dari mulut ke mulut. Bukankah itu seperti ciuman?
“Aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda semudah itu, kau tau itu.” katanya mengalihkan perhatianku. Dia mengusap mulutnya dengan tisu sebelum berdiri.
“Kau sudah melihat jadwalmu hari ini?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Bagus,” katanya. “Sampai ketemu nanti malam kalau begitu.” dia melewatiku menuju ruang depan dan keluar.
Malam ini ulang tahun Grup Han, ini pertama kalinya kami akan pergi bersama ke acara publik setelah menikah. Selain itu semua keluarga Cho akan datang. Jadi perkataan Kyuhyun barusan menyiratkan agar aku bisa mempersiapkan diri dengan baik.
***
Perancang Pierce memilihkan gaun panjang tanpa lengan berwarna pink salem, dengan leher berbentuk V, belahan panjang hingga keatas lutut dan terbuka di bagian punggung. Sebenarnya itu tidak masalah, sama sekali. Tapi kemarin punggungku di injak oleh seseorang dan meninggalkan bekas disana.
“Kita tidak bisa memakai gaun itu.” Kata Nammie dari sebrang ruangan. Dia duduk di sofa sambil menyilangkan kaki dan menilai penampilanku seperti juri American Model.
April, pekerja dari Pierce一yang sekarang berdiri di sisiku terlihat tidak setuju. “Kenapa? Gaun ini bagus, lagipula ini pilihan terbaik dari kami.”
Nammie melihat April seolah dia sudah gila. “Dan memamerkan luka memar sebesar itu? Yang benar Saja!”
Dahi April berkerut. “Rambut Nona Hyura cukup panjang untuk menutupinya.”
“Apa kau pikir rambutnya jubah Harry Potter?” Nammie mulai kehilangan kesabarannya. “Jika ada seseorang yang melihatnya maka akan ada banyak spekulasi yang muncul, terlebih lagi ini acara besar.”
April mendengus. “Mengganti gaun tidak semudah itu. Kami harus menghubungi Tim Pemasaran Cho Corp dan meminta persetujuan mereka. Lagipula Hanya acara ulang tahun bukan acara penghargaan.”
Nammie ingin membalas dengan keras, tapi aku mencegahnya dengan cepat. “Kalian berdua,” Kataku. “Ini bukan masalah besar.” aku memutar tubuh dan melihat pantulan punggungku melalui cermin. Memang benar ada sedikit bengkak dan memar biru keunguan disana tapi tidak besar, kurasa rambutku bisa menutupinya. “Kurasa kita hanya membutuhkan concealer.”
Aku berpaling pada Nammie. “Kau membawanya kan?”
April tampak puas sementara Nammie masih terlihat tidak setuju namun dia tetap berdiri sambil berkata. “Kalau si Tuan Muda sampai tau dia akan membunuhku.”
Aku memutar mata. “Kau sangat berlebihan.”
“Kau belum pernah melihatnya memarahiku jadi kau tidak tau.” sahutnya kesal. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan tabung concealer. Dia menyampirkan rambutku ke samping lalu mengoleskannya. Aku tidak bisa mencegah tubuhku berjengit saat kuas menempel di kulit punggungku. Rasa nyerinya tidak bisa diabaikan.
Pantas saja semalam aku tidak bisa berbaring dengan punggungku, ternyata memang sesakit itu.
“Sakit?” tanyanya.
Aku menggeleng. Kurasa berbohong adalah cara paling cepat untuk masalah ini.
***
Tepat sebelum matahari tenggelam Kyuhyun menjemputku di Butik Pierce. Dia sudah mengganti setelan kerjanya dengan tuxedo hitam, persis seperti agen 007, pikirku. Namun dengan perawakan yang lebih lembut.
“Kau sudah makan?” tanyanya begitu kami masuk ke mobilnya.
Aku mengangguk sambil memasang sabuk pengaman.
“Jangan salah paham,” katanya. Dia menjalankan mobil. “Nanti akan ada banyak alkohol disana, akan buruk kalau kau meminumnya saat perutmu kosong dan aku tau seberapa jauh toleransimu.”
Aku mendengus. “ Kau terlalu meremehkanku.”
Lagu cardigan oleh Taylor Swift berputar di radio sebagai latar belakang kami.
