SAMWISE {PART 3}

Happy Reading N Sorry

@miss_hoon

Saat aku berumur dua puluh satu tahun, tepat ditahun kedua kuliahku ada acara rutin kampus untuk perkenalan junior. Saat itu aku mabuk dan tak sadarkan diri. Dan dengan tololnya Changmin menghubungi Donghae untuk mengurusku.

Donghae tidak mengatakan apapun pada Ayah dan Ibunya. Tapi disitulah masalahnya. Dia berlagak sok pahlawan meskipun dia membenciku. Seolah dia sengaja melakukannya. Setelah itu tatapannya pada ku selalu meremehkan. 

Aku bersumpah suatu saat aku akan mendapatkan kesempatan dan aku akan membalas si brengsek itu.

Kurasa kesempatan itu datang hari ini, tapi sepertinya ada yang salah.

“Ya. Kau pasti bisa melakukannya.” Donghae menatapku penuh keyakinan. Seolah aku ini spidermen.

“Alisku terangkat satu. “Kenapa kau pikir aku akan membantumu?”

Sekarang Donghae yang kelihatan bingung. “Kau datang kesini dan memberitahuku. Bukankah itu tandanya kau mau membantuku?”

“Serius kau menganggapnya begitu?”Aku tertawa mengejek “Aku hanya memberitahumu, bukan berarti aku mau membantu, Brangsek. Itu urusanmu. Kenapa aku yang repot.” sahutku tidak peduli dan berbalik. Tapi Donghae bersuara lebih keras dari apapun yang ada diruangan ini.

“Jika bukan untukku lakukanlah untuk Hyura.” 

Langkahku terhenti, setengah berbalik ke arahnya.

“Kumohon,” Donghae memelas. “Keadaanku saat ini tidak memungkinkan melindunginya dari keluargaku.”

“Karena itu一”Berbalik perlahan, dan senyum mencemooh terpancar dari wajahku. “Bukankah sebaiknya kau mati saja dan tidak menyusahkan orang lain?” kata-kataku berikutnya meluncur dengan tajam dan penuh kekesalan. “Kau membuat gadis aneh itu datang kesini一setiap hari, membuatnya mengurusmu一yang bahkan orang tuamu saja tidak melakukannya. Dan sekarang kau memintaku memperpanjang penderitaannya? Kau pikir hidupmu seberharga itu?”

Donghae maju beberapa langkah hingga kami berhadapan. Dalam tinggi badan aku menang beberapa senti darinya, jadi tatapannya yang tajam saat ini sama sekali tidak berpengaruh padaku.

Telunjuknya menusuk dadaku, meskipun begitu aku tidak merasakan apapun.

“Kau pikir aku suka melihatnya setiap hari meratapiku?” katanya serak. “Kau pikir aku suka melihatnya hancur saat pertama kali  melihatku disini? Kau pikir aku suka melihatnya berusaha begitu keras agar aku bisa bangun? Kau pikir aku….” Dia mengambil nafas dan mengernyit kesakitan, “Aku selalu berharap dia menyerah begitupun dengan tubuh sialanku.” Donghae menggeleng lemah, diikuti dengan ucapannya yang semakin putus asa.“Tapi ternyata tidak sesederhana itu.”  Tangan Donghae terjatuh di sisi tubuhnya. “Hyura tidak akan menyerah terhadapku.”

Aku kembali tertawa. Mungkin saat Tuhan memberikan kepercayaan diri Bajingan ini berada di barisan paling depan. 

“Percayalah dia akan menyerah, jika tidak, maka  aku yang akan membuatnya.” 

Donghae menggeleng lemah ambil tersenyum miris. “Dia tidak akan.”

Dahiku berkerut tidak suka. Sangat tidak suka. “Kenapa kau begitu yakin?”

Dia memalingkan wajahnya, melihat tubuhnya sendiri di ranjang, matanya terlihat menerawang saat berkata “Karena dulu aku juga tidak pernah menyerah terhadapnya.”

“Apa?” aku ingin bertanya lebih jauh maksudnya tidak menyerah, apa dulu Hyura juga pernah koma atau semacamnya? Tapi pintu berayun kemudian suara lembut memanggil namaku.

“Cho Kyuhyun?” Hyura berdiri di ambang pintu. Melihatku keheranan. “Apa yang kau lakukan sepagi ini?” Dia menutup pintu dibelakangnya. “Apa terjadi sesuatu?”

Aku melirik Donghae sekilas sebelum benar-benar berbalik pada Hyura.

“Sepertinya ada bukuku yang terbawa padamu.” Itu Kata-kata yang sudah kusiapkan sepanjang perjalanan kesini, dan ternyata berguna.

“Benarkah?” Mata bulat Hyura yang hari ini berwarna biru terang memandangku hampir panik. “Apa itu buku penting?” dia berjalan cepat lalu meletakkan tas punggungnya di sofa. Membuka dan mengeluarkan semua isinya. Tablet PC, dompet, beberapa pernak-pernik aneh yang mungkin hanya kau temukan di pasar loak, buku catatan kecil, buku catatan yang lebih besar kemudian empat buku novel Dan Brown dan yang terakhir sekotak tampon ekstra penyerapan lengkap dengan sayap. Ya Ampun, kenapa aku harus melihatnya.

“Aku hanya membawa empat buku ini. Apa ada di salah satunya?”

Donghae sudah berdiri di sisi Hyura, bersedekap. “Astaga! Kau yang mencekokinya dengan Dan Brown?” Dia melihatku menuduh.

Aku balas menatapnya seolah mengatakan “Kenapa?” tanpa benar-benar bersuara.

“Kau memberikan inspirasi sebagai pemuja setan padanya, kau tau!” Omel Donghae. Dan saat itu aku baru menyadari hari ini Hyura memakai pakaian serba hitam. Gaun hitamnya sepanjang lutut dan menggembung di bagian bawah seperti diisi balon. Lalu di bawahnya stocking perak dengan simbol-simbol aneh yang hanya kau temui di film The Mummy

Rambutnya berwarna abu-abu, pewarna mata hitam, lipstik gelap dan tindik di hidung. Dia lebih mengerikan daripada bellatrix Lestrange.

Aku mengernyit. “Kau menindik hidungmu?” tanyaku pada Hyura.

“Oh…” dia memegang benda bulat berwarna silver di hidungnya. “Ini hanya aksesoris, aku tidak tau kau memperhatikannya.”

“Seharusnya tidak jika penampilanmu bukan jenis penampilan yang butuh perhatian.” 

Hyura hanya mengangkat bahu tidak peduli seperti biasa. “Jadi,” tanyanya menggantung. “Buku mana yang kau butuhkan?”

“Tidak, sepertinya aku salah.” sahutku. “Mungkin aku lupa meletakkannya.”

Hyura mendesah lega. “Syukurlah kalau begitu.”

Aku mengangguk, lalu kembali pada Donghae. Tapi si bodoh itu seperti lupa bahwa ada aku disana. Matanya yang penuh sayang hanya melihat Hyura. Membuatku tidak tahan untuk tidak memutar mata. Sementara Hyura memasukkan lagi barang-barangnya ke tas. Dia melewatiku lalu meletakkan tasnya di kursi makan kecil dibalik rak. Kemudian dia bertanya “Kau sudah sarapan?”

Tanpa sadar aku menyeringai. “Belum.” sahutku. “Aku mau kopi dan roti?”

Kepalanya menyembul dari balik rak. Donghae berada persis di belakangnya. Si Bodoh itu terlihat seperti penguntit.

“Kau mau kubuatkan kopi?”

Memaksa tersenyum lalu menggeleng. “Belikan aku di kafetaria rumah sakit, aku butuh es americano dan croissant.”

“Oke.” Sahut Hyura ringan, sementara Donghae melihatku tidak setuju.

Hyura mendekat. “Ada lagi yang kau butuhkan?”

“Tidak, itu saja. Terima kasih.”

“Tentu,” katanya lagi lalu melewatiku keluar.

Sepeninggal Hyura aku kembali pada Donghae. Matanya masih menatap pintu tempat tubuh Hyura menghilang.

“YA! Bisakah kita kembali ke pembicaraan?”

“Oh ya Benar.” Sekarang dia menatapku, wajahnya berubah serius dan tatapan lembut barusan menghilang seketika. “Kyuhyun-ah, Bantu aku mengalihkan asetku pada Hyura, dengan itu dia bisa mempertahankanku disini.”

“Apa?”

Donghae mengangguk. “Asetku, kau satu-satunya orang yang bisa mengakses rumah dan perusahaan.”

Aku menggeleng keras. “Bukan itu, aku tidak peduli padamu. Ucapanmu barusan mengenai Hyura, soal ‘kau tidak pernah menyerah padanya’”

“Oh,”

Aku mengernyit. “Oh?”

Donghae menatapku beberapa saat, cukup lama sampai aku harus mendengus kesal menunggu jawabannya. Seolah dia memang tidak ingin mengatakan apapun. Namun pada akhirnya dia memejamkan mata dan mendesah pasrah.

“Sebenarnya ini bukan cerita yang bisa kubagi dengan siapapun. Tapi berhubung sekarang hanya kau yang bisa membantuku sebaiknya memang ku ceritakan.”

Donghae mengambil jeda sesaat, “Well, Saat itu aku masih mahasiswa dan bekerja paruh waktu sebagai pengajar ekstrakulikuler korespondensi di sekolah Hyura.” Dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan. “Aku masih ingat waktu itu bulan januari, dan salju mulai turun. Hari itu cuaca sangat dingin saat aku  berjalan ke halaman parkir setelah mengajar lalu ada beberapa pakaian terbang dari atap gedung.” Dia berhenti sesaat rahangnya berkedut “Aku mencari tahu kesana dan menemukan Hyura dalam keadaan setengah telanjang.”

Aku terkesiap. “Apa?”

Donghae mengangguk sedih. “Aku tidak tau berapa lama dia disana, saat aku menemukannya dia tidak bisa berdiri, tidak bisa bicara dan tubuhnya sedingin es.”

Geraman rendah keluar dari dadaku. 

Donghae melirikku. “Ya Aku tau, akupun bereaksi sama denganmu.”

“A..apa..” suaraku tersangkut di tenggorokan membayangkannya. “Apa ada seseorang yang menyentuhnya…maksudku….” 

Donghae menggeleng menjawab pertanyaan yang tidak sanggup kukatakan. 

Terima kasih Tuhan. Karena jika memang ada yang menyentuhnya aku bersumpah akan mengejar dan membunuh siapapun itu.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya, tapi Hyura mengalami hipotermia berat dan dia tidak bisa bicara. Dia di rumah sakit selama satu bulan, dan selama sebulan itu aku tidak pernah tidak datang. Aku menemaninya dalam keadaan apapun. Aku tidak pernah menyerah padanya meskipun saat itu Hyura bahkan tidak mau melihatku.”

     “Apa dia bercerita siapa yang melakukannya atau bagaimana itu bisa terjadi?”

Donghae menggeleng lemah. “Tidak ada yang tau. Hyura tidak pernah membicarakannya lagi, seolah kejadian itu tidak pernah ada dan begitu kembali penampilannya berubah drastis. Seperti yang kau lihat sekarang.”

“Jadi karena itu dia berpenampilan aneh.” Gumamku pada lantai. Entah kenapa aku merasa lega dan marah, tentu saja. Lega karena Hyura memiliki alasan, setidaknya dia tidak sepenuhnya aneh. Itu juga menjelaskan kenapa semalam dia bersikap defensif terhadapku.

Aku bertanya lagi “Bagaimana dengan orangtuanya? Apa mereka tidak berusaha mencari tau atau menuntut sekolah atau semacamnya.”

“Itu tidak mudah.” Desahnya. “Ayah Hyura anggota senat dari partai politik. Skandal pelecehan akan sangat mempengaruhi citranya.”

“Anggota senat?” aku menggeleng. “Tidak mungkin, dia bilang orang tuanya mengelola kedai kopi.”

Donghae tersenyum kecut “Kedai kopi satu-satunya cara yang terpikirkan orang tuanya untuk menjaga Hyura.”

“Aku tidak mengerti.” Gumamku pelan.

“Begini,” katanya serius. “Dengan penampilan Hyura yang baru. Orang tuanya tidak suka bagaimana dia berkeliaran keluar, jadi mereka membuat kedai kopi dibawah rumahnya berharap Hyura hanya bekerja disana, kau tau. Mereka Juga menempatkan beberapa penjaga tapi…” Donghae mengangkat bahu. “Itu semua sia-sia. Hyura hanya melakukan apa yang dia inginkan.”

Aku meringis. “Ku Akui itu cara yang bodoh.”

“Mereka putus asa.” Gumamnya pelan.  “Hyura seperti membangun tembok tinggi agar orang tidak mendekatinya. Selama ini aku hanya berjaga di balik tembok itu. Setidaknya dengan begitu aku menjaganya tetap aman.”

Mata sendunya menerawang jauh, membuatku tersadar akan sesuatu yang seharusnya terlihat sangat jelas.

Dan tanpa sadar aku berkata “Kau menyukainya.” Aku tidak ingin mendengar jawabannya tapi aku tetap mengatakannya.

Donghae melihatku sejenak, lalu tatapannya turun ke lantai sambil tersenyum miris. “Suka bahkan terlalu dangkal untuk menggambarkan perasaanku padanya. Aku menyayanginya. Aku ingin dia bahagia. Merasa aman. Dilindungi dan tidak sendirian. Tapi…..” Ekspresi putus asanya membuatku jengkel. “Sekarang aku tidak bisa melakukan apapun untuknya. Aku….”

“Jangan dilanjutkan!”Tukasku kasar.

“Apa?”

“Aku tidak ingin mendengarnya!” Sahutku lebih keras daripada seharusnya. 

Dia melihatku kebingungan. 

“Kau bisa katakan itu sendiri pada Hyura nanti.”

Donghae mendengus. “Kau barusan menyuruhku mati.”

Aku mengangguk. “Benar. Jadi kau bisa membawa perasaan cengeng itu ke kuburanmu.”

“Keparat.”

Aku mengangkat bahu tidak peduli bersamaan pintu terbuka.

Hyura membawa segelas kopi dan kantung coklat. Dia tersenyum lembut. “Sarapanmu.”

Setelah mendengar apa yang pernah dialaminya. Lalu melihat dia berdiri disana sambil tersenyum membuat dadaku nyeri tanpa alasan.

Aku tidak percaya ada yang melakukan perbuatan keji padanya saat dia masih muda. 

Tubuhku otomatis menegang membayangkan Hyura dengan badan mungilnya, meringkuk tanpa pakaian menahan dingin.

“Kyuhyun-ah,”

Suara lembutnya menarikku kembali.

Aku tidak tau bagaimana ekspresiku tapi perlahan senyum Hyura menghilang. Dia melihatku cemas “Kau sakit?”

 Dia meletakkan kopi dan bungkusan roti dimeja sebelum kembali padaku. 

“Tidak. Aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Mata Hyura menjelajahi seolah memastikan. Tatapannya yang menembusku seperti tembakan di jantung. Ini benar-benar berita buruk. 

Kau dalam masalah Cho Kyuhyun.

“Tampangmu seperti orang idiot.” Ejekan Donghae bahkan tidak berefek padaku. 

“Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

Hyura masih menatapku. “Baiklah. Kalau merasa tidak enak sebaiknya ke UGD.”

“Aku baik-baik saja.” Mengangguk ke kopi yang barusan dia bawa. “Terima kasih sarapannya. Sebaiknya aku pergi sebelum kesiangan.”

Mengambil gelas kopi dan rotiku namun langkahku terhenti, aku berbalik pada Hyura yang masih mengawasiku. 

Merogoh saku celana dan menyodorkan ponselku padanya. “Masukan nomor ponselmu.”

