
Happy Reading & Sorry for Typho
@miss_hoon
Satu setengah bulan terasa seperti mengedipkan mata. Aku tidak lagi berbicara atau bertemu Kyuhyun. Akhir tahun adalah masa penghargaan. Berbagai penghargaan dari banyak bidang semuanya bertumpuk. Ye eun membuat jadwalku dipadatkan sebelum acara pernikahan. Sebisa mungkin dia menyelipkan jadwal penghargaan yang bisa kuhadiri. Dan ‘love sea’ berkesempatan diputar di festival film bangkok meskipun belum premier. Karena hal itu juga aku hampir tiga minggu tidak pulang.
Berita baiknya dengan jadwalku yang menggila membuatku melupakan masalah pernikahan yang tidak bisa kucegah. Atau rasa sakit hati karena pria yang kusukai.
“Kau terlihat seperti sedang menunggu hukuman mati.”
Aku mendongak dari buket bunga dipangkuanku. Nammie mengenakan gaun panjang dengan bahu terbuka berwarna pink keemasan. Rambut hitamnya digelung rendah, membuat wajahnya terlihat lebih berisi. Menutupi tubuhnya yang kurus. Di tambah riasan sederhana membuatnya sangat cantik.
“Kalau kau mau kau bisa membuat drama sungguhan. Melarikan diri beberapa menit sebelum upacara pernikahan. Kurasa tidak terlalu buruk untuk drama kacangan” katanya lagi selagi berjalan mendekat.
“Diamlah,” desahku. “Suasana hatiku sedang tidak enak, ocehanmu semakin merusak moodku”
“Kau yakin suasana hatimu tidak enak? atau jangan-jangan kau gugup karena sebentar lagi akan menyandang status istri Cho Kyuhyun?”
Aku menatapnya memperingatkan, karena serius jika dia terus mengoceh aku akan merusak riasannya.
“Jangan bertampang begitu, kau membuatnya terlalu jelas, kau tau?” Dia meringis. “Pernikahan yang tidak diharapkan一pernikahan bisnis.”
“Pelankan suaramu.” bisikku kasar.
“Ups,” dia mengangkat tangannya seolah menyerah. “Tapi kau benar-benar hebat, Hyura-ya. Awalnya kukira pernikahan ini bencana tapi setelah melihatnya lebih jelas pernikahan ini sangat menguntungkan.” Dia tertawa kecil “Terlepas dari apapun alasanmu menikah, kau mendapatkan impian semua wanita. Suamimu tampan, kaya, dan keluarganya menyokong karirmu. Bisa dibilang kau mendapatkan Jackpot.”
Aku melotot. “Apa kau tidak bisa diam?”
Dia tersenyum geli namun mengangguk. “Baiklah, baiklah.”
Dia beruntung karena saat aku ingin mengomelinya lagi, kakakku masuk. Dia tertegun dipintu menatapku.
“Oppa?” tegurku.
Jangan salahkan aku dengan usia tuanya hingga dia jadi lebih sensitif. Lihat saja matanya yang mulai berkaca-kaca.
Nammie tertawa diam-diam melihat reaksi kakakku.
“Oppa, apa yang kau lakukan? Kau terlalu tua untuk menjadi cengeng.”
Dia ingin tersenyum tapi kerutan di dahinya begitu dalam, seperti dia sedang menahan hujan badai di langit lalu setitik air mata turun di salah satu pipinya. Mungkin aku memang tidak berperasaan atau mati rasa karena jujur saja melihat kakakku menangis aku tidak tersentuh sama sekali. Yang ada aku ingin tertawa seperti Nammie. Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan, menyamarkan tawanya dengan batuk.
“Kau…” Leeteuk Oppa menarik nafas panjang. “Sangat cantik….Hyura-ya.”
“Aku tau.” sahutku tersenyum bangga. Aku mengisyaratkan agar dia membantuku berdiri.
Nammie mengangkat ekor gaunku, dan memegang tanganku lalu menoleh pada Leeteuk Oppa. “Oppa, kau mau tetap berdiri disana atau mengiringi adikmu?”
Leeteuk Oppa mengusap wajahnya, sebelum mengangguk dan mendekat. Masih dengan mata berkaca-kaca dia tersenyum saat mengambil tanganku dari Nammie lalu melingkarkan ke lengannya.
“Ayo.”
***
Pintu kayu besar di depan kami terbuka. Semua para undangan yang tidak bisa kulihat一berdiri dan bertepuk tangan begitu aku melangkah masuk. Dari sini kulihat jalan masuk dipenuhi bunga lili putih, begitu juga di sisi kanan kiri. Lampu gantung besar menyala tepat diatas Kyuhyun. Dia terlihat mencolok dari semuanya. Wajahnya terlihat begitu tampan dengan pantulan lampu yang menyorot wajahnya. Bohong jika ku katakan dia tidak terlihat bagus dengan tuxedo putihnya. Dia seperti tokoh anime yang keluar dari komik.
Tatapan Kyuhyun begitu tajam seperti menusuk ke dada. Membuatku tanpa sadar semakin mengeratkan pegangan pada lengan Leeteuk Oppa. Aku begitu gugup, Jantungku terasa seperti mau meledak, langkah kakiku sedikit gemetar.
Leeteuk Oppa berbisik “tarik nafas Hyura-ya.”
Tanpa perlu di suruh aku menarik nafas dalam-dalam agar bisa menguasai diri.
Jarak dari pintu ke altar hanya beberapa meter tapi terasa begitu jauh dan lamban. Musik lembut yang mengalun bahkan tidak membuatku merasa lebih baik. Aku merasa ratusan pasang mata seperti jarum yang membuatku sulit bergerak. Beruntungnya Leeteuk Oppa memegangiku dengan benar.
“Kuserahkan adikku padamu” kata Leeteuk Oppa sambil menyerahkan tanganku pada Kyuhyun, dan Dia sedikit menunduk memberi hormat pada Kakak Ku.
Tanpa perlu melihatnya, aku berbalik ke arah pembawa acara yang sudah ditunjuk ibunya Kyuhyun. Aku tidak tau namanya, tapi dia tersenyum begitu ceria pada kami berdua.
“Para hadirin sekalian,” Kata pria itu memulai, dan suasana hening seketika. Musik piano berhenti, dan semuanya terdiam.
“Hari ini, kita disini berkumpul untuk menyaksikan penyatuan dua cinta suci. Tuan Cho Kyuhyun, Nona Park Hyura.” Dia berhenti sesaat dan tersenyum lagi pada kami berdua.
“Aku akan mewakili setiap orang disini untuk mengatakan bahwa kalian pasangan sempurna. Memberikan semua berkat orang yang hadir agar kalian memiliki kebahagiaan seumur hidup.” Katanya. Dia mematikan pengeras suara lalu memajukan wajahnya dan berbisik. “Siapa yang akan membacakan sumpah pernikahan lebih dulu?”
Aku melotot. “Sumpah pernikahan?”
Menatap Kyuhyun dengan pandangan menuduh “Tidak ada yang memberitauku soal ini.”
Kyuhyun tidak menanggapiku. “Aku saja yang membacakannya.” katanya.
Pria pembawa acara menatapku tidak yakin. “Hanya mempelai pria saja?”
Kyuhyun mengangguk.
“Baiklah.” gumam si pembawa acara lalu dia menyalakan pengeras suara lagi.
Aku melirik Kyuhyun kesal. Bagaimana mungkin dia tidak memberitahu apapun mengenai sumpah pernikahan? Mungkin dia tau aku akan menolaknya dengan keras. Karena sumpah pernikahan adalah hal yang intim. Janji yang akan kami buat untuk pernikahan kami. Sementara pernikahan kami hanya pura-pura dan sumpah pernikahan tidak akan berlaku didalamnya.
“Sebelum memakaikan cincin, kita dengarkan dulu sumpah pernikahan dari mempelai pria.” kata si pembawa acara pada Kyuhyun. “Tuan Cho Silahkan.” katanya sambil mengarahkan pengeras suara pada Kyuhyun.
Kyuhyun mengambil tanganku yang satu lagi dan dia menggengam keduanya sebelum memutar tubuh kami hingga berhadapan. Mau tidak mau aku mendongak dan kami saling menatap satu sama lain.
Ini seperti adegan film saat si pemeran pria akan menyatakan cinta. Seperti sesuatu yang fenomenal yang tertulis pada novel romantis. Bedanya ini bukan film, atau novel. Ini kenyataan. Kyuhyun ada didepanku, sekarang dengan tatapannya yang membuat lutut wanita manapun gemetar.
Tanpa sadar aku menelan ludah saat dia membuka mulutnya dan memanggil namaku seperti sebuah harapan.
“Hyura-ya….Dua tahun lalu sejak hari pertama kita bertemu aku tau hari ini akan tiba.” katanya memulai.
Aku mengernyit. Tentu saja semua orang tahu kami telah menjalin hubungan sebelum aku datang kesini. Tepatnya dua tahun lalu. Itu hanya karangan. Dan tentu saja sumpah pernikahan yang dia ucapkan juga karangan. Seharusnya aku tidak terkejut.
Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. “Kita melalui banyak hal bersama, meskipun tidak semuanya hal baik, dan mungkin kedepannya juga akan seperti itu. Aku tidak bisa menjanjikan pernikahan sempurna, karena kita tidak begitu. Yang bisa kujanjikan adalah aku akan terus berada di sisimu, menemanimu, apapun keadaannya. Karena Kau adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk menghabiskan sisa hidupku.” Dia mengambil jeda sebentar lalu tersenyum samar. “Aku mencintaimu, Park Hyura. Melebihi hidupku sendiri.”
Jika kalian melihat ekspresiku mungkin kalian akan sadar bahwa aku adalah wanita yang akan jatuh pada pelukan Kyuhyun saat itu juga. Karena dalam sepersekian detik aku hampir mempercayainya.
Hampir.
Namun kemudian riuh tepuk tangan menyadarkanku bahwa pernikahan ini hanya pura-pura. Semuanya palsu. Begitu juga dengan sumpah pernikahannya.
Aku mengerjap cepat. Menyadarkan diri sendiri.
Fokus Park Hyura!
Si pembawa acara mengusap sudut matanya. “Astaga, itu sangat indah Tuan Cho.” katanya. “Aku hampir saja mengatakan aku yang bersedia.” kemudian terdengar tawa rendah dari beberapa tamu.
Senyum sombong terbit di bibir Kyuhyun, dan aku tidak tahan untuk tidak memutar mata. Kurasa dia akan cocok jadi aktor. Dia bisa memenangkan oscar dalam waktu kurang dari dua tahun.
“Baiklah,” kata si pembawa acara. “Kita akan memasangkan….”
“Tunggu.” aku memotongnya. “Aku juga akan mengucapkan sumpah pernikahan.” kataku.
Si pembawa acara tersenyum terkejut. Sementara Kyuhyun melirikku was-was.
“Tentu, Nona Park, silahkan.”
Aku tersenyum semanis mungkin pada Kyuhyun. Sementara dia penuh dengan kecurigaan. Benar. Inilah yang kumaksud. Pernikahan kami hanya pernikahan palsu jadi kenapa dia harus repot-repot mengucapkan sumpah pernikahan?
Jadi, aku memulai bagianku.
“Kyuhyun-ah,” Panggilku lembut. Dia menegang.
Aku melanjutkan. “Terima kasih telah bersamaku selama ini, menghormati pilihanku, mendukung mimpiku, menyediakan tempat pulang saat aku lelah. Dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu. Aku akan mendengarkanmu saat kata-kata sulit keluar, memelukmu saat air mata jatuh, dan merayakan setiap langkah kecil yang kita tempuh. Dalam terang dan gelap, sehat dan sakit, cukup dan kurang, aku akan tetap menggenggam tanganmu. Karena mulai hari ini, kita berjalan bersama— bukan untuk menjadi sempurna, melainkan untuk saling menyempurnakan.”
Well, itu adalah salah satu script film yang kuingat.
Reaksi Kyuhyun persis seperti yang kuharapkan. Mulutnya terbuka seolah dia kehabisan kata-kata. Matanya terlihat tersiksa. Kemudian aku menutupnya dengan kata-kata keramat.
“Aku juga mencintaimu, Cho Kyuhyun. Hari ini, Esok dan seterusnya.”
Si pembawa acara menatapku berkaca-kaca, dia memegang dadanya dan menggeleng lemah. “Itu sangat menyentuh, nona Park. Aku hampir saja menangis.”
Mau tidak mau aku tersenyum padanya. “Terima kasih.” bisikku. Tapi senyumku perlahan menghilang saat mendongak melihat Kyuhyun. Matanya menatapku aneh, hingga mulutku terasa kering, dan dadaku bergetar. Ini tidak bagus. Padahal sebelumnya reaksi terkejutnya membuatku terhibur. Tapi sekarang dia seperti…..marah atau mungkin kesal. Entahlah.
“Baiklah,” kata si pembawa acara. “Boleh bawakan aku cincin?”
Nammie daan Jino muncul entah dari mana memberikan kami cincin. Aku memasangkan cincin ke jari Kyuhyun tanpa melihatnya. Dan sampai di bagian yang paling aku takutkan saat pembawa acara mengumumkan. “Kalian sudah sah menjadi suami istri,” katanya. “Tuan Cho silahkan berikan ciuman paling mesra untuk Nona Park.”
Memejamkan mata saat mendengar riuh tepukan tangan dan beberapa siulan.
“Lihat aku.” bisik Kyuhyun. Dia menyentuh daguku dan memaksaku mendongak hingga mata kami bertemu. Dan perutku terasa terpilin. Padahal saat pemilihan model Cortez aku tidak setegang ini. Dan reaksiku tidak separah sekarang.
Aneh.
Aku memejamkan mata saat dia mendekatkan wajahnya, kemudian kurasakan sapuan hangat di keningku. Membuka mata perlahan, Kyuhyun sudah memutar tubuhnya menghadap ke para tamu. Aku tidak tau apa yang kupikirkan atau harapkan. Tapi ciuman di kening barusan membuat perasaanku lega dan makin tidak karuan.
Sesekali aku melirik ke arahnya saat si pembawa acara melanjutkan susunan acara sampai pada sesi foto dan para tamu dipersilahkan menyantap makanan di ruangan yang sudah disediakan. Pada saat itu semua lampu menyala dan aku baru bisa melihat pada tamu undangan dengan lebih jelas. Ibu dan kakakku yang duduk paling depan, lalu keluarga Cho, beberapa teman satu agensi, dan beberapa teman artis dari Love sea. Sisanya aku tidak mengenal mereka.
****
Kami mendapatkan kamar special bulan madu dari Hotel. Lebih tepatnya hadiah pernikahan dari Han Chaerin. Jadi setelah acara bukannya pulang kami harus melanjutkan sandiwara dan naik ke lantai atas.
Hebatnya disini sudah ada dua koper. Yang satu koper milikku yang sangat kukenal. Lalu disampingnya ada koper hitam yang kuyakini punya Kyuhyun.
Kapan dan siapa yang Menyiapkannya?
Kyuhyun masuk lebih dulu. Setelah acara selesai dia bahkan tidak mengajakku berbicara. Bukannya aku ingin ngobrol atau semacamnya tapi didiamkan juga tidak menyenangkan.
Aku sudah membayangkan bagaimana seharusnya honeymoon suite. Tapi ini berlebihan. Di ruang depan terdapat balon di langit-langit bertuliskan ‘Aku mencintaimu selamanya’, lalu lilin di dekat jendela besar disusun membuat tulisan ‘I Love You’, troli makanan yang isi coklat, campagne, buket besar bunga mawar. Lalu di dalam kamar, di atas ranjang, kelopak bunga mawar disusun membentuk lambang hati.
Astaga siapa sih yang membuat dekorasi senorak ini?
Menunjuk tempat tidur saat bertanya. “Kau yakin kita akan tidur disana?” aku tidak bisa menahan nada mengejek di suaraku.
Kyuhyun sedang melepas jasnya lalu berhenti di tengah-tengah. Dia menatapku bingung. “Kita?”
Aku mengangguk.
“Kau mau kita tidur satu ranjang?”
Oh.
Sial kenapa aku tidak menyadarinya.
Menggigit bibirku lalu menggeleng. “Kau boleh tidur disofa kalau begitu.”
Dia mengangguk dan melepaskan jasnya. Melemparkan ke sofa. Begitu juga dengan dasinya.
“Kau Lapar?” tanyanya. Dia mengangguk ke arah troli makanan. “Makanlah, itu disiapkan Chaerin.” Kyuhyun merebahkan tubuhnya di sofa. Selain set sofa, TV layar datar, disini juga ada meja bar, dan meja makan. Lalu satu kamar besar dengan tempat tidur besar yang menghadap ke kamar mandi dengan kaca transparan. Benar-benar disiapkan untuk kamar bulan madu.
“Ngomong-ngomong, kenapa temanmu repot-repot menyiapkan hadiah tambahan?” tanyaku.
Kyuhyun memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di punggung sofa. “Entahlah.” sahutnya.
“Kau kelelahan?”
Dia tidak menjawabku dan menutup matanya dengan lengan. Aku juga tidak berniat mengganggu.
Mengambil koper dan membawanya ke kamar, tidak lupa menguncinya, hanya berjaga-jaga kalau-kalau Kyuhyun tiba-tiba masuk dengan keadaanku tidak siap.
Melihat sekeliling, dan mataku terpaku pada Jaccuzi di balik kaca. Berendam lama di air panas terasa sangat menggoda. Di tambah busa dan lilin aromatherapy. Astaga berapa lama aku tidak menikmati kemewahan ini?
Sambil menunggu air penuh, aku membersihkan make up, dan mencari saklar penutup tirai. Namun sayangnya aku tidak menemukan tombol atau remote yang kubutuhkan. Meskipun sudah mengunci pintu rasanya sangat aneh melihat kamar mandi dan kamar tanpa sekat penutup.
Kurasa berendam akan sempurna dengan minuman. Jadi aku kembali ke ruang depan mengambil gelas dan botol champagne dingin. Untungnya Kyuhyun masih tertidur. Sekarang tubuhnya sudah rebah di sofa seutuhnya. Sofanya tidak panjang, jadi kakinya menggantung di bagian ujung. Ditambah lagi dia hanya menggunakan tangan sebagai bantal. Dia juga tidak mengganti kemejanya.
Mungkin dia terlalu lelah.
Dua puluh menit kemudian aku menemukan diriku sudah berendam dalam busa yang lembut, mewah, dan wangi sambil bersenandung ringan dengan gelas ketiga dari champagne yang kuminum. Suara Celine Dion terdengar yang terdengar dari ponselku menjadi latar belakang yang sempurna.
Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Chaerin nanti.
Masih mengenakan jubah handuk, dan mengeringkan rambut, aku menarik koper ke kamar mandi, kemudian baru menyadari tidak menemukan baju normal yang bisa kupakai. Tanganku terangkat merentangkan lingerie super tipis berwarna merah dan pink. Lalu celana dalam thong dengan warna senada.
Han Nammie! Kau benar-benar!
Aku melempar sembarang kedua benda menjijikan. Berikut dengan beberapa potong lingrie lainnya. Aku bahkan tidak tau pernah memiliki baju-baju seperti ini.
Aku menemukan gaun tweed pendek berwarna biru. Tapi baju ini terlalu formal dan tidak bisa kupakai untuk tidur.
Sial.
Hanya gaun tidur satin berwarna hitam yang lebih baik daripada yang lain. Tapi begitu kupakai ternyata tidak jauh berbeda. Bahannya terlalu tipis hampir transparan, potongannya juga terlalu rendah, hingga rasanya payudaraku akan tumpah keluar, punggungku juga terlalu terbuka dan yang paling parah, baju ini hanya menutupi pangkal pahaku.
Tapi saat bercermin ternyata tidak seaneh itu. Justru aku terlihat semakin cantik, dan aku suka penampilan seksiku. Selama hanya aku sendiri yang menikmatinya jadi kurasa sama sekali tidak masalah.
Dengan perasaan ringan aku naik ketempat tidur dan mematikan lampu.
***
Kurasa aku baru memejamkan mata selama beberapa menit saat kudengar pintu kamar diketuk keras.
“YA! Park Hyura! Buka pintunya!”
Masih setengah sadar aku terduduk.
Siapa? Kyuhyun?
“Hyura-ya!” teriaknya makin tidak sabar.
“Apa sih?” sahutku serak
“Buka pintunya!”
Mengerang, mengambil selimut menutupi tubuhku seperti kepompong saat berjalan ke pintu. Dia melotot lalu menabrak bahuku kasar sambil mengomel. “Kenapa mengunci pintu? Kau pikir aku tidak butuh akses kamar mandi?”
“Aku sedang tidur, kenapa marah-marah?” sahutku.
Dia berbalik. Tangannya dipinggang. “Aku sudah mengetuk dari beberapa menit lalu, aku juga sudah menelponmu, tapi kau tidur seperti orang mati.”
“Tapi…”
Kyuhyun tidak lagi mendengarku, dia sudah berbalik menuju kamar mandi namun berhenti diambang pintu. Dahinya berkerut. “Kau tidak menutup tirainya?”
Mengangkat bahu. “Aku tidak menemukan tombolnya.”
Dia berdecak, Matanya menjelajahi dinding ruangan, lalu melongok ke dalam kamar mandi sekilas sebelum menyeberangi ruangan ke sisi ranjang. Dia membuka laci nakas dan beralih padaku. “Tidak ada remote?”
Aku menggeleng.
Kudengar dia mengumpat tertahan. “Keluarlah kalau begitu.” katanya padaku.
“Apa?”
“Kau mau melihatku buang air?” sahutnya tidak sabar. “Cepatlah.”
Dengan cemberut aku memutar tubuh dan keluar dari kamar.
Di ruang depan mataku menangkap beberapa makanan yang belum tersentuh, kecuali ember champagne yang sudah kosong. Lalu aku teringat gelas dan botol champagne yang kutinggalkan di kamar mandi, juga koper yang isinya berantakan dan… baju memalukan…
Oh Sial,
Aku bergegas kembali kekamar, hampir setengah berlari, dan menyadari kemungkinan Kyuhyun belum selesai dengan urusannya.
Sebelum wajahku menabrak pintu, aku mengetuknya dua kali.
“Kau sudah selesai?”
“Sebentar.” sahutnya dari dalam.
Jariku mengetuk-ngetuk daun pintu. “Berapa lama?”
Dia tidak menjawab
“Kyuhyun-ah…”
“…..”
“Ya! Cho Kyuhyun! Masih lama?”
“Masuklah.”
Memutar kenop bersamaan dia membuka pintu kamar mandi. Aku tidak menunggu dan langsung mendekat. Aku berhenti di ambang pintu, menyadari usahaku sia-sia saat melihatnya tersenyum samar sambil memandangi kekacauan yang kubuat.
Memalukan.
“Apa yang kau lihat?” bentakku.
Kyuhyun memalingkan wajah sambil mengangkat bahu.
Tanpa melihatnya aku berjongkok memungut pakaian kurang bahan yang Nammie kemas untukku. Aku bersumpah dia akan membayarnya besok.
Setelah menutup koper aku menggeretnya kembali ke kamar. Sementara Kyuhyun masih berdiri ditempatnya semula.
“Kenapa kau masih di sana?” tegurku
Kyuhyun mengerjap dua kali, seolah berusaha mengembalikan fokusnya, seperti dia tidak berada disini.
Dia berdehem. “Ku..kurasa aku butuh mandi.” katanya tidak yakin. “Bisakah kau keluar lagi?”
Aku melirik jam di nakas, “Ini hampir tengah malam, sebaiknya kau tidur saja.”
Kyuhyun berbalik memunggungiku. “Tidak, aku benar-benar butuh mandi.” katanya. “Jadi keluarlah sebentar.
“Kyu, sebaiknya kau memesan kamar lagi.” aku mengusulkan. “Kita tidak mungkin bolak balik keluar kamar karena tirai kamar mandi sialan itu, dan kau juga tidak perlu tidur di sofa kecil didepan.”
Dia menggeleng. “Aku tidak mengambil resiko, Chaerin bisa tau kalau aku memesan kamar lagi dan dia pasti curiga.”
“Kau terlalu khawatir, dia tidak akan mengeceknya.”
“Terlalu beresiko.” Kyuhyun setengah menoleh. “Lagipula ini hanya satu hari, besok kita bisa pulang, memangnya kau tidak bisa menahannya satu malam saja?”
“Aku menyarankan ini demi kebaikanmu, aku yakin tubuhmu pasti sakit tidur disofa.”
“Aku baik-baik saja.” sahutnya keras kepala.
Aku maju selangkah dan menepuk punggungnya. “Bisakah kau melihatku saat aku bicara?” kataku setengah jengkel. Perasaan diabaikan terasa begitu kuat saat kau berbicara pada punggung seseorang.
“Tidak.” katanya tegas, dan entah kenapa itu menyinggungku. “Aku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mandi, apa kau tidak bisa menunggu diluar sebentar? Aku janji setelah itu tidak akan mengganggumu lagi. Dan bagaimana aku tidur itu urusanku.”
“Terserah” sahutku ketus, berjalan keluar dan membanting pintu.
Diluar, aku melihat selimut yang tadi kupakai tergeletak dekat kaki sofa. Aku menunduk dan melihat payudaraku yang hampir tumpah. Mengusap wajah kasar dan mengerang. Jadi sejak tadi Kyuhyun sudah melihat lebih banyak daripada seharusnya?
Sialan.
***
Sejak sarapan pagi tadi di restoran hotel kami tidak berbicara banyak. Terlebih lagi Chaerin datang bergabung, otomatis aku tersingkir dengan obrolan mereka. Meskipun pada awalnya aku tidak keberatan tapi lama kelamaan mereka berdua membuatku kesal.
Sekarang kami sedang menuju apartemennya. Kyuhyun menjelaskan mengenai pengaturan keamanan, akses dari basement dan lift. Dia menekan tombol kombinasi pintu sambil mengulangnya tiga kali dan juga menekankan agar aku menghafalnya. Seolah aku ini idot yang tidak bisa bahasa manusia.
“Akan ada yang membersihkan apartemen seminggu dua kali, tapi hanya bagian luar untuk kebersihan kamar urusan masing-masing.” jelasnya, dia berjalan ke dapur yang berjarak lima langkah dari tempatku berdiri.
“Karena itu terlalu beresiko.” tambahnya. Dia mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya lalu meletakkannya di meja bar. “Ini untuk kebutuhan rumah, kau bisa menggunakannya atau tidak, Terserah.”
Dia berhenti untuk menatapku sesaat, menungguku bereaksi, tapi aku tetap tidak mengatakan apapun.
“Kau mendengarkanku tidak?”
Aku mengangguk.
Dahinya berkerut. “Ada apa denganmu?”
Mengangkat bahuku tanpa menjawabnya.
Dia melihatku menyelidik. “Kau marah?”
“Kenapa aku harus marah?”
Dia menggeleng lemah. “Aku tidak tau.”
Aku mendengus. “Tunjukan saja di mana kamarku.”
Kyuhyun menatapku ragu beberapa saat sebelum dia mendahuluiku menuju pintu terdekat dan membukanya. “Ini kamarmu.”
Aku maju selangkah melihatnya dari ambang pintu. Berbeda dengan kamar Kyuhyun yang sebelumnya pernah kutiduri. Disini ukuran kamarnya lebih kecil tapi Ranjangnya lebih besar, ditambah drawer dan meja rias yang justru membuatnya tampak sempit.
“Ruang bajumu masih dalam proses,” kata Kyuhyun, dia mengangguk pada pintu lain disamping kamarku. “Aku sudah meminta managermu yang menatanya, dan juga…”sekarang dia menunjuk pintu paling ujung di lorong. “Kau tau dimana kamarku, panggil aku kalau kau butuh sesuatu.”
Aku beralih padanya. “Aku tidak punya kamar mandi sendiri?”
“Kau bisa pakai yang disana.” katanya menunjuk pintu disebrang kamarku.
Hidungku berkerut tidak suka. Tapi sebelum aku bisa protes Kyuhyun mendahuluiku. “Atau kau bisa pakai yang ada di kamarku.”
“Kau bisa punya kenapa aku tidak.” gerutuku pelan namun cukup keras untuk di dengarnya.
Kyuhyun mendesah pelan, seolah menyesal telah menawarkan kamar mandinya untukku. “Sebelumnya ini ruang kerjaku, dan aku tidak punya waktu untuk menukar kamar, Disini aku hanya perlu menambahkan ranjang dan meja untukmu, sementara untuk memindahkan barang-barangku kesini dan mengisi barang baru disana membutuhkan waktu lebih lama.”
Aku meliriknya sinis. “Terima kasih sudah memperjelas bahwa aku hanya menumpang disini. Haruskah aku membalas kebaikan hatimu?”
“Hyura-ya,” keluhnya.
Aku pura-pura tidak mendengar dan masuk ke dalam kamar. “Keluarlah, aku lelah.”
Sampai beberapa saat aku tidak mendengar pintu tertutup. Jadi aku berbalik, memastikan. Kyuhyun masih di ambang pintu, kerutan di dahinya begitu dalam, dia melihatku seolah sedang memecahkan soal matematika tersulit di dunia.
“Apa? Kenapa belum pergi?” tanyaku ketus.
“Kau benar-benar marah padaku” gumamnya.
Aku tidak tahan untuk tidak memutar mata. “Sebagai seorang pria tidakkah kau merasa terlalu sensitif?” sindirku.
“Jika ada yang mengganggumu kau bisa langsung mengatakannya padaku, menyindir dan berbicara sinis sama sekali tidak membantu, Hyura-ya. Aku yakin kau cukup pintar untuk memahami hal itu.” Dia meraih gagang pintu sebelum bicara lagi. “Berikan aku waktu sampai akhir pekan untuk menukar kamar, setelah itu kau bisa mendapatkan kamar mandimu sendiri.” katanya lalu pintu tertutup.
Dasar Pria sombong menyebalkan.
***
Aku mendapat libur dua hari penuh karena pernikahan. Agensi benar-benar mengosongkan jadwalku. Meskipun kubilang tidak membutuhkannya. Jadi aku menggunakan kesempatan ini untuk mengunjungi ibuku.
“Apa Eomma kesepian di rumah sebesar ini?” tanyaku. Kami duduk di beranda sambil menikmati pancake buatannya dan tentu saja hojicha kesukaan ibuku.
“Awalnya begitu.”sahutnya sambil tersenyum. “Tapi apa yang perlu kukeluhkan saat diberi rumah nyaman dan besar seperti ini oleh putriku kesayanganku, aku hanya perlu bersyukur dan bangga padamu.” Dia menggenggam tanganku, “Kakakmu bahkan terlalu betah disini, dia jadi jarang keluar, sangat berbeda saat dulu di Tokyo.”
“Bukankah itu hanya karena pekerjaan? Dia harus pulang larut setiap hari jadi jarang dirumah?”
Ibuku menggeleng. “Dia bukan penggila kerja, tapi saat akhir pekan dia juga pasti keluar rumah.” tangannya terentang ke arah ruang duduk, di sana ada layar tv yang separuhnya memenuhi dinding. Aku sengaja membeli tv dengan ukuran paling besar yang dijual toko elektronik untuk pekerjaanku. Karena sebagian besar aku harus banyak menonton berbagai jenis film. Kemudian aku juga mendesain salah satu kamar menjadi bioskop pribadi. Dengan layar proyektor, sound system dan kursi malas.
Sayangnya aku harus pindah ke tempat Kyuhyun dan tidak bisa menikmatinya.
“Leeteuk lebih sering menemaniku dirumah, dia juga suka sekali dengan bioskop kecilmu.” kata ibuku sambil terkekeh. “Oh ya, dia juga pernah membawa adik Kyuhyun untuk nonton pertandingan bisbol disana.”
“Cho Jino?”
Ibuku mengangguk. “Anak itu kelihatan lebih ramah ketimbang Kyuhyun.”
“Aku tidak tahu Leeteuk Oppa kenal dengan Jino.” Gumamku
“Mereka satu kantor, tentu saja mereka saling kenal apalagi sekarang menjadi keluarga.”
Mataku melebar. “Leeteuk Oppa ditempatkan di kantor pusat Cho Corp?”
“Ya,” katanya. “Dia satu bagian dengan Jino.”
Aku mengangguk. “Itu bagus untuknya, setidaknya dia sudah punya teman dengan begitu Oppa tidak akan terlalu kesulitan di tempat kerja.”
Ibuku ikut mengangguk setuju, namun sedetik kemudian matanya melebar seakan teringat sesuatu. “Hyura-ya, apa kau bertemu Donghae?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menatap ibuku hati-hati. “A..apa Eomma juga melihatnya? saat pertunanganku?”
Eomma mengangguk sambil tersenyum. “Bukan hanya di pesta pertunangan dia juga datang di pernikahanmu.” Kyuhyun pasti mengundang Chaerin ke pesta pernikahan kami, tentu saja Donghae juga datang. Memangnya apa lagi yang kuharapkan? Beruntungnya kami tidak sempat berpapasan.
Ibuku mendesah pelan. “Dia masih sama” katanya sambil menerawang. “Anak yang penyendiri dan kesepian. Kami hanya sempat berbicara sebentar, kau tau itu acara besar jadi tidak leluasa. Aku ingin mengundangnya kesini, mungkin kita bisa makan siang bersama.”
Aku menegang. Mengundangnya makan siang? Itu terdengar menyenangkan dan… tidak pantas.
Bagaimana mungkin seorang mantan pelayan mengundang majikannya?
“Entahlah,” sahutku tidak yakin. “Dia pasti sibuk.”
“Mungkin Leeteuk bisa membantu.” katanya menyarankan. “Mereka dulu cukup dekat dan dari yang kudengar mereka pernah bertemu untuk urusan pekerjaan, Jadi….”
“Eomma,” potongku cepat. Aku menggeleng. “Sebaiknya jangan. Dia bukan Lee Donghae yang Eomma pikirkan. Dia bukan penyendiri dan tidak kesepian. Dia sudah menjadi pria hebat dan memiliki tunangan yang hebat juga, kurasa kita tidak perlu mengganggunya.”
Seperti tidak mendengarku, ibuku justru tersenyum senang. “Benarkah?” tanyanya antusias. “Aku justru semakin ingin bertemu dengannya.”
Menggaruk kepalaku. Sepertinya percuma. Dibanding Leeteuk Oppa, ibuku lebih sering membanggakan Lee Donghae, atau malah bisa dibilang dia anak ketiga ibuku. Karena sejak kecil ibuku sudah mengasuhnya. Tentu saja dia merindukannya.
“Aku hanya mengingatkan, kau tau bagaimana Nyonya Lee. Jangan sampai dia menyulitkan Eomma.”
Ibuku tersenyum. “Hyura-ya.” Tangannya meremas pahaku lembut. “Bagaimanapun juga, Jika bukan karenanya kau tidak akan disini sekarang.”
Dan aku tau dia benar.
***
Aku menatap bungkusan vitamin tradisional ditangan kiri dan lalu bungkusan dango (Kue Manis) ubi buatan ibuku di tangan kanan.
Ibuku bilang tradisi zaman dulu setelah menikah menantu perempuan diharuskan mengunjungi rumah mertua dengan membawa hadiah.
Mendesah berat dan mendongak ke pagar hitam besar di depanku.
Selamat Park Hyura, sekarang kau benar-benar menjadi menantu keluarga Cho.
Menekan bel dua kali sampai terdengar suara Eomonin dari dalam.
Eomonim menungguku di pintu sambil tersenyum hangat. “Hyura-ya.” sapanya ceria. “Senang sekali kita bertemu lagi secepat ini.” Dia memelukku singkat lalu melirik barang bawaan ditanganku.
“Apa yang kau bawa?”
“Oh, bukan apa-apa, ibuku yang menyiapkannya.” sahutku kaku.
Emonim menutup mulutnya dengan tangan. “Ya ampun, seharusnya kami juga menyiapkan sesuatu.” Dia menoleh kedalam rumah dan mengisyaratkan untuk pelayan mengambil barang bawaanku.
Aku memberikannya, sementara Eomonim menghelaku masuk kedalam.
“Sampaikan terima kasihku pada ibumu.” katanya lagi.
Aku mengangguk. “Akan kusampaikan.”
Rumah besar itu terlihat sepi hanya ada satu pelayan muda yang tadi membantuku mengambil barang. Selain itu rumah ini terasa terlalu besar. Aku yakin Eomonim pasti kesepian.
Kami berhenti di ruang tengah, saat aku bertanya. “Aboenim belum pulang?”
Emonim melirik jam besar kristal di depan kami. “Sebentar lagi, dia tidak pernah pulang terlambat.” Matanya melebar dengan penuh harap. “Kebetulan Hari ini Jino juga datang, kita bisa makan malam bersama, bagaimana kalau kau mengajak Kyuhyun juga.”
Bukan ide yang bagus, tapi aku tidak bisa menolak permintaan ibu mertuaku yang kelewat antusias ini. Jadi aku mengangguk dan mengeluarkan ponsel.
“Aku akan mengirimkan pesan padanya.”
Senyum Eomonim semakin lebar. “Bagus, kalau begitu tunggu disini sebentar, aku harus menyiapkan ikan pollack kesukaan Kyuhyun.” Katanya lalu meninggalkanku.
Aku : Aku dirumah orang tuamu. Bisakah kau datang?
Balasannya datang seketika.
Kyuhyun : Kenapa kau tiba-tiba datang kesana?
Aku berdecak. Orang ini benar-benar aneh, apakah harus ada alasan khusus untuk mengunjungi rumah orang tua.
Aku : Hanya berkunjung dan membawakan makanan.
Kyuhyun : Lain kali jangan datang kesana tiba-tiba
Kyuhyun : Dan jangan pernah datang sendirian.
Dahiku berkerut membacanya. Aku hanya memintanya datang kerumah orang tuanya sendiri tapi dia malah berbicara omong kosong.
Memilih untuk tidak membalasnya dan melipat ponselku. Aku beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Disana Eomonim sedang berbicara serius dengan Ahjumah, atau lebih tepatnya mengarahkan apa yang harus dilakukan.
Eomonim menoleh saat melihatku di ujung lorong.
“Aku hanya mau ambil air.” kataku.
Eomonim melambaikan tangannya padaku. “Hyura-ya, kemarilah.” dia menunjuk bangku tinggi di depan meja bar. “Duduklah disana.” perintahnya lembut. Dia mengambil dua set gelas keramik berwarna hijau dari kabinet atas lalu meletakkannya di depanku. “Ibumu bilang kau penyuka teh daripada kopi?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Kalau begitu cobalah.” dia mengambil teko kecil disisi bar, sepertinya dia sudah menyiapkannya sejak tadi. Lalu menuangkan cairan kekuningan itu ke gelasku. Aroma bunga chrysant begitu kuat tercium dari sana.
Aku mengangkat gelas, menghirup aromanya sesaat sebelum menyesapnya. Rasa getir memenuhi ujung lidahku namun meninggalkan aroma segar dan manis saat menelannya. Tanpa sadar mataku melebar. “Ini…enak.”
Eomonim tersenyum. “Kau suka?”
“Ya, aku menyukainya. Ini teh apa?”
“Sebenarnya ini bukan hanya teh, tapi minuman daun herbal dan campuran bunga.” katanya. “Ini juga bagus untuk kesuburan wanita, untungnya kau menyukainya, nanti aku akan membawakan yang banyak untukmu.”
Aku tersedak air liurku sendiri.
Kesuburan wanita?
Yang benar saja.
“Nyonya.” panggil Ahjumah. “Untuk supnya apakah perlu kutambahkan bubuk cabai?”
Eomonim melirik panci sekilas sebelum menggeleng. “Jangan terlalu banyak, Kyuhyun tidak suka makanan yang terlalu pedas.”
“Baik,” sahutnya.
“Kyuhyun suka sup ikan Pollack?” tanyaku.
Eomonim menjawab tanpa melihatku. “Ya, selain itu dia juga suka mie gandum.”
Eomonim kembali padaku, dia mengambil duduk di sebrang dan menuangkan teh untuknya sendiri. “Bagaimana denganmu?” tanyanya. “Makanan apa yang kau suka?”
Aku menggeleng. “Aku tidak punya makanan spesial, aku bisa makan apa saja.”
Itulah yang terjadi kalau kau selalu kelaparan. Aku bisa makan apa saja, bahkan sayuran mentah. Bukan tanpa alasan. Saat ada acara tertentu aku tidak diizinkan makan, dan hanya bisa minum airputih untuk menjaga bentuk perut dan wajahku. Kelebihan gula dan garam adalah bencana bagi seorang yang mengandalkan tubuh dan wajahnya untuk mencari uang sepertiku.
Eomonim sepertinya merasakan perubahan ekspresiku, hingga tangannya menggapai tanganku diatas meja lalu meremasnya lembut. Tatapannya penuh kasih sayang saat berkata. “Kuharap suatu saat nanti kau bisa mengatakan apa yang kau suka atau kau inginkan dan aku pasti akan membuatkannya untukmu.”
Mau tidak mau aku tersenyum. “Terima kasih.”
Dari ruang depan terdengar suara berisik dan orang mengobrol. Eomonim tersenyum saat bicara. “Mereka sudah datang. Ayo.”
Aku turun dari kursi mengikuti Eomonim dari belakang ke ruang tengah. Jino sedang membantu Aboenim melepaskan mantel dan menggantungnya sebelum dia melepas miliknya sendiri. Lalu disusul Kyuhyun yang masuk paling belakang.
Mataku langsung menemukannya. Dia melirikku tanpa ekspresi. Mengingatkanku bahwa acara kumpul keluarga dadakan ini bukanlah yang dia inginkan.
Menunduk, aku memberi salam pada ayah mertuaku. “Aboenim.”
Dia hanya mengangguk lalu beralih pada Eomonin.
“Park Hyura? Kau disini?” tanya Jino terkejut sekaligus senang.
Aku mengangguk dan senyum sebisaku.
Eomonim membantuku menjawab. “Tadi Hyura membawakan beberapa camilan. Nanti kita bisa memakannya bersama setelah makan.”
Aboenim melihatku dari bahunya. “Camilan?” tanyanya penasaran
“Bukan apa-apa, hanya Dango sederhana buatan ibuku.” sahutku.
“Tidak sabar untuk mencobanya.”
Ucapan Aboenim yang begitu hangat cukup melegakan. Anggap saja mendapatkan keluarga baru yang sangat baik adalah salah satu keuntungan lain dari pernikahan pura-pura ini.
Eomonim mengajak kami semua ke ruang makan. Mereka semua berbalik namun Kyuhyun menahan lenganku. Dia menunggu sampai semua orang pergi sebelum mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik kasar. “Seharusnya kau menghubungiku dulu sebelum kesini.”
Menarik tanganku dan balas berbisik. “Aku juga tidak berencana datang kalau ibuku tidak memaksa.”
“Apapun itu.” katanya tertahan. “Jika menyangkut keluargaku kau harus menghubungiku dulu. Kau mengerti?”
Aku mendengus dan berbalik, memilih untuk tidak menanggapinya. Aku tau ini keluarganya dan bukan keluargaku. Haruskah dia menekankan sejelas itu?
Menyebalkan.
Anggaplah aku anak kecil yang merajuk. Aku mengambil tempat terjauh dari Kyuhyun. Semua mata menatapku bingung dan heran saat menarik kursi di samping Jino. Membuat pemandangan paling aneh di meja makan. Pasalnya Aboenim berada di ujung meja. Eomonim dan Kyuhyun berada di masing-masing sisinya. Kemudian Jino di samping Eomonim. Sementara aku mengambil tempat di samping Jino. Dan Itu membuat Kyuhyun duduk sendirian di seberang meja.
Kyuhyun berdehem keras. Dia menarik kursi disampingnya. “Hyura, honey, kemarilah.”
Dengan senyum kecut aku memutari meja dan menduduki kursi di sisi Kyuhyun. Dia tersenyum palsu saat aku sudah di sampingnya. Lalu Eomonim mengambil beberapa lauk untuk di letakkan di mangkuk kami masing-masing. Dia juga menuang sup ikan pollack ke mangkuk dan mendorongnya ke arah Kyuhyun. Tapi si sombong ini bahkan tidak mendongak atau mengucapkan terima kasih. Jadi dengan nada manja aku bicara pada ibu mertuaku. “Eomonim, aku juga mau coba.”
Ibu mertuaku tersenyum senang dan menuangkannya untukku. Setelah itu obrolan ringan berlanjut dengan mudah. Meskipun sebagian besar aku tidak mengerti. Aboenim yang banyak bertanya pada Jino hari ini. Dari yang kutangkap sepertinya Jino bekerja pada bagian pembukaan store baru dan ada beberapa masalah dengan beberapa kesepakatan. Terkadang Kyuhyun menimpali sedikit tapi sepertinya dia tidak benar-benar tertarik.
Kemudian aku membantu Eomonim menyiapkan pencuci mulut. Dia membuka bungkusan dari ibuku. Bau manis ubi langsung tercium begitu dia membuka kotaknya. Sementara aku berdiri di sampingnya sambil memotong dan mengupas kulit apel.
“Apa ibumu sendiri yang membuatnya?”
Aku mengangguk. “Sekarang ibuku memiliki banyak waktu luang jadi dia lebih sering membuat makanan.”
“Kedengarannya menyenangkan, apa kira-kira ibumu mau kalau kapan-kapan kuajak berbelanja bersama?” tanyanya penuh harap.
Menatap ibu mertuaku antusias. Karena sejujurnya aku juga berharap ibuku memiliki teman dan tidak hanya diam di rumah. “Itu akan luar biasa. Ibuku pasti suka.”
Eomonim tersenyum sambil mengangguk. Dia mengangkat piring dengan dango diatasnya, lalu menepuk bahuku ringan sebelum kembali ke ruang tengah. Sementara aku baru berhasil mengupas satu apel. Kalau boleh jujur pekerjaan dapur bukanlah keahlianku. Meskipun bertahun-tahun bekerja di rumah Diplomat Lee dan melayani Donghae tidak membuatku menjadi pintar di dapur. Karena biasanya aku hanya menyajikan dan tidak pernah memegang pisau seperti ini.
“Nona, Perlu ku bantu?”
Seorang pelayan dengan nada cemas bertanya dari ujung kabinet. Kurasa dia sedang melap piring atau sesuatu. Aku tidak memperhatikannya, perhatianku terpusat pada apel yang kupegang.
“Tidak, aku baik-baik saja.” sahutku tanpa melihatnya. Aku yakin wajahku sekarang seperti tuan krab yang sedang menghitung uang. Dahi berkerut, mata fokus dan bibir yang mengerucut.
Aku yakin sudah hati-hati, bahkan super hati-hati tapi tetap saja tanganku tergelincir dan sedikit menggores ujung telunjuk.
“Aww, Sial.”
“Kenapa?”
Aku mendongak dan melihat Kyuhyun di ujung lorong.
“Bukan apa-apa.” sahutku. Meletakkan apel dan pisau di kabinet lalu menurunkan tanganku. “Kau butuh sesuatu?”
Dia tidak menjawabku, matanya melihat tanganku yang terkena pisau barusan.
“Kau terluka?” dia mendekat, mengambil tanganku. Aku berusaha menariknya tapi Kyuhyun menatapku memperingatkan.
“Hanya luka kecil.” kataku.
Tapi sepertinya dia tidak sependapat. Kyuhyun menyalakan keran, dan aku tau apa yang hendak dia lakukan, jadi aku berusaha menarik tanganku lagi. Tapi Kyuhyun justru mencengkramnya lebih erat.
“Diamlah.”
Dan Aku tidak bisa tidak meringis saat air membasuh lukaku.
Alis Kyuhyun terangkat satu. Seolah mengatakan ‘apa kubilang’
Tapi bukan itu yang membuatku terkejut setengah mati. Tanpa aba-aba tiba-tiba saja dia memasukkan telunjukku ke mulutnya.
Sekali lagi. Ke mulutnya.
Mulutnya panas, basah….dan….
Sial apa yang kupikirkan.
Kali ini aku menarik tanganku lebih keras hingga terlepas. Berbalik cepat, tidak ingin Kyuhyun melihatku yang salah tingkah. Kemudian aku menemukan pelayan yang sejak tadi memperhatikan kami. Padahal mungkin saja Kyuhyun bersikap begitu karena ada orang lain disini bukan karena benar-benar ingin menolongku.
Sadarlah Park Hyura!
“Tunggu disini,” katanya. “Kuambilkan obat.”
Setelah sepeninggal Kyuhyun aku mengipasi wajahku yang terasa panas. Bukan hanya wajah, tapi seluruh tubuhku terasa panas.
“Nona, kau baik-baik saja?” tanya pelayan yang sekarang memandangku bingung dan cemas.
Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Dadaku berdebar dalam kecepatan yang mengkhawatirkan dan seluruh tubuhku terasa demam. Kurasa aku butuh Paracetamol.
Kyuhyun kembali ke dapur. Dia membawa plester dan salep.
“Kemarikan tanganku.”
“Aku baik-baik saja.” kataku tidak yakin.
Pelayan di ujung masih menatapku bertanya-tanya. Sementara kurasakan Kyuhyun mulai tidak sabar. Dia memutar bahuku hingga kami berhadapan lagi. Tangannya meraih tanganku. Dia mengoleskan salep sebelum menutupnya dengan plester. Dan aku terus memejamkan mata saat dia melakukannya untukku.
“Apa sangat sakit?” tanyanya.
Perlahan membuka mataku dan wajah Kyuhyun begitu dekat, otomatis aku mundur.
Dia mengernyit melihatnya.
Membutuhkan dua detik untuk menemukan suaraku lagi. “A…aku… tidak, tidak sama sekali.”
“Bagus.” dia menatap pelayan melalui bahuku. “Ahjumah, tolong selesaikan itu.” tunjuknya pada apel yang baru terkupas kulitnya separuh.
“Baik, Tuan Kyuhyun.” sahut Ahjumah.
Kyuhyun mengambil tanganku yang tidak terluka lalu menggenggamnya. “Kita pulang saja.”
Aku menurut, mengikuti Kyuhyun ke ruang depan.
Dia benar. Lebih lama disini membuat kami harus terus-terusan berpura-pura. Itu sangat tidak nyaman.
“Appa,” panggil Kyuhyun. Tiga kepala di ruang duduk yang sedang menyantap dango buatan ibuku menoleh bersamaan.
“Kami sebaiknya pulang duluan sebelum terlalu larut.”
Eomonim berdiri. Dia melihat kami tidak setuju. “Secepat itu?”
Kyuhyun seperti tidak mendengarkan, dia hanya menatap ayahnya. Jadi aku yang menjawab untuknya. “Maafkan aku, besok aku masih ada jadwal, jadi kami tidak bisa lama-lama.”
Eomonim terlihat kecewa namun dia tetap tersenyum. “Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan.”
Aku mengangguk, lalu menunduk memberi hormat, begitu juga dengan Kyuhyun.
TBC