
Happy Reading & Sorry for Typoo
***
Waktu Aboenim mengatakan orang tuaku telah meninggal aku hanya menatapnya bingung, tidak percaya, seperti baru saja terbangun dari mimpi. Tapi kenyataan menghantamku begitu keras saat aku harus berdiri sebagai pemimpin pelayat. Dengan foto kedua orang tuaku di altar, kemudian orang-orang yang bahkan tidak kukenal akan memberi penghormatan terakhir mereka.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunduk dan berterima kasih hingga rasanya hanya hal itu yang terus kulakukan selama berhari-hari. Aku seperti kehilangan arah, ingin menangis tapi tidak bisa. Karena semuanya membingungkan.
Seperti sekarang.
Park Hyura yang terasa asing namun familiar di saat yang bersamaan一duduk di sofaku dengan ekspresi yang rasanya membuatku ingin mati.
Dia menggigil karena piyama tidurnya yang berwarna krem terlalu tipis. Aku bahkan bisa melihat pakaian dalamnya.
Hal pertama yang kulakukan mengambil selimut lalu menutupi tubuhnya.
Kemudian mengambil air hangat dan memberikan padanya. Namun dia hanya menatap gelas yang ku sodorkan tanpa berniat mengambilnya. Jadi aku meletakkannya di meja kopi.
“Hyura-ya,” panggilku lembut. Berjongkok di depannya agar mata kami sejajar. Aku mengulurkan tangan, mencoba menyentuh tangannya hati-hati. Saat dia tidak menolak aku menggenggamnya lalu menggosokkannya agar dia lebih hangat.
“Apa yang terjadi?”
Bibirnya bergetar saat berbicara. “Dia tidak ada,” katanya susah payah lalu suaranya menjadi panik dan cepat hingga tidak beraturan. “Mereka mengambilnya. Kyu, Kau harus membantuku, mereka mengambilnya, dia tidak akan selamat, kumohon bantu aku.”
“Hyura-ya, pelan-pelan, aku tidak mengerti.” kataku. “Sekarang katakan, apanya yang tidak ada?”
Hyura memejamkan mata lalu menarik nafas dalam seolah menenangkan diri tapi sia-sia karena suaranya masih bergetar.
“Lee Donghae tidak ada.” dahinya berkerut dalam saat melanjutkan. “Suster Jung menghubungiku, katanya ada orang-orang yang mengambilnya. Mereka tidak tau membawanya kemana. Jika Donghae tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya dia tidak akan bertahan.” Genggaman tangan Hyura ditanganku mengencang. “Bantu aku menemukannya, Kyu. Aku tidak bisa melakukannya sendirian. Kumohon.”
Aku tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat.
“Orang tua Lee Donghae yang membawanya pulang.” desahku akhirnya.
“Apa? Kenapa?”
Aku mengangkat bahu. Menolak menjelaskan lebih lanjut. Aku tidak ingin melakukan apapun atau ikut campur dalam keputusan keluarga Lee.
“Apa mereka mau merawatnya di rumah?” tanya Hyura lagi.
“Aku tidak tau.”
“Kalau begitu aku akan kerumahnya.” Hyura hendak bangkit dari sofa tapi aku mencengkram tangannya lebih kuat, mengisyaratkan agar dia tidak kemana-mana.
Matanya bertanya-tanya.
“Kau akan di usir, Hyura-ya. Ini masih tengah malam dan kau mau menerobos rumah orang lain?一mereka bisa saja memanggil polisi, kau tau.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Tunggu besok pagi, aku akan mengantarmu.” Dengan berat hati aku melepas tangannya lalu berdiri. “Ayo, kuantar pulang.”
Dia menggeleng. “Aku tidak akan kemana-mana.”
“Hyura-ya,” keluhku.
Dia mendongak menatap langsung mataku. “Izinkan aku menginap lagi.” Suaranya yang setengah memohon membuatku ingin memberikan seluruh dunia padanya. Dan aku tau aku tidak bisa menolak.
Ini Kacau.
“Aku janji aku tidak akan mengambil tempat tidurmu lagi. Aku bisa tidur disini.”
Mengacak rambutku kasar. “Bukan itu maksudku.” gerutuku.
Aku bisa saja mengacau. Jika hari ini apa yang kulihat benar-benar Park Hyura yang asli aku jamin aku dalam masalah besar. Sudah cukup buruk aku menginginkan menghabiskan waktu bersamanya saat dia sedang memakai topengnya. Dan begitu melihat dirinya tanpa penghalang, baju aneh atau make up mencolok一seperti saat ini, aku menginginkannya lebih besar.
“Kumohon, Kyu.” katanya lagi.
“Berhenti memohon, Park Hyura!” tukasku kasar. Lalu mengambil selimut di bahunya. “Pergilah ke kamarku. Biar aku yang tidur disini.”
“Tapi….”
Aku memotongnya cepat. “Dengarkan saja! Atau aku akan mengusirmu juga.”
Meskipun enggan akhirnya dia mengangguk.
Ini adalah bentuk penyiksaan lain, Setelah dia tidur disana. Kamar tidurku akan beraroma Park Hyura. Lalu selama berhari-hari aku akan membayangkan dirinya dengan piyama tipis sialan itu di tempat tidurku.
Sial.
***
Setelah meyakinkan Hyura untuk tetap tinggal dimobilku demi kebaikannya sendiri, Aku menekan bel di pintu gerbang rumah Donghae.
“Ini Aku.”
Pintu berpelitur kayu besi didepanku terbuka otomatis dari dalam.
Menaiki undakan, dan menyebrangi halaman yang familiar lalu menuju pintu masuk.
Kim Ahjumah sudah berdiri disana, menyambutku dengan senyum terbaiknya.
“Tuan Muda Kyuhyun,” sapanya hangat, matanya berkilat penuh kerinduan saat aku mendekat. “Akhirnya anda berkunjung.”
Aku tersenyum. “Bagaimana kabarmu?”
“Wanita tua ini baik-baik saja,” dia menepuk lenganku lembut, matanya memindaiku. “Anda terlihat sehat.”
“Terima kasih.” sahutku. “Eomonim dan Aboenim?”
Dia mengangguk ke dalam. “Mereka sedang sarapan, ayo masuk.”
Aku tinggal di rumah ini lebih dari sepuluh tahun. Ingatanku yang payah bahkan tidak memiliki kenangan apapun dari rumah orang tuaku. Aku hanya mengingat rumah ini sebagai satu-satunya tempat untuk pulang.
Yah, Itu cukup menyedihkan.
Dua orang itu yang selama ini berpura-pura berperan sebagai orang tuaku mendongak saat aku masuk ke ruang tengah.
Aku menyapa dan membungkuk dalam.
Aboenim yang pertama berdiri. Dia tertawa khas seperti paman Ben yang baik hati saat bertemu Peter Parker. Dengan canggung dia memelukku singkat.
“Kyuhyun-ah, kau datang.” Dia menunjuk meja makan. “Ayo kita sarapan bersama.”
“Maaf tapi aku baru saja makan.” kataku berbohong. Aku bahkan belum sempat meminum segelas air. Hyura tidak mau makan apapun, dia hanya terus berkeras untuk mengecek keadaan Donghae. Jadi disinilah aku pada jam enam pagi.
Wajahnya berkerut kecewa. “Sayang sekali.”
“Jadi apa yang kau lakukan disini sepagi ini?” tanya Eomonim ketus.
Aboenim menatapnya menegur. “Yeobo.”
Menarik paksa sudut mulutku. “Tidak apa-apa, maaf mengganggu sarapan kalian.” aku melirik ke atas一ke lantai dua. “Kemarin aku kerumah sakit, tapi Donghae tidak ada, jadi aku ingin mengeceknya.”
Dahi Eomonim berkerut dalam. “Seberapa sering kau mengunjungi anakku?”
“Lebih sering daripada kalian.” sindirku tajam. Eomonim sudah berdiri dan siap membalasku tapi Aboenim menghalangi dengan meremas bahuku lembut.
“Naiklah, Kyu. Dia ada di kamarnya.”
Aku mengangguk, Tanpa perlu melihat reaksi Eomonim aku naik ke lantai dua.
Kamar Donghae berubah menjadi kamar rumah sakit yang asing bagiku. Ranjangnya berubah menjadi ranjang rumah sakit. Nakas disamping berubah menjadi alat-alat medis untuk penopang tubuhnya. Melirik ke rak di ujung ruangan. Disana masih berjejer koleksi action figure dan kamera.
Well, setidaknya, tidak sepenuhnya asing.
“Kau suka?” terdengar suara Donghae yang entah dari mana.
Aku memutar tubuh, dan disanalah dia一muncul dari balik pintu.
Dia menyeringai. “Aku ingat kau menginginkan limited edition yang kupesan lebih dari tiga bulan dari Disney一” dia menunjuk rak koleksinya. “Iron man.”
Aku menutup pintu dan berjalan ke rak. “Kau masih menyimpannya?”
Donghae mengikutiku. “Rasanya menyenangkan saat mengetahui kau iri padaku. Memiliki sesuatu yang tidak kau punya.”
Aku menoleh padanya. “Apa?”
Dia tersenyum sedih. “Ayolah, kau pasti tau.”
Aku menggeleng. “Tidak, aku tidak tau.”
Dia berbalik, menjauh lalu bersandar di ranjangnya. “Kau tau Ayahku, sangat membanggakanmu?”
Aku tidak tahan untuk tidak memutar mata, sebangga apapun dia padaku, aku bukanlah anaknya. Dan gara-gara Aboenim terlalu keras pada Donghae, Eomonim semakin membenciku.
“Aku berusaha keras untuk diakui. Berusaha membuatnya bangga.” tatapannya turun ke lantai. “Kau tidak tau betapa menyebalkannya tumbuh dengan terus dibanding-bandingkan.” Di mendongak, melihat sekeliling kamarnya. “Rumah ini terasa bukan rumah bagiku.”
“Kau pikir ini rumah bagiku.” dengusku lalu mengganti topik dengan cepat. Aku tidak suka membicarakan masa lalu kami disini. Itu bukan hal yang menyenangkan.
“Apa kau baik-baik saja disini? Maksudku di rumah ini?”
Dia menggeleng lemah. “Tidak, segalanya makin memburuk.” Donghae melihat tubuhnya sendiri di ranjang. “Aku bisa merasakannya. Disini terlalu sunyi, seperti tidak ada harapan.” matanya yang sendu bertemu denganku. “Kecuali kau mau membantuku.”
“Aku tidak ingin membantumu.” aku mengakui. “Tapi aku juga tidak ingin Hyura kesulitan.” aku menggeleng mengingat bagaimana gadis itu menggedor ke apartemenku tengah malam. Ekspresinya yang menderita menyakitiku lebih daripada seharusnya.
“Kau tidak pernah bilang Hyura memiliki wajah asli seperti itu?”
Salah satu alisnya terangkat. “Wajah asli? Kau melihat wajah Hyura tanpa riasan?”
Aku mengangguk.
“Itu tidak mungkin,” katanya setengah heran setengah tidak percaya. “Selama bertahun-tahun dia tidak pernah keluar dari rumahnya tanpa riasan.”
Aku membuang muka ke jendela. Menelan ludah kasar. “Dia panik.” kataku enggan. “Dia takut kau tiba-tiba menghilang, jadi dia mendatangiku.” Dadaku nyeri saat mengakuinya. Kenyataan Hyura melepas topengnya karena Lee Donghae membuatku sesak tanpa alasan.
“Kau pasti kaget.” Donghae setengah tertawa, “Karena wajahnya seperti…. Kutukan.”
“Ya seperti kutukan.” kataku pelan.
“Dimana Hyura sekarang?”
Aku berjalan ke jendela, membuka tirai lebih lebar. Dibawah mobilku terparkir tepat di seberang rumah ini.
“Dia menunggu di mobil. Aku tidak mungkin membiarkannya masuk.”
Donghae mengangguk setuju. Dia berjalan ke arah meja belajarnya di seberang ranjang. “Tawaranku masih sama. Bantu aku mengalihkan aset, dengan begitu Hyura bisa membayar biaya rumah sakit.”
Aku berbalik ke arahnya, menatapnya tidak setuju. “Kau pikir mengalihkan aset semudah itu? Keluargamu bisa menuduh Hyura pencuri.”
“Mereka tidak akan tau selama kau tidak memberitahu siapapun. Ayah dan Ibuku tidak tau seberapa banyak uang yang kumiliki.”
“Bagaimana dengan Park Hyura? Apa kau pikir dia akan menerima uangmu begitu saja?”
“Kau bisa katakan yang sebenarnya, Hyura tidak akan sesulit itu. Kau bisa bilang ini keinginanku dan kita saling berkomunikasi.”
Aku melihatnya tidak percaya, karena si tolol ini mulai tidak masuk akal. “Dia akan menganggapku gila!”
“Hyura tidak akan menganggapmu begitu. Dia percaya padamu.”
Aku menggeleng keras. “Tidak, aku tidak akan mengakui bahwa kita saling berbicara. Aku…”
“I can’t carry it for you, but I can carry you.” Donghae memotongku cepat.
“Apa?
“Katakan itu padanya dan dia akan percaya padamu.”
“Aku tidak akan melakukannya!” sergahku kasar.
Donghae mendesah dalam. Menatapku sesabar mungkin. “Setidaknya cobalah dulu berbicara padanya.”
Mulutku terbuka untuk membantahnya lebih keras namun terdengar ketukan, Kepala kami otomatis menoleh ke pintu.
Kemudian kepala Aboenim menyembul dari sana.
“Kukira aku mendengar suara, apa kau sedang menelepon seseorang?” Tanyanya.
Aku melirik Donghae sekilas lalu mengangguk kaku.”Y… ya, barusan aku menelpon.”
Dia membuka pintu lebih lebar. “Apa aku mengganggu?”
“Tidak masuklah, Lagipula ini rumahmu.”
Tanpa menutup pintu dia masuk, mendekati ranjang Donghae. Menatap anak laki-lakinya penuh sayang.
“Seperti yang kau katakan waktu itu.” katanya memulai. “Aku tidak melakukan apa-apa untuknya. Aku tidak mengurusnya dengan benar dan hanya membayar tagihannya. Kukira dengan dia disini, aku dan istriku lebih mudah untuk mengurusnya.”
Aku melipat tanganku di depan dada, “Jadi karena itu kau membawanya pulang.” kataku dingin.
Ayah Donghae mengangguk.
Aku melirik Donghae lagi, Dia menatap Ayahnya sama dinginnya denganku. Entahlah hubungan anak dan Ayah diantara mereka kurasa sudah membeku sejak lama.
“Kurasa itu ide yang buruk.” kataku akhirnya.. “Kau harus meluangkan waktumu untuk mengajaknya bicara.”
Aboenim mendongak cepat. “Dia tidak sadar, bagaimana aku mengajaknya bicara.”
Aku mengangkat bahu. “Itu yang dokter katakan.”
Dia terlihat tidak percaya. “Dokter tidak mengatakan apapun padaku.”
Percayalah aku ingin mendengus dan mengejeknya. Tapi demi sopan santun aku menahannya sekuat tenaga.
Lebih tepatnya tua bangka ini tidak mendengarkannya.
Aku tersenyum palsu. “Kalau begitu Apa aku bisa membawanya kembali ke rumah sakit? Menurutku penjagaan di sana lebih baik.”
“Apa maksudmu?” Sekarang Aboenim melihatku terkejut, hampir marah. “Kau tau berapa banyak uang yang harus kukeluarkan untuk membawanya pulang?一Asuransi bahkan tidak bisa membayar setengah dari tagihan rumah sakit selama setahun. Kau tidak bisa seenaknya bertanya ”
“Aku tidak tau dan tidak ingin tau, itu bukan urusanku.” aku mendekat, menatapnya langsung ke manik matanya yang menua. “Tapi dia tidak seharusnya berada di rumah, Demi Tuhan! Anakmu sedang koma, bagaimana mungkin kau membawanya pulang sementara tidak ada dokter disini.”
Detik itu juga aku tau apa yang kukatakan sia-sia. Orang tua ini tidak akan mendengarkan siapapun. Terlihat dari wajahnya mengeras, seolah aku baru saja melemparkan kotoran padanya.
“Aku tau apa yang terbaik untuk anakku.”
Aku ingin membalas tapi Donghae menggeleng lemah. Jika berakhir buruk maka aksesku ke rumah ini akan sulit. Jadi aku menarik nafas dalam lalu mengangguk.
“Kalau begitu sebaiknya aku pergi.” aku menunduk memberi hormat dan keluar dari sana.
***
Saat melangkah keluar gerbang alarm ponselku berbunyi. Aku mengeluarkannya dari saku, lalu tertera pengingat Meeting Sekuritas pagi ini.
Sial, aku lupa.
Begitu aku masuk mobil, Hyura menegakkan tubuh, menghadapku sepenuhnya.
“Bagaimana?” tanyanya menuntut. “Apa Donghae benar ada di rumahnya?”
Aku mengangguk.
“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?一apa aku boleh masuk kesana? Melihatnya?”
Menghembuskan nafas kasar. “Ya dia baik-baik saja. Dan sayangnya kau tidak bisa masuk kesana.”
“Kenapa?” tanyanya tidak terima.
Aku menoleh padanya. Lalu mengumpat saat menyadari wajahnya begitu dekat一wajah yang seperti kutukan. Jika aku benar-benar terkena kutukan itu aku tidak yakin bisa lepas, atau yang lebih parah aku tidak ingin lepas.
Memundurkan wajahku hingga kepalaku menyentuh kaca jendela. Seketika aku merasa SUV volkswagen milikku mendadak menyempit. Bukan hanya itu, sekarang seluruh kabin beraroma peach dan vanilla. Seolah belum cukup buruk aku harus menjaga tatapanku agar tidak melihat ke piyama kremnya.
“Eomonim tidak menyukaimu.” sahutku dari balik gigi yang terkatup.
Hyura cemberut. Bibirnya yang sewarna chery mengerucut. Memalingkan wajah secepat yang kubisa sebelum pikiranku membayangkan hal-hal kotor yang ingin kulakukan pada bibirnya.
Astaga. Kurasa aku butuh meditasi untuk pengendalian tingkat tinggi.
“Eomonim tidak menyukai siapapun.” dia membenarkan, “Tapi, dulu aku baik-baik saja saat masuk ke sana.”
“Kau tidak bisa menyamakannya.” menegakkan tubuh dan memusatkan perhatianku ke depan, “Dulu kau bersama dengan Donghae.”
“Sekarang aku bersamamu.” sahutnya keras kepala.
“Dan saat aku membawamu kesana, Eomonim akan langsung mengusir kita. Otomatis aku tidak bisa masuk lagi dengan bebas. Kau mengerti maksudku?” Dari sudut mataku Hyura ingin mendebatku tapi aku mendahuluinya. “Dan jangan berharap aku akan membawamu masuk diam-diam. Itu akan membahayakan Kim Ahjumah. Untuk saat ini tidak ada yang bisa kau lakukan.” Aku menarik sabuk pengaman lalu memakainya, “Terkadang tidak melakukan apa-apa adalah solusi terbaik, Hyura-ya.” Tambahku.
Hyura mengerang frustasi. “Dia membutuhkanku, Kyu.”
“Saat ini dia tidak membutuhkanmu.” kataku tegas lalu menunjuk pintu gerbang. “Disana ada kedua orang tuanya. Lee Donghae akan baik-baik saja.”
“Orang tuanya bahkan tidak datang saat dia mengalami gagal nafas, restitusi jantung, atau emboli darah.” Dahinya berkerut dalam saat menambahkan, “Lee Donghae pasien mati otak yang bahkan tidak bisa bernafas sendiri, apa yang kau harapkan jika terjadi sesuatu yang buruk di rumahnya?”
“Aku tau!” sahutku tidak sabar. “Tapi apa yang bisa kau lakukan? Mencuri tubuhnya lalu melawan keluarga Lee? Tindakan gegabah mu hanya akan menyulitkan prosesnya.” Menoleh padanya “Dengar, Aku dan Donghae sedang memikirkan caranya, tapi kami butuh waktu. Sampai saat itu tiba kuharap kau tidak melakukan apapun.”
“Kau… dan Donghae?” Dia tampak kebingungan.
“Begini,” kataku serius. “Ada hal yang harus kukatakan padamu. Aku akan menjelaskannya, tapi tidak disini dan tidak sekarang.” Aku melirik jam di dashboard. “Karena aku ada pertemuan penting dan aku tidak boleh terlambat.” Aku kembali melihat ke depan. “Sekarang, Pakai sabuk pengamanmu.”
Dia masih cemberut tapi melakukan apa yang kuminta dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
***
Tepat pukul sembilan aku memarkirkan mobilku di parkir basement. Masih ada tiga puluh menit tapi orang-orang dari sekuritas biasanya akan datang lebih cepat jadi aku harus siap sebelum mereka tiba.
Mengambil jas hitamku yang terlampir di jok lalu memberikannya pada Hyura.
“Maaf, aku tau ini tidak nyaman.” kataku sambil mencari topi baseball di kursi belakang. “Tapi aku tidak mungkin menyuruhmu pulang dengan taksi atau bus.” apalagi dia hanya memakai baju tidur tipis. Tambahku dalam hati.
“Apa kau bisa menungguku sebentar?” Aku memakaikan topi baseballku padanya.
Aku tidak akan bohong, dia terlihat luar biasa dengan topiku yang sederhana.
Hyura mendongak, mata coklatnya yang besar menatapku dalam. “Kau… tidak akan meninggalkanku disinikan?”
Aku tertawa kecil. “Tidak akan.” Mengambil Jasku dipangkuannya lalu memakaikan padanya. Jasku terlalu besar jadi dia menggulung lengan sebelah kiri sementara aku membantu menggulung lengan sebelah kanan hingga sebatas pergelangannya.
“Aku janji tidak akan lama, kau bisa menunggu di kantorku.”
Hyura mengangguk samar. “Oke”
Dengan itu aku keluar dan berlari ke pintu penumpang untuk membuka untuk Hyura, tapi dia sudah membukanya terlebih dulu.
Mengulurkan tanganku padanya, dan tanpa ragu Hyura menyambut tanganku. Genggaman tangannya begitu mantap hingga saat berbalik aku merasakan wajahku tersenyum seperti orang tolol.
Kami tidak berjalan beriringan, aku tetap menjaga Hyura di belakangku, dengan tangan kami saling terpaut.
Di pintu depan, di resepsionis Heo Youngji menyambutku dengan senyum tapi kemudian mulutnya menganga saat melihat Hyura yang tersembunyi dibelakangku.
“Apa Direktur Lee Sungmin sudah datang?” tanyaku tanpa mempedulikan reaksinya.
Dia mengerjap dua kali sebelum mengangguk kaku. “Y.. ya, Direktur Lee sedang bersiap di ruang meeting.”
Aku Mengangguk. “Bagus. Apa kau bisa menyiapkan sesuatu untuk tamuku?” setengah berbalik. “Hyura-ya, Kau mau teh? Atau sesuatu yang lain?” seingatku kami belum memasukkan apapun semenjak keluar dari rumahku.
Hyura Menggeleng. Dia berbisik. “Tidak, aku baik-baik saja.”
Aku mengangguk dan kembali pada Youngji. “Bisakah kau pastikan tidak ada yang masuk ke ruanganku?” tanyaku lagi.
Youngji masih menatap Hyura penasaran tapi dia tetap mengangguk. “Di mengerti Tuan Cho. akan kupastikan tidak ada yang mengganggu tamu mu.”
Aku tersenyum. “Terima kasih.”
Ruanganku tepat di samping lorong resepsionis, sebelah lobby, jadi cukup aman mempercayakan pintuku padanya.
Saat pintu tertutup aku menarik Hyura untuk duduk di kursiku.
“Kau yakin tidak butuh apapun?” tanyaku setelah memastikan dia nyaman di sana.”
“Aku baik-baik saja,” dia melepas topiku, meletakkannya di meja lalu tersenyum, “Pergilah, kau tidak boleh terlambatkan?”
Aku berlulut didepannya. “Jika butuh sesuatu kau bisa mengirimiku pesan.”
Dia meringis. “Aku lupa bawa ponsel, sepertinya semalam aku terlalu panik.”
“Well…..” aku melirik telepon di mejaku. “Kau bisa menekan angka 0 disana, itu akan menghubungkan ke Youngji, resepsionis di depan, Dia akan membantumu atau dia bisa memanggilku di ruang meeting.”
Sekarang senyum Hyura semakin lebar, membuat dadaku berdegup lebih cepat. “Aku benar-benar baik- baik saja. Kau bisa pergi sekarang.”
Menunduk menatap tautan tangan kami. Aku melepasnya perlahan dan begitu tersiksa saat melakukannya.
“Aku akan kembali.” gumamku sebelum berdiri dan keluar.
***
Rapat hari ini berlangsung lebih lama dari yang kukira. Agendanya adalah rapat gabungan untuk menambahkan fitur baru dalam aplikasi. Kemudian Tepat saat jam makan siang, mereka semua berdiri一Perwakilan dari perusahaan sekuritas, bank dan pengembang. Sungmin mengantar mereka sampai lobby sementara aku langsung menuju ruanganku.
Kekhawatiranku sepanjang rapat tadi menguap seperti es kering begitu membuka pintu. Hyura tertidur dengan kepalanya diletakkan di meja. Posisinya cukup mengkhawatirkan, dia pasti akan sakit leher setelah ini. Sialnya aku juga tidak memiliki sofa atau apapun di sini untuk membaringkannya.
Jadi dengan lembut aku menggoyangkan bahu, membangunkannya. “Hyura-ya…. Bangunlah.” bisikku. Tanganku terangkat menyisir rambutnya yang halus, menghela dari wajahnya yang cantik.
Matanya yang memberat perlahan terbuka.
Aku tersenyum.
Dia tersenyum.
“Kau sudah kembali.” suaranya yang serak benar-benar menggoda.
“Maaf aku meninggalkanmu terlalu lama.” Aku menarik kursi didepan meja
Dia menegakkan tubuhnya, lalu meregang. “Tidak juga,” katanya masih tersenyum. “Aku jadi punya waktu lebih banyak untuk istirahat, kalau boleh jujur semalam tidurku tidak terlalu nyenyak di kamarmu.”
Begitupun denganku. Bayangan Hyura berbaring di ranjang dengan piyama yang memperlihatkan pakaian dalamnya cukup membuatku sulit memejamkan mata. Tapi aku tidak mengatakannya keras-keras karena itu memalukan.
Sebagai gantinya aku bertanya. “Kau lapar?”
Hyura mengangguk malu. “Lumayan.”
Menarikku kursiku semakin mendekat hingga lutut kami bersentuhan. Itu sentuhan yang mudah, alami dan nyaman.
“Ada yang ingin kau makan? Sushi, Steak, daging?”
“Apa saja, tapi… bisakah kita pergi dari sini?”
Aku mengangguk. “Tentu,” aku berdiri dan kali ini tidak mengulurkan tanganku melainkan langsung mengambil tangan Hyura dan menggenggamnya. Saat mengambil topi baseball dan ingin memakaikan padanya, dia menggeleng.
Hyura justru Mengambil topi dari tanganku lalu berjinjit dan memakaikannya padaku. Mundur selangkah untuk melihatku lebih jelas, dan sekarang senyumnya semakin lebar.
“Aku penasaran bagaimana kau dengan topi baseball ini,” katanya menjelaskan. “Ternyata cukup bagus.”
Aku tersenyum jahil. “Apa kau menggoda sekarang?”
Mata coklatnya melebar, terkejut. “Aku tidak begitu.”
“Aku tau,” terkekeh menyembunyikan kekecewaanku yang menyedihkan. “Kau yakin tidak membutuhkan topi?”
“Tentu, aku baik-baik saja,” sahutnya ringan.
Aku mengangguk dan menariknya keluar.
Terlalu cepat, begitu kusadari beberapa pasang mata melihat kami. Semuanya mematung di lobby depan dengan berbagai macam ekspresi. Sungmin yang paling mencolok, dia hampir memuncratkan kopi yang dia minum begitu melihat kami. Lalu dibelakangnya ada Jihye si pegawai magang, mulutnya membentuk huruf O dan yang terakhir Minho dari Tim Changmin一dia tidak melihatku tapi melihat Hyura, jelas bocah ini terpesona padanya.
Tanpa sadar aku mengeratkan pegangan tanganku.
Dalam beberapa detik keheningan aneh, saling tatap, saling lirik, sampai Hyura sendiri yang memecahkannya.
Dia menunduk dalam sambil memberi salam. “Selamat siang, semuanya.”
Sungmin maju selangkah, dia tersenyum ragu-ragu, “Kyuhyun-ah, aku tidak tau kau ada tamu….” matanya memindai Hyura dari atas kebawah dan otomatis aku menarik Hyura kebelangku一Menghalangi pandangannya, menghalangi pandangan mereka semua.
Sungmin tersenyum penuh arti lalu mengangguk. Dia mundur seperti memberi jalan.
“Pergilah, sepertinya kau ada urusan penting.”
Aku mengangguk kaku dan membawa Hyura pergi dari sana.
Secepatnya.
***
Hyura bilang dia butuh pakaian ganti. Aku setuju dengannya, piyama sialan itu membuatku sulit berkonsentrasi. Jadi aku mengantarnya pulang. Memarkir mobil di depan kedai kopi lalu mengintip keluar. Kedai itu lumayan ramai jadi seandainya aku harus menunggu Hyura disana, dua orang itu tidak akan punya waktu untuk menatapku terus.
“Kau yakin tidak perlu makan dulu?” tanyaku sambil membuka sabuk pengaman.
“Kita bisa makan dirumahku, kalau kau tidak keberatan?”
Gerakanku terhenti. “Kau mau aku kerumahmu?”
Hyura mengangguk.
“Kau yakin?” tanyaku lagi.
Dia menggigit bibirnya, lalu mengangkat bahu, “Tidak masalah kalau kau tidak mau kita…..”
“Bukan, bukan itu.” kataku cepat. “Maksudku, aku mau, tentu saja. Kukira itu membuatmu tidak nyaman.”
“Kenapa kau berpikir begitu?”
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa. Ayo.”
Rumah Hyura mirip apartemen studio kecil. Di Pintu masuk kau langsung berhadapan dengan dapur mungil di sebelah kiri, Lalu ruang duduk disebelah kanan. Kemudian dua pintu yang langsung terlihat saat pintu depan terbuka. Ku asumsikan itu kamar Hyura.
Saat kami masuk, makhluk berbulu berwarna abu-abu kehitaman langsung berlari menggosok tubuhnya pada kaki Hyura.
“Harry, Kau pasti kelaparan.” Hyura mengangkat makhluk itu lalu menggendongnya. Kucing itu mengusap kepalanya ke dada Hyura.
Dasar, bajingan beruntung.
Harry mendengkur lalu mengintip padaku dari lengan Hyura lalu matanya menyipit sambil mendesis.
Hyura setengah berbalik “Maaf, dia agak sensitif dengan orang baru.”
Aku berdecak. “Di banding Harry, dia lebih mirip voldemort.”
Hyura terkekeh. Dia meletakkan Harry di salah satu bantal kucing Dekat meja Tv. Mengambil makanan dan menuangkan ke mangkuk stainless bertuliskan Harry dan Ron.
Sementara kucing berbulu oren sedang meringkuk Di ujung sofa, yang kutebak sebagai Ron.
“Duduklah.” kata Hyura menunjuk sofa 3 seater yang ada di ruang duduk. Sementara dia masuk ke kamar, mataku mengamati setiap sudut rumahnya.
Disamping tv ada set meja dan kursi, yang mungkin digunakan sebagai meja kerja. Terlihat dari layar besar untuk desain dan berbagai jenis pensil digital. Di atasnya ada rak buku gantung. Koleksi bukunya hanya sepersepuluh dari milikku.
Di dapur, Hyura tidak memiliki meja makan. Hanya meja bar kecil yang bisa digunakan dua orang.
Setiap dindingnya polos tanpa wallpaper atau hiasan dinding. Tidak ada foto, lukisan atau tanaman yang biasa menghiasi sudut rumah. Benar-Benar minimalis. Sangat kontras dengan penampilan Hyura yang mencolok.
Tidak lebih dari sepuluh menit Hyura keluar dari kamarnya. Dia menggulung rambutnya keatas. Helaian rambut tipisnya jatuh ke tulang selangka. Dia mengenakan kaos hitam kebesaran dipadu dengan legging hitam.
Secara keseluruhan penampilannya sangat sederhana, seperti rumahnya. Tapi aku hampir meneteskan air liur melihat bagaimana Semuanya begitu pas di tubuh Hyura.
Seberapa menyedihkannya aku?
“Aku punya beberapa lauk. Kau suka sup kimchi?” dia Beralih ke dapur dan membuka kulkas.
Butuh beberapa waktu untukku mencerna kata-katanya sampai Hyura harus mengintip dari pintu kulkas sembari memanggilku.
“Sup Kimchi, Cho Kyuhyun?”
“Y…. Ya, aku suka. Tapi… sebaiknya kita pesan makanan saja, kau pasti lelah.”
Hyura menutup pintu kulkas, dia sudah memegang kotak lauk. “Ada sesuatu yang ingin kau makan?”
Aku menggeleng. “Bukan itu, kemarilah.” Menepuk sisi di sampingku. “Ada yang harus kukatakan, jadi sebaiknya kita memesan makanan daripada kau harus menghabiskan waktu disana.”
Hyura menimbang-nimbang sesaat, sampai akhirnya dia mengangkat Bahu dan mengembalikan kotak lauk ke kulkas. “Oke.”
Aku tersenyum. Mengeluarkan ponsel dan memberikan padanya saat dia sudah disampingku.
“Pesan apapun yang kau suka.”
Hyura menerimanya tanpa ragu, menggeser layar ke bawah lalu tersenyum antusias. “Masakan cina?”
Aku mengangguk. “Samakan saja denganmu.”
Dia menekan-nekan layar lagi sebelum mengembalikan ponsel padaku.
Hyura memposisikan duduknya menyamping hingga kami berhadapan. Satu kakinya dinaikan ke atas. Menatapku Menunggu.
“Apa?” Tanyaku bodoh.
“Barusan kau bilang ada yang ingin kau bicarakan. Katakan saja.”
“Oh ya benar.” Aku Memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulainya, agar Hyura tidak menganggapku gila. “Kau percaya ada orang yang bisa melihat jiwa orang mati atau semacamnya?” tanyaku hati-hati.
Alisnya bertaut. “Maksudmu dukun?”
“Bukan, bukan itu.” Aku menatapnya serius. “Bagaimana jika kukatakan aku melihat jiwa Donghae dan kami saling berkomunikasi?” Kataku hati-hati.
Hyura mengerjap.
Lalu mengerjap lagi.
Dia menggaruk kepalanya dan meringis “Maaf aku tidak mengerti maksudmu.”
Memejamkan mata sambil mendesah berat. Ini tidak akan mudah.
“Begini,” kataku. “Saat dulu pertama kali aku datang ke rumah sakit, aku melihat Lee Donghae” membuat tanda kutip dengan tanganku. “Maksudku bukan Lee Donghae yang koma, tapi yang lain. Kau bisa bilang itu jiwanya.” Aku berhenti untuk menilai reaksinya, tapi Hyura tidak mengatakan apapun jadi aku melanjutkan.
“Lee Donghae yang ini bisa berbicara, kami berbicara lebih tepatnya. Dia juga sering membicarakanmu kalau Kau penasaran. Karena Alasan itu juga aku kembali karena aku ingin memastikan apa yang kulihat nyata. Dan sialnya ternyata aku benar-benar bisa melihat Jiwa Lee Donghae. Aku mendengarnya, melihatnya, terkadang aku juga merasakannya.” Aku tertawa tanpa humor “Lalu pagi ini….. kami berbicara lagi, berdiskusi, tentang apa yang harus kami lakukan soal memindahkannya kembali ke rumah sakit.”
Hyura tidak lagi terlihat bingung, tapi dia terlihat mau muntah. Seperti orang yang terlalu banyak minum dan menahan hangover. Jadi aku memegang tangannya yang bertumpu di lutut. Meremasnya lembut.
“Hyura-ya, kau baik-baik saja?”
Dia menggeleng kaku, suaranya tercekat. “Kau membuatku bingung dan….takut.”
“Aku tau, ini memang tidak masuk akal.” Desahku. “Tapi aku harus menjelaskannya agar kau mengerti, karena Donghae ingin mengalihkan asetnya padamu.”
Reaksi yang sama saat kau berusia remaja dan orang tuamu menjejalkan cerita tentang santa yang hanya akan memberikan hadiah pada anak yang berkelakuan baik. Kau akan memutar mata karena santa hanya karangan. Dia tidak nyata. Fiksi.
Begitulah yang kuhadapi sekarang.
“A…aku tidak tau harus mengatakan apa,” kata Hyura akhirnya setelah terdiam beberapa saat.
“Ya, memang sulit dipercaya.” Aku meremas tangannya lagi Namun kali ini Hyura menariknya, lalu melipatnya didepan dada.
Kekecewaan itu membuatku kehilangan kepercayaan diri. Jadi saat aku bicara lagi, aku hampir terdengar memelas.
“Aku tidak berbohong atau mengada-ngada, Hyura-ya. Aku mengatakan yang sebenarnya.”
Hyura menurunkan pandangannya. Matanya fokus pada pola yang sudah memudar di sofa. Lalu menggeleng lemah dan berbisik.
“Aku tidak tau.”
“I can’t carry it for you, but I can carry you.”
Hyura mendongak cepat. Mata coklatnya melebar “Samwise?”
Dahiku mengkerut. “Samwise?”
Hyura mengangguk, keraguan itu perlahan menghilang dari matanya. “Samwise Gamgee, kau tau? Teman Frodo dari cerita Lord of the ring.”
“Ya aku tau siapa dia.” tukasku. “Kau melihat bukunya di ruang kerjaku. Maksudku apa artinya itu?”
Dia membuka mulutnya tapi hanya udara yang keluar dari sana. Seperti sesuatu menahannya untuk berbicara. Lalu dengan cepat dia mengalihkan pertanyaanku.
“Donghae benar-benar mengatakan itu padamu?”
“Dia mengatakan banyak hal, tapi ya… itu salah satunya. Apa sekarang kau percaya padaku?”
Hyura menangkup pipinya lalu menggeleng. “Tetap saja rasanya sulit dipercaya.”
“Percayalah, bahkan sampai saat ini aku tidak mempercayainya.”
Hyura tertawa sesaat dia ingin bertanya lagi saat bel rumahnya berbunyi. Matanya berbinar dan sambil berseru dia bangkit dari sofa. “Makanan kita!”
Hyura memesan dua jajangmyeon, seporsi mandu, dan tangsuyuk. Dia menatanya di meja kopi. Lalu menyodorkan mangkuk untukku. Sementara dia mengambil minuman ringan dari lemari pendingin aku menyiapkan bantal duduk untuk kami.
Bau saus kacang hitam membuat perutku bergemuruh tidak tau malu. Hyura tertawa mendengarnya.
Tapi aku bukanlah pria pemalu jadi aku hanya mengangkat bahu. “Aku belum makan apapun hari ini, jadi kurasa itu manusiawi.”
Hyura tersenyum minta maaf saat mengambil duduk di depanku. “Maaf aku mengacaukan jadwal makanmu.”
Aku mengambil potongan mandu dan meletakkan di mangkoknya. “Makanlah.”
Setelah itu kami hanya makan dalam diam yang nyaman, kurasa kami memang benar-benar kelaparan. Tidak lebih dari lima belas menit semua makanan dimeja sudah kami lahap.
Aku dan Hyura saling membantu membereskan peralatan makan yang kotor. Dia mencuci piring sementara aku memilah sampah dan membersihkan meja.
“Kau mau kopi?” tanya Hyura dari wastafel.
Aku mendekat dan berdiri dibelakang meja bar. “Kau mau membuatnya disini atau kau harus turun ke kedai kopi?一kalau kau harus turun sebaiknya aku minum air putih saja.”
Hyura berbalik separuh. “Kau terdengar tidak suka.”
“Jangan salah paham, aku suka kopi di kedaimu, tapi aku tidak menyukai teman-temanmu. Mereka membenciku.”
Gerakan tangannya terhenti, dia mematikan kran lalu berbalik perlahan. “Maksudmu Nammie dan Ryujin?”
“Ya. Kurasa itu nama mereka.”
“Itu tidak mungkin.” katanya sambil tertawa. “Kau hanya bertemu mereka dalam hitungan jam, bagaimana bisa kau menyimpulkannya begitu?一mereka adalah orang-orang yang sangat profesional, kau tau.” Hyura berbalik dan menyalakan kran lagi.
“Kau bilang begitu karena kalian berteman.”
“Kami tidak berteman.” Suara Hyura terdengar jauh dan dingin. “Mereka hanya rekan kerja. Tidak lebih dan tidak kurang.”
Sebenarnya itu terdengar melegakan. Entah untuk alasan apa, jika Hyura memiliki teman kurasa aku ingin disukai temannya.
Hyura mematikan kran, menata mangkuk bersih lalu melepas sarung tangannya, Dia menghadapku. “Jadi? Kopi?”
Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
Meskipun hanya kopi instan setidaknya ini lebih baik ketimbang dia harus membuatnya di lantai bawah. Aku tidak menyalahkan dia tidak punya mesin kopi, Hyura bukan penikmat kopi jadi itu wajar.
Dia menyodorkan gelas yang masih mengepul padaku, sementara dia menyeduh teh chamomile untuknya sendiri.
Aku menyesap kopiku sambil mengamatinya bergerak luwes di konter dapur. Serius, Aku bisa menjadikan menonton gadis ini sebagai hobi penuh waktu.
Hyura mengambil posisi di seberang bar tempatku berdiri. Dia meniup tehnya sebelum membuka mulut. “Kau mau melanjutkan pembicaraan yang tadi?一soal ucapan Donghae, dan mengembalikannya ke rumah sakit?”
“Ya itu rencananya dan itu tidak mudah, pertama aku harus meyakinkan orang tuanya terlebih dulu dan mengenai pengalihan aset, aku harus bertemu pengacara Donghae karena aku tidak mau ada masalah hukum setelahnya.”
Hyura menatapku khawatir. “Kau pasti tidak menyukainya bukan?”
“Apa?”
“Meyakinkan keluarga Lee.”
Tentu saja tidak. Aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Tapi aku juga tidak ingin Hyura berurusan dengan mereka. Sebisa mungkin dia tidak perlu bertemu salah satunya.
Menarik senyum paksa, “Aku baik-baik saja.” Meletakkan cangkirku, menatapnya. “Bagaimana denganmu, bisakah kau menjelaskan hubunganmu dengan si pembawa cincin ke gunung mordor? ”
Hyura terbatuk karena berusaha menahan tawa. “Aku suka bagaimana kau menyebutnya begitu.” sahutnya. Tapi kemudian ekspresinya berubah sendu, “Itu bukan cerita menyenangkan.” dia menunduk, menatap cangkir tehnya. Tangannya mengelus pinggiran cangkir saat dia mulai berbicara.
“Dulu, aku pernah di rawat di rumah sakit cukup lama. Dan Donghae datang hampir setiap hari, tapi dia sama buruknya denganku untuk masalah berbicara, jadi dia menyetel film sepanjang kunjungannya” Hyura tersenyum saat mengingatnya. “Dia memaksaku nonton banyak film series, seperti marvel, DC, dan aku bisa tau kalau dia sangat menyukai superhero.”
Tanpa sadar aku mengangguk, itu terbukti dari koleksi action figure miliknya.
“Tapi sebagian besar waktu aku tidak menontonnya. Saat itu kondisiku tidak terlalu…..baik.” Dia mengangkat wajahnya, tatapannya menerawang jauh. “Sampai suatu waktu kami menonton Lord of the rings, dia bilang, Hyura-ya, Lihatlah Sam Gamgee si tukang kebun. Sam bukan bangsawan, bukan ksatria, dia bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Yang dia punya hanya kesetiaan tanpa syarat. Bahkan di waktu sulit.” Hyura berhenti, dia menelan apapun di tenggorokannya dengan susah payah. “Lalu dia bilang, dia ingin menjadi Sam untukku. Orang yang tetap tinggal, tidak menyerah meskipun keadaan semakin sulit.” Dia melihatku lalu tersenyum sedih. “Kau tau rasanya menyenangkan mengetahui ada orang yang tetap tinggal disisimu meskipun keadaan menyebalkan. Karena itu, aku juga ingin menjadi Sam untuknya saat dia membutuhkanku.”
Bagiku itu adalah Kebenaran yang tidak menyenangkan. Pukulan telak di perut.
Aku pernah mendengar cerita versi Donghae, tapi setelah mendengarnya dari Hyura bagaimana hubungan mereka sebenarnya menghantamku lebih keras. Dan denyutan nyeri di dadaku terasa nyata sekarang.
Hyura tertawa malu. “Kau pasti menganggap kami konyol.”
Aku ingin tersenyum atau tertawa menanggapinya seperti sebelum-sebelumnya tapi aku tidak sanggup. Jadi aku cuma mengangkat bahu, menyesap kopi, dan menelan semua kegetiran dimulutku.
“Tapi aku tidak akan bisa sejauh ini tanpamu.” kata Hyura tiba-tiba. Dia menopang wajahnya dengan tangan, sambil melihatku dengan tatapan penuh syukur, kagum atau bangga, entahlah mungkin campuran dari itu semua.
Dia tersenyum lembut, “Terima kasih Kyuhyun-ah, kau sudah banyak membantuku.”
Mungkin aku remaja berusia lima belas tahun atau bahkan bocah kekanak-kanakan yang merajuk. Hyura berterima kasih dan berbicara dengan tulus tapi aku bahkan tidak sanggup untuk berpura-pura tersenyum atau membalasnya.
Yang kulakukan justru meletakkan gelasku dengan dentingan keras. Dan gerutuan yang sama sekali tidak keren.
“Kopiku sudah habis.”
Seolah tersadar Hyura sedikit tersentak. “Oh, Kau mau lagi?”
Aku menggeleng dan berbalik, “Sebaiknya aku pulang.”
“Eh Secepat itu?”
Memutar tubuh, melihatnya malas. “Kenapa? Kau mau aku disini lebih lama?” tanganku terlipat di depan dada. “Apa kau tidak tau ada batasan pertemanan antara pria dan wanita?”
Dahinya berkerut dalam, kebingungan. “Kyuhyun-ah一”
Mengeratkan rahang, mengutuk mulutku sendiri. Dan sebelum aku bisa mengatakan hal yang mungkin akan kusesali di kemudian hari, aku melangkah cepat ke pintu.
Tanpa mengatakan apapun aku keluar dari sana.
***
Dulu hariku selalu buruk. Bahkan ada waktu dimana aku pulang hampir tidak sadar. Begitu bangun aku berada di pintu masuk apartemen. Tidak ada orang yang bisa membantuku membuka pintu. Bukan hal yang bisa dibanggakan, aku tau.
Semuanya membaik setelah aku bekerja dengan Sungmin dan Changmin. Kami masih suka minum tapi sewajarnya. Aku bahkan jarang mabuk. Terutama karena sebagian besar kami nongkrong di Club Jazz, aku tidak ingin Lee Haejin sering-sering datang ke meja kami untuk membawakan minuman.
Aku mengambil tempat di meja bar saat Hyukjae, pemilik bar mendekat. Dia sedang mengelap gelasnya sambil bertanya. “Mana yang lain? Tidak biasanya kau sendirian.”
Aku mengangkat bahu. “Berikan yang biasa.”
Dia tidak berbicara lagi, dan langsung berbalik membuatkan minuman untukku.
Mataku melirik ke panggung, hari ini pertunjukan sedang kosong, dalam seminggu ada hari-hari seperti ini. Biasanya Hyukjae akan mempersilahkan pengunjung untuk bermain kalau mau.
Memutar tubuh kembali ketika Hyuk jae datang dengan minumanku. “Gin dan Sprite.” katanya.
Aku menyesap minumanku, rasa panas langsung membakar tenggorokan. Inilah yang kusukai dari efek alkohol.
“Apa hari ini ada yang meninggal?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba.
“Tidak, kenapa?”
Dia menunjuk wajahnya sendiri. “Wajahmu seperti orang yang sedang berkabung.”
Aku memutar mata lalu menenggak minumanku lagi.
“Kurasa aku punya berita baik,” katanya. Dia mencondongkan tubuhnya lalu berbisik. “Wanita bergaun hitam di Jam tiga, dia memandangimu sejak kau masuk.”
“Aku tau.” sahutku malas.
Hyuk Jae menarik tubuhnya dengan dramatis. “Benarkah?” Dia menutup mulutnya dengan tangan. “Sepertinya masalahmu benar-benar serius. Apa hari ini aku harus membopongmu ke kantor?”
Aku tidak menjawabnya, tatapanku tertuju pada cairan bening di gelas. Kurasa aku tidak bisa pulang. Rumahku sudah berbau Park Hyura. Dia tidur dikamarku, di sofaku, Oh ya benar, dia juga tertidur di kantorku.
Sial, sekarang aku tidak punya tempat untuk pulang.
“Tidak perlu, aku hanya ingin minum sedikit.” sahutku tidak yakin.
Hyuk Jae menatapku dalam sesaat. Sebelum akhirnya mengangguk. “Kutinggalkan kau sendiri. Jika butuh sesuatu, panggil aku kapan saja.”
Jelas aku berbohong. Aku tidak minum sedikit, aku bahkan tidak bisa berjalan dengan benar saat keluar dari lift menuju pintu unit apartementku. Dinding rasanya berputar mengitariku dan lantai yang kupijak seperti berbalik.
Sial.
Berusaha memfokuskan pandangan, dan menghitung jumlah pintu yang kulewati. Seharusnya pintu rumahku hanya tinggal beberapa langkah tapi sepertinya aku berjalan ditempat, pintu itu tidak ketemu.
Sampai suara itu datang, suara penuh kekhawatiran, suara penyelamat, suara yang kusukai, suara yang selalu ingin kudengar, suara Park Hyura.
Tunggu.
Park Hyura?
Mengerjapkan mataku lalu menggeleng. Benar, itu Park Hyura. Dia disana, berdiri, melihatku cemas. Dia bukan Hyura yang pagi ini kutemui. Wajahnya tidak polos, dia juga tidak memakai piyama ataupun celana legging ketat.
Dia Hyura si aneh, dengan make up aneh dan baju aneh. Seharusnya aku mengejeknya, mencemooh penampilannya. Tapi jantungku yang tolol justru berdebar lebih keras seperti burung dalam sangkar. Karena Bagiku Dia tetap Hyura, aku masih bisa melihat mata coklatnya yang seperti dua berlian saat menatapku, aku juga masih bisa melihat bibirnya yang sewarna chery dari balik lipstik ungunya.
Pernahkah ada saat ketika aku benar-benar berpikir dia biasa saja? Aku bodoh—dia menakjubkan, luar biasa, fantastis. Bahkan kata-kata itu tidak cukup menggambarkan bagaimana Hyura.
“Kyuhyun-ah, apa yang terjadi? Kau mabuk?” Tangannya yang kecil memegang lenganku.
Mengambil tangannya di lenganku lalu melingkarinya di pinggangku. Tanganku yang lain menarik pinggangnya hingga tubuh kami menempel.
Dia tidak gemetar, tatapannya tetap fokus padaku. Seolah sentuhan kami tidak berarti apa-apa baginya. Suaranya bahkan terdengar sangat jelas sekarang. “Kyu, kau baik-baik saja?”
Aku menggeleng lemah, tatapanku turun ke bibirnya yang berwarna ungu. Mulutnya terbuka untuk berbicara tapi aku tidak memberinya kesempatan. Mulutku turun ke mulutnya. Mempertemukan bibir kami.
Bibir Hyura tidak seperti dugaanku. Imajinasiku yang payah bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana luar biasanya rasa Hyura di dalam mulutku. Dia begitu lembut dan hangat, begitu menggoda. Bahkan seandainya aku mati saat ini, aku tidak keberatan. Karena Perasaan mengerikan ini sudah mengkonsumsi ku terlalu jauh, aku tidak bisa kembali, aku tidak mau kembali. Aku jatuh cinta padanya seperti jatuh tertidur.
Tanpa kusadari dan terjadi begitu saja.
***