Endegree

sunset_twilight_ctock

Happy Reading N Sorry For Typho ^^

@miss_hoon

***

Kenangan…. Bukankah meraka sesuatu yang aneh?

Setiap manusia memiliki jutaan dari mereka, meskipun hanya sedikit yang terpilih dan tinggal di dalam kepalamu. Baik atau buruk, mereka biasanya berhubungan dengan perubahan hidup.

 

Seoul 2009

Sial. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Aku mulai bekerja, Memang Bukan bekerja dikantoran seperti pada umumnya. Aku hanya bekerja sebagai guru private murid sekolah tinggi. Aku mendapatkannya dari seniorku di universitas, Sunyoung Sunbae-nim. Dia bilang aku hanya perlu mengajar bahasa Inggris sesuai dengan jurusanku dan aku akan dibayar cukup tinggi setiap jamnya. Pekerjaan yang mudah kurasa. Tapi pada kenyataannya. Aku menyesal menerima pekerjaan ini.

“Hey kau. Bagaimana kalau kita bertanding” katanya tanpa melihatku. Dia sedang asik bermain pspnya sambil setengah berbaring di ranjang. Lalu aku? Huh, aku hanya melihatnya jengkel dengan kelakuan tidak sopannya. Sejak awal aku datang kesini bahkan dia tidak pernah memanggilku dengan benar.

Aku memutar-mutar pulpenku malas di sela-sela jariku sambil membolak-balik buku pelajaran anak kurang ajar itu. “Bertanding apa?” Sahutku malas

“Yeahh!!” Pekiknya sambil mengarahkan tinju ke udara. Aku hanya miliriknya sekilas kemudian melanjutkan kembali kegiatan yang membosankan ini. Dia selalu berteriak seperti orang gila setelah memegang benda hitam yang dianggapnya sebagai dewa itu. Kasihan.

Dia melempar pspnya ke samping lalu mendongak ke arahku. “Kita bertanding. Siapa yang lebih dulu keluar. Kau atau aku?” Katanya sambil menyeringai.

Tanganku berhenti lalu memutar dudukku menghadapnya. “Sebenarnya apa masalahmu? Kenapa kau sangat tidak menyukaiku?” Tanyaku jengkel. Aku seharusnya mengundurkan diri dari hari pertama kesini tapi aku sangat tergiur dengan bayaran besar yang diberikan. Dan sialnya aku telah memggunakan semua uang yang dibayar di muka untuk biaya semester tahun depan.

“Kau itu bodoh. Bagaimana mungkin seorang yang bodoh bisa mengajariku? Huh, kakakku begitu baik hingga memberikan uang pada orang bodoh sepertimu”

Aku memutar mataku sambil mendengus kasar “lalu, apa kau begitu pintar hah hingga menganggapku bodoh? Kau bahkan tidak pernah duduk disini” aku menunjuk kursi di sampingku. Dia hanya duduk menjauh di sebrang ruangan atau diatas ranjang. Tempat terjauh dari meja belajar yang tersedia dikamarnya.

“Ya aku cukup pintar untuk melihat orang bodoh sepertimu” sahutnya santai. Demi apapun aku ingin sekali mencekik lehernya. Tapi apa yang bisa kulakukan saat dialah sumber penghasilanku. Aku hanya bisa menelan sumpah serapah yang sudah berada di ujung lidahku. Aku menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Memberikannya senyum palsu yang kubisa. “Kyuhyun-ah. Kemarilah, kita mulai pelajaran hari ini eoh” kataku semanis mungkin meskipun dengan gigi terkatup.

“Tidak mau” jawabnya santai. Lalu mengambil komik dari nakas meja dan mulai membacanya. Aku mendesah berat. “Baiklah. Terserah apa maumu” sahutku “aku tidak peduli” tambahu dalam gumaman. Aku kembali pada buku yang tadi sempat kubolak-balik.

Begitulah pekerjaanku selama mengajar anak manja, kurang ajar dan sok pintar bernama Cho Kyuhyun. Setiap datang kerumahnya aku hanya duduk di meja belajar mengerjakan tugasku atau hanya sekedar membaca majalah. Sedangkan Kyuhyun asik dengan psp atau komiknya. Meskipun aku terkadang merasa bersalah karena menerima bayaran tanpa melakukan tugasku. Sampai sebulan setelahnya Cho Ahra, kakak Kyuhyun mengeluh padaku karena tidak ada kemajuan dalam nilai Kyuhyun.

***

Aku membanting tumpukan buku di sisinya di atas ranjang. Dia mendongak dari komiknya mentapku terkejut sekaligus bingung.

“YA!! Apa kau gila?” Omelnya sambil menyingkirkan buku-buku tersebut dengan kakinya hingga berserakan jatuh di bawah ranjang.

“Ya aku gila karena harus berurusan dengan anak brengsek sepertimu”

“Mwo?” Dia menutup komik lalu menegakkan tubuhnya. Menatapku garang, tapi toh aku tidak peduli, dia hanay anak ingusan. Aku membungkuk memungut buku-buku yang tadi ditendangnya, menyusunnya “sekarang kita mulai pelajaran atau……”

Braakkk

Aku mendongak saat mendengar pintu tertutup keras. Aishhh anak kurang ajar itu berani sekali dia…..”YA CHO KYUHYUN KEMBALI KAU!!!” teriakku sekuat tenaga. Aku mengusap wajahku kasar. Padahal aku memiliki adik laki-laki dan aku bisa menanganinya dengan baik. Oh ya tentu saja karena adikku tidak sebrengsek dia. Apa aku harus bertanya pada Chanyeol bagaimana murid nakal disekolahnya bisa lulus ujian? Tapi kurasa itu akan membuatnya bertanya lebih banyak tentangku. Dia pasti mencemaskanku yang hidup sendirian kemudian memaksa untuk keluar dari sekolah asramanya, lebih memilih sekolah biasa yang lebih murah dan hidup berdua denganku. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Aku belum siap untuk menanggung hidup kami berdua.

Meskipun dia bilang akan memikul beban berdua tapi aku tidak akan membiarkannya. Dia harus hidup layak sama seperti sebelum orang tua kami meninggal.

Bagaimanapun caranya aku harus menemukan cara agar Kyuhyun mau bekerja sama jika tidak aku akan kehilangan pekerjaan ini. Aku bangkit lalu keluar memutuskan untuk mencarinya, apapun caranya aku akan menyeretnya pulang. Aku tidak akan membiarkannya bertindak semena-mena terhadapku. Cih, apa dia pikir dia itu pangeran.

Aku berputar-putar sepanjang jalan utama, memasuki setiap game centre, toko buku, tempat penyewaan komik, bahkan aku memasuki setiap rumah makan. Tapi dia tidak ada dimanapun sampai rasanya kakiku hampir putus dan aku kelelahan. Menjelang malam aku kembali ke rumah Kyuhyun mengambil tasku dan dia belum juga pulang. Jadi kuputuskan untuk pulang ke apartemenku.

Empat hari berikutnya aku tidak kembali kerumah Kyuhyun. Aku begitu sibuk dengan urusan kuliahku, mereka juga tidak menghubungiku, kurasa tidak ada masalah dengan ke absenanku.

“Kau yakin tidak ada masalah kalau kau tidak datang lagi?” Tanya Nammie cemas. Nammie salah satu sahabatku di kampus. Dia tau aku memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru private.

Aku mengangkat bahuku acuh. Kami sedang mengerjakan tugas berkelompok di apartemenku.

“Kau pergi saja, sisanya biar aku yang kerjakan” katanya lagi.

Aku mendesah, meletakkan pinsil lalu menatapnya “tidak perlu. Kita kerjakan bersama. Jangan memikirkan pekerjaanku, toh mereka juga tidak memikirkannya” nada suaraku terdengar muram diakhir kalimat, mengingat kejadian tempo hari saat Kyuhyun meninggalkanku membuatku kesal.

“Maksudmu?”

“Sudahlah jangan membahasnya” aku bangkit menuju dapur kecilku hanya dalam beberapa langkah. Apartemenku hanya berbentuk studio kecil. Dengan satu ranjang berukuran sedang, satu meja tamu dengan sofa yang tidak terlalu besar, rak tv yang menjadi satu dengan rak buku, lemari kabinet yang juga bergabung dengan kitchen set. Benar-benar minimalis. Tidak ada privasi disini selain di kamar mandi, itulah alasanku menolak tinggal bersama dengan adik laki-lakiku. Setidaknya aku haurus memiliki tempat tinggal dengan dua kamar. Meskipun kani bersaudara tapi berbagi kamar dan privasi menurutku itu tidak sehat.

“Mau teh?” Tawarku

Nammie menggeleng lalu kembali fokus pada layar laptop didepannya. Aku membuka kabinet dan mengambil sebungkus teh melati kesukaanku tapi sayang bungkusnya kosong. Aku mendesah berat.

“Aku akan ke swalayan sebentar. Mau kubelikan sesuatu” kataku.

Nammie mendongak “aku ikut saja” katanya sembari bangkit lalu mengambil dompet di dalam tasnya yang tergeletak di atas sofa. Aku mengangguk lalu kami keluar bersama.

Swalayan yang kami tuju tidak terlalu jauh karena apartemen milikku tidak jauh dari jalan utama. Kami hampir sampai ke swalayan saat tiba-tiba aku melihat Kyuhyun masih dengan seragam sekolahnya berjalan ke arahku , dia bergerombol bersama teman-temannya hendak memasuki tempat karaoke yang persis bersebrangan dengan swalayan yang kutuju. Langkahku terhenti begitupun dengannya. Kami sama-sama melihat selama beberapa detik sampai gadis yang sedari tadi bergelayut manja di lengannya memanggilnya.

“Waegurae Oppa?” Tanya gadis itu dengan nada suara manja yang dibuat-buat

“Bukan apa-apa” sahut Kyuhyun sambil melepas lengannya dari pegangan gadis itu tapi kemudian melingkarkannya di lehernya, merangkul dan mereka pun masuk ke dalam.

“Ada apa? Kau kenal dengan mereka?” Tanya Nammie saat melihat sikapku.

“Salah satu dari mereka murid privatku” Aku kembali berjalan, diikuti Nammie

“Kalian saling memergoki, apa tidak masalah?”

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Jangan terlalu di ambil pusing”

“Hmm arasseo. Tapi ngomong-ngomong yang mana muridmu?”

Aku membuka pintu swalayan dan langsung menuju rak bahan minuman “pria tinggi yang berjalan paling depan, yang merangkul gadis tadi”

Nammie tertawa kecil “jelas saja tidak masalah, karena dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya” Nammie mengambil sebungkus gula tanpa kalori “pakai ini saja” aku mengambilnya.

“Mungkin” sahutku acuh “ada lagi yang ingin kau beli?”

“Susu pisang” sahutnya lalu melengos ke bagian minuman.

***

Aku mengerang saat mendengar ponselku terus bergetar. Tanganku meraba-raba mencari saklar lampu disisi ranjang. Menyalakannya, mataku terbuka sedikit melirik ke samping. Jam dua pagi! Orang gila mana yang menelponku di jam segini. Sambil mengumpat aku meraih ponselku lalu menjawabnya kasar.

“APA? kantor polisi?” Aku terlonjak dan sepenuhnya sadar

“Kami membutuhkan jaminan agar anak murid anda bisa keluar dari sini”

“Ne, algeuseumnida. Aku akan segera kesana” aku menutup telepon lalu bergegas berganti baju kemudian keluar mencari taxi.

Aku melihat Kyuhyun duduk tertunduk di salah satu kursi yang terletak di sudut ruangan. Tidak jauh dari tempatnya ada beberapa anak lain yang juga menyembunyikan wajahnya. Dia mendongak saat mendengar kedatanganku tapi kemudian menunduk lagi. Aku menyebutkan namaku kepada petugas polisi yang berjaga. Lalu mereka memintaku mengisi dokumen data diriku sebagai penjamin sebelum membebaskan Kyuhyun.

Tanganku menyilang didepan dada menatapnya menghakimi. Kami berdiri di depan kantor polisi setelah petugas membebaskannya. Dia tidak menatapku melainkan kearah lain.

“Pergi ke karaoke, Membolos dan tidak mengikuti pelajaran tambahan dari sekolah lalu tidak mau belajar bersamaku juga. Dan sekarang kau berkelahi?” aku menggeleng prihatin “Syukurlah aku tidak punya adik sepertimu” kali ini aku berkata sungguh-sungguh. Diberkatilah tuhan orang tuaku menurunkan gen baik pada anak-anaknya. Hingga sebesar ini Chanyeol tidak pernah terlibat masalah apapun selain membolos karena saat itu kami masih berduka dengan kematian orang tua kami.

Aku mendesah berat, dia benar-benar tidak bisa diselamatkan. Aku bukan gurunya secara formalitas dia memiliki guru sendiri di sekolahnya, tapi si brengsek ini malah memberikan nomerku dan mengganggu istirahatku.

“Pulanglah. Sudah malam. Kakakmu pasti cemas. Dan jangan lupa obati lukamu” Kataku ketus sebelum berbalik meninggalkannya.

“Kakakku tidak ada” katanya parau. Langkahku terhenti lalu berbalik menghadapnya. Kali ini dia menatapku “Tidak ada siapa-siapa di rumahku. Hanya ada Ahjumah, Kakakku sedang melakukan perjalanan bisnis”

“Jadi karena itu kau bertindak sesukamu?” sahutku jengkel

“Ani. Aku hanya penasaran kenapa kau tidak datang lagi ke rumahku” sahutnya serius.

“Dan kau akan mengacuhkanku lagi?” kataku sinis

Dia tidak menjawab, aku mendengus “Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada kakakmu. Bahwa selama ini aku tidak pernah melakukan tugasku sebagai tutor. Kupikir aku bisa menahannya tapi melihat kelakuanmu sekarang aku kurasa aku tidak bisa”

“Apa kau juga akan bilang tentang insiden ini?”

“Kenapa aku harus menutupinya?”

“Jangan katakan apapun padanya”

“Tidak ada alasan untuk tidak mengatakannya”

“Ku mohon” pintanya memelas

“Apa kau takut dihukum?”

“Bukan itu” sahutnya muram

“Lalu?”

“ Hanya─jangan bilang apapun tentang kejadian hari ini”

“Apa untungnya buatku”

“Aku akan belajar” katanya bersunguh-sungguh.

Aku menatapnya tidak percaya. Tapi sedetik kemudian aku memasang wajah datar “Apa itu suatu keuntungan untukku?”

“Aku akan meminta Ahra Noona untuk menaikkan bayaranmu karena telah mengajarku dengan baik’

Aku hampir tersenyum girang saat mendengar ‘bayaran’ tapi lagi-lagi aku memasang wajah datar. Aku tidak akan membiarkannya menanggapku mudah, jika tidak dia bisa menindasku lagi. “Panggil aku dengan sopan”

“Arasseo Hyura-ya”

Aku menatapnya tidak percaya “Hyu..Hyura-ya? Astaga, kau pikir aku ini temanmu?”

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Kau bisa memanggilku Noona, Saem atau Seosangnim”

“Untuk apa? Namamu kan Park Hyura”

“Tapi aku lebih tua darimu dasar idiot. Dimana sopan santunmu?” kataku tidak sabar

Dia mengacak rambutnya kasar “aku akan belajar bersungguh-sungguh dan menurutimu. Apa itu tidak cukup? Haruskah kita berdebat karena masalah panggilan? kau sungguh kekanak-kanakan”

“Apa? Apa kau bilang? Kekanak-kanakkan? YA.. Hmmffttt” Kyuhyun membekap mulutku dengan tangannya. Aku melotot, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Sssttttt” katanya sebelum menjawab telepon dan melepaskan tangannya dari mulutku.

“Ya ini aku. Maaf aku lupa. Iya aku bersama dengan Park Hyura. Eoh tentu saja. Baiklah” dengan itu dia menyerahkan ponselnya padaku.

“Siapa?” tanyaku tanpa suara

“Ahra Noona” sahut Kyuhyun pelan. Aku berdeham sebelum mengambil ponsel Kyuhyun dan menjawabnya.

“Yeoboseyo”

“Hyura ssi maaf mengganggumu di rumah. Dan terima kasih atas totalitasmu dalam mengajarinya”

“Ye?”

“Jangan Khawatir aku akan menambahkan insentifmu bulan depan. Oh ya bilang pada Kyuhyun besok Kim Ahjusi yang akan membawakan pakaian ganti untuknya. Selamat malam. Tuut tuuut tuut” Aku menjauhkan ponsel dari telingaku lalu memberikannya pada Kyuhyun.

“Apa katanya”

“Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan” sahutku jujur “ Totalitas? Apa maksudnya?” gumamku “Dia akan mengantarkan pakaian ganti untukmu, tapi kemana?”

Kyuhyun terkekeh “Dia baru saja pulang dan tidak menemukanku di rumah, saat kukatakan aku bersamamu, dia pikir aku sedang belajar semalam suntuk denganmu”

“Mwo?”

“Sudahlah, sekarang tunjukan dimana rumahmu, aku lelah dan tubuhku sakit semua”

“Kau pikir bisa makan dan tinggal gratis dirumahku?”

“sudah kubilang aku akan membayarnya” dia memegang kedua bahuku, memaksaku berbalik dan mendorongku berjalan perlahan.

“Janji?”

“Iya aku berjanji”

***

“Hanya ini?” Kyuhyun berhenti di ambang pintu apartemenku

“Masuk kalau kau mau, kalau tidak keluar dan tutup pintunya. Aku mengantuk” aku langsung ambruk diatas ranjang. Hampir setengah empat pagi dan besok aku ada kelas pagi.

Aku mendengar pintu tertutup dan langkah di seret menuju sofa. Bunyi berderit sofaku menandakan dia duduk disana. Aku tersenyum tipis, tentu saja dia tidak punya pilihan lain.

“Apa kau punya antiseptik atau semacamnya?”

“Disana, di kabinet” gumamku”

“kabinet mana?”

Aku mendesah lelah lalu memaksakan tubuhku bangun dan membuka mata. Mataku terbelalak melihatnya sudah setengah telanjang “Yakk! Apa yang kau lakukan?” aku hampir menjerit dan dia setengah terlonjak mendengar teriakanku.

“A..Apa?” tanya kebingungan

“Kenapa kau membuka bajumu?” aku bangun dengan cepat lalu mengambil kemejanya yang tergeletak di sofa dan melempar ke arahnya.

“Ada apa denganmu? Bajuku kotor dan aku ingin mengobati lukaku”

Aku baru melihat dia memiliki memar di bawah rusuknya, kulit Kyuhyun begitu putih hingga luka itu terlihat mencolok di bagian tubuhnya.

“Apa itu sakit?” tanyaku bodoh.

“Menrutmu?”

“Maaf, aku berlebihan. Kemarilah, kubantu mengobati lukamu” aku mengambil kotak p3k dia kabinet yang brsisian dengan dapur. Dia duduk patuh di sofa. Seluruh tubuhnya kotor, baju dan celananya juga. Apa yang kupikirkan? Dia muridku tidak mungkin kan kami bertindak macam-macam.

“sebaiknya kau mandi dan lepas bajumu, aku akan mencucinya”

“Kau benar, aku butuh mandi. Dimana kamar mandinya?”

Aku menunjuk satu-satunya pintu di ruangan ini selain pintu masuk. “letakkan bajumu di wastafel” kataku sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi. Sementara aku membuka lemariku mencari selimut tambahan dan bantal. Menatanya di sofa serapi mungkin. Dia tidak tinggal gratis, tidak ada salahnya aku memberikan pelayanan terbaik

Aku menempelkan telingaku di pintu kamar mandi, suara shower terdengar jelas dia masih mandi. Dengan perlahan aku membuka pintu, syukurlah dia menutup tirainya. Aku masuk dan mengambil celananya di atas wastafel. Tiba-tiba saja shower berhenti. “Hyura-ya?”

“N..Ne. ini aku. Aku hanya mengambil bajumu” sahutku gugup.

Dia tidak menjawab dan kembali menyalakan shower. Aku keluar dengan cepat lalu menuju lantai paling atas gedung apartemen ini, tempat khusus laundry. sambil menunggu mesin cuci berputar aku kembali ke apartemenku. Kyuhyun pasti belum makan. Aku menghangatkan nasi kemasan dan daging olah siap saji. Hanya itu yang ada di kulkasku. Setidaknya aku tidak membiarkannya kelaparan. Aku menyiapkannya di meja pantri bersama sumpit dan sendok kemudian aku kembali ke lantai atas. Mengeringkan pakaian Kyuhyun lalu menyetrikanya. Hampir pukul lima pagi saat aku kembali ke kamarku.

Kyuhyun sudah terlelap di sofa, dia memakai jubah mandi yang kusiapkan. Aku tersenyum saat makanan yang kusiapkan habis dimakannya. Dia menjadi anak yang sangat manis dalam semalam. Aku terus menguap, ingin sekali langsung kembali ke ranjangku namun melihat wajah lebam Kyuhyun membuatku tidak tega.

Aku mengambil kotak obat-obatan lalu duduk di dibawah sofa. Mengoleskan selep di pelipis dan sudut bibirnya selembut mungkin agar dida tidak terbangun. Lalu menempelkan plester. Aku setengah berdiri dan membuka selimutnya sampai ke perut. Mengendurkan simpul di jubahnya lalu membuka bagian atas hingga bagian bawah rusuknya terlihat. Aku mengoleskan salep di bagian memarnya namun terhenti saat dia mengerang. Mungkin aku menekannya terlalu keras. Aku melanjutkannya dengan perlahan sampai kurasa cukup aku merapikan lagi bajunya dan menyelimutnya. Aku kembali ke ranjangku, Menyalakan alarm dan mematikan lampu.

***

            Aku menggeliat pelan saat mencium bau harum. Membuka mata kemudian langsung terbangun cepat saat menyadari matahari sudah tinggi. Sial, jam berapa sekarang. Aku meraih alarm di nakas kemudian mengerang melihat angka sebelas. Aku kehilangan kelas pertamaku.

            “Kau sudah bangun? Sarapan sudah siap” aku menoleh ke arah suara yang sangat familiar di telingaku. Kyuhyun sedang duduk di depan meja pantri sambil memakan sesuatu yang aku tidak tau itu apa.

            Aku menatapnya menuduh “Kau mematikan alarmku?”

            Dia mengangkat bahunya santai “Aku hanya membantumu mematikannya. Alarmmu sangat berisik”

            “Ya! Gara-gara kau aku kehilangan kelas pagi”

“Hanya satu mata kuliah kan? Kau bisa meminjam catatan dari temanmu”

Aku mendengus lalu menyingkap selimut dan bangun dari tempat tidur. Berkacak pinggang di depaannya “Dasar bocah kurang ajar. Gara-gara siapa aku harus begadang dan kesiangan”

Dia tidak bereaksi apapun selain menatapku bosan “jangan berlebihan. Hanya satu mata kuliah kau membesar-besarkannya”

“YAK!! CHO KYUHYUN!!”

Dia bangkit dari kursi tinggi dengan santai, bediri di hadapanku dengan tangan terlipat di depan dada. Aku harus mendongak karena tingginya seperti tiang listrik, tentu saja aku tidak akan mengakui tubuhku kecil “lebih baik kau mulai mengajariku. Kapan kita memulainya?”

Aku memicingkan mataku curiga “kenapa tiba-tiba kau jadi bersemangat. Apa kau mau menipuku”

Dia memutar bola matanya malas “bukan kah semalam aku sudah berjanji”

Ah iya benar juga. Lalu aku teringat dengan pakaiannya yang semalam, tapi sekarang dia sudah memakai pakaian baru. Bukan seragam sekolah yang kucuci semalam.

“Bajumu?”

Dia melirik kebawah, melihat pakaiannya sendiri “Ah ini. Tadi Kim Ahjusi yang mengantarnya. Dia meninggalkannya di depan pintu”

“Kau tidak sekolah?”

“Aku sudah bilang pada Noona, hari ini aku akan belajar bersamamu”

“Dan dia setuju?”

“Kenapa dia tidak setuju?”

“Aneh, Aku kan tidak mengajarimu semua mata pelajaran di sekolah. Hanya bahasa Inggris”

“Memangnya kau tidak tau tujuan kakakku memberikan tambahan pelajaran bahasa inggris padaku?”

Aku menggeleng. Dia hanya meminta untuk membantu adiknya agar bisa lebih menguasai bahasa asing. Untuk apa? Dia tida menjelaskan apapun.

“Sudah kuduga” desahnya pelan. “Noona ingin aku membuat essay sebagus mungkin agar aku diterima di universitas bergengsi di luar negri. Begitu juga dengan tes kebahasaannya sebelum aku memulai kuliah di sana”

“Kakakmu tidak mengatakan hal itu padaku. Padahal kelulusan hanya tinggal beberapa bulan. Tau begitu aku akan memaksamu lebih keras. Aku jadi semakin merasa bersalah padanya”

“Kalau begitu sebaiknya kita mulai saja. Sudah beberapa hari ini kau mangkir dari tugasmu” katanya menuduh. Aku meliriknya sinis, dia pikir gara-gara siapa aku bersikap seperti itu.

“Besok saja. Hari ini aku harus ke kampus”

“Apa? Kau mau menyia-nyiakan waktuku. Aku bahkan rela tidak sekolah”

“Memangnya aku yang suruh?” Sahutku sambil melengos ke kamar mandi. Aku harus bergegas agar tidak ketinggalan kelas yang lainnya. Aku masih mendengar teriakan Kyuhyun saat aku menutup pintu.

Jangan dikira aku mudah ditindas, enak saja dia mengatur-ngatur jadwalku. Dia pikir hanya dia yang butuh belajar. Aku menatap wajahku sejenak dicermin, berkata pada diriku sendiri. Meskipun aku membutuhkan uangnya tapi aku tidak boleh terlihat terlalu mudah.

Aku mencuci muka lalu menggosok gigiku cepat sebelum membuka kaosku kemudian melemparnya ke keranjang baju kotor saat tiba-tiba pintu terbuka. Aku buru-buru mengambil handuk dan menutupi tubuh bagian atasku. “apa yang kau lakukan! Dasar mesum!” Teriakku terkejut.

Kyuhyun berdiri disana dengan wajah kesal. “Aku belum selesai. Kenapa kau malah pergi!” balasnya berteriak

“Aku sudah selesai denganmu. Sekarang keluar!! Atau aku akan berteriak!”

Dia mendengus “apa dia pikir tubuhnya enak dilihat” gerutunya lumayan keras membuatku benar-benar ingin menendangnya.

“Keluar sekarang sebelum aku menendang bokongmu” desisku

Dia menatapku sebal sebelum membanting pintu. Oh ya ampun jika dia melakukannya lagi aku yakin aku harus memanggil tukang reparasi pintu.

Aku menyelesaikan mandiku dan berpakaian dengan cepat. Kyuhyun sedang duduk di sofa sambil melihat ke arah tv dengan wajah cemberut saat aku keluar dari kamar mandi. Aku melewatinya menuju meja kecil mengambil tas, membereskan buku dan memasukkan laptop.

“Kau benar-benar akan pergi?” Tanya Kyuhyun seperti seorang anak yang sedang merajuk.

Aku menoleh “Aku tidak akan melewatkan kelasku lagi”sahutku lalu kembali membereskan tasku.

“meskipun aku terus mengekorimu?”

“Apa?” aku menoleh lagi “mengekori?” dia menatapku serius. Jelas Dia tidak bercanda.

“Aku tidak mau tinggal disini sendirian, aku ikut denganmu saja”

“Kalau begitu kau pulang saja, kenapa harus mengikutiku?”

“Aku tidak mau pulang, rumahku sangat sepi”

“Bukankah ada Ahjumah”

“Aku tidak bergaul dengan Ahjumah” sahutnya mulai kesal

“Lalu kau bergaul dengan siapa?” sahutku tak kalah kesal

“Tentu saja dengan teman-temanku”

“Kalau begitu temui saja teman-temanmu”

“Mereka sedang di sekolah”

“Kalau begitu pergilah kesekolah”

“Untuk apa aku pergi kesekolah saat kakakku sudah mengijinkanku untuk libur” omelnya

Aku mendesah berat “Aku akan terlambat lagi jika terus berdebar dengan mu”

“Kalau begitu tidak usah pergi”

“Tidak……”

“Atau aku yakin kau benar-benar bodoh” potongnya cepat

“Apa?”

“Hanya tidak masuk satu pertemuan apa membuat begitu banyak ketinggalan? Kecuali jika kau benar-benar bodoh”

Bukan pertama kali dia menyebutku bodoh tapi tetap saja aku merasa tersinggung “Kau bahkan belum pernah melihat kemampuanku”

“Kalau begitu buktikan”

Aku melepar tas yang sudah kukemas ke meja sambil mendengus. Sial, aku termakan ucapannya. “Kau mau belajar! Baiklah! Jangan memintaku berhenti meskipun otakmu sudah berbuih, karena aku tidak peduli!”

Kyuhyun menyeringai dengan kemenangannya, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. “pertama-tama kita harus membicarakan sistem pembelajaran kita” Katanya dengan nada keramahan palsu. Ingin sekali aku menendangnya, aku menyesali keputusanku semalam membebaskannya dari kantor polisi. Seharusnya kubiarkan saja dia membusuk disana

Aku menghampirinya dengan langkah berat kemudian menjatuhkan diriku di sampingnya.

“Belajar dengan metode konvesional tidak akan berhasil denganku” katanya memulai.

“Maksudmu?”

“Jika kau hanya berceramah itu sama saja kau mendongengkan cerita sebelum tidur untukku”

Aku hendak membantah tapi dia memotongku cepat.

“Aku tipe orang yang cepat belajar, Apa kau punya teman orang asing? Kurasa dengan begitu aku bisa lebih cepat belajar”

“Kenapa harus dengan orang asing”

“sepertinya kau tidak punya” tebaknya

“Ya!….”

“Kalau begitu bagaimana dengan itu?” dia menunjuk tvku dengan dagunya “kita nonton film saja”

“metode belajar apa itu?” sergahku tidak setuju

“itu cara efektif”

“Aku tidak mau, itu sangat aneh”

“Kita bahkan belum mencobanya”

“Sudah kubilang tidak mau”

“Kau ini pengajar macam apa? Kenapa tidak bisa memberikan cara yang menyenangkan untuk belajar” protesnya

“Tutup mulutmu” desisku kesal

“Kita harus mencobanya dulu, jika tidak berhasil aku berjanji akan mengikuti caramu”

Aku berfikir sejenak “Tanpa bantahan atau berdebat?”

“Tanpa bantahan” sahutnya

“baiklah, kita bisa mencobanya”

Dia tersenyum penuh kemenangan lagi. Dua kosong, aku kalah telak dengannya. Dia berjongkok mencari tumpukan film di rak di samping televisi, kemudian mendengus “kau tidak punya film satu pun?”

Aku menggeleng “aku tidak suka menonton” sahutku enteng

“lalu apa gunanya punya tv”

“Aku menggunakannya untuk menonton idolaku”

Dia memutar bola matanya lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu

“Mau kemana?” teriakku

“Tentu saja mencari film” sahutnya tidak sabar “mau ikut tidak?” ajaknya enggan.

Aku mengangkat bahuku lalu mengikuti berjalan di belakangnya. Kami menuju tempat toko DVD yang ada di jalan utama. Setidaknya kami harus berjalan dua puluh menit dari apartemenku. Sudah lama sekali aku tidak menonon film, setelah kematian orang tuaku. Aku menghindarai kegiatan menonton, membaca buku, mendengarkan musik atau kegiatan menyendiri yang menyenangkan. Aku butuh bersosialisasi. Dengan begitu aku tidak akan merasa sendirian.

“Kau tidak memilih film?” tanya Kyuhyun saat aku hanya mondar-mandir tanpa mengambil apapun. Sedangkan di tangannya sudah ada setumpuk film yang membuatku menatapnya ngeri. Ya ampun berapa lama kami akan menyelesaiknnya?

“Kau saja yang pilih”

“yasudah” sahutnya sambil melengos kembali mencari-cari. Setidaknya ada tiga puluh judul film yang kami bawa pulang. Aku sudah memperingatinya bahwa kita mencobanya hanya sekali dan dia dengan mudah menjawab akan menonton sisanya sendirian jika metode ini tidak berhasil. Sebelum pulang kami mampir ke supermarket membeli beberapa bahan makanan instan dan camilan.

Kami kembali ke apartemen dan Kyuhyun langsung bersiap memasang film pertamanya. Sementara itu aku membuat popcorn dengan microwave dan mengambil catatan kecil. Aku harus mencatat penggunaan bahasa dan kosakata baru yang mungkin bisa kudapatkan.

“Cepat kemari! Filmya hampir mulai” teriak Kyuhyun

“Sebentar” aku menuangkan popcorn ke baskom lalu menyusulnya duduk di sofa dan meletakkan popcorn di antara kami. Tangan Kyuhyun terentang di punggung sofa di balik bahuku.

“Film apa ini?” Aku mengambil sejumput popcorn lalu memasukkannya ke dalam mulutku.

“ssssttt, tonton saja” katanya berbisik, matanya sangat fokus ke layar televisi. Aku mulai menulis catatanku dan mendengarkan baik-baik setiap percakapan yang di ucapakan setiap tokohnya. Aku kesulitan saat salah satu tokoh berbicara cepat seolah sedang menyanyi rap. Aku melirik Kyuhyun sekilas, melihat bagaimana reaksinya menonton film tanpa terjemahan seperti ini. Dugaanku salah, dia sangat fokus dan menikmati filmnya.

Aku mencoret-coret catatanku yang berantakan, mengambil segenggam popcorn, memasukkannya sekaligus ke dalam mulutku. Tidak peduli pipiku sakit karena membuka mulutku terlalu lebar. Intinya aku tidak menikmati film yang Kyuhyun pilih. Bercerita mengenai sejarah perang utara dan selatan amerika yang melibatkan satu keluarga dari selatan yang berusaha keluar dari konflik tersebut. Aku tidak menyukai pembunuhan dan sesuatu berdarah-darah. Karena itu aku tidak menikmatinya.

Aku hendak bangkit saat tiba-tiba tangan Kyuhyun berada di bahuku dia tidak lagi menyampirkannya di punggung sofa. Tapi bukan itu yang membuatku tetap diam, tangannya tidak pernah diam. Terkadang dia menggambar pola-pola tidak tentu diatas kulitku, mengelus lenganku lembut atau bahkan memainkan dan membelai rambutku.

Setelah hampir dua jam aku duduk kaku karena sentuhan Kyuhyun yang membuatku tidak bisa bernafas dengan benar, akhirnya film itu berakhir. Membuatku mendesah lega.

Dia menoleh dan tersenyum ke arahku “bagaimana? Bagus bukan”

Aku mengerjap dua kali sebelum menunduk melihat catatanku. Aku tidak mencatat selain coretan tidak jelas. Aku benar-benar bodoh.

“Siap untuk membuka buku?” tanyanya

“Ku..kurasa. kita perlu menonton satu film lagi” sahutku gugup. Aneh bukan? Untuk apa aku gugup?

“Kau yakin?” tanyanya heran. Aku tidak mungkin memulai sautu pelajaran dengan catatanku yang tidak jelas seperti ini. Atau dia akan mengataiku bodoh lagi. Baru memikirkaannya saja sudah membuatku kesal

“Ya kenapa tidak” aku bangkit cepat lalu melihat tumpukan film yang sudah Kyuhyun sewa. “kali ini aku yang memilih”

“Terserah” sahutnya. Aku tidak perlu berlama-lama melihat film apa yang harus kupilih ataupun membaca sinopsisnya. Toh bagiku sama saja. Aku melihat pria tampan di cover Dvd yang kupegang. Tanpa berpikir dua kali aku menyerahkannya pada Kyuhyun.

Dia menaikkan alisnya “Kau yakin dengan ini?”

“Kenapa? Apa itu film yang melanggar hukum?”

“Bukan, tentu saja bukan” katanya lalu bangkit dan menyetelnya. Aku kembali ke sofa. Sebelum film di mulai, aku mempersiapkan mata dan telingaku agar tidak terlewat sedikitpun. Kyuhyun kembali ke sofa, dia mengangkat mangkuk popcorn sudah kosong, memindahkannya ke ujung sofa lalu duduk disampingku. Tubuh kami benar-benar menempel. Aku menatapnya gugup sekaligus bingung “Kenapa duduk disini?” Tanyaku denga nada menuduh

“Aku yakin kau akan membutuhkanku”

“Apa? Tapi untuk apa?”

