The Crown [Part 4]

 

Happy Reading and Sorry for typho

@miss_hoon

***

“Kau ingat bagaimana menggunakan jam pemberianku kan?”

“Kau sudah menanyakan hal itu lebih dari tujuh ratus ribu kali Cho Kyuhyun ssi.” Kataku bosan. Kyuhyun setuju menghubungi Donghae. Demi mendapatkan kepercayaanku, Kyuhyun membiarkanku mengorek informasi dari Donghae. Itu yang kukatakan padanya. Jujur saja sebenarnya aku tidak mempercayainya, tidak siapapun, jadi aku akan melakukannya dengan caraku.

“Beri tahu aku kalau kau sudah tiba.” Katanya lagi.

“Kau juga sudah mengatakan hal itu.”

Kyuhyun mengeluarkan nafas kasar. Membenturkan keningnya pelan di kemudi dua kali baru mendongak. Menegakkan tubuhnya. Beralih padaku dan melihatku serius. “Cari tahu apa yang perlu kau ketahui. Donghae berhati lemah, terlebih lagi padamu. Mungkin dia akan mengatakan apapun yang dia ketahui. Setelah itu kau harus menghubungiku. Kau mengerti?”

Aku menatap Kyuhyun tidak suka. “Aku tidak akan memanfaatkan Donghae seperti yang kalian semua lakukan padaku. lagipula Donghae bukan tipe seperti itu.”

“Tipe seperti itu?” Salah satu alisnya terangkat.

“Berhati lemah.”

“Kau tidak mengenalnya dengan baik. Kau harus tahu tuan putri, pangeranmu adalah seorang pengamat, orang yang tahu segalanya, dia tahu apa yang terjadi pada keluarganya, pada keluargamu, tapi sayangnya dia memiliki hati yang lemah, Donghae tidak tahu kapan dan dimana harus menggunakan otaknya.” Kata Kyuhyun setengah jengkel. “Sebagai buktinya dia menyerah dan jatuh cinta. Cih, dasar idiot.”

“Apa kau ingin mengajakku bertengkar?” kataku tak kalah jengkel. Perasaanku campur aduk karena sebentar lagi akan bertemu Donghae. Fakta apapun yang Kyuhyun ceritakan padaku, aku tetap mengharapkannya, aku merindukan Donghae meskipun rasa percayaku tidak lagi seperti dulu.

“Aku hanya memberitahumu seperti apa orang yang akan kau hadapi.”

“Donghae tunanganku. Jangan membuatku terlihat seperti orang tolol yang tidak mengenal tunangannya sendiri.”

“Kau memang tidak mengenalnya, Nona Park. Dia…”

“Hentikan, Cho Kyuhyun.” Aku memperingatkan. “Jika kau mengucapkan sepatah kata lagi aku akan pergi.”

Kyuhyun memberengut. “Baiklah.” Dia melirik jam. “Ayo. Seharusnya dia sudah sampai sejak tadi.”

Kyuhyun membuka pintu mobil, aku mengikutinya. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku begitu aku berdiri di sebelahnya. Meskipun sentuhan ringan tapi tetap saja membuatku menggeliat tidak nyaman. Namun aku tidak menolak. Ini salah satu hal yang membuatku menunjukkan bahwa kami dalam satu tim.

Kami berjalan melewati kerumunan orang di Bandara International Dublin yang super sibuk ini. Dari kejauhan aku bisa melihat Donghae berdiri gelisah di tengah-tengah pintu utama yang diapit empat escalator. Dia belum melihat kami. Di saat yang bersamaan aku merasakan tubuh Kyuhyun menegang, dia semakin menarikku menempel pada tubuhnya.

Aku mendongak, melihat ekspresi Kyuhyun. Anehnya wajah pria itu sangat datar, padahal aku bisa merasakan ketegangan luar biasa yang menguar dari tubuhnya.

Donghae menoleh, melihatku dan Kyuhyun mendekat.

Ekspersi tegang Donghae menghilang sepenuhnya saat mata kami bertemu. Dia berlari. Maksudku benar-benar berlari meskipun jarak kami hanya beberapa langkah. Dia langsung menubruk tubuhku, memelukku erat hingga rasanya hampir menyakitkan. Otomatis pegangan Kyuhyun di pinggangku terlepas dan dia bergeser menjauh.

“Kukira aku kehilanganmu.” Bisik Donghae parau. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu terlalu lama.” Donghae menjauhkan tubuhnya, memindai tubuhku dari atas sampai ke bawah, memastikan tidak ada yang kurang dariku—lalu memelukku lagi.

Aku melirik Kyuhyun dari bahu Donghae. Wajahnya tetap datar tapi tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.

“Jangan meninggalkanku lagi.” Sahutku sepelan mungkin memastikan hanya dia yang bisa mendengarku di airport yang super bising ini.

Donghae menggumamkan maaf sekali lagi sebelum melepas pelukan kami. Dia berbalik menghadap Kyuhyun, memposisikan dirinya diantara aku dan Kyuhyun.

“Kita bicara nanti.” Kata Donghae pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Terserah.”

“Ayo.” Donghae mengambil tanganku, menggenggamnya, lalu membawaku naik escalator. Aku menoleh sekilas ke arah Kyuhyun yang terus mengawasi kami hingga kami tidak bisa lagi saling melihat.

Donghae tidak mengatakan apapun hingga kami tiba di petugas imigrasi. Dia menyerahkan tiket dan passporku. Aku harus mengeceknya dua kali memastikan bahwa itu memang benar-benar milikku. Bukan milik Yong ae Eoni atau orang lain di rumah itu.

“Aku mengambil pasporrmu dari brangkas ibuku.” Kata Donghae. Menjawab kebingunganku.

Aku mengangguk dan mengamati tiket.

“London?” tanyaku.

Donghae mengangguk murung. “Itu kesepakatannya. Aku tidak boleh membawamu kemana-mana.”

“Kesepakatan?” tanyaku sarkatis. “siapa dengan siapa?”

“Aku dan Kyuhyun.”

Aku mendengus, “kalian membuat kesepakatan tentang diriku seenaknya tanpa sepengetahuanku. Sekarang terlihat jelas seberapa tidak berharganya pendapatku.”

“Hyura-ya, dengar…” kata-kata Donghae terputus saat giliranku maju ke gate. Aku meninggalkannya di belakang tanpa repot-repot menoleh padanya. Petugas memeriksaku cepat lalu menyetempelnya. Donghae menyusul di belakang. Dia berjalan cepat hingga kami sejejar. Aku sama sekali tidak menghentikan langkahku menuju ruang tunggu penumpang.

“Hyura-ya…”

“Aku tidak ingin membicarakannya.” Tegasku. Donghae tidak membuatnya lebih sulit. Dia diam seperti yang kuinginkan. Namun tangannya tidak pernah melepasku. Yang mana aku sangat bersyukur.

***

            Penerbangan Dublin – London cukup singkat. Sampai tiga jam kemudian aku kembali ke sangkar emas. Donghae tidak langsung membawaku ke kamar melainkan menarikku ke kamarnya. Aku tidak membantah, toh cepat atau lambat kami memang harus membicarakannya. Dan aku bukan tipe orang yang suka menghindar dan membuat masalah berlarut-larut.

Donghae menutup pintu di belakangnya. Sementara mataku menjelajahi isi kamar. Ada yang berubah dari kamar ini. Tidak ada lagi pajangan-pajangan mainan di rak, gitar ataupun permainan elektronik yang berantakan di karpet. Kamar ini terlalu rapi dan…sepi. Seolah tidak pernah ada yang menghuninya selama bertahun-tahun.

Aku ingat terakhir kali berada di sini saat Donghae memintaku pergi bersamanya, lalu dia menyatakan cintanya padaku, membuatku percaya padanya dan hampir membuatku ingin menyerahkan sekeping jiwaku. Waktu itu aku tidak meragukan Donghae. Tidak sedikitpun. Aku bisa melihat cinta dan ketulusan di matanya. Tapi kenyataan bahwa dia hanya memanfaatkanku pada awalnya juga bukan sesuatu yang mudah kuterima.

“Hyura,” kata Donghae dari belakang. Aku berdiri di tepi pintu geser sementara dia masih berdiri di dekat pintu masuk. Aku menunggu Donghae untuk melanjutkan tapi dia tidak mengatakan apapun. Sampai aku harus berbalik memastikan dia tidak pingsan atau pergi.

Namun Donghae masih berdiri di tempatnya sambil menatapku sendu.       Aku maupun Donghae tidak ada yang membuka mulut. Kami hanya saling menatap.

Aku mendesah panjang. “Jika tidak ada yang ingin kau katakan sebaiknya aku kembali ke kamarku. Aku lelah.”

“Tanyakan sesuatu padaku.” Katanya cepat. Dia mendekat, lalu berhenti tepat di depanku.

