Famiglia Part 10 ~ End

stb

Happy Reading and Sorry For Typho

***

Bukan untuk yang pertama kali Siwon menjadi penyelamatku saat terpojok, tapi dia selalu menjadi orang pertama yang selalu kupirkan dan kumintai bantuan.

Seperti sekarang!

Setelah pembicaraanku dengan Kyuhyun yang penuh emosi, aku melarikan diri ke kondo Siwon. Tadinya aku berniat menenangkan diri tapi sendirian di saat seperti ini justru membuat pikiranku semakin kalut.

Aku dan Siwon bergelung di sofa sambil menonton marathon serial friends. Dia tidak bertanya dan hanya tersenyum  sedih saat aku tiba-tiba muncul di depan pintu dengan mata bengkak.

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran para pria.” Kataku tiba-tiba.

“Huh?”

“Maksudku, lihatlah Ross yang menyukai Rachel sejak kelas sembilan tapi hanya karena Rachel tidak balas menyukainya dia menyebarkan rumor di aneh di sekolah. Padahal itu salah dia sendiri kenapa tidak mengatakan perasaannya.”

 Siwon terkekeh, “begitulah cara Ross mengungkapkan perasaannya.”

Aku mendengus, “cara yang aneh. Dia membuat kebohongan dan melukai Rachel.”

Siwon masih tersenyum, “Well, tapi karena Rachel otak udang, dia bahkan tidak sadar menjadi cemoohan satu sekolah.”

Aku ikut tersenyum, ya untuk masalah itu aku setuju. Seandainya kebodohan bisa menyelamatkanmu maka aku memilih menjadi orang bodoh.

Kami menghabiskan enam jam terakhir menonton habis satu season, badanku pegal dan aku kelaparan. Tanpa mematikan televisi Siwon beranjak ke dapur, dia membuka kulkas, lalu menggeleng lemah. “Hanya ada ramen, kau mau memesan masakan China?”

Mataku melebar dan mengangguk antusias,”jajangmyeon,”

Siwon mengangguk lalu memesan makanan dengan ponselnya. Aku menyusul ke dapur, dan mengambil duduk di kursi tinggi. Sementara Siwon berdiri di sebrangku sambil berbicara dengan pemilik restoran.

“Besok malam apa kau sibuk?” Tanyaku setelah dia menutup panggilannya.

“Besok malam?”

“Eoh, besok ada pertemuan keluarga dengan keluarga tuan Yoon, dan Eomma ingin kau juga datang.”

Ekspresinya kebingungan. “Keluarga Yoon?”

Aku tertawa hambar. “Jangan cemas, hanya makan malam biasa dan perkenalan keluarga.”

Dahinya mengernyit dalam, postur tubuhnya menegang. “Apa maksudmu dengan ‘pertemuan keluarga?'”

Mengangkat bahu pura-pura acuh, menganggap hal itu hanya sebuah masalah sepele yang tidak mengganggu dan menyebabkan mataku membengkak pagi ini.

“Pertemuan keluargaku dan keluraga So Yi untuk membicarakan masalah…pernikahan.” berusaha berbicara dengan nada sedatar mungkin namun suaraku malah hampir menghilang di akhir kalimat.

Siwon menatapku lama. Menuduh.

“Kau belum mengatakannya!”

“Huh? Mengatakan apa?”

“Mengenai hubungan kita! Kau tidak mengatakan apapun padanya!”

“A…aku belum siap. Ibuku pasti sangat terkejut!”

Siwon menggeleng lemah, Ekspresinya berubah kecewa lalu tiba-tiba dia berteriak padaku. “YA!Apa kau begitu bodoh! Hah! Kau pikir aku rela melepasmu untuk melihat kau menonton kakakmu menikahi orang lain! Kau itu bodoh atau idiot!”

            Mulutku terbuka karena terkejut butuh beberapa detik bagiku  untuk membalasnya

“Kenapa kau berteriak padaku?” balasku tidak terima.

            “Karena memang kau harus diteriaki!” Dia mendengus kasar. “Aku tidak tahu kau lebih bodoh dari yang kukira”

“Apa!” Aku melotot, “Lalu aku harus bagaimana!”

“Apapun yang bisa kau lakukan! Lakukan hal paling tolol sekalipun!” Katanya tidak sabar. “Jadilah Park Hyura yang kukenal. Bukan seperti ini,” dia menggeleng lagi, nada kecewa terdengar jelas dari suaranya. “Ini bukan seperti dirimu. Park Hyura tidak akan kalah sebelum berjuang.”

Aku mengerjap cepat, menghalau mataku yang mulai memanas.

            “A…aku, aku tidak bisa.”

Wajahku tertunduk lesu, aku tidak tuli dan aku mendengar apa yang Siwon katakan. Dan semakin menyakitkan bahwa yang dikatakannya benar. Aku sama sekali tidak memperjuangkan hubunganku dengan Kyuhyun. Tapi masalahnya apa aku masih bisa memperjuangkannya?

“Tidak! Kau bukan tidak bisa. Tapi kau tidak mau! Jika seperti ini akhirnya lalu apa artinya kesakitanku, kau dan dia!”

Air mataku jatuh tanpa bisa kucegah. “Aku tahu. Tapi bagaimana jika aku melakukannya banyak orang yang akan terluka?”

            Suaranya melemah, terdengar lelah. “Kau bukan seorang malaikat yang harus menjaga semua orang, Hyura-ya.” Siwon berjalan lambat memutari meja, dia merengkuh tubuhku lembut. “Jangan seperti ini, Hyura-ya.” Bisiknya lembut. “Kau tidak seharusnya menderita seperti ini, kau bisa melakukannya dengan lebih baik.”

            Aku memeluknya erat, dan menangis di dadanya selama beberapa menit sampai aku bisa berbicara lagi.

            “Aku bersyukur ada kau di sini.” Kataku tulus.

            Siwon menepuk punggungku. “Ya kau memang membutuhkan seseorang untuk memukul kepalamu.” Katanya dengan nada setengah bercanda namun tidak terdengar seperti itu di telingaku. Aku bisa menangkap nada sedih dibalik ucapannya.

            “Maksudku bukan seseorang. Aku bersyukur itu adalah kau, Oppa.”

            Siwon tidak menjawabku dan malah semakin memelukku. Kami tidak berbicara, hanya saling memeluk dalam diam yang nyaman. Selama bertahun-tahun hanya Siwon yang bisa memberikan kenyamanan seperti ini, layaknya sebuah rumah hangat di musim dingin. Karena itu aku bisa menyayanginya sampai taraf yang aku sendiri tidak mengerti.

***

 

            Aku tidak pulang ke rumah semalam. Terlalu lelah mungkin. Aku tidak punya tenaga untuk pulang lalu bertemu Kyuhyun. Aku memilih menginap di  tempat Siwon. Tidak ada satupun dari kami yang tidur di kamar. Aku dan Siwon tidur di depan televisi, dia di karpet sementara aku di sofa.

            Setelah sarapan di restoran langganannya, Siwon menemaniku ke butik untuk membeli pakaian, baru setelah itu dia mengantarku ke kantor.

            Aku tersenyum tulus, “Terima kasih sudah menampungku dan tumpangannya, tentu saja.”

            Siwon menjangkau wajahku, menyapu keningku sekilas. “Apapun untukmu. Dan…” tatapannya memperingatkan. “Aku tidak akan datang malam ini, jadi jangan menungguku.”

            Aku pura-pura kecewa, “Bagaimana jika aku minta kau datang untuk menyelamatkanku, apa kau juga tidak akan datang?”

            “Jangan menggodaku, Nona Park.”

            Aku terkekeh. “Aku tahu.” Menepuk bahunya, “pergilah, nanti kau terlambat.” Kataku sebelum keluar dari mobilnya.

            Setibanya di kantor, Eomma langsung menelponku dan mengomel karena seharian kemarin aku tidak bisa dihubungi dan mangkir dari jadwal perawatan yang sudah dia jadwalkan. Eomma juga mengingatkan untuk acara makan malam hari ini, yang otomatis membuatku memutar mata.

            Setelah makan siang aku membuat janji dengan salon kecantikan langganan ibuku. Aku tidak ingin terlihat berantakan saat pertemuan dengan keluarga So Yi nanti. Setelah pukul empat aku meninggalkan pekerjaanku dan menyerahkannya pada Nammie. Pergi ke butik dan memilih gaun terbaik yang bisa kukenakan.

            Pilihanku jatuh pada gaun pendek berwarna hijau pudar yang sangat pas memeluk tubuhku. Di padu dengan mantel bulu berwarna senada. Tidak lupa clutch dan sepatu berwarna hijau perak. Rambutku dibiarkan tergerai sempurna di bahu, ditambah make up natural yang menghiasi wajahku.

            Aku menyeringai.

            Kau tampak sempurna, Park Hyura.

            Tidak membawa mobil, hanya mengandalkan taxi membuatku terlambat hampir dua puluh menit. Sepatuku mengetuk-ngetuk lantai lift tidak sabar menunggu angka bergerak cepat. Aku heran kenapa ibuku harus memilih restoran di hotel setinggi ini.

            Pintu lift terbuka dengan bunyi ‘ting’ membuat dadaku berpacu lebih cepat. Menarik nafas panjang sebelum melangkah keluar.  Aku hanya perlu menyebutkan namaku dan seorang pelayan membimbingku ke ruangan private. Menarik nafas panjang lagi sebelum membuka pintu.

            “Maaf, aku terl…lambat”

 Aku tidak pernah mengharapkan pemandangan apa yang ingin kulihat di dalam sini, tapi semuanya begitu aneh. Tidak ada orang lain di ruangan ini selain ibuku, kakek dan Kyuhyun. Dan yang aneh, rambut Kyuhyun terlihat basah, begitu juga dengan kemeja bagian depan.

            Ibuku dan Kyuhyun berdiri saling berhadapan. Ibuku menatapnya penuh amarah, sementara Kyuhyun menunduk menyembunyikan wajahnya. Kakekku memejamkan mata,

meyandarkan kepalanya ditangan yang disatukan menjadi penyangga diatas meja makan. Tidak ada yang menoleh saat aku datang. Suasananya juga begitu aneh.

            Apa-apaan ini? apa yang kulewatkan?

Menutup pintu di belakangku, aku bertanya hati-hati. “Well, di mana semua orang?”

“Kau bisa menanyakannya pada anak haram ini.”Desis ibuku. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun, seolah dia ingin membakar Kyuhyun hidup-hidup dengan tatapannya.

“Shin Junghee!” Tegur kakek.

“Apa? Kenapa? Ayah masih ingin membelanya? Setelah apa yang dia lakukan pada kita?”

“Aku minta maaf.” Kata Kyuhyun pelan.

Eomma tertawa kesal. “Maaf? Kau pikir maaf bisa menyelesaikannya? Hah! Setelah kau mempermalukan kami!!”

Kakek mendesah berat, tangannya meraba-raba mencari tongkat. Dia berusaha berdiri. Aku menghampirinya, membantu kakek berdiri.

            “Bawa aku pergi dari sini, Hyura-ya. Aku tidak tahan berada di sini.”

            “Ne, Harabeoji.”

            Aku membawa kakek keluar, meninggalkan Eomma dan Kyuhyun. Aku tidak berani bertanya sampai aku sudah benar-benar keluar dari hotel dan naik taxi.

            Kakek bertanya sesaat setelah aku menyebutkan alamat rumah kami pada supir taxi. “Kau tidak membawa mobil?”

            Mengangkat bahu. “Aku meninggalkannya di rumah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Eomma sangat marah?”

            Kakek menyandarkan kepalanya di sandaran jok sambil mendesah berat. “Aku tidak tahu.” Gumamnya tidak yakin.

            “Aku tidak mengerti.”

            Dia meliriku malas, “begitu juga denganku, Hyura-ya. Aku tidak mengerti kenapa Kyuhyun melakukannya.”

            “Melakukannya?” ulangku bingung, “melakukan apa?”

            “Mengikuti kemauan ibumu.” Tatapan kakek lurus kedepan. “Aku tidak mengerti apa yang anak itu pikirkan sampai-sampai mau mengikuti rencana Junghee.” Dia melirikku lagi, “aku yakin kau juga tahu mengenai rencana ibumu untuk menikahkan Kyuhyun lebih dulu.” Kakek tertawa hambar, “padahal aku hanya ingin melihat cucu kandungku menikah, dan bukan Kyuhyun.”

            Ekspresiku berubah seketika, aku merasa bersalah di sini. Akulah penyebab kekeras kepalaan ibuku.

            Kakek melihat wajahku lalu tersenyum sedih, dia menepuk lututku, “Ini bukan salahmu. Aku tahu benar bagaimana sifat Junghee.”  Kakek menarik nafas dan membuangnya kasar, dia menggeleng lemah. “Bukan hanya ibumu, tapi aku juga kesal dengan Kyuhyun. Anak itu benar-benar membuatku malu.” Kakek tertawa kecil namun tidak ada humor sama sekali di dalamnya. “Kau seharusnya melihat wajah ibumu tadi, Hyura-ya.”

            “Apa Kyuhyun melakukan sesuatu?”

            “Hmm, dia bilang dia tidak bisa menikahi So yi, katanya gadis itu terlalu baik dan tidak pantas mendapatkannya.” Kakekku mengangkat bahu. “Aku tidak mengerti maksudnya, tapi yang jelas hal itu membuat So yi marah dan kedua orang tuanya sangat terkejut. So yi pergi sambil menangis sebelum dia menyiram Kyuhyun dengan air.”

            Mulutku terbuka, tidak tahu harus senang atau sedih mendengarnya. Tapi aku yakin aku tidak sedih mendengarnya, tapi aku juga tidak senang. Sedikit bersimpati pada So yi sebenarnya, dia pasti sakit hati.

            “Hanya itu alasannya? Kyuhyun tidak mengatakan alasan lain?”

            “Kurasa hal itu sudah cukup membuat keluarga Yoon marah pada kita.”

            Aku mengangguk lemah. Mengerti kenapa ibuku begitu marah. Dia pasti sangat malu tadi. Aku bersyukur Siwon menolak untuk datang atau dia akan menyaksikan betapa penuh dramanya keluargaku.

           “Aku merindukan rumah.” Kata kakek tiba-tiba, “dan juga jalanan ini.” tatapannya menerwang keluar jendela. “berbulan-bulan di pondok peristirahatan membuatku muak.” Katanya setengah tertawa.

            Aku tersenyum, “Kalau begitu malam ini menginap saja di rumah, besok pagi aku akan mengantar Kakek ke rumah danau, bagaimana?”

            Dia melihatku lalu tersenyum. “Kau dan Siwon.”

            “Huh?”

            “Aku ingin membicarakan masalah pernikahan dan perusahaan dengan kalian. Besok ajak dia ke rumah danau.”

            “Ha…haraboeji, aku tidak yakin Siwon bisa datang. Dia harus bekerja, lagipula besok bukan akhir pekan.” Aku memberikan alasan yang paling masuk akal, tapi kakek sepertinya tidak setuju.

            “Apa kau sudah menentukan tanggalnya?”

            “I…itu…aku belum membicarakannya lebih jauh.”

            Kakek terlihat tidak senang. “apa kau ingin menungguku terbaring di peti mati dulu baru kau mau menikah!”

            “Harabeoji…”

             “Hyura-ya, aku tidak sekuat yang kukira. Obat-obatan sialan itu tidak membuatku sembuh, mereka hanya membuatku semakin merasakan sakit…”

            “Harabeoji!” aku mengeluh tapi dia tidak mau berhenti.

            “Aku juga tidak bisa terus-terusan mengandalkan morfin, semakin lama efeknya semakin berkurang. Apa kau mau melihatku terus tersiksa seperti ini.”

            “Lalu setelah aku menikah apa kau berharap akan segera mati!” tukasku tidak sabar.

            “Setidaknya aku tidak memiliki penyesalan. Apa kau tahu, setiap detik aku dihantui ketakutan bahwa aku tidak bisa melewati hari ini. Sementara aku belum mau mati sampai aku melihat cucuku menikah.”

            “Harabeoji! Berhentilah mengaitkan kematian dengan pernikahan, kau membuatku takut.”

            “Karena memang itulah kenyataan yang harus kau hadapi. Setelah aku pergi setidaknya kau memiliki seseorang yang bisa menjagamu. Kau tidak memiliki Ayah, begitu juga dengan kakakmu. Dan cepat atau lambat aku harus meninggalkanmu. Aku tidak akan bisa pergi dengan tenang sampai ada seseorang yang bisa mendampingimu, cucuku.”

            “Bagaimana dengan Kyuhyun?” gumamku muram.

            Wajah kakek berubah sedih. “Dia tidak memiliki ikatan apapun dengan keluarga kita. Aku tahu hanya aku yang membuatnya bertahan. Mungkin dia juga akan pergi bersama Ahra setelah aku pergi.”

            Aku tidak menyangka kakek bisa membaca apa yang Kyuhyun pikirkan. Jika aku menjadi dia, aku juga akan pergi, daripada harus terjebak dalam keluarga ini.

            “Awalnya aku berharap banyak pada So yi, mungkin dengan pernikahan ini akan membuat Kyuhyun tetap tinggal. Tapi…” kakek mendesah berat. “sepertinya anak itu benar-benar ingin pergi.”

Mungkin saja dia memang berharap seperti itu. terlepas sama sekali dari semua hal sialan yang telah kami lakukan padanya, terutama apa yang aku lakukan.

Sepuluh menit kemudian kami tiba di depan gerbang rumah. Kakek tersenyum saat Kim Ahjumah membukakan pintu. Jelas kakekku sangat merindukan rumah kami. Aku mengantarnya ke kamar sebelum aku kembali ke kamarku. Membersihkan make up dan mengganti bajuku. Saat menggantung dress yang tidak lebih dari tiga jam kupakai, memandanginya cukup lama. Sayang sekali, padahal aku ingin tampil sebaik mungkin didepan keluarga So yi.

Saat berbaring di ranjang aku sama sekali tidak bisa terlelap. Otakku terlalu aktif memikirkan kejadian di restoran tadi. Bertanya-tanya apa Kyuhyun akan pulang ke rumah atau pulang ke rumah danau? Lalu bagaimana dengan ibuku?

Bersamaan dengan itu aku mendengar suara pintu gerbang terbuka dan disusul dengan deruman mesin mobil. Aku bangun seketika dan mengintip dari balik tirai. Aku melihat marchedez benz ibuku masuk ke dalam garasi. Bahuku turun seketika. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan karena jujur saja aku kecewa. Kupikir Kyuhyun akan pulang. Dengan kembalinya ibuku jelas Kyuhyun tidak akan pulang ke rumah. Ibuku pasti tidak ingin melihat wajahnya.

Mendesah berat, aku kembali ke ranjang dan mencoba tidur.

***

Hal pertama yang kulakukan saat sampai dikantorku adalah menghubungi Yuri. Menanyakan jadwal Kyuhyun. Aku lega mendengar bahwa dia tidak absen hari ini karena dia memiliki dua pertemuan  penting. Sialnya, begitu juga denganku. Jadwalku hari ini cukup padat.

Tepat jam tujuh sebelum pulang, aku menyempatkan diri naik ke kantor Kyuhyun. Yuri sudah pulang, mejanya juga sudah bersih. Tapi aku masih bisa melihat cahaya dari celah bawah pintu ruangan Kyuhyun.

Menarik nafas dalam sebelum mengetuk dua kali lalu membukanya. Kyuhyun berpaling dari komputer ke arah pintu.

Untuk sesaat dia terlihat terkejut, namun sedetik kemudian wajahnya berubah datar dan bibirnya tertarik kebelakang. Senyum yang tidak pernah kusukai.

“Boleh aku masuk?” Tanyaku.

            “Masuklah, Hyura-ya”

            Menutup pintu di belakangku, berjalan ke mejanya lalu menarik kursi.

            “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya kelewat sopan setelah aku duduk. Aku benci melihat hubungan kami seperti ini, seolah ada jurang kasat mata yang memisahkan kami berdua.

            “Kau membuat Eomma marah.” Kataku memulai, Kyuhyun tersenyum miris.

            “Bukan hal yang asing bagiku.” Dia menyandarkan kepalanya di punggung kursi sambil melipat tangan di di depan dada.

            “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanyaku.

            Dia menatapku lama sebelum mendorong kursi ke belakang, berdiri dengan kakinya. “Bukan apa-apa, Hyura-ya. Kau tidak perlu cemas. Aku sama sekali tidak membahayakan posisimu.” Dia memunggungiku, menatap ke arah kaca. Dia pikir aku peduli dengan posisiku.

            “Kenapa tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan kalian?” tanyaku lagi.

            Kyuhyun tidak menjawabku, dia tetap diam. Sampai aku harus memanggilnya memastikan dia mendengarku.

            “Kyuhyun-ah?”

            “…”

            “Kyu, Lihat aku.” Aku mendorong kursiku, berdiri tapi tidak berani mendekat.      “Meskipun pernikahanku batal, aku bisa menjamin aku tidak akan membahayakan posisimu.”

             “Berhenti membicarakan posisiku!” kataku tidak sabar.

            Dia berbalik, melihatku lelah. “Lalu kau ingin aku bicara apa? Jika kau menginginkan penjelasan aku tidak bisa mengatakan apapun. Dan jika kau merasa aku mempermalukanmu seperti yang ibumu rasakan, aku minta maaf. Hanya itu yang bisa kukatakan.”

            “Kyuhyun-ah…” aku baru mau melangkah mendekat tapi dia mundur,  menggeleng lemah, mengisyaratkan agar aku tetap menjaga jarak.

            “Kenapa?” tanyaku lirih.

            “Hyura-ya…” dia menatap lantai sejenak, dengan hembusan nafas berat sebelum mengangkat wajah lelahnya saat melihatku. “Kumohon, jangan membuatku semakin sulit.”

            Aku menggeleng kuat, “aniya Kyuhyun-ah. aku tidak akan begitu. Aku akan memperjuangkanmu, aku…”

            Kyuhyun memotongku keras.“Park Hyura!” dia mengusap wajahnya kasar, menatapku memelas. “Kumohon, bisakah kita tidak membicarakan masalah itu lagi? Aku sudah melepaskanmu, aku sudah berusaha melakukan yang bisa kulakukan… jadi… kumohon jangan mendorongku lebih jauh.”

            Kakiku gatal ingin melangkah mendekat lalu memeluknya, aku merindukannya tapi bisa jadi Kyuhyun akan semakin defensif. Aku telah melukainya dan dia memasang benteng agar aku tidak melakukannya lagi.

            “Kau tidak bertanya-tanya kenapa semalam Siwon tidak datang bersamaku?”

            “Itu bukan urusanku.” Sahutnya enggan, dia memunggungiku lagi.

            “Kyu, Lihat aku!”

            “…”

            “Cho Kyuhyun!”

            Dia berbalik cepat menatapku kesal. “Apa!” bentaknya. “Kau pikir aku peduli alasan tunanganmu! Aku bahkan tidak peduli dia datang atau tidak.”

            “Bisakah kau mendengarkanku dulu?” desahku.

            Kyuhyun masih menatapku kesal sebelum dia mendengus kasar, melihatku menunggu.

            “Aku dan Siwon memutuskan untuk membatalkan pertunangan kami.” Aku berhenti sejenak, melihat reaksi Kyuhyun, tapi dia tidak beraksi apa-apa, hanya diam menungguku. “Aku ingin mengatakannya padamu tapi aku tidak memiliki kesempatan sampai…” menelan gumpalan ditenggorokanku saat mengingat Kyuhyun dan So Yi hampir berciuman. “Sampai aku melihatmu dengan So yi dan kau memergokiku di perpustakaan.”

            Kyuhyun tidak beraksi apapun. Kami sama-sama terdiam selama beberapa menit.

“Kumohon Kyu, katakan sesuatu.” Aku memelas.

            “Apa yang ingin kau dengar?” tanyanya datar.

            “Apa?”

            “Apa yang ingin kau dengar dariku, Park Hyura?”

            Aku membuka mulutku untuk menjawabnya tapi tidak ada satu katapun yang keluar. Mungkin ini bukan saat yang tepat setelah aku dan dia sama-sama mengalami kegagalan dalam rencana pernikahan kami, mungkin kami masih membutuhkan waktu—mungkin. Tapi aku tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi. Aku tidak membutuhkan kesempatan, aku yang akan menciptakannya. Tidak peduli meskipun aku terlihat seperti wanita jalang serakah. Aku tidak ingin kehilangan Kyuhyun, tidak lagi.

“Aku…aku…aku tidak ingin melepaskanmu. Aku mencintaimu, Kyu. Katakan padaku apa yang harus kulakukan, aku akan melakukannya untukmu. Kau hanya tinggal mengatakannya.” Aku mengatakan hal yang sama saat dia ingin memperjuangkanku, dan aku ingin menunjukkan bahwa aku juga bisa melakukannya. Aku akan melakukan apapun untuknya.

 “Kau tidak perlu melakukan apapun. Cukup diam saja dan jangan menggangguku—seperti dulu.”

            Mulutku tercengang. Sama sekali bukan jawaban yang ingin kudengar.

 “A…apa?”

            Dia berbalik membelakangiku. Dalam keadaan seperti ini aku benci melihat punggungnya, aku harus melihat wajahnya.

            “Apa perasaanmu berubah?” tanyaku bergetar. Aku tidak yakin ingin mendengar jawabannya tapi aku tetap bertanya.

            Dia tetap diam, tidak menjawabku ataupun melihatku. Mataku mulai tersengat.  Aku memang tidak berharap Kyuhyun akan menerimaku dengan mudah setelah apa yang kulakukan. Tapi aku tidak bisa menghadapi jika perasaannya berubah. Membayangkan dia tidak menginginkanku lebih parah dari pernikahannya dengan So yi, setidaknya saat itu aku tahu hatinya masih milikku.

            “Jawab aku Cho Kyuhyun. Apa perasaanmu berubah?”

            “Apa itu penting? Perasaanku?”

            “Cho Kyuhyun!”

            Dia berbalik cepat, “apa selama ini perasaanku penting bagimu?” semburnya. “Kau bahkan tidak pernah peduli, Hyura-ya. Seberapa banyak aku mengungkapkan perasaanku kau hanya menganggapnya angin lalu dan tetap melakukan apa yang kau inginkan!”

            “Yang aku inginkan?” aku mendengus tidak percaya, “Kau tahu aku tidak punya pilihan. Aku tidak pernah ingin menyakitimu. Tidak sama sekali. Aku mencintaimu, Kyu.”

            “Lalu?”

            Dahiku berkerut “Apa?”

            “Lalu apa ada perbedaannya?” dia menyeringai,  melihatku muak “Kau akan tetap memilih pria lain, Park Hyura!” aku membuka mulutku namun dia memotongku cepat. “ Jangan menggunakan ibumu ataupun statusku sebagai alasan!”

            “Aku tidak punya pilihan. Kau melihat bagaimana posisiku. Harus bagaimana lagi aku memberitahumu?” sahutku frustasi.

            “Ya, Kau punya. Kau bisa memilihku dan memperjuangkannya bersamaku tapi ternyata kau tidak.” Dia membuang muka dan menggeleng. “Aku bahkan tidak mengerti kenapa sekarang kita harus membicarakan hal ini lagi.”

            Aku berjalan lambat ke arahnya, berhenti tepat di depan Kyuhyun. Mengangkat tanganku menangkup wajah Kyuhyun agar dia melihatku. “Karena memang kita harus membicarakannya.” kataku pelan. “Biarkan aku memperbaiki kesalahanku, izinkan aku mengembalikan kesempatan yang sudah kulewatkan. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku mencintaimu, Kyu.”

            “Tidak.” Dia menjauhkan wajahnya dari jangkauanku. Tanganku terjatuh begitu saja di kedua sisi tubuhku. Jawabannya seperti tamparan keras untukku.

Mengerjap dua kali sampai aku bisa menemukan suaraku lagi. “A…Apa?”

            “Tidak, Hyura-ya. Itulah jawabanku.”

            Aku memaksa tersenyum, “Jadi benar, Perasaanmu berubah.”

            Dia tertawa getir, “enam belas tahun perasaanku bertepuk sebelah tangan. Sekuat apapun aku berusaha menghilangkannya aku tidak sanggup. Aku juga tidak mengerti. Tapi selama itu aku baik-baik saja karena aku tidak pernah berharap kau akan membalas perasaanku. Tapi saat aku tahu aku memiliki harapan aku terluka lebih parah. Sekarang kau bisa mengatakan mencintaiku, lalu di hari berikutnya kau akan meninggalkanku.” Dia menggeleng lemah. “aku tidak yakin bisa melaluinya lagi untuk yang kesekian kalinya, Hyura-ya. Tidak lagi.”

            Dia tidak mempercayaiku, bukan sesuatu yang mengejutkan.

“Kau ingin aku membuktikannya?” kataku bersungguh-sungguh.

            “Tidak, Hyura-ya. Kau tidak perlu membuktikan apapun. Aku sudah melepaskanmu, dan kuharap hubungan kita bisa kembali seperti dulu.”

            Aku menggeleng keras, “Aniya, aku tidak ingin berakhir seperti ini, Kyu. Aku mencintaimu. Bagaimana aku harus membuktikannya?”

            “Akhir?” dia tertawa hambar. “Aku bahkan tidak yakin kita pernah memulainya.”

            Tanpa bisa kucegah Air mataku turun. Suaraku setengah putus asa, setengah memohon. “Aku tidak ingin seperti ini, Kyuhyun-ah. Katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya.”

            “Kau ingin memperbaikinya?”

Aku mengangguk pasti.

Dia menyentuh kedua bahuku, menurunkan wajahnya hingga sejajar denganku. “Jadilah adik yang manis untukku.” Bibirnya tertarik kebelakang, memperlihatkan bagaimana dia bisa tersenyum palsu layaknya kakak laki-laki bagiku. Kyuhyun mengusap puncak kepalaku sebelum berjalan menjauh meninggalkanku sendirian di ruangannya.

            Kyuhyun masih mencintaiku, aku yakin itu, tapi dia tidak mempercayaiku. Atau mungkin dia percaya tapi…. Tapi dia memiliki kemungkinan lain. Tanganku meraba-raba mencari pegangan agar tidak terjatuh. Menutup mulutku agar isakanku tidak terdengar. Menyadari bahwa  bahwa perkiraan kakek benar, dia akan pergi setelah kakek pergi. Kyuhyun tidak memilihku maupun So Yi. Dia memilih dirinya sendiri dan Kakaknya. Sekarang aku mengerti kenapa dia membatalkan pernikahannya. Karena Menikah dengan So yi bukanlah keputusan yang bijak jika dia ingin melepaskan diri dariku —dari keluargaku.

            Seolah mati rasa aku seperti zombie saat kembali ke kantorku. Beruntung ini sudah malam dan tidak ada orang, atau karyawan lain akan menganggapku sudah gila. Well, memang tidak semuanya. Aku melihat Nammie sedang membereskan mejanya, bersiap pulang. Dia mendongak saat mendengar suara langkahku.

            “Hyura-ya?” Dia melihatku seksama, lalu ekspresinya berubah cemas. “apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”

            Aku tidak menjawabnya dan balik bertanya. “Kau mau pulang?”

            “Eoh, dari mana saja kau?”

            “Kau punya waktu sebentar? Mau pergi minum denganku?”

Nammie mempelajari ekspresiku sebelum dia melirik jam ditangannya dan mengangguk. “Tentu.”.

Aku tersenyum tipis. Matanya masih mengawasiku saat aku menghilang ke dalam kantor. Penasaran dan khawatir menyelimuti wajah sahabatku sepanjang perjalanan kami ke club. Dulu waktu kuliah aku dan Siwon sering berkunjung ke club saat akhir pekan. Selain meredakan stress di tempat ini juga kami bersosialisasi dengan kalangan para anak-anak pebisnis sukses. Siwon yang mengajariku pentingnya menciptakan hubungan baik untuk mendukung posisi kami di masa depan.

            Aku tidak mencari meja melainkan langsung menempati meja bar.

            “Satu margarita” Kata Nammie saat bartender menghampiri kami, pria tinggi namun berperawakan kekanak-kanakan—menatapku menunggu pesananku. Aku bertanya-tanya berapa umurnya? Apa pemilik club ini tidak akan mendapat masalah jika ketahuan mempekerjakan anak di bawah umur.

“Hyura-ya?” suara Nammie menarikku dari kecemasan tidak berdasar, apa urusanku dengan pria ini.

Aku mengangkat bahu. “vodca.”

            Nammie menelengkan kepalanya dengan mata melebar. “Vodca?” tanyanya tidak percaya.

            Aku hanya mengangkat bahu bersamaan bartender menghilang dari hadapan kami. Nammie memutar kursi tinggi menghadapku “Kau tidak pernah minum vodka, Park Hyura!”jelas dia terdengar tidak senang. Matanya melihatku cemas. “Apa terjadi sesuatu?”

            “Pertunanganku batal” kataku sedatar mungkin, menatap nanar jejeran botol-botol di sebrang kami, tidak yakin apa yang harus kukatakan padanya selain fakta bahwa pertunanganku memang batal.

            “Bagaimana bisa?” tidak ada nada terkejut dalam suara sahabatku, hanya keheranan.

            “Sepertinya kami memang lebih cocok berteman.” Jawabku bersamaan saat bartender membawa pesanan kami. Menuang cairan berwarna coklat bening ke gelas dan langsung meminumnya dalam sekali tegukan. Sedikit mengernyit saat rasa pahit alcohol melewati mulutku dan membakar tenggorokanku. Tapi inilah yang kubutuhkan.

            “Serius?”

            Mengangkat bahuku lagi sebelum meneguk gelas kedua.

            Dia menggeleng lemah, menyesap margaritanya. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.” Nammie memutar duduknya, memandang lurus sang bartender yang sedang bekerja. “Aku yakin kau menyadari hal itu sejak lama, bahkan saat kalian baru mulai berpacaran. Tapi kenapa kau justru memutuskannya setelah bertunangan.”

            Aku tidak menyahutinya, aku sendiri tidak yakin. Benarkah aku menyadarinya sejak dulu? tidak, kurasa tidak. Karena Nammie tidak mengerti bagaimana kebutuhanku akan kehadiran Siwon. Menuang alkohol ke dalam gelas dan meneguknya lagi. Aku tidak menunggu jeda dan terus meminumnya hingga tinggal seperempat. Aku tidak tahu toleransiku sekuat ini. Kepalaku sedikit pusing tapi aku masih sepenuhnya sadar.

            “Apa ibumu sudah tahu?” tanya Nammie.

            Aku menggeleng, bersamaan saat meminta botol kedua pada bartender.

            “Park Hyura!” tegurnya. “Kau mau mabuk-mabukkan?”

            Memutar kepalaku kearahnya meskipun rasanya berputar-putar. Melirik margaritanya yang tinggal sedikit, sebelum memandang wajahnya, berusaha memfokuskan pandanganku.

            “Kau juga boleh memesan gelas keduamu, Nammie sayang.” Meskipun pusing tapi badanku terasa ringan, ini mengejutkanku. Wajah Nammie berubah cemberut, entah kenapa itu hal terlucu yang pernah kulihat. Aku tertawa sangat keras sampai mengeluarkan air mata, namun anehnya air mataku tidak mau berhenti  dan terus mengalir. Ada apa denganku?

            Detik berikutnya aku merasakan tangan Nammie melingkupku. Dia memelukku erat.

            “Hyura-ya, kau tidak perlu begini.”Nada prihatin terdengar jelas dalam suaranya. Nammie  mengelus punggungku lembut.

            “Aku…aku tidak tahu kenapa aku begini.” Kataku terisak, aku bahkan tidak tahu kenapa aku menangis.

            Dia menjauhkan wajahnya, “Sebaiknya kita pulang.”

            Mengusap airmataku, Aku menggeleng kuat. Tidak, aku tidak mau pulang. Lebih tepatnya aku tidak tahu harus pulang kemana? Ke rumah atau ke rumah danau. Mengingat kakekku sekarang berada di rumah. Aku tidak ingin mengambil resiko dan bertemu dengan Kyuhyun, lalu dia melihat keadaanku yang menyedihkan ini.

            “Hyura-ya.” Keluhnya.

            “Bawa aku ketempat Siwon.” Pintaku.

            “Apa?” Dia melihatku seolah aku sudah gila. “Aku tidak akan membawamu ketempatnya! Kita pulang!”

            “Tidak, Nammie-ya. Aku tidak mau pulang.” Aku mulai merengek.

            Dia mundur selangkah sambil bertolak pinggang, memandangku jengkel. “Apa sih yang kau pikirkan! Dia bukan lagi tunanganmu dan kau meminta untuk mengurusmu yang setengah teler!” omelnya keras tanpa menghiraukan orang-orang yang mulai memperhatikan kami.

            “Tapi dia temanku!”

            “Oh Ya Tuhan!” dengusnya tidak percaya. “Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, Park Hyura!”

            Dia tidak tahu dan dia tidak paham bahwa Siwon adalah orang yang paling bisa mengerti keadaanku.“Siwon bukan orang seperti itu.”

            “Terserah! Yang jelas kau tidak akan membawamu bertemu dengannya.”

Aku bersikeras dan menggeleng. “Aku tidak akan kemana-mana kalau begitu.”

            “Baiklah, terserah! Urus dirimu sendiri!” katanya sebal. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan membantingnya ke meja bar sebelum berteriak ke arah bartender. “Hey, Kau! Urus wanita gila ini!” setelah itu dia berbalik menjauh meninggalkanku. Lihatlah kelakuannya, Dia benar-benar bukan teman yang setia kawan.

            Bartender muda di depanku melongo kebingungan. Aku mengayun telunjukku, mengisyaratkan agar dia mendekat.

            “Berikan aku satu botol lagi,”

“Tapi Nona…” dia terlihat ragu.

           “Berikan aku satu botol lagi!” potongku keras. Aku yakin aku masih sepenuhnya sadar dan aku belum mabuk, hanya sedikit pusing. Dia masih terlihat ragu. Mendesah berat sambil mengeluarkan dompet dan pulpen. Mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menuliskan alamat Siwon dia atas tisu. Aku menyodorkannya ke arah bartender muda. “ini”

            Dia melihatnya kebingungan.

            “Aku janji setelah botol keduaku aku akan pergi, dan jika aku sudah tumbang maka panggilkan aku taksi dan bawa aku ke alamat ini. Kau mengerti?”

            Dia menatapku cukup lama sampai akhirnya mengangguk dan mengambil uangku juga alamat Siwon.

            “Ngomong-ngomong siapa namamu?” tanyaku saat bartender muda kembali membawakan sebotol vodca untukku. Aku langsung menuangnya ke gelasku dan meminumnya. Ini lebih keras daripada yang sebelumnya atau mungkin perasaanku saja. Mulutku terasa kebas dan aku tidak bisa merasakan gigiku. Tapi itu tidak membuatku berhenti. Aku menuangnya lagi.

            “Namaku Lu Han, Nona” jawabnya

            Aku terkikik. “Nama apa itu? jujur saja namamu terdengar lucu di telingaku. Luhan?”

            “Lu Han. Itu nama tiongkok” sahutnya tersinggung.

            “Aaa, jadi selain di bawah umur kau juga seorang imigran?” mataku menyipit “apa kau imigran resmi?”

            Dia mendesah berat. “Nona, aku tidak dibawah umur.”

            Aku mengayunkan tanganku tidak peduli. Luhan si imigran mendengus lalu pergi meninggalkanku melayani pelanggan lain. Sementara aku menyibukkan diriku menenggak cairan bening berwarna coklat itu sampai rasanya aku tidak bisa lagi mengangkat kepala. Membuatku bertanya-tanya, jangan-jangan si imigran itu memberikanku minuman yang berbeda.

***

            Ini lebih buruk dari terakhir kalinya aku mabuk. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa pulang. Jika Luhan si imigran benar-benar melakukan apa yang kusuruh maka aku berjanji akan kembali lagi ke sana dan memberikannya uang tip yang lebih besar.

            Tapi sepertinya hal iti tidak akan terjadi saat aku membuka mata dan menyadari aku tidak di kamarku ataupun di kondo miliki Siwon. Seharusnya bukan hal yang aneh saat kau mabuk, tumbang, lalu bangun di tempat asing keesokan harinya. Tapi masalahnya ini sama sekali bukan tempat yang asing, bahkan sangat familiar, bau pinus dan dekorasi dinding semua terbuat dari kayu.

 Oh sialan.

Aku terbangun cepat dan mengerang saat nyeri hebat di kepalaku. Memijatnya keningku untuk mengurangi pusing namun sepertinya hal itu sia-sia. Kepalaku benar-benar sakit. Sebenarnya apa sih yang kupikirkan semalam sampai minum sebanyak itu. Tapi sepertinya aku tidak berpikir sama sekali. Tidak, tentu saja tidak. Aku bahkan tidak menggunakan pikiranku dengan benar kemarin.

            Melihat ke bawah, menyadari selimutku turun sampai kepinggang. Aku hanya menggunakan pakaian dalam. Sepasang bra dan celana dalam berenda berwarna putih. Dahiku berkerut. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, bagaimana caranya aku pulang dan berakhir di rumah danau dengan keadaaan setengah telanjang. Mengulang kejadian semalam seperti kaset di kepalaku tapi tidak ada satupun yang bisa kuingat setelah aku berbicara dengan bartender si Imigran. Tunggu, bartender itu yang bertugas memanggilkan taksi untukku. Apa jangan-jangan aku salah tulis alamat? Aku tidak mungkin semabuk itu sampai salah tulis alamat.

            “Arggghhh, sebenarnya apa yang terjadi padaku?” erangku frustasi sambil menjatuhkan tubuhku lagi ke ranjang. Melongok ke dalam selimut, aku baru sadar bauku seperti kotoran. Aku bahkan tidak ingat aku muntah.

            Mengabaikan sakit di kepalaku dan bangkit menuju kamar mandi. Di sana aku melihat kemeja dan rokku tergantung. Benar saja di bagian depan kemejaku penuh dengan noda bekas muntahan. Aku mengernyit jijik seraya bersyukur tidak mengingat momen menyebalkan itu.

           Membersihkan diri secepat yang kubisa, mengeringkan rambut dan melupakan kerepotan make up di pagi hari. Aku tidak punya banyak pilihan disini. Begitu juga dengan pakaian. Meskipun memiliki beberapa pakaian cadangan tapi bukan pakaian formal untuk pergi bekerja. Oh ya ngomong-ngomong bekerja jam berapa sekarang? Aku pasti sudah sangat terlambat.

            Mengambil pakaian pertama yang bisa kutemukan, dress musim panas berwarna biru. Orang bodoh mana yang menyimpan dress musim panas di musim seperti ini? tentu saja orang itu adalah aku.  Menggeleng cepat dan memakainya, aku tidak punya pilihan lain, yang  jelas aku butuh coat, dress ini terlalu tipis.

            Hal pertama yang kubutuhkan adalah ponsel, tapi aku tidak menemukan tasku dimana-mana meskipun aku mencarinya di semua sudut kamar ini. Ugh, hal sialan apalagi yang harus kualami. Berjalan cepat keluar kamar, hampir tersandung kakiku sendiri saat pintu terbuka dan melihatnya. Berpegangan pada kusen pintu untuk menyeimbangkan tubuhku.

            Kyuhyun duduk bersandar di kursi malas, tempat yang biasa kakek dudukki. Dia mendongak saat mendengar suaraku. Aku bersumpah wajahnya terlihat lebih cerah ketimbang kemarin. Dan dia tersenyum tipis padaku! maksudku benar-benar tersenyum, bukan senyum pura-pura yang sering dia perlihatkan. Aku hampir tidak percaya setelah kejadian kemarin dia masih bisa tersenyum seperti itu padaku.

            Jadilah adik yang manis untukku.

            Kata-katanya berputar di kepalaku. Apa dia mencoba bersikap manis padaku? lalu Apa aku juga harus bersikap seperti dia? Bisakah aku melakukannya?

            Ya,kau bisa. Kau harus bisa, Park Hyura.

Setelah apa yang kulakukan padanya, setidaknya aku harus menghargai keputusannya. Meskipun benci untuk mengakuinya tapi pergi adalah keputusan terbaik untuk Kyuhyun dan kakaknya. Bahkan seandainya Ibuku mengetahui keberadaan mereka, rasanya sulit untuk menerima keberadaan Ahra Eonni.

            Menarik nafas panjang sebelum membuka mulutku. “Kau tahu membuka ponsel orang lain adalah suatu kejahatan…Oppa.”

            Ponsel yang kucari berada di tangan Kyuhyun sekarang. Begitu juga dengan tasku yang tergeletak di sampingnya.

            Kyuhyun sedikit tersentak dan senyum diwajahnya langsung menghilang saat mendengar caraku memanggilnya. Namun dia bisa menguasai ekspresinya lagi. Kyuhyun mengangkat bahu.

            “Barusan Asistentmu menelpon, aku hanya menjawabnya.”

            Aku mengangguk. Berjalan mendekat dan menyodorkan tanganku. Kyuhyun memberikan ponselku. Pura-pura sibuk memeriksanya saat kembali bertanya.

            “Semalam, kau yang membawaku pulang… Oppa?” caraku memanggilnya terdengar aneh bahkan di telingaku sendiri. Kyuhyun juga pasti merasakan hal yang sama. Terlihat bagaimana dia tidak terlalu nyaman.

            Dia berdeham sebelum menjawab“Asistantmu yang menelponku.”

            Sialan.

            Aku bersumpah Nammie akan menerima pembalasannya, setelah meninggalkanku dia malah memanggil Kyuhyun dan bukannya melakukan apa yang kuminta.

            “Maaf, aku tidak bermaksud merepotkanmu, aku…”

            “Makanlah dulu.” potongnya. Dia berdiri, melewatiku berjalan ke arah meja makan. “Aku memasakkan sup untukmu. Aku yakin kepalamu masih sakit.”

            Well, aku bahkan melupakan sakit di kepalaku saat melihatnya.

Aku tersenyum ramah dan menggeleng. “Terima kasih, tapi aku sudah sangat terlambat.” Mengambil tasku dan hendak beranjak saat Kyuhyun membuka suaranya.

“Dengan apa kau akan pergi ke kantor?” dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyeringai.

“Huh?”

“Bukan ‘huh’ tapi dengan apa, Nona Park?”

“Ah itu, aku akan…” sial, aku baru ingat Kyuhyun yang membawaku pulang, itu berarti mobilku masih berada di club.

“Sekedar informasi, di sini kau tidak bisa menemukan taksi.” Bibir Kyuhyun bergetar menahan senyum. Apa menurut dia ini lucu?

Meletakkan kembali tasku, menatapnya penuh harap, “apa kau mau mengantarku?” tanyaku hati-hati.

“Tergantung.”

“Tergantung?” ulangku.

“Yeah, tergantung bagaimana sikapmu.”

“Kenapa dengan sikapku?”

