Famiglia [Part 8]

stb

Happy reading and sorry for typho ^^

@Miss_Hoon

***

Menunggu semalaman di dalam mobil sama sekali tidak membantu. Siwon tidak mau menemuiku, tidak mau mengangkat teleponku atau membalas pesanku. Aku kehilangan jejaknya sejak mobilnya keluar dari pekarangan rumah danau. Aku langsung menuju ke rumahnya, tapi ibunya bilang Siwon belum pulang. Jadi di sinilah aku sekarang, menunggu semalaman di basement kantornya. Menunggunya datang. Jelas dia sangat marah padaku, bukan hanya dia tapi Kyuhyun juga. Aku sudah menjadi musuh semua orang sekarang.

Melirik jam di dashboard mobil, ini sudah lewat dari jam masuk kantor. Keluar, aku berjalan mengitari basement mencari mobil Siwon. Hitung-hitung olahraga pagi, aku berlari mengitari basement dua kali. Tidak peduli saat orang yang baru datang melihatku dengan aneh.

Dia tidak ada, mobilnya tidak ada. Setelah memastikannya untuk ketiga kali aku kembali ke mobil dengan badan penuh keringat. Sebelum keluar dari sana aku meninggalkan pesan yang kesekian kalinya di kotak suara.

            “Jam sebelas?” alis Nammie terangkat satu, “berikan satu alasan bagus sebelum aku menuduhmu sebegai bos yang tidak teladan.”

            Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung menghempaskan diri di kursi sambil mendesah berat. “Apa pekerjaanku banyak?”

            “Lebih dari banyak, Ibumu sudah mengecekmu dua kali hari ini.”

            Tubuhku langsung menegak, “Apa?”

            Nammie mengangguk.

            “Untuk apa dia mengecekku?”

Dia menggeleng.

Aku sedang tidak ingin berurusan dengan ibuku sementara kepalaku di penuhi oleh rasa bersalahku pada Siwon. Mengangguk pada Nammie, “Aku mengerti, kau keluarlah dulu.”

Tanpa mengatakan apapun dia mundur lalu keluar. Mengambil telepon dan menekan nomor kantor Siwon. Heo Yongji, Sekertarisnya yang menjawabku. Dia bilang Siwon sudah kembali lagi ke Singapore pagi ini.

“Apa dia menghubungimu?” tanyaku

“Ya Nona, semalam dia menghubungiku untuk memesankan tiket pesawat.”

“Hanya itu?”

“Ya, hanya itu.”

“Kau tahu di mana Siwon tinggal di Singapore?” terlintas ide gila di kepalaku untuk menyusulnya ke sana. Aku berhutang penjelasan padanya, dan aku tidak akan membiarkan berakhir seperti ini. Siwon layak mendapatkan yang lebih baik.

“Tentu, Tuan Choi hanya menginap di The Plaza Hotel dan selalu di kamar yang sama.”

“Bisa kau kirimkan alamatnya padaku?”

Dia tidak menjawab, lalu menggumam ragu. “Uhm, maaf Nona…” sebelum dia menggagalkan usahaku aku memotongnya.

“Hey, aku ingin memberikannya kejutan. Dia sangat sibuk jadi aku berniat datang ke sana dan memberikannya surprise. Tidakkah itu terdengar romantis?”

“Wah tentu saja Nona, maaf seharusnya anda mengatakannya sejak awal. Apa kau memerlukan jadwalnya selama di sana?”

Aku menyeringai, “ide yang sangat bagus.”

“Baiklah aku akan mengirimkannya melalui email.”

“Oh ya satu lagi. Tolong jangan katakan apapun pada Siwon.”

Dia terkekeh, “Tentu saja. Bukankah ini kejutan?”

“Ya kau benar, terima kasih Yongji ssi.” Aku menutup teleponku sambil menunggu email dari Yongji. Tanpa memikirkan jadwalku aku menghubungi Nammie dan memintanya memesankan tiket pesawat tercepat ke Singapore. Dia tidak mengatakan ‘iya’ sebagaimana seharusnya tapi dia justru menutup teleponku dengan keras lalu menerobos masuk.

Kurasa hanya dia satu-satunya asistan yang berani memelototi bosnya seperti yang dia lakukan sekarang.

“Apa kau bercanda?” Dia mengomel. “Ke Singapore apanya! Kau tidak akan ke mana-mana, hari ini kau punya dua meeting yang berlanjut, kau tidak bisa pergi kemana pun, Park Isa-nim!”

Memutar mataku “Kau tidak perlu mengomel, aku bukan anak kecil berumur lima tahun yang mangkir dari jadwal lesnya. Kau bisa carikan tiket pesawat untuk malam hari, aku akan pergi setelah pulang kantor. Puas? Han Biseo?”

Dahinya berkerut, matanya menatapku menyelidik. “Tunggu, kenapa kau tiba-tiba ingin pergi ke Singapore? Akhir pekan hanya tinggal tiga hari lagi, apa kau tidak bisa menunggu untuk berbelanja?”

“Apa aku terlihat sebagai wanita shopaholic?” tanyaku dengan nada bosan.

Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan mejaku. “Kalau begitu katakan!”

Jari-jariku memutar-mutar pulpen, pengalihan perhatian “Aku harus menemui Siwon, dia salah paham.” Aku memberi jeda sebentar tapi Namie memotongku.

“Tunggu tunggu! Jadi maksudmu ini masalah percintaan pribadi kalian?” dia menggeleng lemah. “Baiklah, aku tidak berhak ikut campur. Akan kupesankan tiket untuk malam ini.”

Aku mengangguk, “Bagaimana jadwalku besok? Kemungkinan besok aku tidak bisa masuk.”

“Besok kau lebih luang, aku akan menanganinya untukmu. bersiaplah satu jam lagi akan ada meeting lanjutan dengan tim ibumu dan Donghae.”

Aku mengerang mengingat perseteruan mereka yang belum berakhir. Ditambah lagi dengan kejadian semalam, bagaimana aku bisa menghadapi Kyuhyun? rasanya menyelesaikan urusan dengan Siwon lebih menarik ketimbang harus berurusan dengan mereka berdua.

“Apa ada berita terbaru dari keduanya?”

Nammie menggeleng lemah. “Kacau.”

Ini seperti makan buah simalakama, aku berdiri di tempat yang salah, mungkin jika salah melangkah aku sendiri yang terjatuh. Aku bisa saja duduk diam tanpa perlu mengeluarkan suaraku. Itu bisa menjadi perisai yang cukup baik untukku dan posisiku. Tapi aku tidak dibesarkan dengan cara seperti itu. Ibuku tidak pernah mengajariku menjadi seorang pecundang.

“Bawakan laporan pembukuan Biotech dan Assurance lima tahun terakhir ini dan…apa kau punya kenalan di pasar saham?”

“Pasar Saham?” Ulang Nammie.

Aku mengangguk.

“Ya, kakak iparku punya adik yang bekerja di sana. Kenapa?”

“Bisakah kau minta tolong padanya untuk mengawasi saham dua perusahaan itu? Aku takut kakek atau kakakku akan melakukan tindakan gegabah.”

“Aku mengerti.”

“Terima kasih, kau boleh pergi.”

***

Ruang meeting hampir penuh saat aku sampai di sana. Kyuhyun sudah ada di tempatnya tapi dia tidak melihatku, dia sibuk berdiskusi dengan perwakilan dari Biotech, kalau aku tidak salah. Aku menunduk memberi hormat pada Kang Minwo, dia pria pertengahan tiga puluhan yang menjabat sebagai Senior Managing Director, bawahan langsung dari ibuku. Kemudian ibuku berada di samping kirinya, dia melirik padaku. Aku juga menunduk padanya sebelum menarik kursi di samping kanan Minwo.

Kang Minwo tersenyum tipis ke arahku sesaat sebelum rapat di mulai. Ini merupakan rapat lanjutan setelah tenggat waktu yang Kyuhyun berikan, di mana dia berbicara atas nama kakekku. Hari ini merupakan keputusan final bagaimana nasib kedua perusahaan itu. Aku tidak berharap akan ada jalan keluar dari masalah ini selama ibuku bersikeras pada keinginannya.

Biotech memulai dengan laporan mingguannya kemudian dilanjutkan dengan Assurance. Keduanya tidak memperlihatkan kemajuan, sudah jelas aku tidak perlu menunggu hingga rapat berakhir. Ini akan menjadi berdebatan panjang yang tidak ada ujungnya. Aku sudah bisa membaca ibuku tidak akan menyerah dan Kyuhyun jelas akan menjatuhkan vonis pada kedua anak perusahaan itu. Senin besok saham mereka sudah akan ada di pelelangan bursa saham.

Aku melirik ke arah ibuku yang menahan semburan apinya sejak tadi, sebelum dia memuntahkan lahar panas dan membakar siapapun yang ada disini aku berdiri, tepat sesaat sebelum pembacaan keputusan akhir oleh Kyuhyun. Berjalan mundur perlahan lalu menuju pintu dan keluar dari sana. Menghubungi kakekku dengan keputusan yang sudah kubuat sebelum masuk ke ruang rapat.

“Hyura?” sahutnya

“Harabeoji, ada yang ingin kutanyakan.”

“Tentu, Cucuku.”

“Apa kau yakin ini keputusan yang terbaik? Kau tahu jelas bagaimana sikap menantumu!”

“Apa rapatnya sudah selesai?”

“Belum, aku keluar dari sana.”

Terdengar desahan panjang dari ujung telepon “Ibumu sangat keras kepala. Dia sendiri juga tahu apa akibatnya jika kita terus mempertahankan kedua perusahaan itu, Hyura. Aku tidak bisa mempertaruhkan nasib perusahaan ini untuk menyenangkan hati ibumu.”

“Bagaimana dengan para pekerjanya? Apa kau tidak memikirkan akan ada phk massal?”

“Kau pikir Kyuhyun tidak melakukan persiapan apapun?” nada bangga tidak bisa menutupi suaranya. “Dia sudah berbicara pada anggota serikat pekerja dan mereka mendapat kesepakatan berapa jumlah uang kompensasi yang akan mereka terima, menurut perhitungan itu sama sekali tidak merugikan perusahaan asal Kyuhyun bisa menemukan pembeli yang cocok.”

“Aku…aku menemukannya.”

“Apa?”

“Aku yang akan membelinya, Harabeoji.”

Hening beberapa saat sampai kakekku berbisik. “Kau bercandakan?”

“Tidak. Aku tidak bercanda. Aku akan membelinya dengan harga yang bagus.”

“Park Hyura!” dia membentakku tapi kemudian dia terbatuk hingga harus menjauhkan ponselnya. Aku menunggu dengan sabar sampai dia sanggup untuk bicara lagi. “Hyura,” dia memanggilku lebih lembut, suaranya terdengar lebih lemah membuatku tidak tega. “Jangan lakukan itu, kau tidak bisa terus-terusan menyenangkan hati ibumu, kau tidak memiliki urusan dalam masalah ini. Jadi biarkan Kyuhyun yang menyelesaikannya.”

“Aku tidak menyenangkan hati ibuku, aku melakukannnya demi keutuhan keluarga kita, aku tidak ingin dia semakin membenci Kyuhyun.” Aku tidak ingin Kyuhyun pergi setelah kau pergi. Tambahku dalam hati. Perkataan Kyuhyun sore itu saat di rumah danau menyadarkanku bahwa memang hanya kakek yang mengikatnya, lalu apa yang terjadi saat kakek pergi? Kemungkinan besar dia juga akan pergi.

“Enam belas tahun, Hyura! Enam belas tahun Kyuhyun melakukan apapun yang dia bisa untuk diterima di keluarga kita tapi Ibumu bahkan tidak mau membuka matanya. Kau tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai atau membenci orang lain. Aku, kau ataupun Kyuhyun tidak bisa melawan kekerasan hatinya. Aku senang kau bisa menerima Kyuhyun sebagaimana seharusnya…meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.”

Jelas aku terdengar sangat tidak profesional dalam masalah ini. Aku menyangkut pautkan masalah keluarga dan masalah perusahaan. Aku harus memilih di pihak mana aku berdiri atau aku harus berdiri sendiri. Ya Tuhan, saat seperti ini aku berharap ada Siwon yang bisa memberikanku masukannya.

“Hoejangnim,” memanggil kakekku dengan jabatannya, “maafkan aku, dalam struktur seharusnya aku tidak memiliki wewenang untuk ikut campur dalam masalah ini—Tapi sebagai seorang pembeli kau tidak bisa mengaturku. Selamat siang.” Aku memutuskan panggilan dan berjalan cepat kembali ke kantorku, mengabaikan ponselku yang terus bergetar.

Aku sampai di meja Nammie dan dia langsung berdiri. “Buat penawaran harga untuk Biotech dan Assurance, dan cari tahu perusahaan mana saja yang berniat membelinya.”

Dahinya berkerut tidak senang. “Apa maksudmu membuat penawaran?”

“Buat penawaran bagus agar aku bisa mendapatkan perusahaan yang hampir bangkrut itu.”

Matanya melebar. “Apa?—Kau tidak serius kan?”

Aku tidak menaggapinya dan maju terus. “Oh ya satu lagi, tolong cek berapa asetku, semuanya tanpa terkecuali.” Aku berbalik menuju kantorku meninggalkan Nammie yang masih menatapku tidak percaya. Aku baru menutup pintu di belakangku saat asistantku menerobos masuk.

“Katakan kau tidak serius, Park Hyura!”

“Kenapa semua orang menganggapnya aku hanya bergurau? Kau dan kakek sama saja, apa aku bisa membuat lelucon untuk masalah seperti ini?”

“Delapan belas juta! Delapan belas juta dollar yang harus kau bayar untuk satu perusahaan, kau tidak punya uang sebanyak itu!”

“Aku tahu, aku tidak sekaya itu. Tapi aku bisa mengusahkannya, aku bisa meminjam pada bank, menjual asset dan surat-surat berharga, aku juga punya warisan dari ayahku ditambah lagi setelah aku mewarisi perusahaan ini aku bisa menjadikannya jaminan, kau juga jangan lupa aku punya Siwon. Dia pasti bisa membantuku.”

Nammie melihatku seolah aku sudah gila.

“Aku tahu ini sulit tapi bukan berarti tidak mungkin.” Kataku lagi.

Nammie menggeleng pelan. “Aku tidak akan membantumu. Kau membutuhkan surat penawaran? Kau bisa membuatnya sendiri! Kau membutuhkan data-data perusahaan sainganmu? Kau harus mencarinya sendiri. Aku dipekerjakan di sini untuk membantu pekerjaanmu bukannya menjadi alat untuk membantumu bunuh diri.”

Aku cukup tersinggung dengan perkataannya. “Kenapa kau sangat meremehkanku?”

“Aku tidak meremehkanmu, tapi ini keputusan yang sia-sia. Kau harus membayar untuk sesuatu yang jelas-jelas tidak berguna. Siapapun di kantor ini yang tidak buta bisa melihat Biotech dan Assurance hanya tinggal menunggu waktu untuk tenggelam. Tapi kau membuang-buang uangmu untuk sesuatu yang seperti itu?”

“Tidak, kau salah. Ada sesuatu yang bisa diperjuangkan, jika tidak ada ibuku tidak akan mati-matian mempertahankannya.”

“Kau percaya ibumu?”

“Aku percaya diriku sendiri.”

“Jelas, kau tidak mempercayainya.”

Aku tidak ingin menjawabnya dan menimbulkan spekulasi yang justru menggoyahkan keputusanku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk keduanya. Kyuhyun berhasil menjualnya dan ibuku tidak kehilangan apapun.

“Hyura,” suara Nammie lebih lembut. “Pikirkan lagi, ini bukan keputusan yang main-main.”

“Aku tahu.” Gumamku, lebih kepada meyakinkan diriku sendiri.

Dia mendesah berat. “Jika aku tidak bisa membujukmu sebagai bawahan maka aku akan mengatakannya sebagai teman. Ini bukan sesuatu yang bisa kau perjuangkan dan berhasil dengan baik. Kau berjudi dengan kekalahan delapan puluh persen di depan mata. Hyura, kumohon pikirkan lagi.”

Aku bersandar pada pinggiran meja, tatapanku turun ke bawah. Aku tidak memiliki keberuntungan sebagai seorang penjudi dan aku tidak bisa berjudi, tapi dalam permainan kartupun ada trik dan ilmu matematika yang bisa dipalajari. Tapi pertanyaanya apa semua ini pantas untuk kuperjuangkan?

“Setidaknya masih ada peluang dua puluh persen.” Aku berbisik.

“Apa kau pikir ibumu akan setuju?”

Aku tidak peduli dia setuju atau tidak. Jika dia marah, itu haknya dan jika dia mendukung itu akan lebih bagus.

“Lalu bagaimana dengan Donghae? jika kau tidak memikirkan ibumu setidaknya kau memikirkan kakakmu! Belakangan ini hubungan kalian semakin membaik.”

Aku melirik Nammie sekilas dari balik bulu mataku. Dia salah, hubunganku dengan Kyuhyun jauh lebih buruk dari sebelum-sebelumnya.

Nammie mendesah frustasi saat aku tidak juga menjawabnya, sebelum dia mendebatku lagi dan aku mulai kesal kemudian kami bertengkar maka aku menyuruhnya keluar.

“Kau tahu aku tetap pada pendirianku, aku tidak akan membantumu!” Tegasnya.