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak tahu apa yang harus kutanyakan. Terlalu banyak…dan aku terlalu bingung.”

Donghae mengangguk lalu menunduk sesaat sebelum menatapku lagi. Aku baru sadar wajahnya terlihat teramat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya sangat kontras dengan kulit Donghae, bibir tipisnya juga terlihat pecah-pecah. Memberengutkan hidungku tidak suka melihat pemandangan itu.

“Aku tahu.” Gumamnya penuh penyesalan. “Aku sangat menyesal membiarkan Kyuhyun membawamu pergi. Aku tidak…aku tidak mengira dia senekat itu.”

“Dia bilang kau mengkhianatinya.”

Donghae mendesah dalam. “Aku tidak tahu apa saja yang sudah dia ceritakan padamu tapi kau tidak bisa begitu saja mempercayainya.”

“Bagaimana denganmu?” kataku sinis, “apa aku bisa mempercayaimu?”

“Aku mencintaimu Hyura-ya, aku bersumpah aku mencintaimu. Kau…”

“Aku tidak bertanya apa kau mencintaiku atau tidak!” potongku. “Aku hanya ingin tahu apa aku bisa mempercayaimu.”

Donghae memegang kedua lenganku, menatapku dalam.

“Hyura-ya. Baby, dengarkan aku.” Kata Donghae lembut. “Aku tahu setelah bersama Kyuhyun kau akan meragukanku, apapun yang kulakukan atau kukatakan kau akan terus berpikir bahwa mungkin saja aku berbohong. Keraguan tidak akan meninggalkanmu setelah apapun itu yang Kyuhyun katakan. Aku tidak menyuruhmu untuk tidak mempercayainya, tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa kau boleh mempercayainya. Dia punya tujuan, aku punya tujuan. Dan kita semua di sini. Tapi bagiku kaulah yang terpenting. Kau tujuanku Hyura-ya. Maafkan aku karena aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi bagiku itu tidak penting lagi. Karena bagiku hanya kau dan cukup dirimu saja.”

Disaat biasanya mungkin aku akan menangis karena terharu. Tapi seperti kata Donghae. Akan selalu ada keraguan dalam diriku; Apakah dia berkata jujur, Apakah dia hanya memanfaatkanku, Apa dia hanya mempermainkanku. Hanya pikiran-pikiran seperti itu yang terlintas.

Tangannya menyentuh pipiku lembut. “Kau bisa menanyakan apapun padaku.”

Donghae sama sekali tidak tersinggung aku tidak menanggapi ungkapan perasaannya. Dia hanya melihatku seolah dia mengerti. Hanya itu. Dia mengerti.

“Kau menginginkan kekuasaan?” tanyaku tidak yakin. Pikiranku bergulat sendiri hingga aku tidak tahu apa yang harus kutanyakan. Hal pertama yang kuingat adalah kekuasaan yang membuat hidupku serumit ini.

“Bukan kekuasaan, tapi hakku sebagai garis keturunan resmi.”

Aku mengernyit tidak mengerti.

Donghae mendesah. Dia menjatuhkan tangannya dari wajahku. “Aku tahu Kyuhyun tidak akan mengatakan semuanya padamu. Karena memang masalahnya tidak sesederhana itu.”

“Jelaskan.”

Donghae mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambutnya tanpa berpikir. Dia membawaku duduk di ranjang. Donghae memiringkan duduknya menghadapku dan menaikan satu kakinya, lalu melipatnya.

“Apa saja yang Kyuhyun katakan padamu?”

“Banyak hal, keluargaku, hubunganmu dengannya dan…kau.”

Donghae mengangguk lalu bertanya padaku. “Apa kau percaya padanya?”

Aku menggeleng.

“Apa kau percaya padaku?”

Aku menggeleng lagi.

Donghae terlihat kecewa. Tapi sedetik kemudian dia mengangguk seolah mengerti. Ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Hanya mengerti.

Donghae menatapku meyakinkan sebelum bicara. “Kyuhyun membenci Hyukjae. Tidak, mungkin dia membenci kami semua. Mungkin juga dirimu. Entahlah.” Donghae mengangkat bahu tidak yakin. “Aku tidak tahu alasannya kenapa Kyuhyun begitu membenci Hyukjae. Dia benar-benar membencinya, Hyura-ya. Kebenciannya mengerikan. Dia ingin menghancurkan saudaraku perlahan-lahan dan menyakitkan.”

“Kenapa? Dia tidak terlihat seperti itu.” aku ingat saat di club dulu, mereka bisa bergaul dengan baik. Bagiku tidak masuk akal.

“Aku tidak tahu, maksudku belum.” Kata Donghae. “Aku sedang mencari tahu kenapa dan bagaimana bisa dia menjadi seperti itu. Yang jelas bukan alasan sederhana.”

“Lalu apa bedanya denganmu,” tuduhku. “Kau juga ingin menghancurkan saudaramu dengan merebut posisinya.”

“Aku tidak membenci saudaraku.” Bantahnya. “Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku. Kami half brother. Aku dan Hyukjae.”

“Apa? Half brother?” ulangku

Donghae menganguk lemah. “Kami hanya saudara tiri. Dia anak selingkuhan ibuku. Rasanya…” Donghae menggeleng lemah sambil menelan ludahnya kasar. Seolah membicarakan hal ini bukanlah hal mudah. “Well, rasanya tidak benar memberikan warisan ayahku pada orang yang salah. Hyukjae bukanlah anak kandungnya.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi ini sangat mengejutkan. Aku tidak menyalahkan pemikiran Donghae. Jika kau di cekoki masalah kehormatan sejak kecil maka itu tidak terlepas dari garis keturunan.

“Menurut Kyuhyun mengambil posisinya adalah langkah pertama untuk menghancurkan Hyukjae, karena itu dia membantuku.”

“Kalian… kau dan Kyuhyun… manusia yang mengerikan.” Kataku susah payah. Donghae tidak membantahnya, dia hanya terntunduk menerima semua tuduhanku. “Bagaimana mungkin kalian melakukan hal itu pada keluarga sendiri!” mengusap wajahku tidak percaya. Ya Tuhan, ini lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.  “Pertunangan itu,” kataku. “Pertunangan Hyukjae dan Catarina…” aku tidak melanjutkan saat melihat respon Donghae. Dia mengangguk. Aku menggeleng tidak percaya.

Tidak mungkin

“Kyuhyun bertugas mencari wanita dengan latar keluarga yang cukup hebat dan memasukkan nama keluarga mereka di jaringan E.A.K hingga membuat ibuku tertarik. Sementara tugasku menjadi tunanganmu.”

Meskipun Donghae mengatakannya dengan nada penuh penyesalan tapi itu sama sekali tidak mengurangi kemarahanku. Bisa-bisanya mereka memperalatku seperti itu.

“Lalu kau memanfaatkanku untuk menyempurnakan posisimu?” kataku bergetar menahan air mata, “Karena aku satu-satunya pewaris ayahku?”

“Itu tidak penting.” Gumamnya serak, seolah dia juga hendak menangis. Donghae menggeser duduknya semakin dekat padaku. Mengambil dua tanganku lalu menciumnya bergantian. Memandangku dengan penuh penyesalan. “Maafkan aku Hyura-ya, maafkan aku.” Donghae meminta maaf sambil terus mengecup punggung tanganku. “Aku tahu aku manusia buruk, aku tahu seharusnya aku tidak pantas mendapatkanmu. Tapi…Hyura-ya…” Donghae menatapku dengan bola mata bergetar dan matanya memerah. Dia menelan gumpalan yang ada ditenggorokannya susah payah sebelum sanggup berbicara lagi. “Aku mencintaimu. Maafkan aku, kumohon, akan kulakukan apapun agar kau memaafkanku.”

“Haruskah aku mengatakan bahwa aku beruntung karena kau mencintaiku?” tanyaku sinis. Tidak terpengaruh sama sekali dengan permintaan maaf dan pernyataan cintanya.

“Apa?”

“Lihat bagaimana nasibku jika kau memiliki perasaan berbeda, setelah memanfaatkanku mungkin kalian hanya akan membuangku seperti sampah.”

“Hyura! Kau tahu aku bukan orang seperti itu, aku tidak akan melakukan hal itu padamu.” Donghae terlihat tersinggung.

“Aku tidak tahu, Donghae-ya. Sejujurnya, Aku tidak mengenalmu.”

Donghae mendesah dalam. “Sepertinya Kyuhyun benar-benar berhasil membuatmu tidak mempercayaiku.”

Aku tidak menyangkalnya jadi aku melanjutkan.

“Ayahku.” Kataku. “Apa benar Ayahku di bunuh?”

