The Crown [Part 2]

The Crown

Happy reading and sorry for typho ^^

@miss_hoon

Warning :

If you looking for Cho Kyuhyun, Sorry babe, He’s not here :p

***

Apa-apaan dia?

Aku melihat tangannya yang mencengkram lenganku, lalu beralih melihat wajahnya. Ekspresi Kyuhyun sangat datar. Dahiku berkerut.

“Turunlah langsung ke lantai basement,” Kata Kyuhyun, lebih berbicara pada Donghae. “Jangan pernah memberikan kuncimu pada petugas valley gedung ini.” dia melepas tanganku lalu pergi begitu saja tanpa melihat kami. Aku beralih pada Donghae, dia terlihat berpikir.

“Kyuhyun benar.” Gumamnya, menarikku lagi ke dalam lift.

Donghae menekan tombol lain di panel dan lift bergerak.

Aku bertanya. “Apa maksudnya?—perkataan Kyuhyun tadi?”

Donghae menarik sudut mulutnya kaku tanpa menjawabku, bersamaan dengan pintu lift terbuka.

“Ayo.” Ajaknya.

Mengikuti Donghae ke mobil, dia membukakan dan menahan pintu untukku.

“Sekarang,” Kata Donghae begitu dia disebelahku. “Aku milikmu sepenuhnya, tuan putri. Aku akan membawamu ke tempat manapun yang kau inginkan.” Mau tidak mau bibirku tertarik kebelakang. Melupakan sepenuhnya kejadian di lift tadi.

 “Aku ingin menemui ayahku.”

Donghae melihatku cepat, menatapku penuh arti, namun sedetik kemudian dia tersenyum mengangguk. Menyalakan mesin mobil, mengeluarkan kami dari basement.

Sepanjang perjalanan sangat hening, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Aku ingin bertanya mengenai Kyuhyun tapi pemilihan waktunya kurang tepat. Aku tidak ingin ketidaknyamanan melingkupi kami.

Satu jam kemudian Pintu gerbang Highgate cemetery sudah terlihat dari jalanan. Donghae menepikan mobilnya. Dia beralih padaku.

“Kau ingin sendirian atau aku bisa ikut denganmu?”

“Kau bisa ikut denganku.”

Dia mengangguk sebelum melepas sabuk pengaman dan membuka pintu.

Aku mengikutinya.

Angin musim gugur langsung menerpa wajahku dan hawa pemakaman begitu pekat di tempatku berdiri. Tanpa sadar aku memeluk tubuhku. Dulu Casey begitu terkejut saat dia mengetahui Ayahku di makamkan di sini. Dia bilang highgate terkenal dengan cerita hantunya. Setelah mendengarnya justru aku berharap bahwa cerita itu benar. Aku ingin melihat ayahku meskipun berwujud hantu.

“Hyura-ya,” Donghae berdiri menunggu di depanku, tangannya terulur, aku menyambutnya dan tersenyum.

“Ayo.”

Donghae membiarkanku memimpin jalan, mungkin dia tidak tahu dimana letak makam ayahku. Kami melewati tangga beton yang penuh daun berwarna coklat, di kanan kiri ada bangunan rumah-rumah kecil yang dibuat untuk makam keluarga, diatas bangunan tersebut terukir nama keluarga pemiliknya. Dan di gerbang setiap bangunan terdapat ukiran patung malaikat kecil.

Tidak ada suara lain selain suara langkah kami dan angin yang berhembus, membuat suasana semakin aneh. Namun hal itu tidak mengusikku, sama sekali.

Kami melewati bangunan yang berbentuk gerbang batu setinggi tiga meter dan sepanjang jalan setapak terdapat pohon tinggi rindang yang saling beradu membentuk atap dia atas kami. Beberapa pohon sudah mulai menggundul karena musim gugur. Kami berbelok ke arah yang lebih terbuka, langsung terlihat jajaran makam yang tidak terurus, termasuk makam ayahku. Nisannya yang sudah lapuk hampir tidak terlihat karena ditumbuhi rumput liar, badan makam juga tertutup daun yang membusuk. Aku hampir menangis saat melihatnya.

