Let Him Go

wpid-2015-06-15-12.43.36.jpg.jpeg

Happy Reading and Sorry For Typho

@miss_hoon

***

            Untuk memahami ceritaku, kalian harus percaya pada hal-hal mustahil.

Apakah hantu itu nyata?

            Menurut para ilmuwan hantu sebenarnya tidak nyata melainkan otak kita yang menganggapnya ada.Well, itu yang kudapat dari Google. Mungkin delusi atau semacamnya. Aku tidak ambil pusing mengenai eksistensi hantu. Tapi itu dulu, sekarang aku sangat ingin mempercayai bahwa hantu itu ada.

Setiap pukul lima sore aku mendatangi pemakaman yang letaknya tidak jauh dari kampus. Setidaknya tempat ini menjadi rumah kedua bagiku selama beberapa bulan belakangan. Aneh? Memang. Tapi tidak bagi orang yang baru saja kehilangan.

In Memorial

Lee Donghae

Loving Family. Friend

 

            Membersihkan daun kering yang berserakan di sekitar nisan dengan tanganku, mengganti bunga disetiap sudut nisan dan yang terakhir mengambil cawan yang sudah diletakkan disana sejak pertama kali makam ini dibuat. Kira-kira enam bulan lalu. Aku mengeluarkan semua bahan yang kubutuhkan menuangnya ke cawan tersebut sebelum meminumnya. Memejamkan mata, mengambil nafas dalam, konsentrasi dan….

            “Kau terlambat lima belas menit” bisiknya rendah ditelingaku

            Aku tersenyum lalu membuka mataku. Menoleh kesamping, Dia menyeringai senang. “Melihat dari ekspresimu sepertinya Oppa tidak keberatan” kataku

            Dia menganggkat bahu berjalan menjauhiku, mendekati nisannya lalu menyadarkan bokongnya di sana. “Tergantung alasanmu”

            Aku berjalan ke arahnya, mengalungkan tanganku di lehernya. Tidak ada kehangatan, bahkan aku tidak bisa merasakan kulitnya di bawahku. Tapi aku tidak keberatan, selama aku bisa melihat dan menyentuhnya. Jadi aku tetap tersenyum “Hmm aku harus mencari toko bunga yang lain karena toko bunga yang biasanya tutup” ujarku manja.

            Dia melingkarkan tangannya di sekeliling pinggangku lalu mengecup ujung hidungku singkat “Alasan diterima” senyum tidak pernah hilang dari bibirnya.“Hari ini apa yang akan kau bagi denganku?” tanyanya antusias. Aku melepas kaitan tanganku di lehernya, lalu menggambil tangannya yang masih dipinggangku, menggandengnya. Kami berjalan-jalan mengelilingi kompleks pemakaman. Hal yang selalu kulakukan saat datang kesini.

            “Aku sedikit cemas dengan Eomonim” kataku

            “Ibuku?”

            Aku mengangguk “Dua hari belakangan ini aku menelpon ke rumahmu tapi hanya ada mesin penjawab”

            “Aneh. Bagaimana dengan ponsel dan Donghwa Hyung?”

            “Aku juga tidak bisa menghubungi Ponselnya dan Donghwa Oppa sudah kembali ke Denver”

            “Tunggu, bukankah minggu depan Chuseok?”

            “Ada apa dengan Chuseok?” Tanyaku bingung

            “Aku sudah tidak ada, Eomma pasti memilih merayakannya bersama Donghwa Hyung dan keluarga Kami disana”

            “Ahh, maksudmu Bibimu yang tinggal di Denver bersama anaknya?”

            “Kyuhyun. Kau ingat?”

            Aku menggeleng “Kyuhyun?”

            “Dia sepupuku. Waktu kecil Dia pernah beberapa kali mengunjungiku”

            “Aku tidak ingat. Apa aku pernah bertemu dengannya?”

            “Tentu saja. Kita sering main bersama, dengan Donghwa Hyung juga”

            Aku mengangkat bahu “Entahlah, aku tidak terlalu ingat”

            “Yah kau memang melupakannya, lagipula itu sudah lama sekali”

            “Tapi bukankah seharusnya mereka yang datang ke sini? Mengunjungi?, Ini perayaan Chuseok bukan thanksgiving”

            Dia tersenyum tipis “Aku tidak  keberatan. Ibuku juga bukan orang yang selalu memegang tradisinya. Itu bagus untuknya, setidaknya dia sudah merelakanku”

            Aku berhenti , menatapnya sendu “Oppa…”

            Dia tersenyum lembut “Hyura-ya. Kau juga…..”

            “Kita tidak akan membicarakannya” potongku cepat “Sudah kubilang beberapa kali kita tidak akan pernah membicarakan masalah tersebut”

            “Hyura, dengar…”

            “Tidak! Kau yang dengar!” menggunakan tanganku yang bebas menyentuh pipinya. Menatapnya serius “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Lee Donghae. Jadi jangan pernah menyuruhku melakukan hal yang tidak bisa kulakukan” Air mata mulai menusuk mataku. Aku tidak suka topic ini. Dan dia tau benar topic ini sangat sensitive bagi kami.