Donghae tersentak. Pegangannya di tanganku terlepas. Hanya dari reaksinya aku tahu jawabannya. Dan aku juga tahu dia tidak akan berbohong. Untuk yang satu ini aku benci mengakui bahwa tebakan Kyuhyun benar. Donghae bukan hanya mencintaiku tapi dia tergila-gila padaku. Aku bisa melihat dari pancaran matanya saat menatapku. Seolah dia bisa menerjang apapun untukku.

“Jadi benar Ayahku di bunuh.” Itu bukan lagi sebuah pertanyaan.

“Hyura-ya…” Donghae memanggil namaku seperti doa. Jika dalam keadaan biasa mungkin dadaku sudah terpilin karena saking senangnya. Tapi perasaan itu seolah memudar begitu saja, meskipun aku tahu Donghae bukanlah tipe pria yang mudah ditolak.

Baby…aku menyesal.” Katanya. “Aku tidak tahu apakah harus memberitahumu masalah ini atau tidak. tapi saat di makam Ayahmu aku tahu aku tidak seharusnya memberitahumu. Aku ingin kau tetap memiliki hati yang tulus, aku tidak ingin meracunimu dengan dendam.”

“Kau sudah melakukannya.” Kataku berbisik.

Donghae mengeleng cepat. “Tidak Hyura-ya. Tidak… kau tidak…”

“Si…siapa? Siapa yang melakukannya?” tanyaku bergetar, menahan semua sumpah serapah yang sudah berada diujung tenggorokanku.

Donghae masih menggeleng. “Keadaan tidak akan berubah meskipun kau tahu.”

“Siapa pelakunya, Berengsek!” bentakku. Donghae terkesiap. Ini pertama kalinya aku berbicara kasar di depannya atau bahkan membentaknya.

“Siapa!”

Donghae menatapku sedih sekaligus kecewa. Seolah aku bukan lagi seperti gadis yang dia pikirkan. Memang bukan. Aku bukanlah Bunda Theresa yang memiliki hati murni, baik hati yang bisa memaafkan siapapun. Tidak. Tentu saja tidak.       “Hyura-ya, ini bukan sesuatu yang perlu kau ketahui ataupun kau rubah” Kata Donghae penuh pengertian.

“Siapa! Lee. Donghae!”

Donghae berharap aku tidak pernah bertanya, berharap aku tidak pernah tahu dan berharap tidak pernah mengatakannya. Tapi itu hanya harapannya karena aku benar-benar ingin tahu bajingan yang sudah mencelakai Ayahku.

Donghae menelan ludah dan mengerjap. Lalu berbicara dengan penuh penyesalan. “Sungmin Hyung.”

Entah kenapa aku sudah bisa menebaknya. Dia tidak pernah menyukaiku. Dia tidak pernah menyukai ayahku. Dia tidak pernah menyukai siapapun dari keluargaku. Tapi tidak kusangka dia setega itu membunuh Ayahku. Orang yang membantunya, mendukung serta mengajarinya sementara Tuan Lee terbaring sakit.

Meskipun begitu sakit hati dan amarahku tetap tidak bisa kucegah. Buktinya aku merasakan air mataku menetes. Donghae memejamkan matanya erat. Menyembunyikan rasa sakit yang juga terpancar dari matanya. Tangan Donghae meraih kepala belakangku dan menempelkan kening kami. Aku tidak bisa mengatakan apapun dan hanya menangis.

“Maafkan aku, Hyura-ya. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku.” Donghae berbisik masih dengan mata terpejam. Dia mendongak, mencium keningku dalam lalu memelukku. Aku menangis tanpa suara di dadanya.

“Ke…kenapa…kenapa dia melakukannya?” suaraku terdengar tidak jelas di sela-sela isak tangisku.

“Ssstttt…” Donghae mengelus punggungku naik turun. Dia mengecup puncak kepalaku lalu menempelkan pipinya di sana.

“Sejak kapan kau tahu?” tanyaku lagi.

Donghae tidak menjawabku lagi. Entah harus bersyukur atau tidak tapi aku senang tidak mendengar lebih banyak. Aku tidak yakin bisa menghadapi semuanya sekaligus.

Mendorong Donghae menjauh, mengusap air mataku dan hidungku. “Ka…kau…” kataku masih setengah terisak. “kau dan Kyuhyun…”

“Tidak ada aku dan Kyuhyun.” Tegas Donghae. “Hanya ada aku. Aku tidak sudi dikaitkan dengannya setelah apa yang dia lakukan padamu.”

“Dia tidak akan membawaku pergi jika kau tidak meninggalkanku.”

Donghae meraihku lagi, “Oh Hyura, kau tidak bisa membayangkan betapa menyesalnya aku karena meninggalkanmu.” Dia memelukku erat dan aku membalasnya.

 

***

“Liburan?”

Cassey mengangguk cepat. Mataku menyipit menyelidiki ekspresi Cassey,  tapi dia terlihat benar-benar tidak tahu.

“Berikan suratnya padaku.” perintahku.

Cassey buru-buru bangkit dari ranjang tempat kami duduk, dia beralih ke laci meja rias dan mengeluarkan selembar kertas lalu memberikannya padaku.

 

Pergi dengan Donghae,

Kau tidak perlu mencemaskanku.

Aku menyayangimu.

 

Park Hyura.

 

Mengernyit membaca pesan yang siapapun tulis untukku. “ini bukan tulisanku.”

“Aku tidak tahu,” kata Cassey. “Kau tidak pernah menulis, Nona.”

Meliriknya seklias dan membaca lagi pesan aneh ini. mungkinkah Kyuhyun? atau Donghae? Aku juga tidak tahu bagaimana tulisan mereka. Tidak heran jika Cassey tidak mencariku jika dia membaca pesan ini.

“Nona, kau menakutiku. Sebenarnya kau pergi kemana?” tanya Cassey.

Aku tidak tahu Cassey berpura-pura atau tidak. Nyatanya semua orang dihadapanku sangat pandai bermain peran, dan jika mereka ingin bermain maka aku pun tidak akan sungkan.

Memaksa menarik kedua sudut bibirku. “Aku memang berlibur.” Kataku setenang mungkin.

“Benarkah?”

Dia terlihat ragu. Aku mengaguk dan tersenyum.

Cassey masih terlihat tidak percaya tapi akhirnya dia mendesah. “Tentu saja, kau tidak bisa pergi kemanapun tanpa tuan Donghae. Dan dia juga membawamu pulang tepat waktu.”

“Tepat waktu?” tanyaku.

“Ya, tepat waktu. Kau pulang, begitu juga dengan Tuan Lee Hyukjae. Dia baru saja pulang dari Hongkong, menghadiri pesta ulang tahun tunangannya.”

“Aneh. Eomonim tidak akan membiarkannya pergi sejauh itu sementara tidak ada pemimpin di perusahaan.”

Cassey mengendikkan bahunya. “Nyonya besar sedang tidak ada. Dia pergi mengunjungi Nona Young ae sehari sebelum kau pergi.”

Aku menggeleng tidak percaya, mungkinkah ini kebetulan? Rasanya jelas bukan. Bagaimana mungkin Kyuhyun membawaku pergi sementara Eomonim sedang tidak ada. Jelas sekali dia sudah merencanakannya.

“Lagipula katanya pesta ulang tahun itu termasuk perayaan tahunan mewah yang selalu dilakukan keluarga Lau.” Cassey melanjutkan. “Dan sepertinya kau membutuhkan gaun baru.”

“Gaun baru? Untuk?”

“Akhir pekan ini Tuan Hyukjae ingin mengadakan pesta ulang tahun kedua khusus untuk Nona Catarina.”

Mengangkat bahu, “Aku tidak yakin ingin datang.”

“Tuan Donghae pasti datang, dia tidak mungkin melewatkan pesta saudaranya. Kau tidak ingin mendampinginya?”

Dalam situasi seperti ini aku yakin Donghae juga tidak akan memaksaku untuk datang ke pesta. Pemilihan waktunya sangat tidak pas. “Aku tidak tahu.” Sahutku. “Cassey, bisakah kau keluar? aku ingin istirahat.”

Cassey mengangguk lalu pergi.

***

 

Pagi harinya aku menemukan Donghae di depan pintu kamarku sambil membawa troli makanan.

“Aku tau kau masih marah padaku tapi…” dia menggigit bibirnya ragu sejenak. “Apa aku boleh sarapan bersamamu?” Dia menatapku penuh harap.

Meskipun aku masih marah padanya tapi melihat wajah Donghae pagi ini membuatku tidak ingin berkata tidak. Well, kemarahan tidak lantas menghilangkan perasaanmu pada seseorang. Jadi aku mengangguk, mempersilahkannya masuk.

Hari ini wajahnya lebih segar ketimbang kemarin. Dia sudah rapi, mengenakan kemeja berwarna biru gelap dipadu dengan celan linen hitam. Setelah meletakkan makanan yang dia bawa di meja makan kecil, dia memajukan wajahnya untuk mencium keningku tapi aku menahan dadanya. Dia terlihat kecewa sesaat namun sedetik kemudian dia tersenyum seolah mengerti.

“Aku belum mandi.” Kataku menjawab kekecewaannya. Donghae mengetuk pintuku tepat saat aku baru membuka mata. Bukan hanya mandi, aku bahkan belum menggosok gigiku.

Dia terlihat lega dan tersenyum geli, lalu tiba-tiba Donghae mendaratkan bibirnya cepat di keningku. Aku mengerang. Tidak berhenti di sana, dia justru melanjutkannya dengan mengecup kecil-kecil seluruh wajahku.

“Ya! Lee Donghae!” protesku sambil tertawa, melupakan kemarahanku untuk sesaat.

Donghae mendaratkan kecupan singkatnya di bibirku sebelum menjauhkan wajahnya. “Selamat pagi juga.” Sahutnya bangga, seolah protesku barusan adalah ucapan selamat pagi untuknya.

“Sarapan?” tawarnya.

Aku mencebik namun tetap mengangguk.

Donghae menarik kursi untukku. Aku mendudukinya. Namun dia tidak langsung duduk di hadapanku melainkan membuka lemari dan mencari sesuatu disana.

“Apa yang kau cari?”

Dia tidak menjawabku dan mengambil selendang putih yang cukup lebar. Aku melihat tingkahnya dengan kening berkerut. Tapi kemudian aku sadar Donghae adalah pria terhormat yang sesungguhnya. Dia meletakkan selendang di sekeliling bahuku dan melilitkannya menutupi dadaku. Lebih tepatnya menutupi puncak payudaraku yang mencuat.

Pipiku terasa panas tapi Donghae tidak mengatakan apapun sampai dia duduk didepanku.

“Emily belum selesai menyiapkan sarapan, jadi aku hanya membawa roti.” Katanya sambil membuka tutup nampan. Disana ada beberapa lembar roti yang sudah dipanggang, telur, dan kentang tumbuk. Bukan selera Donghae sama sekali

Aku melirik jam dan baru sadar lampu di kamarku masih sepenuhnya menyala, langit di luar juga masih gelap.

“Apa kita harus sarapan sepagi ini?”

Donghae tersenyum minta maaf. “Aku harus ke kantor cabang di Prancis, jadi aku harus pergi pagi-pagi sekali. Tapi aku ingin melihatmu sebelum pergi, jadi aku sedikit memaksa untuk sarapan bersama.”

Aku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum mendengar alasannya. Tidak ada yang berubah dengannya. Dia tetap Donghaeku.

“Aku tidak keberatan sama sekali.”

Dia tersenyum lalu mulai malahap sarapan kami. Donghae tidak makan terlalu banyak. Mungkin karena dia lebih suka makan nasi ketimbang roti. Justru aku yang hampir manghabiskan separuh makanan kami.

“Berapa lama kau pergi?” tanyaku,

“Aku hanya perlu menandatangani sesuatu dan setelah itu aku bisa mengurus kepindahanku ke kantor pusat.”

“Kau akan pindah ke London?” tanyaku terlalu bersemangat hingga membuat bibirnya bergetar menahan senyum.

“Sudah kubilang aku tidak akan lagi meninggalkanmu terlalu lama. Dan itu hal yang mustahil jika aku masih bekerja di kantor cabang.”

“Kau akan tinggal disini terus? Dan tidak akan kembali ke Prancis?” tanyaku lagi. Aku tidak ingin mengharapkan sesuatu yang pada akhirnya menghancurkanku. Membayangkan betapa menyenangkannya bisa lebih sering bertemu dengan Donghae membuatku ketakutan. Aku tau Donghae mencintaiku, bahkan orang buta pun pasti bisa merasakannya. Tapi aku tidak ingin memiliki perasaan yang tidak bisa kukendalikan, sementara aku tidak tau apakah ada kemungkinan Donghae akan melukaiku di masa depan. Karena pada dasarnya, saat kau siap mencintai seseorang maka kau juga harus siap terluka.

Wajah Donghae berubah sendu. “Hyura-ya, percayalah, meninggalkanmu bukanlah sesuatu yang mudah untukku.”

Aku mengangguk. “Aku tau.”

“Maafkan aku.” gumamnya rendah. “Aku tau maafku tidak berguna, tetapi aku tetap meminta maaf.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Maafkan Aku belum bisa membawamu pulang dalam waktu dekat.”

Aku memaksa tersenyum. Bukan berarti aku tidak mengharapkannya. Dimanapun aku berada aku ingin bersamanya. Aku tidak ingin melepaskan seseorang seperti dia hanya karena aku ingin pulang.

“Kesempatan itu akan datang lagi.” kataku.

“Pasti.” sahutnya mantap dan mengecup keningku.  Kemudian dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan meletakkannya di tanganku.

“Ponsel?”

Dia mengangguk. “Smartphone, kau harus balajar menggunakannya.” Donghae memajukan duduknya, lalu menyentuh layar di ponsel. “Ini tombol nomor satu langsung tersambung ke ponselku. Jika terjadi sesuatu kau harus langsung menghubungiku. Tidak, bukan hanya terjadi sesuatu, bahkan jika kau memikirkanku kau harus menelponku.” Tangannya terangkat mengusap lembut kepalaku. “Kau mengerti?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Membayangkan bisa kapan saja berbicara dengan Donghae membuat sesuatu membuncah di dadaku. Aku tidak akan lagi merana selama berhari-hari karena tidak mendengar kabar darinya.

“Lihatlah, kau juga bisa melakukan banyak hal dengan smartphone ini, kau bisa membaca buku.” Dia menggeser-geser layar ponsel dan menunjukkan beberapa icon di sana. “Di sini kau bisa menonton berita, film ataupun music” aku mengangguk, mendengarkan dengan seksama.

Donghae mengarahkan ponsel ke wajahku hingga terdengar seperti bunyi jepretan kamera. Dahiku berkerut sementara dia tersenyum lebar memandangi apapun itu yang ada di layar ponsel.

“Aku harus mengirimnya ke ponselku.” Katanya lebih kepada diri sendiri.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku penasaran.

Aku mendengar bunyi dentingan dan dia mengeluarkan ponsel lain dari sakunya. “Lihatlah,” dia menunjukkan foto wajahku yang lusuh melalui ponselnya.

“Donghae-yaaa…” Aku mengeluh. Dia terkekeh. Aku buru-buru merapikan rambutku yang acak-acakan dengan tangan. Tapi dia menghentikan gerakan tanganku dan menggenggamnya. Sementara tangannya yang lain membelai pipiku lembut.

“Apa kau tidak bisa melihat kau sangat mempesona?”

“Mempesona apanya?” Aku menggerutu, “aku bahkan belum menyisir rambutku.”

Baby, bagiku kau tetap cantik.” Dia mengecup pelipisku sekilas. “Aku akan menyimpan Ini.” Dia memasukkan ponsel ke sakunya. “Bisa kugunakan saat ingin melihatmu.”

“Kau bisa menyimpan sesuatu yang lebih bagus.”

“Ini yang terbaik untukku.” Donghae melirik jam, lalu mendesah pelan. “Aku harus pergi.” Dia bangkit dari kursi. Aku mengikutinya.

“Aku akan mengantarmu.”

Dia berhenti sebelum kami sampai dipintu. “Tidak, kau tetap disini.” Dia melirik pakaianku. “Kau tidak akan kemana-mana dengan baju setipis itu.”

Aku melihat penampilanku sendiri lalu mengangguk menurut.

Dia tersenyum lalu memelukku erat. “Ya ampun, belum-belum aku sudah merindukanmu.”

Aku membalas pelukannya. “Kalau begitu cepat pergi dan cepat kembali.”

Dia mengecup puncak kepalaku sebelum menjauhkan tubuhnya. “Aku tidak lama, ini hanya akan menjadi perjalanan satu hari. Besok pagi aku sudah ada di kamarmu lagi dan memaksamu untuk sarapan sebelum waktunya.”

Aku terkekeh “Aku akan menantikannya Tuan Lee.”

Dia mengecup lagi untuk kesekian kalinya sebelum membuka pintu. “Aku pergi.” Katanya lalu menghilang di balik pintu.

 

***

Dia tidak kembali tepat waktu seperti yang dia janjikan.

Entah kenapa aku tidak terkejut tapi kenyataannya aku kesal setengah mati. Padahal baru dua hari lalu dia bilang menyesal karena meninggalkanku. Walaupun pesan yang dia kirimkan sebenarnya cukup jelas. Donghae memiliki urusan yang membuatnya harus tinggal di Prancis lebih lama. Dia juga mengatakan akan kembali secepatnya. Meskipun aku tidak tau kapan tepatnya yang dia maksud dengan ‘cepat’.

“Bagaimana dengan yang ini?” Casey menunjukkan salah satu gaun baru yang dikirimkan hari ini. Tanpa perlu repot-repot melihatnya, aku melambaikan tangan.