Hyura menatap ponselku sejenak sebelum mendongak bingung.

“Kau seharusnya menghubungiku dulu sebelum datang kerumahku, kau tau itu etika dasar untuk bertamu.”

Hyura terkesiap. “Oh, Aku mengerti.” dia mengambil ponselku dan mengetikkan nomornya  disana lalu mengembalikannya padaku. Aku menekan tanda menghubungi dan terdengar getaran dari meja dibalik rak.”

“Simpan nomorku.”

Dengan itu aku pergi dari sana.

***

 Di tengah malam, tepatnya di jam tiga pagi aku merasakan sengatan listrik di kaki kiriku一menjalar sampai pangkal paha. Keringat dingin mengalir, tubuhku kaku. Setiap ototku seperti di tarik-tarik.

Pasca kecelakaan, yang mengharuskan operasi besar dikaki, Hal ini memang sesekali terjadi. 

Mark bilang kakiku Baik-baik saja. Sudah sepenuhnya pulih. Tapi memang ada kondisi pasien yang berbeda-beda. Dia menyarankanku untuk mendatangi dokter saraf.

Aku melakukannya tapi mereka memiliki penjelasan yang berbeda-beda. Bisa stres, kelelahan, cuaca一tidak ada jawaban pasti. Bahkan ada beberapa yang menyarankan untuk melakukan operasi lagi, namun mereka juga tidak menjamin serangan ini akan berhenti.

Pahaku berkedut saat serangan yang lain muncul一kali ini lebih panas dan lebih tajam. Aku menggeram saat merangkak menuruni tempat tidur. Membuka lemari penyimpanan mengambil kruk.

Rahangku mengerat menahan nyeri  saat mencoba berdiri. Rasanya jauh lebih buruk daripada berbaring.

Tapi aku butuh obat. Sekuat tenaga aku mencoba berjalan dengan kruk. Mengambil obatku dikabinet dapur dan sebotol air. 

Meneguknya secepat yang kubisa.

Aku tidak yakin sanggup kembali ke kamar. Maka kujatuhkan kruk dilantai lalu merebahkan tubuhku disofa. Aku beruntung memiliki sofa besar, setidaknya kakiku tidak menggantung.

Hal yang pertama kulakukan mengirim pesan pada Sungmin bahwa aku tidak akan datang ke kantor hari ini.

Lalu dimenit-menit selanjutnya aku mencoba memejamkan mata diikuti oleh geraman, umpatan dan keringat disekujur badanku.

Aku menghabiskan sisa hari itu dengan berbaring di sofa. Saat nyerinya berkurang aku menyalakan tv dan mengakses kamar mandi. Lalu begitu rasa sakit itu datang lagi aku terburu-buru meminum obatku dan kembali berbaring.

Kurasa aku hampir tertidur saat ponselku bergetar. Ada nama Park Hyura disana.

Aku meringis saat menjawabnya. “Ya…”

“Cho Kyuhyun?” Suaranya terdengar ragu.

“Ya ini aku.”

Terdengar desahan lega dari sana. “Aku ada didepan rumahmu, jam berapa kau akan pulang?”

“Satu dua tiga empat.”

“Huh?”

“Itu kode pintuku, masuklah, aku tidak sanggup membukanya.”

“Apa….”

Aku memotongnya. “Masuklah.” lalu memutuskan panggilan. 

Beberapa menit kemudian terdengar pintu terbuka dan tertutup. Lalu langkah seseorang masuk. Hyura berhenti saat melihatku, dia berdiri di tengah lorong dan ruang depan. Matanya mengamatiku lalu dia melihat kruk di lantai, obat-obatan di meja kopi, dan botol air yang terbuka.

“Apa terjadi sesuatu?” tanyanya kelewat pelan, seolah jika dia bersuara keras akan menyakitiku.

Memaksa mengangkat tubuhku lalu menggeleng lemah. “Bukan apa-apa, ini sesekali memang terjadi.” Aku mengangguk ke arah ruang kerja. “Masuk saja, kau bisa ambil apa yang kau butuhkan.”

 Aku hendak berbaring lagi saat Hyura bertanya. “Kau punya handuk kecil.”

Tanpa menjawab aku menunjuk kamar mandi. Terlalu letih untuk memperhatikannya aku kembali merebahkan diri一memejamkan mata.

Setelahnya aku tidak mendengar suara apapun sampai sesuatu yang lembut dan hangat mengusap keningku.

Mataku terbuka seketika.

Wajah Hyura terlalu dekat. Bibirnya yang penuh一yang hari ini berwarna coklat hanya berjarak beberapa inchi dari wajahku. Harum tubuhnya yang berbau vanilla dan bercampur dengan peach menghantam perutku dengan keras. Otomatis rahangku mengerat.  

“Apa sangat sakit?” suaranya yang begitu lembut, begitu perhatian, begitu cemas membuatku panik. Bukan dalam artian bagus. 

Aku Menegakkan tubuh terlalu cepat hingga rasa setajam silet itu datang lagi. Aku tidak tahan untuk tidak mengerang. 

“Kyuhyun-ah, kau harus kerumah sakit.” Dia memegang handuk yang putih yang barusan dia gunakan untuk mengusap wajahku. “Keringatmu banyak sekali, dan wajahmu pucat. Kau membuatku takut.” Dia tidak bohong, ekspresinya ketakutan dan … kesakitan. Seolah itu juga menyakitinya.

Aku menggeleng lemah. “Ini biasa terjadi, setelah dua puluh empat jam seharusnya aku baik-baik saja.”

Tatapan Hyura semakin intens. “Kau belum tidur semalaman kan?” tebaknya. “Ini sama sekali tidak baik-baik saja. Kyu, Kau harus kerumah sakit.”

“Tidak, aku tidak apa-apa. Percayalah, aku pernah mengalami yang lebih buruk.”

Mendengarnya Hyura menatapku ngeri. “Dan ini belum cukup buruk?” suaranya terdengar hampir marah.

“Dengar,” kataku. “Berbicara denganmu seperti ini tidak akan membuatku lebih baik, aku janji setelah dua puluh empat jam jika keadaanku tidak membaik aku akan kerumah sakit.”

Dia terlihat tidak setuju tapi akhirnya dia mengangguk. “Terdengar adil.” Dia melirik ke meja kopi, melihat obat-obatanku. “Kau pasti belum makan,” gumamnya lebih kepada diri sendiri. “Ada sesuatu yang ingin kau makan?”

Aku menggeleng.

Makan adalah hal terakhir yang kupikirkan saat ini.

“Kalau begitu berbaringlah, akan kupesankan sesuatu.” katanya sambil memegang bahuku dan menurunkanku kembali ke sofa. “Kau mau pindah ke kamar? Disini pasti tidak nyaman.” 

Aku menggeleng lagi. 

Setelah itu Hyura tidak berbicara. Dia menyeka dahi dan leherku saat keringatku bermunculan. Dia duduk di lantai, di sisiku一wajahnya masih begitu dekat, dan anehnya aku merasa nyaman. Setidaknya dengan keberadaannya disini membuat rasa sakitku lebih mudah diabaikan.

Dari ujung mataku, aku melihat dia membuka aplikasi pesan antar. Dia menggumam sendiri, terkadang menggeleng. Bibirnya membentuk garis tipis saat ada makanan yang tidak dia sukai. Dan itu cukup membuatku terhibur

“Kupesankan sup tulang sapi,” putusnya setelah beberapa menit menggerutu sendiri pada ponselnya. Dia menoleh padaku. “Ada hal lain yang kau butuhkan?”

“Aku baik-baik saja.”

“Oke.” dia mengambil remot tv. “Apa kau keberatan aku menyalakan tv?”

Aku menggeleng.

Setelah itu Hyura menonton tv dengan suara yang teramat kecil. Aku sendiri ragu dia mendengarnya. Tapi matanya begitu fokus menonton berita politik.

Dia memutar tubuhnya menghadap tv, punggungnya bersandar pada pinggiran sofa. Rambutnya yang hari ini berwarna hitam一menyentuh lenganku. Dan sekarang aku hanya bisa melihat sisi wajahnya sebelah kanan. 

Hari ini nuansa makeupnya berwarna merah dan hitam. Aku bisa bilang begitu karena bibir dan pipinya benar-benar merah. Seperti seseorang baru saja menyiramkan cat padanya. Lalu riasan matanya masih sama seperti terakhir kulihat dikamar Donghae一serba hitam. Yang membuatku tertarik adalah rambutnya.

Ini pertama kali aku melihat rambut Hyura berwarna hitam legam. Biasanya rambutnya selalu berwarna warni. Terakhir kulihat warnanya pirang ke abu-abuan, mirip Lucius Malfoy versi perempuan.

Mungkinkan ini rambut aslinya?

Tanganku yang lain terangkat perlahan menyentuh helaian rambutnya yang jatuh di lenganku. Aku baru menyentuh ujung rambutnya saat tiba-tiba bel pintu rumahku berbunyi. Otomatis aku menarik tanganku kembali. 

Dia berdiri. “Itu pasti makanannya.”

Hyura melesat kepintu depan dan kembali dengan senyum lebar sambil membawa kantong makanan.

Dia meletakkannya di meja kopi, mengeluarkan isinya, lalu menata meja untukku.

“Kau bisa bangun?” tanyanya.

Aku mengangguk dan menegakkan tubuh. Selama tidak menggerakkan kakiku kurasa aku masih bisa mengabaikan nyerinya.

“Mau kusuapi?” Ada nada humor dalam ucapannya. 

Aku tersenyum lelah. “Kakiku memang sakit tapi tanganku baik-baik saja.”

Dia ikut tersenyum. “Senang mendengarnya.”

Hyura duduk dipinggir sofa. Dia mengangkat mangkuk yang dia ambil dari dapur lalu memeganginya, dan aku menyendokkan sup ke mulutku. Sementara aku melakukannya Mata Hyura tidak pernah lepas dariku. 

Aku berdehem. Menunjuk ke arah tv. “Bisakah kau menonton tv saja? Aku tidak yakin bisa makan dengan kau memelototiku.”

Bibirnya bergetar menahan senyum tapi dia mengangguk. Fokusnya kembali ke TV dengan tangannya tetap di depanku.

Aku bisa makan beberapa suap tapi aku tidak sanggup menghabiskannya. Setelah dirasa cukup, aku meletakan sendokku.

Hyura menoleh, melihatku tidak setuju.

“Aku akan muntah jika meneruskanya.” kataku sebelum dia sempat protes.

Dia tidak mendebatku. Meletakkan mangkok ke meja lalu membawakanku botol air. 

Aku menerima dan meminumnya.

“Ada Obat yang harus kau minum?”

Mengangguk ke meja. “Obat yang berwarna putih, yang paling kecil. Itu sejenis penghilang nyeri.”

Hyura bergeser mengambilkannya untukku dan aku langsung meminumnya.

“Terima kasih.” kataku setelahnya.

“Tidak ada salahnya membantu teman saat dia tidak bisa melakukannya sendiri.” Itu  perkataan yang sama saat pertama kali aku mengunjungi Donghae. Meskipun tidak ada nada menyindir sama sekali tapi aku tetap merasa tersindir.

Aku tersenyum kecut. “Aku tau, maaf waktu itu aku bicara kasar.”

Dia tidak membalasku dan hanya tersenyum.

Hyura bangkit membereskan sisa makanan, dan obat-obatanku. Aku ingin menyuruhnya pulang dan tidak perlu menderita bersamaku namun bel pintu berbunyi lagi.

Tanpa menunggu persetujuanku Hyura ke pintu depan dan membukanya. Terdengar suara samar sebelum langkah kaki. 

Hyura yang pertama muncul kemudian diikuti Sungmin dibelakangnya.

“Temanmu datang.” Hyura mengumumkan.

Sungmin menyipitkan matanya curiga. Dia melirikku dan Hyura bergantian.

“Oh Hyung,” kataku, lalu menunjuk Hyura. “Ini Park Hyura, Hyura-ya, dia temanku, Lee Sungmin.”

Hyura menunduk memberi salam tapi Sungmin memotongnya ketus. “Aku tau siapa dia.”

Memaksa tersenyum, “Hyura-ya,” panggilku. Gadis itu menoleh, menungguku. “Kau boleh mengambil buku yang kau butuhkan, dan tolong rapikan buku yang sudah kau ambil.”

Dia mengangguk lalu mengambil tasnya dan masuk ke ruang kerja.

Aku menunggu sampai pintu ruang kerja benar-benar tertutup baru beralih pada Sungmin. 

“Ada apa kesini?” tanyaku.

“Harusnya aku yang tanya.” Sungmin melipat tangannya didepan dada, tatapannya menuduh. “Apa yang kau lakukan dengannya? Kau tidak boleh bergaul dengan wanita itu, Kyu.”

Aku melirik ruang kerja.” Kecilkan suaramu.” bisikku kasar.

Sungmin mendengus.

“Dia hanya datang meminjam bukuku, dan aku bergaul dengan siapa itu bukan urusanmu.”

Sungmin maju beberapa langkah dia ingin membantahku tapi dengan cepat aku memotongnya. “Dan jaga sikapmu didepan Hyura, dia tidak pantas mendapatkan perlakuan burukmu.”

Kata-katanya singkat dan cepat—seperti tembakan cepat senapan mesin.  “Kau tau barusan kau terdengar seperti siapa?”

“Siapa?”

“Lee Donghae.”

Menarik nafas dalam lalu tertawa hambar. “Apa yang kau bicarakan?”

“Kau tau persis apa yang kubicarakan.” Sungmin menggeleng prihatin, Dia meletakkan tas kertas yang dia bawa ke meja kopi. “ Kukira kau sakit jadi aku membawakan makanan, tapi sepertinya aku tidak dibutuhkan. Sebaiknya aku pulang.” 

Dia berbalik dan keluar.

Aku tidak mencegah atau memanggilnya lagi. Karena otakku masih butuh waktu untuk mencerna ucapan Hyungku barusan. 

Bagaimana mungkin dia menyamakanku dengan si Bodoh Lee Donghae?

***

Aku terbangun saat terdengar gumaman rendah ditelinga. Rasa sakit itu sepenuhnya hilang. Tidak ada lagi rasa tajam, panas atau apapun yang  menggerogoti. Aku bisa menggerakkan Kakiku dengan bebas. Bagus, kutukan Warewolf sudah berakhir. Sekarang saatnya menjadi manusia.

Menegakkan tubuhku. Kemudian berhenti.

Pikiran Hyura menungguku hingga tertidur di ruang duduk membuatku mual. Tidak seharusnya dia disini. Seharusnya dia pulang. Tidur di ranjangnya yang hangat dan empuk.

Hyura tertidur dengan kepala tergeletak disofa sementara dia duduk dilantai. Posisinya yang aneh bisa membuatnya cedera leher.

Dengan perlahan aku bangun. Mendekatinya seperti predator yang mendekati mangsa.

Aku mengambil tangannya disofa. Mengalungkannya ke leherku. Dengan amat, sangat, perlahan. Takut-takut aku mengganggu tidurnya. 

Lalu dengan satu gerakan aku mengangkatnya. 

Dia mengerang. Aku menahan nafas. Tidak bergerak.

Setelah beberapa saat yakin Hyura tidak bangun. Aku membawanya ke kamarku.

Merebahkannya diranjangku dan menyelimutinya.

Melirik ke jendela. Langit masih kelabu, matahari belum terbit, aku punya banyak waktu untuk memulai hari. Atau Seharusnya aku kembali ke ruang kerja untuk membereskan pekerjaanku yang tidak kuselesaikan kemarin. Sebaliknya, aku justru duduk kursi malas di ujung ruangan. 

Menonton seseorang tidur bisa dibilang itu adalah kejahatan, kelakuan seorang penguntit. Tidak normal.

Namun bagiku Hyura juga tidak normal. Jadi kurasa ini tidak apa-apa.

Aku tidak bilang wajahnya saat tertidur terlihat cantik, lucu atau menggemaskan. Tidak sama sekali. Hyura jauh dari kata cantik. Tapi dia juga tidak jelek. Dari sekian kata yang ada dalam bahasa kurasa ‘aneh’ adalah yang paling tepat.

Sesuka apapun para wanita dengan perias wajah kurasa tidak ada satupun dari kalian akan tetap menggunakannya saat tidur. Aku bertanya-tanya, apakah kulitnya tidak rusak? Atau mungkin dia memiliki jadwal teratur mengunjungi klinik dermatologis. Dari cerita yang kudengar dari Donghae. Kurasa uang bukan masalah bagi Hyura. Jadi ya, itu pasti mungkin.

Lalu mataku beralih ke bibirnya yang sedikit terbuka. Warnanya tidak coklat lagi, lipstiknya sudah pudar sepenuhnya. Sekarang hanya tertinggal bibir penuh berwarna merah muda. Tebakanku inilah warna asli bibirnya. Aku tidak akan bohong, bibir sewarna ceri akan sangat menggoda untuk dicicipi. Kau akan terus bertanya-tanya, apakah rasanya semanis warnanya atau justru memberikan rasa lain.

Hanya membayangkannya saja membuat sesuatu dalam diriku bangkit dengan tidak tau malu.

Menggeleng keras. Bukan saat yang tepat,Bung. 

Menyeret pandanganku lebih ke atas. Hidungnya kecil dan tinggi, lalu kelopak matanya tertutup eyeshadow hitam, dan alisnya yang melengkung sempurna tertutup pewarna abu-abu. Perona pipinya juga sudah pudar. Sekarang bentuk wajahnya terlihat lebih jelas. Dengan pipi tinggi, dan wajah berbentuk hati kurasa Hyura sama sekali tidak jelek. Hanya….Aneh.

Aku perlu mengingatkan diriku sendiri bahwa apa yang kulakukan sekarang adalah untuk membunuh waktu, membosankan dan tidak berarti. Dan bukannya sesuatu yang kunikmati lalu berencana menjadikannya hobi penuh waktu.

Kemudian tanpa peringatan, suara dari kotak kecil di nakas meja menggelegar di kamarku. Alarm sialan yang lupa kumatikan membuatku terlonjak dan Hyura tiba-tiba terduduk dengan mata menyalang.

“Apa yang terjadi?” suaranya serak, kebingungan.

Tanpa bergerak dari tempatku aku menjawab. “Maaf itu alarmku.”

Kepalanya menoleh kesana kemari, mengamati lalu pandangan kami bertemu “Kenapa aku bisa disini?”

“Posisi tidurmu berbahaya, jadi aku memindahkanmu. Aku tidak bermaksud apa-apa” kurasa aku harus menjelaskannya, takut-takut dia berpikiran terlalu jauh. Namun tampaknya kekhawatiranku tidak beralasan, Hyura terlihat tidak peduli. 

“Kau sudah tidak apa-apa?”

Aku tersenyum, “Seperti yang kau lihat.”

Dia mendesah lega, “Syukurlah.” Lalu bergerak turun dari ranjang. “Maaf aku mengambil tempat tidurmu.”

Mengangkat bahu. “Setidaknya kau bukan jalan sendiri kesini.”

Sekarang dia benar-benar tersenyum. “Kalau begitu sebaiknya aku pulang.”

Seketika aku berdiri. Aku belum siap kehilangannya. Kukira aku gila mengakui hal itu, tapi kurasa aku tidak peduli lagi.

“Kita sarapan dulu, aku bisa membuatkanmu kopi, atau roti. Biasanya apa yang kau makan?”

Hyura melirik jam alarmku di nakas lalu tersenyum minta maaf. “Aku harus pulang, anakku belum makan, mereka pasti kelaparan karena kemarin aku tidak pulang.”

Suaraku seperti tercekik. “Anak?”

Dia mengangguk. “Harry dan Ron.”

Tawaku lepas seketika. “Hogwarts akan memberi makan mereka.” sahutku disela-sela tawa.

Dia cemberut dengan cara yang menggemaskan. 

“Baiklah,” Kataku akhirnya. “kuantar kau pulang, setelah itu kita bisa sarapan bersama.”

Dia mengernyit. Tapi aku tidak memberinya kesempatan untuk menolak. “Ayolah, anggap aku berterima kasih karena kau mengurusku kemarin.”

“Aku tidak melakukannya agar kau berhutang budi padaku.”katanya terdengar tersinggung.

Kurasakan bibirku tertarik. “Jangan salah paham. Aku tau kau tidak begitu. Tapi aku kelaparan, apa salahnya kita sarapan bersama. Makan sendirian tidak menyenangkan, kau tau.” 

Hyura terlihat menimbang-nimbang.

Aku membujuknya lagi. “Ayolah.”

Dia mendesah tapi akhirnya mengangguk setuju.

***

Hyura bilang dia butuh waktu beberapa menit untuk mengurus anak-anaknya dan berganti baju. Jadi dia menyuruhku menunggu di kedai kopi di bawah. Aku menurut dan memesan untukku dan untuknya juga.

Mengambil meja di pojok meskipun tidak cukup tersembunyi karena kafe ini cukup terang dengan jendela kaca yang mengelilinginya. Pengunjungnya tidak terlalu ramai jadi kurasa kami akan nyaman disini.

Seorang gadis dengan seragam aproan menghampiriku dan tersenyum. Dia meletakkan slice kue dengan topping kiwi dan strawberry. “Pesanan tambahan anda.” katanya.

Aku menggumam terima kasih. Dan baru menyadari memesan berlebihan hanya untuk sarapan. Tiga pastry berbeda, tiga cake slice yang bentuknya pasti disukai gadis-gadis dan dua amerikano.

Aku sudah menghabiskan kopiku setengah saat pintu berdenting dan Hyura muncul dengan penampilan jauh berbeda dari biasanya. Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Dia mengenakan kaus band rock kebesaran dan celana jeans ketat yang membungkus kakinya dengan cara yang tepat. Tidak ada pernak pernik aneh, baju yang lusuh atau aksesoris sampah. Dia terlihat一normal.

Meskipun make upnya masih aneh dengan warna eyeshadow kuning, lipstik ungu dan pewarna pipi kecoklatan, setidaknya orang-orang tidak akan terlalu memperhatikan wajahnya.

Mengangkat tanganku untuk menarik perhatiannya, dia tersenyum lalu menghampiri mejaku.

Bersamaan dengan Hyura mendekat tiba-tiba punggungku terasa dingin karena tatapan-tatapan membunuh dari balik konter pemesanan. Wajah ramah gadis pelayan yang tadi memberiku kue berganti dengan tatapan tajam, tidak suka, seolah aku penjahat negara. Hal yang sama dengan seorang pria yang sedang mengelap sesuatu di konter. Tangannya bekerja tapi aku bisa menebak pikirannya berharap sedang menguliti mayatku disana.

Ada apa dengan orang -orang itu?

“Kulihat kau benar-benar kelaparan.” suara Hyura menarikku kembali. Dia menarik kursi didepanku lalu mendudukinya. “Kau memesan semua menu kue kami?” ada nada takjub dan tidak percaya lalu dia tertawa kecil. “Kupastikan kau mendapat bonus setelah ini.”

Mau tidak mau aku ikut tersenyum, “aku menantikannya.” mendorong amerikano ke arahnya. “Minumlah.”

Dia menatap gelas didepannya beberapa saat. “Aku tidak minum kopi.”

“Serius?一 Kau punya kedai kopi kalau kau lupa.”

“Kami tidak hanya menjual kopi.” sahutnya penuh pembelaan. “Aku lebih suka teh.”

Mendorong kursiku lalu berdiri. “Akan kupesankan.”

“Tidak, tidak.” Dia menunjuk kursi mengisyaratkan agar aku kembali duduk. “Aku tidak bilang aku tidak bisa minum kopi.” dia mengambil gelas yang tadi kusodorkan lalu menyeruputnya. 

Hyura mengernyit. “Aku tidak akan bohong. Bagaimana mungkin orang-orang menyukai minuman pahit ini.”

Aku tertawa kecil. “Hyura-ya, tidak semua orang menganggap minuman itu pahit. Kau akan merasakan manis setelahnya.”

Dia mengangkat bahu. “Aku tidak ingin mendebatnya.” dagunya menunjuk ke pastry. “Kau mau yang mana?”

“Pilihkan yang paling enak untukku.”

Dia mencibir. “Semua pastry disini enak, Danish pastry strawberry, “ dia mengambil dari piring. “Yang paling kusuka. Sayangnya kami tidak punya croissant kesukaanmu.”

Aku mengambil garpu kecil lalu mencuil cake slice lemon. Rasanya tidak terlalu manis dan segar. “Aku tidak pernah bilang croissant kesukaanku.”

“Tempo hari kau memintaku membelikannya.”

“Kukira hanya itu yang di jual di kedai kopi rumah sakit.” 

“Oke.” Dia mengigit rotinya kemudian mengerang sambil memejamkan mata. Erangan yang sama saat di apartementku. Efeknya tidak separah yang pertama tapi cukup membuatku harus menelan ludah. Setidaknya bagian tubuhku yang lain tidak keras seperti sebelumnya.

Aku berdehem.“Apa kau selalu begitu?”

Matanya terbuka. “Apa?”

“Mengerang setiap makan?”

“Siapa? Aku?” tanyanya bingung. “Aku tidak begitu.”

“Ya, kau melakukannya.”

Dia mengangkat bahu. “Entahlah, aku tidak yakin begitu.”

“Jadi kau melakukannya dengan tidak sadar.”

Dia meletakkan rotinya, bersandar di punggung kursi lalu melipat tangannya didepan dada, membuat payudaranya naik. Meskipun kaus yang dikenakan cukup longgar tapi itu tidak luput dari perhatianku.

“Apa kau juga selalu begitu?”

“Apa?” tanyaku.

“Menonton orang yang sedang makan?”

Aku mendengus. “Aku tidak melakukannya.’

“Jadi kau melakukannya dengan tidak sadar.”

Dan senyumku otomatis merekah. “Dasar sok pintar.”

Dia ikut tersenyum, mengangkat bahu. “Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.”

Hyura mengambil rotinya lagi, tapi kali ini tidak ada erangan, dia hanya memakannya seperti biasa.

“Aku punya teori.” katanya sambil mengunyah. “Menonton orang makan itu membangkitkan selera dan kurasa cukup menyenangkan, karena itu video youtube acara makan-makan memiliki pelanggan yang banyak.”

“Dan apa teorimu juga berlaku untukku?”

“Kurang lebih iya.” Bulu matanya yang panjang mengerjap ke arahku. “Karena kau sering mengajakku makan tapi tidak pernah benar-benar melakukannya.” Tangannya terentang menunjuk cake lemon yang baru kumakan dua suapan. “Kau lebih banyak bicara daripada makan.”

Aku tidak menyadarinya sampai harus mendengarnya sendiri dari Hyura. Benar. Alasanku duduk disini bukan untuk makan atau semacamnya. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku lebih banyak dengannya. Aku ingin mendengar dia berbicara, Aku ingin tau apa yang Hyura lakukan, kerjakan atau apapun. Dan aku menganggap ini bagian dari rasa penasaran yang dulu pernah disinggung Sungmin. Jadi aku tidak membantahnya.

“Ngomong-ngomong, kau tidak harus ke rumah sakit?” tanyaku sambil mengambil suapan lain.

Hyura memasukan potongan terakhir ke mulutnya sambil menggeleng. “Ini akhir pekan, aku kesana setelah jam makan siang.” Ibu Jarinya menunjuk kebalik bahu. “Aku harus membantu disini terlebih dulu.”

Mataku otomatis beralih ke dua orang di balik konter yang masih melihatku tajam.

“Tapi kau tidak disana dan malah duduk disini menemaniku”

Hyura melihat sekeliling. Di dalam kedai hanya ada dua meja yang terisi termasuk meja kami. 

“Pelanggannya tidak banyak. Jadi kurasa tidak masalah. Nammie dan Ryu Jin masih bisa mengatasinya.”

“Kau tidak ingin mencoba sesuatu yang lain?” Tanyaku. “Bekerja penuh waktu misalnya.”

“Entahlah,” Hyura mengangkat bahunya, “ kurasa itu tidak cocok untukku.”

“Apa kau sepesimis itu.”

“Aku tidak pesimis.”

Aku mengangguk, “Oh benar tentu saja, Kau menemani orang koma setiap hari, setidaknya kau tidak sepesimis itu.” kataku setengah mengejek.

Dia cemberut.

“Aku sudah mencoba bekerja, tapi kau tau, aku tidak memiliki latar pendidikan yang tinggi. Di negara ini pendidikan salah satu hal penting, jadi bekerja paruh waktu dan secara daring adalah satu-satunya jalan keluar untukku.”

“Kau punya sejenis portofolio untuk karya-karyamu?”

Dia mengangguk.

Aku tersenyum. “Bagus, boleh kulihat.”

“Tentu,” katanya. “Kau bisa buka websiteku.”

“Kau punya website sendiri?” kejutan lain.

Dia memutar mata. “Kau pikir dari mana klienku berasal.” 

Hyura mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mengetikkan sesuatu disana kemudian menyerahkannya padaku. Dia menyesap Amerikano lagi sementara aku menjelajahi website miliknya.

Dia memiliki desain website professional. Disana tertera jelas profil, klien mana saja yang pernah bekerja sama, lalu karya apa saja yang pernah dibuat. 

Dia tidak bercanda saat bilang membuat desain logo. Saat aku menelusuri sampai ke bagian bawah hampir ratusan desain yang pernah dia buat. Bahkan ada beberapa yang sering kulihat.

Aku mendongak, menatapnya takjub. Ada rasa bangga disana.

 “Ini semua… Kau sendiri yang membuatnya?”

“Tentu saja. Untuk apa aku mempublikasikan karya orang lain? Itu kejahatan, kau tau.”

“Kalau begitu bekerjalah di kantorku?” kataku spontan.

“Apa?”

Aku mengembalikan ponselnya. “Mungkin tidak bisa langsung penuh waktu, karena kebutuhan perusahaan kami tidak sebanyak itu, tapi seiring berjalannya waktu kami pasti membutuhkan jasamu.”

Hyura menggaruk kepalanya tidak yakin. “Entahlah, aku belum pernah bekerja sama dengan perusahaan.”

“Kau mendesain logo perusahaan konstruksi terkenal.”

Hyura tersenyum kecut. “Saat itu mereka hanya perusahaan kecil, karyawannya bahkan hanya 3 orang.”

“Kantorku juga tidak besar.”

Dia menunduk melihat meja. Peperangan di kepalanya terlihat seperti buku terbuka.

“Hyura-ya,” panggilku lembut. Dia mengangkat wajahnya. “Kau tidak perlu memberikan jawabannya sekarang. Pikirkanlah dulu.”

Dia Mengangguk. 

Setelah itu kedai semakin ramai. Hyura tidak bisa lagi duduk bersamaku dia harus bekerja. Dengan ekspresi meminta maaf dia berjalan ke arah konter.

Dia memakai apron yang sama dengan dua orang lainnya lalu memakai masker. Wajahnya tidak terlihat tidak normal dengan penampilan seperti itu.

Mungkin kebijakan dari kedai kopi ini atau inisiatif Hyura sendiri. Aku berharap itu adalah keinginan Hyura, tapi kalau memang dia dipaksa untuk menutupi wajahnya itu tidak masuk akal. Kedai ini milik orang tuanya, tidak seharusnya mereka memperlakukan Hyura seperti itu.

Ada dua pelanggan yang sedang memesan di konter. Hyura tidak bertugas melayani pesanan, dia yang membuat pesanan. Gerakannya luwes, lincah, seolah disana adalah tempat pertempurannya sendiri.

Tanpa sadar aku tersenyum. Keputusanku tidak salah untuk datang kesini. Aku bisa melihat sisi lain dari Park Hyura. Jika kau bisa melihat orang lain mengerjakan apa yang mereka tau adalah kata lain dari seksi.

“Maaf, kau boleh pergi kalau sudah selesai.” suara berat dan dingin menginterupsi.

 Aku menoleh pada pria…rekan kerja Hyura. 

Mengangguk pada makanan di meja. Masih ada dua kue pastri dan setengah slice cake lemon dan buah. “Makananku belum habis.”

“Kau tidak menyentuhnya, mungkin cafe Kami bukan seleramu.”

Menyipitkan mataku padanya. “Kau mengusirku?”

Pria ini tersenyum palsu. “Oh kau salah paham, aku tidak mungkin mengusir pelanggan. Tapi aku baru melihatmu pertama kali, jelas kau bukan pelanggan reguler, jadi kemungkinan besar kau tidak menyentuh makananmu karena memang cafe kami tidak sesuai dengan seleramu.”

Aku mengambil sisa cake lemon yang tinggal setengah dan langsung melahapnya dalam sekali suap. Aku mengunyah dan menelannya susah payah tanpa memutus kontak mata dengan si brengsek ini.

Dia mungkin berharap tidak pernah bertanya saat melihat ekspresinya saat ini.

 “Kalau begitu kami tunggu pesanan Lainnya.” katanya dari balik giginya yang terkatup sebelum berbalik.

***

Saat menjelang makan siang, Hyura melepas apron dan maskernya lalu menghampiriku. Senyum tidak pernah hilang dari wajahnya saat berjalan ke arahku.

Dia melihat ke meja. Cake, Pastry, dua gelas amerikano, satu gelas teh papermint gratis dari Hyura semuanya sudah tidak bersisa.

“Kau benar-benar menghabiskan semuanya?” Tanyanya heran namun tidak bisa menyembunyikan nada gembira dalam suaranya.

“Kurasa hari ini aku tidak butuh makan siang.”

“Oke,” dia melirik jam tangannya. “Aku terlambat ke rumah sakit. Kau mau ikut?” tanyanya penuh harap. 

Harapan itu menyenangkan, tapi sayangnya tidak saat ini. Hari ini aku tidak ingin merusak moodku yang bagus dengan bertemu Lee Donghae. Jadi aku menggeleng.

“Tapi aku bisa mengantarmu.” kataku.

“Keren.” Sahutnya tidak tersinggung sama sekali. “Aku harus mengambil tasku, nanti aku akan menyusulmu ke mobil.”

Dengan itu Hyura berbalik dan keluar.

Saat aku mendorong kursi ke belakang lalu berdiri. Si pelayan pria一sedang membersihkan meja dekat pintu masuk一kembali melirikku tajam. Lalu si wanita melakukan hal yang sama. 

Kurasa aku harus melakukan sesuatu pada mereka berdua. 

~~~

Sepuluh menit kemudian, Hyura turun dengan penampilannya yang biasa…aneh. Ini seperti dia mengenakan kembali baju besi Iron Mannya lagi, dan siap menembak siapapun yang mendekat. 

Make up wajahnya tidak berubah. Namun rambutnya tiba-tiba berubah menjadi warna biru terang seperti Joy di Inside Out tapi dengan potongan yang lebih panjang. Lalu bajunya terusan berwarna kuning dengan bunga-bunga yang dijahit timbul, dan yang tidak pernah ketinggalan stoking bergambar coretan anak TK.

Tidak heran setiap orang yang melewatinya pasti menoleh lalu memberikan tatapan yang tidak menyenangkan. Harusnya kau sudah terbiasa tapi ternyata tidak. Tatapan orang-orang itu tetap membuatku jengkel.

“Kau mengganti bajumu?”    

Dia mengangguk saat mendekat.

“Kenapa?” nada suaraku hampir terdengar kasar.

Hyura berhenti di sisi mobil. “Tidak ada alasan khusus.” sahutnya ringan lalu membuka pintu dan masuk.

Menghembuskan nafas kasar. Benar, seharusnya tidak ada alasan, tapi entah kenapa aku jadi kesal. Bukan aku yang ditatap mencemooh oleh orang lain.

Kau tidak masuk akal Cho Kyuhyun!

Mengikuti Hyura masuk ke mobil lalu menjalankannya. 

Perjalanan dari rumah Hyura ke rumah sakit hanya lima belas menit. Dan sepanjang itu kami tidak mengobrol lagi. Hyura terlihat sibuk melihat jalanan disisi jendela, seolah dia tidak pernah melihatnya. Padahal jalanan ini dia lewati setiap hari.

Aku mendengarnya bergumam saat aku menghentikan mobilku di depan rumah sakit. 

Dia menoleh ke arahku. Lalu tersenyum lembut. “Terima kasih tumpangannya.”

Dalam sepersekian detik aku ingin meraih tangan Hyura dan memintanya untuk tidak keluar dari mobilku, atau orang – orang itu akan mulai menatapnya lagi. Namun aku tidak melakukannya karena itu  sia-sia. Dia seperti orang yang tidak mendengarkan siapapun. Jadi aku hanya mengangguk sebagai balasannya.

***

Senin sore tepat pukul enam, aku sedang bersiap pulang di meja saat Sungmin mengetuk pintu kantorku. Seharian ini kami belum berbicara sama sekali. Dia sangat sibuk meeting dengan Bank Sekuritas一dengan kata lain itu kabar baik. Kami akan mendapatkan suntikan dana dengan jumlah yang fantastis. Itu patut untuk dirayakan.

“Makan malam Tim?” tebakku.

“Tidak malam ini, Tim Developer hampir semuanya tidak bisa.”

“Terserah, aku ikut saja.”

“Jazz Club?一Changmin sudah menunggu disana.”

Ada alasan kenapa Jazz Club selalu menjadi tempat persinggahan kami bertiga. Letaknya tepat di gedung seberang. Kami cukup berjalan kaki, dan ada saat dimana kami terlalu mabuk untuk pulang biasanya pemilik klub一Hyukjae dengan berbaik hati mengantarkan kami kembali ke kantor. 

Saat aku masuk musik lembut piano mengalun dari panggung. Tidak ada Lee Haejin. Hanya pemuda magang yang disewa Hyukjae untuk bermain sementara. Meskipun begitu permainannya lumayan, cukup menghibur pengunjung regular seperti kami.

Changmin melambaikan tangan begitu melihatku. Dia mengambil tempat dekat tangga ke lantai dua. Cukup jauh dari panggung一Meja tinggi dengan empat kursi. Diatasnya sudah tersedia tiga botol bir, tempat ternyaman saat kalian ingin ngobrol.

“Bagaimana kabar chucky?” tanyaku saat mengambil duduk. 

Changmin terkekeh mendengarnya. Aku memanggil anak laki-lakinya yang baru berusia dua tahun sebagai Chucky karena dia selalu menganiaya Changmin. Serius, aku tidak mengerti kesenangan apa yang dimiliki pria saat memiliki anak yang seperti monster. Aku pernah melihat bekas gigitan di lengan Changmin atau bahkan luka disudut bibir karena lemparan maut mainan anaknya.

“Datanglah ke rumah, kau bisa bermain dengannya.”

Aku mendengus. “Tidak terima kasih.” 

Sungmin mengambil botol birnya saat berbicara “Tim Developer seharusnya datang ke kantor saat perayaan seperti ini. Kau tau kami jadi sulit untuk mengatur jadwal untuk makan malam tim.”

Tim Developer yang dipimpin oleh Changmin lebih banyak bekerja dari luar kantor. Mereka tidak harus datang karena memang tidak perlu. Meskipun begitu Sungmin ingin menentukan jadwal setidaknya mereka harus datang sekali dalam sebulan. 

“Kalian bisa melakukannya tanpa kami,” Sahut Changmin. “Timku tidak suka keramaian, kau tau penyakit orang-orang jenius komputer.”

Aku mengangguk setuju. Menenggak birku sebelum bicara. “Mereka bekerja untuk kita, dan kita membayar mereka, tidak adil jika memaksa orang-orang itu untuk bersosialisasi.”

Well, Aku hanya ingin membuktikan bahwa perusahaan kita solid, hanya itu. Tapi jika timmu keberatan,” Katanya pada Changmin. “Aku tidak masalah.”

“Ngomong-ngomong,” kataku, “Kau sudah mendapatkan pengganti Jason?” Aku bertanya pada Sungmin

Changmin mendongak. “Anak berandalan itu masih ada?”

Sungmin mendesah berat kemudian menggeleng. “Aku tidak punya waktu untuk wawancara pegawai baru.” Dia melihatku. “Kukira kau sudah menyeleksi kandidatnya?”

“Ya. tentu.” Senyumku menyeringai. “Tapi aku menemukan orang yang lebih tepat.” Mengambil ponselku dan membuka website Hyura lalu Meletakkannya di meja. “Lihatlah.”

Changmin yang mengambil lebih dulu, dia melihatnya beberapa saat lalu mengangguk dan menyodorkan pada Sungmin. 

“Lumayan.” Komentarnya.

“Lumayan?” aku mendengus. “Dia punya nilai, punya karakteristik, dan menurutku itu sempurna.”

Masih memegang ponselku, Sungmin melirik. “Siapa orang ini? Dia membuat logo konstruksi Daewo?”

Aku mengangguk dengan bangga. “Ya Dia mendesainnya saat perusahaan itu masih kecil.”

Sungmin meletakkan ponselku di meja. “Kau kenal orang ini?”

“Dia Park Hyura.” Aku melihat Sungmin dan Changmin secara bergantian. Melihat reaksi mereka. Sungmin sudah jelas, tidak terlalu suka dengan ideku, sementara Changmin seperti meraba-raba.

Sungmin yang lebih dulu bersuara. “Kita tidak akan mempekerjakan pacar Lee Donghae. Itu ide yang sangat buruk.”

“Dia bukan pacar Lee Donghae.” bantahku tegas.

“Siapapun yang mengenal Lee Donghae tau siapa gadis itu.” Sungmin beralih ke Changmin. “Kau tau siapa pacar Lee Donghae?”

Changmin menggeleng. “Aku tidak tau namanya, tapi aku pernah melihatnya.” Dia menunjuk wajahnya sendiri. “Pacarnya berpenampilan seperti pengikut sekte tertentu.”

Sungmin menunjuk Changmin, “Kau lihat? Semua orang tau siapa Park Hyura.”

Suara geraman terdengar dari dalam dadaku. “Sudah kubilang dia bukan pacar Lee Donghae! Mereka hanya berteman!”

Sungmin meletakkan siku dimeja, menopang wajahnya. Matanya menyipit一menyelidik. “Dan kenapa hal itu mengusikmu?”

“Aku tidak terusik.” desisku. “Aku hanya meluruskan fakta.”

“Meluruskan fakta?” Sungmin melempar kepalanya kebelakang lalu tertawa. “Saat melihat gadis itu di apartemenmu aku tau ada yang aneh. Dia kan gadis yang tempo hari kau bicarakan di restoran?一gadis yang tidak cantik.”

Aku tidak menjawabnya melainkan meneguk birku.

Changmin memajukan duduknya. “Apa ini? Ada yang kulewatkan?”

“Dia sedang bermain dengan pacar Lee Donghae.” Ejek Sungmin.

Changmin mengernyit jijik. “Bukankan itu Inses?”

Membanting botol bir, “Aku tidak Inses dasar Tolol.” Bentakku. “Aku dan Donghae bukan saudara kami hanya tinggal serumah.” Aku menunjuk Sungmin sambil berharap itu adalah pistol yang bisa membungkam mulutnya. “Dan berhenti memanggilnya ‘Pacar Donghae’! Karena dia bukan!”

Changmin terkekeh. “Huu Seram.”

Sungmin ikut tertawa tapi dia mengangkat tangannya seolah menyerah. “Meskipun kau tidak mendengarnya dariku, kau akan mendengar dari orang lain.” Dia melirik Lee Haejin yang kebetulan lewat. “Aku lebih percaya kau berkencan dengan Lee Haejin ketimbang dengan Park Hyura.” Sungmin menempelkan tangannya dimulut lalu memangil Haejin. “Haejin-ah, kemarilah.”

Haejin Memutar mata sebelum melangkah malas ke meja kami.

Lee Haejin wanita berambut hitam pendek, bibir tipisnya dipoles lipstik berwarna merah yang terkadang kau juga akan melihat di giginya. Dia adalah tipe wajah yang akan kau temui sebagai teman penghibur pemeran utama wanita. Meskipun begitu dia memiliki suara menenangkan di panggung. Jadi kurasa itu cukup adil.

“Apa?’ Tanyanya malas.

Sungmin melingkarkan lengannya di bahu Haejin, seolah mereka teman akrab. “Apa kau mau berkencan dengan Kyuhyun kami?”

Aku mendengus. “Terima kasih Hyung, Kau sangat membantu.” 

Haejin terlihat tersinggung. “Kau serius bertanya begitu padaku?” 

Sungmin mengangguk, Sementara Changmin menunggu dengan antusias.

Haejin menatapku seperti aku wabah menular dalam berbentuk manusia. Aku selalu tau dia tidak pernah menyukaiku. Tapi dilihat seperti itu dari jarak sedekat ini ternyata lumayan menyebalkan.

“Dengar Cho Kyuhyun ssi,” Haejin memulai. “Aku lebih memilih menceburkan diri dari bebatuan hingga mati di tengah ombak dan dimakan ikan daripada berkencan denganmu.”

Otomatis Sungmin dan Changmin tertawa keras hingga tubuh mereka bergetar.

Keparat.

“Kau menjelaskannya dengan sangat detail. Terima kasih Lee Haejin Ssi” sahutku dengan rahang terkatup. 

Haejin memajukan tubuhnya hingga wajahnya tepat didepanku. Dia menyeringai sombong. “Bagaimana rasanya di tolak oleh orang yang kau bilang butuh operasi plastik?”

Mengangkat bahu.

Karena aku tidak peduli.

Haejin menegakkan tubuhnya. Dia menoleh ke arah Sungmin. “Pastikan kalian memesan banyak hari ini sebagai kompensasi menggangguku.”

Sungmin mengambil tangan Haejin lalu mengecupnya. “As your wish my lady

Haejin cekikikan sambil mengipasi wajahnya. Aku tidak tahan untuk tidak memutar mata.

***

Menghabiskan tiga botol bir tidak cukup membuatku tidur lelap. Tepat pukul satu pagi aku mendengar suara ketukan pelan, disusul ketukan berikutnya yang lebih keras lalu bel rumahku yang tidak berhenti berbunyi.

Aku mengerang dan bersumpah akan menghajar siapapun orang itu. 

Berjalan cepat ke pintu depan, membukanya kasar.

Tapi kemudian membeku.

Aku melihat gadis asing disana. Dia Berambut coklat terang sepunggung, Matanya yang berwarna coklat cair一berkaca-kaca seperti ada dua berlian di tengahnya一melihatku putus asa. Dan dadaku nyeri tanpa alasan. 

Hidungnya yang kecil memerah karena dingin, kemudian bibirnya sewarna chery terlihat familiar. Aku ingin bertanya saat suara yang sangat ku kenal memanggil namaku.

“Kyuhyun-ah.” Suaranya bergetar. “Tolong aku. Kumohon.”

“Park Hyura?”

***

TBC

Leave a Comment