Aku mengangguk. “Akan kukerjakan sendiri, kau boleh keluar.”

Nammie menatapku cukup lama, tatapannya sangat kecewa. Baru setelah itu dia pergi.

***

Aku menyingkirkan bagian tersulit untuk hari ini, aku masih punya besok dan menyimpannya sebagai masalah ‘cadangan’ kalau-kalau otakku terlalu santai. Percayalah Aku berharap apa yang kukatakan barusan adalah lelucon, nyatanya memang bukan. Aku masih memiliki setumpuk pekerjaan dan aku mengabaikannya untuk mempersiapkan diri untuk bertemu Siwon.

Saat menjelang sore Nammie memberikan tiket untukku, sepanjang sisa hari dia tidak lagi menyinggung masalah Biotech dan Assurance, tapi dia juga tidak berbicara saat aku tidak bertanya, seperti seorang kekasih yang sedang merajuk. Tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya. Setelah selesai mengirimkan surat penawaranku aku bersiap-siap, sengaja pulang lebih awal agar aku bisa membereskan barang bawaanku, namun lagi-lagi sesuatu muncul tiba-tiba.

“Kakek?”

            Dahiku berkerut saat menerima panggilan dari Nona Jung. Melirik jam sebelum bertanya lagi. “Jam segini?”

            “Ya, Nona. Presdir ingin anda menemuinya sekarang.”

            “Baiklah, aku mengerti. Terima kasih.”

            Dengan langkah dua kali lebih cepat aku menuju kantor kakek. Aneh sekali dia datang ke sini saat hampir jam pulang kantor. Tapi bukan itu masalahnya, aku tidak punya banyak waktu untuk perbincangan bertele-tele, aku harus cepat agar tidak ketinggalan pesawat.

            Langkahku terhenti di ambang pintu kantor kakek saat melihat ibu dan Kyuhyun sudah berada di sana. Mereka duduk di samping kiri dan kanan kakek, sementara orang tua itu duduk di kursi paling ujung. Ketiganya menoleh ke arahku saat aku membuka pintu. Eomma tidak melepas tatapannya dariku sementara Kyuhyun membuang mukanya.

            Aku berjalan lambat, sambil berbicara.

Well, aku tidak tahu kita mengadakan pertemuan keluarga di kantor.”

Mengambil kursi persis di samping ibuku. Aku langsung menatap Kyuhyun, pandangannya lurus ke depan dan wajahnya keras. Lalu melirik ke arah Eomma, dia juga tidak terlihat santai.

            “Ada apa ini?” tanyaku.

            Kakek menatapku dengan tidak bersahabat, “Ini bukan pertemuan keluarga, Hyura. Aku di sini untuk membahas masalah perusahaan.” Semua mata melihat ke arahnya sekarang. “Kudengar kau tidak mengikuti rapat sampai selesai?” Tanya kakek padaku.

            “Ya. Maafkan aku.” Jawabku pelan.

            “Apa kau tahu hasil keputusan rapat?”

            Aku menggeleng.

            “Lalu kenapa kau berani mengambil keputusan sendiri dengan bertindak gegabah untuk membelinya?” Kakek hampir membentakku saat bertanya.

            Aku tertunduk dan berbisik “Aku minta maaf—Presdir.”

Mendengar helaan nafas dari ibuku. dia mulai berbicara—protes. “Abeoji, apa tujuanmu memanggil kami ke sini untuk melihat kau memarahi putriku?”

Kakek mendengus keras. “Ini semua gara-gara kau, kau tahu! Jika kau tidak bersikeras untuk mempertahankan kedua perusahaan itu putrimu tidak akan mengirimkan surat penawaran itu.”

Aku mendongak melihat kakek, apa dia sudah menerima penawaran yang kukirim? Tidak kusangka secepat ini padahal aku menyisakan masalah itu setidaknya setelah aku pulang dari Singapore.

Eomma menggeleng lemah sambil melirikku tak kalah jengkel.

Oke, apa sekarang aku secara resmi menjadi musuh semua orang?

Eomma membuka suaranya lagi untuk membela diri.

“Setahun belakangan ini aku sudah melakukan segala cara agar Biotech dan assurance bisa bertahan, tapi resesi ekononmi yang membuatku kesulitan. Beri aku waktu satu tahun lagi. Aboeji, Kumohon.”

Kakek membenturkan tongkatnya ke lantai, memelototi ibuku. “Aku sudah memperingatkanmu bahwa hal ini akan terjadi, tapi kau terus saja menyangkalnya! aku menunggumu untuk bertindak tapi kau malah sibuk ke sana ke mari, kau bahkan tinggal di Jepang selama dua bulan—entah hanya Tuhan yang tahu apa yang kau lakukan di sana, aku bahkan tidak menerima hasil laporan perjalananmu. Kau pikir aku percaya! kau…”

Kakek terbatuk sambil memegangi dadanya. Kyuhyun langsung berjongkok mendekat.

“Harabeoji, kau baik-baik saja?” tanyanya cemas.

Kakek mengangkat tangannya, “aku tidak apa-apa.” Dia masih sedikit terbatuk namun menatap Kyuhyun seolah memberi perintah bahwa dia harus kembali ketempatnya. Dengan enggan Kyuhyun kembali ke kursi.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Jika Aboeji memaksakku untuk melepas keduanya maka aku mempertahankannya hingga akhir!” Kata Eomma sengit, dia tidak mau kalah meskipun wajah kakekku sudah pucat dan terlihat kepayahan. Aku melirik Kyuhyun, dia terlihat tidak tertarik pada ucapan ibuku, asumsiku dia bahkan tidak mendengarnya, dia hanya mencemaskan kakek.

Kakek masih menatap ibuku marah, dia menarik nafas panjang susah payah sambil mengernyit seolah seseorang memasukkan besi ke tenggorokannya.

“Kau pikir perusahaan ini milikmu!” dia terbatuk lagi, sementara Kyuhyun sepertinya sudah gatal untuk menyumpal mulut kakek agar berhenti mengomel yang mana akan memperburuk keadaannya.

“Tentu saja bukan, meskipun aku sudah mengorbankan semua milikku, perusahaan ini tetap milikmu—Abeoji!”

“Eomma, hentikan!” Aku berbisik kasar.

Dia melotot ke arahku. “Dan kau!” telunjuknya terarah padaku. “Penghinaan apa yang kau berikan padaku! dengan memberikan surat penawaran!”

“Eomma!”

Kakek terbatuk dengan lebih keras, ibuku beralih padanya dan Kyuhyun sudah ada di samping kakek. Eomma menatap kakek cemas sekaligus bingung, tapi lebih kepada bingung.

“Tidak bisa terus seperti ini. Harabeoji, kita harus kembali.” Kata Kyuhyun cepat.

Sama seperti Kyuhyun aku juga mendekati kakek. Tidak lagi mempedulikan ibuku. “Kyuhyun benar, kau harus kembali.”

Orang tua itu menggeleng keras kepala. “Aku baik-baik saja.” Jawabnya dengan suara tersengal.

Kyuhyun mengerang protes. “Harabeoji!”

“Aboeji? Apa kau sakit?” sekarang ibuku juga ikut bertanya, dia terdengar sangat bingung.

Kakek meringis sambil bicara. “Pangggil Lee Seonsangnim, dan jangan buat keributan.”

Kyuhyun menatapnya tidak setuju namun dia tetap melakukan perintah kakek. Mendesah berat, dia menegakkan tubuhnya dan merogoh ponsel.

“Harabeoji, kau yakin?” aku bertanya lebih lembut.

Dia mengangguk lemah, lalu matanya kembali melihat ibuku.

“Ya, aku sakit.” Kata Kakek menjawab pertanyaan Eomma.

“Apa?”

“Saat dokterku datang kau bisa mendengarnya langsung darinya tapi sebelum itu aku ingin menuntaskan masalah ini.” Eomma ingin menyela tapi kakek tidak berhenti. “Aku tidak ingin ada rapat-rapat lagi yang tidak berguna dan membuang-buang waktu hanya untuk meladeni kekeras kepalaanmu.” Lalu dia melirikku “Dan juga denganmu!”

Aku mendesah berat dan kembali ke kursiku.

Kyuhyun juga sudah selesai dengan panggilannya dan kembali ketempat semula sambil berbicara, “Lee Seonsaengnin sedang dalam perjalanan.”

Kakek mengangguk. Kami terdiam cukup lama menunggunya untuk bicara lagi tapi dia diam saja dan justru Kyuhyun yang membuka mulutnya.

“Pendapatku—kita masih bisa mempertahankannya setidaknya enam bulan lagi.” Sekarang mata kami menatap Kyuhyun. Dia melanjutkan. “Secara teknis mereka tidak mengalami kerugian, keuntungan perusahaan hanya bisa menutupi biaya operasional dan membiayai gaji karyawan. Dengan pembaharuan seperti yang dilakukan Hyura pada Automotive Gyeongsang, perbaikan sumber daya manusia dan material, dengan begitu sepertinya mereka bisa bersaing lagi di pasaran dalam waktu enam bulan.”

Kakek menyipitkan matanya. “Aku tidak melihat kesempatan itu.”

“Aku yang akan bertanggung jawab!” kata ibuku cepat. “Berikan aku waktu enam bulan.” Dia memohon.

“Aku sudah memberikanmu waktu satu tahun!”

“Abeoji, Kumohon. Berikan aku waktu sedikit lagi. Aku akan berusaha sebaik mungkin, dan jika aku gagal aku tidak akan membantah apapun keputusanmu.”

Kakekku terdiam cukup lama lalu dia tersenyum miris, “enam bulan? Kurasa saat itu bukan aku lagi yang akan memberi keputusan.”

Aku mengeluh, “Harabeoji, kenapa kau berbicara seperti itu?”

Dia tidak menanggapiku dan berbicara lagi.

“Ini bukan wewenangku sepenuhnya, adakan meeting sekali lagi dengan agenda voting dari semua pemimpin departemen. Semua! tanpa terkecuali dari Assurance dan Biotech.” Kakek menatap Eomma. “Tugasmu meyakinkan mereka dengan rencanamu enam bulan ke depan. Dengan catatan! Tanpa melibatkan Hyura maupun Donghae.” Sekarang dia menunjuk ke arahku. “Dan segera tarik surat penawaranmu yang konyol itu!”

Aku mengangguk menurut. “Aku mengerti.”

“Sekarang pergilah, aku masih harus menunggu Lee Seonsaaenim.”

“Aku akan menemanimu.” Kata Kyuhyun.

“Tidak! Kau juga pergi.” Perintah Kakek. Kyuhyun cemberut tapi dia tetap menurut. Kami bertiga bangkit dan kakek bicara lagi.”Junghee, kau tetap di sini, kau berhak tahu apa yang terjadi padaku.”

Ibuku yang baru mengangkat separuh bokongnya terpaksa duduk lagi, sementara aku dan Kyuhyun menunduk pamit sebelum keluar. Lega menyelimuti langkahku saat keluar dari ruangan kakek. Dengan begini aku bisa pergi menemui Siwon tanpa beban di belakangku. Melirik jam di pergelangan tangan. Aku masih sempat mengejar pesawat namun tidak sempat pulang ke rumah untuk berkemas.

Aku berjalan di depan, Kyuhyun mengikutiku di belakang menuju lift. Kami sama-sama menunggu pintu lift terbuka dalam diam yang canggung. Ini bahkan lebih aneh daripada saat dulu aku membencinya. Dulu aku bisa mengabaikan keberadannya meskipun kami berada di ruangan yang sama. Tapi sekarang mengetahui dia berdiri di belakangku dan mungkin saja sedang memandang punggungku membuat perutku mengejang tidak nyaman.

Pintu lift terbuka, aku masuk lebih dulu lalu diiikuti Kyuhyun. Dia menekan tombol lantaiku dan lantai kantornya. Sekarang giliranku yang menatap punggungnya. Jarak kami mungkin hanya beberapa meter tapi seolah dia sangat jauh dariku—jauh dari jangkauanku.

“Terima kasih.” Kataku pelan.

Dalam beberapa menit dia tetap diam, kukira dia tidak mendengarku tapi kemudian akhirnya dia menjawab dengan dingin. “Aku melakukannya untuk kakek.”

Well, aku tidak terkejut mendengar jawabannya.

Aku bicara lagi dengan agak ragu. “Dan…untuk semalam…aku minta maaf…Saat kau bertanya apa aku benar-benar menyukaimu,” aku mengambil jeda cukup panjang sebelum melanjutkan sambil melirik ke panel, angka bergerak cepat dan sebentar lagi pintu lift akan terbuka. “Ya, sepertinya begitu.” Aku tidak peduli dianggap seperti pengecut karena berbicara pada punggungnya. “Dan kenapa aku tidak memperjuangkanmu?” aku melanjutkan, punggung Kyuhyun terlihat lebih tegang. “Karena aku takut.” Kataku berbisik. “Aku takut dengan perasaanku, apa akibatnya, untukku, denganmu, hubungan kita, orang-orang di sekitarku dan aku tidak ingin kehilangan apa yang sudah kita miliki.” Aku mendesah kasar, melirik panel. Dua lantai lagi. “Maaf aku mengacaukannya, seharusnya aku tidak perlu mengatakan apapun.” Dengan itu bersamaan pintu lift terbuka. Aku berjalan melewatinya dan keluar dari sana tanpa menoleh lagi.

***

Singapore, 11:00 PM

 

            Badan dan pikiranku teramat lelah setelah kejadian hari ini dan perjalananku dengan penerbangan hampir enam jam. Aku tidak bisa memejamkan mataku selama di pesawat karena sibuk memikirkan reaksi Siwon. Terkejut? Itu pasti, atau mungkin semakin marah? Entahlah, aku tidak ingin membayangkan dia semakin marah padaku. Itu tidak menyenangkan.

            Menarik nafas panjang sambil mempersiapkan diri sebelum menekan bel kamar hotel Siwon. Sekali, dua kali kemudian pintu terbuka perlahan hingga melebar. Sepertinya Siwon yang berhasil memberikanku kejutan. Lihatlah mulutku yang terbuka tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.

            Seorang wanita dengan tubuh seperti penari telanjang menyeringai ke arahku. Bibirnya yang penuh dan berwarna merah terang, senada dengan warna dress mini yang dia kenakan. Aku benci melihatnya terus menyeringai ke arahku dan tatapannya yang mamandangku seperti pengemis. Aku yakin wajahku memang berantakan tapi apa aku terlihat semenyedihkan itu?

Who’re you?” tanyanya dengan bahasa inggris dengan logat yang aneh.

Aku mendengus tidak percaya. “Oh ya Tuhan, harusnya aku yang bertanya siapa dia! Hey!” aku melotot menatapnya garang dan membentaknya. “This! My fiance room! What are you doing here! And who are you!” aku tidak perlu mendengar jawabannya dan menerobos masuk sambil menabrak bahunya kasar. Dia menyusulku dari belakang sambil berteriak-teriak dengan bahasa mandarin yang tidak terlalu kupahami.

Aku tidak mempedulikan wanita murahan itu dan berteriak memanggil tunanganku. “Choi Siwon! Choi…” aku berhenti saat melihat dia tergelatak di sofa panjang tak sadarkan diri. Berbalik cepat menghadap wanita itu, menatapnya garang menuntut penjelasan.

Wanita itu memutar mata. “He’s drunk! just it, I’m not doin anything, okey!” dia mengambil tas tangan dari meja sambil menggerutu tidak jelas, lalu berjalan ke pintu dan membantingnya kasar.

Beralih pada Siwon, aku mendekatinya dan duduk di pinggiran sofa. Menggeleng lemah. Entah berapa banyak minuman keras yang dia tenggak sampai baunya seperti aku sedang dihadapkan setong bir. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan seharian ini tapi Dia tidak mengenakan pakaian kerja, hanya kemeja casual dan celana jeans.

Beringsut turun, aku melepaskan sepatunya. Dia sedikit mengerang saat aku melakukannya. Aku jamin dia tidak akan bisa bangun sampai besok siang melihat kondisinya yang seperti ini. Jadi kuputuskan untuk mengistirahatkan badanku sambil menunggunya bangun. Melirik tas kerja yang kubawa sambil mendesah berat. Aku tidak membawa apapun saat terbang ke sini. Mau tidak mau aku harus tidur dengan pakaian yang kukenakan sekarang. Menarik selimut dari ranjang untuk menyelimuti Siwon, sementara aku mengambil bantal dan rebah di karpet, di samping sofa. Karpetnya cukup tebal dan hangat jadi aku tidak terlalu khawatir.

Keesokan paginya aku bangun dengan pikiran lebih cerah. Siwon masih tertidur saat aku keluar untuk berbelanja baju, perlengkapan kewanitaan, makanan dan obat anti mabuk. Matahari sudah tinggi begitu aku kembali dan dia masih belum bangun juga. Aku memesan kamar untukku sendiri, Rasanya tidak etis jika aku membersihkan diri dan mengganti baju di kamar Siwon. Setelah mandi dan mengganti pakaian aku kembali dan menyiapkan sarapan.

Dia mengerang saat bau dari microwave menyebar ke seluruh ruangan. Tiba-tiba saja dia bangun sambil menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Aku mengikutinya, Siwon menunduk di atas kloset memuntahkan apapun itu. Aku berjongkok menepuk-nepuk punggungnya lembut. Setelah selesai kepalanya terkulai lemah dan tangannya menggapai tombol flush lalu menekannya. Sepertinya Siwon belum sepenuhnya sadar, terbukti tidak menyadari kehadiranku. Dia kembali memejamkan mata, mungkin kepalanya masih sakit.

Aku bangkit membasahi handuk dengan air dingin lalu mengusap kening dan wajahnya. Dia membuka mata perlahan, menatapku tapi tidak fokus.

“Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?” tanyaku.

Dia tertawa lemah. “Sepertinya aku kelewat mabuk sampai melihatmu di sini.”

“Aku tidak berharap begitu.”

Mengalungkan tangannya di leherku membantunya berdiri. “Ayolah, kau tidak boleh terus-terusan di sini.” Badan Siwon yang besar membuatku kepayahan membawanya kembali ke sofa. Dia berusaha untuk cukup sadar untuk berbicara denganku tapi aku mencegahnya. Tidak sampai aku bisa merawatnya dengan baik. Tanpa berbicara Dia menurutiku untuk meminum obat dan memakan sup yang tadi kubeli.

Kami terdiam cukup lama setelah Siwon menyelesaikan makanannya. Pikirannya terlihat sibuk dan dia juga sudah mulai kembali menjadi Siwon yang biasanya bukan Siwon si pemabuk.

“Jadi…” dia menggantung ucapannya lalu mendongak melihatku. “Kau benar-benar datang ke sini?”

Aku mengangguk.

“Kapan?”

“Semalam. Saat kau sudah tidak sadarkan diri bersama seorang wanita yang lebih mirip penari striptis.” Kataku datar, tidak ada emosi sama sekali. Aku tidak marah, hanya tidak habis pikir dia sampai melakukan hal seperti itu, membawa wanita asing ke kamar hotel sementara cincin masih terpasang di jari manisnya.

Dia menggeleng lemah. “Aku tidak ingat.”

“Bagus, setidaknya kau cukup mabuk untuk membawa wanita lain ke sini.”

Dia diam dan kembali tertunduk. Kami tidak bicara lagi selama beberapa menit sampai dia tiba-tiba berdiri. “Sepertinya aku harus mandi, bauku seperti kotoran.” dia seperti bicara pada dirinya sendiri, aku hanya mengawasinya sampai tubuhnya menghilang dari pintu kamar mandi. Tidak ada yang kulakukan selain duduk diam dan menunggu.

Setelah beberapa menit Siwon keluar dengan rambut basah dan masih mengenakan jubah handuk. Matanya langsung menangkapku yang masih duduk di tempat semula. Dia menatapku sedingin mungkin dari tempatnya berdiri, tangannya berada dipinggang. Asumsiku sekarang dia sudah sadar sepenuhnya.

“Kau tidak keluar? Apa kau ingin melihatku berganti baju?”

“Oppa…”

“Baiklah kalau begitu, lagipula aku masih tunanganmu.” Aku ingin menyahuti tapi Dia malah berbalik tanpa melihatku dan langsung melepas jubah handuknya, mengekspose bagian belakang tubuhnya yang sepenuhnya telanjang. Otomatis aku membuang muka. Aku mendengar suara lemari di buka dan dia sengaja mengulur waktu selama mungkin untuk memilih baju.

Oh sialan

Setelah di rasa cukup aku berpaling ke arahnya. Dia masih belum memakai baju tapi syukurlah dia sudah memakai celananya.

“Perlu bantuan?”

Dia tidak menjawabku dan sengaja mengambil salah satu polo shirt dengan kasar lalu memakainya cepat. Dia mengabaikanku seolah aku tidak berada di kamarnya, dia melewatiku dan langsung menuju mesin pembuat kopi, sambil menunggu dia mengambil koran kemarin lalu membacanya.

Berdiri dengan kakiku, menghampirinya ke meja sarapan. Aku tahu dia mendengarku tapi dia bahkan tidak mau mendongak.

“Oppa, bisa kita bicara?”

“Sejak tadi kau terus bicara, Park Hyura.” Sahutnya tanpa melihatku, matanya masih menatap koran.

“Aku tahu kau marah, dan aku berhutang maaf untuk itu. Tapi bisakah kau melihatku dan membicarakannya. Kau sendiri yang mengajariku agar tidak menghidnar dari masalah, tapi lihat sekarang…kau menghindariku.”

Dia mendengus kasar sambil melempar koran lalu menatapku kesal.

“Marah? Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan padamu! Marah terlalu dangkal untuk menggambarkan suasana hatiku. Kau membuatku seperti orang idiot, Park Hyura! Apa kau senang sudah membodohiku? Hah? Membodohi semua orang!”

“Aku tidak membodohi siapapun, perasaanku nyata dan hubungan kita nyata.” bantahku.

Dia tersenyum mencemooh tapi dari matanya jelas dia terluka dan perasaan di khianati tergambar di wajahnya.

“Apa perasaanmu pada kakak tirimu juga nyata?” tanya sinis.

Aku diam, tidak ingin menjawabnya dan tidak ingin berbohong. Tapi tanpa mengatakan apapun sepertinya dia bisa menebaknya sendiri. Dia meringis sambil menggeleng pelan. “Aku terlalu bodoh untuk menangkap setiap kebencian yang keluar dari mulutmu, sebenarnya itu caramu mengungkapkan perasaan pada kakak tirimu? Katakan jika aku salah!”

“Ya! Kau salah. Aku membencinya—dulu.”

Rahangnya mengeras. “Dan sekarang kau…mencintainya?” tanyanya dengan gigi terkatup.

“Dengar, aku tidak ingin menyakitimu. Aku menyayangimu, Oppa. Aku tunanganmu dan kita akan menikah, tidak akan ada yang berubah. Aku benar-benar minta maaf karena kau harus mendengarnya malam itu.”

Sekarang dia benar-benar marah, matanya berkilat menatapku garang, dalam sekejap gelas kopi sudah hancur berantakan di sudut ruangan dengan Cairan hitam mengotori lantai dan karpet.

“Menikah?” Katanya keras. “Kau masih berpikir untuk menikah? Apa kau pikir aku mau menikahi wanita yang mencintai pria lain? Sekedar informasi! Aku tidak setolol itu, Park Hyura ssi!”

“Oh ayolah Choi Siwon kita sama-sama tahu di kalangan keluarga chaebol tidak ada pernikahan atas dasar cinta.” Dia ingin memotongku tapi aku tidak berhenti. “Dan sudah kubilang perasaanku padamu nyata. Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda, aku ingin kau bahagia melebihi siapapun. Aku tidak ingin kehilangan orang sepertimu di hidupku, Oppa.”

“Aku tidak mengerti.”

Pandanganku melembut. “Aku juga mencintaimu tapi tidak dengan cara yang sama.” Mengitari meja dan berdiri di hadapannya, mengangkat tanganku menyentuh salah satu pipinya. Siwon sedikit tersentak tapi tidak menolak. “Aku mencitaimu sebagai…sebagai seseorang yang telah bersedia menemaniku selama bertahun-tahun melewati kegilaan yang tidak bisa kulalui sendiri. Kau disana, mendampingiku, menghiburku, menjagaku, memberi nasihat dan segala apapun yang tidak ada yang bisa melakukannya selain dirimu. Tidak ibuku, kakekku atau bahkan Nammie sekalipun. Dan aku tidak pernah merasa menyesal menjadi kekasihmu.”

Dia menjauhkan tanganku dari wajahnya hingga tanganku terjatuh.

“Itu tidak merubah apapun, kau tahu aku tidak berbagi. Bagaimana mungkin aku bisa menikah denganmu sementara aku tahu kau menyukai orang lain?” dia menggeleng lemah. “aku bukan pria seperti itu.” dia berhenti sejenak pandangannya menerawang. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tapi matanya begitu sendu dan terluka. Siwon berbicara dengan nada sedih, “Aku tidak bisa berhenti membayangkan…kau dan dia dalam satu rumah, membayangkan caramu menatapnya. Itu membuatku merasa kau berselingkuh sepanjang waktu, Hyura. Aku tidak bisa menangani hal ini, tidak peduli apapun yang kau lakukan atau katakan. Apapun yang kudengar malam itu merubah segalanya.”

“Oppa…”

“Hyura,” katanya lelah. “Berikan aku waktu untuk sendiri, kita membutuhkan jarak.”

“Kau mau aku pergi?”

Dia berbalik memunggungiku. “Yeah, pergilah.”

“Bagaimana dengan pertunangan kita?”

“Aku tidak tahu.”

Menghela nafas berat, aku mengangguk. “Baiklah jika itu bisa membuatmu lebih baik. Aku akan menelpon setelah sampai di korea.”

“Jangan!” Dia menoleh sedikit tanpa benar-benar berbalik. “Jangan menghubungiku sampai aku menghubungimu. Aku butuh jarak.”

Aku hampir menangis saat mendenagrnya tapi Aku tidak ingin menekannya lebih jauh setelah apa yang kulakukan, akan kuberikan apapun yang dia butuhkan. Siwon membutuhkan waktu, dan aku mencoba memahaminya, akan kuberikan waktu selama apapun yang dia butuhkan. Aku akan menunggunya. Aku mengangguk lemah sambil bicara pelan.

“Baiklah.”

Dengan itu aku kembali ke kamarku dan membereskan barang-barang sebelum meminta hotel untuk membantuku memesan tiket.

Selama di pesawat aku terus menangis, mengingat apa yang sudah kulakukan membuat semuanya jadi serba salah. Untukku, Siwon dan mungkin juga untuk Kyuhyun. Aku tidak tahu cinta bisa serumit ini. Seandainya bisa mengulang, aku tidak akan pernah memilih jalan yang melibatkan perasaan.

            “Apa besok kau akan masuk kantor?”

            Nammie menghubungiku saat aku mengabari bahwa aku sudah tiba di korea.

            “Mungkin, aku tidak tahu.” Jawabku lesu.

            “Tidak berjalan baik yah?” katanya dengan nada simpati.

            “Hmm,” aku tidak ingin membicarakannya lagi jadi aku mengalihkan topik ke masalah kantor. “Apa hari ini semuanya berjalan lancar?”

            “Ya, hanya beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tanganmu yang mungkin tidak akan selesai.” Dia mengatakannya dengan nada bercanda tapi sama sekali tidak berpengaruh padaku. “Hey, ambillah libur satu hari lagi. Kau membutuhkannya.”

            “Ya aku bisa memulai akhir pekan lebih awal, tapi terima kasih. Sepertinya bekerja terdengar lebih menarik untukku.

            “Hyura-ya,”

            “Sampai ketemu besok.” Potongku cepat dan langsung memutuskan sambungan.

***

 

            Hari jumat pagi aku tidak merasa lebih baik, tidur setelah menangis harusnya membuatku lebih nyenyak. Kenyataannya tidak, beberapa kali aku terbangun dengan mimpi-mimpi aneh yang menakutkan. Saat turun untuk sarapan aku baru sadar rumah ini sangat sepi, aku tidak bertemu siapapun selain pelayan sejak semalam.

Mengambil kursi dan meyesap susuku hingga separuh sebelum bertanya pada Kim Ahjumah. Dia berdiri di balik meja sarapan sambil membereskan sesuatu.

“Apa ibuku sudah pergi?”

“Oh maaf, aku lupa memberitahumu, nona. Nyonya besar bergantian menjaga Tuan besar di rumah peristirahatan beliau.”

“Apa maksudmu dengan bergantian menjaga?”

“Nyonya besar dan Tuan muda Donghae bergiliran menjaga Tuan besar. Kemarin giliran Nyonya besar jadi Tuan Donghae bisa pulang ke rumah.”

Apa ini? Aku baru pergi dua hari tapi banyak kejadian yang sudah kulewatkan. Mungkin kakek sudah memberitahu Eomma soal penyakitnya. Tapi bergantian menjaga? Dengan Kyuhyun? Bagaimana bisa, ibuku?

Aku menggeleng, ada apa denganku? seharusnya aku bereaksi senang karena mereka bisa bekerja sama dalam hal ini.

Aku bertanya lagi

“Apa kakakku di rumah? Aneh, aku tidak melihat mobilnya.”

“Belakangan ini Tuan muda menggunakan taksi. Nona, apa perlu kupanggangkan roti?”

“Ya, silahkan.” Sambil menunggu Kim Ahjumah mengoleskan selai pada roti aku membuka suara.

“Kenapa dia menggunakan taksi?”

“Maaf Nona, aku tidak tahu.”

Aku mengangguk mengerti dan menunggu Kim Ahjumah menyelesaikan pekerjaannya. Menghabiskan waktu untuk sarapan lebih lama dari biasanya, aku baru sadar ternyata aku menunggu Kyuhyun saat Ahjumah menegurku apa aku ingin menambah karena tidak juga beranjak.

“Nona?”

“Oh, Uhm…Yeah, maaf. Aku pergi.” Beranjak dari sana dan bodohnya aku masih melihat ke arah tangga berharap Kyuhyun akan muncul. Lalu tiba-tiba aku teringat ucapan Siwon. Itu membuatku merasa kau berselingkuh sepanjang waktu. Mengusap wajahku kasar dan berjalan cepat keluar rumah sambil menyadarkan diriku sendiri. Apa yang sedang kau lakukan, Park Hyura?

Setibanya di kantor aku mengerjakan banyak pekerjaan, memantau ini dan itu yang juga berimbas pada Nammie yang tidak bisa berhenti ke sana ke mari karena perintahku. Membuat kami tetap sibuk dan berhasil membungkam mulut asistantku untuk tidak bertanya lebih jauh, selain itu juga membuatku sama sekali tidak memikirkan masalah pribadiku. Di ujung hari aku mengecek kehadiran ibuku dan sekertarisnya bilang ibuku bekerja di rumah. Aku tidak tahu ibuku sangat totalitas dalam menjaga kakek.

Hampir jam makan malam aku baru meninggalkan kantor dan langsung menuju tempat kakek. Berhenti di rest area untuk mengisi perutku sebentar dan tiba di sana sebelum pukul sepuluh. Pondok itu begitu sepi seperti tidak ada siapapun tapi lampunya menyala, membuat langkahku yakin saat mengetuk pintunya pelan.

Ibuku membukakan pintu untukku. Dia terlihat seperti ibuku enam belas tahun lalu, berpakaian sederhana, rambut sebahunya di gerai dan tanpa make up membuat kerutan di wajahnya terlihat jelas. Dia terlihat sangat lelah tapi tetap tersenyum selembut mungkin.

“Kau sudah pulang dari Singapore?” dia bertanya sambil membuka pintu lebih lebar, memberikan jalan untukku.

Berjalan masuk sambil melihatnya terkejut, dia menutup pintu di belakangnya.

“Bagaimana Eomma tahu aku ke Singapore?”

“Asistantmu yang bilang, katanya kau menemui Siwon.”

“Aneh, Nammie tidak mengatakan apapun.” Kataku bergumam pelan dan yakin ibuku tidak mendengarnya.

“Kau sudah makan?” dia berjalan ke dapur.

“Ya tadi aku makan di jalan. Di mana kakek?”

“Dia sudah tidur. Mau teh melati?”

            Aku mengangguk sambil berjalan ke meja makan, menarik salah satu kursi saat ibuku menyalakan ketel air. Di meja Aku melihat laptop yang masih menyala dan tumpukan map yang sudah rapi di sampingnya. Kembali pada ibuku, aku menatap punggungnya yang sedang bekerja di meja dapur.

            “Bagaimana keputusan rapat voting?” tanyaku

            Dia tidak langsung menjawab, tangannya sibuk mengaduk teh, dia membawa dua cangkir ke meja, mendorong salah satunya ke arahku. Aku menggumam terima kasih sebelum menyesapnya sedikit. Rasa dan aromanya otomatis menenangkanku.

            Dia menutup laptop sebelum menyesap tehnya sendiri.

“Tidak terlalu memuaskan, aku memang di beri kesempatan tapi jelas banyak pihak Donghae yang menentang.” Eomma mendesah sambil memandangi pinggiran cangkir. “Untuk masalah perusahaan Aku tidak tahu harus berterima kasih atau tidak pada anak itu. tapi untuk masalah keluarga aku banyak berhutang padanya.” Ibuku berhenti, aku menatapnya menunggu penasaran apa yang akan dia katakan selanjutnya.

            “Ayah tidak akan bertahan sejauh ini tanpa Donghae.” Kata Ibuku pelan, ada rasa menyesal dan syukur di sana. “Aku sendiri bahkan tidak bisa menjaganya dengan benar. Aku dan anak itu sepakat untuk bergantian menjaga Ayah karena pekerjaannya banyak sekali yang terbengkalai. Tapi…kejadian siang tadi menyadarkanku bahwa aku tidak bisa melakukan apa yang Donghae lakukan.”

            “Kejadian siang tadi?”

            Ibuku mengangguk lemah, tatapannya berubah sedih. “Tadi siang Ayah terjatuh di depan kamar mandi dengan genangan kotorannya sendiri, dia terjatuh sebelum sampai di kamar mandi. Aku berusaha membantunya tapi dia melarangku mendekat, saat aku bersikeras dia malah marah-marah dan melemparku dengan kotorannya, dia menjadi tidak terkendali dan berteriak-teriak mengutuk tubuhnya hingga terbatuk keras dan mulutnya mengeluarkan darah. Aku panik dan ketakutan jadi aku menghubungi Lee Seonsaengnim tapi beliau sedang ada seminar di luar kota jadi aku menghubungi Donghae.”

            Eomma mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, aku tidak pernah melihat ibuku sefrustasi ini meskipun dalam rapat sulit sekalipun. Dia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.

            “Donghae datang secepat yang dia bisa. Dia membersihkan tubuh ayah dan memandikannya sementara aku membersihkan lantai. Dia meminta maaf karena lupa memasang pispot makanya terjadi hal seperti ini. Meskipun begitu aku sangat menyesal.”

            Tidak perlu bertanya dua kali, melihatnya saja jelas penyakit kakek membuat ibuku cukup terguncang. Awalnya aku juga merasakan hal yang sama tapi aku tidak tahu bisa sampai separah itu. Well tentu saja karena aku belum pernah menjaga kakek.

            “Hyura,” dia memanggilku lembut.

            “Ya?”

            “Aku pernah berusaha menjadi seorang istri yang baik tapi aku gagal sampai suamiku berselingkuh. Karena itu aku tidak ingin gagal menjadi seorang ibu. Aku mendidikmu dengan segala yang kubisa agar kau menjadi wanita hebat yang bisa berdiri dengan kakimu sendiri—tanpa pernah tahu apa kau bahagia dengan jalan hidup yang sudah kupilihkan.” Mata ibuku berkaca-kaca, begitu juga denganku. Aku tidak pernah memikirkan kebahagiaanku atau kebahagaiaan siapapun. Terlahir di keluarga seperti ini menyadarkanku bahwa hidupku bukan milikku sendiri. Aku tidak pernah melupakan siapa diriku karena jelas dunia takkan melupakannya.

            Eomma mengusap matanya sebelum air matanya keluar. Dia bicara lagi. “Saat melihat Ayah, aku baru sadar bahwa apa yang kuperjuangkan tidak ada artinya jika kau menghabiskan hidupmu dengan sebuah penyesalan.” Dia berhenti sejenak dengan pandangan menerawang. “Selama beberapa tahun belakangan ini aku selalu di hantui kecemasan, bagaimana jika mereka tidak menerima penawaranku, bagaimana jika kontrak kerjanya gagal, bagaimana laporan ini dan itu bisa salah. Selalu seperti itu bahkan sering membuat tidurku tidak nyenyak. Apa kau juga mengalaminya?”

            Aku mengangguk. “Ya, kadang-kadang.”

            Ibuku tersenyum pahit, “Itulah yang kutakutkan. Terlalu banyak hal yang kusesali, aku tidak ingin kau sepertiku. Aku ingin kau bahagia, nak.”

Aku tersenyum lembut. “Eomma, aku bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang.”

“Senang mendengarnya.” Dia menyesap tehnya lagi lalu matanya melihat sekeliling ruangan. “Aku suka tempat ini, di sini membuatku banyak berpikir dan cukup menenangkan.

            Aku memilih tidak menanggapinya karena aku tidak sependapat dengan ibuku. Tempat ini memang menyenangkan tapi seperti tempat terpencil yang mengingatkanku pada perjalanan bersama Kyuhyun, perjalanan aneh yang membuatku terisolasi dari dunia luar.

            “Oh ya, bagaimana kabar Siwon? Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi atau ibunya semenjak pertunangan kalian.”

            “Yeah, dia baik-baik saja.” Sahutku pelan dan terdengar tidak meyakinkan.

            “Aku sudah mendengarnya.” Kata ibuku dengan nada prihatin

            Mendongak cepat, “Huh?”

            “Permintaan Kakekmu. Apa Siwon bersedia mempercepat pernikahan kalian?”

            Aku tidak langsung menjawab, tatapanku turun ke bawah. “Aku…aku tidak tahu.” Jawabku jujur. Aku bahkan tidak tahu bisa mempertahankan pertunangan kami atau tidak.

            “Jangan di paksa, aku juga tidak terlalu setuju kau menikah cepat. Kau masih muda begitu juga dengan Siwon.”

            Aku memandangnya bingung, “Lalu bagaimana dengan kakek?”

            “Aku akan mengusahkan untuk Donghae, setidaknya salah satu dari kalian harus mengabulkan keinginannya. Aku sudah mengatur kencan buta untuknya, kau jangan khawatir.”

            Aku terbelalak. “Apa?— Kencan buta?”

            “Ya. kenapa kau begitu kaget?”

            “A..ani, maksudku, apa Eomma sudah membicarakan masalah ini dengannya? Apa dia setuju?” tiba-tiba saja aku panik. Memikirkan Kyuhyun dan kencan buta membuatku mual seketika.

            “Tentu saja, dia bilang dia sedang tidak dekat dengan siapapun dan dia setuju untuk kencan buta.”

            “Ta…tapi…” aku kehabisan kata-kata, tidak tahu lagi harus memberikan alasan apa agar ibuku tidak mengatur kencan buta untuk Kyuhyun. Lihatlah Aku bersikap konyol lagi. Ini sama sekali bukan urusanku, lagipula ini semua demi kakek. Apa sih yang kau pikirkan Park Hyura!

            “Siapa?” tanyaku berbisik, aku tidak yakin ingin mendengar jawabannya tapi aku tetap bertanya.

            “Kau tahu Yoon Soyi, putri kedua Tuan Yoon Seho?—Mantan Menteri pertahanan?”

            Aku mengangguk, aku pernah melihatnya di majalah beberapa kali. Dia cantik dan terkenal, dia berbakat di bidang fashion dan karyanya banyak di gunakan orang-orang terkenal. Well, dalam hal ini ibuku sangat pandai mencari kesempatan.

            “Lalu bagaimana pendapatnya?—Donghae Oppa?”

            “Dia setuju dan sabtu besok mereka akan bertemu.”

            “Besok?” aku hampir membentak ibuku hingga membuatnya terlonjak.

            Dia menatapku kebingungan. “Hyura-ya?”

            “Ma…maaf. aku hanya terkejut.”

Tatapan ibuku tidak berubah, dia masih bertanya-tanya. Menghindari mata ibuku dengan menyesap tehku yang hampir habis, menutupi sebagian wajahku dengan cangkir. Aku yakin jika Eomma terus bertanya dan menatapku seperti ini dia pasti bisa mengetahui apa yang terjadi padaku. Well, dia ibuku dan dia tahu bagaimana aku.

            Aku terselamatkan saat pintu depan tiba-tiba saja terbuka. Tanpa mengetuk Kyuhyun muncul di ambang pinta, otomatis kami berdua menoleh. Dia melihat ibuku terlebih dulu baru setelah itu mata kami bertemu. Dia terlihat terkejut melihatku tapi sedetik kemudian dia berhasil mengembalikan ekspresinya.

Dia tersenyum pada kami. Senyum yang sama—senyum saat dia berperan menjadi Lee Donghae— senyum yang tidak pernah menyentuh matanya.

“Maaf, aku terlambat.” Dia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat. “ada beberapa urusan yang mendesak.”

“Tidak apa, aku bisa pulang dengan Hyura.” Jawab ibuku datar. Kukira setelah bisa bekerja sama dalam menangani kakek mereka sudah bisa mengatasi hubungan Ibu dan anak tiri yang sedingin es. Ternyata tidak. Meskipun ibuku tidak membenci Kyuhyun tapi jelas dia juga tidak menyukainya.

Kyuhyun mengangguk canggung. “Aku akan melihat keadaan kakek.” Dia berbalik tapi ibuku memanggilnya.

“Kau tidak lupa untuk besok?” Ibuku mengingatkan.

“Ne Eommonim.”

“Apa kau masih menggunakan taksi?”

Dia mengangguk lagi.

“Besok pakai mobilku, atau kau bisa membeli mobil yang baru kalau mobilmu masih di bengkel. Aku tidak ingin membuat kesan jelek di depan Soyi.”

“Aku mengerti.” Hanya itu yang dia katakan lalu pergi ke kamar kakek.

Aku masih menatap pintu kamar kakek meskipun tubuh Kyuhyun sudah menghilang, sampai ibuku harus menegurku keras untuk mendapat perhatian.

“kenapa melamun?” dia sudah berdiri dan cangkir di meja sudah tidak ada.

“Tidak apa-apa.” Aku bergumam.

“Ayo, kita pulang. Aku pulang bersamamu, agar Donghae bisa memakai mobilku.”

Aku mengangguk menurut lalu berjalan keluar tanpa berpamitan.

“Eomma,” panggilku ragu saat baru keluar dari parkiran dan menuju jalan raya. “ada yang ingin kutanyakan.” Dari sudut mata kulihat Eomma menatapku penasaran.

“Bagaimana…” aku meliriknya sekilas sebelum kembali ke jalan raya. “Bagaimana jika, Donghae bukan anak ayah.”

“Apa?”

Well, Uhm…maksudku seandainya, jika dia bukan saudaraku apa Eomma akan tetap bersikap keras padanya?”

Eomma mengernyit bingung. “Apa kau sedang berkhayal sesuatu?”

“Huh?”

“Apa kau sedang berkhayal seandainya kau tidak punya saudara tiri?”

“Y…Yeah, maksudku begitu.”

“Itu terdengar rumit.” Gumamnya rendah. “Aku memiliki alasan kuat kenapa aku tidak menyukai anak itu. “

Aku melirik Eomma lagi. “Tapi bagaimana jika sebenarnya dia jauh berbeda dari bayangan Eomma selama ini?”

Ibuku memandangiku cukup lama seperti sedang mempelajari ekspresiku.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Hari ini kau bersikap dan berbicara aneh mengenai Donghae, apa dia melakukan sesuatu padamu.”

Menggeleng kuat, “tentu saja tidak, dia tidak melakukan apa-apa.”

Eomma masih manatapku tidak percaya tapi Aku tidak ingin salah bicara dan membangkitkan kecurigaannya, jadi selama satu setengah jam berikutnya aku lebih banyak diam dan hanya menjawab saat Eomma bertanya.

Keesokan harinya, saat menjelang sore kami kembali ke rumah danau. Di parkiran aku melihat mobil Lee Sonsaengnim dan mobil Eomma sudah tidak ada, mungkin Kyuhyun sudah pergi untuk kencan butanya. Aku tahu suatu saat kami akan memiliki kehidupan masing-masing. Aku akan menikah dan dia juga kan menikah, yang mana semua orang tahu anaknya akan menjadi keponakanku dan anakku akan menjadi keponakannya. Aku tahu hal itu dengan sangat jelas lebih dari siapapun tapi tetap saja rasanya tidak menyenangkan.

Aku dan ibuku membawa banyak kantong belanjaan untuk persediaan makanan di sini, saat aku masuk dan seperti biasa kakek dan Lee Seonsaengnim sedang bermain catur. Keduanya menoleh sekilas saat mendengar kami lalu hanya mengangguk saat aku memberi salam, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka kembali serius menekuni papan catur.

Aku langsung pergi ke dapur membantu ibuku menata belanjaan dengan memasukkannya ke kulkas dan sebagian ke cabinet.

“Ada sesuatu yang kau inginkan untuk makan malam?” tanya Eomma.

Aku menggeleng lemah. Sangat tidak bersemangat untuk lebih lama berada di sini. Aku ingin pulang dan menghabiskan waktu di gym atau tempat yoga. Di sini membuat otakku terus memikirkan Kyuhyun dan kencan butanya.

“Kalau begitu bantu aku menyiapkan makan malam.”

“Ne, Eomma.”

Aku mengikuti setiap instruksi yang ibuku katakan, mencuci sayuran, memotong bawang, apapun yang bisa kulakukan tapi kenyataannya aku tidak bisa melakukan apapun. Aku memang tidak bisa memasak tapi aku bukan orang idiot yang tidak mengerti perkataan ibuku sendiri. Setiap yang kukerjakan berakhir kacau. Misalnya saat mencuci daun selada, aku tidak tahu apa yang tanganku lakukan tapi sebagian daun menjadi sobek dan tidak bisa di pakai. Eomma menggeleng tidak percaya setelah melihat hasil pekerjaanku.

“Hyura, sebaiknya kau duduk saja.” Kata ibuku akhirnya.

Tanpa menjawab aku berbalik dan menuju pintu setelah melewati kakek dan Lee Seonsaengnim. Berjalan tanpa arah di pinggiran danau, sesekali menendang kerikil kecil atau melempar batu ke danau. Ada beberapa batu besar di pinggiran danau yang hampir menyentuh air dan ada hutan kecil di belakangku. Dari segi apapun tempat ini sangat indah, yang menjadi kekurangannya adalah tempat ini terpencil, dan jauh dari pusat kota. Jujur saja sebenarnya cukup melelahkan menyetir pulang pergi dari Seoul ke sini. Tapi tempat ini menjadi rekomendasi Lee Seonsaengnim. Sama seperti yang Kyuhyun lakukan padaku dulu, Lee Seonsangnim membuat kakek terisolasi dari dunia luar. Dia tidak boleh memikirkan apapun selain kesehatannya. Dia tidak bisa menonton televise atau membaca Koran.

Aku berhenti dan menyadari bahwa aku berjaan cukup jauh, rumah pondok sudah tidak terlihat dan langit mulai gelap. Suara-suara binatang malam dari dalam hutan kecil membuatku takut tapi aku juga belum mau kembali. Di sana secara alamiah otakku akan berpikir keras dan merasa semuanya semakin ruwet.

Melihat kakekku dengan keadaannya yang tidak kunjung membaik mengingatkanku pada tanggung jawab yang dia bebankan, yaitu menikah. Meskipun sekarang hal itu juga di bebankan pada Kyuhyun. Tapi di situ masalahnya, aku tidak merasa beban ini menjadi lebih ringan atau seperti bayangan setiap orang saat memikul tanggung jawab bersama. Yang ada aku merasa beban ini dua kali lebih berat. Membohongi dan melukai banyak pihak.

Bukan hanya Siwon dan Kyuhyun tapi aku juga mengorbankan perasaanku sendiri. Mungkin aku memang harus menutup mulut sialanku. Semua ini terjadi karena ucapanku. Tapi seandainya waktu di putar ulang aku yakin aku tidak akan menarik kata-kataku. Aku tidak menyesal pernah mengatakan perasaanku, yang kusesalkan aku melukai Kyuhyun dan Siwon. Seandainya Kyuhyun tidak memiliki perasaan yang sama rumitnya kukira ini akan berjalan lebih mudah. Tapi nyatanya dia malah menuntutku untuk memperjuangkannya sementara aku tidak bisa memilihnya lalu melukai Siwon.

Aku baru bisa memahami apa yang Siwon rasakan saat mengetahui Kyuhyun menyetujui untuk pergi kencan buta. Perasaanku menjadi tidak karuan, pikirknku menjadi tidak fokus, dan merasa semua hal menjadi salah meskipun aku melihatnya dari berbagai sudut pandang. Aku tidak menyalahkan Siwon marah padaku karena memang aku pantas mendapatkannya.

Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku, saat aku sadar langit sepenuhnya gelap. Aku tidak bisa melihat apapun, bahkan aku tidak bisa menemukuan jalan setapak yang tadi kulalui. Sialan, sebenarnya apa sih yang kulakukan di sini.

Aku berjalan cepat ke arah tempat aku datang tadi, tidak peduli jalan yang kulalui benar atau salah, aku hanya mengikuti insting. Gelap dan hanya diterangi sinar bulan yang redup membuatku tidak bisa melihat jalan. Aku tersandung dan terjatuh beberapa kali tapi aku tidak mempedulikannya, aku terus berjalan dan mengikuti suara yang memanggil namaku—sampai samar-samar aku mulai melihat cahaya. Aku hampir sampai di pekarangan rumah danau saat Lee Seonsaengnim menghampiriku dengan wajah memerah dan nafas tersengal.

“Astaga! Park Hyura, dari mana saja kau! Kami mencarimu sejak tadi.”

“Ma…maaf. Aku hanya berjalan-jalan. Apa yang terjadi?”

Lee Seonsaengnin mengusap wajahnya kasar sambil menghembuskan nafas berat, dia tidak menjawabku dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia menghubungi seseorang dan memberitahu siapapun itu bahwa aku sudah di temukan.

“Ayo, kita harus kembali.”

Kami berjalan beriringan kembali ke rumah dan aku meminta maaf lagi padanya.

“Seonsaengnim, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat yang lain cemas.”

“Ya, aku tahu kau sudah dewasa tapi kau harus melihat bagaimana paniknya ibumu tadi.” Dia menggeleng keheranan. “Aku tidak ingin membuat presdir ikut cemas makanya aku mencarimu.”

“Terima kasih dan sekali lagi aku minta maaf.”

Dia berhenti di depan pintu sambil tersenyum, tangannya mengusap kepalaku seolah aku ini seekor kucing. “Aku mengerti. Ayo masuk.”

Begitu aku dan Seonsaengnim masuk Eomma langsung berjalan cepat ke arah kami. Lee Seonsaengnim tidak bercanda karena Wajah ibuku benar-benar cemas dan ketakutan.

“Dari mana saja kau! Kenapa tidak membawa ponsel!” semburnya, “Kau tahu kami semua cemas setengah mati.”

“Hanya ibumu yang bersikap begitu.” Kata Kakek dari sebrang ruangan.

Eomma menoleh padanya sambil menatap protes. “Abeoji!”

“Putrimu itu sudah besar, dia bukan anak anjing yang mudah tersesat. Kau tidak membesarkannya dengan cara seperti itu.”

“Aboeji…”

“Eooma,” aku memotong ibuku cepat. “Kakek benar, aku hanya berjalan-jalan di sekitar danau tadi. Maaf membuat keributan, harusnya aku tadi memberitahumu.”

Eomma mengangguk lalu matanya memindaiku dari atas hingga ke bawah, dahinya berkerut tidak senang melihat penampilanku. “Kenapa penampilanmu seperti ini?”

Aku menunduk melihat tubuhku. Jeans yang kukenakan sepenuhnya kotor, banyak noda tanah kecoklatan di beberapa bagian dan lubang di lutut. Aku baru sadar telapak tanganku juga perih. Aku mengangkatnya sedikit untuk melihatnya tanpa benar-benar memperlihatkan pada ibuku. Banyak goresan di telapak tangan kanan di dekat pergelangan, mungkin karena aku jatuh beberapa kali saat berjalan tadi.

Aku tersenyum sambil menggeleng. “Tidak apa-apa, ini hanya noda tanah tempat aku duduk tadi.”

“Ya sudah, kalau begitu bersihkan dirimu setelah itu kita makan malam.”

Mengangguk menurut dan beranjak ke kamar, membersihkan diri dan membersihkan lukaku. Setelah itu aku memakai swater panjang kebesaran yang melawati pergelangan tangan hingga bisa menyembunyikan goresan lukaku.

Saat aku keluar hanya tinggal kakek dan Eomma, Seonsaengnim sudah pergi dan menolak untuk makan malam bersama kami. Mereka berdua telah menungguku di meja makan. Hanya kami bertiga mengingatkanku pada saat kepergian Ayah, saat kakek belum membawa Kyuhyun ke rumah kami. Suasananya hampir mirip seperti ini, sunyi, tanpa keceriaan.

“Kemarilah cucuku, aku sudah sangat kelaparan karena menunggumu.”

Mendekat sambil menggumam minta maaf. Eomma mendorong mangkuk nasi untukku, sementara kakek sudah menyendok sup dari mangkuknya.

“Hmm, masakanmu tidak berubah.” Komentar kakek tanpa mengalihkan perhatiannya. Eomma hanya mengangkat bahu tidak peduli dan meneruskan makannya. Kami makan dalam diam hingga kakek menyelesaikan makan malamnya terlebih dulu. Dia berdehem keras sebelum bangkit dari kursi. Mengambil tongkat lalu berbicara.

“Aku akan ke kamar, terima kasih untuk makan malamnya.”

“Aboeji, aku akan membantumu minum obat setelah ini.”

“Tidak, tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Selesaikan makanmu dan bersantailah. Kau sudah bekerja keras sepanjang sore ini.”

“Eoh, arasseo.”

“Dan Hyura!” dia menegaskan namaku.

“Ne, Harabeoji,” aku menegakkan tubuhku

“Besok datanglah lagi, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Aku menganggguk patuh

Setelah itu dia menghilang di balik pintu kamar. Aku dan Eomma melanjutkan makan malam kami lalu aku membantunya membereskan dapur. Dari meja dapur aku memperhatikan Eomma yang membuka tas kerja dan langsung tenggelam dengan pekerjaannya. Cukup lama aku memperhatikannya sampai aku mendengar pintu depan terbuka dan tertutup. Eomma sudah menoleh saat aku berjalan ke meja makan dan melongok.

“Eoh, kau sudah pulang.” Kata Ibuku.

Kyuhyun sedang melepas jaketnya lalu menunduk memberi salam

“Bagaimana pertemuanmu? Apa berjalan lancar?”

“Ya, kami berencana untuk bertemu lagi.”

Ibuku tersenyum senang. “Bagus sekali. Aku senang kalau kalian bisa cocok.”

Aku berdehem. “O..oppa, kau sudah makan?” pertanyaan tolol yang keluar dari mulutku, tentu saja dia sudah makan malam dengan kencannya. Tapi aku ingin berbicara padanya, aku merindukannya, meskipun kami sudah bertemu tapi hatiku masih merindukannya.

Dia mengangguk kaku. “Ya, terima kasih. Aku sudah makan. Aku akan melihat kakek.”

“Donghae-ya,” Ibuku memangilnya lagi sebelum dia mendekati pintu kamar kakek.

“Jangan terlalu lama, kau harus pulang menemani Hyura. Malam ini biar aku yang menginap.”

“Aku mengerti.” Jawabnya singkat dan pergi.

Setelah dia menghilang aku buru-buru duduk di samping Eomma dan berbisik.

“Eomma, aku bisa pulang sendiri, aku tidak mau pulang dengannya.” Bukannya tanpa alasan, membayangkan berdua saja dengan Kyuhyun di dalam mobil membuat perutku mual. Aku tidak tahu bagaimana mengatasi kecanggungan kami. Dia juga masih marah padaku.

Eomma menatapku keheranan “Ya tentu saja kau bisa pulang sendiri tapi Donghae tidak bisa, dia tidak bisa menginap ataupun membawa mobilku lagi.”

“Dia bisa menginap lalu Eomma pulang bersamaku.”

“Tidak, tidak. Malam ini aku akan menginap, aku sudah berjanji pada kakekmu untuk tetap tinggal. Di sini tidak ada kamar lagi, Donghae tidak bisa terus-terusan tidur di kursi.”

“Ta…tapi…” aku tidak bisa membantah lagi, aku juga tidak suka Kyuhyun tidur di kursi meskipun dia tidak pernah mengatakan keberatan. “Kalau begitu aku dan Eomma menginap lalu dia yang pulang.”

Eomma semakin menatapku keheranan. “Ada apa sih denganmu? Apa Donghae melakukan sesuatu yang membuatmu marah sampai-sampai kau tidak mau memberikannya tumpangan.”

Aku menggaruk kepalalu frustasi. Masalahnya aku yang membuatnya marah, tapi aku tidak bisa mengatakan apapun pada ibuku. “Bukan begitu, hanya—aku merasa canggung.”

“Canggung? Biasanya kau selalu mengabaikan keberadaannya, kenapa sekarang malah canggung?”

Mengerang dalam hati, Oh ya Tuhan, bagaimana caranya membuat ibuku mengerti?”

Aku baru membuka mulutku tapi pintu kamar kakek terbuka dan tertutup, Kyuhyun muncul dari sana.

Ibuku langsung menoleh padanya.

“Apa dia sudah tidur?”

Kyuhyun mengangguk.

“Kalau begitu kalian pulanglah sebelum terlalu malam.”

Bahuku terkulai lesu mendengarnya, Eomma tidak mendengarku dan tetap menyuruhku pulang bersama Kyuhyun. Saat aku menoleh ke arahnya dia sudah berjalan ke arah pintu. Dengan langkah berat aku menyusulnya setelah mengecup pipi ibuku sekilas. Aku menekan tombol pip sesaat sebelum Kyuhyun sampai di mobilku. Dia langsung masuk ke kursi penumpang tanpa menoleh padaku. Biasanya dia sangat menyukai mengendarai mobilku tapi untuk kali ini dia bahkan tidak mencobanya lebih dulu.

Aku menyusul di balik kemudi, dia sudah duduk nyaman di kursi penumpang dengan mata terpejam sambil bersedakap dan kepala bersandar di sisi jendela. Bagus, sekarang aku benar-benar menjadi supir. Tapi setidaknya dengan begini lebih nyaman, aku tidak perlu berpura-pura.

Sementara aku menyetir Kyuhyun tidur dengan nyaman. Suasana jalanan lumayan sepi begitu juga di dalam mobil, aku tidak ingin menyalakan radio yang berpotensi membangunkannya. Bukan takut mengganggu istrirahatnya tapi aku takut dia sadar dan terbangun yang malah membuat suasana jadi aneh. Tapi masalahnya, aku menguap beberapa kali, menyetir sendirian dalam keadaan sepi begini otomatis membuat mataku memberat.

Sial, apa yang harus kulakukan.

Melirik cepat ke bawah, mencari apapun yang bisa membuatku tetap terjaga. Tapi aku tidak bisa menemukan apapun dalam keadaan gelap sementara mataku harus tetap fokus ke depan atau kami berdua akan mati.

“Mau kugantikan?” suara berat Kyuhyun mengagetkanku hingga membuatku sedikit terlonjak.

Menengakkan tubuhku dengan mata fokus ke depan sebelum menjawabnya. “Tidak perlu. Ini bahkan belum separuh perjalanan.” Tambahku pelan.

“Kau pikir aku tidak melihatmu, kau mengantuk. Itu membahayakan kita berdua.” Katanya datar.

“Kupikir kau tidur.” Aku meliriknya sekilas, dia tidak menatapku tapi kemudian memalingkan wajahnya kearah jalanan di depan kami.

“Ya, tadinya aku berniat begitu tapi…” suaranya menghilang di akhir kalimat yang justru membuatku penasaran.

“Tapi?”

Dia mengangkat bahunya acuh.

“Entahlah, rasanya aneh duduk di sini, aku selalu duduk di sana.” Dia menunjuk kursiku dengan dagunya.

Ucapannya mengingatkanku pada perjalanan kami dulu. Awalnya Kyuhyun memang seperti pengganggu tapi kenyataannya dia berubah menjadi supirku. Tanpa sadar aku memutar mata. “Kau tidak selalu duduk di sini, aku juga pernah menjadi supirmu sementara kau enak-enakan tidur.”

Dia tersentak, lalu menegakkan tubuhnya dan menatapku. “Hey, aku yang selalu menjadi supirmu bahkan aku rela tidak tidur semalaman untuk membuat benda ini terus bergerak.”

Aku meliriknya sambil tersenyum mengejek. “Dan siapa yang bersikeras tidak membiarkanku menyetir?”

“Kau tidak tahu arah, cara menyetirmu lambat, kau juga tidak punya tujuan, aku tidak mungkin membiarkanmu memimpin.”

Aku tidak bisa mecegah untuk tidak memutar mataku lagi. “Oh yeah? Membiarkanku memimpin? Lalu siapa yang mengikutiku, Membiarkanku menyetir sendirian sementara kau tidur seperti orang mati!”

Dia terdiam sejenak seolah sedang berpikir keras sampai dia mengerang, sepertinya dia ingat apa maksudku.

Well, saat itu aku benar-benar lelah setelah pulang kerja. Kukira kau hanya sedang emosi dan mengajakku berputar-putar keliling kota, ternyata kau malah membawaku kabur.”

“Cih, membawa kabur apanya?” gerutuku pelan.

Dia terkekeh, aku meliriknya untuk memastikan dia benar-benar tersenyum. Pertama kalinya setelah perang dingin diantara kami dia bisa tersenyum. Rasanya sudah lama sekali kami bisa mengobrol santai seperti ini. Kyuhyun dengan leluconnya sementara aku dengan komentar sinisku.

Kyuhyun tidak bicara lagi, dan suasana menjadi hening tiba-tiba. Kecanggungan mengisi menit-menit selanjutnya. Aku juga tidak menemukan bahan pembicaraan yang aman, maksudku yang tidak menyinggung masalah kami berdua.

Aku berdehem membersihkan tenggorokanku sebelum bertanya.

“Bagaimana kencanmu tadi? Menarik?” aku bertanya dengan nada sebiasa mungkin, seolah bertanya apa menu makan siangmu hari ini, semacam itulah. Tapi sepertinya berpengaruh lain untuknya. Terlihat bagaimana dia sangat lama menjawabnya. Kukira dia tidak mendengarku, sampai aku menoleh memastikan dia tidak tertidur dan memanggil namanya.

“Apa kau cemburu?” dia berbisik pelan, namun cukup keras terdengar di telingaku.

“Apa?” aku melihatnya terkejut, lalu memusatkan perhatianku kembali ke jalan. Sial, kenapa dia menyinggungnya?

“Katakan ‘ya’ kau cemburu maka aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak akan bertemu dengannya lagi, melakukan kencan buta atau apapun namanya. Bertemu dengan Son-yi? Songyi? Song…”

“Nona So yi, Yoon So Yi.” Aku mengoreksi.

Dia melambaikan tangannya seolah tidak peduli. “Ya siapapun namanya. Aku tidak akan melakukannya. Kau hanya tinggal mengatakannya.”

Aku tertawa hambar menyembunyikan detak jantungku yang semakin cepat.

“Kau tahu itu tidak mungkin. Diantara kita harus ada yang menikah. Demi kakek.”

Dia mendesah berat. “Ya aku tahu. Aku menjadi rencana cadangan ibumu.” Katanya pelan.

Salah. Dialah rencana utamanya. Kyuhyun yang harus menikah dan aku yang menjadi rencana cadangan jika pernikahan mereka gagal.

“Tentu saja kita harus melakukannya demi kakek.” Katanya sambil menerawang ke depan atau bisa di bilang dia berbicara pada dirinya sendiri. Aku mengagguk setuju meskipun ada perasaan aneh dalam dadaku membayangkan seperti apa jadinya nanti.

“Tapi bagaimana kalau kita saja yang menikah?” Katanya tiba-tiba.

“Apa?”

Dia menatapku dalam lalu berbicara dengan sangat tenang. “Kau dan aku, Hyura. kita yang menikah.”

Aku menginjak rem dalam membuat ban mobil berdecit dan tubuh kami memantul ke depan cukup keras. Tapi aku tidak peduli, aku memandang Kyuhyun tidak percaya. Apa yang baru saja dia katakan? Aku baru ingin memastikan apa yang dia katakan tapi bersamaan dengan itu terdengar benturan yang sangat keras diikuti dengan tubuhku yang bergoncang. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi tubuhku sakit dan nyeri amat sangat kurasakan di sekitar bahuku.

“Hyura…Hyura…Hyura kau tidak apa-apa? Ada yang sakit.”

Membuka mataku dan melihat sekeliling. Kami masih di dalam mobil hanya saja suasana di luar terlihat lebih kacau. Tadi aku begitu terkejut dan memejamkan mata.

“A..apa yang terjadi?” aku menoleh pada Kyuhyun, pelipis dekat matanya mengeluarkan darah. Tiba-tiba saja aku panic melihatnya terluka.“Darah! Kyuhyun, kau berdarah.”

“Aku tidak apa-apa.” Katanya cepat sambil mengusap lukanya, dia mengumpat lalu membuka seatbelt kasar dan keluar dari mobil. Dari kaca spion aku melihatnya berbicara keras pada beberapa orang . kulihat juga kemacetan dan mobil menumpuk di belakang kami. Aku ingin keluar dan melihat apa yang terjadi tapi saat menggerakkan tangan kiriku bahuku seolah lepas dari tempatnya dan nyeri yang amat sangat membuatku meringis dan hampir menangis.

Aku menunggu Kyuhyun cukup lama sampai dia kembali dengan wajah kesal.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Kita di tabrak, Bagian belakang mobilmu rusak parah, semua lampunya pecah, bumpernya lepas dan penyok cukup dalam. Tapi mobil belakang jauh lebih parah. Aku tidak bisa menuntutnya untuk ganti rugi sementara mereka bilang kau yang berhenti mendadak. Apa kau punya asuransi? Perbaikan vanquiz akan sangat mahal.”

“Tidak perlu khawatir, aku punya asuransi. Apa ada yang terluka?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana denganmu?”

Dia mengusap pelipisnya. “Ini hanya luka kecil.” Mata Kyuhyun mengamati tanganku yang sejak tadi memegang bahu.

“Ada apa dengan bahumu?”

“Aku tidak tahu, mungkin terkilir karena benturan tadi. Apa kau bisa menggantikanku menyetir?”

Dia mendengus keras. “Keluar! kita harus ke rumah sakit.”

“Tapi Kyu…” aku belum selesai bicara tapi dia sudah keluar, mau tidak mau aku mengikutinya dan kami bertukar posisi. Dia terlihat kesal saat baru menjalankan mobilku. Jadi aku meminta maaf untuk kekacauan yang kubuat.

“Maaf, aku menyetir dengan sembrono dan membahayakan kita berdua.”

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu menyetir.” Gerutunya kesal. Aku tidak bicara lagi dan membuat keadaan menjadi lebih kacau, jadi aku tetap diam sampai kami tiba di rumah sakit terdekat. Setelah memarkir, Kyuhyun berlari mengitari mobil untuk membukakanku pintu, dia membantuku berdiri dengan tangannya melingkari bahuku. Aku meringis saat dia menyentuhnya.

“Apa sesakit itu?”

Aku mengangguk.

Dia membimbingku berjalan perlahan ke ER. Setelah mendaftarkan namaku, suster meminta kami untuk ke ruang pemeriksaan.

“Nyeri di bahu? Apa yang terjadi” tanya Dokter yang baru saja masuk sambil membaca catatan yang diberikan seorang perawat di sampingnya.

“Barusan kami mengalami kecelakaan kecil dan…dan…adikku” Dengan susah payah Kyuhyun menyebut kata adik. “Bahunya kesakitan.”’

Dokter menarik tanganku yang masih menempel di bahu lalu menekan pundakku, aku mengerang kesakitan.

“Apa kau tadi mengalami benturan?”

Aku mengangguk.

“Kau harus di rontgen untuk memastikannya, sepertinya posisi bahumu bergerser. Perawat Seo, tolong persiapkan mesin X-ray.”

“Ne, Algeuseumnida Seonsaengnim.”

Kyuhyun di minta keluar dan mengobati lukanya sendiri, sementara aku di bantu perawat melepaskan baju untuk di x-ray. Dokter menjelaskan bahwa aku mengalami dislokasi bahu dan jaringan saraf di sekitar sana juga terganggu, karena itu aku mengalami nyeri yang cukup hebat. Dokter memberikanku obat penahan sakit sebelum menggunakan sling. Aku tidak boleh menggunakan bahuku sekurang-kurangnya selama dua minggu, atau berkegiatan tertentu yang memperparah kondisiku.

Kyuhyun langsung berdiri saat melihatku keluar dari ruang perawatan. Dia terlihat tidak senang saat melihat sling terselempang di depan dadaku. Aku mengisyaratkan padanya untuk pergi dari sana. Dia mengikutiku, sebelum dia memberondongku dengan rasa penasarannya aku menjelaskan apa yang dokter katakan padaku.

“Aku harus memakai benda ini setidaknya selama dua minggu atau sampai bahuku kembali ke tempatnya. Aku juga meminta dokter untuk mengirimkan rekam medisku ke rumah sakit di Seoul, karena aku harus kontrol tiga hari sekali untuk memeriksa posisi bahuku.”

Dia mengangguk mengerti.

Setelah menebus obat dan membayar kami melanjutkan perjalanan pulang. Efek obat yang dokter berikan tadi membuatku mengantuk, aku tidak bisa menahan mataku untuk tetap terbuka sampai aku terlelap dan terbangun di kamarku keesokan paginya.

Aku menemukan Kyuhyun sedang membaca koran di sofa panjang di kamarku, dia menggunakan pakaian olah raga dengan wajah berkeringat. Dia mendongak dari Koran yang dia baca saat mendengarku.

“Oh, kau sudah bangun.” Dia menghampiriku, membantuku bangun dan menyibak selimut.

Aku meringis menahan nyeri saat menegakkan tubuhku.

“Nyeri tidak berkurang?” tanyanya

Aku menggeleng

“Aku sudah menyiapkan sarapan, setelah itu kau bisa minum obat. Ayo.”

Dia membantuku berdiri dan membimbingku ke sofa, sarapan yang biasa kumakan sudah tersedia di meja rendah. Jujur saja perlakuannya agak berlebihan, seperti menganggapku penderita cacat.

“Kau yang menyiapkannya?”

“Kim Ahjumah yang menyiapkan, aku hanya membawanya ke sini.” Dia menyalakan televise dengan suara rendah, mengganti channel ke berita dunia.

Aku mengambil selembar roti panggang ke piringku, namun agak kesulitan saat mengolesi selai. Melihatku Kyuhyun mengambil alih, “Biar aku saja.” Dia mengolesi dua kali sebelum bertanya padaku. “Apa cukup?”

“Sedikit lagi.”

Tanpa di beritahu dua kali dia mengikuti instruksiku.

“Buka mulutku.”

Aku menggeleng. “Aku bisa makan sendiri.”

“Buka mulutmu!”

Aku mencebik, “Kau memperlakukanku seperti orang cacat” aku mengambil gigitan besar dari tangan Kyuhyun. Dia tidak terpengaruh dengan omelanku dan terus menyuapiku sampai sarapan kami habis. Setelah itu baru aku meminum obat.”

“Jam berapa kau akan ke tempat kakek?” tanyaku.

“Kita tidak akan ke sana, ibumu menyuruhmu tetap di rumah dan aku akan menemanimu.”

“Tapi kakek menyuruhku datang.”

“Itu sebelum dia tahu kau kecelakaan.”

“Kau memberitahu mereka?”

“Hmm, tentu saja.”

“Ibuku pasti panik.”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Kau tidak bisa membayangkannya.”

Aku tertawa ringan. “Jam berapa kemarin kita sampai?”

“Hampir tengah malam,” Kyuhyun menyesap sisa kopinya sebelum bertanya lagi “Kau mau mandi?”

“Tentu saja.”

“Butuh bantuan?”

Aku tersentak “Apa?”

“Apanya yang ‘apa’?”

“K…kau membantuku mandi?”

“Apa kau bisa mencuci rambutmu dengan tangan seperti itu?” katanya dengan nada bosan.

“Tapi bukan berarti kau membantuku mandi!”

“Apa kau berpikiran kotor?”

Otomatis wajahku memanas, membayangkan telanjang di depan Kyuhyun? yang benar saja!

“Memangnya kau pikir siapa yang membantu mengganti baju?”

Aku melihat ke bawah dan baru menyadari aku memakai piyama. Jelas aku tidak mengganti bajuku sendiri.

“Hyura, ini bukan pertama kalinya untukku. Apa kau lupa siapa yang mengurusmu saat kau mabuk di motel dulu?”

Aku mengumpat pelan saat menyadari aku sama sekali tidak berguna, Kyuhyun selalu mengurusku saat aku tidak berdaya dan itu membuatku malu. Aku berpaling ke arah tv, menolak untuk melihatnya.

“Aku bisa meminta bantuan Kim ahjumah” kataku cepat.

“Kim Ahjumah sedang pergi berbelanja.”

“Aku akan menunggunya.”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Terserah.” Dia mengambil Koran yang dia baca tadi, “Oh ya, aku memesan bantal pemanas—untuk membantu bahumu.” Katanya tanpa mengalihkan perhatian dari Koran.

“Terima kasih.” Gumamku, melakukan hal yang sama dengan tidak mengalihkan perhatianku dari televise. Aku tidak bisa bohong bahwa rasanya menyenangkan memilikinya di sini, di sampingku. Aku berharap ini akan berlangsung lebih lama tapi suara Siwon seperti alarm di kepalaku. Itu membuatku merasa kau berselingkuh sepanjang waktu. Dan aku melakukannya. Aku benar-benar seperti jalang tidak tahu diri.

Sofa di sampingku bergerak, aku menoleh. Kyuhyun sudah berdiri dengan kakinya.

“Sepertinya aku yang harus mandi.” Dia menunduk melihatku, “aku ada sedikit pekerjaan, kalau membutuhkanku aku di perpustakaan.”

Aku mengangguk dan dia pergi. Lega dan kecewa menyergapku sepeninggalnya, aku masih menginginkannya di sini tapi aku juga tidak bisa melakukan hal itu, perasaan bersalahku pada Siwon semakin besar saat aku bersama Kyuhyun.

Menggeleng cepat menghalau pemikiran yang membebani hatiku, aku memilih menonton film yang kutemukan di acara tv sambil menunggu Kim Ahjumah. Dia kembali sesaat sebelum makan siang. Dia membantuku mandi dan berpakaian lalu membawakan makan siang ke kamar, saat kau bertanya mengenai Kyuhyun, dia bilang Kyuhyun memakan makanannya di perpustakaan.

Saat menjelang sore Kyuhyun kembali ke kamarku sambil membawa kardus besar.

“Bantalmu!” katanya antusias saat aku bertanya apa yang dia bawa.

Aku duduk di pinggiran ranjang sementara dia memasang bantal untukku dan mencoba menyambungkan kabelnya ke arah stop kontak. Dia menepuk-nepuk bantal sebelum menyuruhku berbaring di atasnya.

“Apa ini aman?” tanyaku ragu.

“Tentu, ini rekomendasi dari teman Lee Seonsaengnim, seorang ahli orthopedi. Ayo kemarilah.”

Kyuhyun membantuku berbaring, menempatkan posisi kepalaku dan bahu agar lebih pas. Rasa hangat langsung menjalari kulitku leher dan bahuku, demi apapun rasanya sangat nyaman, ini juga membantu menghalau nyeri yang kualami.

“Kyu, rasanya menyenangkan.”

Dia tersenyum bangga. “Lihat, benarkan?”

Aku mengangguk antusias. “Kau mau mencobanya?”

Matanya berbinar seperti anak kecil, seolah dia memang menunggu hal itu. Dia melarangku bangun, memaksaku tetap berbaring. Dia hanya membantuku menggeser posisi. Bantalnya lumayan besar namun tidak cukup untuk kami berdua. Jadi Kyuhyun harus berbaring miring sementara aku tetap pada posisiku. Aku menoleh ke arahnya dan menyadari posisi kami terlalu dekat, bibirnya hampir menyentuh keningku. Harusnya aku berpaling tapi aku tidak melakukannya. Aku ingin menikmati wajahnya lebih dekat, dan ya ampun aku menyukai aroma tubuhnya. Tanpa sadar aku memejamkan mataku

“Wah, kau benar. Ini menyenangkan.” Katanya senang.

“Ya, ini memang menyenangkan.” Bisikku, ini sama sekali bukan mengenai bantal tapi mengenai kami. Aku dan Kyuhyun.

Dia tidak bicara dan tiba-tiba saja hening. Aneh sekali. Membuka mataku perlahan, Kyuhyun tengah memandangku dalam. Buru-buru memalingkan wajahku namun dia mencegahnya. Tangannya di pipiku, memaksaku melihatnya.

“Apa yang kau lakukan, Hyura-ya?” bisiknya.

“A…apa? aku tidak melakukan apapun.”

“Kau memejamkan matamu, apa kau berharap aku menciummu?”

Mataku melebar “Apa! Aku tidak begitu, maksudku aku tidak berharap apa-apa.”

Wajahnya berubah kecewa, “sayang sekali, padahal aku mengira kau mengharapkannya.”

“Kyuhyun-ah,”

Dia menunduk mendekatkan wajahnya sampai hidung kami bersentuhan aku memejamkan mataku.

“Buka matamu, Hyura, lihat aku.”

Aku menurutinya membuka mataku, mata kami terkunci dan aku melihat matanya. Cinta dan gairah melebur di sana, awalnya aku tidak percaya bahwa itu benar-benar cinta tapi tatapannya begitu dalam seolah menyesatkanku, membuatku percaya bahwa Kyuhyun memiliki perasaan yang sama denganku atau bahkan lebih besar.

Dengan berani aku berbisik, “cium aku.”

Dia tersenyum sambil menggesek hidung kami. “Begitulah Hyura, kau hanya perlu mengatakannya dan aku akan melakukannya untukmu.” dengan itu dia menciumku lembut, bibirnya membelai bibir atas dan bawahku bergantian. Dia menghisap bibirku seperti permen gula, sementara tangannya meraih pinggangku agar tubuh kami lebih menempel. Dia tidak berhenti sampai aku kehabisan nafas.

“Apa aku menyakitimu? Bahumu Tidak apa-apa?”

Aku menggeleng

Tangannya terangkat menyisir rambutku dengan gerakan lambat. Lalu dia bicara lagi. “Kau hanya perlu memintanya dariku Hyura. Aku akan melakukan apapun itu. Apa kau tidak sadar selama ini aku sudah melakukan banyak hal untukmu?”

“Aku tahu, tapi apa kau tidak merasa ada yang salah di sini? Tidak seharusnya seperti ini, kau dan aku memiliki pasangan masing-masing.”

“Hanya kau yang memilikinya” gumamnya muram.

“Kau juga punya calon istri.”

Tangannya berhenti lalu mendesah berat. “Karena itu, katakan apa yang kau ingin aku lakukan. Jika kau memintaku memperjuangkan hubungan ini maka aku tidak akan menyerah sampai akhir, jika kau memintaku melupakannya maka aku akan melangkah keluar dari sini dan menganggap tidak terjadi apapun diantara kita. Aku akan kembali menjadi kakak tirimu, Lee Donghae.”

“Bagaimana jika aku memilih pilihan kedua?”

Dia meringis. “Aku akan menganggap pernyataan cintamu hanya sekedar cinta anak-anak yang menyukai idolanya.”

Aku cemberut, aku sama sekali tidak mengidolakan Kyuhyun, selama bertahun-tahun keberadaannya membuatku tersiksa dan aku membencinya. “Bagaimana kalau aku ingin kita pergi. Meninggalkan semuanya, Ibuku ataupun kakek.”

“Aku akan melakukannya.” Jawabnya tanpa keraguan, “tapi aku tidak bisa meninggalkan kakakku.”

“Kau akan meninggalkan kakek?” tanyaku hati-hati.

“Selama kau yang memintanya.”

“Bukankah kau menyayangi orang tua itu?”

“Perasaanku padamu lebih besar, Hyura-ya.”

“Benarkah? Sejak kapan?”

Dia memejamkan matanya sejenak lalu menggeleng lemah, “Aku tidak tahu, aku tidak menyadarinya. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar aku menderita untuk menjadi kakak untukmu.” tangannya terangkat membelai wajahku lembut. “Dulu, Kukira hanya sebatas mimpi bisa menyentuh wajahmu dan sedekat ini.” dia membelai bibirku lembut sebelum mengecupnya sekilas. “Saat kau mengatakan mencintaiku, aku tidak bisa tidur selama berhari-hari. Memikirkan benar dan salah, atau bagaimana aku harus bersikap. Aku berusaha untuk tetap menjadi Lee Donghae, tapi saat aku melihatmu tersenyum dan tertawa bahagia dengan Siwon, aku sadar aku tidak bisa lagi bersikap seperti itu. Aku begitu marah dan membencimu. Aku tidak bisa menerima kau mencintaiku tapi tidak memilihku dan tetap bersama pria lain. “

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu dalam posisi sulit.” Kataku sedih, aku tidak tahu ucapanku membuatnya seperti itu.

Dia mendesah pelan, tangannya menelusuri tangannku yang bebas. Aku tidak menyadarinya saat dia memegang cincin pertunanganku. Mataku melebar, kapan dia melepaskannya?

“Kyuhyun-ah, apa yang kau lakukan dengan cincinku?”

“Menikahlah denganku, Hyura-ya.”

“Ky..kyu…”

“Aku tidak akan mengembalikannya sampai kau menjawabku.”

***

TBC

Yaeay akhirnya part 8 nongol setelah lebih dari sebulan bersemedi di goa tong samchong *halah

yah mudah-mudahan blog ini masih bisa keurus di tengah-tengah kesibukan saya di dunia nyata,  semoga readernya ga kabur dan yang paling penting author abal-abal ini ga males hehehe :p

Okey, Di tunggu rcl nya yah ^^

*Ketchuupp basah dari sini :* :* :*

 

 

 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , . Tandai permalink.

128 Balasan ke Famiglia [Part 8]

  1. rislianafebiany berkata:

    Kyaaaaa ininyg di tunggu2 thor duuuh semoga hyura sama kyu bersatu aja hehehe gak sabar nunggu next partnya fighring authornim

  2. mutia cyank fathur berkata:

    Ini nie yg dtunggu, saat kyu dan hyura jujur pd perasaan masing” ,, apa setelah ini hyura mnyesali keputusan’a dulu saat kakek’a meminta hyura menikah dgn kyuhyun dan dy menolak dan malah memilih mempertahankan hubungan’a dgn siwon ?? tapi apa ibu hyura akn setuju seandai’a kyu dan hyura menikah?? Yah berharap sie kali ini hyura mau memperjuangkan hubungan’a dgn kyuhyun,,

  3. kokyu berkata:

    Akhirnya update juga kyuhyun keren banget.. ditunggu lanjutannya semangat 🙂

  4. haekyura berkata:

    OMG love this part, akhirnya mereka saling terbuka satu sama lain. Ayoo dong hyura terima aja nikah sama kyu

  5. shinshin22 berkata:

    hyura sama kyu ajalahh.. yahhh suka kalo liat mereka dekatt.. hahaggg

  6. zahra berkata:

    yeaaa akhrnya dlanjut…heemmm smua mkin rumit. sbnernya aku stuju aja hyura sm kyu. tp siwon .aaa siwon sm ak aj. hahaha

    cb klw kyu ngmong am kakek klw dia suka hyura mungkin kakek mw bantu mreka brsama..tp nthlah..

    ok dtunggu part slnjutnya kakak…

  7. syalala berkata:

    aaaaakkkk akhirnya update!!! senang sekaliiii hihi yampun ini…. sedih awalnya huhu pengorbanan kyuhyun tuh besaaaaaaaarrr bgt buat kakek maupun hyura dari awal jd tambah sedih. trs seneeeeeeeng akhirnya hyura kyuhyun punya waktu berdua walaupun kecelakaan tp malah endingnya sweet bgt huhu kyuhyun udah blak2an minta mereka nikah aaakkkk kesel sih sama hyura kenapa masih aja plinplan, bahlan siwon aja udah kaya giru kaya yg benci ih gue jd hyura mah udah lari ke kyuhyun deh hahahaha ah suka bgt lahhhh ditunggu selaluuu lanjutannyaa semoga ga lama updatenya pagi hehe fighting!

  8. jesschyntia berkata:

    demi apa.aku bacanya sampe deg degkan.. kyuhyun tak terbayangkan, waaaahh ini bakalan jadi part fav pertama ku di famiglia. thx min udah nglanjutin,

  9. Yeahhh update jg akhirnya,,,,lbh ke penasaran ama hubungan kyu dan hyura smg happy end lah y hihihi,,,
    Si hyura mah nganggep siwon itu kayak kakaknya tp dia g nyadar jg to lok petasaanya m kyu itu baru cinta hihihi,,nekt part dtnggu

  10. EunKyu berkata:

    Hyura terima aja…… Plisss….

    Ihhh di ff ini kyu beneran jadi laki2 yang romantis…. Mau ngelakuin apapun demi cewenya… Jadi tambah cinta ama ff ini…. Moga aja cepet di lanjut….

  11. Selvi Nurjayanti berkata:

    ini dia yg ditunggu”…

    ya ampun akhirnya mereka baikan jga, moga ibunya hyera kgak nentang hubungan kyu ama hye…

    disini saya berharap jahat dan picik, saya pengen kelakuan siwon itu buruk mau manfaatin hyera aja, trs hyera tau,
    biar hyera kgak diombang ambing kek gini biar gampang ngasi keputusan…

    heehehehhehehe ….

  12. dantimonica berkata:

    Full support buat kyuhyun hyura kakak author! kasian daridulu kyu sama hyura hidupnya udah begitu, mereka berhak bahagia. hahaha. hyura harus memperjuangkan kyuhyun! sangat ditunggu next partnya kakak, semoga kyuhyun hyura moment lebih banyak lebih sweet.

  13. Mongbee berkata:

    akhhhhhhhhhhhhhhhhhhh kenapa tbc selalu datang merusak semua moment indah iniiii!!! akhhhhh penasarannn!!!

  14. akyuikha berkata:

    ya ampun… ini part terpanjang tapi masih berasa kurang panjang karena aku gak mau lihat tulisan ‘TBC’ itu apalagi disaat-saat moment kyu-hyura yg sangat langka… good job authornya… ini part keren banget, komplit lah… semoga next partnya bisa lebih cepet mengudara (wish dari seorang reader yg penasaran akut sama kelanjutan kisahnya)….. ^_^

  15. sukhwi berkata:

    ayolah biarkan hatimu yang bicara hyura..kalo maksain menikah dengan siwon kau hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam…Kyuhyun benar2 hanya menunggu bola..apa yang hyura katakan dia akan melakukannya..ckckck

  16. Angel_Cho berkata:

    Duar!!! Disini aku kaget sama keputusan Kyuhyun.
    Kalo aku pikir2 disini sebenernya Kyuhyun yang menunggu keputusan Hyura. Dia lebih banyak diem.

    Dan aku pengen nya si Kyuhyun jangan nyerah ahh, terus berjuang.
    Lagian aku setuju klo mereka nikah. Bukan sodara pula.
    Trus masalah nya dimana?
    Masalah perusahaan?
    Kakek nya?
    Ibu Hyura?
    Toh kenyataan nya Siwon juga udah marah sama Hyura.

    Jadi ayolah eonni… bikin mereka sama sama yaa ^^
    Hehehhe

  17. Lyla berkata:

    Dan aku harap hyunra menjawan Ya kyu aku mau menikah dengan mu……

  18. LEA berkata:

    kofliknya sdikit mereda, dgn mereka saling trbuka akan ada jalan menuju akhir..
    disini hyura trlihat egois tpi jga tidak..memang membingungkn antara perasaan dan pikiran..

    Keep writing!!

  19. lindachoore berkata:

    Ff favorit aku update jg. Aigo part terakhirnya bkin greget banget sih,. Pengennya sih hyura nerima tawaran kyu u nikah ma dia, soalnya aku rada g suka klo hyura ma siwon kekeke. Ditunggu nuansa yg lbih romantis antara kyu ma hyura hehe. Keren thor, aku slalu suka karya author.. Fighting!!

  20. windy3288 berkata:

    hhuuaaaa setelah menunggu akhirnyaaaaaaa
    apa mungkin disini kyuhyun kurang tegas ? kenapa hyura susah banget ya di ajak ngambil jalan cepat dan mereka bakal bahagia hmm daripada menyiksa perasaan orang banyak

  21. ninepisces berkata:

    Wehh hyura kau hrz segera memberi kpastiaaan!!! Jgn menggantung mrk b2!!! Ahh makin g sabar kira” hyura pilih sapa…

    Ditunggu klanjutannyaaa…

  22. Tanti berkata:

    Akhirnya setelah sekian lama muncul juga ya nih ff
    Miss hoon kangen nih
    Pengenny mereka bahagia ya

  23. chochocho berkata:

    Kyaaaaa akhir’a apdet jga… Keselbgt ma hyura hrus bsa tegas ma perasaan’a sendiri, klo hyura kek gitu trus justru ntar siwon yg paling t’luka… trus bner jga kta siwon… Ayo hyura perjuangkan kyuhyun toh u jga jeles kan pas kyu ada kencan buta??? noh kyuhyun aja mo b’juang buat hbngn kalian rela ninggalin semuanya pula… Moga hyura nerima kyuhyun. Pliiiissss hyra trima kyuhyun

  24. RizkytaCho berkata:

    hallo author ff famiglia, kenalin aku idaayu aku readers baru. salam kenal^^
    ijin baca karya2 mu yachh..

    makasih 🙂

  25. entik berkata:

    entah mengapa di sini aku jadi benci sosok hyura, sejak dari part 7 rasa tak suka ku terhadap hyura makin bertambah.
    kenapa mesti sakitin perasaan siwon, satu sis aku lebih suka hyura tetap dengan siwon dan kyu tetap dengan setatus sebagai kaka tiri hyura, tapi di sisi lain aku juga gk mau kyu tersakitin akan perasaanya terhadap hyura.

    kalo boleh berharap hyura sama kyu aja deh ( plinplan ).
    tapi
    mending gk usah sama siapa pun, munculin aja sosok baru buat jadi sama hyura, jadi kyu tidak sama hyura begitu pun siwon.

  26. atif309 berkata:

    aaaaaa …. udah sana ama si kyu .. wkwk
    sumpah feel nya dapet …….. sumpah gw suka banget sama ceritannya aaaaaaaa
    nga nyesel nunggu sebulan kalo lanjufannya gini .. hihi walau sebenernya sebulan itu lamaaaaaaaaa bgt rasannya .. wkwkwkwk
    ahh .. knapa harus tbc siii .. hihihi
    ayo thor semangat nulis yaaa … ada reader yang menunggu mu sampe jengotan nih .. wkwj

  27. rhuth berkata:

    Yg ditunggu2 akhirnya…

  28. Choi Rinna berkata:

    Finally yg ditunggu tunggu muncul ><
    Puasss banget baca part ini, panjanggg ,<
    Semangat trus kak nulisnya, selalu ditunggu lhoh ini kelanjutannya 🙂

  29. xivara berkata:

    WOW
    yeiiiiiiiiiii
    akhirnya update jg
    sueeerrrrrrr ni crita “WOW” bgt
    ga da bisa nebak nih endingx gmna,,,
    moga jjja happy ending buat kyu dan hyura
    terima kasih udah update
    #hampir tiap hari ‘ngintip” nih blog udah update apa beloonnn
    DAEBAK

  30. trupzze berkata:

    yaaaah,,,akhirnya keluar,makin tegang,,,,
    kyuhyun baru kepentok pelipisnya makanya berani nyium hyura,knp mesti nunggu alaram dr hyura,,,,oh,,,,kyu oppa,,,,so sweet.hyura ,,,pertahankan hubungan mu ma kyuhyun,arachi,,,,

  31. Cho youngie berkata:

    Hyura please terima lamaran kyu,tinggalin siwon wlaupn itu akn menyakitkan utk siwon setidakny siwon tdk harus terus tersakiti n itu gk akn menyakiti kyu lagi.kyu,hyura ayo perjuangkan cinta kalian..
    Ditunggu next partny k’
    fighting….!

  32. sri14 berkata:

    Thank you sudah update….
    Gemes liat kyu sm hyura. :oops:😚
    Hehehe

  33. rei berkata:

    ahh seneengg banget pas tahu famiglia part 8 sudah keluar 🙂 terima kasih author sumpah tambah seru jadi penasaran seperti apa selanjjutnya .author aku tunggu part 9

  34. tin berkata:

    Akhirnya jadi tau juga gimana perasaan kyu selama ini. Berat banget ya kyu.. ga nyangka dia berani ninggalin kakek buat hyura.

    Moment kyura nya sweet banget, berharapnya sih nextnya banyak moment mereka berdua, nagis darah asem asin pahit ga apa2 asalkan akhirnya manis.. manisnya sih kyura nikah, trus semua konflik kelar. Si kakek bisa beristirahat denga tenang.

    Kok jd kepikiran gimana kalo ternyata siwon selama ini ternyata sosok antagonis, yg ngincar harta warisan kakek. Entahlah, tapi kok ada sepertinya ada bau2 ga sedap hahaha..

    Kan jd keinget sama seseorang yg dicurigai kakek sama kyu. Siapa ya? Siwon?? #ngotot
    Trus ibunya hyura 2 bulan di jepang sama siapa? Ngapain?

    Hampir lupa juga klo si kyu punya kakak.

    Ga berani nebak/nerka kelanjutannya, author-nim ga bisa ditebak. Udah berapa kali nebak ternyata meleset..

    Author-nim fighting!!!!!

  35. Kh berkata:

    Akhirnya… Keluar juga ni ff…
    Gk sbr pengen liat moment nya kyu ama hyura… Moga end nya kyu ama hyura jd satu y eon ^_^

  36. dwi2 berkata:

    Ih geregetan nunggu kelanjutanx….
    Kand jd tambah penasaran….
    Ciee jd malu sendiri pas baca kyu berduan ma hyura,,,, nnti hyura bakal jawab ap ea?
    Trs bagaimana dgn wondad??
    Ditunggu banget kelanjutanx

  37. donghaexouple berkata:

    Akhirna yg di tunggu2.. nongol jg
    jgn mlz donk update na… qt aj yg nungguna lama te2p semangat… next na di tunggu yah…
    12 part setahun bru kelar kyk rache. Tp gpp yg pnting end. Te2p semangat y

  38. endri budiarti berkata:

    Kyaaaaaaaaa…….
    Syedih sekali part ini…..
    Sungguh kasian Siwon. Apalagi skrg lagi email, kan jadi ditinggal nikah hyura sama kyuhyuunnn…
    Sumpah, part ini greget. Akhirnya mereka nerima perasaan masing2.. Tapi ngebayangin perasaan siwon, ibuknya hyura, rasanya kasiaaaan… Gimana coba kelanjutannya? Hyura sama yg lain aja deh, eunhyuk kek, ato siapa gitu biar siwon sama kyu nggak usah aja sekalian. Wkwkwkwk…

  39. hyun berkata:

    Ampun, melted gua kalau jadi hyura…
    Ih kyu yg sebegitu kaku jadi romantis gini, kalau gini mah yg minta dinikahin malah guanya atuh… U.U

  40. niza berkata:

    suka sekali part ini, part dimana kyuhyun dan hyura sling mengungkapkan isi hati mereka masing2.
    tapi bagaimna dg ibunya hyura jk dia tau soal ini?
    sy rasa memang sdh seharusnya siwon memgetahui kbnrn hyura mncintai kyuhyun skrg karena kalau kebenran itu trungkap stlh siwon dan hyura mnkh justru akan membuat siwon lbk skit lagi.
    siwon bisa kok pergi dri hyura karena jauh diluar sana byk wnta yg jauh lbh baik dri hyura bknkah cnta tdk slmanya hrs slng memiliki.
    siwon bisa membuka hatinya utk wnta lain.
    aku harap tdk akan ada penghalang antara kyuhyun dan hyura karena ssh bgtu byk pengorbanan yg sdh kyuhyun lkkn.

  41. karensica berkata:

    awwwwww!!! akhirnya update juga… jingkrak2…

    ditengah2 aq dah sebel ama hyura yg malah memperjuangkan siwon tp di akhir2 aku senyum2 sendiri..

    udahlahhhhh hyura terima kyuhyun aja. toh ibunya bilang jgan amoe nyeselkan….
    kasian tuh kakeknya udah mendekati ‘azal’ masa cucunya belum ada yg mau nikah. mending kyuhyun-hyura aja yg nikah.. ihhhh seneng banget aq sumoah sama scene terakhir. keren banget authornim…..
    sukses selalu dan moga nanti updatenya cepet.. aaammiinn …

  42. Kyukyukyuniw berkata:

    Musibah membawa berkah. Bantal panaspun membawa berkah. Scene terakhir ya ampun keren.
    Dan kiss hoon selalu bisa bikin baper. Dan ini longshoot loh. Ahhh suka banget sma part 8

  43. ricassie berkata:

    Hwaaa akhirnya mereka jujur dg perasaannya,,,
    Gmna ya kira2 ap hyura mau nerima kyu? Semoga aj iya,,,
    Aq penasaran ap yg mau dblng kakek sm hyura,,,,,
    Dtunggu part 9 secepatnya…

  44. Lovey denalisa berkata:

    ya ampunn ga sabar nunggu part 9nya..
    ga sabar nunggu hyura bilang ya ke kyuhyun klo dia mau jalanin berdua,kalo dia mau memperjuangkan berdua…

    ayo dong eonnni kapan ni mereka barengnya…kasih bocoran.

    tak dioakan biar dapet ide lancar,waktu nulis lancar dan publisnya juga lancar

  45. catherine/cheesy berkata:

    Aku nunggu ini sampe lumutan… tapi beneran aku ga nyesel nunggu ff ini karena hasil karya kamu selalu bagus2. Lol! Semoga cepat updatenya yaaaa. Tenang aku ga akan kabur kok huahaha

  46. Widya Choi berkata:

    Ahhh sumpah sng bgt akhrny muncul jg lanjtn ni ff. Cz bolak blik trz q k blog ngu updatetan ff ini. Sumpah mkin keren aj ni ff, plus bkin gregetan bc ny liat ni couple.
    It siwon kykny udh mydari bgt kalo perasaan hyura udh brubh am dy. Ap siwon mau nglpasin hyura buat kyu?
    N it hyura jg kykny smpat cmburu deh wkt tw kyu dsuruh kencan buta am eomma ny. Udah deh, udh sm2 ngaku perasaan msing2 kan? Skrg tinggal gmn, mau d perjuangin ap g tuh? Lgian kyu pzt bkal pjuangin hubngn ny am hyura wlaupn byk nentang, tlebih kalo hyura jg pny keinginan yg sma am kyu.
    Duh adegan ny bkin greget euy. Sukaaaa. Ayo kyu ykinin hyura unk mau nikah sm kmu. Q mdukungmu oppa. Fighting.
    Dtgu lnjtn ff ny. Jgn lama2 y thor.

  47. inet berkata:

    akhirnya yang dtggu dtg jg…^^
    keren bgt…endingnya bkin gemessss.. kr2 apa ya jwban hyura?!bkin penasaran bgt..mdh2n gk bkin kyu kcwa lg..ksian kyu mst ngenes trs..

  48. Mochi berkata:

    Sumpah no epep aku kira gk bakal do lanjutin. sample lupa juga part sebelumnya gmana. aku mohon jangan lama-lama lanjutnya jeonghoon-ssi. ni epep paforitku banget. jadi aku udah jadi stalker mantengin blog INI. tetep semangat ya!!!. ceritanya makin seru aja.

  49. nathyan berkata:

    Yampun ternyata kyuhyub bisa memendam perasaan sampe sebegitunya. Membayangkan rasanya sulit dipercaya ada laki2 seperti itu. Yang kutau hanya wanita yang merasakannya sampau tersiksa rasanya. Walahh jd baperr guee..
    endingnya gregett. Lebih setuju kalo Hyura sama Kyuhyun.Tapi kesian Siwonnya..
    Tapi Hyura harus sama Kyuhyun! #maksa wkwk
    *ketchupp basah buat eonniee
    Semangatt ya eonn nulisnya. Ditunggu part selanjutnya..

  50. Tintia cho berkata:

    Aku harap part selanjutnya gak lama dipostnya. Soalnya penasaran banget. Ceritanya seru gak sabar nunggu part selanjutnya

  51. myungie berkata:

    Daebaak!! Aku suka banget sama ceritanyaa,,
    Hyura berada diposisi yang sangat beraat,,
    Konfliknya kerasa bangett,,
    Ditunggu lanjuutannya yaa ^^

  52. gamekyu54 berkata:

    ya ampun senyum2 sendiri aku bacanya..
    smoga hyura mau berjuang sma kyuhyun.fighting author aku tunggu lanjutanya..

  53. kikiikyu berkata:

    akhir nya nongol juga 🙂 awal nya ss ga suka sama sikap Hyura yg plin plan sama perasaan nya sendri.. tapi ga tau nya ternyata lama2 dia ga tahan juga buat selalu dket ama Kyu ^^ part yg ini bikin senyum2 sendri: D

  54. ayuk berkata:

    oooooooo kyuhyun to tweet banget..astagaaaaaa q pnged di kecup basahhhh sama epilllll

  55. ross berkata:

    akhirnya lanjut juga
    awal baca tuh berasa ceritanya makin rumit sampe bingung tp paz tengah2 semakin asik giliran kyu ama hyura udah kembali seperti semula hhh
    hyura dah dilamar aja ama kyu wkwkk
    berharap berakhir seperti harapan xixiiixi

  56. Kwon Lee berkata:

    Yey~ diajak nikaahh. Tapi nasib abang siwon gimana? Sejujurnya aku selalu nunggu cerita romancenya karena aku gak ngerti tentang bisnis, maaf ya thor waktu cerita ttg bisnis sering tak skip tapi tetep aku baca kok, dikit. Wah ini FF udah dtunggu lama akhirnyaaaaaa, sampai lupa aku -,-
    Feelna dapet, bahasanya rapi, alurnya bikin greget bikin penasaran gimana akhirnya mereka. Selalu ditunggu karya selanjutnya, jangan lama-lama ya thor, lupa lagi aku ntar o.o

  57. nina berkata:

    Udah hyuraa trima aja, mungkin kyuhyun emang jdoh kamuuuu….

  58. yuni berkata:

    Terima aja lamarannya, kan kalian saling mencintai. Tapi jg kasian sama siwon

  59. ismaenha berkata:

    Akhirnya ff yg d tunggu-tunggu update jga..
    Pokoknya suka banget part ini.. Huaa kyu akhirnya kau jujur jg dgn perasaanmu, dan melamar hyura jga..

  60. mitarashi8899 berkata:

    Udh deh hyura pilih kyu aja daripada jadi beban pikiran trs kkk… Makin greget baca ni ff 🙂 apalagi sama hyura 😀

  61. adelcho berkata:

    Ayo hyura kyuhyun perjuangkan saja cinta kalian..
    Eonni buat mereka bersama ya

  62. shinahra29 berkata:

    Ayolah Hyura menikahlah dengan Kyuhyun atau kau akan menyesal seumur hidupmu…

  63. Nur berkata:

    Ceritanya makin seru dan bikin penasaran. Ditunggu part selanjutnya ..

  64. cynitiya berkata:

    HUWOOOWW!!!! Hyura bakal jawab apa nanti??!!! kayaknya abis part ini konfliknya malah tambah berat dech…

  65. hyerapark berkata:

    rela nunggu meski lama.. okeh ffnya keren eonni.

  66. leekhom berkata:

    kyuhyun ngelamar hyura ><,tp kok gtu cara'a make nahan cincin pertunangan'a hyusa ma siwon lg kkkk…haduh baper bc bagian kyuhyun lg berdua ma hyura bgtu ck bnr kata kyuhyun knp gk mereka saja yg menikah q rsa kake hyura jg akan setuju

  67. khosinurohmah berkata:

    cinta itu egois kan, kasian siwon. tapi aku harap hyura bisa nerima kyuhyun. karena kyuhyun udah lama suka sama dia, sudah lama sakit karena hyura sama pria lain. .. yeaayy, jangan lama lama post nya hoon, heheh:)

  68. A berkata:

    akhirnya baikan, kecelakaan membawa berkah tuh judulnya haha
    tapi sebelum kawin lari mending jujur dulu ke semua orang dong, kali aja pada ngerestuin, kan lebih enak lol

  69. babycho berkata:

    Nah gitu kyu , yang jujur
    Biar apa yang kamu inginkan bisa kamu raih ,
    Ayo perjuangkan hyura

  70. hyechanfight24 berkata:

    terima terima terima, please moga hyura nerima kyuhyun. gak nyangka klu kyu bakalan mememendam segalanya demi hyura, sempat ngira awalnya klu kakek itu ingin ngejodohin hyura sama kyu lho :v tapi kaget pas hyura tunangan sama siwon . okelah ditunggu banget part 9 nya, semoga sesuai dengan harapan

  71. SheeraDaffa berkata:

    Nyesekk bingit pas kyuhyun n hyura perang dingin kyak musuh bebuyutan…
    mski kasian ma Siwon tpi tetep dukung Kyura…liat kebersamaan mrka yg suka ledek2n sinis tuh justru trlihat romantis…

  72. nanaelsha berkata:

    Akhirnya di posting jugaaaa 🙂 gomawooo kak… Huaaaa suka banget hyura kyu momentny romantic bangeeeeeeeetttt.. Dan ini panjang banget, ngga bosen bacanya… Semoga next part mereka nikah 😀 oiyaaa btw puassssss banget beli buku fou nyaaa,, duh recommended banget, dan emang sih beda sama yang di wordpress.. Ngga nyesel beli bukunyaaa,, semoga rilis buku baru hehe semangat miss hoon…

  73. fee berkata:

    huaaa…manis banget…salut buat kesabaran kyu…
    semangat thor…

  74. hyokwang berkata:

    aaaa… hyura sama kyuhyun aja, walaupun ntar ibunya hyura n siwon g suka yang penting kakeknya hyura seneng…. kan diawal kakek hyura kan pinginnya kyuhyun nikah sama hyura…
    ditunggu lanjutannya 🙂 , semoga lebih banyak momen romantis hyura kyuhyun
    semangat 😀

  75. rianti berkata:

    oh ahirnya pasangan ini skinship juga. Ah kyu romants bgt y, rela ngelakuin apa aja dmi hyunra. Tinggal nunggu kptsn hyunra, toh siwon bukn pria pemaksa’

  76. chokyu berkata:

    selalu ditunggu!!

  77. hyunsoo28 berkata:

    Baguuus bangeeeeet
    sumpah ga bisa berkata” deh pengen hyura sm kyuhyun tp ga pngen siwon sakit hati tp ak suka saat hyura sm kyuhyun
    Omaigat begitu complicated rasanyaa
    lanjutannya kapan lg yaaah semoga ga lama yaa
    semoga author yg satu ini ga sibuk trs di dunia nyata wkwkwkwkwk

  78. Rhie berkata:

    Siwon gimna nasibnya?????

    Secara dia pangeran yang baik hati jg…. jd harus dapat pasangan doooonnggg……

  79. Mrs.Donghae berkata:

    Suka bgt….. scene romantis Kyuhyun n Hyura bikin aku senyum2 sendiri. Sampe ngayal, seandai’a aku aja yg jdi Hyura. Cium aku lgi donk, bang Kyuhyun!
    Ada hikmah’a itu kecelakaan mobil. Sampe diajak nikah segala.

  80. nuy azizah berkata:

    Yaa ampun part ini bener bener keren hebat gak bisa bertkata kata bikin aku terharu dengan pernjuangan kyuhyun dan bimbang antar mihak siwon atau kyuhyun ahhhh part ini bikin baper deh beneran dan keren cuma bisa bilang ini ff keren semau ff karya miss hoon keren hebat deh pokoknya di tunggu part nextnya yaaa

  81. mutiarackj berkata:

    aduh ka kemana aja? setiap mampir kesini engga ada yang baru dan sekarang ada yang baru tapi cuman satu -,- seengganya kyuhyun masih meinta hyura untuk melakukan ini dan itu 😀 semoga hyura menerima kyuhyun dan melupakan siwon. dan semoga juga kakek nya udah bicara ke ibu hyura siapa itu sebenarnya kyuhyun 🙂
    ka apa masih bisa minta pw rache?

  82. tiwiw berkata:

    Aduh hyura yg tegas dong, udh pilih kyuhyun aja, jelasinjelasin aja k ibu nya siapa donghae itu

  83. mrs choi berkata:

    setia menunggu seperti penantian Kyuhyun ke Hyura halah…

  84. Kikii Ryeo berkata:

    haduh.. ni part bikin greget
    kecelakaan yg membawa berkah.
    ayoo dong hyura tentukan pilihanmu..
    terima aja lamaran kyuhyun, toh siwon kayaknya juga mau melepasmu meskipun dg bwerat hati…
    SEMANGAT MISS HOON!!! 😀

  85. dewitya berkata:

    kereeennn gan

  86. BabyBoo berkata:

    Hyuraaaa please terima kyuhyuunnn

  87. teenaclouds berkata:

    Suka bgt diakhir”ceritany sweet bgt 😀 Semoga lamaran kyu diterima ama hyura urusan siwon biar author jg yg ngatur haha…
    Hubungan eommanya hyura ma kyu jg udah mmbaik mkin kerenlah pkonya ditunggu selalu part brikutnya…

  88. Hara berkata:

    Astaga di ff ini kyuhyun nya romantis >< ngefly sendiri bacanya, semoga aja hyura nyuruh hentikan kencan butanya, aw aw sowit ga tau mau ngomong apa lagi

  89. selene berkata:

    Ahahahahahahaha
    Kak. Bikin hyura nya nggak labil lgi, langsung terima Kyu…
    Siwon kan udh mau. Ngebatalin pernikahan mereka …
    Hu bungan mereka semoga diperjelas di part selanjutnya…
    Fighting

  90. meyameylan berkata:

    iseng iseng berhadiah! udah lama bgt soalnya ga main ke wp. Td ngecek wp dan main ke blog kakak eh ada kyu-ra part 8 I love this so much! manis bgt mreka apalagi pas bgn akhir. Sabar menanti kok kak!

  91. rara berkata:

    mkin rumit nih
    siwon. udh gk mw lg sm hyura
    udh sakit hatilbh baik kyuhyun jujur yg sbnarny sm ibu hyura
    biar drestuin
    drpd kyk gini
    mereka saling cinta
    tp jg sling nyakitin
    hyura sdikit egois emang
    blg cinta k kyuhyun cm biar perasaanny plong aja
    tp kyuhyun jd kpikiran gitu
    mw gk tuh hyura dlamar kyuhyun?

  92. susianty9 berkata:

    ya ampun kyu sebesar itu km cinta m hyura p yg dia katakn bkalan kn lakuin so sweett..hyura ayoo pilih kyuhyun tohh km udah tau kn gimna perasaanmu sendiriin

  93. nina berkata:

    Yeee part 8 senengnya uda lama ga kesini..
    Scene terakhir itu ya ampun demi apa suka banget, mereka sweet banget…aku ampe meleleh… Pliss pliss hyura terima lamaran kyu jangan dilema lagi trus sama2 perjuangin hubungan mereka toh kalian saling mencintai… Kakek psti seneng klo hyura sm kyu. Hyura jujur aja ke kyu klo dia ngerasa bersalah sm siwon biar mereka bisa ngadepin nya sama2 ntr. Pkk nya ga mau lagi kyu sama hyura jauh…uda sweet bgt itu mereka
    Penasaran deh jd nya.. Ditunggu next part nya ya fighting chingu ^^

  94. Cho Sarang berkata:

    Aku mendukung hubungan mereka ( kyuhyun hyura ) tapi aku kasihan juga sama Siwon,bagaimana dengannya ?
    Benar juga kata siwon walaupun nantinya hyura tetap menikah dengannya tapi tiap kali memikirkan hyura & kyuhyun serasa hyura berselingkuh apalagi mereka tinggal satu atap pula

  95. solovelysha berkata:

    sweet bangt pas dibagian akhir, melting sendiri ngebayanginnya..

    kesian bener siwon.. tp berharap hubungannya dg hyura berakhir tp dg cara baik”

    siwon ama nammie aja kl si nammie masih jomblo kan jadinya pas tuh kyuhyun hyura siwon nammie #maksabanget

    apa respon ibunya hyura kl tau kyu bukan donghae dan anaknya cinta ama kyu, biarlah author yg jwb..

    ditunggu kelanjutannya,kapanpun diupdate ditunggu kok yg penting ceritanya gk berentu ditengah”..

  96. chieva_chiezchua berkata:

    Setelah sekian lama akhirx nongol jugaa part ini…. huhu daaan bnerr2 bkin puasss suka bmget moment mrrka… si kyu harusx jngan nunggu hyura aja kmu juga harus bertindak kyu… emang sih dripda mreka repot nikah dengan pasangan lain… mending kan mreka aja yg nikah…

  97. Yoolin berkata:

    Dari pada sama songyi? Sonyi? Song..??
    So yi
    Mending ama aku aja bang 😀
    Feelnya bikin greget sumpahh…
    Hyura bimbang , kalau pada akhirnya milih kyuhyun.. si kuda biar aku aja.
    Aku ama siapa aja jadi 😀 member suju doang sih 😀 😀

  98. Krysdha berkata:

    Ff yg di tung2u akhir’x muncul jg..
    Smakin seru,,, Suka bgt ama Sifat Kyuhyun di sn,,
    Brharap mereka bs bersama…
    Dan2,,, Berharap jg smoga Siwon bs lepasin Hyura,,
    Smangat aja ya kak..
    Next part’x ditung2u..

  99. Rhenol berkata:

    Akhirnya bisa baca kelanjutannya. Ceritanya makin seru… suka banget karakter pemerannya di sini terutama Kyuhyun pastinya, bahasa yang digunakan juga bagus. Keep writing, ditunggu kelanjutannya.

  100. nana berkata:

    gimana itu apa mereka bisa bersama?

  101. kim vikyu94 berkata:

    keren , deg.deg kan baca bagian akhir ..
    Gak sabar baca lanjutannya , bingung mesti milih siapa . Pengenya sama Kyu, tapi kasian bang kuda 🙁
    semangat lanjutin ya authornim 😀

  102. Shinc berkata:

    Annyeong hoon ssi~
    Huft… Setelah sekian lama ga berkunjung ke blog ini dan ternyata bikin kangen.. hihihi
    Maaf ya untuk postingan flamigia sebelumnya aku ga komen…
    Oh iya.. ini nick name baru ku.. yg sebelumnya aku lupa nick name ku apa di setiap komentar. kalau ga salah shin min atau min rin.

  103. nisa11 berkata:

    haha mereka so swett,mudah*mereka bisa bersatu kyuhyun sama hyura amin: )
    #fighting

  104. nisa11 berkata:

    haha mereka so swett,mudah*mereka bisa bersatu kyuhyun sama hyura amin: )
    #fighting ka

  105. vhiy zaza berkata:

    perasaan aku udah baca part 8 deh, tapi kayaknya gak sampai selesai,
    hyura, bakal pilih siapa ya kyuhyun apa siwon ?

  106. Leevee berkata:

    aaaaa…akhirnya mreka jujur ngungkapin prasaan masing2… hyura bakal milih spa?? kyuhyun dehh… kkk lbih cocok sma kyuhyun (mnurut.ku) wkwkwkw… kasihan jg siwon.nya, tp hyura lbh nyaman sma kyuhyn deh kynya… kkkk
    makin seru baca.nya… feelnya dapeeettt… fighting buat authornim ^o^

  107. heechulnisa berkata:

    keren ih ffnya..
    critanya gak bosenin..
    dibikin novel lagi aja eon..
    nti aq ikutan PO lagi deh..
    hehhe..

    semangat fan ditunggu kelanjutannya yaa..
    muach..muach..muach..

  108. Deborah sally berkata:

    Kyuhyun hyura dong

  109. angelkim393 berkata:

    Stelah skian lm akhirny bisa bc nih ff jg 😉 uhhh kangen bgt

  110. Arinda Choi berkata:

    Akhirnya akhirnya akhirnya, kyuhyun ahhhh!!!! Arghhhhh baper baper baper!!!!

  111. iiz leekim berkata:

    Hyura mau aja sih nikah sama kyu lgan kn dia bukan kakak tiri km

  112. example6865 berkata:

    Ku harap hyura nikah sma kyu

  113. oriiigamine berkata:

    wah…
    kyuhyun pemaksa yang so sweet.
    haahaha.

    udahlah kalian barengan aja. sakit itu akan sembuh seiring berjalannya waktu.

  114. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

  115. Latuf berkata:

    Wichhh…padahl Q sangat pnsrn ma lnjutan ff in…ech mlh lupa nda pernh nengok berkunjung ke blog mu saeng…avhhh ahirnya ketinggalan dech..mlh ternyta di lht” ff ini dh end…ini bner” kerenn…gimnh itu nsib hbngn hyura mma siwon + kyu yh..hyura bkl milih siapa

  116. Dhewull berkata:

    Terpuruk sudah Siwon oppa.. Hyura Egois amat siih..
    Klo ga demen Sma siwon jngan Nja siwon Nikah donk..

  117. choi sena berkata:

    park hyura, cinta mu memang egois

  118. prahezty berkata:

    Kyuuuuuuu …
    Woahh, endingnya itu lohh bkin gimana gituu ..
    Hehehe ..
    Hyura terima ajaa laah ..
    Ngapain sm siwon ..
    Sm kyu ajaa ..

  119. nha_onk berkata:

    wuahhhh daebakkk
    kemajuan pesat nihh

  120. yoongdictasticgorjes berkata:

    Cie cie ada yg udh kis kis nih..udh ngeduga si klo si sbnrnya pnya rasa ma hyura bhkan udh lma

  121. Goldilocks berkata:

    Kyaaaaaaak ini yang ditunggu-tunggu. Kyuhyun-Hyura ciuman *uhuk* gak ding itu bonus hehe akhirnya si Kyuhyun ngakuin juga perasaannya akhirnya dia ngajak Hyura nikah akhirnya akhirnya akhirnyaaaaaa~~

  122. Rithaaa16 berkata:

    Romantis banget sih❤️❤️
    Siwon cari pacar aja gih

  123. LeeHyun berkata:

    Kyaaaaaa!!!!! Udh Hyura sma Kyuhyun aja, sumpah sweet bgt mereka!!!!
    Terima lamaran Kyu, dn ngomong baik2 ke Siwon, ….

  124. Elvvvvv berkata:

    Akhirnyaaa. Ad juga momen romantis mereka. Wuahhhh. First kiss nya kyuhyun hyuraa
    Akhirnya bisa saling ungkapin juga. Slamat berjuang!!
    Btw. Suka banget sm kata2 kyu yg. “Katakan apa yg kau ingin aku lakukan” “kau hanya perlu mengataknnya dan aku akan melakukanny” wuahhh sweet abis.

  125. esakodok berkata:

    ayolah hyura..perjuangkan cinta kalian..disini semuanya sam sama tersiksa krn.sifat hyura yg kelewat mementingkab perasaanya dab perasaaan eommanya

  126. Nurlaely D berkata:

    Trima saja Hyura,,jgn smpe km mnyesal,,cukup Siwon yg udah kau sakiti jgn ada lg…

  127. Widya Choi berkata:

    Cie stidakny mrk udh sling tau am prasaan msing2. Klo udh saling cinta ayo dunk sm2 bjuang. Tp yg pst slesaikan dulu am siwon y neng… kan ksian ntr dy trs bharap am dirimu eaaaaa

  128. Park ni young berkata:

    Nah lho hyura bingung mau nikah ama kyuhyun apa siwon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *