The Crown [Part 2]

The Crown

Happy reading and sorry for typho ^^

@miss_hoon

Warning :

If you looking for Cho Kyuhyun, Sorry babe, He’s not here :p

***

Apa-apaan dia?

Aku melihat tangannya yang mencengkram lenganku, lalu beralih melihat wajahnya. Ekspresi Kyuhyun sangat datar. Dahiku berkerut.

“Turunlah langsung ke lantai basement,” Kata Kyuhyun, lebih berbicara pada Donghae. “Jangan pernah memberikan kuncimu pada petugas valley gedung ini.” dia melepas tanganku lalu pergi begitu saja tanpa melihat kami. Aku beralih pada Donghae, dia terlihat berpikir.

“Kyuhyun benar.” Gumamnya, menarikku lagi ke dalam lift.

Donghae menekan tombol lain di panel dan lift bergerak.

Aku bertanya. “Apa maksudnya?—perkataan Kyuhyun tadi?”

Donghae menarik sudut mulutnya kaku tanpa menjawabku, bersamaan dengan pintu lift terbuka.

“Ayo.” Ajaknya.

Mengikuti Donghae ke mobil, dia membukakan dan menahan pintu untukku.

“Sekarang,” Kata Donghae begitu dia disebelahku. “Aku milikmu sepenuhnya, tuan putri. Aku akan membawamu ke tempat manapun yang kau inginkan.” Mau tidak mau bibirku tertarik kebelakang. Melupakan sepenuhnya kejadian di lift tadi.

 “Aku ingin menemui ayahku.”

Donghae melihatku cepat, menatapku penuh arti, namun sedetik kemudian dia tersenyum mengangguk. Menyalakan mesin mobil, mengeluarkan kami dari basement.

Sepanjang perjalanan sangat hening, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Aku ingin bertanya mengenai Kyuhyun tapi pemilihan waktunya kurang tepat. Aku tidak ingin ketidaknyamanan melingkupi kami.

Satu jam kemudian Pintu gerbang Highgate cemetery sudah terlihat dari jalanan. Donghae menepikan mobilnya. Dia beralih padaku.

“Kau ingin sendirian atau aku bisa ikut denganmu?”

“Kau bisa ikut denganku.”

Dia mengangguk sebelum melepas sabuk pengaman dan membuka pintu.

Aku mengikutinya.

Angin musim gugur langsung menerpa wajahku dan hawa pemakaman begitu pekat di tempatku berdiri. Tanpa sadar aku memeluk tubuhku. Dulu Casey begitu terkejut saat dia mengetahui Ayahku di makamkan di sini. Dia bilang highgate terkenal dengan cerita hantunya. Setelah mendengarnya justru aku berharap bahwa cerita itu benar. Aku ingin melihat ayahku meskipun berwujud hantu.

“Hyura-ya,” Donghae berdiri menunggu di depanku, tangannya terulur, aku menyambutnya dan tersenyum.

“Ayo.”

Donghae membiarkanku memimpin jalan, mungkin dia tidak tahu dimana letak makam ayahku. Kami melewati tangga beton yang penuh daun berwarna coklat, di kanan kiri ada bangunan rumah-rumah kecil yang dibuat untuk makam keluarga, diatas bangunan tersebut terukir nama keluarga pemiliknya. Dan di gerbang setiap bangunan terdapat ukiran patung malaikat kecil.

Tidak ada suara lain selain suara langkah kami dan angin yang berhembus, membuat suasana semakin aneh. Namun hal itu tidak mengusikku, sama sekali.

Kami melewati bangunan yang berbentuk gerbang batu setinggi tiga meter dan sepanjang jalan setapak terdapat pohon tinggi rindang yang saling beradu membentuk atap dia atas kami. Beberapa pohon sudah mulai menggundul karena musim gugur. Kami berbelok ke arah yang lebih terbuka, langsung terlihat jajaran makam yang tidak terurus, termasuk makam ayahku. Nisannya yang sudah lapuk hampir tidak terlihat karena ditumbuhi rumput liar, badan makam juga tertutup daun yang membusuk. Aku hampir menangis saat melihatnya.

Melepas kaitan tangan, aku mencabuti rumput-rumput liar yang tingginya hampir satu meter. Sudah lewat tiga tahun dari terakhir kali aku datang kesini. Itu juga dengan sembunyi-sembunyi. Saat itu Eomonim sedang ke Washington mengunjungi Yong-ae Eonni, lalu aku meminta Casey untuk menjual berlian pemberian ibuku dan uangnya kugunakan untuk menyogok sopir dan penjaga gerbang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan makam ibuku dan saudaraku di Korea. Siapa yang mengurusnya? Apakah lebih parah dari makam ayahku? Pemikirkan itu meninggalkan rasa pahit di mulutku.

Mencengkram rumput dan mencabutnya paksa, membiarkan amarah menguasaiku sampai tangan Donghae menghentikanku.

Baby…”

Donghae menegakkan tubuhku, tanganku masih mencengkram rumput yang barusan kutarik. Memandang lurus jauh ke depan, menghindari melihat wajahnya, atau aku akan mengingat bagaimana wajah seluruh keluarga Lee saat mereka memperlakukanku dan ayahku seperti seorang penjahat. Tidak ada yang datang waktu penguburan Ayahku. Hanya ada aku dan Jeong Ahjusi, pengacara keluargaku dari Korea yang datang. Aku tidak tahu bagaimana caranya Dia bisa terbang ke sini sementara ibu dan saudaraku tidak. Aku tidak mempercayai orang tua itu sama seperti aku tidak mempercayai siapapun di mansion terkutuk itu.

“Hyura-ya… Lihat aku.” Pinta Donghae lembut.

Mengeratkan rahang mencegah air mataku turun, aku tidak ingin menangis kerena marah ataupun benci. Aku tidak ingin marah, aku tidak ingin membenci siapapun termasuk Donghae atau keluarganya. Aku sudah berjanji tidak akan membiarkan perasaan seperti itu meracuni hati dan pikiranku. Ibuku tidak pernah mengajarkanku untuk membenci ataupun menyimpan dendam, Ayahku juga tidak, dia selalu mengajarkanku untuk berbuat adil dan mengasihi siapapun, tidak peduli lawan atau kawan.

Donghae memegang kedua bahuku, memutar tubuhku perlahan sampai kami berhadapan. Mata sendunya menatapku penuh penyesalan.

Donghae menurunkan pandangannya, salah satu tangannya meraih rumput yang masih kucengkram erat, memaksa kepalan tanganku untuk terbuka dan mengambilnya. Membuang rumput itu ke tanah sebelum kembali menatapku.

“Hyura-ya,” panggilnya penuh sayang. “Aku tahu ini menyakitkan, meskipun sebenarnya aku tidak benar-benar tahu. Tidak ada yang pernah merasakan apa yang kau rasakan. Tidak aku, ibuku, kakak-kakakku atau bahkan keluargamu, hanya kau yang tahu bagaimana beratnya melewati semua ini. Tapi sekarang ada aku. Aku ingin kau membaginya denganku,” Dia berhenti lalu menggeleng. “Tidak, mungkin jika kau bisa berikan semuanya padaku, Kau harus memberikannya! Biar aku yang menanggungnya, semua kesedihanmu, kemarahanmu dan kepedihan yang kau alami.” Ekspresinya benar-benar tulus dan sungguh-sungguh. Membuatku terharu, dadaku bergetar dan air mataku mulai menggenang, tapi aku tidak ingin menangis. Kata-kata Donghae barusan membuatku ingin percaya, ingin sekali, membuatku ingin menyerahkan hati dan hidupku padanya. Dan aku tahu hal itu pasti terjadi. Cepat atau lambat.

“Kau terdengar serakah.” Kataku setengah bercanda, mencoba mengubah suasana. Sekaligus membuktikan betapa mudahnya Donghae mengubah suasana hatiku.

Dia tersenyum. “Aku akan serakah jika menyangkut dirimu.” Aku tidak bisa mencegah bibirku untuk tidak tertarik lebih lebar.

 Masih tersenyum, Donghae membuka telapak tanganku yang memerah, mengusapnya lembut dan meniup-niup membersihkan. Sudah terlihat bersih namun masih memerah, dia mendekatkan bibirnya ke talapak tanganku lalu mengecupnya.

“Kau bisa terluka.” Dia terdengar terganggu, “Biar aku yang mencabut tanaman liar, kau bersihkan saja daun yang berserakan.”

Tanpa menunggu jawabanku Donghae melepaskan tanganku dan beralih pada pekerjaannya. Dia menggulung kemejanya hingga sebatas siku lalu memunggungiku. Alih-alih menuruti ucapannya aku malah menontonnya bekerja. Mungkin efek dari ucapannya yang membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tidak tahu dia bisa berkali-kali lipat lebih tampan saat sedang mencabuti rumput. Wajahnya sangat serius, dahinya kadang berkerut saat salah satu tanaman lebih sulit di cabut ketimbang yang lain. Tapi itu bukan apa-apa, aku terpesona pada kekuatan tangannya, saat otot-ototnya mencuat dari permukaan kulitnya yang putih, membayangkan bahwa tangan itu bisa begitu lembut saat menyentuhku dan bisa begitu kuat saat dibutuhkan.

“Hyura-ya?”

Aku mengerjap, “Huh?”

Donghae setengah berbalik, melihatku bertanya-tanya. Terlihat beberapa titik keringat mulai muncul di dahinya. “Dari mana saja kau?”

“Apa?”

Dia membuang rumput ke samping sebelum benar-benar berbalik menghadapku, melihatku intens seperti sedang membaca wajahku.

“Tadi pikiranmu sedang tidak di sini, dari mana saja kau?” tanyanya lembut.

Aku menggeleng sembari tersenyum tersipu, dia pasti tertawa jika aku mengatakannya. “Tidak apa-apa, maaf, aku melamun.”

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya lebih mendesak.

“Bukan apa-apa.”

Aku buru-buru berbalik dan berjongkok memunguti daun-daun, aku tahu Donghae masih berdiri menonton punggungku selama beberapa menit sampai dia mendesah pasrah karena tahu aku tidak akan mengatakannya.

Lima belas menit kemudian Donghae membantuku memunguti daun sementara dia sudah selesai berurusan dengan tanaman liar. Sekarang dia benar-benar berkeringat dan nafasnya juga terdengar lebih cepat.

“Kemarikan.” Donghae mengambil gumpalan terakhir dari tanganku lalu melempar ke pinggiran, ke tumpukan sampah yang kami kumpulkan. Aku berdiri susah payah, di bantu Donghae. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celana, mengambil tanganku, membaliknya dan membersihkan noda tanah. Tatapan Donghae tidak pada tanganku melainkan ke bawah. Ke ujung gaunku.

“Gaunmu kotor.” Ujarnya. Selesai satu tangan Donghae beralih ke tangan yang lain.

“Kau berkeringat.” Balasku. Tanganku yang bebas terangkat mengusap dahinya dengan ujung lengan. “Maaf, membuatmu bekerja keras.”

“Ini bukan apa-apa, Hyura-ya. Aku bisa melakukan apapun untukmu.”

Dia sudah selesai, menggeleng melihat sapu tangan abu-abunya penuh dengan noda tanah. Donghae seperti menimbang-nimbang ingin membuangnya saja atau mengantunginya lagi. Aku mengambil sapu tangannya dan melemparnya ketumpukan rumput.

“Aku akan buatkan satu yang baru untukmu.”

Dia tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Aku akan menghubungi pengurus makam untuk merawat makam ayahmu.” Tangan Donghae terangkat menyelipkan rambut yang keluar dari kepanganku.

“Apa kau tidak bisa membawaku ke sini saja? Aku ingin mengurusnya sendiri.”

Donghae mengamatiku lama sampai akhirnya dia mengangguk samar.

“Akan kuusahakan.”

Aku tersenyum.

Dengan enggan dia menjauhkan tangannya, “istirahatlah, aku akan ambil air di mobil.”

Donghae menyapu pipiku sekilas sebelum berbalik pergi, seolah dia tidak ingin meninggalkanku, dan pemikiran itu membuat dadaku kembali berbunga-bunga. Sikapnya padaku membuatku hampir lupa dimana aku dan alasan kenapa aku bisa di sini. Konyol bukan? Mungkin ini yang namanya kasmaran.

Masih tersenyum, menududukan diriku di akar pohon eek yang berada tepat di sebrang makam Ayahku. Bersandar di batang, lalu meluruskan kakiku sambil menatap hasil kerja kami. Memang tidak terlihat lebih bagus namun setidaknya tidak ada lagi rumput atau daun yang mengotorinya.

              Pikiranku kembali melayang memikirkan makam Ibu dan saudaraku yang lain. Aku tidak punya banyak kerabat di Korea, kemungkinan besar memang tidak akan ada yang mengurus makam mereka. Mengingat aku juga tidak datang saat penguburan mereka, atau lebih tepatnya aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jeong Ahjussi datang mengunjungiku setelah sebulan kematian ibu dan kakakku, saat itu dia baru memberitahuku bahwa mereka telah meninggal dan sudah di makamkan. Setelah mendengar hal itu aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa makan, aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar selain menangis.

Suara gesekan sepatu dengan daun dari jalanan beton menarikku ke tempat dimana aku berada saat ini, Aku menoleh ke arah datangnya Donghae. Aku melihat botol minuman yang dia bawa baru setelah itu tatapanku naik ke wajahnya. Dia tersenyum seperti biasanya.

Donghae duduk di sampingku, membuka tutup botol minuman dan menyodorkannya padaku. aku menggumam terima kasih sebelum menerimanya. Meminumnya beberapa teguk sebelum memberikannya kembali pada Donghae. Dia mengikutiku.

Donghae meletakkan botol minuman di sisinya, dia menekuk kaki dan menggantung tangannya diatas lutut, tatapannya lurus ke depan—ke makam Ayahku. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara, suasana begitu hening, hanya terdengar angin dan daun saling bergesekkan. Donghae seperti tenggelam dengan pikirannya sendiri.

“Kapan kau terakhir ke sini?” tanyanya sekaligus memecah kebisuan diantara kami.

“Tiga tahun lalu.”

Hening lagi.

Aku mengamati wajahnya yang tidak berpaling dari makam Ayahku. Di terlihat berpikir—maksudku, terlalu banyak berpikir.

“Apa yang kau pikirkan?” bisikku, mengutarakan satu-satunya pertanyaan di kepalaku.

Dia memutar tubuhnya menghadapku. Melihatku sendu lalu tersenyum lemah.

“Aku memikirkanmu.”

“Aku?”

Dia mengangguk, masih tersenyum. “Kemarilah.” Donghae mengangkatku hingga aku duduk dipangkuannya. Dresku tersingkap saat kakiku menjulur ke samping, dengan cepat dia menutupnya lagi. Diam-diam aku tersenyum, dia menghormatiku layaknya wanita yang harus dia jaga.

“Apa yang kau pikirkan tentangku?” Aku bertanya sambil menautkan tangan kami.

“Entahlah, terlalu banyak yang kupikirkan.” Gumamnya rendah. “Mungkin yang pertama, aku harus minta maaf.”

Aku mendongak untuk melihat matanya. “Maaf? Untuk?”

“Banyak hal.” Suara Donghae terdengar jauh, Tatapannya turun, menatap tangan kami yang saling bertautan. “Bahkan terlalu banyak sampai aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.”

“Hey,” Aku berbisik, melepas genggaman tangannya lalu menangkup pipinya, memaksa untuk melihatku. Matanya yang sendu menatapku penuh rasa bersalah dan aku membencinya. Seolah dia bersamaku di sini dan melakukan ini semua hanya karena perasaan bersalah.

“Apa yang terjadi padaku bukan salahmu, bukan salah siapa-siapa.” Kataku. “Aku pernah berpikir, Seandainya hal ini tidak perlu terjadi pada hidupku. mungkin aku tidak akan kehilangan orang tua dan saudara-saudaraku. Lalu aku sadar, semua orang akan berpikir demikian. Tapi bukan hak mereka untuk menentukan, yang perlu kita putuskan adalah apa yang akan kita lakukan dengan waktu yang diberikan. aku tidak lagi menyesali masa lalu, Toh semuanya sudah terjadi”

“Kau tidak membenci kami?” tanya Donghae hati-hati

“Apa gunanya? Apa dengan membenci ibumu atau bahkan para pengikutnya bisa mengembalikan keluargaku?” menggeleng lemah “aku tidak ingin meracuni hatiku dengan perasaan semacam itu”

Mengangkat tangan kami yang  bertautan lalu dia mengecup punggung tanganku “Kau begitu mengagumkan. Mungkin terdengar egois tapi aku senang Kau tidak menjadi pengantin kakakku”

  “Begitu juga denganku”

Donghae terlihat terkejut sekaligus senang, dia tersenyum.

“Kemarin aku mendengarmu dengan Eommim di ruang kerjanya.” Kataku hati-hati. Senyum di wajah Donghae langsung menghilang. Dia melihatku waspada.

“Semuanya baik-baik saja?” Bisikku

Dia mengangkat bahu, matanya berpaling dariku seolah ingin menyembunyikan sesuatu. “Hanya salah paham.”

Donghae seperti tidak ingin membicarakannya lebih jauh jadi aku mengangguk.

 “Apa cita-citamu saat masih kecil?’ tanyanya tiba-tiba, sekaligus mengalihkan topik.

 “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”

“Hanya ingin tau apa yang ada dikepala Park Hyura kecil”

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku “hanya pikiran anak-anak pada umumnya, aku ingin menjadi dokter”

“Kau mau sekolah kedokteran? Aku tahu universitas bagus di Prancis untuk kedokteran” Donghae tiba-tiba terdengar antusias.

Menggeleng “Tidak, aku sudah terlalu tua untuk itu”

“Kenapa? Tidak ada batasan umur untuk belajar. Aku akan mendukungmu sepenuhnya”

“Seiring berjalannya waktu cita-cita juga berubah, aku tidak ingin lagi menjadi dokter” Dia menungguku melanjutkan “aku ingin menjadi seperti ibumu”

Dahinya berkerut dalam, tidak setuju. “kenapa?”

“Dia wanita yang mengagumkan. Kuat dan mandiri. Dia mencintai keluarga, mencintai ayahmu hingga akhir hayatnya”

Donghae mendengus. Aku tertawa.

 “Jangan bertengkar lagi dengan ibumu, meskipun dia menyebalkan tapi dia satu-satunya orang tua yang kau miliki”

“Kukira kau membencinya.”

“Ya, aku membencinya”

“Lalu?”

“Seperti yang kubilang tadi, dia satu-satunya orang tuamu.”

Donghae mendesah berat, dia melepas tangannya lalu menerawang ke depan, terlihat terlarut dalam pikirannya. Kami terdiam beberapa menit sampai Dia mulai berbicara “Aku ingin membawamu ke Prancis” beralih padaku, dia menatap mataku “Pernikahan Hyukjae baru dilaksanakan dua tahun lagi, kemudian baru pernikahan kita. Entah kapan Eomma akan memutuskannya. Aku tidak bisa menunggu selama itu dengan hubungan jarak jauh. Jadi aku meminta pada Eomma untuk membawamu. Tapi tentu saja kau sudah tahu apa jawaban yang dia berikan”

Untuk alasan yang masuk akal aku merasa senang, setidaknya Donghae memiliki niat untuk membawaku bersamanya. Aku tidak keberatan menunggunya selama beberapa tahun lagi, bagiku itu bukan apa-apa dibandingkan kurungan yang kurasakan selama ini.

 “Jarak Paris London hanya enam jam menggunakan mobil, tidak terlalu jauh. Kau bisa mengunjungiku setiap akhir pekan”

“Masalahnya aku ingin melihatmu setiap hari”

Menyipitkan mataku pura-pura curiga. “Kau sangat pandai menggoda Tuan Lee”

Dia tergelak“Apa Kau tergoda?”

“Sedikit” aku mengakui.

“Ceritakan tentang keluargamu?” Donghae melepas genggaman tangan kami, lengannya mengelilingi pinggangku dan menarikku lebih dekat, aku suka bagaimana kedekatan kami dan demi apapun ini sangat nyaman.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanganku mengalungi lehernya.

“Kudengar ibumu keturunan bangsawan Irlandia?”

Mengangkat bahu. “Itu yang kudengar, tapi aku tidak tahu kebenarannya. Itu hanya cerita-cerita lama. Kenyataannya Ibuku tidak bermata biru dan berambut pirang, aku juga lahir dan besar di korea dan sepanjang sepengetahuanku Eomma tidak pernah pergi dari Negara itu.”

“Ibumu tidak pernah bercerita mengenai keluarganya di Irlandia?”

Aku menggeleng, “Sepertinya Eomma sama tidak tahunya denganku.” tapi sedetik kemudian aku teringat ucapan ayahku saat pertama kali datang ke sini. Dia bilang di sini adalah rumahku.

 “Hyura, dengarkan Appa. Aku tidak ingin menakutimu tapi aku juga tidak ingin berbohong padamu. Kita datang ke tempat berbahaya. Di mana nama kehormatan jauh lebih berharga daripada nyawa manusia. Meskipun kau bermarga Park tapi kau memiliki darah sejati seorang Lady. Jangan pernah menganggap kau jauh dari rumah karena disini adalah rumahmu.

“Mungkin saja kau masih memiliki keluarga di sana?” tanyanya lagi.

“Mungkin. Aku tidak tahu.”

“Bagaimana dengan nenek dan kakekmu?”

“Apa sekarang kita membicarakan pohon keluarga?”

“Kenapa? Kau keberatan?”

Aku mengangkat bahu, “Tidak, hanya…masih sedikit sulit untukku membicarakan mereka.”

Seolah mengerti Donghae mengangguk, menyapukan bibirnya di keningku, “Maaf,” katanya di keningku, “tidak seharusnya aku membangkitkan kenangan yang menyakitkan untukmu.”

Aku memaksa tersenyum, “Sekarang ceritakan tentangmu.”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

Aku meraba keliman jas di dadanya, “Semuanya, aku ingin mnegenalmu.”

“Kudengar dari Emily kau bertanya mengenai makanan yang kusukai?” Aku tidak bisa mengabaikan binary-binar di matanya.

“Aku tidak percaya dia mengatakannya padamu.” Gerutuku menahan malu.

Donghae terkekeh, “Baby, kau tidak perlu merasa malu. Kau membuatku bahagia.”

 “Benarkah?”

Dia mengangguk antusias, “tapi jangan bertanya lagi pada orang lain, tanyakan saja padaku. Aku lebih suka kau mengetahui diriku dari muluku sendiri.”

Aku mengangguk.

“Sekarang apa yang ingin kau ketahui?”

“Kau pernah punya pacar?” tanyaku tanpa berpikir.

Dahinya berkerut, jelas tidak suka dengan pertanyaanku. Aku tidak ingin suasana diantara kami berubah canggung jadi aku melontarkan pertanyaan lain.

“Baiklah, mungkin aku tidak seharusnya menanyakannya, bagaimana kalau…”

“Tidak, tidak.” Potongnya. “Aku sudah berjanji akan menjawab pertanyaanmu.” Dia diam sejenak, aku menunggunya. “Ya, pernah.” sahutnya berbisik.

Aku mengangguk, sedikit kecewa sebenarnya tapi memang apa yang kuharapkan? Donghae kan bukan biksu, tentu saja Dia pernah berpacaran. Hanya wanita tolol yang tidak menginginkannya. Dia tampan dan kaya. hanya itu yang wanita butuhkan.

“Bagaimana dengan teman-temanmu? Apa yang waktu itu bertemu di club salah satu teman-temanmu? Apa kau punya sahabat?”
Donghae terkekeh. Tangannya bergerak naik turun di punggung menggelitik kulitku. “Kau benar-benar ingin tahu ya?” aku mengangguk. dia tetap tersenyum, “sebenarnya Brand dan Jon adalah teman Hyukjae lalu saat aku pulang untuk liburan Hyukjae selalu mengajakku bertemu dengan mereka. Pertemanan para pria mengalir begitu saja. Malah bisa dibilang sebenarnya aku tidak punya teman dekat, dari semua temanku dan saudaraku aku lebih dekat dengan Kyuhyun.”

Dahiku berkerut dalam, “Cho Kyuhyun?”

“Ya, Kyuhyun.” Katanya. “Itu terjadi secara alami karena kami berdua sama-sama anak bungsu. Sejak kecil aku tidak begitu bisa bergaul dengan kakak-kakakku. Mereka hanya suka mengerjaiku” Donghae tertawa kecil. “Karena itu aku lebih sering bermain dengan Kyuhyun.”

Aku teringat dengan perkataan Kyuhyun saat di kantor tadi, dia mengancamku, tapi aku juga tidak tahu apa harus mengatakannya pada Donghae atau tidak.

Mengerutkan hidungku, “aku tidak terlalu menyukainya.”

  “Dulu Kyuhyun anak yang menyenangkan” Kata Donghae, “Tapi dia sedikit berubah setelah kematian Ahra. Sepertinya Dia tidak bisa menanganinya dengan baik”

“Meskipun begitu bukan berarti dia bisa menjadi orang yang brengsek.”

Donghae tertawa kecil, “Kyuhyun bisa menjadi orang baik kalau dia mau.”

“Tapi sayangnya dia tidak mau.”

Donghae hanya mengangkat bahu.

“Aku tidak suka dia mendekati Casey.” Gerutuku.

Donghae terkejut, hampir tidak percaya. “Apa? Kyuhyun mendekati Casey?”

Aku mengangguk. “Ya. Aku tidak akan membiarkan pria seperti dia mendekati Casey, dalam mimpipun dia tidak boleh berharap.” Suaraku penuh tekad.

Donghae masih terlihat tidak percaya, “Kau yakin?”

Aku mengangguk kuat.

“Entahlah,” Katanya ragu, “menurutku Kyuhyun bukan tipe orang yang akan mendekati Casey lalu mempermainkannya. Seandainya Kyuhyun mendekati Casey mungkin dia benar-benar memiliki perhatian pada wanita itu.”

“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu?”

“Kyuhyun memang pria yang brengsek bagi para wanita tapi dia tidak akan bersikap kurang ajar pada wanita seperti Casey, Hyura-ya. Para wanita itu yang menempel padanya seperti lalat yang mengerubungi makanan, dan aku tahu Casey bukan tipe wanita seperti itu kecuali dia…”

Menyipitkan mataku sengit, “kecuali apa?”

“Kau tahu apa maksudku?” desahnya.

“Casey bukan wanita seperti itu,” Tegasku, agak kesal karena Donghae berpikiran yang tidak-tidak mengenai Casey. Menegakkan tubuhku menjauh, melepaskan tanganku dari lehernya, tapi tangan Donghae di sekeliling pinggangku menahannya.

“Dan Kyuhyun juga bukan pria yang akan tertarik pada Casey.” Sahutnya lelah. Aku membuka mulut untuk membalasnya tapi dengan cepat Donghae memotongku. “haruskah kita berdebat karena mereka? Casey dan Kyuhyun sama-sama sudah dewasa mereka tahu apa yang harus dilakukan.”

Bibirku mengerucut, “aku hanya takut Kyuhyun melukai Casey.”

Donghae menarik tanganku lalu untuk melingkar di lehernya, aku menurut.

“Bicaralah dengan Kyuhyun.” Pintaku setengah memohon.

Donghae mendesah lalu mengangguk, “aku akan bicara padanya.”

“Terima kasih.”

Donghae mengangguk lalu mendongak ke atas, “Sepertinya mendung, sebaiknya kita pulang sebelum hujan. Kami beranjak dari sana dan Donghae berjanji akan membawaku kembali bertemu Ayahku secepatnya.

***

Setelah kembali dari pemakaman, keesokan harinya Donghae tidak pernah muncul, hingga besoknya lagi. Dia tidak muncul di manapun, di mansion ini. Casey bilang Donghae selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Mungkin dia sangat sibuk sampai-sampai harus bekerja saat waktunya libur.

Khususnya untuk hari ini aku benar-benar bersyukur tidak bertemu Donghae atau mungkin dia akan terkena sial dengan penyakit bulananku. Sepanjang pagi aku meringkuk di ranjang dengan kantung air hangat di atas perutku. Aku selalu mengalami hal ini di setiap bulannya.

Casey mengelus keningku yang berkeringat, “Mau kubuatkan teh jahe lagi?”

Aku menggeleng lemah, sudah bercangkir-cangkir teh jahe yang kuminum, jika aku meminum satu gelas lagi mungkin aku akan muntah.

Casey mengangguk, dia duduk tidak jauh dariku. Membuka buku yang dia bawa dari perpustakaan. Selama bertahun-tahun melayaniku, Casey tahu kebiasaanku. Aku tidak suka ditinggal sendirian saat sakit, dan aku juga tidak suka mendengarnya terlalu banyak berbicara atau bertanya. Jadi disinilah dia. Duduk diam, menemaniku.

Memejamkan mataku. Meskipun begitu semua indraku setajam biasanya, aku masih bisa mendengar tiap lembar kertas yang Casey balik, suara air mancur dari taman atau ketukan di… ketukan? Siapa yang datang?

Aku mendengar langkah Casey dan membuka pintu, lalu suara orang berbisik-bisik, hening sejenak lalu Casey menutup pintu dan kembali ke kursinya. Aku ingin membuka mata dan bertanya tapi tidak bisa, aku tidak tahu bagaimana caranya membuka suaraku tanpa mengerang. Jadi aku tetap diam. Anehnya sampai beberapa jam kemudian ada yang mengetuk lagi dan lagi, tapi aku tetap tidak membuka mata karena kegelapan menelan kesadaranku.

Saat aku bangun, kepalaku pening namun nyeri di sekiling perut dan punggungku sepenuhnya menghilang. Lampu kamarku sudah menyala dan pintu beranda susah di tutup. Mendudukkan tubuhku, Casey mendongak dari bacaannya, dia hampir menyelesaikan buku itu

“Nona…” Dia beringsut mendekati. Duduk di tepi ranjang, “bagaimana perasaanmu?”

Aku tersenyum lemah, “sudah tidak apa-apa, dan sedikit lapar sebenarnya.” Aku mengakui

Dia ikut tersenyum, “aneh kalau kau tidak lapar, seharian ini kau tidak memasukkan apapun.”

“Jam berapa sekarang?”

“Hampir jam delapan.”

“Aku tidur selama itu?”

Dia mengangguk, “Akan kubawakan makanan untukmu.”

“Terima kasih.”

Casey menghilang dari kamarku lalu kembali setelah sepuluh menit kemudian, dia membawakan sup hangat dan bubur.

“Kembalilah ke kamarmu, sisanya aku bisa mengurus sendiri.”

“Kau yakin?”

“Perutku sudah tidak apa-apa, sama sekali tidak sakit. Hanya sedikit pusing, mungkin kurang darah, nanti aku akan minum obat. Kau bisa istirahat, terima kasih sudah menjagaku.” Casey terlihat ingin membantah tapi aku mencegahnya, “setelah ini mungkin aku akan kembali tidur.”

“Baiklah kalau begitu,” katanya, “nona bisa memanggilku kapan saja.”

“Hmm.”

Setelah yakin bahwa aku tidak apa-apa Casey baru meninggalkanku. Aku menghabiskan bubur, sup dan meminum obatku lalu membawa piring kotor ke dapur. Aku bohong saat kubilang akan kembali tidur, nyatanya mataku terang benderang karena seharian ini tertidur. Biasanya aku suka menjahit saat mengisi waktu, apalagi aku memiliki satu gaun yang sedang kukerjakan tapi aku sedang tidak mood berurusan dengan jarum dan benang. Memeriksa rak buku, aku baru ingat kemarin Casey baru mengisinya dengan buku-buku baru dari perpustakaan. Mengambil buku yang sepenuhnya asing dan membawanya ke ranjang. Bacaan mengenai detective sama sekali bukan bidangku tapi lumayan menyita seluruh perhatianku, aku begitu terlarut dalam cerita misteri pembunuhan di abad ke sembilan belas sampai membuatku cukup terlonjak saat mendengar suara decitan ban mobil. Melirik ke jam di nakas, mataku melebar, ya ampun aku tidak sadar sudah jam setengah tiga pagi, tapi siapa yang berkunjung di pagi buta begini. Aku bukan orang yang ingin tahu tapi datang ke rumah orang pukul setengah tiga pagi bukanlah hal yang normal.

Menahan hawa dingin saat membuka pintu beranda, aku melihat lampu bagian belakang mobil donghae yang masih menyala, sementara dia sudah berjalan menjauh dari mobilnya. Aneh sekali dia pergi tanpa mematikan mesin mobil. Berdebat dengan batinku, haruskah aku menghampirinya atau tidak, aku merindukan Donghae, aku ingin melihatnya tapi bersamaan dengan itu aku juga takut mengganggunya. Donghae sama sekali tidak mencoba untuk menemuiku tiga hari belakangan ini.

Mengesampingkan semuanya aku berbalik, setengah berlari keluar kamar mengejar Donghae sebelum dia sampai di kamarnya. Aku berhenti saat melihat tubuh Donghae merosot di dasar tangga. Dia hambir berbaring di anak tangga paling bawah dengan bahu bersandar di pegangan.

“Donghae-ya…” mengambil dua anak tangga sekaligus aku menghampirinya, duduk di lantai tepat di depan wajahnya. Bau alcohol begitu kuat. Aku mengernyit. Dia mabuk lagi. Ya ampun, bagaimana caranya dia menyetir dalam keadaan mabuk berat begini.

“Donghae-ya,” aku mengguncang bahunya. Dia mengerang, membuka matanya sedikit, lalu salah satu bibirnya terangkat, senyum getir memenuhi ekspresinya. Bukan hanya itu wajah Donghae penuh kepedihan.

Tanganku terangkat menyentuh salah satu pipinya. “Donghae-ya, ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?”

Dia menggenggam tanganku di pipinya, matanya terpejam lagi. “Sepertinya aku benar-benar mabuk sampai bisa merasakan tanganmu.” Gumamnya.

“Donghae-ya, apa yang kau bicarakan? Ini Aku. Hyura. Buka matamu.”

Dia tertawa sedih, “aku bahkan bisa mendengar suaramu. Mungkin aku benar-benar sudah gila.”

Mengguncang bahunya sekali lagi, “Donghae-ya, ini aku. Hyura. Buka matamu! Donghae…”

Sebuah geraman kesal memotongku dari atas. Aku mendongak.

“Lagi!” Hyukjae berdiri di puncak tangga dengan wajah mengantuk sekaligus kesal, dia juga masih menggunakan piyamanya.

“Lee Hyukjae,”

“Ugh. Lee Donghaeekk!” Omelnya tanpa menghiraukanku. “Aku benar-benar ingin menendang bokongnya.” Hyukjae menuruni tangga, menghampiri kami. Aku menyingkir memberikan Hyukjae jalan. Dia menyampirkan tangan Donghae di lehernya, bersusah payah membuat Donghae bisa berdiri.

Hyukjae melihatku kesal.

“Kenapa diam saja! Bantu Aku!”

Aku buru-buru berdiri memegangi sisi Donghae yang lain.

“Pegangi dia.” Kata Hyukjae lebih pelan. Aku menahan tubuh Donghae sementara Hyukjae berjongkok di depan, aku membantu menurunkan tubuh Donghae ke punggung Hyukjae. Hyukjae mengumpat saat berusaha berdiri sambil membawa Donghae di punggungnya.

Aku mengikuti mereka sampai tiba di kamar Donghae.

Hyukjae menjatuhkan Donghae ke ranjang dengan keras. Aku berjalan cepat melewatinya, menatapnya tidak setuju.

“Apa!” Hyukjae menyalak padaku, “Kau tidak tahu seberapa banyak aku harus berurusan dengan kelakuan sialannya. Kalau Eomma tahu…“ Hyukjae tidak menyelesaikan perkataannya, dia hanya mengerang dan menendang bagian bawah ranjang Donghae.

Aku tidak mengerti kenapa dia begitu kesal, seolah dia tidak pernah mabuk.

“Pergilah, biar aku yang mengurusnya.” Kataku.

Hyukjae melirikku, masih kesal. Aku tidak mempedulikannya. Meraih Donghae, membalikan tubuhnya hingga dia berbaring dengan punggungnya. Donghae benar-benar tidak sadarkan diri, entah berapa banyak alcohol yang dia minum sampai seperti ini. tapi bukan itu yang menggangguku. Ekspresi Donghae saat ditangga tadi yang sangat menggangguku. Apa terjadi sesuatu padanya?

Aku membuka sepatu Donghae, sementara Hyukjae masih berdiri di tempatnya, dia tidak melihatku melainkan melihat adiknya.

“Apa maksudmu dengan ‘lagi’?” tanyaku saat aku beralih ke kaki yang lain. “Kau mengatakannya seolah Donghae adalah pecandu alkohol.”

“Dia memang si pemabuk tolol” gerutu Hyukjae. Dia mengusap wajahnya kasar lalu memandang wajah Donghae setengah kesal setengah prihatin.

“Mungkin terjadi sesuatu padanya.” Aku menarik selimut, menyelimuti Donghae, baru setelah itu menegakkan tubuhku menghadap Hyukjae, dia belum melihatku, tatapannya masih terpaku pada wajah Donghae.

Hyukjae mengangkat bahunya. “Tidak ada yang tahu.” Katanya, lalu dia balas melihatku. “Kukira kau mengetahuinya.” Hyukjae tertawa hambar, “Si brengsek ini tahu bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk minum tapi tetap melakukannya. Sudah tiga malam aku menjadi penjaga gratisan untuknya.”

“Tiga malam?” ulangku. “Maksudmu Donghae terus-terusan mabuk selama tiga malam?”

Hyukjae memutar mata, “apa aku harus mengulang perkataanku?”

“Tapi…”

“Sudahlah.” Dia mengayunkan tangan tidak peduli. “Aku mau tidur.” Katanya sambil menguap. “Kau urus dia! dan pastikan aku tidak melakukan hal ini lagi besok malam atau aku benar-benar akan menendang bokongnya. Dan aku tidak peduli kalau Eomma mengusirnya.” Hyukjae menyelinap keluar sementara aku tetap tinggal di kamar Donghae. Seharusnya aku kembali ke kamarku, mungkin Eomonim bisa marah jika dia tahu aku bermalam di kamar anak bungsunya. Tapi Eomonim tidak akan tahu dan aku tidak peduli.

Memerosotkan tubuhku di kursi malas, aku tidak mengantuk namun mataku kelelahan, mungkin karena membaca tadi. Kamar Donghae jauh lebih besar dari kamarku. Di sini ada Sofa besar yang langsung menghadap ke televise layar datar, di bawah ada game yang tersambung ke televise, lalu kamera yang berjejer di meja kecil dan diatasnya ada papan yang tertempel foto-foto. Kebanyakan foto pemandangan. Di sisi kiri dekat jendela ada gitar yang bersandar di kursi kayu, di sebelahnya juga ada rak buku namun dialih fungsikan menjadi tempat mainan. Robot-robot kecil pahlawan yang berjejer rapi di sana. Hanya sekali lihatpun orang lain akan tahu bahwa kamar ini milik seorang anak laki-laki.

***

Aku ingat sepanjang hari menahan nyeri di perutku. Aku ingat bulu kudukku meremang saat membayangkan pembunuh berkeliaran di jalanan London saat malam hari. Aku juga ingat bau memuakkan yang menusuk hidungku, bau yang berasal dari orang yang kusayangi.

Donghae.

Aku terbangun cepat menyadari nama itu menggantung di pikiranku. Hal pertama yang kulihat foto pemandangan asing saat aku membuka mata. Menunduk, memandangi ranjang asing. Semuanya terasa asing, ranjang, selimut, tirai, dinding bahkan udara disini sangat asing.

Dimana aku?

Baby…

Aku menoleh cepat mendenagr suara lembut yang menenangkan. Donghae duduk di sofa tunggal di ujung ruangan. Seingatku sofa itu berada dekat jendela dan bukan di sudut ruangan. Posisi terjauh dariku sekarang.

Aku baru ingat semalam aku membantu Donghae ke kamarnya. Dan bukannya kembali aku malah ketiduran di sini.

Kembali memusatkan perhatianku pada Donghae. dia terlihat lebih baik daripada semalam. Donghae sudah mengganti bajunya dengan jeans pudar dan kaos hitam, rambutnya berantakan setengah basah seperti sengaja tidak diatur. Dari penampilan Donghae terlihat sempurna, tapi tidak dengan ekspresi wajahnya. Kesedihan masih terpancar jelas, meskipun dia berusaha menyembunyikannya.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku membuka percakapan.

Donghae tidak langsung menjawab, dia menatap lantai cukup lama sampai menaikkan kembali pandangannya padaku. Aku menunggu tapi sepertinya Donghae tidak ingin menjawab pertanyaanku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa malu dan…kecewa. Seharusnya semalam aku langsung kembali, bukannya ketiduran di sini dan menemukan sikap Donghae berubah seratus delapan puluh derajat. Meskipun aku tahu mungkin dia sedang memiliki masalah berat, mengingat apa yang dikatakan Hyukjae semalam, bahwa Donghae menjadi pemabuk dalam kurun waktu tiga hari berturut-turut

Memaksa tersenyum, dan mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya. “Seharusnya kau membangunkan aku, bukannya malah membaringkanku di sini.” Tanganku sibuk menyibak selimut, membenarkan posisi gaun tidurku sebelum turun dari ranjang. Tinggal seinchi lagi telapak kakiku menyentuh lantai saat suara Donghae menginterupsi.

“Hyura-ya,”

Aku berperang batin untuk memutar tubuhku untuk menghadapnya atau tidak. Aku tidak seharusnya takut tapi sekarang aku takut. Takut Donghae akan mengatakan sesuatu yang mungkin aku tidak siap mendengarnya.

“Aku harus kembali ke kamarku, ada yang ingin kau bicarakan?” tanyaku tanpa memutar tubuh.

“Kau mau pulang?” suara Donghae sangat pelan dan tidak yakin, sampai aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa barusan benar-benar suaranya.

Memutar tubuhku, kami saling menatap. Aku melihat tekad di matanya. Yang mana aku tidak mengerti.

“Pulang?” Ulangku. “Apa maksudmu?”

“Bagaimana perasaanmu padaku?”

Dahiku berkerut, dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah mengajukan pertanyaan lain. Sebenarnya kemana arah pembicaraan ini?

“Bagaimana perasaanmu padaku, Hyura-ya.” Tanyanya lagi lebih menuntut, tidak sabar.

“Aku tidak mengerti maksudmu tapi kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Aku ingin bersamamu. Selama aku hidup disini aku tidak pernah menginginkan bersama siapapun, tapi sekarang aku ingin bersamamu.”

Senyum samar terukir di bibir tipisnya. Donghae bergerak bangun dan berjalan cepat mengitari ruangan. Menghampiriku, dia berjongkok di lantai di depanku. Tangannya mengambil tanganku lalu mengecupnya. Perasaan cemasku langsung menguap entah kemana saat bibirnya menyentuh punggung tanganku. Donghae-ku sudah kembali.

Donghae mendongak, melihatku. “Maaf. Aku bersikap menyebalkan belakangan ini.” katanya menyesal.

Aku mengangguk dan tersenyum. Tanganku membelai salah satu pipinya. “Semuanya baik-baik saja?”

Dia mengangguk tidak yakin. Genggaman tangannya di tanganku mengerat. Dia membawa tangan kami ke pipinya, menempelkan punggung tanganku di pipinya tanpa melepaskan kontak mata.

“Apa maksud pertanyaanmu tadi?” Aku bertanya lagi, “saat kau bertanya ‘apa aku mau pulang’?”

“Aku… aku tidak yakin tapi…tapi aku ingin membawamu pergi.” Katanya, Aku tersentak. Membawaku pergi?

Dia mengusap tengkuknya, menggambarkan kegelisahannya. “Aku tidak ingin kau tinggal di sini barang seharipun, Hyura-ya. Tapi aku tidak punya kekuatan kecuali kita berdua benar-benar kehilangan akal. Dan aku kehilangan akalku selama tiga hari ini. aku bahkan merencanakan untuk menyelinap ke kamarmu pada tengah malam dan membawamu pergi. Tapi aku tahu hal itu juga tidak akan berakhir