Famiglia [Part 9]

stb

Happy reading and sorry for typho ^^

@Miss_Hoon

***

            “Sakit?”

            Aku menggeleng. Dokter Kang tersenyum lalu membuka bebat di bahuku.

            “Kau melakukannya dengan baik, Hyura. Ini jauh lebih cepat dari perkiraanku.” Dia mengangkat tanganku perlahan, membantu menggerakkannya ke atas dan ke bawah, mencoba merileksasikan otot bahuku.

            Aku tersenyum bangga. Seperti anak kecil yang berani datang ke dokter gigi sendirian. “Aku menuruti semua saranmu. Sesedikit mungkin menggerakkannya, mengompresnya dengan air dingin di pagi hari, lalu bantal hangat di malam hari dan selalu mengkonsumsi obat.”

            Dokter Kang menunduk mensejajarkan wajah kami, tangannya mengusap kepalaku. “Senang memiliki pasien penurut.”

            Aku tersenyum lebar tepat saat Dokter Kang mengisyaratkan agar aku turun dari meja pemerikasaan dan mengikutinya ke bilik sebelah, atau lebih tepat kantor pribadinya.

            Dia menarik kursi untukku sebelum berputar ke belakang meja dan bertanya mengenai Kyuhyun. “Apa kau datang sendiri? Biasanya kau ditemani kakakmu.”

            Aku tersenyum. “Dia sedang menelpon, tadi perawat mengusirnya keluar kerena dia menggunakan ponsel.”

            Dokter Kang ikut tersenyum lalu mengangguk, dia mulai menjelaskan terapi yang harus kujalani setelah melepas sling. Lebih dari satu minggu bahuku tidak digerakkan membuat ototku menjadi kaku. Karena aku tidak bisa terlalu sering datang ke rumah sakit untuk terapi beliau mengajari beberapa gerakan untuk melakukannya sendiri di rumah

            Setelah selesai aku menemui Kyuhyun di tempat parkir. Senyumnya melebar melihat salah satu tanganku tidak menggantung lagi.

            “Kau terlihat lebih baik tanpa penyangga kain itu di dadamu.” Komentarnya saat membukakan pintu mobil untukku. Oh ya, akhirnya Kyuhyun membeli mobil baru setelah aku membujuknya setengah mati. Meskipun mobilku sudah keluar dari bengkel tapi aku belum bisa menyetir dengan satu tangan. Aku berniat meminjam supir Eomma tapi Kyuhyun bersikeras untuk mengantar dan menjemputku. Hal itu membuat Eomma menaikkan sebelah alisnya. Pasalnya, saat Kyuhyun menginap di rumah danau dia harus berangkat pagi-pagi buta untuk menjemputku dulu sebelum ke kantor.

            “Kau sudah tidak memakai sling lagi, hari ini menginaplah di rumah danau.”

            Dia menjalankan mobil keluar dari parkiran.

            “Aku tidak bisa menginap selain akhir pekan. Eomma tidak mengijinkan.” Dia sudah tahu hal itu tapi terus saja meminta hal yang sama. “Akhir pekan ini aku janji akan menginap.”

            “Justru di akhir pekan ibumu akan memaksaku pulang.” Kyuhyun mendengus, “Sepertinya aku harus membeli ranjang baru di loteng.” Katanya lebih berbicara pada diri sendiri.

            Memiringkan dudukku menghadapnya.

            “Dia mencemaskanmu, Eomma tidak suka melihatmu terus-terusan tidur di kursi.”

            “Kita bisa tidur sekamar.” Sahutnya polos.

            Meliriknya malas. “Di rumah kita sudah tidur sekamar dengan sembunyi-sembunyi dari Kim Ahjumah. Apa kau tidak tahu aku selalu was-was jika dia memergoki kita.”

“Dia hanya pelayan kenapa kau takut dengannya?”

“Kim Ahjumah pelayan setia ibuku, dia akan mengadukan kita.”

“Kalau begitu ganti saja dengan pelayan yang setia denganmu.”

Aku memukul lengannya sambil menggerutu. “Kau hanya tahu menambah masalah.” Kembali pada posisiku dan menatap ke jalanan.

            Dia mengusap lengannya sambil melirikku jengkel. “Aku ingin menyelesaikan masalah kita, sampai kapan kau ingin menyembunyikannya?”

            Aku meliriknya malas, kami pernah membahas ini dan tidak berakhir dengan baik. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun tapi sekarang bukanlah saat yang tepat. Aku belum bicara lagi dengan Siwon sementara aku sudah berjanji padanya untuk memberikannya waktu selama yang dia butuhkan. Aku tidak ingin menyakiti Siwon lebih jauh, dia pantas mendapatkan yang lebih baik.

            Jika kalian penasaran apa yang terjadi pada hubunganku dan Kyuhyun, well, sebenarnya sampai detik ini aku belum memberikan jawaban apapun padanya. Tapi kami bertingkah seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dengan catatan tidak di depan umum, itu sangat riskan mengingat Kyuhyun masih berstatus sebagai kakak tiriku. Kuakui dia bisa menjadi lebih dari seorang kekasih, teman, rival atau kakak laki-laki. Dengannya aku bisa berdiskusi mengenai banyak hal, mulai dari pekerjaan, masalah kesehatan kakek ataupun mengomentari sikap ibuku. Dia bahkan bisa memberi masukan mengenai hubunganku dengan Siwon, kukira itu seperti bentuk dukungan tapi jawabannya malah membuatku memutar mata, dia bilang itu hanya sikap Donghae yang tanpa sadar tertinggal dalam dirinya.

            “Aku tidak ingin membicarakannya.” Kataku pelan.

            Kyuhyun menggerutu tidak jelas, mengatakan aku hanya membuat masalah berlarut-larut. Aku tidak ingin membalas atau mengomentarinya lalu membuat kami berdebat. Aku dan Kyuhyun sama-sama memiliki tempramen yang buruk saat beradu pendapat jadi kuputuskan tetap menutup mulutku.

            Hampir separuh perjalanan saat kurasakan ponselku bergetar, dahiku berkerut melihat id pemanggil.

Lee Hyukjae?

            Kyuhyun melirik saat aku tidak juga menjawabnya.

            “Kenapa tidak diangkat?”

            Menjawab panggilanku tanpa menyahuti Kyuhyun

            “Yeoboseyo?”

            “Hyura ssi? Ini aku Lee Hyukjae, apa kau masih mengingatku? “

            “Ya, tentu saja.”

            Jantungku berdegup dua kali lipat tanpa alasan yang jelas, firasatku mengatakan panggilan ini bukan sesuatu yang menyenangkan.

            “Bisa kita bertemu?”

            Melihat Kyuhyun dari sudut mataku. Tatapannya fokus ke jalanan tapi aku tahu dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutku, jadi aku menjawabnya sehati-hati mungkin.

            “Ya, kau bisa tentukan tempatnya.”

            “Kalau kau tidak keberatan datanglah ke kantorku.”

            “Aku mengerti, sampai ketemu di sana.”

            Setelah menutup panggilanku aku meminta Kyuhyun untuk menurunkanku di persimpangan depan.

            Dia memandangku penasaran. “Ingin bertemu seseorang?”

            Aku tidak balik menatapnya saat menjawab karena tahu aku pasti berbohong. “Ya, teman lama. Dia sedang berada di kota dan menyempatkan waktu untuk bertemu denganku.”

            Kyuhyun mengangguk, dia tidak bertanya lebih jauh lagi. Menghentikkan mobilnya di trotoar. Sebelum sempat membuka pintu dia menarik tubuhku lalu menciumku cepat dan dalam. “Aku akan menjemputmu, beritahu aku kalau sudah selesai.”

            Memaksa menarik senyum. “Aku bisa naik taksi.”

            “Beritahu aku kalau sudah selesai.”

            Percuma mendebatnya jadi aku hanya mengangguk sebelum dia menahanku lebih lama. Perasaanku sangat gelisah dan ingin cepat-cepat bertemu Hyukjae. Menyetop taksi pertama yang kulihat dan langsung menuju kantornya.

            Kantor pengacaranya masih sama seperti terakhir yang kulihat beberapa bulan lalu. Hyukjae sudah menungguku di depan meja penerima tamu saat aku baru keluar dari lift. Wajahnya tidak seramah yang kuingat, dia juga tidak tersenyum sepert biasanya. Aku menunduk memberi salam, dia membalasnya sebelum membimbingku masuk.

            Hyukjae menarik kursi di depan meja kerjanya, mempersilahkanku duduk. Sementara dia tetap berdiri di belakang meja sambil mendorong sebuah amplop coklat berukuran sedang ke arahku. Aku menatapnya bertanya-tanya.

            “Bukalah.” Perintahnya dingin.

            Aku mengangkat amplop tersebut yang ternyata cukup tebal, aku tidak bisa mengira-ngira apa isinya, mungkin buku atau dokumen, entahlah. Aku berhenti menebak-nebak dan membukanya saja. Perasaanku semakin tidak enak saat membuka simpul tali penutupnya, lalu sedetik kemudian selembar fotoku jatuh dari dalam. Dahiku berkerut melihatnya, ada tanggal dan jam di bagian bawah foto, tepatnya seminggu lalu. Aku masih menggunkan sling dan baru keluar dari gedung PL Group. Penasaran, aku mengeluarkan semua isi amplop. Betapa terkejutnya aku melihat semua kegiatanku tercetak di sana, bahkan saat aku berciuman dengan Kyuhyun di dalam mobil, saat aku makan siang, atau bahkan saat aku sedang melamun.

Apa-apaan ini?

            Aku baru mau melempar protesku pada Hyukjae tapi dia mendahuluiku.

            “Siwon yang memintaku melakukannnya.”

            “Apa?”

            Tatapannya menghakimi. “Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, tapi ini benar-benar keterlaluan. Sahabatku tidak pantas mendapatkan hal seperti ini.”

            “Apa menurutmu memata-mataiku merupakan hal yang pantas?” Aku tidak kalah kesal dengannya, Siapapun tidak akan suka memiliki penonton di momen pribadi mereka.

            Dia memejamkan mata sambil mendesah, lalu menarik kursi di belakang meja. “Maaf, aku tidak seharusnya ikut campur, tapi… kau akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkannya. “Minggu lalu Siwon menghubungiku dengan keadaan yang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Dia…dia…dia menangis, Hyura. Aku tidak pernah mendengar suaranya seputus asa itu. Dia tidak mau mengatakan apa yang terjadi, dia hanya memintaku untuk mengikutimu dan mengirimkan hasilnya. Lalu…”

            “Hyukjae ssi,” aku memtongnya. “Apa kau sudah mengirimkan foto-foto ini?”

            Dia menatapku cukup lama sebelum menggeleng lemah. “Aku tidak tega. Hyura ssi, sebaiknya kau sendiri yang memberikannya, Siwon layak mendapat penjelasan langsung darimu.”

            “Ya, kau benar.” Sahutku berbisik. Mataku mulai tersengat membayangkan apa yang akan dia pikirkan saat melihat ratusan gambarku dengan Kyuhyun, saat kami bepelukan, berciuman dan berpegangan tangan. Kemarin sudah cukup menghancurkannya dan ini pasti jauh lebih menyakitinya.

            “Apa kau marah padaku?” tanyaku pelan

            Dia mengangkat bahu, “ini urusan pribadi kalian, aku tidak berhak ikut campur atau menghakimi siapapun, tapi… aku cukup kecewa padamu, Hyura ssi.”

            Mengangguk, aku memahami sudut pandangnya sebagai teman baik Siwon. Mungkin di matanya aku terlihat seperti wanita murahan sekarang.

            “Baiklah, terima kasih kau sudah memberitahuku.”

            “Aku melakukan ini untuk Siwon.”

            Mengangguk, “aku tahu.”

***

            Aku menghubungi Jiwon setelah keluar dari kantor Hyukjae. Dia bilang Siwon sudah kembali dari Singapore sejak dua hari lalu dan tinggal di kondominium kami. Aku tidak mengerti yang dia maksud dengan ‘kondominium kami’, sepengetahuanku Siwon tinggal di rumah orang tuanya dan dia tidak memiliki property seperti itu. Kemudian aku baru mengerti maksud Jiwon saat tiba di alamat yang dia berikan padaku.

            Lihatlah foto pertunanganku dengan Siwon dan lukisan wajah kami berdua yang memenuhi dinding ruang tamu. Kondominium super mewah ini sepertinya hadiah pernikahan dari keluarga Choi. Bukan hanya itu, aku mengenal gaya dekorasinya, dari warna dinding, tirai, pemilihan wallpaper dan furniture, ini semua kesukaanku. Hanya orang-orang yang benar-benar mengenalku yang bisa mendokrasi seperti ini.

Siwon tidak memandangku saat mataku sibuk berkeliling memperhatikan rumah masa depan kami. Dia memunggungiku, memandang jalanan kota melalui kaca besar di ruang depan. Siwon tidak mengusirku atau mengundangku masuk saat membukakan pintu, dia juga tetap bungkam saat aku menerobos masuk. Tidak bertanya kenapa aku bisa menemuinya di sini atau bagaimana aku tahu mengenai kondominium ini.

“Oppa…” aku memulai, “sudah lebih dari sepuluh hari, kau belum mau bicara padaku?”

“…”

“Oppa?”

“…”

Mendesah berat, dia tetap diam dan tidak mau berbalik. Ini lebih buruk daripada dia berteriak atau memakiku, aku lebih suka dia bersikap seperti itu, kediamannya membuatku frustasi.

“Oppa, bicaralah padaku. Jangan seperti ini, kau…”

“Aku merindukanmu.” Siwon berbisik cepat.

“Apa?”

Siwon berbalik perlahan, wajahnya terlihat kusut, matanya yang memerah menatapku dalam. Berbagai pergolakan emosi terpancar di sana. Bingung, marah, sedih dan terluka. Tanpa sadar air mataku menetes, dia menderita seperti ini karena diriku, akulah penyebab utamanya.

“Aku merindukanmu, Hyura-ya.” Katanya lagi tidak kalah pelan. Tanpa berpikir dua kali aku menghampiri dan memeluknya.

Aku terisak, “maafkan aku, tidak seharusnya aku membuatmu seperti ini. Maafkan aku.”

Dengan tubuh bergetar dia membalas pelukanku, menenggelamkan kepalanya di sela leherku dan berbicara terbata.

“Apa yang harus kulakukan, Hyura-ya? Katakan aku harus bagaimana? Aku…” dia berhenti, isakannya terdengar jelas di telingaku, membuat air mataku semakin deras. Selama aku mengenal Siwon ini pertama kali aku melihat air matanya. Aku benci mengakui bahwa akulah yang membuatnya seperti ini. Bukan hanya membuatku seperti wanita brengsek tapi melihat Siwon terluka juga menyakitiku.

“Maafkan aku…Oppa.”

“Ini…sakit sekali…aku…aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu…aku…”

Mengangguk kuat, “aku tahu, aku tahu. Jangan bicara apa-apa lagi.”

Kami menangis bersama sambil berpelukan. Menumpahkan segala apapun yang telah kami pendam. Beberapa hari bersama Kyuhyun tidak membuatku lantas melupakan Siwon. sudah kubilang aku menyayangi Siwon sampai taraf aku sendiri tidak mengerti. Setiap malam aku sulit tidur karena memikirkannya, memikirkan apa yang telah kulakukan padanya, memikirkan bagaimana dia menghadapinya, bertanya-tanya apa dia mabuk-mabukkan lagi? Atau membawa pulang perempuan murahan ke kamar hotelnya? Apapun itu, aku tidak menyukai keduanya.

Aku masih terisak saat perlahan Siwon melepaskan pelukannya, matanya masih berair tapi wajahnya bersih dari sisa air mata. Dia masih terlihat tampan—maksudku dia selalu terlihat tampan, berbeda denganku, aku pasti terlihat sangat jelek sehabis menangis.

            Tangannya terangkat, ibu jarinya membelai lembut pipiku, membersihkan sisa air mata. Bibirnya melengkung dengan senyum sedih.

            “Kau bilang kau mencintaiku dengan cara yang berbeda?”

            Tanpa ragu aku mengangguk kuat.

            Siwon menatapku cukup lama sebelum berbicara lagi, “Hyura-ya, jika aku memintamu untuk tidak meninggalkanku, apa kau akan melakukannya?”

            Aku mengangguk sebagai jawabannya. Aku tidak menyalahkan kalian jika membenciku karena aku bisa memberikan jawabanku langsung saat Siwon yang memintanya. Sementara Kyuhun, aku masih menggantungnya tanpa kepastian sampai detik ini. Bukan tanpa alasan, karena dengan Siwon aku bisa menyelesaikan banyak masalah dan bisa menjaga perasaan banyak orang. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Berapa banyak orang yang terluka saat aku memutuskan untuk bersamanya? Bukan hanya Siwon, tapi juga ibuku dan keluarga Choi.

            “Apa kau benar-benar berpikir aku akan meminta hal itu?” tanyanya lagi.

            “Aku tidak tahu.”

            “Begitu juga denganku,” katanya muram, “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu.” Dia menggeleng lemah, “tidak dengan keegoisanku ataupun keegoisanmu.”

            Aku meremas pegangan tasku, bagaimana jika dia melihat foto-fotoku dengan Kyuhyun? Aku tidak ingin membayangkan reaksinya karena pasti sangat buruk.

            “Hyura-ya,” Panggil Siwon, suaranya terdengar lelah. “Haruskah kita mengakhirinya?—pertunangan kita?”

            Aku menggeleng, “Aku tidak tahu.”

            Dia berjalan melewatiku dan berhenti di tengah ruang tamu. Mataku mengikuti setiap gerakannya. Tangannya terbentang seolah menunjuk sekeliling.

“Apa kau menyukainya? tempat ini?” Dia berjalan lambat mengitari ruang tamu, tangannya menyapu punggung sofa. Sofa panjang berwarna broken white yang hampir memenuhi separuh ruangan ini, dia memandang lukisan foto kami berdua, aku ingat foto itu diambil saat kami masih di bangku kuliah. Kalau tidak salah saat festival musim semi di kampus, kami membayar seorang seniman yang membuka stand di sana. Seingatku lukisannya tidak sebesar ini, mungkin Siwon meminta seseorang untuk melukisnya ulang. Tapi seberapa besar ukurannya, yang jelas lukisan itu mengingatkanku betapa menyenangkannya berteman dengan Siwon. Dia adalah teman yang sangat berharga untukku. Karena itu, saat dia mengatakan ingin merubah hubungan kami menjadi sepasang kekasih, aku tidak perlu berpikir dua kali. Karena aku memang tidak ingin kehilangan sosoknya dalam status apapun. Teman atau kekasih, bagiku tidak ada bedanya—maksudku dulu, sebelum aku menyadari perasaanku pada Kyuhyun.

            “Ya, aku menyukainya.” Aku berbisik.

            “Ibuku yang membelinya saat aku baru masuk ke perusahaan. Dia bilang aku boleh langsung menempatinya atau menunggu setelah menikah. Saat ibuku menyinggung ‘pernikahan’ tanpa sadar otakku langsung memikirkanmu.” Dia tersenyum miris. “Saat pertama kali melihatnya aku membayangkan bagaimana rasanya tinggal di sini bersamamu. Membayangkan kau berdiri di dapur membuatkanku makanan sementara aku menontonmu bekerja, lalu saat ak