
Happy Reading & Sorry for Typo
***
Aku merindukan ini. Tatapan menggoda dari para wanita yang melihatku seperti bintang jatuh. Berharap saat mata kami bertemu aku akan menyapanya balik. Tapi tidak. Aku bukan tipe seperti itu. Aku suka bagaimana mereka menatapku penasaran, seolah aku ini teka-teki menarik yang sulit dipecahkan. Aku menikmatinya. Mungkin terdengar brengsek. Tapi inilah yang kubutuhkan, mereka yang tidak akan menatapku simpati atau kasihan seperti setahun belakangan.
“Hey Man. Welcome home.” Sungmin memelukku begitu aku tiba dimeja yang sudah dia pesan. Dia menyodorkan sebotol bir untukku sementara dia sudah memegang miliknya sendiri ditangan yang lain.
“Thanks” aku menerimanya.
Sungmin mengacungkan botol birnya ke atas. “Untuk hidup kembali!” teriaknya.
Alisku terangkat satu. Untuk hidup kembali?
“Oh Ayolah! Ini untukmu.”
Sejujurnya aku tidak terlalu setuju dengan istilah yang dia gunakan. Seandainya bisa memilih aku tidak ingin kembali. Tapi aku tidak akan merusak suasana sekaligus kesenangannya. Jadi aku mengangkat bahu lalu mendentingkan botol birku ke botol miliknya.
Dia tertawa ringan sambil menenggak bir. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya kelewat keras, berusaha mengalahkan suara music jazz meskipun itu sia-sia. Meskipun club jazz, tapi tempat ini didesain untuk para penikmat music dan bukan tempat untuk mengbrol. Pilihan buruk man jika ingin mengobrol disini.
Aku mengangkat bahu dan merebahkan diriku di sofa. Sungmin mengikuti. “Sama saja. Tidak ada yang berubah.” Sahutku malas. Menyesap birku sambil melihat ke panggung. Lee Haejin yang sedang bernyanyi penuh perasaan mengingatkanku betapa menyebalkannya kota ini.
Aku ingat bagaimana hari-hari beratku yang kuhabiskan ditempat ini sambil melihat ekspresi wajahnya yang sama setiap kedatanganku. Kusarankan dia melakukan operasi plastik agar pelanggan sepertiku yang sedang kacau tidak tambah kacau karena melihat wajahnya. Dan dulu aku mendapatkan tamparan karena mengatakan hal itu.
“Kyuhyun-ah,” suara sungmin mengalihkan perhatianku dari Lee Haejin. “Apa kau sudah melihatnya?—Lee Donghae?”
Aku tidak menjawabnya dan menenggak birku banyak-banyak. Sudah lebih dari satu bulan aku kembali ke negara ini dan belum ada niat sedikitpun untuk menemuinya.
“Itu hanya kecelakaan, Kyuhyun-ah. Jangan terlalu memikirkannya.”
“Kau pernah melihatnya?”
Sungmin menatapku cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
“Menurutmu aku harus menjenguknya?” tanyaku hati-hati.
Dia mendesah pelan. “Tidak ada yang berubah meskipun kau menjenguknya. Aku pernah menjenguknya sekali dan aku tidak akan pernah datang lagi ke sana. Bukannya apa-apa tapi kamar perawatan itu memiliki hawa yang menyesakkan.”
Dahiku berkerut. “Menyesakkan?”
“Yeah begitulah yang kurasakan.” Dia mengendikkan bahunya sembari menyesap minumannya. “Tidak perlu terlalu memikirkannya, kau juga tidak perlu menjenguknya. Seperti yang kubilang ‘itu kecelakaan’ jadi tidak ada yang salah dalam hal ini.”
Aku sedang tidak ingin membicarakannya, jadi aku berpaling dan melihat Lee haejin lagi.
***
Aku tau seharusnya aku mendengarkan Sungmin. Seharusnya aku tidak berada disini. Tapi aku ingin memastikannya sendiri dengan mataku. Bahwa dia tidak lebih baik dariku atau bahkan jauh lebih buruk.
Benar. Aku hanya perlu memastikannya lalu pulang. Mudah.
Mengangkat tanganku dan mengetuk pintu dua kali sebelum memutar knop. Aku tidak menyangka akan bertemu orang lain yang juga tidak ingin kutemui. Park Hyura, gadis aneh si pengikut Donghae.
Setiap melihat gadis itu mataku pasti sakit. Lihat saja penampilannya yang seperti badut taman hiburan. Dia memiliki Rambut sepunggung yang berwarna pirang, ungu dan hijau bercampur jadi satu. Lipstick dan eye shadow berwarna hijau terang, lalu perona pipi berwarna orange seperti alien. Bukan hanya itu, dia juga memakai pakaian seperti penari latar, dengan blazer manik-manik yang menyilaukan mata dan stocking polkadot berwarna merah.
Ya Ampun. Dari mana sih dia mendapatkan rongsokan itu?
“Cho—Kyuhyun?”
Hyura perlahan berdiri dari kursi di sisi ranjang. Matanya yang berwarna pink keemasan efek dari kontak lens membalalak menatapku. “Benarkan? Kau Cho Kyuhyun?”
Aku berdehem berusaha mengembalikan fokusku pada Donghae dan bukan pada penampilannya yang aneh. “Aku hanya ingin melihatnya sebentar.”
“Oh─” Hyura mengangguk. “Tentu saja, masuklah.”
Menutup pintu di belakangku lalu berjalan perlahan ke ranjang tempat Donghae terbaring. Hyura berada di sisi yang lain, dia memegang buku yang mungkin tadi sedang dia baca. Aku terbiasa mengabaikan orang lain dan seharusnya mudah saja untuk mengabaikan kehadirannya, tapi penampilan gadis ini justru membuatnya sulit.
“Kau ingin aku keluar?” tanya Hyura
Aku menggeleng cepat. “Tidak, kau tidak perlu kemana-mana.” Sahutku reflek. Meninggalkanku berdua saja dengan Donghae bukanlah ide bagus.
Gadis itu mengangguk dan kembali duduk di kursinya. Aku berusaha untuk fokus pada Donghae dan mengabaikan Hyura, merapalkan mantra dalam hati bahwa gadis itu hanya patung atau atau orang-orangan sawah atau apapun itu. Dan lumayan berhasil.
Mungkin aku memang bajingan brengsek, nyatanya melihat Lee Donghae terbaring tidak berdaya seperti ini aku tidak merasakan apapun. Bahkan kasihan pun tidak. Tapi Dibandingkan orang yang sedang sakit dia terlihat seperti sedang tertidur nyenyak. Wajahnya begitu damai dan tidak terlihat kesakitan sama sekali. Sangat berbeda denganku yang harus mengalami pembedahan berkali-kali hingga aku bisa kembali seperti ini.
“Hampir sebagian tulang rusuknya patah.” kata Hyura tiba-tiba. Aku meliriknya sekilas. “Beruntung tidak melukai bagian dalam tubuhnya. Di enam bulan pertama sekujur tubuhnya dibalut dengan gips. Dan baru tiga bulan lalu dia keluar dari kamar intensive.” Suara gadis itu benar-benar sedih yang justru membuatku memutar mata. “Dokter bilang tidak ada masalah dengannya. Tubuhnya berfungsi dengan baik tapi Dia tidak mau bangun.”
Aku tidak menanggapi perkataannya. Karena memang aku tidak peduli. Dia akan bangun atau tidak itu sama sekali bukan urusanku. Aku tidak ingin dia menjejalkan dengan informasi tidak berguna jadi aku mengalihkan topik.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku, merujuk pada buku yang tengah dia pegang.
Dia melihatku dan pangkuannya sebelum menjawab. “Ah—Bukan apa-apa. Dokter bilang kita harus mengajak pasien berbicara tapi aku tidak pandai bercerita jadi aku membacakannya buku setiap hari.”
Aku mengangguk. “Kau boleh melanjutkan kegiatanmu.”
“Eh? Bukankah…”
“Aku tidak tau harus mengatakan apa padanya.” Sahutku jujur. “Aku juga bukan orang yang pandai berbicara, tapi jika aku pergi secepat ini aku akan terlihat seperti orang yang buruk.” Sejujurnya aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan. Tapi ada sesuatu yang membuatku ingin tinggal beberapa menit. Yeah hanya beberapa menit. Aku hanya ingin tau apa yang dilakukan gadis badut ini dengan pangerannya.
“Jadi bolehkan aku tetap disini?” tambahku.
Hyura menatapku cukup lama sampai akhirnya dia tersenyum dan mengangguk. Bagus. Setidaknya dia tidak sebodoh yang kupikirkan.
Menoleh kebelakang, tepat di seberang kaki ranjang ada sofa krem yang cukup besar. Aku mengambil tempat disana, bersamaan dengan gadis itu membuka buku dipangkuannya.
Tanganku yang panjang terentang di punggung sofa, namun tidak sampai keujungnya karena sofa ini benar-benar besar, mungkin juga bisa menggunakannya untuk tempat tidur darurat.
Mataku kembali pada Hyura, dia sedang membolak-balikkan buku. Aku pernah melihat Hyura beberapa kali. Mungkin saat masih SMA atau sudah kuliah─entahlah, aku tidak terlalu mengingatnya. Kebanyakan saat Donghae membawanya pulang ke rumah dan seluruh keluarga Lee membencinya karena itu. Tentu saja tidak akan ada yang menyukai jika anak laki-laki mereka bergaul dengan gadis berpenampilan aneh begitu. Sepanjang pengetahuanku, Hyura selalu mengikuti Donghae kemanapun dia pergi dan tidak ada yang tahu kenapa si bodoh itu juga membiarkannya.
Alisku bertaut saat dia mulai membaca, mataku terpaku padanya. Suara Hyura berbanding terbalik dengan penampilannya yang janggal. Suaranya lembut, pelan, namun kuat disaat yang bersamaan. Seolah dia sedang membaca… Salah, dia bukan hanya sekedar membaca tapi dia bercerita seolah dirinyalah si tokoh utama.
“You left when I belived that you would stay. You left my side when I needed you the most.”
Suaranya bergetar, dadaku sesak.
“I don’t have any bad words for you. I just want to thank you. Thank you for teaching me a lesson life. Thank you for making me realize my worth, thank you for making me strong. Thank you for leaving me…” dia berhenti sejenak, menatap Donghae, lalu menarik nafas dalam. Hingga tanpa sadar tanganku menekan dada.
Dia melanjutkan.
“I have your memories with me but trust me…”
“Park Hyura .” Potongku cepat.
Dia menoleh. “Ya?”
“Bisakah kau membacakan buku lain?”
“Huh?”
“Misalnya cerita anak-anak atau cerita lucu. Kau akan membuatnya depresi dengan menceritakan kisah patah hati.”
“Kau mendengarkan?” tanyanya heran.
“Aku punya telinga, tentu saja aku mendengar.”
Bibirnya merapat lalu dia mengendikkan bahu. “Baiklah.” Dia berdiri mengambil buku lain dirak
Membuang mukaku kasar, tidak ingin menatap Hyura lagi, melihatnya terlalu lama membuatku merasa lebih aneh dari pada dirinya. Namun di detik yang sama aku tau aku melakukan kesalahan. Meskipun sejak tadi aku merasa ada yang janggal tapi kali ini perasaan ini begitu kuat. Perlahan tatapanku beralih ke pojok dekat pintu masuk. Dan disanalah aku melihatnya.
Dia Melihatku.
Mata kami bertemu.
Lee Donghae berdiri bersandar di dinding tepat diantara pintu masuk dan pintu toilet. Si brengsek itu masih menggunakan pakaian yang sama seperti yang kulihat terakhir kali, tepatnya di hari kecelakaan itu terjadi. Kemeja putih dan Celana abu-abu. Namun terlihat lebih lusuh.
Bukankah seharusnya dia menggunakan pakaian rumah sakit?
Kembali pada ranjang, Donghae yang lain masih terbaring disana hingga otakku hanya bisa mengambil kesimpulan konyol Lee Donghae membagi jiwanya seperti Voldemort.
“Kau melihatku.” Jelas itu bukan pertanyaan. Bahkan suaranya lebih jelas ketimbang suara-suara lain diruangan ini. Perlahan sudut bibirnya tertarik. Dan dengan sengaja menunjukkan ekspresi paling menyebalkan yang bisa dia perlihatkan.
Menelan gumpalan apapun ditenggorokanku. Berusaha mati-matian untuk berpaling tapi tidak bisa, seolah semua otot ditubuhku kaku dan aku tidak memiliki kuasa sama sekali.
Tidak. Ini tidak benar!
Kukira aku berhalusinasi atau mungkin mabuk? Tapi senyumnya yang kubenci begitu nyata hingga rasanya aku ingin menghajarnya.
Donghae semakin tersenyum mengejek saat melangkah perlahan mendekat lalu duduk di sisiku. Aku ingin berteriak, memakinya agar tidak mendekat tapi sia-sia, lidahku kelu dan suaraku tersangkut di tenggorokan.
Dia tidak lagi menatapku tapi pandangannya lurus ke arah Hyura. Perlahan ekspresinya berubah melembut. Tapi wajahnya tetap menjengkelkan. “Lama tidak bertemu, Kyuhyun-ah.”
Bulu kudukknu otomatis berdiri saat dia menyebut namaku.
“Tidak kusangka akan melihatmu disini.” Katanya lagi. “Kupikir ini keajaiban kau datang menjengukku. Apa aku harus mengucapkan terima kasih?” Dia melirikku sekilas sebelum kembali pada Hyura. “Aku tau mengenai kecelakaan itu.” Dia menatapku penuh arti.
“Ka…kau….” Kataku susah payah. “Ba…bagaimana bisa?” aku menggeleng kuat. “Ini tidak mungkin.”
Dia tertawa mengejek “tentu saja, karma memang menyebalkan. Tapi kukira ini akan menyenangkan. Setidaknya sekarang ada yang bisa mendengar dan melihatku.”
“Kyuhyun ssi?” Suara lembut menyelamatkanku. Aku berpaling pada Hyura. Dia menatapku cemas dan bingung.
“Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.”
Aku menggeleng kaku, tidak tau harus mengatakan apa. Apa dia juga melihat Lee Donghae? Sepertiku?
Hyura berjalan cepat kearahku, “Kau sakit?” Dia meletakkan tangannya dikeningku. “Tapi tidak panas. Kau mau ke UGD? Aku bisa mengantarmu.”
“A…aa…aku…ak…”
“Hei! Jawab yang benar! Kau membuatnya cemas. Jangan mencari-cari perhatian dengannya” Omelan Donghae menjelaskan aku tidak berhalusinasi. Dia benar-benar ada disampingku dan hanya aku yang melihatnya.
SIAL!
***
“Ini. Minumlah.”
Aku menerima sebotol air dari Hyura. Barusan dia membelinya di mesin otomatis Sementara aku menunggunya di taman rumah sakit. Setidaknya udara disini tidak sepengap dikamar itu.
Mungkin terdengar cengeng tapi melihat jiwa yang terpisah dari tubuh manusia bukanlah sesuatu yang wajar. Itu sangat tidak wajar. Aku harus menampar wajahku berkali-kali untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan mimpi. Sialnya, tamparanku cukup kuat dan sakit sekali.
“Kau yakin baik-baik saja?” Hyura bertanya lagi.
Aku mengangguk tanpa benar-benar melihatnya.
“Aku bisa membawamu ke UGD.”
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau tidak terlihat begitu.”
“Tidak apa-apa.”
“Atau aku bisa membelikanmu obat?”
“Apa kau tuli! Aku sudah bilang aku baik-baik saja!” Aku tidak bermaksud kasar tapi pertanyaannya membuatku kesal.
Gadis itu tidak terlihat marah atau tersinggung, dia hanya menghela nafas.
Setelah itu tidak ada lagi yang membuka suara. Pandanganku terpaku pada jalan setapak di sebrang bangku. Hari sudah gelap jadi tidak terlalu banyak orang disini. Paling hanya beberapa dokter yang tengah beristirahat ataupun pasien yang sedang berjalan-jalan disekitar taman. Lalu aku menyadari setiap orang yang melintas di jalan setapak selalu menoleh ke arah kami. Mereka selalu melihat kearah Hyura terlebih dulu baru melihatku. Hampir semua orang seperti itu. Harusnya aku tidak perlu merasa terganggu, pasalnya mereka tidak melihatku melainkan Hyura. Tapi disitulah masalahnya. Pandangan mereka membuatku semakin jengkel.
“Sebaiknya kau kembali.” Kataku.
Dia melihatku cukup lama, seperti sedang menyelidik hingga akhirnya mengangguk. Dia bangkit dan berbicara.
“Apa besok kau mau datang lagi?”
Mengerjap dua kali, cukup terkejut dengan permintaannya. “Kenapa?”
Hyura tersenyum samar “Tidak apa-apa, hanya…mungkin besok kau ingin melihatnya lagi.”
Aku mendengus. Mustahil
Hyura tidak menanggapiku kemudian berlalu.
***
Dalam semalam si Brengsek itu berhasil membuatku menjadi zombie. Aku tidak bisa memejamkan mataku barang sedetik. Pikiranku terlalu sibuk memikirkan apa yang kulihat di rumah sakit. Aku bukan penakut, aku juga tidak takut pada hantu atau semacamnya, tapi ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku. Kenapa hanya aku yang bisa melihatnya? Kalau dipikirkan lagi kami tidak memiliki keterkaitan emosi satu sama lain. Kalau gadis aneh itu yang bisa melihatnya justru lebih masuk akal.
Jadi kenapa?
Keesokannya setelah menghabiskan secerek kopi aku kembali kesana. Bukan karena permintaan Hyura. Sama sekali bukan. Aku ingin bertemu dengan Donghae, maksudku dalam artian sebenarnya. Aku ingin melihatnya lagi dan memastikan kemarin aku tidak berkhayal.
Tapi sayangnya ruangan itu kosong.
Maksudku hanya ada Donghae yang terbaring, bukannya Donghae yang bisa mengajakku berbicara. Bahkan gadis aneh itu juga tidak ada.
Mendesah berat sambil menghempaskan tubuhku di sofa. Mungkin sebaiknya aku menghubungi dokterku dan meminta obat tidur. Tubuhku kelelahan dan kepalaku lumayan sakit. Lagipula berada disini sendirian membuatku tidak nyaman. Bangkit dari sofa namun bersamaan dengan itu pintu terbuka.
Hyura berdiri terkejut diambang pintu. “Kau kembali?”
Mengangkat bahuku asal.
Dia menutup pintu dibelakangnya lalu berjalan ke meja makan kecil dibelakang rak. “Aku tidak menyangka kau akan datang lagi.” Aku bisa mendengar nada takjub dari suaranya. Well,mungkin karena dia mengetahui bagaimana hubunganku dengan Donghae.
Bukannya pergi tapi aku justru kembali merebahkan tubuhku di sofa. Cukup penasaran sebenarnya apa yang selalu dia lakukan disini. Hyura muncul lagi dari balik rak. Dan sekarang aku bisa melihatnya lebih jelas. Hari ini dia terlihat seperti pohon natal berjalan, diseluruh tubuhnya tertempel pita-pita kumuh dan pernak-pernik yang mungkin hanya akan kau temukan di tempat sampah. Ditambah dengan rambutnya yang merah gila-gilaan. Mungkin dari jarak jauh orang akan menyangka dia membawa api di kepalanya. Dia lebih pantas berada di taman hiburan ketimbang di rumah sakit.
“Kau sudah baikan?” tanyanya yang otomatis mengalihkan perhatianku dari penampilannya.
“Aku tidak apa-apa.”
Hyura mengangguk, dia membawa tas kertas lalu mengeluarkan beberapa buku dari sana dan menumpuknya di meja kecil samping ranjang. Mataku tidak lepas darinya, sementara dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku. Pertanyaannya barusan pun hanya seperti basa basi.
“Kau akan membaca cerita lagi?” tanyaku.
“Nanti, aku harus membersihkan wajahnya dulu”
Aku mendengus. “Apa kau pelayannya? Berapa mereka menggajimu?” terdengar lebih menghina daripada yang kumaksudkan, kupikir dia akan marah, tapi Hyura hanya mengangkat bahu dan menjawab, “Aku temannya dan bukan pelayan.”
Dia masuk ke dalam kamar mandi dan kembali dengan baskom, handuk dan peralatan cukur sebelum dia berbicara lagi. “Tidak ada yang salah membantu teman saat dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dan aku tidak butuh bayaran untuk itu.”
Aku ingin membalasnya tapi Hyura memotongnya cepat. “Justru aku penasaran denganmu. Apa kau butuh bayaran untuk datang kesini?”
Aku tidak tau bagaimana harusnya terdengar tapi aku cukup tersinggung. Jika dia cukup dekat dengan Donghae dia seharusnya tau apa yang kulalui dengan keluarganya. Jadi aku memandangnya tajam, “Aku tidak akan menerima bayaran apapun darinya.” Suaraku rendah—tenang namun mengancam. Ketika kau berbicara bersungguh-sungguh kau tidak perlu berteriak, kerena teriakan adalah keputusasaan. Kau tidak memiliki apapun selain volume suaramu. Biasanya hal itu selalu berhasil dengan orang lain. Tapi dia malah tersenyum menanggapiku. Dia benar-benar aneh.
“Aku hanya bertanya. Kau tidak perlu membalasku seperti itu.” katanya.
Dahiku berkerut.
“Tidak ada maksud apa-apa.” Dia tersenyum sekilas ke arahku lalu membasahi handuk kecil dan mengusap wajah Donghae dengan penuh kelembutan.
Aku mendengus. “Apa yang kau tau soal Lee Donghae?”
“Tidak lebih banyak darimu.” Tatapan Hyura masih fokus pada setiap inchi wajah Donghae. Tangannya bergerak begitu lembut seolah dia sedang memegang benda kristal berharga.
“Kau pikir kami sedekat itu?”
Sekilas kulihat sudut bibirnya bergetar. “Mungkin itu yang kau pikirkan.”
Huh?
Tangan Hyura berhenti dia melihatku. “Kau berada disini. Meskipun kau menyangkal, kenyataannya kau berada disini lagi.”
“Aku tidak menyangkal, tapi bukan berarti kami dekat.”
“Dan bukan berarti kau tidak tau mengenai Lee Donghae.”
“Jangan sok tau.” Balasku jengkel.
Dia tersenyum namun kali ini dia tidak membalasku. Hyura mengoleskan krim cukur di sepanjang rahang Donghae. Dengan penuh kehati-hatian dia mulai menggoreskan pisau cukur. Matanya begitu serius dan…tulus. Entahlah, aku tidak percaya gadis itu tidak menerima bayaran apapun dari keluarga Donghae. Siapa yang mau repot-repot datang ke rumah sakit pagi-pagi begini hanya untuk mencuci muka dan mencukur. Meskipun Hyura bilang mereka teman tapi bagiku tidak masuk akal. Cih, temanku bahkan tidak ada yang menanyakan kabarku saat aku tidak kembali ke korea setelah lebih dari setahun. Tapi lain ceritanya jika mereka memiliki hubungan spesial.
“Apa hubunganmu dengan Donghae?” pertanyaan itu lolos begitu saja.
“Kami berteman.” Sahutnya ringan.
Alisku naik sebelah “Hanya itu?”
“Hanya itu.”
Aku tertawa. “Orang bodoh mana yang percaya?”
Hyura berhenti lalu melihatku. “Orang bodoh mana yang tidak percaya.”
Ekspresiku berubah sepenuhnya. Dia kembali melanjutkan mencukur.
“Apa karena penampilanmu yang seperti badut? Sampai-sampai orang bodoh pun tidak akan percaya.” Balasku dengan nada terkejam yang bisa ku keluarkan.
“Mungkin.” Sahutnya.
Alisku bertaut. Aku yakin gadis ini seratus persen aneh, tapi bagaimana mungkin dia tidak tersinggung.
“Yeah, baguslah setidaknya kau tau diri dan bercermin sebelum keluar rumah.” Kataku lagi. Aku mengharapkan ekspresi lain darinya tapi tiba-tiba pandanganku terhalang, sosok Hyura tergantikan dengan Donghae. Dia tiba-tiba mucul dan berdiri menjulang di depanku. Tangannya terlipat di depan dada menatapku tajam. Well, jujur saja aku sedikit terlonjak. Hanya sedikit. Dan ini meyakinkanku bahwa aku tidak berhalusinasi. Terlebih melihat ekspresinya sekarang.
“Hati-hati dengan apa yang kau katakan! Cho Kyuhyun!” dia mendesis, seolah ingin menerjangku.
Aku memutar mata. Seolah dia bisa melakukannya saja. Dia bahkan tidak memiliki tubuh. “Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.” Kataku sepelan mungkin, memastikan hanya Donghae yang mendengarnya atau Hyura akan menganggapku gila.
Aku yakin jika Donghae bisa memukulku dia akan melakukannya. Sayangnya dia tidak bisa dan entah kenapa melihat ekspresinya yang frustasi dan kesal sangat menghibur. Jadi aku melakukannya lagi.
“Hyura-ya…” Panggilku. Tatapan Donghae semakin tajam.
“Cho Kyuhyun!” dia memperingatkan.
Jelas aku menghiraukannya. Tanpa sadar salah satu sudut mulutku tertarik lalu Menggeser tubuhku agar bisa melihat Hyura lebih jelas. Gadis itu melihatku menunggu. Kulihat dia sudah hampir selesai dengan kegiatan cukur mencukur.
“Mau keluar denganku?”
“Huh?” Hyura melihatku kebingungan.
“Apa yang sedang kau coba lakukan Cho Kyuhyun?” Suara Donghae sudah tidak setegang sebelumnya. Tapi aku tetap memilih mengabaikannya.
“Yeah, kita bisa pergi ke club atau semacammnya. Mungkin dengan penampilanmu kau bisa menghasilkan uang lebih banyak.” Kataku dengan tidak berperasaan.
Sama seperti sebelumnya—Hyura tidak banyak merespon, dia hanya memutar mata dan kembali pada Donghae. Dahiku berkerut, sebenarnya otak gadis ini terbuat dari apa sih?
Donghae tersenyum. Aku meliriknya malas saat dia mengambil duduk disampingku. Bersamaan dengan itu Hyura berdiri sambil membawa baskom keluar.
Donghae kembali membuka suara saat Hyura membuka pintu dan pergi.
“Kau tidak akan bisa mengalahkannya, Kyuhyun-ah.”
“Siapa? Gadis aneh itu?” kataku.
“Hati-hati dengan siapa yang kau panggil.”
“Dia bahkan tidak peduli dengan ucapanku, kenapa kau peduli?”
“Aku selalu peduli dengannya.” Katanya pelan.
“Pedulikan dirimu sendiri.” Ejekku. “Kau bahkan tidak berada didalam tubuhmu, kenapa malah memikirkan orang lain.”
Donghae memutar mata. “Apa yang membuatmu kemari? Kukira kau tidak akan datang lagi.”
Mengangkat bahuku. “Hanya memastikan aku sedang berkhayal atau tidak. Tapi… “ aku menunjuk pojok ruangan, “apa kau bisa muncul begitu saja? Kapanpun? Dimanapun? Siapa saja yang bisa melihatmu? Apa hanya aku?”
“Kau pikir aku akan menjawabmu?”
“Aku juga tidak berharap begitu”
Dia menatapku lama sebelum mendesah pelan. “Apa yang terjadi padamu—setelah kecelakaan itu?”
“Kau pikir aku akan menjawabmu?” balasku.
“Sayangnya aku berharap begitu”
“Aku…” ucapanku terpotong saat Hyura kembali. Aku melirik Donghae dan Hyura bergantian—merasa aneh karena hanya aku yang bisa berbicara dan melihat Donghae. Meskipun bukan berarti aku akan terus-terusan ngobrol dengannya. Hubungan kami tidak seakrab itu.
Hyura berjalan melewatiku ke balik rak dan menarik kursi di depan meja makan lalu mendudukinya.
Dia berbicara tanpa melihatku. “Aku harus mengerjakan sesuatu, jadi kau tidak perlu menghiraukanku.” Dia mengambil buku dan peralatan menulis dari dalam tas. Tangannya mulai bergerak-gerak diatas kertas putih. Aku tidak bisa mengira-ngira gadis itu menulis atau menggambar. Kemudian yang kutau Donghae sudah berada didepan Hyura. Tanpa menggerakkan apapun tiba-tiba saja dia sudah menempati kursi di seberang Hyura. Dia meletakkan kepalanya di meja dan tersenyum bodoh—menatap Hyura seolah gadis itu adalah sebuah keajaiban. Dia membuatku ingin muntah.
Si bodoh itu terlihat menjijikan
Memperhatikan keduanya. Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana Donghae bisa menyukai gadis aneh seperti Hyura. Well, aku bisa mengatakan hal itu karena nenek-nenek pikun pun pasti akan mengatakan hal yang sama jika melihatnya.
Membiarkan mereka dan menyandarkan kepalaku di sandaran sofa. Sofanya lumayan besar dan nyaman. Ditambah penerangan kamar ini tidak terlalu terang atau terlalu gelap. Dan obrolan singkatku dengan Donghae sedikit melegakan.
Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Aku pergi ke bioskop menonton film Pride and Prejudice. Seperti menonton film 3D, Samar-samar namun terasa nyata. Aku bukan penggemar sastra romantis jaman dulu, ataupun filmnya. Tapi kuakui versi zombienya lumayan keren. Entah sedang bermimpi atau apa tapi aku merasa sedang berkuda menuju castle—tempat persembunyian para zombie, sampai kudanya terperosok ke dalam lubang dan…aku terjatuh.
Tersentak bangun. Mataku langsung terjaga—kebingungan.
Aku tidak sedang berkuda melainkan di kamar inap Donghae. Mataku berkeliling dan sepenuhnya tersadar. Suasana di kamar ini sedikit berubah. Tirai yang biasanya terbuka separuh sekarang sepenuhunya tertutup. Kemudian lampu kamar yang tadinya terasa temaran tapi sekarang justru lebih terang.
“Kau mendengkur.” kata Hyura tiba-tiba. Dia tidak lagi duduk di meja makan, melainkan di sisi ranjang.
Mendudukkan tubuhku yang entah sejak kapan terbaring dan…diselimuti?
“Jam berapa sekarang?” tanyaku parau.
“Hampir jam sembilan malam.” Katanya, dia tidak melihatku, tangannya sibuk berkemas, memasukkan barang bawaannya ke dalam tas.
“Apa?” aku yakin tadi saat datang kesini bahkan belum jam makan siang.
“Kau begadang atau semacamnya? Tidurmu nyenyak sekali.” Hyura menggeleng pelan. “Kukira kita bisa membangunkan pasien sebelah dengan dengkuranmu.” Gadis itu mengenakan cardigan sebelum mencangklongkan tasnya di bahu. “Apa kau tidak perlu bekerja atau melakukan sesuatu?”
Aku sendiri keheranan. Biasanya aku akan kesulitan tidur di tempat asing, tapi kali ini aku jatuh tertidur begitu saja. Memijat keningku, merasa aneh kepalaku begitu ringan dan sudah tidak sakit lagi. Mungkinkah aku tidur senyenyak itu?
“Aku masih dalam tahap pemulihan, aku tidak perlu bekerja.” Aku menyingkap selimut dan berdiri, mataku berkeliling mencari Donghae tapi dia tidak ada. Kemudian mataku menangkap buku di nakas.
“Kau membaca Pride and Prejudice?” tanyaku.
“Hmm, ini yang ketiga kalinya aku membacakannya. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Kau mau pulang?”
Hyura mengangguk.
“Ayo. aku bisa mengantarmu.”
Alis Hyura terangkat satu. “Berhutang apa aku dengan kesenangan ini?”
“Yasudah kalau tidak mau.” Sahutku dan berjalan keluar.
“Aku kan hanya bertanya. Tunggu aku!” dia berteriak dari belakang dan menyusul. Tanpa sadar kedua sudut mulutku tertarik.
***
Kami berhenti di depan sebuah Coffee Shop yang Hyura bilang itu rumahnya.
“Ini rumahmu?” tanyaku. Aku mengamati bangunan itu. Nama coffee shop nya tidak asing, aku seperti pernah melihatnya disuatu tempat.
“Bukan, rumahku di lantai dua.” Hyura menunjuk bangunan tepat diatas Coffee Shop. “Yang dibawah kedai milik orang tuaku”
“Apa orang tuamu tau pekerjaanmu sehari-hari hanya menemani orang sakit?”
Dia melirikku. “Ada apa sih denganmu? Dia bukan hanya sekedar pasien atau orang sakit. Dia Lee Donghae. Temanku dan juga temanmu. Padahal kau sedang bersamanya saat kecelakaan itu, seharusnya kau juga ikut bersimpati padanya.”
Aku mengerjap dua kali. Ini pertama kalinya dia berbicara seperti itu padaku, padahal sebelumnya aku terus berusaha menyinggungnya tapi dia tidak terpengaruh sama sekali. Namun ucapan gadis itu juga terdengar menyebalkan bagiku. Apakah dia tidak terlalu berlebihan membela Lee Donghae?
“Hanya ingin mengoreksi, dia bukan temanku dan aku tidak bersimpati padanya. Karena hal yang sama juga menimpaku.”
Hyura membuka mulutnya untuk membalasku lebih keras, tapi sesuatu menghentikannya. Fokusnya berubah dan tiba-tiba ekspresinya melembut. Dia mengangguk. “Aku tau.”
Aku menatapnya tidak percaya. “Apa?”
“Bukan apa-apa. Terima kasih atas tumpangannya.” tanpa perlu melihatku, dia membuka pintu. “Kau bisa datang lagi besok─atau tidak. Terserah.” Dengan itu dia pergi.
Detik itu juga aku menyesal mengantarkannya.
***
Aku tidak bisa tidur lagi!
Asumsiku, mungkin karena tidur siang terlalu lama kemarin. Jadi pagi ini aku mengunjungi dokterku. Sepertinya kesehatan fisikku jadi sedikit terganggu setelah melihat jiwa yang berada di luar tubuh.
Dengan tatapannya yang tidak bersahabat si Dokter menyuruhku duduk di depan mejanya. “Kau datang diluar jadwal.” Katanya. Dia menaikkan kacamatanya yang turun. Rambutnya yang sudah memutih mengingatkanku pada kakek-kakek yang menjadi teman seruanganku di rumah sakit di Singapore. Well, aku mendapatkan dokter tua ini juga karena rekomendasi dari Mark. Dokter yang menanganiku sebelumnya. Padahal aku berharap akan mendapatkan dokter wanita cantik yang seksi.
“Aku tidak bisa tidur.” Kataku.
Ekspresi yang sebelumnya tidak bersahabat sekarang berubah kesal. Dia menunjuk papan nama di depan mejanya. “Aku bersekolah specialist orthopedi bukan untuk menjadi terapis insomnia. Kau bisa membeli obat tidur di apotik.”
Mengangkat bahuku ringan. “aku butuh resep.”
Dia mendengus. “Kau bisa mendatangi dokter umum di bawah, kenapa repot-repot kemari.” Dia mengeluarkan sesuatu dari lacinya. Lalu mulai menulis sesuatu.
“Sebenarnya ada alasan lain. Aku ingin pindah rumah sakit.” Kataku.
Dia menatapku dari balik kacamatanya yang melorot. “Kenapa?”
“Aku ingin mencari dokter wanita yang menarik dan bukannya kakek tua, lagipula rumah sakit ini lumayan jauh dari rumahku.”
Dia memutar mata. “Mark benar. Kau menyebalkan.”
Aku nyengir dengan bangga.
“Aku tidak mengenal seorang wanita menarik ahli ortopedi.” Dia merobek kertas yang sudah dia tulis lalu mendorongnya ke arahku. “Jangan minum obat tidur terlalu sering, berolahragalah, jogging ringan cukup aman untukmu. Dan jangan terlalu lelah.”
Mengambil kertas dan membacanya sekilas. Aku tidak mengerti satupun yang tertulis di sana.
“Kau bisa cari sendiri Dokter yang kau sukai, aku tidak punya waktu untuk itu.”
Aku menyeringai. “Aku juga malas mencarinya. Tapi kau bisa mentransfer data medisku ke severence.”
Dahinya berkerut. “Severence?”
“Rumah sakit itu bagus. Kau punya kenalan disana?”
“Ada beberapa.” Katanya enggan. Dia mengetikkan sesuatu dikomputernya dan membaca apapun yang ada disana sebentar sebelum kembali lagi padaku. “Aku tau ini keinginan pasien dan tidak menyalahi prosedur tapi, kondisimu tidak sederhana. Kau yakin dengan ini?”
Aku mengangguk.
Dia mendesah. “Baiklah kalau begitu.”
Dengan itu aku berdiri dan menunduk memberi hormat.
Setelah menebus resep aku tidak langsung pulang melainkan mengunjungi orang tuaku. Sejujurnya sudah terlalu lama aku tidak datang sampai aku sendiri lupa kapan terakhir menyapa mereka. Meskipun begitu ingatan mengenai ayah dan ibuku begitu jelas di terekam dikepalaku. Terutama dihari terakhir aku melihat mereka.
Malam itu ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku. Kami merayakannya di restoran favorite Eomma. Semuanya berjalan menyenangkan sampai kecelakaan itu terjadi. Aku tidak tau apa yang terjadi. Yang kutau, aku terbangun di rumah sakit dan bertemu Paman Lee─ayah Donghae, dia yang memberitahuku tidak ada satupun keluargaku yang selamat. Dia membawaku pulang kerumah mereka Dan dia juga yang akan mengambil alih tanggung jawab orang tuaku hingga saat ini.
Aku tidak pandai berbasa-basi atau berbicara, jadi aku hanya meletakkan bunga lalu memberi hormat. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan dengan mereka mengenai Lee Donghae, mungkin saja mereka juga melihatnya. Tapi kurasa itu bukan hal yang bijaksana. Jadi kuputuskan untuk pergi saja.
***
Malam harinya setelah meminum obat tidur aku tertidur selama dua jam. Yah, hanya dua jam! Setelah itu mataku seterang lampu stadion dan pikiranku begitu jernih namun tubuhku teramat lelah. Ini lebih menyiksa ketimbang tidak minum obat sama sekali. Pagi harinya tubuhku begitu lemas dan tidak bertenaga. Aku ingin sekali kembali tidur tapi tidak bisa.
Ya Tuhan! Kenapa begini!
Begitu putus asa menginginkan tidur hingga dihari berikutnya aku meminum obat tidur melebihi dosis yang disarankan dokter. Hasilnya aku tidak terbangun lebih dari 48 jam dan setelah itu aku tidak bisa berhenti muntah. Dengan kesadaran yang masih tersisa aku berhasil menghubungi 119. Kemudian yang kutau aku sudah terbaring di rumah sakit. Kata dokter aku hampir mati karena overdosis.
Aku tau itu memalukan.
“Anda tidak menghabiskan makanan anda lagi.” Perawat tua itu mengeluh untuk kesekian kalinya. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa setiap masuk rumah sakit aku selalu bertemu orang tua. Kemana perginya para Wanita-wanita cantik?
“Makanannya tidak enak.” Balasku tanpa melihatnya. Mataku terpaku pada game yang sedang kumainkan.
Dia membawa nampan sambil mendesah berat. “Kau tau perutmu belum kuat untuk mencerna makanan selain bubur.” Katanya. Kuakui meskipun tua tapi dia lumayan sabar, hampir mirip ibuku. Hampir.
Dia bicara lagi sebelum pergi. “Aku akan kembali untuk mengantarkan makan malam.”
Setelah sendirian aku melempar game switch. Sejak dirawat hanya switch ini yang menemaniku dan aku kebosanan. Aku butuh hiburan lain!
Bukan tanpa alasan aku memilih severence. Disini ada dokter baruku, disini juga ada Hyura dan Donghae. Meskipun mereka menyebalkan tapi setidaknya ada orang lain yang kukenal disini selain suster tua.
Turun dari ranjang lalu mendorong tiang infus. Aku harus naik beberapa lantai untuk mencapai ruang perawatan Donghae. Langkahku berhenti saat melihat Hyura duduk di lorong. Dia tidak berada di dalam seperti biasanya. Kali ini penampilan gadis itu persis seperti Ronald dari McDonald. Rambutnya masih merah menyala, bajunya kuning dan make up yang dia pakai tidak kalah tebal dengan badut taman hiburan.
Aku menghampirinya, lalu mengambil tempat duduk “Kau bekerja di McDonald?” tanyaku. Dia tidak melihatku, tangannya sibuk menguliti pinggiran kuku yang bercat ungu pudar. Wajahnya tidak seperti biasa. Well meskipun biasanya juga dia selalu tampak tanpa ekspresi tapi kali ini aku bisa merasakan kegelisahan yang menguar dari tubuhnya
“Atau kau sekarang menjadi penjaga pintu?” tanyaku lagi.
Hyura hanya menggeleng─masih belum melihatku. “Kenapa kesini?” gumamnya.
“Aku ingin…” Aku tidak tau harus menjawab apa, jadi aku balik bertanya “Apa aku tidak boleh datang?” lebih terdengar seperti anak kecil yang keras kepala. Kali ini dia mendongak melihatku. Dahinya berkerut melihat baju yang kukenakan, lalu melirik tiang infus baru kembali padaku.
“Kau sakit?”
Mengendikkan bahuku asal. “Begitulah.”
“Bukankan tempo hari aku sudah menyuruhmu ke UGD. Lihatlah sekarang jadi begini.”
Dia terdengar sangat jengkel dan aku tidak suka reaksinya. Aku bukan Lee Donghae yang harus dia khawatirkan. Kami juga tidak memiliki hubungan dimana dia harus mencemaskanku. Kedengarannya menggelikan.
Aku membuang muka. “Aku tidak apa-apa.” Kataku ketus.
Dia mendesah, suaranya melembut. “Lalu apa kata Dokter?”
Aku meliriknya. “Kau benar-benar penasaran?”
Dia mengangguk.
Tanpa sadar salah sudut bibirku terangkat. “Aku tidak apa-apa, hanya…kelelahan.” Lebih baik menggigit lidahku sampai putus daripada harus mengakui overdosis obat tidur.
Hyura tidak menyahut melainkan menatapku lebih intens. membuatku lebih gelisah dari sebelumnya.
“Apa? Kenapa melihatku seperti itu?”
Hyura tersenyum lemah dan menggeleng. Dia menatap pintu kamar inap Donghae di depan kami sebelum berbicara. “Sejujurnya aku tidak mengenalmu. Aku hanya mendengar dari cerita-cerita Donghae. Tapi Kau benar, kau juga korban. Maaf seharusnya tempo hari aku tidak bicara seperti itu padamu.”
Mataku melebar, tidak kusangka dia akan mengatakan hal itu. Mulutku bahkan jauh lebih brengsek ketimbang ucapannya tapi aku tidak pernah meminta maaf.
“Aku bukan Lee Donghae, kau tidak perlu bersikap cengeng padaku. Aku baik-baik saja.” Suaraku erdengar lebih gusar daripada seharusnya.
Hyura kembali melihatku. Kali ini lebih lama dari sebelumnya, dia seperti berusaha melihat apapun yang perlu kusembunyikan. Meskipun aku merasa tidak memiliki apapun untuk disembunyikan.
“Aku tau kau baik-baik saja.” Katanya seraya tersenyum.
Mendadak aku membenci obrolan kami. Membuatku gelisah.
Berdehem membersihkan tenggorokan. “Apa setiap hari kau datang kesini?” tanyaku mengalihkan topik.
“Biasanya begitu.”
“Lalu apa yang kau lakukan untuk hidup? Kau tidak bekerja?” memiringkan tubuhku agar bisa melihatnya lebih jelas. Rambutnya yang merah tidak lagi terlalu mengganggu.
“Saat akhir pekan terkadang aku membantu di kedai kopi, lalu saat menemani Donghae biasanya aku membuat desain.”
“Desain?”
Hyura mengangguk. “Pekerjaan lepas. Mendesain logo atau semacamnya, Memang bayarannya tidak terlalu besar, tapi cukup untukku.”
Alisku terangkat satu. “Apa kau pernah kuliah atau bekerja ditempat lain?”
“Aku pernah sekolah design fashion beberapa tahun. Tapi kurasa tidak cocok untukku. Jadi aku berhenti.”
“Aku bisa melihatnya” kataku. “Kau bahkan tidak bisa memadukan warna, bagaimana mungkin kau jadi designer.” aku tertawa mengejek. “Membayangkannya saja membuatku ingin tertawa.”
Kali ini dia ikut tersenyum, tidak tersinggung sama sekali.
“Aku bertanya-tanya karena penasaran, sebenarnya kenapa kau berpenampilan seperti ini? Apa kau tidak punya baju lain? Yang sedikit lebih normal”
“Aku suka apa yang kukenakan.” Sahut Hyura singkat.
“Itu saja?”
“Itu saja.”
“Bagaimana dengan rambutmu? Apa kau mengecatnya setiap hari? Terakhir kuingat sebelumnya rambutmu berwarna pelangi tapi sekarang berubah menjadi api.”
“Terkadang aku mengecatnya, atau memakai pewarna sementara, tapi ada saatnya aku mengenakan rambut palsu. Yang mana saja yang membuatku nyaman.” Kemudian dia tertawa kecil. “Aku tidak tau kau memperhatikanku.”
Tanpa sadar aku memutar mata. “Penampilanmu seperti orang yang butuh perhatian. Apa kau sebegitu sukanya menjadi pusat perhatian?”
“Sudah kubilang, aku hanya menyukai apa yang kukenakan. Orang lain memperhatikan atau tidak itu bukan urusanku.”
“Dasar aneh.”
“Aku tau.”
“Serius, apa kau punya masalah kepribadian?”
“Kenapa kau bertanya begitu?”
Mengangkat bahuku. “Penasaran.”
Hyura menggeleng “Tidak. Aku baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan kepribadianku”
Aku tidak puas dengan jawabannya. Jadi aku menatapnya lebih serius sekarang. “Ada satu hal lagi yang membuatku penasaran.” Jujur saja aku tidak mengerti kenapa Hyura harus berpenampilan seperti itu dan kenapa Donghae bisa menyukainya. Terlepas dari sikapnya yang menyebalkan setidaknya Donghae adalah pria normal yang menginginkan wanita cantik dan seksi.
“Kau dan Donghae. Kalian hanya berteman?—maksudku benar-benar berteman, tanpa ikatan apapun.”
Hyura mengangguk pasti. Aku tidak melihat keraguan ataupun kebohongan dari matanya. Meskipun begitu aku tetap tidak mempercayainya. Aku bisa melihat dari cara Donghae menatap Hyura, mereka bukan hanya sekedar teman, mereka lebih daripada itu.
Menyipitkan mataku. “Kau tidak pernah menyukainya atau menganggap Donghae menyukaimu?”
Hyura menggeleng sambil tersenyum malu-malu, meskipun pipinya sudah dipolesi pemerah tapi dia tidak bisa menutupi wajahnya yang merona. “Tidak, kami tidak dalam hubungan seperti itu.”
“Tapi kau tersipu.”
Lalu dia tersenyum lebih lebar. “Kurasa tidak ada korelasi antara tersipu dengan bagaimana hubungan kami.”
“Lalu bagaimana dengan Donghae? apa dia menyukaimu?”
“Kurasa itu tidak mungkin.”
“Kenapa kau berpikir begitu?” tanyaku lebih sinis daripada yang kumaksud. “Apa kau terlalu rendah diri?”
“Dan kenapa kau berpikir Donghae menyukaiku?” balasnya.
“Menurutmu ada alasan kenapa Donghae tidak menyukaimu?”
“Menurutmu apa ada alasan kenapa Donghae harus menyukaiku?”
“Apa sekarang kita bermain permainan kata? kau hanya membalik-balikkan pertanyaanku.” kataku mulai jengkel.
Dia tersenyum, maksudku benar-benar tersenyum hingga matanya. “Kenapa kau penasaran bagaimana hubungan kami?”
Mulutku terbuka untuk membalasnya namun hanya udara yang keluar dari sana. Akupun menanyakan hal yang sama pada diriku, Kenapa aku penasaran?
Membuang wajahku menolak menatapnya atau mungkin aku akan menanyakan hal-hal bodoh lagi. Lalu disaat yang bersamaan pintu kamar Donghae tiba-tiba terbuka dan Hyura buru-buru berdiri. Gadis itu membungkuk dalam. Harusnya aku tidak perlu terkejut melihat Ibunya Lee Donghae di sini, tapi kenyataannya aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi dalam waktu dekat.
“Eomonim.” Sapaku.
“Di sini kau rupanya?” Dia melihatku dan Hyura bergantian dengan tatapan merendahkan seolah kami pengemis dan dia Ratu Elizabeth.
“Tidak heran kenapa anakku tidak bisa membuka matanya, mungkin karena dia dikelilingi oleh manusia-manusia tidak berguna.”
“Eomonim bisa membawanya pulang kalau tidak ingin didekati oleh manusia tidak berguna.” Balasku.
“Yang benar saja!” Dia menatapku penuh kebencian, lalu mendengus kasar. “Aku tidak percaya kau berdiri disini dengan tidak tau malu. Apa kau tau suamiku menderita gara-gara kau!”
Aku tidak ingin bertengkar dengan Eomonim didepan orang lain apalagi mengenai masalah Keluarga Lee. Jadi aku melengos tanpa perlu merasa berpamitan. Aku masih mendengar gerutuannya dan juga sepertinya Hyura meminta maaf, aku tidak mendengar mereka lagi saat berbelok ke lorong.
Saat aku tiba di lift Hyura muncul sesaat sebelum pintu lift menutup. Rambutnya yang merah terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Nafasnya memburu tapi dia tersenyum.
“Kukira aku kehilanganmu.” Katanya begitu berdiri di sebelahku.
“Apa yang kau lakukan?” Aku menekan pintu lift hingga tertutup lalu menekan tombol lantai kamarku.
“Aku ingin tau dimana kamarmu, sekalian aku juga bisa mengantarmu.”
“Cih, sudah kubilang aku bukan Lee Donghae, kau tidak…”
“Ya…ya …aku tau.” Potongnya bosan. “Aku hanya ingin tau dimana kamarmu. Apa itu cukup?”
Aku memutar mata. Bersamaan saat pintu lift terbuka.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku saat kami berjalan beriringan keluar dari lift.
“Huh?”
“Maksudku, apa Eomonim mengatakan sesuatu sebelum aku datang?”
“Dia tidak mengatakan apapun.”
“Kau yakin?”
Hyura melirikku singkat. “Kenapa kau penasaran?”
“Aku tau bagaimana menyebalkannya dia.”
Hyura tersenyum tipis saat kami melewati satu lorong, lalu berbelok setelah konter suster jaga.
“Apa kau pernah sakit hati dengannya?” Tanyanya lagi
Kali ini aku yang tertawa. “Aku sudah terbiasa. Lagipula Dia bukan tipe orang yang bisa kau dengarkan. Aku belajar hal itu sejak umurku tujuh belas tahun.” Aku membuka pintu dan menahannya untuk Hyura. Tanpa ragu Dia masuk mendahului. Kamar inapku tidak seluas kamar Donghae, tidak ada meja makan atau dapur kecil. Tapi cukup lengkap.
Mata Hyura menjelajahi kamarku cukup lama sampai akhirnya dia menatapku
“Kamarmu lumayan bagus.” Komentarnya.
Aku tidak menanggapinya dan langsung rebah di ranjang. Hyura membantuku memposisikan tiang infus. Dia memeriksa tinggi ranjang, lalu menunduk dan memposisikan bantal dipunggungku. Memalingkan wajahku saat wajahnya begitu dekat. aku bahkan bisa mencium harum vanilla dari tubuhnya.
Ini tidak bagus!
“Apa sudah nyaman?” Tanyanya,
Mengangguk kaku, dan menghembuskan nafas lega saat dia menegakkan tubuhnya.
“Kau sudah makan? Makanan rumah sakit pasti tidak terlalu enak, perlu kupesankan dari luar? aku tau beberapa restoran pesan antar yang enak disekitar sini.”
“Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Kau suka masakan apa? di seberang rumah sakit ada kedai yang menjual macam-macam lauk pauk.”
“Sudah kubilang aku baik-baik saja.”
“Besok akan kubawakan beberapa.”
“Terserah.” sahutku acuh
“Oke. Istirahatlah.”
Dia berbalik lalu berjalan ke pintu. Gadis aneh itu sudah pergi tapi aku seperti orang tolol yang hanya menatap pintu lebih lama dari seharusnya.
Kurasa aku sudah gila.
***
Malam harinya tidurku cukup nyenyak setelah suster tua itu memberikan obat penenang ke dalam cairan infus. Dokter bilang jika hari ini hasil tesku cukup bagus, besok aku sudah diperbolehkan pulang. Dan dia juga melarangku untuk meminum obat tidur lagi, melainkan menyuruhku untuk terapi. Saat mendengarnya aku tidak tahan untuk tidak memutar mata. Apa dia kira aku ini pasien kelainan jiwa hingga membutuhkan terapi?
Saat aku kembali ke ruanganku si gadis aneh sudah duduk di tepi ranjang sambil memangku tas kertas yang lumayan besar. Bibirnya yang dipolesi lipstick warna putih seputih cat tembok melebar.
Aku tidak tau apa yang dia lakukan dengan wajahnya. Tapi yang kutahu Hyura memiliki kulit seputih susu tapi sekarang wajahnya berubah menjadi coklat sementara lehernya masih seperti kulit aslinya, ditambah makeup serba putih di sekitar mata dan bibirnya membuatnya seperti sapi berbulu merah.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.
Hyura melompat turun dan menunjukkan tas kertasnya. Tanpa meminta izinku dia menggeser meja, lalu mengeluarkan beberapa kotak makan dan menatanya dimeja kopi. Bau pasta kacang langsung menyeruak di seluruh ruangan begitu dia membuka penutupnya. Tanpa sadar aku menelan air liur. Aku bahkan lupa kapan aku makan dengan benar. Dia tersenyum sambil menepuk sofa disampingnya.
“Sudah kubilang aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Anggap saja aku mentraktirmu makan karena sudah mengantarku pulang.”
Aku menatapnya sebentar sebelum mengedikkan bahu. “Baiklah kalau begitu.”
Senyum Hyura semakin lebar saat aku mengambil posisi disampingnya. Tanpa sadar aku ikut tersenyum.
Hyura mengaduk kantong kertas sebelum bangkit ke arah kulkas dan memasukkan beberapa kotak makanan kesana.
“Besok aku pulang. Aku hanya akan membuangnya.”
Dia berbalik melihatku. Tersenyum senang. “Benarkah? Secepat itu?”
“Kenapa? Kau suka melihatku disini?” sindirku.
“Jujur saja iya.” Hyura tersenyum. Nafasku tertahan, menunggunya melanjutkan. “Tapi aku lebih suka melihatmu di kamar Donghae daripada disini.”
Aku mengernyit. “Kenapa.”
“Itu tandanya kau sehat. Dasar bodoh.”
Memutar mata. “Bukan itu. Maksudku— Kenapa kau senang aku disini?”
“Karena kau kembali.” Ekpresinya melembut, aku menegang. Mata dan senyuman Hyura memberikanku ketulusan yang nyata. Make upnya yang tidak normal bahkan tidak terlalu mengganggu lagi.
“Banyak teman dan keluarga Donghae yang datang namun mereka tidak kembali. Meskipun aku tidak tau apa alasanmu—tapi setidaknya kau kembali.” Hyura tersenyum. Dan aku benci mengakui bahwa aku suka melihat seperti itu..
Brengsek!
“Aku tidak akan datang lagi! Tidak ada alasanku untuk menemuinya.”
Masih tersenyum dia bicara lagi. “Aku tidak tau bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Donghae. Aku juga tidak ingin tau—Itu masalah kalian, kurasa. Namun saat kau datang lagi untuk kedua kalinya membuat harapan baru untuknya dan juga—untukku.”
Aku mengernyit tidak mengerti. Harapan baru atau apapun itu, aku tidak peduli dengan harapan si brengsek Lee Donghae. Tapi aku ingin mendengarnya lebih jauh bahwa kehadiranku juga berpengaruh pada gadis aneh ini.
“Maksudmu?”
Hyura menatapku cukup lama sebelum menjawabku, dia membasahi bibirnya yang dipoles lipstik warna pucat lalu membuka mulutnya, “Well, aku tidak pandai dalam hal berkomunikasi dan selama ini aku merasa seperti berbicara sendiri. Meskipun seharusnya Membacakan buku tidak terlalu sulit tapi komunikasi satu arah sangat sulit buatku. Terkadang aku bertanya pada diri sendiri sampai sejauh mana aku bisa bertahan tanpa kehilangan kewarasanku.” Dia tersenyum kecut. “Maaf aku terdengar putus asa, aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh. Aku sudah mencoba segala cara agar tetap datang dan menemaninya sepanjang hari, namun ada saatnya aku berharap ada seseorang yang akan datang secara berkala, meyakinkanku bahwa aku tidak gila atau sesuatu yang kulakukan nyata dan tidak sia-sia.” Dia meringis pada kalimat terakhir, seolah dia juga tidak yakin apa yang dia katakan.
Sesuatu yang aneh bergelenyar di dadaku. Aku tidak tau apa alasannya, namun yang kuyakini, aku menyukai bagaimana dia bisa berbicara hal seperti ini padaku. Untuk pertama kalinya dia berbicara sepanjang ini.
Sambil menguliti pinggiran cat kukunya, dia menatapku dari balik bulu mata. “Kau pasti menganggapku aneh dan bodoh.”
Aku tidak bisa tidak tersenyum. “Aku tidak akan bohong.” Kataku. “Kau lebih daripada aneh dan bodoh.”
Entah harus bagaimana kedengarannya tapi dia justru tertawa. Tawanya begitu renyah seperti biskuit vanila saat thanksgiving, membuatku ingin memakannya. Tanpa sadar tatapanku jatuh pada bibirnya yang dipolesi lipstik aneh. Penasaran bagaimana rasanya. apakah seaneh penampilannya atau serenyah tawanya atau bahkan semanis biskuit.
“Teruslah tertawa seperti itu.” Kataku tanda sadar.
Seketika dia terdiam, melihatku tidak nyaman lalu membuang muka.
“ Apa? Ada yang salah?”
“Tidak ada” katanya kelewat cepat. “Sebaiknya aku kembali” Dan tiba-tiba Hyura berbalik berjalan ke pintu. Sebelum kusadari apa yang salah dia sudah menghilang.
Apa-apaan sih?
***
Aku ingat dimana beberapa kali membolos sekolah lalu pergi ke pusat permainan arcade. Selain bisa bermain disana aku bisa memaki sesuka hatiku tanpa ada yang menegur, karena memang begitulah disana. Dengan begitu aku bisa mengeluarkan semua yang ingin kukatakan, menumpahkan kata-kata kotor yang ada di kepalaku— tapi aku tidak lagi melakukannya. Seiring bertambahnya usia aku lebih menyukai minuman ketimbang harus menghabiskan energi memaki permainan arcade ataupun konsol.
Lalu semalam aku melakukannya lagi, aku tidak memiliki minuman atau semacamnya. aku hanya memiliki permainan ponsel online bodoh yang bisa kumaki hingga suster tua menyebalkan itu menegurku agar tidak mengganggu pasien lain. Dan satu menit kemudian aku menyadari betapa menggelikannya diriku bersikap tidak rasional hanya karena expresi Hyura saat meninggalkan kamarku.
“Dasar Tolol!” Makiku.
“Anda bisa dilaporkan polisi jika terus bersikap seperti itu” Suster Tua—menyebalkan— yang aku tidak perlu kutahu namanya kembali ke kamarku mengambil nampan sarapan. Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Sejak bertemu Park Hyura kemarin selera makanku menghilang.
“Dan jika benar hal itu terjadi bisa menghambat kepulangan anda hari ini.”
Aku mendengus tidak percaya “Kenapa? kau mau melaporkanku ke polisi?”
Dia tersenyum geli sambil menggeleng. “Sebentar lagi dokter akan datang untuk melakukan pemeriksaan terakhir, setelah itu kau bisa mengurus administrasi dan pulang.” Katanya lalu keluar dari kamarku. Aku ingin protes namun detik berikutnya pintu kamarku kembali berayun namun bukan suster tua barusan, melainkan gadis yang sudah membuatku jengkel setengah mati kemarin.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku kasar.
“Kudengar kau pulang hari ini. Bagaimana keadaanmu?” Dia melirik tanganku. “Infusmu juga sudah dilepas. Bagus sekali.”
Penampilan Hyura lebih baik hari ini, setidaknya dia tidak menghitamkan warna kulitnya. Kali ini warna rambutnya perak keunguan dengan makeup mata dan bibir serba ungu.
“Orang akan berpikir kau keracunan makanan atau semacamnya” Sindirku tanpa menjawabnya.
Dia mengendikkan bahu tidak peduli seperti biasa. Dengan santai Hyura merangsek masuk lalu membuka lemari dan mengeluarkan apapun yang ada disana.
Menegakkan tubuhku seketika. “Apa yang kau lakukan?”
“Membantumu berkemas, tentu saja.”
“Aku tidak memintamu dan aku juga tidak ingin kau melakukannya. Kembalilah ke kamar Donghae!” dia tidak mendengarkan. Tentu saja. Meskipun perkataanku begitu kasar namun aku tidak melakukan apapun untuk mencegahnya sampai dia membuka laci yang lebih kecil dan memegang pakaian dalamku. “YA!” melompat dari ranjang dan hampir menerjangnya. Matanya yang dilapisi lensa barwarna ungu membelalak menatap ku—terkejut.
Merebut pakaian dalamku lalu membentaknya “Apa yang kau lakukan!”
“Ma..maaf.” katanya masih terkejut.
“Aku tau kau orang aneh, tapi setidaknya kau harus punya malu. Apa menurutmu memegang pakaian dalam seorang pria itu normal? Hah?” kataku dengan tidak berperasaan.
“Aku hanya membantumu membereskannya, Aku…..”
“Keluar!” Potongku keras.
Hyura tidak bergerak dia masih melihatku terkejut.
“Apa kau Tuli? Keluar!”
Dia mengerjap cepat seolah memaksanya tersadar lalu dia mendesah dalam “Maaf.” Gumamnya, lalu berbalik dan keluar.
Aku melempar Switch ke ujung ruangan begitu sendirian.
Brengsek.
***
Lima menit kemudian aku menemukan diriku berjalan keluar rumah sakit seperti orang kesetanan. Aku begitu kesal dan marah pada sesuatu yang aku sendiri tidak tau. Anggap saja aku seperti anak remaja nakal penuh energy yang butuh pelampiasan.
Aku mencari bar terdekat. Tidak peduli hari masih siang tapi aku butuh minuman. Yang paling keras yang bisa kutemukan.
Melewati dua blok aku menemukan bar yang baru saja buka. Seorang gadis menyapaku dipintu masuk dan menunjukkan letak bar.
“Berikan yang paling keras.” Kataku pada bartender. Pria berambut hitam jambrik mendongak dari gelas yang sedang dia bersihkan.
Si jabrik menyipitkan matanya melihat pakaianku. Sial, tadi aku sangat kesal hingga tidak memperhatikan penampilanku .
“Maaf, kami tidak melayani pasien rumah sakit, dan kami tidak ingin bertanggung jawab pada siapapun.”
“Ini hanya seragam, dan aku bukan pasien rumah sakit.”
Dia mengangkat bahu. “Apapun itu kami tidak mengambil resiko.”
“Kalau begitu berikan bajumu, setelah itu aku tidak lagi menjadi pasien.”
Dia melihatku seolah aku sudah gila. Kukira juga begitu.
“Pergilah, kau bisa membeli minuman di toserba.” Katanya dan melanjutkan mengelap gelas. Sayangnya aku sedang tidak ingin mendengar kata ‘tidak’ jadi aku menarik kerahnya kasar hingga wajah kami saling berhadapan. Dia tersentak dan gelas yang dia pegang sudah tidak berbentuk dilantai.
“Ayolah! ini hanya baju. Kau bisa memberikanku minuman sialan itu padaku. Dan Percayalah kau tidak ingin membuatku marah karena saat ini aku ingin sekali memukul seseorang.”
Si jabrik menyeringai. “Dengan senang hati aku akan melayaninya.” Belum sempat aku berkedip dia sudah melayangkan pukulannya ke rahangku. Tidak membuatku terjatuh namun cukup membuat kejutan. Well, sejujurnya aku menantikan hal ini.
Mengusap darah di sudut mulutku sebelum menghindari pukulan kedua darinya.
Meludah kelantai yang sudah berwarna merah sambil tertawa mencemooh. “Badanmu besar tapi kau lambat dan tidak bertenaga. Pukulanmu bahkan tidak sebanding dengan gigitan nyamuk.”
“Keparat!” geramnya.
“Apa yang kalian lakukan!” gadis yang dipintu masuk tadi berteriak. tapi seolah tuli kami tidak menghiraukannya.
Tangan si jabrik melayang lagi, tapi seperti yang kubilang—dia lambat. Dengan mudah aku menghindar. Lalu membalas pukulannya sekuat tenaga, menendangnya hingga dia menubruk meja kosong dan terguling. Sebelum si jabrik sadar Aku mengangkat kerahnya lalu memukulnya lagi. Dia terjatuh dan hampir tidak sadarkan diri. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memukulnya sampai dia tidak bisa mengenali namanya sendiri.
Aku mengangkatnya lagi namun tiba-tiba saja ada yang memegangi kedua lenganku dan menarikku mundur.
“Lepas! Berengsek!” aku meronta. Lalu yang kutau si jabrik bangun dan memukuli perutku bertubi-tubi. Hingga rasanya tulangku lepas dari tempatnya. Lalu mereka melemparku ke jalanan.
Wajahku menempel di aspal saat mereka berteriak “Jangan pernah datang lagi!”
Menggulingkan tubuhku menghadap langit, silaunya matahari menyengat mata. Dan aku tertawa. Orang-orang yang lewat menyingkir dari jalan dan melihatku dengan berbagai ekspresi. Ternyata berkelahi lumayan membantu. Setidaknya perasaanku tidak separah tadi.
Setelah merasa lebih baik aku kembali ke rumah sakit. Si perawat tua hampir histeris melihat penampilanku. Bajuku penuh darah, begitu juga dengan wajahku. Dia dan dokter jaga membantuku membersihkan luka dan memberikan kompresan. Pelipisku menerima lima jahitan dan mereka memaksaku melakukan ct scan untuk memastikan aku tidak mengalami luka dalam.
“Tuan Cho, kau bisa melaporkannya. Ini termasuk kejahatan.” Si dokter jaga yang berpenampilan seperti boyband membawakanku kursi roda. Aku tidak menanggapinya dan melepas baju anti radiasi lalu menggantinya dengan baju pasien.
“Aku tidak akan memakai benda itu.” Tunjukku pada kursi roda. “Aku bisa jalan sendiri.” Setelah itu kembali ke kamar dan meminta obat penenang. Aku merasa hari ini sangat melelahkan. Aku butuh istirahat.
Kabar baiknya aku tetap bisa pulang hari ini. Hasil pemeriksaan memastikan aku hanya menderita luka luar, meskipun mereka memberikan pilihan untuk tinggal satu hari lagi disini, tapi aku memilih pulang.
Hari sudah menjelang gelap saat aku mengurus keperluan administrasi rumah sakit. Mengisi beberapa form di konter saat perawat-perawat dibalik meja tersenyum malu-malu.
“Tuan Cho,” salah satu dari mereka berbicara dengan suara imut yang dibuat-buat. “Bukankah sebaiknya anda tinggal lebih lama lagi? Mengingat luka-luka anda.”
“Sejujurnya aku juga merasa seperti itu. berada disini setidaknya aku bisa bertemu kalian. Tapi…” Aku tersenyum menyeringai. “Aku lebih senang bertemu di luar rumah sakit.” Mengedipkan sebelah mataku saat mereka cekikikan kegirangan—seperti wanita-wanita pada umumnya. Menyodorkan form yang sudah kuiisi dan menatap intense perawat yang berdiri paling dekat denganku. “Aku sudah mencantum nomor ponselku juga.” bisikku penuh arti lalu berbalik. Masih mendengar suara-suara mereka, aku berjalan kembali kekamarku dengan senyum kepuasaan.
TBC