Actress & Marriage {Part 2}

Happy Reading & Sorry for Typho

@miss_hoon

Setelah menjemput Ibuku dan Leeteuk Oppa di bandara, aku menuju kantor agensi. Ini pertama kali semenjak skandal sialan itu menimpaku. Minggu lalu Shindong selaku Presdir agensi melarang keras untuk keluar rumah apalagi datang ke perusahaan.

Tapi teleponnya pagi ini bernada ceria, seolah skandal itu tidak pernah ada dan aku masih artis baru kebanggaanya.

Pria gempal dengan senyum jenaka itu menyambutku langsung saat membuka pintu ruangannya. Shindong berdiri dari balik meja dengan tangan terentang ingin memelukku. Otomatis tubuhku mematung saat tangannya melingkar di pinggangku dengan canggung. Tidak lama, hanya beberapa detik lalu dia menariknya lagi.

Masih tersenyum dia bertepuk tangan sambil berkata. “Selamat atas pernikahanmu, Hyura-ya.”

Aku melongo. Tidak mungkin. Apa beritanya secepat ini?

“Kemarin Tuan Cho Kyuhyun beserta grup pengacaranya mendatangiku.” Shindong menggeleng pura-pura prihatin “Aku tidak percaya kau tidak menceritakan hubungan kalian. Kukira tidak ada rahasia disini?” dia berdecak. “Yah, meskipun begitu aku lega, setidaknya masalah skandalmu sudah selesai dan Nammie akan mengatur ulang jadwal syuting.”

“Bagaimana?” tanyaku masih kebingungan. “Bagaimana bisa secepat ini selesai?”

Senyum Shindong semakin lebar, dia memukul bahuku lumayan keras hingga terasa panas. Ya ampun, apa dia lupa ukuran tubuhnya dua kali lipat dariku?

“Ya tentu saja karena perusahaan calon mertuamu yang menjadi sponsor dan jaminan,” matanya berkilat geli. “Kau tau, produser sampai tidak berkutik saat tuan Cho memintanya一bukan, maksudku mengancam.” Dahinya tiba-tiba berkerut dalam, tangannya terlipat di depan dada lalu dia merubah suaranya menjadi serak dan dalam. “Hyura akan tetap dalam produksi, jika kau mengeluarkannya kupastikan filmmu tidak akan tayang di bioskop manapun.” katanya mencoba meniru Kyuhyun.

“Dia bilang begitu?”

Shindong mengangguk pasti. “Saat rapat kemarin dia seperti ingin melahap Sutradara Kim.” Dia tertawa geli “kau harus melihat wajahnya, dia seperti tikus yang terjebak.”

Mengerang dan menutup wajahku. “Di lokasi dia akan bersikap menyebalkan lagi.”

Kurasakan tangan gempal Shindong meremas bahuku pelan. “Dia tidak akan berani, aku yakin.”

Aku menatapnya. “Kenapa begitu?”

“Tidak ada untungnya buat mereka, Sebenarnya karena berita ini film itu jadi mendapat perhatian padahal proses syuting belum selesai, ditambah pengaruh Cho Corp dan Oh ya…. Kau akan jadi Brand ambasador Pierce, salah satu brand terkenal mereka.”

“Pierce?” Aku yakin wajahku seperti baru melihat alien. Masalahnya Aku hanya artis kelas dua, yang bisa dibilang masih pendatang baru. Belum banyak orang yang mengenalku tapi Kyuhyun dengan nekat menjadikanku brand ambasador mereka.

Shindong mengangguk, seolah mengerti kekhawatiranku. “Ya aku tau, kukira mereka akan menjadikanmu model Laura atau brand dibawahnya, tapi ternyata Presdir Cho Corp memilihmu untuk Pierce.” Dia tersenyum lagi. “Selamat sekali lagi Park Hyura, kau benar-benar beruntung.”

Aku menatap atasanku tidak yakin. Benarkah semudah ini? 

***

Pencarian di google membawaku kesini. Gedung utama Cho Corp, bagi masyarakat awam Cho Corp bukan perusahaan terkenal, tapi jika kau menyebut Pierce semua orang akan tau Brand mewah papan atas yang bisa kau temukan di pusat perbelanjaan. Lalu beberapa brand seperti Heidi dan Laura yang harganya lebih terjangkau. Intinya, perusahaan ini tidak terkenal tapi Brand milik mereka terkenal.

Saat memasuki lobby aku melihat puluhan pasang mata melihatku. Aku mengenakan celana jeans dan kamisol tanpa lengan berwarna putih, aku juga tidak menggunakan topi atau masker untuk melindungi wajahku. Jadi reaksi yang wajar jika semua orang disini melihatku dengan tatapan penasaran.

Langkahku menggema saat menuju meja resepsionis. Diikuti beberapa pasang mata yang memperhatikan, aku tersenyum ramah pada wanita muda di balik meja.

“Selamat siang.” sapanya.

“Selamat Siang,” Sahutku. “Aku ingin bertemu Cho Kyuhyun, apa dia ada?”

Wanita muda di depanku tersenyum penuh arti. “Apa kau sudah membuat janji?”

“Eh?”

Dia memajukan wajahnya lalu berbisik. “Nona Park Hyura, aku tau siapa anda, tapi maaf karena ini peraturan jadi aku harus bertanya dulu.”

Mau tidak mau aku tersenyum dan mengangguk. “Tolong tanyakan saja padanya, aku tidak akan mempersulitmu.”

Wanita ini tersenyum lalu mengangkat telepon dan berbicara dengan orang disebrang.

Sementara menunggu, mataku memperhatikan orang-orang disekitar lobby yang sekarang jumlahnya lebih banyak daripada saat aku datang tadi, kemungkinan besar karena sudah jam makan siang. Kemudian sudut mataku menangkap sosok yang kukenal.

Aboenim keluar dari lift bersama beberapa orang. Namun langkahnya terhenti saat menyadari orang-orang disini menatapku hingga pandangan kami bertemu.

Bibir tuanya perlahan melengkung. “Park Hyura!”

“Aboenim.” Aku menunduk dalam memberi hormat. “Selamat Siang.”

Dia berjalan mendekat. Kekehannya semakin terdengar saat sudah didepanku. Beberapa orang di sekitar kami menunduk memberi hormat padanya dan menyingkir. Sebelumnya aku menjadi tontonan karena si artis pemilik skandal mengunjungi kantor pacarnya, dan sekarang mereka melihatku lebih penasaran lagi.

“Kau datang? Ingin bertemu Kyuhyun?”

Tersenyum sebisaku sebelum mengangguk.

Dia berdecak sambil menggeleng. “Dasar anak muda.” tangannya yang keriput terangkat menyentuh ringan bahuku. “Ayo, tunggu dikantorku. Sekalian ada yang ingin ku bicarakan.”

“Baik, Aboenim.”

***

Sebagaimana seharusnya ruang kerja presiden direktur perusahaan fashion. Brand-brand milik Cho Corp terpajang di setiap dinding, lalu ada dua kotak kaca besar yang didalamnya terdapat manekin dengan tulisan Pierce yang sangat besar. Di ujung dekat kaca ada meja kayu dengan papan kayu berukir Cho Younghwan President Director.

Lalu di tengah terdapat deretan sofa dan meja panjang yang biasa digunakan untuk diskusi atu meeting mungkin. 

Aku mengambil salah satu sofa di paling pinggir sebelum Aboenim menyuruh sekertarisnya menyiapkan minuman.

“Kudengar keluargamu sudah datang kesini?” tanyanya saat dia mengambil duduk di seberangku.

“Ya, Kakak laki-lakiku dan Ibuku baru saja datang kemarin. “Sahutku. “Meskipun mereka asli negara ini tapi rasanya masih banyak butuh penyesuaian. Terlalu banyak yang berubah.”

Aboenim mengangguk. “Itu Benar.” Katanya. “Ngomong-ngomong apa dulu kau tinggal di Miyazaki?”

“Huh? Miyazaki?”

“Ya, waktu itu Kyuhyun bilang kalian bertemu saat dia mengunjungi Neneknya一kebetulan mertuaku orang Miyazaki.”

Lalu aku teringat percakapan malam itu di ruang makan keluarga Cho. Dan Ucapan Kyuhyun soal ibunya.

“Mertua?”

Aboenim tersenyum sedih. “Ibu Kyuhyun yang berasal dari Miyazaki, tapi sayanganya dia meninggal karena sakit saat Kyuhyun masih kecil.” Mata tuanya mengerut menyembunyikan kerinduan. Aku tau tatapan itu. Terkadang aku melihatnya dalam diriku sendiri saat bercermin.

“Aku turut menyesal.” sahutku setulus mungkin. 

“Itu sudah lama sekali.” nada suaranya tiba-tiba berubah ceria. Dia tersenyum kembali, raut kesedihan dan kerinduan yang sebelumnya jelas terlihat sekarang tersembunyi di balik kotak yang mungkin sudah dia tutup rapat-rapat.

Aku mengangguk, seolah mengerti mengalihkan pembicaraan. “Aku tinggal dan besar di Tokyo. Aku pernah beberapa kali ke Miyazaki dan seperti yang Kyuhyun bilang….” aku menarik nafas dalam, berbohong bukanlah hal mudah. “Kami bertemu disana.”

“Tokyo?” mata Aboenim berbinar. “Aku suka kota itu.” katanya. “Bagaimana kau bisa tinggal disana?”

Kali ini aku tidak berbohong jadi aku menjawabnya dengan lancar. “Ibuku pernah menjadi pengurus rumah tangga diplomat disana selama beberapa tahun. Dia juga membawaku dan kakakku karena kami masih kecil. Kami juga membangun hidup di sana, jadi setelah masa tugas duta besar selesai ibuku memilih menetap.”

Aboenim mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. 

Aku melanjutkan. “Beruntung aku mendapat beasiswa sekolah modeling dan berkesempatan berkarir disini, jadi kurasa sekarang aku bisa membawa keluargaku pulang.

“Kau anak yang hebat Hyura-ya.” katanya penuh bangga seolah aku anaknya sendiri. Aku tidak pernah ingat memiliki Ayah. Tapi mendengarnya dari sosok yang kuhormati rasanya memiliki efek tersendiri bagiku.

Bersamaan dengan itu pintu ruangan diketuk dua kali lalu terbuka. Kyuhyun berdiri disana dengan setelah berwarna hitam, dasi biru gelap, rambut disisir dengan gaya profesional namun menggiurkan. Penampilannya tidak seperti seorang pebisnis, dia lebih cocok jadi model Dior atau Channel. Kurasa jika dia berpartisipasi di Paris Fashion Week, dia akan jadi rebutan brand papan atas.

“Ada apa ini?” tanyanya sambil berjalan mendekat, Dia melirikku sekilas, tapi aku mengabaikannya.

“Duduklah, Kyu.” Kata Aboenim.

Dia menurut, lalu mengambil duduk di sampingku.

Aboenim menatap serius kami berdua. “Aku ingin kalian bertunangan, dengan acara terbuka. Dan harus mengundang wartawan. Berita di internet membuat kupingku sakit.”

Mulutku terbuka, tapi tidak tidak ada suara yang keluar dari sana. Terlalu terkejut mungkin. Baru dua hari lalu kami dikenalkan dan sekarang ingin acara pertunangan. Aku bahkan belum membicarakan masalah Kyuhyun dengan keluargaku. Ibu dan kakakku akan curiga dengan pertunangan yang tiba-tiba.

Di bawah meja kakiku menyenggol sepatu Kyuhyun. 

“Appa, ini terlalu mendadak.” Kata Kyuhyun setengah tergagap, aku yakin dia sama terkejutnya denganku. “Kami butuh persiapan, lagipula aku dan Hyura sama-sama sibuk, kami harus mengatur jadwal terlebih dulu.”

Aboenim mendengus, dia menatap Kyuhyun tajam. “Apa menurutmu skandal itu menunggumu mengatur jadwal?”

“Appa….”

“Kau pikir aku senang mendengar orang-orang itu membicarakan hal yang tidak senonoh soal calon menantuku?”

Kyuhyun mendesah berat. “Itu akan berlalu, dalam satu dua hari berita itu akan tenggelam sendiri. Aku juga sudah membuat pernyataan media, semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya berikan waktu enam bulan untuk persiapan pernikahan.”

Mata Aboenim menyipit curiga. “Enam bulan? Itu bertepatan dengan rapat umum pemegang saham一”

“Appa!” Potong Kyuhyun cepat. Tapi kurasakan tubuhnya menegang. “Itu tidak ada hubungannya.” katanya tertahan. Lalu kurasakan tangannya melingkar di bahuku, menarikku mendekat. “Hyura punya jadwal padat di luar negeri. Aku tidak ingin mengacaukannya.”

Mataku melebar saat menemukan Aboenim menatapku, memastikan. “Apa kau tidak bisa minta libur beberapa hari? Ini hanya pertunangan bukan pernikahan.”

Kyuhyun melirikku tajam. Bibirnya mengatup tapi cengkramannya dibahuku mengerat hampir menyakitkan. 

Memaksa menarik sudut bibirku. “A…aku, akan membicarakannya dengan agensiku.”

Kyuhyun melotot padaku, seolah aku mengkhianatinya. Menggerakkan bahuku kasar sampai tangannya terjatuh.  

“Bagus kalau begitu.” Aboenim tersenyum lebar. “Persiapan pertunangannya akan diatur ibumu, sebelum itu,” katanya padaku. “Kurasa kita harus makan malam keluarga, bagaimana?”

Aku meringis, “Y…ya, tentu. Aboenim.”

Kudengar Kyuhyun mendengus. Sementara Aboenim tertawa senang.

***

“Apa kau menyukaiku?” bentaknya saat kami sudah di mobil. “Kenapa kau menyetujui pertunangan itu?” 

Aku menatapnya tak kalah jengkel. Jadi ini alasan dia mau mengantarku? 

“Kau yang mengusulkan ide pernikahan? Lalu saat ayahmu meminta pertunangan apa yang harus kulakukan?” Menusuk dadanya dengan telunjukku. “Dan jangan memerintahku! Aku bukan bawahanmu!”

Dia menepis tanganku kasar. Menatapku intens “Dengar Park Hyura! Aku yang menyelamatkan karirmu, jadi kau sama dengan bawahanku, kau tidak lain orang yang berhutang budi padaku. Kau dengar itu?”

Aku tertawa. “Apa kau bercanda? Kau sendiri yang mengusulkan pernikahan palsu ini! Bagaimana mungkin aku yang berhutang budi!” melepas sabuk pengaman. Dia melotot, tangannya meraih tanganku. “Apa yang Kau lakukan!”

“Aku bisa pulang sendiri,” menarik tanganku tapi cengkramannya semakin kuat. “Lepas!”

“Berhenti menarik-narik Park Hyura!” Suaranya semakin meninggi dan cengkramannya menyakitkan. 

“Siapa yang kau bentak!” suaraku mulai bergetar. Aku benci merasa lemah, tapi si brengsek ini sudah membentakku sejak aku masuk ke mobilnya. Dan sekarang dia menyakitiku. 

Kyuhyun menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya sesaat. Lalu dia berbicara lebih lembut. “Baik, aku minta maaf karena membentakmu. Sekarang pakai sabukmu, kuantar pulang.” 

Dia melepaskan tangannya, lalu mengangkatnya ke atas seolah menyerah. “Ayolah, Park Hyura.”

Masih menatapnya tidak bersahabat tapi aku menurutinya dan memakai sabukku lagi. Sementara dia menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.

Di tengah jalan dia menepikan mobilnya lalu menatapku. Kali ini ekspresinya tidak semenyebalkan sebelumnya tapi dia terlihat waspada. “Jadi, aku harus membeli bunga atau makanan?” tanyanya tiba-tiba.

“Huh?”

“Keluargamu,” jelasnya. “Apa kau tidak ingin mengenalkannya padaku?”

Sial, dia benar. Mengusap wajahku kasar. Aku tidak bisa berbohong pada ibuku ataupun kakakku. Jika mereka bertanya macam-macam aku tidak yakin bisa membohongi mereka.

“Kurasa, itu bukan ide yang bagus.”

Kyuhyun mengubah posisi duduknya menghadapku. “Kenapa?”

“Aku tidak bisa berbohong pada keluargaku.”

“Kenapa kau harus berbohong?”

Mendongak menatapnya bingung. “Hubungan kita hanya pura-pura, dan pernikahan kita juga palsu, bagaimana aku tidak membohongi mereka.”

Kyuhyun mendengus tidak terima. “Pernikahan kita nyata, aku tidak pernah bilang akan menjalani pernikahan pura-pura denganmu.” aku ingin membantahnya tapi dia tidak berhenti. “Dengar, Banyak orang yang sudah berpacaran lama bisa bercerai kurang dari dua tahun, begitupun dengan kita. Aku tidak bilang kita akan terus menikah, setelah posisiku aman begitu juga denganmu kita bisa berpisah. Kita bisa menulis perjanjian pra nikah. Tidak ada kebohongan didalamnya.”

Aku menatapnya beberapa saat, mencerna setiap ucapannya. Tapi yang ada di kepalaku hanya keraguan. Setiap selnya berteriak ‘hentikan Park Hyura’. Namun diantara keraguan itu ada suara kecil yang memberitahuku bahwa aku bisa mempercayai Kyuhyun.

Dia menarik tanganku lalu meremasnya lembut. “Kau tidak perlu berbohong, Hyura-ya. Hari ini cukup kenalkan aku dengan keluargamu, sisanya aku yang akan menjelaskannya.”

Menunduk, Menatap tautan tangan kami. Aku baru sadar Kyuhyun sering menyentuhku tanpa izin. Tapi anehnya aku tidak menyadarinya, seperti sentuhannya sudah familiar atau tidak berarti. Kukira pilihan kedualah yang tepat, bahwa dia tidak berarti bagiku.

Aku mengangguk. “Ibuku suka daging.” kataku akhirnya.

Kyuhyun tersenyum tipis. “Kalau begitu kita ke supermarket dulu.”

***

Ibu dan kakakku sepertinya lupa pada norma kesopanan. Setelah Kyuhyun memperkenalkan diri Mereka berdua menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memastikan dia tidak memiliki ekor atau tanduk di kepalanya.

“Eomma,” tegurku. “Berhenti melihatnya seperti itu.” beralih pada Leeteuk Oppa. “Oppa, kau juga.”

Ibuku dan Leeteuk Oppa saling berpandangan sesaat kemudian Ibuku yang pertama membuka suara. 

“Kalau begitu silahkan duduk, akan kubuatkan minuman.” Ibuku beralih pada Leeteuk Oppa. “Leeteuk-ah, kau temani sebentar.”

Leeteuk Oppa mengangguk tanpa melepas tatapannya dari Kyuhyun.

Tanpa menghiraukan reaksi kakak laki-lakiku, tanganku meraih lengan Kyuhyun dan menariknya ke sofa terdekat di ruang tamu. Berhubung rumahku apartemen modern dengan enam kamar jadi ruang tamu kami cukup besar. Dengan sofa yang hampir memenuhi separuhnya, lalu ada lorong penghubung ke arah ruang makan dan dapur. Lalu pintu-pintu kamar yang berada di masing-masing dinding.

“Duduklah,” kataku tanpa suara. Kyuhyun mengangguk lalu meletakkan bungkusan daging di meja kopi sebelum menempelkan bokongnya pada sofa.

“Jadi…..” Leeteuk Oppa mengikuti gerakan kami sambil melipat tangannya di depan dada. “Apa pekerjaanmu, Tuan Cho?”

“Aku bekerja dengan ayahku di Perusahaan Fashion.” Sahut Kyuhyun Lugas. Dia menatapku lalu tersenyum. “Begitu juga dengan Hyura, dia akan menjadi model brand kami.”

“Kedengarannya menyenangkan.” katanya datar, tidak mencerminkan kata-katanya sama sekali. “Aku dan Hyura sudah lama hidup terpisah sejak dia sekolah di Paris, tapi selama ini aku tidak pernah mendengar dia punya pacar.” Leeteuk Oppa melihatku. “Aku tidak percaya kau tidak mengatakan apapun pada kami. ”

Aku mengkerut dipelototi oleh kakakku. Aku tidak yakin tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya. Lalu kurasakan tangan Kyuhyun meremas tanganku lembut.

“Leeteuk….Hyung?” kata Kyuhyun ragu. “Boleh aku memanggilmu begitu?”

Leeteuk Oppa mengangkat bahu. “Terserah,”

“Hyura pasti memiliki alasan kenapa dia tidak mengatakan hubungan kami, tapi…” Kyuhyun melirikku sekilas. “Ada video kami yang tersebar, lalu banyak komentar negatif dan itu akan menghambat karirnya, karena itu kami memutuskan menikah dan ayahku meminta kami bertunangan lebih dulu.”

Kyuhyun seperti menembak peluru ke arah kakakku. Hingga dia menegang dan tidak mampu berkata-kata. Situasi ini berlangsung beberapa menit, tidak ada yang membuka suara sampai Leeteuk Oppa pulih dari keterkejutannya. Situasi canggung ini diselamatkan oleh ibuku yang datang dengan minumannya.

“Kuharap kau suka Hojicha, teh ini sangat enak.” Ibuku meletakkan cangkir di meja kopi, lalu matanya menemukan bungkusan yang Kyuhyun bawa. 

“Apa ini?”

“Hyura bilang Eomonim menyukai daging, jadi kubawakan daging sapi Korea.” Sahut Kyuhyun.

“Kau sangat perhatian.” kata Ibuku senang, dia membuka bungkusannya lalu matanya melebar melihat isinya, Dia melihat Kakakku yang masih setengah terkejut setengah bingung. “Leeteuk-ah, lihatlah, kau pasti suka.”

“Eomma,” panggil kakakku, “Bisakah kau duduk dulu, sepertinya Hyura punya pengumuman penting.”

“Benarkah?” Ibuku mengambil duduk diujung sofa, tepat disebrang kami, sementara Leeteuk Oppa masih berdiri ditengah ruangan. Seperti dia harus menjaga perbatasan atau semacamnya.

Dibawah sofa kakiku menyenggol Kyuhyun, tadi dia sudah menjatuhkan bom pada kakakku, jadi kurasa dia yang harus melanjutkannya. 

Kyuhyun berdeham sebelum bicara. “Eomonim, Aku dan Hyura….” Dia meremas tanganku lebih kuat, cukup membuatku meringis tapi itu tidak menghentikannya. “Kami akan menikah.” Dia mengambil jeda sejenak menunggu reaksi Ibuku, tapi Ibuku hanya mengerutkan kening sementara Leeteuk Oppa masih sedingin sebelumnya.

“Aku tau ini terdengar mendadak, tapi orang tuaku sudah setuju dan mereka ingin mengadakan acara pertunangan secepatnya.” Katanya. “Jadi一”

“Bicara yang benar,” Potong Leeteuk Oppa tidak sabar.

“Oppa!” tegurku.

Kakakku melirikku tajam. Dengan pengecutnya aku bersembunyi ke balik tubuh Kyuhyun, menyembunyikan wajahku dipunggungnya. Seolah mengerti Kyuhyun menggeser duduknya hingga tubuhku separuh tertutup.

“Kumohon dengarkan aku dulu,” kata Kyuhyun. Dia menatap kakakku dan Ibuku bergantian lalu berbicara lagi. “Beberapa minggu lalu ada video rekamanku dan Hyura tersebar, saat itu memang kami sedang bersama, masalahnya tidak ada yang tau bagaimana hubungan kami selama ini. Dan itu mengakibatkan efek domino yang buruk untuk citra Hyura dan perusahaan Ayahku. Karena itu kurasa mempercepat pernikahan adalah jalan yang terbaik. Lagipula tujuan kami menjalin hubungan adalah menikah. Jadi mempercepatnya bukanlah masalah.”

“Menikah?”Ibuku memandangku dan Kyuhyun bergantian lalu mendesah berat. “Ini…. terlalu mengejutkan.” katanya seperti masih antara percaya atau tidak. Mata tuanya menatapku menyelidik. “Kau… tidak hamilkan?”

Menegakkan tubuhku, menatap Ibuku tidak percaya. “Eomma! Kami tidak seperti itu!”

Dia mendesah lega, “Hyura, Sayang.” Ibuku berdiri lalu mendekat, memelukku. “Aku tidak percaya kau akan menikah.” tangannya mengelus kepalaku penuh sayang. “Aku tau hari ini pasti datang, tapi aku tidak tau kau akan menikah secepat ini,” bahu ibuku mulai bergetar. “Aku senang mendengarnya dan turut bahagia.”

Tanganku terangkat membalas pelukan Eomma, sambil mendongak melihat ekspresi Leeteuk Oppa yang tidak sebahagia itu mendengar berita pernikahanku. Dahinya masih berkerut dalam dan pikirannya entah berada dimana. Tapi apa peduliku, selama Eomma setuju maka yang lain tidak perlu kupikirkan.

***

“Aku tidak percaya kau akan menikah.” Ejek Nammie. Kami berada di pesawat menuju Busan. Hari ini syuting film ku dilanjutkan, dan berita pernikahan sudah tersebar di agensi. Managerku ini selalu berekspresi sinis saat menyinggung masalah pernikahan. Seperti sekarang. Ibunya Kyuhyun baru saja mengirimkan foto-foto gaun untuk pertunangan kami. Dia ingin aku segera memilihnya, meskipun sudah kukatakan aku menyerahkan semua padanya tapi dia bilang dia ingin mendengar pendapatku. 

“Jangan sinis begitu Han Nammie.” tegurku pelan.

Dia mendengus. “Bagaimana mungkin orang yang waktu itu baru kau temui di hotel tiba-tiba menjadi calon suamimu. Lagipula aku ingat betul kalian tidak saling mengenal, Pria itu bahkan memakimu.” Nammie berdecak, “Aku tidak percaya kau menyukai pria sesombong itu.”

Melihat sekeliling, mencondongkan tubuhku, lalu berbisik kasar. “Pelankan suaramu.”

Nammie mengikuti pandanganku. Meskipun kami duduk dikelas bisnis tapi aku yakin kursi didekat kami akan mendengar percakapan ini. 

“Dengar,” bisiknya serius. “Pernikahan ini bencana, aku tau kau tidak menyukainya, dan dia juga tidak menyukaimu, kau hanya masuk ke lubang neraka Park Hyura.”

Meletakkan PC tablet lalu meliriknya malas. “Ini pernikahan bisnis, aku tidak peduli dia menyukaiku atau tidak, kami tidak menggunakan perasaan. Lagipula pernikahan hanya status. Dan aku tidak benar-benar menikah.” Sahutku enteng. Nammie ingin membantah tapi aku mendahuluinya. “Apa menurutmu kita bisa duduk disini sekarang kalau bukan karena Cho Kyuhyun?”

Dia mendengus. “Terserahlah”

~

Di minggu berikutnya aku tidak pulang ke rumah hampir sepuluh hari. Setelah syuting film, aku dan Nammie harus terbang ke Hongkong untuk pemotretan majalah, Acara Brand di Taiwan dan Shanghai. Dan pagi ini aku baru menutup mataku sekitar empat jam sebelum ibuku menerobos masuk ke kamar.

“Hyura, makanlah dulu.”

Tanpa membuka mata aku menjawab. “Aku tidak lapar.”

Kurasakan cahaya silau lalu mencari sesuatu untuk menghalanginya. Tanganku meraba-raba kesamping lalu mengambil bantal dan menutup wajahku. “Eomma.” aku mengerang. “Aku baru pulang, aku ingin tidur.”

“Ini sudah hampir tengah hari.” kurasakan tangan ibuku mengelus kepalaku. “Kau harus makan, setelah itu kau bisa lanjutkan tidurmu.”

Tidak, nanti malam aku ada acara Pop Up Store, aku tidak akan mengorbankan waktuku untuk makan. “Aku sedang diet.”sahutku beralasan. Berguling menjauh hingga ujung lain tempat tidur. Berharap ibuku menyerah dan pergi saja. 

Tapi harapan hanyalah harapan, kurasakan selimutku ditarik, begitu juga dengan bantal yang menutupi wajahku.

“Eomma” aku merengek seperti bayi.

Ibuku mendengus. “Nammie bilang makanmu berantakan karena jadwal kalian yang begitu padat, kau juga kehilangan berat badan. Sekarang aku bisa mengurusmu, apa kau tidak bisa menurut sedikit!”

Mataku menyipit terbuka, “Aku akan makan, tapi biarkan aku tidur satu jam lagi.”

“Hyura-ya…”

“Aku janji akan makan.”

Ibuku menghembuskan nafas berat, menyerah. “Baiklah,”

***

Ini pertama kalinya aku mendatangi pop up store Pierce. Mereka membuka pameran yang hanya menampilkan koleksi limited edition dan hanya berlangsung beberapa minggu. Selain designer terkenal ada beberapa artis dan model lain yang datang. Berhubung aku hanya sebagai tamu undangan, dan kami belum memiliki kontrak kerja sama secara resmi, jadi aku tidak perlu melakukan apapun. Aku hanya berjalan, tersenyum, mengambil minuman, dan menyapa beberapa orang. Nammie mengambil beberapa foto untuk dikirimkan ke perusahaan lalu mereka bisa mempostingnya di SNS resmi milikku. 

Seorang pria muda dengan setelan rapi mendekat dan menyapaku. “Nona Park Hyura?”

“Ya.” Kataku. “Ada yang bisa kubantu?”

Dia tersenyum, bukan dengan cara yang ramah namun profesional. “Aku Choi Minho, Sekretaris Tuan Cho, beliau menunggu anda di parkiran basement.” tangannya terentang mempersilahkanku jalan. 

Aku mendengus. “Dia bisa memintaku datang sendiri.”

“Maaf Nona, tapi ada banyak wartawan disini, jika Tuan Cho muncul maka berita pernikahan akan lebih menarik ketimbang acara ini sendiri.”

Aku menatapnya sejenak lalu mengangguk. Karena itu masuk akal. Sebagai petinggi Cho Corp dia tidak akan mengorbankan masalah perusahaan dengan urusan pribadinya. 

Aku mengikuti pria ini menuju jalan belakang, melalui lift barang dan disana ada audy hitam menungguku. Tanpa perlu melihat siapa dibalik kemudi aku membuka pintu dan masuk.

“Kau bisa mengirimiku pesan,” kataku begitu menutup pintu. “Kenapa harus menyuruh orang lain?”

Dia menjawab tanpa melihatku. “Kau sangat sibuk, managermu yang lebih banyak memegang ponsel. Lebih cepat menyuruh orang mencarimu.” katanya lalu menjalankan mobil keluar dari parkiran.

“Kita mau kemana?”

“Ke hotel.” sahutnya ketus.

Aku melihatnya bingung, tidak mengerti, kenapa dia harus seketus ini padaku, padahal kami tidak bertemu lebih dari dua minggu, dan aku yakin kami tidak berbicara sama sekali. 

“Kenapa ke hotel?”

Dia menggerutu tidak jelas, hanya beberapa kata yang bisa kutangkap seperti ‘sibuk’ ‘pesan’ ‘tidak mengerti’ ‘merepotkan’ 

“Apa sih yang kau bicarakan?”

Dia mendengus kasar. “Jadwalmu yang gila membuat orang tuaku ikut-ikutan jadi gila, kau tau!” sahutnya tidak sabar. “Tiga minggu ini kau sulit dihubungi, hanya menagermu yang menjawab, ibuku tidak sabaran, Ayahku terus bertanya bagaimana, mereka mengerecokiku dengan masalah sepele.” dia melirikku kesal. “Hari ini kau harus memutuskan semuanya, besok aku tidak ingin mengurusi masalah ini lagi.”

“Aku sudah mengatakan dan menyerahkan masalah pertunangan pada Eomonim.”

“Ya aku tau” Tukasnya. “Tapi ibuku sangat, sangat menghargaimu jadi dia juga ingin kau terlibat.”

“Itu tidak masuk akal.”

Dia tidak menjawabku dan menggerutu lagi. Merebahkan tubuh dan memilih tidak mempedulikannya. Hingga dua puluh menit kemudian mobilnya berhenti di lobby The Plaza Hotel. Tanpa melihatku dia turun lalu menyerahkan kunci pada petugas vallet. Dia juga tidak menungguku. Pria menyebalkan itu hanya berjalan cepat masuk kedalam lalu menyapa seorang wanita dengan seragam hotel.

Wanita cantik itu tersenyum ramah, dengan seragam dan papan nama di dadanya yang bertuliskan staff Han Chaerin. Rambutnya di gelung ke atas, membuat lehernya yang jenjang terlihat semakin menawan. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Dia memakai berlian tiffany di lehernya. Sangat tidak masuk akal jika hanya staff hotel bisa memakai perhiasan semahal itu. Bisa dibilang wanita ini bukanlah wanita biasa. 

“Maaf membuatmu menunggu lama.” kata Kyuhyun lembut. Ekspresi wajahnya berubah ramah seketika saat menyapa wanita itu. Membuatku tidak tahan untuk tidak memutar mata.

“Tidak apa-apa, aku juga sedang menunggu seseorang.” sahutnya, dia melihat ke arahku lalu tersenyum jahil pada Kyuhyun. “Kau tidak ingin mengenalkannya padaku, Oppa?”

Kyuhyun beralih padaku. “Hyura-ya, Ini Han Chaerin dia manager disini. Chaerin-ah, ini Park Hyura, dia…..calon istriku.” bulu kudukku berdiri saat mendengar Kyuhyun mengatakannya. Masih terdengar aneh di telingaku. Aku yakin dia juga merasakan hal yang sama.

Dia menunduk singkat, aku membalasnya. “Salam kenal.”

Chaerin melangkah mendekat, dia tersenyum. “Kau lebih cantik daripada yang pernah kulihat di internet.” dia melirik Kyuhyun sekilas sebelum melihatku lagi. “Tidak heran kau bisa menaklukan orang sombong ini.”

Kyuhyun berdecak, di sisi lain Aku ingin memutar mata namun itu tidak sopan, lagipula sepertinya Chaerin bukan orang yang menyebalkan seperti Kyuhyun, jadi kurasa dia tidak pantas diperlakukan seperti itu. Jadi aku hanya bisa tersenyum sebisaku.

“Ayo,” kata Chaerin lebih kepada Kyuhyun. Dia berbalik, berjalan didepan bersama Kyuhyun sementara aku dibelakang mereka seperti seorang pelayan yang mengikuti majikannya. Aku tidak keberatan, sungguh, pasalnya mereka mulai mengobrol banyak hal yang satupun tidak kumengerti. Seperti ‘pekerjaan ini yang terasa tidak masuk akal’ atau ‘ayahku sangat kolot’ atau ‘kau tau kakakku mendalami bisnis retail’ dan sebagainya. Seolah aku orang luar dan mereka membicarakan kode yang hanya mereka berdua yang mengerti. 

Chaerin membawa kami ke lorong-lorong besar, dengan karpet tebal dan lampu gantung yang hanya bisa kau temukan di Hogwart. Lalu dia membuka pintu ganda besar. Disana tampak ruangan kosong yang bisa menampung kira-kira dua ratusan orang. Dia berhenti lalu berbalik melihatku.

“Bagaimana menurutmu? Apa ruangan ini cukup besar?”

Aku yang tidak mengerti hanya menatapnya kosong lalu beralih pada Kyuhyun, memintanya untuk menjelaskan maksud temannya ini. Tapi Kyuhyun sama tidak pedulinya, jadi bukannya menjelaskan dia justru berjalan berkeliling.

“Maaf, aku tidak mengerti maksudmu.” kataku akhirnya.

Chaerin tersenyum. Dia melingkarkan tangannya di lenganku. Mengajakku berjalan bersama, tangannya terentang. “Ini tempat pesta pertunangan kalian. Imo sudah memilihnya, tapi dia ingin kau juga melihat juga.”

“Oh,” aku mengangguk. “Aku akan mengikuti keputusan Eomonim.”

“Kau suka?” tanyanya lagi.

Sebenarnya aku tidak peduli. Tapi aku tidak mungkin mengatakan hal itu, jadi aku mengangguk sebagai jawabannya.

“Bagus sekali,” sahut Chaerin riang, “kau mau mengecek detail dekorasinya?” dia hendak berbalik namun aku menahan tangannya. “Begini, aku akan mengikuti semua keinginan dan pilihan Eomonim, jadi sebaiknya kau mengikutinya saja dan tidak perlu bertanya padaku.”

Alisnya bertaut. “Tapi…”

Aku memotongnya cepat. “Aku percaya pada Eomonim, dia akan memilihkan yang terbaik, dan jika dia memintamu untuk bertanya padaku, kau bisa bilang aku sudah setuju.”

Ekspresi Chaerin tidak terlihat puas, dia bertanya dengan ragu-ragu “Jadi, apa setelah ini kau tidak mau melihat tempat resepsi pernikahan?”

“Tidak perlu, kau boleh mengikuti semua keinginan Eomonim.”

Chaerin menatapku heran tapi akhirnya dia mengangguk. “Oke.”

“Ada lagi?” tanyaku

Dia menggeleng, suaranya tidak seceria sebelumnya. “hanya… perlu mengkonfirmasi beberapa hal dengan Kyuhyun Oppa.”

“Baiklah, kalau begitu, kutunggu diluar.” Tanpa perlu melihat reaksinya aku berbalik dan keluar dari Hall. Aku yakin dia menganggapku aneh. Tapi siapa peduli.

Kuputuskan untuk keluar dan menunggu mereka di lobby hotel. Tapi baru beberapa langkah dari pintu, kakiku tidak bisa melangkah lebih jauh.

Seperti mimpi-mimpi yang jadi kenyataan.

Aku melihatnya.

Lee Donghae, berbelok dari lorong berjalan ke arahku. Dia tidak melihatku, matanya fokus pada ponsel yang dia pegang. 

Dia masih seperti yang terakhir kuingat enam tahun lalu. Ekspresinya, wajahnya, dan semua yang ada pada dirinya membuat dadaku bergemuruh. Perasaan rindu yang membuncah membuat air mataku yang tidak tau malu mengalir tanpa bisa kucegah. Dan perasaan itu semakin nyata saat dia berjalan melewatiku.

Butuh seluruh upaya untuk menjaga suaraku agar tidak gemetar saat memanggilnya.

“Donghae…..Oppa…”

Dia berhenti. Menurunkan ponselnya dan perlahan berbalik. Matanya melebar saat bertemu pandang denganku. Sepertinya disini bukan hanya aku yang terkejut. Hal itu juga membuktikan dia masih mengenaliku. Dengan penampilanku saat ini, wajah penuh make up, rambutku sekarang berwarna coklat terang bukannya hitam, lalu gaun Pierce panjang yang penuh dengan glitter. Aku yakin seratus persen penampilanku sangat berbeda dengan enam tahun lalu.

Setidaknya butuh beberapa menit Donghae untuk menemukan suaranya lagi.

“Hyura?” katanya lebih meyakinkan dirinya sendiri. “Park Hyura?”

Aku mengangguk, mengusap wajahku yang penuh air mata dengan punggung tangan. 

“Ya Tuhan, Park Hyura!” serunya, dia berjalan cepat ke arahku, tangannya hampir terangkat seolah ingin memelukku tapi ada sesuatu yang menghentikannya. Aku tidak tau apa itu, namun cukup membuatnya mundur dua langkah. Aku yakin dia melihat ekspresi kecewa di wajahku. Tapi dia tetap tersenyum. “Bagaimana kabarmu?”

Tidak baik, aku akan bertunangan dengan orang asing, menikah dengannya hanya untuk bertemu denganmu. Mengingat hal itu membuat mataku memanas lagi, tapi dengan segenap kemampuanku, aku akhirnya berhasil tersenyum meskipun suaraku seperti orang tercekik. “Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?”

Dia membuka mulutnya untuk menjawab namun suara nyaring dari belakang menginterupsi kami. Mengingatkanku dimana kami berada. Dari balik tubuh Donghae, kulihat Kyuhyun dan Chaerin mendekat. Dahi Kyuhyun berkerut dalam saat mata kami bertemu. 

Chaerin berlari kecil lalu tangannya melingkari lengan Donghae, tatapannya yang penuh sayang tidak luput dari perhatianku. “Kau sudah datang.” katanya manja. Donghae bergumam sambil mengangguk padanya sebelum kembali melihatku.

Aku tidak tau bagaimana ekspresiku, tapi Kyuhyun tiba-tiba sudah berdiri disisiku lalu memeluk pinggangku dan berbisik. “Kau baik-baik saja?”

Aku mendongak. “Huh?”

“Kau sakit?” tanyanya lagi.

Menggeleng cepat, melangkah mundur melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun dan berbalik “Aku ke toilet dulu.”

Belum sampai di toilet air mataku sudah memenuhi wajah, dan begitu pintu tertutup aku terisak seperti bayi. Aku tidak tau apa yang kuharapkan saat aku dan dan Donghae bertemu lagi. Aku juga tidak berharap dia tidak memiliki pasangan. Dia tampan, kaya, dan sukses. Siapa yang tidak menyukainya. Dulu dia kekasih impian para gadis, aku salah satu dari mereka. Sekarang juga seperti itu.

Dulu aku tau posisiku hanya sebagai anak pelayan, aku tidak pantas, aku juga tidak berharap dia bisa melihatku sebagaimana aku melihatnya. Kami bukan sepasang kekasih tapi aku memiliki banyak hutang budi padanya. Aku ingin bertemu kembali dan membayar apa yang pernah dia berikan padaku. Meskipun sudah berjanji pada diri sendiri untuk siap menjadi apapun atau siapapun yang dia butuhkan. Nyatanya melihat Lee Donghae bersama wanita lain cukup membuat dadaku nyeri dan aku tdiak bisa berhenti menangis.

Kau sangat tidak masuk akal, Park Hyura!

Secara mental aku memarahi diri sendiri. Sekarang hapus air matamu! tersenyum seramah mungkin atau memberi selamat padanya. Apapun yang bisa membuat Lee Donghae bahagia. Kau sudah berjanji Park Hyura! 

Beberapa menit kemudian Setelah menghabiskan banyak tisu, dan cipratan air yang cukup, aku melihat pantulan diriku yang kurasa masih sempurna. Make upku tidak luntur, rambutku tidak berantakan, bajuku juga tidak lusuh. Semuanya baik-baik saja. 

Ya, Tentu semuanya baik-baik saja.

Kecuali perasaanku.

Mengambil nafas dalam, melatih bibirku agar bisa melengkung dengan sempurna. Lalu setelah siap aku membuka pintu dan… membeku. Tidak mengira akan melihat Kyuhyun sedang menungguku. Dia mendekat hingga tepat berdiri di depanku. “Kau yakin baik-baik saja?” Dahinya berkerut dalam, wajahnya terlihat cemas. Benarkah dia cemas?

“Apa yang kau lakukan disini?”

Bukannya menjawab, tangannya justru terangkat menyentuh pipiku. Memundurkan wajah untuk menghindar namun tangannya yang besar mengusap sesuatu disana.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku protes.

Matanya menjelajah wajahku seperti sedang memecahkan masalah atau semacamnya. “Kau menangis? Apa sangat sakit? Perlu ke UGD?”

Membuang wajahku hingga tangannya terlepas, “Aku baik-baik saja.”

Kyuhyun menggeleng lemah. “Tidak, kau tidak. Tadi Kau seperti orang yang mau pingsan. sepertinya kau kelelahan, sebaiknya kita ke rumah sakit.” Kyuhyun ingin menarik tanganku, namun aku melangkah mundur hingga tangannya hanya menggapai udara.

“Aku tidak apa-apa, dimana temanmu?”

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. “Mereka pulang, tadinya Chaerin ingin mengajak kita ke Lounge Hotel di lantai atas, tapi kubilang kau tidak enak badan jadi mereka pulang.”

Aku mengangguk lemah. Tidak tau harus berterima kasih padanya atau justru kecewa. Aku masih merindukan Donghae, aku masih ingin melihatnya, tapi aku juga tidak yakin sanggup melihat mereka berdua.

“Kau benar, aku kelelahan. Bisa antar aku pulang?”

Alisnya bertaut, jelas dia tidak setuju. “Kau yakin tidak perlu kerumah sakit?”

Aku menggeleng, dan berjalan mendahuluinya.

***

Aku menatap pantulan wanita cantik di depanku. Make up, tatanan rambut, ditambah gaun pink mewah kreasi designer Pierce yang hanya ada satu dan khusus dibuat untukku. Semuanya terlihat sempurna. Tapi Mata wanita itu terlihat kosong, tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan disana. 

Sekarang semuanya terasa salah. Pertunangan ini, rencana pernikahan, semuanya seperti bencana. Alasanku mempertahankan karirku disini hanya karena mencari Lee Donghae. Sekarang kami sudah bertemu dengan keadaan berbeda. Dia memiliki seseorang di sisinya, sementara yang dia tau aku juga bersama Kyuhyun. Hubungan yang kuimpikan selama bertahun-tahun berakhir tanpa pernah benar-benar dimulai.

Jadi, apa yang kulakukan disini?

“Sayang,” Ibuku memanggil dari belakang.

Memaksa tersenyum sebelum menoleh, “Eomma.”

“Ayo, Kyuhyun sudah menunggu.”

Alasan lain adalah Ibuku sendiri. Aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini. Pertemanannya dengan Ibunya Kyuhyun membuatnya lebih hidup daripada yang pernah kulihat. Eomonim sangat baik, dia membuat ibuku diikutsertakan dalam setiap keputusan untuk merencanakan acara ini. Aku tidak menyalahkannya, seumur hidup ibuku dicemaskan oleh uang, karena itu dia bekerja keras agar aku dan Leeteuk Oppa bisa hidup nyaman. Dan saat ini dia bisa memberikan yang terbaik untukku tanpa perlu memikirkan biaya.

Kyuhyun menunggu tepat di depan pintu. Dia terlihat gagah dan tampan dengan tuxedonya. Sama sekali tidak terkejut, karena  memang dia selalu terlihat seperti itu. 

Memposisikan diri disampingnya, mengamit lengan Kyuhyun dan kami berjalan perlahan menuju Hall. Saat pintu Hall terbuka semua kepala menoleh ke arah kami. Pembawa acara dan riuh tepuk tangan menulikan telingaku. 

“Tersenyumlah.” Kyuhyun berbisik tertahan.

Dia benar, jika ingin bermain peran aku hanya perlu berakting, seperti di depan kamera. Jadi aku tersenyum seperti layaknya sepasang kekasih yang berbahagia.

Aku tidak memperhatikan setiap detail saat Prosesi tukar cincin, yang bisa kutangkap hanya waktu Kyuhyun memberikan kata-katanya lalu beberapa orang saling menyalami, sampai Aboenim dan Eomonim memelukku bergantian, setelah itu mereka membawaku kesana kemari untuk dikenalkan. Wajah-wajah baru, nama baru yang tidak perlu repot-repot kuingat. Dari semua itu yang paling memusingkan adalah ratusan kilat kamera yang tidak berhenti mengabadikan moment hari ini.

Mengambil sampanye dari nampan yang dibawa pelayan, aku meneguknya dalam sekali tegukan. Hari ini aku membutuh minuman lebih dari apapun. Setidaknya efek alkohol akan memudahkanku untuk tersenyum konyol dan berbohong.

Saat gelas ke lima tubuhku mulai merasakan efek alkohol. Namun efeknya lebih buruk daripada yang kuinginkan. Jadi sebelum mempermalukan diriku sendiri aku menyelinap ke belakang dan menuju pintu keluar.  

Seperti de javu, saat sepatu hak sembilan senti milikku menginjak ujung gaun, wajahku hampir mencium lantai jika tidak ada tangan yang menahan tubuhku.

Kenapa sih hal ini selalu terjadi saat aku minum?

“Hati-hati, Nona Park.” Pria dengan wajah kekanak-kanakan memegangi tanganku, alisnya bertaut cemas. “Kau baik-baik saja? Apa kau mabuk?”

“Siapa kau? Apa Aku mengenalmu?” menarik tanganku dari genggamannya. Dia tidak terlihat tersinggung, justru dia tersenyum ramah.

“Sepertinya kita memang belum pernah berkenalan,” Pria itu mengulurkan tangannya. “Aku Jino, Cho Jino. Adik Kyuhyun Hyung.”

Mulutku terbuka. Benar, aku pernah melihatnya di foto keluarga Cho. Namun wajahnya sedikit berbeda dari foto. Difoto dia masih terlihat anak-anak, tapi pria yang berdiri di depanku adalah pria dewasa meskipun wajahnya terlihat imut. Kalau diperhatikan Jino sangat mirip Eomonim. Mereka mempunyai mata dan bibir yang sama. 

Membalas uluran tangannya, “Aku Park Hyura,” kataku sambil terkikik tanpa sadar, anggaplah ini efek dari lima gelas sampanye yang kuminum tadi. “Kau terlihat lebih tampan dari Kyuhyun yang selalu mengerutkan alisnya.”

Dia ikut terkekeh. “Ini pertama kalinya aku mendengar bahwa aku lebih tampan dari Hyungku. Dan Kuharap kau tidak akan menarik kata-katamu.”

“Tentu saja tidak. Kau memang tampan dan lebih mudah diajak bicara, sangat berbeda dengan pria sombong menyebalkan itu.”

Kepala Jino terlempar kebelakang sambil tertawa keras. “Nona Park, Aku menyukaimu.” katanya disela-sela tawa.

“Huh?”

“Maksudku, aku senang kau jadi kakak iparku.”

“Oh,” aku mengangguk. “Kalau begitu silahkan menikmati pestanya, aku mau keluar.”

“Kau mau pergi?” tanyanya heran. “Bintang utama acara ini tidak mungkin menyelinap pergi kan?”

Aku menggeleng. “Bukan, aku hanya mau mencari udara segar, aku terlalu banyak minum.”

“Kalau begitu kupanggilkan Kyuhyun Hyung.”

“Eh, Tidak…..” Dan Jino sudah setengah berlari kembali ke hall. Sial, justru Kyuhyun yang paling kuhindari. Sebelum dia datang menyusulku, aku mengangkat gaun lalu mempercepat jalanku menuju belakang hotel. 

Hotel bintang lima ini memiliki taman belakang yang terhubung dengan lapangan olah raga. Ada jalan setapak menuju lapangan tenis dan basket. Meskipun tamannya tidak terlalu besar tapi disini sangat indah karena penataan lampu warna-warni seperti festival musim panas.

Berhubung sepatu hakku runcing dan mencegahnya tertancap di tanah rumput, kuputuskan untuk melepasnya. Kaki telanjangku menyentuh rumput basah dan rasanya menyenangkan sampai mataku menemukan bangku beton di bawah pohon palem yang dihiasi lampu-lampu. Bohong jika kukatakan aku tidak kedinginan. Orang bodoh mana yang keluar malam-malam di bulan Oktober dan hanya menggunakan gaun dengan bahu terbuka. Tapi aku membutuhkannya. Setidaknya beberapa menit sebelum kembali ke dalam lalu tersenyum palsu dan berpura-pura bahagia.

Saat gigiku mulai gemeletuk kurasakan ada yang menyelimuti bahuku. Aku mendongak. Jantungku serasa ingin melompat, darah berdesir ke kepalaku.

“Oppa?”

Donghae sudah melepas jasnya dan memakaikannya padaku. Aku hampir berdiri untuk memberi salam tapi dia mengangkat tangannya mengisyaratkan agar aku tetap duduk.

Lampu-lampu taman memantulkan cahaya coklat hangat dari matanya saat tersenyum padaku. “Boleh aku duduk?”

Aku mengangguk kaku. Apa ini mimpi?

Dia mengambil duduk disampingku, lengannya menyentuh lenganku, bau tubuhnya yang terasa familiar memicu serangkaian reaksi di dalam perutku.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya.

“Sepertinya aku terlalu banyak minum.” sahutku jujur, aku meliriknya takut-takut.“Apa kau juga tamu undangan?” 

Dia menggeleng. “Aku menemani tunanganku. Dia dan Cho Kyuhyun berteman.”

“Nona Chaerin?”

Donghae mengangguk.

Memalingkan wajahku, menghindar agar dia tidak melihat betapa menyedihkannya diriku. Ya tentu saja dia bersama kekasihnya, memangnya apa lagi yang bisa kuharapkan.

“Aku tidak menyangka sekarang kau menjadi selebriti terkenal.” ada nada bangga dalam suaranya. “Aku juga tidak menyangka kau akan segera menikah, itu…..” dia berhenti cukup lama, sampai aku harus menoleh memastikan dia masih disana. “Itu…” tiba-tiba saja dia tersenyum sedih. “Sangat mengejutkan, jujur saja.”

Aku tertawa tapi lebih terdengar menyedihkan bahkan ditelingaku sendiri. “Ya, begitu juga denganku, aku juga tidak percaya akan menikah.”

Mata sendunya tersenyum saat mengatakan “Aku sungguh berharap kau bahagia, Hyura-ya.” entah kenapa saat dia mengatakannya aku ingin menangis. “Tidak peduli dengan siapa, aku benar-benar berharap kau mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Tanganku mencengkram gaun pinjaman yang kupakai, sekuat tenaga menahan air mata. Banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan. Kenapa dia pergi enam tahun lalu padahal kami berjanji akan masuk kuliah bersama, aku tidak pernah mengganti nomor ponselku tapi kenapa dia tidak pernah menghubungiku, Dan kenapa tiba-tiba ibunya mengirimku ke Paris?

Semua pertanyaan itu sudah berada diujung lidahku tapi aku sendiri takut mendengar jawabannya. Jadi aku menelan semuanya seperti gumpalan duri yang menyakitkan.

“Aku harus kembali ke dalam,” kataku lalu berdiri dan melepas jasnya, mengembalikan padanya. Kemudian saat berbalik Cho Kyuhyun berdiri tidak jauh dari tempatku duduk. Dia bersandar di dinding sambil bersedekap. Ekspresinya tidak terbaca.

 Apa dia mendengar kami?

Saat aku masih belum bergerak dia mendekat, mengambil sepatuku di rumput lalu menggenggam tanganku 

“Kyuhyun ssi.” Sapa Donghae terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

“Chaerin mencarimu, sebaiknya kau juga kembali ke dalam.” katanya, dia menoleh padaku. “Ayo.” Kyuhyun menarik tanganku kasar, aku harus berlari kecil untuk mengimbangi kakinya yang panjang. 

Dia tidak membawaku kembali ke hall melainkan ke lorong yang kutahu menuju tempat parkir. Dia melepas tautan tangan kami sebelum melempar sepatuku ke lantai marmer hingga benturannya bergema di lorong.

“Bisakah kau menahan diri untuk malam ini saja?” Katanya dari balik giginya yang terkatup. “Ada puluhan kamera wartawan yang siap membidikmu, Park Hyura! Jika mereka mendapatkan satu saja maka semua ini sia-sia.” Dia mendekat seperti Hyena yang mendekati mangsanya, sampai tubuhku terpojok di dinding. “Aku tidak peduli kau bersama siapa, tapi jika kau merusak malam ini, mempermalukan keluargaku karena kebodohanmu aku tidak akan tinggal diam.”

“Apa sih yang bicarakan?” aku mendorong dadanya tapi dia bahkan tidak bergeser siinchi pun. “Aku hanya menyapanya, memangnya apa yang akan terjadi?”

“Menyapa?” Dia tertawa mengejek “Orang tolol mana yang kau bodohi? Kau pikir aku buta? Aku bisa melihat dari caramu yang menjijikan saat menatapnya.”

“Itu bukan urusanmu!” kataku tertahan.

“Benar, memang bukan urusanku, tapi tidak disini, tidak malam ini dan tidak dalam jarak pandangku.” dia mencengkram pipiku, menatapku mengancam “Kau paham?”

“Lepas,” menarik wajahku melepaskan diri dari cengkramannya. “Jangan mengancamku dasar brengsek.” aku mencoba mendorongnya lagi tapi yang ada dia justru semakin menghimpit tubuhku ke dinding. Tangannya yang lain melingkari tubuhku dan dia memiringkan kepalanya hingga hidung kami hampir saling bersentuhan. Nafasnya berdesir dipipiku hingga terasa sampai tulang belakang.

“Apa yang kau…..” aku berusaha mendorongnya tapi pelukannya semakin erat, lalu dia berbisik kasar. “Diamlah!” kemudian baru kusadari ada beberapa orang melewati kami. Mereka berbisik-bisik sambil tertawa kecil melihatku dan Kyuhyun seperti sedang bercumbu.

Lorong ini tidak panjang tapi menunggu orang-orang itu tidak terlihat terasa seperti berjam-jam. Rasanya tidak nyaman dan dadaku berdegup kencang saat tubuh kami menempel seperti ini. Aku yakin dia juga merasakan debaran jantungku.

“Kyu…Kyuhyun-ah,” kataku gugup, “Apa mereka masih ada?”

Dia tidak menjawab dan langsung melepaskan pelukan kami. Tatapannya padaku masih dingin. Sementara pipiku memanas, dengan cepat menangkupkan kedua tanganku sebagai usaha menyedihkan untuk menutupinya. Kukira dia akan mengejekku lagi atau mengatakan kata-kata kasar, namun Kyuhyun malah mengambil sepatuku yang tadi dia lempar lalu berjongkok di depanku.

“Kakimu kedingingan.” katanya sambil memakaikan sepatu untukku.

Benar, aku hampir melupakan kakiku yang mati rasa karena pria menyebalkan ini.

Ekspresi Kyuhyun masih tidak ramah saat menegakkan tubuhnya. “Kembali kedalam.” perintahnya. Aku baru mau membuka mulut untuk menjawabnya tapi dia memotongku cepat. “Atau aku tinggal membopongmu kalau itu yang kau mau, kau tau aku tidak bercanda.”

Mendengus kesal, aku berbalik dan berjalan sambil menghentakan kaki.

***

Ciuman adalah adegan tersulit dalam berakting. Aku harus menatap Siwon putuh asa dan penuh cinta saat memaksakan ciuman kami. Pada take ke sembilan aku tidak tahan untuk tidak memakinya.

“YA! Airmataku hampir kering kalau begini terus.” protesku. 

Dia tertawa geli. “Kau terlalu keras memegang wajahku, Hyura-ya.” tangannya terangkat menyentuh kedua pipiku lalu memajukan bibirnya hingga nyaris mempertemukan bibir kami. “Begini saja, jangan terlalu keras….bagaimana?”

Aku mengangguk “ Oke.” berpaling ke sutradara dan mengacungkan jempol. “Oke, sekali lagi.”

Sutradara meneriakkan aba-aba dari pengeras suaranya. Saat kata ‘Action’ terdengar ekspresi kami berubah sepenuhnya. Siwon berperan sebagai Yoo Shin, pria hangat namun penuh luka karena masa lalunya. Sementara aku sebagai pemeran wanita kedua, yang cintanya bertepuk sebelah tangan. 

“Yoo Shin-ah….” aku mulai terisak, mengikuti petunjuk Siwon tadi, memegang wajahnya hingga kami bertatapan. Alis Siwon berkerut dalam, aku bisa merasakan pergulatan emosi Yoo Shin. “bisakah kau melihatku.” bisikku lalu berjinjit dan menciumnya. Siwon bergeming, tapi aku tidak berhenti, mencoba melumat bibirnya sampai kurasakan asin airmataku. Tanganku terangkat mencoba memeluknya namun tangan Siwon menahan lenganku sampai suara itu datang.

“CUT”

Sutradara bertepuk tangan. “Bagus sekali, Yoo Shin, Haera.” Karena kebiasaan dia lebih sering  memanggil nama tokoh di film daripada nama asli kami.

Siwon menepuk lenganku. “Kau sudah bekerja keras, Hyura-ya.”

Aku memutar mata, “terima kasih untuk tidak tertawa.”

Siwon terkekeh saat Sutradara berteriak lagi untuk berganti set, dan aku kembali ke ruang tunggu.

~

Tepat sebelum tengah malam aku kembali ke Seoul, berhubung syuting berikutnya kami harus pindah lokasi aku memilih untuk pulang ketimbang harus bermalam di hotel. Saat masuk van tanpa sengaja mataku melihat gaun pertunanganku yang tergantung di belakang.

“Besok kau kembalikan gaun itu.” kataku. Mengambil salad dingin yang sudah Nammie siapkan, lalu memakannya dengan setengah hati.

Nammie menoleh ke belakang, lalu melihatku heran. “Itu bukan sponsor. Tidak ada yang menyuruhmu mengembalikannya.”

“Kembalikan saja, aku tidak mau menyimpannya.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan.”

Dia menghembuskan nafas berat lalu bergumam. “Tuan muda itu pasti mengomeliku lagi.”

“Kau bilang apa?”

Nammie merebahkan kepalanya di sandaran jok, bersedekap lalu memejamkan matanya. “Bukan apa-apa.”

“Siapa yang kau panggil tuan muda?”

Nammie membuka matanya, melirikku malas. “Tentu saja calon suamimu.”

Aku tau siapa calon suamiku, tapi sepertinya aku masih membutuhkan orang lain untuk meyakinkanku. “Cho Kyuhyun? Dia memarahimu?”

“Ya,” sahutnya jengkel. “Setiap kali bicara padanya dia selalu mengomel” Nammie menegakkan tubuhnya, mengerutkan alis lalu suaranya memberat seperti suara pria saat dia meniru Kyuhyun. “Apa tugasmu menjawab telepon juga? Kenapa dia tidak bisa mengangkat telepon sendiri? Apa dia tidak punya tangan? Kenapa jadwalnya sangat padat? Apa begini perusahaan kalian memperlakukan karyawan? Apa ini manusiawi? Jika begini terus aku akan  menuntutmu, perusahaanmu, kupastikan kalian akan membayarnya!”

Mulutku ternganga, “Dia….bilang begitu?”
Desahan panjang keluar dari bibir mungilnya. “Karena itu sekarang aku malas menjawab teleponmu, tapi jika tidak kuangkat dia tidak akan berhenti.”

“Aku tidak tau Kyuhyun seperti itu.” gumamku lalu melirik kebelakang lagi. “Kalau begitu simpan saja, kau tidak perlu bertemu dengannya. Aku juga tidak punya waktu untuk mengembalikannya sendiri.”

Nammie mengambil PC tablet dari kantong jok, “Atau kau bisa mengembalikannya minggu depan.” katanya tanpa melihatku, jarinya sibuk mengutak-atik layar PC. “Minggu depan kau akan mencoba gaun pengantin, disana kau bisa mengembalikannya.”

Sendokku berhenti ditengah jalan saat mendengarnya. “Gaun pengantin?”

“Ya dan beberapa hal lainnya, lihatlah.” dia menyodorkan jadwalku yang terpampang disana. Benar saja di Jumat minggu depan tertulis ‘pengepasan gaun pengantin’. Lalu di sabtu malamnya ‘acara makan keluarga’. 

“Apa-apaan ini?” tanyaku protes.

Nammie mengambil pc tabletnya dari tanganku dan melemparnya asal ke jok belakang. “Kau pikir aku suka begini?” Dia melirikku malas. “Calon suamimu yang memaksaku melakukannya, karena dengan begitu jadwalmu tidak akan bentrok, dan aku juga harus memperbaharuinya kalau-kalau ada jadwal yang berubah lalu mengirimkan padanya setiap minggu.” Nammie menggelengkan kepalanya jengkel. “Padahal aku tidak bekerja dengannya, dia juga tidak membayar gajiku, Bisa-bisanya dia menyuruhku melakukan ini dan itu.”

“Bukan itu,” kataku. “Maksudku pernikahan kami masih setengah tahun lagi, kenapa minggu depan sudah harus pengepasan gaun?”

Nammie menoleh padaku, menatapku bertanya-tanya. “Setengah tahun?”

Aku mengangguk.

“Tanggal pernikahanmu ada di akhir bulan depan, memang kau tidak lihat?”

“Apa?” aku hampir menjerit. “Tidak, kau pasti salah! Kyuhyun bilang kami tidak akan menikah sampai enam bulan kedepan.”

Nammie mengambil PC tabletnya lagi lalu menyerahkannya padaku. “Lihatlah sendiri.”

Aku menerimanya, menggeser-geser layar. Tepat di akhir bulan November ada tiga hari yang ditandai warna merah dan tertulis ‘hari pernikahan’. Aku menggeleng, tidak mungkin secepat ini. Aku yakin Kyuhyun bilang kami harus menunggu sampai jadwal rapat pemegang saham sudah dipastikan baru kami akan menikah. Jadi kenapa tiba-tiba berubah?

“Berikan ponselku.” kataku tidak sabaran.

Nammie merogoh tasnya sebelum mengembalikan ponselku. “Ini.”

Menekan nama Kyuhyun namun dia tidak menjawabnya. Aku menekannya lagi hingga ke yang empat kali dia tidak mengangkatnya.

“Ayolah, Cho Kyuhyun.” tanganku mengetuk-ngetuk lengan jok tidak sabar.

“Sekarang hampir jam 2 pagi, mungkin dia tidur.” kata Nammie. 

Menurunkan ponsel, melihat Nammie penuh harap. “Kau tau dimana rumahnya?”

Dia menggeleng. “Kau mau kerumahnya? Di jam segini?”

Menatap Nammie ragu-ragu. Aku tidak yakin, tapi aku juga tidak bisa menunggu. Karena jika benar maka rencanaku akan berantakan. Aku ingin membatalkan pertunangan kami sebelum pernikahan. Enam bulan adalah waktu yang pas. Setidaknya setelah bertunangan tiga bulan, aku bisa membuat alasan bahwa kami tidak cocok dan berpisah. 

“Besok apa jadwalku?”

“Tidak bisa, besok kau masih ada syuting lanjutan. Setelah itu rekaman wawancara untuk promosi film. Kau tau jadwal syutingmu dipadatkan karena skandal kemarin mereka melewati beberapa scene.”

Meletakkan mangkuk salad yang baru kumakan tiga suap ke komparteman tengah lalu menyandarkan kepalaku. “Besok aku akan menelponnya.” kataku lebih pada diri sendiri.

TBC

Leave a Comment