Melepas kaitan tangan, aku mencabuti rumput-rumput liar yang tingginya hampir satu meter. Sudah lewat tiga tahun dari terakhir kali aku datang kesini. Itu juga dengan sembunyi-sembunyi. Saat itu Eomonim sedang ke Washington mengunjungi Yong-ae Eonni, lalu aku meminta Casey untuk menjual berlian pemberian ibuku dan uangnya kugunakan untuk menyogok sopir dan penjaga gerbang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan makam ibuku dan saudaraku di Korea. Siapa yang mengurusnya? Apakah lebih parah dari makam ayahku? Pemikirkan itu meninggalkan rasa pahit di mulutku.

Mencengkram rumput dan mencabutnya paksa, membiarkan amarah menguasaiku sampai tangan Donghae menghentikanku.

Baby…”

Donghae menegakkan tubuhku, tanganku masih mencengkram rumput yang barusan kutarik. Memandang lurus jauh ke depan, menghindari melihat wajahnya, atau aku akan mengingat bagaimana wajah seluruh keluarga Lee saat mereka memperlakukanku dan ayahku seperti seorang penjahat. Tidak ada yang datang waktu penguburan Ayahku. Hanya ada aku dan Jeong Ahjusi, pengacara keluargaku dari Korea yang datang. Aku tidak tahu bagaimana caranya Dia bisa terbang ke sini sementara ibu dan saudaraku tidak. Aku tidak mempercayai orang tua itu sama seperti aku tidak mempercayai siapapun di mansion terkutuk itu.

“Hyura-ya… Lihat aku.” Pinta Donghae lembut.

Mengeratkan rahang mencegah air mataku turun, aku tidak ingin menangis kerena marah ataupun benci. Aku tidak ingin marah, aku tidak ingin membenci siapapun termasuk Donghae atau keluarganya. Aku sudah berjanji tidak akan membiarkan perasaan seperti itu meracuni hati dan pikiranku. Ibuku tidak pernah mengajarkanku untuk membenci ataupun menyimpan dendam, Ayahku juga tidak, dia selalu mengajarkanku untuk berbuat adil dan mengasihi siapapun, tidak peduli lawan atau kawan.

Donghae memegang kedua bahuku, memutar tubuhku perlahan sampai kami berhadapan. Mata sendunya menatapku penuh penyesalan.

Donghae menurunkan pandangannya, salah satu tangannya meraih rumput yang masih kucengkram erat, memaksa kepalan tanganku untuk terbuka dan mengambilnya. Membuang rumput itu ke tanah sebelum kembali menatapku.

“Hyura-ya,” panggilnya penuh sayang. “Aku tahu ini menyakitkan, meskipun sebenarnya aku tidak benar-benar tahu. Tidak ada yang pernah merasakan apa yang kau rasakan. Tidak aku, ibuku, kakak-kakakku atau bahkan keluargamu, hanya kau yang tahu bagaimana beratnya melewati semua ini. Tapi sekarang ada aku. Aku ingin kau membaginya denganku,” Dia berhenti lalu menggeleng. “Tidak, mungkin jika kau bisa berikan semuanya padaku, Kau harus memberikannya! Biar aku yang menanggungnya, semua kesedihanmu, kemarahanmu dan kepedihan yang kau alami.” Ekspresinya benar-benar tulus dan sungguh-sungguh. Membuatku terharu, dadaku bergetar dan air mataku mulai menggenang, tapi aku tidak ingin menangis. Kata-kata Donghae barusan membuatku ingin percaya, ingin sekali, membuatku ingin menyerahkan hati dan hidupku padanya. Dan aku tahu hal itu pasti terjadi. Cepat atau lambat.

“Kau terdengar serakah.” Kataku setengah bercanda, mencoba mengubah suasana. Sekaligus membuktikan betapa mudahnya Donghae mengubah suasana hatiku.

Dia tersenyum. “Aku akan serakah jika menyangkut dirimu.” Aku tidak bisa mencegah bibirku untuk tidak tertarik lebih lebar.

 Masih tersenyum, Donghae membuka telapak tanganku yang memerah, mengusapnya lembut dan meniup-niup membersihkan. Sudah terlihat bersih namun masih memerah, dia mendekatkan bibirnya ke talapak tanganku lalu mengecupnya.

“Kau bisa terluka.” Dia terdengar terganggu, “Biar aku yang mencabut tanaman liar, kau bersihkan saja daun yang berserakan.”

Tanpa menunggu jawabanku Donghae melepaskan tanganku dan beralih pada pekerjaannya. Dia menggulung kemejanya hingga sebatas siku lalu memunggungiku. Alih-alih menuruti ucapannya aku malah menontonnya bekerja. Mungkin efek dari ucapannya yang membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tidak tahu dia bisa berkali-kali lipat lebih tampan saat sedang mencabuti rumput. Wajahnya sangat serius, dahinya kadang berkerut saat salah satu tanaman lebih sulit di cabut ketimbang yang lain. Tapi itu bukan apa-apa, aku terpesona pada kekuatan tangannya, saat otot-ototnya mencuat dari permukaan kulitnya yang putih, membayangkan bahwa tangan itu bisa begitu lembut saat menyentuhku dan bisa begitu kuat saat dibutuhkan.

“Hyura-ya?”

Aku mengerjap, “Huh?”

Donghae setengah berbalik, melihatku bertanya-tanya. Terlihat beberapa titik keringat mulai muncul di dahinya. “Dari mana saja kau?”

“Apa?”

Dia membuang rumput ke samping sebelum benar-benar berbalik menghadapku, melihatku intens seperti sedang membaca wajahku.

“Tadi pikiranmu sedang tidak di sini, dari mana saja kau?” tanyanya lembut.

Aku menggeleng sembari tersenyum tersipu, dia pasti tertawa jika aku mengatakannya. “Tidak apa-apa, maaf, aku melamun.”

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya lebih mendesak.

“Bukan apa-apa.”

Aku buru-buru berbalik dan berjongkok memunguti daun-daun, aku tahu Donghae masih berdiri menonton punggungku selama beberapa menit sampai dia mendesah pasrah karena tahu aku tidak akan mengatakannya.

Lima belas menit kemudian Donghae membantuku memunguti daun sementara dia sudah selesai berurusan dengan tanaman liar. Sekarang dia benar-benar berkeringat dan nafasnya juga terdengar lebih cepat.

“Kemarikan.” Donghae mengambil gumpalan terakhir dari tanganku lalu melempar ke pinggiran, ke tumpukan sampah yang kami kumpulkan. Aku berdiri susah payah, di bantu Donghae. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celana, mengambil tanganku, membaliknya dan membersihkan noda tanah. Tatapan Donghae tidak pada tanganku melainkan ke bawah. Ke ujung gaunku.

“Gaunmu kotor.” Ujarnya. Selesai satu tangan Donghae beralih ke tangan yang lain.

“Kau berkeringat.” Balasku. Tanganku yang bebas terangkat mengusap dahinya dengan ujung lengan. “Maaf, membuatmu bekerja keras.”

“Ini bukan apa-apa, Hyura-ya. Aku bisa melakukan apapun untukmu.”

Dia sudah selesai, menggeleng melihat sapu tangan abu-abunya penuh dengan noda tanah. Donghae seperti menimbang-nimbang ingin membuangnya saja atau mengantunginya lagi. Aku mengambil sapu tangannya dan melemparnya ketumpukan rumput.

“Aku akan buatkan satu yang baru untukmu.”

Dia tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Aku akan menghubungi pengurus makam untuk merawat makam ayahmu.” Tangan Donghae terangkat menyelipkan rambut yang keluar dari kepanganku.

“Apa kau tidak bisa membawaku ke sini saja? Aku ingin mengurusnya sendiri.”

Donghae mengamatiku lama sampai akhirnya dia mengangguk samar.

“Akan kuusahakan.”

Aku tersenyum.

Dengan enggan dia menjauhkan tangannya, “istirahatlah, aku akan ambil air di mobil.”

