Famiglia [Part 9]

Happy reading and sorry for typho ^^

@Miss_Hoon

***

            “Sakit?”

            Aku menggeleng. Dokter Kang tersenyum lalu membuka bebat di bahuku.

            “Kau melakukannya dengan baik, Hyura. Ini jauh lebih cepat dari perkiraanku.” Dia mengangkat tanganku perlahan, membantu menggerakkannya ke atas dan ke bawah, mencoba merileksasikan otot bahuku.

            Aku tersenyum bangga. Seperti anak kecil yang berani datang ke dokter gigi sendirian. “Aku menuruti semua saranmu. Sesedikit mungkin menggerakkannya, mengompresnya dengan air dingin di pagi hari, lalu bantal hangat di malam hari dan selalu mengkonsumsi obat.”

            Dokter Kang menunduk mensejajarkan wajah kami, tangannya mengusap kepalaku. “Senang memiliki pasien penurut.”

            Aku tersenyum lebar tepat saat Dokter Kang mengisyaratkan agar aku turun dari meja pemerikasaan dan mengikutinya ke bilik sebelah, atau lebih tepat kantor pribadinya.

            Dia menarik kursi untukku sebelum berputar ke belakang meja dan bertanya mengenai Kyuhyun. “Apa kau datang sendiri? Biasanya kau ditemani kakakmu.”

            Aku tersenyum. “Dia sedang menelpon, tadi perawat mengusirnya keluar kerena dia menggunakan ponsel.”

            Dokter Kang ikut tersenyum lalu mengangguk, dia mulai menjelaskan terapi yang harus kujalani setelah melepas sling. Lebih dari satu minggu bahuku tidak digerakkan membuat ototku menjadi kaku. Karena aku tidak bisa terlalu sering datang ke rumah sakit untuk terapi beliau mengajari beberapa gerakan untuk melakukannya sendiri di rumah

            Setelah selesai aku menemui Kyuhyun di tempat parkir. Senyumnya melebar melihat salah satu tanganku tidak menggantung lagi.

            “Kau terlihat lebih baik tanpa penyangga kain itu di dadamu.” Komentarnya saat membukakan pintu mobil untukku. Oh ya, akhirnya Kyuhyun membeli mobil baru setelah aku membujuknya setengah mati. Meskipun mobilku sudah keluar dari bengkel tapi aku belum bisa menyetir dengan satu tangan. Aku berniat meminjam supir Eomma tapi Kyuhyun bersikeras untuk mengantar dan menjemputku. Hal itu membuat Eomma menaikkan sebelah alisnya. Pasalnya, saat Kyuhyun menginap di rumah danau dia harus berangkat pagi-pagi buta untuk menjemputku dulu sebelum ke kantor.

            “Kau sudah tidak memakai sling lagi, hari ini menginaplah di rumah danau.”

            Dia menjalankan mobil keluar dari parkiran.

            “Aku tidak bisa menginap selain akhir pekan. Eomma tidak mengijinkan.” Dia sudah tahu hal itu tapi terus saja meminta hal yang sama. “Akhir pekan ini aku janji akan menginap.”

            “Justru di akhir pekan ibumu akan memaksaku pulang.” Kyuhyun mendengus, “Sepertinya aku harus membeli ranjang baru di loteng.” Katanya lebih berbicara pada diri sendiri.

            Memiringkan dudukku menghadapnya.

            “Dia mencemaskanmu, Eomma tidak suka melihatmu terus-terusan tidur di kursi.”

            “Kita bisa tidur sekamar.” Sahutnya polos.

            Meliriknya malas. “Di rumah kita sudah tidur sekamar dengan sembunyi-sembunyi dari Kim Ahjumah. Apa kau tidak tahu aku selalu was-was jika dia memergoki kita.”

“Dia hanya pelayan kenapa kau takut dengannya?”

“Kim Ahjumah pelayan setia ibuku, dia akan mengadukan kita.”

“Kalau begitu ganti saja dengan pelayan yang setia denganmu.”

Aku memukul lengannya sambil menggerutu. “Kau hanya tahu menambah masalah.” Kembali pada posisiku dan menatap ke jalanan.

            Dia mengusap lengannya sambil melirikku jengkel. “Aku ingin menyelesaikan masalah kita, sampai kapan kau ingin menyembunyikannya?”

            Aku meliriknya malas, kami pernah membahas ini dan tidak berakhir dengan baik. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun tapi sekarang bukanlah saat yang tepat. Aku belum bicara lagi dengan Siwon sementara aku sudah berjanji padanya untuk memberikannya waktu selama yang dia butuhkan. Aku tidak ingin menyakiti Siwon lebih jauh, dia pantas mendapatkan yang lebih baik.

            Jika kalian penasaran apa yang terjadi pada hubunganku dan Kyuhyun, well, sebenarnya sampai detik ini aku belum memberikan jawaban apapun padanya. Tapi kami bertingkah seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dengan catatan tidak di depan umum, itu sangat riskan mengingat Kyuhyun masih berstatus sebagai kakak tiriku. Kuakui dia bisa menjadi lebih dari seorang kekasih, teman, rival atau kakak laki-laki. Dengannya aku bisa berdiskusi mengenai banyak hal, mulai dari pekerjaan, masalah kesehatan kakek ataupun mengomentari sikap ibuku. Dia bahkan bisa memberi masukan mengenai hubunganku dengan Siwon, kukira itu seperti bentuk dukungan tapi jawabannya malah membuatku memutar mata, dia bilang itu hanya sikap Donghae yang tanpa sadar tertinggal dalam dirinya.

            “Aku tidak ingin membicarakannya.” Kataku pelan.

            Kyuhyun menggerutu tidak jelas, mengatakan aku hanya membuat masalah berlarut-larut. Aku tidak ingin membalas atau mengomentarinya lalu membuat kami berdebat. Aku dan Kyuhyun sama-sama memiliki tempramen yang buruk saat beradu pendapat jadi kuputuskan tetap menutup mulutku.

            Hampir separuh perjalanan saat kurasakan ponselku bergetar, dahiku berkerut melihat id pemanggil.

Lee Hyukjae?

            Kyuhyun melirik saat aku tidak juga menjawabnya.

            “Kenapa tidak diangkat?”

            Menjawab panggilanku tanpa menyahuti Kyuhyun

            “Yeoboseyo?”

            “Hyura ssi? Ini aku Lee Hyukjae, apa kau masih mengingatku? “

            “Ya, tentu saja.”

            Jantungku berdegup dua kali lipat tanpa alasan yang jelas, firasatku mengatakan panggilan ini bukan sesuatu yang menyenangkan.

            “Bisa kita bertemu?”

            Melihat Kyuhyun dari sudut mataku. Tatapannya fokus ke jalanan tapi aku tahu dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutku, jadi aku menjawabnya sehati-hati mungkin.

            “Ya, kau bisa tentukan tempatnya.”

            “Kalau kau tidak keberatan datanglah ke kantorku.”

            “Aku mengerti, sampai ketemu di sana.”

            Setelah menutup panggilanku aku meminta Kyuhyun untuk menurunkanku di persimpangan depan.

            Dia memandangku penasaran. “Ingin bertemu seseorang?”

            Aku tidak balik menatapnya saat menjawab karena tahu aku pasti berbohong. “Ya, teman lama. Dia sedang berada di kota dan menyempatkan waktu untuk bertemu denganku.”

            Kyuhyun mengangguk, dia tidak bertanya lebih jauh lagi. Menghentikkan mobilnya di trotoar. Sebelum sempat membuka pintu dia menarik tubuhku lalu menciumku cepat dan dalam. “Aku akan menjemputmu, beritahu aku kalau sudah selesai.”

            Memaksa menarik senyum. “Aku bisa naik taksi.”

            “Beritahu aku kalau sudah selesai.”

            Percuma mendebatnya jadi aku hanya mengangguk sebelum dia menahanku lebih lama. Perasaanku sangat gelisah dan ingin cepat-cepat bertemu Hyukjae. Menyetop taksi pertama yang kulihat dan langsung menuju kantornya.

            Kantor pengacaranya masih sama seperti terakhir yang kulihat beberapa bulan lalu. Hyukjae sudah menungguku di depan meja penerima tamu saat aku baru keluar dari lift. Wajahnya tidak seramah yang kuingat, dia juga tidak tersenyum sepert biasanya. Aku menunduk memberi salam, dia membalasnya sebelum membimbingku masuk.

            Hyukjae menarik kursi di depan meja kerjanya, mempersilahkanku duduk. Sementara dia tetap berdiri di belakang meja sambil mendorong sebuah amplop coklat berukuran sedang ke arahku. Aku menatapnya bertanya-tanya.

            “Bukalah.” Perintahnya dingin.

            Aku mengangkat amplop tersebut yang ternyata cukup tebal, aku tidak bisa mengira-ngira apa isinya, mungkin buku atau dokumen, entahlah. Aku berhenti menebak-nebak dan membukanya saja. Perasaanku semakin tidak enak saat membuka simpul tali penutupnya, lalu sedetik kemudian selembar fotoku jatuh dari dalam. Dahiku berkerut melihatnya, ada tanggal dan jam di bagian bawah foto, tepatnya seminggu lalu. Aku masih menggunkan sling dan baru keluar dari gedung PL Group. Penasaran, aku mengeluarkan semua isi amplop. Betapa terkejutnya aku melihat semua kegiatanku tercetak di sana, bahkan saat aku berciuman dengan Kyuhyun di dalam mobil, saat aku makan siang, atau bahkan saat aku sedang melamun.

Apa-apaan ini?

            Aku baru mau melempar protesku pada Hyukjae tapi dia mendahuluiku.

            “Siwon yang memintaku melakukannnya.”

            “Apa?”

            Tatapannya menghakimi. “Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, tapi ini benar-benar keterlaluan. Sahabatku tidak pantas mendapatkan hal seperti ini.”

            “Apa menurutmu memata-mataiku merupakan hal yang pantas?” Aku tidak kalah kesal dengannya, Siapapun tidak akan suka memiliki penonton di momen pribadi mereka.

            Dia memejamkan mata sambil mendesah, lalu menarik kursi di belakang meja. “Maaf, aku tidak seharusnya ikut campur, tapi… kau akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkannya. “Minggu lalu Siwon menghubungiku dengan keadaan yang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Dia…dia…dia menangis, Hyura. Aku tidak pernah mendengar suaranya seputus asa itu. Dia tidak mau mengatakan apa yang terjadi, dia hanya memintaku untuk mengikutimu dan mengirimkan hasilnya. Lalu…”

            “Hyukjae ssi,” aku memtongnya. “Apa kau sudah mengirimkan foto-foto ini?”

            Dia menatapku cukup lama sebelum menggeleng lemah. “Aku tidak tega. Hyura ssi, sebaiknya kau sendiri yang memberikannya, Siwon layak mendapat penjelasan langsung darimu.”

            “Ya, kau benar.” Sahutku berbisik. Mataku mulai tersengat membayangkan apa yang akan dia pikirkan saat melihat ratusan gambarku dengan Kyuhyun, saat kami bepelukan, berciuman dan berpegangan tangan. Kemarin sudah cukup menghancurkannya dan ini pasti jauh lebih menyakitinya.

            “Apa kau marah padaku?” tanyaku pelan

            Dia mengangkat bahu, “ini urusan pribadi kalian, aku tidak berhak ikut campur atau menghakimi siapapun, tapi… aku cukup kecewa padamu, Hyura ssi.”

            Mengangguk, aku memahami sudut pandangnya sebagai teman baik Siwon. Mungkin di matanya aku terlihat seperti wanita murahan sekarang.

            “Baiklah, terima kasih kau sudah memberitahuku.”

            “Aku melakukan ini untuk Siwon.”

            Mengangguk, “aku tahu.”

***

            Aku menghubungi Jiwon setelah keluar dari kantor Hyukjae. Dia bilang Siwon sudah kembali dari Singapore sejak dua hari lalu dan tinggal di kondominium kami. Aku tidak mengerti yang dia maksud dengan ‘kondominium kami’, sepengetahuanku Siwon tinggal di rumah orang tuanya dan dia tidak memiliki property seperti itu. Kemudian aku baru mengerti maksud Jiwon saat tiba di alamat yang dia berikan padaku.

            Lihatlah foto pertunanganku dengan Siwon dan lukisan wajah kami berdua yang memenuhi dinding ruang tamu. Kondominium super mewah ini sepertinya hadiah pernikahan dari keluarga Choi. Bukan hanya itu, aku mengenal gaya dekorasinya, dari warna dinding, tirai, pemilihan wallpaper dan furniture, ini semua kesukaanku. Hanya orang-orang yang benar-benar mengenalku yang bisa mendokrasi seperti ini.

Siwon tidak memandangku saat mataku sibuk berkeliling memperhatikan rumah masa depan kami. Dia memunggungiku, memandang jalanan kota melalui kaca besar di ruang depan. Siwon tidak mengusirku atau mengundangku masuk saat membukakan pintu, dia juga tetap bungkam saat aku menerobos masuk. Tidak bertanya kenapa aku bisa menemuinya di sini atau bagaimana aku tahu mengenai kondominium ini.

“Oppa…” aku memulai, “sudah lebih dari sepuluh hari, kau belum mau bicara padaku?”

“…”

“Oppa?”

“…”

Mendesah berat, dia tetap diam dan tidak mau berbalik. Ini lebih buruk daripada dia berteriak atau memakiku, aku lebih suka dia bersikap seperti itu, kediamannya membuatku frustasi.

“Oppa, bicaralah padaku. Jangan seperti ini, kau…”

“Aku merindukanmu.” Siwon berbisik cepat.

“Apa?”

Siwon berbalik perlahan, wajahnya terlihat kusut, matanya yang memerah menatapku dalam. Berbagai pergolakan emosi terpancar di sana. Bingung, marah, sedih dan terluka. Tanpa sadar air mataku menetes, dia menderita seperti ini karena diriku, akulah penyebab utamanya.

“Aku merindukanmu, Hyura-ya.” Katanya lagi tidak kalah pelan. Tanpa berpikir dua kali aku menghampiri dan memeluknya.

Aku terisak, “maafkan aku, tidak seharusnya aku membuatmu seperti ini. Maafkan aku.”

Dengan tubuh bergetar dia membalas pelukanku, menenggelamkan kepalanya di sela leherku dan berbicara terbata.

“Apa yang harus kulakukan, Hyura-ya? Katakan aku harus bagaimana? Aku…” dia berhenti, isakannya terdengar jelas di telingaku, membuat air mataku semakin deras. Selama aku mengenal Siwon ini pertama kali aku melihat air matanya. Aku benci mengakui bahwa akulah yang membuatnya seperti ini. Bukan hanya membuatku seperti wanita brengsek tapi melihat Siwon terluka juga menyakitiku.

“Maafkan aku…Oppa.”

“Ini…sakit sekali…aku…aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu…aku…”

Mengangguk kuat, “aku tahu, aku tahu. Jangan bicara apa-apa lagi.”

Kami menangis bersama sambil berpelukan. Menumpahkan segala apapun yang telah kami pendam. Beberapa hari bersama Kyuhyun tidak membuatku lantas melupakan Siwon. sudah kubilang aku menyayangi Siwon sampai taraf aku sendiri tidak mengerti. Setiap malam aku sulit tidur karena memikirkannya, memikirkan apa yang telah kulakukan padanya, memikirkan bagaimana dia menghadapinya, bertanya-tanya apa dia mabuk-mabukkan lagi? Atau membawa pulang perempuan murahan ke kamar hotelnya? Apapun itu, aku tidak menyukai keduanya.

Aku masih terisak saat perlahan Siwon melepaskan pelukannya, matanya masih berair tapi wajahnya bersih dari sisa air mata. Dia masih terlihat tampan—maksudku dia selalu terlihat tampan, berbeda denganku, aku pasti terlihat sangat jelek sehabis menangis.

            Tangannya terangkat, ibu jarinya membelai lembut pipiku, membersihkan sisa air mata. Bibirnya melengkung dengan senyum sedih.

            “Kau bilang kau mencintaiku dengan cara yang berbeda?”

            Tanpa ragu aku mengangguk kuat.

            Siwon menatapku cukup lama sebelum berbicara lagi, “Hyura-ya, jika aku memintamu untuk tidak meninggalkanku, apa kau akan melakukannya?”

            Aku mengangguk sebagai jawabannya. Aku tidak menyalahkan kalian jika membenciku karena aku bisa memberikan jawabanku langsung saat Siwon yang memintanya. Sementara Kyuhun, aku masih menggantungnya tanpa kepastian sampai detik ini. Bukan tanpa alasan, karena dengan Siwon aku bisa menyelesaikan banyak masalah dan bisa menjaga perasaan banyak orang. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Berapa banyak orang yang terluka saat aku memutuskan untuk bersamanya? Bukan hanya Siwon, tapi juga ibuku dan keluarga Choi.

            “Apa kau benar-benar berpikir aku akan meminta hal itu?” tanyanya lagi.

            “Aku tidak tahu.”

            “Begitu juga denganku,” katanya muram, “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu.” Dia menggeleng lemah, “tidak dengan keegoisanku ataupun keegoisanmu.”

            Aku meremas pegangan tasku, bagaimana jika dia melihat foto-fotoku dengan Kyuhyun? Aku tidak ingin membayangkan reaksinya karena pasti sangat buruk.

            “Hyura-ya,” Panggil Siwon, suaranya terdengar lelah. “Haruskah kita mengakhirinya?—pertunangan kita?”

            Aku menggeleng, “Aku tidak tahu.”

            Dia berjalan melewatiku dan berhenti di tengah ruang tamu. Mataku mengikuti setiap gerakannya. Tangannya terbentang seolah menunjuk sekeliling.

“Apa kau menyukainya? tempat ini?” Dia berjalan lambat mengitari ruang tamu, tangannya menyapu punggung sofa. Sofa panjang berwarna broken white yang hampir memenuhi separuh ruangan ini, dia memandang lukisan foto kami berdua, aku ingat foto itu diambil saat kami masih di bangku kuliah. Kalau tidak salah saat festival musim semi di kampus, kami membayar seorang seniman yang membuka stand di sana. Seingatku lukisannya tidak sebesar ini, mungkin Siwon meminta seseorang untuk melukisnya ulang. Tapi seberapa besar ukurannya, yang jelas lukisan itu mengingatkanku betapa menyenangkannya berteman dengan Siwon. Dia adalah teman yang sangat berharga untukku. Karena itu, saat dia mengatakan ingin merubah hubungan kami menjadi sepasang kekasih, aku tidak perlu berpikir dua kali. Karena aku memang tidak ingin kehilangan sosoknya dalam status apapun. Teman atau kekasih, bagiku tidak ada bedanya—maksudku dulu, sebelum aku menyadari perasaanku pada Kyuhyun.

            “Ya, aku menyukainya.” Aku berbisik.

            “Ibuku yang membelinya saat aku baru masuk ke perusahaan. Dia bilang aku boleh langsung menempatinya atau menunggu setelah menikah. Saat ibuku menyinggung ‘pernikahan’ tanpa sadar otakku langsung memikirkanmu.” Dia tersenyum miris. “Saat pertama kali melihatnya aku membayangkan bagaimana rasanya tinggal di sini bersamamu. Membayangkan kau berdiri di dapur membuatkanku makanan sementara aku menontonmu bekerja, lalu saat akhir pekan seharian bergelung di sofa sambil menonton serial favorit kita,” dia mengeluarkan suara tawa yang membuat mataku memanas. “Pasti sangat menyenangkan, bukan?”

            Dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan.

“Lalu saat kau menyetujui untuk bertunangan denganku, sedikit demi sedikit aku mulai mendekorasinya. Aku ingin membuatmu betah tinggal di sini, karena itu, saat menata atau memilih perabotan aku selalu berpikir seperti dirimu—seperti style seorang Park Hyura.”

            “O…opppa…” suaraku bergetar,

            “Tinggallah di sini.” Kata Siwon cepat. Dia berbalik menatapku serius.

            “Apa?”

            “Hanya untuk hari ini. Aku ingin mencoba satu hal.”

            “Apa yang ingin kau lakukan?”

            “Apa kau bersedia?” tanyanya hati-hati.

            Aku mengangguk, “tentu saja.”

            Dia tersenyum tipis aku hampir ikut tersenyum saat tiba-tiba ekspresinya berubah, aku mengikuti arah pandangnya. Matanya tertuju pada jari-jari tanganku. Oh sialan.

            “Mana cincinmu?”

            “A…aku…aku…aku menyimpannya.”

            Siwon mendongak menatapku tidak suka, jelas dia tidak percaya.

            “Kurasa pembicaraan ini sama sekali tidak perlu, saat kau sudah memutuskan pertunangan kita secara sepihak.”

            “Aku tidak melakukannya.”

            “Wanita yang sudah memiliki calon suami tidak akan melepas cincinnya sembarangan kecuali wanita itu tidak lagi menghargai ikatan yang sudah mereka sepakati!”

            “Ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku tidak memutuskan pertunangan kita atau apapun itu. Aku menunggumu, karena aku sudah berjanji memberikanmu waktu sampai kau siap untuk berbicara padaku, tapi kau juga tidak pernah menghubungiku sampai Hyuk…” aku berhenti saat sadar aku hampir kelepasan mengenai pertemuanku dengan Hyukjae.

            Dia mengernyit, “Apa? Kenapa berhenti?” tuntutnya.

            Mendesah pelan, rasanya tidak berguna terus menutup-nutupinya dari Siwon. merogoh tasku dan mengeluarkan amplop coklat yang berisi foto-fotoku lalu menyodorkannya. Alisnya terangkat satu saat memandangi amplop.

“Kau menyuruh orang untuk memata-mataiku. Lihatlah.” Kataku. Dia menatapku ragu sebelum menerimanya, matanya tidak berpaling dariku saat membuka pembungkus talinya dengan sangat perlahan. Begitu juga denganku, mengantisipasi reaksinya saat melihat gambaran diriku dengan Kyuhyun.

            Matanya melebar begitu melihat lembar foto pertama, dia melanjutkan kelembar kedua dengan rahang mengeras baru sampai lembar keempat dari ratusan foto dia sudah meremasnya dan menjatuhkannya ke lantai. Siwon menatapku dengan jutaan emosi. Kami sama-sama terdiam, tidak ada yang membuka suara. Keheningan yang hanya beberapa menit seperti bertahun-tahun bagiku. Tatapan terluka Siwon seperti pisau berkarat yang menusuk dadaku. Mungkin rasa sakit yang kurasakan tidak sebanding dengan apa yang dia rasakan. Diam-diam air mataku jatuh.

            “Aku…” Siwon memulai dengan terbata, dia menggeleng tidak percaya lalu berbisik, “aku tidak tahu lagi apa artinya hubungan ini bagimu, Hyura.”

“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, Oppa.” kataku berusaha terdengar jelas dan tidak terpangaruh karena isakanku yang tidak berguna. “Seandainya aku bisa memerintah hatiku, aku sama sekali tidak ingin menyakitimu, Oppa. Aku tidak ingin seperti ini.” Seandainya bisa memilih, aku juga tidak ingin memiliki perasaan apapun pada Kyuhyun, sebagai pria, orang asing atau siapapun itu. Aku lebih memilih mencintai Siwon tapi… perasaanku seperti bukan milikku sendiri, dia tidak mendengarkanku dengan seenaknya bergetar hanya karena Kyuhyun. Sementara aku tidak merasakan getaran apapun dengan Siwon.

            Matanya yang berair menatapku menghakimi, “hubungan sedarah? Apa kalian tidak terlihat seperti pasangan yang menjijikkan?”

            “Oppa, ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Apa yang aku pikirkan?” dia mendengus tidak percaya, “ini sesuatu yang aku lihat, Park Hyura!”

“Jika…apa jika aku mengatakan yang sebenarnya kau akan mengerti? Kurasa tidak, karena bagimu aku hanya seorang wanita yang suka berselingkuh. Seperti katamu tempo hari, apapun yang kukatakan tidak akan merubah apapun. Bertunangan denganmu adalah keputusanku sendiri dan aku juga yang memutuskan untuk menikah denganmu. Jika kau bertanya apa aku memanfaatkanmu?” Aku menggeleng. “Tidak, aku sama sekali tidak memanfaatkanmu, tapi aku membutuhkanmu, Oppa. Lebih dari yang kau pahami, aku tidak bisa kehilanganmu dengan cara seperti ini.”

Siwon tersenyum sinis, “Tentu saja karena karena kau tidak punya pilihan, kau tidak bisa menikahi kakakmu sendiri, Park Hyura.”

“Dia bukan kakakku!” Tukasku tidak sabar.

Wajah Siwon berubah bingung.

Mendesah kasar, tidak ada gunanya juga terus menyembunyikan identitas Kyuhyun setelah Siwon melihat apa yang kami lakukan.

Aku bicara dengan nada lebih lembut. “Dia bukan kakakku, kakakku Lee Donghae sudah meninggal enam belas tahun lalu. Anak laki-laki itu, Kakek yang membawanya ke rumah dan mengatakan kebohongan bahwa dia adalah kakakku.”

Wajah Siwon terlihat semakin bingung, seolah aku bicara bahasa asing. Dia terdiam cukup lama, butuh waktu lebih baginya untuk mencerna perkataanku. Well, setidaknya dia tidak shock seperti saat aku pertama kali mendengarnya dari Hyukjae. Kukira itu sejenis cerita fiksi karangannya, tapi ternyata semua itu memang benar setelah kakek mengkonfirmasinya.

“Hyura-ya, apa yang kau bicarakan?” tanyanya masih setengah sadar, “bagaimana mungkin kakakmu sudah meninggal? Aku tidak mengerti.”

“Ya aku tahu.” Desahku, “ini memang agak sulit diterima, aku juga merasa begitu awalnya. Tapi memang begitulah kenyataannya, kakekku membutuhkan pewaris dan aku hanya anak perempuan jadi dia mengambil seorang anak laki-laki dari panti asuhan lalu menjadikannnya Lee Donghae.”

“Gila!”

Aku setuju dengannya, kakekku pasti sudah gila saat itu sampai-sampai mengambil orang asing untuk menjadi salah satu pewarisnya.

“Kenapa, Hyura? Kenapa kau tidak mengatakan hal ini sejak awal?”

            “Aku tidak bisa. Ini bukan sesuatu yang bisa kubicarakan dengan orang lain bahkan ibuku sendiri. Dia tidak pernah tahu bahwa kakakku yang sekarang hanyalah orang asing.”

            Wajah Siwon tiba-tiba berubah kesal, “Lalu apa kau bermaksud memadu kasih di belakang semua orang? Hah? Di belakangku! Di belakang keluargamu!”

            “Oppa kumohon, aku…”

            “Kau wanita yang sudah bertunangan…” katanya tertahan, dia menatapku dalam-dalam seperti langsung menusuk jantungku. Rasa nyeri di sana tidak bisa kuabaikan. “Kenapa kau setuju bertunangan denganku? kenapa kau melakukannya? Kau kejam sekali, Park Hyura…Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, aku melakukan apapun yang kau minta. Kau meminta pernikahan? Aku mengusahakannya. Kau butuh dukungan? Aku melakukannya semampuku agar kau bisa mempertahankan posisimu! kau pikir hal sialan apa yang kulakukan di Singapore selama berminggu-minggu! Aku merindukanmu seperti orang gila sementara kau di sini…” dia tidak melanjutakan ucapannya, kening Siwon mengerut dalam seperti menahan sakit, matanya benar-benar memerah, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, “aku juga tidak ingin menyukai seseorang sampai rasanya sangat menyakitkan begini, Hyura.”

            Siwon menunduk, tubuhnya bergetar. Ingin sekali rasanya aku berlari untuk memeluknya dan meminta maaf seperti sebelumnya, tapi tubuhku terasa kelu. Aku merasa sangat hina dan tidak pantas bahkan untuk meminta maaf.

            “Jangan memaafkanku.” Kataku lemah, “seberapa keras aku memohon ataupun bersujud di kakimu, jangan pernah maafkan aku.”

            Siwon mendongak, menatapku dengan pandangan berkabut, dia membuka mulutnya untuk berbicara namun aku memotongnya. “Katakan apa yang harus kulakukan untuk membuatmu lebih baik, aku tidak memintamu untuk memaafkanku, hanya—katakan saja apa yang harus kulakukan agar kau merasa lebih baik.”

            Siwon menatapku keras, matanya seperti granit saat memandangku. “Apa saja?”

            Aku mengangguk, “apa saja.”

            “Apa kau tetap akan menikah denganku jika aku memintanya?” tanyanya hati-hati.

            “Aku belum berniat membatalkan pernikahan kita.”

            Rahangnya mengeras, “bagus, berarti kita bicarakan bisnis sekarang.”

            “Apa?”

            “Kita berbisnis, Hyura. Pernikahan ini akan menjadi merger yang sangat menguntungkan. Kita akan tetap menikah sesuai rencana, tidak ada jangka waktu, tidak ada perceraian, dan kau akan menjadi ibu dari anak-anakku.”

            “Aku tidak mengerti.” Kataku jujur.

            Dia menyeringai. “Seperti yang kau bilang, dalam dunia kita tidak ada pernikahan atas dasar cinta, yang ada hanya kesepakatan. Begitulah yang akan kita jalani, seperti saranmu. Aku akan mendukung semua kegiatanmu di perusahaan. Aku tidak peduli dengan perasaanmu tapi kau tetap harus memberikanku keturunan, darah dagingku.”

            Aku menatap Siwon lama. Tidak kusangka dia membuatnya sejauh ini, meskipun begitu bukan berarti aku menolak atau semacamnya. Aku akan tetap memegang janjiku, menikahinya, dan jika dia menginginkan keturunan aku akan memberikannya, tapi bukan pernikahan bisnis ataupun merger, tapi karena dia mencintaiku.

            “Apa yang kau rencanakan?” tanyaku.

            “Kenapa? Kau tidak mau?”

            Aku berbicara lebih lembut, “aku tidak ingin sebuah pernikahan bisnis, aku tidak ingin membuat sebuah keluarga atas dasar bisnis,” menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, “katakan kau mencintaiku, katakan padaku perasaanmu tulus, katakan kau menginginkanku dan tidak bisa kehilanganku. Karena saat kau memberikanku segalanya maka aku juga akan memberikan yang kumiliki. Sesimple itu, Oppa.”

            “Apa kau bisa memberikan hatimu?”

            Aku tidak ingin berbohong, maka kujawab sebisaku, “Akan kuberikan yang bisa kuberikan.”

            Dia berjalan mendekat dan berhenti di depanku, menatapku lurus-lurus. “Kau tahu seperti apa perasaanku padamu. Apa kau butuh untuk pembuktian? Apa yang kau inginkan? Melamarmu di depan banyak orang? Di depan ibu dan kakekmu atau kau ingin seluruh saham PL Group menjadi milikmu? Aku akan mengusahaknnya untukmu, Park Hyura. Kau tahu itu.”

            Aku menggeleng lemah lalu memeluk pinggangnya dan berbisik di dada Siwon yang keras.

            “Hanya—katakan kau mencintaiku.” Aku butuh meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang kukorbankan cukup berharga, meyakinkan hatiku menerima Siwon dan melepaskan Kyuhyun adalah harga yang pantas untuk kubayar.

            Siwon membalas pelukanku, dia menyurukkan kepalanya di rambutku lalu berbisik.

            “Honey, i love you to the moon and back.”

            “Yeah, i know. I love you too.”

***

            Siwon tidak mengantarkanku pulang ke rumah melainkan ke rumah danau. Dia ingin bertemu kakek dan Ibuku untuk membicarakan masalah pernikahan. Aku tidak menyesali keputusanku. Karena memang seperti inilah seharusnya jalan yang kuambil. Meskipun begitu, bohong jika kukatakan dadaku tidak sakit saat memikirkan Kyuhyun. Mungkin setelah ini dia akan membenciku lebih parah dari sebelumnya. Tapi memang itulah yang kami butuhkan. Perasaan benci sehingga memudahkan kami untuk melupakan satu sama lain. Setelah menikahi Siwon aku berharap tidak akan menemui Kyuhyun lagi, tidak sama sekali.

            “Bahumu tidak apa-apa?”

            Pertanyaan Siwon menarikku kembali ke dunia nyata. Aku menggeleng pelan, aku tidak terkejut Siwon memperhatikannya, karena dia memang selalu begitu.

“Tidak apa-apa, hanya sedikit kaku.”

            Dia hanya melirikku sekilas dan mengangguk sebelum kembali memusatkan perhatiannya ke jalanan. Selama perjalanan aku lebih banyak diam, dan hanya berbicara saat Siwon bertanya. Kepalaku penuh dengan bayangan Kyuhyun, bagaimana reaksinya nanti, bagaimana aku akan menjelaskannya dan bagaimana aku bisa menghadapinya.

            Jantungku bekerja dua kali lebih cepat saat mobil Siwon memasuki pekarangan rumah danau. Di sana sudah terparkir Marchedes Benz ibuku dan BMW baru milik Kyuhyun. Sudah hampir gelap dan lampu di pondok itu sudah menyala semua. Aku dan Siwon turun bersamaan, dia menungguku dan menggandengnya saat berjalan masuk ke dalam pondok.

            Siwon mengetuk pintu dua kali, ibuku yang membukakan pintu untuk kami. Dia tersenyum sangat lebar melihat kami berdua.

            “Oh ya ampun, senang sekali bisa bertemu denganmu, nak.” Sapa ibuku riang. Siwon balas tersenyum sambil menunduk hormat.

            “Apa kabar Eomonim?”

            “Tentu saja aku baik-baik saja. Ayo masuk, aku baru selesai menyiapkan makan malam.”

            Tanganku berkeringat dan pengangan Siwon otomatis semakin mengerat saat kami memasuki rumah. Kyuhyun sedang duduk di meja makan bersama kakek, tempat duduknya langsung menghadap ke arah pintu. Dia langsung berdiri begitu melihat kami, dia menatap ke arah tanganku dan Siwon yang saling bertautan. Aku menunduk menghindari tatapan Kyuhyun, aku tidak sanggup melihatnya.

            “Ayah, lihatlah siapa yang berkunjung.” Nada gembira terdengar jelas dari suara ibuku, well setidaknya ada yang bahagia dengan kedatangan kami berdua.

            “Choi Siwon, Kukira aku tidak akan bertemu denganmu lagi.” Kata kakekku setengah bercanda, dia masih bisa bergurau sementara wajahnya telihat lebih pucat dari yang terakhir kulihat.

            Siwon menunduk hormat, “maafkanku karena baru bisa berkunjung. Kuharap aku tidak mengecewakan kakek, bagaimana keadaanmu?”

            “Tidak apa-apa, Aku tahu kau sibuk. Kau bisa lihat sendiri bagaimana keadaan tubuh ringkihku ini. Kemarilah kita harus ngobrol. Junghee-ya, cepat siapkan satu mangkuk lagi.”

            “Ne, Aboeji.”

            Kakek melihatku sekarang, “Bahumu sudah sembuh.”

            Aku mengangguk, “Sudah tidak apa-apa, aku tidak perlu memakai penyangga lagi.”

            “Baguslah kalau begitu.”

            Siwon menarikku ke meja makan, dia menggeser bangku untukku sebelum duduk di sisi kiriku, melirik ke samping kanan ke kursi kosong, di sebrangku ada kakek dan Kyuhyun di sampingnya. Aku seperti seorang pengecut yang tidak berani mengangkat kepalaku.

            Kursi di samping kananku bergeser, aku melirik dan melihat Eomma mendudukinya, dia tersenyum sekilas padaku sebelum menggeser mangkuk nasi ke arahku dan Siwon.

            “Kuharap kau menyukai masakanku.” Kata ibuku.

            “Aku akan sangat menikmatinya.”

            Siwon menyumpitkan lauk ke mangkukku, lalu berbisik keras. “Makan yang banyak, kau belum mengisi perut sejak tadi siang.”

            Aku memaksa tersenyum sambil menggumam terima kasih. Aku tidak yakin bisa menelan makananku dalam kondisi seperti ini. Meskipun Kyuhyun sedang tidak melihatku tapi duduk bersebrangan seperti rasanya mustahil aku bisa makan. Sementara dari sisi kanan aku mendengar ibuku terkekeh, otomatis membuatku memutar mata.

“Siwon-ah, kudengar kau baru kembali dari perjalanan bisnis?” tanya ibuku, untuk kali ini aku berterima kasih padanya untuk membuka pembicaraan dengan topik yang aman.

            “Ne, Eomonim. Dua hari lalu aku baru pulang dari Singapore. Kami membuka dua cabang baru di sana.”

            “Wah, bagus sekali. Kudengar pasar di Singapore cukup bagus.”

            Siwon meneguk minum sebelum menjawab. “Bukan hanya bagus tapi sangat potensial, kurasa produk retail dari PL Group juga bisa melebarkan sayapnya ke Asia tenggara.”

            “Kuharap kau bisa membantu Hyura untuk melakukannya.” Kata kakek. “ Dia masih harus banyak belajar.”

            “Hyura cepat belajar, dia lebih baik daripada aku. Aku yakin nasib department store kami akan berkembang di bawah kepemimpinannya nanti.”

            Aku mendongak cepat, melihat Siwon dan kakekku bergantian, apa maksud ucapannya barusan?

            Kakek mengagguk kecil sambil mengunyah makanannya. “Aku belum membicarakannya lebih lanjut dengan ayahmu, tapi sepertinya kesehatanku tidak memungkinkan. Mungkin Hyura dan Donghae yang akan mewakiliku.” Gerakan tangan Kyuhyun berhenti saat nama kakakku di sebut, tapi dia tidak mendongak dan melanjutkan makannya lagi. Begitu juga denganku, sementara Siwon melirikku sekilas, aku tahu dia tidak menyukai aku dan Kyuhyun memiliki pekerjaan yang harus di kerjakan bersama.

            “Eomma juga bisa membantuku.” Aku menyarankan.

            “Junghee hanya akan mengurusi Assurance dan Biotech, dia tidak mengurusi hal lain.”

            Ibuku menambahkan dengan nada bosan. “Aboeji, aku juga tidak tertarik dengan Department Store. Maaf Siwon-aa, aku tidak bermaksud mengecilkan tapi aku benar-benar tidak bisa mengurusi hal lain untuk satu tahun ini.”

            Siwon hanya tersenyum tipis menanggapinya.

            “Tapi, boleh aku tahu mengenai hal ini lebih jelas?” tanyaku. “apa maksudnya di bawah kepemimpinanku?”

            Kakekku meletakkan sumpitnya, dia menatapku serius. “Tuan Choi berwacana untuk menjadikan Hyundai di bawah naungan PL Group dengan otoritas tersendiri. Aku belum tidak memberitahumu karena kupikir ini masih wacana.”

            Aku memandang Siwon, kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?

Sepertinya bukan hanya aku, ibuku dan Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Kukira ini hanya kerja sama biasa bukannya menyatukan kepemilikan dalam satu payung organisasi.

            “Hal itu akan terealisasi setelah kalian menikah.” Tambah kakek.

            Siwon mengangkat bahunya santai. “Aku hanya tidak ingin membuat anak kita bingung nantinya harus mengurus department store atau perusahaan mulitinasional, jadi sebaiknya aku satukan saja.”

            Ibuku tertawa hambar, “alasan yang aneh tapi cukup masuk akal. Well, maksudku seharusnya ayahmu memikirkan nasib anaknya yang lain.”

            “Adikku seorang perancang, dia memilih jalannya sendiri, dan tidak tertarik bekerja di perusahaan. Kami hanya mendukung dan memberikan apa yang dia butuhkan.”

            Aku memandangnya tidak setuju. “Tapi seharusnya kau mendiskusikannya dulu denganku.”

            “Ini ide ayahku, jadi seharusnya kau mendengarkan langsung darinya.”

            Kakekku setuju dengan Siwon.

“Siwon benar, Hyura-ya. Kita belum bisa membicarakan masalah ini sebelum kalian menikah, menambah satu perusahaan besar bukanlah perkara mudah, akan ada kendala semacam krisis kepercayaan, di tambah lagi PL group belum pernah bekerja sama dengan Hyundai.”

“Karena itulah aku di sini, Harabeoji.” Kata Siwon. Dia sudah selesai dengan makanannya, nasi di mangkuknya sudah habis tak bersisa. “Aku ingin membicarakan masalah pernikahanku dengan Hyura.” Aku menahan nafas Siwon menyinggung masalah pernikahan. Semua mata menatap penasaran ke arah kami sekarang, kecuali Kyuhyun. Dia menatap piringnya bosan sambil mengaduk-aduk tanpa minat.

            Siwon melirikku sekilas sambil tersenyum sebelum berbicara. “Orang tuaku setuju untuk memajukan pernikahan, dan mereka menyerahkan pada kami untuk menentukan tanggalnya. Aku dan Hyura sudah membicarakan kesiapan kami untuk menikah, tapi yang jadi masalah persiapan pernikahannya mungkin akan sedikit memakan waktu karena kesibukan kami berdua.”

            “Jangan meremahkan kekuatan calon ibu mertuamu, Siwon-aa.” Kata ibuku, dia tersenyum namun tidak terlalu antusias seperti pada saat pertunanganku. “Aku dan ibumu bisa mengurusnya lagi, kalian jangan terlalu khawatir. Cukup beritahu kapan tanggalnya.”

            Siwon tersenyum lebar, dia mengangkat tanganku dan menciumnya.

            “Gomawoyo Eomonim, Jeongmal Gomawo.”

            “Aku senang mendengarnya.” Kata kakek sambil tersenyum lemah. “Tidak sabar untuk melihat kalian menikah. Dan Choi Siwon,” kakek sedikit menaikkan nada bicaranya. “Kuharap kau bisa membahagiakan dan menjaga cucuku.”

            “Aku akan melakukan yang terbaik, Harabeoji.”

            “Bagus, dengan begitu aku tidak memiliki penyesalan apapun meskipun harus pergi.”

            “Kakek… Ayah…” Aku dan ibuku berbarengan mengeluh, kenapa sih dia suka sekali membahas kematiannya sendiri.

            Kakek mendesah panjang. “Baiklah, aku tidak ingin merusak suasana. Jadi sebaiknya aku beristirahat.” Kakek memundurkan kursinya, Kyuhyun membantu kakek berdiri dan memapahnya. Tapi kakek mencegah dan meminta tongkatnya. “Kau di sini saja, habiskan makananmu.”

            “Aku sudah selesai.” Gumamnya. “Aku akan membantumu minum obat.” Kakek tidak berbicara lagi dan membiarkan Kyuhyun membawanya ke kamar. Mendesah lega saat Kyuhyun menghilang di pintu kamar kakek, suasana di meja makan juga terasa lebih santai. Dengan nyaman Siwon mengalingkarkan tangannya ringan di bahuku, tanpa menekan bagian yang sakit. Ibuku banyak bertanya mengenai pekerjaan Siwon di Singapore, begitu juga sebaliknya, Ibuku mulai mengeluh apa yang dia hadapi demi mempertahankan dua anak perusahaan PL group yang hampir bangkrut. Siwon hanya mendengarkan dengan seksama tanpa memberikan masukan, pasalnya dia belum memiliki pengalaman menghadapi perusahaan yang collaps, dia hanya menimpali dengan beberapa kasus serupa yang pernah dia dengar.

            Kami terus mengobrol sambil membereskan sisa makan malam, aku tidak tahu ibuku bisa berbicara sangat terbuka pada Siwon, well mungkin itulah salah satu daya tarik Siwon, dulu aku juga selalu mengeluh padanya. Karena memang hanya dialah sandaranku.

Setelah mencuci piring, ibuku menawarkan teh, namun aku menolak. Aku dan Siwon harus segera kembali ke kota sebelum terlalu malam, mengingat perjalanan cukup jauh.

            Kyuhyun belum kembali dari kamar kakek saat aku adan Siwon pergi. Aku berharap dia tidak pulang ke rumah dan menginap di pondok. Aku belum bisa menghadapinya setelah apa yang terjadi malam ini.

            Keesokan harinya saat aku bangun, aku menemukan cincin pertunanganku di nakas meja. Aku tidak tahu kapan Kyuhyun masuk dan meletakkannya di sana. Apa kalian tahu rasanya di tinju tepat di ulu hati? aku tidak tahu, tapi sekarang aku tahu, membayangkan Kyuhyun melakukannya membuat rasa sakitnya menjadi nyata. Selama beberapa menit aku meringkuk di bawah selimut dan menangis sesungukkan. Semalam aku bisa tersenyum dan berbicara seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu saat melihat cincinku, aku sadar aku hanya menipu diriku sendiri, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja meskipun hatiku rasanya hancur.

            Aku tidak ingin membayangkan apa yang Kyuhyun rasakan mengenai jawaban yang tidak pernah kukatakan. Mungkin dia juga sama hancurnya denganku, seolah Tuhan memberitahuku bahwa kami memang ditakdirkan hanya untuk saling menyakiti. Selama enam belas tahun aku menderita karena kehadiran Kyuhyun tanpa mau tahu apa yang dia rasakan menjadi bagian dalam keluargaku. Kisahku dengan Kyuhyun sudah berakhir tanpa pernah dimulai.

***

            Setelah itu keadaan menjadi samar, bagiku segalanya tidak jelas dan tidak nyata. Aku bisa berjalan, berbicara bahkan tertawa, tapi aku merasa memiliki kekosongan yang aneh. Seperti kehilangan sesuatu tanpa tahu apa yang telah pergi. Aku juga tidak ingin mencarinya karena tidak tahu apa yang harus kucari.

Tapi dari itu semua, bagian inilah yang terparah. Minggu pertama adalah penyiksaan yang nyata bagiku, kenapa? Karena Kyuhyun tidak menghindariku seperti sebelumnya, sebisa mungkin dia menyakitiku dengan caranya. Membalas setiap perbuatanku dengan hal yang sama. Setelah Siwon berkunjung ke rumah danau, beberapa hari kemudian Kyuhyun membawa kencannya So Yi untuk dikenalkan pada kakek. Aku tidak tahu mereka bertemu lagi dan melanjutkan perjodohan yang dirancang ibuku.

Bohong jika kukatakan aku baik-baik saja melihatnya berhubungan dengan wanita lain, namun aku berusaha mencoba untuk menerima keputusan Kyuhyun. Aku tidak ingin menjadi wanita jahat yang egois. Tapi aku butuh waktu, jadi aku menghindari segala jenis kegiatan yang membuatku harus bertemu dengan mereka. Kupikir hal itu akan mudah, tapi Kyuhyun membuatnya menjadi sulit.

Kyuhyun selalu membawa So Yi saat aku berkunjung ke rumah danau, Awalnya aku tidak berpikiran bahwa Kyuhyun sengaja melakukannya jika saja dia tidak melakukan hal itu setiap kedatanganku.

Kemudian ada hari dimana Siwon datang ke rumahku hanya untuk sekedar makan malam bersama. Lalu keesokan harinya Kyuhyun akan melakukan hal yang sama. Dia akan membawa So Yi ke rumah, meskipun hari itu dia harus ke rumah danau untuk menggantikan ibuku, tapi dengan sengaja dia membawa So Yi ke rumah agar aku bisa melihat kebersamaan mereka.

Aku tidak membenci So Yi, pada dasarnya dia adalah wanita yang cantik dan ramah, tapi aku juga tidak menyukainya. Aku tidak pernah berbicara banyak pada So Yi, kami hanya berkenalan setelah itu aku memilih menjauh dari mereka. Seperti sekarang, ini hari keempat aku baru bisa mengunjungi kakek dan tiba-tiba saja Kyuhyun datang membawa wanita itu, padahal hari ini giliran ibuku dan dia bisa pulang ke rumah. Lihat, terlalu aneh jika kukatakan kebetulan.

“Hyura-ya,” Ibuku berbisik di telingaku, kami berada di dapur menyajikan kue yang So Yi bawa, Kyuhyun sedang di loteng membersihkan cerobong perapian, sementara wanita itu tengah menyusun puzzle bersama kakek. Oh ya sekedar informasi, wanita itu sangat pandai menjilat, terutama untuk ibuku. Saat pertama kali So Yi datang dia langsung menawarkan rancangan terbarunya dengan cuma-cuma untukku dan Eomma. Tentu saja Eomma sangat senang dan langsung menyukainya. Ibuku selalu membanggakan dirinya dengan mengatakan ‘dia tidak salah memilih wanita untuk Kyuhyun’.

“Hmm.” Gumamku malas.

“Kurasa kau harus mendiskusikan lagi masalah pernikahanmu dengan Siwon.”

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Aku tidak setuju kau menikah secepat ini. Biarkan Donghae yang menikah lebih dulu, lagi pula dia kakakmu.” Aku ingin protes tapi ibuku tidak berhenti, “Lihatlah, perkembangan hubungan mereka sangat baik.”

Aku mengernyit tidak setuju. “Hubungan mereka terlalu cepat, bukankah itu sangat aneh?” aku dan Siwon harus berteman selama bertahun-tahun sebelum kami bisa berpacaran. Lalu mereka hanya bertemu hitungan minggu dan akan segera menikah, yang benar saja!

“Tidak ada yang terlalu cepat. Kelihatannya So Yi juga setuju untuk segera menikahi Donghae.”

“Terserah!” aku tidak ingin membicarakannya lagi, sudah cukup buruk aku harus melihat mereka berdua terus-terusan.

            Ibuku mengeser dua piring kecil berisi potongan kue ke arahku, dia sudah memegang yang lain. Aku membantunya membawa kue ke meja kecil persis di sebelah meja yang sedang di gunakan kakek dan So Yi untuk menyusun puzzle.

            So Yi menggumam terima kasih, dia mengambil satu piring dan mengarahkannya ke kakek. Dia berbicara, “aku memesan khusus kue ini, kakek jangan khawatir dengan kandungannya. Kue ini sangat sehat dan terbuat dari bahan organic.”

            Kakek tersenyum tipis, “terima kasih, kau sangat perhatian.”

            Sebelum aku muntah aku menjauh dari sana untuk mengambil tas dan jaketku.

            “Maaf, aku harus pergi.” Kataku.

            “Secepat ini?” kakek menatapku protes.

            “Hyura-ya, kau baru saja datang.” Ibuku ikut-ikutan.

            “Ya, maaf, aku ada janji dengan Nammie.” Jelas aku berbohong, aku tidak memiliki janji dengan siapapun.

            “Akhir-akhir ini kau sangat sibuk, kau tidak pernah lama mengujungiku.”

            Salahkan saja cucu kesayanganmu yang sangat suka membawa wanita itu ke sini. Gerutuku. Tentu aku tidak mengatakan hal itu, aku malah tersenyum palsu. “Maafkan aku, tapi aku janji lain kali aku akan menemanimu lebih lama.”

            Kakek mendesah dan mengangkat bahu, “baiklah, hati-hati kalau begitu.”

            Aku menunduk memberi hormat lalu mencium pipi ibuku sekilas, aku tidak menatap ataupun pamitan pada So Yi dan langsung menuju pintu keluar. Melangkah menuruni undakan kayu saat suara Kyuhyun memanggilku. Aku menoleh, kalau dilihat sebenarnya penampilan Kyuhyun sama sekali tidak keren, dia hanya menggunakan kaos panjang berwarna hijau pudar dan jeans abu-abu. Seluruh badannya kotor karena debu di loteng, begitu juga dengan wajahnya. Tapi ini Kyuhyun, dia bisa menampilkan pesonanya dengan gayanya sendiri.

Kenapa dia harus berwajah seperti itu?

            “Pergi secepat ini?” dia menepuk-nepuk tangannya yang penuh debu.

            Aku mengangguk, “Hmm.”

            Dia menyeringai, “sayang sekali, padahal kau bisa meminta tunanganmu datang dan kita bisa bermain opera sabun yang berjudul keluarga bahagia.”

Aku tidak menanggapinya dan berbalik tapi Kyuhyun seperti ingin menguji kesabaranku, dia terus saja mengoceh.

“Aku yakin kau sangat memahami maksudku, karena diantara kita semua hanya kaulah yang paling pintar dalam berpura-pura. Seharusnya kau menjadi artis, Park Hyura. Bekerja di kantor sangat tidak cocok untukmu, mengingat kau hanya menyia-nyiakan bakatmu.”

Artis? Bakat? Apa dia tidak punya kaca, Selama ini siapa yang menjadi siapa?

Benar, tentu saja!

Dia yang menyamar menjadi kakakku tapi aku yang dituduh pandai berpura-pura.

Aku berbalik, memandangnya jengkel. “Apa sih masalahmu? Jika kau marah padaku, aku minta maaf, okey!”

“Aku tidak marah padamu, kenapa aku harus marah?” Dia mengendikkan bahunya dan berbicara seolah tidak peduli.”Oh ya ngomong-ngomong, terima kasih kembali aku sudah mengembalikan cincinmu.” Sindirnya.

            “Aku…”

Dia langsung berbalik dan mengangkat tangannya, “hati-hati di jalan.” Kyuhyun sudah lenyap di balik pintu.

***

“Tidak apa-apa kau membantuku?” tanya Siwon. Aku menggelang sambil tersenyum, melanjutkan pekerjaanku menata gelas di kitchen set. Hari ini Siwon pindahan ke kondominium kami—rumah kami setelah menikah lebih tepatnya.

“Ini akhir pekan, Hyura-ya, kau seharusnya menemani kakekmu.” Dia masih saja mengekoriku, menyuruhku pulang dan sebagainya, “Nanti ada Hyukjae dan pelayanku yang akan membereskannya.”

Aku berbalik, masih tersenyum. “Aku lebih suka di sini.” Aku tidak bohong, bersama Siwon lebih menyenangkan ketimbang aku harus ke rumah danau bertemu Kyuhyun dan kemungkinan besar bertemu pacarnya juga. Setidaknya di sini aku bisa bernafas dengan benar.

Siwon menatapku lama sebelum akhirnya dia mengangguk. Dia kembali pada pekerjaannya membereskan ruang kerja. Sementara aku masih berkutat di dapur, menyusun peralatan dapur persis seperti di rumahku, agar aku tidak terlalu bingung saat memasak nanti. Tanpa sadar aku tertawa sendiri, seperti aku akan memasak saja.

Aku menuangkan dua gelas jus jeruk dingin, untukku dan untuk Siwon, saat aku melintasi ruang tamu aku baru menyadari dindingnya lebih polos dari yang terakhir kulihat. Aku berhenti, memandangi dinding putih polos di belakang televisi. Aku ingat tadinya ada foto pertunangan kami yang besarnya dua kali lipat dari tv flatscreen di ruangan ini, lalu aku berbalik menghadap ke seberang ruangan, dekat dinding kaca seharusnya juga ada lukisan wajahku dan Siwon. Tapi sekarang lukisan itu sudah tidak ada. Ada apa ini?

Siwon tengah duduk di lantai, dia mendongak dari kardus di depannya saat aku membuka pintu, “Kau sudah selesai di dapur?”

            Aku mengangguk, ikut bergabung dengannya dan memberikan jus jeruk, dia langsung meminumnya sampai habis dan tersenyum . “Oh ini sangat menyegarkan.”

            Aku mengambil gelas kosong dari tangannya, “Kau mau lagi?”

            “Tidak, terima kasih.”

            Aku melongok ke dalam kardus, “apa ini?”

            Dia tertawa renyah, “Bukan apa-apa, ternyata aku salah membawa kardus, ini buku-buku yang lama, aku baru menyadarinya setelah hampir separuh kususun, jadi kumasukan lagi.”

            “Oh,”

            “Bagaimana keadaan di dapur? Apa ada yang kurang? Semenjak aku tinggal di sini aku belum menyentuhnya.”

            “Sebenarnya aku tidak terlalu paham,” jawabku jujur, “aku hanya menyusunnya persis seperti di rumahku.”

            Siwon tersenyum namun tidak sampai matanya, “kau bisa melakukan apa saja di sini. Kuharap kau tidak terlalu kecewa karena aku tidak membeli rumah, aku lebih suka sesuatu yang simple, kondo ini ukurannya tidak sebesar rumahku atau rumahmu .”

            “Aku tidak masalah, lagipula mencari rumah di Seoul cukup sulit.”

            Dia mengangguk dan tersenyum kemudian kembali menyusun buku ke dalam kardus, aku ikut membantu sambil bertanya lagi.

            “Kau menurunkan foto dan lukisan?”

            Dia berhenti untuk melihatku. “Foto dan lukisan?”

            “Ya, foto dan lukisan kita.”

            “Oh itu,” dia melanjutkan memasukkan buku, “aku ingin menggantinya dengan foto pernikahan kita, jadi aku mencopotnya.”

            “Ngomong-ngomong soal pernikahan kita belum menentukan tanggal.”

Siwon berhenti lagi, dia menatapku aneh cukup lama sebelum akhirnya tersenyum. “Aku akan membicarakannya dulu dengan ibuku, setelah itu baru kita menentukan tanggalnya, bagaimana?”

Aku mengangguk setuju, dia mengusap kepalaku lembut dan tersenyum tapi matanya tidak. Aku membantunya memasukkan buku lalu tiba-tiba saja tangannya mencengkram pergelangan tanganku. Aku melihatnya seolah bertanya –kenapa?

Lagi-lagi dia tersenyum, senyum yang sama seolah aku menarik benang di kedua sudut mulutnya. “Bisakah kau keluar sebentar? Aku harus menelpon seseorang.”

Aku tidak langsung menjawab, menatap Siwon lama, mempelajari wajahnya, aku yakin ada yang dia sembunyikan dariku. Sampai akhirnya aku mengangguk dan keluar dari sana. Entahlah mungkin aku berlebihan, belakangan ini dia memang sangat sibuk. Setelah berbicara pada kakekku minggu lalu di rumah danau, aku dan Siwon hanya bertemu sekedarnya, misalnya dia berkujung ke kantorku untuk mengantarkan sarapan atau makan siang, jika dia bisa pulang lebih cepat dia akan menjemputku dan kami bisa makan malam bersama tapi itu jarang sekali.

Aku duduk di ruang tamu, memandang pintu ruang kerja Siwon sebentar sebelum mataku berkeliling menjelajahi sekeliling kondominium. Tempat ini lebih besar daripada apetement kebanyakan dan terlihat lebih luas karena masih kosong, belum banyak barang yang di letakkan. Hanya ruang tamu, dapur dan ruang makan yang sudah penuh dengan furniture, sisanya dibiarkan begitu saja. Baru dua kamar yang terisi dari enam kamar yang tersedia. Satu untuk kamar tidur utama dan yang satunya lagi untuk ruang kerja Siwon. Yang paling kusukai dari semuanya adalah pemilihan warna cat, Siwon mengecatnya dengan warna kesukaanku.

Pintu ruang kerja Siwon terbuka sekaligus menarikku kembali ke dunia nyata. Ekspresinya berubah lebih murung, dia berjalan lambat ke arahku, aku berdiri.

“Sudah selesai?”

“Eoh.”

“Kau lapar?” dia melewatiku menuju dapur. Aku mengikutinya.

“Belum. Apa terjadi sesuatu?”

“Aku kelaparan, Kau mau pizza?”

“Tidak, aku belum lapar. Oppa, apa terjadi sesuatu?” ulangku.

Dia berhenti tapi tetap memunggungiku, mengeluarkan ponsel dari saku jeansnya, “akan kupesankan satu untukmu, kau tidak suka paprika kan?”

Aku mendesah dan bersedekap saat dia mulai memesan di ponselnya, aku menunggu hingga panggilannya selesai.

“Oppa,”

Dia menghadapku, tersenyum. “Kau akan menyukainya, Hyura-ya. Pizza di tempat langgananku sangat enak.”

“Aku sedang tidak membicarakan masalah pizza” aku memutar mata, “kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan yang mana?”

Menghembuskan nafas keras. “Apa terjadi sesuatu?”

Dia menggeleng polos, “tidak terjadi apa-apa.”

“Kau yakin?”

Dia mengangguk.

Mungkin dia belum mau membicarakannya, jadi aku mengangguk mengerti dan tersenyum tipis. “Baguslah, kalau begitu.”

Aku baru memutar tubuhku saat tiba-tiba saja Siwon memelukku erat dari belakang. Meliriknya melalui bahuku, “Oppa?”

“Hyura-ya…”

“Ada apa?” tanyaku hati-hati.

“Ada yang ingin kutanyakan.”

“Katakan saja.”Aku berusaha melepas kaitannya dia perutku tapi dia sengaja memelukku lebih erat dan menguncinya.

“Jangan bergerak!” bisiknya tegas, “aku tidak yakin bisa mengatakan hal ini saat melihat wajahmu.” Aku berhenti, menurutinya dan menjatuhkan tanganku.

“Apa kau benar-benar berharap menikah denganku?”

“Apa!” Aku berusaha menoleh untuk melihatnya tapi sulit.

“Jawab saja, Hyura-ya.”

“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” suaraku pelan dan penuh kebingungan.

“Karena aku tidak berharap begitu.” Bisiknya tak kalah pelan.

Dahiku berkerut, aku tidak mengerti, bukankah dia yang memintaku untuk menikahinya?

“Aku berbohong padamu,” suaranya terdengar sedih, “Aku sudah melihat foto itu sebelum kau memberikannya padaku, aku meminta Hyukjae untuk membantuku.” Dia berhenti cukup lama, kepalanya bersandar di bahuku. Aku menunggunya.

“Aku ingin kau merasakan sakit yang kurasakan, Hyura-ya. Aku marah dan membenci apa yang kau lakukan padaku. Karena itu aku memaksamu menikah. Aku ingin melihatmu tidak bisa memiliki apa yang kau cintai.” Mulutku terbuka, aku tidak menyangka Siwon melakukan hal itu padaku.

“Aku tahu, aku sangat buruk. Kupikir aku akan merasa lebih baik setelah ini, tapi ternyata tidak, melihat matamu tidak bersinar bahagia membuatku lebih tersiksa.”

“Siwon-aa…”

“Aku tidak buta, Hyura-ya.” Potongnya cepat. “Aku melihatmu. Aku melihat bagaimana kau dan dia saling menyiksa dan menyakiti satu sama lain, aku membiarkan kalian melakukannya agar kalian merasakan apa yang kurasakan, sampai aku merasa takut pada diriku sendiri. Aku bukan lagi membencimu tapi aku mulai membenci diriku sendiri,” tubuhnya bergetar, aku memegang kaitan tangannya di perutku.

“Oppa…” Aku bicara lembut, “Aku tidak membencimu, aku juga tidak marah.”

Dia menjauhkan wajahnya, perlahan memutar tubuhku, memandang langsung ke bola mataku, seolah mencari kebenaran di sana. “Kau…mau memaafkan aku?”

Aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis.

“Kau benar-benar menyangiku, Park Hyura.”

“Kau meragukanku?”

Dia menggeleng kuat lalu memelukku, “Aku tahu lebih dari siapapun. Maaf, karena melakukan ini padamu.”

Aku menepuk punggungnya lembut. Bagaimana mungkin aku tidak memaafkannya, Siwon adalah teman terbaik yang kupunya, dia melakukan banyak hal untukku dan aku tidak siap kehilangan seseorang seperti dirinya.

Siwon melepas pelukan kami bersamaan dengan bunyi bel di pintu. Dia menyeringai, “Sepertinya itu pizza kita.” Sementara Siwon mengambil pesanan, aku bersiap di meja sarapan dan mengeluarkan minuman soda dingin. Bau pizza langsung menyeruak di seluruh dapur saat Siwon muncul sambil membawa dua kotak pizza berukuran besar. Aku memang belum lapar tapi baunya hampir membuat air liurku menetes.

“Pizza keju tanpa paprika, khusus untuk Nona Park.” Katanya setengah bercanda. Aku tertawa kecil, membuka bagianku dan langsung mengambil gigitan pertama. Siwon mengikutiku.

Sambil makan aku membuka pembicaraan.

“Kau tahu aku tidak bisa masak, jadi apa rencanamu? Apa kita akan memesan pizza setiap hari?”

“Aku punya banyak daftar restoran pizza yang enak, kurasa kita tidak akan kehabisan stok untuk tahun pertama.”

“Ya!”

Dia terkekeh, “Aku bercanda.”

Kami terdiam lagi. Aku menghabiskan potongan kedua saat Siwon mengambil tanganku dan menciumnya. Aku tersenyum.

“Kau memakai cincinnya lagi?”

Senyumku langsung menghilang, hal itu mengingatkanku bagaimana Kyuhyun mengambil dan mengembalikannya. Aku tidak ingin membicarakannya jadi aku hanya mengangguk.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku sudah tahu kau tidak memakainya lagi semenjak kecelakaan itu.”

Aku mendongak, melihatnya. “Sejak kapan kau memata-mataiku?”

Dia mendesah panjang, meletakkan potongan pizza yang tinggal separuh. “Sejak kau meninggalkan kamar hotelku.” Katanya mengakui.

Ouch, jujur saja ini cukup menyebalkan.

“Maaf, aku tahu kau pasti marah.”

Memaksa tersenyum. “Kau tahu bagaimana aku mengenai privasi.”

Siwon tidak bisa menahan senyum, “Ya, kau bahkan tidak bisa berbagi kamar mandi.” Aku ikut tersenyum, untuk masalah itu aku mengakuinya.

“Aku minta maaf, maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukan hal itu.”

Aku menggapai tangan Siwon dan menggenggamnya. “ Berhentilah meminta maaf, aku yang menyakitimu lebih dulu. Anggap saja kita impas.”

Siwon tersenyum, dia menarik tangannya dari genggamanku lalu mengulurkannya. “Berteman?”

Aku tidak bisa menahan senyumku, menyambut uluran tangannya. “Berteman.”

Setelah itu Siwon menceritakan banyak hal. Bagaimana dia menghadapi sakit hatinya setelah pengkhianatanku, dia bilang Hyukjae menemaninya di Singapore selama lima hari dan selama itu juga dia selalu bersenang-senang. Aku tidak ingin membayangkan apa yang Siwon maksud dengan bersenang-senang.

Saat di Singapore Siwon mangkir dari pekerjaannya beberapa kali hingga ayahnya harus datang untuk mengeceknya sendiri. Tuan Choi menyalahkan kehadiran Hyukjae yang setiap hari mengajak Siwon pergi ke bar dan mabuk-mabukan. Dalam keadaan setengah teler Siwon mengatakan pada Ayahnya akan membalas perbuatanku, dan Ayahnya atau siapapun tidak boleh ikut campur. Seandainya mereka melakukan sesuatu dia akan bunuh diri.

Aku tidak bisa menahan tawaku saat dia menceritakan hal itu. Siwon selalu tampak sempurna, sementara aku membayangkan dia mengancam ayahnya dalam keadaan setengah mabuk pasti sangat menarik.

Siwon bilang, dia mengakui mendapat ide untuk balas menyakitiku setelah melihat perkelahian dua orang pria di bar, awalnya dia ragu namun Hyukjae yang meyakinkan bahwa aku pantas mendapatkannya.

“Apa Hyukjae menceritkan soal kakakku?”

“Tidak, aku baru mendengarnya darimu. Hyukjae sangat profesional dalam urusan pekerjaan, kau jangan khawatir.”

Aku mengangguk mengerti dan bertanya lagi.

“Jadi keluargamu tahu apa yang terjadi pada hubungan kita?”

Siwon mengangguk malu-malu.

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rekasi mereka.”

Dia mengangkat bahu, “Well,Ayahku sedikit menyayangkan karena masalah perusahaan. Kau tahu maksudkukan, dan ibuku…dia tidak mengutukmu atau semacamnya, dia hanya jadi lebih terbuka saat membicarakan ibumu.”

“Ibuku?”

“Ya, kau tahu masalah ibu-ibu. Dulu dia tidak mengatakan apa-apa tapi sekarang ibuku menggerutu mengenai selera ibumu, dia mengeluh saat merencanakan pertunangan kita dulu, dan bersyukur dia tidak harus mengurusi pernikahan dengan ibumu.”

Aku terkekeh, mungkin ibunya Siwon sudah mengetahui sifat jelek ibuku. Aku tidak bisa mencegahnya, karena siapapun akan muak dengan sikap ibuku yang sok mengatur.

Sepanjang sore aku dan Siwon menghabiskan waktu kami untuk berbicara pada hal-hal yang harus kami dengar. Aku menyukai waktu seperti ini, mengingatkanku pada saat aku kuliah dulu, begitu santai dan nyaman. Tanpa terasa langit sudah berubah hitam pekat.

***

Aku meletakkan cincin pemberian Siwon di kotak perhiasan, dia ingin aku menyimpannya sebagai kenang-kenangan perjalanan kami. Dia juga memberikanku lukisan wajah kami berdua, aku menerimanya meskipun aku tidak tahu harus memajang lukisan sebesar itu dimana.

Bersamaan dengan itu pintu kamarku terbuka, ibuku muncul diambang pintu.

“Kau baru pulang?”

“Eoh, apa ada sesuatu?” menelisik dariraut wajah ibuku, jelas dia ingin membicarakan sesuatu.

“Lusa kau ada acara?”

Aku menggeleng, “Tidak ada, kenapa?”

“Lusa kita akan mengadakan pertemuan keluarga dengan keluarga Tuan Yoon. Pastikan kau dan Siwon datang.”

Aku berdiri cepat. “Apa? Pe…pertemuan keluarga?”

“Ya, semacam pembicaraan mengenai pernikahan, aku ingin pernikahan Donghae dipercepat.”

“Ta…tapi kenapa!”

“Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin kau menikah lebih dulu, kau masih muda Hyura-ya.” Eomma menatapku curiga. “Jangan bilang kau sudah menentukan tanggal pernikahanmu dengan Siwon?”

“Aku belum membicarakan apapun dengan Siwon! kenapa Eomma tidak mendiskusikan hal ini dulu padaku!” aku berbicara lebih keras daripada seharusnya.

Eomma melihatku heran, “Kenapa aku harus mendiskusikannya denganmu? Donghae dan So Yi sudah setuju, jadi dimana masalahnya?”

“Masalahnya…”

Sial, aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, nak. Tapi inilah yang terbaik. Kau dan Siwon masih bisa menikmati masa muda kalian.”

Aku mengerang, “Eomma…”

“Sudah malam, kau istirahatlah. Jangan lupa untuk memberitahu Siwon.”

Aku ingin membantah tapi ibuku sudah menghilang.

Sepanjang sisa malam itu aku terus terjaga, mataku tidak mau terpejam sama sekali.

***

Jam tujuh pagi Kim Ahjumah mengantarkan sarapanku ke kamar dan menyampaikan pesan ibuku. Sore ini ibuku sudah membuatkanku janji di klinik dermatology langganannya.

“Jam berapa ibuku pergi?”

Aku menyetel televisi sementara Kim Ahjumah menuangkan susu dari karton.

“Tiga puluh menit yang lalu. Nona, mau kubantu mengoleskan selai?”

“Eoh. Kenapa dia pergi sepagi itu, ini kan hari minggu.”

“Katanya Tuan Donghae memiliki urusan lain jadi Nyonya besar harus pergi lebih pagi.”

Dia menyelesaikan roti di lembar pertama dan beralih ke lembar kedua saat aku menghentikannya.

“Terima kasih, kau boleh pergi.”

Dengan sopan dia undur diri. Sambil menonton aku menghabiskan sarapanku setelah itu berlama-lama membersihkan diri. Aku masih punya waktu beberapa jam untuk bekerja sebelum pergi ke klinik. Aku menghubungi Nammie menanyakan perihal presentasi yang kuminta padanya. Bukannya menjawab dia malah mengomel padaku karena mengganggu hari minggunya yang tenang dengan masalah pekerjaan.

“Ya! Ini bukan pertama kali aku menelponmu saat akhir pekan.”

Dia mendengus kasar. “Buka emailmu sebelum menelponku!” terdengar suara benturan keras sebelum sambungan kami terputus. Aku memandang ponselku tidak percaya. Dia memutuskan teleponku seperti itu? dasar asistant kurang ajar.

Aku lupa meninggalkan laptopku di perpustakaan dan belum mengeceknya sejak hari jumat. Aku berniat mengambilnya saat mataku menangkap nampan bekas sarapan. Kupikir bukan masalah mengembalikannya lebih dulu sebelum aku mengambil laptopku. Tapi ternyata itu adalah keputusan terburuk yang pernah kubuat. Kenapa aku harus repot-repot turun ke dapur sementara perpustakaan ada di lantai dua. Lihatlah sekarang apa yang harus kuhadapi.

Aku baru menuruni tangga dan hendak berbelok ke ruang makan saat aku mendengar suara orang yang sedang berbicara pelan. Aku tidak mendengarkan dengan seksama dan terus bejalan sampai aku harus berhenti, atau lebih tepatnya aku tidak sanggup melangkah lebih jauh. Kyuhyun dan So Yi, mereka sedang sarapan bersama. Mereka tidak melihatku yang mematung di ujung lorong.

Urusan lain?

Apa ini yang dia bilang urusan lain dan membuat ibuku harus pergi pagi-pagi? Dan jelas si brengsek itu tahu aku di rumah. Aku menarik nafas dalam menguatkan diriku, berpura-pura tidak melihat dan melewati mereka, Aku baru mau melangkah saat tiba-tiba Kyuhyun mendekatkan bibirnya ke kening So Yi dengan penuh kelembutan, wanita itu memejamkan matanya. Telapak tanganku berkeringat, pegangan tanganku di nampan mulai gemetar, rasanya nampan yang kupegang berisi besi yang beratnya berton-ton. Wajah Kyuhyun perlahan turun ke bawah menyusuri hidung So Yi. Aku lebih memilih menjadi orang buta daripada harus melihat hal ini. Tanganku seperti kehilangan kekuatannya, aku sudah tidak kuat lagi!

Kyuhyun hampir menyentuh bibir So Yi saat aku menjatuhkan nampan berserta isinya. Mereka tersentak lalu menoleh. Aku menunduk kebingungan melihat hasil perbuatanku. Piring dan gelas sudah pecah, selai dan susu berceceran di lantai.

Suaraku gemetar, hampir menangis “Ma…maaf. A…aku…”

“Hyura-ssi, kau tidak apa-apa?” So Yi sudah berdiri.

Aku terselamatkan saat Kim Ahjumah datang. “Nona!” dia memekik. “Anda tidak-apa? Apa ada yang luka?”

Aku menggeleng kuat. “Ahjumah… ma…maaf. Tolong bereskan ini.” tanpa menoleh aku berjalan menjauh secepat yang kubisa, mencari tempat persembuyian pertama yang bisa kutemukan. Perpustakaan adalah pintu pertama di puncak tangga, tubuhku langsung merosot saat pintu tertutup. Dan air mataku jatuh tanpa bisa kucegah, menutup mulutku agar suara tangisku tidak terdengar.

Demi Tuhan ini sangat menyakitkan, padahal hanya beberapa detik tapi rasanya seperti bertahun-tahun terbakar di neraka. Secara tidak langsung Kyuhyun seperti menyiram lava panas ke dadaku, membuat jantungku terbakar. Aku megap-megap mencari udara seolah fungsi paru-paruku berhenti. Mungkin ini yang disebut karma. Aku membuat Siwon dan Kyuhyun mengalami hal yang sama. Aku tidak tahu rasanya semenyakitkan ini, bagaimana Kyuhyun menghadapinya selama ini? lalu bagaimana bisa Siwon melewatinya? Bagaimana dia bisa merelakanku? Melihatku bermesraan dengan pria lain sementara aku masih tunagangannya.

Lalu siapa aku? Kenapa aku harus bersikap konyol seperti ini?

Aku hanyalah adik pura-pura Kyuhyun yang tidak memiliki hak untuk marah. Dan lihatlah diriku sekarang, terlihat sangat menyedihkan, kasihan. Aku hanya menangisi hasil perbuatanku sendiri.

***

Saat kecil aku pernah di marahi ibuku habis-habisan karena memalsukan tanda tangannya. Aku begitu takut dia mengetahui nilai ujianku turun jadi aku memalsukannya. Dia memarahiku dan mengunciku di kamar mandi semalaman. Ketakutan, aku menangis banyak sekali sampai-sampai keesokan paginya mataku sulit terbuka.

Aku merasa hari itu terulang lagi sekarang, aku tidak pernah ingat bisa menangis sebanyak ini. Aku kelelahan tapi air mataku tidak mau berhenti. Berbaring di sofa perpustakaan, air mataku membasahi lapisan kulitnya. Saat seperti ini aku masih berharap air mataku tidak akan meninggalkan noda di sana atau Eomma bisa membunuhku.

Menit dan jam berlalu begitu saja, aku tidak tahu sekarang jam berapa, tapi aku masih ingat aku memiliki janji untuk pergi ke klinik, tapi jangankan ke klinik, aku bahkan sulit menggerakkan tubuhku untuk bangun. Mungkin besok atau nanti malam Eomma akan menceramahiku dan jelas aku akan membayarnya.

Aku hampir terlelap saat ada yang membuka dan menutup pintu. Otomatis mataku terbuka.

Siapa?

Memaksa bangun menegakkan tubuhku, aku berpaling ke arah pintu. Mataku melebar melihat Kyuhyun berdiri di sana. Buru-buru aku membuang muka. Aku tidak mau melihat wajahnya bisa jadi air mataku akan turun lagi.

Dia berbicara dengan santai, seperti Kyuhyun yang biasanya.

“Maaf, kau harus melihat kami. Itu salahku seharusnya aku mencari tempat yang lebih pribadi.”

Dia masih saja bersikap brengsek. Tanpa sadar tanganku mengepal dan mengeratkan gigiku. Tapi aku tidak ingin mengikuti permainannya, sudah cukup bagiku. Aku menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur, menghitung dalam hati. Tarik, keluarkan, tarik, keluarkan.

“Oh ya, apa Eomonim sudah mengatakan padamu mengenai pertemuan keluarga?”

“Eoh.” Jawabku pelan.

“Bagaimana perasaanmu mengetahui aku lebih dulu menikah? Apa kau iri?”

“Aniyo.”

“Benarkah?” dia berjalan memutar dengan langkah lambat lalu berhenti di sebrangku, berdiri di belakang sofa, tangannya bertumpu pada punggung sofa. Pandanganku jatuh ke bawah, masih menolak untuk melihat wajahnya.

“Baguslah, kalau begitu. Aku sudah berbicara pada So Yi, bahwa kau akan menjadi pendamping pengantin wanita dan tunanganmu akan menjadi pendampingku, bagaimana? Terdengar menyenangkan bukan?”

Aku miliriknya dari balik bulu mataku sebelum mengangguk kaku.

“Apa aku boleh meminta hadiah pernikahan…sister?”

Aku melihatnya sekilas, wajahnya keras, menatapku penuh tekad. Tidak ada keraguan sama sekali, dia terlihat menikmati menyiksaku seperti ini.

Memaksa menarik kedua sudut bibirku, “Rumah, aku akan memberikanmu sebuah rumah.”

Dia sedikit terkejut. Mungkin dia berpikir aku sangat baik hati sampai rela mengorbankan uangku untuk membelikannya rumah. Tapi bukan itu alasanku.

“Kenapa kau ingin membelikanku sebuah rumah?”

Aku tidak bisa mencegah suaraku meninggi di setiap katanya dengan kebencian yang nyata. “Karena…aku ingin kau cepat-cepat menikah dan pergi dari sini. Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi dan membawa wanita itu ke rumahku!”

Kyuhyun memandangku terkejut, tapi sedetik kemudian dia menyeringai. “Well, kalau begitu aku akan tetap tinggal, setelah menikah aku akan membawa So Yi untuk tinggal di sini. Jadi kau bisa menghemat uangmu atau kau bisa melakukan hal yang mulia seperti menyumbangkannya.”

Aku memandangnya muak. “Persetan denganmu.” Berdiri cepat dan berbalik saat dia berbicara keras.

“Kau yang memulainya, Park Hyura!”

Aku? Memangnya apa yang kulakukan?

Berbalik menatapnya jengkel.

“Aku tidak akan melakukan hal ini jika kau tidak berbohong padaku!” katanya sengit.

“Aku? Berbohong padamu?”

“Kau lupa?” Dia mendungus tidak percaya, “siang itu—setelah dari rumah sakit kau bilang akan menemui temanmu, tapi tiba-tiba kau malah datang dengan tunanganmu dan membicarakan pernikahan! Kau pikir apa yang kurasakan?” dia berteriak, memandangku penuh amarah dan benci. “Kau seperti menyiramku dengan air kotoran!”

Wajahnya sejenak kusut, dia berbicara dengan nada lelah. “Katakan, Apa yang telah kita lalui tidak berarti apa-apa untukmu? jika tidak…Well, itu sangat menyakitkan. Karena aku memiliki minggu terindah dalam hidupku setelah enam belas tahun!”

“Itu sangat berarti untukku,” kataku lemah. “Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, menyukai seseorang begitu banyak sampai rasanya menyakitkan.” Mataku kembali tersengat.

Kyuhyun berjalan cepat ke arahku, mencengkram kedua lenganku. “Kalau begitu kenapa? Kenapa kau membuangku? Kenapa kau melakukanya, Hyura-ya!” dia menguncang tubuhku keras.

“Kyuh… sakit!”

Kyuhyun mencengkramku semakin kuat, sambil memandangku tajam, tatapannya menuduh. “Kau tidak mempercayaiku! kau lebih memilih memutuskan sendiri untuk menikah daripada berbicara padaku. Benar kan? Kau tidak mempercayaiku aku bisa memperjuangkanmu!” Suaranya putus asa. “Kau hanya tinggal mengatakannya, Hyura-ya. Sudah kubilang kau hanya tinggal mengatakannya dan aku akan melakukannya untukmu. Tapi kenapa kau tidak mempercayaiku!”

“Kyuhyun, sakit! Lepaskan!”

“Kalau begitu jawab aku!” Dia berteriak di depan wajahku,

“Karena aku tidak ingin menyakiti Siwon!” balasku berteriak, dia melihatku tidak percaya, cengkramannya di lenganku terlepas, matanya berkaca-kaca. Dia membuka mulutnya untuk berbicara tapi aku memotongnya bersamaan dangan air mataku yang lolos begitu saja.

“Aku juga tidak ingin menyakiti ibuku.” Tambahku. “Jika kau bertanya apa aku mencintaimu?” aku mengangguk kuat, dan mulai terisak “Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa memilihmu, aku tidak bisa berbahagia diatas penderitaan orang lain, aku tidak bisa membiarkan ibuku semakin membencimu, aku tidak bisa membiarkan dunia memandangmu rendah karena hubungan kita, dan…aku tidak bisa membiarkan keegoisanku melukai orang-orang yang kusayangi.”

“Tapi… kau menyakitiku, Hyura-ya, menyakiti dirimu sendiri.” Katanya susah payah.

“Aku tahu,” bisikku lelah, percayalah aku mengetahui hal ini lebih dari siapapun.

Kyuhyun tersenyum pahit, “Aku memiliki cinta paling egois di dunia.” Ibu jarinya mengusap wajahku lembut, membersihkan air mataku. “Tapi jika ini keputusanmu, aku akan menerimanya.” Bibirnya bergetar tapi dia berusaha tetap tersenyum sampai Setitik air mata jatuh di pipi kirinya. “Aku melepaskanmu… Park Hyura.” Dengan itu dia mempertemukan bibirnya dengan bibirku. Bibir Kyuhyun basah dan asin karena air mata. Kami berciuman sambil menangis, membayangkan setelah ini hubungan kami tidak akan pernah sama. Kyuhyun akan menjadi milik orang lain dan selamanya dia akan menjadi kakakku.

***

TBC

Jeng…jeng…

Author ngaret dateng lagi hehehe

mian klo makin kesini ceritanya malah kemana-mana, maklum authornya masih serabutan, otaknya mbuludak :p :p :p

saya juga masih ngeraba-raba buat endingnya, kalo ada reader yang mau ngasi saran, monggo, saya terbuka koq 🙂 🙂

Oke, Di tunggu rcl nya yah 🙂 🙂

See you :* :*

162 thoughts on “Famiglia [Part 9]”

    • Makin rumit, makin pelik dan makin bikin gemes.
      Kesel sama Hyura yang plin plan… tapi disaat Hyura putus sama Siwon, Kyuhyun mau nikah.
      Hahahahhaa lucu ajh bayangin gimana sakit nya Hyura wkwkwkw

      Nikah ajh sonolah Kyuhyun sama Soyi biar opera sabun nya makin asik wkwkwkw

      Reply
  1. jreng-jreng aku iseng2 ngecek ternyata part 9 sudah keluar senangnya.. tapi pas baca 🙁 complicated buat hyura siapa yang dia pilih ? kenapa dia harus ngomong seperti itu bukannya dia dan siwon sudah berteman( ? )kembali … author gak sabar nunggu part selanjutnya keep writing author

    Reply
  2. Iiiihhhh rumiiitt bangeettt siihhh geregeettss sumpahh…
    Hyura sama kyuhyun bkin greget…
    Aaakhhhh….
    Siwonn aku harus komen apa tentang kamu??
    Entahlah aku binguung 😂😂
    Yg jelas fighthing kak..
    Ditunggu next partnya hihi 😍

    Reply
  3. Endingnya? Ga usah ditanya jelas kyuhyun sama hyura lah… kekeke up dulu thor siders yang rajin koment biar dilanjtttin cepet~ update asap juseyoo

    Reply
  4. Ceritanya complicated,, tapi bagus..
    Aslinya pingin endingnya kyu menikah sm hyura, tp ksihan juga siwon,.. smoga endingnya happy2 deh.. soalnya setiap baca tiap partnya udah tegang2 terus krn konflik,. Semoga happy ending.. hehe.. 🙂

    Reply
  5. aishhhhhhhhhhhh….kenapa sllu kyu yg tersakiti sihhhhh ampun dehhh hyuraa…mkennn bken dag dig dug darrrr dehh pkoknyaaa gk tahu hrus blang ni ff kek gimanaa skeng puasnya sama tangab jahil kakak yg bkin kita” jd was” greget dan kdang mwek” krna bca ni ff

    Reply
  6. Yaaaahhh hyura ud batalin pernikahan sm siwon,,, eeehhh skrng kyu yg mau nikah sm soyi,, acara saling balas yg bikin sakit hati..
    Kyu jngn sampe nikah sm soyi.. smoga ibunta hyura segera tau siapa kyu sebenarnya,,,

    Reply
  7. Makin rumit Hyura kan udah putus sama siwob knpa ga diperjuangkan aja hubungannya sama kyu, klw q jadi hyura seh kawin lari aja ma Kyu karena yeah cinta itu kan emang egois

    Reply
  8. Hwuuua makin rumit za ini kisah mreka ini kyu T_T skrang dy bner2 ngelepas hyura mungkin emng takdir klo kyu sma hyura gk mungkin brsama mungkin 😓 , demi apah kyu bner2 akan nikahi soyi blm rela tpi apalah dayaku 😒, kyu knpa gak prtahanin hyura lagian kan skrang hyura udh ptus sma siwon udh jelas2 klian sling mncintai .. makin rumit mkin greget sma kyura ‘-‘)

    Reply
  9. ini mah kayak benang ruwet jadinya.. ya ampun kenapa harus menyakitkan kayak gini..
    pliss hyura sama kyu..
    siwon udah melepaskannya.. ya ampun bener” mentakitkan

    Reply
  10. Kenpa critanya jadi ribet gini? Blom ada titik terang 😢
    Kasian kyuhyunnya kasian hyuranya, aaaa eonnie aku mau cepet* mreka bersatu
    Kasian mreka sedih terus 😢

    Reply
  11. Ya tuhan hyun, be calm plis. Hyura sama kyu baru membYangkan kalau setelah itu kyu bakal jadi milik wanita lain dan akan menjadi kakaknya selamanya, faktan bukan gitu hyun, santai aja *sugesti diri*
    Yah semlga kisah rumit kyu hyura cuma sampe situ doang, abis itu bakalan happy ending dengan kyu dan hyura berada dalam satu kamar yg sama, dan penuh restu dari orang2 tersayang mereka

    Reply
  12. allo author^^
    Maaf yaa bafu bisa comment di part ini, soalnya baru sempet baca kemaren malem hehe
    Setelah baca dari awal, aku lebih setuju hyura sama kyuhyun, walaupun menyakiti banyak orang, toh sama aja kalo dia tetep sama siwon. Semangat yaa nulisnya, aku suka banget sama semua ceritamu, setelah sekian lama udah vak liat blognya hehe.. Semangaaat^^

    Reply
  13. Jadi nangis baca nyaa,,,
    Makin pelik aja,,
    Makin nguras emosi,,kasihan kyu-hyura-siwon,,mereka bingung banget,,paling kasian sama hyura nya,,dia berkorban paling banyak,,
    Keren deeh ,,

    Reply
  14. Kok q jd ikutan nyesek y huhuhuhu..
    Knp cinta mreka bgtu rumit?..hadeuhhh smua ksulitan ini hyura sih yg buat.. knp jd plinplan gni sih hyura. Sbntr milih kyu sbntr milih siwon..kan jd ny susah sndri.
    Kan ksian kyu am siwon brasa d php in. Pdhl udh sng bgt pas hyura milih kyu tp tyt balik milih siwon lg.. n skrg siwon milih mundur n kyu mutusin buat nikah am soyi n hyura cm dpt sakit ny doank. Sakit kan?.. kcwa sih am sikap hyura. Klo cnta knp g d perjuangin. Walau sulit asal slu bersama y gpp. Bukanny kyu jg mau nglakuin appun unk hyura. Bhkn siap mgkui prasaanny yg ssungghny am hyura ddpn kakek n eomma ny. Tp knp malah hyura ny yg g brni?…hadeuhhhh q jd esmosiiiiiiii loh bc ny..huwaaa tp sedih jg..g pngen kyu am soyiiiiii 😢😢😢
    Dtgu deh next chapter ny..smg ada titik terang buat hubungn mrk. Trutama kyu n hyura lah.

    Reply
  15. ending? jangan dulu dong… masih belom rela pisah sama famiglia…😭
    wkakakakaak..😂
    udah sih, kyuhyun sama hyura aja… toh sama siapa2 juga bakalan tetep aja ada yg tersakiti..😓😓😓

    Reply
  16. Makin sedih ceritanya makin nyesek makin rumit jadi kasian ama hyura nya
    Kenapa g jujur aja sih sama kakek mereka bahwa kyu g bisa jadi kaka tiri hyura 😢😢

    Reply
  17. Ya ampuunnn baper baper baper bmget dah….. part ink bneran bkin greget tapi aq g nyalahin apa yg mreka lakuin sih… wajar aja klau mereka ngelakuin itu krna merasa tersakiti yach anggap saja sebagai pengalihan diri dri rasa sakit ,,, u.u tapi justru itu yg bkin greget… siwon ngelakuin itu trnyta endingx cuma ngajak temenan … trus gmn ama hbungan Kyu, apa dia udh benar2 jauh ama so yu serius mreka mau nikah…

    Ayooo hyuraa katakan apa yg kamu mau biar kyu juga berjuang… jangan diem aja ngebiarin Kyu nikah… aiiihhhh bneraaan greget… semoga part slnjutx g lama2… semngat ka’,,, 😉😉💪💪

    Reply
  18. ya ampun.. gak tau lagi nih mau komentar apa disini…

    Baca ini tu kayak naik roller coaster… pas naik, tegang.. pas meluncur, dada jadi degdeg ser..

    ah, aku pinginnya tetep Hyura sama Kyuhyun, tapi kenapa semakin kesini rasanya semakin susah. Gak bisakah mereka bersikap egois saja? hanya Kyuhyun-Hyura….

    Aku rasa Kakek satu-satunya orang yang bisa membantu menyelesaikan masalah rumit ini. Sejauh ini Kakek belum tahukan hubungan antara Kyuhyun-Hyura?? please, kakek pasti tetap menginginkan kedua cucunya bahagia, bukan pura-pura bahagia..

    di tunggu sangat next partnya… Thank you author-nim ^_^

    Reply
  19. Well, jujur kutak terima siwon diginiiin di awal awal part ini #secaraakusiwonest keke.. Biarkan dia bersamaku saja kalo gitu. #plak
    Aku suka bgt konsepan balas2an hyura, kyu, siwon di sini… Meski gemes bgt liat mereka pada boong boongan tapi real bgt. Pasti kalo di dunia nyata juga akan cenderung begini… #menurutku. Keke
    Aku bingung sama endingnya tapi Kak. Rasanya ceritamu jadi nggak tertebak di tengah2 gini.. Pokoknya jangan buat siwon menderita ne? Jebal. Ha-ha. Biarkan dia bahagia gimanapun caranya…
    Fighting buat next partnya. Ditunggu banget lohh…

    Reply
  20. Ka knpa ceritanya makin rumit aja sih,aku jadi ikutan sakit hati deh bacanya,kenapa kyuhyun sama hyura nya ngga di bikin barengan sih,
    Tapi meskipun gitu aku tetep suka ko ka,banget malah,.cuman aku pengen liat kyuhyun sama hyuranya bahagia.

    Next nya di tunggu ya kaka FIGHTING

    Reply
  21. aku mendukung Hyura yang tidak ingin bahagia diatas penderitaan orang lain tapi juga aku menyesalkannya karena dia tidak mampu melawan perasaannya sendiri, tidak konsisten dengan apa yang telah di putuskannya, hingga tanpa disadari justru malah dia amat sangat menyakiti orang2 yang dia cintai, dia benar2 seperti makan si buah malakama..

    Reply
  22. Funally apdet jga…. pertama sempet sebel ma hyura jga siwon, kirain si siwon bneran egois ternyata udah sadar toh kkk
    Yak…. knapa ini mlah kyu yg mo merit??? Kyu bner mo ngelepas hyura???
    Eonni pliiissss kyuhyun jgn nikah ma so yi kesian hyura… moga ada jlan buat hbngn kyuhyun jga hyura

    Reply
  23. posting posting
    huwaaaaa knp si hyura tega gitu
    kyuhyun jgn lepasin hyura dong
    ditunggu chapter slanjutnya
    keep writing author

    Reply
  24. Jadi ikut sakit hati bacany.slah hyura sendiri yg plin plan, n tega gtu ke kyu tapi gk rela juga low ahirny kyu gk ma hyura.
    Low endingny pzty aku akn kasih saran buat kyu ma hyura menikah…kkk
    di tunggu next partny k’

    Reply
  25. yampun astaga ini….. apa sih aku mau nangis setiap baca ttg kyuhyun sama hyura kenapa semua ga berjalan seduai keinginan kenapa emreka selalu seneng nyakitin diri mereka sendiri sumpah sampe merinding nangis bacanyaaaa bahkan sebelumnya udah baik2 aja udah jaya orang pacaran tapi apa? tetep aja kan. nah siwon udha baik hati ngelrpas hyura tp apa? kenapa hyura ga ngomong yg sesungguhnya kenapa malah omg aku gatau lagi harus ngomomg apa ini bener2 deh bikin gemes asli itu hyura dilepas sama dua cowo dan bener2 nyakitn ah wae wae waeeeeeee aku bisa gila nungguin lanjutannya hahahahahaa ditunggu selaluuuuuu sampe ending aaakkk

    Reply
  26. Ah dramanya semakin drama.. complicated..
    Miss hoon ni pelit banget sih bikin moment kyu hyura nya. Sekalinya moment saling nyakitin, sedih mulu.. *ngomel sendiri
    Bener, kyu kawinin aja udah tuh si so yi. Biar semakin jadi opera sabun keluarga bahagianya. Gemes jadinya sama hyura.

    Tapi hikss.. pengen dong miss hoon endingnya si kyu nikah sama hyura.. kawin lari atau kyu duda dlu juga ga apa2 deh.. *yg ini pembaca labil

    Reply
  27. Makin rumit aja kisah cinta hyura sama kyuhyun. Kenapa harus saling nyakitin? Kenapa ga saling berjuang buat hubungan mereka? Hwaaaa ga rela kalo kyuhyun nikah sama anak tuan yoon. tapi gpp deh biar hyura nyesel lepas kyuhyun gitu aja. Semangat thor buat nextnya.

    Reply
  28. Aiiiiiiss ni hyura plin plan bgt sih…….kan kasihan kyuhyun dibikin sakit hati muluk…..kenapa ko ga jujur ja sih hyura ma keluarganya kalau dia dan kyuhyun itu saling mencintai……pokoknya kyuhyun ga boleh sampai nikah ma soyi,dia harus nikah ma hyura……kyuhyun harus tau lo siwon da putus ma hyura biar kyu batalin pernikahannya

    Reply
  29. Nggak tau mau ngmng ap lagi , kalo di liat hyura mempermainkan kyuhyun banget pas siwon nnya dia nggak lagi mikir gimna perasaan kyuhyun gimna , kalo jadi kyuhyun bakal begitu jga , kalo dari awal nggak mau ngasih kyuhyun kesempatan dan nggak pernah mau ngelepasin siwon kenapa mau mesra2an sama kyuhyun , bikin kyuhyun sakit hati , ih hyura knpa jahat sma kyuhyun , nggak kebaca endingny gimna ? Semoga kyuhyun bsa bahagia , next part ditunggy kk ^^

    Reply
  30. jujur jd bt ma sikap hyura… tp hyura jga ada bener’y klo dia milih kyu akan byk orng yg tersakiti…

    hny saran klo ending’y mending bka dlu identitas kyu yg sebenar’y pda smua orng terutama ibu’y hyura trus jangan ada yg nikah satupun entah itu siwon-hyura ato kyu-soyi atopun kyu-hyura jd adilkan 😉
    trus biarin kyu ma hyura pergi untuk meneruskan hidup mereka masing…

    Reply
  31. Hmm.. Awlny ak bete sm hyura..secara jd cewe kok plin plan bgt! Kmrn blg conta sm kyu..skrg malah mau nikah sm siwon
    Tp tnyata dia ngelakuin it demi jaga keutuhan klrgny plus ngejaga pandangan org thd kyu n klrg mrka klo sampe mrka bersatu
    Haaahhhh… Rumit2
    Tp syukurlah akhrny siwon ngelepas hyura
    Bingung miss hoon ak mau ksh saran ap unt endingny. Berharap hyura sm kyu aj, cm pandangan masyarakat it loh yg ga bs d abaikan begt aj
    Terima ksh bw crita yg begini menarik.. Semangat terus 😉😉😉

    Reply
  32. Buset dech
    Pengen bahagiain org lain
    Tp pd akhhirrrnny jg nyakitin smuanya trrmsuk diri sndiri

    Sedih liat mreka
    Gak tau mau milih siapa
    Kasian

    Reply
  33. baca berkali2 dan tetep aja efeknya merinding mau nangis deim apapun aaaaaaakkkkkk parah ini maaaahhh nanti kalo kyuhyun tau yg sebenernya kalo hyura gajadi nikah sama siwon bakal gimana jadinyaaaaa ga ngerti lagi aku nangis asli huwaaaaaa

    Reply
  34. Aduh nih hyura asli bkin greget bnget sih, dia tuh sebenarnya mo milih yg mana? Kasian bnget sih ma kyu, hukhuk.. Gmana thor klo endingnya siwon ma hyura ttp mo lanjutin nikah, kyu yg batalin nikah ma so yi trus pergi menghilang. Tp akhirnya siwon jg g tega nikahin hyura gara2 hyura g cinta ma siwon. Tapi g lama kyu balik lagi gara2 g bisa ngelupain hyura n mereka jadian lagi deh.. Hahaha ff seenak2 gw banget nih judulnya.. Tp thor ff ini slalu keren kok, aku aja slalu cek updatenya tiap hari lantaran suka bnget. Author fighting!!

    Reply
  35. setelah di part sebelumnya aku berharap mereka lebih baik tapi kenapa????
    ya apun….aku berharap pembicaraan mereka ada yg denger trus sadar kla mereka pantas bahagia…

    pendapat??aku mohon buat mereka bahagia..buat merrka happy ending…
    jngan gini eonni,kasian mereka,kasian cinta kyuhyun slama ini,kasian kyura yg slama berhubungan ma siwon malah cintanya ma kyuhyun..
    happy end jangan gini…

    setidanya di part slanjutnya…buat merka berjuang sama sama buat hub mereka….walaupun.nanti di twntang dulu ma emanya hyura,

    toh siwon udah relain masa kyuhyun juga??????

    Reply
  36. sumpah author nya…… jahat banget siii bikin cerita yang sebegini greget nya..
    sumpah tadinya gw udah mikir hub nya hyura ama siwon berakhir waktu si hyura pertama kali pergi ke rumah masa depan merekaa.. ehhhh ternyata malah mau nikah….
    dan lagii gua pikir bakalan kelar hub antara hyura and kyuu.. ehh.. malah hyura sama siwon nya jadi temen…
    sumpah ceriranya bikin jungkir balik… alur nya ngaak ketebak…
    wataknya si hyura jugaa… sumpah pingin gua pitess.
    tapu overall…… author nya mantabz maksimallll… bisa bikin cerita yang sebegini njlimetnyaa .. ekwkwk
    fokus ke crita ini ya thor… di tamatin dulu… jangan bikin oneshoot duluu.. wkwkwk
    sama kalo mau lanjutain mbg juga ngapapa lahh… wkwkwk fight!!

    Reply
  37. Yraah tiap hari buka blog ini pas buka hari ini ada senengnya minggu sepi ditemani kyuhyun huhuhu
    Bacanya aja bikin aku nyesek nyesek gemes dan sampai nangis liat mereka pengen cepet kyuhyun rau kalau hyun ra sama siwon puts dan dia gak jadi nikah ahhh part ini bikin baper beneran ahhh keren deh ff ny keep writing

    Reply
  38. serius, dari semua part.. ini yg paling menguras emosional.. kenapa mereka jadianya begitu? mereka terlalu lama ngebiarin masalah berlarut2.. knp ga dr awal jujur drpd saling nyakitin kyk gitu.. tolong thorrrr aku masih berharap lebih sama endingnya kyuhyun-hyura menikah:'(

    Reply
  39. Aelahh plin plan amat dh hyura jadi nmbh ribet gnikan hahh…
    Kyu blm tau aja kalo hyura btl nikah ama siwon dan mtusin bwt tmnn aja coba koo tau apa dia jg bkln btln nikah ama soyi?? Semoga aja iya, apapun mslhny gw pngn kyu jadiny ama hyura😣

    Reply
  40. Jadi merasa kesal sendiri dengan hyura yang gak pernah mau jujur dengan kyuhyun.
    Berharap ajalah happy ending kyuhyun dan hyura menjadi satu.

    Reply
  41. Ini apa? Apa ini?
    Hyura kamu mesti bersyukur siwon mengerti akan diri mu.
    Kyu kmu mesti tau hyura udahan sama siwon.
    Eonni tetep semangat ya walaupun sibuk.

    Reply
  42. baca part 8 kemarin senyum2 kirain semuanya aakan membaik ternyataaa…
    Uni nyesakin bgtttttg..
    Hikss.Hiksss
    Endingnya??
    Enggak usah ditanya maunya apa. Kami mau maunya kyuhyun dengan Hyura Wkwkwkkek
    Tapi rada bingung tadi bukanya siwon Hyura udah jadi temen lagi dan keluarga siwon juga udah tau terusss kenapa hyura masih mau lepasin kyuhyun ??
    Ah keren bgt ceritanya authornya pinter bgt mengombang-ambingkan perasan readers Hahaha
    Ditunggu nextny kakak semangat!!

    Reply
  43. Biasanya aku suka karakter hyura di famiglia, tapi di chapter ini dia kelihatan plinplan karena kembali ke siwon dulu. Eh ternyata siwon cuma balas dendam ke hyura, tapi kyuhyun uda terlanjur jadian sama so yi. Ah pusing. Authornim fighting 😁

    Reply
  44. Ini sedih bgt. Beneran!
    Hubungan mereka dari awal mmg sulit krn t’lanjur b’predikat sbgai kakak adik.
    Trus gmn donk nanti’a?
    Jgn biarkan Kyuhyun nikah.
    Ditunggu lanjutan’a…

    Reply
  45. dan akhirnya menyesakkan dada,aih………….baper gw. gw harap kyuhyun akhirnya perjuangin cintanya dan meminta maaf sama ibu dan kakek sekaligus minta restu. hyura jg,aq berfikir author sdh menghidupkan karakter hyura dlm menjadikan dia mmenjadi wanita yg sangat menjaga hati orang2 yg dikasihinya dg ego yg tinggi tpi tetap realistis.

    Reply
  46. Aku bingung soalnya ceritanya tambag ribet aja nih thor. Sebenernya Hyura sama Siwon masih tunangan ngga?atau udahan?
    Tapi part ini menguras emosi banget thor, kisah mereka rumit. Klo berada di posisi Hyura emng bingung antara siapa milih siapa klo dia milih Siwon semuanya pasti bahagia kecuali dia sama kyuhyun tapi klo dia milih Kyuhyun pd akhirnya banyak yg akan terluka. Hyura kasih tau donk klo udah udahan sama Siwon.

    Eonnie seneng banget karna Part nya cepet publish hehehe girang banget aku. Semoga part selanjutnya lebih seru dan bagus lagi eonnie dan ada penjelasan2 lagi dan cepet publis lagi hehee.

    Reply
  47. Aku bingung soalnya ceritanya tambag ribet aja nih thor. Sebenernya Hyura sama Siwon masih tunangan ngga?atau udahan?
    Tapi part ini menguras emosi banget thor, kisah mereka rumit. Klo berada di posisi Hyura emng bingung antara siapa milih siapa klo dia milih Siwon semuanya pasti bahagia kecuali dia sama kyuhyun tapi klo dia milih Kyuhyun pd akhirnya banyak yg akan terluka. Hyura kasih tau donk klo udah udahan sama Siwon.
    Eonnie seneng banget karna Part nya cepet publish hehehe girang banget aku. Semoga part selanjutnya lebih seru dan bagus lagi eonnie dan ada penjelasan2 lagi dan cepet publis lagi hehee.

    Reply
  48. Pokonya ending Hyura harus sama Kyuhyun *lah maksa nih readernya… hahahah
    Part ini tuh bikin bete sikap Hyura yg plinplan sma sikap Kyuhyun yg kekanak-kanakan..
    Harusnya kisah mereka bisa tuh diperjuangin..

    Reply
  49. Aduhhhh jadi.n sama kyuhyun dong hyura nya eonn…
    Sedihhh bgt sih kisah mereka.. 🙁
    Di tunggu part selanjutnya ya eonn
    Semangattt ^^

    Reply
  50. Waduh rumit banget jeong, tapi syukur siwon udah mundur. Tinggal hyura yang harus melunakan hati dan coba bersikap egois sedikit, buat merjuangin cintanya. Kasihan soyi yang ngak tau apa2 masuk ke lingkaran hubungan rumit mereka. Penginnya kyuhyun pergi aja yang jauh, biar hyura yang cari dia, merjuangin hati kyuhyun. Ok jeong ditunggu ff lainnya 🙂

    Reply
  51. Huaaa…aq nangis bombay jadi nya…menyakitkan sekali part ini, kasian kyu,,,hyura terlalu egois…kyu tetap sabar suatu saat cinta mu akan terbalas…
    Semangat thor…

    Reply
  52. Kasihan Hyura… Siwon balas dendam trus Kyuhyun juga bales dendam… kebayang tercabik2x perasaanx tp syukurlah Siwon mengaku dan akhirx ikhlas kembali menjadi Teman… andai Kyuhyun tidak ikut2 bawa Soyi mgkin drama bisa ending… tp ini malah bikin masalah dr sisi lain…
    Klo gitu Kyuhyun Nikah saja sama Soyi… kasihan jg Soyi yg tdk tau apa2 klo harus ikut sakit hati n malu nanti…
    Hyura klo sdh nangis n sdh lelah tersakiti lama2 jg akan move on… tp sepertix mmg it bkn ending yg indah buat kami para pembaca…
    *berasa galau juga sprti hyura….

    Reply
  53. Ini part yg paling menguras emosi, sampe ikutan nangis baca nya :'(
    Bagian yg trkhir bener2 emotional 🙁 gk rela kyuhyun n hyura pisah :'(
    Jgn lepaskan hyura kyu

    Rasa nya nyesek, gw bisa ngrasain apa yg dirasain hyura :'(

    Next partnya ditunggu kak 🙂

    Reply
  54. Ya ampun eonni crtnya makin seru
    Jngn sampe kyuhyun nikah sam so yi, gak rela😭😭😭
    sdih lihat mreka brtngkar, smga endingnya happy yah eon😂😉😉
    Nextnya dtnggu segera 😅😆😆

    Reply
  55. ini part paling nyesek , aku ngerti posisinya hyura disini *sokngerti* :v
    gak bisa nyalahin dia juga ..
    Gak sabar sama lanjutan ff ini , semoga ada kejutan lagi -> update cepet 😀
    semangat authornim !!!

    Reply
  56. SUMPAH!! nggk tahu harus komen apa?! tiap ff ini keluar, bikin hati sakitttt bggttt.. nyeseknya nggk ketlungan. tpi klo blh jujur, ini ff paling kutunggu2 publishnya. plisss jan lama2 ya next nya. ttp semngt kakak author/?

    Reply
  57. sebenernya baik kyuhyun maupun hyura saling mencintai tp.keadaan yg terasa sulit utk mereka bersatu.
    suer deh thor.greet sma dua anak manusia ini knp cba hrs slng mnykiti.
    tp kyknya dsni yg plng terskiti kyuhyun krna apa karena kyuhyun hrs menahan mati2 an utk bsa bersama hyura disaat keadaan membaik dan hyura ahrnya pun baik kpd kyuhyun shg trjdilah rasa keterbukaan satu sama lain soal persaan mrka msng2 tp knp hyura hrs mnggntungkn hbngnnya dg kyuhyun. bnr kt kyuhyun kalau hyura mngtkn keinginannya utk brsma psti kyuhyun akn mmprjuangkannya. sya yakin sekeras2 nya batu pasti akan hancur jg kalau tiap hri terkena air bgtu jg dg org disekitar kyu dan hyyra psti mrka lama2 akn luluh jg.
    tp knp hyura justru lbh mnykiti kyuhyun.
    kyuhyun bijaksana banget ya mnrma kptsan hyura.
    smg endingnya bhgia dg kyuhyun dan hyura bersatu tnp ada pihak yg hrs merasa tersakiti dg brsatunya hyura dan kyuhyun. aamiin.

    Reply
  58. feelnya dicampur aduk kayak adonan, lagi seneng”nya eh dibuat galau lg 🙁

    hyura kesian bingung mo pilih siapa?? dan kenapa kyu harus ngelepasin sih!! jgn dong masa menyerah sebelum berperang,

    berharap endingnya happy sih jd si kyu ama hyura tp itu jg gk adil buat siwon ama so yi,

    ditunggu nextnya aja lah..

    Reply
  59. Entah knp saya sangattttt puasssss dgn part ini 😭 akhirnya hyura merasakan apa yg selama ini kyuhyun rasakan 😤

    Sebelll bgt waktu hyura dgn mudahnya menerima kesepakatan siwon tanpa memikirkan perasaan kyuhyun 😭😭 dan bener kata kyuhyun,,hyura sama sekali ga ada usaha utk memperjuangkan kyuhyun 😢poor kyuhyonn 😭 dan akhirnyaa hyuraa merasakan sakit yg sama seperti kyuhyun*meskipun aku jg ga tega liat hyura nangis*

    Kerenn lahhh pokoknya chap iniiii >_< suka sukaaaa

    Reply
  60. Duhh gak rela klo kyuhyun jadinya sama So Yi😭 Kyuhyun sama Hyura aja.
    biar siwon sama so yi😂
    maafkan aku siwon 😁
    kalian jgn egois gitu ahh.. semakin kalian bersikap egois semakin kalian menyakiti banyak orang😤😧😢

    Reply
  61. huhuhu menguras emosi , feelnya ngena bnget..
    klo gni gimana akhir kisah Kyuhyun dan Hyura , napa hyura gk jujur aja kalo dia udh end sma Siwon , kn prnikhannya si Kyu bisa dibtalin..

    Reply
  62. Ternyata pembicaraan mereka di ruang baca didengar secara tidak sengaja oleh ibunya hyura atau minimal pembantu keasayangan ibunya?

    Atau

    Mereka berdua khilaf dan terjadi sesuatu di ruang baca tersrbut, trus hyura hamil, trus giliran kyuhyun yg berjuang untuk mereka di hadapan ibu dan kakek hyura.

    Atau

    Kyu akhirnya tau kalau siwon dan hyura sudah membatalkan pertunanngan mereka. Trus kyu membatalkan pertunangannya dengan so yi dan melamar hyura di hadapan ibu dan kakek.

    Tapi, analisa ini pasti ga ada yg terjadi soalnya miss hoon terlali hebat untuk mudah ditebak.. miss hoon aku padamu.. *jangansalahsangkayaa..

    Reply
  63. Baca part ini bikin nyesek, dilihat dr Kyuhyun maupun Hyura sama2 tersiksa. Tarik Ulur terus, dan sekarang justru Kyuhyun melepaskan Hyura di saat Hyura telah mengambil keputusan yg tepat dgn Siwon, walaupun Hyura melakukannya hal yg membuat Kyuhyun sakit juga demi Kyuhyun. Ah, hubungan yg sangat rumit. Jadi bikin penasaran dgn kelanjutannya. Keep writing, ditunggu kelanjutannya. 🙂

    Reply
  64. Kaka ditunggu lanjutannya, bener” klise banget kisah mereka itu siwon kok tega eah bales hyura kya gitu tapi kasihan juga sih siwon dibohongin.. Yg lebih sakit disini mungkin kyuhyun bertahun” mencintai dalam diam tapi begitu ªåĴĴäª dibuang sama Hyura.., terkesan egois sih tapi nanmya juga perempuan banyak hal yg harus dipertimbangkan, ∂ķΰ jadi penasaran sebenarny gmn pndgn Omma hyura terhadap kyuhyun? Apa dia jg berhrp hyura menikh dg Kyuhyun? Aish semoga iyaaaaa
    Bikin mewek part” terakhirny T.T #keep writting

    Reply
  65. Kalo aku jadi hyura, mungkin seminggu nempel terus di kasur ngga ngapa-ngapain. Bisanya nangis mulu. Yahhh…berharap next part mereka bakal bener2 berjuang demi hubungan mereka biar ngga kandas begitu aja

    Reply
  66. Hyura memilih jalan untuk menyakiti diri sendiri dan orang yang sangat dia cintai ,
    Baru kayak gini hyura aja udah ngerasa sakit , gmn kalo kyuhyun nyampe nikah sama so yi ,

    Reply
  67. OMG!!! AKU benar* benci sama siwon dan so yi.
    kau egois hyura,kasian kyuhyun.: (
    kau tinggal minta kyuhyun memperjuangkanmu hyura,maka akan ia lakukan.dn terus kenapa kau rela melepaskan hyura kyuhyun jangan..
    kaka ceritanya harus happy ending ya,dan hyura sama kyuhyun harus bersatu titik. sedih bacanya:'(
    #fighting kyu

    Reply
  68. Nyeseg nyeseg nyesegg pokoknyaaa baca ini part 😭😭😭 sumpahh ini si eonni sukak banget bikin aku mewekk 😭😭😭 eonni harus tanggung jawab ini, buat si kyuhyun sama hyura bersatuuu, ehh 😁😁😁

    Reply
  69. Huaaaahuaaaa 😭😭😭😭😭 kenapa kenapa??? Kyu kau jangan lepaskan hyuraaaaa dia udah putus hubungan dengan siwooonnn… bertahanlah sedikit lagiiii 😭😭 hiks hiks

    Reply
  70. Aarrrrrggggg makin complicated aja ni masalahnya… Padahalkankan tinggal jujur aja… Awalnya pasti susah banget… Kenapa hyura ga bilang ke kyu kalo dia batal nikah sama siwon… Akhirnya keduanya korban perasaan juga kan

    Reply
  71. Yampun ini part paling nyesek menurut aku. Pertama sih rada sebel juga sama hyura, kesannya dia plinplan banget gitu jadi orang. Sama kyuhyun mau sm siwon juga mau, maruk amat.
    Tapi pas ending, siwon gila gentle banget. Dia emg beneran berhati malaikat. Ikhlas aja disakitin bahkan rela berhenti merjuangin cinta matinya. Wow salut banget.
    Dan buat kyuhyun, gimana ya kalo jadi dia pasti ya sakit banget pasti. Diphpin sebegitu dalemnya aku tau rasanya kek apa :’vv dia sm soyi gaada rasa kan ya cuma buat bales dendam aja kan? Tapi kok mendalami banget. Yakin ga nyesel tuh kalo beneran nikah?
    Kalo hyura sih entahlah aku seneng dia gantian yg menderita wkwk tapi ga tega juga weh posisi dia juga sulit untuk bahagia.

    Untuk ending kalo kyu-hyura bersatu kesannya kok kek rada maksain gt ya. Tapi kalo sad ending kok kasian banget mereka. Romance scene mereka masih kurang jd ga greget. Aduh terserah kakak aja deh kalo aku manut yg nulis hehe

    Reply
  72. Oh ya ampun. Part ini menguras emosi. Padahal ini cuma cerita, tapi dalem banget. Sampe pembacanya itu ikut masuk sama ceritanya. I like this ..

    Reply
  73. Kenapa baca part ini dan dua part sebelumnya sll sukses bikin nyecepp yak! Aku uda baca berulang2 tetep ajaa aermata gasegen keluar. Huanjiir. Very wait for next part. Fighting, author hebaat ^^9

    Reply
  74. Tampar aku tampaaaar akuuu
    ini mimpi kaaaaan
    ToT sumpeeeeh demi apapun ga rela hyura sm siwon
    kembalikan kebahagiaan mereka
    kno mreka ga berjuang aja
    kenapa complicated bgt
    thoooor boleh voting ga akhirannya sm kyuhyun aja pliiiiiiisssss
    Perasaaan ku beneran ikt hancur baca part ini
    di tungggu sangaaat lanjutannya

    Reply
  75. rasanya ikut sakit karena mereka.
    tapi, bahagia di saat orang-orang terluka, bagaikan memelihara bom waku.
    jadi penasaran bagaimana author akan mengeksekusi cerita mereka. semoga happy ending. ^^

    Reply
  76. Mian baru bsa rcl.. Eonni peli bikin ending hyura dan kyuhuun bersatuu.. So yi dan siwon abaikan si won cocok jadi kakak ajjah cukupp koo..ini part bikin galauui sekaliii .. Tapi kerennn .nuhun gomawo and thankyu i love you eonni . semangat lanjutinnya dan cepet rilisnya.

    Reply
  77. ih sedih banget baca part ini…nyeseek banget…huhuhu
    iya hyura plinplan banget…tapi alesan hyura logis banget karena gak pengen lebih banyak orang yang terluka. tapi pas siwon bilang putus, kayaknya gak ada alesan lain lagi buat hyura gak balikan ama kyuhyun. siwon malah udah bilang keluarganya masalah hyura. menurutku masalah hyura siwon udah selesai. tinggal cara kyuhyun balikan ama hyura doang. apapun endingnya. I love this story. semangat ya buat lanjutin. semoga sama kuyun endingnya.:-)

    Reply
  78. disini banyak kejadian2 yang tak terduga.. mulai dari hub kyu hyura yang awalnya baik2 saja jadi renggang.. trus hub hyura yang tiba2 nerima ajakan siwon nikah, apa emang hyura gak kasihan apa ngegantungin hubya sama kyu? kasihan kyuhyun….
    dan ketika kyu udah mau ngelepasin hyura, giliran hyura yang mau ngikat kyu..
    haduhh pusing jadinya ngelihat sikap mereka berdua yg sama2 egois dan keras kepala dan gak mau jujur sm diri meereka masing2

    penasaran kak miss hoon sama kelanjutannya..

    Reply
  79. astaga aku bingung mau kasian sama siapa, sama siwon apa sama kyuhyun
    bener kata hyura, ini terjadi karena kesalahan mulut hyura yang bilang cinta ke kyuhyun tapi malah milih bertunangan sama siwon, astaga kisah cinta merka semangit rumit, tapi sejujurnya aku pengen kyuhyun sama hyura, ah tapi siwon gimana,,, aku mulai labil kayak hyura

    Reply
  80. nyesek bgttt baca part ini… aku smpet benci sm hyura… hyura egois bgttt… plin-plan… nyakitin 2 orang skaligus… TT
    kasian kyuhyun…
    mkin penasaran… hyura bkal sma sypa nanti?? semoga akhirnya Kyuhyun-Hyura bsa bareng… >_<
    d.tunggu banget next part.nya thor… fighting authornim 😀

    Reply
  81. awalnya kesel dngn sikap hyura yg plin plan, tp stelah bca aku nangis, sama2 slng syang dan cinta tp hrus rela nglepasin satu sama lain meski skit tp buat orang di skitar mereka bhagia.
    smga ff ni hyura ma kyu akhirnya mnemukan kbhagiaan mereka berdua

    Reply
  82. ini konfliknya sungguh terlalu ….
    tiap membacanya rasa deg2an liat konflik yg semakin menegangkan
    apa iya tu kyu hyura gak bisa bersatu …sedih bgt liat kisah kyuhyun hyura tapi disatu posisi jg kasihan ama siwon

    Reply
  83. NO!! ANDWAE!! Kyuhyun jangan menyerah ayolah pertahnkan hyura!!
    Itu hyura sama siwon udh berakhir kan? Mereka udh stuju untuk batal nikah iyakan? Kenapa hyura gk jujur aja
    Ya ampun T_T
    Nyesek banget sumpah

    Reply
  84. well kalo emang author mengembangkan karakter Hyura selabil dan semenyebalkan kayak gini dan ngebuat Kyuhyun sengsara berarti kamu udah berhasil haha gilaaaakkk sumpah aku gedek banget sama kelabilannya Hyura, iya sih tau dia juga bingung harus gimana karena dia mencintai Kyuhyun tapi situsinya ngebuat dia sama sekali gak bisa untuk milih Kyuhyun, dan yak saya jadi sebel sama dia haha

    Reply
  85. Aigoo jd Siwon oppa sdh th ttg Hyura dan Kyu oppa dan ia sengaja melakukan ini agar Hyura jg merasakan apa yg ia rasakan yaitu rasa sakit, apakah stlh ini Hyura dan Kyu oppa benar2 slg melepas, sedih rasanya, krn sebetulnya Siwon oppa jg berpotensi untuk melukai Hyura, ditunggu bgt kelanjutannya chingu

    Reply
  86. gilaaaa dapet banget feelnyaaa…nyeseeeek bacanyaaa…gimana kalo dr sidut pandang kyuhyunnya ya…pasti amat sangat menyakitkannn…dua jemool sma penulisnyaa..aku harap endingnya bahagiaa..kesian sama kyunya … semoga part selanjutnya cepet amiin 🙂

    Reply
  87. kuncinya sih kejujuran. padahal kyuhyun udah rela bakal ngelakuin apa aja yg hyura pinta, tp hyura ga mau ngikutin kata hatinya.
    dan diriku tidak rela kalau mereka beneran harus pisah. ngarep banget hyura sama kyuhyun. kasian juga mereka udah lama menderita/?

    Reply
  88. udah baca berkali kali sampe bacanya didramain pas kyuhyun hyura berantem wakakakaaka seru bgt kalo mereka udah adu mulut mah geme bgt hahahaha ditinggu selaluuuuuu ini kaya yg udah klimaksnya dari masalah cinta kyuhyun hyura jd makin greget gasabarrrr mau lanjutannya huhu

    Reply
  89. 😭😭😭😭😭
    mereka sama” saling cinta
    hyura gk mw kyuhyun dbenci ibunya
    klo dy jujur
    kakek gk mngkin gk tw mereka sling cinta
    mereka hrs brsatu dong
    hyura selalu mikirin perasaan org
    rela sakit sendiri

    Reply
  90. Aku kok jadi egois yah?! Jujur kok aku jd benci sama siwon yah?? Aaa oppa mianhae..
    Hyura kamu jahat bgt… Terus oppa ku gmn?? Dia udah menderita selama 16 thn, dia pantas bahagia.
    Ihhh park hyura tdk bisakah kau bersikap egoia dan memilih kyuhyun oppa?? Huwaaaaa kyu oppa gwaenchana😭😭

    Reply
  91. Hadeuh….sumpah part ini bukan hanya hyura,kyuhyun dan siwon yang terluka tapi aku juga ikutan terluka melihat mereka tersakiti rasanya sesak dadaku…next part ditunggu

    Reply
  92. Wah baru tau kalo author punya wp pribadi hihi.. Salam kenal yaa Thor, aku anak baru wpmu ini☺ Kalo engga salah Author pernah kirim ff NC ke FNC judulnya ‘Don’t Remember Me’ kan? Maaf kalo salah hihihi… Izin baca cerita lainnya juga yaa thor😁

    Reply
  93. emang hyura kamu gadis paling egois yang pernah ada selalu bertindak seenaknya dan tanpa pertimbangan matang hanya melihat dari sudut pandang kesakitannya sendiri
    padahal dia menikah dengan siwon pun akan melukai hatinya sendiri
    gregetan sendiri dech ama hyura
    maunya apa sich dia ini
    kyuhyun gk bakalan kan menikah ama so yi

    Reply
  94. “Aku melepaskanmu. . . Park Hyura”
    aq nangis pas bc kata2 tu, n aq brharap happy ending utk smua pmerannya^^
    oh ya salam kenal authornim, aq siders yg skrg uda insaf, mlai skrg izn ubek2 blognya ya^^)v

    Reply
  95. what?
    knp siwon baru ngelepasin hyura skrg?
    dan knp kyu juga melepas hyura?
    jadi hyura akan terus begitu? sendiri? krn aku ga yakin setelah ini hyura bisa mencintai seseorang lagi.

    apakah akhirnya sad? andwae…jebal andwaeee.. plis biarin mrk baagia. gw berharap omongan mrk du perpustakaan didenger sama ibu hyura, soyi, atau mungkin kakeknya. jd mrk bs tau gmn perasaan hyura dan kyu trus akhirnya ngebiarin kyu sama hyura bersama

    Reply
  96. huwaaaaa ini kapan dilanjutttttttt huhu aku udah baca lebih dari 5 kali kayanya part ini hahhaha grmes bgt endingnya abisan, pengen cepet2 kelanjutannya gimana, kyuhyun bakal tetep nikah kah atau gimana huhuhu

    Reply
  97. hhuuaaa aku ketinggalan satu part ..
    yaaa ampun kok kayanya sulit banget yaa buat hyura percaya sama kyu..
    apa kata kyu bilang kan hyura tinggal bilang apa maunya dia dan kyu bakal nurutin ..
    tapi kenapa hyura memilih opsi yang sulit huhuhu

    btw aku udah baca part 10 berhubung disambung buat paginya aku gak sempet komen dan keburu di protect miaaan….
    aku komen disini ajaa yaa ..
    kayanya lebih seru kalau cerita mereka ada sequelnya sampai pernikahan sampai mereka punya anak anak hihih

    Reply
  98. Huhah….huhah nyesss bngettt sialn ternyata wonded lgi bles dendam ma hyura
    dh gtu kyu jga ikut”an achhhh….hncur sudh perasaannya hyura..gimnh itu nsib mreka moga heppy ending lh

    Reply
  99. Ya Pdhal aku Sempat Tersentuh gra” siwon oppa Nangiss. ehh Nyata nya dia Mau Blas dendam tohh…

    Kyuhyun juga Jngan cium” so yi toh,, ksihan Hyura nya

    Reply
  100. di part ini bner2 menguras emosi.
    sebel sama hyura yg kdang egois.
    kirain di part ini hubungan mereka makin baik.
    pasrah deh sama endingnya, kalo emng sad ending.

    Reply

Leave a Reply to julia Cancel reply