            Donghae mengambil tanganku dipipinya lalu mengecupnya singkat. Dia kembali tersenyum “Aku mengerti. Aku juga mencintaimu Park Hyura”

Aku membalas senyumnya “Apa kita bisa berciuman?”

Dia mengangkat bahunya “Seperti sebelum-sebelumnya. Kau tidak akan merasakan apapun” dia mengangkat tautan tangan kami “Aku yakin kau tidak merasakan jari-jariku”

Aku mengerang “Kau benar”

“Kita jalan lagi?”

Aku mengangguk.

Kami diam sesaat Menikmati kebersamaan kami dalam keheningan. Langit sudah berubah oranye, menandakan waktuku tidak lama lagi.

“Kira-kira berapa Lama Eommonim akan pergi” tanyaku memecahkan keheningan.

“Tidak ada yang tau”

“Apa?” aku berhenti, menatapnya panic.

“Kenapa?Ada yang salah?”

“Aku kehabisan persediaan.Bagaimana ini?”

“Kau yakin?” aku bisa melihat kekhawatiran yang sama denganku dimatanya.

Aku mengangguk

“Kata Nammie aku hanya boleh mengambil darah setelah tiga bulan, atau aku bisa membahayakan ibumu.Ini sudah lebih dari tiga bulan. Oppa, Eottokae?”

“Berapa sisa yang kau punya?”

“Hanya beberapa cc lagi, mungkin untuk dua atau tiga hari”

Donghae menggaruk kepalanya “ Celaka, Eomma tidak akan kembali sebelum Chuseok”

“Bagaimana dengan Donghwa Oppa? Mungkin aku bisa membujuknya untuk pulang—atau aku bisa menyusul mereka. Berikan alamatnya padaku”

Donghae Oppa terkekeh “Park Hyura tenanglah, ini hanya akan beberapa hari. Eomma pasti pulang setelah Chuseok”

“Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau dia merasa nyaman disana? Disana ada Donghwa Oppa, ada bibimu. Sedangkan disini sudah tidak ada siapapun. Bagaimana jika Eomonim memutuskan tinggal disana” aku hampir histeris membayangkan kemungkinan tersebut. Jika aku tidak mendapat pasokan darah maka aku tidak bisa bertemu Donghae Oppa. Tidak.Itu tidak boleh terjadi.

“Dia akan kembali Hyura-ya. Tenanglah” dia menyentuh kedua lenganku mencoba menenangkan. Tapi tidak berguna, aku tidak bisa merasakan sentuhannya, yang justru membuatku bertambah panic.

“Tidak ada jaminan apapun Oppa. Berikan alamat mereka. Jika Eomonim tidak kembali setelah Chuseok, aku akan menyusul kesana”

“Lalu apa yang kau katakan pada mereka? Kau bahkan sudah berbohong sebelumnya. Ibuku tidak bodoh Hyura. Dia pasti curiga”

“Aku akan beralasan, disana ada Donghwa Oppa, ada paman, bibi dan sepupumu. Kesempatan disana lebih banyak”

Alisnya bertaut tidak setuju. “Tidak Hyura, terlalu beresiko. Apa yang akan kau katakan pada mereka?” Dia berlagak sepertiku dan meniru suaraku “Maaf aku harus mengambil darah kalian untuk kuminum agar bisa bertemu dengan Lee Donghae yang sudah mati. Begitu?”

“Oppa….”

“Mereka pasti akan menganggapmu sudah gila” tambahnya cepat.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” suaraku naik satu oktaf.

Dia baru saja mau membuka mulutnya untuk membalasku tapi alarm di ponselku berbunyi, menandakan waktu ku habis.

Aku menggeleng cepat “Andwe”

“Kita bicarakan lagi besok. Kau harus pulang”

“Andweyo Oppa. Andw…..” dia menghilang. Bahkan sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Aku tidak ingin menangis, maksudku aku ingin tapi tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Donghae Oppa aku tidak akan menangis lagi.

Menarik nafas dalam, menguatkan langkahku dan meninggalkan pemakaman.

***

Setibanya dirumah aku mendapati rumahku dalam keadaan gelap. Memang selalu seperti itu. Aku selalu sendirian. Dan akhir-akhir ini semakin bertambah parah. Membuka kunci pintu, aku masuk melewati ruang tamu. Menyalakan semua lampu sebelum kembali ke ruang depan, duduk di sofa kemudian mengambil figura foto yang berjejer rapi di cabinet di belakang sofa.

Aku melihat foto keluargaku.Aku, Ayah dan Ibu. Ibuku memiliki penyakit paru-paru dan meninggal saat aku berumur dua belas tahun. Dan ayahku, dia selalu berusaha ada untukku. Tapi sekeras apapun dia berusaha, dia tidak akan pernah ada untukku. Dia bekerja keras agar aku bisa hidup nyaman.Aku tidak bisa menyalahkannya, dia menyayangiku dan aku pun menyayanginya.

Sampai kira-kira setengah tahun lalu aku kehilangan Donghae. Kecelakaan mobil yang menimpa kami. Aku mengalami koma selama dua hari, sedangkan Donghae tidak selamat. Dia tidak bisa bertahan saat perjalanan ke rumah sakit.

Dia segala-galanya bagiku. Aku mengenalnya hampir seumur hidup