Sekarang dia benar-benar tersenyum. Apa-apaan sih? Aku tidak melihat ada yang menarik di sini.

“Bersikaplah dengan baik, Nona Park. Nah, sebagai permulaan, duduklah di sini dan habiskan makananmu.” Kyuhyun menarik salah satu kursi dan mengisyaratkanku untuk duduk disana.

“Aku tidak punya pilihan lain?”

Dia menggeleng.

Mendesah pelan sebelum mendekat. Tubuh kami begitu dekat saat Kyuhyun membantuku mendorong kursi. Bau tubuh Kyuhyun menghantam perutku seperti bola beton, membuat kepalaku pening. Mengingatkan diriku bahwa ini hanya efek dari mabuk.

Kyuhyun mendorong mangkuk untukku. Aku mengambil dan langsung memakannya cepat tanpa perlu repot-repot merasakannya. Yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana pergi menjauh dari Kyuhyun secepatnya. Karena Sulit bagiku berdekatan dengan Kyuhyun sementara aku harus mati-matian menahan perasaanku.

            Aku benar-benar cepat menghabiskan makananku, aku sendiri takjub bahwa aku bisa bersikap seperti hantu kelaparan. Sementara Kyuhyun baru menghabiskannya separuh.

            “Jam berapa kau akan mengantarku?” tanyaku

            Dia mendongak dan malah balik bertanya. “Jam berapa kau ingin aku mengantarmu?”

            “Secepatnya.”

            Kyuhyun mengangkat bahunya asal, “baiklah, secepatnya.” Katanya lalu kembali fokus pada makanannya.

            Aku tidak terlalu lega mendengar jawaban Kyuhyun tapi aku tetap mengangguk. Berdiri membawa piring kotor ke bak cuci lalu mencucinya. Aku semakin pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga selama ikut membantu Eomma mengurus kakek di sini. Setelah selesai aku berbalik dan menemukan Kyuhyun belum selesai dengan acara makannya. Tidak biasanya dia membutuhkan waktu lama hanya untuk makan. Aku memperhatikan caranya mengunyah, dahiku berkerut, seolah Kyuhyun sedang memakan permen karet. Butuh waktu lama untuk memproses makanannya di mulut sebelum dia menelannya.

            Tiba-tiba Kyuhyun menoleh ke arahku, dia memergokiku sedang memperhatikannya. Buru-buru membuang mukaku, kurasakan panas disekitar leher dan menjalar ke pipi.

            “Aku tidak melarangmu menontonku,” katanya dengan nada bangga.

            Sial

            Membersihkan tenggorokanku menghilangkan kecanggungan. “Kau sudah selesai?”

            Kyuhyun tidak menjawabku, dia berdiri dengan kedua kakinya lalu membawa piring kotor ke bak cuci. Melangkah mundur menjauh hingga bokongku menyentuh meja bar saat Kyuhyun sampai di bak cuci dan menjatuhkan piring kotor.

Kyuhyun menyalakan keran namun menutupnya lagi, setengah berbalik ke arahku, melihatku penuh harap. “Apa kau mengingat sesuatu…mengenai semalam?” tanyanya

Pertanyaan Kyuhyun membuatku tidak nyaman. Kebiasaanku saat mabuk cukup buruk. “Apa semalam aku melakukan sesuatu? Mengacau misalnya?” tanyaku cemas.

Dia tersenyum, namun ada sedikit kekecewaan dimatanya. Kenapa dia harus kecewa? Apa aku benar-benar melakukan sesuatu?

“Ya, kau sedikit kacau semalam.”

“Maaf, aku…”

“Berhentilah meminta maaf, Park Hyura.” Potongnya dengan nada tidak suka. Aku tidak mengerti, padahal aku benar-benar merasa tidak enak padanya. Ini bukan pertama kali Kyuhyun mengurusku saat mabuk. Ingatanku saat di motel dulu masih sangat segar di kepalaku. Seolah hal itu baru terjadi kemarin. Aku baru sadar, aku sangat tidak berguna, menyadari bahwa Kyuhyun telah banyak melakukan sesuatu untukku.

“Terima kasih kalau begitu.”

Dia hendak berbalik lagi ke arah bak cuci. Tapi Aku masih belum puas dengan jawabannya jadi aku memastikannya lagi.

“Kau yakin semalam aku tidak melakukan apapun?”

“Tidak ada.” Dia berbohong. Jelas ekspresinya mengatakan ada yang terjadi. Dan aku tidak tahu apa itu, membuatku frustasi.

“Saat kau menemukanku, apa aku masih sadar?” tanyaku menyelidik.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Mungkin, saat aku menjemputmu kau sedang menggoda bartender berambut coklat yang memiliki wajah seperti wanita.” Nada jengkel terdengar jelas di suaranya.

“Apa?” aku tercengang. “Aku? Menggoda? Yang benar saja!”

Kyuhyun memutar matanya. “Kau bisa memastikannya sendiri kalau kau mau.”

Tidak mungkin. Jika memang aku benar-benar melakukan apa yang dikatakan Kyuhyun, maka aku tidak punya muka lagi untuk datang ke club itu.

“Apa yang kukatakan pada bartender itu?”

“Kau tidak ingin mendengarnya, Hyura-ya.”

Menutup wajahku dengan kedua tangan. Oh ya Tuhan ini memalukan. Aku pasti mengatakan hal yang tidak-tidak.

            “Terima kasih,” gumamku pelan. “Terima kasih kau tidak membawaku pulang ke rumah.” Aku yakin Eomma bisa histeris jika melihatku pulang dengan keadaan seperti semalam.

            “Tapi aku menyesal tidak membawamu pulang ke rumah.”

            “Apa? Kenapa?”

            Dia hanya mengangkat bahu, “Hanya…sedikit menyesal.” Gumamnya, lebih pada diri sendiri. Aku menatapnya dalam, mempelajari wajahnya. Menebak-nebak apa maksudnya menyesal. Tapi aku tidak menemukan apapun, seolah dia menyembunyikannya dengan sangat baik.

            Kyuhyun memusatkan perhatiannya pada piring kotor bekas makanannya. Suara air keran, dan gerakan tangan Kyuhyun mengisi kekosongan diantara kami. Punggungnya bergerak pelan saat mencuci. Mataku terpaku pada punggungnya, bertanya-tanya apa punggung Kyuhyun sehangat dadanya? Aku pernah merasakan bagaimana hangatnya pelukannya Kyuhyun. Bagiku, tidak ada tempat paling aman saat aku berbaring di dada Kyuhyun. Tiba-tiba saja ada hasrat yang begitu besar untuk mendekat dan memeluknya seperti dulu. Merasakan kehangatan dan bau tubuh Kyuhyun yang melingkupiku.

            Entah dorongan dari mana, tanpa sadar kakiku melangkah sendiri dan lenganku sudah melingkar di sekeliling pinggangnya. Kurasakan tubuhnya menegang saat aku menyandarkan pipiku di punggungnya.

            “Hyura-ya?”

            “Sebentar saja.” Bisikku. Meskipun aku tidak yakin aku tidak berbohong. Setelah memeluknya seperti ini, merasakan kami bisa sedekat ini membuatku tidak ingin melepaskannya. Aku tidak peduli dia ingin melepaskanku tapi aku tidak ingin. Aku mencintainya dan aku tahu dia juga begitu, lalu kenapa kami harus berpisah?

            “Jangan pergi.” bisikku setengah memohon.

            “Hyura-ya…”

            “Aku tahu apa yang kau rencanakan, aku juga tahu kenapa kau membatalkan pernikahanmu.”

            Kyuhyun melepas kaitan tanganku di perutnya. Lalu memutar tubuhnya menghadapku. Melihatku setengah kesal setengah berharap.

            “Apa yang kau tahu, Park Hyura! Kau tidak tahu apa-apa, jangan berlagak kau mengetahui segalanya!” aku ingin membalasnya tapi dia tidak berhenti. “Yang kau tahu hanya bagaimana menyenangkan hati ibumu, mengamankan posisimu dan hmmft….” aku membungkam mulutnya dengan mulutku. Dia tersentak namun tidak menolakku. Melingkarkan lenganku di lehernya dan menciumnya lebih dalam. Apa aku terlihat seperti perempuan gila yang agresif? Ya mungkin saja aku sudah gila. Tapi aku tidak keberatan meskipun aku gila asal Kyuhyun tidak meninggalkanku.

            Kyuhyun tidak membalas ataupun menolak. Dia hanya diam. Masih terkejut mungkin. Aku tidak berhenti, melumat bibir atas dan bawahnya bergantian. Sensasinya tidak pernah berubah, bibirnya tetap lembut dan basah. Aku bahkan tidak keberatan saat dia tidak membalasnya ataupun membuka akses untukku. Dia tidak mendorong atau meneriakiku sebagai perempuan murahan saja aku sudah beruntung. Tapi aku juga tidak peduli meskipun Kyuhyun melakukannya. Karena bagiku, kami layak diperjuangkan apapun resiko yang harus kutanggung.

            Aku mencium Kyuhyun sampai batas maksimal nafasku. Membutuhkan udara, melepas bibirku, tapi Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggangku, menarikku menempel ketubuhnya dan dia mempertemukan bibir kami lagi. Dia menginginkannya, sama sepertiku. Bibirku dan bibirnya bersatu seperti alat musik yang menghasilkan suara harmoni paling seksi di dunia. Decapan dan desahan kami terdengar di seluruh penjuru pondok. Tangannya tidak bisa diam meraba seluruh tubuhku, seolah dia sangat merindukannya.

            Kami berdua kehabisan nafas, terengah-engah dan bergairah. Aku tahu dia begitu, bagaimana terlihat bara api di matanya. Namun Kyuhyun menahannya sekuat tenaga. Dia hendak membuka mulut untuk bicara tapi aku tidak memberinya kesempatan dan menciumnya lagi, seperti aku tidak pernah puas. Aku tidak peduli apa tanggapan Kyuhyun, yang jelas aku tidak ingin mengacaukan momen kami dengan kata-kata yang tidak perlu. Jadi aku terus menciumnya, mengambil nafas seperlunya lalu kami berciuman lagi seolah tidak ada hari esok.

            Tanpa melepas ciuman kami, Kurasakan Kyuhyun mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di meja bar. Dia memposisikan dirinya di sela pahaku. Tangan Kyuhyun menelusup ke jalinan rambutku, mencengkramnya erat hampir menyakitkan. Tapi aku menikmatinya.

            “Bajumu terlalu tipis.” Bisiknya terengah-engah di telingaku. Bibirnya menciumi seluruh wajahku.

Tanganku menangkup kedua rahangnya, memposisikan bibirnya diatas bibirku, “Aku tidak punya banyak baju disini.” Bisikku di bibir Kyuhyun sebelum melumatnya lagi untuk kesekian kalinya. Tangan Kyuhyun turun ke leherku, ke tulang selangka dan tiba di payudaraku. Dia menangkupnya, memijatnya lembut. Tanpa sadar aku mengerang. Bersamaan saat tangan Kyuhyun yang lain mencari pengait dressku, ponselnya berbunyi keras.

Itu seperti alarm pengingat untuk kami berdua. Otomatis tautan bibir kami terlepas. Tanpa bergeser ataupun menjauh, Kyuhyun mengumpat pelan sebelum merogoh kantong celananya mengeluarkan ponsel.

“Apa?” bentaknya.

“Aku tahu!… tidak, aku tidak bisa datang…. aku akan mengurusnya nanti.” Dia mendengus sambil memutuskan panggilannya.

“Apa itu telepon penting?” tanyaku.

Kyuhyun tidak menjawabku, dia juga tidak melihatku, dia malah sibuk menyisir rambutku dan merapikannya. “Aku membuat rambutmu kusut.”

Persetan dengan rambutku. Aku hanya ingin Kyuhyun melihatku, menatap mataku sambil mengatakan bahwa dia menginginkanku sebesar aku menginginkannya.

“Sebaiknya kita kembali atau kita berdua bisa sangat terlambat.” Perkataan Kyuhyun sangat bertolak belakang dengan reaksi tubuhnya, dia tidak berusaha menjauh, tubuh kami masih sangat dekat, tangannya yang lain juga masik melingkar di pinggangku. begitu juga denganku, aku tidak ingin menjauh. Jadi aku semakin mengeratkan kaitan tanganku di sekeliling lehernya.

Memajukan wajahku sampai kening kami hampir menempel. Aku bisa mencium aroma nafasnya yang menyapu wajahku. “Bisakah kita di sini saja, Kyu?”

“Apa yang ingin kau lakukan?”

“Apapun. Apapun yang bisa kita lakukan di sini.”

“Kita bisa terlalu jauh, kau tahu itu.” Tangannya terangkat, jarinya menelusuri pipi dan bibirku.

“Apapun yang ingin kau lakukan, asal jangan menjauh dariku.”

“Untuk saat ini.”

‘Untuk saat ini’? Aku bahkan tidak peduli meskipun ini hanya khayalan atau mimpi. Aku akan mengambil apapun yang bisa kudapatkan.

“Untuk saat ini.” ulangku menyetujuinya. Dengan itu Kyuhyun melumat bibirku tanpa ampun, penuh nafsu dan kelaparan.

***

“Ya! Kau salah memasangnya.” Kyuhyun menoyor kepalaku pelan. “Lihat jadi kacau begini.”

“Kau bahkan tidak bisa membedakan sudut atas dan bawah, kenapa menyalahkanku.” melempar kepingan puzzle ditanganku ke wajahnya. Dia melotot pura-pura marah. Aku terkikik.

Sekarang pukul tiga pagi, kami belum memejamkan mata sama sekali. Kenapa? Bukankah terlihat sangat jelas bahwa kami tidak ingin membuang-buang waktu. Aku dan Kyuhyun sama-sama ingin menikmati kebersamaan kami. Dan kami tidak menyia-nyiakannya untuk tidur.

Aku sudah tidak memakai dresku lagi, melainkan memakai kemeja Kyuhyun yang hanya bisa menutupi pangkal pahaku. Hei, aku tahu apa yang kalian pikirkan. Tapi sayangnya Aku dan Kyuhyun tidak melakukan apapun. Kami hanya bercumbu, well… maksudku di setiap sudut ruangan, di setiap kesempatan, dan di setiap waktu. Karena bagiku tidak ada sex sebelum menikah. Dan Kyuhyun sangat baik mengontrol tindakan kami.

 Sore tadi kami bermain catur dan aku yang tidak pintar dalam bermain catur otomatis langsung kalah hanya dalam waktu sepuluh menit. Kyuhyun yang tidak ingin menghukumku malah menyuruhku menentukan sendiri hukumannya. Tanpa berpikir dua kali aku melepas dressku. Mata Kyuhyun hampir keluar saat melihatku setengah telanjang. Aku tertawa melihat reaksinya dan dia langsung membuka kemejanya dan melemparnya padaku. Dengan senang hati aku memakainya. Sementara dia masih memakai kaos putih tipis. Well, meskipun sebenarnya aku berharap bisa melihatnya bertelanjang dada.

“Aku tidak mau bermain ini.” Katanya cemberut. Melempar potongan puzzle ke lantai.

“Kau bisa memainkannya saat bersama kakek.”

“Bukan aku yang bermain tapi So…” Dia berhenti. Menatapku ragu.

“Maksudmu, Yoon. So.Yi!” Aku menyebut nama wanita itu dengan penekanan di setiap suku kata. Mendengar Kyuhyun masih menyebut atau mengingatnya saja membuatku kesal. Entah apa yang kulakukan jika seandainya mereka benar-benar menikah.

 Sudut mulutnya bergetar menahan senyum.

“Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Cho Kyuhyun ssi.” Kataku sinis, dan justru membuatnya tertawa.

Aku melengos, bergerak untuk berdiri tapi dia menahan pergelangan tanganku, lalu menarikku ke pangkuannya.

“Kalau begitu berhentilah untuk cemburu padanya.” Dia berbisik lembut di telingaku. “Sama sepertimu yang tidak menyukai saat aku menyindir mantan tunanganmu.” Tentu saja aku tidak suka Kyuhyun berpikiran jelek tentang Siwon. “So Yi hanya korban dari keegoisanku, dan dia cukup terluka karena itu. Bagiku dia hanya seorang teman baik, kau tidak bisa membandingkannya dengan posisimu. Kau tahu perasaanku padamu.”

Melingkarkan tanganku di pinggang Kyuhnyun dan bersandar di dadanya, aku bergumam. “Kalau begitu jangan pergi.”

Dia mendesah pelan. “Hyura-ya,” keluhnya. “Kau sudah berjanji untuk tidak membicarakan masalah ini.”

“Setidaknya pertimbangkanlah.” Menegakkan tubuhku, menatapnya dalam. “Apa artinya kau pergi sementara kita menikmati kebersamaan ini. Kita saling mencintai tapi kenapa kau harus pergi? kenapa kita harus berpisah?”

“Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan.”

“Aku tidak memintamu untuk berjanji, aku juga tidak ingin menjadi wanita menyebalkan yang hanya bisa menahanmu. Aku hanya minta agar kau memikirkannya lagi. Jika bukan untukku maka lakukan untuk kakek. Kau sendiri yang mengusulkan agar kita berdua yang menikah. Lalu kenapa sekarang kau mau pergi?”

Dia memejamkan matanya dan mendesah berat. “Baiklah, tapi aku butuh waktu.”

Aku mengangguk dan memaksa tersenyum. “Gomawo.” Kataku lalu menciumnya sekilas.

Sepanjang sisa malam kami hanya bergelung di karpet bulu tanpa ada keinginan untuk bergerak atau pindah ke ranjang. Terkadang Kyuhyun mencium puncak kepala atau keningku, saat dia mulai bersenandung aku tidak bisa menahan beratnya kelopak mata. Sekuat tenaga aku menahan kantuk. Aku tidak ingin tidur, takut-takut saat aku membuka mata lalu menyadari bahwa hari ini hanya mimpi, bahwa semua pernyataan cinta, ucapan dan tindakan Kyuhyun hanya khayalanku.

“Hyura, tidurlah. Kau akan kelelahan.”

Aku tidak menjawab dan balik bertanya. “Kau sendiri, Kenapa kau tidak tidur?”

“Aku ingin, tapi tidak bisa.”

“Kenapa?” bisikku

“Aku tidak tahu.” Sahutnya pelan

“Aneh.”

“Ya. Aku tahu.”

“Kyu,” aku mendongak melihat wajahnya, mata Kyuhyun terpejam tapi aku tahu dia belum tidur. “Apa yang kulakukan saat aku mabuk kemarin?” sepanjang hari aku menanyakan hal yang sama namun Kyuhyun tetap tidak mau menjawabnya.

Dia tersenyum lemah. “Kau belum menyerah.”

“Ceritakan padaku.” desakku.

Mata Kyuhyun terbuka perlahan, dia menggeleng lemah. “Tidak, Hyura-ya. Kau tidak ingin mendengarnya.”

“Apa sangat memalukan?”

Kyuhyun menggeleng lagi. Kali ini aku tidak mengerti maksudnya.

Aku ikut menggeleng, mengikutinya. “Tidak?”

Kyuhyun tertawa lemah. “Hyura, honey. Tidurlah.”

“Kyuhyun-ah…” aku merengek.

“Tidur. Dan besok pagi aku akan mengatakannya.”

“Janji?”

Dia mengangguk.

Memajukan wajahku, menciumnya sekilas. “Aku mencintaimu.”

Dia tersenyum tipis. “Aku tahu. Sekarang tidurlah.” Dia mencium keningku dalam. Bersenandung lagi mengantarkanku ke alam mimpi.

***

Aku baru memejamkan mata satu jam saat Kyuhyun membangunkanku. Dia sudah rapi, dengan celana linen abu-abu dan kemeja berwarna biru pudar. Sedangkan aku tidak memiliki banyak pilihan baju di sini. Masih menggunakan kemeja Kyuhyun, aku menggunakan celana yoga sebagai bawahannya. Tanpa membersihkan diri Kyuhyun menarikku ke dalam mobil. Dia bilang kami tidak boleh terlambat setelah bolos kemarin. Sementara Kyuhyun menyetir aku tertidur seperti orang mati sampai ada yang menggerakkan bahuku lembut.

“Hyura-ya, bangunlah. Kita sudah sampai.” Nafasnya begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan aroma pasta giginya.

Honey…”

Aku mengerang, membuka mataku perlahan. Wajah Kyuhyun begitu dekat membuatku otomatis tersenyum.

Dia terkekeh. “Bangunlah putri tidur.”

Menegakkan tubuhku dan Kyuhyun kembali ke tempat duduknya. Melihat sekeliling. Kami sudah sampai di rumah. Mungkin Kakek dan Ibuku sedang sarapan sekarang. Ibuku bisa histeris jika melihat penampilanku seperti ini.

“Turunlah, kau harus bersiap-siap.” Perintahnya lembut.

“Bagaimana denganmu?”

“Tentu saja aku harus ke kantor.”

“Kau tidak ingin menungguku?” Aku panik Kyuhyun akan pergi. Tidak, dia tidak boleh pergi. “Mobilku masih di Club, Nammie belum membawanya pulang. Kau harus mengantarku.” Aku beralasan.

Dia terlihat keberatan..

“Ayolah, kau tidak ingin menyapa Kakek? Kau juga belum sarapan.”Bujukku.

“Ibumu masih marah padaku, aku tidak yakin dia mau melihatku.”

“Aku janji tidak akan lama. Eomma tidak akan terlalu menyulitkanmu.”

“Hyura-ya…”

“Ayolah, Kyu.”

Kyuhyun mendesah dalam. “Arasseo arasseo.” Dia membuka seatbelt, lalu membuka pintu dan turun dari mobil.

Kim Ahjumah yang membukakan pintu untuk kami. Setelah menyapanya kami berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.

“Aku akan menyiapkan piring tambahan untuk Nona dan Tuan Muda” kata Kim Ahjumah dari belakang.

Aku berhenti, setengah berbalik ke arah pelayan setia ibuku ini. “Aku tidak makan, siapkan satu untuk Kyuhyun.”

“Huh?” dahi tuanya mengernyit dalam kebingungan.

“Hyura-ya!” Tegur Kyuhyun.

Aku tidak menanggapinya. Berjinjit lalu menciumnya cepat dan dalam. “Aku tidak akan lama, kau makanlah dulu.” kataku lalu menapaki tangga. Aku masih sempat melihat Kim Ahjumah melongo terkejut, seolah dia baru saja melihat hantu. Sementara Kyuhyun menatapku tidak setuju. Toh aku tidak peduli keduanya.

Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk membersihkan diri. Setelah mengeringkan rambut, sedikit berdandan aku berkaca untuk kesekian kalinya memastikan penampilanku. Mengenakan terusan berwana maroon dan memadukannya dengan louboutin favoritku.

Saat aku memasuki ruang makan, empat kepala menoleh ke arahku. Kakek duduk di kursi utama paling ujung. Di sisi kirinya ada Lee Seonsaengnim, di sisi kanannya ada ibuku. Sementara Kyuhyun duduk disamping Lee Seonsaengnim. Dia terlihat sangat tidak nyaman. Begitu juga dengan ekspresi ibuku yang tidak terlalu senang.

Kyuhyun menggeleng lemah padaku. Bahkan terlalu lemah, aku yakin tidak akan ada satu orang pun yang menyadarinya. Aku tidak terlalu memahami maksudnya, mungkin dia tidak ingin aku mengulangi apa yang kulakukan di depan Ahjumah tadi.

Memaksa tersenyum, aku menyapa semuanya dengan nada riang. “Selamat Pagi.”

Eomma mendengus keras, melihatku marah. “Kemana saja kau! Tidak pulang kerumah, tidak masuk kerja dan sekarang muncul seolah-olah tidak terjadi apapun.”

“Shin Junghee!” tegur kakek. “Hyura, duduklah. Makanlah dulu, isi tenagamu sebelum menerima omelan ibumu.”

Ibuku menatap Kakek protes. “Abeoji!”

“Ne, Harabeoji.”

Melihat Kyuhyun sekilas sebelum mengambil duduk di samping ibuku. Aku melihat segelas kopi sedangkan piringnya masih bersih dan kosong. Dia tidak makan. Mungkin ibuku membuat nafsu makannya menghilang.

Mengambil potongan sandwich, aku membuka pembicaraan. “Seonsaengnim, apa Kakek harus kembali ke rumah danau?”

“Itu terserah Presdir.” Sahutnya, lalu dia menoleh pada Kakek. “Sepertinya anda masih merindukan rumah.”

Kakek tersenyum tipis. “Pondok itu tidak seperti rumah untukku, di sini jauh lebih nyaman. Lagipula rumah ini jaraknya lebih dekat dari rumah sakit tempatmu bekerja.”

“Apa tidak masalah jika Kakek tinggal di sini?”Tanyaku lagi.

“Tidak masalah.” Sahut Seonsaengnim. “Asal Presdir tetap pada pola pengobatannya dan tidak mengurusi urusan perusahaan.”

“Kau tahu, aku bukan pasien yang bandel.” Kata Kakek.

“Aku setuju,” Eomma menimpali, “Fasilitas di sini lebih baik ketimbang rumah pondok. Aku juga bisa bekerja lebih baik di sini.”

Seonsaengnim mengangguk. “Baiklah, aku akan melanjutkan pengobatannya di sini. Tapi sesekali Presdir tetap harus menghirup udara segar.”

Kakek mengangguk. Aku melirik Kyuhyun lagi, dia menyesap kopinya tanpa berniat membuka mulut, padahal Kyuhyun biasanya orang yang paling perhatian jika mengenai kesehatan kakek.

“Kau tidak makan, Ky…Oppa?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya melihatku sekilas. “Aku tidak lapar.”

“Donghae-ya, setelah makan temui aku di perpustakaan. Ada yang ingin kubicarakan.” Kata Kakek serius.

“Ne, Harabeoji.”

Eomma yang paling duluan menyelesaikan makannya,lalu Seonsaengnim dan kakek baru saja beranjak ke perpustakaan. Kyuhyun mengikuti keduanya. Tanpa menyelesaikan sarapanku aku bangkit mengikuti Kyuhyun tapi Eomma menahan lenganku.

“Tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku? ”

Memutar mataku, “aku akan menjawab semua pertanyaan Eomma, tapi sekarang aku harus menemui Kakek.”

Alis ibuku bertaut. “Untuk?”

“Ada yang harus kukatakan.”

“Mengenai pekerjaan?” tanyanya penasaran.

“I..itu” aku menggeleng. “Bukan, tapi mengenai pernikahan.”

Ibuku mengangguk dan tidak bertanya lagi. Dia berpikir mungkin aku akan membicarakan mengenai Siwon. Well, aku memang akan mengatakan mengenai batalnya pertunanganku tapi bukan itu intinya.

Menuju perpustakaan, aku mendengar samar-samar suara kakekku sedang berbicara. Memutar kenop lalu berhenti saat mendengar nama keluarga Yoon disebut-sebut. Perasaanku mulai tidak enak. Aku hendak membuka pintu namun tiba-tiba saja pintu di depanku terbuka lebar. Seonsaengnim bediri di depanku melihatku terkejut, ekspresiku tidak jauh beda dengannya.

“Hyura?”

Aku bisa melihat dari balik tubuh Seonsaengnim, Kakek dan Kyuhyun menoleh ke arah pintu.

“Hyura-ya? Itukah kau?” tanya Kakek.

Melewati Seonsangnim, aku menerobos masuk. “Ne, Harabeoji. Ini aku.” Bersamaan dengan itu aku mendengar pintu tertutup. Seonsaengnim dengan bijaksana meninggalkan kami.

“Ada yang ingin kubicarakan.” Aku melirik Kyuhyun, dia melihatku cemas. Dari tatapannya mengisyaratkan Apapun yang ingin kukatakan dia berharap agar aku tidak mengatakannya. Kembali pada Kakek, Dia masih menungguku.

“Tapi aku bisa menunggu.” Kataku akhirnya. “Aku akan kembali setelah kalian selesai.”

“Tidak apa-apa, Hyura-ya. Kau boleh duduk.”

Melihat Kyuhyun ragu sejenak sebelum akhirnya aku mengangguk menurut dan mengambil duduk di samping Kyuhyun, persis di hadapan Kakek.

“Lanjutkan, Kyu!” perintah Kakek. Melanjutkan apapun itu sebelum kedatanganku.

“Kami sudah sepakat. Hanya itu yang bisa kukatakan.” Kata Kyuhyun. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan sepakat, kesepakatan kerja?

Kakek mendesah berat, “Aku tidak bisa mengatakan kau tidak mengecewakanku. Setelah kejadian itu kau malah menjauh dan bukannya pulang menjelaskannya padaku.”

“Aku minta maaf.” Kyuhyun menunduk dalam.

“Junghee tidak akan mudah memaafkanmu.”

Eomma?

Melihat keduanya bergantian, aku tahu mereka membicarakan mengenai batalnya pernikahan Kyuhyun. Mungkin batalnya pertunanganku juga akan membuat Kakek kecewa.

“Aku tahu.” Kata Kyuhyun pelan.

 “Ha…Harabeoji.” aku memulai. “mengenai itu… aku juga ingin mengatakan hal yang sama.”

“Apa maksudmu dengan hal yang sama?”

Mengambil nafas dalam sebelum mengatakannya, “Aku dan Siwon. Kami telah sepakat untuk membatalkan pertunangan kami.”

Kakekku tersentak“Apa!”

Saat aku mendengar helaan nafas Kyuhyun, bersamaan dengan itu Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka dan ibuku seperti dewi api yang siap membakar siapapun diruangan ini. Dia melotot ke arahku. Menatapku marah dan terkejut. “Apa maksudmu dengan batal?” semburnya. Aku memutar mata, tidak terkejut sama sekali dia menguping pembicaraan kami.

“Eomma!”

“Jelaskan padaku! apa maksudmu dengan batal!” desaknya lebih keras.

“Shin Junghee! Apa kau menguping?”

Eomma seperti tidak mendengar Kakek. Tatapan amarahnya terkunci padaku. Dia mendekat.  “Park Hyura!” bentaknya. “Katakan! Apa maksudmu dengan…”

“Aku berselingkuh.” Potongku cepat dan keras.

“A…apa?”

“Aku berselingkuh.” Aku mengulanginya tanpa keraguan ataupun penyesalan. Berdiri, membalas tatapan ibuku yang melihatku seolah aku setengah sinting.

“Ka…kau apa? Kau bilang apa barusan? Selingkuh?” aku melihat luka lama seperti terbuka lagi dari mata ibuku, seolah seperti aku yang mengkhianatinya.

“Aku menginginkan orang lain.” tambahku. Aku ingin melanjutkan saat merasakan cengkraman di lenganku di cengkram.

“Cukup! Hyura-ya!” Desis Kyuhyun di telingaku.

Aku menoleh kearahnya. “Kenapa? Apa kau takut? Dulu bukankan kau menginginkan hal ini? mengatakannya pada ibuku?”

“Tidak dengan cara ini.” katanya di sela-sela giginya.

“Hyura-ya.” Suara lemah kakek menginterupsiku. “bisakah kau mengatakannya dengan lebih jelas.” Ekspresi kakek terlihat kosong dan bingung, terlalu terkejut mungkin.

“Abeoji seharusnya kau lebih memahaminya daripada aku.” Kata ibuku dengan suara bergetar. “Dia melakukan hal yang sama yang anak laki-lakimu lakukan padaku.”

“Eomma! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”

“Park Hyura! Cukup!” Kyuhyun menyentak lenganku, memaksaku berhenti berbicara. Tapi aku tidak berhenti. Menoleh pada kakek yang masih kebingungan. Aku berbicara lebih tenang padanya. “Harabeoji, ada orang lain yang kuinginkan.” Mengambil jeda sebentar, “Aku menyukai….Kyuhyun.”  Saat aku menyebut nama Kyuhyun mata kakek melebar.

“Park Hyura!” Kyuhyun membentakku keras. Tapi aku tetap bicara.

 “Kami berdua saling menyukai. Aku dan Kyuhyun. Dan jika kau menginginkan pernikahan, aku hanya akan menikah dengannya.”

Sekarang bukan hanya matanya, bahkan mulut kakek membentuk huruf o dengan sangat lebar. Sementara ibuku melihat aku, Kyuhyun dan Kakek bergantian dengan marah dan bingung.

“Apa-apaan ini!” omel ibuku. “Siapa yang kau bicarakan?”

“Hyura…” kakekku akhirnya membuka suara setelah pulih dari keterkejutannya. “Kyuhyun-ah… apa yang dikatakan Hyura benar? Kalian berdua memiliki perasaan yang sama?”

Kyuhyun terlihat ragu-ragu, dia melihatku dan aku membalasnya dengan harapan bahwa dia akan mengatakan hal yang sebenarnya. Baru setelah itu dia melihat kakek. Dia memejamkan mata sejenak sebelum menjawab.

“Ne Harabeoji” desahnya. Aku tersenyum lega, Kyuhyun melanjutkan. “Maafkan aku. Aku tidak bisa lagi memandang Hyura seperti yang pernah kau inginkan.” Kyuhyun menunduk dalam. “Maafkan aku.”

Meraih tangan Kyuhyun yang menggantung, aku mengenggamnya. Kyuhyun balas mengenggam tanganku, membuatku semakin yakin. “Harabeoji.”Panggilku, Kakek menatapku. “Kumohon, restui kami.”

Kakekku membuka mulutnya namun tidak ada satu katapun yang keluar. Dia juga masih terlihat setengah sadar. Mungkin kami benar-benar mengejutkannya.

“Apa yang kalian lakukan?” ibuku memandang tautan tanganku dan Kyuhyun dengan tatapan campur aduk. Heran, bingung dan marah, tentu saja.

Kyuhyun beralih Pada ibuku tanpa melepaskan genggaman tangannnya. Dia menunduk dalam, memberi hormat.“Eomonim, perkenalkan, namaku  Cho Kyuhyun.”

Mulut ibuku terbuka, tidak mengerti.

“Cho Kyuhyun? Siapa Cho Kyuhyun?” Eomma beralih pada Kakek.“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku sama sekali tidak mengerti yang kalian bicarakan.”

Kakekku berdehem.

“Hyura-ya, kalian keluarlah dulu. Biar aku yang bicara pada ibumu. Dia harus mengetahui apa yang telah kulakukan enam belas tahun lalu.”

Aku mengangguk menurut. Begitu juga dengan Kyuhyun. Kami berdua menunduk singkat memberi hormat sebelum keluar.

Kyuhyun menarikku ke halaman dan membukakan pintu mobilnya. Dia tidak bicara ataupun melihatku. Menunggunya masuk ke balik kemudi sebelum membuka suara.

“Kau marah padaku.” Itu bukan pertanyaan.

“Tidak seharusnya kau mengatakan hal itu.” Sahutnya dingin, tatapannya lurus ke depan.

“Tapi kau mengatakan yang sebenarnya.”

Kyuhyun mendengus kesal, melirikku jengkel “apa kau ingin aku berbohong setelah apa yang kau katakan di depan kakek dan tindakanmu yang kekanak-kanakan di depan Kim Ahjumah!” Katanya keras.

“Kenapa kau semarah ini?Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu!”

“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku butuh waktu. Tapi kau malah bertindak sesukamu!” Rahangnya mengerat. “Kau memang tidak pernah mempercayai siapapun.”

Entah kenapa ucapannya membuatku kesal, Aku hanya ingin membuktikan padanya bahwa aku juga bisa memperjuangkan hubungan kami. Aku ingin dia percaya padaku.

Aku tidak ingin menangis tapi sialnya mataku mulai tersengat saat membalasnya.

“Kau benar! Aku memang tidak mempercayai siapapun, bahkan diriku sendiri. Aku tidak percaya bisa memperjuangkan keinginanku setelah bertahun-tahun hidup menjadi seseorang yang orang lain inginkan.” Membuang mukaku ke jendela dan membiarkan air mataku turun. Aku tidak membiarkan Kyuhyun melihatku menangis. Sudah cukup buruk mempermalukan diriku kemarin.

Sepanjang sisa perjalanan tidak ada yang membuka suara, meskipun sesekali aku mendengarnya mengumpat pelan. Sampai dia membelokkan mobilnya masuk ke basement kantor.

Tanpa perlu melihatnya aku berkata, “kita bicara lagi nanti.” Membuka Seatbelt dan membuka pintu, tapi Kyuhyun masih mengunci central lock. Meliriknya mengisyaratkan agar membukanya.

“Hyura-ya” panggilnya lebih lembut. Memutar bahuku hingga kami berhadapan. “Maaf, seharusnya aku tidak berteriak padamu. Aku hanya…” dia berhenti, ragu-ragu untuk melanjutkan.

“Apa?”

Dia menggeleng, “tidak, tidak apa-apa.”

Aku menatapnya cukup lama, menunggunya mengatakan sesuatu tapi Kyuhyun tetap diam. “Arasseo.” Kataku akhirnya. “Aku juga minta maaf, seharusnya aku tidak bertindak gegabah.”

“Kau tidak terlihat menyesal.”

“Tidak sama sekali.”Aku mengakui, sejujurnya aku sangat lega Ibuku mengetahui perihal Kyuhyun. “Setidaknya kau tidak perlu berpura-pura lagi di depan ibuku.”

“Kau tahu dengan jelas itu bukan solusi.”Gumamnya.

“Lalu…” Kyuhyun mengecup bibirku sekilas, membuatku lupa seketika apa yang harus kukatakan.

“Kita terlambat untuk bekerja.”Tangannya mengusap pipiku lembut, “Kita bicara lagi nanti, ada yang harus kukatakan padamu.”

Aku mengangguk.

Dia tersenyum dan menyapu keningku sekilas sebelum keluar.

***

“Ini…Ini… dan…” Nammie meletakkan map terakhir di atas tumpukkan map yang lain. “Ini yang terakhir.”

“Kenapa sebanyak ini?” aku mengernyit tidak senang.

Nammie melipat tangannya di depan dada. “Itu karena kau membolos kemarin, kau melewatkan meeting product dengan team researsch and development. Aku sudah membuat resumenya, kau bisa membaca dan mendiskusikannya ulang.”

Aku mengambil map yang paling atas, membuka dan membacanya sekilas. Mengenai rencana produk baru. “Apa dananya tidak terlalu besar.”

“Aku tidak terlalu paham, karena itu kau harus membacanya dengan teliti. Begitu juga dengan yang lainnya.”

Aku mengangguk.

“Mobilmu akan diantar hari ini ke rumah.”

“Eoh, gomawo. Kau boleh keluar.”

“Oh ya satu lagi.” Nammie menyerahkan satu paper bag berukuran sedang yang sejak tadi dia bawa di tangan kirinya. “Tadi pagi Siwon datang dan menyerahkan ini.” Ekspresi Nammie terlihat tidak terlalu senang.

“Apa ini?” melongok, membukanya sedikit dan bau harum langsung menyeruak.

“Bubur, mungkin. Tercium dari baunya.”

Tanpa sadar aku tersenyum.

“Apa dia masih bersikap seolah-olah dia itu tunanganmu?” Kata Nammie sinis.

“Jangan sinis begitu, Han Nammie ssi.” Aku memperingatkan.

Dia memutar mata, “terserah.” Ujarnya acuh lalu berbalik dan berjalan keluar.

Aku mengeluarkan isi dari paperbag dan menemukan catatan kecil

 

Apa kau baik-baik saja?

Kau tidak menghubungiku dan tidak bisa dihubungi.

Kabari aku setelah kau menerima pesanku.

Aku mencemaskanmu.

 

_Siwon. C_

 

Menepuk keningku pelan, aku benar-benar lupa menelponnya. Jelas saja dia cemas, setelah menolak datang ke pertemuan keluarga aku sama sekali tidak menghubunginya. Terlebih lagi sejak bersama Kyuhyun kemarin aku tidak menyalakan ponselku lagi. Dan aku berencana untuk tetap seperti itu. Aku yakin hari ini ibuku akan menerorku seperti penagih hutang.

Setelah memperingatkan Nammie bahwa aku sama sekali tidak akan menerima panggilan yang bersifat pribadi, khususnya dari ibuku, baru setelah itu menghubungi Siwon menggunakan email perusahaan. Memberitahunya bahwa aku baik-baik saja sekaligus mengucapkan terima kasih dan maaf karena tidak menghubunginya. Dia membalas emailku secepat kilat, meminta penjelasan rinci mengenai pertemuan keluarga, bertanya-tanya kenapa menggunakan email dan kenapa ponselku tidak bisa dihubungi. Aku menjelaskan bahwa aku akan mengatakan padanya setelah kami bertemu. Siwon pantas mengetahuinya langsung dari mulutku dan bukannya dari email kantor yang bisa terekam oleh pihak ketiga.

Sepanjang sisa hari aku memfokuskan diriku pada pekerjaan. Hari kelewat cepat saat pekerjaan menunggumu. Begitu aku sadar langit diluar sudah gelap. Intercom diruanganku juga begitu tenang. Sepertinya Nammie menjalankan tugasnya dengan benar.

Pintu ruanganku di ketuk dua kali sebelum Nammie menyembulkan kepalanya.

“Kau tidak pulang?” Dia sudah bersiap dengan tas dan mantel yang sudah tersampir di lengannya.

“Sebentar lagi.” gumamku sambil menandatangi lembar terakhir.

“Pulanglah, sudah larut. Sudah tidak ada orang di lantai ini.”

Aku mengangguk, tersenyum tipis mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. Dengan itu Nammie menghilang dari balik pintu. Aku bukanlah karyawan teladan, aku juga tidak suka menjadi penghuni terakhir disini. Secepat mungkin menyelesaikan berkas terakhir sebelum menutup map, membereskan meja dan mematikan komputer.

Saat melintasi lobi utama aku tidak menuju pintu putar melainkan berbelok kearah pintu yang menghubungkan lobi dengan basement. Mencoba peruntunganku mungkin saja mobil Kyuhyun masih ada. Sepanjang hari kami tidak berkomunikasi. Mungkin dia sama sibuknya denganku. Mengingat aksi bolos yang kami lakukan kemarin.

Aku tidak bisa menahan senyumku saat melihat mobilnya terparkir di tempat yang sama. Berdiri di sisi penumpang sambil menunggu Kyuhyun. Aku bukan orang yang ahli dalam menunggu, dalam lima belas menit pertama aku sudah berkali-kali mengetuk-ngetuk sepatuku ke aspal dengan tidak sabaran. Aku bahkan bisa melihat pola tidak beraturan bekas sepatuku. Mendesah berat, sepertinya Kyuhyun jauh lebih lama dari yang kubayangakan.

Meletakkan tasku diatas kap mobil, melepas sepatuku. Aku baru saja ingin memerosotkan diriku saat mendengar suaranya.

“Hyura-ya.” Teriaknya dari kejauhan. Menghembuskan nafas lega dan menegakkan tubuhku lagi. Kyuhyun mempercepat langkahnya, sementara aku memakai sepatuku lagi.

“Kenapa menunggu disini? Kenapa tidak menelponku?” tanyanya setelah di depanku. Kyuhyun melirik tasku sekilas. “Sudah berapa lama kau menungguku?”

“Tidak apa-apa aku belum lama.”

Kelegaan nampak di wajahnya, tangannya langsung melingkari pinggangku, menarikku mendekat. “Seharian kau tidak bisa dihubungi.” katanya setengah menuduh.

Aku tidak bisa menahan untuk tidak menyeringai, sambil melingkarkan tanganku di lehernya “kenapa? Kau merindukanku, Tuan Cho?”

Kyuhyun terkekeh, dia mengecup bibirku sekilas. “Lebih dari yang kau bayangkan.”

Aku terkikik, “begitu juga denganku.”

“Arasseo. Kita pulang?”

“Bisakah kita pulang ke rumah danau?” pintaku manja.

“Kenapa kesana?”

“Aku tidak ingin bertemu Eomma.”

Seolah mengerti, Kyuhyun mengangguk. Kemungkinan besar dia juga malas bertemu ibuku. Melepaskan pelukan kami, dia membukakan pintu untukku.

“Kau tahu, kau tidak bisa terus-terusan menghindari ibumu.” Ujarnya saat baru masuk ke balik kemudi. Menyalakan mesin dan mengeluarkan kami dari tempat parkir.

“Aku tahu, tapi aku hanya belum mau berurusan dengannya.” Sejujurnya aku takut. Keputusan apa yang akan ibuku tetapkan untukku setelah dia mengetahui status Kyuhyun. Mengingat sifatnya yang seperti itu rasanya sulit untuk Ibuku menerima Kyuhyun dengan tangan terbuka.

“Aku ingin menagih hutangmu.” Kataku tiba-tiba, sekaligus mengubah topik.

“Hutang?”

“Kemarin kau berjanji akan mengatakan apa yang kulakukan saat aku mabuk.”

“Aku tidak percaya kau masih mengingatnya.” Gumamnya sambil tertawa kecil.

“Kalau begitu katakan.”

Dia melirikku sekilas, tapi tatapannya sanagt serius. “Ada hal yang lebih penting yang harus kukatakan padamu.”

Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak.

“Apa?” tanyaku berbisik.

“Nanti, aku akan mengatakannya setelah kita sampai.”

Meskipun kecewa tapi aku tetap mengangguk. Setelah itu pikiranku jadi tidak fokus, aku jadi membayangkan hal-hal buruk. Kyuhyun bertanya beberapa hal mengenai pekerjaan dan aku hanya menjawab sekedarnya. Sampai akhirnya dia tidak bertanya lagi karena aku tidak memberikan jawaban yang dia inginkan.

Pikiranku begitu sibuk sampai tidak sadar kami sudah memasuki halaman rumah danau. Kyuhyun berhenti dan mematikan mesin. Dia memiringkan dudukknya, melihatku seksama.

“Kau marah padaku?” tanyanya.

“Huh?”

“Sejak tadi kau hanya menjawab ‘iya’ dan ‘tidak’ lalu mengangguk dan menggeleng. Kau marah padaku?”

Aku menggeleng. “Aniya.”

“Lalu?”

“Bukan apa-apa, mungkin aku terlalu banyak berpikir.”

Kyuhyun memandang mataku dalam, seolah mencari kebohongan di sana. Dan aku tahu dia tidak menemukan apapun. Hingga akhirnya dia mendesah dan mengangguk.

“Kajja.”

***

 

“Hyura-ya…hmmhm…Honey…Hyura…hentikan.” Kyuhyun mendorong tubuhku memaksa melepas ciuman kami. Setelah membereskan makan malam aku menyerangnya membabi buta saat kami masih di dapur. Kyuhyun tidak menolak dan membalas setiap lumatanku. Aku tahu dia menginginkanku sama besar seperti aku menginginkannya. Terbukti, Kyuhyun bahkan membopongku ke kamar hingga kami nyaris berkelahi di ranjang. Tapi sekali lagi, harus ada yang memiliki kontrol diantara kami. Jadi dengan sangat terpaksa Kyuhyun menghentikanku sebelum kami terlalu jauh.

Aku terkikik melihat bekas lipstikku di bibirnya.

“Aku tidak tahu kau terlihat lebih seksi menggunakan lipstik.”Ledekku.

Kyuhyun cemberut mendorong tubuhku dari atas tubuhnya hingga aku terduduk di atas perutnya sementara dia setengah berbaring dan bersandar di kepala ranjang.

“Kau tahu kita harus bicara.”Ujarnya pura-pura kesal, tapi aku tahu dia sama sekali tidak kesal padaku.

Mengangkat bahu. “aku mendengarkan.”

Tangan Kyuhyun terangkat menyisir rambutku yang kusut karena ulah tangannya sendiri. Wajahnya perlahan berubah menjadi serius. Kalau boleh jujur sebenarnya aku takut. Takut Kyuhyun akan mengatakan hal-hal yang membuat kami menjauh.

“Hyura-ya,” dia memulai. “Seharusnya aku bertemu dengan kakakku terlebih dahulu sebelum berbicara padamu tapi aku ingin kau mengetahuinya.” Kyuhyun berhenti sejenak mengambil jeda, aku menunggu. “Kau benar, aku menikmatinya. Aku menyukai…tidak, bahkan lebih dari suka saat menghabiskan waktu bersamamu. Aku tidak ingin saat-saat seperti ini berakhir. Aku hanya terlalu naif untuk mengakuinya, aku takut terluka lagi , aku takut tidak bisa menanggung resiko apa yang harus kuhadapi nanti jika seandainya kau meninggalkanku lagi.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Kataku cepat.

Kyuhyun tersenyum lemah. “aku tahu.”

“Kau tahu?”

Dia mengangguk, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah sendu. “Tapi itu tidak mengubah apapun, Hyura-ya.”

“Maksudmu?”

“Ahra Noona. Dia yang menginginkan untuk pergi.” Kyuhyun mendesah. “Aku bisa meninggalkan apapun untukmu, tapi tidak dengan kakakku. Karena dia satu-satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini. kuharap kau mengerti, Hyura-ya.”

Menggeleng cepat.“Tidak, aku tidak mengerti.” Turun dari atas perut Kyuhyun, aku merangkak ke ujung ranjang, Kyuhyun menarik tanganku mencegahku menjauh.

Honey, Dengarkan aku dulu…”

“Tidak!” Potongku keras, “Aku tidak mengerti! Tidak ada alasan bagi kakakmu untuk menyuruhmu menjauh dariku. Kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu.”

“Karena Ahra Noona ingin pulang dan dia sudah tahu semuanya.”

“Apa?”

Kyuhyun mengangguk lemah sambil memejamkan mata.

“Aku memberitahunya.”Bisiknya lemah. Terdengar nada menyesal di sana. “Saat itu aku benar-benar bingung, Hyura-ya. Karena itu aku memberitahunya.”

“Apa yang kau katakana padanya?”

“Semuanya. Mengenai kita, statusku, Eommonim, Kakek dan juga Lee Donghae.”

Bahuku terkulai lemas, justru aneh jika Ahra Eonni ingin tetap tinggal setelah mengetahui apa yang keluargaku lakukan pada Kyuhyun.

“Ke…kenapa?Kenapa tiba-tiba saja memberitahunya?”

“Waktu itu Aku benar-benar bingung, Hyura-ya. Aku tidak tahu harus berbicara pada siapa. Saat itu aku tidak bisa lagi membedakan mana yang salah mana yang benar. Aku begitu membencimu dan membenci diriku sendiri. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada So yi, tapi aku juga yang memutuskan untuk menikahnya. Di lain sisi aku melihatmu sama tersiksanya denganku.  Aku putus asa, karena itu aku berbicara pada kakakku.”

Jelas sekali dia menyesal tapi aku tidak membiarkannya. Disini akulah yang patut di salahkan. Beringsut maju aku memeluknya. “Maafkan aku, Kyu. Tidak seharusnya aku menyakitimu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menyentuh kedua bahuku lalu menariknya menjauh. “Hyura-ya,” Dia menatapku dalam, “Aku tidak bilang kita tidak memiliki kesempatan. Ahra Noona…” Dia terlihat ragu sesaat, “dia… setelah keluar dari rumah sakit dia hanya tidak ingin hidup bersama keluargamu.”

“Apa dia membenciku?”

Kyuhyun menggeleng, “Dia tidak membenci siapapun, kakakku hanya menyesal aku kehilangan identitas asliku.”

            “Apa aku perlu berbicara padanya?”

            “Tidak, tidak perlu. Kemarilah,” Kyuhyun memutar tubuhku dan menariknya mendekat, dia masih bersandar di kepala ranjang sedangkan punggungku bersandar di dadanya. Tangannya melingkupi sekeliling tubuhku. ”Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian, karena ini tentang kita.” Katanya di telingaku. “Aku tidak akan menyerah.” Dia mencium pelipisku lembut.

            “Apa yang membuatmu berubah pikiran?” Aku masih ingat saat di kantornya dia menyuruhku untuk menjadi adik yang manis untuknya. Meskipun dia tidak menolak saat aku menciumnya. Atau jangan-jangan karena ciumanku? Aku tidak tahu aku sangat pandai berciuman.

            “Kau tidak ingin mengetahuinya.”

            Setengah menoleh, melihatnya tidak setuju.“Kenapa?”

            Sudut Bibirnya berkedut, aku mengernyit.

            “Kau menyembunyikan sesuatu.” Tuduhku.

            “Kau benar-benar ingin mendengarnya?”

            Aku mengangguk cepat.

            “Saat kau mabuk…”

            “Tunggu!” potongku.“ Apa sekarang kita membicarakan tentang prilakuku saat mabuk?”

            Kyuhyun memutar mata, “apa kau akan membiarkanku menyelesaikannya?”

            Aku nyengir, “Maaf. Lanjutkan kalau begitu.”

            “Kau mengoceh terus sepanjang malam saat kau mabuk, dan…” Kyuhyun berhenti dan bibirnya melengkung ke atas. Memutar tubuhku menatapnya tidak sabar.

            “Dan apa?

            “Kau hampir memperkosaku Park Hyura.”Katanya masih dangan senyum di bibirnya.

            Mulutku terbuka, melihatnya tidak percaya.

            “Apa kau bilang? Memperkosa?Aku?” aku tertawa “Oh yang benar saja! Kau mencoba menipuku, Cho Kyuhyun ssi?”

            “Apa untungnya aku berbohong?” dia menyeringai, ekspresinya sangat percaya diri, terlihat dari bola matanya tidak bergetar, aku tahu dia tidak berbohong. Tapi aku masih tidak menerimanya. Memperkosa? Yang benar saja!

            “Bagaimana aku bisa memperkosamu, kau kan pria sedangkan aku wanita.”

            “Aku membantu membuka kemejamu yang penuh muntahan, tapi kau justru berusaha membuka semua pakaian dalammu. Kau juga memaksaku untuk membuka pakaianku.”

            Tubuhku mematung, antara percaya dan tidak. Aku benar-benar tidak ingat melakukan hal itu. Ya Tuhan aku benar-benar malu. Menutup wajahku dengan kedua telapak tangan dan menunduk dalam menyembunyikan wajahku.

            “Sudah kubilang kau tidak ingin mendengarnya.” Gumam Kyuhyun pelan.

            Membuka wajahku dan melihatnya curiga. “Karena aku hampir memperkosamu kau berubah pikiran?”

            “Banyak hal yang kau katakan saat itu.”

            “Kau percaya pada omongan orang mabuk?” kataku setengah mengejek.

            Dia menganggkat bahu, “well, sayangnya kau lebih jujur saat kau mabuk.”

            “Apa aku mengatakan hal yang memalukan?” aku tidak tahu ingin mendengarnya atau tidak tapi aku tetap bertanya.

            Kyuhyun menggeleng dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. “Kau mengatakan hal yang membuatku bahagia.” Dia menempelkan kening kami dan mengecup pangkal hidungku. “Kau bilang kau mencintaiku.”

            “Kau tahu aku mencintaimu, aku sudah berkali-kali mengatakannya.” Protesku sembari menjauhkan wajah kami.

            “Ya aku tahu, tapi bukan itu intinya.?”

            “Lalu?”

            “Intinya aku bisa menyimpulkan sejak kapan perasaanmu ada padaku.” Dia memajukan wajahnya untuk mencapai bibirku. Menciumnya sekilas. “Lalu bagaimana kau merindukanku hingga kau rela menyelinap ke kamarku.” Mengecupku lagi, “Bagaimana dadamu berdebar saat aku memelukmu,  bagaimana tersiksanya saat kau cemburu, saat harus menahan perasaanmu  dan yang membuatku benar-benar berubah pikiran…” dia berhenti menatap mataku dalam hingga ke inti, membuat dadaku seperti dipukul-pukul. “Kau bilang kau tidak merasakan hal yang sama saat bersama tunanganmu.” Jari-jarinya mengusap pipiku lembut, dan matanya tidak pernah meninggalkanku. “Dan hal itu membuatku harus berpikir ulang untuk melepaskanmu. Maaf pagi tadi aku terlalu keras. Itu hanya karena aku terlalu terkejut. Aku tidak tahu kau senekat itu dan aku masih membutuhkan waktu untuk membujuk kakakku.”

            Tanpa bisa kutahan aku memeluknya erat, bahkan sangat erat. “Kau tahu aku mencintaimu. Jangan meragukanku lagi.”

            Kyuhyun balas memelukku, menyurukkan kepalanya di sela leherku. “Tidak akan lagi.”

***

 

 

“Nona!”Kim Ahjumah berseru begitu membukakan pintu untukku. “Anda tidak pulang lagi semalam.”

Aku mengangkat bahu, tidak mempedulikannya dan berjalan melewatinya. Namun berhenti setelah dua langkah, setengah berbalik menghadapnya.

“Eomma?”

Dia sepertinya langsung memahami pertanyaanku.

“Nyonya besar sedang berada di kamarnya. Dia juga baru pulang dari kantor.”

Dahiku mengernyit. Aneh. Eomma datang ke kantor tapi dia sama sekali tidak mencariku ataupun menelpon Nammie. Aku yakin hari ini Nammie sama sekali tidak menyinggung soal ibuku.

Haruskah aku menemuinya?

“Bagaimana dengan Kakek?”

“Tuan besar baru saja masuk kamar setelah bicara banyak dengan Lee Seonsaengnim.”Aku mengangguk mengerti.

“Kyuhyun? Apa dia datang?”

Kim Ahjumah menatapku tidak yakin, lalu meringis. “Jika yang nona maksud Tuan muda., aku tidak melihatnya lagi setelah kemarin pagi.”

Mendesah kecewa. Seharian ini aku juga tidak melihatnya. Siang tadi aku mencoba menghubungi kantornya , tapi Yuri bilang Kyuhyun tidak ada, dan dia juga tidak tahu kemana bosnya pergi. Ponselnya juga tidak aktif. Mungkin dia sangat sibuk.

Dengan perasaan kecewa aku berjalan menapaki tangga. Saat melihat pintu kamar ibuku, aku berdiri cukup lama disana. Berperang batin harus menemuinya atau tidak. Setelah beberapa menit akhirnya kuputuskan untuk mengetuk pintu kamarnya.

Setelah dua kali ketukan terdengar suara ibuku.

“Masuk.”

Aku melihatnya sedang duduk di meja kerja dengan handuk masih membungkus kepalanya. Dia tidak bereaksi apapun saat aku masuk dan menutup pintu di belakangku.

“Kau pulang.” Sindirnya.

Aku mengangkat bahu.“Aku tidak bisa terus-terusan menghindari ibuku sendiri.”

“Benarkah?” dia mengangkat salah satu alisnya. “atau kau lebih suka tidur dengan anak yatim piatu itu.”

“Eomma!”

“Jika kau sampai hamil aku akan membunuhmu!”

“Eomma!Aku tidak melakukan apapun!”

Ibuku terlihat tidak percaya. Ya ampun, apa dia menganggap anak perempuanya wanita murahan.

“Kupikir kau akan menyulitkanku, jadi aku memilih untuk tidak pulang ke rumah untuk sementara.”Aku mengakui.

“Dan apa aku mengejutkanmu karena tidak menyulitkan?” tanyanya sarkatis.

Aku tidak menjawab dan hanya mengendikkan bahu.

Eomma berdiri mengitari meja, berjalan ke tengah ruangan, meskipun tidak cukup dekat denganku. Tatapannya melembut.

“Kalau kau penasaran bagaimana reaksiku mendengar bahwa anak tiriku sudah tiada sejak lama, jujur saja aku merasa…lega. Aku tidak pernah membenci…apa aku harus memanggilnya Kyuhyun?” Eomma mengangguk seolah menjawab pertanyaannya sendiri. Baiklah, mungkin membutuhkan waktu untuk membiasakan mulutku untuk memanggilnya begitu. Well kembali ke topik. Aku tidak pernah membenci Kyuhyun karena dia sama sekali tidak mengingatkanku pada Ayahmu. Dan aku lega karena tidak perlu melihat dan membesarakan anak yang mungkin bisa kucelakai dengan tanganku sendiri. Mungkin aku terdengar kejam tapi kau akan merasakannya jika suatu hari nanti orang yang kau cintai dengan seluruh hidupmu ternyata hanya seorang pengkhianat.”

“Eomma…tidak membencinya…atau…”

Eomma tertawa getir. “Mengingat sifatku tidak heran jika kau mengkhawatirkan reaksiku. Tapi aku tidak serendah dan sebodoh itu. Aku tidak bisa membenci seorang anak yang berusaha menolong kakek tua dan kakaknya yang sekarat.”

Jujur saja aku sangat terkejut dengan reaksi ibuku yang jauh lebih baik menerima kehadiran Kyuhyun. Aku masih ingat saat dulu pertama kali mengetahui identitas asli Kyuhyun. Aku mencapnya sebagai penipu, tanpa pernah berpikir bahwa dia juga korban dari rencana kakek.

“Ayah sudah menjelaskan secara detail kemarin, dia juga menceritakan bagaimana kau bisa mengetahuinya. Karena itu aku tidak perlu mengganggumu lagi.”

“A…apa Eomma, menyetujui hubungan kami?” tanyaku hati-hati.

Dia mendesah dalam, membuka handuk di kepalanya lalu mengusapnya ke bagian rambutnya yang masih setengah basah.

“Aku tahu kau akan menanyakan  hal ini.” gumamnya. Dia menjauh melempar handuk ke tempat pakaian kotor sebelum kembali lagi padaku.

“Kalau aku boleh jujur sulit bagiku untuk membiarkan putriku menikahi seorang anak panti asuhan. Aku menginginkanmu menikahi seseorang yang memiliki pendidikan bagus, latar belakang keluarga yang terhormat dan tentu saja dia harus kaya. Tapi masalahnya Kyuhyun memiliki itu semua. Ayah benar-benar mempersiapkan segalanya secara matang, bahkan kemarin aku sama sekali tidak bisa membantahnya.” Ibuku tertawa, tapi lebih menertawakan dirinya sendiri. “Kakek tua itu juga menjanjikan posisinya mutlak untukmu setelah kau menikah nanti.” Eomma menggeleng lemah. “Hanya dengan satu kata itu aku tidak bisa berbicara lagi.”

Aku tidak bisa menyimpulkan ibuku menyetujuinya atau tidak, yang jelas dia tidak lagi membuatku khawatir. Kurasa ini sudah cukup bagiku. Aku harus segera memberitahu Kyuhyun. Namun sayangnya ponsel Kyuhyun masih belum aktif. Aku merindukannya—sangat. Dan sekarang aku tidak perlu sungkan lagi untuk menunggu Kyuhyun di kamarnya.

Hampir lima menit sekali aku melirik jam, dan Kyuhyun tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan pulang. Saat jarum jam menunjukkan pukul satu pagi perasaanku mulai tidak enak. Mengambil coat dan kunci vanquiz aku meluncur ke rumah danau. Jalan yang gelap dan sepi tidak membuatku terganggu. Entah kenapa aku merasakan firasat tidak enak. Semoga ini hanya firasatku.

Jantungku mulai berdetak keras, bukan dalam artian bagus saat memasuki halaman rumah danau. Lampunya gelap, menjelaskan tidak ada siapapun di dalam.Tapi aku tetap turun untuk memastikannya. Menyalakan semua lampu dan mulai memanggil nama Kyuhyun. Menyisir setiap ruangan namun hasilnya nihil. Tidak ada siapaun disini selain aku. Tiba-tiba aku merasa takut sendirian di rumah terpencil seperti ini. Tidak ada tanda-tanda manusia ada di dekat sini, hanya terdengar suara binatang malam dan air dari danau.

Tanpa mematikan lampu aku bergegas kembali ke mobil. Aku tidak mau berada disini lebih lama lagi. Mengendarai vanquiz hingga kecepatan maksimal tanpa mempedulikan kemungkinan polisi akan menghentikanku karena sudah melanggar batas kecepatan.

Tepat menjelang subuh aku tiba di rumah sakit Seoul. Setengah berlari aku melewati lobi rumah sakit untuk mencapai elevator, saat memasuki deretan ruang inap seorang petugas menghalangiku.

“Maaf Nona, anda tidak boleh membesuk pada jam segini. ”Seorang perawat pria membentangkan tangannya memblok jalanku.

“Aku hanya perlu memastikannya, kumohon hanya sebentar. Aku janji tidak akan mengganggu.”

“Maaf  Nona, tidak bisa.”

“Kumohon, aku hanya memastikannya.” Ujarku memelas. “Kumohon.

Perawat pria di depanku tetap menggeleng .

Mengusap wajahku lelah, “baiklah, aku akan menunggu.”

Mata Perawat pria terus menatapku sampai aku mendudukkan diri kursi ruang tunggu, memastikan bahwa aku tidak akan melewatinya. Meskipun dia tidak perlu khawatir, karena aku serius dengan ucapanku bahwa aku akan menunggu.

Aku mendengar langkah mendekat sampai ada sepatu berwarna putih berdiri tidak jauh dariku. Aku mendongak.

Perawat pria tadi menatapku, wajahnya terlihat lebih rileks sekarang daripada sebelumnya.“Nona, mungkin aku bisa membantumu selain membiarkanmu masuk.”

Aku berdiri, “Apa kau bisa membantuku memastikan pengunjung yang datang.”

Dahinya berkerut tidak mengerti.

“Kau tahu pasien bernama Cho Ahra? Aku hanya ingin tahu apa hari ini dia memiliki pengunjung? Biasanya adik laki-lakinya yang datang untuk berkunjung.”

“Cho Ahra?”

Aku mengangguk cepat, dari ekspresinya aku tahu perawat ini mengenal Ahra Eonni.

“Nona Cho pagi ini keluar dari rumah sakit tapi aku tidak tahu bersama adiknya atau tidak karena aku masuk shift malam. Anda tidak tahu?”

“Apa? Kau yakin?”

“Tentu, aku sendiri yang membersihkan kamarnya tadi.”

Tidak mungkin, bagaimana bisa?

Kyuhyun mendadak tidak bisa dihubungi dan Ahra Eonni sudah keluar dari rumah sakit. Ada apa ini?

“Nona, kau tidak apa-apa? Kau kelihatan bingung.” Tanyanya cemas. Mungkin ekspresiku tidak terlihat terlalu baik. Aku menggeleng lemah sambil memaksa tersenyum.

“Tidak apa-apa, terima kasih.”

Aku langsung berbalik dan kembali ke mobil. Masih dalam keadaan setengah sadar saat menekan tombol start tapi kemudian aku mematikannya lagi. Menyandarkan kepalaku di atas stir. Aku tidak mengerti kenapa jadi seperti ini. Aku yakin aku dan Kyuhyun baik-baik saja, sampai saat terakhir kami berpisah di parkiran basement, kami masih saling melempar senyum, kami bahkan masih berciuman. Lalu kenapa tiba-tiba dia menghilang?

Aku begitu bingung sampai tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menangis, tidak bisa bicara, dan tidak tahu harus bertanya pada siapa. Selama hampir satu jam aku hanya duduk diam di dalam mobil, tidak ada hasrat sedikitpun untuk bergerak atau pergi dari sini. Begitu aku sadar sinar matahari sudah meninggi. Menyipitkan mataku saat sinar matahari  menjadi menyakitkan. Menoleh ke kiri dan ke kanan yang ternyata sudah ramai, melirik ke jam di dashboard yang menunjukkan angka sepuluh. Sial. Aku tertidur cukup lama.

Tanpa memakai sabuk pengaman aku memundurkna vanquiz dan pergi dari rumah sakit. Aku tidak tahu ini keberuntungan atau apa, yang jelas aku tidak mendapat masalah apapun semenjak negbut semalam dan berkendara tanpa menggunakan sabuk pengaman. Terlalu beruntung menurutku karena aku tidak terekam cctv di lampu lalu lintas. Dan keberuntungan seperti ini membuatku takut. Takut bahwa ini hanya permulaaan dari hal buruk. Dan hatiku tahu bahwa hal itu benar.

***

“Kau pergi lagi semalam.” Itu bukan pertanyaan tapi lebih pada menuduh. Ibuku berdiri sambil bersedekap di ambang pintu kamarku. Aku melihatnya dari pantulan cermin di depanku. Meletakkan krim mata yang baru saja kuoleskan dibawah kantung mata.

“Kau tidur dengan anak itu lagi.” Dia masih menggunakan nada menuduh seperti sebelumnya.

Meletakkan botol krim dengan kasar ke meja rias, aku melihat ibuku sinis.

“Setidaknya aku tidak bermesraan dikantor seperti yang kau lakukan.” Kataku tajam, Eomma tersentak. Aku tidak bermaksud kasar tapi suasana hatiku sedang kacau dan aku tidak membutuhkan pembicaraan omong kosong seperti ini.

Ibuku membuka mulut ingin membalasku tapi aku buru-buru berdiri lalu berbalik padanya.

“Simpan komentar Eomma, aku sedang tidak ingin bertengkar.” Kataku datar lalu mengambil tasku dan berjalan melewatinya, saat aku menuruni tangga aku mendengar langkah Eomma di belakangku.

“Hyura-ya,” panggilnya.

Aku tidak menoleh dan mempercepat langkahku tapi tidak berhasil sampai pintu depan begitu melihat kakek berdiri mematung di ruang tamu. Aku tidak melihat apa yang terjadi sampai aku mengalihkan tatapanku pada sesuatu yang sejak tadi membuat kakek terdiam.

Kyuhyun berdiri di sana bersama Ahra Eonni. Ahra Eonni terlihat jauh lebih sehat dari terakhir kali aku menemuinya. Dia sudah bisa berjalan meskipun tangan kirinya masih memegang tongkat, sementara tangan yang lain melingkar di lengan Kyuhyun.

Dari sudut mataku, Eomma berhenti tepat di sampingku. Dia juga tidak kalah terkejut.

Kyuhyun membungkuk dalam lalu diikuti Ahra Eonni.

“Kami datang untuk berpamitan.” Kyuhyun memulai, “Harabeoji, maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi semua keinginanmu, aku tidak bisa menjadi cucu yang kau harapkan.” Kyuhyun menunduk lagi. “Maafkan aku. Dan terima kasih sudah memberikan apa yang orang tuaku tidak bisa berikan.:”

“Jangan bicara seperti itu, kau membuatku terdengar buruk.” Sahut kakek.

Kyuhyun beralih pada ibuku. “Aku juga ingin meminta maaf pada Eommonim, maafkan aku karena sering menyulitkanmu dan aku berterima kasih karena telah membesarkanku..”

Ibuku membuka mulutnya untuk berbicara tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari sana, terlalu bingung mungkin, sama sepertiku.

Lalu ketika Kyuhyun melihatku dadaku langsung terasa nyeri seperti dia menusuk pisau bergerigi lalu memutarnya. Begitu sakit hingga aku tidak sanggup bersuara, bahkan aku tidak yakin masih bernafas. Melihat matanya aku tahu tidak ada keraguan sedikitpun baginya untuk pergi.

Dia tersenyum. “Hyura-ya…adikku. Kau yang terbaik.” Hanya itu yang dia katakan, lalu kembali pada kakek.

“Harabeoji, aku dan kakakku sekali lagi ingin berterima kasih.” Mereka menunduk lagi.

“Kemana kalian akan pergi?” tanya kakek.

“Kami akan mengabari setelah sampai di sana.”

Kakek mengangguk.“Baiklah kalau begitu. Aku tidak tahu bagaimana selanjutnya hubungan kita, tapi kuharap kau tidak melupakan kami. Aku menyayangi kalian berdua seperti cucuku sendiri.”

Aku mendengar Ahra Eonni menggumam terima kasih. Kyuhyun terenyum lembah sambil mengangguk. Mereka menunduk lagi sebelum berbalik pergi. Kyuhyun dan Ahra Eonni sudah pergi menghilang dari pandangan kami tapi aku, ibuku dan Kakek masih berdiri ditemapt semula tanpa bergerak. Sampai ibuku yang pertama kali memecah keheningan.

“Itu barusan…apa? Dia…maksudku Kyuhyun. Dia pergi? Benar-benar pergi?” tanya ibuku dengan terbata dan bingung.

Kakek menghela nafas panjang sebelum berbalik, “Ya, dia sudah mengataknnya padaku. dan sepertinya itu yang terbaik untuk mereka dan kita.” Kakek melihatku simpati, “Kau tidak apa-apa, Hyura-ya?”

Eomma menyentuh bahuku ringan.“Hyura, kau baik-baik saja?”

Membalas tatapan ibuku tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Apa aku baik-baik saja?

Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama pada diriku karena aku sendiri tidak yakin. Mulutku terbuka tapi suaraku seperti tersangkut ditengggorokan. bukan hanya itu, tapi seolah tubuhku terpaku dalam satu bentuk. Aku tidak bisa bergerak. aku tidak menangis, aku tidak berteriak ataupun mencegah Kyuhyun untuk tetap tinggal. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya tapi aku merasa kosong. Tiba-tiba saja seperti seseorang mengambil sesuatu dalam dirimu sementara kau hanya diam tanpa tahu apa yang telah hilang.

“Hyura, sayang. Kau baik-baik saja? Hyura.” Suara ibuku terdengar sangat cemas. Tangannya mengusap pipi dan rambutku. “Nak,” panggilnya lagi.

Mengerjap dua kali, memaksa diriku untuk kembali ke tempat dimana aku berdiri.

“A…aku harus ke kantor.” Kataku berupa bisikan. Lalu menghilang dari sana sebelum ada yang memanggil namaku lagi.

***

Hari ini berlangsung sangat aneh. Semuanya berjalan terlalu normal. Aku bekerja, Meeting, berdiskusi lalu pulang ke rumah. Dan semuanya terjadi tanpa aku sadari. Tubuhku seperti bergerak sendiri sebagaimana seharusnya tubuhku bekerja. Kesadaran langsung menghantamku saat aku  berdiri di tengah kamarku. Aku sendiri tidak sadar kapan dan bagaimana aku bisa pulang.

Perasaan aneh yang membuatku mengeluarkan air mata saat aku berbaring menyalang menatap langit-langit. Aku tidak tahu kenapa tapi air mataku terus mengalir. Semakin lama semakin menekan dadaku. Beban yang kutanggung seharian malah bertambah berat. Aku megap-megap kehabisan udara seolah udara disekitarku menipis. Mungkin ini yang namanya kepedihan. Seberapa keras aku berusaha untuk menghilangkannya tapi tetap tidak bisa. Aku hanya bisa menangis sampai kelelahan lalu tertidur. Dan hal itu terus berlangsung setiap malam dan seterusnya.

***

Four Months Later

“…Jauhi dia! Dasar wanita jalang!”

Klik..

Aku memutar mata melihat Siwon tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa keras begitu aku melempar ponsel Siwon ke tengah sofa.

Seperti biasa, setiap jumat malam aku selalu datang ke kondominium Siwon. Entah untuk nonton, ngobrol, makan bersama atau hanya duduk diam tanpa berbicara. Siwon tidak pernah bertanya kenapa tiba-tiba saja kakak pura-puraku menghilang, dia juga tidak pernah menyinggungnya sekalipun. Sampai sekarang kami tetap berteman, dan aku bersyukur ada dia di sisiku.

Tidak ada yang berubah dari hidupku semenjak Kyuhyun pergi. Roda kehidupan di keluargaku juga kembali seperti semula seolah Kyuhyun tidak pernah ada. Ibuku maupun kakek tidak pernah menyebut namanya di depanku. Ibuku mengambil alih jabatan kakek, dia juga mengumumkan pada media bahwa Donghae telah meninggal karena kecelakaan. Penguburannya dilakukan secara tertutup. Kami membawa abu Donghae untuk di pindahkan ke pemakaman khusus keluarga. Kuburannya tepat berada di samping milik ayahku.

Posisi Kyuhyun di perusahaan dibiarkan kosong sampai ada orang yang mengisinya. Sementara keadaan Kakek tidak berubah, atau bisa dibilang semakin memburuk. Terkadang ada hari dimana kakek tidak bisa bangun dari ranjang karena tubuhnya terlalu lemah, sampai Lee Seonsaengnim harus membawa banyak peralatan medis di rumah kami. Aku menyesal tidak bisa memenuhi keinginannya. Karena aku sendiri tidak berdaya. Aku tidak mungkin meminta bantuan Siwon untuk menikahiku demi Kakek. Itu sangat tidak adil baginya. Aku sudah cukup beruntung Siwon tidak membenciku.

Melempar bantal ke arahnya namun dengan tangkas dia menghindar.

“Ya! Hentikan tawamu, Choi Siwon.”

Dia mengangkat tangannya memintaku menunggunya selesai tertawa. Apa-apaan!

“Seharusnya kau melihat wajahmu saat menerima telepon tadi.” Katanya masih diiringi tawa menyebalkan.

Menyipitkan mataku, “gara-gara siapa aku berubah menjadi mantan tunangan yang brengsek!”

Siwon tertawa lagi. “Penggunaan kata-katamu sangat unik. ‘Mantan tunangan yang brengsek’” entah kenapa saat dia mengatakannya aku tahu dia merasa bangga padaku. “Kau tahu aku mencintaimu lebih dari itu, Nona Park.” Dia mengedipkan salah satu matanya.

Bersandar di pinggiran sofa, aku bersedekap dan cemberut. “Lain kali jangan libatkan aku untuk masalah seperti ini, aku tidak mau tahu lagi sepak terjangmu bersama Lee Hyukjae. Aku tidak menyukai kau terlalu banyak bergaul dengannya. Dia memberikan pengaruh buruk.”

Siwon terkekeh, “Komentarmu sama dengannya, Hyukjae juga tidak menyukai aku terlalu sering bertemu denganmu.”

Aku mendengus tidak terima. “Apa aku yang mengajakmu pergi ke club? Mabuk-mabukkan dan berkenalan dengan banyak wanita? Aku yang melindungimu dari mata para penggali emas.Siapa yang tidak menginginkan seorang Choi Siwon” kataku sewot. Beberapa kali aku harus menerima telepon dari wanita yang dia temui di club, dan berpura-pura menjadi mantan tunangan posesif yang tidak ingin melepaskannya.Seperti tadi.

“Ada.” Katanya serius, “Kau. Kau tidak menginginkanku.”

Aku tersentak, tidak biasanya Siwon membicarakan masalah hubungan kami. Lalu sedetik kemudian dia tertawa lagi. Dahiku berkerut bingung.

“Wajahmu langsung panik.” Dia cekikikan, “kau lucu sekali.”

“YA!” aku melempar dua bantal ke wajahnya, dia menghindar dan menangkis bantal kedua.

“Arasseo, arasseo.Mianhe.”

Aku berdiri, membenarkan posisi rokku yang miring sebelum meliriknya malas, “sebaiknya aku pulang atau kau hanya terus menertawaiku.”

Siwon menarik tanganku hingga aku kembali duduk di sofa.Tangannya melingkari bahuku. “Menginaplah.”

Demi apapun tawaran Siwon sangat menggiurkan. Sejak empat bulan lalu aku tidak terlalu betah berada di rumah. Bukan karena ibu atau kakekku melainkan karena pikiranku sendiri. Saat di rumah aku selalu menatap pintu kamar Kyuhyun. Dan tanpa sadar aku akan masuk dan tidur di sana. Yang mana justru menambah parah beban di hatiku. Aku semakin tidak bisa melepaskannya. Setiap hari Aku selalu pulang larut hingga otak dan tubuhku tidak bisamemikirkan hal lain selain tempat tidur dan sebisa mungkin untuk tidak menatap pintu di ujung lorong di lantai dua rumahku.

 “Aku janji minggu ini dan minggu depan tidak akan ke club jika kau menginap.”

Aku meliriknya, “Apa itu suatu keuntungan buatku?”

Dia memutar matanya seolah berpikir, “Hmm, baiklah. Besok aku akan membuatkanmu sarapan, membiarkanmu menonton friends dan memilih episode favoritmu, hmmm, selain itu kau boleh memaki Ross sesuka hati.”

Mau tidak mau bibirku tertarik kebelakang, “bagaimana aku bisa menolakmu kalau begitu.”

***

 

Hari ini adalah hari senin minggu pertama di bulan kelima setelah Kyuhyun pergi. Aku tidak berniat menghitungnya tapi pikiranku punya caranya sendiri untuk mengkhianatiku. Tidak ada yang special hari ini selain kakekku ingin datang ke kantor. Semenjak ibuku menggantikan posisinya untuk sementara waktu (sampai menurut kakek aku siap menjadi penggantinya) dia belum pernah melihat cara kerja ibuku secara langsung.

“Aku tahu Ayah sudah tahu bagaimana cara aku bekerja dari mata-matamu di seluruh sudut kantor.” Kata Ibuku skeptis. Secara tidak langsung dia menyadari kelakuannya sendiri padaku. Sama seperti kakek yang mengawasi ibuku, ibuku juga menaruh banyak orang kepercayaannya untuk mengawasiku.

“Ayah tidak perlu memaksakan diri untuk datang.” Tambah Eomma.

“Aku tidak apa-apa. Jangan terlalu mengkhawatirkan orang tua ini.” sahut kakek.

Untuk hari ini kakek sengaja meminta kami untuk pergi menggunakan satu mobil, dia bilang tindakan kita hari ini akan sangat berpengaruh pada pengurangan emisi gas. Sejak kapan dia mulai peduli pada lingkungannya?

“Tapi…”

“Aku merindukan kantorku.” Potong kakek lemah, “aku juga ingin menyapa beberapa bawahanku yang setia. Sudah terlalu lama aku bersembunyi.”

Eomma tidak menyahuti lagi, tahu bahwa percuma melawan kekeras kepalaan kakekku. Eomma menegakkan tubuhnya dan memandanng lurus ke depan, ke arah jalanan. Sementara aku dan kakek duduk di jok belakang. Tanganku melingkari lengan kakek yang kurus dan lemah. Aku tersenyum tipis.

“Mereka juga pasti merindukanmu, Harabeoji.”

Tanpa menjawab Kakek menepuk tanganku di lengannya. Bersamaan dengan itu mobil berhenti persis di depan lobi PL Group. Seorang petugas membukakan pintu untuk kami. Sekertaris kakek, nona Jung sekaligus orang kepercayaan kakek saat beliau masih menjabat sebagai CEO— menyambut kami begitu pintu mobil terbuka.

“Presdir!” Seru Nona Jung, dia menunduk memberi hormat. “Senang bisa melihat anda.”

Kakek tersenyum, lalu melihatku.“Hyura, kau naiklah ke kantormu.Biarkan Junghee dan Nona Jung yang mengantarku.”

Aku mengangguk dan menunduk singkat sebelum pergi. “Ne, Harabeoji.”

Hingga detik meninggalkan kakek dan Eomma aku tidak pernah berpikir mereka memiliki maksud tertentu sampai Nammie masuk ke kantorku sambil membawa kopi.

“Aku mendengar gossip pagi ini.” katanya. Dia meletakkan cangkir kopi milikku dan meminum kopinya sendiri. Seperti ratu gossip yang tahu segalanya dia bersedekap. “Katanya hari ini pengganti kakakmu sudah datang.”

“Uhuuk.” Aku tersedak kopiku, mataku melebar menatap Nammie.

“Ya, aku tahu.” Nammie mengendikkan bahunya sambil menyesap minumannya. “Kau sama terkejutnya denganku.”

“Si…siapa?” tanyaku gugup. Mungkinkah ini alasan kenapa Kakek tiba-tiba ingin datang ke kantor, dia ingin melihat pengganti Kyuhyun?

“Tidak ada yang tahu, itu baru gossip. Aku mendengarnya dari divisi operasional. Yuri sendiri  yang mengatakannya bahwa dia segera mendapat bos baru.”

“Kau yakin hari ini?”

Nammie mengangguk, “mungkin sebentar lagi interkommu akan menyala dan memanggil semua kepala bagian, manager, spv, atau mungkin staff.” Nammie mengendikkan bahu lagi. “Semacam perkenalan seperti saat kau masuk dulu. Tentu saja semua karyawan melihatmu karena posisimu sebagai cucu pemimpin perusahaan ini.”

Aku memutar mata saat Nammie menyinggung hari paling memalukan dalam hidupku. Dulu aku harus tersenyum sambil menyalami ratusan atau mungkin ribuan karyawan yang bekerja di gedung ini.

“Kakek atau ibumu tidak mengatakan apapun?”

Aku menggeleng lemah. Entah untuk maksud tertentu atau mungkin kakek takut aku tidak menyetujui adanya pengganti Kyuhyun, makanya dia menyembunyikannya dariku. Sepertinya ibuku juga tidak tahu menahu soal pengganti Kyuhyun. Siapapun dia, pengganti Kyuhyun setidaknya harus memiliki requirement sebagus Kyuhyun. Di atas kertas, akademik Kyuhyun jauh di atasku. Aku hanya salah satu lulusan biasa dari universitas nasional sedangkan Kyuhyun mendapat beasiswa masuk ke Columbia University. Tidak heran dulu aku begitu membencinya karena kakek tidak pernah berhenti membanggakannya.

Tiba-tiba saja pintu ruanganku di ketuk pelan, aku dan Nammie saling berpandangan sebentar sebelum kami berdua menatap pintu.

“Masuk.” Kataku.

Nona Jung muncul di ambang pintu, dia menunduk member salam.

“Presdir ingin anda datang ke Hall utama.” Nona Jung melihat Nammie, “Begitu juga dengan anda,  Nona Han Nammie.”

Nammie melihatku seolah berkata apa-kubilang.

Aku mengangguk. “Aku mengerti, kau boleh pergi.”

Nona Jung menunduk singkat sebelum menutup pintu. Aku dan Nammie bergegas ke menuju  Hall yang ada di lantai sepuluh.

“Apa tidak terlalu berlebihan memperkenalkannya di Hall? Ini kan bukan acara perayaan perusahaan atau semacamnya.” Komentarku saat kami berjalan menuju lift.

“Kita lihat saja, mungkin dia lebih hot dari Lee Donghae.”

Aku memutar mata, Nammie cekikikan melihat rekasiku. Dia menekan angka sepuluh di panel lift.

“Apa kau pernah menyukai kakakku?” aku tidak bisa mencegah nada suaraku terdengar lebih sinis daripada seharusnya.

“Hanya orang buta yang tidak menyukainya?” Nammie mendengus, “Dia tampan, pintar dan memiliki latar belakang yang bagus. Meskipun kakakmu hanya anak angkat tapi sudah menjadi rahasia umum dia cucu kesayangan kakekmu.”

“Omong kosong.” gumamku pelan namun cukup keras terdengar di kotak besi ini.

Nammie tertawa kecil, “jelas kau iri dengannya.”

Salah, aku sama sekali tidak iri dengannya tapi aku mencintainya. Sangat. Namun aku tidak mengatakan hal itu pada Nammie, lebih baik menanamkan kebohongan di sekitarku, mungkin dengan begitu aku sendiri bisa menerima bahwa perasaanku pada Kyuhyun  hanya sebuah rasa iri dan bukannya cinta yang menyakitkan seperti ini.

Pintu lift berdenting lalu terbuka. Aku dan Nammie melangkah keluar, kami bertemu berpapasan dengan  beberapa orang yang juga akan memasuki hall. Ini lebih dari yang kubayangkan, hampir semua karyawan dikumpulkan hanya untuk memperkenalkan wajah baru. Biasanya hanya orang-orang tertentu yang diminta hadir, selain itu dengan begini otomatis semua pekerjaan di berbagai sector akan terhambat. Tidak biasanya Kakek melakukan hal ini.

Hall menjadi ruangan paling besar dan paling serbaguna di gedung ini disulap menjadi layaknya ruangan pesta. Meja-meja bundar di susun sedemikian rupa, makanan dan minuman di susun rapi di meja panjang di setiap sisi dinding. Meskipun tidak terlihat terlalu mewah tapi bukankan ini aneh? Aku semakin tidak mengerti, bagaimana mungkin ada acara perkenalan karyawan baru seperti mengadakan sebuah pesta di tengah-tengah jam sibuk.

Aku dan Nammie mengambil meja di barisan belakang, karena barisan depan dan tengah sudah hampir penuh semua. Aku bisa melihat kakek dan ibuku berada di depan, aku juga melihat dua kursi kosong di meja mereka, mungkin saja itu untukku tapi aku tidak berniat duduk di sana dan beramah-tamah dengan petinggi lainnya. Setelah  si wajah baru menunjukkan batang hidungnya aku berniat langsung pergi dan menyelesaikan pekerjaanku.

“Duduklah di sana.” Nammie berbisik sambil menunjuk meja ibuku dan kakek.

“Kau tidak merasa ini aneh?” tanyaku tanpa menanggapinya.

“Sangat.” Nammie menyetujui.

“Setahuku tidak ada sejarahnya perkenalan karyawan baru dengan acara seperti ini.”

“Mungkin Presdir punya maksud lain.”

“Tapi orang tua itu tidak mengatakan apapun padaku.”

“Karena kau bukan cucu kesayangannya.”

“YA!…” aku baru ingin membalasnya saat tiba-tiba saja tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan. Aku menoleh ke depan, disana Kakek dibantu ibuku sedang berjalan kembali ke kursi mereka. Sejak kapan? Dan apa barusan yang mereka katakan? Aku tidak menangkap satupun kata yang keluar dari mulut ibuku ataupun kakek. Begitu mereka duduk kebisingan bisik-bisik dari para karyawan memenuhi ruangan, aku menoleh kesana kemari sampai Nammie menepuk pahaku, mengembalikan fokusku padanya. Tapi dia tidak melihatku melainkan lurus ke depan dengan mulut terbuka.

“Hyu…Hyura-ya. lihatlah.”

“Huh?” aku mengikuti pandangannya ke depan dan tanpa sadar tubuhku bergerak berdiri, mulutku terbuka, dan mataku melebar.

Kyuhyun?

Dia berjalan memasuki hall dengan penuh percaya diri seperti yang pernah kuingat. Dia langsung menuju barisan depan dan berbalik ke arah kami. Senyumnya tersungging di salah satu bibirnya.

Kyuhyun menunduk dalam memberi hormat. “Aku Cho Kyuhyun, yang akan menggantikan posisi operational director, yang sebelumnya di jabat oleh Tuan Lee Donghae. Mulai saat ini, mohon kerja samanya.”

Tidak mungkin!!

***

Berjalan mondar-mandir di kantorku sambil menepuk pipiku berkali-kali. Tidak mungkin, ini pasti mungkin, tidak mungkin. Aku menggeleng kuat, masih tidak percaya Kyuhyun benar-benar kembali. Setelah Kyuhyun memperkenalkan dirinya sebagai Cho Kyuhyun aku langsung pergi dari hall tanpa menghiraukan Nammie yang terus mendesis memanggil namaku.

Menutup wajahku dan mengusapnya kasar. Aku masih tidak percaya dia kembali dan menjadi dirinya sendiri. Bukannya aku tidak senang atau semcamnya tapi semua ini terlalu mengejutkan. Apakan ibuku tahu? Tunggu. Semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang. mungkinkah kakek yang merencanakannya? Tapi bukan hal yang mustahil jika dia yang merencanakan hal semacam ini.

Aku tidak pernah bertanya kenapa dulu kakek tidak pernah mencegah Kyuhyun untuk pergi, rasanya terlalu mudah kakek melepas Kyuhyun, sementara aku tahu  dia bukanlah orang yang mudah menyerah. Di hall tadi aku juga tidak sempat melihat reaksi Eomma. Sial, seharusnya tadi aku menurut saja untuk duduk bersama kakek dan Eomma.

 Pintuku tiba-tiba saja terbuka. Aku tersentak, Nammie muncul dengan reaksi tak kalah bingung denganku.

“Kau tahu apa yang terjadi di hall tadi.”

Aku menggeleng.

“Semua orang bilang kembaran Lee Donghae telah bangkit dari kubur. Bukan hanya wajah, suara dan sikapnyapun sama.”

Aku kembali menggeleng, tidak tahu harus berkata apa.

“Kenapa kau pergi cepat sekali?” tanyanya saat aku tidak memberinya jawaban yang dia inginkan.

“Aku sudah melihat wajahnya dan aku tidak punya urusan lain di sana.” Sahutku berbisik.

Nammie melihatku seksama, mempelajari ekspresiku yang ganjil, tapi aku tahu dia tidak menemukan apapun sampai akhirnya dia mengangguk.

 “Baiklah sebaiknya aku kembali bekerja.” Dengan enggan Nammie kembali ke mejanya, meninggalkanku sendiri. Mengambil ponsel, membuka kontak, tapi aku sendir bingung siapa yang harus kuhubungi, kakek? Eomma? Atau Kyuhyun? Mungkin Kyuhyun mengaktifkan lagi nomor lamanya. Tapi itu tidak mungkin, nomor lamanya terdaftar sebagai Lee Donghae.

Melempar ponselku kembali ke dalam tas saat aku mendengar ribut-ribut kecil di luar. Aku mendengar suara Nammie cukup keras sampai pintu ruanganku kembali terbuka. Nammie menjadikan tubuhnya penghalang di pintu. Dia membelakangiku, lalu Kyuhyun berdiri di depan Nammie dengan mata yang langsung melihatku. tatapan kami terkunci begiti mata kami bertemu.

“Anda tidak boleh menerobos.” Sembur Nammie, dia menoleh sedikit padaku. “Hyura, kau harus memanggil keamanan, karyawan baru ini seenaknya ingin menerobos.”

“Biarkan dia masuk.” Kataku.

“Apa?” Nammie berbalik melihatku tidak percaya.

“Tidak apa-apa, biarkan Tuan Cho masuk.” Aku mengulangi.

Nammie terlihat kesal tapi dia tetap menyingkir dari ambang pintu. Kyuhyun menunggu Nammie benar-benar pergi baru dia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Aku berdiri kaku di tempatku saat mata Kyuhyun memindaiku, seolah memastikan tidak ada satupun yang kurang dari diriku.

Dia berhenti, lalu perlahan senyumnya melengkung, tangannya melebar. “Tidak ingin memberikanku pelukan selamat datang?”

Terlalu banyak kata yang ingin kulontar sampai aku sendiri bingung harus memulainya darimana. Aku membencinya karena meninggalkanku tanpa mengatakan alasan, aku bertanya-tanya apa kesalahanku sampai tiba-tiba saja dia memutuskan untuk pergi. Dan yang paling menyiksa  aku merindukannya seperti orang gila setiap hari,  menangisinya sampai aku tidak sanggup lagi untuk menangis, membohongi diri sendiri, memaksa diriku tetap berdiri dan berkata semuanya baik-baik saja. Lalu tiba-tiba dia muncul dan meminta pelukan selamat datang? Oh yang benar saja!

 Berjalan lambat ke arah Kyuhyun tanpa melepas kontak mata, aku menamparnya sekeras yang kubisa hingga kepalanya terlempar kebelakang. Dia tidak terlihat terkejut sementara aku sendiri  terkejut dengan tindakanku.

Kyuhyun mengusap pipinya yang memerah lalu tersenyum kesal, “Well, bukan reaksi yang kuharapkan.”

“Setelah meninggalkanku dengan cara seperti itu memangnya apa yang kau harapkan?” ujarku sinis.

“Setidaknya dengarkan dulu penjelasanku sebelum kau memukulku.” Omelnya, jelas dia tidak menerima perlakuan kasarku. Dia mengambil tanganku yang tergantung, menarikku mendekat lalu melingkarkan tangannya di sekeliling pinggangku. “Apa kau tidak tahu seberapa besar aku merindukanmu?” katanya masih kesal.

“Aku tidak mengerti.” Kataku jujur.

“Aku tahu, ini memang membingungkan untukmu.” gumamnya. Dia menurunkan wajahnya hingga kening kami menempel, aku tidak menolak meskipun ingin tapi tubuhku tidak. Aku tidak ingin berbohong bahwa aku merindukannya.

“Kalau begitu katakan.”

Kyuhyun menegakkan tubuhnya lagi tanpa melepas pelukannya, seolah memang dia membutuhkan untuk menyentuhku. “Empat bulan lalu aku harus pergi.” Katanya memulai, “aku harus mendapatkan identitasku kembali, itulah syarat yang kakakku ajukan agar aku bisa menikah denganmu.”

“Apa?’

Kyuhyun mengangguk, “melalui koneksi Kakek aku bisa mendapatkannya lagi, semua sertifikat, tanda pengenal dan hal-hal yang mengatas namakan Lee Donghae dialihkan menjadi namaku. Agar tidak terlalu mencurigakan maka aku harus benar-benar menghilang.”

“Kakek tahu?”

“Ini justru rencananya.”

Aku memutar mata, tidak heran kakek tua itu penuh dengan rencana. “Bagaimana dengan ibuku?”

“Eomonim sama tidak tahunya denganmu.”

“Tapi setidaknya kau bisa mengatakan sesuatu padaku, bukannya menyiksaku seperti ini.”

“Itu syarat yang lain.”

“Huh?”

Sekarang dia tersenyum, “Kakakku ingin mengetes kesetiaanmu, dia takut kau melukaiku lagi maka Ahra Noona melarangku memberitahumu. Dan terbukti bahwa kau tidak melupakanku.” Katanya bangga.

Menyipitkan mataku, melihatnya sengit. “Bagaimana kau tahu perasaanku tidak berubah.”

Kyuhyun menyeringai, “Kau pikir aku sebodoh itu melepasmu tanpa pengawasan, aku selalu mengawasimu Park Hyura.”

“Kau memata-mataiku?” tanyaku tidak percaya.

Kyuhyun tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Jadi? apa kau siap untuk persiapan pernikahan kita.”

Aku mendorongnya menjauh lalu mendengus, “Mimpi saja kau!”

“Ya!”

Bersedekap sambil menyeringai.

“Buat aku terkesan baru aku akan memikirkanya.”

“Ya! Park Hyura! kau mau main-main denganku?”

Mengangkat bahu dan menjulurkan lidahku padanya. Kyuhyun tertawa, meraihku dan memelukku. Aku balas memeluknya. Tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, empat bulan, lima bulan atau bahkan enam belas tahun lalu. Aku hanya bisa bersyukur dia kembali padaku.

***

Fin

 

 

 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Fanfiction, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

121 Balasan ke Famiglia Part 10 ~ End

  1. gyusso88 berkata:

    finally….. yuhuuuuu….:*

    baca entar ya….;)

  2. Angel_Cho berkata:

    Yeeeey… posting ^^

    • Angel_Cho berkata:

      Ahhhhhhhhhhhhhh!!!! Eonni!! Asli mah another story nyaa hahhaa

      Seriusss demi apa, aku baca rasanya nano nano bgt!
      Gilak ya, selama baca aku kok kesel plus kasian sama dua anak manusia itu. Awal-awal aku kesel sama Kyuhyun yang malah gk mau sama Hyura. Dia nolak Hyura! Omegot!!
      Truss aku jadi kasian laah sama Hyura, na’as bgt di tolak Kyuhyun wwkwkwk XD

      Puncaknya sii pas Kyuhyun marah gara gra hyura jujur. Ihh Kyuhyun apa bgt dah,
      Eh.. tapi aku ngakak di bagian Kyuhyun cerita soal rancauan Hyura waktu mabuk.
      Wkwkwkwkww XD
      Seriuss itu Hyura mau perkosa Kyuhyun? Mana gitu jujur semua pula.
      Ah tapi baguslah, Kyuhyun jadi berubah pikiran.

      Dan terkahir, aku udah curiga kalau kakek nya Hyura itu emang stuju sma hubungan mereka.
      Apa lagi Kyuhyun mendadak ilang, otakku langsung muter kalau itu rencananya di kakek wkwkwkw

      Well, ending nya aku suka, cuma kurang karena gak sampe nikah,
      Jadi aku tunggu another story ny eon hehehee

      Fighting!!

  3. delolikyu berkata:

    Haaaaah panjangnyaaaa ,sukaaaa bangeeet sempet deg deg an kalo ga sama kyuhyun hahaha

  4. chogyuu berkata:

    Finally… update juga. Dari massih blan februari gak bosen ngecek blog. Biasanya tiap sebulan sekali update, kok ini enggaaaaakkkk…
    Pasti sibuk ya kak.

    Tinggalin jejak dulu ya.. bacanya nanti.
    Oh ya thanks udh update authornim. Kkkkk~

  5. saecha berkata:

    puaaanjang bngt ceritanya, terus ngescroll kebawah kok gk nemu ujungnya. jgn” part ending lg.. dan itu benar 🙁

    kyaaaa kyuhyun dan hyura akhirnya bersatu jua^^
    agak kaget respon ibunya hyura kayak gitu,kirain bakal nolak si kyu..

    romance scene mereka sweet bngt.. jd deg”an sendiri 😀

    aah berharap bngt siwon ama nammie biar semuanya happy.. ^^ 😉

    si so yi kesian ya?? entah knp ngebayangin soyi itu seohyun ㅋㅋㅋ

    waah ada luhan nongol.. anak imigran dibawah umur.. haha luhan emang terlalu cute buat usianya 😀

    ditunggu another storynya.. 🙂 😉 😀

  6. revickasaskia berkata:

    Ah udah pokok nya mah ini sequel pleaseeeeeeee

  7. ninepisces berkata:

    weehhh untungnya beneran hepi ending!!!!! padahal td dah smpet nangis2 geje…
    g sabar tggu another story-nya…btw bs request bwthepi endingnya siwon g?? kasian tuh om2 soalnya… hehe

  8. adelcho berkata:

    Bahagia juga akhirnya mereka.. keren siwon tetep mau berdekatan sama mantan.. ternyata alasan kyu menghilang itu toh..
    Akhirnya happy end..aku suka karya famiglia mu ini

  9. ceo chua berkata:

    Kyuhyun dan hyura belum nikah ko ceritanya da tamat duluan…..tapi sukurlah akhirnya happy ending,meskipun sebenarnya pengen liat mereka sampai nikah

  10. Kh berkata:

    Huaaaa T.T udah end…
    Nunggu sequelnya eon,giamana kehidupan mereka pas udah married ^.^

  11. Cho mimo berkata:

    Boleh teriakkkk??
    Wah banyak banget surprisenya
    Scene kyuhyun yg lagi pamit itu bener2 ngenes bgt.sampe ikut terisak2 bacanya
    Ngerti banget sama perasaan hyura ditinggal tanpa alasan+ tanpa pesan *kecuali omongan kecil kyuhyun.itu bukan pesan *
    Sempat kesal banget sama kyuhyun. Trus mikir ‘ah bakak sad ending nih ‘ ternyata enggak
    Huaaa seneng bgt

    Ini benar2 end?
    End?
    Ya sudahlah gpp cukuo senang dan puas kok dengan endingnya
    Ditunggu karya2 selanjutnya eonni. Fighting!!

  12. akyuikha berkata:

    Haaaaahhh *bernafas dulu* part ini bener2 bikin emosiku naik turun!!! diawal tadi sempet sebel sama Hyura tp untung Siwon mau nyadarin dia tapi selanjutnya aku justru sebel sama Kyuhyun dengan sikapnya dia yg misterius abis (mungkin krn Hyura pov) pokoknya dua orang itu sukses bikin aku keheranan “kok jadi gini??”
    Aku pikir bakal balik lagi keawal, ngulang dari nol tapi seneng krn Hyura yg bertekad disini, dia jd lbh agresif walaupun agak gegabah sih… tapi kalau cuma pasrah aja, aku bakal lebih sebel lagi sama Hyura..

    Setelah semuanya, seneng akhirnya Kyuhyun bisa pakai identitas aslinya walaupun hrs ninggalin Hyura utk sementara…

    Di tunggu banget after story nya… boleh kali diselipi nc dikit kkkk

    Btw, thanKYU ff mu selalu keren banget… two thumbs. . Semangat terus nulisnya!!! ^^

  13. lindachoore berkata:

    Finally author posting juga. Serius deh, rindu bnget ma ff ini udah lama soalnya g update lg. G nyangka ya udah finale aja, msih pengen lanjut trus ma kisan kyu hyura ini hahah. Yakin thor ini gak akan ada sekuelnya kira2? Hehehe.. Tp apapun itu aku slalu favoritin karya2 author, yah walaupun famiglia udah tamat tp aku slalu nungguin karya2 author yg lain. Author fighting!!

  14. rei berkata:

    sudah ending toh 🙁 sebenarnya masih belum rela tapi aku lebih suka FF yang gak terlalu panjang sih jad ceritanya gak kemana2. jujur aku senang waktu buka blog ini ada lanjutan famiglia langsung baca. mereka benar2 membingungkan ya talik ulur hubungan mereka benar2 ruwet di saat yg salah satu nya siap yang lain malah berubah pikiran gak salah kalo kakek akhirnya mambuat rencana seperti itu membuat mereka berpisah tanpa ada kabar berita. aku ketawa lihat reaksi nammie 😀

  15. apriaherawati berkata:

    Akhir setelah penantian sekian lamanya~ happy ending.. ending ? Adain sequelnya dong chingu ya jebal yo! Seenggaknya tau gimana kehidupan dia pasca kyuhyun kembali atau diambil dr sisi kyuhyun menghilang 5 bulan aja diceritain jalan ceritanya tp dr sisi kyuhyunnya .. pokoknya author famiglia yg terbaik jjang !! Sequel.. sequel.. sequel.. sequel!! Sequelnya ditunggu chingu :-* :-* :-*

  16. Mongbee berkata:

    UNNIEEE KENAPA HARUS END DULUU???!!! MASIH PENGEN LIAT MANIS MANISNYA MEREKAAA AAAA!! TAPI AKU SENENG AKHIRNYA HAPPY ENDING>< HADOHH KYUHYUNKUUUU AKHIRNYA NIKAH JUGA SAMA HYURAA~~

  17. khanss berkata:

    sudah end ya ? aku kasihan sama siwon kelihatannya dia masih ada rasa sama hyura, mengubah cinta menjadi sahabat itu tdak mudah mungkin bagi hyura mudah dia kn mmg rasa cintanya sama siwon tidak sebesar siwon ke hyura 🙁 makasih author FF ini bagus aku suka sekali aku sering ngecek twitter author buat cari tahu famiglia yang terbaru. terus berkarya author aku tunggu part selanjutnya. ngomong2 setelah ini bakalan ada FF baru atau mau ngelanjutin yang lama ?

  18. Ayuk berkata:

    ahhh eonni mahhhh suka gitu bikinnn kesellll tp juga bikin pengen melukkkkk….hhhhhh
    gak tau harus kesel sama kyu atau hyura..secara hyura gitu banget dipkirnya hati manusia itu tumis kangkung apa yaaa bisa di bolak balik gituu
    kyuhyun juga kurang hajar banget ini hati cewek man bukan gantungan baju yg bisa di gantung dimana aja dan slama apa.. 5 bulan tanpa kabar dg santainya pasang cctv di sekitar hyura..ohhhh ya ampunnn beneran pengen nimpukkk tu anak pake bibirr sayaaa :v
    sequel bolehhhh kak…heheehehe

  19. Dwi2 berkata:

    Ah gk nyangka endingx bakalan kek gini,,,, happy ending
    tp aq kasian ma daddy dolar
    nasib daddy dolar gmn?

  20. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

  21. syalala berkata:

    huwaaaaaaa aku gatau lagi gatau gatau mau ngomomg apaaaaaaaa huhuhu yg jelas hari ini seneng bgt karena semua ff yg aku tunggu pada update!!jam 11 malem niat udah mau tidur, ngecek wp ini ternyata udah update and i feel like……seneng bgt wakakakakakaka parah ini ditunggu bgt!!! dan astaga asli aku nangis pas kyuhyum pergi tiba2, entah kaya bisa mgerasain apa yg hyura rasain parah ngefeel bgt mana sambil dengerin suara kyuhyun tambah aja nangis!!!! aku gatau lagi huaaaa dan endingnya kaya gini!! aku ga terima!(?) wkwkw ngeliat mereka nikah pengen tau mereka pas buat anak *eh? pengen satu part isinya sweet2nya aja huhuhu parah deh ini worth it bgt buat dibaca dan ga nyesel nunggu sampe part sebelumnya ada kali baca lebih dari 10 kali hahaha ketauan ya gada kerjaannya aaakkk pokoknya kalo ada yg nanya ff kyuhyun yg bagus pasti aku bakal rekomendasiin ini paraaaaaahh daebak bgt!!!!!! ditunggu cerita lainnyaaaaa

  22. Yaaaah udah end. GarelaaaaaaaaT.T
    Di part ini serasa teraduk aduk. Up and down up and down gitu.

  23. Hyunfishy berkata:

    Benar-benar kejutan, mereka berdua sama-sama membatalkan perjodohan dan berakhirlah di sini kejelasan hubungan mereka kedua ke depannya 🙂

  24. Tanti berkata:

    Miss hoon makasih dah dibuat happy end

  25. Quurotun ayuni berkata:

    Yeyyyy happy ending…
    Ku kira td kyu bnrn pergi.
    Tdk adkh sequelnya #plak

  26. rahmi berkata:

    daebak
    bth sequel thor.
    Pgn tau gmn pernikahan hyura dan kyuhyun.

  27. hyemi berkata:

    akhirnya setelah nunggu lama muncul juga part endingnyaaa…..kereeeeen banget endingnyaaa….tapi kurang puas sama akhirnya eon…kalo bisa sequelnya dong eonn…..

  28. megga3424 berkata:

    wow ending yang pernah terpikirkan, yeeyy ahirnya mereka bersama dan juga dg kyu yg menjadi dirinya sendiri..
    tapi boleh jujur nih kak, aku sbnernya nungguin nc nya di bagian akhir #plak
    kan kyu bilang mereka bakal gituan setelah merka nikah.. wkwk *otak mesum*

  29. zahra syifa berkata:

    naaahhhh yg pling g dsangka it siwon yg kyaknya bnr2 iklas .

    rencana kyu emng bkin gedeg si hyura scra prg g blang dlu. tp syukurlah smua udh setuju n eommanya jg setuju jg.

    another story dtunggu bgt.

  30. gaemy berkata:

    Akhirnya happy end
    Akhirnya kyuhyun sama hyura akan nikah
    Wwkwkkwkw duh kyuhyun pinter bikin orang bingung wkkwkwkw

  31. chieva_chiezchua berkata:

    Yaaaachhh trnytaaa udh end… ahhhh masih belum rela pisah ma nie ff, bner2 gregetan sama semua karakter yg ada di ff ini, kereeen bnget ka’,,, ini ff paling aq tunggu bnget dri januari februari suka bolak balik cek blog ini udh updet apa belom, bner2 suka pkokx…. baca ff ini bner2 nano2 rasax, kdang kesel ma kyuhyun kdang kesel ma hyura kdang kasian juga ma mreka berdua ahhh entahlah pkokx suka bnget, dtunggu another story nya ya ka’ fighting!! ^^

  32. leekhom berkata:

    Squel’a ditungguuuuuuuu hhhh akhir’a kyuhyun bisa make nama’a sendiri perjuangan’a gk sia” 16th jd nyandang nama donghae sekarang make nama sendiri ..hyuraaaaaaa akhir’a penantianmu gk sia” kyuhyun kembali harus’a tuh ending’a lbh romantiss squel’a mereka nikahan yh :-D..puas bgt gk sia” bc dari part 1 mpe end nunggu per-part endinge bikin puas

  33. kokyu berkata:

    Happy ending selamat deh..
    Ditunggu karya lainnya..

  34. tin berkata:

    Bisa banget deh miss hoon ini.. akhir yg keren dan masuk akal. Jempol.

    Dijadiin novel kek rache juga dong.. aku mau aku mau..

  35. Lovey denalisa berkata:

    setelah end aku berharap ada sequelnya..
    iya si lumutan tapi ini memuaska bgt. paannjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannggg
    tiap samoe peertengahan mikir endingnya bakal kaya apa??mereka nnyatu kan??? gak sed ending kan….????
    dan mereja nyatu,bakal ada next story????wahh bocoran yg menyenang kan ga perlu susah susah ngrengek buat minta klo gitu….

    setelah penantian panjang nunggu ni ff,kaget taunya dari pf padahal aku oantengin tioa hari ni wp buat pastiin update apa gak part 10 nya…..
    makasih udah di slesein.makasih skali lagi.
    ga mau marah marah ato makai hyura,aku paham.posisi dia kemaren,klo.aku jadi dia juga psti ga jauh beda.

  36. SheeraDaffa berkata:

    Ah…tdinya sempet nyesek…agk terharu ma kenekatan Hyura tuk mmperjuangkan hub mereka setidaknya it tuk nebus ksalahannya dulu yg smpat mngecewakan kyuhyun hingga kyuhyun gk prcaya lagi…
    trus pas liat keromantisan mereka duh…ampek senyam senyum..aplagi pas kyuhyun manggil hyura ‘honey”…ugh…serasa ad bnyak kupu2 yg berterbangan…#lebay
    trus pas kyuhyun tiba2 mutusin tuk tetap pergi rasanya pngen nangis…gila nyesekk bgt bok…
    tpi pada akhirnya smua baik2 ja…
    hmmm…another story nya bner2 ditunggu…

  37. Vcjrina berkata:

    Akhirnya ini ff selesai juga 😀
    Happy end sih tp sayang nggantung
    Ditunggu another storynya author

  38. LEA berkata:

    udah end ya ?? duh pdahal masih pengen liat eh baca pas nikahannya..

    Okelah gapape.. akhirnya si kakak-adik gagal jadi saudara, tpi jadi nikah..over all amejing and makasih for author-nim yg udah kasih kita story

  39. Citra Rizkiyani berkata:

    Waktu Kyuhyun nerima Hyura akunya seneng banget tp pas Kyuhyun sama Ahra eonni buat pamitan ke keluarganya Hyura rasanya tuh udah ngeprediksi kalo bakalan sad ending tp KEJUTAN Kyuhyun balik lagi dan bakal nikah sama Hyura

    Keep writing 🙂

  40. maymacita89 berkata:

    Dari semua ff kyuhyun yg pernah aku baca ya kak, ini termasuk yang paling rumit konfliknya.
    Karakter masing2 cast juga diluar jangkauan otak aku, kadang as expected kadang juga unexpected pokoknya ini anti mainstream haha.
    Sebenernya kalo jadi kyuhyun sakit juga ya kaya dimainin doang. Dikit2 merasa dibutuhin dikit kek dibuang uu
    Jujur ya kak aku pen banget gampar hyura dari dulu *eh dia plinplan banget sih kan jadi kesel aku. Tapi pas dia mau berjuang okelah udah sadar nih dia. keinginan buat gampar udah ilang pas liat dia menderita kangen kyuhyun akut wkwk. Ikut baper tapi seneng juga sih itung2 karma :vvv
    Dan buat siwon dia wajib dapet predikat best-ex-fiance-ever lol soalnya super duper baik banget dia. Yakali mantan tunganan bisa jadi temen kan mustahil in reality.
    Intinya ini ff oke banget ya walopun nunggunya lama tapi its ok udah kebayar sama endingnya.
    Ditunggu karya2 yang lain ya kak, yg lebih greget dari ini kalobisa :DDD

  41. Krysdha berkata:

    Aigoo,, kmrn ama hr ini bnr2 kebanjiran Ff..
    Makasih ya kak,,udah mau posting lnjutan Ff ini..
    Ah,, dagdigdug bgt bc’x..
    Tkt2 gk bkln Happy Ending..
    Tp ter’xta,,,
    Feel’x Dpt bgt..
    Sk bgt ama Scene Trkhir”x…
    Di tung2u Story Slnjut’x..

  42. inet berkata:

    KEREN!!!stlah wara/i nengok ksni,akhrny yg dtggu dtg jg…sngnyaaa >o<
    daebak!sk bgt ma jalan critanya dr awal pe ending…jakkanim,jjang ~ ^^
    woah,asik bgt bkal ada crita bru…yeeeyy…dtggu bgt pstnya,,smgt ya.. ^^

  43. uchie vitria berkata:

    seriusss udah ending ini
    astaga penuh kejutan rasanya campir aduk hampr aja hubungan mereka gk diteruskan
    sebenarnya uda tahu juga kalo sang kakek pastinya tahu soal hubungan hyunra dan kyuhyun makanya dia merencanakan semuanya
    mengembalikan identitas kyuhyun dan kehidupan dia yang sebenarnya
    intinya mah mereka bahagia dan merencanakan pernikahan
    so sweet hot and romantic

  44. antir berkata:

    Another story nya ditunggu.. moment kyuhyun hyura nya masih kuuuurrraaanngg u,u
    Seneng deh akhir nya mereka bisa bersama, meskipun ditengah cerita kyuhyun harus ninggalin hyura untuk sementara waktu

  45. hyokwang berkata:

    aaaaaa…. selalu nyesek baca ff ini, part ini juga bagian depan bikin nyesek… tapi akhirnya kyuhyun hyunra bisa sama-sama lagi…. kasian siwon…
    ditunggu ff yg lainnya 🙂
    semangat 😀

  46. gamekyu54 berkata:

    masih blm rela udah nyampe end
    tp sedih blm liat kyuhyun hyura nikah
    ada sequel ngk yah?
    nunggu bgt dah karya slanjutnya fighting

  47. cho irma berkata:

    ff terpanjang yg aq baca….senengnya akhirnya kyu and hyura mau married walau harus pisah dulu….

  48. atif309 berkata:

    aaaa … end nya sesuai harapan …
    walaupun author nya kalo mbuat end selalu tanggung *uhuk
    tapi overall sukaaaaaa ngeds omegat ama stori nyahhhhh…
    author nya paling pinter kalo mbuat yang baca gemesh gemesh sebel gimanahhhh gitohh…
    hmmm btw MBG dilanjutin nya abis ini… hehehehehh
    mangat smangat thorrr ku cayang kuy piyue piyue .. wkwkwkwjwkwj

  49. Rhenol berkata:

    Terkejut sekali kalau cerita ini udab End, bahkan ketika baca ceritanya ya ampun bikin tambah terkejut, Akhirnya happy ending juga dan Kyuhyun mendapatkan identitasnya kembali.
    Rasanya akan ada another story dr kisah ini. Dinantikan sekali… dan dinantikan karya2 yg lainnya.

  50. KyuHae801 berkata:

    Daebak. Keren storynya. Harus ada sequel ini. Eonni aku baca endingnya aja tersentuh. Ditunggu karyamu yang lain.

  51. henycweet berkata:

    ya ampunnn ini perlu after story nya yaaa..akhirnyaa masalah selesai jg..kirain kyu bnr2 ninggalin hyura ternyata smua msh rencana kakek hyura dan noona nya kyu yaa..ahhh senang mereka bs sm2 lg..pengennya after story nya ttg pernikahan kyuhyun hyura yaa..hihihiii..

  52. Liamuliyana berkata:

    Aaakhirny post jga…
    Part ini bener2 bagus bgt
    Selain panjang, jg part ini bener2 gregetan sma tingkah laku kyura truss jga menguras emosi tentunya…
    Kyura happy ending walaupun byk rintangan…
    Hrus ada sequelny ni, harus… *reader ny maksa bgt nih…wkwkwk

  53. Pearluhan berkata:

    End?
    Serius? Bahagia sh happy ending. Tapi pengen adegan kemesraan hyura dan kyuhyun.
    Another story or sequel, please.

  54. shinahra29 berkata:

    Akhhh…. Happy Ending….
    Baguslah Kyuhyun sdh mendapatkn identitasx kembali…
    Yahh kasihan siwon… emmm siwon oppa km sm sy saja yah….

  55. apriliayanti berkata:

    Akhirnyaaaaa..setelah bolak balik ni wp, di post juga ff yang dah lama aku tunggu. Keren bgt, aq suka konflik puncaknya sampe akhirnya mereka bersatu, udah curiga kl kyu sama kakek punya rencana krn kyu pergi sama sekali gk ditolak sama kakek. Untungnya hyura sama siwon gk balikan lagi, hehehe. Ditunggu another story nya…semangat

  56. Latuf berkata:

    Kyaaaaa…saeng nda rela klo pert ini end…nda relaaa butuh sequel saeng
    huahhh kn pingin lht kyu ma hyura nikh…aigooo ini terllu mengejutkan lht lh kyu ma hyura z bru ktmu lgi msa ea hrus end….gimnh ahra lom ktmu lgi ma keluarga hyra….aduch saenggg….story yh cyng

  57. Choi Rinna berkata:

    Finally yg ditunggu tunggu muncul jg >,,<

    Baca part end ini rasanya nano nano bgt, kesel, sedih, seneng campur jd satu,, kirain bakalan sad ending wktu kyuhyun tiba tiba ngilang tp trnyata happy ending <3
    Ntah knp gw suka dgn moment lovey doveynya kyuhyun n hyura :3 keliatan bgt perasaan satu sama lain

  58. amanda_pratiwi berkata:

    endingnya memang agak gimna gitu , tapi kalo ada another storynya nggak papa si haha
    kirain kyuhyun bakal pergi dan nggak bakal kembali lagi sma hyura tapi tau nya kembali , nyesek si kalo jadi hyura ditinggal begitu aja wajar lah kalo kena tampar kyuhyunya
    oke another storynya ditunggu^^

  59. chiesHee berkata:

    kyaaaaa ahir.a part END adalah part yg paliiing puaaanjaaang dan memuaskan #ehh

    gomapta eoniii ^^ the next bikin ff lg dgn crta yg lbih keceee yaa fighting ♡♡

    ini di bikin sequel jga boleh kok #ehh

  60. babycho berkata:

    Huaaaa mereka bisa bersatu juga akhirnya ,
    Ternyata kyuhyun pergi itu ada tujuannya

  61. jesschyntia berkata:

    yeeeaayyy akhirnya hyura ama kyuhyun jugaa uuuaa senengnya happy end… tinggal tunggu another story aja nih hohoho

  62. Widya Choi berkata:

    End?… Kok q msih blom rela y kalo ni ff udh end huhuhu. Udh klop bgt nih couple, suka am karakter mrk ber 2 dsini. Thor klo bs buat season 2 ny y..haha biar kyk sinetron gt :p :p ,,crtain khidupn rmh tgga mrk hohoho.
    Aduhhh q nympe bgung nih mau komen ap lg..
    Pas liat blog trs liat updatetan part 10 rsany sng bgt smpe kgak nyadar klo tyta udh end..
    Q sedih pas hyura dtg k acara prtemuan kluarga unk bhas pnikhan kyu n so yi. Q pikir kyu bkal serius am so yi tp tyta d luar dugaan kyu justru batalin rncna pnikhan itu. Jujur q sng wkt itu brti hyura msih pny ksmptan unk am kyu.
    Tp lg2 hrs sdikit kcwa am kyu yg slu bsikap dingin am hyura. Pdhl hyura udh brusaha unk mprbaiki ksalahan dy. Y g bs nyalahin kyu jg sih. Mgkin kyu trlu kcwa aj n dy tkut dkcwain lg. Mk ny dy cuek am hyura. Tp tyta gr2 hyura mabuk berat, justru hubngn mrka jd dekat lg hihihih.
    N q smpe nyengar nyengir ndiri bc ny. Liat mrk blik mesra lg rs ny sng bgt hehe. Nympe q d katain kyk org gila gr2 snyam snyum sndri am hp hahaha.
    Aigoooo hyura klo mabuk seremin y.. Ms mau sampe perkosa kyu. Untung kyu bs nahan, klo g udah habis tu si hyura hihihi.
    Tp sempet sdih lg nih q, wktu kyu tb2 ngilang n susah dhubungin eh tau2 ny dy n ahra malah pamit mau pergi. N si hyura hny diam liatin kyu prgi tnp ad pnjlsan mgnai hubungn mrk. Kan otomatis si hyura kyk d gntung tu slma bbrp bulan. Dsitu agk kesel sih, tp tyta itu jg unk nguji kstiaan hyura am kyu. N hyura bhasil..n akhirny kyu kmbli dg jati dirinya sndri. Bukn s donghae.
    Ahhhhhhhh rs pngen triak pke toa g boleh end. Mau pngen trs blnjut crta ny. Suka pke bgt am peran mrk d ff ni. Rasany campur aduk kyk rujak bc ni ff hihihi.
    Smg mrk cpat nikah..jd si hyura bebas klo mau perkosa kyu eaaaaaa #KaburAhhhh

  63. coffeshopstory berkata:

    Yeiiiiy akhirnya diposting juga. Huhu gk tau deh mesti ngomong apa ttg cerita ini. Pokoknya cerita ini sukses bikin saya teriak teriak + senyum senyum gila sendirian

  64. Dianelf berkata:

    udh lma Gk mampir ke blog ini udh ktingalan brapa part,,,akhir ny mrek bsa brsatu jga stelah mnyakiti dri mereka sndiri,,,pngen liat mreka beromntis2 ria,dtnggu another story nya ya eonni

  65. Entik berkata:

    Wahaaaaa akhirnya, mereka beneran bisa memperjuangkan apa yg mereka ingin kan, walaupun park harus bersedih, dan aku bemeran suka sama karkter siwon. Dia hebat.

    Dan 1 lagi miss hoon, tetep semangt ya buat berkarya.

  66. inggarkichulsung berkata:

    Aigoo sdh end ternyata, Hyura benar2 bingung dgn hilangnya Kyu oppa dgn identitas Lee Donghae dan skrg datang kembali setelah 4 bulan dgn identitas yg sebenarnya yaitu Cho Kyuhyun, Hyura bahagia krn Kyu oppa nya kembali dan mjd pengganti jabatan yg dulu untuk Donghae oppa yg sbntlnya jg sdh meninggal lama

  67. diana berkata:

    Yaayaaa akhirx mereka bisa bersatu lagi …keren ff yg panjanx sampai 3 kali bacax di tinggal sholat , makan , sampai mandi ..
    Di tunggu karya2 selanjutx

  68. Nur berkata:

    Sampe bingung mau komentar apa. Karna saking terpukaunya sama ini cerita. Sumpah seru banget. Ditunggu karya selanjutnya ..

  69. lenifey berkata:

    seneng…sedih juga udaah end…huaaa…finally mereka bersatu…
    puas banget laah baca sepanjang ini dan seru sekaliii…
    sequel juseyooo~ kalo miss hoon berkenan siih..hihihi..
    pokoknya bagus..
    ditunggu selalu cerita2 selanjutnya

  70. nanaelsha berkata:

    Awalnya sedih banget, kirain bakal sad ending, lamaa banget nunggunya jadi puas lah klo happy ending, berharap ada sequel lagi hohoho.. Pengen liat mereka mesra2an sama berantemnya kayak apa..

  71. dubbyblue berkata:

    Oooooh astaga!!!!
    Ending yang manis 😳😳😆😆😆

  72. example6865 berkata:

    Akhirnya setelah menunggu cukup lma ff ini di publish jga cukup puas sma ending nya

  73. Kyukyukyuniw berkata:

    Speechless

  74. elzi15 berkata:

    Sampai bingung mau komen apa,,luar biasaaaaaaaaa…… huhhh hampir 4 jam baca part ini,,mencerna kata per kata,,luar biasa onnie,,,, semangat menulis terusss onnieee,,,,

  75. Dhewull berkata:

    Part End nya bner* Mengesan kan. .. Kyuhyun disebut kembaran Donghae yg bangkit dri kburan kkkkkk Lucu..

    Daebakk

  76. zuwandita berkata:

    End? Aku kok ga ikhlas ya-_- masih gantung nih eonni.. btw ku tunggu ff selanjutnya dari mu
    Kalo bisa sebelum bikin ff baru bikin sequel ff in I dulu… wkwkwk hwaiting eon..

  77. Park Nara berkata:

    Luar biasahh ceritanya T-T maunya part pling terkhir dipnjngin kaa, greget banget stelah mreka ketemu lngsng end wkwk
    Makasihh sdh memberikan para pmbca cerita yg w.o.w b.g.t
    Aku selalu mndukungmuu!!!

  78. amoy berkata:

    Isssh…kyu harus dikasih pelajaran dulu doong.
    enak aja bikin anak orang udah kayak mayat hidup..huuuft

  79. Julia berkata:

    Udah End? Beneran udah end?
    Waktu baca FF ini campur aduk perasaannya sedih,sakit hati,kecewa,marah,kesel,tersipu,seneng,bahagia dll lah. Jarang banget ada FF yang menguras energi seperti ini hehehe…
    Waktu kyuhyun ninggalin hyura itu bikin hati kecewa banget sama kayak apa yg dirasain hyura tp endingnya bikin hati meluap bahagia akhirnya mereka bertemu lg ahahahaha… dan author semoga ada Epilog atau cerita hyura kyuhyun di FF famiglia lagi… hihihi

  80. Azizashi_You berkata:

    Udah? End seriusa??? Gk kerasaaaaaaaa
    kayaknya konfliknya udah klimaks banget. bikin campur aduk. Dag dig dug juga, sih. sayya udah sempet ngira kalau yang gantiin itu pasti Kyu-Hyun dengan identitas aslinya. tapi end secepet ituuuuu????? Berasa kayak ngegantung malah. cepet banget soalnya, nggak sebanding sama konfliknyayang pelik dan panjang. tapi ada next another story-nya? Sequel? boleh deh boleh…. ditunggu, yaa Eon, faighting.

  81. rianti berkata:

    huah end… dan disini hubungan mereka naik turun. seneng sih seorang park hyunra bnr2 mau berjuang buat seseorang y dari pd nyesel mending dicoba dulukan. toh ahirnya kyu luluh juga dan mau berjuang bersama…
    suka banget sama endingnya,, apalagi kyu ngembaliin identitas aslinya,, trus skinship mrk lumayan banyak n masih atu bates si.. hehehe

  82. hyunsoo28 berkata:

    Astaga ini waw bgt
    super panjang yaaah
    bacanya campur aduk kaya gado”
    Pas kyuhyun pergi bnr” berasa bgt sedihnya
    tp seneng bgt sm endingnyaaaa
    klo bsa ya eon klo bsa nnih
    pliiss bkin after story 1 part yg pnjng aja wkwkwkwkk

  83. Epha berkata:

    Akhirnyaaa happy ending jugaa walaupun pas awal2 baca nya agak deg deg an
    Di tunggu another story nyaa..

  84. niza berkata:

    endingnya sesuai sama yang dihrapkan dimana keduanya bisa menikah meski belum menikah hanya sebatas merencanakan saja.
    ehhhh tapi kakeknya baik banget ya mau mengembalikan kyuhyun dengan identitas kyuhyun seperti semula, apa memang kakeknya sdh tau ya kalo ahirnya kyuhyun dan hyura sebenarnya akan memiliki hbngn melebihi batas sbg seorang kakak tiri.
    another story nya boleh thor hehehehe

  85. erlanysaskia berkata:

    Suka banget sama akhirnyaaa, tapi kurang puas soalnya gak nyampe acara nikahan mereka sih terus punya anak gitu:’3

  86. atika clalu ceria berkata:

    Huft…END
    setelah emosi meledak-ledak pas kyuhyun tiba tiba pergi,lalu mendingin lagi pas kyuhyun ngajak aku nikah.eh..hyura maksudnya.
    Daeebaakkk…
    Ok.ditunggu another storynya
    Fighting

  87. Ayum berkata:

    Baca ini kayak rollercoaster, sedih seneng jengkel. akhirnya seneng karena mereka bersatu dan identitas kyuhyun kembali. Terimakasih untuk ffnya

  88. Cho Sarang berkata:

    Beneran end nech ? Author apa gak da niat buat nambah 1 part lagi ? Soalnya ini end nya nanggung loh,rasanya gak plong endingnya rasa,ada yang mengganjel gitu. Ditunggi next another story

  89. Chohiro berkata:

    g rela rasa nya klo ff ini end.. Sya suka saat mereka lg romantis romantisan.. Berasa gmanaaa gtu..

    Saeng semangat tuk ff slajut nya

  90. nisa11 berkata:

    woww panjang banget kak ceritanya aku suka.
    akhirnya happy ending aku kira kyuhyun benar*pergi ternyata tidak.ditunggu another storynya ka fighting 🙂

  91. Deborah sally berkata:

    Yah udah end aja 😀

  92. teenaclouds berkata:

    Puas bgt bcanya ceritanya panjang sekali….
    Dan yg pling disuka yaitu happy ending~~

  93. prahezty berkata:

    tadi sempet mikir kyu sm hyura gga bkal bersatuuu ..
    tp trnyataaaa happy ending !!!
    yeeaaaayyy ..

  94. linda berkata:

    finally end juga *tarik nafas panjang*
    tapi ada yg kurang kak,,soalnya mereka blum nikah..bikin after story waktu mereka nikah sekalian bulan madunya dong kak…*kalau mau sih* hehehe
    semangat trus berkaryanya

  95. khosinurohmah berkata:

    Setelah lama nunggu. Happy ending, tp bagus endingnya ga ngebosenin. 🙂

  96. Kikii Ryeo berkata:

    Huaaaa.. kangen sama famiglia, udah nunggu laama banget. Eh pas muncul udah end gitu aja.. ff terlamaa dg ending yg cukup bikin nangis senyum

    Hyura sama kyu udah cukup menguras emosi diawal part. Masih kepikiran andai saja ibu hyura malah marah kalau tau siapa kyu sebenarnya, ini ff pasti panjang heehehe..
    Tapi untung aja kyura direstuin..

    Gak bisa berhenti nangis pas kyura cekcok. Tapi untung aja mereka malah jadian.. tapiiii sebentar di buat lega sebentar lagi dibuat sedih.. kyuhyun ninggalin hyura tanpa kata! Huhuu rasanya galau banget deh si hyuraa. Padahal mereka udah berjanji untung perjuangin cinta mereka..
    Tapi untung lagi, kyu pergi dengan alasan. Dan alasannya tuh bikin melting..

    Mereka bertemu pas udah lagi rindu ditahap akhir*^▁^*
    Cumannya ya sayang ff ini berhenti disini.. padahal pengen banget ngelihat kyura nikah trus punya anak..
    Tapi aku tau kok miss hoon udah capek mikir kalo ini ff gak tamat2..

    Sebagai reader yg baik, saya cuma mau minta sequel aja.. btw another story itu buat famiglia? Boleh juga

  97. chona berkata:

    ya ampunnn thorr feel nya dapet bangettt ga percaya kalo udah end aja :'( berharap ada sequel XD

  98. iiz leekim berkata:

    Part yg panjang yaa tp ending’y g sampe nikah yaa mereka

  99. gyusso88 berkata:

    baca ulang ah… lagi insomnia ini…

  100. Rrin'sLove berkata:

    Huwaaaaaaaaaaaa
    ini kereeeen
    ada after story nya gak kak ?
    waaaah sumpaaaah
    si kyuhyun disini selalu menjadi lelaki menyebalkan ckckck
    menolak tapi akhirnya menerima
    awal2 aku beneran percaya itu Hae
    tapi setelah ada anak kecil itu aku ragu astagaaaa
    ternyata itu Kyu wkwkwk
    gilaaaaa perjalanan cinta mereka ribet amat
    dari Hyura yg pengen sama Siwon ujung2 sama Kyuhyun juga kkkj
    aku sukaaaaaaaaaaaaa
    ini keren pokoknya
    happy ending
    hahahaha semua orang tercengang dengan perubahan nama kkk
    hebat !!!
    aku pengen cerita saat mereka menikah
    kayaknya seru kkk
    pas pacaran bahkan mereka astagaaaa sibuk bercumbu -_-
    apalagi nikah hahahabaha

    pokoknya best lah ^^~
    semangat ya

  101. vhiy zaza berkata:

    Aku sempat kecewa gak akan baca part ending famiglia soalnya beberapa waktu lalu aku mau baca tapi blognya udah dihapus, besoknya tetap aja aku cek lagi dan tetap udah dihapus, gak tau kenapa tadi tiba-tiba cari ff famiglia di google dan ketemu FP, seneng akhirnya bisa baca ending famiglia

    Ya ampun kyuhyun udah bikin ini hati nyut nyut, aku kira beneran mau ninggalin hyura, ternyata itu syarat dari ahra biar dia bisa menikahi hyura

  102. Goldilocks berkata:

    Ehh?? Abis? Selesai? Finish?
    Duuuuh ini mah harus ada sequel~ aku mau liat mereka nikah sumpah huah
    Serius ini ff series terlama yang aku baca. Walaupun cuma 10 part tapi saty part nya puanjang gewla >< semalem aku baca sampe jam 2 dan barusan aku lanjutin setengah lagi dr part ending ini..
    Tapi rasanya–masih kurang puas u,u maaf– soalnya ini saking terbawa suasananya saking aku nikmatin karya kamu sampe yaaa jadi begini. Mau lagi mau lagi heuuuu

  103. Youn berkata:

    Ending???? Huaaa kurangggg #gregetMasih
    sequel please 🙁

  104. tiptoelips berkata:

    extra story please….

  105. Hoam berkata:

    Ya ampun bru ktmu ama blognya kakak lagi jdi bru baca skrng endingnya
    Yeay akhirnya happy ending, smpet nyesek baca bgian” awalny tpi skyukurlah gak sad ending
    Nice story kak, smga ada sequelnya

  106. Rithaaa16@yahoo.com berkata:

    Sumpah gak terima endingnya kayak gini!!
    Seharusnya endingnya sampai dia punya anak/?
    Part ini bener2 bikin deg2an thor

  107. LeeHyun berkata:

    End???? Kyaaaaa!!!! Mereka akhirnya bersatu, tp sayang g nyampe mereka menikah dan punya anak. Sequel??? #ngarep
    Dan syukurlah Kyu bsa pke identitasnya sendiri bkan lg Donghae….
    Aaaaa qu belum rela ini ending,

  108. BabyBoo berkata:

    Kuraaaaaaanggggggg;((( masih mau lagiiii

  109. Aigooo yeahhh happy ending akhirnya setelah jalannan yg berkerlok kelok ya xixiixix seneng bget mereka bersatu cieeee aigooo aigooo g bs ngomong apa2 seneng bgett eiyyyy mereka bs mengakhirinya dg baik mslhnya bs tetselesaikan dg baikkk puass pokoknya

  110. choi sena berkata:

    ending yang bagus dengan konflik klimaks
    sequelnya boleh dong

  111. Elvvvvv berkata:

    Wuahhhhhh akhirnya ending jugaaaaa. Uda aku duga kuu pasti bakal balik dan jadi dirinya sndiriiii.
    Pengen banget punya temen sebaik siwon -_-
    Thanks thor buay happy endingnya

  112. yookmyoo berkata:

    Apa ini.. OMG aku baru baca selama ini. Dan ternyataa WOW BGT bener deh aku bacanya tuh kadang sedih seneng geregetan asdfghjkl banget dah. Omg akhirnyaaaa kyu dan hyura bersatu dengan segala pengorbanan. Mmm mungkin sequel asik kali ya hehehe. Gomawo uri author aku sangat senang dan terhibur bgt dengan ff ini. Tetap semangat! Ditunggu karya berikutnya~

  113. Ima Rumanti Bam's berkata:

    Sedih,seneng, pokok nya aku suka ceritanya…ngebayangin wajah kyu ama siwon oppa yg sakit hati n sedih ama wajah nyebelin hyura yg cantik tp egois n nyebelin…..pokoknya ditunggu epilognya ya…pengen tau nikahnya kyu sama hyura…trus siwonnya jangan di biarin jomblo gitu…..fighting…..
    Oia ditunggu juga kelanjutan ff yg lainnya…

  114. Jasmine berkata:

    Mian baru komentar sekarang. Ceritanya nih ff keren nano nano dah rasanya!!! Kasian kalau dua anak manusia tidak bersama,tapi syukurlah happy ending. Semangat berkarya terus authornim!!!

  115. Nurlaely D berkata:

    Cho Kyuhyun kmbli dgn identitas aslinya,,, gk sia2 menunggu wkt slm 16 thn,,akhirnya prasaannya trbalaskan oleh Hyura… Slamat sgeralh klian menikah hehe

  116. Widya Choi berkata:

    Aduhhhh g pnh bosan deh y bc ff ini. Mlah ttp bharap ad sequel ny . Pngen liat bnyk crta ttg kyuhyun n hyura mnjelang pnikahan hehe .
    sng bgt deh liat mrk akhirny bs sm2 lg..wlaupn td sempat sedih liat kyu prgi gt aj..kan ksian liat hyura cz dy rindu stgh mati am si kyu. Tp gpp lah..itung2 buat nguji cinta mrk..jd tpksa tpisah smntra. Tp kan skrg udh sm2 lg eaaaaaaa

  117. Park ni young berkata:

    Walaupun perasaan ku campuran aduk baca ni ff tapi akhirnya happy end seneng banget kalau bisa ada sequel na

  118. ariistyaana berkata:

    Kak ini engga ada after story-nya kah?

  119. Camila O'Pry berkata:

    Aku gak bakalan bosen request epilog/bonus/after story FF ini. Duh, kurang puas banget. Nanggung… Wkakakakaka…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *