SAMWISE { PART 5}

Happy Reading & Sorry for Thypo

@miss_hoon

Seperti kembali ke masa lima tahun lalu. Di mana Lee Donghae tiba-tiba saja di angkat menjadi wakil direktur dalam semalam. Taukah kalian rasanya terbang ke lantai sembilan belas lalu tiba-tiba diterjunkan ke bawah tanpa aba-aba?

 Jangan dibayangkan karena itu menyakitkan.

 Setelah lulus kuliah aku mengabdikan waktu dan otakku hanya untuk JPKorean. Perusahaan keuangan yang Ayahku dan Ayah Donghae bangun. Itu juga alasan kenapa mereka merawatku setelah kecelakaan  orang tuaku. Mereka mengamankan si ahli waris. Tentu saja.

Tapi penentuan wakil direktur seharusnya dilakukan setelah rapat tahunan pemegang saham. Mereka menyalahi aturan dan masih menganggapku bocah. Jadi hari itu juga aku mengundurkan diri dan membangun bisnisku sendiri.

Tidak mudah, sama sekali tidak mudah.

Aku berusaha melupakannya. Tapi terkadang rasa sakit dikhianati itu muncul ke permukaan.

Jika saat itu tiba biasanya memukul samsak berjam-jam cukup membantu tapi sekarang aku memilih minuman.

Aku merasa hari itu datang lagi. Saat bangun kepalaku masih berputar, perutku bermasalah dan bauku seperti kotoran. Aku tidak ingat aku muntah, dan mendesah lega aku tidak mengingat momen menjijikan itu.

Pagi itu aku terlambat satu jam, bukan tanpa alasan, aku masih berbau alkohol jadi kuputuskan untuk mencari sup penghilang pengar sekitar kantor. Lumayan berhasil saat tiba di kantor kesadaranku pulih sepenuhnya.

“Selamat pagi, Tuan Cho.” Sapa Young ji begitu aku melewati pintu kaca. 

Aku mengangguk padanya.

 “Direktur Lee mencarimu, kau terlambat.”

“Apa ada masalah?”

Dia menggeleng. “Aku tidak tau.”

“Oke.” sahutku dan langsung menuju ruanganku.

Hingga sisa hari sungmin tidak terlihat, dia juga tidak menghubungiku jadi kupikir itu bukan masalah. Sampai saat jam makan siang dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Mau makan siang?” tawarnya.

Aku menggeleng. “Tidak, terima kasih.” Perutku masih tidak enak, lagi pula aku masih terlalu kenyang karena sup pengar tadi pagi.

Dia tidak menutup pintu atau pergi seperti biasanya. Dia justru membuka pintu lebih lebar, bersandar dikusen sambil menyilangkan tangan depan dada. Ada senyum usil dan ingin tau di sana.

“Apa?”

Alisnya menari-nari, “Tidak ingin membicarakannya? Gadis piyama yang kau bawa kemarin.”

Park Hyura?

Dan momen itu kembali berputar di kepalaku seperti kaset rusak. 

“Sial,” aku mengumpat dan berdiri seketika, melewati sungmin yang kebingungan. Dia berteriak kesal memanggilku tapi aku tidak menoleh. Aku harus memastikan sesuatu.

Berjalan cepat ke Club Jazz, aku ingat meninggalkan mobilku di sana kemarin. Aku juga ingat pulang dengan taksi. Tapi bagaimana aku bisa masuk kerumah dan tidur ditempat tidur, aku tidak ingat. Atau mungkin aku ingat.

Tunggu dulu.

Ingatanku terasa samar. Aku melihat Hyura di depan apartemenku, lalu kami berpelukan, dan bibirnya….. Dibibirku?

Aku menggeleng keras. Tidak, itu tidak mungkin.

Kami tidak mungkin berciuman. 

Itu pasti mimpi. 

Kemudian langkahku terhenti. Tanganku terangkat, Memegang bibirku, dan aku masih merasakannya disana. Bibir Hyura yang lembut dan basah, bagaimana aku mengerang menyebut namanya, lalu bagaimana tubuh kami yang menempel begitu pas.

Itu terlalu nyata kalau menyebutnya sebagai mimpi.

Menarik rambutku, berteriak seperti orang kesetanan “Dasar bajingan Gila! Apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun!” 

Mempercepat langkahku ke parkiran Club Jazz. dan menemukan mobilku masih di tempat semalam.

***

Setelah memeriksa ke kedai kopi aku naik ke atas. Rumah itu terlihat sepi. Dan Sebelum mengetuk aku memikirkan berbagai macam cara dramatis untuk meminta maaf seandainya dia marah atau tersinggung, atau mungkin dia mau menuntutku karena pelecehan. 

Menarik nafas dalam lalu mengetuk pintu dua kali. 

Bunyi kunci dibuka membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Dan di sanalah dia. 

Begitu luar biasa dengan kaus pink sederhana dan celana tidur. Wajahnya polos dan mengantuk. Persis seperti the princess and the pea.  Rambut coklatnya jatuh berantakan membingkai wajahnya dengan sempurna.

 “Kyuhyun?” tanyanya serak

“Kau sedang tidur?  di jam segini?” 

Dia mengusap matanya lalu menguap. “Aku begadang一Klien mengejarku seperti penagih hutang.” dia membuka pintu lebih lebar. “Masuklah,”

“Kau punya dateline lagi?” tanyaku sambil mengganti sepatu dengan sandal rumah. Hyura menutup pintu di belakang.

Dia menggumam mendahuluiku, tanpa menoleh dia mengatakan. “Duduklah, anggap rumah sendiri. Berikan aku tiga menit.” lalu dia menghilang dari balik pintu.

Ketika mengambil duduk di sofa tidak ada si makhluk berbulu oren yang meringkuk disana. Dia sedang berguling di dekat dapur, lalu Harry mendongak saat aku masuk tapi sepertinya dia tidak peduli, jadi dia merebahkan lagi kepalanya.

Hyura kembali dengan wajah setengah basah, sepertinya dia hanya mencuci mukanya dan menyikat gigi. Tersenyum padaku seperti biasa, dia menuju dapur. “Mau kopi?”

“Hyura-ya,” panggilku. Dia berbalik, menunggu. 

Aku bertanya dengan hati-hati. “Semalam一apakah kau datang kerumahku?” 

“Semalam?” mata coklatnya membesar. “Kenapa kau bertanya begitu? Apa ada sesuatu?”

Menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Biasanya aku bukan pemalu, aku juga bukan orang yang suka bertele-tele. Saat aku menginginkan A maka aku akan mengatakan A. Kami kaum laki-laki bukan orang yang suka main tebak-tebakan. Kami suka yang singkat, jelas dan langsung ke inti.

Tapi berhadapan dengan Hyura semua konsep itu tidak berlaku. 

“Semalam aku…sedikit mabuk.” aku mengeditnya sedikit, mengatakan mabuk berat itu cukup memalukan. “Dan kukira….kupikir一aku melihatmu di rumahku.”

Sekarang dia berbalik sepenuhnya menghadapku, matanya berubah serius tapi bibirnya bergetar menahan senyum. “Apa di rumahmu ada hantu yang mirip denganku?”

“Ya!”

Dia tersenyum geli. “Kau lucu sekali. Jadi, kebiasaan mabukmu berhalusinasi melihat orang lain?”

“Halusinasi?” gumamku pelan. Bayangan kami berciuman,terekam jelas di kepalaku. Dan sekarang aku merasa benar-benar konyol. Seputus asa apa diriku sampai-sampai memimpikan kami berciuman, lalu berharap itu nyata?

Aku berdiri dengan harga diri yang patah. Bukan hanya pada Hyura, aku juga malu pada diriku sendiri.

Sepertinya menceburkan diri ke sungai Han masih trend saat ini.

Berpaling, menyembunyikan wajahku sambil berbicara cepat. “Sebaiknya aku pergi.”

“Tidak, kau tidak akan.” sahut Hyura tegas. Dia mendekat. Berdiri beberapa langkah dariku. “Kemarin kau pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun padaku, sekarang katakan padaku,” dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Memandangku menuntut “Apa aku menyinggungmu? Apa ceritaku membuatmu marah atau justru terlalu membosankan sampai kau tidak sanggup mendengarnya lagi?”

“Soal kemarin, aku minta maaf. “Aku mengakuinya dengan jantan. Mendengar cerita mengharukan orang yang kau benci dengan orang yang kau sukai bukanlah favoritku. 

Ekspresi Hyura melembut, dia semakin mendekat dan berhenti didepanku. “Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Bukan apa-apa. Mungkin aku terlalu banyak pikiran.”

Tangannya terangkat menyentuh lenganku, posisinya persis seperti bayanganku semalam. Tapi hari ini aku sepenuhnya sadar. Jadi apapun yang terjadi aku tidak boleh mengacau.

“Apa karena itu juga kau mabuk?”

Aku mengangkat bahu, mundur selangkah hingga membuat tangannya terjatuh. Tatapannya turun melihat jarak kami sesaat, sebelum mendongak dan memaksa tersenyum. 

  “Kau mau makan dulu sebelum kembali?”

Aku tidak ingin makan, perutku masih tidak enak. Tapi aku ingin disini. Bersamanya. Jadi aku mengangguk. Lalu senyum Hyura melebar sempurna hingga matanya.

“Akan kumasakkan sesuatu.” Dia berseru dan hampir melompat saat berbalik. Dari meja dapur Hyura setengah berteriak. “Kau boleh bersantai, atau menonton TV, terserah.”

***

Hyura membuat sup pengar. Sup yang sama yang kumakan tadi pagi. Aku tidak yakin bisa memakannya lagi. Tapi ini buatan Hyura, bukan buatan Ahjuma restaurant yang tidak ku tahu namanya. Bahkan jika dia membuatkan sup basi dengan racun tikus mungkin aku akan memakannya. Oke itu tidak masuk akal. Maksudku apapun yang Hyura buatkan khusus untukku aku tidak akan menolak. Apapun.

Hyura memberikan semangkuk nasi beserta sumpit juga sendok. “Makanlah.” katanya dengan mata penuh harap. Seperti seorang ibu yang memberikan makanan untuk anaknya.

Aku mencobanya sesuap. Dan kuakui sup ini enak jadi aku menuang nasi ke dalam mangkok sup lalu mengambil suapan kedua.

“Enak?” tanyanya hati-hati.

Aku mengangguk.

Ini Lebih daripada enak. Makan siang bersama Hyura, dirumahnya yang hangat dan sederhana, bukan hanya enak, tapi sempurna.

Dia tersenyum lega. “Senang mendengarnya.” katanya lalu dia mengambil makanan untuknya sendiri.

Disuapan kedua obrolan kami mengalir dengan lebih mudah. Aku bertanya mengenai dateline yang sedang dia kerjakan, dia bertanya mengenai pekerjaanku di kantor, apa saja yang kukerjakan dan bagaimana kami mendapatkan uang. Hyura mendengarkannya dengan seksama seolah itu penting untuknya. Seolah apa yang kukerjakan penting untuk diketahuinya. Dan hal itu membuat rasa berdenyut di dadaku semakin parah.

“Kapan kau akan mengajakku ke rumah Donghae lagi?” tanyanya saat aku meletakkan sendok, dengan sup dan nasi yang sudah tidak tersisa.

“Aku tidak tau.” sahutku jujur.

Dahinya mengerut. “Kau harus menjenguknya, Kyu. Pastikan dia baik-baik saja.”

Mengusap sudut mulutku dengan tisu lalu memandangnya. “Percayalah jika dia mati aku adalah orang pertama yang diberitau oleh orang tuanya.”

Ekspresi Hyura menggelap. “Kuharap kau tidak serius mengatakannya.”

“Dan Kuharap kau berhenti berlebihan.” Kataku. “Lee Donghae berada dirumahnya sendiri, dia akan baik-baik saja disana. Ibunya tidak akan tiba-tiba berubah menjadi nenek sihir atau Ayahnya berubah menjadi orc.” Hyura ingin membantah tapi aku tidak berhenti. “Kita baru kemarin ke sana. Mereka akan mencurigaiku kalau aku datang lagi dalam waktu dekat. Semua orang tau hubunganku dengan Donghae tidak sedekat itu.”

Hyura menurunkan pandangannya ke meja, “Aku hanya cemas.” gumamnya pelan. Dia tersenyum kecut. “Maaf, kalau aku terdengar menyebalkan.”

“Ya, kau terdengar menyebalkan.” kataku jujur. Ada banyak hal lain untuk dibicarakan, misalnya cuaca, nilai tukar uang, berita politik atau mungkin dunia hewan. Kenapa sih dia harus membicarakan Lee Donghae terus?

“Dengar, aku akan mengunjunginya lagi, tapi tidak dalam waktu dekat.”

Hyura hanya mengangguk lemah sebagai balasannya. Hingga beberapa menit dia hanya menunduk tanpa mau melihatku, pikirannya seperti tidak ada disini, sampai aku sendiri yang harus memecahkan keheningan. 

 “Apa yang kupikirkan?” tanyaku pelan.

Dia mendongak menatapku ragu, menggigiti bibir bawahnya lalu mendesah. “Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan…. Donghae?” tanyanya hati-hati. “Kukira kalian seperti saudara karena tinggal satu rumah.”

“Saudara?” aku hampir mengernyit jijik saat mengucapkannya. “Apa kau serius menganggap kami seperti itu?”

Hyura mengangkat bahu. “Yang kudengar ayah dan ibunya membesarkanmu cukup lama, jadi kukira hubungan kalian sudah seperti keluarga.”

Aku tertawa hambar. “Aboenim tidak punya pilihan selain merawatku atau saham ayahku akan dibekukan oleh pengacara keluarga kami, jadi dia mengamankanku sebagai ahli waris dan menjalankan perusahaan yang sudah ayahku dirikan. Dan dengan tidak tau malunya dia mengangkat Lee Donghae menjadi atasanku. Jadi kalau sekarang kau menganggap kami keluarga itu benar-benar penghinaan, Hyura-ya.”

Dia meringis. “Maaf, aku tidak tau soal itu.” katanya menyesal. “Apa karena itu kau tidak menyukai mereka?”

Aku mendesah berat dan menyandarkan punggung di tepi sofa. “Ada banyak hal sebenarnya, tapi ya itu salah satunya.” Hyura membuka mulutnya untuk bertanya lagi tapi aku memotongnya cepat. “Bisakan kita tidak membicarakannya?”

Hyura membasahi bibirnya dan mengangguk. Wajahnya berubah seketika saat berdiri. “Sebaiknya aku membereskan ini.” katanya sambil mengambil mangkuk kosong dan berjalan ke dapur. Aku mengikutinya dengan melakukan hal yang sama. 

“Apa yang kau lakukan setelah ini?” tanyaku saat dia meletakkan beberapa mangkuk dan piring kotor ke bak cuci.

“Huh?”

Aku mengambil sarung tangan pink yang mau dia pakai, lalu memakainya untukku sendiri. Hyura terlihat tidak setuju tapi aku menyalakan keran dan membasuh mangkuk pertama. 

“Maksudku kau tidak perlu ke rumah sakit lagi, jadi apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil menyerahkan mangkuk bersih yang sudah kubasuh padanya. Dia mengambilnya lalu meletakkan di tempat pengering.

“Aku akan turun ke kedai setelah ini.” katanya lalu mengambil mangkuk kedua yang kusodorkan. “Hanya itu pekerjaan yang bisa kulakukan.”

“Kau belum memikirkan tawaranku?”

Hyura mendongak, melihatku ragu. “Aku belum pernah bekerja di perusahaan, aku takut mempermalukan diriku atau lebih parahnya mengecewakanmu.”

Aku merasakan bibirku tertarik. “Aku sudah melihat hasil designmu, dan itu luar biasa.” mengambil mangkuk terakhir untuk kusabuni. “Kau bisa mencobanya dulu, Hyura-ya. Tidak perlu penuh waktu, dan kau bisa menyesuaikan dengan jam kerjamu dengan klien yang lain.” Aku mematikan kran lalu melepas sarung tangan. Bersandar di konter, menunggu Hyura menimbang-nimbang tawaranku. 

Suaraku terdengar lebih lembut dan serak saat membujuknya lagi. “Ayolah, menghabiskan waktu hanya dikedai kopi tidak akan semenyenangkan itu.”

Mata berliannya menatapku, masih banyak keraguan disana. “Aku… tidak yakin.”

Aku menyentuh bahunya, memutarnya hingga kami berhadapn. “Hyura-ya, setidaknya cobalah dulu beberapa hari. Kalau kau merasa tidak cocok kau bisa berhenti kapan saja.”

Dia menatapku dari bulu matanya meskipun masih terlihat ragu tapi akhirnya dia mengangguk lemah.

Aku tersenyum konyol. Karena membayangkan memiliki Hyura di kantor sepanjang hari membuat jantungku berdebar lebih cepat karena kegembiraan.

“Apa besok kau bisa datang? Kau harus wawancara dengan Sungmin Hyung. Tapi jangan khawatir, itu hanya formalitas, bagaimana?”

Dia menatapku was was, khawatir “Jam berapa aku harus datang?”

“Aku bisa menjemputmu.”

“Oke.”

***

Tepat pukul sepuluh pagi aku sudah menunggu Hyura di depan kedai kopi. Dia muncul dengan rambut ikal tebal一sepunggung berwarna oranye. Riasan wajah seperti Mad Hatter, dengan mata hijau kecoklatan, pewarna mata merah, dan warna kulit hampir ke abu-abuan. 

Ditambah gaun lusuh berwarna merah gelap, dengan motif gambar kartu king, queen dan jack. Di padu sepatu booth warna hitam. Dari semua itu hanya sepatunya yang terlihat normal.

Aku mendesah dalam. Sungmin Hyung tidak akan menyukainya.

Namun keanehan itu pudar seiring dia mendekat. 

Matanya masih seperti berlian dibalik kontak lens. Bibirnya yang penuh namun sekarang pucat kecoklatan dan wajahnya yang berbentuk hati. Dia masih Park Hyura yang sama.

Senyumnya begitu lebar ketika dia berdiri didepanku. “Selamat pagi, Kyu.” dan hanya dengan itu kehangatan menyebar disuluruh perutku lalu naik ke dada.

“Kau sudah siap?” 

Dia mengangguk.

Aku membukakan pintu penumpang untuknya lalu setelah dia masuk, aku berlari ke kursi pengemudi.

Di pintu masuk lobby, Youngji menyapaku. Lalu setelah itu beralih pada Hyura. Mulut gadis itu terbuka dan matanya membelalak ngeri. Aku tidak bisa menyalahkannya. Di lift dan di basement beberapa orang juga bereaksi yang sama. Seandainya bisa, aku ingin mengantongi Hyura disaku jaket agar orang-orang itu tidak menatapnya.

“Direktur Lee sudah datang?” Tanyaku mengalihkan perhatiannya.

Butuh dua detik untuk Youngji mengangguk dan menjawabku “Ya, Dia di ruangannya.”

Aku tersenyum Samar. “Terima kasih.” melirik ke Hyura “Ayo.”

Kami melewati lorong pendek sebelum ruangan kaca Terbuka di sisi kiri. Di sana ada tempat tim Changmin yang sebagian kubikelnya selalu kosong, lalu tim web design dan tim administrasi di bagian ujung. Di sisi kanan terdapat pintu-pintu tempat ruangan Sungmin Dan beberapa ruang meeting kecil juga pantry.

Saat Kami melewati dinding kaca hampir semua orang berdiri ataupun menoleh dari kubikel mereka, melihatku dan Hyura一penasaran. 

Mencoba menghalau tatapan para staff dan mengetuk pintu ruangan Sungmin dua kali sampai dia menjawab dari dalam.

“Hyung,” sapaku saat membuka pintu. Dia mendongak lalu melotot dan berdiri saat melihat siapa yang ada dibelakangku.

Menutup Pintu dibelakang,  menarik tangan  Hyura hingga kami berdiri bersisihan di depan meja Sungmin.

“Hyung, ini Park Hyura, dia yang akan menggantikan Jason.” beralih pada Hyura. “Hyura-ya, Dia direktur Lee Sungmin sekaligus pimpinan di sini.” 

Hyura tersenyum ramah, “Kita sudah bertemu beberapa kali, tapi tidak punya kesempatan untuk saling memperkenalkan diri.” Dia menunduk dalam. “Aku Park Hyura. Senang bertemu denganmu dan mohon bantuannya.”

Sungmin tidak memperdulikan Hyura, dia menatapku seolah aku sudah gila. Mulutnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu tapi hanya udara yang keluar dari sana. Seolah-olah dia kehilangan kemampuan berbicaranya.

“Hyura-ya.” Panggilku.

Dia menoleh. “Kau Tau ruanganku dimana?” Dia mengangguk. “Bagus, kau tunggu disana, Sementara tim SDM akan mengurus administrasimu”

“Oke.” Sahutnya ringan, lalu Menunduk singkat pada Sungmin sebelum keluar.

“Katakan,” kataku setelah kami hanya berdua. “Apa kau harus bertampang seperti itu padanya?” Serius aku tidak tau Lee Sungmin bisa bersikap seperti ibu tiri dari cinderella yang terkejut saat pangeran mengetahui ada gadis lain dirumahnya.

“Aku yang harusnya bertanya Padamu, apa kau serius mau mempekerjakannya disini?一bukankah sudah kubilang kita tidak Akan bekerja dengan pacar….”

“Dia bukan!” Potongku keras.

Sungmin mendesah berat. “Yah apapun itu,” katanya mengalah. “Aku tetap tidak setuju Dia bekerja dengan Kita?”

Aku menatap sahabat sekaligus rekanku ini dengan keras. “Hyura memenuhi persyaratan, Dia memiliki Kompetensi yang kita butuhkan, tidak ada alasan kenapa kita tidak bisa mempekerjakannya. Lagipula kau yang menyuruhku untuk Menangani karyawan baru. Dan aku melakukannya.”

“Kau tau bukan itu masalahnya, Kyu ” katanya penuh kesabaran. “Kau lihat Jason? Dia juga memenuhi persyaratan dan dia hebat dalam pekerjaannya. Tapi sikapnya yang seenaknya merusak kerja sama tim. Kita tidak membutuhkan orang seperti itu.”

“Hyura tidak akan seperti itu.”

Sungmin mendengus. “Apa kau tidak lihat penampilannya? Menurutmu apa tim lain mau bekerja dengannya?”

Rahangku mengerat. Mungkin jika orang lain aku bisa mengabaikannya. Tapi dia Sungmin, meskipun tidak bermaksud menghina  tapi ucapannya membuatku jengkel.

“Hyura bisa memakai apapun yang dia inginkan, dia disini karena kemampuannya.” Kataku rendah dan penuh penekanan. “Dan jika ada yang mempermasalahkan penampilannya, siapapun dia, dia bisa berhadapan denganku.”

Sungmin memejamkan matanya dan menghembuskan nafas berat. “Baiklah,” katanya mengalah. “Dia hanya pekerja paruh waktu kan?”

Aku masih menatapnya keras saat mengangguk. “Ya itu rencana Awalnya. Tapi saat permintaannya meningkat dia akan menjadi pegawai penuh waktu.”

Sungmin mengangkat bahu. “Kurasa permintaan tidak akan meningkat dalam waktu dekat, jadi….terserahlah.”

“Aku kesini hanya untuk memberitahumu dan bukan meminta izin.”

Sungmin duduk dan menatap laptopnya. Dia berbicara tanpa melihatku. “Jangan lupa meeting dengan tim Changmin nanti siang.” sahutnya tanpa memperdulikan ucapanku. Aku mengangguk dan keluar dari sana.

Menuju tempat para staff duduk, di balik dinding kaca. Aku mengumumkan一dengan keras dan jelas. “Hari ini pengganti Jason datang, kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik, dan apabila ada keberatan atau keluhan kalian bisa langsung bicara padaku.”

Mereka saling lirik一bertatapan satu sama lain sebelum menggumamkan kata ‘baik, oke, mengerti’ lalu kembali ke kursi masing-masing. Sementara aku menuju meja Yuri一kepala tim administrasi.

Dia berdiri saat melihatku mendekat. Matanya tersenyum ramah. “Ada yang bisa kubantu wakil direktur Cho?” 

“Bisa ikut keruanganku?” Dia mengangguk.

Aku berjalan di depan Yuri, dan membuka pintu ruanganku. Hyura langsung berdiri mendengar kami masuk. Dia tersenyum padaku, lalu matanya menemukan Yuri dan menunduk hormat.

Aku tidak perlu menoleh lagi untuk melihat reaksi Yuri, yang jelas dia tidak lebih baik dari Youngji saat melihat penampilan Hyura. Aku tidak menyalahkannya, karena semua orang begitu. 

“Hyura, Ini Yuri, dia kepala tim administrasi di sini. Dia yang akan membantumu untuk registrasi.” Beralih pada Yuri. “Nona Yuri, ini Park Hyura. Dia pengganti Jason, kuharap kau bisa membantunya beradaptasi.”

“Salam kenal, “ Kata Hyura. “Mohon kerja samanya.”

Yuri melirikku sekilas sebelum tersenyum ragu dan menunduk membalas Hyura. “Kalau begitu, Nona Park bisa ikut denganku.”

Mata hijau kecoklatannya melebar antusias. Dia mengambil tas di kursi. “Ya. tentu saja.”

Yuri mundur selangkah untuk mengisyaratkan agar Hyura keluar terlebih dulu. Sebelum keluar Hyura menoleh singkat padaku sambil tersenyum, aku mengangguk dan berbicara tanpa suara. “Sampai ketemu nanti.”

***

Kemudian sisa hari itu berjalan sangat cepat. Aku sempat melihat Hyura duduk di meja bekas Jason saat melintasi dinding kaca waktu berjalan ke ruang meeting. Tempat duduknya berada diantara anggota web design dan tim developer. Dulu saat bekerja Jason menciptakan tempatnya sendiri. Berandalan itu sangat sombong dan susah diatur, tapi karenanya Hyura jadi punya tempat yang nyaman. Dia tidak harus bergaul atau berpura-pura ramah dengan staff lain. 

Dia tempatku berdiri aku bisa melihatnya begitu serius, dan kurasa dia tidak peduli dengan keadaan sekitar. Aku juga tidak mendengar ucapan tidak mengenakkan atau semacamnya dari karyawan lain. Meskipun begitu aku tidak bisa mencegah mata mereka selalu melirik Hyura saat melewati mejanya.

“Lap air liurmu, kau terlihat menjijikan.” desis Sungmin di sampingku. 

Aku meliriknya jengkel. “Apa-apaan sih?”

Sungmin membuka pintu ruang meeting. Aku mengikutinya masuk lalu menutup pintu dibelakangku. “Kau tau apa yang ku bicarakan.” dia menatapku beberapa saat lalu menggeleng prihatin. “Kukira kau seperti Lee Donghae, ternyata lebih parah.”

Menarik kursi kasar dan mendudukinya. “Jangan samakan aku dengan si brengsek Lee Donghae.” aku bermaksud untuk memakinya lebih kasar tapi kurasa tidak akan terdengar begitu, mungkin karena hubungan kami belakangan ini mulai mencair. Hal itu juga terlihat bagaimana reaksi Sungmin. Dia mengangkat sebelah alisnya canggung.

“Terserah.” omelku sambil memutar mata.

Dia menarik salah satu kursi di depanku. Menyalakan laptop dan proyektor sambil berbicara lagi. “Kupikir kau berkencan dengan gadis piyama? Kenapa sekarang begini lagi? ”

Dahiku berkerut, “Gadis piyama?”

Matanya bertemu denganku, ada senyum usil disana. “Ya, gadis yang memakai piyama krem tempo hari一” dia bersiul. “Tidak bisa kupungkiri, gadis itu seksi.”

Rahangku mengerat dan mengumpat tertahan. Hanya karena dia Lee Sungmin yang mencegahku tetap duduk disini, Bukannya menarik kerahnya lalu memukul mulut sialannya. Dia menyadari ekspresiku yang menggelap, lalu tanganku yang tanpa sadar terkepal di atas meja.

“Woo santai, bro.” Sergahnya cepat. “Itu pujian. Karena kukira kalian cukup serius, kau tidak pernah membawa wanita manapun ke kantor.”

Aku menyesapi perkataan Sungmin dengan hati-hati. Dia benar, aku tidak pernah membawa wanita manapun ke kantor atau kerumah. Tapi dengan Hyura, secara sadar aku sendiri yang memintanya untuk datang. Aku bertanya-tanya, seberapa besar rasa sakit hati yang harus kutanggung seandainya Hyura menyadari perasaanku dan dia tidak bisa menerimanya. Dan seberapa besar itu mempengaruhi hubungan kami?

“Hey,” Panggil Sungmin. Aku mendongak. “Kau oke?” tanyanya.

“Ya, tentu.”

Dia ingin bertanya lagi tapi terpotong dengan suara Changmin di pengeras suara lalu wajahnya muncul di layar besar.

Menegakkan tubuhku, karena ini akan jadi diskusi yang panjang

***

Tepat sebelum pukul tujuh malam aku mematikan komputer dan lampu ruangan. Bersiul saat menuju tempat Hyura. Dia sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Meja staf lain sebagian besar kosong dan gelap. Hanya tersisa satu orang dari bagian web dan beberapa orang administrasi.

“Hey,” panggilku lembut. Menyandarkan pinggulku di kubikelnya.

Dia mendongak, bulu mata madhater-nya yang berwarna oren mengerjap lalu tersenyum.

Aku merindukanmu adalah kata-kata yang tidak bisa kuucapkan dengan keras. Ya ini gila, kami di tempat yang sama, kantor yang sama, tapi karena pekerjaan sialan, meeting yang tidak berujung, membuatku  tidak bisa menonton Hyura seperti yang sudah kurencanakan. 

“ Kau belum selesai?”

“Tidak, aku sudah selesai.” dia menutup buku catatannya dan mematikan laptop. Rambut ikalnya berjatuhan di tulang selangka saat dia menunduk mengambil tasnya. “Bagaimana denganmu?”

“Kau tidak tau bagaimana leganya aku sudah berdiri disini dan mematikan komputer menjengkelkan itu.” kataku menyeringai. Tanganku terulur begitu saja saat dia mencangklongkan tas dibahu. Seolah sudah terbiasa tanpa perlu melihat tanganku ataupun bertanya Hyura menyambutnya. Aku menutup jari begitu jemari Hyura ditanganku, menguncinya. Sesaat aku berdoa untuk tidak pernah melepasnya. 

“Apa kau sesibuk itu?” tanyanya saat kami melewati lobby yang sudah gelap. Aku membuka pintu kaca untuk kami dan menuju ke lift.

“Tidak juga,” sahutku. “Tapi ada hari dimana terjadi ini dan itu, lalu ada hari dimana aku bahkan tidak tau apa yang harus kukerjakan.” kataku kemudian menelengkan kepalaku melihatnya, “Bagaimana dengan hari pertamamu?” tanyaku bersamaan dengan pintu lift terbuka. Kami masuk dan aku menekan tombol basement.

“Aku tidak tau ternyata bekerja di kantor ternyata cukup menyenangkan.” katanya dengan senyum yang tidak pernah meninggalkan wajahnya. Memutar tubuhku dan menghadap Hyura, tertarik. “Meskipun bekerja sendiri tapi ada saat dimana bagian lain tidak bisa melanjutkan pekerjaannya jika desainku belum selesai.” dia melirikku. “Rasanya berbeda dengan dikejar klien, ini seperti bentuk tanggung jawab yang berbeda, kau tau.”

Aku mengangguk. Hyura melanjutkan.

“Dan bayarannya pasti,” katanya semakin antusias. “Aku bisa menerima uang setiap bulan itu kesenangan yang lain, biasanya aku harus menyelesaikan desainku dulu baru setelah itu aku menerima bayaran.”

Lift berdenting, dan terbuka. Aku menariknya keluar. Tapi Hyura tidak berhenti bicara.

“Lalu makan siang, camilan dan minuman gratis di sela jam kerja,” Hyura tertawa. “Aku tidak pernah menerima makanan gratis begitu banyak.” 

Aku tidak bisa tidak tersenyum. “Jadi, ini apa yang kau dapatkan?”

“Oh tadi gadis di resepsionis yang bernama Youngji membelikanku sandwich, dia baik sekali, lalu camilan roti dari adminstrasi lalu minuman tapioka dari Direktur Lee.” 

Aku membukakan pintu penumpang, Hyura masuk dan tangan kami terlepas. “Besok camilan apa yang kau inginkan? Atau makan siang? Besok jadwalku lebih luang.” tanyaku masih berdiri di sisinya. 

Dia menoleh, wajahnya begitu dekat dan tanpa bisa kucegah tatapanku turun ke bibirnya yang berwarna oranye karena lipstik. Kemudian bayangan kami berciuman muncul lagi di otakku yang konslet. Ciuman itu jelas-jelas tidak nyata tapi aku merasakan sentuhan bibirnya di ujung lidahku. Kurasa aku benar-benar sudah gila.

“Kyu?” tanyanya

Aku mendongak, “Ya?”

“Kau tidak dengar?”

“Huh?”

“Tentang jam kerjaku?”

Jam kerja? Memang ada apa dengan jam kerjanya?

“Uhm, yeah, aku…. Maaf aku tidak mendengarkannya.”

Hyura mendesah sambil memutar mata.”Masuklah, kita bisa cara sambil jalan.”

Benar, ini mobilku tapi dia yang menyuruhku masuk. Detik itu juga aku merasa bodoh dengan terus-terusan berdiri dipintu penumpang yang terbuka.

Menuruti Hyura, aku berlari ke sisi pengemudi, memakai sabuk pengaman dan menjalankannya.

“Jadi一ada apa dengan jam kerja?” tanyaku begitu kami keluar dari parkiran gedung.

“Aku hanya pekerja paruh waktu, jadi aku hanya bekerja dua kali seminggu.”

Meliriknya sekilas. “Hanya dua hari?”

Hyura mengangguk. “Jadi besok kau tidak perlu membelikanku makanan. Aku akan datang lagi di hari kamis berikutnya”

Aku tidak tau pekerja paruh waktu hanya bekerja dua hari dalam seminggu, karena seingatku alasan Jason sering tidak masuk karena memang dia membolos dan bukannya soal jam kerja. Ini buruk, aku tidak suka ide kami bertemu hanya dua kali dalam seminggu. Itu sama sekali tidak cukup untukku. Besok aku harus membicarakannya dengan Sungmin dan Yuri. 

“Besok jadwalmu lebih luang?” Tanyanya lagi memastikan.

“Ya, besok tidak ada pertemuan apapun,” sahutku.

“Kalau begitu一Apa besok kita bisa menjenguk Lee Donghae?” tanyanya penuh harap.

Sejujurnya aku juga tidak suka ide itu. Tapi hanya itu alasan agar aku bisa menemuinya lagi, jadi dengan terpaksaa aku mengangguk.

***

Keesokan harinya, Tepat sebelum jam makan siang aku mengetuk pintu gerbang rumah Donghae. Berharap tidak ada siapapun di dalam saat menekan bel tapi tentu saja harapanku pupus secepat kabut berasap saat mendengar Eomonim yang menjawabnya.

“Ini aku.” kataku pada interkom. Tidak ada jawaban dari dalam tapi terdengar bunyi pintu terbuka. Aku melirik pada Hyura melalui kaca mobil lalu menggeleng lemah. Mengisyaratkan bahwa hari ini dia tidak memiliki kesempatan untuk masuk.

Wajah Eomonim jauh dari kata ramah, aku sudah terbiasa. Tapi hari ini dia menunjukkan bahwa wanita tua ini membenci dunia dan seisinya begitu melihatku. Terlihat dia berdiri bersedekap di ruang tamu seperti medusa dengan ular di sekelilingnya. 

Aku menunduk memberi hormat.

Tidak ada kata jawaban atau sambutan darinya. Aku juga tidak mengharapkannya, dan yang ada hanya tatapan kebencian

“Aku tidak mengerti,” desisnya. “Bagaimana kau bisa selamat dan berdiri disini sementara Donghae kami tidak bisa bangun setelah satu tahun padahal kalian berada di situasi yang sama.”

Tanpa sadar aku menelan ludah. Namun aku tidak terbiasa mengalah atau takut dengannya, jadi aku mengangkat daguku saat membalas. “Eomonim, bisa menanyakannya pada Donghae setelah dia sadar. Karena dia yang menyetir hari itu.” 

Rahangnya mengerat, dan matanya berair dengan wajah sakit hati. “Ya, dan jika hari itu tiba kupastikan kau akan menerima balasan yang setimpal.”

 “Aku sudah menerimanya, Pembedahan berkali-kali dan sendirian.” Suaraku terdengar jauh di akhir kalimat.

Aku tidak pernah mengingat  orang tuaku sebanyak saat aku di rawat di rumah sakit.  Saat itu aku benar-benar kesakitan dan kesepian. Membayangkan seandainya Eomma dan Appa masih hidup. Lalu Merasa tidak adil, dengan segala hal yang menimpaku. Kehilangan orang tua, dititipkan, kecelakaan.

Aku ingat Waktu pertama kali aku tiba di St Carol Singapore, hampir semua Dokter dan suster bertanya ‘dimana keluargamu?’ dan saat aku hanya bisa menggeleng sebagai jawabannya mereka akan tersenyum prihatin, memandang sedih atau hanya mengangguk tidak peduli.

Bisa dibayangkan setahun penuh perawatan dan rehabilitasi tanpa keluarga dan kerabat. Aku benar-benar melaluinya sendirian. Sementara Lee Donghae memiliki segalanya disini. 

Dia menyeringai seperti nenek sihir. “Dan kau bisa mendapatkan perawatan itu karena uang kami.”

Apa nenek tua ini serius? Uang kami?

Suaminya mengambil perusahaan ayahku, anaknya mengambil jabatanku dan sekarang dia bilang apa? Uang kami?

Aku menatapnya tajam dan hendak membalasnya keras, tapi semua ucapan itu berhenti diujung lidahku. Aku menahannya sekuat tenaga, jika kami bertengkar dan berakhir Eomonim mengusirku maka semua usahaku sia-sia. Dan Hyura akan sedih atau lebih parah lagi dia bisa saja nekat.

Memejamkan mataku sambil menarik nafas dalam. Menarik paksa sudut bibirku. “Ya tentu terima kasih.” kataku dari balik gigi yang terkatup. “Sekarang apa aku boleh menjenguk Donghae?”

Tanpa mengatakan apapun dia berbalik dan masuk ke dalam. 

Setelah tidak terlihat aku naik ke lantai dua menuju kamar Donghae. Membuka pintunya dan hampir terjungkal saat melihatnya berbaring di dekat pintu. Tanpa sadar aku mengumpat

Menutup pintu di belakangku memastikan Eomonim tidak ada disekitar kami, aku melotot ke arahnya. Dia berbaring tepat di depan pintu, dengan mata tertutup. Melangkahi tubuhnya lalu meletakkan tanganku di pinggang. “Apa sih yang kau lakukan!” bentakku kasar. “Apa kau gila?”

Perlahan matanya terbuka. Dia menatap langit-langit. “Aku hanya membayangkan bagaimana rasanya nanti tidur di peti mati.” katanya datar. “Kurasa aku butuh latihan. Disana pasti lebih sepi.”

Menyandarkan pinggulku di kaki tempat tidur rumah sakitnya saat berdecak. “Kurasa kau memang sudah tidak waras.”

Dia masih menatap langit-langit. Suaranya terdengar jauh. “Kau juga akan mengalaminya jika dikurung disini berhari-hari. Di sini lebih buruk daripada penjara. Tidak ada orang yang datang atau mengajakmu bicara, sekarang suara mesin-mesin itu terkadang terdengar seperti suaraku sendiri.”

“Ini rumahmu.” aku mengingatkan. “Disini ada orang tuamu dan Ahjumah, bagaimana mungkin tidak ada orang yang datang.”

“Ya mereka membuka pintu, melihatku一bukan, mereka tidak melihatku一mereka melihat mesin-mesin itu, memastikan aku masih hidup setelah itu mereka pergi.”

“Kalau begitu jalan-jalan saja, apa susahnya mengelilingi rumah.”

Kali ini dia menoleh, melihatku mengernyit. “Aku tidak bisa jauh-jauh dari tubuhku, kau tau itu.”

Mengendikkan bahuku, “Aku tidak tau.” atau tidak peduli.

Dia menegakkan tubuhnya lalu berdiri. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Menjengukmu.” sahutku sinis, dahinya berkerut bingung dan sebelum dia bisa bertanya lebih jauh aku menjelaskan. “Untuk Hyura lebih tepatnya. Kau pikir aku mau datang kesini lalu bertemu ibumu?” memutar mataku. “Sampai mati jangan berharap.”

Donghae mendengus lalu raut wajahnya berubah serius. “Jadi bagaimana?一kau sudah membicarakannya dengan Hyura?”

Aku mengangguk. “Tapi kurasa aku harus bertemu dengan Siwon dulu.”

Kali ini dia melihatku bingung. “Untuk apa bertemu Siwon.”

Meliriknya malas. “YA! Kau pikir memindahkan aset hal yang mudah? Aku butuh pengacaramu untuk berjaga-jaga agar Hyura tidak kena masalah.”

Dia berjalan ke meja belajarnya. “Bantu aku memindahkan uang terlebih dulu baru setelah itu kau mengurus sisanya dengan Siwon” dia menunjuk laci meja. “Buka laptopku.”

Aku tidak bergerak. “Aku tidak akan melakukan apa-apa tanpa bantuan pengacara.”

“Ya! Kau pikir ini kantor polisi?” omelnya. “Kau hanya perlu memindahkan uangku ke rekening Hyura, setidaknya uang itu cukup untuk perawatan beberapa bulan.”

Melipat tanganku di depan dada, menatapnya bosan, “Pertanyaan paling mendasar, apa orang tuamu mau memindahkanmu lagi ke rumah sakit? Terakhir dari yang kuingat ayahmu bahkan tidak mau mendengarkanku.”

“Kau bisa membujuknya.”

“Aku? Membujuk ayahmu?” Aku melihatnya seolah dia tidak waras “Omong kosong apa itu? Kau tau bagaimana ayahmu.””

Dia tersenyum miris, hampir menyedihkan. “Tapi kau juga tau, Masalah keluargaku hanya uang, aku mendengar ayahku berulang kali menyebut biaya rumah sakit yang harganya gila-gilaan. Jadi, jika kau bisa membujuknya dengan alasan perawatan gratis kurasa ayahku pasti akan setuju.”

Aku menggeleng. “Tidak aku tidak akan melakukan apapun, itu terlalu beresiko.”

“Ini hanya memindahkan uang yang tidak seberapa, kenapa kau mempersulitnya?”

Aku tidak menjawabnya,  dan dia tau aku tidak menuruti keinginannya.

Si Bodoh itu mengerang frustasi. “Ayolah Kyu, ini hanya langkah awal, memindahkan uang juga butuh waktu, aku tidak memintamu bicara pada ayahku sekarang.”

“Aku kesini hanya untuk melihatmu dan bukan berdiskusi tentang hal ini lagi, aku tidak akan melakukan apapun.” kataku, Donghae ingin membantahku tapi aku memotongnya cepat. “Sebaiknya aku kembali.”

Aku berbalik tapi perkataan Donghae menghentikanku. “Semakin cepat aku kembali ke rumah sakit maka kau tidak perlu datang kesini lagi lalu bertemu orang tuaku.”

Aku berhenti tapi tidak berbalik. Dia melanjutkan. “Hyura tidak akan berhenti menyuruhmu datang, dan yang lebih parah menunggu Choi Siwon akan memakan waktu selamanya, kau sendiri yang bilang, memindahkan aset tidak semudah itu.”

Memutar tubuhkan dan memandangnya malas. “Karena sebenarnya aku berharap kau mati saja sebelum sempat kembali kerumah sakit.”

“Ya!”

Aku Mendekat dan menatapnya tajam. “Kau pikir aku peduli? kau pikir aku akan membiarkan Hyura mendatangimu lagi setiap hari一mengurusmu?” aku menyeringai, “sebaiknya kau nikmati saja waktumu disini bersama orang tuamu.”

Jika dia bisa menghajarku kurasa dia akan melakukannya tapi dia tidak bisa dan aku menikmati ekspresinya yang tersiksa一putus asa. Tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah licik. Matanya menyipit. “Kau menyukainya Kan? Park Hyura!”

Seringaian sombong di wajahku hilang seketika. 

“Kau pikir aku buta? Aku bisa melihat dari caramu menatapnya.”

Aku mendesis. “Bukan urusanmu.” 

“Kira-kira bagaimana Reaksinya jika dia tau kebenaran kecelakaan kita, Kyu? Bagaimana kalau dia….” Bajingan ini tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat aku merangsek maju mencoba menarik kerah bajunya, tapi aku hanya menggapai udara. Kenyataan pahit bahwa ternyata aku juga tidak bisa memukulnya Membuat perasaan kesalku menggumpal di perut.

Brengsek.

Dia mundur selangkah, lalu berdecak. “Kau dan tempramenmu.” Dia menggeleng Pelan. “Kau mau memukul jiwa yang tidak punya tubuh? Tidak heran bagaimana kita berakhir begini.”

Aku menggeram “Tutup mulutmu.”

Donghae menghela nafas panjang. “Begini saja, kita buat perjanjian.”

Dahiku berkerut. “Perjanjian?”

“Eoh, soal kecelakaan. Saat aku sadar aku tidak akan membicarakan atau menyinggungnya. Apa yang terjadi hari itu hanya diantara kita. Dan pembicaraan kita di mobil waktu itu juga anggap tidak pernah ada. Itu murni kecelakaan. Bagaimana?”

Menyilangkan tangan didepan dada. “Bagaimana aku bisa percaya padamu?”

“Saat mengalihkan asetku pada Hyura kau memegang semua informasi rahasiaku yang bahkan orang tuaku tidak tau. Apalagi yang kau butuhkan?”

“Itu tidak cukup, tidak ada jaminan Saat kau membuka mata kau tidak bisa menutup mulut sialanmu.”

Dia memutar mata. “Kalau begitu tulis saja surat perjanjian.”

Aku mendengus. “Kau pikir ini kesepakatan bisnis.”

“Kalau begitu buat saja menjadi kesepakatan Bisnis. Kau membantuku memindahkan aset, aku bisa memberikanmu komisi, dan pernyataan soal kecelakaan digaris bawahi sebagai informasi rahasia, Atau kekayaan intelektual atau apa sajalah, dan apabila ada salah satu dari kita ada yang membocorkannya saham di JPKorea yang jadi dispensasinya.”

“Ha ha ha, Lucu sekali,” ejekku. “Saham ayahku di JPKorea Lebih dari dua puluh persen, sedangkan kau tidak punya, bagaimana Mungkin itu sebanding?”

Seringaian Sombong itu muncul lagi. “Kau harus memeriksanya Lebih seksama, Kyu. Itulah gunanya rapat umum pemegang Saham tahunan, yang ngomong-ngomong tidak pernah kau hadiri.”

“Berapa banyak milikmu?” Tanyaku Malas.

“Buatlah dulu perjanjiannya, setelah itu pindahkan uangku secara bertahap ke rekening Hyura baru aku akan membukakan dokumen perusahaan.”

Aku mencerna ucapannya beberapa Saat. Tapi jika si Brengsek ini sadar dan membuka mulutnya lalu mengoceh soal kecelakaan kami, aku yakin Hyura tidak Akan sudi melihatku lagi. Dan ya aku butuh jaminan. Jadi dengan berat hati Aku berjalan ke meja belajarnya Dan berkata. “Di mana laptopmu?”

Kemudian Donghae tersenyum Puas.

***

Meskipun bertahun-tahun tinggal dirumah Ini, hari ini adalah waktu terlamaku berada Di kamar Lee Donghae. Sekitar empat puluh tujuh menit kalau kalian penasaran. Aku kembali ke mobil dengan menggerutu setelah menulis perjanjian kami. Dia memberikanku capnya, lalu aku mentransfer Lima puluh juta won ke rekening Hyura. Si bodoh itu memiliki batas maksimal Transaksi hanya lima puluh juta perhari, sementara dia memiliki sekitar tiga milyar di rekening utamanya, meskipun tidak banyak tapi aku harus melakukannya sekitar enam puluh kali. Yang benar saja?

“Bagaimana? Apa Donghae baik-baik saja? Apa ada perubahan? ” Hyura memberondongku dengan pertanyaan saat masuk mobil. Hari ini Hyura berpenampilan seperti nenek-nenek petani. Baju kebesaran dengan warna yang mencolok dan tidak serasi. Lalu riasan wajah seperti artis tahun enam puluhan, alis lancip, pewarna mata biru, pipi merah dan rambut gelap keriting membingkai wajahnya. 

“Ya dia masih hidup, dan dia baik-baik saja.” sahutku bosan. “Ngomong-ngomong Apa kau punya SMS banking?”

Hyura terlihat bingung sesaat lalu menggeleng.

Aku mendesah. “Kau harus mengecek rekening bankmu secara berkala, setelah hari ini mungkin kau akan mendapatkan transferan uang dari rekening Lee Donghae.”

“Apa? Kenapa?”

“Untuk biaya rumah sakit, seperti yang kukatakan sebelumnya. Setelah itu aku akan membujuk Aboenim untuk memindahkannya kembali ke rumah sakit.”

“Jadi itu yang kalian rencanakan?”

Aku mengangguk singkat.

“Kau yakin Donghae baik-baik saja?”

“Ya ampun Park Hyura!” keluhku.

Tapi dia tidak mendengarku dan bertanya lagi “Bagaimana penampilannya? Apa wajahnya bersih? Apa bajunya diganti?” 

Mengangkat bahu. Karena memang  aku tidak memperhatikannya, atau tidak peduli. Tapi tunggu…

Menelengkan kepala dan melihat Hyura hati-hati, “Apa kau dulu juga menggantikan baju untuknya?”

Hyura mengangguk polos.

Tubuhku menegang, rasa panas dari dada menyebar ke perut hingga kepala, tanpa sadar tanganku mencengkram kemudi. “Jadi bukan hanya membersihkan wajah, kau juga menggantikan baju?” Geraman rendah terdengar dari pangkal tenggorokanku. “Jangan bilang kau juga membersihkan tubuh bajingan itu!” Aku tidak ingin mendengar jawabannya, karena jika dia bilang iya, maka otakku akan membayangkan tangan Hyura meraba-raba tubuh Si brengsek Lee Donghae. Dan aku bersumpah akan kembali ke dalam, mencabut semua alat-alat sialan itu dari tubuhnya. Persetan dengan perjanjian, jika dia mati semuanya selesai. Hyura tidak perlu mengurusnya dan kecelakaan hanya akan menjadi cerita kecelakaan.

Dahi Hyura berkerut mendengar makianku. “Apa sih yang kau pikirkan?”

“Yang aku pikirkan?” suaraku terdengar kasar dan tidak sabar. “Kau meraba-raba dan mengambil keuntungan dari Lee Donghae.”

Kepala Hyura terlempar kebelakang dan tawa renyah keluar dari mulutnya. Jika aku tidak sekesal sekarang mungkin aku akan ikut tertawa, bagaimana tidak, biasanya tawa Hyura sangat menular. Tapi kali ini tawanya membuatku semakin kesal.

“Apa disini aku sedang melucu?”

Masih dengan wajah geli dia menggeleng. “Kau berpikiran terlalu jauh, bagaimana mungkin aku bisa meraba-raba pasien? Jika Dokter dan perawat tau mereka bisa mengusirku. Lagipula Donghae memiliki banyak alat ditubuhnya aku tidak bisa mengganti baju atau membersihkannya begitu saja. Biasanya Suster Jung yang melakukannya dan aku hanya membantunya menyiapkan baju pengganti.”

“Oh,” Seharusnya aku malu karena berpikiran yang tidak-tidak, tapi anehnya aku tidak merasa begitu. Perasaan lega yang mendominasi.

“Jadi一Lee Donghae baik-baik saja di dalam sana?”

“Kau bisa menanyakan hal itu seratus kali lagi dan aku akan menjawabnya dengan hal yang sama.” sahutku sinis. Tapi seperti biasa, hal itu tidak berpengaruh pada Hyura, Dia malah tersenyum tulus. 

“Kyuhyun-ah, Terima kasih untuk hari ini.” 

Senyum licik terbit diwajahku, meliriknya sekilas sebelum menyalakan mobil. “Kapan kubilang ini gratis? Kau harus membayar waktuku.”

Hyura menegakkan tubuhnya lalu menghadapku. Ekspresinya berubah serius. “Apa ini sejenis pekerjaan paruh waktu? Aku harus membayarmu dengan gaji per jam?”

“Bisa dibilang begitu.” kataku sambil mengedipkan sebelah mata. “Kau tau, bayaranku per jam sangat mahal.”

Mulutnya terbuka sesaat lalu tergagap. “Be…berapa? A…aku, aku tidak bisa membayarmu kalau terlalu mahal, tidak bisakah aku mentraktirmu saja?”

Aku berdecak seperti nenek-nenek. “Berapa kali kau harus mentraktirku agar impas?”

Dia menggigit bibir bawahnya dengan cara yang menggemaskan. “Semahal itu? Tidak bisakah kau memberiku diskon?”

Aku terkekeh. “Aku hanya ingin kau memikirkan ulang lagi sebelum memintaku untuk datang kesini karena bayaranku cukup mahal, untuk kali ini aku bisa memberikanmu diskon spesial, kau bisa membuatkanku makan siang.”

Mata bulatnya yang hari ini berwarna abu-abu pekat melebar. “Makan siang?” Hyura mengangguk. “Tentu aku akan membuatkannya untukmu. Ada sesuatu yang ingin kau makan?”

Salah satu sudut bibirku terangkat. “Kita ke suatu tempat dulu.”

***

Kami mengunjungi supermarket di dekat rumah Hyura. Membeli bahan-bahan untuk membuat steak. Aku mendorong troli sementara Hyura memilih bahan yang dibutuhkan. Berjalan bersama, berdiskusi, bahkan berdebat karena selera kami yang berbeda, oh  tentu saja aku tidak melepaskan tangannya dari genggamanku. Kami persis seperti pengantin baru. Semuanya sempurna kecuali tatapan-tatapan aneh yang memandangi Hyura. 

Saat dikasir dan membayar aku mengeluarkan kartuku. Sebelum Hyura bisa mengatakan sesuatu aku memotongnya. “Kau yang memasak, aku yang membayar. Terdengar adil bukan?”

Dia hanya mengangguk setuju dan kami berjalan ke mobil.

Di rumahnya, Harry berlari kecil begitu kami membuka pintu. Dia mengusap-usap kepalanya ke kaki Hyura, meminta perhatian. Hyura mengangkat dan menggendongnya, “Anak pintar.” katanya sambil mengelus kepala Harry.

Aku melirik bola berbulu abu-abu itu di pelukan Hyura, dan aku bersumpah melihat seringain sombongnya padaku.

“Bajingan.” gerutuku.

“Apa” tanya Hyura dari balik bahu.

“Dia benar-benar Voldemort.”

Hyura hanya tertawa kecil lalu menggeleng. Dia menurunkan Harry ke bantalnya di sudut tv. Sementara aku meletakkan belanjaan kami di konter dapur. 

“Cari tempat duduk yang nyaman” katanya lalu berjalan ke pintu. “Beri aku waktu dua menit.” setelah itu dia menghilang dari balik pintu kamar. Mengambil duduk di sofanya aku menyalakan tv dan langsung menampilkan berita CNN luar negeri. Ron mendongak dari bantalnya saat mendengar suara tv tapi dia meletakkan kepalanya lagi tidak peduli. Sementara Harry menancapkan cakar-cakarnya di tiang yang sudah Hyura siapkan di sisi bantal.

Saat pintu kamar terbuka tubuhku menegang. Maksudku benar-benar menegang sacara harfiah dibagian tubuhku yang lain. Hyura mengganti bajunya dengan kaos putih tipis kebesaran, bisa dibilang hampir transparan. Aku bisa melihat bra pinknya dari tempatku duduk. Dan dia memakai celana pendek katun coklat yang hanya menutupi pangkal pahanya. Astaga, Ya Tuhan, dia memiliki tungkai yang indah, dan sekarang aku tidak bisa memikirkan apapun selain menjilatinya.

“Kyu….Hyun…. Kyuhyun-ah, Kyu…..Ya! Cho Kyuhyun!”

Aku mendongak一bingung. Apa yang kulewatkan?

Dia mendekat. “Kau melamun?”

 Da sekarang aku bisa melihat wajahnya lebih jelas, Polos bersih tanpa riasan, matanya coklat cairnya melihatku penasaran. Rambutnya digelung ke atas, menampilkan tulang selangkanya yang menggiurkan. 

Menelan ludah. “Eh? Ya…uhm, Tidak, maksudku ya sepertinya aku melamun.”

Hyura mendengus sambil tertawa. “Mau bantu aku?”

Aku mengangguk kaku. “Tentu.”

Aku berdiri menyusulnya kedapur. Hyura sudah mengeluarkan sayuran dan daging, dia membuka bungkusannya di meja bar lalu mengambil pisau. “Kau bisa memotong sayuran?” tanyanya.

“Ya tentu, hanya memotongkan?” 

Hyura menyerahkan bungkusan jamur dan brokoli padaku sementara dia menyiapkan saus dan membumbui daging.

“Apa kau setiap hari memasak?” tanyaku saat mengeluarkan sayuran dari bungkusnya.

“Ya bisa dibilang begitu.” sahutnya. “Memasak jauh lebih hemat ketimbang makan di luar.”

Hyura melirikku dan memastikanku memotong dengan ukuran yang benar. Dia mengangguk lalu berjongkok mencari sesuatu di kabinet bawah. Kausnya terangkat saat dia mengangkat bokongnya lebih tinggi. Dan untuk pertama kali aku melihat bokongnya yang bulat, kencang siap untuk kugigit lalu….. ”Awww….. Sialan!”

Hyura berdiri lalu menjerit melihat tanganku penuh darah.  Wajahnya memucat, ketakukan saat kata-katanya meluncur dengan cepat dan tidak jelas. “Ya! Apa yang kau lakukan! Kenapa memotong tanganmu sendiri?” 

“Ini hanya luka kecil.” kataku meringis. “Punya plester atau semacamnya?”

“Oh, Tidak….tidak…. Kita harus ke UGD,” Hyura menutup mulutnya dengan tangan, seolah dia mau muntah. “Ya Tuhan, banyak sekali darahnya.”

“Ini bukan apa-apa Hyura-ya, Kita tidak akan ke UGD hanya karena goresan kecil.” aku mengangkat tanganku yang tidak terluka. “Jadi, tolong ambilkan plester dan….tenangkan dirimu.”

Hyura mengusap wajahnya, berjalan kesana-kemari di dapurnya yang kecil sambil  menarik nafas dalam. “Oke…baiklah…” katanya lebih pada diri sendiri. “Plester? Ya…aku punya.” dia melirikku. “Tunggu sebentar.”

Sementara Hyura mencarikan plester untukku, aku berdiri ke wastafel menyiram luka dengan air. Rasa nyerinya cukup membuatku meringis tapi masih bisa kuabaikan. Darah masih keluar dari sana namun air mengalir membuatnya tidak bertahan lama, dan aku bisa melihat jariku tergores cukup dalam. Well, Inilah akibatnya kalau bermain pisau sambil memelototi bokong wanita. 

Hyura kembali dengan kotak obat kecil berwarna putih. Aku mematikan keran dan berbalik padanya. Sudut mataku melihat jamur yang baru setengah dipotong bercampur dengan darahku di meja bar.

 Aku tersenyum minta maaf. “Maaf, sayuranmu jadi rusak.”

Hyura sibuk mengeluarkan salep dan plester saat menjawab. “Kau masih memikirkan sayuran saat jarimu hampir putus?” Sahutnya jengkel. “Kemarikan tanganmu!”

Mengulurkan tanganku yang terluka dan Hyura mengurusnya dengan baik. Bersamaan dia melakukannya aku tidak bisa menahan senyum konyol di wajahku. Aku yakin dia akan menganggapku idiot.

Hyura menghela nafas kasar setelah menutup lukaku, dia mendongak melihatku. “Sebaiknya kau duduk saja dan jangan sentuh apapun disini.” 

Mengangkat bahuku. “Aku hanya menurutimu, kau yang memintaku memotong sayuran.”

Hyura memegang kepalanya. “Ya aku tau, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak perlu memintamu melakukan apapun.”

Aku tergelak, mendekatinya dan mencondongkan tubuhku. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat pupil matanya bergerak, nafasnya di leherku dan bau tubuhnya membuat perutku mengencang. 

Aku berbisik. “Jadi kau mau aku melakukan apa?” 

Dia menggeleng. “Jangan lakukan apapun.” sahutnya datar. “Duduk saja dan berusahalah untuk tidak melukai dirimu.” dia melewatiku membereskan sayuran yang sudah kuhancurkan lalu membuangnya ke tempat sampah, sambil memunggungiku dia melanjutkan. “Kau tamuku. Aku tidak mungkin membiarkan tamuku terluka.”

Aku mengambil duduk di meja bar. Memangku wajahku sambil Menontonnya bekerja. “Bagaimana dengan Lee Donghae?” tanyaku, “Apa dia pernah menjadi tamumu yang berharga juga?”

Hyura berhenti, berbalik separuh, dia menggeleng. “Donghae tidak pernah kesini. Dia bahkan tidak pernah ke kedai kopi dibawah.”

Aku tersenyum puas. Ini adalah kabar terbaik hari ini, jika memang mengiris jariku sepadan maka aku bisa melakukannya lagi. “Jadi kau tidak pernah memasak untuknya?”

Hyura tertawa kecil. Beberapa helaian rambutnya terjatuh di sekitar tulang selangka.  “Tidak, lagipula Donghae sangat pemilih, aku tidak yakin dia bisa memakan masakanku.” Dagingnya sudah siap, dia menyalakan dua kompor sekaligus dan mulai memanggang juga mengerjakan saunya. Aku tidak bohong, dia tau cara memasak.

 “Saat bersamaku Dia jarang makan.” katanya lagi.

“Donghae pemilih makanan?” tanyaku bingung. Aneh, dia tidak begitu. Donghae adalah pemakan segala, dia memakan apapun yang disajikan Kim Ahjumah tanpa protes. Aku hidup dengannya selama bertahun-tahun tidak pernah  mendengar hal seperti itu.

Hyura Mengangguk.

Dia berbalik mengambil sayuran lalu mengolahnya bersama daging saat aku bertanya lagi. “Seberapa jauh hubunganmu dengannya?”

“Apa maksudmu dengan seberapa jauh?一kami berteman seperti kau dan aku.”

Mataku menyipit tidak senang, aku yakin diantara kami ada yang lebih spesial ketimbang dia dengan Pria pendek itu. “Apa kau pernah menginap di rumahnya?”

Hyura tertawa. “Tidak, tentu saja tidak. Eomonim bisa membunuhku.”

Aku mengangguk, tapi masih tidak puas. Jadi aku menggunakan perumpamaan seperti cerita mereka. “Kau tau kan, pada akhirnya Sam dan Frodo berpisah? Karena seharusnya si pembawa cincin itu tidak selamat.”

“Ya, aku tau.” 

“Dan kau juga tau Sam akhirnya menikah dengan orang lain?”

Hyura menatapku heran. “Ya aku tau, aku menonton ketiga filmnya, berakhir bahagia, itu akhir yang bagus.”

“Aku hanya memastikan.” kataku pelan, dan yakin Hyura tidak mendengarnya.  

Setelah itu tidak ada yang membuka suara, yang terdengar hanya suara wajan dan spatula dari kompor sampai dia mengangkat masakannya lalu menata di piring. Bau daging, dan saus krim putih membuat mulutkan berair. Dia  mengambil kaleng soda di kulkas sebelum mendorong piring untukku dan menyiapkan satu lagi untuknya. 

“Kelihatannya enak.”

Dia tersenyum. “Cobalah.”

Aku memotong daging steak dipiringku lalu menukarnya dengan piring Hyura. Dia tersenyum dan menggumam terima kasih. Saat aku masih memotong daging dia menyodorkan sepotong, menyuapiku. Aku tertawa tapi tidak menolak. Seketika mataku melebar saat daging dan saus meleleh dimulutku.

“Enak?” tanyanya penuh harap.

Aku menggeleng. “Aku kehabisan kata-kata.”

Bibirnya melengkung sempurna, pipinya bersemu pink saat dia tersipu. “Syukurlah kau menyukainya.”

“Kau bercanda? Aku menyukai semua masakanmu.”

Dia pura-pura mengerang. “Kau membuatku ingin memasakkan yang lain.”

Aku memasang wajah serius. “Aku menantikannya.”

Dia tertawa lagi.

Setelah itu semuanya mengalir dengan sangat mudah. Kami menghabiskan makanan kami dengan cepat. Lalu membersihkannya dan Hyura membuatkanku kopi instan. Langit di luar mulai gelap dan lampu-lampu sudah dinyalakan saat aku menghabiskan cangkir keduaku di sofa. 

Syukurlah dia menggunakan selimut saat duduk disampingku. Atau mataku tidak akan fokus melihat kakinya yang telanjang terlipat menyilang di depanku.

“Warna kesukaan?”

Hyura meletakkan tangannya di dagu, dia berpikir keras lalu menggeleng. “Terlalu sulit, aku suka semua warna.”

“Itu curang, pilih salah satu.”

Dia tertawa, “Hey, kau mana bisa begitu.”

“Aku bisa, jadi sekarang pilih saja kesukaanmu.”

Dia cemberut dengan cara yang  sangat menggemaskan, “Oke,” desahnya. “Aku suka pink, merah, ungu, biru, kuning, oh iya aku juga suka hijau.”

Dahiku berkerut. “Itu terlalu banyak untuk menjadi kesukaan.”

“Sudah kubilang aku suka semua warna.” lalu dia memasang ekspresi serius. “Bagaimana dengan warna kesukaanmu?”
“Hitam.” sahutku tanpa ragu.

Hyura berdecak, “Hitam dan putih bukan warna.”

Aku mengangkat bahu. “Ulang tahun?”

“20 januari, kau?”

“3 February.”

“Berapa umurmu?”

“24, kau?”

Aku tersedak tawaku sendiri. “Semuda itu?”

Dia pura-pura kesal. “Apa aku terlihat tua.”

Aku menggeleng dan mencoba menyembunyikan tawaku namun gagal dan berakhir Hyura memukul lengan atasku, tidak keras, tapi sentuhan itu membuat bagian lain dari tubuhku berdenyut. Sial.

“Kalau begitu tebak berapa umurku.” kataku jahil,

“Kau ahjusi berumur 40 tahun.” sahutnya asal.

Mataku melebar, menatapnya tidak terima. “Aku tidak mungkin setua itu.”

Dia tidak mengalah. “Ya kau memang setua itu,” Dia tersenyum palsu “apa kau butuh cermin? Atau mungkin klinik kecantikan?”

Menegakkan tubuhku, mengangkat dagu dan menyilangkan tangan didepan dada. “Kalau aku setua itu, berarti aku butuh pasangan.” sahutku mengikuti permainannya. “Jadi, apa kau mau berkencan dengan ahjusi ini?”

Hyura tertawa keras sampai semua tubuhnya bergetar. Seharusnya aku tersinggung tapi kali ini aku ikut tertawa. Kami tertawa seperti orang gila, Harry mendongak dari bantalnya, matanya yang berwarna kuning melihatku dan Hyura bolak balik sebelum kembali merebahkan kepalanya. 

Hyura mengusap air mata disudut matanya setelah berhenti tertawa. “Serius, berapa umurmu?”

“28, musik kesukaan?”

“Lady gaga. Makanan kesukaan?”

Aku mengernyit mendengar jawabannya.

“Kenapa? Lady Gaga keren.”

Aku mendengus. “Ya sampai kau tau dia juga penyanyi kontroverisal. Ttoekboki. Kau?”

“Aku suka makanan china.”

“Itu terlalu umum. Yang lebih spesifik”

Hyura tertawa lagi. “Apa kita sedang bermain kuis tanya jawab dengan cepat?”

“Ya anggap saja begitu.” sahutku cepat.

Dia berdecak, “Jadi yang menjawab dengan benar akan dapat hadiah?”

“Tergantung jawabanmu.”

Dia mendengus, “Oke,”

“Jadi一masakan china?”

Dia berpikir beberapa saat, membuka mulut tapi langsung menggeleng seolah pilihan dikepalanya salah. Lalu dia mengerang. “Aku tidak bisa memilih, Aku suka semua.”

Mataku menyipit, menggeleng lemah, “Lihat, kau tidak menjawabnya dengan benar.”

Hyura hanya mengangkat bahu tidak peduli, “Nilai SAT?”

“1200.” sahutku bangga.

Mulutnya menganga, “tidak mungkin!”

Mengibaskan tanganku. “Yah, aku memang sepeintar itu.”

Dia tertawa “Dasar Sombong.”

 “Pacar pertama?”

Senyum di wajah Hyura menghilang sepenuhnya. Mulutnya terbuka tapi tidak ada jawaban yang keluar dari sana. Lalu hening penuh kecanggungan. Ini seperti aku berada dipesta dansa dengan salah kostum, semua melihatmu dan kau ingin menghilang saat itu juga. Tapi ini bukan terjadi padaku, melainkan pada Hyura. Dia terlihat tidak nyaman, malu一mungkin berharap aku tidak disini. Dan aku ingin meninju mulutku sendiri karenanya.

Dengan canggung aku tertawa tanpa humor. “Kau tau, aku juga tidak ingat siapa pacar pertamaku. Itu tidak penting sebenarnya, anggap saja aku tidak pernah bertanya.”

Matanya turun ke sofa, menolak melihatku dan berbisik. “Aku belum pernah pacaran. Apa itu memalukan?”

Jariku menyentuh dagunya, mengangkatnya agar dia melihatku. Tidak ada yang memalukan tentang hal itu, aku ingin Hyura percaya diri dengan dirinya, seperti dia percaya diri saat memakai baju-baju aneh atau make up aneh. Percayalah, kepercayaan diri adalah perhiasan lain bagi wanita.

“Hyura-ya,” panggilku lembut. “Itu bukan hal yang memalukan. Yang memalukan adalah kau berganti pacar seperti mengganti handuk, terutama bagi seorang gadis.”

Dia tersenyum, tapi tidak menyentuh matanya. “Bagaimana denganmu? Apa kau berganti pacar seperti mengganti handuk?”

Aku tidak ingin menjawabnya, karena pada  kenyataannya aku memang jarang berpacaran, komitmen itu merepotkan. Menjalin hubungan suka sama suka lebih mudah ketimbang harus berpacaran.

“Asal kau tau aku jarang mengganti handuk.”

Hidungnya mengernyit. “Ih jorok.”

Aku tertawa dan kami membicarakan hal-hal remeh lainnya. Bagaimana dia menghabiskan separuh waktu senggangnya dengan menonton berita politik dalam dan luar negeri. Aku tidak bercanda pengetahuannya soal politik sangat luas, diimbangi dengan kebodohannya mengenai siapa saja anggota Black pink.

Hingga tanpa terasa malam makin larut, angin bulan Oktober berderak di jendela luar. Hyura menyandarkan kepalanya dipunggung sofa. Bibirnya terbuka, Nafasnya bergerak teratur dengan mata terpejam. 

Aku menyandarkan siku di punggung sofa, menopang wajah menontonnya tidur. Tanganku terangkat menyelipkan rambutnya yang jatuh ke belakang telinga. Memandangnya dengan perasaan jungkir balik yang hanya menyiksa diriku sendiri.

 Aku berbohong saat kubilang tidak ingat siapa pacar pertamaku. Aku ingat, dia seniorku di SMA. namanya Chaerin. Cantik dan punya tubuh yang bagus. Bagi laki-laki remaja hanya itu syarat yang dibutuhkan. Bagaimana sifatnya, keluarganya atau apapun tidak berarti untukku karena memang sejak dulu aku tidak pernah membiarkan perasaan sentimentil masuk ke dalam diriku. Tidak ada celah untuk itu. Aku melakukannya hanya untuk bersenang-senang. Dan ya kami melakukan banyak hal menyenangkan yang tidak perlu kusebutkan.

 Tapi sampai suatu waktu Chaerin lebih menuntut, lebih emosional, dan dia jadi lebih sering berteriak dan sebagian besar aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Saat semuanya tidak menyenangkan lagi kuputuskan untuk menjauh.

Kemudian aku bertanya-tanya, apakah aku bisa menjauhi gadis ini?

Perutku mual membayangkannya. Aku tidak bisa, itu mengerikan. Bahkan saat tau dia hanya bekerja dua kali seminggu dikantor membuatku jengkel setengah mati. Mungkin bisa saja aku mendatangi rumahnya seperti sekarang. Tapi mengunjungi rumah seorang gadis setiap hari aku bisa dianggap penguntit.

Tanganku terangkat lagi, menyisir rambutnya yang halus dan berwarna coklat. Hanya kewarasanku yang membuatku tetap ditempatku sekarang dan bukan menerjangnya membabi buta.

Dan itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah.

 Aku bukan pria pemalu, aku bisa saja mengatakan secara gamblang perasaanku padanya. Tapi Hyura bukan gadis biasa, dia memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan dan aku tidak tau apa yang kupertaruhkan disini. Aku menyukai apa yang kami miliki sekarang, aku tidak ingin kehilangan apapun, jika hanya pertemanan yang Hyura inginkan maka dia akan mendapatkannya. Apapun yang dia inginkan dariku, dia akan mendapatkannya.

Menegakkan tubuhku, meregangkannya bersamaan dengan Harry menguap ditempat tidurnya, sementara Ron, entahlah dimana kucing berbulu oren itu.

Perlahan mengangkat Hyura dan membawanya ke kamar.  Merebahkannya di tempat tidur kecilnya lalu menarik selimut sampai batas leher.

Sesaat kukira aku berada di pusat perbelanjaan. Kamar Hyura bukan kamar melainkan Dress room yang diberi tempat tidur. Sekeliling dindingnya di penuh gantungan baju. Baju-baju yang hanya kau temukan di tempat penyewaan kostum. Lalu terdapat cermin sebesar pintu di ujung ruangan. Lemari kaca berisi rambut berwarna-warni dengan berbagai ukuran, Rak sepatu setinggi lemari, lalu yang terakhir rak riasan wajah. Jenis pewarna mata, pewarna pipi dan bibir berjejer rapi di sana. Kukira dia bisa menjalankan bisnis salon atau semacamnya.

Lalu mataku menemukan tas ransel usangnya di ujung tempat tidur. Dia mengoleksi semua perlengkapan wanita kecuali tas.

Merasa lebih dari cukup mengintip privasinya. Kuputuskan keluar dari sana.

Langkahku begitu ringan saat berjalan kembali ke mobil. Senyum konyol tidak meninggalkan wajahku dan siulan riang menemaniku berjalan pulang. 

***

TBC

Leave a Comment