Donghae menyapu pipiku sekilas sebelum berbalik pergi, seolah dia tidak ingin meninggalkanku, dan pemikiran itu membuat dadaku kembali berbunga-bunga. Sikapnya padaku membuatku hampir lupa dimana aku dan alasan kenapa aku bisa di sini. Konyol bukan? Mungkin ini yang namanya kasmaran.

Masih tersenyum, menududukan diriku di akar pohon eek yang berada tepat di sebrang makam Ayahku. Bersandar di batang, lalu meluruskan kakiku sambil menatap hasil kerja kami. Memang tidak terlihat lebih bagus namun setidaknya tidak ada lagi rumput atau daun yang mengotorinya.

              Pikiranku kembali melayang memikirkan makam Ibu dan saudaraku yang lain. Aku tidak punya banyak kerabat di Korea, kemungkinan besar memang tidak akan ada yang mengurus makam mereka. Mengingat aku juga tidak datang saat penguburan mereka, atau lebih tepatnya aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jeong Ahjussi datang mengunjungiku setelah sebulan kematian ibu dan kakakku, saat itu dia baru memberitahuku bahwa mereka telah meninggal dan sudah di makamkan. Setelah mendengar hal itu aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa makan, aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar selain menangis.

Suara gesekan sepatu dengan daun dari jalanan beton menarikku ke tempat dimana aku berada saat ini, Aku menoleh ke arah datangnya Donghae. Aku melihat botol minuman yang dia bawa baru setelah itu tatapanku naik ke wajahnya. Dia tersenyum seperti biasanya.

Donghae duduk di sampingku, membuka tutup botol minuman dan menyodorkannya padaku. aku menggumam terima kasih sebelum menerimanya. Meminumnya beberapa teguk sebelum memberikannya kembali pada Donghae. Dia mengikutiku.

Donghae meletakkan botol minuman di sisinya, dia menekuk kaki dan menggantung tangannya diatas lutut, tatapannya lurus ke depan—ke makam Ayahku. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara, suasana begitu hening, hanya terdengar angin dan daun saling bergesekkan. Donghae seperti tenggelam dengan pikirannya sendiri.

“Kapan kau terakhir ke sini?” tanyanya sekaligus memecah kebisuan diantara kami.

“Tiga tahun lalu.”

Hening lagi.

Aku mengamati wajahnya yang tidak berpaling dari makam Ayahku. Di terlihat berpikir—maksudku, terlalu banyak berpikir.

“Apa yang kau pikirkan?” bisikku, mengutarakan satu-satunya pertanyaan di kepalaku.

Dia memutar tubuhnya menghadapku. Melihatku sendu lalu tersenyum lemah.

“Aku memikirkanmu.”

“Aku?”

Dia mengangguk, masih tersenyum. “Kemarilah.” Donghae mengangkatku hingga aku duduk dipangkuannya. Dresku tersingkap saat kakiku menjulur ke samping, dengan cepat dia menutupnya lagi. Diam-diam aku tersenyum, dia menghormatiku layaknya wanita yang harus dia jaga.

“Apa yang kau pikirkan tentangku?” Aku bertanya sambil menautkan tangan kami.

“Entahlah, terlalu banyak yang kupikirkan.” Gumamnya rendah. “Mungkin yang pertama, aku harus minta maaf.”

Aku mendongak untuk melihat matanya. “Maaf? Untuk?”

“Banyak hal.” Suara Donghae terdengar jauh, Tatapannya turun, menatap tangan kami yang saling bertautan. “Bahkan terlalu banyak sampai aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.”

“Hey,” Aku berbisik, melepas genggaman tangannya lalu menangkup pipinya, memaksa untuk melihatku. Matanya yang sendu menatapku penuh rasa bersalah dan aku membencinya. Seolah dia bersamaku di sini dan melakukan ini semua hanya karena perasaan bersalah.

“Apa yang terjadi padaku bukan salahmu, bukan salah siapa-siapa.” Kataku. “Aku pernah berpikir, Seandainya hal ini tidak perlu terjadi pada hidupku. mungkin aku tidak akan kehilangan orang tua dan saudara-saudaraku. Lalu aku sadar, semua orang akan berpikir demikian. Tapi bukan hak mereka untuk menentukan, yang perlu kita putuskan adalah apa yang akan kita lakukan dengan waktu yang diberikan. aku tidak lagi menyesali masa lalu, Toh semuanya sudah terjadi”

“Kau tidak membenci kami?” tanya Donghae hati-hati

“Apa gunanya? Apa dengan membenci ibumu atau bahkan para pengikutnya bisa mengembalikan keluargaku?” menggeleng lemah “aku tidak ingin meracuni hatiku dengan perasaan semacam itu”

Mengangkat tangan kami yang  bertautan lalu dia mengecup punggung tanganku “Kau begitu mengagumkan. Mungkin terdengar egois tapi aku senang Kau tidak menjadi pengantin kakakku”

  “Begitu juga denganku”

Donghae terlihat terkejut sekaligus senang, dia tersenyum.

“Kemarin aku mendengarmu dengan Eommim di ruang kerjanya.” Kataku hati-hati. Senyum di wajah Donghae langsung menghilang. Dia melihatku waspada.

“Semuanya baik-baik saja?” Bisikku

Dia mengangkat bahu, matanya berpaling dariku seolah ingin menyembunyikan sesuatu. “Hanya salah paham.”

Donghae seperti tidak ingin membicarakannya lebih jauh jadi aku mengangguk.

 “Apa cita-citamu saat masih kecil?’ tanyanya tiba-tiba, sekaligus mengalihkan topik.

 “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”

“Hanya ingin tau apa yang ada dikepala Park Hyura kecil”

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku “hanya pikiran anak-anak pada umumnya, aku ingin menjadi dokter”

“Kau mau sekolah kedokteran? Aku tahu universitas bagus di Prancis untuk kedokteran” Donghae tiba-tiba terdengar antusias.

Menggeleng “Tidak, aku sudah terlalu tua untuk itu”

“Kenapa? Tidak ada batasan umur untuk belajar. Aku akan mendukungmu sepenuhnya”

“Seiring berjalannya waktu cita-cita juga berubah, aku tidak ingin lagi menjadi dokter” Dia menungguku melanjutkan “aku ingin menjadi seperti ibumu”

Dahinya berkerut dalam, tidak setuju. “kenapa?”

“Dia wanita yang mengagumkan. Kuat dan mandiri. Dia mencintai keluarga, mencintai ayahmu hingga akhir hayatnya”

Donghae mendengus. Aku tertawa.

 “Jangan bertengkar lagi dengan ibumu, meskipun dia menyebalkan tapi dia satu-satunya orang tua yang kau miliki”

“Kukira kau membencinya.”

“Ya, aku membencinya”

“Lalu?”

“Seperti yang kubilang tadi, dia satu-satunya orang tuamu.”

Donghae mendesah berat, dia melepas tangannya lalu menerawang ke depan, terlihat terlarut dalam pikirannya. Kami terdiam beberapa menit sampai Dia mulai berbicara “Aku ingin membawamu ke Prancis” beralih padaku, dia menatap mataku “Pernikahan Hyukjae baru dilaksanakan dua tahun lagi, kemudian baru pernikahan kita. Entah kapan Eomma akan memutuskannya. Aku tidak bisa menunggu selama itu dengan hubungan jarak jauh. Jadi aku meminta pada Eomma untuk membawamu. Tapi tentu saja kau sudah tahu apa jawaban yang dia berikan”

Untuk alasan yang masuk akal aku merasa senang, setidaknya Donghae memiliki niat untuk membawaku bersamanya. Aku tidak keberatan menunggunya selama beberapa tahun lagi, bagiku itu bukan apa-apa dibandingkan kurungan yang kurasakan selama ini.

 “Jarak Paris London hanya enam jam menggunakan mobil, tidak terlalu jauh. Kau bisa mengunjungiku setiap akhir pekan”

“Masalahnya aku