The Crown [Part 1]

The Crown

Happy Reading and Sorry for Typho

@miss_hoon

***

London, Recent Day

West gardenia salah satu taman terbaik di mansion ini dibanding yang lain. Tidak terhitung berapa kali aku menghabiskan waktuku disana. Dan Aku berhutang banyak pada tempat tersebut. Dia adalah saksi bisu dari setiap penderitaan yang kualami di sini.

“Nona, Kau sudah siap?”

Aku berpaling dari jendela, menoleh ke arah Casey yang berdiri tidak jauh dariku. Dia adalah pelayan khusus untukku. Umurnya mungkin lebih tua tiga atau lima tahun dariku. Aku tidak tahu pastinya karena aku tidak pernah bertanya. Cassey baru bersama denganku sekitar tiga atau empat tahun lalu. Aku tidak peduli dari mana dia atau berapa umurnya, yang jelas Casey membantuku bertahan hingga saat ini.

Aku menarik senyum samar lalu mengangguk.

“Semua orang sudah berkumpul. Mereka semua menunggu keluarga dari China,” jelasnya.

Aku menatapnya ragu. “Apa aku harus terlihat sedih?” tanyaku bodoh.

“Tidak Nona, Kau tidak bisa menanganinya dengan baik saat kematian Tuan Sungmin. Akan sangat aneh jika kau terlihat sedih sekarang”

Aku mengangguk mengerti.

Casey berjalan di sisiku, Aku mengamit lengannya dan kami berjalan menuju ruang pertemuan, yang berada di sisi kiri hall mansion utama. Kami berjalan melewati lorong panjang dengan sangat perlahan mengingat gaun yang kugunakan cukup berat. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ini kedua kalinya aku digilir menjadi salah satu wanita dari keluarga Lee. Lagi-lagi statusku yang membuatku layaknya wanita murahan yang tidak berharga sehingga mereka dengan seenaknya menyodorkanku pada anak laki-laki keluarga ini, seperti mainan kuda yang siap di tunggangi.

“Calon suamimu yang baru tidak hadir malam ini” Bisik Casey saat kami menuruni tangga. Aku tidak menjawabnya, toh tidak berpengaruh Dia datang atau tidak.

Beberapa pasang mata telah melihatku dengan berbagai pandangan di mata mereka. Aku memasang senyum yang seolah sudah terpahat di wajahku. Aku telah melatih senyum ini selama bertahun-tahun. Awalnya sangat tidak mudah karena aku bukan orang yang pandai berbohong. Ibuku pernah bilang bahwa wajahku terlihat seperi buku yang terbuka, sangat mudah membacaku.

Casey melepaskan tanganku dari lengannya kemudian Dia menunduk mohon undur diri. Seorang pelayan rendahan dilarang ikut dalam acara-acara resmi. Aku tidak mengenal siapapun di sini kecuali anggota keluarga Lee.

Aku memilih berdiri di pinggiran, tidak berbaur dengan siapapun. Ini lebih mudah bagiku setidaknya aku harus terlihat murung karena disingkirkan dari posisiku sebagai calon menantu pewaris utama jaringan kerajaan pengusaha Eropa.

“Minuman untukmu.” Lee Hyukjae, calon suamiku untuk saat ini—menyodorkan segelas champagne padaku. Aku tersenyum dan menunduk sebelum menerimanya.

“Terima kasih.” gumamku.

Dia menyesap minumannya sambil tersenyum mengejek “Anggap itu hadiah terakhir dariku sebagai tunanganmu. Sayang sekali bukan, aku bahkan belum sempat menyentuhmu” tangannya terangkat, mengelus lenganku yang terbuka. Rahangku mengerat melihat wajahnya yang menjijikan.

Aku memaksa menarik senyumku yang entah tidak pernah kusadari. Seolah wajah tersenyum ini adalah wajah asliku.

“Tapi tenang saja Hyura-ya, aku bukan orang yang pelit dan tidak suka berbagi. Datanglah ke kamarku saat Kau membutuhkannya” Dia mengedipkan sebelah matanya dan mengecup bibirku sekilas sebelum pergi menjauh. Aku memejamkan mataku sejenak dan menarik nafas dalam. Ini cukup berhasil untuk menenangkanku agar tidak marah ataupun menangis selama beberapa tahun belakangan ini.

Pintu ganda terbuka lebar dan semua orang menatap ke pintu masuk. Rombongan keluarga dari China baru memasuki ruangan. Sepasang suami istri paruh baya berada di barisan depan dan sepasang pria dan wanita muda di belakangnya, kemudian di susul beberapa orang di belakangnya yang memakai pakaian tidak jauh dengan kami. Mewah dan elegan.

Lee Hyangsuk, calon ibu mertuaku tersenyum lebar menyambut mereka. Mereka saling berpelukan satu sama lain dan tertawa gembira. Dia mengambil gelas kosong kemudian mendentingkannya beberapa kali hingga mendapatkan perhatian dari semua Tamu. Para Tamu berkumpul di tengah menunggu apa yang akan di katakan Eomonim. Aku berjalan mendekat namun tidak sampai bergabung dengan kerumunan.

“Selamat malam semuanya, terima kasih telah hadir dalam acara keluarga kami malam ini. Aku memiliki berita bahagia untuk keluarga kami yang rasanya sangat sayang jika tidak kami bagikan.” Dia melirik Lee Hyukjae di samping kanannya sambil tersenyum lalu melirik keluarga dari China di sisi kirinya.“Seperti yang kalian ketahui, Saat ini putraku sebagai pewaris utama dari Europe Asian Kingdom memiliki seorang calon istri yang berasal dari darah seorang pengkhianat, yang sebenarnya sangat memalukan” Dia mengatakan dengan nada sedih yang dibuat-buat. Dan kemudian beberapa orang bereaksi sama sehingga terdengar sedikit keriuhan. Eomonim berdehem untuk menenangkan lalu berbicara lagi. “Namun kami Keluarga Lee tidak pernah mengingkari janjinya, Nona Park tetap menjadi menantu keluarga ini dari putra kedua kami. Dan demi nama baik Keluarga dan Europe Asian Kingdom, kami telah memilih Catarina Lau sebagai calon Istri Putra pertama kami” Eomonim mengambil tangan Hyuk Jae dan wanita cantik bernama Catarina, kemudian menyatukan tangan mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Riuh tepuk tepuk tangan bergema di seluruh ruangan. Mereka semua terlihat seperti penjilat yang begitu senang melihat daging yang masih baru.

Aku berbalik dan berdiri di tempatku semula. Aku tidak menangis, tidak bersedih, aku masih bisa berdiri diatas kedua kakiku dengan mantap. Ini sama sekali bukan hal yang buruk, ini juga bukan pertama kali aku harus berpindah menjadi tunangan pria lain. Sebelum dengan Lee Hyukjae aku adalah tunangan Lee Sungmin. Namun sayang Dia meninggal dalam kecelakaan naas yang menimpanya. Saat itu aku juga tidak bersedih sama sekali. Kenapa? Karena aku sangat membenci keluarga ini. Jadi tidak masalah aku harus menjadi Istri siapa. Lagi pula sudah menjadi rahasia umum bahwa Aku adalah keturunan pengkhianat.

