Actress and Marriage {Part 3}

Happy Ready & Sorry for Typho

@miss_hoon

Aku tidak pernah menelpon Kyuhyun, atau tidak sempat lebih tepatnya. Pikiranku begitu fokus pada pekerjaan, otakku yang payah ini bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali aku tidur dengan benar. Jadwal promosi film dan syuting seperti dikejar-kejar penagih hutang. Dan begitu kusadari aku sudah berada di butik pilihan ibu Kyuhyun.

“Kau suka?”

Ibuku meraba gaun putih penuh mutiara dan rajutan rumit yang baru saja kukenakan. Gaun berbentuk V panjang dengan ekor hampir satu meter, kemungkinan aku akan menginjaknya lagi jika minum alkohol.

“Kau bisa pilih yang lain kalau tidak suka.” kata ibuku lagi saat melihat ekspresiku yang tidak berubah. “Ibunya Kyuhyun hanya membantu memilih, kau bisa menentukan pilihanmu sendiri.”

Memaksa menarik kedua sudut bibirku. “Aku suka gaun ini. Yang ini saja” kataku padanya melalui cermin.

“Kau yakin?”

Aku mengangguk.

Ibuku menatapku lama, seperti dia juga butuh diyakinkan. Lalu dia mengelus punggungku lembut. Mencoba membuatku lebih nyaman. Hal yang biasa dia lakukan saat aku gelisah. “Apa ada hal lain yang kau pikirkan?”

“Hanya…..kelelahan.”

Ibuku mendesah dalam, dia mengelus kepalaku. “Kau benar, akhir-akhir ini kau sangat sibuk. Meskipun aku tau pekerjaan penting tapi sebentar lagi hari pernikahanmu. Seharusnya kau lebih memikirkannya.”

“Ini hanya sementara, setelah masa promosi selesai aku bisa beristirahat.”

“Senang mendengarnya.” katanya. “Setelah ini, apa kau masih ada jadwal?”

Aku mengangguk dan tersenyum minta maaf. “Aku harus ke kantor agensi.”

“Sayang sekali, seharusnya kau juga harus melihat Kyuhyun mengepas pakaiannya.”

“Dia akan cocok memakai apa saja.” kataku enggan.

Ibuku tersenyum. “Kau benar, calon menantuku memang sangat tampan.” 

Aku ingin memutar mata tapi ibuku bisa curiga jadi aku hanya tersenyum kecut dan memintanya untuk kembali ke ruang tunggu sementara aku mengganti pakaianku.

Saat keluar dari pintu butik aku melihat Audy Kyuhyun baru saja terparkir. Kebetulan sekali. Tanpa pikir panjang, menyebrang jalan, aku mengetuk pintu mobil dan membukanya.

Seperti sebelum-sebelumnya. Tidak pernah menyenangkan duduk disini. Entah kebiasaan atau apa tapi kami lebih sering membicarakan hal penting di dalam mobil dan jarang berakhir baik. Seperti sekarang. Ekspresi Kyuhyun dingin, keras, seolah aku orang tidak diundang. Tapi ada yang harus kubicarakan. Jadi一bersabar adalah kunci.

“Kenapa menerobos masuk mobil orang?” tanyanya.

Aku menatapnya menuduh. “Kau memajukan tanggal pernikahan tanpa berdiskusi denganku. Apa kau menyukaiku?” 

Ekspresinya yang tidak suka barusan berubah kesal, tapi aku tidak berhenti. “Kau sendiri yang bilang pernikahan kita setidaknya enam bulan lagi, sampai rapat pemegang saham! Kau bahkan marah padaku saat aku menyetujui pertunangan kita, dan sekarang apa? Tiba-tiba kau memajukannya jadi bulan depan? Apa kau pria seperti ini? Tidak berpendirian?”

“Ya! Berhenti bicara omong kosong!” sahutnya tidak terima. “Appa yang mengubahnya, kalau mau protes, proteslah padanya.”

“Kalau begitu kita batalkan saja.”

Dia mendesis. “Kau bilang apa?”

“Kita batalkan saja.” sahutku tegas. “Aku tidak bisa menikah secepat ini.” membayangkannya saja menakutkan.

Kalian pernah melihat urat hulk? Begitulah wajah Kyuhyun sekarang, bedanya Hulk berwarna hijau, sementara dia berwarna merah. Jika aku seorang pria mungkin dia akan memukulku tapi sayangnya aku seorang wanita. Itu akan melukai egonya jika dia menyerang wanita. Kukira aku tidak akan takut padanya, tapi saat dia memajukan wajahnya hingga kepalaku terpojok di sisi jendela itu cukup membuatku menelan ludah. Dengan sisa-sisa keberanian yang kumiliki, memaksa bahuku tetap tegak menatapnya.

Tangannya bersandar di jendela di sisi kepalaku, membuatku sepenuhnya terperangkap. 

“Kau tau hal apa yang paling kubenci?” bisiknya tepat didepan wajahku. “Penipu, Pengkhianat, orang yang tidak memegang kata-katanya. Apa aku perlu menambahkan lagi?”

Tubuhnya menyeberangi konsol dan semakin memerangkapku saat dia berkata “Jika kau mengungkit masalah pembatalan pernikahan lagi kupastikan aku akan menghancurkan karirmu, mengusirmu dan keluargamu dari negara ini.” Jarinya membelai pipiku. “Kau paham, Park Hyura!”

Membersihkan tenggorokanku, memastikan suaraku tidak bergetar saat membalasnya. “Kau mengancamku?”

Dia menggeleng sambil tersenyum sinis. “Apa kau tipe orang yang bisa diancam?”

Kyuhyun menjauhkan tubuhnya, membuatku mendesah lega. Kalau boleh jujur jika dia melakukan sesuatu padaku di mobilnya yang gelap ini aku yakin tidak akan ada yang bisa menolongku. Jadi lebih baik mendengarkannya dulu.

“Hyura, Honey.” katanya dengan keramahan palsu. “Saat kau setuju bekerja sama denganku otomatis kau terikat denganku, keluargaku dan segala aturan yang ada didalamnya. Seperti pernikahan ini. Bukan aku yang memutuskannya melainkan Ayahku.”

Aku mendengus mendengarnya, tapi dia tidak peduli dan melanjutkan.

“Bayangkan jika kau ingin membatalkannya, dia akan sangat kecewa. Kau tau saat dia kecewa pada seseorang dia tidak akan mau melihat orang itu lagi. Karena Ayahku yang memutuskan menjadikanmu brand ambassador tertinggi di Cho Corp. Bisakah kau bayangkan karirmu selanjutnya jika dia membatalkan keputusannya?”

Kyuhyun menggeleng pura-pura prihatin. “Aku tidak perlu melakukan apapun untuk menghancurkanmu karena sistem di negara ini akan bekerja dan otomatis kau akan tersingkir, begitu juga keluargamu tidak akan tahan dengan tekanan sosial yang akan kalian alami nanti.”

Bohong jika hal itu tidak membuatku ngeri. Skandal kemarin sudah cukup menjadi pelajaran bagiku. Aku bisa saja kehilangan segalanya dalam waktu semalam hanya dengan ucapan pemimpin Cho Corp.

Sial, aku terjebak.

Tangan Kyuhyun terangkat mengusap kepalaku lembut. “Kuharap kau mengerti, Honey.” 

Memukul tangannya dikepalaku sambil menatapnya sinis. 

“Aku ingin perjanjian sebelum pernikahan.”

Dia mengangkat bahu tidak peduli. “Kita akan membicarakannya dengan pengacaraku.”

“Aku akan menggunakan pengacaraku sendiri.”

Dia melihat ke depan saat menjawab. “Terserah.”

Mendengus keras sebelum membuka pintu dan keluar dari Audy sialannya.

***

Hanya tinggal sebulan lagi mustahil aku bisa membatalkan pernikahan kami. Lagipula ancamannya tadi tidak main-main. Menghancurkan karir seorang pendatang baru sepertiku bukanlah hal yang sulit, terlebih lagi dia memiliki sumber daya dan kekuatan untuk melakukannya. 

Sejujurnya aku tidak peduli dengan karirku disini. Aku menjalaninya hanya karena uang, tapi di negara ini, dengan jam kerja panjang, jadwal yang padat, pendapatanku tidak sefantastis yang kuharapkan. Aku lebih memilih kembali ke eropa dan menjadi model disana. Setidaknya disana hidupku akan lebih normal ketimbang disini. 

Tapi bukan itu yang kutakutkan. Jika dia benar-benar bisa mendepak keluargaku, itu cerita yang lain.

Ditambah lagi Ibuku bilang, saat ini Leeteuk Oppa sedang menjalani proses perekrutan di Cho Corp. Mengingat dia tidak memiliki pengalaman kerja di Korea, aku yakin pasti sulit mendapat pekerjaan baru. Dan sejujurnya aku ingin berterima kasih pada Kyuhyun. Meskipun….

“Park Hyura!” 

Aku mendongak, mengerjap dua kali sebelum menyadari dimana aku berada saat ini. Tiga pasang mata menatapku menunggu. Kami berada Ruang rapat agensi dengan Presdir Shindong di ujung meja, Nammie di sebelah kiriku dan Nona Shin Ye eun di sebrang kami.

“Apa kau dengar apa yang kukatakan barusan?” tanya Shindong dengan nada tidak senang.

Aku meringis. “Maaf, sepertinya aku melamun.” Melirik ke Nammie, “Jadi…. Sampai dimana kita?”

“Kontrakmu dengan Cho Corp.” Kata Shindong bosan. “Mereka akan bekerja sama dengan beberapa department store, dan mereka meminta Pierce ditampilkan dilayar besar.”

Aku mengangguk. “Itu bagus.”

“Tapi Coex menolak.”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

Shindong mengangkat bahu. “Direkturnya sendiri yang menolaknya.”

“Dia menolak Pierce?” tanyaku lagi, karena itu tidak masuk akal.

“Bukan, mereka menolak Pierce menampilkan Brand ambassador dan cukup menampilkan koleksi.”

Itu lebih tidak masuk akal, hanya menampilkan koleksi di layar besar sangat tidak menarik, tentu saja sebagai produk fashion mereka membutuhkan model.

“Mereka beralasan sudah menampilkan Soo Ae dilayar besar, jadi tidak mungkin menggunakan fotomu juga disana.”

“Lalu bagaimana tanggapan Cho Corp?”

“Katanya mereka masih berdiskusi.”

“Kalau begitu kita tidak bisa ikut campur.” kataku.

Nammie mendesah disampingku. “Sayang sekali, padahal dengan exposure Coex bisa jadi jalan untukmu.”

Shindong mengangguk setuju. “Itu benar, mereka mendominasi department store di negara ini. Bagaimanapun juga kita harus mendapatkannya.”

Aku tidak setuju, bagaimanapun juga agensi tidak bisa ikut campur masalah dua perusahaan besar. Jadi aku mengalihkan topik pembicaraan.“Ada yang lain lagi?”
Shindong menatap Nona Shin, “Bagaimana dengan Proyek baru Hyura?”

Ye eun menatap Laptopnya sesaat sebelum memandang kami bergantian. “Aku sudah mengatur jadwal audisi, juga ada dua tawaran film dan drama tapi Nona Hyura belum mengeceknya, kemudian pernikahan di akhir bulan depan….” dia menatapku. “Kau perlu cuti berapa hari?”

Aku menggeleng. “Aku tidak butuh libur.” kataku, lalu semua orang melihatku dengan tatapan ‘kenapa?’

“Hanya….tolong atur seperti biasanya.”

Dengan ragu Ye eun mengangguk. “Oke.”

Shindong menatapku dan Nammie. “Setelah ini kalian pergi ke Coex, lihat bagaimana efek dan reaksi media.” Dahiku berkerut tidak setuju tapi dia tidak berhenti. “Tidak perlu menutupi diri, berdandanlah seperti biasa, jika pengunjung disana antusias mungkin itu akan mengubah keputusan Coex.”

“Presdir, haruskah seperti itu?” keluhku.

“Kenapa? Ini kesempatan bagus, kau bisa berbelanja, mengunjungi Pierce atau Laura. Cho Corp juga pasti senang, dan kau mendapatkan perhatian Coex. Kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus.”

“Tapi…”  Protesku dihentikan oleh tepukan dibahu oleh Nammie. “Ayolah, Hyura-ya.”

“Tapi Nammie-ya….” Dia menarik tanganku untuk berdiri. “Ayolah!” dia melihat ke Presdir lalu menunduk. “Kami pergi dulu.”

Diluar aku melirik Nammie malas. “Aku tidak mau ke Coex, aku juga sedang tidak mood berbelanja.” lebih tepatnya aku tidak ingin melakukan apapun. Pembicaraanku dengan Kyuhyun tadi di butik membuat suasana hatiku memburuk.

“Berhentilah merengek, Nona Park. Kau hanya perlu berjalan-jalan, melihat-lihat, menunjukan dirimu disana beberapa menit. Mudah. Tidak sulit.”

“Aku yakin tidak akan berpengaruh, lagipula aku tidak seterkenal itu.”

“Kita akan tau setelah mencobanya. Ayo.”

***

Sebelum ke Coex Nammie menyuruhku ke salon lalu mengambil baju sample Pierce yang ada di Agensi. Padahal tadi Shindong bilang aku hanya perlu berdandan seperti biasa. Tapi saat kulihat penampilanku di cermin aku seperti akan berpartisipasi dalam acara tv.

“Apa ini tidak berlebihan?” tanyaku. 

Nammie menggeleng. Matanya fokus pada PC tablet. Jarinya bergerak-gerak cepat dilayar. Sementara Minhyun menjalankan Van dengan kecepatan rata-rata. “Tidak sama sekali, gaun Pierce yang kau kenakan sederhana, tidak mencolok.”

“Bagaimana dengan makeup ku?”

 “Bagus, kau cantik.” Sahutnya masih belum melihatku.

“Bukan itu, tapi kita hanya ke departement store apa perlu berdandan serapi ini?”

Tangannya berhenti, dia mendongak, melihatku penuh kesabaran. “Kita tidak hanya ke departement Store, Kau akan menunjukkan dirimu, jadi tidak mungkin kau kesana tanpa make up.”

Menyandarkan kepalaku di jok sambil menggumam. “Percuma bicara padamu.” Namun dia tidak peduli dan kembali pada PC tabletnya.

Store Laura berada di lantai 1 jadi kami memutuskan ke sana dulu. Ada gambar Jun Junsu menggunakan mantel musim gugur Laura di kaca depan. Junsu seorang Idol pria yang sudah menjadi model Laura kurang lebih tiga tahun ini, dan responnya sangat bagus. Meskipun awalnya aku juga akan menjadi model untuk Laura tapi Aboenim sendiri yang memutuskan bahwa latar belakang karirku cukup untuk menjadi Brand Ambassador Pierce. Jelas banyak yang membicarakan bahwa koneksiku sebagai calon menantunya yang membuatku terpilih. Tapi bukankah memang itu tujuanku dulu saat menyetujui hubungan dengan Kyuhyun?一menjadi lebih populer.

“Nona Park Hyura?” Seorang pegawai Toko hampir menjerit tidak percaya, matanya melebar mulutnya menganga begitu melihatku didepan Laura saat hendak masuk. 

Aku tersenyum. “Selamat siang.” kataku.

Rekannya yang berada dibalik meja kasir ikut bergabung, seorang wanita mungil berambut bob coklat menatapku dan Nammie tidak kalah antusias. “Ada yang bisa kami bantu Nona Park?”

“Aku hanya ingin berbelanja.” Kataku.

Si penjaga toko pertama merentangkan tangannya, mempersilahkanku ke bagian koleksi baju terbaru. “Silahkan Nona, Ini koleksi kami yang terbaru, Jenis pakaian apa yang anda butuhkan? Aku akan menjadi asistenmu.”

Aku melirik Nammie yang sudah mengambil duduk di sofa, dia mendapatkan jus jeruk dan Cake yang di sajikan si penjaga kasir.

Aku tersenyum pada si penjaga toko. “Bisa bantu pilihkan mantel musim dingin untuk wanita usia lima puluh tahunan?” 

Dia mengangguk antusias, lalu Mengambil salah satu mantel berwarna krem dengan model sederhana namun terlihat nyaman. Dan beberapa yang lainnya juga. Aku juga membeli kemeja dan dasi untuk Leeteuk Oppa.  

Dua puluh menit kemudian aku mendapatkan tiga set pakaian baru. Nammie menggesek kartu perusahaan sementara untuk hadiah Ibu dan kakakku, aku membayarnya sendiri. Sebelum meninggalkan toko, kedua penjaga itu meminta fotoku dan tanda tangan. Nammie dengan terang-terangan meminta mereka untuk mempostingnya di sns dengan Tagar namaku dan Coex.

“Bagaimana? Berbelanja menyenangkan bukan?” tanya Nammie. 

Kami sudah menelusuri lantai satu dan dua. Coex sangat luas, total ada sembilan lantai, jika harus mengelilingi setiap lantai mungkin sampai waktu tutup aku baru selesai. Di lantai satu ada beberapa yang mengenaliku dan mereka terlihat antusias. Sama seperti saat di Laura, aku meladeni yang meminta foto atau tanda tangan. Namun tetap ada beberapa orang yang tidak peduli dengan kehadiran celebrity. Dan sejauh ini, respon yang kami dapat sesuai yang di harapkan. Aku yakin presdir akan senang mendengarnya.

“Tidak, aku lelah.” mendongak melihat lantai atas, kami bahkan belum sampai ke Pierce tapi energiku seolah sudah terkuras.

“Kita ke Pierce dulu setelah itu ke lantai lima untuk tempat aksesoris dan kita bisa pulang.”

Aku mengangguk pasrah dan mengikuti Nammie ke eskalator. Saat benda itu membawaku naik, aku mendongak, mataku melihat Donghae dari arah berlawanan. Dia kearah bawah sementara aku naik ke atas. Kami berpapasan tepat di tengah-tengah. Tapi hanya aku yang melihatnya. Donghae sibuk mendengarkan orang disampingnya.

Kenapa dia ada disini?

“Kenapa kau diam?” Nammie melihatku yang tidak bergerak. “Ayo.”

“Nammie-ya, maaf sepertinya aku harus kebawah lagi.” kataku, lalu kembali menuju eskalator namun tangan Nammie menarik lenganku. 

“Ya! Kau mau kemana, Kita ke Pierce dulu.”

Berusaha melepas tangannya dari lenganku tapi managerku ini justru memegangnya lebih erat. 

“Sebentar saja, ada yang ingin kupastikan.”

“Tidak, tidak. Nanti kau akan mengeluh lagi, sebelum itu kita ke Pierce dulu. Aku tidak akan mengambil resiko.

Aku mulai merengek. “Nammie-ya.”

Dia menatapku keras, menggeleng kaku seperti komandan wanita yang ingin menyeret anak buahnya ke medan perang. Karena saat ini dia memang menyeretku. Secara harfiah.

Kami berhenti beberapa meter dari Pierce. Disana fotoku menghiasi kaca etalase dengan gaun simple berwarna Pink salmon. Karena konsep brand Pierce memang design sesederahana mungkin namun terlihat elegan.

“Jangan bertampang begitu,” omel Nammie. “Aku tidak memaksamu meminum racun! Tersenyumlah!”

Aku mendengus, meliriknya kesal dan tentu saja aku cemberut. Anggap saja aku remaja tanggung yang merajuk pada orang tuanya.

“Park Hyura….” katanya memperingatkan. 

“Baiklah, baiklah.” kataku akhirnya. Menarik tanganku dari pegangannya. Aku berjalan cepat mendahului Nammie. Aku perlu mengejar Donghae, jadi kupastikan aku harus menyelesaikan urusan kunjungan ini secepatnya.

Di dalam aku hanya melihat-lihat tanpa berniat membeli, namun Nammie justru mencoba beberapa pakaian dan menghabiskan waktu lebih lama. Setelah hampir setengah jam, dia masih di ruang ganti, aku meninggalkannya dan menuju ke lantai bawah. Tempat dimana tadi aku melihat Donghae.

Aku menelusuri setiap sudut di lantai dua. Seperti permainan hide&seek yang dimainkan anak-anak. Hanya saja aku tidak berteriak memanggil namanya. Berhenti di setiap toko dan tidak jarang beberapa orang mengambil gambarku. Tapi siapa peduli, aku memiliki urusan yang lebih penting sekarang.

“Apa didalam orang?” tanyaku pada pengunjung pria yang baru saja keluar dari toilet. Pria dengan setelan itu membelalakan matanya sebelum menggeleng sambil menggumam kata ‘aneh’

Menunduk meminta maaf karena itu memang tidak sopan. Tapi aku tidak menyerah, aku turun lagi ke lantai satu. Saat menelusuri toko-toko, Lalu langkahku berhenti tepat dianjungan pintu masuk, kesadaran menghantamku dengan keras.

 Apa yang kulakukan? 

Dia belum tentu masih disini, mungkin saja dia hanya berkunjung sesaat, berbelanja atau semacamnya. Aku tidak mungkin menelusuri setiap lantai hanya untuk mencarinya. Lagipula apa yang bisa kukatakan. 

Dengan kekecewaan mendalam, bahu merosot, dan lelah. Aku berbalik, mendesah berat saat melihat eskalator. Aku tidak sanggup berjalan lebih jauh. Sepatu hak sembilan senti ini mulai menyakitkan. Jadi aku mencari lift terdekat.

Tepat sebelum berbelok ke lorong tanda penggunaan lift, aku mendengar namaku disebut. Otomatis langkahku terhenti. 

“Nona Park Hyura, hari ini memenuhi akun SNS kita.” Kata Seorang pria.

Siapa?

“Boleh kulihat?” kata seorang wanita dengan nada tenang.

“Lihatlah, ini jadi perbincangan.” kata pria itu lagi.

Kemudian hening, tidak ada yang berbicara selama beberapa detik. Sampai si wanita bersuara lagi. “Reaksinya cukup bagus, aku tidak mengerti kenapa Direktur menolaknya?”

Lalu sebuah suara yang sangat kukenal menjawab dengan cepat dan tajam, seperti peluru yang menembak ke dada. “Karena dia tidak pantas.” 

Dan sakitnya kurasakan hingga ke tulang belakang begitu kusadari siapa yang berbicara 

Lee Donghae?

“Tidak pantas?” tanya wanita itu lagi

Butuh sekuat tenaga untuk tetap berdiri dengan kakiku saat suara Donghae yang sedingin es menyebut namaku.

“Park Hyura, Dia hanya artis kelas dua, pendatang baru, tidak memiliki latar belakang yang mengesankan, dia tidak akan mampu jika bukan karena keluarga calon suaminya. Bagaimana mungkin kita memajang wajahnya di depan Coex untuk artis sekelas dia.”

Pernahkah kalian ditinju ulu hatinya?一aku belum pernah, tapi sekarang aku tau rasanya.

“Tapi kurasa dia punya potensi.” kata wanita itu.

“Noona terlalu memikirkannya. Lebih baik kita memikirkan promosi akhir tahun ini, acara akhir tahun lebih penting daripada memikirkan artis brand.” sahut Donghae

“Aku suka dengan cara berpikirmu, Direktur Lee. Tidak salah Ayah menempatkanmu disini.” sahut wanita itu.

Menggeleng lemah, memilih tidak percaya dengan apa yang kudengar. Tidak mungkin Donghae mengatakan hal sekejam itu. 

Memberanikan diri, mencondongkan tubuh lalu mengintip sebisaku. Hanya sepersekian detik sebelum mereka berjalan masuk ke dalam Lift. Namun aku bisa melihat Lee Donghae dengan jelas saat dia memutar tubuhnya lalu menekan tombol hingga pintu lift menutup.

Aku berdiri disana selama beberapa menit. Setidaknya aku membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya.

Direktur Lee?

Apa Lee Donghae bekerja sebagai Direktur disini?

Direkturnya sendiri yang menolaknya. 

Karena dia tidak pantas

Menggeleng lemah, aku tidak ingin percaya, Lee Donghae bukan orang seperti itu. Dia tidak pernah memandang rendah orang lain, dia pria yang selalu pengertian, berhati lembut, penyayang.

Tidak… tidak mungkin. Aku tidak ingin percaya. Aku tidak boleh percaya. Tapi….tapi aku sendiri mendengarnya barusan.

Park Hyura hanya artis kelas dua, pendatang baru, tidak memiliki latar belakang yang mengesankan, dia tidak akan mampu jika bukan karena keluarga Calon suaminya. Bagaimana mungkin kita memajang wajahnya di depan Coex untuk artis sekelas dia.

Fase penolakan adalah hal yang menyebalkan. Seperti enam tahun lalu saat mengetahui tiba-tiba saja Lee Donghae pergi tanpa mengatakan apapun. Mungkin saja sejak dulu aku memang tidak berarti apa-apa baginya. 

Tanpa sadar aku tertawa. Kau sangat bodoh Park Hyura.

Langkahku gontai saat menuju pintu putar. Angin senja di bulan Oktober menerpa wajahku dan dinginnya musim gugur langsung terasa ke setiap sudut tulang. Tapi itu bukan apa-apa dibanding nyeri di dadaku. 

Aku pernah beranggapan perasaanku yang selama bertahun-tahun berbalas saat Donghae menunda kuliahnya. Dia tidak ikut ujian masuk universitas agar aku bisa menyusulnya. Statusku yang sebagai anak pelayan, membuatku hanya bisa bersekolah disekolah lokal. Dimana aku kesulitan bicara dan membaca bahasa Jepang. Tapi Donghae bilang dia membutuhkanku untuk membantunya selama di sekolah. Jadi mau tidak mau Ibunya harus memindahkanku di sekolah internasional yang sama.

Jika bukan karena permintaannya aku tidak akan memiliki latar belakang pendidikan yang mengesankan. Setelah kelulusan Donghae menolak mengikuti ujian masuk dan memilih menungguku. Dia pernah bilang, kami harus berkuliah bersama dan dia ingin aku memiliki pendidikan tinggi. Kami bahkan pernah menyusun rencana masa depan di Korea. Bagaimana setelah masa tugas ayahnya selesai kami bisa pulang dan bekerja disini. 

Rencana itu indah, harapan itu menyenangkan. Aku belajar mati-matian agar bisa masuk universitas yang sama dengannya, tapi beberapa bulan sebelum kelulusanku tiba-tiba saja Donghae pergi. Ibunya bilang dia pergi untuk kuliah. Tapi dimana dan kenapa tiba-tiba? tidak ada yang memberitauku.

Seolah janji-janji, rencana kami, tidak pernah ada. Seperti semuanya hanya khayalanku saja. 

Kemudian selama enam tahun ini aku berjuang agar menjadi lebih terkenal. Jika aku tidak bisa menemukannya setidaknya dia akan menemukanku. Karena pada saat itu aku tidak tau Donghae berada dibelahan bumi bagian mana. Kukira aku bisa menyatakan perasaanku padanya setelah kami bertemu kembali. Namun saat melihat Chaerin, aku tau semuanya terlambat. 

Belakangan ini aku berusaha menerimanya, dan aku masih berusaha. Merelakan perasaan dan menghilangkan rindu yang sudah bertahun-tahun bukanlah perkara mudah. Tapi mendengar perkataan Donghae hari ini ternyata lebih sulit dan lebih menyakitkan ketimbang menyerah pada perasaan. Karena kukira dia peduli padaku, atau setidaknya pernah. Dan aku tidak tau dia memandangku serendah itu. 

“Hyura….Hyura…Park Hyura! Nona Park!”

Aku mendongak. Lalu kebingungan saat menyadari aku tidak lagi berada di Coex, melainkan pinggir jalan. 

Kenapa aku bisa disini?

Mendongak, Aku melihat mobil SUV berwarna hitam dengan jendela terbuka. Disana ada pria yang kukenal sebagai adik Kyuhyun.

“Cho…Jino?” suaraku terdengar seperti orang sekarat, aku tidak yakin dia dengar karena Jino sudah keluar dari mobil dan setengah berlari ke arahku.

“Kau baik-baik saja? Kau sakit?” dia berteriak untuk mengalahkan bisingnya kendaraan disekitar kami.

Aku menatapnya kosong. Lalu menggeleng. Aku tidak yakin bisa menjawabnya tanpa menangis

“Mau kuantar kerumah sakit? Atau mungkin menghubungi seseorang?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

“Kau mau aku menghubungi Kyuhyun Hyung?”

Aku menggeleng lagi.

“Hyura ssi, kau membuatku takut.”

“A…aku… aku….” dan tangisku pecah seketika. 

“Sial.” aku masih mendengar Jino mengumpat sebelum dia terburu-buru melepas Jasnya lalu menutup kepala dan wajahku seperti pengantin dengan penutup wajah. Pandanganku menggelap,  aroma parfum Jino memenuhi indraku saat kurasakan tangannya melingkari bahuku, membimbingku berjalan masuk ke mobilnya.

“Ayolah.”

Aku masih tersedu-sedu saat duduk di jok mobil. Meskipun suasana disini berubah lebih nyaman. Tidak dingin dan juga tidak berisik tapi air mataku tidak mau berhenti.  Aku tidak akan menyalahkan Jino kalau-kalau dia menganggapku gila. Tapi saat ini aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk merasa malu. DIa juga tidak mengatakan apapun setelahnya. Dan aku menghargai apa yang dia lakukan padaku.

Kurasakan dia menarik sabuk pengaman untukku dan mobil berjalan. Aku ingin berterima kasih padanya namun aku tidak tau bagaimana berbicara tanpa terisak. Setidaknya butuh beberapa menit sampai air mataku benar-benar berhenti. Meskipun begitu aku tidak melepas jasnya dari kepalaku karena aku yakin tampangku pasti sangat jelek.

Jika perhitunganku tidak salah, setidaknya butuh waktu tiga puluh menit sampai mobil benar-benar berhenti. Aku tidak tau Jino membawaku kemana, dan anehnya aku percaya padanya bahwa dia tidak akan mencelakaiku. Aku juga tidak bertanya saat dia membimbingku keluar dari mobil. Atau lebih tepatnya aku tidak tau bagaimana bertanya tanpa menangis lagi.

Aku mengikuti Jino masuk ke sebuah bangunan, lalu terdengar dentingan lift dan kode akses. Mungkin dia membawaku ke rumahnya. Meskipun tidak akan nyaman, tapi setelah ini aku bisa meminjam ponselnya dan menghubungi Nammie untuk menjemputku.

“Hyura-ya,” katanya. “Istirahatlah disini dulu, dan ada obat di kotak obat di dapur, kau bisa mengambilnya.”

Aku Mengangguk. Mulutku terbuka untuk mengucapkan terima kasih, tapi hanya udara yang keluar dari sana.

“Kalau begitu kutinggalkan disini. Istirahatlah.” katanya. Langkah kaki Jino menjauh, lalu terdengar pintu terbuka dan tertutup. 

Setelah yakin merasa sendirian, aku menarik jas dari kepala, mataku menyipit membutuhkan waktu dengan cahaya yang lebih terang.

Dugaanku benar, Jino membawaku ke rumahnya. Dari sekali lihat aku tau Apartemen ini milik pria lajang. Terlihat dari perabotannya yang minimalis dan maskulin. Aku berdiri di ruang tamu, di sisi kiriku ada sofa kulit berwarna hitam, lalu di sisi kananku ada set tv layar datar lengkap dengan peralatan pengeras suara. Dibelakang sofa ada jendela besar yang memperlihatkan langit kota yang sudah berwarna merah dan hampir gelap. Di ujung ruangan ada dapur dengan nuansa gelap namun terkesan mewah. 

Menunduk, dan menyadari aku masih memakai sepatu. Jino bahkan tidak repot-repot menyuruhku mengganti sepatu dengan sandal rumah. Setelah ini aku harus berterima kasih dengan pantas padanya.

Melepas sepatu, mendudukan bokongku disofa, dan menyandarkan kepala. Setelah menangis setidaknya perasaanku tidak sekacau tadi, meskipun sekarang mataku perih dan kepalaku mulai sakit, setidaknya sekarang lebih baik.

***

Sejak dulu aku bisa tidur dimana saja. Itu harus kulakukan karena aku sering berpindah-pindah tempat untuk bekerja, terutama dia awal musim. Dimana para perancang berlomba-lomba mengadakan pamerannya sendiri. Biasanya jarang tempat baru yang nyaman apalagi jika di musim panas.

Tapi anehnya saat ini tidurku sangat nyaman, ranjang empuk, selimut harum dan aroma menenangkan yang membuat pikiranku lebih rilex.

Mataku perlahan terbuka. Aku tidak berada di ruang tamu, seperti yang terakhir kuingat. Ini sebuah kamar, seperti kamar hotel mewah. Ranjang besar, lampu temaram yang nyaman, rak buku kecil, dan kursi malas di ujung ruangan.

Sudut mataku menangkap lilin aroma terapi yang menyala. Tidak heran kenapa tidurku begitu nyenyak.

Menyibak selimut, aku turun dari ranjang. Membuka pintu kamar dan langsung tercium aroma yang membuat mulutku berair. Inilah yang terjadi jika kau terlalu sering kelaparan. Belakangan ini sudah agak membaik. Hanya saat ada acara yang mengharuskanku mengenakan gaun ketat, mereka tidak mengizinkan aku memasukkkan apapun selain air putih. Itu diharuskan agar perutku tetap terlihat rata. 

“Jino….” panggilku. 

Aku berhenti ditengah ruangan, menyadari bukan Jino yang kulihat yang sedang berdiri di dapur. 

Tanpa mendongak, Kyuhyun melepas aproan di balik meja dapur. Ini pertama kalinya kulihat rambutnya tidak disisir rapi kebelakang, poninya jatuh berantakan ke dahi, dia juga hanya memakai kaus putih sederhana dan celana yoga abu-abu. Dia tidak terlihat seperti orang yang sombong dan menyebalkan lagi. 

“Kau sudah bangun?” katanya. Dia mengelilingi meja island lalu berdiri di samping meja makan. “Makanlah dulu.”

“Apa yang kau lakukan disini?” Menoleh kesana kemari. “Dan Dimana Jino?”

Dahinya berkerut dalam. “Kenapa kau mencari adikku?”

“Bukankah ini rumahnya?”

Kyuhyun memutar mata dan ekspresi menyebalkan itu muncul lagi. “Apa sih yang kau bicarakan?” dia menarik kursi. “Duduklah, kau harus makan.”

Aku menelan ludah, aroma masakan membuat perutku bergolak. Aku tidak akan bohong. Aku benar-benar kelaparan. Jadi aku menurut dan menduduki kursi yang Kyuhyun siapkan. Dia mengambilkan mangkuk nasi juga peralatan makan. Lauk yang dihidangkan tidak banyak, hanya sup tahu, telur goreng dan kimchi. 

Sementara Kyuhyun mengambil duduk di depanku dan memakan makanannya sendiri.

“Kau yang memasaknya?” tanyaku sambil mengambil sumpit lalu menyuap nasi.

“Hmm.”

“Apa kau juga yang memindahkanku?”

Dia mengangguk. 

Aku memandangnya dengan penuh keheranan. Aku yakin seratus persen pertemuan terakhir kami di mobilnya sangat tidak menyenangkan. Dia mengancamku dan aku masih tidak ingin menikah. Jadi kenapa sekarang dia menolongku? Bahkan repot-repot memberikanku makan?

Kyuhyun mendongak, dia memergokiku sedang menatapnya.

“Kau tidak makan? Tidak suka makanannya?”

Dahiku berkerut. Lihat, tidak mungkin Cho Kyuhyun sebaik ini padaku.

“Dengan apa aku berhutang kesenangan ini?” tanyaku akhirnya.

“Apa?”

“Kau tidak meracuniku kan?”

Dia terlihat tersinggung. Meletakkan sumpitnya kasar dan membalasku dengan ketus. “Jangan dimakan, kau akan muntah, terkena serangan jantung dan berubah jadi zombie kalau memakannya.”

Tanpa sadar salah satu sudut mulutku terangkat. Ini baru Cho Kyuhyun yang kukenal.

Tanpa mengalihkan tatapanku aku menyuapkan nasi, namun hal itu tidak menghilangkan kekesalan di wajah Kyuhyun. Aku tidak tau dia cukup menarik untuk di goda.

Setelah dua suapan aku berkata. “Sayang sekali ternyata aku tidak terkena serangan jantung.” kataku pura-pura terkejut.

Kyuhyun mendengus dan dia melanjutkan makannya lagi.

“Oh ya, ngomong-ngomong Dimana Jino?”

Sumpit Kyuhyun terhenti di udara, dia melihatku. “Kenapa menanyakannya lagi?”

“Aku mau mengucapkan terima kasih.”

“Akan kusampaikan.” sahutnya enggan dan menyuap telur ke mulutnya.

“Itu tidak sopan.” kataku tidak setuju. “Aku harus mengatakannya secara langsung.”

Kyuhyun berbicara pada mangkuknya. “Dia akan mengerti.”

“Kalau begitu berikan aku nomor ponselnya.”

Dia meletakkan sumpit lagi, melihatku jengkel. “Bisakah kau makan saja? Apa mengucapkan terima kasih lebih penting disaat kau bahkan tidak terlihat seperti orang sehat.”

“Aku hanya…”

Dia memotongku cepat. “Makan, Park Hyura!”

Dia kembali menjadi Kyuhyun si menyebalkan. Padahal aku hanya berbuat sopan pada adiknya. Kenapa dia harus bereaksi begitu?

Aku mendengus, mengambil lauk dan melanjutkan makanku. Sementara dia berdiri menggeser kursinya kebelakang dan menyingkirkan makanannya. Kulihat di mangkuknya masih ada separuh sebelum dia membawanya ke bak cuci.

“Kau tidak menghabiskan makananmu?” tanyaku

“Aku sudah kenyang.” dia langsung membuang sisa makanannya sebelum mencuci mangkuk.

Aku memperhatikan punggungnya yang bergerak dimeja dapur saat dia mencuci piring. Penasaran kenapa sikapnya terus berubah-ubah? 

Ya ampun, aku baru sadar Dia memiliki bahu lebar dan aku yakin dadanya juga bagus.

Menggeleng keras.

Astaga, apa sih yang kupikirkan?

Menunduk dan memusatkan perhatian pada makananku hingga habis.

“Terima kasih atas makanannya.” kataku sebelum meletakkan sumpit.

Saat mendongak aku menemukan Kyuhyun yang sedang menontonku. Apa sejak tadi dia hanya menontonku makan?

Bersandar di Kursi saat tau Kyuhyun tidak mengalihkan perhatiannya dariku. Menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil tersenyum bangga. “Jika kau tidak berhenti kau akan semakin terpesona padaku.”

Matanya melebar dan Dia langsung membuang wajahnya. “Mimpi saja.”

Aku ingin tertawa tapi itu tidak menarik jadi menyamarkan tawaku dengan batuk sebelum bicara lagi. “Aku mengerti, kau seharusnya bangga melihat selebritis makan dan tidur di rumahmu, jadi aku tidak akan melarangmu menontonku.”

Kyuhyun terlihat muak tapi saat dia bergerak sekilas aku melihat sudut bibirnya terangkat. “Berhenti bicara omong kosong.” dia meraih sesuatu di laci kabinet dapur.  “Kau harus minum obat.” katanya membawa beberapa bungkusan kertas ke meja makan.

“Obat?” aku melihat bungkusan di meja lalu menggeleng. “Aku baik-baik saja, aku tidak sakit.”

Dia mengambil segelas air dan menyerahkannya padaku. “Minggu lalu aku melihatmu hampir pingsan, dan hari ini dengan Jino, untung saja kau bertemu dengannya, bagaimana kalau tidak?”

Aku meringis. “Kau salah paham, aku benar-benar tidak sakit. Aku tidak apa-apa. Aku tidak butuh obat.”

Dia menatapku memperingati. “Minum atau aku akan membawamu kerumah sakit lalu menelpon ibumu, aku yakin dia juga akan melakukan hal yang sama denganku”

“Aku benar-benar tidak sakit, sungguh.” kataku meyakinkan.

“Baiklah jika kau lebih memilih IGD.”

“Ya Cho Kyuhyun!”

Dia tidak mendengarnya. Atau tidak peduli. Dia justru mengangkat gelas dan tablet yang sudah dia pegang. Seolah aku tidak punya pilihan lain selain meminumnya.

Dengan tatapan sengit aku mengambil gelas dan meminum obat dalam sekali tegukan. “Puas?”

Dia mengangkat bahu,  lalu membereskan sisa makananku sambil berbicara “Kembalilah ke kamar, kau butuh istirahat lagi.”

“Aku mau pulang.”

“Aku sudah memberitahu Eomonim kau kau bermalam disini.”

“Apa? Kenapa?”

“Tidak ada alasan.”

“Tidak mungkin ibuku begitu saja mengizinkanku menginap disini, kau pasti membohonginya.”

“Aku calon suamimu, kenapa harus repot-repot berbohong?”

“Itu dia.” kataku. “Masih calon suami. Kita belum menikah. Jadi, kenapa ibuku mengizinkannya?”

Kyuhyun berhenti, memutar tubuhnya hingga kami berhadapan. Dia menatapku bosan. “Ini sudah lewat tengah malam, orang tua mana yang lebih menyukai anaknya berkeliaran di jam segini? Daripada beristirahat di tempat yang jelas-jelas aman.”

Aku cemberut, karena dia masuk akal.

“Masuklah kedalam Hyura-ya, kau masih butuh istirahat.” katanya lagi.

“Pinjamkan aku ponsel, aku bisa meminta manajerku untuk menjemputku.”

Kyuhyun memutar mata. “Ibumu bahkan tidak mau aku mengantarmu pulang, lalu kau berharap Han Nammie yang menjemputmu? Apa kau tidak keterlaluan?” dia mengangguk kearah ruang tamu一ke meja kopi, di sana ada beberapa tas kertas yang kuingat sebagai barang belanjaanku hari ini di Coex. “Lagipula tadi managermu sudah kesini.”

Sial

Kyuhyun mendekat. Dia berbicara lebih lembut. “Besok pagi aku janji akan mengantarmu pulang.”

Aku bukan orang yang tidak bisa berterima kasih. Kyuhyun menampungku, memberiku makan, tapi kami belum menikah rasanya tidak begitu nyaman. Oke itu hanya alasan. Buktinya tadi aku tidur sangat nyenyak. Aku hanya tidak ingin menghabiskan waktuku lebih banyak bersamanya karena alasan yang aku sendiri tidak tau.

“Kau janji?” tanyaku seperti anak kecil.

“Aku janji” Dia mengangguk.

“Oke”

TBC

***

EPILOGUE

Sudah lebih dari sepuluh menit Donghae berdiri di depan Butik Pierce. Matanya menatap potret Park Hyura yang tersenyum di etalase toko. Wanita itu memakai mantel berwarna krem, salah satu koleksi musim dingin yang terbaru. Dadanya begitu nyeri saat menatap wajah wanita itu. Enam tahun lalu dia bisa melakukannya, maka sekarang dia juga bisa melakukannya.

“Direktur Lee,” Young geun asistennya,  berjalan cepat menghampiri “Tuan Cho Jino, perwakilan dari Cho Corp datang.” Katanya.

Alis Donghae bertaut. “Kenapa tiba-tiba?”

“Sepertinya ingin mendiskusikan masalah sebelumnya.”

“Aku sudah menegaskan kita hanya memasang Soo Ae.”

“Mungkin masih ada yang mau dibicarakan.”

Donghae menggeleng. “Katakan padanya aku sedang rapat, aku tidak akan membuang-buang waktu dengan Cho Corp.”

Young geun terlihat ragu, rasanya tidak sopan berbohong pada salah satu pelanggan besar mereka.

“Kenapa masih disini?” tegur Donghae.

“Tapi… Direktur Lee….”

“Kau bekerja untuk Coex atau Cho Corp?” tanya Donghae tidak sabar.

Young geun mengangguk. “Baik, aku mengerti.” katanya lalu berbalik pergi.

***

Jino menggerutu saat mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran Coex. Kakaknya yang dia tau tidak pernah menyukainya, sengaja memberikan tugas untuk bernegosiasi dengan Coex soal materi promosi. Padahal sudah jelas-jelas direkturnya menolak. Dan kalau Cho Corp bersikukuh ingin memajang foto Park Hyura seharusnya cukup meminta bantuan Han Chaerin, kenapa harus repot-repot memintanya untuk datang lagi dan membuang-buang waktu. Direktur Lee bahkan tidak ingin menemuinya.

Dia baru membelokkan mobilnya ke arah jalan raya saat melihat calon kakak iparnya yang terlihat mencolok sedang berdiri mematung ditrotoar.

Apa yang dia lakukan disana? Tidak mungkin bunuh diri kan?

Jino menepikan mobilnya sebelum menurunkan kaca jendela. “Hyura….Hyura…Park Hyura! Nona Park!”

Pandangan Hyura terlihat kosong seperti pikirannya tidak berada disini. Atau mungkin tidak dengar karena bisingnya arus lalu lintas. Jino tidak menunggu, dia melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.

Dia menatap Hyura lekat-lekat, wajah wanita itu pucat, kosong dan kebingungan. “Kau baik-baik saja? Kau sakit?” tanya Jino setengah berteriak

Hyura menggeleng.

“Mau kuantar kerumah sakit? Atau mungkin menghubungi seseorang?” Suara Jino hampir panik, situasinya tidak menguntungkan. Mereka ditempat terbuka dengan penampilan Hyura yang terlalu mencolok dan wajahnya yang tidak baik-baik saja. Jika ada yang mengambil gambar maka artikel pasti akan muncul.

“Kau mau aku menghubungi Kyuhyun Hyung?” 

Hyura menggeleng lagi.

“Hyura ssi, kau membuatku takut.” Sekarang Jino benar-benar panik. 

Hyura membuka mulutnya untuk bicara, tapi Jino tidak mendengar apapun. Dia ingin bertanya lagi tapi air mata gadis itu tumpah dan hanya terdengar isakan yang mengiris hati.

“Sial!” Jino terburu-buru melepas jas lalu melemparnya ke kepala Hyura. Menutupi wajah gadis itu. Jika ada yang melihat bisa dipastikan besok foto Hyura akan terpampang di artikel gosip. Dia tidak mengambil resiko seperti skandal video dengan kakakknya.  

Jino melingkarkan tangannya ke sekeliling bahu Hyura dan membawanya masuk ke mobil secepat mungkin. Sayangnya mobil BMWnya tidak memiliki kaca gelap seperti Audy milik Kyuhyun. Jadi Jino tetap mempertahankan Jasnya di kepala Hyura, dan sepertinya gadis itu juga tidak keberatan.

Sesaat sebelum menjalankan mobil dia mengirim pesan pada Kyuhyun bahwa dia akan membawa Hyura ke rumahnya dan meminta kakaknya untuk pulang lebih cepat. 

Sesekali Jino melirik Hyura yang mungkin masih menangis tanpa suara, terlihat dari bahu gadis itu yang masih bergetar. Jino tidak memiliki pengalaman bagaimana harus menghadapi calon kakak ipar yang menangis. Jadi dia lebih memilih mengatupkan bibirnya rapat-rapat daripada salah bicara.

Setelah mengantar Hyura ke unit Apartemen Kakaknya dia menunggu di parkiran basement tidak lebih dari sepuluh menit. 

Kyuhyun keluar dari mobil dengan tergesa-gesa sambil menatap adiknya tajam “Aku menyuruhmu ke Coex kenapa malah membawa pulang Park Hyura!”

“Aku melihatnya di pinggirnya jalan,”  suara Jino meninggi. “Dia sakit, dan dia menangis, tidak mungkin aku meninggalkannya disana.”

Geraman rendah keluar dari dada Kyuhyun, “Agensi keparat itu benar-benar….” dia menggeleng, “sekarang dimana Hyura?”

“Di rumahmu, aku menyuruhnya beristirahat disana.”

Kyuhyun mengangguk lalu menepuk bahu Jino ringan sebelum pergi dari sana.

Di rumahnya, Kyuhyun menemukan Hyura tertidur disofa ruang tamu. Kaki gadis itu menggantung ke bawah. Sepatu putih tingginya terlepas di kaki meja kopi. Lalu ada jas pria tersampir di punggung sofa.

Kyuhyun berjongkok, melihat wajah Hyura yang terlihat lelah. Bekas air mata membuat sudut matanya menghitam karena mascara. Selain itu dia masih tetap cantik seperti biasa. 

Kyuhyun mengangkat tangan menyentuh dahi Hyura, memastikan dia tidak demam. Lalu sudut matanya melihat telapak kaki Hyura yang memerah, lalu lecet di bagian achilles. Dia berdiri mengambil salep, plester dan obat anti nyeri di kotak obat.

Dengan perlahan dia mengoles salep di kaki Hyura lalu menempelkan plester. Untuk obat anti nyeri akan diberikan setelah gadis itu bangun dan makan. 

Kyuhyun mengambil tangan Hyura, lalu melingkarkannya dibahu dan mengangkat tubuh gadis itu hati-hati. Memindahnya ke ranjang sebelum menyelimutinya. Tidak lupa Kyuhyun menyetel lampu agar lebih redup, dan menyalakan lilin aroma. 

Di luar kamar dia melirik jam sebelum merogoh ponsel dari sakunya. Kyuhyun menekan nomor yang belakangan ini membuatnya jengkel setengah mati. Saat nada dering terputus dan jawaban belum terdengar dari seberang Kyuhyun sudah membentak siapapun disana.

“Apa begini caranya memperlakukan artis kalian? Sudah kubilang akan menuntutmu jika sesuatu terjadi pada tunanganku!”

Desahan panjang dan frustasi terdengar dari seberang. “Aku tidak tau bagaimana kau bisa tau situasi yang sedang kacau disini, Tapi aku dan Minhyuk sedang mencari Park Hyura! Omelanmu tidak akan membantuku, Tuan muda.”

Kyuhyun mendesis “Jadi kau bahkan tidak tau artismu sakit dan terlantar di pinggir jalan?”

“Sakit? Siapa yang sakit?”

“Ya!” Kyuhyun membentak lebih keras. “Kau benar-benar manajer tidak berkompeten! Kau membiarkan artismu berkeliaran tanpa ponsel tanpa uang! Apa kalian ingin mencelakainya? Jika bukan karena adikku kupastikan besok kau tidak perlu datang bekerja lagi.”

“Apa?…..”

Kyuhyun memotong perkataan Nammie cepat. “Sekarang antarkan barang-barang Hyura ke rumahku!” lalu dia menutup ponselnya tanpa memberikan kesempatan Nammie untuk menjelaskan. 

Kyuhyun menghembuskan nafas keras. Dia melirik ke dapur sambil bergumam, “Sepertinya aku harus masak.”

***

Leave a Comment