“Benarkah” Dia melirikku sekilas. Lampu jalan menyinari wajahnya saat dia mengangkat sebelah alis. “Kurasa kita tidak akan pernah berakhir di tangga darurat kalau kau punya kemampuan minum yang baik.”
Seharusnya itu sindirian, tapi aku justru menangkap bahwa Kyuhyun justru menyukainya
Dan entah untuk alasan apa aku ingin menggodanya lagi. Jadi aku berkata dengan nada takjub. “Ya ampun, Suamiku selalu mengingat pertemuan dramatis kami, aku sangat tersentuh.”
Aku melihat sudut mulutnya bergetar.
“Akui saja kau memang tidak bisa melupakannya.” kataku lagi.
“Sulit, jujur saja.”sahutnya. “Kalau kau dimuntahi dan di serang oleh orang yang tidak dikenal.”
Memiringkan dudukku dan menatapnya tidak setuju. “Aku tidak menyerangmu dan aku tidak muntah!”
Seringaian sombong itu muncul lagi. “Kau bisa menanyakannya pada managermu yang tidak kompeten itu kalau kau tidak percaya.”
Aku ingin membalasnya keras tapi aku tau ego Kyuhyun terlalu besar untuk kulawan, jadi mengubah strategi. Meluruskan dudukku dan melipat tangan di depan dada. “Aku bertanya-tanya, seberapa besar perasaan seseorang jika dia menikahi orang yang sudah menyerang dan memuntahinya.” Aku berdecak sambil menggeleng kepala. “Orang itu pasti tidak bisa hidup tanpanya.”
Aku mendengar Kyuhyun mengumpat tertahan, dan tidak bisa menahan senyumku saat dia kehilangan kata-kata.
***
Aku tau kami akan menghadiri acara ulang tahun Grup Han. Tapi aku tidak tau maksudnya adalah keluarga Han Chaerin. Tunangan Lee Donghae.
Seharusnya aku tau saat Nammie mengatakan seluruh keluarga Kyuhyun akan datang pasti itu adalah Acara kerabat dekat mereka.
Sialan,
Park Hyura, kau seharusnya lebih bisa menggunakan otakmu.
Baru kemarin aku memutuskan untuk melepaskan perasaanku dan hari ini semesta seperti sedang mengujiku.
Di sana Lee Donghae berdiri sambil tersenyum dengan beberapa orang. Disisinya Nona Chaerin dengan gaun hitam mewahnya mengamit lengan Donghae dengan mesra. Mereka terlihat seperti pasangan serasi yang membuat iri siapapun.
Rasanya masih tidak mudah, masih tidak nyaman. Apalagi kemarin Donghae menatapku begitu cemas, khawatir dan sangat perhatian.
Kemudian pandanganku di halangi oleh Ibu mertuaku yang muncul entah dari mana. Dia tersenyum lalu memelukku. Pelukannya tidak kencang tapi aku meringis saat dia menekan punggungku yang sakit.
Eomonim menjauh sambil berkata dengan riang “Aku mencarimu sejak tadi. Kau baru sampai?”
Aku mengangguk.
Eomonim memakai hanbok berwarna biru langit cerah dengan motif bunga aster disekelilingnya. Hanbok itu sesuai dengan bentuk tubuhnya yang mungil.
Lalu Aboenim muncul di sisinya dan aku menunduk memberi salam.
Aboenim bertanya. “Dimana Kyuhyun?”
Aku menoleh ke kanan dan kekiri tapi tidak menemukannya. Sejak masuk tadi aku bahkan tidak sadar dia dimana. Aku terlalu sibuk meratapi orang kusukai.
“Mungkin sedang mengambil minuman.” sahutku tidak yakin.
“Dasar anak nakal.” Gerutu Aboenim. “Bagaimana mungkin dia meninggalkan istrinya sendirian.”
Eomonim mengamit lengan Aboenim sambil menenangkan. “Ayo, lebih baik kita menyapa ketua Han.”
Aboenim menggumam dan mengangguk sebelum berbalik. Eomonim mengedipkan matanya padaku sebelum mengikuti ayah mertuaku.
Aku berbalik dan mencari Kyuhyun. Tamu undangannya begitu banyak dan tidak ada yang kukenal. Sebagian besar karena semuanya pebisnis. Dan aku bukan bagian dari mereka.
Kemudian dari kerumunan aku melihat Jino berjalan dengan bahu merosot, wajah tertunduk.
Aku mendekat dan menyapa. Butuh dua detik baginya untuk menyadari bahwa aku yang berdiri di depannya.
“Oh,” Dia diam sejenak lalu menunduk memberi salam. “Kakak ipar.”
“Apa terjadi sesuatu?” tanyaku.
Dia mendesah dalam seperti orang yang mengalami hari yang sangat buruk. “Barusan Hyung menceramahiku di tengah pesta.” Dia menggeleng pasrah. “Aku seperti sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalannya.”
“Apa kau berbuat kesalahan atau semacamnya?”
Jino mendongak melihatku kesal. “Meskipun begitu dia tidak berhak menceramahiku di tengah pesta orang lain, lagi pula apa yang dia bicarakan sangat tidak masuk akal. Jelas sekali dia hanya mencari gara-gara denganku.”
Menggigit pipi dalamku mencegah agar aku tidak meringis. Bisa dibilang aku menjadi salah satu andil kenapa suasana hati Kyuhyun tidak begitu baik. Sejak aku mengatakan dia tidak bisa hidup tanpaku wajahnya berubah cemberut dan tidak tersenyum lagi sampai kami masuk ke ballroom.
Menepuk bahu Jino ringan. “Kuambilkan kau minuman.”
Aku berbalik dan menemukan pelayan yang membawa nampan-nampan champagne. Aku mengambil dua gelas dan kembali ke tempat Jino berdiri menungguku.
“Ini.”
Dia menerimanya dan langsung meminumnya hingga habis sebelum bicara lagi. “Dia bilang aku seharusnya mengirim pemberitahuan soal rencana pemasaran Q1 tahun depan yang seharusnya sudah diterima diawal bulan ini, aku bertanya kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini diluar kantor, kemudian dia justru menceramahiku soal integritas, disiplin sebagai karyawan. Apa-apaan?”
Aku mengangguk. Mengambil gelas kosong dari tangannya dan menukar milikku yang masih penuh. “Minumlah lagi.”
Dia meminumnya, dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
“Kau mau lagi?” tanyaku.
Jino mengangguk, memberikan gelas kosongnya padaku. “Ya, tolong.”
Aku memutar tubuh terlalu cepat hingga tidak melihat seseorang berdiri di belakangku. Tubuhku kehilangan keseimbangan dan hampir terjengkang, untungnya Jino dengan sigap menahan punggungku. Masalah lain, aku hampir menjerit saat dia menekan bagian yang terluka. Sial, itu sangat sakit.
Aku buru-buru menegakkan tubuh dan menyingkirkan tangannya dari punggungku.
Beberapa orang disekitar kami berkerumun seperti aku dan Jino melakukan pertunjukan sirkus. Ya Ampun.
“Aku tidak apa-apa.” kataku cepat meyakinkan orang-orang itu dan meminta mereka menyingkir.
“Hyura….” Jino ingin bertanya namun tiba-tiba ada yang meraih lenganku, memaksa tubuhku berputar dan menghadapnya.
“Kyuhyun-ah?” aku hampir menubruk dadanya jika dia tidak menahan bahuku.
Kyuhyun melihatku menyelidik “Kau jatuh?”
Aku menggeleng. “Hampir, tapi Jino memegangiku. Tidak apa-apa. Bukan masalah besar.”
Dia terlihat tidak percaya. “Benarkah?”
Aku mengangguk.
“Tidak, sepertinya Kau terluka.” Jino menimpali dari samping. Dia menatap Kyuhyun. “Hyung, Sebaiknya kau periksa dulu.”
Aku melirik Jino. Bisa-bisanya dia mengadu.
“Kita keluar dari sini.” Kyuhyun menarikku ke arah pintu.
“Aku benar-benar tidak apa-apa.” kataku pelan sambil mengikutinya ke luar.
Kami berjalan ke depan lobi hotel, aku tidak tau dia mau membawaku kemana, namun aku menahan tangannya begitu kami mengarah ke bagian check in.
Aku bertanya. “Hei, kita mau kemana?”
Kyuhyun memandangku bingung. “Mengecek lukamu, memangnya apa lagi?”
“Kita bisa ke toilet wanita, kenapa harus memesan kamar?”
Dia melihatku seperti orang tolol. “Dan menurutmu apa aku bisa memeriksamu disana?”
Menarik tanganku dari genggamannya, melipatnya di depan dada. “Aku tidak butuh kau memeriksaku, aku baik-baik saja, aku tidak terluka. Jangan berlebihan.”
Kyuhyun ingin membalasku tapi dari sudut mata aku melihat Lee Donghae melintasi pintu putar dan berjalan ke arah kami. Aku tidak sempat berfikir saat menubruk tubuh Kyuhyun dan memeluknya erat.
Kyuhyun tidak kalah terkejut, begitu juga denganku. Aku tidak tau aku bisa senekat ini.
“Hyura-ya….” suara Kyuhyun sarat akan kebingungan.
“Peluk aku.” bisikku kasar.
“A…apa?”
“Cepatlah!”
Kurasakan tangan Kyuhyun terangkat membalas pelukanku. Untungnya dia meletakkan tangannya dipinggangku dan tangan yang lain dibahuku.
Menelengkan kepala ke samping一memastikan posisi kami tepat dan Lee Donghae melihat kami. Tapi dia tidak disana.
Sial, dimana dia?
Kyuhyun menundukkan kepalanya, berbisik di telingaku. “Hyura-ya, ada apa?”
Aku tau dia kebingungan, tapi aku membutuhkannya untuk menguji teoriku, saran Nammie lebih tepatnya.
Menjauhkan kepala tanpa melepas pelukan kami, berjinjit untuk melihat ke balik punggung Kyuhyun. Dan…dia disana. Lee Donghae berjarak 3 meter dari kami dan sedang terpaku melihatku dan Kyuhyun.
Bagus.
Aku tau ini gila, tapi aku tetap bertanya. “Kyu…” aku menatapnya dengan mata melebar一memohon. “Bisakah kau menciumku?”
Mata coklat Kyuhyun membulat, dahinya berkerut dalam, kurasakan debaran jantungnya di dadaku. Bukan, sepertinya itu milikku. Entahlah.
“Apa?” dia melihatku seolah aku sudah gila. Kurasa memang begitu.
Dia mendorong bahuku untuk menjauh, tapi aku mengunci tanganku dipunggungnya. Jangan harap aku akan melepaskannya sebelum dia menciumku.
Matanya melebar, “Apa-apaan sih?” dia masih berusaha mendorongku menjauh. “ Park Hyura!”
Aku berbisik lebih lembut, dia tidak boleh terus mendorongku dan pasti akan terlihat aneh.
“Satu ciuman, Kyu. Hanya itu. Setelah itu aku berhutang padamu.”
Itu berhasil. Kyuhyun berhenti mendorongku.
Aku menarik dan melingkarkan tangannya di bahuku lagi. “Dan jangan lepaskan pelukanmu, Aku kedinginan.”
“Aku tidak akan melakukanya.” Kata Kyuhyun tapi dia tetap memelukku lebih erat. “Tidak ada alasan kenapa kita harus berciuman.”
“Tentu saja ada.” sahutku tidak menyerah. “Kita suami istri, ciuman itu hal yang wajar.”
Dia menjawab di balik giginya. “Kau hanya ingin pertunjukkan, dan aku benci pertunjukan. Aku tidak akan melakukannya.”
“Tapi, Kyu…” aku menggeram tertahan saat dia mengeratkan pelukannya dan tanpa sengaja menekan punggungku. Dia menyadari perubahan ekspresiku jadi dia menekannya lagi. Kali ini di sengaja.
“Oke, hentikan!” Bentakku, karena itu menyakitkan.
“Kau terluka.” itu bukan pertanyaan. Dia melepas pelukannya dan memaksa melepas kaitan tanganku di punggungnya. “Sudah periksa ke rumah sakit?”
“Dokter sudah memeriksanya.” sahutku enggan.
“Aku bertanya apa kau sudah ke rumah sakit, Park Hyura?”
Aku mendesah berat. “Dokter sudah memeriksaku, dan ini hanya luka memar biasa, jangan berlebihan.”
Kyuhyun berdecak. Dia melepaskan jasnya lalu memakaikannya padaku sembari bertanya lagi “Katakan kau sudah mengobatinya.”
Menatap lantai, menolak melihatnya. “Aku akan mengobatinya nanti.”
Kyuhyun tidak mengatakan apapun sampai aku harus mendongak. Dia melihatku tanpa ekspresi kemudian menggeleng lemah. “Bagaimana kejadiannya?”
Aku tidak ingin membicarakan insiden di mall kemarin, atau kemungkinan besar aku akan menyebut Lee Donghae.
Astaga! Lee Donghae! Bagaimana mungkin aku melupakannya.
Menoleh kekanan dan ke kiri, lalu melongok ke balik bahu Kyuhyun. Tapi dia tidak di sana. Sial, Sejak kapan dia menghilang. Sampai dimana tadi dia melihatku dan Kyuhyun.
“Park Hyura!” Kyuhyun menjentikkan jarinya di depan wajahku, membuatku mengerjap dua kali.
“Oh…” kataku ragu. “Kemarin aku terjatuh.”
Dahinya mengerut. “Jatuh? bagaimana bisa? Jatuh dimana?”
Aku mendekat hingga tubuh kami hampir menempel lalu berbicara pelan. “Bisakah kita membicarakannya di rumah? kau tidak bisa mengintrogasiku disini.”
Kyuhyun melihat sekeliling. Dia tau aku benar, karena kami berada di lobby hotel yang ramai. Dan aku yakin dia tidak ingin kami menjadi tontonan karena masalah rumah tangga.
“Kita pulang saja kalau begitu.” Kyuhyun menarik tanganku lagi tapi aku menahannya.
“Acaranya belum dimulai, itu tidak sopan.” kataku. “Lagipula kau berteman dengan Han Chaerin, bagaimana mungkin kau pergi ditengah acara penting keluarganya.”
“Acara ini tidak penting, Chaerin tau itu. Dan dia akan mengerti saat aku menjelaskan kalau kau sakit.”
Menarik tanganku dari genggamannya lalu melepas jas Kyuhyun. “Aku tidak sakit. Kau terlalu membesar-besarkan.” mengembalikan jasnya, dia menerimanya. “Kita bisa disini sampai acara utama selesai, bagaimana?”
Kyuhyun terlihat enggan, kurasa dia hanya menggunakan kondisiku untuk pergi dari sini. Tapi dia memakai jasnya lagi sambil berkata. “Tetap disampingku.” Katanya lalu mengambil tanganku lalu menggenggamnya saat kami berjalan kembali ke Hall.
***
Lampu kristal diatas kami meredup dan hampir gelap. Hanya lampu panggung yang menyala terang. Kemudian di belakang panggung ada layar besar yang menampilkan sejarah awal berdirinya Grup Han.
Dari tempatku aku bisa melihat para tamu cukup jelas. Pengaturan tempat duduk sepertinya diatur sesuai urutan keluarga. Meja keluarga Cho berada di baris kedua. Lalu dibaris pertama tentu saja ada si pemilik acara. Keluarga Chaerin. Ayahnya sudah tua, kemungkinan usianya sekitar delapan puluh tahun, sementara ibunya masih muda dan berdandan seperti nyonya konglomerat pada umumnya. Disana aku melihat dua orang pria yang lebih tua dan dua orang wanita yang usianya sekitar empat puluh tahunan. Dan sangat jelas bahwa Chaerin adalah anak bungsu.
Anak tertua keluarga Han sebagai pemimpin maju kedepan untuk memberikan pidato, dia berbicara panjang lebar mengenai perjalanan perusahaan mereka yang hampir seratus tahun, bisa dibilang Chaerin adalah generasi ke empat.
Aku memilih untuk tidak mendengarkan ocehan ketua Han dan justru memandangi meja keluarga Lee. Orang-orang yang dulu setiap hari kulihat. Dulu dengan interaksi setiap hari, bisa dibilang kami cukup dekat dan sekarang terasa teramat jauh. Diplomat Lee tidak begitu berubah sejak enam tahun lalu, Nyonya Lee Hyangsuk dan Donghwa Oppa.
Kemudian Lee Donghae.
Pandangannya fokus pada Ketua Han yang sedang berbicara di depan, dia tidak berbicara pada orang tuanya atau pun pada Donghwa Oppa. Dia juga tidak tersenyum dan matanya terlihat kosong.
Dia masih sama. Anak yang penyendiri dan kesepian.
Benarkah dia masih seperti itu?
Haruskah aku menyapanya?
Menggeleng. Tidak. Itu bukan ide bagus. Aku tidak ingin Nyonya Lee melihatku lalu mengatakan hal buruk tentangku pada keluarga Kyuhyun.
Pidato Ketua Han lebih membosankan daripada pelajaran sejarah. Entah di menit keberapa aku Menopang wajahku dengan satu tangan dan bersandar ke depan. Jujur saja punggungku pegal karena tidak bisa bersandar. Namun kemudian Kyuhyun memegang pergelangan tanganku.
Aku menoleh, dan dia menepuk bahunya.
Dia berbicara tanpa suara. “Kemarilah.”
Huh
Aku begitu terkejut saat dia menarik tanganku lembut dan menyandarkan kepalaku di bahunya, dengan begitu aku bisa bersandar tanpa menyentuh punggungku. Kyuhyun melingkarkan tanganku di lengannya sehingga aku sepenuhnya bersandar padanya.
Aku tau ini pemandangan normal untuk suami istri. Tapi disitu masalahnya. Kami tidak seperti itu.
Kyuhyun tidak menyukai pertunjukan, disini juga gelap, jadi kuasumsikan ini hanyalah kebaikan hatinya untuk membantuku. Meskipun tidak ingin mengakuinya tapi itu cukup menyentuh.
Jari-jariku turun kebawah hingga ke telapak tangannya, lalu mengaitkannya disana. Tanpa mengatakan apapun Kyuhyun membalas genggaman tanganku. Tanpa sadar aku tersenyum tipis.
Aku sendiri tidak tau kenapa dan apa alasannya? aku hanya ingin menyentuh tangan Kyuhyun yang besar dan hangat.
Tersembunyi di bawah, Tangan kami saling mengait dan atas pahanya. Jelas bukan pertunjukkan, hanya aku dan Kyuhyun yang melihat atau merasakannya.
Aku mendongak, memandangi rahangnya, jakunnya yang bergerak dan gambaran sisi wajahnya dari samping yang sempurna. Aku tau Kyuhyun tampan, tapi aku tidak pernah melihatnya dengan cara seperti itu. Atau bisa dibilang aku tidak mengizinkannya. Karena bagiku dia hanya….Kyuhyun.
Namun saat ini, otakku yang konslet justru membayangkan Kyuhyun balas menatapku. Dan Dia hanya perlu menunduk sedikit untuk menciumku. Dengan penerangan seperti ini kurasa tidak akan ada yang menyadari meskipun kami berciuman.
Astaga, apa yang kupikirkan? sejak kapan aku terobsesi dengan ciuman? Bahkan tadi aku memintanya menciumku meskipun aku hanya ingin melihat reaksi Lee Donghae.
Tapi bagaimana jika Kyuhyun benar-benar melakukannya?
Aku tidak berani membayangkannya.
Lampu tiba-tiba menyala dan riuh tepuk tangan bergema di Hall. Menegakkan tubuhku dan melepaskan kaitan tangan Kyuhyun sebelum ikut bertepuk tangan. Mengeratkan rahang, berusaha mengenyahkan bayangan-bayangan tadi.
Aku tau Kyuhyun sedang memandangku, dan aku berusaha menjaga tatapanku tetap lurus kedepan. Dengan tangan gemetar aku mengambil gelas dan meneguk isinya hingga tidak tersisa. Untungnya itu hanya air putih.
***
Penderitaanku belum selesai, seolah dia akan melepaskanku begitu saja. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Terkadang Kyuhyun begitu angkuh, sombong, menyebalkan dan emosional. Aku mengerti kenapa Nammie tidak menyukainya. Namun ada saatnya dia begitu baik dan perhatian, meskipun pada akhirnya aku tau dia akan tetap bersikap menyebalkan.
Seperti sekarang.
Aku begitu lelah hingga rasanya aku bisa terjatuh kapan saja begitu sampai di rumah. Namun dengan sikap Kyuhyun yang suka sok mengatur dia memaksaku untuk duduk di sofa, sementara dia berusaha mengobatiku.
“Aku bisa meminta Nammie untuk melakukannya besok, bisakah kita tidur saja?” aku hampir merengek saat mengatakannya.
Kyuhyun sibuk membuka bungkusan yang dia beli di apotik saat perjalanan pulang tadi.
“Dan kau hanya melupakannya dan tidak akan mengobatinya.” Katanya tanpa melihatku. “Aku tau seberapa buruk kinerja Manajermu dan ketidakpedulianmu pada kesehatanmu sendiri.”
Aku membalasnya dengan sinis “Kalau kau begitu peduli kenapa bukan kau saja yang jadi managerku?”
Dia mengeluarkan salep, kasa, cairan steril dan kapas saat berkata. “Kemampuanku jauh diatas rata-rata hanya untuk menjadi manager.” Dengan seringaian sombong dia menambahkan. “Setidaknya kau butuh setara dengan ratu Elizabeth sebelum memintaku menjadi managermu.”
Aku mendengus, dan dia tertawa.
“Putar badanmu.” katanya.
Aku mengubah posisi dan memunggunginya. Tanganku mencengkram gaun diatas paha saat kurasakan dia menyingkirkan rambutku ke samping. Membuat punggungku sepenuhnya terbuka.
Melirik ke samping begitu Kyuhyun menuangkan cairan steril ke kapas. Jantungku berdegup kencang saat jarinya menelusuri punggungku mencari bagian yang memar. Karena concelear dia harus mencarinya lebih teliti.
Suaranya rendah saat dia berkata. “Disini?”
Aku menggeleng, menelan ludah kasar sebelum menjawabnya. “Sedikit kebawah.”
Perlahan tangannya bergerak ke bawah dan aku harus menggigit bibirku, mati-matian menahan agar tidak mendesah. Pikiranku hanya terfokus pada tangan Kyuhyun yang masih menempel di punggungku. Dan gilanya lagi aku ingin dia tetap seperti itu, tidak ingin dia menjauhkan tangannya. Namun semuanya berubah saat dia menemukan bagian yang sakit lalu menekannya.
Tanpa sadar aku memakinya, dan dia terkekeh.
Kyuhyun membersihkan bagian yang cedera dengan lembut, meskipun begitu rasa sakitnya tidak mudah diabaikan.
Dia melempar kapas sambil menggeram tertahan.
“Apa? Kenapa?” Tanyaku setengah menoleh.
Dia membuang wajahnya, terlihat kesal. “Jika sampai dua hari kau masih kesakitan kau harus kerumah sakit.” katanya. “Bagaimana mungkin kau terjatuh sampai meninggalkan bekas seperti ini? Kau yakin tidak ada yang mendorongmu atau semacamnya? apa kau sudah mengecek CCTV?”
Aku yakin ada banyak yang mendorongku, tapi aku tidak akan mengatakannya atau bisa jadi Kyuhyun akan membombardir Starfield besok. Lagipula bukan salah siapa-siapa, saat itu kondisinya memang kacau, aku hanya sedang sial.
“Aku terjatuh sendiri lagipula rasanya tidak seburuk itu.”
“Tidak seburuk itu?” dengusnya. “Aku yakin kau tidak bisa berbaring dengan memar seperti ini.”
Itu benar, bahuku sakit karena tidur miring, tapi apalagi yang bisa kulakukan.
“Aku baik-baik saja.” kataku pelan, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri.
“Ketidakmampuanmu berbohong sangat payah, kau tau.” Ejeknya. Lalu dia mengoleskan salep ke punggungku. Berusaha tidak berjengit setiap Kyuhyun menyentuh kulitku, menahan nyeri sebisaku saat dia melakukannya.
Dia membereskan obat-obatan di atas meja kopi sebelum mengangkat rambutku dan mengembalikannya ke belakang.
Dia bicara lagi, hampir seperti perintah. “Pastikan besok pagi kau mengolesinya lagi.”
“Yes Sir” sahutku dengan penuh nada sarkas. Tapi dia tidak peduli. Tentu Saja.
Kyuhyun beranjak ke meja dapur, lalu kembali dalam sekejap sambil menyodorkan air dan obat anti nyeri.
“Minumlah.”
Aku tidak ingin mendengar omelannya lagi jadi aku meminum obat tanpa membantah.
“Istirahatlah.” katanya lalu beranjak ke kamarnya, namun sebelum itu aku memanggilnya. Dia berhenti dan menoleh.
“Terima kasih.” kataku tulus.
Dia tersenyum lembut dan mengangguk sebelum berbalik.
Dan anehnya hatiku terasa ringan dan hangat. Aku bahkan bisa mendengar diriku bersenandung kecil saat masuk ke kamar.
***
TBC