“Sudahlah nonton saja”

Aku mendorongnya kasar “Menjauhlah, aku tidak bisa fokus di dekatmu”

“Kenapa?”

“Tidak tau. Sana menjauhlah” aku mendorongnya lagi. Dia mendengus kemudian kembali ke posisinya semula dan meletakkan lagi mangkuk popcorn di antara kami. Aku melirik tangannya yang menyampir lagi di punggung sofa. Aku berdoa dalam hati agar tangannnya tetap diam disana dan tidak lagi berpindah ke bahuku.

Film baru saja di mulai, menampilkan sekelompok remaja yang sedang melakukan perjalanan ke pegunungan. Kyuhyun tiba-tiba bangkit mematikan lampu.

“Kenapa di matikan?”tanyaku.

“Agar seperti dibioskop” sahutnya dan kembali duduk.

“Tapi aku tidak bisa menulis”

“Bisa. Cahayanya cukup terang”

“Mataku bisa rusak” protesku. Dia mendesah dalam sebelum bangkit dan menyalakannya lagi. Aku ingin tersenyum namun gagal saat mendengar suara aneh dari arah tv. Benar saja, adegan sepasang kekasih tanpa pakaian sedang bercumbu di dalam sebuah kolam atau mungkin danau. Aku tidak tau. Meskipun aku berusaha tidak melihatnya tapi suaranya yang begitu jelas tetap saja mengusikku. Suara desahan, decapan bibir mereka dan kecipak air membuat bulukudukku berdiri. Tanpa sadra aku memeluk diriku sendiri. Aku bahkan tidak berani mendongak melihat Kyuhyun.

Tapi bukan itu intinya. Tidak lama setelah itu tiba-tiba saja suasana menjadi lebih mencekam dan tanpa sadar aku meloncat ke dada Kyuhyun. Mangkuk popcorn bergelimpang ke lantai saat aku menendangnya.

“Sudah kuduga akan begini” gumamnya.

“Apa? Kenapa kau tidak bilang itu film horor?”

“Kupikir kau sudah memilihnya”

“Ya!!…”

“Ssttt sudahlah tonton saja” Saat aku hendak beranjak Kyuhyun melingkarkan tangannya di bahuku memaksaku tetap di dadanya. Dia memelukku erat. Jujur saja aku menyukai aroma tubuhnya. Baunya menyenangkan. Selain itu aku bisa mendengar degup jantungnya yang berpacu lebah cepat. Entahlah disebabkan oleh film atau kerena posisi kami. Tapi aku ragu, aku berpengaruh untuknya.

Dan lagi-lagi tangan Kyuhyun tidak pernah bisa diam. Dia mengelus punggungku naik turun dan yang membuatku terkejut dia menarik tanganku yang bebas melingkari pinggangnya. Posisi kami benar-benar intim sekarang. Aku bahkan merasakan sesakali Kyuhyun mencium puncak kepalaku. Kukira aku berhalusinasi tapi dia melakukannya lagi dan lagi. Otakku bereaksi untuk menolaknya tapi tidak dengan tubuhku. Aku benar-benar nyaman bersandar dan saling memeluk seperti ini. Pelukannnya hangat dan menyenangkan. Hingga tanpa sadar aku jatuh terlelap.

Mungkin efek dari begadang semalam atau mungkin aku benar-benar lelah. Aku tidur nyenyak sekali seperti orang mati. Aku mengerjap dan merasakan tubuhku pegal luar biasa. Suasana di kamarku gelap gulita. Aku ingin bergerak saat merasakan suara detak jantung yang menalun tenang di telingaku serta hembusan nafas di keningku.

Aku mendongak dan melihat wajah damai Kyuhyun. Kami masih dalam posisi berpelukan namun sekarang dalam posisi berbaring. Ini pertama kalinya aku melihatnya sedekat ini. Meskipun dengan pencahayaan minim aku masih bisa melihat detail wajahnya. Sebenarnya dia anak yang tampan tapi sikapnya yang menyebalkan membuatku tidak bisa melihatnya dengan cara seperti itu. Tapi berbeda dengan sekarang, aku begitu dekat dengannya. Bohong jika dia tidak mempengaruhiku. Astaga Apa yang kau pikirkan Park Hyura? Dia itu muridmu!

Aku bergerak perlahan saat tiba-tiba Kyuhyun membuka suaranya “sudah cukup memandangi wajahku?” katanya serak.

“K..kau sudah bangun?” tanyaku terkejut. Aku terbangun cepat melepas pelukannya. Dia terkekeh “Menikmati pemandanganmu Hyura ssi?”

“ja..jam berapa sekarang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Dia ikut terduduk sambil mereganggakn tubuhnya. Aku yakin dia sama pegalnya denganku. “Hampir tengah malam” sahutnya menguap

“Apa? Tengah malam?” jeritku

“Aisshh” dia mengusap telinganya “Apa perlu berteriak?” omelnya

“Ya ampun kita bahkan melewatakan makan siang dan makan malam”

Dia mendengus “Ya kau membuatku kelaparan setengah mati”

Aku nyengir “Mianhe. Akan kusiapkan sesuatu” aku ke dapur membongar belanjaan yang kami beli tadi. Aku membuat ramen instan jumbo untuk kami berdua. Sedangkan Kyuhyun mengambil sesuatu dari tasnya. Sepertinya buku karena Dia menulis-nulis diatasnya.

“Apa yang kau kerjakan?”

“mereview film tadi. Kau bisa mengoreksinya nanti” sahutnya tanpa melihatku, dia terlihat sangat serius. Aku tidak ingin mengganggunya dan kembali ke dapur. Kami hampir selesai bersamaan. Dia meletakkan bukunya saat aku memotong sayuran untuk di letakkan diatas ramen.

Dia menghampiri “Kau tidak bisa memasak?”

“Bukan tidak bisa tapi memasak Terlalu memakan banyak waktu” aku memberikan jatah makanannya. Dia duduk di kursi tinggi berhadapan denganku.

“Memangnya kau sesibuk itu?”

“Aku lebih sibuk dari yang kau bayangkan” aku menyeruput ramenku.

Dia berdecak lalu turun dari kursi mengambil kertas dan menyodorkannya padaku “periksa ini”

Aku menghentikan makanku lalu melirik sekilas ke arah kertas. Kalimat pembukanya membuatku sangat tertarik.

Untuk si penakut darah dan hantu

Aku mengernyit, melirik ke arah Kyuhyun. Tapi dia tidak melihatku dan fokus pada makanannya. Aku membaca seluruhnya tulisannya. Aku benar-benar terkesan dengan kemampuannya. Cara penulisannya dan tata bahasanya rapi. Mungkin ada beberapa penggunaan kata yang tidak tepat tapi bukan kesalahan fatal. Tapi…. bukankah ini aneh?

“Kakakmu hanya ingin kau bisa menulis essay bukan? Kurasa dengan kemampuanmu kau bisa menulisnya tanpa jam tambahan denganku”

“Benarkah? Berarti metode kita berhasil bukan?” katanya pura-pura terkejut. Aku menyipitkan mataku curiga.

“Kau hanya berpura-pura kan?”

“Berpura-pura apa?” tanyanya polos

“Dengan kemampuan seperti ini seharusnya nilai bahasa inggris mu tidak akan jelek. Tapi kau bahkan tidak pernah mencapai nilai rata-rata. Apa kau mempermainkanku?”

Kyuhyun mendongak tapi matanya tidak menatapku melainkan figura foto kecil di meja bar tidak jauh dari kami. Itu fotoku dengan Chanyeol. “Apa dia pacarmu?” tanyanya dengan nada menuduh. Aku melirik foto itu sekilas namun kembali menatap wajahnya serius.

“Ya Cho Kyuhyun!! jangan mengalihkan pembicaraan”

“Apa dia tidak terlalu muda untukmu? apa kau ini seorang pedhofillia!!” Nadanya terdengar marah, ya ampun siapa yang seharusnya marah sekarang.

“Itu sama sekali bukan urusanmu” desisku. Aku bangkit lalu menjauh. Selera makanku benar-benar hilang sekarang.

“Oh Ya? Tentu saja itu urusanku, aku tidak membutuhkan tutor yang memiliki kelainan orientasi seksual”

Aku berhenti lalu berbalik perlahan menatapnya tidak percaya. Dia masih duduk di kursi tinggi menghadapku sambil bersedakap dan bersandar pada meja bar di belakangnya. Matanya menyalang marah padaku.

Bagaimana mungkin dia mengatakan hal sekasar itu. Mulutku terbuka karena terkejut dengan ucapan barusan. Pedhofilia? Yang benar saja. Memangnya aku gila!. Oh Tentu saja karena aku melupakan kenyataan bahwa dia adalah Cho Kyuhyun. anak laki-laki paling brengsek, yang lebih menjijikan daripada kecoa busuk.

Aku menatapnya sengit “bagus kalau kau tidak membutuhkanku. Kau bisa pergi sekarang!”

Tanpa berbicara dia turun dengan kasar dari kursi, melewatiku menuju pintu, membuka dan menutupnya dengan kasar. Aku memejamkan mata sambil mendesah panjang. Aku tidak ingin ambil pusing dengan memikirkan perengkaran kami. Yang jelas besok aku harus berbicara pada Cho Ahra mengenai kemampuan akademik Kyuhyun. Mungkin aku akan kehilangan pekerjaan tapi kurasa itu lebih baik. Bergaul dengan bocah itu membuatku lebih tua sepuluh tahun setiap harinya.

***

Uang bukan masalah, uang bukan masalah, uang bukan masalah, uang bukan masalah. Uang bukan masalah.

Memejamkan mata sambil mengerang tertahan. Ughh…Ayolah apa nya yang bukan masalah? Itu jelas masalah besar. Uang sekolah Chanyeol, sewa apartment, kebutuhanku dan kebutuhan Chanyeol. Aku harus memikirkannya setiap hari darimana aku harus mendapatkannya. Satu-satunya pemasukanku hanya dari Cho Ahra. Dan sekarang Aku harus rela melepaskannya.

Pertama kali aku berada di kantor besar, elegan dan mewah. Salah satu gedung tinggi di pusat ibukota. Wah, suatu hari aku harus bekerja di perusahaan seperti ini.

Menuju Reception, lalu mengatakan tujuanku. Kakak Kyuhyun begitu sibuk hingga aku harus menemuinya di tempat kerja.

“Maaf menyuruhmu jauh-jauh datang kesini” Sambut Ahra saat aku masuk ke kantornya. “Silahkan duduk Hyura ssi”

Aku duduk di kursi yang berada di tengah ruangan, dia menghampiriku dan mengambil kursi yang lain.

“Mau minum?” tawarnya

Aku menggeleng sopan “Tidak, tidak terima kasih”

“Baiklah. Langsung saja, Jadi bagaimana dengan Kyuhyun?”

Aku mengeluarkan kertas hasil kerja Kyuhyun semalam dari tasku lalu memberikan padanya. Dia menerima lalu menatapku penuh Tanya.

“Itu hasil pekerjaan Kyuhyun. Dia—cukup bagus. Kurasa dia bisa lulus tes perguruan tinggi di luar negri tanpa bantuanku”

“Benarkah?” Tanyanya agak ragu lalu menunduk membacanya dengan serius kertas yang dipegangnya, Setelah beberapa menit dia meletakkannya kembali ke meja rendah di depan kami lalu tersenyum padaku.

Dia mengangguk-ngangguk sebelum melihatku lagi “Kerja bagus Park Hyura ssi”

“Tapi itu bukan hasil kerjaku”

Ahra mengangkat sebelah alisnya

“Sebenarnya aku tidak pernah mengajar Kyuhyun. Itu kemampuan alaminya. Kyuhyun anak yang cukup pintar, meskipun aku tidak tau alasan apa yang membuat nilainya tidak pernah mencapai rata-rata. Maaf aku harus mengatakan ini, tapi sepertinya kau harus lebih sering menghabiskan waktumu untuknya” kataku.

Ahra mendesah pelan “Jadi begitu.” Dia mengambil jeda sebelum melanjutkan “Sejujurnya aku tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menghadapi Kyuhyun. Di depanku Dia menjadi anak yang penurut dan pendiam, dia tidak pernah mengeluh ataupun bercerita tentang apa atau bagaimana perasaannya mengenai rencana masa depan yang telah kurancang untuknya. Hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Kyuhyun, aku…… Oh ya ampun aku jadi melantur” Ahra tertawa Canggung.

Aku tersenyum “Tidak apa-apa aku mengerti, aku juga memiliki adik laki-laki. Kau benar, aku juga ingin memberikan yang terbaik untuknya.

“Wah, kau juga punya Adik laki-laki?”

Aku mengangguk “Eoh, dia dua tahun lebih muda dari Kyuhyun”

“Aku tidak terkejut kau bisa menangani Kyuhyun dengan baik”

“Aniyo, Aku tidak seperti itu”

Ahra tersenyum “Jangan terlalu merendah Hyura ssi” Dia merogoh saku blazerny dan mengeluarkan amplop lalu menyodorkannya padaku “Ini Intensif yang kujanjikan, kuharap sesuai”

Aku menerima dan mengintipnya sedikit. Alih-alih membuka lalu menghitungnya, aku kembali menunduk rendah dan mengguman terima kasih.

“Kuharap kau masih bisa mengajar Kyuhyun” katanya penuh harap.

“Maaf, sepertinya aku tidak bisa” kataku dengan nada menyesal palsu, aku sama sekali tidak mneyesal.

“Kenapa? Aku bisa menambahkan gajimu”

“Bukan itu, aku…hmm…uh aku sibuk. Kuliahku sangat padat dan aku takut tidak bisa membagi waktu”

“Tiga kali lipat? Ani Lima kali lipat. Aku akan memberikan mu lima kali lipat”

“Ne?”

“Hanya tinggal dua bulan lagi Hyura ssi, aku akan memberikan lima kali lipat. Itu untuk kompensasi waktu yang kau berikan pada adikku”

Otakku sibuk menghitung bayaran lima kali lipat setiap bulan, dan selama dua bulan aku bisa melunasi uang sewa, uang sekolah Chanyeol, dan mungkin sedikit membantu uang kuliahku. Hanya dua bulan bukan? Baiklah menahan diri untuk dua bulan kurasa setimpal dengan bayarannya.

“Bagaimana?”

“Lima kali lipat?” ulangku

“Aku bisa menambahkan bonus jika Kyuhyun sudah masuk ke Universitas”

Aku mengangguk “Call”

Call” Dia mengulurkan tangan dan aku menyambutnya.

***

Baiklah, hanya dua bulan Park Hyura. Kau bisa bersantai sejenak dan focus pada kuliah. Fighting.

Setelah Menekan bel dua kali, ahjumah membukakan pintu untukku.

“Kyuhyun sudah pulang?”

“Tuan muda Belum pulang, Nyonya juga belum” sahutnya

Melirik jam, sudah hampir jam delapan malam tapi dia belum pulang. Apa mungkin ikut pelajaran tambahan?

“Baiklah, aku akan menunggu di kamar Kyuhyun”

“Mau kubuatkan minum?”

“Hmmm….Apa ada makanan?”

“Tentu, aku membuatkan makan malam untuk tuan muda”

“Boleh Minta satu mangkuk? Aku belum makan” kataku sambil nyengir

Ahjumah tersenyum “Akan ku siapkan” dengan itu dia berjalan ke arah dapur. Dan aku masuk ke kamar Kyuhyun. Kamarnya selalu rapi dan bersih, Bocah tengik itu beruntung memiliki Ahjumah yang telaten mengurusnya. Mengeluarkan buku pelajaran dari rak Buku Kyuhyun, dan mengeluarkan milikku yang sengaja kutinggal disini. Menyusunnya di meja belajar, setidaknya aku sudah siap saat Kyuhyun pulang. Pintu di ketuk dan Ahjumah masuk membawa senampan makanan.

Aku tersenyum dan mengambil nampan darinya “Maaf merepotkan”

Dia membalas senyumku “Tentu saja tidak, aku senang ada yang memakan masakanku. Silahkan dinikmati”

“Ne Gomawo” Ahjumah menutup pintu dan pergi. Ini adalah keuntungan lain dari mengajar Kyuhyun. Aku sering makan gratis disini. hitung-hitung mengirit biaya hidupku setiap bulan. Aku tidak malu untuk meminta toh mereka memahami kondisiku yang kesulitan.

Setelah makan aku membawa sisa piring kotor ke dapur dan mencucinya. Ahjumah tidak ada, mungkin dia sedang istirahat. Aku kembali melirik jam dan ini sudah hampir jam sepuluh malam tapi Kyuhyun belum pulang. Mengeluarkan ponsel aku menghubunginya. Aisshhh Anak kurang ajar itu sengaja tidak menjawab telponku dan mengalihkannya ke pesan suara.

Mendesah kasar aku menarik kursi di meja makan dan menududuknya sebelum menekan nomor lain.

“Noona!!” Sahutnya dalam dering pertama

“Ya! Kenapa harus berteriak”

Dia terkekeh “Belakangan ini kau sangat sibuk. Apa kau sudah punya pacar dan melupakanku?”

“Ya! Jangan menebak-nebak. Tagihan telepon bulan kemarin cukup mahal jadi aku tidak sering menelponmu. Kau juga jangan lupa aku yang membayar tagihanmu jadi hematlah sedikit”

“Arasseo arasseo. Kau selalu mengatakan hal yang sama. Kau tidak tau seberapa hemat aku disini. Setiap akhir pekan aku tidak pernah pergi keluar dengan teman-temanku. Aku tidak ingin menghabiskan uang yang kau hasilkan”

“Kenapa kau begitu? aku tidak bisa sering mengunjungimu. Pergilah sekali-kali dengan temanmu. Jangan pikirkan saol uang, itu urusanku”

“Noona, tidak bisakah aku tinggal denganmu saja? Aku bisa bekerja paruh waktu, aku…..”

“Dengar! Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Kau akan tinggal denganku setelah kau lulus dari sana dengan nilai memuaskan. Dan jangan pernah berpikir untuk bekerja! Arasseo!”