“Sayang calon suamimu yang baru tidak ada” Gumam suara nyaring di sampingku. Aku meliriknya sekilas kemudian kembali meluruskan pandanganku. Aku tidak tahu siapa namanya, yang kutahu wanita ini membenciku karena dulu dia dan Lee Sungmin saling menyukai..

“Mungkin Jika dia datang Kau akan berdiri di depan sana dan saling menautkan tangan kalian seperti pria bodoh itu” Dia terkekeh dengan ucapannya sendiri, menyesap minumannya sebelum bicara lagi “Apa kau senang lepas dari Lee Hyukaje?” tanyanya.

Aku menoleh sekilas dan memilih tidak menjawab. Selama tinggal di sini aku belajar bahwa diam lebih berharga daripada emas.

Well Seharusnya kau berterima kasih pada Ayahmu yang pengkhianat itu, setidaknya kau tidak perlu menikah dengan si bodoh Lee Hyukjae”

Aku meliriknya malas “Apa menurutmu dengan Lee Donghae menjadi lebih baik?” tanyaku sarkatis

Dia mengangkat bahu kemudian terkikik “Kau beruntung Park Hyura, pernah memiliki semua anak laki-laki di keluarga ini. Lee Sungmin, Lee Hyukjae kemudian Lee Donghae. Lalu setelah ini siapa? Semoga saja bukan penjaga pintu gerbang atau orang yang menjebloskan Ayahmu ke penjara” Ucapnya dengan kebencian di setiap kata.

“Terima kasih telah mengkhawatirkanku, aku tersanjung” Aku menunduk sekilas sebelum beranjak dari sana. Jika dia terus mengeluarkan racunnya aku tidak yakin untuk tidak melawan. Yang mana akan semakin menyulitkan posisiku.

Berdiri di puncak tangga sambil memandangi lukisan poto keluarga Lee. Ada enam orang yang berada di sana, Nyonya dan Tuan Lee dan empat anak mereka. Tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan. Lee Yong-ae merupakan anak perempuan tertua kemudian Lee Sungmin, Hyukjae dan Donghae. Aku tidak pernah benar-benar mengenal mereka secara personal.

Yong-ae Eonni sudah menikah dan menetap di Washington bersama suaminya. Dari yang kudengar dia sedang hamil tua sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan Jauh. Lalu mantan tunanganku Lee Sungmin yang meninggal empat tahun lalu. Kami tidak pernah bicara banyak, Dia juga tidak pernah menatapku lama. Sama denganku, Dia juga membenci perjodohan ini.

Lee Hyukjae satu-satunya anak lelaki yang sering kutemui dan paling banyak bicara. Sebagai putra kedua dia lebih sering bermain dan bersenang-senang, Seolah tidak memiliki tanggung jawab sama sekali. Aku sendiri tidak yakin Dia bisa menggantikan Ayahnya.

Dan yang terakhir Lee Donghae, Anak bungsu keluarga ini. Sama seperti Sungmin, Dia tidak terlalu banyak bicara. Dan dia yang paling jarang berada di rumah. Ibunya mengirimnya ke sekolah asrama di Yorkshire lalu dia melanjutkan kuliahnya di Prancis, setelah lulus Dia tidak kembali dan memilih bekerja di kantor cabang Paris. Aku hanya bertemu dengannya saat Natal atau tahun baru. Setelah itu Dia akan pergi lagi.

Lalu kenapa aku bisa berakhir terikat dengan keluarga Lee? Itu cerita yang panjang dan menyakitkan. Aku dibawa ke sini saat umurku lima belas tahun oleh Ayahku. Ayahku dan Lee Kangjun—ayah Sungmin, adalah sahabat karib, dulu Ayahku yang membantunya mengambil alih E.A.K, tidak ada yang lebih dipercayai Kangjun Ahjussi selain Ayahku. Kemudian beliau sakit sedangkan Sungmin masih berada di bangku kuliah dan tidak mungkin menggantikannya.

Kangjun menjemput Ayahku untuk datang ke Negara ini untuk membantunya dan mengukuhkan hubungan keluarga kami dengan pernikahan. Aku di jodohkan saat aku baru berusia lima belas tahun sedangkan Sungmin berusia dua puluh tahun. Awal kehidupanku di sini cukup menyenangkan meskipun aku harus berada jauh dari ibu dan saudaraku yang lain. Kakak dan adik laki-lakiku.

Setelah setahun akhirnya Kangjun meninggal, lalu yang kutahu Ayahku dituduh memalsukan surat wasiat Kangjun dengan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai pemimpin E.A.K. Aku melihatnya di seret oleh polisi di depan mataku. Tidak ada yang bergerak, membuka suara atau bahkan menolongku saat aku memohon dan menangis untuk melepaskan Ayahku. Setelah dua Tahun Ayahku di penjara beliau juga meninggal karena sakit dan tidak diobati. Aku memohon pada Eomonim untuk mengirimku pulang beserta jenazah Ayahku. Tapi dia menolaknya mentah-mentah, Dia bilang dia tidak akan mengeluarkan sepeser uangpun untuk seorang pengkhianat.

Kemudian aku sadar kenapa dia tetap menahanku, karena Dia membutuhkan jaminan agar keluargaku di Korea tidak bertindak gegabah dan membahayakanku di sini. Mereka tidak bisa menuntut atau menyelidiki kasus ayahku selama aku berada bersama keluarga Lee.

Setelah kepergian Ayahku semuanya terasa semakin berat. Orang-orang mulai menatapku dengan tatapan menghakimi. Tapi hal itu belum seberapa di banding kebakaran yang merenggut semua anggota keluargaku dua tahun lalu. Ibu dan dua saudaraku meninggal di sana. Polisi mengangap kejadian itu karena kecelakaan konsleting listrik.

Tidak ada rumah dan tidak ada keluarga yang membuatku tetap bertahan di sini. Pernah terlintas di kepalaku untuk kabur dan pergi. Tapi jika aku melakukan hal itu, aku akan kalah. Aku tidak bisa mencari tahu dibalik kehancuran keluargaku. Jadi hingga sekarang aku menguatkan diri hingga kesempatan mendatangiku. Aku tidak mengerti takdir apa yang mengikutiku tapi terlalu banyak kematian yang kuhadapi. Bukan hanya dari pihakku, banyak anggota keluarga, rekanan yang berhubungan dengan keluarga ini meninggal satu persatu.

“Mau berdansa denganku?” aku tersentak dari lamunanku dan menoleh ke samping. Pria dengan senyum paling berbahaya yang pernah kulihat. Cho kyuhyun, Keponakan Eomonin, sepupu dari anak-anak Keluarga Lee. Sejak dulu aku menasihati diriku sendiri agar tidak terlalu dekat dengannya. Dia sama brengsek dengan Lee Hyukjae. Padahal saat aku baru tiba di Negara ini dialah satu-satunya orang yang mau menanggapiku saat aku berbicara dalam Bahasa Korea.

Meskipun tidak terlalu mengenalnya  tapi  seingatku dulu sekali Kyuhyun adalah bocah laki-laki yang manis. Namun setelah beberapa tahun kami tidak pernah bertemu. Kami bertemu lagi saat pemakaman kakak perempuannya. Kakaknya meninggal beberapa tahun silam karena sakit, meskipun aku mendengar gossip dari para pelayan bahwa Nona Cho meninggal karena bunuh diri. Entahlah, aku juga tidak terlalu peduli mengenai kebenarannya. Setelah pertemuan saat itu aku sadar dia tumbuh sama seperti anak-anak keluarga Lee, tidak ada yang berbeda dengannya.

Menarik kedua sudut mulut “Maaf tidak bermaksud menyinggungmu, Tapi dansa pertamaku hanya untuk calon suamiku”

“Tapi sayangnya Calon suamimu tidak ada disini”

“Karena itu aku tidak akan berdansa”

Dia masih tersenyum, tidak terlihat kecewa atau tersinggung sama sekali. “baiklah. Aku sangat mengerti” Dia menunduk sopan dan meninggalkanku.

Mengangkat gaunku dan menuruni tangga, aku menuju dapur mencari Casey. Memintanya mengantarku kembali ke kamar. Sudah cukup lama aku berada di tempat pesta, setidaknya aku sudah menunjukkan wajahku.

***

Menyulam, menjahit, bermain alat musik, melukis, berdansa, membuat masakan tradisional untuk perayaan dan upacara keagamaan untuk hari khusus. Semua kegiatan itulah yang kupelajari setiap hari. Aku menanganinya dengan baik. Aku tidak diijinkan bersekolah diluar. Eomonim akan mendatangkan guru private untukku. Dia menghindari segala ekspose wartawan terutama untukku. Baginya aku adalah bisul di keluarga ini.

Aku sedang membuat bunga di kain yang akan kugunakan untuk tirai di kamar tidurku saat Casey menghampiri guruku lalu berbisik di telinganya. Aku menatap mereka bertanya-tanya sebelum Casey menegakkan badannya.

“Hyura, kau bisa melanjutkannya lagi nanti.” Kata Mrs Snow, guru menjahitku. Aku mendongak menatap Casey menuntut penjelasannya.

“Nona Catarina Lau dan Ibunya ingin menemui anda Nona” sahut Casey

Aku mengernyit “Untuk?”

“Maaf, Aku tidak tahu”

Memberikan sulamanku yang masih setengah ke tangan Casey sebelum berdiri “Tolong simpan untukku.” Dia mengangguk “Di mana mereka?”

“Di Taman utama.”

Aku mengangguk mengerti dan berjalan menuju taman utama, taman yang berada di sisi utara mansion, Oh ya kalian harus tahu bahwa rumah ini memiliki setidaknya empat Taman dan satu taman utama yang lebih indah dari ladang bunga sekalipun.

Aku menunduk hormat pada dua wanita cantik di depanku. Mereka duduk di bawah kanopi tanaman rambat dengan meja bundar yang telah di penuhi camilan manis.

“Kau pasti Park Hyura” Kata Wanita paruh baya yang masih sangat terlihat cantik di usianya.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Duduklah, jangan Sungkan. Kami juga hanya tamu di sini” Wanita yang lebih muda yang kemarin kulihat sebagai tunangan Hyukjae berdiri, menarik tanganku lembut untuk duduk di sampingnya. Catarina tersenyum lembut padaku, gadis cantik ini memiliki lesung pipit di pipi kirinya menambah kecantikannya saat tersenyum. Tidak hanya wajah, Dia juga memiliki tubuh seperti model, langsing dan tinggi semampai.

“Mau Teh?” Nyonya Lau mengangkat teko bersiap menuangkan teh untukku, aku mengangkat cangkir menerimanya. Menggumam terima kasih sebelum menyesapnya sedikit.

“Jadi, Bisakah kau ceritakan sedikit mengenai Lee Hyukjae?” Tanya Catarina

Aku menatap kedua ibu dan anak di depanku dengan tatapan ragu, ingat kan apa yang pernah kukatakan, Diam lebih berharga dari pada emas. dan sekarang aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Dia…Orang yang baik,” kataku, sangat terdengar tidak meyakinkan bahkan di telingaku sendiri.

Catarina terlihat tidak puas dengan jawabanku “Ayolah, jangan takut. Kau bebas membicarakannya di sini. Hanya ada kita bertiga, kau tidak perlu takut. Aku hanya ingin tahu orang seperti apa yang akan menjadi suamiku kelak”

Aku tersenyum kaku “Maaf, tapi sejujurnya aku tidak terlalu mengenal Lee Hyukjae. Kami jarang berbicara” kataku Akhirnya

Catarina mendengus kecewa “Kudengar dia seorang player

“Aku juga pernah mendengarnya, tapi tidak pernah melihatnya secara langsung” sahutku jujur

“Apa pertunangan ini membuatmu marah? Maksudku putriku telah menggeser posisimu” kali ini ibunya yang bertanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum “Tidak sama sekali. Perjodohan ini dibuat oleh Ayahku dan Tuan Lee, sedangkan keduanya sudah tidak ada. Jadi menurutkan dilanjutkan atau tidak itu bukan masalah”

“Lalu bagaimana dengan kehidupan di sini? apa mereka memperlakukanmu dengan baik?” tanya Nyonya Lau lagi.

Tersenyum lagi “Aku diperlakukan layaknya wanita terhormat” jawabku jujur, setidaknya mereka tidak menyiksaku secara fisik.

“Maafkan kami menanyakan hal tersebut, jangan salah paham.Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa putriku nanti. Aku mendengar apa yang terjadi pada keluargamu, kami turut prihatin” Kata Nyonya Lau tulus. “Kuharap Kau dan Catarina bisa bergaul dengan baik disini”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Mama tenang saja, Hyura akan menjadi saudari yang baik untukku” Catarina melingkarkan tangannya di bahuku, seolah kami adalah teman dekat. Tidak ada yang bisa kulakukan dengan baik sebaik tersenyum menyenangkan mereka.

***

 

“Mobil itu adalah milik seorang pengusaha botak yang mata duitan” Aku menunjuk pada mobil yang baru saja berhenti di halaman parkir. Aku sedang duduk di balkon kamarku sambil menikmati udara sore musim gugur London. Sedangkan Casey berdiri di belakang sambil menyisir rambutku.

“Kenapa Harus pria botak?” Tanya Casey

“Ya Pria Botak itu sangat menyukai uang dan takut terhadap Istrinya, namun dia juga tidak suka bermain-main dengan perempuan murahan. Dia begitu menyukai uang hingga terlalu sayang untuk memberikannya pada mereka”

“Aku pernah menemui beberapa pria botak yang sangat menyukai perempuan murahan, mereka bisa mengeluarkan uang berapapun untuk kesenangan sesaat” bantahnya

“Casey, jangan menghancurkan permainannya.” keluhku

“Permainan ini sangat aneh” gumamnya pelan.

“Bagaimana dengan pemilik mobil yang itu?” aku menunjuk mobil putih di sebelahnya.

“Pemilik mobil itu adalah seorang assistant yang sangat cakap mengerjakan tugasnya. Dia adalah seorang kaki tangan dia E.A.K”

“Kaki tangan?” tanyaku

“Nona, itu adalah mobil Natalie, mantan Asistant tuan besar dan sekarang bekerja untuk Nyonya”

Aku mendengus dan melirik Casey sebal “Casey, bukan begitu cara bermainnya. Kau tidak boleh asal bicara dan mengatakan yang sebenarnya. Kau harus mengarang sebuah cerita mengenai siapa dan bagaimana pemilik mobil-mobil itu” jelasku

“Kenapa aku harus mengarang cerita kalau aku tahu kebenarannya?”

Aku mendesah pelan sambil menerawang, “Karena kebenaran terkadang sangat mengerikan.” Aku bisa mendengar suaraku jauh lebih menyedihkan daripada seharusnya. Kemudian Pintu gerbang tiba-tiba terbuka dan masuk lagi salah satu mobil berwarna hitam. Membuat perhatianku teralih lagi.

“Lihat, sekarang giliranmu untuk menjelaskan mobil itu” kataku.

“Itu adalah mobil calon suamimu, Dia baru datang dari Prancis untuk melihat pengantinnya”

“Apa?”Aku mendongak mentap Casey. Dia mengangguk sambil menyampirkan rambutku kesisi kiri lalu memasang jepit rambut berhias batu.

“Anda sudah rapi dan cantik, saatnya bertemu dengan tuan Lee Donghae”

Dahiku mengernyit sebelum menoleh ke arah deretan mobil yang terparkir. Aku berdiri dipinggir balkon, mencondongkan tubuhku untuk memastikannya. Seorang pria berkacamata hitam baru saja turun dari mobil itu. Dia membawa tas lumayan besar di punggungnya. Mengenakan Jeans yang dipadu dengan polo shirt berwarna putih dan jaket kulit berwarna coklat. Benarkah itu Lee Donghae?

“Kau tahu dia akan pulang hari ini?” Aku berbalik menatap Casey

Dia menggeleng “Aku baru saja tahu setelah melihat mobilnya”

“Apa yang harus kulakukan? Harus terlihat sedih atau senang?”

Casey terkekeh “Bersikaplah seperti biasa Nona, sebagaimana dirimu apa adanya. Tuan Lee Donghae tidak sekaku tuan Sungmin dan tidak sebrengsek Tuan Lee Hyukjae. Dia orang yang cukup baik, Namun kau harus tetap hati-hati.Ingat apa yang pernah kukatakan?”

Aku mengangguk cepat “Jangan pernah mempercayai siapapun, termasuk dirimu”

Dia tersenyum lalu mengambil kain sutra panjang dan meletakkannya di bahuku “Tuan Lee Donghae menyukai warna biru” ujarnya. Aku menunduk dan menatap dress biru langit yang kukenakan lalu menatap Casey bingung. Bukankah Dia bilang Dia tidak tau Donghae akan pulang? Aku ingin bertanya namun tepat saat pintu kamarku di ketuk.

Casey tersenyum penuh arti padaku, dia berjalan membuka tirai yang membatasi ruang pribadiku dan ruang serbaguna sebelum membuka pintu untuk Donghae. Aku masih berdiri di balkon menunggunya masuk. Casey mempersilahkan Donghae masuk baru setelah itu dia menunduk mohon pamit.

Donghae menutup pintu di belakangnya lalu berjalan dua langkah dan berhenti. Dia tidak sampai memasuki ruang pribadiku. Yang kumaksud dengan ruang pribadi adalah ranjang dan bathtub terbuka, keduanya hanya di pisahkan tirai transparan. Sedangkan ruang pribadi dan ruang serbaguna di tutup dengan tirai yang lebih tebal.

Kami berdiri dalam satu garis lurus namun dengan jarak yang cukup jauh. Dia di dekat pintu dan aku masih berada di balkon. Bersikaplah seperti biasa Park Hyura.

Aku berjalan lambat mendekat lalu berhenti beberapa meter di depannya. sementara Donghae menatapku aneh, lalu beberapa menit kemudian Dia tertawa canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Apakah ini sangat aneh?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.

Aku menunduk memberinya salam. Tapi Dia justru telihat makin salah tingkah.“Tidak, tidak, jangan bersikap terlalu sopan padaku—” dia mengacak rambutnya.

“Maaf Jika aku menempatakanmu dalam posisi yang sulit” kataku pelan

“Aniya! Bukan itu maksudku…bagaimana aku harus mengatakannya….”

“Kalau begitu duduklah dulu”

Aku menyebutnya ruang serbaguna karena aku melakukan segala sesuatunya di sini. Ada satu kursi malas yang biasa kugunakan untuk membaca dan sisanya ada satu set sofa nyaman dan meja kursi yang sering kugunakan untuk makan bersama Casey.

Kami duduk bersebrangan di meja kursi yang biasa kugunakan untuk meja makan. Donghae bergerak gelisah, terlihat tidak nyaman di tempatnya. Dia juga tidak kunjung membuka mulutnya. Jadi aku berdehem dan memulai pembicaraan.

“Bagaimana perjalananmu?”

“Eh? Uhm..Ya, itu lumayan” sahutnya tanpa melihatku. Matanya sibuk menjelajahi kamarku, entah apa yang ada dipikirannya.

“Jangan dipaksakan. Aku tahu sekarang posisi kita sangat aneh” kataku. Dia menoleh menatapku cukup lama.Wajah kekanakannya yang kuingat tidak pernah berubah. Dia tetap Lee Donghae yang kulihat saat aku masih berumur lima belas tahun. Yang kutahu saat itu Dia anak paling cengeng di keluarga ini. Sehingga kakak-kakakknya sangat suka menggodanya. Aku tidak pernah bermain dengan mereka, aku juga tidak pernah berbicara pada mereka. Cukup berdiri dari jauh dan menonton itu jauh lebih aman.

“Bukan itu, Aku hanya—selama ini aku menganggapmu kakak iparku. Jadi sedikit aneh sekarang justru Kau menjadi calon istriku” katanya jujur.

Bagus, setidaknya Dia tidak bersikap kurang ajar seperti Lee Hyukjae. Dulu Saat mendengar bahwa aku akan menjadi tunangannya, Pria itu memberikanku buku panduan Kamasutra. Dia bilang aku harus menyenangkannya saat menjadi istrinya kelak atau Dia tidak akan pernah menyentuhku dan mengancam menyebarkan gossip bahwa aku wanita mandul.Yah, sebrengsek itulah Lee Hyukjae.

Aku tersenyum kaku “Begitu juga denganku”

“Apa kita bisa memulainya dengan perlahan?”

Aku tersenyum mengangguk, Dia membalas senyumku lalu berpindah duduk di sampingku.“Hyura. Hyura-ya? Boleh aku memanggilmu begitu?”

Tersenyum, “tentu”

“Kita punya waktu selama dua bulan. Aku meminta di tugaskan di kantor pusat. Setelah itu aku harus kembali ke Prancis. Mungkin kita tidak punya banyak waktu untuk saling mengenal” jelasnya.

“Kau bisa membawaku ke Prancis.” itu ide yang sangat menggoda. Aku ingin keluar dari sangkar ini. Meskipun ke dunia antah berantah aku akan mengikutinya asal dia bisa membawaku keluar dari sini.

Donghae terlihat terkejut tapi Aku bisa melihat binar di matanya. Hanya beberapa detik lalu Dia tersenyum kecut “Kau tahu Eomma tidak akan mengijinkannya”

Aku menunduk menyembunyikan kekecewaanku. Tubuh Donghae condong menyebrangi meja. Jari telunjuknya mengangkat daguku perlahan. “Hey” bisiknya lembut, dia memajukan wajahnya menatap mataku dalam dan berbicara bersungguh-sungguh. “Aku berjanji akan membawamu keluar dari sini. Secepatnya”

Beberapa saat aku sempat terhipnotis oleh matanya tapi aku sadar aku tidak bisa mempercayai siapapun. Mengerjap cepat sebelum menarik senyum yang biasa kugunakan.

“Terima kasih” gumamku dan menjauhkan wajahku.

Dia menurunkan tangannya “Boleh aku menanyakan satu hal”

Aku mengangguk

Dia mengusap tengkuknya sedikit tidak nyaman “Tapi ini sedikit pribadi”

Aku tersenyum samar “tentu, tanyakan saja”

“Kurang lebih selama empat tahun kau bertunangan dengan Sungmin Hyung, apa….. Apakah kalian pernah…berciuman?” tanyanya hati-hati

Aku tertawa mendengar pertanyaannya lalu menggeleng “aku baru berumur lima belas tahun saat di jodohkan dengannya. Dia tidak pernah menyentuhku, menggenggam tanganku pun tidak. Kami bahkan jarang berbicara”

“Lalu bagaimana dengan Lee Hyukjae?” matanya menyipit saat menanyakannya, seolah dia paham betul bagaimana kelakuan kakaknya yang satu itu.

“Dia selalu menciumku di setiap ada kesempatan” jawabku jujur

Rahangnya mengetat, terlihat dia tidak suka dengan jawabanku.

“Aku hanya melakukan tugasku sebagai calon istrinya” tambahku.

Dia mengangguk namun masih terlihat tidak suka. Apa Dia cemburu? Aneh sekali. Kami tidak terlalu dekat bahkan hanya mengenal nama, sebelumnya dia juga menanggapku calon kakak iparnya. Jadi kurasa dia tidak memiliki alasan untuk cemburu.

Aku tertawa canggung dan mengalihkan topik. “Kau sudah bertemu dengan keluarga Lau? Calon besan untuk Lee Hyukjae” Tidak terlalu berhasil, Donghae seperti tidak mendengarkanku.

“Donghae ssi” panggilku

Dia mendongak melihatku sejenak sebelum tiba-tiba tangannya di pipiku dan membawa bibirnya padaku. Dia melumat bibirku dan menghisapnya. Tidak tahu apa yang harus kulakukan, tubuhku mematung, tanganku tergantung disisi tubuhku, sementara tangannya yang lain melingkarkannya di pinggangku, menarikku lebih dekat. Merasa tidak mendapatkan balasan Dia melepas ciumannya menatapku marah.

“Kenapa tidak membalas Ciumanku? Bukankah Kau selalu menjalankan tugasmu sebagai seorang calon istri?” desaknya

Menggigit bibir bawahku lalu menggeleng pelan. Air mataku mulai menggenang, aku begitu malu, merasa di lecehkan. Meskipun Hyukjae selalu menciumku tapi tidak pernah seperti ini.

“A..Aku… aku tidak tahu bagaimana caranya” sahutku terbata, Menahan air mataku yang mendesak keluar.

Matanya melebar menatapku terkejut “Ta..Tapi bukankah…kau bilang…..”

Aku menggeleng lemah dan air mataku menetes.

“Ya Tuhan! Maafkan aku” Dia menarikku ke pelukannya “Maafkan aku Hyura-ya. Aku tidak bermaksud…. Ya ampun aku bodoh sekali…maafkan aku. Hyura, Aku minta maaf”

Dia menjauhkan wajahnya mengusap air mataku dengan jarinya “Maafkan aku, Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Hyura kumohon maafkan aku”

Mengusap wajahku dan membersihkan air mataku sendiri kemudian mengangguk.

“Ya Tuhan Terima kasih” sahutnya lega dan memelukku lagi.“Aku tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku” Dia meletakkan pipinya di puncak kepalaku.

“Kenapa, kenapa Kau melakukannya?” tanyaku serak

“Aku tidak tahu” gumamnya rendah. “Meskipun Kau pernah menjadi tunangan kakak-kakakku tapi sekarang Kau milikku. Aku tidak pernah menyentuh milik orang lain, jadi aku tidak ingin milikku di sentuh juga. Maaf kalau aku terdengar seperti pria gila yang posesif.”

Aku menjauhkan wajahku melihatnya, aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak tahu bagaimana rasanya. Seumur hidupku aku hanya mencintai keluargaku. Tapi melihat ketulusan di mata Donghae membuatku berharap lebih. Mungkin Dia akan menyelamatkanku, mungkin Dia bisa membantuku atau mungkin Dia benar-benar akan menyentuh hatiku. Mungkin.

***

“Jadi Kalian sudah bertemu?” Eomonim bertanya di sela-sela sarapan. Hyukjae dan Donghae duduk di sebrangku lalu Eomonim duduk di ujung meja tepat di sisi kiriku.

“Ne Eomonim” sahutku pelan tanpa melihatnya, focus pada makananku.

“Sayang sekali Catarina sudah pergi, Kau harus melihat calon istriku Brother” Kata Hyukjae pada Donghae “She’s hot” tambahnya berbisik lumayan keras.

Aku mengintip reaksi Donghae dari balik bulu mataku, Dia hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Kudengar Eomonim mendengus keras.

“Jadi—Kapan kau mulai bekerja di kantor pusat?” Tanya Eomonim pada Donghae sekaligus mengalihkan topic.

“Minggu depan. Aku ingin menggunakan minggu ini untuk mengenal Calon Istriku. Aku tidak punya banyak waktu di sini” jelasnya. Tanganku berhenti di udara saat mendengarnya, mendongak menatap Donghae. Dia juga menatapku, mata kami saling bertemu. Tapi sedetik kemudian Hyukjae bersiul membuat Donghae beralih kearahnya dan tertawa.

“Terserah” Dengus Eomonim. Jelas Dia tidak terlalu senang.

Aku kembali pada makananku dan diam-diam tersenyum. Untuk pertama kalinya selama aku hidup disini ada yang menginginkanku.

Setelah selesai sarapan Donghae membawaku ke perpustakaan, kemudian menghubungi semua guru privatku, mengatakan bahwa mereka di beri libur selama seminggu dan tidak perlu datang. Aku melihatnya sambil menahan senyum, bagaimana pria ini berbicara dan menanyakan setiap perkembanganku pada mereka. Seolah dia begitu perhatian pada apa saja yang sudah kukerjakan.

“Apa ini tidak apa-apa?” aku tidak bisa menyembunyikan kesenangan di balik suaraku.

“Hanya satu minggu, lagipula pelajaran yang kau terima hanya keterampilan. Kau bisa mengasahnya tanpa mereka”

“Gomawo” kataku lembut

“Untuk?”

“Untuk bersikap baik padaku”

Dia tersenyum kecut “Aku tidak yakin sikapku kemarin termasuk ‘baik’ dan— “ Dia berhenti terlihat ragu sejenak ”Aku tahu apa yang menimpamu—tapi Selama ini aku bersikap tidak peduli. Jadi jangan berterima kasih padaku dulu sebelum aku bisa mengembalikan semuanya”

Aku melihatnya bertanya-tanya. Apa maksudnya dengan ‘mengembalikan semuanya’

“Aku Janji akan mengembalikan senyum gadis kecil berumur lima belas tahun, saat kau pertama kali datang kesini” katanya sungguh-sungguh.

Bisakah?

Aku tidak pernah bersandar pada siapapun, aku selalu menahannya dan menangis sendirian. Mungkin terkadang Casey akan memergokiku, Dia akan memelukku menenangkan. Dan Aku sangat berterima kasih karena itu. Tapi tidak ada yang pernah berbicara padaku seperti Dia. Dia benar-benar menawarkan air segar padaku. Membuatku tergoda untuk lebih berharap dan mempercayainya. Dan kuharap aku bisa.

“Hyura-ya” Dia memanggilku seperti doa, menangkup wajahku selembut yang dia bisa. Matanya coklatnya menatapku penuh ketulusan membuat dadaku berdesir. “Jangan takut padaku. Katakan apa yang kau inginkan, katakan apa yang harus kau katakan. Jangan memendamnya sendirian, jangan memikulnya sendirian. Sekarang ada Aku, Kau bisa mengandalkanku. Hmm”

Aku mengangguk dan hampir menangis karena terharu.

Donghae memajukan wajahnya dan mengecup lembut keningku. Memejamkan mata, merasakan bagaimana bibir lembutnya menyapu keningku.

***

“Kau yakin ini pakaian yang cocok?” memutar tubuhku di cermin sambil Mengangkat tanganku menutupi belahan payudara. Ini pertama kalinya Aku menggunakan dress yang cukup ketat, Memperlihatkan semua lekuk tubuhku. Meskipun tidak terlalu pendek tapi ini sungguh aneh, Oh Ya ampun aku merasa seperti telanjang.

“Casey, Aku merasa seperti perempuan jalang, bisakah kita menggantinya?”

“Kau tidak bisa menggunakan pakaian sehari-harimu, Nona, itu terlalu sederhana. Kau juga tidak bisa memakai gaun pestamu, itu sangat berlebihan dan terlihat lucu di tempat seperti itu”

Aku berbalik melihatnya tidak setuju “Tapi aku juga tidak mau terlihat seperti perempuan murahan, Aku akan mempermalukan Donghae”

“Tidak ada yang akan menganggapmu perempuan murahan, Nona, Ini pakaian sangat cocok. Kau terlihat cantik, Tuan Donghae juga pasti akan menyukainya”

Aku memberengut “Tidak mungkin”

Casey mendesah dalam, Dia memegang ke dua bahuku dan memaksaku berputar melihat ke arah cermin. Dia menarik tanganku yang berada di payudara untuk turun.“Lihat inilah dirimu, jangan terus bersembunyi di balik dress-dress panjang seperti yang Nyonya besar katakan bagaimana seharusnya wanita terhormat berpakaian. Selama ini Kau lebih terhormat daripada Dia” Casey meyakinkanku.

Aku masih tidak setuju dengannya namun akhirnya Aku mengangguk “Jika Donghae tidak menyukainya, aku akan menggantinya tanpa ragu” kataku

Dia mengangguk “Tentu. Tanpa ragu”

Casey menyampirkan mantel di bahuku saat Donghae mengetuk pintu kamar.

“Kau cantik”

Itu kata pertama yang keluar dari mulutnya saat melihatku. Aku melirik Casey dan Dia mengedipkan matanya padaku seolah mengatakan Apa-kubilang.

Malam ini Donghae mengajakku ke Club papan atas di London. Dia bilang Hyukjae mengadakan pesta penyambutan untuknya setelah lama tidak pulang. Dia memberhentikan mobilnya di depan pintu Club. Memberikan Kunci pada petugas valley lalu menggiringku masuk. Mataku beralih pada barisan orang yang mengantri di depan pintu masuk, Sedangkan Donghae membawaku melewati pintu yang bertulis vip.

“Kita tidak perlu mengantri?” tanyaku polos

Dia terkekeh “Aku tidak akan membayar mahal jika kita perlu menunggu giliran. Kemarilah” Donghae membantuku melepaskan mantel dan memberikannya kepada petugas. Hingar bingar music langsung menyerang pendengaranku begitu kami masuk. Donghae melingkarkan tangannya di sekeliling pinggangku, menggiring kami ke tangga menuju lantai dua.

Membuka sebuah ruangan yang tidak terlalu bising dan mempersilahkanku masuk. Setidaknya di sana sudah ada setengah lusin wanita yang menggunakan pakaian super mini, masing-masing dari mereka mengelilingi Hyukjae, Kyuhyun dan dua orang pria lagi yang tidak kukenal.

Welcome home Brother” Teriak salah satunya. Dia berdiri langsung memeluk Donghae dan saling tertawa. Kemudian di susul pria yang lain baru setelah itu Kyuhyun. Hyukjae hanya mengangkat tangannya menyambut Donghae. Mungkin dia tidak bisa berdiri karena ada dua wanita yang sedang menduduki pahanya.

Baby, kemarilah” Donghae menarikku mendekat, “Guys, Ini Park Hyura, calon istriku”

Aku menunduk memberi salam.

“Hai Park Hyura” salah satu teman Donghae melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum membalasnya.

“Dia Brand Trent” Kata Donghae menunjuk pria tadi “Lalu yang di sebelahnya Jon Kim” Pria yang bernama Jon mengangkat tangannya menyapaku, aku kembali tersenyum membalasnya.

“Kau pasti sudah mengenal Dua pria ini” Donghae mengarah pada Kyuhyun dan Hyukjae.

“Wow, Park Hyura. Kau seharusnya lebih sering menggunakan pakaian seperti itu” Kata Hyukjae. Aku menunduk dan menggenggam tangan Donghae lebih erat. Dan beruntungnya Dia juga seperti tidak akan melepaskanku.

Donghae membawaku duduk di sofa sebelum dia menyalak pada kakaknya “Jaga bicaramu, Dia sekarang Calon istriku”

“Wooo easy brother, aku mengatakannya untuk kepentinganmu” Hyukjae menuangkan minuman keras ke gelas lalu menggesernya ke depan Donghae.

“Kau seharusnya mengajak Catarina” Gerutu Donghae

Hyukjae tertawa mengejek “Lalu dimana kesenangannya” dia menyesap minumannya sebelum matanya kurang ajarnya memindai tubuhku dai bawah ke atas. Membuatku mengkeret dan bersembunyi di balik tubuh Donghae.

“A..aku tidak terlalu nyaman disini” bisikku padanya. Seolah mengerti Donghae menatap tajam Kakaknya “Jaga pandanganmu” Donghae memperingatkan.

Tiba-tiba saja terdengar tawa di ujung ruangan. Itu Kyuhyun, dia tertawa geli hingga seluruh tubuhnya bergetar “Lihat Hyung, adikmu benar-benar luar biasa” katanya susah payah di sela tawanya. Hyukjae ikut tertawa, melirik kami sekilas lalu mengangkat gelasnya “Untuk Adikku dan calon istrinya”

Yang lain ikut mengangkat gelas lalu meneguk minuman mereka. Donghae juga melakukan hal yang sama, kecuali aku. Donghae memesankanku jus jeruk, aku bersyukur dia tidak menyuruhku untuk minum minuman keras. Aku tidak yakin bisa menanganinya dengan baik.

“Jadi semua anggota keluarga Lee sudah memiliki calon istri sekarang” Brand setengah mengejek, Dia mengangkat gelas dan wanita berambut pirang yang sedari tadi menempel di tubuhnya menuangkan cairan berwarna coklat ke gelasnya.“Sayang sekali, saudariku tidak bisa mendapat kesempatan” lalu meneguk minumannya.

“Kau bisa menyuruhnya menggoda Kyuhyun, mungkin dia masih berminat” Usul Hyukjae.

Kyuhyun tidak menjawab dan hanya mengacungkan jari tengahnya. Semuanya tergelak melihat ekspresi kesal Kyuhyun.

“Bagaimana Kyu? Apa Kau tertarik dengan Wanda—Adikku?” Brand menggodanya lagi.

“Tutup mulutmu!”Desis Kyuhyun dan meneguk beer langsung dari botolnya. Yang lain masih tetap tertawa mengejeknya. Sampai Dia berdiri dan mengajak wanita blasteran asia di sebelahnya. “Lebih baik aku turun daripada mendengar ocehan kalian” Sungutnya sambil lalu bersama wanitanya.

“Kenapa Dia begitu kesal?” tanyaku penasaran

Donghae terkekeh “Wanda adalah adik kembar Brand, tapi sayangnya Dia memilih jalan hidupnya sendiri dengan melakukan transgender”

Aku melongo “transgender?” ulangku

Donghae mengangguk dan terlihat senang setelah mengganggu sepupunya. Mau tidak mau aku juga tertawa kecil. Merasa lucu saat membayangkan Kyuhyun bersama seorang wanita transgender.

“Baiklah” Seru Jon, Dia berdiri dengan dua wanita di sisinya. “Waktunya bersenang-senang!”

“Woo hoo” Seru Hyukjae tak mau kalah. Mereka semua bangkit diikuti dengan para wanita.

Come on Brother” Hyukjae menggerakkan kepalanya mengajak Donghae, dalam sekejap ruangan ini tiba-tiba kosong.

Donghae beralih kearahku “Kau mau turun?”

“Aku tidak bisa menari” kataku malu

“Jangan Khawatir ada aku, cukup gerakan badanmu mengikuti music, hmm”

“Aku tidak yakin”

“Ayolah” Dia berdiri mengulurkan tangannya “Demi aku”

Meskipun ragu akhirnya aku menyambutnya dan mengikutinya keluar ruangan. Kami menuruni tangga langsung menuju ke lantai dansa. Aku berdiri di tengah-tengah orang yang saling tertawa gembira dan menggoyang-goyangakn seluruh badan mereka dari kepala hingga kaki. Aku berdiri kaku tidak tahu harus bagaimana.

Donghae mengambil kedua tanganku menggenggamnya saat music berubah menjadi lebih cepat dan semua orang berteriak kegirangan.“Gerakan kakimu, Sayang” teriak Donghae berusaha mengalahkan kerasnya music. Aku mengikuti instruksi Donghae, awalnya aku hanya menggerakkan kakiku ke kiri dan ke kanan lalu lama kelamaan pinggul, pinggang, bahu dan kepalaku mengikuti irama music.

Aku terbawa suasana dan dengan mudahnya aku tertawa bahkan cekikikan. Donghae memutar tubuhku hingga punggungku menempel di dadanya, tangannya berada dipinggulku, memimpinku untuk menggerakkanya. Kepalaku mendongak bersandar di dadanya, bau keringat dan parfumnya bercampur jadi satu membuat kepalaku berputar.

Donghae menyurukkan kepalanya di leherku, sama sepertiku dia menyukai bau tubuhku. Dia menghirupnya dalam-dalam sebelum mencium pipiku. Dia berbisik di telingaku namun aku tidak bisa mendengarnya dengan baik, yang kutahu nafasnya menyapu telingaku membuat bulukudukku meremang.

Musik berubah menjadi lebih lembut, Donghae kembali memutar tubuhku menghadapnya. Dia menunduk dan meletakan keningnya di keningku. Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan tangannya di sekeliling pinggangku. Kami bergerak lebih lambat.

“Kau senang?”

Aku mengangguk sambil tersenyum lebar, bukan hanya senang tapi sangat senang. “Gomawo” lalu memajukan bibirku menyapu bibirnya sekilas. Dia tersenyum lalu mencium keningku dalam “Apapun untukmu” katanya di keningku.

Aku menjauhkan tubuhku darinya “Aku haus”

Dia mengangguk mengerti, dia hendak menggiringku ke pinggir tapi aku menahannya.“Tetaplah, disini. Aku tidak akan lama”

“Arasseo”

Berbalik cepat menuju tempat kami, merapikan rambutku sambil mengipas-ngipas. Meskipun ada pendingin udara tapi badanku panas dan berkeringat. Aku tidak ingat kapan terakhir aku merasa sehidup ini.

Aku memutar kenop dan pintu baru terbuka sedikit, tapi aku buru-buru menutupnya lagi. Meskipun tidak lebih dari dua detik tapi aku bisa melihat dengan jelas Kyuhyun tengah berciuman panas dengan wanita yang duduk di pangkuannya.

Selama beberapa menit Aku tetap berdiri di sisi pintu, tidak tahu harus masuk atau tidak. Aku yakin Kyuhyun juga tidak peduli dengan kehadiranku, tapi tetap saja Aku merasa malu. Aku bisa saja turun ke lantai satu dan memesan minuman dari meja bar, tapi aku tidak punya uang.

“Hyura-ya, kenapa berdiri di situ”

Donghae muncul dari tangga.

“Oh, uhmm…Itu… Kenapa Kau kesini?”

“Kau terlalu lama, kupikir terjadi sesuatu. Kau sudah mendapat minumanmu?”

“Uhm, Yeah. Aku baru mau mengambilnya”

Alisnya terangkat bingung sebelum akhirnya bicara “Okey” dia melingkarkan tangannya di pinggangku lalu membuka pintu. Donghae masuk terlebih dulu, aku mengikutinya dan langsung melihat ke arah tempat duduk Kyuhyun.

Mendesah lega saat melihat wanita itu sudah tidak duduk dipangkuannya, mereka sedang bicara sambil tertawa ringan. Mungkin saling menggoda, mulut Kyuhyun begitu dekat dengan telinga wanita itu dan tangannya bergerak naik turun di paha bagian dalamnya.

Donghae mengulurkan gelas padaku, aku menerimanya dan meneguknya hingga habis. Aku sendiri terkejut aku sehaus itu. Donghae melirik jam di tangannya. “Dia mengambil Jas yang tadi sempat di lepas sebelum turun ke lantai dansa lalu memakainya.

“Kita harus pulang” gumamnya rendah.

Aku mengangguk setuju. Jika aku pulang terlambat Eomonim bisa marah.

“Kalian mau pergi?” tanya Kyuhyun dari sebrang Kursi.

“Eoh, Hyura tidak bisa pulang terlalu malam”

Kyuhyun melihat jam di tangannya lalu tertawa mengejek “Kau lebih parah dari cinderllela. Sekarang bahkan belum tengah malam”

“Terserah—Beritahu yang lain, aku pergi duluan” kata Donghae tanpa menggubris ejekannya.

“Ayolah, inikan pestamu” protes Kyuhyun

Donghae tidak peduli dan tetap membawaku menuju pintu, aku menahannya.

“Kyuhyun benar, ini pestamu. Aku bisa pulang naik taxi”

Donghae mengernyit tidak setuju

“Apa-apaan!” omelnya lebih kepadaku. “Kau datang bersamaku dan pergi bersamaku” tegasnya, dia beralih ke Kyuhyun “ Aku pergi, jangan khawatir. Aku yang bayar” dengan itu Donghae membawaku pergi dari sana.

***

“Kau terlihat sangat senang Nona” Tegur Casey.Aku mendongak dari rajutan yang sedang kubuat.

“Benarkah?” tanyaku tidak bisa menyembunyikan senyum.

Dia tersenyum lalu duduk di kursi di sebrangku “Aku tidak pernah mendengarmu bersenandung sebelumnya”

Mengangkat tangan dan menyentuh salah satu pipiku, “Apa terlihat sangat jelas?” tanyaku malu-malu

Casey mengangguk antusias “Apa ini karena Tuan Donghae?—Ya ampun ini bahkan baru hari ketiga, ceritakan padaku.” desaknya

Berdehem membersihkan tenggorokanku “Kau datang bersamaku dan pergi bersamaku” aku mengikuti gaya bicara Donghae semalam. “Dia menolak berpesta dengan teman-temannya dan memilih mengantarku pulang. Kau dengar Casey? Ini pertama kalinya seorang pria memperjuangkan kepentinganku. Tidak ada yang pernah melakukan hal itu selain Ayah dan Saudaraku” aku mengatakannya seolah itu hal yang luar biasa. seperti mukjizat yang tidak pernah kubayangkan akan terjadi pada hidupku.

“Ya aku ikut senang untukmu Nona. Aku bisa melihatnya, Sepanjang pagi ini Kau terus tersenyum seperti orang idiot” katanya sambil cekikikan

Aku ikut cekikian dengannya

“Apa Kau menyukainya?” tanya Casey. Masih tersenyum.

Aku menunduk dan mengangguk mau-malu “Dia membuatku merasakan hal yang baru” kataku mengakui.

“Itu bagus untukmu, Nona” katanya tulus

Aku mendongak melihatnya “Terima Kasih Casey”

Dia melihat ke pangkuanku “Apa itu untuknya?”

Aku tersenyum “Ya, aku ingin membuatkannya syal, sudah masuk musin gugur. Dan cuacanya akan semakin dingin—Aku baru menyelesaikannya setengah, semoga nanti malam sudah selesai. Aku ingin segera memberikannya”

“Baiklah, kubiarkan Kau menyelesaikannya. Jika perlu sesuatu Kau tahu dimana harus mencariku”

Aku mengangguk dan Casey menghilang.

Berjam-jam kemudian aku menghabiskan waktuku dengan rajutan syal. Aku memiliki waktu seharian untuk menyelesaikannya. Karena Pagi tadi sebelum sarapan Donghae mendatangi kamarku, Dia meminta maaf karena hari ini Dia harus ke kantor Kyuhyun. Jadi dia tidak bisa menemaniku.

Aku tidak keberatan dengan itu, Donghae pasti sibuk. Aku cukup menghargai usahanya untuk meluangkan waktu untukku. Dan aku akan memberikannya yang terbaik yang bisa kuberikan.

Melihat ke luar saat cahaya berubah oranye, bangkit dari kursi meregangkan tubuhku. Meletakkan rajutan di meja dan berjalan ke jendela samping. Sisi kiri Kamarku langsung berhadapan dengan westgardenia. Aku tersenyum senang saat melihat Casey berdiri di sana, di dekat kolam ikan. Aku hendak berteriak memanggilnya saat kusadari siapa yang tengah berbicara dengannya.

Senyumku tiba-tiba menghilang, Casey sedang berbicara serius dengan Kyuhyun. Casey seperti sedang menjelaskan sesuatu dan Kyuhyun mendengarkan lalu seolah mereka bergantian. Kyuhyun menjelaskan sesuatu dan Casey mendengarkannya. Aku memperhatikan mereka dengan seksama dan kebingungan. Tidak lama setelah itu mereka berpelukan, Kyuhyun dan Casey sama-sama tersenyum. Senyum tulus yang biasa Casey berikan padaku. Berbeda dengan Kyuhyun, Aku tidak pernah melihatnya tersenyum seperti itu.

Berbalik dan kembali kedalam kamar dengan jutaan pertanyaan di kepalaku. Aku tidak tahu Casey cukup dekat dengan Kyuhyun. Jika mereka benar-benar dekat itu bukan pertanda baik. Casey gadis yang baik dan dia tidak pantas untuk Kyuhyun. Kyuhyun tidak jauh berbeda dari Lee Hyukjae, bahkan mungkin lebih parah. Yang kutahu, pria itu hidup seolah tidak pernah ada hari esok.

***

Menantang angin malam di musim gugur bukan