SAMWISE {PART 2}

Happy Reading N Sorry For Typhoo

***

“Kau berkelahi?” Sungmin menatap heran bekas memar di wajahku. Siang ini dia sengaja datang ke apartemen setelah tau aku baru pulang dari rumah sakit. Padahal aku berharap dia mengunjungiku disana.

“Kenapa?” Tanyanya lagi.

Melempar minuman kaleng padanya sembari mengedikkan bahu. Aku tidak berniat menjelaskan kekonyolan yang kulakukan. 

Mengambil tempat di seberangnya sementara Dia membuka kaleng dan terdengar suara berdesis dari sana. “Kau sudah lama tidak menggunakan tanganmu. Kenapa sekarang begini lagi?” 

Dia meneguk minumannya saat berbicara lagi “Urusan wanita?” tebaknya.

Meliriknya malas dan menyesap minuman ku sendiri. “Jangan cerewet, urus saja urusanmu sendiri.”

Sekarang tawanya melebar, aku meliriknya jengkel. “Kau lebih sensitif dari yang kukira. Tapi kenapa tiba-tiba kau masuk rumah sakit? Terakhir kita bertemu kau baik- baik saja. Apa kakimu bermasalah lagi?”

Membuang muka. “Bukan itu.”

“Bukan itu?”

Aku menatapnya sebentar lalu menggeleng lemah. “Kau tidak akan mengerti.”

“Aku akan mengerti kalau kau menjelaskannya dengan benar. Ayolah Kyu, kau bisa mengatakan apapun padaku.”

“Kau percaya hantu?” Tanyaku hati-hati.

“Apa?” bibirnya bergetar menahan senyum lalu kemudian menggeleng. “Maaf, Pertanyaanmu jauh dari bayanganku.” Dia berdehem berusaha menyembunyikan tawanya. “kurasa sebaiknya kau masuk kantor, Kyuhyun-ah. Kau terlalu banyak menonton serial supranatural.”

Mendesah berat. “Aku tau akan seperti ini. Pergilah kau membuat suasana hatiku memburuk.”

Meletakkan kaleng soda yang sudah kosong, dia justru menaikkan kakinya lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Menggunakan kedua tangan sebagai bantal “Bisakah aku disini sebentar lagi? Aku malas kembali ke kantor “

“Kalau begitu pulanglah ke rumahmu. Kenapa harus kembali ke kantor.”

“Aku tidak pernah pulang ke rumah saat hari masih terang. Itu sangat aneh.”

“Kurasa kau lah yang aneh.” Sahutku malas.

Tiba-tiba dia memandangku antusias. “Hey, Bagaimana kalau kita cari club baru?”

“Tidak. Aku malas.” Memerosotkan tubuhku dan menjulurkan kaki ke arah meja. “Aku sedang tidak ingin melakukan apapun.” 

***

Biasanya hidupku selalu penuh kejutan. Tapi belakangan ini sepertinya aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan kebosananku lebih parah ketimbang saat aku dirawat di rumah sakit lebih dari setahun.

Kurasa aku bisa menyalahkan Lee Donghae dalam prosesnya. Seolah kemunculannya telah menurunkan kadar kejutan dalam hidupku.

Seperti Hari ini一hari pertamaku masuk bekerja setelah dua minggu keluar dari rumah sakit. Percayalah dua minggu penuh siksaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Pikiranku tidak karuan, fokusku hilang dan aku selalu ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat Donghae一atau mungkin Hyura. Entahlah.

Jadi ini yang kulakukan, pergi ke bar, minum-minum, melihat Lee Haejin dan mungkin berkencan satu malam. Pokoknya apapun untuk menjauhkanku dari rumah sakit sialan itu.

Dan hari ini satu orang lagi yang tidak ingin kutemui muncul. Paman Lee, Ayah Donghae repot-repot mengunjungi kantorku yang kecil. Dia pria tua berkacamata dengan rambut mulai memutih dan wajahnya yang lelah, seolah dia sudah melewati malam-malam tanpa tidur.

“Aboenim.” sapaku. 

Dia tersenyum lemah. Matanya langsung menjelajahi ruang kerjaku yang kecil dan berantakan sebelum bicara. “Apa kabar Kyuhyun-ah?”

Aku berdiri dari balik meja dan menunjuk satu-satunya kursi di depan mejaku. Dia menggumam terima kasih sebelum menarik kursi dan mendudukinya.

“Kudengar kau mengunjungi Donghae?”

Menyandarkan punggungku ke sandaran kursi lalu melipat tanganku. “Jadi karena itu kau kemari?” tanyaku tanpa repot-repot menjaga nada suaraku tetap sopan.

Masih tersenyum “Aku ingin melihatmu, dan menanyakan kabarmu tentu saja.” katanya. “Apa pengobatan di Singapore lancar? bagaimana keadaanmu sekarang? apa sudah pulih sepenuhnya?”

Mengangkat bahu. “Seperti yang kau lihat sekarang, aku sudah bisa berjalan dan bekerja. Terima kasih sudah bertanya”

Senyumnya semakin lebar. “Syukurlah,” dan sesaat dia menatapku hati-hati sebelum bicara. “Maukah kau kembali ke perusahaan?”

“Tidak” sahutku tanpa perlu berpikir 2 kali.

“Tidak ada salahnya mencoba.” Katanya lebih kepada dirinya sendiri. Dia menatapku penuh harap. “Semenjak kecelakaan kalian posisi Donghae kosong dan kurasa aku tidak bisa lagi menunggu, hanya kau yang bisa mengisinya.”

Aku mendengus “Aku bukan pengganti.” 

“Aku tau.” bahunya yang lemah merosot dalam. “Kami berencana membawa Donghae pulang, Kurasa sudah cukup kami menunggu,.”

Tanpa sadar tubuhku menegak. “Apa?”

Pria tua itu  mengangguk pasrah. “Sepertinya memang tidak ada harapan.”

Entah untuk alasan apa tiba-tiba aku begitu kesal mendengarnya. Tidak ada harapan? Apa dia gila? Dia sedang membicarakan anak laki-lakinya sendiri.

“Boleh kutanya sesuatu?” Tanyaku tertahan,

Dia mengangguk.

“Apa kau pernah sehari saja mengurusi putramu? apa kau pernah mengganti pakaiannya? membasuh tubuhnya atau bahkan mencukur wajahnya?” aku tidak bisa mencegah nada suaraku meninggi di akhir kalimat. Bayangan Hyura yang melakukan itu semua untuk si tua bangka ini membuatku semakin keasl. “Kau bahkan tidak melakukan apapun selain membayar tagihan rumah sakit! dan sekarang kau bilang apa? ‘sudah cukup’? kau pasti bercanda!”

Dia terlihat kebingungan melihat reaksiku “Kyuhyun-ah, Apa….”

“Keluar!” potongku cepat. Aku tidak yakin bisa menahan emosiku lebih jauh jika dia masih meneruskan ucapannya. 

“Kyuhyun-ah…”

Aku menatapnya tajam dan mengulangi ucapanku dengan penuh penekanan. “Ke一lu一ar!”

Aboenim memejamkan matanya sesaat lalu mendesah berat. “Baiklah. Mampirlah ke rumah kalau kau sempat.”

Aku tidak menanggapinya dan membuang wajahku begitu dia berdiri dan keluar.

***

“Kau baik-baik saja?” 

Sungmin mengikuti ke pantry setelah mendengarku membanting pintu. Kepalanya menengok ke arah lorong一ke arah lobby “Bukankah itu Direktur Lee?一Ayah Donghae?”

Aku mengambil botol air mineral kulkas dan langsung menenggaknya, berharap dinginnya air bisa sedikit meredam rasa panas di dadaku. Meskipun terasa sia-sia 

“Kalian bertengkar?” 

Membanting botol ke meja dapur dan menggeleng. “Orang tua itu benar-benar….”

Sungmin menatapku menunggu, berharap melanjutkan ucapanku atau semacamnya tapi aku tidak berniat membahas masalah keluarga orang lain disini, jadi aku hanya perlu menelan semua makian yang sudah di pangkal tenggorokan dan berlalu.

Kudengar Sungmin mendesah berat lalu menyusulku “Kyuhyun-ah,”

“Apa jadwal hari ini?” tanyaku begitu dia berjalan disisiku.

 Seolah mengerti dia tidak menanyakannya lagi. “30 menit lagi ada rapat tim.”

 Aku mengangguk dan dia berhenti di pintu ruangannya “Kau tau bisa membicarakannya padaku, Kyu.”

Aku mengangkat bahu dan masuk ke dalam ruanganku sendiri.

Aku mendirikan perusahaan ini bersama dua temanku, Sungmin dan Changmin. Perusahaan kami bergerak di bidang teknologi investasi. Mudahnya kau bisa melakukan investasi melalui teknologi dan applikasi yang perusahaanku jalankan. Kami sudah menjalankannya selama empat tahun, seandainya kecelakaan itu tidak terjadi mungkin tahun ini perusahaan kami sudah mencapai unicorn.

 Setelah kecelakaan mereka berdua yang menjalankannya dengan sangat baik dan aku berhutang pada mereka. 

Jadi apapun yang terjadi hari ini aku harus memusatkan perhatianku sepenuhnya pada pekerjaan.

 ~~~

Seorang pegawai magang bertubuh kecil berambut coklat tersenyum malu-malu padaku saat dia memasuki ruanganku. Matanya yang berwarna kehijauan karena contact lens menatapku penuh minat. 

“Tuan Cho.” Katanya dengan suara paling manis yang bisa dia keluarkan. Dia menyodorkan map bening sambil berkata “Ini ada beberapa daftar kandidat yang sudah diseleksi oleh Direktur Lee.”

Aku mengambil map lalu membukanya. “Kandidat?” 

Gadis itu menggaruk kepalanya, “Jason Kim pergi bulan lalu, dia bertengkar dengan Direktur Lee.” Jelasnya.

“Anak Punk itu masih disini?” 

Ada dua alasan kenapa orang bekerja. yang pertama mereka butuh uang dan yang kedua mereka butuh kegiatan. Dan Jason adalah alasan kedua. Dia bilang hidupnya terlalu membosankan jadi mau bekerja disini dengan bayaran murah. Namun konsekuensi lainnya adalah, perusahaan harus mentolerir banyak hal, dari mulai kedisiplinan dan kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak perlu. Mungkin karena hal itu membuatnya tidak akur dengan Sungmin.

Mengangguk padanya. “Aku mengerti, nanti akan kubaca. Terima kasih….” kata-kataku menggantung dan gadis itu tersenyum makin lebar.

“Jihye.” Katanya. “Sung Jihye.”

Aku membalas senyumnya dengan senyum terbaikku. “Baiklah terima kasih Jihye ssi, kau boleh kembali  ke tempatmu.”

Dia menunduk sambil mengipasi wajahnya sebelum keluar

Dan aku tersenyum puas melihat reaksinya. Karena memang begitulah seharusnya reaksi wanita normal.

***

Aku memikirkannya sepanjang hari, sepanjang waktu, seperti gatal yang ada di punggungmu karena gigitan serangga di musim panas. Kau ingin menggaruknya tapi tidak bisa dan itu menyiksa. Saat rapat tim, saat makan siang, saat pertemuan dengan klien. Aku hanya memikirkan si Brengsek itu dan pelayannya.

Jadi disinilah aku一di parkiran rumah sakit sambil mengetuk-ngetukkan jariku di kemudi.  Dan sekali lagi disini aku mengingatkan diriku sendiri, hal ini sama sekali bukan urusanku. Sama sekali.

Jadi Sebaiknya kau menyalakan mesin mobil dan angkat pantatmu dari sini Cho Kyuhyun! 

Percayalah aku sudah mengatakan hal itu pada diriku sendiri sejak 30 menit yang lalu. Tapi hasilnya aku masih disini. 

Idiot.

Aku menyerah. Membanting pintu, mengumpat sebelum berjalan masuk ke rumah sakit.

Matahari baru tenggelam, biasanya jam segini Hyura masih ada di kamar Donghae. Aku tidak mengetuk atau meminta izin saat membuka pintu.

Dan disanalah dia.

Berdiri, terkejut melihatku.

Matanya gelap一segelap langit malam一melebar melihatku, aku bertanya-tanya apakah itu warna asli matanya? 

Dan ditambah riasan matanya yang kelewat hitam, kalau dilihat secara keseluruhan penampilannya lebih jelek daripada pemeran the walking death. Hari ini rambutnya berwarna pirang hampir mendekati perak dan bajunya terusan lusuh panjang berwarna abu-abu dan sepatu kain yang tidak kalah lusuh dengan bajunya. 

Seolah sudah terbiasa dengan penampilannya yang aneh, jadi semua itu sama sekali tidak terlalu menggangguku. 

Justru ekspresinya saat ini yang mengganggu一membuatku takut lebih tepatnya. 

Hyura melihatku seolah aku adalah hadiah yang sudah dinantikannya sepanjang tahun. Matanya melihatku penuh minat, maksudku bukan seperti wanita-wanita lain saat melihatku. Dia…..Berbeda. Dan itu membuat  dadaku berdebar seperti sesaat sebelum meluncur di perosotan air, cepat, dan tanpa bisa kucegah.

Haruskah dia berekspresi seperti itu?

“Kyuhyun-ah….” Panggilnya, dan terkutuklah aku, aku begitu menyukai namaku di bibirnya. 

“Kau datang?” tanyanya setengah terkejut, setengah tidak percaya.

Aku mengangkat bahu pura-pura acuh lalu menutup pintu dibelakangku. Berjalan perlahan ke arahnya yang masih berdiri mematung di tengah ruangan sambil memegang buku.

“Kenapa? Aku tidak boleh berkunjung?” tanyaku ketus.

Dia menggeleng cepat, ”Bukan itu….” Ekspresinya berubah sendu “Kukira….kau tidak mau datang lagi.” suaranya menghilang di akhir kalimat. 

“Hyura-ya….”

“Aku minta maaf.” Potongnya cepat

“Apa?”

“Aku benar-benar minta maaf, karena bersikap lancang tempo hari” dia menunduk menatap lantai. “Maafkan aku.” bisiknya.

Aku sendiri tidak tau harus bereaksi apa, karena sejujurnya aku lebih berharap Hyura melupakannya dan tidak membahasnya lagi. Well, tidak dipungkiri sebenarnya aku juga bersalah dengan sikapku yang kurang ajar.

“Sebaiknya…. Kita tidak perlu membahasnya lagi.” kataku akhirnya.

Hyura mengangguk lemah, masih belum menatapku.

Kemudian menit-menit penuh kecanggungan. 

Tidak ada satupun dari kami yang membuka suara. Hanya suara mesin dari ranjang Donghae yang terdengar sampai tiba-tiba Hyura tersenyum memaksa.  “Sebaiknya aku keluar, kau bisa menghabiskan waktumu disini.”

“Apa?” Tiba-tiba aku panik, aku tidak mau berduaan dengan Lee Donghae. “Tidak, tidak, kau tidak boleh kemana-mana.”

“Huh?”

Aku menggeleng keras. “Tetaplah disini, dan lakukan apa yang sedang kau lakukan sebelum aku datang.”

Hyura mengerjap dua kali, masih bingung.  Jadi aku mengangguk ke arah buku yang dipegangnya. 

“Kau bisa membacakannya buku lagi”

Dia menggaruk kepalanya, meringis. “Aku sudah membacakan buku ini lebih dari 3 kali. Kurasa Donghae juga sudah muak mendengarnya.”

“Kalau begitu kau bisa membaca buku yang lain.”

Dia mengangguk “Ya mungkin besok, hari ini aku kehabisan buku.” dia berbalik menjauh ke balik rak, disana ada set meja dan kursi kecil tempat biasa Hyura mengerjakan pekerjaannya. 

Dia memasukkan buku yang dipegang ke dalam kantong kertas. Lalu berbalik ke arahku. Menatapku penuh harap. “Apa Kau mau mengajak Donghae berbicara?”

Aku mendengus. “Yang benar saja.”

Dia mengangkat bahu lagi, kemudian di detik berikutnya tatapan gadis itu berubah, dia melihatku dari atas sampai kebawah. Aku terbiasa menjadi perhatian wanita dan aku menyukainya, tapi Hyura bukanlah wanita biasa, jadi tatapannya yang memindai cukup membuat getaran aneh di tulang belakangku. Hingga tanpa sadar aku membentaknya “Apa yang kau lihat?” Aku tidak bermaksud kasar tapi mulutku bicara dengan sendirinya tanpa bisa kucegah.

“Kau sudah bekerja?” tanyanya. “Penampilanmu terlihat jauh lebih baik..” 

Aku menunduk melihat baju yang kukenakan. Benar juga, hari ini aku memakai setelan kemeja dan jas, dipadu dengan dasi berwarna biru gelap. Berbeda dengan hari sebelumnya aku hanya memakai sweater atau celana jeans, lalu dia juga melihatku dengan pakaian rumah sakit.

“Begitulah.” Sahutku datar.

“Bagus sekali, berarti kau sudah sehat sepenuhnya. “Katanya lembut. Lalu tatapan matanya beralih ke Donghae, sekelebat aku melihatnya tersenyum sedih, hanya sebentar tapi aku melihatnya. 

Dia tersenyum tipis一dipaksakan lebih tepatnya. “Duduklah kalau begitu. Aku harus mengerjakan sesuatu.” katanya lalu menarik kursi membuka PC tablet dan penanya kemudian menggores-gores sesuatu disana.

Aku menuruti Hyura, berjalan kearah sofa krem yang entah sejak kapan menjadi sahabat baikku setiap aku berkunjung.

Mataku berkeliling di kamar ini, tidak ada yang berubah bahkan warna tirainya tetap sama. Putih membosankan. 

Lalu aku berpaling pada Hyura, menatap gadis itu lebih lama dari seharusnya.

Matanya bergerak fokus, bibirnya yang penuh terbuka sedikit, dan kerutan di dahinya kadang muncul kadang menghilang. Hari ini dia hanya merias matanya namun tidak dengan bagian wajahnya yang lain. Terlihat bagaimana pipinya yang  pucat dan garis alisnya yang tidak terlalu tebal.

Mataku turun kebawah kearah pakaian lusuhnya, selama ini Hyura selalu memakai baju kebesaran dan baru kusadari dia tidak pernah menunjukan kakinya. Selain memakai baju panjang dia juga selalu memakai celana ketat berpola aneh.

Aku ingin bertanya padanya ketika sesaat kurasakan hembusan angin disisiku lalu disusul suara menyebalkan yang tiba-tiba berdengung di udara.

“Hyura bukan makanan, berhenti menatapnya seperti itu!”

Si brengsek itu yang entah muncul dari mana tiba-tiba sudah berdiri di sisi sofa.

Aku memutar dan mempertahankan fokusku tetap pada Hyura, memilih tidak menghiraukannya.

“Hyura-ya,” panggilku.

Dia mendongak dari meja, menatapku menunggu.

 Memaksa tersenyum aku bertanya padanya. “Kau sudah makan?”

Hyura melirik jam ditangannya. “Ini belum waktunya makan malam.”

“Aku kelaparan, bisakah kau menemaniku?”

Hyura melirik ke ranjang Donghae sesaat dan melihatku ragu. Dia belum menjawab tapi suara Donghae benar-benar menguji kesabaranku.

“Dia tidak akan meninggalkanku, Kyuhyun-ah.”

Aku melirik ke arah Donghae dengan tatapan sombong seolah berkata kita lihat saja nanti.

“Kita makan disini saja, aku akan memesankan pesanan antar.” Sahut Hyura. Kekecewaan merayapi kakiku seperti serangga.

Dari sudut mataku Donghae tersenyum puas, apa kubilang adalah kata-kata yang tidak dia ucapkan.

Hyura mengambil ponsel lalu mengutak-atik jari disana sambil berbicara. “Ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Ada tapi bukan disini, kita harus keluar.” sahutku, berusaha tetap tenang.

Hyura mendongak, melihatku lalu tersenyum minta maaf, “Ada yang harus kukerjakan.” katanya. “Besok tenggat waktunya jadi aku tidak bisa kemana-mana.”

Entah untuk alasan apa aku lega mendengarnya. 

Di saat yang bersamaan Donghae bergerak mendekat dan berdiri di samping Hyura. Dia menatapku sengit sambil bersedekap. 

“Apa kau punya maksud tertentu mengajak Hyura keluar?”

Aku Mati-matian menahan diri agar tidak berteriak bahwa itu sama sekali bukan urusannya.

Meskipun sulit aku tetap tersenyum. “Kalau begitu sebaiknya kau pulang, kau bisa mengerjakannya dirumah.”

Hyura melirik jam lagi. Sebelum dia bisa beralasan lagi aku berbicara. “Ayolah, aku kelaparan, dan aku bisa membeli makan sekalian mengantarmu, lagipula mengerjakannya di rumah lebih nyaman ketimbang disini.”

Hyura terlihat memikirkan saranku sementara si Brengsek itu menatapku jengkel. Aku tidak peduli.

Aku hampir mengeluarkan lidahku seperti anak kecil pada Donghae saat Hyura mengangguk setuju. Aku tau itu sama sekali tidak keren.

Aku berdiri di ambang pintu sambil menunggu Hyura membereskan barangnya. Dia memasukkan beberapa buku ke kantong kertas. PC tablet dan ponsel ke tas punggungnya lalu bergabung denganku di pintu. Seringaianku semakin lebar saat menutup pintu meninggalkan Lee Donghae yang berdiri menatap kepergian kami dengan tidak berdaya.

***

“Apa yang kau bawa?” tanyaku sambil menunjuk tas kertas di pangkuannya. Aku baru menyalakan mesin dan pemanas agar Hyura lebih nyaman saat dia memasang sabuk pengaman.

“Ini buku pinjaman.” katanya. “Besok aku harus mengembalikannya ke perpustakaan.”

Aku membantunya meletakkan tas punggungnya di jok belakang. Dia menggumam terima kasih dan aku menjalankan mobilku keluar dari parkiran.

“Buku apa saja yang kau pinjam?” Tanyaku. 

Pertanyaanku bukan sekedar basa-basi atau hanya untuk mengisi keheningan di dalam mobil, tapi karena memang benar-benar ingin tau. Karena Bagiku Hyura seperti gadis aneh dengan topeng dart vader-nya. Dan aku ingin tau ada apa dibaliknya.

Hyura mengintip kedalam tas kertasnya sebelum menjawabku “Apa saja yang bisa kutemukan, minggu ini aku membacakan fiksi sejarah dan romantis.” Dia melihatku sekilas dan tersenyum malu. “Aku tau, kau tidak perlu mengatakannya” katanya bahkan sebelum aku membuka mulutku. Hyura melanjutkan “Seperti yang pernah kau katakan padaku beberapa minggu lalu一seharusnya aku tidak membacakan buku romantis, tapi percayalah aku pernah mencoba membacakan buku non fiksi dan aku jatuh tertidur.” 

Mau tidak mau kali ini aku yang tertawa. “Serius?”

Kulihat dari sudut mataku Dia mengangguk malu. 

Di dalam mobilku gelap tapi entah kenapa aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya.

Hyura menyandarkan kepalanya sambil mendesah. “Koleksi di perpustakaan rumah sakit tidak terlalu banyak jadi terkadang aku harus ke perpustakaan kota. Kau tau aku sudah hampir kehabisan bahan bacaan.”

“Aku punya banyak buku kalau kau mau.” perkataan itu lolos begitu saja. Aku tau ini salah, ini tidak benar. Tapi bodohnya aku tidak berhenti. “Mampirlah ke rumahku, kau bisa memilihnya sendiri.”

“Benarkah?” Hyura sepenuhnya Menghadapku, lebih antusias daripada yang pernah kudengar.

“Tentu.”

“Itu sangat berarti, kau tau.”

“Kau bisa memilihnya sekarang.”

“Sekarang?一maksudmu hari ini?”

Aku mengagguk.

“Bukankan kau mau keluar cari makan?”

Mengangkat bahuku. “Aku bisa makan dirumah.” aku tau ini terdengar aneh bahkan ditelingaku sendiri. Tapi siapa peduli. Ada yang ingin kubicarakan dengan Hyura dan rumah sakit bukan tempat yang tepat, jadi kalau aku bisa membawanya kerumahku itu lebih baik. 

“Kau yakin?” dia terdengar ragu.

Aku tersenyum miring dan membelokkan kemudi ke arah rumahku. “Tidak pernah seyakin ini?”

***

Rumahku apartemen sederhana dengan dua kamar. Saat memasuki ruang depan kau akan langsung tau disini tempat tinggal pria lajang. Dekorasi minimalis berwarna abu-abu, hitam dan perak. Di ruang tamu ada sofa kulit berwarna hitam, dilengkapi meja kopi dan TV layar datar. Di Belakangnya jendela besar langsung pemandangan kota. Di sisi kiri terdapat dapur yang jarang kupakai dan aku hanya menggunakannya sebagai tempat penyimpanan minuman.

Hyura mengikutiku ke lorong dan membuka pintu pertama. Aku menggunakan kamar terluas sebagai ruang kerja. Saat kubilang aku punya banyak buku aku tidak bohong. Rak-raknya memenuhi setiap sisi dinding yang tingginya bahkan melebihi tinggiku. Lalu ditengah ruangan ada meja kerja besar, komputer dan kursi malas dipojok dekat jendela. Tempatku menghabiskan sebagian besar waktu disana.

Hyura terkesiap melihat koleksi buku-buku milikku, dia melewatiku cepat, dan langsung menuju rak terdekat.

Dia menatapku penuh takjub. “Aku boleh meminjam berapapun tanpa batas waktu peminjaman?”

Aku terkekeh, “kau pikir ini perpustakaan.” sahutku. “Ambillah yang kau butuhkan.” ibu jariku menunjuk ke arah bahu. “Aku akan meninggalkanmu disini, tidak masalahkan?”

Hyura mengangguk tanpa melihatku.

Aku menutup pintu meninggalkannya di sana.

Setelah memesan makanan dengan layanan pesan antar aku mengambil waktu membersihkan badan dan mengganti pakaian. Tepat sebelum jam 8 pesanan pizzaku datang. Aku melirik pintu ruang kerja dan belum ada tanda-tanda Hyura akan keluar dari sana.

Jadi aku mengetuk dua kali sebelum membukanya.

Hyura terduduk dilantai dengan beberapa buku ditumpuk disisinya.

“Kau punya buku-buku yang sulit.” katanya begitu aku masuk. Dia membolak balikkan buku yang kuyakini sebagai self motivation di tangannya.

“Apa itu buruk?”

Dia meringis. “Tidak seandainya bukan untuk membacakan orang sakit.” katanya lalu berdiri. “Aku sudah memilih beberapa buku, sebaiknya aku pergi sebelum terlalu malam.”

“Makanlah dulu, kau belum makan.”

“Aku punya Dateline, kau ingat?”

“Kerjakan saja disini, kau bisa pakai ruang kerjaku.”

Dia menatapku beberapa saat一bingung, dan sebelum dia bisa menolaknya aku berbicara lagi. “Aku terlanjur memesan pizza lebih banyak daripada seharusnya, aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian.” Aku menunjuk meja kerja. “Kau bisa bekerja sambil makan disana.”

Dia menatap mejaku ragu sebelum kembali padaku.

“Aku tidak terbiasa makan sambil bekerja.”sahutnya pelan.

“Atau kau bisa makan dulu setelah itu melanjutkan pekerjaanmu.” Aku sadar aku sedikit memaksanya, tapi sekali lagi kami harus berbicara jadi apapun akan kulakukan agar dia tetap disini.

“Ayolah, anggap saja aku mentraktirmu.” kataku lagi.

Dia berpikir beberapa saat menimbang-nimbang lalu mengangguk. “Aku bisa makan beberapa potong sebelum bekerja.”

Tanpa sadar bibirku melengkung ke atas. “Ayo.” 

Aku membiarkan Hyura keluar lebih dulu kemudian aku mengikutinya dari belakang. Hyura mengambil duduk di bawah, dikarpet, lalu membuka salah satu kardus pizza dari tiga yang lainnya. Bau keju dan daging langsung memenuhi apartemenku, tapi bukan itu yang membuatku berdiri mematung.

Hyura mengerang begitu mencium aromanya.

Apa aku gila jika kukatakan erangannya membangkitkan sesuatu dalam diriku? 

Ya, kurasa memang begitu.

Kemudian dia mengambil sepotong lalu diikuti erangan lainnya saat gigitan pertama. “Ya Tuhan, ini sangat enak.”

Tanpa sadar aku menelan apapun yang ada di tenggorokanku, dan mataku tidak bisa lepas dari mulutnya.

Hyura berhenti mengunyah melihatku kebingungan. “Kau tidak makan?”

“A…aku…sebaiknya….” aku berjalan cepat melewatinya menuju dapur, “akan ku ambilkan minum.”

Dia bergumam terima kasih disela kunyahnya.

Mengambil botol dari kulkas dan meneguk air banyak-banyak.

Sepertinya tidak berhasil, aku butuh mandi air dingin tapi aku baru saja mandi. Dan itu bisa membuat Hyura kebingungan.

Membenturkan kepalaku ke pintu kulkas. 

Kau sudah tidak waras Cho Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah,” panggil Hyura,”Kau baik-baik saja?”

“Eh,” aku berbalik, kulihat dia sudah menghabiskan potongan pertama.

 Mengangguk kaku,” Ya…tentu, aku baik-baik saja.” aku mengambil 1 botol air lagi sebelum bergabung dengannya.

Mengambil duduk di ujung meja, posisi terjauh dari Hyura lalu mendorong botol Minuman ke arahnya.

Aku membuka kotak pizza yang terdekat denganku sementara Hyura mengambil bola keju. Dia memasukkannya dalam satu gigitan hingga memenuhi mulut dan pipinya menggembung.

Kemudian sesaat aku membayangkan apakah mulut kecilnya Bisa mengulum hal lain. 

Menggeleng keras. 

Hentikan! Cho Kyuhyun. Fokus!

Aku mengambil tisu dan menyodorkannya pada Hyura.

Dia mengerjap menatapku menunggu.

Menunjuk sudut mulutku “Ada Saus.”

“Oh, Trims.” Dia mengambil tisu dari tanganku dan mengusap mulutnya.

Aku berpikir keras untuk mencari topik aman agar mataku  tidak terus-terusan menatap bibirnya atau apapun itu di wajahnya.

Tatapanku beralih ke meja sambil mengambil potongan untukku sendiri, berusaha untuk tidak melihatnya.

 “Ngomong-Ngomong dateline apa yang sedang kau kerjakan?” Tanyaku 

“Bukan apa-apa, hanya design untuk sampul buku.”

Aku menoleh, kali ini bukan tertarik pada bibirnya lagi, maksudku benar-benar tertarik dengan apa yang dia bicarakan.

“Sampul buku?” Tanyaku. “Maksudmu semacam illustrator?”

Dia mengangguk.

“Buku jenis apa?” 

“Kata penerbitnya buku cerita remaja.” Hyura mengambil botol minum di meja. Dia membuka dan meminumnya dalam beberapa tegukan.

“Kukira kau hanya desain grafis dan hanya mendesain logo.”

Gadis itu tersenyum. “sebenarnya aku tidak terpaku pada satu bidang, jika klien menyukai apa yang kubuat aku bisa mencoba membuatkannya, dan jika mereka tidak suka itu bukan masalah.”

Aku Meletakan pizza yang baru kumakan setengah. “Kau pernah Mendesain Web atau sesuatu di internet?”

Dia mengangguk.

“Ceritakan padaku,” kataku lebih menuntut.

“Kebanyakan untuk toko di internet.” Sahutnya, dia mengambil satu potongan pizza Lagi. “bisa logonya, label atau ikon website untuk personal blog.”

“Bagaimana untuk Sebuah perusahaan?”

Dia menggeleng. “Aku belum pernah bekerja sama dengan perusahaan, kebanyakan toko kecil, atau brand-brand yang baru merintis usahanya, kau tau mereka mempunyai budget terbatas karena itu mereka menggunakan jasaku.”

“Memangnya Berapa tarif yang kau tetapkan?”

Hyura mengangkat bahu, “kadang mereka hanya membayarku dengan barang milik mereka.”

Dahiku berkerut “Apa kau sedang melakukan pekerjaan amal?” Menggeleng tidak percaya “mereka hanya memanfaatkanmu, Hyura-ya.”

Dia mengangkat bahu “Aku tidak merasa begitu.”

Aku mendengus, lalu berbisik kasar. “Orang-orang brengsek itu terkadang tidak tau diri.” Aku tidak tau bagaimana ekspresiku tapi Hyura berhenti mengunyah lalu menatapku menilai.

“Apa?”tanyaku.

“Bukan apa-apa,”katanya, “Tapi sesekali cobalah berpikir lebih sederhana, tidak semua hal bisa dipikirkan secara buruk.”

“Aku mengatakan hal ini karena memang itulah kenyataannya.” bantahku. “Dan terkadang kaulah yang seharusnya berpikir bahwa tidak semua di dunia ini datang dengan hal baik.”

Seketika ekspresi Hyura berubah sepenuhnya, matanya meredup, tubuhnya menegang lalu  membuang muka.

Aku baru ingin bertanya apa masalahnya tapi dia tiba-tiba berdiri.

“Sebaiknya aku membereskan buku-bukumu.” Katanya tanpa melihatku lalu berjalan ke ruang kerja. 

Kurasa Disinilah masalah semua wanita. Mereka dengan mudahnya berubah Sikap dan berharap kami kaum pria bisa memahaminya.

Sama seperti sebelumnya. Di mobil, di rumah sakit, sekarang di rumahku. Ekspresi Hyura bisa berubah secara tiba-tiba dan begitu tersadar dia sudah pergi.

Ayolah kami bukan pembaca pikiran atau semacamnya.

Karena hal itu juga aku merasa Tidak perlu memberitahu apapun padanya tentang rencana Keluarga Lee. Itu bukan urusanku, dia bisa menghadapinya sendiri.

Dengan pemikiran itu aku menyusulnya dan membuka ruang kerja, dia sudah Membereskan buku-buku yang tadi berserakan di lantai. Kulihat dia menumpuk setidaknya 4 sampai 5 buku di meja. 

“Kalau sudah selesai kau boleh pergi, aku mau istirahat.” Hyura hendak membalasku tapi aku berbalik dan Menutup pintu, kembali ke kamar.”

***

Keesokan paginya aku menemukan catatan di meja dapur.

Aku memasukan sisa pizza ke kulkas, kau bisa memanaskannya besok.

Terima kasih atas makan malamnya.

Aku menikmatinya.

P. Hyura

Aku mendengus lalu meremas catatannya dan membuangnya ke tempat sampah. Begitu juga dengan pizzanya. Aku membuang semuanya.

Aku tidak ingin lagi memikirkan mereka berdua, kurasa kesalahan besar datang ke rumah sakit kemarin. Seberapa besar pikiran itu menggangguku aku bersumpah tidak akan kesana lagi.

Persetan dengan Lee Donghae, aku masih punya banyak urusan yang harus kupikirkan.

Beberapa jam kemudian aku sudah duduk dikantorku, memusatkan pikiranku pada pekerjaan. Itu sangat membantu, kau tau pria bisa fokus pada hal-hal yang disukainya. Dan aku suka bekerja.

Saat istirahat siang Sungmin mengajakku makan di restoran italia dekat kantor. Dia memesankan pasta dan 1 loyang pizza.

Aku menatap pizza seperti menatap musuh bebuyutan. Mengingatkanku pada kejadian semalam dengan Hyura si gadis aneh..

Entah bagaimana ekspresiku tapi Sungmin menatapku bingung.

“Ada apa denganmu?”

 Dia menyendok pasta miliknya dan memasukkan ke mulut. Saus krim berwarna putih menodai mulutnya dan lagi-lagi aku mengingat bagaimana Hyura mengunyah bola keju besar dimulutnya.

Menggeleng keras.

Sadarlah! Cho Kyuhyun!

“Serius Kyuhyun-ah.” Sungmin melihatku cemas. “Belakangan ini kau bersikap aneh. Apa terjadi sesuatu? Kau bertemu dengan direktur Lee lagi?”

“Jangan sebut keluarga sialan itu.” Sahutku malas dan menyendok makananku sendiri. Aku memesan ravioli dengan salmon dan jamur. Rasa krimnya yang enak membuatku langsung mengambil suapan kedua.

Sungmin berdecak sambil “Kurasa kau butuh hiburan, bagaimana kalau kita ke club hari ini?” 

Aku tidak menanggapinya dan hanya fokus pada makananku.

Dia meletakkan sendoknya sebelum meneguk air, lalu berbicara lagi. “Ayolah, kau tidak lagi datang ke club Jazz, bagaimana dengan club lain, aku menemukan club baru dekat sini, di sana juga banyak wanita cantik, bagaimana?” tanyanya penuh harap. 

“Pekerjaanku banyak, aku tidak yakin masih punya tenaga untuk ke club.” sahutku tanpa melihatnya.

Dia berdecak prihatin, “Kau tau, tidak semua lelah bisa diobati dengan istirahat, kau perlu bersenang-senang.” katanya. “Ngomong-ngomong bagaimana dengan kencan terakhirmu? Kalian masih berlanjut?”

Sendok penuh ravioli terhenti diudara saat mengingat kencan dengan wanita yang kutemui di club beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit. Kami memang bercumbu tapi hanya sampai disitu. Gairahku menghilang seketika saat wanita yang tidak perlu kutau namanya mengatakan bahwa dia ingin mengundangku ke pesta kostum. Hanya mendengar 2 kata itu membuat otakku yang tolol mengingat pakaian Hyura yang seperti kostum halloween. 

Aku bahkan tidak bisa lagi menatap wanita itu, dan tanpa mengatakan apa-apa aku pergi dari kamar hotel.

Dalam hal ini aku menyalahkan wanita itu. 

Kenapa sih mereka suka berbicara?

Saat bercumbu cukup menggesek, meraba, memberi tekanan tertentu lalu mendesah. Kata-kata sangat tidak dibutuhkan.

Aku mengangkat bahu, “Itu hanya kencan semalam.” 

Sungmin mengangguk. “Kau bisa mencari kencan semalam lagi nanti, aku yakin disana kau akan menemukan tipemu.”

“Hyung,” Panggilku, Sungmin melihatku menunggu. “Apa kau pernah berkencan dengan wanita yang bukan tipemu?”

“Tentu saja pernah, kenapa?”

Aku memandangnya hati-hati, “Kalau begitu apa kau pernah berkencan dengan wanita jelek?”

“Apa dia punya tubuh bagus?”

Aku menggeleng tidak yakin. Hyura bahkan tidak pernah memperlihatkan kakinya.

“Maksudmu Lee Haejin?” Sungmin menutup mulutnya dengan tangan. “Kau ingin berkencan dengannya?”

“Dia bahkan tidak lebih baik daripada Lee Haejin.” Gumamku lebih kepada diri sendiri, tapi cukup keras untuk Sungmin hingga dia melihatku lebih dalam.

“Apa dia kaya? Keluarga Chaebol mungkin?”

Aku menggeleng lagi. Aku hanya tau keluarganya punya kedai kopi, selain itu aku tidak tau apa-apa lagi soal keluarganya.

Sungmin baru akan membuka mulutnya saat aku memotongnya cepat. “Singkatnya, wanita ini tidak cantik, tubuhnya tidak bagus, kurasa dia juga bukan dari keluarga kaya, dia juga bukan dokter atau jaksa yang punya jabatan yang menjanjikan, dia hanya….” kata-kataku terhenti, perutku terasa melilit, lalu mendesah berat. “Hanya…. Aku tidak tau apapun tentangnya一dia seperti memakai…topeng.” Suaraku menghilang di akhir kalimat.

Sungmin tersenyum miring lalu menyandarkan punggung di kursi. “Itu dia.” katanya penuh keyakinan. “Karena kau tidak tau apapun tentang wanita ini, membuatmu lebih tertarik, lebih penasaran, lebih tertantang dan itu membangkitkan rasa kompetisi dalam dirimu.”

Alisku bertaut. “Begitukah menurutmu?”

Sungmin mengangguk pasti “Kau ingat Gina? Adik kelas kita di kampus yang selalu memasang ekspresi keras setiap bertemu denganku?” 

Aku mengangguk. Ahn Gina salah satu pacar jangka panjang Sungmin selama kami berkuliah, tapi mereka putus saat Sungmin harus wajib militer. Awalnya kukira mereka cukup serius, tapi ternyata Gina tidak lebih istimewa dari wanita yang pernah di pacari Hyungku ini. 

 “Gina yang selalu membuatku bersemangat untuk ke kelas umum, karena hanya disana kami bisa bertemu, dan karena dia yang selalu memberikan penolakan keras justru membuatku semakin penasaran, dan semakin gencar mendekatinya, kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk lagi.

“Kurasa itulah yang sedang kau alami sekarang.”

“Apa kau juga pernah merasa kesal saat tiba-tiba Gina  menjauh atau semacamnya?”

Sungmin tertawa. “Kau lucu sekali, itu adalah permainan tarik ulur, Kyuhyun-ah. Kau tidak boleh kesal karena permainan itu, justru itu yang membuatnya semakin menarik.”

Mataku menyipit tidak setuju. Benarkah hanya permainan tarik ulur?

Sungmin memandangku lekat-lekat, seolah itu informasi rahasia. “Percayalah Kyu, semua wanita mempermainkan permainan itu.” katanya. “Kau hanya perlu menarik talinya perlahan, mengulur seperlunya dan saat sudah dekat kau bisa memilikinya. Setelah itu一 Game over

“Aku tidak berniat memilikinya.” sahutku tidak setuju. 

“Ya apapun itu, karena setelah semua yang ada di diri wanita itu terungkap maka ketertarikan itu akan hilang dengan sendirinya.” Sungmin mengangkat tangannya keatas seperti sedang melempar barang. “Seperti asap, tidak berbekas, sampai-sampai otakmu tidak akan repot-repot mengingatnya.”

 Aku menatap Sungmin dalam, mencerna perkataannya dengan hati-hati hingga kusadari semuanya terasa masuk akal. Aku suka tantangan, aku suka pergi ke club dan menaklukan wanita yang sulit di dekati, semakin mereka tidak memperhatikanku semakin aku ingin membawa mereka pulang dan membuat mereka meneriakkan namaku. Dan sejauh ini keberhasilanku cukup tinggi.

Dan dengan Hyura, aku selalu memiliki pertanyaan saat bersamanya. Seperti apa warna mata aslinya, rambutnya, bibirnya. Atau bahkan sesuatu yang tidak penting sekalipun.

Aku mendesah lega. Teka-teki akhirnya terjawab. “Well, kurasa aku tau cara menghadapinya.”

Kali ini Sungmin memajukan duduknya. Memandangku menyelidik. “Siapa dia?一wanita yang tidak cantik ini?”

Aku mengambil serbet dan mengusap mulutku. “Bukan siapa-siapa.” kataku sambil mendorong kursi kebelakang dan berdiri. “Ayo,”

Sungmin mengikutiku dan kami keluar dari sana.

***

Tiga hari kemudian, aku menemukan Hyura berdiri di depan pintu Apartemenku.

 Hari ini rambutnya sangat panjang Hampir menyentuh pinggang, warnanya pirang hampir kuning, dia memakai topi rajut berwarna biru, sweater kebesaran Berwarna kuning stabilo yang menyilaukan Mata, lalu rok selutut kotak-kotak merah dan Stocking garis-garis hijau. 

Jika dia Berdiri dipinggir jalan orang akan mengira dia lampu lalu lintas.

Lalu mataku menemukan wajahnya yang tersenyum saat melihatku mendekat.

Wajahnya tidak jauh berbeda dengan pakaiannya yang aneh. 

Dia menggunakan eyeshadow hijau, Bibirnya terlihat Lebih penuh karena lipstiknya merah menyala, lalu matanya coklat kekuningan seperti kucing. 

Kurasa gelandangan sekalipun akan mengejeknya dengan penampilan seperti itu.

“Apa kau Garfield?” Ejekku dengan tidak berperasaan. “Atau minion? dimana Kevin dan Stuart?”

Dia tidak menanggapiku seperti biasa. Masih tersenyum dengan bibirnya yang merah lalu berbicara. “ Aku mau mengembalikan buku-bukumu. Ternyata serial detektif lumayan seru.” Katanya antusias. 

Aku menekan sandi dipintu dan dia terus berbicara.

“Aku menghabiskan dua buku pertama dalam satu hari. Itu rekor, kau tau.” pintu terbuka didepan kami, aku masuk, Hyura mengikuti. “Biasanya Aku baru bisa menghabiskan satu buku dalam dua hari, paling cepat sehari, Tapi aku begitu penasaran, Apa kau punya seri….” Dia menabrak punggungku saat aku tiba-tiba berhenti di ruang depan.

Berbalik perlahan, sementara dia mengusap wajahnya sambil menggerutu. “Punggungmu seperti batu.”

“Hanya karena buku kan?”

“Huh?”

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. “Ya kau bisa berbicara panjang hanya karena buku yang kau baca, atau semua hal yang kau lakukan yang berhubungan dengan si Brengsek Lee Donghae! Tapi saat aku bertanya yang bahkan aku tidak paham dimana kesalahanku一kau tiba-tiba pergi dengan ekspresi muram! Menurutmu bagaimana perasaanku!”

Sekarang mulutnya terbuka lebar, matanya yang seperti kucing tidak lagi menatapku bingung tapi terkejut. Aku sendiri terkejut dengan ucapanku. Karena Di detik berikutnya aku menyesali apa yang kukatakan.

Sialan.

Mengacak rambutku kasar. “Sudahlah, anggap aku tidak mengatakan apa-apa.” Aku mengangguk ke arah pintu ruang kerja. “Ambil apapun yang kau suka. Setelah itu kau bisa pergi.” kataku lalu masuk ke kamar.

Aku menghabiskan waktu membersihkan diri lebih lama dari biasanya. Berharap bisa mengulur waktu, setidaknya saat aku keluar Hyura sudah pergi.

Tapi Aku salah,

Karena prediksiku sampai saat ini tentang Hyura selalu salah.

Tepat sebelum tengah malam aku keluar kamar dan langsung berhenti saat melihatnya masih duduk di ruang tamuku. Awalnya Hyura tidak melihatku, dia menunduk sambil memandangi lantai. Tapi kemudian dia mendongak saat mendengarku menutup pintu.

Dia langsung berdiri begitu melihatku. “Kau baru selesai?” suara begitu pelan dan canggung. Hyura memindahkan posisi kaki kiri dan kanan bergantian, dia juga mengusap telapak tangannya ke sisi celana.

“Kyuhyun-ah,” dia menggigit bibirnya ragu sesaat. “Aku minta maaf. Maaf kalau sikapku buruk.” Dia memindahkan posisi kakinya lagi. “Aku tidak pernah berteman dengan siapapun, atau berada disekitar seseorang selain Donghae. Jadi…” Hyura menarik nafas dalam sebelum melanjutkan. “Jadi aku tidak tau bagaimana seharusnya bersikap dengan orang lain selayaknya teman.”

“Kau menganggapku temanmu?” suaraku lebih dingin dari pada yang kumaksudkan.

Dia mengangguk, “Meskipun kurasa hanya aku yang mengiranya begitu.”

Aku tertawa mengejek “Bagaimana bisa kau berpikir kita berteman?” Aku cukup yakin nada suaraku cukup menghina, jadi jika setelah ini Hyura memakiku pun aku akan menerimanya.

Akhirnya dia mendongak, melihatku. Tapi bukan makian yang kuterima. 

Dia tersenyum, bukan senyuman biasa. Tapi senyuman yang bisa menghangatkan dadamu saat harimu kacau, senyuman yang bisa menularkan kebahagiaan pada orang lain, senyuman yang efeknya bisa kau rasakan di seluruh tubuhmu. Dan aku bisa merasakannya sampai ke inti tulangku.

Kau dalam masalah Cho Kyuhyun 

“Kau kembali,” Katanya lembut, “Meskipun aku tidak tau apa alasanmu, tapi kau kembali, kau bahkan mengantarku, meminjamkan buku, itu seperti bentuk dukungan, kau tau. ” Hyura menatapku penuh rasa syukur. Dan Di saat yang sama aku merasa menjadi orang paling brengsek di dunia setelah apa yang pernah kukatakan padanya.

Wajahnya masih tersenyum saat mengatakan. “kurasa aku tidak bisa menganggapmu hanya kenalan biasa setelah semuanya.”

“Kau menungguku hanya untuk mengatakan ini?”

Dia mengangguk lagi. “Kurasa penting bagiku agar kau tidak salah paham.”

Demi apapun perkataannya barusan mengubah suasana hatiku yang buruk beberapa hari belakangan ini, dan aku ingin tersenyum konyol. 

Hyura mengambil tasnya dari lantai. Dan itu membuatku panik, jadi aku melontarkan pertanyaan apa saja yang terlintas di kepalaku.

“Kau sudah makan?” Aku mengatakannya kelewat cepat sampai Hyura harus mengulangnya.

“Makan?”

Aku tau ini bodoh, meskipun begitu aku tetap mengangguk. Lalu mengangkat bahu pura-pura acuh. “Well, kau tau, mungkin kita bisa makan snack tengah malam, atau mungkin segelas minuman.”

Hyura tersenyum tipis. “Kurasa snack tengah malam bukan masalah.”

***

Aku melakukan kesalahan.

Kami berjalan ke kedai jajanan yang jaraknya tidak jauh, tapi aku menyesali keputusanku setelah kami keluar gedung apartemen.

Seharusnya kami tetap di rumahku dan memesan makanan saja. Pergi keluar membuat semua mata melihat Hyura dengan pandangan tidak baik. Meskipun sepertinya dia tidak peduli dan tetap merasa nyaman.

Namun tidak denganku.

Setiap orang yang melihat kami dengan terang-terangan memandangi Hyura dengan tatapan mencela hingga aku ingin mencolok mata mereka semua, bahkan ada yang menertawakan sambil berbisik keras. 

  “Kau baik-baik saja?” Tanya Hyura, dia melihatku cemas saat kami baru berjalan beberapa meter. 

“Tidak.” Sahutku dengan rahang terkatup. Poster tubuhku begitu tegang dengan tangan terkepal. Percayalah aku belum pernah merasa sangat ingin memukul seseorang seperti sekarang. 

“Kalau begitu sebaiknya aku pulang, kau bisa kembali dan beristirahat.”

“Tidak. Tidak.” aku menggeleng keras. “Kita akan makan! Setelah itu Aku akan mengantarmu.”

“Aku tidak terlalu lapar dan Masih ada bis yang ke arah rumahku. Sebaiknya kau beristirahat.”

“Kita kembali ke rumahku, aku janji akan baik-baik saja, setelah itu kita bisa memesan makanan seperti sebelumnya lalu aku bisa mengantarmu pulang.” Aku berbalik cepat tapi Hyura menarik ujung Kaosku, Membuatku kembali Menghadapnya.

“Tidak. Tidak perlu. Aku pulang saja.” katanya. “Sampai ketemu lagi.” Lalu dia pergi begitu saja.

Aku memanggilnya namanya tapi dia terus berjalan, aku berteriak lebih keras sampai beberapa orang menoleh namun tidak dengannya. Aku berteriak sampai tenggorokanku sakit dia tidak mendengarkan seolah tuli. 

Keuntungan Memiliki kaki Panjang aku bisa menyusulnya Dalam sekejap, sementara tinggi Hyura tidak lebih dari seratus enam puluh senti.  Dalam beberapa langkah aku berhasil menyamainya.

“Hei, Park Hyura.” Aku menarik tangannya agar dia berbalik. Namun reaksinya jauh dari harapanku.

 Dia memutar tubuhnya mundur sambil menarik kasar tangannya dari genggamanku, dia melipatnya Di depan perut seperti memeluk diri sendiri. Sikapnya tiba-tiba defensif dan tatapannya berubah waspada.

Mengangkat kedua tanganku ke atas seperti menyerah. “Ini hanya aku.”

“Ma….maaf.”suaranya gemetar, mungkin terlalu terkejut Atau entahlah, aku tidak mengerti reaksinya yang berlebihan, seolah aku penjahat atau semacamnya.

“Aku memanggilmu Sejak tadi.” Kataku. “Kau tidak dengar?”

Dia mengerjap untuk fokus tapi tidak berhasil, sikapnya masih waspada.

“Hyura-ya?”

 Dia menggeleng cepat, seperti menghalau pikirannya sendiri sebelum berkata lirih. “Maaf.”

“Berhenti minta maaf.” sahutku cepat. “Ayo, kuantar pulang.”

Kali ini dia mendongak. Melihatku sesaat, namun sebelum bisa mengatakan apapun aku mendahuluinya. “Kalau kau mau naik bis maka aku akan mengantarmu dengan bis. Terserah saja.”

Bibirnya yang merah merapat membentuk garis keras. “Kau tidak perlu melakukannya.”

“Kau bilang aku temanmu? Apa kau akan menolak tawaran dari teman?”

Hyura mendesah pasrah. Aku tersenyum.

“Ayo.”

***

Keesokan paginya aku mendatangi rumah sakit pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum perawat melakukan pergantian shift aku sudah berjalan di lorong rumah sakit. Kalau boleh jujur aku bangga pada diriku sendiri.

Dan aku menemukan apa yang kucari.

Lee Donghae berdiri di sisi jendela memandangi lapangan parkir. Aku yakin dia mendengarku membuka dan menutup pintu namun dia tidak menoleh.

“Ngomong-ngomong aku tidak mengganti mobilku sejak kecelakan.” kataku ringan. “Kalau-kalau kau penasaran. Tapi kurasa tidak dengan mobilmu, mungkin orang tuamu sudah menghancurkannya.

Dia melirikku malas sambil mendesah berat. “Apa maumu?”

“Aboenim ingin membawamu pulang.” kataku akhirnya. “Apa yang akan kau lakukan?”

Dia berbalik perlahan, tidak terlihat terkejut sama sekali, seperti dia sudah mengetahuinya.

“Apa Hyura tau?”

Aku menggeleng.

Wajah Donghae berubah muram, matanya yang sendu mulai berair. Itu tidak mengejutkan, sungguh. Aku pindah ke rumahnya saat usia tujuh belas tahun. Selama kami tinggal bersama banyak yang kupelajari. Bahwa dia berhati lemah, mudah dibujuk dan tipe orang yang gampang ditindas. 

Jadi jika dia menangis sekarang, aku bisa mengerti. 

“Itu akan menyulitkannya.” Kata Donghae serak. “Aku tidak ingin Hyura berhadapan dengan keluargaku. Dia akan terluka.”

Aku mengangguk setuju. Terutama Ibu Donghae yang menyebalkan. Dia akan mengeluarkan kata-kata beracun. Aku juga tidak suka membayangkannya.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?”

Donghae menatapku keras, penuh keyakinan. “Bukan Aku, tapi kau!” katanya tegas. Setegas perintah majikan pada peliharaannya. “Kau yang bisa melakukannya.”

“Apa?”

Donghae mengangguk pasti. “Bantu aku agar keluargaku tidak membawaku pergi. Gunakan semua kemampuanmu untuk menahanku. Bagaimana pun caranya.”

Aku menatapnya tidak percaya, lalu tertawa keras.”Kurasa kau sudah gila Lee Donghae!”

***

TBC

Leave a Comment