“Ne, Arraseo” katanya lesu.

“Bagus”

“Kapan kau libur? Apa kau tidak bisa datang dan mengunjungiku? Kita tidak pernah bertemu sejak……. Pemakaman” kepahitan terdengar jelas di suaranya.

Aku menelan gumpalan di tenggorokanku dan memaksa tersenyum “Aku tau. Maaf aku terlalu sibuk. Aku janji akan meluangkan waktu dan kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Kita berdua. Tunggulah sebentar lagi Eoh”

“Noona” panggilnya lembut

“Hmm?”

“Kau tau kan, aku sangat mencintaimu. Kau satu-satunya keluarga yang kumiliki”

“Tentu aku tau. Kau juga satu-satunya yang kumiliki. nado saranghae”

Terdengar kecupan di ujung telepon, aku terkekeh “Jangan bilang kau mencoba menciumku”

Suara renyah dari tawanya membuatku yakin dia memang melakukannya “Anggap saja kecupan sebelum tidur”

“Arasseo, tidurlah” aku balas membuat suara kecupan. Dia tertawa sebelum mengucapkan selamat tidur dan menutup sambungan kami. Aku masih tersenyum saat menjauhkan ponsel dari telingaku dan melihat foto kami berdua di layar ponselku. Chanyeol benar, tinggal kami berdua dan kami harus menjaga satu sama lain.

“Apa itu tidak terdengar menjijikan?”

Aku tersentak dan berbalik. Kyuhyun berdiri tidak jauh dariku sambil menatapku jijik, seolah aku ini mengidap penyakit menular. Kenapa Dia?

“Kenapa baru pulang? Aku menunggumu sejak tadi”

“Apa kau baru melakukan telepon sex?”

Mulutku terbuka menatapnya tidak percaya. Adakah yang bisa mengulanginya untukku? Apa barusan dia mengatakan ‘telepon sex’? Oh Ya ampun.

“Apa kau sudah gila?” tanyaku

“Kau yang gila!” katanya setengah berteriak.

“Ya! Kau ini kenapa sih? Tiba-tiba datang dan marah-marah lalu menuduhku yang aneh-aneh. Apa kau mabuk? Kau belum cukup umur, berani-beraninya kau mabuk!”

“Jangan Sok mengurusiku! Kau pikir kau siapa?”

“Oh Ya Tuhan, memangnya siapa yang meringkuk di kantor polisi dan malah memanggilku”

Rahangnya mengerat seolah siap untuk memukul sesuatu. Tidak mungkin Dia memukulku kan? Bisa di pastikan aku langsung pingsan dan akan bangun setelah berhari-hari

“Jangan pernah datang lagi kesini! Aku tidak mau melihatmu!” dia berbalik cepat dan masuk ke kamarnya bersamaan dia membanting pintu.

“YA! Cho Kyuhyun!…..Bocah Tengik! Berani sekali kau mengusirku……” balasku beteriak dan menyusul ke kamarnya. Dia menoleh cepat menatapku marah saat aku membuka dan menutup pintu. Tangannya berada di atas kancing seragam sekolahnya yang sudah terbuka setengah. Memperlihatkan sebagian dada putihnya. Aku menggeleng keras. Apa yang kau pikirkan. Fokus Park Hyura! Fokus!

“Ya! Kau pikir aku senang datang kesini dan mengajarimu. Kau bocah sombong yang berlagak. Jika bukan karena kakakmu aku juga tidak mau…. Bukan, aku bahkan tidak sudi” kataku emosi. Aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu, tapi dia berteriak dan marah-marah padaku tanpa alasan membuatku kesal dan aku tidak bisa menahannya.

“Tidakkah kau terdengar munafik? Jelas kau disini karena uang bukan Kakakku. Bagimu, Tidak ada yang lebih berharga dari uang! Katakan jika aku salah”

Aku tersentak, ucapan cukup tepat menusuk sesuatu di dadaku, aku memang butuh uang, tapi itu semua demi adikku dan hidupku. Dia mengatakan seolah aku wanita mata duitan.

Aku menarik salah satu sudut bibirku “Kau benar, aku sangat menyukai uang. Dan kakakmu mu memberikanku uang yang cukup banyak. Aku tinggal datang, berpura-pura mengajarimu. Dan selesai. Aku hanya perlu bertahan sampai kau lulus. Dan setelah itu aku akan mendapatkan uang lagi yang lebih banyak”

Mendengarku dia terlihat semakin kesal, berjalan cepat ke arahku sebelum aku bisa mundur dia mencengkram lenganku dan menarikku ke arahnya hingga tubuh kami saling menbentur. Nafas Kyuhyun memburu di wajahku

“Uang bukan? Aku bisa memberimu lebih banyak asal kau mau memberiku lebih banyak juga” katanya dengan nada dan tatapan menghina.

Dahiku berkerut “Apa maksudmu?”

Tatapannya turun ke bibirku lalu ke dadaku. Seakan mengerti aku mendorong dadanya sekuat tenaga hingga tangannya terlepas dari lenganku. Berani sekali dia.

Dia tersenyum sinis “Kenapa? Kau takut aku tidak bisa membayarmu karena aku belum cukup umur?”

“Tutup mulutmu” kataku tertahan.

“Apa Kau mendapat bayaran dari telepon sex barusan?” kata-katanya benar-benar merendahkanku. Aku tidak pernah dihina hingga seperti ini. Menarik nafas panjang dan mengerjapkan mataku yang hampir menangis.

“Kurasa Kau memang mabuk. Hari ini cukup sampai disini, besok aku akan datang lagi dan semoga kau cukup sadar untuk memulai pelajaran” aku melewatinya mengambil tasku yang masih di meja belajar.

“Sudah kubilang jangan datang lagi. Aku tidak ingin melihatmu” katanya tanpa melihatku.

Aku mengigit bibir bawahku, brengsek sepertinya aku benar-benar akan menangis. Berusaha mengendalikan suaraku sebelum berbicara “Aku sudah berjanji pada Cho Ahra akan mentutormu sampai kau lulus”

Dia berbalik menatapku “Berapa yang kau butuhkan?”

“Apa?”

“Berapa yang kau butuhkan sialan! Agar kau menghilang dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!”

Aku balas menatapnya “Boleh ku tau, kenapa kau tiba-tiba sangat membenciku?”

“Aku membencimu sejak kau datang kesini”

“Kenapa kau tidak mengatakannya pada Kakakmu, dengan Begitu Dia tidak akan mempekerjakan aku lagi”

Dia mengeluarkan Ponsel dan menekan salah satu tombol baru menempelkannya di telinga, saat melakukannya Mata Kyuhyun tidak pernah meninggalkanku.

“Noona, ini aku. Aku tidak ingin Park Hyura menjadi tutorku lagi. dan beri dia uang pesangon” tanpa menunggu jawaban di mematikan sambungan, “Puas? Sekarang kau bisa pergi”

Aku menatapnya tidak percaya. Apa kesalahanku sampai-sampai dia memperlakukanku seperti ini. Menelan ludah kasar aku mengangguk kaku. Berbalik ke arah rak buku, aku mengambil beberapa buku milikku. Mataku berkabut hingga aku kesulitan menemukannya. Di mana sih buku-buku sialan itu!

Merasakan panas tubuh Kyuhyun di belakangku, tangannya terangkat dan mengambil salah satu bukuku dari rak paling atas. Aku tidak ingat pernah meletakkannya di sana, mengingat ukuran tubuhku yang tidak bisa menjangkaunya.

“Ini” dia menyodorkannya padaku.

Aku menggumam terima kasih sebelum memasukkannya ke dalam tas dan pergi dari sana. Sepanjang jalan pulang aku menangis. Seingatku Aku tidak pernah menangis sebanyak ini selain waktu kematian kedua orang tuaku.

***

One Month Later

Berbelanja beberapa bahan makanan untuk kubawa besok mengunjungi Chanyeol. Aku baru mendapat bayaran dari hasil terjemahan yang kukerjakan. Meskipun tidak sering mendapatkan pekerjaan ini tapi bayarannya cukup untuk menyambung hidup dan membayar tagihan-tagihanku.

Sejak kejadian malam itu, Aku tidak pernah bertemu lagi dengan salah satu Dari anggota keluarga Cho. Dan Aku berharap tidak pernah sama sekali. Beberapa kali Cho Ahra menghubungiku tapi aku tidak pernah menjawabnya hingga Dia berhenti.

“Kau tidak melupakan janji kita kan?” Chanyeol menelponku saat aku baru masuk ke gedung apartemen,

“Tentu, aku sudah berbelanja. Akan kumasakkan masakan kesukaanmu”

“Wah, kedengarannya menyenangkan. Kau tidak tau seberapa muak aku dengan makanan disini”

Aku terkekeh, menempelkan telinga di atas bahu saat menekan tombol lift. Pitu lift terbuka, aku masuk kedalam “Tapi kau jangan terlalu berharap banyak padaku. Masakanku tidak seenak Eomma”

“Aku bisa memakannya, setidaknya kau dulu pernah belajar dengan Eomma”

“Baguslah, besok pagi-pagi sekali aku akan kesana naik Bis”

“Noona…hhhmmm Apa aku….. tidak bisa…..Apa boleh aku yang pergi kesana”

Pintu lift terbuka saat tiba di lantaiku, aku melangkah keluar lalu berhenti. “Kenapa?”

“Aku Tidak pernah keluar atau kemana pun sejak kembali kesini. Dulu setiap akhir pekan Appa selalu menjemputku dan kita menghabiskan akhir pekan bersama. Jika itu menyulitkanmu, aku berjanji tidak akan menginap dan kembali ke asrama”

Aku begitu buruk saat mendengarnya, berbulan-bulan dia terkurung di sana. Tanpa keluarga dan aku hanya sibuk dengan diriku sendiri “Chanyeol-ah, maafkan aku karena tidak begitu perhatian”

“Aniya, aku tau kau sibuk dan kau punya kesulitan sendiri” sahutnya lembut. Detik itu juga rasanya aku ingin memeluknya.

“Datanglah, kita akan pergi kemanapun kau suka. Kau boleh menginap selama akhir pekan”

“Benarkah? Kau mau mengajakku keliling kota?” tanyanya antusias

Aku tersenyum lalu melanjutkan langkahku “Tentu”

“Aku belum mengunjungi banyak tempat di Seoul, kau harus mengajakku….” Suara Chanyeol tidak lagi terdengar saat Kulihat orang yang tidak asing berdiri di depan pintu apartemenku. Kyuhyun masih mengenakan seragam sekolah dengan tas di salah satu bahunya. Dia menoleh melihatku saat mendengar suara langkah. Kami saling menatap dan berdiri setidaknya tiga meter.

“kutelpon lagi nanti” tanpa menunggu jawaban aku menutup ponselku dan memasukkannya ke dalam saku.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku dingin sambil berjalan menuju pintu, dia menggeser badannya memberikanku aksses.

“Aku perlu bantuanmu” sahutnya.

Membuka pintu, aku melirik melalui bahu sekilas. Bertemu Kyuhyun lagi bukanlah suatu yang kuharapkan setelah Dia mengeluarkan kata-kata tajamnya dan menuduhku yang tidak-tidak. Aku bahkan tidak ingin mengingatnya. Tapi melihat Dia berdiri di depan pintu apartemenku, jujur saja aku penasaran apa yang Dia perlukan.

“Masuklah” gumamku pelan. Dia menutup pintu di belakangnya dan masuk mengikutiku. Aku langsung menuju ke lemari es dan memasukkan belanjaanku, Rencana ku berubah sepenuhnya karena besok Chanyeol akan datang. Aku melihat Kyuhyun duduk di satu-satunya sofa yang kumiliki dengan tidak nyaman.

“Mau minum?” Tawarku basa-basi.

Dia menggeleng “Tidak perlu”

Bagus, aku juga tidak ingin menyediakan apapun untuknya. Berjalan ke arah lemari aku mengeluarkan sprei baru, dan beberapa sarung bantal baru. Aku ingin Apratemenku bersih saat besok Chanyeol datang. Mata Kyuhyun mengikuti semua gerakanku.

“Jadi, apa yang Kau butuhkan?” tanyaku sambil melepas dan memasang sprei baru.

“Aku ingin kau memeriksa essay yang sudah kubuat, aku akan mengirimkannya ke Dartmouth”

Tanganku berhenti, menoleh ke arahnya. “Dartmouth? Itukan tujuanmu?”

Dia mengangguk.

Well, bohong jika kubilang aku tidak bangga padanya. Dia memutuskan masuk salah satu Ivy League. Dan sangat luar biasa jika Dia di terima disana. Jadi kuputuskan untuk membantunya. Aku berdiri tidak jauh dari tempat Kyuhyun duduk lalu mengulurkan tangan.

Dia membuka tas dan menyodorkanku map plastic. Menerima dan membukanya, membaca sekilas. Tulisannya…. Menarik. Mengambil tempat duduk di sampingnya kemudian menekuninya. Setelah menghabiskan satu lembar aku bangun mencari pinsil dan kamus kebanggaanku. Mencoret kata yang kurang sepadan lalu mencarinya di kamus dan menggantinya.

“Kau harus menggunakan kata ini untuk lebih mengungkapkan maksudmu” kataku tanpa melihatnya

“Eoh Arraseo” dia bergumam di telingaku. Aku meliriknya sekilas, Wajah Kyuhyun menunduk begitu dekat dengan sisi wajahku. Aku memerlukan usaha lebih keras untuk kembali memfokuskan pikiranku pada essay miliknya ketimbang deru nafasnya yang sesekali menyapu telingaku.

Memasuki lembar ketiga kepalaku serasa berputar saat bau tubuh Kyuhyun semakin menempel padaku. Dia semakin dekat dan lenganku menempel pada tubuhnya. Aku berdehem lalu menggeser tubuhku menjauh, menoleh ke arahnya.

“Bagus”

Dahinya berkerut tidak setuju “Hanya itu?”

“Kau bisa mengirimkannya” tanpa menoleh aku mengembalikan essay miliknya dan kembali pada pekerjaanku. Mengambil sprei kotor dan menggulung ke keranjang. Bukan aku tidak mau membantu, tapi spertinya berdekatan dangan bocah ini berakibat tidak baik untukku. Di tambah lagi aku belum melupakan malam dimana dia bersikap sangat kurang ajar padaku.

“Apa ini karena uang?”

Gerakanku terhenti,

“Aku tidak meminta bantuanmu dengan gratis, aku akan membayarnya” Nada sombong yang keluar dari mulutnya membuatku ingin muntah. Memejamkan mata sesaat berusaha mengendalikan diriku agar tidak terpancing, ini rumahku, aku yang berkuasa, aku yang mengatur. Dia tidak bisa bersikap seenak jidatnya disini

Berbalik ke arahnya, melihatnya datar “Bawa uang sialanmu dan pergi dari sini. Jangan pernah datang lagi, aku tidak mau melihatmu”

Dia tersentak dengan ucapanku.

“Kenapa? Terkejut? Hanya sedikit mengingatkan, kau mengucapkan hal yang sama saat aku di rumahmu. Bagaimana perasaanmu saat orang lain mengatakan hal itu?” aku mendengus “Aku bahkan menangis semalaman” gerutuku pelan, tapi dengan ruangan sekecil ini dan jarang yang tidak terlalu jauh dia pasti mendengarnya.

Ekspresinya bahkan lebih terkejut di banding sebelumnya.

“K..kau….Kau menangis?” tanyanya tidak percaya

“Kenapa begitu kaget, aku ini wanita yang berhati lembut, wajar kalau aku menangis”

Dia tertunduk dan ekspresinya menyesal tergambar di wajahnya. Kenapa dia berwajah seperti itu? Aku tidak suka melihatnya, lebih baik dia tetap bersikap layaknya remaja brengsek. Dengan begitu aku lebih mudah menghadapinya.

“Aku minta maaf” bisiknya pelan. “aku tidak bermaksud….aku hanya…..” dia mendengus lalu mengacak rambutnya “Aku minta maaf” katanya lagi cepat.

“Walaupun sudah lebih dari satu bulan, Setidaknya kau merasa menyesal. Dan berhubung aku orang yang baik hati. Aku memaafkanmu”

Dia mengangkat wajahnya melihatku, Ekspresinya tidak berubah. Kenapa? Padahal aku sudah memaafkannya.

“Ada lagi yang kau butuhkan?” tanyaku akhrinya

Dia menggeleng lemah. Membereskan kertas dan map lalu memasukkannya ke dalam tas. Melihatku sekilas sebelum menyampirkan tasnya ke bahu Dia berdiri.

“Tunggu” Kataku.

Dia berbalik menatapku kosong.

“Kau langsung pulang atau mampir ke tempat lain?”

Dia hanya mengangkat bahu.

“Makan malam lah disini, anggap saja aku mentraktirmu”

Dia diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

Aku tersenyum simpul “Tunggu disini, aku harus ke atas mencuci ini dulu. Apa kau sudah lapar?”

“Tidak, aku tidak apa-apa” dia menjatuhkan lagi tasnya ke sofa.

Bagus kalau begitu. Berbalik cepat, memasukan semua yang akan kucuci ke dalam keranjang. Dan pergi ke lantai atas, memasukakn cucianku ke dalam mesin cuci sebelum kembali ke Unitku.

Kyuhyun duduk di meja bar saat aku kembali. Dia sedang mengerjakan sesuatu sambil membawa kamusku.

“Apa yang kau kerjakan?” tanyaku sambil mengeluarkan vacuum cleaner.

Dia melihatku “memperbaiki essayku. Apa yang kau lakukan?”

“Apa kau tidak lihat aku sedang bersih-bersih. Menyalakan mesin vacuum dan mulai membersihkan lantai. Kudengar Kyuhyun menggerutu Karena berisiknya mesin vacum milikku.

Setelah selesai, aku kembali kelantai atas mengurusi cucianku dan kembali secepat yang kubisa untuk memasak makan malam. Kyuhyun masih betah di meja bar menungguku. Aku terlihat seperti mengurusi dua adik laki-laki. Yang satu harus kuawasi saat belajar dan yang lain harus ku hibur saat liburan. Aigoo~ Park Hyura kenapa kau harus sangat baik hati.

Mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas lalu meletakkannya di meja bar di sebrang Kyuhyun, dia tidak merasa terganggu malah justru terlihat nyaman.

“Tadi kakakku menelpon” kata Kyuhyun tiba-tiba.

“Benarkah? Apa katanya?” tanyaku sambil menggunting kimchi

“Aku meminta ijin untuk menginap disini”

Mendongak, melihatnya tidak setuju “YA! Apa kau sudah mendapat ijin dariku?”

“Kenapa, kau keberatan?”

“Tentu saja, Kau kira ini rumahmu?”

“Baiklah Park Hyura ssi, apa Aku boleh menginap disini? karena aku membutuhkan seorang tutor, aku janji akan menurut dan bersikap baik” katanya dengan senyum ramah yang dibuat-buat.

Mataku menyipit “Apa kau tidak bisa memanggilku dengan benar?”

“Dari sekian banyak yang kukatakan hanya itu yang kau tangkap? Soal panggilan?” Dia menggeleng pelan. “apa kita masih harus membahas hal itu?”

“Arasseo arasseo, untuk malam ini kau boleh menginap tapi besok pagi kau harus pergi. Aku memiliki tamu besok” kataku dan melanjutkan kegiatanku.

Dahinya berkerut “Tamu? Siapa? Temanmu?”

“Bukan”

Dia tidak bertanya lagi dan melanjutkan pekerjaannya begitu pun denganku. Sesekali aku meliriknya sekilas, dia terlihat sangat serius. Meskipun kediaman ini sedikit tidak nyaman tapi aku tidak ingin mengganggunya. Jadi aku lebih focus pada masakanku. Dan benar saja hingga tiga puluh menit kemudian Tidak ada yang membuka suara sampai masakanku matang.

“Kyu, Kita makan dulu”

“Aku tidak lapar” sahutnya tanpa melihatku

Aku menatapnya bingung, Apa kalian pernah dengar setelah makan dan kekenyangan maka fungsi otak akan menurun dan sulit untuk berpikir. Mungkin dia perlu berkonsetrasi lebih. Jadi aku membiarkannya.

“Baiklah, nanti akan kuhangatkan saat kau lapar. Ada yang perlu kubantu?”

“Tidak”

Aku mengangkat bahu dan menjauh. membereskan buku-buku ku dan menumpuknya dekat tv. Lalu sebagian ku masukkan ke laci terbawah, mataku menangkap sesuatu dia dalam laci yang memang jarang kubuka.. tumpukan film yang dulu sempat di beli Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, apa yang harus kita lakukan dengan ini?” aku menunjukkan beberapa tumpuk kotak DVD yang mulai berdebu. Dia menoleh lalu senyum samar tersungging di bibirnya.

“Kau masih menyimpannya”

“Bukankah sayang untuk di buang”

Alisnya terangkat satu “Marathon Film?”

Aku menggeleng ngeri “Kau saja, besok aku sibuk” tentu aku tidak mau membuang energiku untuk begadang dan nonton film. Sedangkan besok aku harus menghabiskan waktuku dengan Chanyeol.

Dia Cemberut “Untuk apa aku nonton sendirian” gerutunya

“Baiklah setelah kau selesai kita bisa makan dan menonton satu atau dua film, bagaimana?”

Dia mengangguk sambil menyeringai “Call

“Bagus, sekarang selesaikan pekerjaanmu. Nanti kuperiksa”

“Aku sudah selesai, sekarang aku kelaparan”

Dahiku mengernyit, “secepat itu?”

Dia mengangkat bahu lalu menyodorkan kertas padaku. Aku mendekat dan mengambilnya. Aku baru mau membaca saat dia buka suara

“Bisakah memeriksanya nanti? Aku kelaparan”

Aisshhh bocah ini, banyak sekali maunya. Aku menggeleng pelan lalu menyendokkan nasi untuknya, mengecek makanan yang belum dingin. Seperti tidak perlu kuhangatkan dan langsung ku sajikan di meja. Tanpa bicara lagi Kyuhyun menyantapnya dengan lahap. Aku tersenyum dan mulai memakan masakanku.

Kami makan dalam diam yang nyaman, Kyuhyun selesai lebih dulu. Dia membereskan makanannya dan mencuci piring kotor. Meskipun kukatakan untuk tidak perlu melakukannya tapi dia bersikeras, dengan alasan aku kelihatan lelah karena sejak tadi aku terus bekerja. Padahal aku yakin aku baik-baik saja.

“Kau mau memilih film?” tawarnya

“Hmmm aku tidak yakin” sahutku jujur. Dia terkekeh.

“Baiklah aku yang memilih. Aku janji kali ini tidak ada Darah dan hantu” dia membuka laci tempat aku menyimpan film dan mengeluarkan semuanya kemudian memilih-milih.

“Apa kita perlu popcorn?”

Dia menggeleng “Aku sudah cukup kenyang”

“Apa aku perlu mematikan lampunya?”

Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum simpul “Duduklah yang nyaman Park Hyura”

Aku memutar mata, lagi-lagi dia memanggilku dengan tidak benar. Menurutinya aku duduk di sofa, sementara Kyuhyun masih memilih film, setelah beberapa menit memilih dia memutar player.

Mematikan lampu sebelum mengambil duduk di sisiku.

“Kenapa lampunya di matikan? Apa film horror lagi?”

“Stttt tonton saja”

Aku melirik kearah Kyuhyun sekilas, matanya focus ke layar Tv. Entah kebiasaan atau apa, dia selalu meletakkan tangannya di punggung sofa. Meskipun jarak kami cukup jauh untuk ukuran sofaku yang kecil, namun aku yakin tangannya yang panjang bisa mencapai bahuku. Ya Ampun apa yang aku pikirkan? Apa kau berharap Dia melingkarkan tangannya lagi di bahuku? Sadarlah Park Hyura.

Mengambil nafas dalam, aku memusatkan pikiranku ke arah Tv.

“Anggelina Jolie?” tebakku saat pemeran wanitanya muncul menggunakan gaun ala inggris jaman dulu.

“Eoh”

Sepertinya ini film yang cukup bagus, mengingat siapa yang memerankannya. Jadi kuputuskan untuk menontonya. Namun tidak lama kurasakan tangan Kyuhyun benar-benar di bahuku. Aku memejamkan mata saat tangannya mulai meremas-remas lembut bahuku. Tuhan, aku bersumpah tidak mengharapkan ini. Tapi sentuhannya begitu menyenangkan. Aku menyalahkan karena kesendirianku yang begitu lama. Setelah kematian orang tuaku, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan pria manapun. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya aku bisa membiayai diriku dan adikku.

Mengalihkan perhatianku ke tv pun tidak membantu, pasalnya terlalu banyak adegan ciuman yang dilakukan pemeran utamanya. Jelas ini adalah film drama romantis. Bulukudukku berdiri saat adagen malam pertama mereka di ranjang. Bahkan payudara si wanita terlihat jelas. Aku melirik Kyuhyun sekilas dan wajahnya tidak terlalu jauh dariku. Sejak kapan kami sedekat ini?

Berdehem keras “Kyu, Aku…”

“Ssttt Diamlah” potongnya.

Penyiksaan terus berlanjut, Padahal masih di awal film tapi memang ini bercerita mengenai sepasang suami istri yang baru menikah, di tambah lagi si suami begitu mencintai istrinya, jadi wajar mereka sering melakukan hubungan intim.

Aku mendesah dan tanpa sadar tubuhku menggeliat di bawah saat tangan Kyuhyun merambat naik dari bahu ke leherku. Aku berdoa dalam hati semoga Dia tidak mendengarnya. Aku melirik untuk mengeceknya dan jelas Doa ku tidak terkabul. Kyuhyun menatapku aneh. Aku menelan ludah kasar.

“Ky…Kyu…”

“Sstttt” Dia meletakkan jarinya di depan mulutku. Tubuhnya bergeser sedikit menghadapku. Dia menjauhkan jarinya dari bibirku lalu membelai wajahku lembut. Dari dahi ke pipi lalu ibu jarinya mengusap bibirku lembut. Aku tidak bisa bergerak seolah tatapannya mengunci tubuhku.

Perlahan dia memajukan wajahnya dan bibir kami bertemu. Harusnya aku bereaksi dan mendorongnya menjauh, namun aku justru mencengkram kemejanya saat dia mulai menghisap bibir atas dan bawah. Aku balas menghisapnya. Tangannya yang semula di bahuku turun ke pinggang dan menariku lebih dekat hingga tubuh kami menempel.

Aku kehabisan nafas dan mendorong dadanya. Seolah tidak pernah puas, Dia Menciumku lagi dan lagi, aku selalu mendorongnya menjauh saat kehabisan nafas dan dia dengan cepat kembali melumat bibirku. Sepanjang akhir sisa film kami hanya berciuman dan saling meraba.

“Kyuh…filmnya….” Kataku di sela ciuman kami. Ruangan di apartemenku menggelap, menandakan filmnya sudah benar habis

Samar-samar kulihat Dia menyeringai, lalu bangkit menyalakan lampu. Mataku seperti tersengat, saat sinar lampu menusuk retinaku. Kyuhyun kembali duduk di sofa. Dia tersenyum lebar sambil menatapku.

“Ke..kenapa?” Aku memegangi pipiku yang terasa memanas. Melihat wajahnya langsung membuatku malu setengah mati, tau begini aku tidak menyuruhnya menyalakan lampu.

Tangannya terangkat mengusap bibir bawahku “bibirmu bengkak”

Aku buru-buru menutupi bibirku dengan tangan. Dia terkekeh.

“Kenapa kau tertawa? Ini salah Kyu” kataku.

“Apanya yang salah? Belum pernah aku merasa seperti ini selama bersamamu. Seolah ini benar-benar tepat. Lihat aku dan katakan kau tidak menyukainya!” katanya serius dan menatapku dalam membuat dadaku berdegup lebih cepat.

“A..apa?”

“Aku tau kau menyukainya. Ciuman tadi” katanya semakin menyeringai. Aku ingin membantah namun tidak tau apa yang harus kukatakan. Dia benar, aku menyukainya. Sangat.

Menarikku mendekat, Dia mendekatkan wajahnya lagi padaku.

“Apa kita akan berciuman lagi?” tanyaku. Dia tidak menjawab melainkan menciumku lagi.

***

Membuka mata saat cahaya terang menerobos kamarku. Menoleh kesampingku Kyuhyun tertidur dengan damai. Tangannya berada di perutku. Bergerak sepelan mungkin hingga tubuhku miring menghadapnya. Memberanikan diri menyentuh wajahnya. Aku tidak percaya semalam kami telah berciuman. Tangannya menarikku lebih erat saat telunjukku menyentuh bibirnya.

“Ka..kau Sudah bangun?”

Dia bernafas di keningku “Hmmm”

“A..aku mau mandi?”

Aku mendorong dadanya lembut, dia membiarkanku sedikit menjauh namun tidak melepaskanku. Dia menatapku dalam, aku tau seharusnya tidak begitu namun tatapannya membuat jantungku ingin melompat salah tingkah

“Ehemm.. K..K..Kyu… A..ak..Aku…..”

“Lihat aku” pintanya lembut

“Huh?”

“Lihat aku Hyura-ya”

Aku menurutinya dan mendongak, mata kami saling bertemu. Dia memejukan wajahnya dan menciumku lembut sebelum menatapku lagi “Aku mencintaimu” bisiknya

“Apa?”.

Dia tersenyum tipis. “Kenapa begitu kaget?”

Dahiku berkerut menatapnya bingung. “Tapi…..Kenapa?…bagaimana bisa?”

Dia mengecup bibirku sekilas sebelum bicara “Aku juga tidak tau. Kipikir aku membencimu, tapi aku begitu kesal padamu saat tiba-tiba kau tidak muncul di rumahku. Awalnya ku kira aku membencimu karena kau mangkir dari tugasmu sedangkan Kakakku sudah memberimu banyak uang. Lalu…..” suaranya menghilang, dia terlihat ragu.

“Lalu?”

“Lalu, aku melihatmu di kantor polisi. Dan saat itu aku begitu marah pada diriku dan lega pada saat yang bersamaan. Marah karena kau melihatku dalam keadaan seperti itu dan lega ternyata kau masih peduli padaku” Kyuhyun menatap bibirku dan mengusapnya ringan sebelum melanjutakan “kemudian aku melihatmu tidur, aku tidak tahan untuk tidak menyentuhmu. Kau begitu…”

“Apa? Kau menyentuhku saat aku tidur?” potongku, sial kenapa aku harus tertidur seperti orang mati. “Apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku

Dia mengecup bibirku sekilas “Hanya itu yang kulakukan, meskipun aku tergoda melakukan lebih tapi rasanya tidak menyenangkan berciuman dengan orang yang tidak sadar”

Mataku menyipit “Kau curang, mana boleh menciumku seenaknya”

Dia menciumku dalam dan cepat “Apa sekarang boleh?”

Aku melotot pura-pura marah “Ya! Kau selalu seenaknya padaku. Kau bilang kau menyukaiku tapi kau marah-marah dan bahkan mengusirku. Aku tidak tau kesalahan apa yang sudah kulakukan sampai kau bersikap sekasar itu padaku”

Kyuhyun terlihat tidak nyaman,matanya bergerak-gerak gelisah.

“Jawab aku” tuntutku

Dia mengangkat bahu “Mungkin saat itu suasana hatiku sedang buruk”

“Apa?” Tanyaku tidak percaya lalu mendengus “Kau akan melakukannya lagi bukan?”

“Apa?” Tanyanya polos

“Kau akan marah-marah padaku saat suasana hatimu sedang buruk. Menyebalkan”

“Aku tidak akan begitu” dia mendekapku lebih erat “Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi saat Kau sudah menjadi milikku”

“Siapa bilang aku sudah menjadi milikmu?”

“Aku yang bilang. Mulai saat ini kau milikku Park Hyura!” katanya tegas dan menciumku. Aku membalas ciumannya, meskipun aku tidak tau bagaimana perasaanku padanya tapi aku tidak bisa menolak sentuhannya. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana luar biasa sentuhannya.

Ponsel Kyuhyun bergetar menginterupsi kegiatan kami. Dia mengambil dan menatapnya sejenak sebelum menjawab. Selagi Kyuhyun menjawab telepon aku melirik jam di nakas. Oh Sial, Aku terlambat. Bangun dan menyibak selimut aku mengambil sepotong handuk bersih dari lemari.

“Ada apa? Kenapa buru-buru begitu?” Tanya Kyuhyun. Dia setengah berbaring dan sudah tidak memegang ponsel.

“Kau harus pulang Kyu, aku memiliki tamu hari ini”

Dahinya berkerut tidak senang “Siapa? Pria atau wanita”

“Buang pikiran anehmu” Aku menunjuk meja bar dapur tempat fotoku dan Chanyeol di pajang “Dia adikku, Park Chanyeol”

“Adik? Kau punya adik?” tanyanya bodoh

“Eoh” sahutku lalu beranjak ke kamar mandi.

***.

.

“Kenapa Aku tidak boleh bertemu adikmu?” tanya Kyuhyun cemberut

“Belum” koreksiku. Aku tidak berharap Chanyeol akan melihatku berpacaran dengan pria yang masih bersekolah.

“Kau malu denganku?” tanyanya menuduh

“Kyuhyun-ah, ini pertama kali kami bertemu lagi semenjak kematian kedua orang tuaku. Aku membutuhkan waktu dengannya tanpa orang lain ikut di dalamnya” aku tidak sepenuhnya bohong.

Dia masih tidak terima namun akhirnya mengangguk “Aku mengerti” Dia mencium kening lalu bibirku lembut. “Beri tau aku saat adikmu pergi” Aku mengangguk. “Apa yang harus kulakukan di akhir pekan” gerutunya pelan.

“Kau bisa belajar” sahutku.

Dia memutar mata lalu mendengus “Pokoknya segera hubungi aku saat adikmu pergi”

Aku mengangguk “Arasseo, sekarang pergilah”

Dia menciumku cepat “Aku mencintaimu” katanya lalu pergi. Sepeninggalnya aku menyalakan ponselku yang kumatikan sejak kemarin. Aku yakin Chanyeol menghubungiku, dan benar saja pesan singkat dan panggilan tidak terjawab semuanya berasal dari adikku.

Aku menekan nomornya sebelum menempelkan ponsel di telinga, terdengar nada sambung dua kali sebelum dia menjawabnya.

“Noona!” sahutnya lega “Akhirnya kau menghubungiku. Kau tau berapa kali aku mencoba menghubungimu Eoh? Kau memutuskan teleponku tiba-tiba dan tidak bisa dihubungi. Aku hampir mati cemas! Kau tau!” suaranya bergetar seperti hampir menangis. Ya ampun adik laki-lakiku yang manis

“Mianhe. Aku ada urusan mendadak. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas. Maafkan aku, Eoh”

“Arasseo, tapi lain kali kau jangan melakukannya lagi. Aku hampir menerobos asrama untuk menyusulmu. Aku begitu takut terjadi sesutau padamu. Aku takut….kau…kau meninggalkanku seperti Eomma dan Appa” Suaranya benar-benar bergetar dan aku yakin dia menangis. Aku jadi merasa berasalah padanya. Dia mengkhawatirkanku semalaman sementara aku?

“Arasseo, mianhe Chanyeol-ah” sahutku lembut. “Tapi kau tidak membatalkan janji kita kan?”

“Tentu saja tidak, aku sudah di terminal menunggu bus ke Seoul”

Aku tersenyum “Aku akan menjemputmu di terminal bus. Setelah itu kita bisa langsung memutuskan untuk kemana”

“Kedengarannya menyenangkan” sahutnya ceria. Nada sedih menghilang sepenuhnya dari suara beratnya.

“Baiklah, sampai ketemu nanti” kataku dan mengakhiri panggilan. Sambil menunggu, Aku membuat bekal makan siang untuk kami. Dua jam berikutnya aku menghabiskan waktuku di dapur sebelum berangkat menjemput adikku.

Lebih dari dua puluh menit aku menunggu bus yang membawa Chanyeol di terminal. Hampir tiga bulan kami tidak bertemu, dia terlihat lebih tinggi dan tentu saja tampan dari terakhir aku melihatnya.

Chanyeol berlari dan langsung memelukku, mengangkat tubuhku yang kecil dan memutarnya. Kami saling tertawa seperti mendapat lotere. Dia menurunkanku dan menjauhkan wajahnya melihatku.

“Aku sangat merindukanmu Noona”

Aku memeluknya lagi sekilas “Begitu juga denganku” aku menepuk lengannya ringan “Wahh uri Dongsaeng terlihat lebih tampan sekarang”

Dia tersenyum malu-malu sambil melepas topinya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum memakainya lagi. Aku melingkarkan tanganku di lengannya dan mengajaknya berjalan ke luar terminal.

“Jadi, apa Adikku yang tampan ini sudah punya pacar?” tanyaku menggoda.

Dia terkekeh “Tentu saja tidak, aku belum memikirkannya. Bagiku sekolahlah yang terpenting”

Aku mengangguk “Aku setuju, fokuslah pada pendidikanmu” aku mengarahkannya ke halte bus terdekat. Dia melihat ke sekeliling lalu menatapku penuh harap “Noona, Bagaimana kalau kita ke kampusmu?”

“Huh? Kampusku? Apa itu tujuan pertama kita?”

Dia mengangguk antusias. Aku menyetujuinya dan kami menunggu bus yang membawaku ke kampus. Aku mengajaknya berkeliling, menunjukkan beberapa kelas yang biasa ku gunakan lalu fasilitas apa saja yang ada di kampusku. Saat melewati papan pengumuman Chanyeol menyimak beasiswa yang ditawarkan universitas.

“Berminat dengan Beasiswa?” tanyaku

Dia mengangguk tanpa melihatku, matanya terfokus pada papan di depannya “Biaya kuliah sangat mahal, aku tidak bisa bergantung pada Noona. Kita juga tidak bisa menjual rumah peninggalan Appa. Hanya beasiswa yang bisa menyelamatkanku” katanya kemudian melihatku dan tersenyum.

Aku menatapnya sejenak sebelum membuka suara “Kau bisa mengandalkanku Park Chanyeol. Tahun depan aku lulus, aku tidak memiliki pinjaman pendidikan dan itu bisa kugunakan untukmu. Aku ingin kau mengambil kesempatan dan masuk ke universitas terbaik”

“Gomawoyo Noona, aku sangat menghargainya. Tapi aku ingin berusaha mendapatkan beasiswa terlebih dulu”

Aku tersenyum bangga padanya. Adik laki-lakiku yang baru berumur enam belas tahun begitu terlihat dewasa. Aku memeluknya singkat sebelum melanjutkan tour singkat kami. Kami maenyantap makan siang di taman yang tidak jauh dari lingkungan kampus. Dia menceritakan rencana masa depan yang telah disusunnya. Bidang apa yang akan dia ambil, beasiswa yang cocok, hingga perusahaan yang menjadi impiannya. Aku mendukung Chanyeol sepenuhnya, dia telah dewasa dan bisa memilih untuk jalan hidupnya sendiri.

Aku bukan lagi merasa sebagai kakak melainkan sebagia tutor. Ini bukan acara jalan-jalan yang semula kami rencanakan. Aku dan Chanyeol justru pergi mengunjungi beberapa kampus di ibukota. Kami memanfaatkan waktu akhir pekan karena kampus-kampus tidak akan seramai hari biasa. mengumpulkan beberapa brosur dari berbagai jurusan dan mengumpulkan beasiswa yang tersedia. Hingga menjelang malam Aku mengantar Chanyeol kembali ke terminal bus.

Sejak awal kedatangannya Dia memang tidak berniat untuk bermalam di tempatku. Dia masih harus mengerjakan tugas prakarya bersama teman-temannya besok. Jadi dengan berat hati aku harus membiarkannya kembali ke asrama. Kami berpelukan erat sebelum Chanyeol masuk ke dalam bus. Sebelum Dia pergi aku berjanji akan bergantian mengunjunginya.

***

Senin pagi aku menyadari segalanya telah berubah. Kyuhyun berdiri di depan apartemenku sambil tersenyum sumringah, Dia membawa dua gelas kopi lengkap dengan sandwich. Kami sarapan dan berjalan bersama ke halte bus. Dia menungguku hingga busku datang dan kami saling melambaikan tangan saat aku masuk ke dalam bus sedangkan Dia menunggu bus yang membawanya ke sekolah. Layaknya seperti pasangan muda lainnya.

I’m in heaven

Satu bulan bersama Kyuhyun seperti di surga bagiku. Mungkin itulah yang kata yang menggambarkan situasiku sekarang. Aku bahagia—sangat. Kyuhyun membuatku seperti wanita paling cantik di dunia. Dia selalu menyatakan cintanya disetiap kesempatam. Dan yah, setiap malam kami menghabiskan malam bersama. Karena kami hanya pasangan muda yang di mabuk cinta paling menggebu.

Siapa sangka anak berandalan yang dulu begitu kubenci setengah mati, sekarang aku justru mencintainya. Aku tidak menyalahkan kalian Jika kalian mencapku sebagai wanita gampangan yang mudah menyerahkan hati dan tubuhku pada seorang yang lebih muda.

Tapi demi Tuhan, aku tidak bisa menolak pesonanya. Seperti sekarang ini, Dia berdiri di dapur mungilku dengan kemeja putih atau bisa dibilang seragam sekolahnya, lengannya di gulung hingga ke siku, keningnya terdapat titik keringat, dan matanya menyipit mencoba focus agar tidak ada yang terlewat. Tangan kanannya memengang pisau dengan tegas, dan tangan kirinya memegang apel hijau. Kyuhyun sedang mengukir inisial nama kami dengan buah yang kupunya di kulkas.

Dia bilang Dia melihatnya di youtube dan itu dua kali lipat lebih keren daripada harus mengukir tato yang menyakitkan di tubuh kami.

“Bagaimana?” dia menunjukan hasil ukiran huruf H yang kurang simetris.

Aku menahan senyum lalu mengangkat bahu “lumayan”

Dahinya berkerut tidak senang“Hanya itu?”

“Bagaimana dengan K? kau tidak membuat inisial namamu?” tanyaku mengalihkan topic.

“Ah…” dia menggaruk kepalanya lalu nyengir “Aku belum belajar membuat inisial namaku” Akunya.

Aku mengambil apel di tangannya yang sudah berhiaskan inisial namaku “Lalu apa yang harus kulakukan dengan ini? Sebentar lagi juga akan membusuk, meskipun aku menyimpanya di kulkas. Lama-kelamaan buah ini akan berubah warna, mengekrut kemudian membusuk”

Tiba-tiba saja wajah Kyuhyun berubah sendu, dia mentap apel di tanganku. Apa aku salah bicara?

Sesaat dia memaksa menarik sudut bibirnya “Kau benar, benda ini akan memiliki masanya” gumamnya.

“Huh?”

Dia tersenyum namun tidak menyentuh matanya “Bukan apa-apa. Kemarikan” dia mengambil lagi buah di tanganku lalu memasukkannya kedalam freezer. “Setidaknya dengan begini akan menahannya lebih lama”

Aku mengerutkan keningku bingung “Apa harus seperti itu?”

Dia mengangkat bahu lalu menarik tanganku “Kita Jalan-jalan?”

Aku menggeleng “Aku tidak mau. Aku lelah setelah mengurus bazar di kampus seharian” tolakku halus.

“Ayolah, Hanya sebentar. Kita sudah lama tidak jalan-jalan keluar. Kalau kau lelah aku bisa menggendongmu”

Aku meliriknya malas dan menggeleng lagi.

“Ayolah, apa Aku harus memohon?”

“Apa ada tempat yang ingin kau tunjukan padaku?” tanyaku penasaran. Tidak biasanya Kyuhyun memaksa, atau ada sesuatu yang sangat dia inginkan.

Dia menggeleng “Hanya sedikit penat dan ingin mencari udara segar”

“Kalau begitu kau sendiri saja, aku lelah”

“Apa kau rela pacarmu berjalan-jalan dengan wanita lain?”

“YA! Apa kau berniat pergi dengan wanita lain?”

Dia mengangkat bahu santai.

“Ya! Cho Kyuhyun!

“Karena itu, pergilah denganku”

Aku mendengus “Arasseo”

Dia tersenyum penuh kemenangan.

Aku tidak menyadari apa yang ada dipikirannya saat itu, mengajakku keluar melakukan banyak hal yang belum pernah kami lakukan sebagai pasangan. Bersepeda pasangan, membeli cincin murahan untuk kami pasang di jari kami, mengukir nama kami banyak tempat, di bangku taman, di tembok grafity, di pohon-pohon besar. Aku menegurnya namun Dia bilang itu menyenangkan. Di setiap tempat yang memiliki ruang kosong saat kami berjalan pulang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi hingga keesokan harinya aku tidak menemukannya di ranjangku.

Kukira Dia pulang kerumah mengganti baju atau semacamnya, namun Cho Kyuhyun tidak pernah muncul hingga saat ini. Seolah Dia sengaja menghilang dan tidak pernah sekalipun menghubungiku.

***

Seoul 2015

“Sayang, apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun? Sebentar lagi giliran Chanyeol”

Aku tersenyum manis ke sisi kananku, tangan kami saling terkait dengan cincin berkilau menghiasi jari-jari kami. “Aku terlalu gugup, Dia akan melakukannya dengan baik kan?”

Dia terkekeh “Tentu, Kita sudah melihatnya berlatih sepanjang malam untuk mengingat pidatonya”

Aku mengangguk lalu memfokuskan mataku ke arah panggung. Namun mataku tidak bisa seolah mengkhianatiku. Aku melihatnya. Yah Cho Kyuhyun berada di barisan para petinggi universitas. Perusahaannya menjadi Donatur di sini dan Pria itu mendapat kehormatan memberikan pidato pembukaan. Aku tidak pernah berharap melihatnya lagi. Meskipun begitu aku bersyukur disini gelap dan aku duduk cukup jauh dari panggung, di barisan para orang tua.

Bisa kurasakan tanganku berubah dingin dan berkeringat. Pria di sampingku melingkarkan tangannya di bahuku dan meremasnya lembut menenangkanku “Tenanglah sayang, Chanyeol akan melakukannya dengan baik”

Dia tidak mengerti, bukan itu yang kutakutkan. Aku takut Kyuhyun mengenali Chanyeol. Mereka memang tidak pernah bertemu tapi setidaknya Kyuhyun selalu melihat foto adikku di Apartemen. Aku menggeleng, tidak mungkinkan. Ini sudah lebih dari enam tahun, Dia pasti sudah melupakanku jadi untuk apa dia repot-repot mengingat wajah adikku. Benar, Dia tidak mungkin mengingatnya.

Namun keyakinanku runtuh saat mc memanggil nama adikku yang mendapat kehormatan memberikan pidatonya sebagai mahasiswa denagn nilai tertinggi dan Dia mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan program masternya. Chanyeol dengan penuh percaya diri maju dan naik ke atas panggung. Kyuhyun tidak pernah melepas matanya dari Chanyeol, Dia melihatnya dengan seksama. Dan aku tau Dia mengenalinya, dengan itu Dia juga tau aku hadir disini.

Tepuk tangan bergemuruh saat Chanyeol menunduk dalam, pegangan tanganku terlepas dan aku ikut bertepuk tangan. Sial, aku bahkan tidak bisa mencerna apa yang Chanyeol bicarakan. Pikiranku terfokus pada Kyuhyun yang tidak bisa melepas matanya dari adikku.

Setelah semua nama mahasiswa di panggil untuk maju kedepan menerima tropy mereka, lampu auditorium menyala. Orang-orang riuh berhamburan, Chanyeol berdiri, kepalanya memanjang mencari kami. Senyumnya terkembang saat melihatku, Dia berjalan cepat dan melambaikan tangannya. Ya ampun adikku terlihat sangat tampan dengan toganya.

“Noona….” Serunya dari jauh, “Donghae Hyung! Hyura Noona!” Dia memeluk kami berdua sekaligus.

“Chukkae” kataku dan menepuk-nepuk punggungnya. Senyum tidak pernah lepas dari wajah. Dia melepas pelukan kami, kemudian aku memberikan sebukat bunga padanya.

“Congratulatz Bro… Aku tau kau bisa melakukannya” Donghae meninju lengan Chanyeol pelan.

Dia tertawa “Gomawoyo Hyung, Ini semua berkat kalian” aku bisa melihat titik air mata kebahagiaan di matanya. Aku memeluknya lagi singkat sebelum dia menggiring kami ke tempat perjamuan. Kami berfoto bergantian, Chanyeol memakaikan topi toganya padaku dan merangkulku. Donghae mengambil foto kami dengan kamera ponselnya.

Chanyeol meninggalkan kami untuk memberikan selamat pada teman-temannya dan menyapa profesornnya. Aku berbicancang dengan beberapa orang tua dari teman Chanyeol.

Donghae melepas pegangan tangannya dariku “Ku ambilkan minum?”

Aku mengangguk sambil menggumam terima kasih. Mataku berkeliling ruangan dan aku melihatnya, Dia melihatku. Kami bertatapan selama beberapa detik sampai kusadari Dia melangkahkan kakinya mendekat. Aku berbalik dan berjalan menjauh, tidak terlalu cepat agar tidak terkesan menghindar. Namun percuma, di ruangan seperti ini dengan mudah Dia akan mendapatkanku.

Lenganku di Tarik kebelakang hingga tubuhku menghadapnya, matanya langsung menghujam mataku. “Hyura-ya….” Dia memanggilku dengan cara yang sama, seingatku.

Aku menarik lenganku perlahan darinya, Dia membiarkanku kali ini. Aku mundur selangkah menjaga jarak agar tidak timbul salah paham.

Aku tersenyum setenang mungkin “Cho Kyuhyun? Wah… aku tidak menyangka bisa melihatmu disini” kataku penuh basa basi.

Matanya menatapku dalam, aku masih bisa melihat pertarungan disana. Antara kerinduan, sedih dan amarah jadi satu. Aku menahan lengkungan bibirku, berusaha tidak terpangaruh dengan tatapannya.

“Hyura-ya, Aku.….” Ucapannya terpotong saat Donghae muncul dari belakang memanggil namaku.

Aku menoleh ke arah Donghae dan mengulurkan tanganku, Dia menyambutnya lalu mengenggamnya. Dia menatapku dan Kyuhyun bergantian.

“Oh Oppa, kenalkan ini Cho Kyuhyun. Dulu dia muridku. Kyuhyun-ah ini Lee Donghae tunanganku”

Wajah Kyuhyun berubah pucat saat aku menyebut tunangan. Sementara Donghae tersenyum sambil melirikku terkejut Dia mengulurkan tangannya yang bebas ke arah Kyuhyun. Kyuhyun menyambutnya.

“Murid? Kau pernah mengajar?” Donghae tersenyum terkejut.

“Banyak yang tidak Kau tau tentangku sayang” balasku menggoda.

Donghae tertawa, kemudian beralih ke Kyuhyun “Maaf aku agak sedikit terkejut mengetahui Kau pernah menjadi muridnya. Sementara tadi aku melihat pidatomu yang mengesankan Kyuhyun ssi”

Kyuhyun tersenyum tipis “Terima Kasih, Aku sangat tersanjung” balasnya.

“Kuharap kau masih di Kota ini Kyu saat pernikahan kami” kataku.

Dia melihatku, wajahnya jelas terluka. Aku tidak tau kenapa Dia harus seperti itu. Jelas dulu Dia yang meninggalkan. Lalu apa yang Dia harapkan? Menemukanku masih menunggunya seperti orang tolol? Aku memang mencintainya, namun itu dulu. Realitas mengalahkan perasaanku padanya. Seiring berjalannya waktu perasaan itu pun berubah, ditambah aku memilik orang lain yang selalu berada disisiku.

Dia tertawa hambar sambil mengangguk “Akan kuusahakan” Dia menunduk sopan “Aku permisi, aku harus menyapa beberapa rekanku”

Aku dan Donghae mengangguk mengerti kemudian Dia berbalik dan berjalan menjauh.

“Apa… Dia baik-baik saja?” Tanya Donghae setengah cemas setengah bingung.

“Huh?”

Tangan Donghae terangkat menunjuk pada Kyuhyun yang berdiri membelakangi kami, Dia sedang berbicara dengan Dua orang pria paruh baya. “Dia terlihat sedang…. Sakit” kata Donghae tidak yakin.

Aku mengangkat bahu lalu mengamit lengannya “Oppa, Bukankah Kau mau mengambil minum untukku?” aku melirik tangannya yang kosong.

Dia menepuk jidatnya “Ya ampun aku lupa, tadi aku kembali untuk menanyakan Kau mau Champagne atau white wine?”

“Aku menggiringya ke tempat minuman “Kaja, kita ambil bersama saja”

***

“Kita perlu bicara!” Aku memutar mata melihat Kyuhyun menerobos masuk ruang kantorku. Sialan, apa sih yang di lakukan Stephanie. Kenapa dia membiarkan Kyuhyun menerobos masuk.

“Maaf aku sibuk” sahutku jengkel. Dan berpura-pura menatap computer. Membaca apapun yang berada disana.

Dia menarik kursi di sebrang mejaku dan mendudukinya “Akan kutunggu kalau bagitu” dia melipat tangannya di depan dada menatapku menantang “Jangan Khawatir Hyura, waktu luangku sangat banyak hari ini”

Aku mendengus, meliriknya “Apa sebenarnya maumu?

“Kita harus bicara, kau harus mendengarkan penjelasanku. Aku memiliki alasan kenapa enam tahun lalu aku pergi”

“Dengar, aku tidak perlu mendengar apapun. Itu masa lalu, Aku tau Kau pasti memiliki alasan kuat kenapa melakukan hal itu dan Aku mengerti. aku sudah menjalani hidupku dan Kau juga harus menjalani hidupmu. Tidak ada yang perlu kita bicarakan”

“Tidak kau sama sekali tidak mengerti Park Hyura! Baiklah kita bicara disini saja….”

“Andwe!” Potongku cepat. Aku tidak ingin Dia berlama-lama dikantorku, tempat aku menghabiskan waktuku setiap hari. Dia akan menodainya seperti yang Dia lakukan pada Apartemenku. Setelah Kyuhyun pergi aku pindah dari sana, aku tidak sanggup setiap hari melihat bayangan Kyuhyun memenuhi apartemenku.

Aku berdiri “Sebaiknya kita keluar”

Dia mengangkat bahu lalu mengikutiku. Aku memberikan tatapan membunuh saat melewati meja Stephanie, dia menunduk takut begitu melihatku. Kami berjalan ke taman kota yang tidak jauh dari kantorku, Kyuhyun membelikanku kopi instan sebelum mengambil tempat di bangku beton di sisiku. Aku menyesap kopiku dan memilih untuk tidak melihatnya. Tatapanku jauh ke depan.

“Sekarang katakan dengan cepat, kau tau aku sibuk”

“Dua tahun lalu aku pulang ke Korea dan mencarimu. Tapi Kau sudah pindah” katanya pelan.

Aku tidak menanggapinya dan menyesap kopiku lagi, itu tidak merubah apapun, Dua tahun lalu aku bahkan sudah menjalin hubungan dengan Donghae.

“Ahra Noona tau mengenai kita”

Aku meliriknya sekilas, well ini jauh dari dugaanku. “Bagaimana bisa?”

Dia mememiringkan duduknya menatapku “Kau ingat saat kita melakukannya di kamarku?” tanyanya.

Aku membuang muka, itu sama sekali bukan ingatan yang menyenangkan untuk diingat saat ini. Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.

“Aku salah, kukira Ahra Noona tidak akan pulang tapi ternyata dia mendengar kita. Lalu Dia…. Manantangku”

Aku menoleh ke arahnya sekarang

“Jika aku bisa masuk Harvard dan lulus dari sana Dia akan memberikan kebebasan padaku berhubungan denganmu dan Dia berjanji akan menudukung kita”

“Kau tidak masuk ke Dartmouth?” ini kejutan.

Dia menggeleng “Aku tidak pernah pergi kesana” sahutnya. Aku ingat bagaimana kebersamaan kami. Kyuhyun belajar begitu giat, aku tidak tau alasannya adalah untuk memperjuangkan hubungan kami.

Aku tersenyum canggung “well, tidak kusangka Kau lulusan Harvard”

“Bukan itu intinya Park Hyura. Aku pergi diam-diam juga sebagai konsekuensi yang harus kutanggung karena menyutujui kakakku. Meskipun Dia hanya mengajukan untuk tahun pertamaku disana”

“Lalu bagaimana dengan tahun kedua?” tanyaku menuntut. Aku tidak percaya aku menanyakannya. Seperti yang kubilang ini sama sekali tidak penting lagi. ini hanya masa lalu Park Hyura!

“Aku harus focus, aku merindukanmu hingga rasanya hampir gila. Namun jika Aku menghubungimu, bahkan mendengarmu mengatakan hal yang sama kupastikan Aku akan pulang detik itu juga. Aku tidak bisa membiarkan diriku melakukannya Hyura-ya. Aku merantai diriku sendiri selama empat tahun. Tuhan tau apa yang telah kulalui”

Aku menggeleng. Tidak itu tidak benar, aku melawati nerakaku sendiri selama beberapa tahun kepergian Kyuhyun. Aku lebih suka mempercayai Dia telah melupakanku dan bersenang-senang dengan gadis pirang di sana. Daripada mengetahui bahwa sama menderitanya seperti Aku.

Seolah bisa membaca pikiranku dia memegang kedua bahuku, menatap mataku dalam “Itu benar Hyura-ya, Aku mencintaimu. Tidak ada yang berubah dan akan tetap sama, dulu, sekarang atau bahkan seterusnya”

Aku melepas tangannya di bahuku lembut lalu tersenyum “Aku juga mencintaimu” sahutku dia tersenyum namun aku buru-buru menjelaskankan maksudku.

“Namun segalanya telah berubah Kyu, aku bukan lagi Hyura yang dulu. Aku bukan lagi mahasiswi polos yang sedang mabuk cinta. Aku memang mencintaimu tapi itu dulu. Aku memiliki seseorang sekarang. Aku menyayanginya melebihi apapun di Dunia ini. Dia dan adikku adalah alasanku tetap hidup dan berada disini”

Dia menatapaku dengan sejuta perasaan kompleks. Aku melukainya, Ya aku tau. Namun itulah kenyataan yang harus dia hadapi. Aku tidak bermaksud untuk membalasnya atau apa. Tentu saja aku tidak berpikiran begitu.

“Kau mana boleh begitu terhadapku. Aku menunggumu enam tahun Park Hyura! Its fucking six years! Aku kembali untuk mencarimu!”

“Ini bukan masalah menunggu atau tidak. Kau yang memulai Kyu, jangan lupa itu. Kau yang pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun. Bukankah sudah kubilang apapun yang kita bicarakan tidak akan mengubah apapun. Itu semua sudah berlalu. Aku hanya focus pada masa depan yang sudah kurencanakan dengan keluarga kecilku”

Matanya menyipit “Apa maksudmu dengan ‘keluarga kecil”?”

“Aku dan tunanganku yang mendidik Chanyeol, Chanyeol sudah menganggapnya seperti kakak laki-lakinya sendiri. Aku bahagia dengan apa yang ku miliki sekarang”

Aku seperti menumpahkan air keras ke wajah Kyuhyun. Wajahnya benar-benar kesakitan. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku ingin Dia mengerti, tidak ada tersisa apapun untuknya disini.

“Maafkan Aku harus mengatakannya, aku tidak bermaksud melukaimu” aku memajukan dudukku dan memeluknya singkat. Dia tidak bergerak, tubuhnya sekaku batu beton yang kududuki. Aku meremas tangannya sekilas “Pernikahanku bulan depan, aku sangat berharap Kau dan Kakakmu bisa datang. Aku menyayangimu Kyu” aku mengecup kepalanya singkat sebelum beranjak dari sana.

***

Aku berjalan dengan perasaan ringan, akhirnya aku mengetahui kebenaran enam tahun silam. Aku tidak menyesalinya. Kyuhyun adalah bagian terindah dari masa mudaku dulu. Dan sekarang aku memiliki masa depan yang lebih indah.

Ponselku bergetar saat aku menunggu lampu berubah merah. Aku tersnyum tipis sebelum mengangkatnya. “Hey” sahutku lembut

“Hey. Seharian ini kau belum menghubungiku”

“Aku baru mau menghubungimu tapi kau mendahuluiku”

“Begitukah?”

“Hmmm”

“Sayang, Kau sedang di luar? Kenapa berisik sekali?”

“Eoh aku dari taman bertemu Kyuhyun”

“Kyuhyun? Maksudmu Pria yang kita temui di acara kelulusan Chanyeol? Ada apa?”

“Hmm. Bukan sesuatu yang penting. Kami hanya membicarakan masa lalu” ujarku sambil berjalan menyebrang begitu lampu lalu lintas berubah.

“Bernostalgia? Membicarakan saat-saat indah kalian?” Godanya.

“Lebih tepatnya saat-saat yang menyakitkan” aku tiba di depan gedung kantorku. Melirik jam di tanganku. Ini hampir makan siang jadi kuputuskan tidak naik ke atas dan menunggu rekanku yang lain turun ke lobi.

“…….”

“Oppa?” panggilku saat Dia tidak kunjung membuka suaranya.

“Ya, aku masih disini”

“Kenapa diam?”

“Hanya sedang berpikir—Dia bisa menyakitimu kemungkinan besar Dia cukup berarti”

“Ya bisa dibilang begitu”

“Ya! Tidak bisakah kau berbohong sedikit untukku” protesnya namun tidak ada nada marah disana.

“Kau tau Aku tidak bisa bohong padamu”

“Itu baru gadisku” sahutnya bangga.

Aku tersenyum “Kau tidak lupa kan nanti malam Chanyeol ingin mengumunkan sesuatu” aku mengingatkan

“Tentu, aku tidak akan telambat”

“Akan kusiapkan hidangan istimewa”

“Arasseo, sampai ketemu nanti” Dia hendak menutup ponselnya namun aku memanggilnya lagi.

“Oppa!”

“Eoh, Wae?”

“Kau tau kan aku mencintaimu”

Terdengar kekehan lembut dari sana “Aku tau lebih dari siapapun Hyura. Aku juga mencintaimu”

“Aku tau. Sampai ketemun nanti. Saranghae”

“Nado saranghae”

Aku menutup ponsel sambil tersenyum. Ya aku tau Dia adalah masa depanku. Sesuatu yang harus kupertahankan dan kuperjuangkan.

***

FIN

Jeng Jeng….

Hai Haii, saya datang Bawa ff buat sempilan gigi 😀 😀

Please dont look at me like that,  Saya tau ini udh beberapa bulan dan cuma bisa ngasi one shot lagi , one shot lagi 🙁

Jujur saya kehilangan hasrat buat nerusin famiglia. WHAT? *Langsung di timpuk reader.

Tapi saya juga bukan author yg ga bertanggung jawab, saya ngerasain kok gimana sebelnya baca Story yang ga selesai, saya jg ga suka punya utang sama kalian. So, saya masih berusaha buat bangun mood buat nyelesain famiglia & MBG.

Saya minta doanya aj biar saya ga males nulis dan idenya lancar ^^

Dan ga lupa saya mau bilang terima kasih udah mau mampir dan baca disini.

See Ya ^^

Oh iya, untuk liat cerita diatas bisa diliat another vers di onlykoreanffnc.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , , . Tandai permalink.

85 Balasan ke Endegree

  1. Angel_Cho berkata:

    Ahhh… ninggalin sempel absen dulu eon, mau ngerjain tugas dulu, baca nyaa nanti yaa hehehe

    • gyusso88 berkata:

      dia lagi…:3

    • Angel_Cho berkata:

      Disini aku jelas nyalain Kyuhyun. Wajar Hyura milih Donghae. Dia pergi tanpa ngasih alasan. Aku jadi Hyura pun gitu laaah, pasti milih Donghae sebagai masa depan. Padahal, Hyura itu udah keduluan Kyuhyun, waks… dan Donghae mau terima. Salut daaah…

      Klo di pikir2 miria bgt hidup Kyuhyun, dan aku pun kasian. Tapi gimana yak, aku juga pernah jadi posisi Hyura, jadi ya sudahlah, nikmatin ajah penyesalannya mu Kyu. Itu salahmu sendiri.

      Entah aku sii panas pas baca yang disebelah eonn hahahhaa… panas bgt seriusssan deh, wakakaka XD

  2. Angel_Cho berkata:

    Ketemu situ lagi, bosen akohh -,,-

  3. gyusso88 berkata:

    ohhh… begitchuuu..:* hihihi

  4. Angel_Cho berkata:

    Ada versi bedakah eon sama yang sebelah??

  5. Angel_Cho berkata:

    Wwaahh berati ada yang di cut yaa eon hehehhee… btw, famiglia kapan di lanjut eon?? Aku masih setia menunggu ini??

  6. sonia1531 berkata:

    kirain mau balik sma kyuhyun gak tau nya masi ttp sm dongek hehehehe…
    cuma sekesar ninggalin jjk aj biar enggak kriiik krriik hehehehe: )

  7. tanti berkata:

    Miss hoon i miss u
    wah memang cinta nga harus memiliki yah paling nga hyura bahagia lah

  8. ross berkata:

    yak ampun miss hoon keren bgt critanyA….dari awal baca saja sampe2 kebawa alur critanya …perasaan jadii ngikutii feel’nya hehe…..baca sambil ngayal maksudnya hhhh..
    kisah kasiih kyuhyun hyura uniik kelkelkel
    tapi kenapa sadending miss hoon huhuhu pan kasihan chokyuhyun tersayang

    missHoon sgt kangen bgt ama ffmu lama gk update hihi

  9. cupulah berkata:

    Ha????
    Sayang bgt, kirain bakalan balik bersama…hyura masa aecepat itu ngelepasin kyu…mudah sekali..

    So sad kyu ;((

  10. kyukyukyuniw berkata:

    Sad ending buat kyuhyunnnnnn.
    Tapi tenang kyu come to mama.

    Ahhhh kalo kyuhyun menjelaskan apa yg buat dia pergi dari pertama ke hyura mungkin hyuranya ga akan pacaran sama donghae plisss kyu. Ahhh kecewa sama kamu malah sia2 dipertahankan selama 6 tahun tanpa ada kata2 jelas.

  11. widya choi berkata:

    Wehhhh ksian jg liat kyu..tp mau gmn lg itu udh resiko ny. Salah kyu jg sih. Knp prgi gt aj tnp alasanny yg jls. Kan ksian hyura..brasa g d anggap. Dy pst slu brtnya2 ini hubngn ny sprti ap…ap dy hrus diam d t4 gt aj tnp ad kpastian..smntra hyura kan butuh kjelasan. aplg dg wktu yg ckup lama. Wjar klo hyura mmilih hae..yg lbih pst unk ms dpnny.. n yg pling pnting dy jg cnt am hyura n mau trima hyura ap ad ny..
    q pun bgtu klo jd hyura.. akan lbih milih yg psti2 aj skrg..hehe.

  12. Ahhh.. Sayang sekali, endingnya kyuhyun tersakiti #eeaa
    Sabar cho kyuhyun T_T

  13. exfriend365 berkata:

    wahh ending yang tak terduga, kirain mereka bakal jadi kedepannya, lagian salah Kyuhyun juga sih ya >.<
    kalo aku jadi Hyura juga aku lebih milih Donghae dari pada nunggu yang gak pasti–"
    tapi kasian sama chokyu nyaaaa T^T
    gak ada sequel kah? Kyu nya ketemu cewe lain gitu trus jadian. fufu

  14. Cho mimo berkata:

    Seriuss cerita keren. Feelnya dapet
    Tapi aku bukan penyuka sad ending mending sad story
    Agak kesel sihh sama kyuhyun kalo aku jadi hyura juga aku bakal berpaling
    Akhirnya kakak author comeback ditunggu kelanjuta ff yg lain
    Keep writing!!

  15. antir berkata:

    gak kepikiran sama sekali kl ending kyu ama hyura seperti ini. aku mikirnya mereka sama2 jatuh cinta terus berakhir bersama. mereka memang jatuh cinta dan pacaran tp gk pikiran klo akhirnya hyura ama donghae

  16. uchie vitria berkata:

    kalo aku jadi hyunra udah pasti nglakuin hal yang sama
    kyuhyun sendiri yang pergi tanpa jejak dia kira hanya karna saling mencintai terus hyunra bakal menunggu kyuhyun sampai bertahun tahun
    enggak lah ya
    hidup kan harus terus berlanjut
    dan kehadiran donghae emang udah jadi masa depan untuk hyunra
    poor kyuhyun
    menyesal pun percuma kyu

  17. fee berkata:

    oh…eon, kau menyakitiku…
    akhir yang sedih,,,, :'(
    semangat ya thor untuk terus menulis…
    hwaiting

  18. erlanysaskia berkata:

    Anjay ceritanya kok nyesek amat ya… tapi gak tau kenapa gak rela kalo kyuhyun hyura harus pisah</3

  19. lovekyu* berkata:

    endingnya sedih dehh
    masa gak sma kyuhyunnn,,,

  20. Choi Rinna berkata:

    ini bagus kak, one shoot yg panjang >,< puas bacanya 😀 like it like it dah
    gk nyangka endingnya hyura ama donghae, gw pikir bakalan ama kyuhyun tp trnyata tebakan gw salah :3
    kasian tp kyuhyun, dia masih mencintai hyunra sedangkan hyura udah merasa nyaman dgn donghae 🙁
    penyesalan selalu diakhir cho kyuhyun, tabahkan lah hati mu dan cepat move on 😀

    semangat trus nulis nya kak, always waiting for the next chapter famiglia 😀
    semoga malesnya ilang n jd semangat trus untuk nulis 🙂

  21. Choi Rinna berkata:

    ini bagus kak, one shoot yg panjang >,< puas bacanya 😀 like it like it dah
    gk nyangka endingnya hyura ama donghae, gw pikir bakalan ama kyuhyun tp trnyata tebakan gw salah :3
    kasian tp kyuhyun, dia masih mencintai hyura sedangkan hyura udah merasa nyaman dgn donghae 🙁
    penyesalan selalu diakhir cho kyuhyun, tabahkan lah hati mu dan cepat move on 😀

    semangat trus nulis nya kak, always waiting for the next chapter famiglia 😀
    semoga malesnya ilang n jd semangat trus untuk nulis 🙂

  22. Lia puspita berkata:

    Ya ampun aku kangen banget sama sama blog ini,eonni kemana aja,
    Eonni ff nya keren banget deh aku suka,aku kira hyura nya bakalan sama kyuhyun tapi ternyata ngga,bener” ngga bisa di tebak ff nya eonni,
    Yah di tunggu ya famiglia sama mbg nya
    Semangat terus eonni

  23. atif309 berkata:

    huhu sedih bacanya ..
    tapi realistis .. mungkin d ff lain hyura bakalan nunggu kyuhyun .. lalu mereka hidup bahagia selama lamanya .. wkwkwk
    di sini beda ..
    masih g trima knp malah bikin ff baru .. nga terusin yang my brother girl atau famiglia .. huhu author ngeselin ..
    tapi alhamdulillah nya selalu bisa memberikan cerita yang amazing .. subhanallah :v hihihii

  24. seulgi95 berkata:

    Aku tiap abis baca ff disini suka mikir kenapa eonni ga bikin novel aja? atau ff disini di cetak kaya author lain.
    Karena menurut aku ide cerita & gaya penulisan eonni tuh khas bgt & beda dr author kebanyakan. Dan agak heran aja karna author skrg kebanyakan kalo komen banyak dikit ceritanya lgsg dimasukin ke penerbit.
    I do love your story, keep writing eon!! 🙂

  25. julia berkata:

    Untuk kehidupan yg nyata kupikir cerita ini lebih realistis, apa crita ini nyata authornim? Kisah cinta yg menyakitkan tp yah kita melihat masa depan bukan masa lalu… sebanyak apapun perjuangannya jika takdirnya bukan bersama kita mau apa lagi coba? Hahaha tetaplah melihat ke depan: ) cerita yg bagus eonnie dan please lanjutin Famiglia Oke: )

  26. Hilda hidayah berkata:

    Selalu penuh kejutan..DAEBAK..
    Very touching..dan menyakitkan :'(
    pengorbanan kyuhyun sia-sia..#weleh2
    famiglia’y msh selalu ditunggu,thor.
    Smg cepet dpt ide yg MENGEJUTKAN!

  27. fey berkata:

    akhirnya di ff judul ini donghae bisa bersatu sama hyura…
    hahahah
    walaupun rada gak rela kyuhyun patah hati gitu..tabahkan hatimu kyuu…
    puas banget laah baca ff ini…panjang banget…ceritanya juga unik…walaupun endingnya bikin baper…hahaha..
    semangat ya miss hoon buat ff yang lain…
    selalu ditunggu karya2 nya…

  28. azizashiyou10 berkata:

    Biasanya, aku suka guling2an kalo baca story yang endingnya bukan sama pemeran utama yang udah ditampilin dari awal. sama kayak yang ini, padahal adegan dari awal itu adegannya Hyu-Ra sama Kyu-Hyun. tapi endingnya bukan milik mereka.
    biasanya.
    tapi entah kenapa untuk yang ini sayya merasa find2 aja. kayak emang ya harusnya gitu. soalnya sayya rada sedikit agak aneh sih ngeliat hubungan pasangan yang cowoknya jauh lebih muda.
    over all ini bagus lah.. keep writing ^^

  29. hyunsoo28 berkata:

    Oneshoot yg memuaskan
    sediiih bacanyaaa
    sedih hyura ga sm kyuhyun
    tapi sukaaaaa suka bgt sn cerita.baguuuusss

  30. yuniyesung28 berkata:

    Feel nyaaaaaaa, ya Tuhan krasa banget., mungkin krna udh melayang2 sma kbersmaan mreka jadi lgsung nyees ni hati pas mreka pisah real ny kyu ninggalin hyo tnpa jjak.,
    Mreka sbenarnya sma2 brjuang, kyu brjuang slama it utk kembali tpi hyo brjuang slama it utk mrelakan,, sama2 sulit kok dan sama2 sakit
    Ini realistis bgt sih munurutku klo hyo berpaling, cwe dtinggal tnpa kbar kek gtu ya pasti bingung dan lbih baik buat mrelakan,,
    Ini kek tmparan buat cwo, scinta apapun cwek yg kta btuhkan slain cinta it adlah kpastian, utk ap brthan sma ssuatu yg gk pasti?? -.-

    Kak ak begadang baca ini, hbisnya bru ngecek blog mu sih :(,,
    Ditunggu bgt ff chapt yg msih blm lanjut,, semangaat kak 🙂

  31. hyokwang berkata:

    ahhh, akhirnya g sesuai sama yg aku pikirkan… nyesek dari awal udah sama kyuhyun ko’ akhirnya sama donghae… sakit banget rasanya…
    tapi ffnya bagus… ditunggu karya yg lainnya 🙂
    semangat 😀

  32. Nur berkata:

    Endingnya sedikit diluar perkiraan. Ceritanya bagus ..

  33. honneyhae berkata:

    dulu dan sekarang..begitulah..kayak biasa ya miss hoon nggak jauh2 dari kyu ma dongek..baguss, tapi kasian kyu..

  34. adelcho berkata:

    Kasian kyuhyun. Tapi salah dia sendiri sih,kenapa pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jadi hyura kan jadi galau gitu. Tapi baguslah hyura punya masa depannya. Kyuhyun juga harus move on

  35. afuza berkata:

    berapa bulan ini??
    welcome back unnie kkkkkk
    jujur wktu tau update aq brharap aku nemuin famiglia tp ff ni gg kalah keren kok, mskipun aq gg stuju ma hyura-donghae tp aku rasa itu masuk akal, bukan masalah kesetiaan tp hidup itu memang harus ttap brjalan.
    nice ff unie, di tunggu famiglia-nya

  36. regnatia berkata:

    Realistis koq pilihan hyura … Gak ada yg salah dia pilih donghae buat masa depannya … Secara kyuhyun udh ninggalin dia gak ada kabar …. Tapi tetep nyesek juga sih …. Hahaha

  37. gaerriszrye berkata:

    Selalu galau kalau Ada ff sad …
    Antara pengen baca …
    Dan gak mau baca Karena nguras air Mata …..
    Huhuhuhuhu

    Pengen Ada kyuhyun side story nya …

  38. nezarinda berkata:

    Coba klo kyu sedikit kasih pesan hyura buat nggu dia..endingnya kyu pasti jg bahagia…jd bkn slh hyura dunk kyu…
    Ff disini smua tuh always touching…ngena….hmmm…keren pokoknya mah….

  39. Kimy Chee berkata:

    Spechless, ceritanya bagus banget dan ngena. Aku suka banget. Tapi, kasian kyuhyun dan aku seneng endingnya gak kaya kebanyakam ff

  40. septinahandayani berkata:

    Wahh sad end , kirain hyura bakal balik sama kyuhyun tp ternyata engga . Kyuhyun kasian bgt hidup lu , mending sini deh sama aku *plakk
    Ngakak juga bacanya , biasanya kalau baca ff kyuhyun dia selalu dapetin apa yg dia mau , tp kali ini hahahah .

  41. Kikii Ryeo berkata:

    komentar panjang saya mana???

  42. choya berkata:

    Ngefeel bgt ceritanya ^^
    Aku stju sama kakak di atas, mndg sad story drpd sad ending 🙁
    Kalau ini manis dlu akhirny pahit bgt 🙁
    Tp q ttp suka ceritny 🙂
    Yg semangat ya…:) keep writing^^

  43. prahezty berkata:

    Miris bgd jd kyu sumpaaahh ..
    Ngeness bacanyaa ..

  44. fairuuzaquila berkata:

    Sedih
    Senang
    Seru
    Bercampur aduk. Mantap eon

  45. Chohiro berkata:

    Tuk ff yg ini aga lain yach, kyu nya yg tersingkirkan, hae dech yg dpt hyura.. Tp tetep aja brasa g rela klo kyu yg teersakiti, walau dia yg mulai.

    Semangat saeng tuk ff brikut nya

  46. meganfai berkata:

    Buat Sequel nya dong.. masih penasaran sama sikap kyuhyun, bakal perjuangin cinta hyura atau. Rela gitu aja ya..
    Please.. sequel.

  47. Ayum berkata:

    Enam tahun cho kyuhyun! Yang ngalahin kyuhyun pergi cuma Rangga aadc.
    Masalah komunikasi parah sekali sampai kyuhyun ga bilang kalo mau kuliah di harvard.

  48. ddd berkata:

    benci sama sad story

  49. vhiy zaza berkata:

    ada juga saat nya donghae yang mendapatkan hyura, haha
    biasanya pasti kyuhyun yang mendapatkan hyura baik ittj secara paksa ataupun suka rela
    agak kasian si ama kyuhyun tapi aku setuju sama pilihan hyura, masa lalu ya masa lalu, cukup dijadikan kenangan, apalagi masa depan kita udah ada di depan mata

  50. inggarkichulsung berkata:

    Kasihan baby Kyu, sbtlnya smp skrg ia msh mencintai Hyura noona, kekasihnya dulu wkt ia msh SMA,tp Hyura benar Kyu oppa yg meninggalkannya 6 tahun lalu dan skrg Hyura sdh merencanakan masa depan yg indah bersama Donghae oppa dan merawat serta menyayangi Chanyeol dgn baik, suka bgt sm ff nya

  51. riri berkata:

    sad ending ! tidak suka yg seperti ini . sukanya sad romance happy ending . ga tau knp ga rela kyuhyun ditinggalkan . klo ada sequelnya pasti kyuhyun lebih garang lagi buat dapetin apa yg seharusnya miliknya . saya yakin itu . ayo kyu kembalikan lg hyura keposisinya yaitu disampingmu !

  52. anianiya berkata:

    Kasian kyuhyun ngak bsa bersatu sama hyura bahkan setlah 6 tahunpun kyu masih tetap mencintai hyura walaupun hyura sekarang hyura tidak mencintanya lagi, beharap dapt yang terbaik aja buat kyu mungin hyura bkan jodohnya hyura…
    Di tunggu story berikutnyaa ya kaaak….

  53. origamine berkata:

    hai aku reader baru.
    aku suka bgt ff nya feel ny dpt. sweet.
    meskipun sedih jg akhirnya kyu gbs bareng sm hyura, walaupun agak gak rela, tp aku rasa alasannya masuk akal dan aku bs menerimanya

  54. pikaminj berkata:

    love bgt ff ini kereeen ^^

  55. inet berkata:

    spechless…
    daebak!!keren bgt authornim..^^
    tp,jujur aq gk rela kyu yg mst trsakiti…biar gmnpun yg dy lakuin cm semata2 krn hyura…jd berasa gk adil buat kyu.. ><
    tp aq suka bgt sm ceritanya..^^

  56. kyutheee berkata:

    Kasihan kyuhyun… Mungkin krna perbedaan umur juga, dan aktu itu hyura lagi kekurangan kasih sayang

  57. ghyunnvy berkata:

    Huffttt… happy ending di Hyura, sad ending dikyuhyuhyun… kasian si kyuhyunnya><

  58. hyerilee berkata:

    wah ga ketebak endingnya
    tapi gapapalah sekali kali nistain kyuhyun + menangin donghae *walo udah keduluan kyuhyun* kkkk
    ditunggu next ffnya thor semangat^^

  59. huwa,,,,knp hyura tetep milih dongek,,,,padahal udah bny yg dilalui waktu bareng kyuhyun,,,huhuhuhu,,,
    Adakah ini sequelnya????
    argrg,,,kasihan bget deh Kyu oppa,,,gpp,,ntar dpt gantinya,,Ane siap kok,,,wkwkwk#ngarep

  60. Babyniz137 berkata:

    Keren~ bingung jg klo ada diposisi hyura..
    Minta sequel nya dong~

  61. kim vikyu_94 berkata:

    wahh daebakkkk ! Endingnya gak ketebak. Gak tahu ini happy atau malah sad ending, campur.campur 🙁 .. Seneng Hyura gak terpuruk karna ditinggal Kyu, dia gadis hebat tapi sedih karna perjuangan Kyu jadi sia.sia. Semoga dia kuat dan gak sakit kek yang donghae kira.. Ceritanya asik, ditunggu ff lainnya. Semangat ! Dan salam kenal! 🙂

  62. syalala berkata:

    happy ending tp sad ending buat kyuhyun hahahahaha kesian bgt sumpah! suka gemes kalo emdingnya ga desuai ekspetasi huhu kan maunya kyuhyun sama hyura jahaha tp selalu ada donghae diantaranya hihi suka sukaaa aaakkk

  63. dyan berkata:

    waktu pas kyuhyun sama hyura jadian rada gak suka soalnya kyuhyun lebih muda. ceritanya di luar dugaan.
    mantap 🙂

  64. Krysdha berkata:

    AWal2’x dibuat Kesel ama Kelakuan Kyuhyun..
    Di Pertengahan Udah Se’xum2 sendiri Bc’x..
    Ending’x Yg gk keduga bgt,,Gk ‘xngka Kyuhyun bkln ninggalin Hyura buat ‘xelesaiin Tantangan Dr Ahra..
    Dn stelah Dia Kmbali;Hyura udah dgn Yg lain..
    Kirain Mereka Bkln Bersatu..ter’xta tdk Toh..
    Gmn nasib Kyuhyun Tuh??

  65. Lovey denalisa berkata:

    nyesek sumpah nyesek bgt baca ini..
    ya ammmpuunnn aku berharap banyak ma ahir ff ini,berharap ma kebersamaan kyuhyun ma hyura..hiks hiks….berasa gimana…walaupun bukan salah hyura tapi kasian kyuhyun…dia aartgg..

    tapi namanya juga hiduo kan….walaupun ff juga harus di buat serealita mungkin buat bisa menarikkk…. siiipp eonnniii

  66. omg!!!! KYU,,,,, oh no!! kasian kyuhyun sama aku ajhhh ya..plissss

  67. rara berkata:

    hyura wktu pacaran sm kyuhyun prnh sex y
    jd ahra dengar
    tp dy gk mergoki mereka
    msh sayang dy sm adikny
    kyuhyun bs cinta sm hyura krn dy krg ksh syang dr eomma dan noonany
    jd bgitu ad hyura yg ktemu tiap hri
    bawel jd dy ad hati
    dy slh jg knp prgi gk blg”
    hyura udh gk ad rasa sm kyuhyun
    donghae skrg pmilik hatiny
    kyuhyun nyesal bgt tuh
    sequel dong

  68. Lina lay berkata:

    Eh ada donghae.. huwah kirain hyura bakal ama kyu lg trnyta kyu didepak kkk…
    Aq suka ceritanya.. keren bgt deh..

  69. dee berkata:

    huwaaaa aku pikir hyura bakal balik lagi ke kyuhyun ..untung dia punya ketetapan hati buat sama donghae ..untung donghae juga pengertian ke hyura ..

  70. risahELF berkata:

    Endingnya beda dari yg lain ..
    Antara happy ending or sad ending?
    Kasihan di Kyu , need sequel ..:D

  71. BabyBoo berkata:

    Dikirain bakal balikan tapi yaudahlahh;)

  72. gyukyu berkata:

    Kyuhyun malang bgt nasibmu boy :'( gak terima liat kyu disakiti-.-
    Tapi mau gimana lagi itu jga salah’y kyuhyun yg gak mau bilang dia pergi buat hubungan mereka..
    mungkin donghae emg jodoh’y hyura, sabar ya kyu ntar kamu sama aku aja, okk :* 😀
    Keep writing thor 😉

  73. endri budiarti berkata:

    Aku lama banget nggak buka web ini. Eh waktu buka updetannya udah banyaaak bgt.. Suka bgt kakaks. Btw,,, aku shock bgt baca ni ff. Gila,, pas awal ceritanya berbunga bunga, susah seneng Si hyura sama Kyu, lhahh di akhir tiba tiba endingnya sama donghae yg entah dtg Dari mana. Huhuhu. Sungguh. Ini adalah harapan palsu. :(((((.. Tapi keren kok Kak.. Bikin deg degan. Greget juga.

  74. Mrs.Donghae berkata:

    Another longshot. Dari awal baca aku sdh t’tarik bgt. Gaya bahasa’a mampu membuat pembaca langsung penasaran. Cerita’a panjang tapi tdk bertele-tele… Aku suka!

    Dari awal, Kyuhyun jdi pemeran utama eh tau’a ga jadi sama Hyura. Malah Donghae yg beruntung…
    Yah, biarlah….sekali2 si Donghae yg menang.
    Kisah cinta mereka lucu. Hyura yg polos sama Kyuhyun si bocah b’seragam yg suka seenak’a.
    Kyuhyun patah hati ya? Sini deh…sama noona aja…hehehe

  75. christinadwi berkata:

    Aku sedih eon, sejahat dan sebrengsek apapun kyuhyun, aku ngga pernah rela nglihat kyuhyun hancur diakhir. Seorang kyuhyun kayaknya hampir ngga pernah kalah gitu. Tapi disini pada akhirnya. Kan kyuhyun yg pertama, kok dia yg kalah?
    Sakit eon bacanya.. Tapi ini tetap menghibur kok hehehe.. makasih yaa eon, ff mu selalu yg terbaik lahh (y) ♡♡

  76. Han Cemunung berkata:

    Sedih juga si yang pada akhirnya hyura nggak bisa balikan lagi ama kyu. Tapi emang bener juga semuanya nggak mesti happy terus dan berakghir seperti yang kita rencanakan dan harapan. Author berkata laen…ups maksudnya takdir berkata lain.
    Setuju bangets sama hyura tentang masa lalu,pahit manisnya masa lalu kita nggak boleh selalu nengok kebelakang apalagi masa lalu yang menyakitkan yang nanti ngebuat kita inget dan sakit hati masa lalu yang kaya gitu cukup kita kenang aja, setuju sama hyura yang tetep maju terus.
    Masa depan yang udah direncanain dengan matang nggak boleh diganggu gugat. Tapi….sebiadabnya kyu atau apapun itu tetep aku nggak rela kalo kyu tersakiti…hiks…hiks…hiks
    Sempet ngira tadi bakal menarik nic pedofil yang biasanya namjanya sekarang ganti pedofil yeoja kan boleh sekali-kali kisah brondong beelaku…ehhh taunya dongek muncul diakhiran dan mengalahkan kyu…sungguh tak terduga dan sungguh beruntungnya dirimu ikan mokpo !!! Mian buat komen yang panjang tapi nggak jelaas!! Izin baca buat karya selanjutnya dan semangat n sukses selalu…

    Fighting ^_^_

  77. dalmishu berkata:

    kasian kyu nya udah nunggu 6th tapi hyura nya udah sama orang lain, kirain mereka bakal bersatu lagi eh ternyata enggak..
    tapi ya mau gimana lagi, semua itu cuma masa lalu..
    tapi masih ngga rela kalo kyu nya tersakiti.. T,T

  78. aleynayyaracho berkata:

    Aku yakin duluuuuuu bgt pas baru prtama kenal SJ Aq bgitu tergila2 dgan Lee Donghae……Aq mencintainya……Tp Sjak 3 tahun ini Aq tergoda oleh maknae tengil Cho Kyuhyun……..dan saat baca FF ini gak tau knapa Aq brasa kosong dan patah hati hanya gara2 hyura memilih donghae…..bukan kyuhyun…..kyaaaaaaa hatiku sudah berpaling dari si abang ikan……….dan cerita ini bnr2 merasuk dalam jiwaku kkkkkkk~ meskipun happy ending…Tp bagiku masih sad ajah hueeeeeee #peluk chokyuhyun……….

  79. ElvaZavier berkata:

    wahhh .. kasian bgt kyuhyun, salah sendiri pergi gak bilang2. harusnya dia menyuruh hyura menunggunya..

  80. dina17pratiwi berkata:

    eonni, knp endingnya gini, andwae, gak relaaaa
    butuh sequel, hrs sama cho kyuhyun pokonya

  81. Seftia Yolanda RAM berkata:

    Aaahhhh JAHAT ;( udah mewek nih thor :/ kasiian Kyuhyun, udh bener bener berjuang buat Hyura! Enam tahun dia ninggalin Hyura kan buat hubungan mereka juga….

    Intinya nggak ada sql? *taulah sql apa 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *