Actress & Marriage [Part 1]

Happy Reading & Sorry for Typho

@miss_Hoon

***

Angin dingin menerbangkan rambut hitamku, aku hampir tidak bisa merasakan kakiku sendiri saat pasir basah menelannya. Yang kutahu gigiku bergemeletuk, tubuhku menggigil karena orang-orang itu menyuruhku menggunakan gaun setipis tisu, dan mataku berair melawan angin. 

Harusnya pantai ini indah, bau laut menenangkan dan suara deburan ombaknya yang menentramkan. Tapi begitu air menyentuh kakiku semuanya berubah. Pantai ini tidak indah, baunya amis dan memuakkan, dan suara ombak membuatku ingin lari. Tapi aku memantapkan hati untuk melangkah lebih jauh. Mengabaikan penyiksaan yang tubuhku rasakan. Perlahan hingga rasanya menangis bukanlah hal yang sulit. Hingga tanpa sadar aku sesenggukan, menunggu suara itu datang.

Air sudah mencapai dadaku tapi suara itu tidak ada. Mau tidak mau aku harus terus berjalan sampai air mencapai hidungku. Mengambil Nafas dalam, meskipun sepertinya sia-sia sebelum susah payah melangkah lebih jauh menahan tubuh agar tidak hanyut karena ombak. Hingga akhirnya…..

“CUT”

Aku berbalik cepat, berusaha kembali ke bibir pantai, tapi sialnya ombak yang lumayan besar menghantamku dan aku kehilangan pijakan. Kakiku meronta-ronta mencari sesuatu tapi tidak menemukan apapun, mataku tidak bisa terbuka Dan dinginnya air membuatku lebih sulit bergerak.

Sialan! Aku tidak akan mati disini! 

Ayolah Park Hyura!.

Disaat yang sama tanganku ditarik ke atas dan tiba-tiba air disekelilingku menghilang.

“Oppa!”

“Hari yang buruk untuk main dipantai bukan?”

 Choi Siwon dengan senyum tampan dan lesung pipinya yang bisa menghangatkan hati siapapun一 mengangkatku seolah Aku adalah bocah kelas 2 SD. Dia juga si pangeran pemeran utama dan karena ketenaran yang dia miliki juga menjadi salah satu alasan aku mengambil bagian dari film  ini.

Siwon tidak lebih baik dariku, tubuhnya lebih basah dan dia harus lebih lama berada di air laut daripada seharusnya karena si putri pemeran utama selalu tertawa saat mereka mulai berdialog. 

Aku benci mengatakan ini tapi pekerjaan ini sulit dan aku sedikit menyesalinya. Sedikit.

Aku tertawa “Kurasa sutradara Kim tidak memeriksa ramalan cuaca.” 

“Kau tau dia tidak memeriksa apapun selain artisnya.” katanya sambil menurunkanku begitu kami di pantai dan disana managerku Han Nammie sudah bersiap dengan handuknya. Dia setengah berlari menghampiri kami sebelum membungkusku dengan handuk kering. 

“Kau tidak apa-apa?” 

“Aku baik-baik saja.” Sahutku sambil mengeratkan handuk. Tidak hangat sama sekali mengingat bajuku basah, meskipun begitu ini lebih baik ketimbang pakaian dalamku menjadi tontonan para kru.

Dia juga memberikan handuk kering yang lebih besar pada Siwon Dan kusadari Nammie tersenyum malu-malu saat melakukannya, Mau tidak mau aku tertawa.

 “Kau tau, kau haru menghadapi pasukan pangeran ini sebelum mendekatinya.” Kataku.

Wajah Nammie yang sudah memerah karena dingin semakin merah. “A..aku tidak begitu.”

Alis siwon terangkat satu “Pasukan?”

“Oh Ayolah,” kataku, “Mereka bahkan memakiku karena meletakkan tanganku di bahu yang mulia.” menunduk sambil menempelkan tanganku di dada seolah sedang menyanyikan lagu kebangsaan. “Itu bisa dianggap kejahatan. Kau tau.”

Siwon terkekeh. “Maaf aku tidak tahu mereka memakimu.”

“Jangan minta maaf, justru itu yang kubutuhkan,” mengedipkan Mataku “Skandal.”

Nammie melotot dan memukul lenganku. “Presdir akan menceramahimu lagi, kau tau itu.”

Aku terkekeh “ aku bercanda.”

“Ku Harap begitu.” balas Siwon serius. “Kau tidak tau seberapa mengerikannya skandal di negara ini. Kurasa tidak jauh berbeda dengan keadaan di negaramu”

“Hey, kita satu negara.” sahutku tidak setuju. “Jadi tidak Perlu menyebut negaraku atau negaramu.”

Kali ini Siwon tersenyum “Maaf, aku selalu menganggapmu orang Jepang.”

Aku berdecak. “Itu diskriminasi.”

Dia terkekeh, “Mau lihat hasilnya?” Ajak Siwon.

Aku mengangguk “Tentu.”

***

“Hyura….”

“Nona…..”

“Nona Park……”

“Park Hyura…….”

Suara-suara samar itu memaksa mataku terbuka. Aku melihatnya, wanita cantik didepanku. Rambut coklatnya digelung sedemikian rupa keatas menampilkan lehernya yang jenjang, tentu saja disana melingkar benda dingin dan berkilau.

Mata besar sewarna madunya terlihat berbeda karena riasan, kulitnya juga sudah tidak sepucat sebelumnya. Memaksa menarik kedua sudut bibir, wanita di depanku tersenyum.

“Apa sudah selesai?”

Seorang gadis dibelakangku tersenyum tulus, “Sedikit lagi, aku tinggal menambahkan pemanis di rambut anda,” sahutnya melalui pantulan cermin. Dia mengambil sebuah kotak kecil dari laci lalu meletakkannya di meja rias. “Itu dari sponsor, dan Manajermu berpesan kau harus memakainya.”

Aku membuak kotak satin hitam yang bertuliskan cartier didepanku, isinya gelang berwarna putih perak dengan jalinan rantai rumit, dan ada kilauan berlian di beberapa sisinya.

“Bisa kau bantu pakaikan?” tanyaku.

Gadis perias itu tersenyum “tentu.” dia mengambil tangan kananku yang sudah ada gelang disana lalu berniat melepasnya namun aku secepat mungkin aku menarik tanganku lagi.

“Maksudku tangan yang lain.”

Dia terlihat ragu. “Tapi Nona, gelang itu tidak cocok dengan gaunmu, sebaiknya kau melepasnya.”

Aku menggeleng, “Tangan yang lain saja.” kataku sambil menyodorkan tangan kiriku

Dia terdiam beberapa saat, mungkin kebingungan tapi tidak ada yang bisa gadis itu lakukan. Dia mendesah pasrah lalu melakukan apa yang kuminta. Aku masih bisa dengar gumamannya soal gelang jelek yang kupakai sama sekali tidak cocok.

Tentu saja ini hanya gelang murahan seharga 100 yen yang bisa kau beli ditoko serba 100 yen. Tidak bisa dibandingkan dengan cartier. Tapi hanya benda ini satu-satunya yang dia tinggalkan padaku. Satu-satunya benda yang mengingatkanku bahwa dia pernah ada, dan juga penguat kenapa aku memilih jalan hidup seperti ini.

“Sudah selesai,” kata gadis dibelakangku, “Mau kubantu?” dia berjongkong mengambil gaunku dilantai agar aku tidak menginjaknya saat berdiri. Presdir sendiri yang memilih gaun seberat dan semerepotkan ini agar aku tidak di diskriminasi, itu katanya. Padahal acara ini bukan red carpet atau semacamnya. Meskipun niatnya baik tapi jujur saja  merepotkan. 

Dulu aku terbiasa menggunakan baju yang merepotkan tapi aku hanya memakainya saat di catwalk, dan bukannya pada acara khusus yang mengharuskanku memakainya dalam beberapa jam.

Mataku menjelajahi seluruh ruangan tapi Nammie tidak ada.

“Ngomong-ngomong dimana managerku?”

“Oh ya, Tadi managermu berpesan akan menyusul.”

Dahiku berkerut, “Han Nammie?一Dia pergi?”

“Katanya dia ada urusan sebentar.”

Aku mendengus. Lagi-lagi dia kabur. Aku benci harus hadir sendirian diacara-acara khusus seperti ini. Bukan tanpa alasan, tapi disini ada beberapa orang kolot yang cukup diskriminasi. Mereka mengira aku artis imigran yang mencari uang disini tanpa mau tau latar belakangku.

“Terima kasih.” kataku lagi sampai gadis tadi mengantarku ke pintu depan dan van sudah menunggu disana.

“Kau tau Nammie pergi kemana?” tanyaku begitu masuk kedalam van.

Minhyuk supir agensi kami menatapku balik dari kaca spion. “Katanya dia harus bertemu pemilik apartemen.” sahutnya sambil menjalankan van

“Ah, aku baru ingat, dia mengurus kepindahanku kan?”

“Hmm, kata Presdir tinggal dihotel tidak aman, disana terlalu banyak paparazzi.”

Aku menyandarkan punggungku sambil menghela nafas. “Kau benar. Disini benar-benar parah.”

Minhyuk  tersenyum kecut. “Istirahatlah nona, akan kubangunkan saat sampai.”

Aku mengangguk dan memejamkan mata lagi. Aku bukan tukang tidur tapi serius pekerjaan ini benar-benar melelahkan. Dulu aku hanya perlu bekerja saat memasuki awal musim, karena pada saat itu designer-designer akan berlomba-lomba mengadakan pameran untuk koleksi mereka. Dan pameran besar hanya akan ada beberapa kali dalam setahun. 

Tapi begitu tiba di negara ini. Aku harus terus-terusan bertemu orang baru, penulis ini, sutradara itu, produser ini, sponsor itu, belum lagi aku harus mengikuti audisi yang tidak ada habisnya. Lalu setelah itu pembacaan naskah, dan jam syuting yang terlalu panjang. 

Saat mengikuti proyek film ini aku bahkan tidak bisa tidur lebih dari empat jam setiap hari.  Seandainya aku masih di paris, aku yakin agenku bisa kena sanksi dari departemen tenaga kerja.

Kurasa perjalanan tidak terlalu jauh, aku belum sempat terlelap saat kurasakan van berhenti.

“Disini tempatnya?”

Minhyuk turun dan membukakan pintu untukku. Dia mengulurkan tangan dan membantuku turun, juga merapikan gaun bagian belakangku.

“Aku akan tunggu ditempat parkir. Panggil aku kalau sudah selesai.”

Aku mengangguk dan menggumam terima kasih. 

Seorang petugas keamanan tersenyum ramah sambil membukakan pintu, dia menunjukkan  arah ke ballroom tempat acara berlangsung.

Hari ini aku mendapatkan undangan acara pameran koleksi baju musim dingin salah satu perusahaan fashion terbesar di Korea. Presdir bilang acara ini kesempatan bagus untukku, disini aku akan bertemu pengusaha dibidang yang kukuasai. Fashion.

Saat aku memasuki ruangan itu pelayan muda melintasiku dengan senampan champagne, aku mengambil segelas dan langsung meneguknya habis. Aku begitu tegang dan aku juga buruk dalam berbasa-basi jadi aku membutuhkan sedikit alkohol. Berhubung acaranya belum dimulai aku menuju meja bar yang berada disisi paling kiri ruangan, terpisah dari panggung dan deretan tempat duduk yang mengelilinginya.

 Aku butuh minuman yang lebih keras daripada sekedar champagne. 

“Vodca dan sprite.” kataku.

Bartender mengangguk dan meracik minumanku. Aku berpaling dan bersandar di meja bar, menghadap panggung catwalk. Panggung berbentuk T itu mengingatkanku pada masa-masa awalku merintis karir.

“Pesananmu Nona, Silahkan,” katanya dari belakangku.

Aku menoleh sambil menggumam terima kasih dan meneguk cairan itu. Panasnya alkohol langsung terasa di tenggorokan dan perutku. Hari yang buruk untuk minum alkohol saat perutmu kosong. Tapi aku membutuhkannya.

Meletakkan gelas kosong di meja mengisyaratkan bartender untuk mengisinya lagi. Aku melakukannya beberapa kali hingga aku berhenti saat aku tidak bisa merasakan gigiku, mungkin digelas keempat atau kelima, entahlah.

 Di paris minuman gratis sangat menggoda kurasa itu tidak sama dengan disini, bisa dilihat para tamu undangan langsung duduk di pinggiran panggung menunggu acara. Tidak ada yang tertarik berjalan kesini, mereka hanya mengambil minuman dari para pelayan yang berkeliling.

Saat lampu dimatikan dan lampu panggung menyala, seorang dari sponsor acara ini berbicara panjang lebar yang tidak bisa kutangkap maksudnya. Aku juga tidak bisa melihatnya dengan jelas jadi kuputuskan untuk mendekat dan mencari kursi dekat panggung. Aku lupa gaunku super merepotkan dan aku tidak bisa berjalan lurus. Aku hampir terjungkal karena menginjak gaunku jika tidak ada tangan yang menahanku. 

“Kau mabuk.” itu bukan pertanyaan. Tangan pria itu membantuku menegakkan tubuh. Dia mengibaskan tangannya didepan wajah. “Ya Tuhan kau bau alkohol.”

Aku menunduk meminta maaf tapi kepalaku begitu berat hingga sepertinya aku tidak bisa mengangkatnya lagi jika dia tidak menahanku. 

“Maaf.” kataku tidak jelas lalu disusul cegukan. “Bisa bantu aku ambilkan air?”

Pria didepanku menatapku seolah aku tidak waras tapi dia tetap berbalik ke arah bar sambil mendengus. Aku memperhatikan punggung pria itu menjauh tapi sialnya Pandanganku mengabur karena tiba-tiba semua lampu dimatikan, hanya lampu panggung yang menyala, kemudian disusul musik menggelegar dan tepuk tangan meriah saat para model berjalan disana.

Aku sebaiknya kesana atau Presdir akan menceramahiku lagi jika aku menyia nyiakan kesempatan ini, tentu saja rencana itu mudah, semudah aku membayangkannya dikepalaku. Jarak dari tempatku berdiri dan kursi terdekat hanya 2 meter tapi aku tidak bisa melangkah lebih jauh karena aku merasa semuanya berputar. 

Sial.

Ini Buruk.

Dengan sisa-sisa kemampuanku, aku berjalan susah payah sambil mengangkat gaunku dan mencari jalan keluar terdekat. Pintu terdekat atau apapun itu. Aku butuh keluar dari kegelapan dan suara-suara berisik disini membuatku kepalaku semakin berputar.

Aku hampir mencapai gagang pintu dan dengan dorongan putus asa aku menubrukkan tubuhku kesana sampai pintu terbuka dan tiba-tiba semuanya menggelap.

***

Aku mengerang tidak berdaya saat semuanya masih terasa berputar. Biasanya aku hanya minum saat ada acara besar. Dan itu hanya terjadi 2 kali dalam setahun. Tapi saat ini aku tidak ingat apa-apa. Selain kepala, tubuhku juga sakit, seolah tulangku tidak pada tempatnya, 

“Sudah bangun?” Nammie berdecak diambang pintu. Kepalanya menggeleng lemah sambil melihatku jengkel. 

Memaksa bangun dan terduduk diranjang sebelum membalasnya. “Jangan melihatku begitu.” kataku parau. “Aku tau aku salah, aku minta maaf.”

“Maaf? Kau kira itu cukup?”

“Lalu kau mau aku bagaimana?” tanyaku malas. “Kau yang meninggalkanku di acara itu, kau tau aku masih asing disini, mereka masih mendiskriminasiku, kau tau itu tapi kau tetap meninggalkanku.”

Nammie mengusap wajahnya kasar. “Oh ya Tuhan! Aku tidak tau lagi harus bagaimana lagi denganmu.” 

Dahiku mengernyit bingung. “Apa sih?”

“Kau benar-benar lupa apa yang terjadi semalam?”

Aku menggeleng.

Matanya menyipit penuh curiga. “Kau yakin? Tidak sama sekali?”

Aku menggeleng lagi.

“Kau juga tidak ingat merusak malam seorang pria?” Nammie menggeleng lemah, “Pria malang, kenapa dia harus bertemu denganmu.”

“Apa sih yang kau bicarakan.” Aku menyibak selimut lalu turun dari tempat tidur, mengambil ikat rambut lalu menguncirnya asal. “Aku tidak merusak malam siapapun, aku minum sendirian, aku juga mabuk sendirian….” aku membeku, benarkah aku sendirian?

Aku menatap Nammie ngeri. Lalu menutup mulutku dengan kedua tangan. “Tolong katakan padaku aku tidak melakukan apapun, kumohon.”

Nammie melihatku prihatin. “Kau harus membeli setelan jas mahal, parfum dan sepatu pria. Semuanya harus dari designer terkenal sebagai permintaan maaf.”

Aku mengerang menutup wajahku. “Aku pasti mempermalukan diriku sendiri.”

“Kau mempermalukan diriku lebih tepatnya.” Nammie mendengus jengkel. “Kau tau aku harus berkali-kali membungkuk minta maaf pada orang itu.”

Mengangkat wajahku, tersenyum minta maaf. “Aku tau kau akan mengurusku dengan baik.” merangsek maju, aku memeluknya sambil berteriak “Kau manajer terbaikku, Han Nammie Ssi.”

Nammie mendorongku kuat, lalu menutup hidungnya. “Oh Ya Ampun! Kau bau alkohol.” 

Aku nyengir dengan bangga.

“Bersiap-siaplah, kita turun sarapan.”

Aku memberi hormat ala militer “Yes Sir.

***

“Bagaimana apartemenku?” tanyaku sambil mengambil salad di buffet hotel. Nammie berdiri di depanku, dia mengambil dua potong pastry ke piring berikut dengan selai kemasan kecil dan juga mentega. 

“Kontraknya sudah selesai, hari ini mereka akan memasukkan barang-barangmu.” sahutnya tanpa melihatku.

Aku mengernyit saat Nammie mengambil croissant. “Kau yakin mau makan itu?” bukan tanpa alasan, croissant di negara ini benar-benar parah, mendekati enakpun tidak.

Nammie berbalik padaku lalu menatapku bosan. “Biasakan lidahmu, kau tidak bisa terus-terusan mengomentari makanan disini.”

Bibirku merapat sambil mengangguk menurut. Meskipun hanya setahun di eropa tapi kebiasaan bicara terus terang ternyata cukup berbahaya disini terutama di industri ini. 

Nammie berbicara lagi saat kami menuju meja dekat jendela. “Mungkin besok atau lusa kau bisa pindah kesana.” 

Aku mengangguk dan mengambil duduk, diikuti Nammie disebrangku. Dia baru mengambil pastrynya saat ponselnya berbunyi. Menekan ponsel layar sentuhnya sebelum menjawabnya.

“Ya… Ini aku”

“……”

“Kenapa tiba-tiba?” Dahinya berkerut, lalu menatapku waspada. Entah untuk alasan apa, ekspresi Nammie menggangguku. Jadi meletakkan garpu dimangkuk, aku akan menunggunya sampai selesai bicara.

“……”

“APA?” Nammie hampir terlonjak dikursinya hingga membuat beberapa orang disekitar meja kami menoleh. Dia menunduk minta maaf lalu melihatku lagi. Cemas, takut, khawatir semuanya jadi satu. 

Kemudian suara diseberang menjawab panjang lebar, Nammie hanya mendesah berat sambil mengusap keningnya. “ Ya, aku mengerti…. Baiklah, ya…” dia mematikan teleponnya. Menatap benda itu beberapa saat lalu mendongak padaku.

“Siapa?” tanyaku hati-hati.

“Selamat harapanmu terkabul.” sahutnya tanpa menjawab pertanyaanku..

“Huh?”

“Kau punya skandal, kau puas sekarang?” Sorot matanya menuduh. Dia mendengus kasar, melihat makanan di piring dan mendorongnya ke tengah meja. “Nafsu makanku hilang.”

“Apa sih yang kau bicarakan?” sahutku masih tidak mengerti. “Skandal apa? Skandal siapa?”

Nammie melihatku penuh kesabaran palsu, dia menggeleng lemah sambil berbisik penuh sesal. “Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian.”

“YA! Bisakah kau bicara lebih jelas!” 

“Presdir minta kita harus pergi dari sini, disini tidak aman.” Dia melempar serbet lalu berdiri. 

***

 “APA? Video mesum??” Kataku setengah berteriak. “Apa-apaan sih?”

“Aku juga tidak tau, tapi tadi Presdir bilang ada video mesum dirimu dengan seorang pengusaha muda tersebar di internet” jelas nammie. Aku tidak mengerti sebenarnya apa terjadi? Tapi gossip ini sungguh keterlaluan. Video mesum apa? Pengusaha muda apa? Bagaimana mungkin aku bisa kenal dengan pengusaha muda, sedangkan aku baru saja tinggal di negara ini dalam hitungan bulan.

Kemudian nammie menunjukan artikel dan video tersebut dengan ponsel miliknya. Disitu tertulis dengan jelas  “PEMERAN UTAMA FILM  “LOVE SEA” TERTANGKAP MELAKUKAN PERBUATAN YANG TIDAK SENONOH DENGAN PEWARIS PERUSAHAAN FASHION  XXXX”  meskipun namaku tidak tercantum disitu tapi siapapun pasti mengetahui siapa pemeran utama film yang sedang aku garap.

Di dalam video tersebut aku melihat seorang wanita dan seorang pria sedang berpelukan dan  berguling atau lebih tepatnya terjatuh ke bawah tangga. Pada awalnya posisi wanita berada diatas kemudian si pria berpindah posisi dan menjadikan si wanita dibawah, tapi karena tertutup tubuh si pria maka wajah si wanita tidak terlihat jelas hingga si pria bangun dan menelpon seseorang. hal tersebut membuat wajah si wanita terlihat jelas.

 Aku tidak tau siapa pria itu Karena memang wajahnya menghadap ke samping dan tidak terlalu jelas. Tapi aku yakin sekali wanita yang sedang tergeletak dibawah tangga itu adalah aku. Dan di video itu aku mengenakan gaun yang semalam kupakai. Setelah menelpon pria itu mengangkat tubuh ku dan pergi.

“A….apa ini?” aku butuh seseorang meyakinkan diriku bahwa orang di video itu bukan aku atau mungkin orang lain yang kebetulan wajahnya mirip denganku dan punya gaun merepotkan yang sama. Ya aku tau itu mustahil.  

Nammie melihatku setengah jengkel setengah tidak percaya. “Itu kejadian semalam, pria itu yang mengantarkanmu ke mobil. Tapi aku tidak tau kalau kalian sebelumnya melakukan hal seperti itu.”

Aku melotot padanya, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu. “Melakukan hal apa?” Bentakku “Kau tidak  lihat tadi  aku tidak sadarkan diri? Lagipula siapa pria itu ? berani-berani nya menyentuhku?” 

“YA! Park Hyura, jangan berteriak padaku karena aku juga tidak mengerti, harusnya aku yang Tanya padamu kenapa bisa ada hal seperti ini? apa kau tidak lihat, posisi tubuh kalian jelas-jelas terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan?”

Aku melihatnya seolah dia sudah gila “A…apa? Apa katamu? Bermesraan? Apa kau sudah tidak waras? Hah? Aku tidak kenal banyak orang disini, Aku juga tidak mengenal pria itu bagaimana aku bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu? ”

 Dia mengibaskan tangannya, “Sudahlah, sekarang semuanya tidak penting, Menyesal juga tidak ada guna nya.”

“ La—lalu. apa pengaruh dari ini semua?” tanyaku was-was

“Produksi film mu dihentikan sementara, bahkan kau terancam untuk digantikan. Karena menurut sutradara skandalmu dapat merusak filmya Dan syuting iklan kita hari ini pun dibatalkan. Hingga beberapa hari kedepan jadwal wawancara, promosi, pemotretan dan fashion show semua dibatalkan.”

Mulutku terbuka, menatapnya tidak percaya “Separah itukah?” 

Nammie mengangguk prihatin “Sepertinya begitu,dan skenario terburuk dari semua ini adalah mungkin kau akan dipulangkan ke Jepang. 

Aku menggeleng, tidak, itu tidak boleh. Karirku di Jepang tidak sebersinar disini. Aku tidak boleh pulang, aku masih memiliki tujuan.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?”

“Tidak ada“ Desahnya.  “Presdir yang akan mengurusnya, dia menyuruhmu untuk tidak kemana-mana dan bersembunyi dirumah baru mu saja. Untuk menghindari para wartawan.”

***

Ini hari keempat aku bersembunyi di rumah baruku. Di hari pertama aku masih bisa memaksakan diri untuk menjauh dari ponsel. Setidaknya dengan begitu aku tidak perlu membaca berita di internet, atau komentar-komentar jahat orang-orang.  

Menyibukkan diri sendiri dengan membaca buku, yoga, memasak, menonton maraton film yang belum sempat kutonton. Tapi setelah hari ini aku mulai muak berada di dalam rumah terus. Pikiranku jadi tidak fokus, dan otakku membayangkan hal yang tidak-tidak. Pada awalnya aku memang berniat menetap di korea karena itu aku  membeli rumah ini untuk ditinggali bersama ibu dan kakakku. 

Setidaknya di sini adalah kampung halaman ibuku, aku tau dia ingin pulang. Namun banyak pertimbangan dan keterbatasan jadi hingga saat ini keluargaku masih tinggal di Jepang. 

Tapi gara-gara skandal sialan itu, harapan untuk membawa pulang mereka kesini sepertinya jadi lebih sulit. Bagaimana jika aku benar-benar dipulangkan ke jepang? Bagaimana karir yang sudah  kubangun selama 4 tahun ini? dan yang terpenting adalah tujuanku memilih profesi ini sebagai jalan hidupku.

Tanpa sadar tanganku meraba pergelangan tangan tapi benda itu tidak ada disana. “Sial, Kemana gelangku?” 

Bangkit dari sofa, menyambar koper yang belum sempat ku bereskan. Mengeluarkan isinya dengan tidak sabar, seperti kucing yang mengais tempat sampah untuk mencari tulang. “Sialan! Tidak ada!” mengacak rambutku, memaksa otakku yang mulai karatan untuk mengingat-ingat. “Atau mungkin tertinggal di hotel? ” Menggeleng, aku tidak ingat pernah melepasnya, bahkan saat mandi. Bersamaan dengan itu ponselku bergetar. Dahiku berkerut melihat nomor asing di layar.

“Park Hyura.” Sahutku malas

“Nona Park?” Sahut suara berat.

“Hmm, Siapa kau?”

 “Kita pernah bertemu di pesta tempo hari, tapi belum sempat berkenalan. Aku Cho Kyuhyun, kau mengingatku?’

Aku memutar mata. Dasar penipu kampungan. “Maaf sepertinya kau salah sambung. Ku tutup teleponnya.”

Dia membalas dengan cepat. “Skandal.” katanya.

“Huh?”

“Aku bisa membantu menyelesaikan masalahmu saat ini”

“Bisa kau bicara lebih jelas?” tanyaku bingung

“Tidak bisa, aku tidak bisa menjelaskan melalui telepon, sebaiknya kita bertemu, aku akan mengirimkanmu alamatnya.” Dan sambungan terputus.

“YA!” memandang ponselku sendiri dengan kesal. Penipu Sialan! Namun di menit selanjutnya ponselku bergetar lagi tanda pesan masuk.

From: 010823XXX

Temui aku di basement sky line tower.

***

Setelah berdebat dengan diri sendiri akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya. Lagipula aku tidak rugi apapun. Jika dia benar bisa membantuku itu bagus, jika tidak, Well aku hanya perlu memanggilnya pria penipu.

Setelah memarkir mobil di tempat yang disebutkan pria penelpon tadi, aku mematikan mesin dan melihat sekeliling. Tapi sayangnya basement itu hampir kosong. Hanya ada beberapa mobil parkir dan tidak ada orang.

Kurasa si penelpon tadi memang penipu. Sial, aku hanya membuang-buang waktuku disini. Menyalakan mobilku lagi saat ponselku berdiring. Menekan tanda ponsel dikemudi dan terdengar suara berat itu lagi.

“Bukankah kau sudah sampai? Kenapa tidak turun?”

Memanjangkan leherku, melihat ke kiri dan ke kanan. “Kau dimana?”

“Aku di depanmu,” katanya. “Audy warna hitam. Kemarilah.”

Aku mengernyit. “Kenapa harus aku yang kesana? Bagaimana kalau kau mau menculikku?”

Dia tertawa. “Apa memang seorang artis otaknya sebodoh ini?”

“A..apa kau bilang? Bodoh?”

“Kau tau nomor ponselku, sekarang kau juga lihat mobilku. Apa menurutmu ada penculik yang memakai semua barang pribadinya terang-terangan?” katanya dengan nada sombong.

Aku tidak suka pria ini, dia terdengar sok dan menyebalkan. “Aku tidak akan kemana-mana.” kataku keras kepala.

Dia mendesah berat. “Kaca Mobilku lebih gelap, disini lebih aman, apa kau bisa melihatku dari sana?”

Aku menggeleng, meskipun dia tidak melihat aku tetap menggeleng.

“Aku yakin kau tidak bisa melihatku, karena itu kemarilah.”

Sial, dia benar. Skandalku akan tambah runyam jika ada yang melihatku bersama pria di mobil. Menghembuskan nafas berat saat menjawab “Oke.”

Mengambil topi bisbol di jok belakang sebelum turun dari mobil. Lalu menuju audy hitam yang terparkir tepat di depan mobilku.

Mobilnya berbau maskulin, joknya terbuat dari kulit dan dia benar, disini aman. 

“Selamat siang Nona Park.” 

Menoleh kesamping, aku melihat senyum sombong pria yang bernama Cho Kyuhyun. Dia memakai kemeja putih dan celana linen putih. Rambut coklatnya terlihat tebal dan berantakan namun justru karena itu dia terlihat menawan. Menggeleng keras. Fokus, Park Hyura! Fokus!

“Apakah kita harus saling memperkenalkan diri? Atau kita sudah melewati fase itu?” Tanyaku sinis. “Mengingat kau sudah tau nama dan nomor ponselku.”

Dia mengangkat bahu. “Terserah, apapun yang membuatmu nyaman. Kau bisa menanyakan apapun padaku.”

“Aku tidak penasaran apapun tentangmu” sahutku dingin. “ Jadi sebaiknya langsung saja ke intinya, jelaskan maksudmu di telepon tadi?”

“Sebelum itu, aku ingin bertanya, apa kau sama sekali tidak mengingatku?”

Dahiku mengernyit, melihatnya lebih seksama tapi itu sulit mengingat di basement ini sangat gelap. Menggeser dudukku lebih ke samping hingga lututku membentur persneling. Mataku menemukan matanya yang berwarna coklat gelap. Dia balas menatapku intens hingga kurasakan getarannya ke punggung belakang. 

Dia berbisik lembut di wajahku, “Kau mabuk?”

Suaranya terdengar familiar. Kemudian ingatan malam itu berputar di kepalaku dengan sangat jelas. Mataku melebar. “Kau…. pria itu? Yang membantuku?” Tapi tunggu, aku tau wajah itu. Astaga. Menutup mulutku dengan tangan. “Kau yang bersamaku di rekaman video? 

Dahinya berkerut tidak senang. “Dan kau baru menyadarinya sekarang? Tanpa permintaan maaf atau terima kasih?”

Mengangkat tanganku, “Tunggu dulu, sebenarnya apa yang terjadi malam itu? Aku tidak mengerti kenapa ada video kita berdua?”

Dia mengusap wajahnya kasar sambil mendengus. “Kau mabuk dan kau menabrakku” katanya jengkel. “Aku membantumu tapi managermu bilang aku tidak boleh membawamu keluar hotel karena banyak paparazzi, tapi kurasa dia salah, di dalam hotel juga banyak.” Katanya sambil memutar mata. “Kurasa aku diikuti salah satunya saat membawamu ke tangga darurat. Managermu yang memintaku menunggu disana, tapi gaunmu merepotkan dan kau tidak bisa jalan dengan seimbang jadi kita terjatuh. Dan sisanya seperti yang sudah kau lihat di video yang tersebar”

Aku menutup wajahku dengan tangan. Ya Tuhan, ini memalukan, seharusnya aku tidak mabuk. dan dia benar. Aku berhutang maaf dan terima kasih. Jadi aku menarik nafas sebelum menunduk dalam. “Aku benar-benar minta maaf, dan terima kasih sudah membantuku. Aku akan memberikan kompensasi yang layak.”

“Kau pikir aku butuh uangmu?” Dia mendengus, lalu menatapku sinis. “Uangku lebih banyak daripada bayaranmu selama satu tahun.”

Aku tidak tau bagaimana kedengarannya, tapi ekspresi mengejeknya dan ucapannya cukup menyinggungku. Aku tau aku salah, aku sudah meminta maaf dan berniat menunjukkan ketulusanku. Tapi si brengsek ini bahkan tidak menghargainya.

Aku tersenyum palsu, Rahangku mengerat saat bertanya. “Kalau begitu katakan saja apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku, aku tidak suka berhutang budi dengan orang asing.”

Dia menyeringai, seolah berkata ‘ini yang kutunggu’

“Menikahlah denganku.”

Aku mengerjap dua kali. Kurasa aku salah dengar. Jadi aku bertanya lagi. “Apa? Barusan kau bilang apa?”

“Kau sudah mendengarnya, aku yakin kau tidak tuli.”

“Ya aku dengar, aku hanya memastikan.”

“Me一ni一kah.” ulangnya penuh penekanan disetiap katanya. “Menikahlah denganku Nona Park.”

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari di dalam kabin Audynya yang mewah, atau mungkin di luar ada beberapa orang yang bersembunyi lalu berteriak ‘Kejutan’ atau ‘Selamat anda kena prank’

Aku tertawa. “Apa kita ada di acara kamera tersembunyi atau bagaimana?”

Kyuhyun melihatku tersinggung. “Apa maksudmu dengan kamera tersembunyi?一barusan aku melamarmu dan aku serius.”

Sekarang aku benar-benar tertawa. Melihatnya seolah dia tidak waras. “Apa ini masuk akal? Kita tidak saling mengenal, dan sekarang apa? Kau memintaku menikahimu? Apa kau gila?”

“Tidak, kita memang tidak saling mengenal. “Sahutnya hampir marah. Dia memajukan duduknya, menatapku keras. “Tapi kau membuatku harus menikahimu, karena video skandal itu membuat posisiku terancam, apa menurutmu disini hanya kau yang kena masalah?”

Seketika aku terdiam. Menelan ludah, karena ekspresi pria ini menakutkan. Aku tidak pernah memikirkan apa efek untuknya, aku juga tidak tau apa pekerjaannya sampai-sampai skandal itu juga mempengaruhinya.

“Maaf,” kataku pelan. “Aku memang akan bertanggung jawab, tapi bukan dengan menikah.” menggeleng. “Aku tidak bisa. Maafkan aku.”

Dia menatapku beberapa saat lalu menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya mendongak sombong. “Kalau begitu apa yang akan kau lakukan.”

 “Aku bisa menjelaskannya atau mungkin konferensi pers?”

Dia tertawa, mengejek lebih tepatnya. Wajah angkuhnya benar-benar menyebalkan.

 “Dan setelah itu bagaimana nasibmu? Apa kau pikir orang-orang itu menginginkan kebenaran?” Ekspresinya seperti ibu tiri Cinderalla saat tangannya terangkat mencoba menghela rambutku yang jatuh di dahi. “Tidak, Hyura Sayang. Skandal di negara ini mengerikan, kejujuran tidak menarik, penjelasan itu membosankan. Setelahnya kau tidak akan mendapatkan tawaran pekerjaan apapun.” dia memundurkan wajahnya. Menggeser telunjuknya di leher. “Dan karirmu tamat.”

Bohong saat kukatakan aku tidak gemetar mendengarnya. Karena dia benar. Setelah ini tidak akan ada yang tersisa untukku di sini. Seperti yang Nammie bilang skenario terburuk aku akan kembali ke Jepang, menunggu setidaknya dua sampai tiga tahun hingga orang-orang melupakan skandalku dan aku bisa memulai karirku lagi. Tapi dengan jeda selama itu apakah aku bisa memulainya dengan mudah?

Kyuhyun mengambil sesuatu di dashboard. Lalu menyerahkan kartu berwarna putih gading padaku. “Menikahlah denganku dan aku akan membantumu.”

Menunduk, membacanya.

Cho Kyuhyun

Abroad Director Operation

Cho Corp, Fashion, Ltd

Mendongak cepat, mataku melebar “Jadi perusahaanmu yang mengadakan acara fashion di hotel tempo hari?”

 Dia mengangguk. “Setelah kau menikah denganku, perusahaanku akan menjadi sponsor tunggal film yang sedang kau bintangi, dengan begitu produser tidak akan menggantikanmu dengan artis lain. Dan juga aku akan menjadikanmu sebagai brand ambassador perusahaanku. Karena perusahaanku dibidang fashion cukup terkenal maka dengan sendirinya popularitasmu akan naik— oh iya satu lagi kau juga tidak perlu was-was untuk dipulangkan ke jepang.”

Mulutku menganga, apa dia serius? Apa dia benar-benar bisa melakukannya?

Kyuhyun menyeringai melihat ekspresiku. “Bagaimana? Apa tawaranku menarik?”

Aku tidak akan bohong. Kedengarannya luar biasa. Menjadi brand ambassador fashion yang sudah terkenal di Asia bagi seorang artis pemula sepertiku mungkin membutuhkan bertahun-tahun dan ratusan audisi. Tapi dia, Kyuhyun menawarkannya semudah memberi permen pada anak kecil.

“Dan apa yang harus kulakukan?” tanyaku hati-hati.

“Setelah menikah, Ayahku akan memberikan posisinya padaku, sampai saat itu tiba tidak ada perceraian. Kau hanya perlu berperan sebagai istri yang baik, mudah.”

“A…aku tidak tau.” sahutku tidak yakin. Bagiku menikah adalah sesuatu yang besar. Meskipun hanya berpura-pura tapi aku tidak nyaman membohongi orang lain.

Dia mendesah berat. “Pikirkanlah, tapi aku tidak menunggu lama.” dia mengambil barang lain dari laci dashboard. Benda kecil tipis berwarna silver yang sangat kukenal. Tanpa meminta izin dia mengambil tanganku dan memasangkan gelang itu disana. “Malam itu, Gelang ini tersangkut di setelanku, kurasa ini benda penting jadi kukembalikan.”

Tatapanku turun pada gelang tipis yang harganya hanya 100 yen. Mengingatkanku kenapa aku datang ke negara ini, dan kenapa aku masih memakai barang murahan ini. Karena Aku ingin bertemu dengannya. Lee Donghae. 

Mengangguk lemah, aku berbisik. “Akan kupikirkan.”

***

“Hyura-ya!” Pekik Ibuku saat menjawab telepon. Kebiasaannya yang selalu antusias saat aku atau Leeteuk Oppa yang menelpon.

Tanpa sadar aku tersenyum.  “Eomma sibuk?”

“Yah, ini dan itu. Berkemas bukanlah favoritku.” katanya sambil tertawa. “Tapi favoritku akan segera bertemu denganmu.”

Senyumku semakin lebar. “Besok aku akan menjemputmu di bandara.”

“Kau tidak sibuk?” tanyanya khawatir. “Kau tidak perlu memaksakan diri, nak.  Aku tau kau sibuk, kata Nammie kau kurang tidur dan makanmu tidak teratur. Apa kau minum vitamin?”

“Eomma, Aku baik-baik saja”

Ibuku mendesah berat. “Ya kau selalu mengatakan itu.” kemudian terdengar suara dari latar memanggil Ibuku. “Sebentar lagi aku kesana,” kata ibuku pada orang di belakang.

“Kau masih bekerja?” daripada bertanya nada suaraku lebih terdengar menuduh.

“Kau tau aku selalu bekerja. Semakin banyak yang bekerja akan semakin bagus”

“Eomma…” keluhku.

“Aku harus pergi, Nak.” katanya cepat. “Nanti akan kutelepon lagi saat sudah di bandara.  Aku menyayangimu.” Katanya dan sambungan langsung terputus.

Mendesah berat saat melempar ponselku ke sisi sofa. Sejak dulu aku pasti akan kalah jika berdebat soal uang dengannya. Ibuku tipe orang yang sangat hemat, mungkin karena kami bukan berasal dari keluarga kaya. 

Ibuku adalah tipe pekerja keras, bahkan ketika aku sudah sukses dan memperoleh penghasilan yang cukup besar ia tetap tidak mau berhenti dari bekerja. Dia memiliki alasan “semakin banyak yang mencari uang akan semakin baik” begitulah menurutnya.

Aku tidak tau bagaimana reaksi ibuku nanti setelah tau bahwa skandal yang menimpaku. Aku juga tidak bisa memikirkan jalan keluar terbaik selain menikah dengan pria bernama Cho Kyuhyun.

***

Tepat setelah matahari terbenam Kyuhyun berdiri angkuh di samping mobil Audynya dengan setelah jas abu-abu, dan dasi berwarna senada. Dahiku mengernyit tidak suka. Apa keluarga konglomerat semuanya seperti ini? Mereka berpikir seolah dunia hanya berputar di sekitaran mereka. Lihat saja caranya melihatku seolah aku adalah pengemis dan dia Raja Charles.

Menunduk melihat gaun peach yang kupakai, sepatu putih, dan tas pink kecil kesayanganku. Kurasa penampilanku sebanding dengannya.

Aku menatapnya tidak suka. “Apa ya kau lihat?” 

“Gelang itu.” katanya melirik pergelangan tanganku. “Aku tau nilai sentimental, tapi kau harus menyesuaikannya. Maaf, tapi benda jelek itu tidak cocok dengan gaunmu.”

“Apa kita ada di acara America’s Next Top Model?” sahutku sinis. “Aku tidak lihat ada Tyra Banks disini.”

Dia memutar mata, membuka pintu penumpang. “Masuklah.”

Dia bilang tugas pertamaku adalah menemui orang tuanya, dan kami harus meyakinkan mereka bahwa hubungan kami nyata, dan bukan pura-pura.

“Aku lega kau menelponku lebih cepat daripada dugaanku.” katanya begitu duduk di balik kemudi. Dia menjalankan mobilnya keluar dari komplek apartemenku. “Ini,” Dia mengulurkan ponselnya padaku, aku mengambilnya. Di layar ada foto keluarga Kyuhyun. Disana ada dua orang tua yang kuyakini sebagai Ayah dan Ibunya, lalu ada anak laki-laki yang lebih muda berdiri disamping Kyuhyun. Mungkin dia adiknya.

“Ayahku orang yang keras pada siapapun, tapi kurasa dia akan menyukaimu.”

Aku memperbesar fotonya dan melihat Tuan Cho lebih seksama. Wajah tuanya tegas, dia memiliki bibir Kyuhyun yang penuh, juga hidungnya. Tapi mata mereka berbeda. Mungkin mirip Ibunya. Lalu beralih ke Nyonya Cho, alisku terangkat, dia tidak mirip sama sekali dengan Kyuhyun. Mata mereka berbeda, justru adik Kyuhyun yang memiliki mata yang sama dengan ibunya.

Mengembalikan ponselnya. “Bagaimana kalau mereka curiga?”

Dia melirikku sekilas. “Maka kau adalah artis kelas tiga.” ejeknya.

“Apa? Artis kelas tiga?”

“Jika mereka sampai curiga atau tidak mempercayai kita, aku akan menyalahkanmu, disini kau yang berprofesi sebagai artis, aku tidak punya bakat akting.”

Memutar tubuhku menatapnya kesal. “Kenapa kau membebankanya padaku?”

“Dan gara-gara siapa kita berada diposisi ini?”

“YA!…”

Aku ingin memakinya tapi dengan cepat dia memotongku. “Aku tidak suka sayuran, lulusan IVY league, bekerja di perusahaan sejak 7 tahun lalu,” Dia melirikku, “Bagaimana denganmu?”

“Huh?”

“Itu pengetahuan dasar, bagaimana jika ada orang bertanya tentang calon istriku.”

“Oh,” saat dia menyebut ‘calon istri’ bulu kudukku berdiri, seharusnya saat seorang pria menyebutmu begitu seharusnya perasaanku bahagia, tapi ini justru terasa aneh.

Aku berdehem, “Sejak kecil aku tinggal di Jepang一”

“Semua orang tau itu,” potongnya. “Informasi yang lebih pribadi.”

“Seperti apa?” tanyaku bingung.

“Apa makanan kesukaanmu, apa yang kau tidak suka, apa kau punya alergi?一ya semacam itu.”

“Aku suka semua makanan, aku bukan pemilih, aku juga tidak punya alergi. Kurasa semua informasi pribadiku juga bisa kau lihat di internet.” 

Dia melirikku lagi. “Benar-benar tidak ada?”

Aku menggeleng.

Dia mendesah. “Baiklah, Ibuku sudah meninggal, di foto itu ibu tiriku. Kurasa kau harus tau hal itu.”

Aku menatapnya lama lalu mengangguk. “Aku turut menyesal.” kataku tulus.

Dia tersenyum. Maksudku benar-benar tersenyum. Tidak ada sindirin, ejekan, tatapan sombong atau komentar tajam. “Terima kasih.” gumamnya pelan, tapi cukup keras ditelingaku.

Setelah perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Kyuhyun memarkirkan mobilnya di depan rumah dengan pagar besi tinggi. Begitu turun dari mobil, dia mengulurkan tangannya, aku tersenyum kaku saat menyambut tangan Kyuhyun yang besar dan hangat. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat saat tangannya menggenggamku lebih erat.

Akting, Park Hyura. Ini hanya Akting. Aku mengingatkan diriku sendiri.

***

Rumah orang tua Kyuhyun, tipe rumah besar bergaya lama dengan halaman besar. Berhubung sekarang masih bulan September, halaman besar itu berwarna hijau cerah dan bunga-bunga terawat di sekelilingnya, meskipun sudah ada beberapa daun yang gugur tapi tidak merusak keindahannya.

Dia membawaku melewati pintu masuk melalui lorong ke ruang tengah. Disana ada kedua orang tuanya tengah duduk. Ibunya langsung berdiri begitu melihat kami, sementara Ayahnya menurunkan koran yang tengah dia baca.

“Oh Kyuhyun-ah….”Kata ibunya tersenyum lalu senyumnya menghilang saat melihat ke tangan kami yang saling terpaut. Dia menoleh pada suaminya dan memanggilnya. “Yeobo,”

Kyuhyun menunduk singkat, aku mengikutinya. 

“Maaf aku datang mendadak.” katanya Kyuhyun. Dia melirikku sebelum menatap Ayahnya. “Appa, Ini Park Hyura. Dia kekasihku.”

Aku menunduk memberi salam. “Selamat malam, Salam kenal, Namaku Park Hyura.”

Ibunya yang pertama kali mendekat, dia tersenyum lembut dan melingkarkan tangannya di lenganku ya lain. “Senang sekali akhir Kyuhyun membawamu, kesini. Aku ibunya, kau bisa memanggilku dengan nyaman,” 

Memaksa menarik kedua sudut mulutku. “Y….ya, Tentu. Eomonim.”

Dia melihat kearah suaminya lagi yang sejak tadi tidak bicara. “Yeobo?”

Ayah Kyuhyun berdehem keras. Dia meletakkan koran, lalu berdiri dengan kakinya. “Ini waktunya makan malam, kuharap kalian belum makan.” 

“Ayo, Hyura-ya.” Ibunya menarikku ke ruang makan dan genggaman tangan Kyuhyun terlepas. Sejujurnya pegangan tangan Eomonim lebih tidak nyaman ketimbang Kyuhyun.

Kami berempat masing-masing duduk berhadapan di meja makan yang cukup untuk dua belas orang. Sementara menunggu pelayan keluarga ini menyajikan makanan, Ibunya bertanya lagi.

“Jadi, sudah berapa lama hubungan kalian?”

Kyuhyun langsung menjawabnya tanpa ragu. “Dua tahun.”

Ibunya menutup mulutnya, “Oh Ya ampun, sudah selama itu dan kau baru membawanya kesini sekarang?”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dia ini asal bicara atau bagaimana? Dua tahun lalu aku bahkan masih di Paris.

“Hyura baru kembali beberapa bulan lalu, jadi kami memang berhubungan jarak jauh.” 

Aku menoleh padanya, lalu Kyuhyun tersenyum sekilas ke arahku. Dia tau?

Kemudian pelayan membawakan empat set nampan makanan. Mereka menyajikan makanan tradisional korea, ikan panggang, sup dan beberapa lauk juga nasi. Kyuhyun berbicara padaku tanpa suara. “Makanlah”

Aku mengangguk, sementara ayah dan ibunya juga mulai fokus pada makanan. Tapi dalam beberapa suap suara berat Ayah Kyuhyun menginterupsi. 

“Jadi, Nona Park sebelum disini kau tinggal dimana?”

Belum sempat aku menjawab, Kyuhyun memotongku. “Dia berkarir di Prancis.”

Ayahnya menatap Kyuhyun tajam. “Aku tidak bertanya padamu, Nak. Aku bertanya pada calon menantuku.”

Dibawah meja aku meremas tangan Kyuhyun, mengisyaratkan agar dia diam. 

Aku tersenyum.“Ya, Aboenim.” sahutku. “Aku bersekolah model dan berkarir di Prancis. Setengah tahun lalu aku kembali ke Korea setelah belasan tahun, jadi aku minta maaf kalau aku belum bisa memahami budaya dasar di sini.”

Abonim terlihat tertarik. “Oh jadi kau besar di Prancis?”

Aku menggeleng, “Tidak, aku besar di Jepang. Aku dan keluargaku pindah ke sana saat aku kecil.”

“Jepang ya?” Aboenim tersenyum kecil. “Apa kalian berdua bertemu di sana?”

Kali ini Kyuhyun yang menjawab. “Ya, saat aku berkunjung ke rumah nenek.”

Sekarang wajah Ayah Kyuhyun tidak sekaku tadi. Dia makan sambil terus tersenyum sebelum bertanya lagi. “Jadi kau dari Miyazaki?”

Aku menggeleng “Tidak aku dari…” bersamaan dengan itu kurasakan tendangan di kaki. Apa sih? Aku membalas dengan menendang tulang kering Kyuhyun. Dia meringis dan terbatuk.

Eomonim menatapnya. “Kyuhyun-ah kau tidak apa-apa?” 

Dia mengepalkan tangannya dan menutupi mulut sambil menggeleng. “Aku baik-baik saja.” katanya lalu melirikku kesal.

Ayahnya ingin bertanya lagi namun belum sempat dia buka suara Kyuhyun mendahuluinya. “Appa, berhentilah mengintrogasinya. Kami kesini untuk membicarakan masalah penting.”

Ayahnya meletakkan sumpitnya menatap putranya menunggu.

“Kami akan menikah.” Kata Kyuhyun, otomatis membuat tubuhku menegang. “mungkin terdengar tiba-tiba tapi aku Dan Hyura sudah memikirkannya dengan matang.”

Ayahnya menyipit. “Memikirkan dengan matang? Atau kau terpojok karena skandal video itu?”

“Ya aku terpojok,” sahutnya sama sekali tidak gentar. “Karena aku tidak ingin orang-orang berbicara  buruk mengenai kekasihku, jadi sebaiknya kami menikah saja, lagipula kami saling mencintai.”

Bisa di bilang aku cukup terkejut dengan kemampuan pria ini. Kurasa dengan wajahnya dia bisa jadi aktor yang hebat. Lihat saja cara bicaranya begitu tegas dan meyakinkan.

Ayah dan ibunya saling pandang sesaat, lalu Ibunya memajukan duduknya menatapku serius. “Nona, apa kau hamil?”

Aku tersedak, Kyuhyun buru-buru menyodorkan segelas air padaku, dia menepuk-nepuk punggungku lembut. “Kau tidak apa-apa” bisiknya.

Aku mengangguk.

Sementara Kyuhyun mendongak menatap ibunya tajam. “Hyura tidak hamil. Jangan menuduhnya sembarangan dan aku tidak akan mempermalukan keluargaku seperti itu.”

“Dan kau pikir video itu tidak mempermalukan keluargamu?” Tanya Ayahnya.

“Appa, itu salah paham. Kami memang bersama dan  aku tidak tau aku diikuti paparazi. Tapi kami tidak melakukan hal yang orang-orang itu bicarakan.”

Ayahnya memejamkan mata, mendesah berat lalu berdiri. “Kalau sudah selesai, temui aku di perpustakaan.”

Aku dan kyuhyun mengikuti Abeonim ke perpustakaan. Ruangannya tepat sebelum tangga.  Di sana cukup terang dan luas, sepanjang dinding terdapat rak-rak yang dipenuhi dengan buku. Di tengah-tengah ruangan terdapat sofa dan meja yang besar. Aku dan kyuhyun duduk berhadapan dengan abeonim.

“Kalian benar-benar akan menikah?” Aboenim menatap kami berdua serius. 

 Kyuhyun meraih tangan dipangkuanku dan menggenggamnya. “Ya, Appa.”

Aboenim mengangguk-angguk sambil berpikir sesaat lalu menatap Kyuhyun hati-hati. “Bukan karena Jino dan perusahaan kan?”

“Appa,” desahnya. “Aku menyayangi Hyura, skandal itu menghambat karirnya dan hanya dengan menikah masalah ini selesai, aku tidak peduli dengan perusahaan.”

Aku melirik Kyuhyun ngeri, bagaimana bisa kebohongan begitu mudah mengalir dari mulutnya. Terlebih lagi dia membohongi orang tuanya. Ya benar, aku artis dan perkerjaan ku berakting tapi bukan berbohong. Detik itu juga aku menyesal duduk di hadapan Tuan Cho, dia seperti orang baik. Tapi aku membohonginya mentah-mentah.

Kau benar-benar bodoh Park Hyura.

“Itu bagus. Kalau begitu aku mendukungmu.” sahut Aboenim, dia melihatku lalu tersenyum. “Selamat Datang di keluarga ini, Hyura-ya.”

Aku mengangguk dan menunduk, tidak berani menatapnya atau mungkin aku akan menangis. Karena bagiku ini tidak benar. Membohongi mereka demi karirku tidaklah sepadan. 

Saat itu kurasakan tangan Kyuhyun melingkari pinggangku dan menarikku mendekat. Mulutnya turun dan berbisik. “Semuanya akan baik-baik saja, Hyura-ya”

TBC

Leave a Comment