“Kau saja yang pilih.” Kataku malas.

Casey mendesah berat sambil menggerutu pelan. Dia mengambil satu gaun sederhana berwarna salem dan tidak bertanya lagi. Sepanjang pagi rumah ini begitu sibuk dengan persiapan pesta ulang tahun Catarina. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak dan memerintah di lantai bawah.

“Jam berapa acaranya?” tanyaku. Casey mendudukanku di meja rias, dia sedang berkutat dengan riasan rambutku. Setelah memakai gaun pilihannya dia memaksaku duduk disini.

“Seperti biasa.”

“Eomonim sudah pulang?”

“Belum, katanya beliau akan datang saat acara dimulai.”

“Aku tidak ingin datang.” Kataku. Tidak ada Donghae, apa yang harus kulakukan disana. Casey juga tidak bisa ikut serta karena posisinya sebagai pelayan.

“Kau tidak ingin pernah datang ke pesta keluarga Lee, Nona.” Sahutnya bosan. “Seperti sebelum-sebelumnya, kau hanya perlu menunjukkan wajahmu, membiarkan mereka menggunjingkanmu setelah itu kau bisa kembali ke kamar.”

Aku cemberut, lalu meliriknya melalui cermin. “Kenapa tiba-tiba Eomonim ke tempat Young Ae?”

“Nona Young Ae melahirkan, jadi Nyonya besar pergi tanpa rencana, aku dengar semua jadwalnya bulan ini juga jadi berantakan.”

“Benarkah? Perempuan atau laki-laki?”

Casey mengendikkan bahunya.”Tidak, ada yang tahu.”

“Aneh sekali. Cucu pertama keluarga Lee tapi disini justru merayakan ulang tahun orang lain.”

“Itu aku juga tidak tau, Nona.”

Selesai dengan rambutku dia beralih ke wajahku. Casey tidak memberikan banyak sentuhan hanya pemulas bibir dan perona pipi. Menurutnya bagi orang yang tidak berniat datang ke pesta maka dia tidak perlu menonjol di dalamnya.

Casey menambahkan aksesoris di leherku sebelum menyuruhku berdiri. Dia memasangkan sepatu sebagai sentuhan terakhir. Bersamaan dengan itu terdengar ketukan pintu. Kami berdua menoleh.

“Siapa?” tanyaku.

Casey mengendikkan bahu, lalu berjalan ke pintu—membukanya. Kyuhyun berdiri disana lengkap dengan tuxedo hitamnya.

“Cho Kyuhyun?”

Dia tersenyum penuh percaya diri saat memberikan ruang di antara tangan dan pinggangnya, mengisyaratkan agar aku mengamit lengannya. “Selamat malam, Nona Park. Aku percaya malam ini sepenuhnya aku akan melayanimu.”

Alisku terangkat satu. Bagiku saat ini Kyuhyun bukanlah musuh namun bukan sekutu pula. Kami berdua berada di wilayah abu-abu. Dia masih harus mendapatkan kepercayaanku untuk membantunya. Yang entah kenapa aku mulai meragukannya. Bagiku dia sama berbahayanya dengan yang lain.

Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin menunjukkan bahwa kami satu tim. Jadi aku tersenyum setulus yang kubisa.

“Dengan senang hati.”

Aku mengamit lengan Kyuhyun dan kami berjalalan beriringan di koridor. Music lembut mulai merambat saat kami sampai di puncak tangga. Kyuhyun menyentuh tanganku di lengannya.

“Tersenyumlah.” Katanya. “Tunjukan bahwa kau juga memiliki kedudukan di keluarga ini.” Aku mendongak melihatnya. Tatapan Kyuhyun keras—lurus ke depan. Dia melanjutkan, “jangan pernah berdiri lagi di ujung ruangan dan membiarkan mereka menggunjingkanmu, meremehkanmu atau bahkan menghinamu. Tunjukkan kau juga memiliki kekuatan dan bukan anak pengkhianat.”

Keningku berkerut dalam—antara takjub dan bingung. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu. Sementara semua orang tau kisahku dan bagaimana posisiku di keluarga ini.

Dia menoleh ke arahku, tatapannya masih sekeras sebelumnya. “Jika kau ingin mengambil mahkotamu tunjukan kau cukup tangguh untuk itu, Park Hyura ssi!”

Itu jelas bukan sebuah nasihat. Tapi sebuah keharusan. Perintah. Dan ku akui dia benar. Aku harus cukup berkompeten jika ingin memulai permainan ini.

Kyuhyun menggiringku perlahan menuruni tangga langsung menuju Hall utama. Pestanya belum dimulai. Tamu juga belum banyak. Dia membawaku ke tengah Hall, persis di bawah lampu Kristal. Dia melepas kaitan tanganku lalu berjalan mundur menjauh, membiarkanku berdiri kebingungan di tengah ruangan.

Aku menatapnya bingung. “Apa yang kau lakukan?” bisikku tertahan.

Dia berhenti setelah tiga langkah, bibirnnya menyeringai. Melihatku dengan binar kepuasan yang sama sekali tidak aku mengerti.

“Bagaimana rasanya?” tanyanya. “Berdiri disana, Menjadi pusat perhatian?”

Tidak nyaman! Dan ini bukan tempatku! Sebenarnya hal tolol apa sih yang ingin dia coba?

Aku memandangnya protes tapi dia tidak menanggapiku dan malah tersenyum menyebalkan. Orang-orang mulai berbisik-bisik bahkan ada yang melihatku aneh dan tertawa.

“Tetap di sana, Hyura-ya.” Katanya setengah memerintah, setengah memohon saat aku hendak melangkah.

“Kau ingin mempermalukanku?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya ingin kau tau bahwa percaya diri adalah perhiasan yang paling menawan untuk seorang wanita. Dan kau harus memakainya.

Aku ingin membalasnya tapi suara nyaring yang memanggil namaku membuatku berhenti dan menoleh. Catarina tersenyum lebar ketika berjalan kearah kami. Kyuhyun sudah ada disisiku saat Catarina menghambur memelukku.

“Senang bisa bertemu denganmu lagi.” Katanya saat melepas pelukan kami yang singkat. “Sayang sekali kau tidak datang ke Hongkong.”

Aku tersenyum minta maaf. “Selamat Ulang tahun, maaf aku terlambat mengucapkannya. Dan aku tidak sempat menyiapkan apapun karena jujur saja aku baru tahu kemarin.”

Catarina mengibaskan tangannya tidak peduli. “Eiy, aku sudah memiliki semua yang aku inginkan dari orang tuaku.” Dia melirik ke sisiku. “Dan kau…Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun tersenyum tipis sambil mengangguk, “Happy Birthday, Catarina.”

Seolah tergerak otomatis, dia menarikku mendekat hingga tubuh kami menempel saat Hyuk Jae muncul dari balik punggung Catarina. Hyukjae menatapku dan Kyuhyun bergantian. Dahinya berkerut “Apa yang kalian lakukan disini?” Matanya menjelajah kebelakangku. “Dan mana Lee Donghae?”

“Dia sibuk.” Sahut Kyuhyun acuh, dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik keras “Ayo cari minuman untukmu, kita kembali setelah acaranya dimulai.”

Kami masih mendengar gerutuan Lee Hyukjae dan celotehan Catarina ketika berjalan menjauh. Kyuhyun mengarahkanku ke meja panjang di sisi ruangan yang tersusun gelas-gelas champagne.

Dia mengambil satu gelas untukku dan satu untukknya. Aku menatap cairan bening itu cukup lama sebelum menyesapnya sedikit. Aku mengernyit begiti champagne lolos masuk ke tenggorkanku.

“Enak?”

“Tidak terlalu.” Aku mengakui.

Kyuhyun terkekeh. “Kau harus terbiasa minum alcohol.”

Aku menatapnya tidak setuju.

“Jika hal kecil itu saja kau tidak bisa bagaimana kau ingin berperang, Park Hyura ssi?”

Aku memberengut. “Tidak ada hubungannya dengan mabuk-mabukkan.”

“Aku tidak menyuruhmu mabuk-mabukan. Setidaknya kau harus punya punya toleransi dengan alcohol.” Dia menunjuk gelasku yang masih penuh. “Habiskan, setelah itu kau kuanggap sudah menyelasaikan pelajaran pertamamu.”

“Pelajaran?”

Yeah, semacam persiapan, kau tau. Sebelum memulai sesuatu yang besar kau perlu persiapan yang matang. Salah satunya…” Dia membentangkan tangannya ke arahku. “Menyiapkan pelajaran untuk sang Ratu.”

“Istilah yang kau gunakan sangat tidak biasa.”

“Itu tidak penting. Sekarang habiskan.”

Aku menarik nafas panjang sebelum menenggak sisa minumanku. Rasanya benar-benar aneh, aku yakin ekspresiku sangat jelek hingga membuat Kyuhyun tertawa geli.

Aku melotot ke arahnya saat ada pelayan mengambil gelasku yang sudah kosong. Dia menutupi mulutnya dengan tangan terkepal, menyamarkan suara tawanya dengan batuk yang didramatisir

“Awalnya yang bagus.” Katanya masih dengan bibir bergetar menahan senyum.

Aku memutar mata, lebih memilih tidak peduli dengan komentarnya. Ada hal lain yang menggangguku yang belum kutanyakan. “Apa Donghae tau kau sudah kembali dan…” aku menunjuknya dan diriku sendiri. “Menemaniku?”

Kyuhyun terlihat tidak senang dengan pertanyaanku tapi dia tetap menjawabnya. “Yang dia tau aku tidak mungkin melewatkan acara ini, yang dia tidak tau bahwa aku sekarang bersama tunangannya.”

Sudah kuduga.

“Apa ada perjanjian lain antara kau dan Donghae?” kataku lebih pelan, memastikan hanya dia yang mendengarnya.

“Tidak ada.” Sahutnya enggan tanpa melihatku. Aku tidak bisa menebak dia benar-benar bicara jujur atau berbong. Aku tidak tau seperti apa dan bagaimana sifatnya. Meskipun kami sudah saling kenal dalam waktu lama tapi kami baru benar-benar berbicara hanya dalam hitungan hari.

“Aku tidak bisa membantumu jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku.”

“Aku akan mengatakan semuanya saat kau sudah menentukan pilihanmu. Nona Park.” Katanya dengan senyum penuh kepalsuan.

Aku memutar mata. “Aku punya syarat.”

“Kedengarannya menarik. Apa syaratmu?”

“Jangan pernah menyentuh Donghae. Kau tidak boleh menjatuhkannya. Aku tidak akan mengkhianati tunanganku sendiri.” Kataku serius tapi dia malah tertawa geli bahkan terkesan mengejek.

“Menjatuhkannya? Apa kau bercanda? Dia tidak menginginkan apapun selain dirimu. Lagipula aku tidak membutuhkan Donghae, aku juga tidak peduli lagi dengannya. Menjatuhkannya hanya menyusahkanku.”

“Apa kau sudah selesai menjelek-jelekkan sepupumu?”

“Ups…” dia mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “My bad.” Katanya dengan nada sama sekali tidak menyesal.

Sedetik kemudian perhatian kami teralih saat pelayan mendorong kue ulang tahun berbentuk gaun pengantin yang tingginya hampir sama denganku. Para tamu bertepuk tangan, dan aku baru menyadari hall hampir penuh dengan undangan. Keluarga Lau juga sudah berkumpul. Tapi aku tidak melihat Eomonim.

Undangan yang datang sebagian besar adalah teman Hyukjae, kerabat atau rekan bisnis dari Keluarga Lee. Tentu saja tidak ada yang kukenal dari mereka. Lalu pandanganku berhenti saat melihat Kyuhyun menatap sesuatu yang membuat siapapun merinding.

Seandainya dia adalah Clark Kent mungkin dia sudah menghancurkan bumi dengan laser merah dari matanya. Aku mengikuti arah pandnag Kyuhyun pada segorombol pria berjas yang berkumpul di dekat Hyukjae. Mereka seperti para eksekutive muda, kaya, sombong dan…brengsek. Aku sering melihat mereka di setiap pesta yang diadakan di keluarga ini. Mereka selalu hadir meskipun biasanya tidak seramai ini. Setidaknya ada dua sampai tiga orang yang selalu kulihat tapi untuk hari ini mereka ada enam orang.

“Kau kenal mereka?” tanyaku.

“Ya.” Sahutnya dari balik gigi yang terkatup.

“Kau tidak menyukai mereka?

Dia mendengus. “Hanya orang tolol yang menyukai mereka.”

“Siapa orang-orang itu?”

“Teman Hyukjae, satu perkumpulan persaudaraan di kampus. Dua orang diantaranya pegawai E.A.K. Bukan orang yang menyenangkan untuk kau ajak bicara.”

“Kenapa Hyukjae berteman dengan mereka?”

Kyuhyun mengendikkan bahu.

“Jangan bertanya lagi!” Potongnya cepat saat aku baru membuka mulutku. “Kau mau berdansa?”

“Aku tidak akan berdansa denganmu.”

“Kenapa?” tanyanya penasaran, tidak ada nada tersinggung dalam ucapannya.

“Apa kau lupa aku bertunangan dengan sepupumu? Sangat tidak masuk akal jika kau memberikan dansa pertamaku untukmu.”

Kyuhyun memutar mata. “Apa kau pernah memberikan dansa pertamamu untuk Lee Sungmin? Tidak pernah kan?” dia menjawab pertanyaannya sendiri, aku cemberut. “Tidak akan ada yang memperhatikan kau berdansa dengan siapa. Ayolah.” Dia mengulurkan tangannya.

Aku menatap tangan tersebut cukup lama sebelum akhirnya aku menyambutnya.

***

Aku pernah menari menggeliat dibawah lampu klub bersama Donghae, berkeringat karena terlalu bersemangat bergerak mengikuti music yang berdentum keras. Tapi rasanya tidak pernah seperti ini. Tanganku terkait dilehernya sementara tangan Kyuhyun memelukku erat hingga rasanya dada kami saling beradu. Aku bahkan tidak bisa membedakan detak jantung milikku atau miliknya.

Beberapakali aku menggeliat tidak nyaman saat tangan Kyuhyun bergerak dipunggungku. Perutku menegang tidak karuan hingga aku menginjak kakinya berkali-kali.

“Ma…maaf.” Gumamku saat aku menginjaknya untuk yang kesekian kalinya.

“Kau harus membayar biaya rumah sakit jika jari kakiku harus diamputasi.“ Katanya mendramatisir.

“Aku tidak tau kekuatan jarimu selemah itu.” Balasku mengejek.

Dia mengangkat salah satu bibirnya. “Apa kau penasaran?”

Aku tidak mengerti maksudnya sampai kurasakan tangan Kyuhyun mendorongku menjauh. Tubuhku berputar cepat hingga dia menarikku lagi kembali sampai dada kami saling membentur.

Aku melotot protes.

“Bagaimana?” tanyanya masih dengan senyum menyebalkan.

“Kau ingin membuatku kena serangan jantung?” Gerakannya begitu cepat sampai rasanya aku seperti terbang. Dan entah kenapa aku tau aku tidak akan jatuh, mungkin karena Kyuhyun memegangiku dengan erat.

Catarina dan Hyukjae berdansa melewati kami. Mereka bercanda tertawa cekikian. Hyukjae melihatku lalu dengan sengaja mendekat.

“Kyu. Kau harus mengajarinya bagaimana menyenangkan seorang pria,” katanya sambil tersenyum mengejek. “Setidaknya Donghae tidak akan terlalu sengsara nantinya.”

Kyuhyun memutar mata, lebih memilih tidak menanggapinya. Dengan bijaksana dia membawaku bergerak menjauhi mereka. Meskipun sebenarnya aku tidak tersinggung sama sekali. Bagiku hal biasa Hyukjae mengatakan hal seperti itu padaku.

Langkahku berhenti saat music berubah menjadi lebih cepat. Aku melepas kaitan tanganku di leher Kyuhyun.

“Kau lelah?”

Aku mengangguk.

“Mau minum?”

Aku menggeleng. Rasanya sudah cukup aku menampakkan wajahku disini. Aku ingin kembali ketempat persembunyianku. Aku mohon undur diri pada Kyuhyun, tapi dia memaksa ingin mengantarku sampai depan pintu kamar.

“Kau tidak menghubungiku.” Katanya saat kami berjalan di lorong.

Aku mengangkat bahu. “Tidak ada yang harus kukatakan padamu.”

Tiba-tiba saja langkanya berhenti. Dia menatapku serius. “Baiklah kalau begitu mulai sekarang aku yang akan menghubungimu.”  Kyuhyun mengambil pergelangan tanganku. Mengamatinya sebentar. “Jangan pernah melepas jam itu meskipun kau sedang tidur. Kau mengerti?”

Aku tidak mengerti, lagipula aku tidak harus menuruti apa yang dia katakan padaku. Aku ingin mendebatnya tapi percuma, karena berdasarkan pengalamanku saat dia membawaku ke Irlandia. Pria ini bisa jadi tukang paksa yang menjengkelkan. Dan dia tidak akan berhenti jika aku tidak melakukan apa yang dia minta. Jadi aku mengangguk.

Baru setelah itu kami melanjutkan sampai tiba di depan kamarku.

“Sampai ketemu lagi.” Katanya sebagai kata perpisahan sebelum menutup pintu.

***

“Dia bilang suaminya sedang sakit, jadi dia membatalkan kelas hari ini.” Casey menjelaskan kenapa guru pianoku tidak datang. Aku tidak terlalu memperhatikannya, aku juga tidak peduli dengan kelas-kelasku.

Aku sedang tidak bersemangat melakukan apapun, kepalaku terkulai lemas di meja makan. Perhatianku terpusat pada benda mungil pemberian Donghae. Aku menatapnya hampir memohon seperti seorang anak yang minta dibelikan mainan oleh orang tuanya. Ponsel itu tidak pernah berbunyi lagi sejak malam kepergian Donghae. Dia tidak menelponku atau mengirimiku pesan.

Casey mendesah. Dia menarik kursi di depanku sebelum mendudukinya. “Nona, Kau bisa menghubunginya terlebih dahulu kalau kau merindukannya.”

“Aku takut mengganggunya. Dia pasti sibuk.” Ujarku pelan.

“Nona, Kau bisa mengiriminya pesan. Dia akan membalasanya saat sedang tidak sibuk.”

Aku sudah melakukannya ratusan kali. Mengetik beberapa kata lalu menghapusnya lagi. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan padanya; Apakah aku harus menyapanya dulu, menanyakan kabarnya, apa yang sedang dia lakukan. Aku juga terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu.

“Kau bisa kembali ketempatmu.” Kataku. “Kau tidak perlu mati kebosanan disini menemaniku.”

“Baiklah kalau begitu. Jika membutuhkan sesuatu Nona bisa memanggilku kapan saja.” Dengan itu dia berdiri dan membuka pintu, namun anehnya aku tidak mendengar pintu tertutup jadi aku mendongak. Tidak ada Casey, dia sudah pergi. Dan sosoknya terganti oleh Kyuhyun.

Alisku bertaut. Aku tidak berpikir kami akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Tapi sekarang dia disini. Diambang pintu kamarku. Otomatis tanganku meraih ponsel dan menymbunyikannya di sela pahaku.

“Apa yang kau lakukan disitu?” tanyaku.

“Menunggumu menyuruhku masuk.”

Aku mengangguk. “Masuklah.”

Dia menutup pintu di belakangnya dan langsung menepati kursi yang diduduki Casey barusan. Dia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu mengeluarkan sebundel koran.

“Kau harus berhenti melakukannya.” Kataku.

“Huh? Melakukan apa?”

“Tiba-tiba muncul di kamarku. Jika Eomonim tau dia akan bertanya-tanya. Pelayan juga akan menggosipkan kita.”

Kyuhyun melihatku tidak setuju, “Aku orang paling aman di rumah ini dibandingkan keluarga Lee sendiri, aku orang yang paling sering keluar masuk. Lagipula biarkan saja Imo tau. Dia tidak peduli padaku, jadi dia tidak akan mencurigai apa yang kulakukan dirumahnya.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi. Kita tidak punya waktu banyak, jadi aku harus mempersiapkanmu.” Katanya. “Kapan terakhir kau membaca koran?”

Aku menggeleng. “Aku tidak pernah baca koran.”

“Tidak mungkin.” Dia mendengus.

“Perpustakaan diatas tidak menyediakan koran, aku hanya membaca sastra lama.”

Kyuhyun mengusap dahinya. “Tidak heran kenapa kau begitu kampungan.”

“Ya!…”

“Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu.” Dia memberikan koran yang dia bawa untukku. “Ini! kau baca berita politik dan ekonomi.”

Aku meliriknya jengkel namun tetap melakukan apa yang dia minta. Tanggal dikoran menunjukkan tanggal hari ini dan kemarin. Aku memisahkan berita ekonomi lokal, dunia dan politik saat dia membuka suara lagi.

“Mulai besok aku akan menyuruh pelayanmu membawakan koran.”

Aku berhenti, menyipitkan mataku. “Apa kau punya hubungan khusus dengan Casey?”

Dia melihatku sepenuhnnya keheranan. “Kenapa aku harus punya hubungan dengan pelayanmu?”

“Itu juga yang membuatku penasaran.” Gumamku dan kembali pada koran.

Butuh waktu lebih lama bagiku untuk memahami berita di koran. Bahasanya terlalu berat, istilahnya terlalu banyak, aku juga tidak mengenal nama-nama yang disebutkan.

Dua jam kemudian aku menemukan mejaku penuh dengan kertas. Kyuhyun memaksaku memahami susunan oragnisasi di perusahaan. Dari yang kecil sampai yang besar. Dia memberikan contoh dari orang-orang yang kukenal. Misalnya dia memberitauku apa pekerjaanya, jabatannya dan tugas sehari-hari yang harus dia lakukan.

Ayah Kyuhyun mengelola salah satu anak perusahaan E.A.K yang bergerak di bidang kapal dan ekspor impor. Dia memberikan beberapa istilah asing yang harus kuhafalkan. Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Aku tidak lagi mengenyam pendidikan formal semenjak aku pindah ke sini. Yang mana berarti pengetahuanku sangat terbatas dan aku membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna perkataan Kyuhyun.

Saat menjelang siang Casey mengantarkan makan siang untuk kami. Aku memperhatikan gelagatnya tapi dia sama sekali tidak melirik ke arah Kyuhyun. Membuatku bertanya-tanya mengenai kecurigaanku pada mereka.

Aku menyerah saat hampir menjelang sore, kepalaku sakit dan aku hampir mengeluarkan isi perutku.

Kyuhyun mendorong dua buah buku. Hukum Ekonomi Dunia dan Dasar Bisnis Management. “Malam ini kau harus membacanya.”

Aku mengerang tidak berdaya.

Dia mendesah. “Aku hanya memintamu untuk membacanya, Hyura-ya. Setidaknya pengetahuanmu akan bertambah.”

Aku tetap mengerang meskipun dia benar.

Kyuhyun membereskan kertas di atas meja dan memasukkanya ke dalam tas. Dia bersiap pergi tapi berhenti saat melihat wajahku.

“Jangan memasang ekspresi seperti aku sedang memasukkan jarum ke tenggorokanmu. Cara mengucapkan terima kasih sangat tidak elegan.”

Aku mendengus. “Apa menurutmu aku perlu mempelajari hal-hal seperti ini?”

Dia menatapku cukup lama, seolah aku remaja tanggung yang suka mengeluh. Kyuhyun menatap langsung kedalam manik mataku. Seolah dia sedang mencari sesuatu di dalam sana.

“Hyura-ya.” Untuk pertama kalinya dadaku bergetar saat dia memanggil namaku. “Tidak akan ada yang menghiraukanmu saat kau tidak bisa melakukan apapun.” Katanya rendah. “Tidak peduli kau keturunan siapa tapi jika kau tidak istimewa kau tidak akan berguna. Orang tidak berguna biasanya akan menjadi orang terbuang. Karena itu kau harus membuat dirimu istimewa. Kau tidak boleh menjadi orang biasa.”

Mendengarnya aku kehilangan kata-kataku, lalu mengangguk kaku.

Kyuhyun tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku seolah aku hewan peliharannya.

Aku bangkit ikut mengantarnya ke pintu.

“Besok aku akan datang lagi.”

“Aku tidak yakin.” Sahutku. “Besok aku ada kelas melukis.”

Dia terenyum mengejek. “Bukan sesuatu yang harus kau cemaskan.”

Aku mengangkat bahu dan memutar kenop. Sedetik kemudian waktu seolah berjalan lambat saat sesuatu yang tidak kau inginkan datang.

Donghae melihatku dan Kyuhyun bergantian dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Tapi hanya orang tolol yang tidak bisa melihat api kemarahan menyala di mata coklatnya.

“Donghae-ya?”

***

Duh ga tau mesti bilang setelah sekian lama baru bisa apdet. hihihihi

setahun lebih blog ini ga saya urusin, dan ga kaget sih kalo pembacanya juga kabur. terus belakangan ini liat Donghae wara wiri  lagi di inet jadi semangat nulis balik lagi.

maafkeun author abal-abal ini.

See Yaa :* :* :*

 

Tulisan ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , , . Tandai permalink.

28 Balasan ke The Crown [Part 4]

  1. Camila O'Pry berkata:

    Huwaaa….!!! Akhirnya….!!! Wait, aku jingkrak-jingkrak dulu. Wkakakaka…XD

    • Camila O'Pry berkata:

      Setelah nunggu sekian lama akhirnya ff ini dilanjut juga. Alhamdulillah… Hahaha…

      Ini, keluarganya donghae kok misterius amat yak. Apalgi yg ibunya donghae tiba-tiba menghilang dari rumah plus gak hadir di acara penting hyukjae. Iya sih alibinya dia ke rumah young ae, tapi bener apa kata hyura sama casey. Kalo young ae beneran lahiran, kok semacam dirahasiain gtu, dan pesta hyukjae kayak sebuah pengalihan doang. Ampun dah. Keluarga Lee banyak skandal juga ternyata. Yg sungmin ternyata (entah iya apa gak) bunuh ayahnya hyura. Yg hyukjae ternyata anak haram ibu donghae sama orang lain, gimana gak misterius bin aneh coba.

      Yg lebih aneh lagi tuh hyura, antara kesian sama pen ngakak liat dia. Wajar kan kalo kyuhyun bilang gini: “Tidak heran kenapa kau begitu kampungan.” Wong ternyata dia ndeso banget. Smartphone aja gak tau cara gunainnya. Baca koran gak pernah. Ini dia sengaja dibikin buta teknologi & informasi mengenai dunia luar sama ibunya donghae ya? Hmm. Untung ada kyuhyun…XD #eh Jadi dia gak kampungan-kampungan amat. Hahaha…

      Haduh. Gak berasa baca dari atas ternyata udah bersambung(?) lagi. Dan itu artinya mesti nunggu lagi…:( Plisss banget, kalo bisa part 5 nanti jangan lama-lama kek kemarin. Greget aja nungguin 1 part nya sampe satu tahun lebih… Nyesek… ㅜ_ㅜ Donghae kan sekarang sering nongol author-nim. Apalagi kedepannya ada SuShow7 kan. Nah… dipastikan donghae bakalan sering seliweran di TL sosmed…XD So, semangat nulis kan kalo sering-sering liat donghae kek sekarang ini? Kkkkkkk~~~

      Oke lah, itu aja. Ditunggu kelanjutannya. Ganbate ne~~~~~~

  2. Monika sbr berkata:

    Akhirnya ada lanjutannya.
    Sebernarnya ada apa sih dgn keluarga donghae? Dan apa yang direncanakan donghae dan kyuhyun terhadap hyura?

  3. Monika sbr berkata:

    Akhirnya ada lanjutannya.
    Sebernarnya ada apa sih dgn keluarga donghae? Dan apa yang direncanakan donghae dan kyuhyun terhadap hyura?

  4. Monika sbr berkata:

    Akhirnya ada lanjutannya.
    Sebernarnya ada apa sih dgn keluarga donghae? Dan apa yang direncanakan donghae dan kyuhyun terhadap hyura?

  5. Tati.hs berkata:

    Hwaaaaaaaa you are back! Serius kangen bgt sm tulisanmu

  6. Pengacara berkata:

    Girang saya akhirnya di lanjut juga, wah author.a kesambet apa ini tapi Thanks buat ff kecenya

  7. chomomille berkata:

    kayaknya sebelum baca ini musti ngulang lagi baca dari part awal…abisnya lupa lagi karena lama banget hiatusnya…seneng banget rasanya…miss hoon come back…

  8. Ikachiro berkata:

    finally!!! setelah rasanya satu abad berlalu

  9. Ikachiro berkata:

    semoga bisa aktiv kembali authornim

  10. inggarkichulsung berkata:

    Yippie ada kelanjutannya juga, bgg sebenarnya Kyu oppa dan donghae oppa msh pny mksd tertentu kah baik sama Hyunra, kayaknya donghae oppa dan Kyu oppa adl rival dan skrg donghae oppa marah krn Kyu oppa td ada di kamar Hyunra, ditunggu bgt kelanjutannya chingu

  11. MissJangChoii1 berkata:

    Akhirnya dilanjutkan. Nanti di komen lagi ya eonn, mau baca dulu.

  12. Tanti berkata:

    Whoaa..miss hoon i miss.u busyet 1 taon panjang nya pake banget ngilangin kangen nih mah

  13. JHan berkata:

    Aaaaaaaaaaaaaaaggghhh…..kau kembali…I miss you~
    Kangen banget tulisanmu…gak nyangka 1 tahun gue masih setia bukain blog ini..kali aja dirimu hadir lagi…dan penantianku gak sia sia..hahahhaha..(meski sempet mikir gak akan lanjut lagi..mungkin karna authornya dah bosen dan sibuk dengan kehidupannya)…wah..seneng..seneng…
    Gue masih menanti nanti tulisanmu~
    Gue masih mwnjadi readermu…ㅋㅋㅋ

  14. Choi Rinna berkata:

    Finally setelah sekian lama muncul jg >\\\< lupa2 inget dgn critanya tp tetep menarik dan bikin penasaran.. semoga next part cepet publish
    Semangat authornim

  15. Mochi berkata:

    Siapa juga yang kabur thor. Udah gak kehitung berapa kali saya kepoin ini blog. Malah sempet galau pas dulu blognya hak bisa dibuka. Jadi tetep semangat nulis ya!. Masih banyak juga kok pembaca setianya. Yang lain juga bukannya kabur. Siapa tau aja mereka ketinggalan info kalau cerita pavoritnya udah apdet.

  16. aryanahchoi berkata:

    eon i miss you apa kabar eon???

    ff mu penuh misteri eon susah nebaknya
    si donghae nih kadang bikin gue berpikiran negatif bisa aja dia di Perancis selingkuh
    kyuhyun kayaknya sedikit bisa di percayai
    di tunggu kelanjutan ceritanya eon fighting

  17. inet berkata:

    woahhh,akhrnya yg dtggu2 dtg juga stlh satu tahun lbh nggu..kgn beratttt…
    donghae sm kyu sbnrnya ada rahasia apa sh,,apa yg bkin kyu balik benci sm donghae pdhl td nh mrk slng kerja sama,,,penasaran bgt sbnrnya ada kebenaran apa dbalik itu smua,,
    dtggu next part nya yaaa..mdh2n gk lama2 lg kyk kmren n sllu dpt inspirasi…fighting !!!

  18. ariistyaana berkata:

    Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    Akhirnya

  19. faaterence berkata:

    Haiii kakak. Akhirnya ngelanjutin juga. Aku seneng banget pas ngecheck inbox email ternyata ada update.an fanfic ini. Udah hampir dua tahun kali ya wkwk aku juga sibuk kuliah jadi ngga kerasa nungguin kelanjutannya selama ini lol. Sampe lupa dulu komen pake username apa hihi. Semangat ya authornim buat ngelanjutin cerita ini. Ku kan selalu menunggumu

  20. Widya Choi berkata:

    Y ampun demi ap akhirny ini d publish jg. Q kira ini bakal gntung n g dlnjut sm skli scra gt nyampe lumutan nggu lnjutn ny. N skliny iseng cb ngecek k blog n taraaaaaaa ada lnjutnny lgsg jingkrak2 sking sng ny.
    Si kyu kok diam2 mnghnyutkn y hohoho.
    Si donghae ini prsis bgt kyk ikan. Ilang nimbul mulu krjaanny. Wajarlh klo skrg hyura sring brtnya2 ttg dy.
    Nah loh.. Mlah kpergok.
    Ahhh jd pnsrn lg. Dtgu lnjutn ny. Tp jgn lama2 y…

  21. Widya Choi berkata:

    Y ampun demi ap akhirny ini d publish jg. Q kira ini bakal gntung n g dlnjut sm skli scra gt nyampe lumutan nggu lnjutn ny. N skliny iseng cb ngecek k blog n taraaaaaaa ada lnjutnny lgsg jingkrak2 sking sng ny.
    Si kyu kok diam2 mnghnyutkn y hohoho.
    Si donghae ini prsis bgt kyk ikan. Ilang nimbul mulu krjaanny. Wajarlh klo skrg hyura sring brtnya2 ttg dy.
    Nah loh.. Mlah kpergok.
    Ahhh jd pnsrn lg. Dtgu lnjutn ny. Tp jgn lama2 y…

  22. Widya Choi berkata:

    Td q komen ko modernisasi y…
    Ahhh q kok lbih pngen liat kyu am hyura y ktimbang am donghae. Chemistry ny lbih ngena aj gt. Aplg pas mrk dansa itu hohoho.
    Si kyu udh kyk guru privat ny hyura aj y… 🙂
    Sbnrny msih bnyk yg pngen q tnyain.. Cz pnsrn bgt am smuany… Ahhhh pkokny slu dtgu lnjutn ny…

  23. Rei134 berkata:

    Akhirnya author balij lagi,aku awalnya pengen baca cerita lama di blog ini kok ya ada crown part 4 perasaan cuma sampe part 3 Dan ternyataa beneran update,duh aku ketinggalan banget ya tp gpp author aku tetep reader setia di blog ini aku tunggu part berikutnya jangan lama-lama ya

  24. Rei berkata:

    Demi apa author up date lagi yeayyy

  25. hyurapark27 berkata:

    finally! story yg aku tunggu2 keep fighting buat kelanjutannya, aduh paling nggak bisa lupa sm ff ini

  26. Camila O'Pry berkata:

    Part 5 please… ㅠ_ㅠ

  27. Nur berkata:

    Setelah sekiannnn lamaaaa. Akhirnya update juga. Dan semakin penasaran sama ceritanya. Semagat nulisnya.!! ^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *