Let Him Go

wpid-2015-06-15-12.43.36.jpg.jpeg

Happy Reading and Sorry For Typho

@miss_hoon

***

            Untuk memahami ceritaku, kalian harus percaya pada hal-hal mustahil.

Apakah hantu itu nyata?

            Menurut para ilmuwan hantu sebenarnya tidak nyata melainkan otak kita yang menganggapnya ada.Well, itu yang kudapat dari Google. Mungkin delusi atau semacamnya. Aku tidak ambil pusing mengenai eksistensi hantu. Tapi itu dulu, sekarang aku sangat ingin mempercayai bahwa hantu itu ada.

Setiap pukul lima sore aku mendatangi pemakaman yang letaknya tidak jauh dari kampus. Setidaknya tempat ini menjadi rumah kedua bagiku selama beberapa bulan belakangan. Aneh? Memang. Tapi tidak bagi orang yang baru saja kehilangan.

In Memorial

Lee Donghae

Loving Family. Friend

 

            Membersihkan daun kering yang berserakan di sekitar nisan dengan tanganku, mengganti bunga disetiap sudut nisan dan yang terakhir mengambil cawan yang sudah diletakkan disana sejak pertama kali makam ini dibuat. Kira-kira enam bulan lalu. Aku mengeluarkan semua bahan yang kubutuhkan menuangnya ke cawan tersebut sebelum meminumnya. Memejamkan mata, mengambil nafas dalam, konsentrasi dan….

            “Kau terlambat lima belas menit” bisiknya rendah ditelingaku

            Aku tersenyum lalu membuka mataku. Menoleh kesamping, Dia menyeringai senang. “Melihat dari ekspresimu sepertinya Oppa tidak keberatan” kataku

            Dia menganggkat bahu berjalan menjauhiku, mendekati nisannya lalu menyadarkan bokongnya di sana. “Tergantung alasanmu”

            Aku berjalan ke arahnya, mengalungkan tanganku di lehernya. Tidak ada kehangatan, bahkan aku tidak bisa merasakan kulitnya di bawahku. Tapi aku tidak keberatan, selama aku bisa melihat dan menyentuhnya. Jadi aku tetap tersenyum “Hmm aku harus mencari toko bunga yang lain karena toko bunga yang biasanya tutup” ujarku manja.

            Dia melingkarkan tangannya di sekeliling pinggangku lalu mengecup ujung hidungku singkat “Alasan diterima” senyum tidak pernah hilang dari bibirnya.“Hari ini apa yang akan kau bagi denganku?” tanyanya antusias. Aku melepas kaitan tanganku di lehernya, lalu menggambil tangannya yang masih dipinggangku, menggandengnya. Kami berjalan-jalan mengelilingi kompleks pemakaman. Hal yang selalu kulakukan saat datang kesini.

            “Aku sedikit cemas dengan Eomonim” kataku

            “Ibuku?”

            Aku mengangguk “Dua hari belakangan ini aku menelpon ke rumahmu tapi hanya ada mesin penjawab”

            “Aneh. Bagaimana dengan ponsel dan Donghwa Hyung?”

            “Aku juga tidak bisa menghubungi Ponselnya dan Donghwa Oppa sudah kembali ke Denver”

            “Tunggu, bukankah minggu depan Chuseok?”

            “Ada apa dengan Chuseok?” Tanyaku bingung

            “Aku sudah tidak ada, Eomma pasti memilih merayakannya bersama Donghwa Hyung dan keluarga Kami disana”

            “Ahh, maksudmu Bibimu yang tinggal di Denver bersama anaknya?”

            “Kyuhyun. Kau ingat?”

            Aku menggeleng “Kyuhyun?”

            “Dia sepupuku. Waktu kecil Dia pernah beberapa kali mengunjungiku”

            “Aku tidak ingat. Apa aku pernah bertemu dengannya?”

            “Tentu saja. Kita sering main bersama, dengan Donghwa Hyung juga”

            Aku mengangkat bahu “Entahlah, aku tidak terlalu ingat”

            “Yah kau memang melupakannya, lagipula itu sudah lama sekali”

            “Tapi bukankah seharusnya mereka yang datang ke sini? Mengunjungi?, Ini perayaan Chuseok bukan thanksgiving”

            Dia tersenyum tipis “Aku tidak  keberatan. Ibuku juga bukan orang yang selalu memegang tradisinya. Itu bagus untuknya, setidaknya dia sudah merelakanku”

            Aku berhenti , menatapnya sendu “Oppa…”

            Dia tersenyum lembut “Hyura-ya. Kau juga…..”

            “Kita tidak akan membicarakannya” potongku cepat “Sudah kubilang beberapa kali kita tidak akan pernah membicarakan masalah tersebut”

            “Hyura, dengar…”

            “Tidak! Kau yang dengar!” menggunakan tanganku yang bebas menyentuh pipinya. Menatapnya serius “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Lee Donghae. Jadi jangan pernah menyuruhku melakukan hal yang tidak bisa kulakukan” Air mata mulai menusuk mataku. Aku tidak suka topic ini. Dan dia tau benar topic ini sangat sensitive bagi kami.

            Donghae mengambil tanganku dipipinya lalu mengecupnya singkat. Dia kembali tersenyum “Aku mengerti. Aku juga mencintaimu Park Hyura”

Aku membalas senyumnya “Apa kita bisa berciuman?”

Dia mengangkat bahunya “Seperti sebelum-sebelumnya. Kau tidak akan merasakan apapun” dia mengangkat tautan tangan kami “Aku yakin kau tidak merasakan jari-jariku”

Aku mengerang “Kau benar”

“Kita jalan lagi?”

Aku mengangguk.

Kami diam sesaat Menikmati kebersamaan kami dalam keheningan. Langit sudah berubah oranye, menandakan waktuku tidak lama lagi.

“Kira-kira berapa Lama Eommonim akan pergi” tanyaku memecahkan keheningan.

“Tidak ada yang tau”

“Apa?” aku berhenti, menatapnya panic.

“Kenapa?Ada yang salah?”

“Aku kehabisan persediaan.Bagaimana ini?”

“Kau yakin?” aku bisa melihat kekhawatiran yang sama denganku dimatanya.

Aku mengangguk

“Kata Nammie aku hanya boleh mengambil darah setelah tiga bulan, atau aku bisa membahayakan ibumu.Ini sudah lebih dari tiga bulan. Oppa, Eottokae?”

“Berapa sisa yang kau punya?”

“Hanya beberapa cc lagi, mungkin untuk dua atau tiga hari”

Donghae menggaruk kepalanya “ Celaka, Eomma tidak akan kembali sebelum Chuseok”

“Bagaimana dengan Donghwa Oppa? Mungkin aku bisa membujuknya untuk pulang—atau aku bisa menyusul mereka. Berikan alamatnya padaku”

Donghae Oppa terkekeh “Park Hyura tenanglah, ini hanya akan beberapa hari. Eomma pasti pulang setelah Chuseok”

“Bagaimana jika tidak? Bagaimana kalau dia merasa nyaman disana? Disana ada Donghwa Oppa, ada bibimu. Sedangkan disini sudah tidak ada siapapun. Bagaimana jika Eomonim memutuskan tinggal disana” aku hampir histeris membayangkan kemungkinan tersebut. Jika aku tidak mendapat pasokan darah maka aku tidak bisa bertemu Donghae Oppa. Tidak.Itu tidak boleh terjadi.

“Dia akan kembali Hyura-ya. Tenanglah” dia menyentuh kedua lenganku mencoba menenangkan. Tapi tidak berguna, aku tidak bisa merasakan sentuhannya, yang justru membuatku bertambah panic.

“Tidak ada jaminan apapun Oppa. Berikan alamat mereka. Jika Eomonim tidak kembali setelah Chuseok, aku akan menyusul kesana”

“Lalu apa yang kau katakan pada mereka? Kau bahkan sudah berbohong sebelumnya. Ibuku tidak bodoh Hyura. Dia pasti curiga”

“Aku akan beralasan, disana ada Donghwa Oppa, ada paman, bibi dan sepupumu. Kesempatan disana lebih banyak”

Alisnya bertaut tidak setuju. “Tidak Hyura, terlalu beresiko. Apa yang akan kau katakan pada mereka?” Dia berlagak sepertiku dan meniru suaraku “Maaf aku harus mengambil darah kalian untuk kuminum agar bisa bertemu dengan Lee Donghae yang sudah mati. Begitu?”

“Oppa….”

“Mereka pasti akan menganggapmu sudah gila” tambahnya cepat.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” suaraku naik satu oktaf.

Dia baru saja mau membuka mulutnya untuk membalasku tapi alarm di ponselku berbunyi, menandakan waktu ku habis.

Aku menggeleng cepat “Andwe”

“Kita bicarakan lagi besok. Kau harus pulang”

“Andweyo Oppa. Andw…..” dia menghilang. Bahkan sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Aku tidak ingin menangis, maksudku aku ingin tapi tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Donghae Oppa aku tidak akan menangis lagi.

Menarik nafas dalam, menguatkan langkahku dan meninggalkan pemakaman.

***

Setibanya dirumah aku mendapati rumahku dalam keadaan gelap. Memang selalu seperti itu. Aku selalu sendirian. Dan akhir-akhir ini semakin bertambah parah. Membuka kunci pintu, aku masuk melewati ruang tamu. Menyalakan semua lampu sebelum kembali ke ruang depan, duduk di sofa kemudian mengambil figura foto yang berjejer rapi di cabinet di belakang sofa.

Aku melihat foto keluargaku.Aku, Ayah dan Ibu. Ibuku memiliki penyakit paru-paru dan meninggal saat aku berumur dua belas tahun. Dan ayahku, dia selalu berusaha ada untukku. Tapi sekeras apapun dia berusaha, dia tidak akan pernah ada untukku. Dia bekerja keras agar aku bisa hidup nyaman.Aku tidak bisa menyalahkannya, dia menyayangiku dan aku pun menyayanginya.

Sampai kira-kira setengah tahun lalu aku kehilangan Donghae. Kecelakaan mobil yang menimpa kami. Aku mengalami koma selama dua hari, sedangkan Donghae tidak selamat. Dia tidak bisa bertahan saat perjalanan ke rumah sakit.

Dia segala-galanya bagiku. Aku mengenalnya hampir seumur hidup, dia peganganku, penopangku. Donghae selalu ada pada setiap momen penting dalam hidupku.

Dia menguatkanku saat aku kehilangan ibuku, disaat ayahku bahkan tidak bisa mengatasi kesedihannya. Bahkan ketika aku menangis kebingungan karena Haid pertamaku. Dia membantuku berbicara dengan Eomonim. Dia tidak merasa risih dengan masalah kewanitaan. Meskipun itu sangat memalukan bagi pria, tapi tidak untuknya.

Bisakah kalian bayangkan saat aku membuka mata dan mendengar dia sudah pergi.Tidak ada yang bisa kulakukan, Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, aku tidak bisa marah pada supir mabuk tolol yang sudah menabrak kami. Aku hanya bisa menangis, dan terus menangis hingga rasanya aku kehabisan air mata dan hanya terdengar isakan kecil dari dalam dadaku.

Di bulan pertama Donghae pergi, aku bertahan semampuku, mempertahankan kewarasan yang masih kumiliki. Demi Ayahku aku bersikap baik-baik saja. Pergi Kuliah, bertemu teman-temanku, tertawa, bergosip, berbelanja atau bahkan berpesta. Tapi semua itu hanya omong kosong. Saat berbaring di ranjang air mataku akan jatuh dengan sendirinya. Memikirkan hari esok aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi sedangkan aku harus terus berpura-pura aku baik-baik saja. Aku bahkan masih membayarkan tagihan teleponya karena Setiap hari aku menelpon agar bisa mendengar suaranya. Meskipun kurang dari sepuluh kata. Hai. Ini aku Lee Donghae. Silahkan tinggalkan pesan.

Di bulan kedua aku merasa semuanya semakin berat. Aku putus asa, merindukannya hingga rasanya aku bisa mati karena itu. Berharap sekali saja aku memimpikannya tapi dia tidak pernah datang. Bukan hanya sekali terlintas untuk menyusulnya, tapi itu hanya akan menyakiti hati ayahku. Dia pernah membuat pemakaman untuk ibuku, aku tidak ingin menghancurkannya dengan memaksanya membuat pemakaman untukku.

Memasuki bulan ketiga kupikir aku benar-benar hampir gila. Aku menjauh dari kehidupan social. Aku tidak bisa lagi berinteraksi dengan teman-temanku. Sampai suatu sore aku berdiri di tepi sungai Han. Aku memandang air dengan pikiran kosong, aku tidak bisa lagi memikirkan hari esok atau bahkan Ayahku. Yang ingin kulakukan hanya terus melangkah ke dalam air, berharap airnya bisa menenggelamkan isi kepala dan sesak yang kutanggung. Namun saat tinggal sedikit lagi aku jatuh ke air seorang wanita paruh baya menepuk bahuku.

Dia menatapku dingin “saat kau melakukannya kau akan memberikan luka yang sama seperti yang kau alami sekarang pada orang lain nak”

Alisku bertaut “Maaf aku tidak mengenal anda” kataku.

“tapi kau memahami perkataanku”

Aku menggeleng cepat “Maaf. Aku tidak mengerti” aku segera beranjak dari sana tapi ucapannya menahanku

“aku bisa membantumu”

Aku melihatnya seperti dia seorang alien “Ahjumah, maaf bukannya aku bersikap tidak sopan. Tapi aku tidak mengenal anda dan aku tidak mengerti maksudmu”

Dia memejamkan matanya dan menyentuh bahuku. Aku berusaha menjauh namun dia mencekramnya erat.

“Ahjumah! Aku bisa melaporkanmu pada polisi”

Dia membuka matanya sambil menyeringai “Kecelakaan yang tragis. Dan kau sangat merindukan pria itu”

Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana dia bisa tau?“Siapa kau?” suaraku bergetar, jujur saja aku sedikit takut.

Dia mengeluarkan sesuatu dari saku nya dan menyodorkannya padaku. Aku menatapnya seksama. Sebuah amplop putih namun sedikit menggembung. Seperti diisi sesuatu.

“Apa ini?”

“Terimalah”

Meskipun ragu tapi aku menerimanya. Dia tersenyum.

Dia mengenggam tanganku yang memegang amplop tersebut “gunakan ini dengan darah langsung dari keluarganya”

“A..apa? apa maksudmu? Aku tidak mengerti”

“Kau bisa mengunjungi” dia menyentuh dadaku sambil memejamkan mata sebentar sebelum bicara lagi “Ya tuhan, lihatlah perasaanmu sangat kuat. Dicampur dengan darah dan ini” dia menekan tanganku “pasti berhasil. Kau akan melihatnya”

Ekspresi kebingungan masih di wajahku hingga wanita itu terkekeh “jangan terlalu banyak berpikir. Cukup lakukan apa yang kukatakan dan kau bisa melihat pria itu lagi. Tapi jika kau merasa aku hanya membual kau bisa membuangnya”dengan itu wanita tersebut berbalik menjauhiku, tapi baru beberapa langkah dia menoleh ke arahku “Tapi ingat anak muda, segala sesuatu yang bertentangan dengan alam selalu ada konsekuensinya”

Dan setelah itu dia menghilang.

Kupikir Ahjumah itu salah satu pasien yang lari dari rumah sakit jiwa. Tapi kurasa aku lebih gila darinya karena melakukan apa yang dia katakan. Membujuk Eomonim agar ikut mendonorkan darah serta meminta bantuan Nammie yang kebetulan berprofesi  sebagai dokter magang untuk mengambilkan darah Eomonim.

Aku tidak pernah membayangkan manusia seperti apa yang mengkonsumsi rumput kering di campur dengan darah. Hal pertama yang kurasakan, aku akan muntah pada tegukan pertama tapi aku menahannya, kemudian tersedak pada tegukan kedua. Dan aku benar-benar tidak tahan untuk tidak memuntahkannya. Namun saat aku membuka mata sambil menutup mulutku Manahan mual, aku melihatnya. Lee Donghae berdiri dihadapanku sambil menatapku cemas. Hyura, kau baik-baik saja? Apa yang kau minum?.Itu adalah ucapan pertama yang keluar dari mulutnya.

“Sayang apa yang kau lakukan disini?”

Aku tersentak dari lamunanku tentang masa lalu. Maksudku masa sulitku. Aku mendongak, ayahku berdiri diambang pintu melihatku heran.

“Appa. Kau sudah pulang?”

“Tentu. Kenapa kau melamun disitu?”Appa mendekatiku, menunduk lalu mengecup rambutku singkat.

Aku tersenyum “Kau sudah makan?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Kau mau makan bersama Appa?”

Aku berdiri dan tercium aroma asap Ggalbi. Aku cemberut “Kau sudah makan”

Ayahku terkekeh “Aku bisa makan lagi. semangkuk nasi tidak masalah untukku”

Aku menggeleng sambil tersenyum “Gwenchana, aku tidak lapar”

“Kau yakin nak?”

Aku mengangguk meyakinkannya “Tapi ada yang ingin kukatakan”

“Apa itu?” tanyanya penasaran

“Aku butuh ijin Appa. Setelah Chuseok aku ingin liburan”

“Chuseok?” keningnya berkerut dalam.

“Maksudku setelahnya. aku tidak mungkin meninggalkan Appa merayakan Chuseok sendirian. Kita akan merayakannya bersama, seperti biasa. Mengunjungi makam Eomma, Harabeoji, Halmeoni dan—“ aku menelan ludahku kasar “Donghae Oppa”

Dia tersenyum lalu mengangguk “Kemana kau akan liburan?”

“Denver”

Alisnya terangkat satu “Denver?”

Aku mengangguk pasti

Well, itu bukan tempat liburan yang ada dipikiranku” ujarnya masih keheranan

“Ani, maksudku Denver hanya tempat singgah. Aku ingin mengunjungi Donghwa Oppa”

“Okey. Lalu?”

“Lalu…” aku mengigit bibirku “setelah itu aku akan ke California mungkin. Los Angles”

“Jadi Tujuanmu USA?”

“Yep”

“Baiklah.Berapa lama kau disana?Apa itu mengganggu Kuliahmu?”

“Tidak lama, dan kupastikan tidak akan mengganggu kuliahku”

Ayahku tersenyum “Kau mendapatkan ijin”

“Gomawo” aku berseru dan memeluk Ayahku.

“Perlu bantuan untuk memesan tiket?”

Aku menggeleng “Tidak perlu, akan kupesan sendiri. Lagipula aku punya kartu pemberianmu”

“Baiklah, dan beritau aku kapan kau akan pergi”

Aku mengangguk pasti.

***

“Aku sudah dapat ijin dari Ayahku”

“Kau yakin akan menyusul Ibuku ke Denver?” Aku didepan nisan sambil menyusun bunga yang baru ku bawa ke dalam vas yang baru ku bawa juga. Sedangkan Donghae Oppa disampingku sambil memainkan rambutku.

“Hmm. Hanya itu jalan satu-satunya”

Tangannya berpindah ke bunga yang sudah layu, memainkan batangnya yang menghitam.“Aku tidak berpikir ini membutuhkan vas” komentarnya.

“Vas lebih baik dari pada Bucket”

“Tidak ada yang salah dengan bucket bunga”

Aku menoleh ke arahnya. Mata kami bertemu “Aku hanya mengatur tempatmu agar lebih indah”

Dia mengangkat bahu “Seindah apapun  disini hanya kuburan”

“Lebih baik jika kau pindah ke kamarku”

Matanya melebar “kau mau memindahkan kuburanku ke kamarmu?”

Aku mengangkat bahu “kenapa tidak” aku mengambil tangkai terakhir sebelum mengisi vas dengan air.

Dia terkekeh “Tawaran yang menarik, tapi kau harus menghadapi ibuku. Aku tidak yakin dia mengijinkan makam anaknya di pindahkan ke rumahmu”

“Coba Kau pikirkan, aku tidak perlu jauh-jauh kesini untuk menemuimu dan Kita bisa bertemu setiap saat jika makammu ada di halaman belakang rumahku”

“Dan kau bisa menguras habis darah ibuku karena satu cawan hanya untuk satu jam”

“Aku tidak keberatan mendatangi semua keluargamu”

“Sayangnya aku tidak punya banyak anggota keluarga”

Aku cemberut pura-pura kesal “sepertinya kau tidak menyukai ideku”

Donghae tergelak “karena itu benar-benar konyol kau tau”

            Aku ikut tersenyum, menggeser tubuhku hingga tubuh kami menempel. Mengamit lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. “Jadi kau pikir berkencan di kuburan bukanlah hal Konyol”

            Dia tertawa kecil “Tidak untuk kita”

            “Okey, tentu saja tidak untuk kita” sahutku setuju.

            “Kau mengganti shampoo?”

            Aku mengangkat kepalaku melihatnya.“Kau bisa menciumnya?”

            “Tentu saja, aku juga bisa mencium parfummu”

            “Tapi aku tidak bisa merasakan apa-apa darimu”

            “Aku bisa mencium aromamu namun tidak bisa merasakannya itu jauh lebih buruk Hyura. Kau tidak tau betapa aku ingin….” Dia membelai pipiku dan rambutku “Menyentuhmu” bisiknya. Dia mendesah berat lalu tertunduk.

            “Oppa” bisikku

            Dia mendongak. Aku memaksa tersenyum “bisa melihatmu setiap hari, berbicara denganmu, dan…” aku menyentuh bahunya meskipun aku tidak merasakan apapun “Yah, bagiku itu sudah cukup”

            Dia mengangguk dan menegakkan badannya lagi “Maaf aku merusak suasana. Kita sudah berjanji tidak akan ada pembahasan yang menyedihkan”

            Aku mengangguk setuju.

            “Apa rencanamu untuk Chuseok?” Tanyanya antusias

            “Aku akan memasak. Maksudku mencoba memasak seperti Eomonim. Ini Chuseok pertama tanpa bantuannya. Kau tau setiap tahun Eomonim yang membantuku menyiapkan hidangan untuk Eomma”

“Kau pasti bisa” katanya meyakinkan. .Dan Kami terus mengobrol hal-hal sepele. Tentang kuliahku, temanku Nammie dan pacar barunya. Juga Ayahku yang mulai memiliki kebiasaan pulang ke rumah saat aku belum tidur. Sampai waktu kami habis.

***

            Sebelum mengunjungi Donghae aku mencoba peruntunganku dengan mendatangi langsung rumahnya. Mungkin saja ada sanak saudaranya atau siapapun yang bisa memberitauku kejelasan dimana Eomonim berada. Keberadaannya di Denver hanya asumsi Donghae yang kemungkinan hanya lima puluh persen.

            Setelah kecelakaan aku akan berpikir berulang kali untuk mendatangi rumah ini. Kenangan yang membanjiri otakku di setiap sudut rumah ini bersama Donghae membuatku sulit bernafas.Tapi sekarang hal itu bukan masalah lagi untukku.

“Aku punya dua berita. Baik dan buruk. Mana yang mau kau dengar lebih dulu?” Aku menggelar alas di bawah pohon yang tidak jauh dari makam Donghae. Aku membawa bekal, seolah kami sedang piknik meskipun hanya aku yang bisa makan.

“Hmm. Bagaimana dengan berita baik?”

“Okey” Aku mengangguk sambil mengigit buah stroberry.“ Tadi aku kerumahmu dan tidak ada siapapun disana. Jadi Kemungkinan seratus persen Eommonim berada di Denver”

“lalu berita buruknya” tanyanya penasaran.

Aku meletakkan garpu sambil mendesah berat “Aku kehabisan darah. Hari ini aku menggunakan persediaan terakhir. Dan setidaknya aku harus menunggu sampai perayaan Chuseok selesai. Aku sudah berjanji pada Appa akan merayakan Chuseok bersama”

“Yah, mungkin kita harus menunggu beberapa hari” katanya lemah.

“Atau mungkin aku bisa kembali sebelum Chuseok?” ide untuk pergi dan kembali secepat mungkin sangat menggoda.

Donghae menggeleng “Itu tidak akan terjadi Park Hyura! Kau tidak akan kemana-mana sebelum Chuseok”

“Kau selalu begitu” gerutuku.

“Dan kau selalu begitu” katanya diiringi tawa kecil. Aku ikut tersenyum ke arahnya.

            “Saat kau tiba disana sampaikan salamku pada Eomma, Donghwa Hyung, Kyuhyun juga paman dan Bibi. Aku sangat merindukan mereka”

            “Tentu, akan kusampaikan”

            Donghae merebahkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Aku ikut berbaring di sampingnya. “sebenarnya aku juga ingin mengajak Eomonim menemuimu. Tapi itu terlalu beresiko”

            Dia mendesah “Kau benar, semakin sedikit yang terlibat semakin baik”

            “Aku belum bisa menemukannya” gumamku

            “hhmm?”

            “Wanita itu. Ahjumah yang memberikanku ramuan aneh agar aku bisa melihatmu”

            Donghae memiringkan badannya untuk melihatku, menyangga kepalanya dengan siku “Sejujurnya aku penasaran siapa wanita itu”

            “Percayalah, aku juga merasa begitu”

            “Bagaimana dengan persediaan ramuan yang dia berikan?”

            Aku menoleh ke arahnya “Oppa tidak perlu cemas. Aku hanya perlu memakainya sedikit dan dia memberikan persedian cukup untuk sepuluh tahun ke depan”

            “Terdengar melegakan” katanya sambil tersenyum namun sedetik kemudian senyumnya menghilang.

            “Ada apa?”Tanyaku berbisik.

            Dia mengambil sejumput rambutku dan memainkan dengan jarinya “Aku ingin tau bagaimana kau sepuluh tahun kedepan”

             “Hmm. Mungkin aku akan menjadi pekerja kantoran, atau akuntan bank barangkali—dan setiap hari pada jam yang sama kita akan tetap bertemu seperti ini”

            Dia tersenyum sedih “Kau punya banyak pilihan hidup, Kau tau itu dengan jelas” aku tau kemana arah pembicaraan ini.Jadi aku mengangkat tangan menyentuh pipinya sambil tersenyum, mengalihkan topic.

            “Kau tau, beberapa hari kemarin aku berlatih mengambil darah dengan Nammie. Agar tidak melukai ibumu nanti”

            “Ngomong-ngomong soal ambil darah, alasan apa yang nanti akan kau katakan?”

            Aku mengangkat bahu “entahlah aku belum memikirkannya”

            Dahinya berkerut “Kau dalam masalah Park Hyura” katanya sambil setengah tertawa

            “Aku tau” sahutku sambil mengedipkan mata.

***

            Dua hari menjelang Chuseok aku berbelanja. Apapun yang dibutuhkan dan tidak. Sebenarnya aku lebih berbelanja kebutuhan perjalananku ke Denver, setelah berjam-jam berselancar di internet  setidaknya membutuhkan dua puluh jam waktu tempuh dan satu kali transit di Seatac. Jika ini benar-benar rencana liburan aku tidak akan keberatan menikmati Seatle terlebih dulu sebelum ke Denver. Tapi aku diburu waktu dan harus segera kembali kesini.

            Setelah memasukan belanjaan ke mobil, menyalakan mesin kemudian menjalankannya. Pikiranku terlalu sibuk memikirkan apa yang akan kutakakan pada Eomonim nanti hingga Tanpa sadar aku melewati jalan memutar yang biasa ku lalui bersama Donghae. Otomatis jalan ini membawaku kembali ke rumahnya. Dan seharusnya aku tidak berhenti, tapi aku malah menghentikan mobilku dan mematikan mesin. Lihatlah tindakan bodoh apa lagi yang ku lakukan?

            Tapi berhubung sudah sampai sini kenapa tidak mencoba saja keberuntunganku lagi. Mungkin saja Eomonim berubah pikiran, lalu kembali dan memutuskan merayakan Chuseok disini—Mungkin.

            Menggosok tangan ku sebelum menekan bel.

            Sekali

            Dua kali

            Ketiga kali.

            Bahuku terkulai. Rumah nya masih kosong. Berbalik perlahan dan terdengar suara dari interkom membuat langkahku terhenti.

            “Siapa?” kata suara serak dari balik intercom, seperti suara pria.

            Siapa? Mungkinkah—Donghwa Oppa?

            Berbalik cepat ke depan intercom “Donghwa Oppa!” seruku berbinar “Ini aku Hyura”

            Tidak ada jawaban dari dalam

            “Oppa. Kau masih disana?”

            Terdengar pintu gerbang terbuka.

            “Masuklah” sahutnya dari intercom.

            Aku tersenyum senang. Berlari kecil kembali ke mobil mengambil peralatan medis portable pemberian Nammie sebelum masuk kedalam. Aku membuka pintu depan. Disana berdiri pria asing dengan rambut acak-acakan yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana kolor.

            Alisku bertaut, membeku diambang pintu “Siapa Kau?”

            Dia menggaruk kepalanya sambil menguap.

            “Dimana Donghwa Oppa?” tanyaku tidak sabar

            “Siapa yang kau maksud? Lee Donghae? Dia sudah mati” sahutnya enteng

            Ya ampun pria ini sangat tidak sopan. Aku berdehem membersihkan tenggorokanku. “Bukan, Maksudku Lee Donghwa. Donghwa Oppa” sahutku sesabar mungkin.

            “Ohh Maksudmu Donghwa Hyung. Dia sedang di luar negri”

            “Oh” aku mengangguk, kecewa. “Bagaimana dengan Eomonim?”

            Dahinya berkerut “Eomonim?”

            “Maksudku Nyonya Lee Hyangsuk”

            “Dia ikut anaknya ke Luar negri”

            “Lalu siapa kau?” tanyaku tanpa perlu repot-repot menjaga nada bicaraku agar tetap sopan.

            “Apa ini wawancara? Kenapa kau banyak sekali bertanya. Lagipula untuk apa aku memberi tau namaku pada orang asing”

            Oke. Orang ini menyebalkan

            Aku memaksa tersenyum “Maaf kalau aku bertindak tidak sopan. Tapi apa kau salah satu kerabat atau saudara dari keluarga Lee”

            Pria di depanku meyipitkan matanya menatapku penuh kejanggalan.

            “Aku bersumpah aku bukan orang jahat. Namaku Park Hyura. aku—aku…” aku bingung harus menjelaskan statusku. Apa aku mantan kekasih atau masih kekasihnya Donghae?.Belum aku menjawab ucapannya membuatku lebih terkejut.

            “Ahh, kau Park Hyura” katanya sambil menyeringai.dan melipat tangannya di depan dada. Dia menatapku dari kepala sampai kaki dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Kau mengenalku?”

            “Memangnya kau tidak mengenalku?”

            Aku melihatnya menyelidik dari atas kebawah hingga berulang-ulang. Aku jamin ini pertama kalinya aku melihat pria ini. Belum sempat menjawab pria ini maju dan langsung merangkulku. Mendorong tubuhku untuk masuk dan menutup pintu di belakang kami. Aku yang masih kebingungan hanya mengikutanya tanpa membantah.

            Dia membawaku ke dapur. Melepaskan tangannya dari bahuku lalu menuju kulkas. Mengambil botol minum dan langsung meneguknya dari botol. Sedangkan aku berdiiri canggung di tengah dapur.

            “Kenapa berdiri terus? Duduklah. Anggap saja rumah sendiri”

            Aku menggumam terima kasih sebelum menarik kursi di meja makan dan mendudukinya.“Kau mengenalku. Sekarang apa kau bisa menyebutkan namamu? Atau siapa kau? Kenapa ada dirumah ini”

            “Hei itu lebih dari satu pertanyaan” dia menatapku memperingatkan.

            “Baiklah, kalau begitu siapa kau?”

            Bukannya menjawab dia malah mengangkat bahu dan membuka kulkas lagi. Tubuhnya tertutup pintu kulkas. Dia menyembulkan kepalanya “Mau makan sesuatu?”

            “Tidak terima kasih”

            “Yasudah kalau begitu” tubuhnya kembali tertutup pintu kulkas.

            “Hei, kau tidak menjawab pertanyaanku”

            Terdengar suara berisik, kaleng plastic atau apapun itu saling berbenturan. Dia menutup pintu kulkas dengan kakinya. Sedangkan kedua tangannya sibuk memegang sebungkus roti, selai, snack dan jus kaleng. Dia menarik kursi dengan kakinya sebelum menjatuhkan makanan tersebut di depannya dan tentu saja di hadapanku juga.

            “Kau ingin aku menjawab yang mana?” Dia membuka kaleng selai, memasukkan jarinya dan menjilatinya.

            Aku memutar mataku, dia sangat jorok.“Yang mana saja.hanya—Please jawab saja”

            Suara kecapan mulut yang menjilati selai melalui jarinya benar-benar menggangguku. Berkali-kali aku menarik nafas, memejamkan mata, menggumam tidak jelas dan terus memaksa bibirku tersnyum Agar dia mau menjawab pertanyaanku. Jika dia salah satu keluarga Donghae maka aku membutuhkannya. Aku tidak perlu ke Denver. Dan jika aku berhasil aku juga tidak perlu menunggu hingga Chuseok. Sore ini pun aku bisa menemuinya. Yah membayangkan akan bertemu Donghae menguatkanku untuk tetap duduk didepan pria bar-bar ini.

            “Bisakah kau menungguku sampai selesai makan?” tanyanya dengan mulut blepotan selai.

            Sesulit itukah menyebutkan namanya. Atau menjawab Ya  dan tidak.

Ya, tentu saja aku keluarga Lee Donghae atau bukan maaf aku hanya orang yang disuruh menjaga rumah mereka. Lihat, itu mudah bukan?

            Alih-alih mengatakan hal tersebut, aku justru mengangguk sambil tersenyum memaksa “Okey”

            Sudut mulutnya berkedut menahan senyum. Masa bodoh apa yang dia pikirkan. Aku tidak berniat menontonnya  makan jadi aku mengeluarkan ponselku, membaca petunjuk yang Nammie tuliskan tentang cara mengambil darah dengan aman. Meskipun sudah berkali-kali berlatih tapi itu tetap membuatku gugup. Aku memiliki banyak plester di tangan bekas hasil latihanku mengambil darah. Jujur saja setiap tusukan jarumnya menyakitkan.

            “Apa yang kau lakukan?”

            Aku mendongak, wajahnya sudah bersih dari selai. Aku memasukkan ponselku ke saku Jeans. “Bukan apa-apa”

            Dia membuka snack dan menyodorkannya padaku. aku menggeleng sambil tersenyum, menolak secara halus.

            “Well, Lihatlah” dia menunjukke arah jam dinding “Korea mengacaukan jam tidurku” dia mengambil kerikip kentang dari dalam bungkusan ke mulutnya. Membuat suara kriuk gangguan lainnya.

            “Perbedaan waktu?” tebakku

            “Tepat sekali. Hei, kau mengingatkanku dengan Donghae. Semenjak tiba disini aku belum mengunjunginya”

            “Kau dekat dengannya?” tanyaku penuh harap.

            “Pertanyaan lagi” desahnya malas

            “Ada yang salah dengan pertanyaanku?”

            “Semenjak kau masuk kesini, kau hanya menayanyakan hal yang sama. Siapa aku, namaku, apa hubunganku dan sebagainya. Itu membosankan kau tau”

            Aku mendesah kasar “Sepertinya aku membuang waktu,  kau sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaanku” mengambil tas dari bangku disampingku, aku baru mengangkat bokongku dari kursi saat dia membuka suarnya.

            “Aku Cho Kyuhyun” katanya cepat.aku menoleh.

            “Aku akan menjawab yang sisanya, tapi duduklah, dan temani aku makan” tambahnya.

            Aku menurutinya, meletakkan lagi bokongku di kursi. Dalam hati aku bersorak gembira. Dia sepupu Donghae dan dengan keberuntunganku yang lain aku akan mendapatkan darahnya.

            “Aku bisa membuatkanmu makanan kalau kau mau” tawarku

            Dia menyipitkan matanya “Kenapa?” tanyanya curiga.

            Karena kau membutuhkan banyak pasokan energi sebelum aku mengambil darahmu. Sahutku dalam hati. “Kebetulan aku habis berbelanja, kau tau. Untuk Chuseok. Jadi kenapa tidak kupakai sedikit untuk—untuk kita berdua”

            “Kau mau makan denganku?” ada nada takjub di suaranya.

            “Tentu saja kenapa tidak?”

            “Tapi sebelumnya kau bilang tidak mau.”

            Aku melirik ke atas meja “Ini bukan makanan yang sebenarnya, aku tidak memakan makanan seperti ini” kataku beralasan.

            Dia berpikir sebentar sebelum mengangguk mengerti “Okey, ku ijinkan kau memasak”

            Aku tersenyum lega. “Sebentar aku akan mengambil belanjaanku di mobil”

            “Tidak perlu” katanya cepat menghentikanku.“Biar aku yang ambil, kau disini saja. Mana kunci mobilmu” dia mengulurkan tangan.

“Arasseo” Aku mengeluarkan kunci mobilku dari dalam tas lalu memberikan padanya.

Disini Aku pernah memasak sebelumnya dengan Eomonim. Jadi aku tau persis setiap letak peralatan dapur. Dengan lihai aku membuka kabinet pertama dan laci ke tiga, mengeluarkan wadah, pisau dan aproan. Aku mendengar pintu terbuka dan tertutup kemudian langkah kaki yang mendekat.

“Kau sepertinya sudah terbiasa disini”

Berbalik, membuka kantong belanjaan, mengaduk isinya sebelum mendongak melihatnya  “Apa yang ingin kau makan? Bagaimana dengan nasi goreng kimchi?”

Dia mengangkat bahu “terserah”

Aku mengambil kantong belanjaan dan membawanya ke konter dapur, mengeluarkan bahan yang kubutuhkan.meengambil wadah lain untuk mencuci beras. Sudut mataku menangkap Kyuhyun bersandar di konter dapur sambil memperhatikanku. Aku tidak terbiasa memiliki penonton saat bekerja.tatapannya  membuatku risih.

“Kenapa kau tiba-tiba datang ke Korea?” tanyaku tanpa melihatnya, sekaligus menghilangkan kecanggunganku.

“Kau mengingingatku?”

“Huh?” aku menoleh ke arahnya. Dia mendekat.

Dia mendekat kemudian berhenti beberapa inchi di depanku, dia menunduk menatap langsung ke dalam manik mataku “Apa kau mengingatku Park Hyura?” bisiknya rendah tepat di depan wajahku, nafasnya yang berbau mint menyapu wajahku membuat bulu kudukku berdiri.

“Aku tidak mengerti” kataku jujur

Dia mendesah “Sudah kuduga kau melupakanku”

“Apa kita pernah bertemu?”

Dia mengangkat tangannya membelai pipiku, menyisir rambutku dan menyelipkannya di belakang telinga

Aku menelan ludah kasar “A… apa yang kau lakukan?” tanyaku gemetaran.

Tangannya membelai telinga bagian belakangku, mengirimkan getaran aneh di punggungku.

“Dimana kau mendapatkan luka ini?” jarinya masih berada di belakang telingaku.

“Huh?” tanyaku bodoh.

“Kau tidak ingat dengan luka ini?” dia mengusap lembut belakang telingaku. Tunggu sebentar. Luka?Bagaimana dia bisa tau aku memiliki bekas luka disana?”

“Kau tau?” tanyaku kebingungan

Dia menjatuhkan tangannya. Dia menunjuk kearah bak cuci dengan wajahnya “Berasmu”

“Astaga.Aku hampir lupa” Air luber hingga keluar wadah dan menjatuhkan beras. Aku baru akan menanyakan soal lukaku lagi tapi Kyuhyun sudah beranjak, tubuhnya menghilang ke arah lorong yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah.

Nasi Goreng kimchi hampir selesai saat Kyuhyun kembali ke dapur. Penampilannya jauh lebih segar dan dia sudah mengganti bajunya dengan celana hitam dipadu dengan sweater krem.

“Hmm Aku bisa mencium aromanya”

Aku melirik melalui bahuku “duduklah. Sebentar lagi matang” aku mengangkat wajan dan menuangkan isinya ke dua piring. Untukku dan untuk Kyuhyun. Dia sudah menunggu di meja makan saat aku membawakan piring miliknya.

Mengambil satu suapan, dia memejamkan matanya sesaat kemudian melihatku berbinar “Wah.Ini sangat enak. Kau tidak tau betapa aku merindukan masakan korea”

“Benarkah?”

Dia mengangguk antusias lalu melanjutkan makannya.

“Terima kasih, aku sangat tersanjung” gumamku malu-malu.

Dia tidak membalasku, terlalu sibuk dengan makanannya. Kami makan dalam hening yang nyaman. Hanya terdengar dentingan suara sendok garpu dan piring saling beradu. Kyuhyun mengerang puas saat suapan terakhir dari piringnya.

Dia Meneguk segelas air sebelum dia berbicara “Karena kau sudah memberikan makanan yang enak aku akan menjawab pertanyaanmu. Tanpa terkecuali”

Aku meletakkan sendokku, tersenyum ke arahnya.“Kau benar Cho Kyuhyun, sepupu Donghae Oppa?”

“Tentu. Kenapa aku harus berbohong untuk masalah itu”

Senyumku semakin lebar. Hari ini kupastikan aku bisa bertemu Donghae.

Oppa! tunggu aku, setelah menyedot darah dari sepupumu ini.

“Kau pernah mendonorkan darahku” tanyaku

Alisnya berkerut kebingungan “Donor darah?”

Aku mengangguk

“Tidak, tentu saja tidak. Aku benci jarum”

Sial

“Kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini” tanyanya

“Aku tertawa hambar menutupi kekecewaanku “Tidak bukan apa-apa”

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

“Kenapa kau kesini?”

Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat malu “Sebenarnya aku bertengkar dengan Ayahku dan kabur ke sini”

“Apa?” sama sekali alasan yang terpikirkan olehku.

“Tapi kau jangan khawatir, mereka tau dimana aku. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir jadi mereka membiarkanku disini sementara waktu”

Aku mengangguk mengerti.

“Apa kau sibuk?” tanyanya

“Kenapa?”

“Apa kau mau menemaniku?Selama aku berada disini?”

Aku mengigit bibirku, menimbang-nimbang apa perlu berbaik hati padanya sementara dia tidak bisa membantuku.

“Tidak apa kalau kau sibuk” katanya cepat sebelum aku menjawab.Dia tersenyum namun Wajahnya terlihat kecewa.

Aku menggeleng “Tidak apa, aku bisa menemanimu” kataku akhirnya.

Dia tersenyum lebar “gomawo”

Aku mengangguk. “Satu pertanyaan lagi”

“Katakanlah”

“Kapan Eomonim dan Donghwa Oppa pulang?”

Dia mengangkat bahu “Aku tidak tau”

“Kenapa kau tidak tau?” daripada bertanya nada suaraku lebih menuduh.

“Donghwa Hyung bekerja disana dan Imo kesepian disini. Jadi aku tidak tau kapan mereka kembali atau mungkin saja mereka tidak akan kembal”

“Apa?” inilah yang kutakutkan. Membayangkan mereka tidak akan kembali membuat pikiranku buntu. Bagiamana aku bisa mendapatkan darah sedangkan pria di depanku ini tidak bisa diandalkan.

“Kenapa kau sangat terkejut. Kukira kau sudah tau. Bukankah kalian dulu pernah bertetangga?Sekarang dimana rumahmu?”

“Tidak jauh dari sini” kataku cepat. Pikiranku tidak focus, otakku sibuk merencanakan perjalanan berkelanjutan untuk mengunjungi mereka secara berkala ke Denver untuk mendapatkan pasokan darah.

“Aku melihatmu saat pemakaman Donghae Hyung”

“Huh?” aku mendongak ke arahnya.

Dia mengangguk sambil menatapku sendu “Yah, satu-satunya gadis yang menggunakan kursi roda dan tiang infus. Air matamu terus mengalir padahal kau tidak mengeluarkan suara sama sekali. Kau terlihat—menyedihkan”

Aku tidak membantahnya, karena memang begitulah aku saat itu. Sangat kacau.

“Hei, aku mengatakan hal itu bukan bermaksud…”

“Tidak apa-apa” potongku cepat. Aku memaksa tersenyum “Aku mengerti, kau benar, aku memang menyedihkan saat itu. Tapi sekarang aku benar-benar tidak apa-apa. Aku bisa menghadapinya” aku berbohong, tentu aku berbohong. Sampai saat ini aku tidak bisa merelakannya. Bahkan aku melakukan hal yang tidak bermoral dengan meminum darah manusia hanya untuk menemuinya.

Dia bangkit dari duduknya, mendekatiku lalu mengulurkan tangannya. Aku melihat tangannya sedetik sebelum mendongak menatapnya bertanya-tanya.

“Kau sudah berjanji menemaniku. Tugas pertamamu, tunjukan jalan ke arah rumahmu”

“Kenapa rumahku?”

“Tentu saja agar aku bisa menjemputmu. Atau kau bisa menjemputku. Aku sih tidak keberatan”

Aku mengangguk “Baiklah”

Aku memimpin jalan menuju mobilku, menekan kunci terbuka, Kyuhyun telah bersiap di bangku penumpang. Aku menyusul setelahnya. Menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.

Kyuhyun yang membuka percakapan terlebih dulu “Kenapa kau pindah?”

“Ibuku meninggal, jadi Ayahku ingin rumah yang lebih kecil”

“Maaf. Aku tidak tau” Kyuhyun terdengar sangat menyesal.

“Tidak apa-apa, itu sudah sangat lama” aku melihatnya sambil tersenyum sekilas sebelum kembali memfokuskan perhatianku ke jalanan.

“Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah dulu kita pernah bertemu? Jujur saja aku bingung. Kau bahkan tau aku pindah rumah dan—” aku melihatnya lagi sekilas “Lukaku, kau tau aku memiliki luka di belakang telinga” aku mengernyit “Itu terdengar aneh”tambahku pelan.

Dia terkekeh “Lagi, kau tidak bisa tidak menanyakan lebih dari satu pertanyaan. Kupikir kau berbakat menjadi wartawan atau pengacara”

“Lagi, kau mengalihkan topic tanpa menjawabnya” balasku.

Sekarang dia benar-benar tertawa. Aku tidak mengerti apa ucapanku begitu lucu sampai dia bereaksi seperti itu. Dia berdehem sebelum membuka mulutnya “Aku tidak heran kau melupakanku, karna memang sudah sangat lama, lebih dari sepuluh tahun lalu” Dari sudut mataku dia tidak mengalihkan tatapannya dari wajahku.“Setiap liburan, aku sering berkunjung ke korea. Dan saat aku disini, setiap hari aku melihatmu mengikuti Donghae Hyung kemana-mana” ada nada jengkel di kalimat terakhirnya.

“Kau terdengar tidak menyukaiku”

“Tentu saja. Kau terlihat seperti perempuan menyebalkan bagiku” Dia mendengus “Kau selalu merengek dan Lee Donghae seperti superman yang berlagak melindungimu”

Aku meliriknya sebal “Apa sih masalahmu?”

“Aku jauh-jauh datang dari Denver untuk menghabiskan waktu dengan sepupuku tapi kau selalu datang merecoki kami”

“Kau kan bisa mengatakannya padaku”

“Oh Yang benar saja, setiap hari aku mengganggumu, membuatmu menangis tapi kau bahkan tidak menyadarinya”

“Kau membuatku menangis?”Aneh, aku benar-benar tidak mengingatnya, seharusnya aku ingat ada bocah laki-laki yang suka membuatku menangis.

“Hmm” gumamnya enggan.

Aku menepikan mobilku di sebrang jalan depan rumahku. Mematikan mesin dan melepas Seatbelt. Kyuhyun melongok keluar, melihat ke arah rumahku.

“Rumahmu tidak terlalu jauh” komentarnya.

Meraih Jok belakang, mengambil sisa belanjaanku yang lain. “Boleh bantu aku?”

“Tentu” sahutnya. Aku ingin membagi kantong belanjaan tapi Kyuhyun mengambil semuanya.Dia berjalan di depanku kemudian menungguku didepan pintu.

“Gomawo” gumamku sambil membuka pintu dan menahan untuknya. Dia berhenti lagi menungguku untuk memimpin. Aku langsung menuju ke dapur, Kyuhyun meletakkan belanjaanku di atas meja makan.

“Apa kau berencana membuat pesta?Kenapa belanja banyak sekali?”

Aku tidak menjawab dan hanya tersenyum. Tidak mungkin aku mengatakan sebagian besar belanjaan itu adalah bekal makanan untuk menyusul Eomonim.

 “Mau minum?” tawarku

“Boleh” sahutnya ringan tanpa melihatku. Matanya sibuk mengamati rumahku. Sementara aku menyiapkan teh untuk kami, Kyuhyun berjalan perlahan menuju ruang tengah sambil melihat pajangan di dinding. Mulai dari foto, lukisan bahkan piagam penghargaan.

Sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh aku menyusul Kyuhyun ke ruang depan. Dia sudah duduk di sofa sambil memegang figura kecil yang memuat fotoku dan Donghae Oppa.

Meletakkan nampan, lalu aku mengambil sofa terdekat dengannya. Matanya masih belum menatapku.Dia seperti terlarut dalam pikirannya sambil memandang fotoku.

“Itu diambil saat hari pertama aku masuk kuliah” kataku menjelaskan.Dia mendongak melihatku sebentar sebelum meletakkan figura ke tempatnya.

Kyuhyun menyesap tehnya sebelum berbicara “Boleh ku tau kenapa hari ini kau datang ke rumah Donghae Hyung?”

“Aku ingin mengunjungi Eomonim” kebohongan mengalir lancar dari mulutku. Dan itu membuatku takut.

“Kenapa kau terus memanggilnya Eomonim?Apa Ayahmu berpacaran dengan Imo?”

“Apa?”Aku tertawa mendengar pertanyaannya “Tentu saja tidak, kenapa kau bisa berpikir begitu?”

  Dia mengangkat bahu “Entahlah, Hanya terlintas di pikiranku”

Masih setengah tertawa aku menggeleng pelan “Ayahku belum berniat menikah lagi. Aku memanggilnya begitu karena beliau sudah seperti ibuku sendiri semenjak ibuku meninggal”

Dia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, melipat tangannya di depan dada “tapi sepertinya kalian tidak terlalu dekat. Kau bahkan tidak tau Imo pergi ke Denver”

“Hubungan kami merenggang semenjak—kepergian Donghae Oppa” kataku jujur. Sebenarnya aku yang menjauhkan diri. Aku tidak sanggup melihat wajah Eomonim sedangkan aku masih dalam masa berkabung.

Dia mengangguk mengerti. Kemudian tidak ada yang berbicara lagi. Momen ini cukup canggung jadi aku hanya menunduk memandangi jariku yang bertautan. Sambil memutar otak apa yang harus kulakukan padanya agar dia mau memberikan darahnya padaku.

“Sebenarnya…” katanya memulai, aku mendongak, menatapnya menunggu. Dia terlihat sedikit ragu namun tetap melanjutkan “Aku berhutang maaf padamu”

Alisku bertaut “Maaf?Untuk?”

“Lukamu”

“Ada apa dengan lukaku?” tnapa sadar tanganku terangkat mengelus bekas luka di belakang telinga.

“Dulu aku sangat tidak menyukaimu, jadi aku sering mengganggu dan membuatmu menangis.Tanpa sadar aku kelewat batas. Aku mendorongmu hingga kau terjatuh dari tangga”

Mataku melebar, menatapnya terkejut. Ayahku bilang aku terpeleset lalu jatuh dari tangga. Aku mendapat cukup banyak jahitan di kepalaku. tapi seiring waktu berjalan lukanya mulai menghilang. Tapi yang tidak kumengerti. Aku sama sekali tidak mengingat Kyuhyun ataupun bocah laki-laki yang pernah mendorongku atau menggangguku.

“Tapi aku sama sekali mengingatnya”

“Bagaimanapun juga aku harus tetap meminta maaf. Apa kau mau memaafkanku?”

“Aku tidak mengerti kenapa kau dulu begitu membenciku?”

“Bukankah sudah kubilang. Karena kau sangat mengganggu”

Aku mengernyit, “Hanya karena itu kau mendorongku?”

Dia mendesah frustasi “Aku tidak bermaksud mendorongmu Park Hyura. Aku bersumpah, aku tidak sengaja dan saat kusadar kau sudah jatuh”

“okey, okey aku tidak akan membahasnya lagipula kejadian itu sudah lama”

“Jadi kau memaafkanku?”

“hmmm dengan satu syarat” kataku hati-hati

“Syarat?” ulangnya

Aku mengangguk “Bantu aku untuk ujian mengambil darah”

“Apa?” dia terkejut sepenuhnya

Aku menatapnya penuh harap “Hanya satu tusukan dan selesai. Tidak akan terasa sakit”

Dia melihatku seolah aku sudah gila. Dia menggeleng keras “Tidak, tidak. Aku benci jarum”

“Ayolah, bukankah kau ingin meminta maaf?”

“Tapi bukan dengan cara seperti itu Park Hyura! Baiklah hanya membantu mengambil darah kan? Aku bisa minta bantuan seseorang untuk menggantikanku”

“Andwe!” jawabku spontan. Dia manatapku bingung, aku buru-buru menjelaskan “Maksudku aku ingin melakukannya denganmu” kerutan dikeningnya semakin dalam.“Apa kau ingin aku memohon?Akan kulakukan” aku bersiap turun dari sofa untuk berlulut tapi Kyuhyun memegangi lenganku menahannya.

“Apa yang kau lakukan!”Dia membentakku, mendudukanku di sofa dengan kasar. Dia menjulang tinggi didepanku sementara aku meringkuk ketakutan. Tidak ada yang pernah membentakku. Ayahku orang yang lembut, begitu pula dengan Donghae. Semarah apapun padaku dia tidak pernah melakukannya.

“A..aku…” suaraku gemetar.

Dia kembali duduk di sofa namun memajukan duduknya “Dengar. Aku benci jarum suntik sama seperti aku membenci ayahku saat dia mengoceh soal masa depan. Itu membuatku alergi. Kau bisa meminta apapun dariku asal jangan berhubungan dengan jarum suntik. Kau mengerti!”

Aku mengangguk kaku. Lalu menunduk, aku tidak ingin melihatnya. Disamping kecewa, dia bersikap cukup keras padaku. Pria macam apa yang takut pada jarum suntik.

“Hei..” bisiknya pelan, dia meletakkan jari telunjuknya di bawah daguku, memaksaku melihatnya. “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Aku menjauhkan wajahku sambil menggeleng dan menarik paksa kedua sudut bibirku.“Tidak apa-apa.Kejadian itu sudah lama dan aku memaafkanmu” kataku cepat secepat aku berdiri menjauh.“Sebaiknya kau pulang. Aku harus menyiapkan makanan untuk Ayahku”

“Apa aku boleh makan malam disini?”

Tidak

Aku ingin menjawab seperti itu tapi wajahnya menatapku penuh harap.

“Kau lihat sendiri, Kulkas dirumah bibiku tidak memiliki sesuatu yang bisa di masak selain itu makan sendiran sangat tidak enak”

            Aku mengangkat bahu “Entah lah, mungkin ayahku tidak suka ada pria asing dirumahnya” kataku beralasan.

            Dia tersenyum tipis “Aku bukan pria asing. Ayahmu mengenalku”

            “Mengenal sebagai orang yang pernah mencelakakan putrinya?”

            Senyum di wajahnya menghilang seketika “Aku yakin ayahmu tidak menganggapku begitu” katanya pelan

            “Siapa yang tau” kataku acuh.

            Dia berdiri “Kau marah padaku” itu bukan pertanyaan tapi pernyataan.

            “Kenapa aku harus marah padamu”

            “Karena aku tidak mau membantumu”

            “Sudah kubilang aku tidak apa-apa. Hanya—Lebih baik kau pergi”

            “Lihat, kau marah padaku”

            “Aniyo!” aku bersikeras dan dia menatapaku seolah mengatakan “Lihat, aku benarkan”

           Aku mendesah pelan “Aku tidak marah, sungguh. Hanya sedikit—kecewa, mungkin. Aku memasak untukmu, menuruti permintaanmu bahkan memaafkanmu.  Aku hanya meminta bantuan tapi kau tidak mau membantuku”

            Matanya menyipit “Jelas kau memiliki maksud denganku”

            Tentu saja, aku butuh darahmu bodoh.

            Aku mengangkat bahu “Terserah”

            Dia menatapku sebentar sebelum menghembuskan nafas kasar “Baiklah aku akan membantumu” aku hampir tersenyum sebelum dia melanjutkan perkataannya “Akan kuusahakan pasti ada yang membantumu”

            “Tidak perlu” desahku

            “Kenapa? Tidak ada bedanya dengan orang lain”

            “Sudah kubilang aku hanya menginginkanmu. Aku tidak butuh orang lain, aku membutuhkanmu” aku mengatakannya seolah aku membutuhkannya seperti aku membutuhkan udara.

            Matanya menyipit menatapku menyelidik, tubuhku menegang, seprtinya di curiga.“Apa jangan-jangan…” aku menahan nafas “Kau menyukaiku?”

            “Apa?”

            “Kau menyukaiku?” tanyanya hati-hati

            “Hmmffttt” Aku hampir tertawa mendengarnya namun aku tidak ingin melukai egonya, jadi kutahan sebisa mungkin.“Apa aku terlihat begitu?” tanyaku masih sambil menahan senyum.

            Dia mengendikan bahunya dan terlihat tidak yakin “Aku tidak tau”

            Wajah Kyuhyun terlihat serius jadi aku berniat sedikit menggodanya “Bagaimana kalau aku memang memiliki perasaan padamu?”

            “Hyura” dia memanggil namaku dengan sangat lembut “Aku tidak ingin menghancurkan hatimu. Jadi sebaiknya kau harus segera menghilangkan perasaan itu sebelum terlalu jauh” katanya serius.

            Tanpa bisa kutahan, kali ini aku benar-benar tertawa. Dia melihatku bingung seolah aku sudah gila. “Ekspresimu sangat lucu” kataku susah payah di sela-sela tawaku.

            Dia berjalan mendekat menatapku intens “Tidak ada yang lucu Park Hyura, aku serius! Aku tidak ingin melukaimu”

            “ Kau pikir aku serius?” tanyaku geli sambil menghapus setitik air mata di sudut mataku.

            “Kau mempermainkanku” lagi-lagi dia mengeluarkan pernyataan

            “Maaf, aku hanya sedikit menggodamu. Bagaimana kau bisa berpikir aku menyukaimu sedangkan aku berpacaran dengan sepupumu”

            “Jadi kalian pernah berpacaran?”

            Ralat. Masih berpacaran.

            Aku mengangguk.

            “Mungkin saja, lagipula sepupuku sudah meninggal” katanya acuh.

            Aku tidak menyukai cara Kyuhyun mengatakan seolah Donghae telah meninggal bertahun-tahun lalu. Kami masih bertemu, masih berbicara, bagiku dia belum meninggal.

            “Ada yang salah dengan ucapanku?”Tanya saat melihat ekspresi tidak suka di wajahku.

            Aku menggeleng lemah “tidak, kau benar. Dia sudah pergi”

            “Jadi sekarang kau sedang berproses mencari pacar baru dengan alasan mengambil darah?” katanya setengah mengejek. Aku tidak tau bagaimana seharusnya terdengar tapi ucapannya sangat menyinggung dan aku kesal.

            “Terserah apa yang kau pikirkan” aku pura-pura melirik jam “Tapi sebaiknya kau pergi sebelum ayahku pulang”

            “Aku benar-benar tidak boleh makan disini? Aku janji aku tidak akan makan gratis. Aku bisa membayarnya”

            Oke sekarang dia benar-benar terlihat menyebalkan “Aku tidak butuh uangmu”

            “Siapa bilang aku akan memberikanmu uang. Aku bisa membayarnya dengan tubuhku. Kau bisa menyuruhku melakukan pekerjaan rumah. Aku pintar melakukannya. Saat di rumah ibuku sering menyuruh melakukan ini dan itu”

            Aku menggeleng dengan sangat tidak menyesal “Maaf, Kau harus benar-benar pergi. Aku serius. Ayahku tidak akan suka melihat pria asing di rumah”

            Dia mengangguk lemah, wajahnya terlihat sangat kecewa tapi aku tidak peduli. Dia tidak mau memberikan apa yang kuinginkan maka aku berlaku sama padanya. Dia berbalik perlahan menjauh menuju pintu. Tapi kemudian berhenti diambang pintu, setengah berbalik. Masih melihatku penuh harap “Kau tidak ingin menahanku?”

            Alisku terangkat

            “Maksudku apa tidak ada sesuatu yang membuatmu menahanku?”

            “Kau tau apa yang kuinginkan”

            “Kau wanita kejam” dengusnya

            “Dan kau pria pengecut”

            Matanya terbelalak, dia berbalik sepenuhnya “Apa kau bilang?”

            Aku memutar bola mata  “Oh Ayolah, pria macam apa yang takut pada jarum suntik selain pengecut”

            Dia terlihat tersinggung dan itulah celah yang kubutuhkan “Apa aku terlihat begitu dimatamu?”

            Aku tidak menjawab melainkan memandangnya keras.

            Dia menggeleng lalu mendesah kasar “Kau menang. Aku akan melakukannya. Tapi dengan syarat. Banyak syarat maksudku”

            Aku mengangguk antusias ”Apapun”

            Dia berjalan mendekat lalu berhenti setelah di depanku “Temani aku selama aku tinggal disini, kapanpun dimanapun kau harus siap untukku., Menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam. Tanpa protes”

            Menyilangkan tangan di depan dada, tidakkah ini terdengar berat sebelah “Kau ingin menjadikanku pembantu?”

            “Ya Ampun, tidak bisakah kau melihatnya lebih positif? Anggap saja membantu teman”

            “Sebelumnya kau tidak mau membantuku, kenapa sekarang malah menyebut teman?”

            “Begini, ini pertama kalinya setelah lebih dari speuluh tahun aku kembali ke Korea. Aku tidak tau jalan dan aku butuh pemandu. Untuk makanan, sudah kubilang aku tidak akan makan gratis. Kau bisa menyuruhku melakukan pekerjaan rumah tangga. Kau tau aku tidak bisa memberi makan tubuhku dengan layak.Apa kau butuh alasan lain?”

            Aku menggeleng. Dia cukup masuk akal. Lagipula dia sepupu Donghae, tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti itu.

            Dia mengulurkan tangannya “Teman?”

            Teman? Aku tidak suka perumpamaan hubungan kami yang dia sebut sebagai teman, sebenarnya kakak ipar terdengar lebih menyenangkan.Tapi dia bisa mengira aku gila. Jadi tanpa mengatakan apapun aku menjabat tangannya. Dia tersenyum.

***

            Aku bohong soal ayahku yang tdak menyukai pria asing. Setelah Donghae Meninggal Appa sangat Khawatir aku tidak bisa melanjutkan hidup. Dan saat melihat Kyuhyun, aku bisa melihat harapan di mata Ayahku. Meskipun dia sepupu Donghae dan aku menegaskan bahwa kami hanya sebatas teman, tetap saja tidak memadamkan harapan ayahku.

            “Masih belum bisa?” Kyuhyun setengah berbaring diranjangku sambil menutup mata dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya berada di pangkuanku. Sudah tiga tusukan tapi aku belum menemukan vena miliknya. Dia mengigit bibir saat aku memasukkan jarum dan gagal lagi.

            “Ini sangat sakit Park Hyura” katanya memelas.

            “Maaf” kataku penuh penyesalan. Mengambil kapas dan menekan luka yang baru saja kubuat lagi. Seharusnya ini tidak sulit. Aku sudah berkali-kali berlatih dengan Nammie.

            “Kumohon tahan sedikit lagi, Eoh”

            “Cepatlah” sahutnya gusar.

            “Arasseo” Aku meraba tangannya mencari pembuluh darah sementara tangan ku yang lain menggenggam kepalan tangan Kyuhyun. “Tahan sedikit” bisikku sambil menunduk focus pada pembuluh darah miliknya. Menusuknya perlahan dan..aku gagal lagi.

            Kyuhyun menegakkan tubuhnya menarik tangannya cepat lalu merebut kapas yang masih setengah basah oleh alcohol dari tanganku. Sambil menatapku garang dia mengusap setitik darah di lengannya.“Kau itu bodoh atau idiot!”Omelnya.

            Tanpa berani melihatnya, aku tertunduk sambil memainkan jarum sintik di jariku “Maaf” bisikku rendah.

            Dia mendengus kasar “Kau tidak berbakat jadi petugas medis, sebaiknya kau berhenti sebelum membunuh banyak orang”

            Aku melihatnya dari balik bulu mataku “Aku benar-benar minta maaf” melirik sekilas ke lengannya yang putih, sekarang terdapat beberapa titik kemerah-merahan akibat ulahku.

            Dia menarik tanganku kasar dan mengggulung lengan sweaterku. Keadaan tanganku tidak jauh berbeda, hanya titik kemerahannya mulai menghitam dan ada bekas keunguan karena aku salah menusukkan jarum. Aku mengigit bibir saat Dia menarik tanganku yang lain.

            Aku menunduk semakin dalam saat merasakan tatapan menusuk darinya. Kyuhyun memegang kedua tanganku cukup lama sebelum menggulung lagi lengan Sweaterku.

             Dia mendesah panjang dan bangkit dari ranjangku “Park Hyura” panggilnya

            Aku mendongak

            “Besok kau harus membayarnya atau aku tidak akan mau lagi menjadi kelinci percobaanmu”

            “Huh?” Aku mendengar apa yang dia katakan, tapi aku ingin memastikannya lagi, setelah kekacauan yang kubuat malam ini dan dia bersedia untuk melakukannya lagi? Kukira sesuatu yang… besar.

            “Besok apa kegiatanmu?”

            Aku menggeleng pelan, sebenarnya besok aku memiliki jadwal ke kedutaan untuk mengurus perjalananku ke Denver, tapi aku memiliki Kyuhyun disini. Kurasa Perjalanan itu tidak diperlukanlagi

            “Besok.Aku sepenuhnya milikmu” kataku.

Dia menyeringai “Kalau begitu sampai ketemu besok Park Hyura” katanya kemudian menghilang di pintu kamarku.

Sepeninggal Kyuhyun aku mengambil ponsel menghubungi satu-satunya sahabatku yang semakin hari semakin sibuk.

“Yeoboseyo” jawabnya dari sebrang

“Sepertinya kau sangat sibuk, Han Nammie Seosangnim”

“Ya! Berhenti meledekku” katanya sebal

Aku tertawa kecil  “Dari nada bicaramu sepertinya kau melewati hari yang berat”

Dia mengerang :Ugh, Kau tidak bisa membayangkannya”

“Kapan kau pulang?”

“Percayalah, demi langit dan bumi. Seandainya aku bisa, aku akan pulang detik ini juga”

“Separah itukah?”

Dia mendesah dalam “Aku tidak ingin membicarakannya. Sudah cukup aku mengeluh hari ini. Aku lebih penasaran denganmu. Kapan kau ke Denver?Apa kita masih bisa bertemu setelah Chuseok Sebelum aku kembali ke pulau terkutuk ini?”

“Aku tidak akan ke Denver, Sepupu Donghae tiba-tiba saja datang”

“Lalu?” tanyanya mengantisipasi.

“Kau tau. Aku bisa menggunakan….darahnya” kataku berbisik diujung kalimat. Nammie mengetahui tentang aku dan Donghae. Aku terpakasa memberi taunya saat memintanya membantuku mengambil darah Eomonim.

“Kau tau apa yang kupikirkan?Kurasa kau sudah tidak waras” katanya datar. Dia serius dengan ucapannya.“Dengar, aku lebih suka kau pergi ke Denver, bertemu dengan ibu dan kakaknya. Mungkin mereka bisa menyadarkanmu karena Prilakumu benar-benar menyimpang Park Hyura!”

“Yah, kau pun mengatakan hal yang sama setiap kita membicarakan masalah ini” kataku bosan.

“Karena memang itu kenyataannya. Kenapa kau tidak bisa menerima Kekasihmu sudah meninggal”

“Kau tau aku tidak bisa.”

Dia mendesah lelah “Sudahlah percuma mengatakanya. Sekarang apa yang kau butuhkan?”

“Aku membutuhkan beberapa jarum suntik yang baru lagi”

“Kau sudah menggunakan semuanya?” tanyanya terkejut

“Ya tapi semuanya gagal, aku harus mencobanya lagi dan aku butuh lebih banyak”

“Hanya itu?”

“Kurasa itu cukup”

“Arraseo, Aku akan menyuruh adikku memberikannya padamu”

“gomawo. Kau memang sahabat terbaikku”

“Semoga Tuhan memaafkanku karena membantumu” sahutnya

Aku terkekeh “Saranghae”

“Eoh Nado. Kabari aku jika terjadi sesuatu”

“Tentu. Akan kulakukan”

***

“Seharusnya tidak seperti ini. Kalkun, wine, pai labu dan…hmmm” Kyuhyun mengunyah kripik gandum sambil duduk di kursi yang ada di halaman belakang rumahku.  Bisakah aku mengatakannya  duduk? Kerena dia duduk dengan tidak sopan.dia menempatkan salah satu kakinya di lengan kursi.

“Oh ya, kentang pure hmmm, aku bahkan bisa mencium baunya dari sini”

“Ini Chuseok bukan Thanksgiving” kataku bosan sebosan aku menatapnya..Seharian ini dia terus mengoceh hal-hal yang tidak berguna. Hari ini adalah perayaan Chuseok. Sesuai janjiku aku bersedia untuk menemaninya tapi kenyataannya dialah yang menemaniku.

Sejak kemarin Kyuhyun membantuku berbelanja, membuat hidangan untuk perayaan dan persembahan untuk altar ibuku dan Donghae. Sehari sebelum Chuseok aku dan Kyuhyun menata altar untuk Donghae di rumahnya. Dan hari ini dia datang ke rumah ku saat pagi buta. Ayahku sangat senang dengan kedatangannya karena Seolah kami bertiga sedang  merayakan Chuseok. Dia bahkan ikut saat kami mengunjungi makam ibuku, kakek dan Nenek. Baru setelah itu kami mengunjungi Donghae. Rasanya aneh saat datang ke makam Donghae tapi aku tidak melihatnya. Ini hari keempat kami belum bertemu. Aku belum mencoba lagi mengambil darah Kyuhyun karena adik Nammie belum mengantarkan pesananku.

well meskipun ini bukan pertama kalinya bagiku memakan hidangan Chuseok tapi masakanmu lumayan” dia menuang sisa-sisa keripik langsung dari bungkusan ke mulutnya.

“Eomonim yang mengajariku”

Dia mengangguk sambil menjilati jarinya.Aku menggeleng pelan “Apa kau tidak lelah atau mengantuk? Atau semacamnya?” tanyaku

“Tidak.Kenapa?”

“Aku hanya bertanya-tanya jam berapa kau akan pulang”

“Kau tidak bisa mengusirku, ingat?

Aku memutar bola mata “Tentu saja yang mulia” sahutku sinis.

Dia terkekeh lalu menyodorkan bungkusan keripik padaku.Aku menggeleng.

“Bukan untukmu. Tapi ambilkan satu lagi untukku” katanya sambil nyengir

Aku menatapnya sebal sebelum bangkit berdiri mengambil cemilan kesukaannya. Saat membantuku berbelanja dia membeli keripik kesukaannya dengan jumlah tidak masuk akal. Aku yakin supermarket tempat aku belanja harus menyetock ulang untuk persedian keripik gandum yang telah diborongnya.

Aku menyodorkan keripik gandum baru, dia nyengir sebelum mengambil dan langsung membukanya. Aku duduk di tempatku sebelumnya. Dan dia mulai mengoceh lagi.

“Aku harus membawanya saat pulang nanti. Di Denver tidak ada keripik gandum seperti ini. Tunggu sebentar” Dia terlihat berpikir “aku sudah mencoba beberapa di Verona tidak ada satupun yang seperti ini. Ngomong-ngomong soal Verona disana ada beberapa pelayan cantik…”

“Cho Kyuhyun” Potongku, aku tidak tau sampai kapan dia terus mengoceh tidak jelas seperti ini. Dia menatapku menunggu “Aku lelah dan mengantuk”

“Lalu? Apa kau memintaku menemanimu tidur?” tanyanya jahil

“Ya….”

Dia terkekeh “kau tau aku tidak akan keberatan”

“Apa begitu caramu membawa wanita ke tempat tidur?”

Dia mengangkat bahu “Aku tidak memerlukan usaha khusus untuk membawa wanita ke tempat tidur” katanya.

“Huh?” alisku bertaut, “Apa maksudmu dengan usaha khusus?”

Dia meluruskan duduknya dan meletakkan bungkus keripik ke meja kecil di sisinya “Mereka menyerahkan diri begitu saja” katanya dengan nada bangga. Aku tidak mengerti.

“Apa sih yang kau bicarakan?”

“Apa Donghae Hyung tidak pernah membawamu ke tempat tidur?”

“Sering”

“Apa?”

“Ayahku juga. Karena aku sering tertidur di Sofa” sahutku jujur. Seketika itu juga Kyuhyun tertawa keras, bahkan sangat keras hingga tubuhnya bergetar semua dan terbungkuk. Aku melihatnya kebingungan.

“Kyuhyun ssi…” aku memanggilnya. Dia mengangkat tangannya seolah memintaku memberinya waktu untuk tertawa. Dia mengusap salah satu matanya yang mengeluarkan air mata. Hingga beberapa menit akhirnya tawanya mereda. Hanya tersisa kekehan kecil di mulutnya.

“Kau itu bodoh atau polos” tanyanya masih diselingi tawa kecil. Aku hanya menatapnya bingung.“Apa kau tidak memahami maksud ‘membawa ke tempat tidur’? hubungan antara pria dan wanita. Yang kumaksud Sex, Park Hyura ssi”

“MWO            ?”

“Ayolah, kau dan Donghae Hyung sama-sama sudah dewasa. Terutama Hyungku. Jangan katakan kalian belum pernah melakukannya karena sudah kupastikan kau berbohong”

“Tentu saja kami tidak melakukan hubungan semacam itu. kami belum menikah” tegasku.

“Memangnya apa yang kalian lakukan saat berkencan?Membicarakan masalah Negara?” ejeknya.

Aku mengeluarkan ekspresi jijik “Apa dalam berpacaran hanya hubungan fisik yang kau pikirkan?”

“Hubungan fisik memiliki peran penting dalam suatu hubungan, selain itu hubungan fisik juga bisa sebagai pengikat. Pengetahuan dasar saja kau tidak tau” dia menggeleng prihatin “kasihan sekali Hyung-ku”

Aku melotot “Donghae Oppa bukan orang seperti itu, jangan kau samakan dirimu dengannya!”

Dia memajukan tubuhnya, menatapku seksama, aku memundurkan tubuhku hingga terpojok di punggung kursi “Semua pria itu sama, sebagian besar dari mereka memikirkan hubungan fisik” melihat ke bawah dia menyentuh ringan punggung tanganku dengan jarinya, sebelum matanya kembali ke wajahku, memandangku lebih intens dari sebelumnya  “Saling menyentuh” katanya berbisik “terlebih lagi dengan orang yang dia cintai” dia semakin memajukan wajahnya hingga tinggal beberapa inchi. Aku menahan nafas.

Dia menyeringai “Kau tergoda bukan?”

Aku mengerjap dua kali “Apa?”

Masih tersenyum mengejek dia menjauhkan tubuhnya. Aku menghembuskan nafas lega “Kedekatan pria dan wanita secara fisik akan menimbulkan getaran aneh. Seperti yang kita rasakan barusan” Kyuhyun mengedipkan salah satu matanya. Aku mengernyit “Jadi…” dia mengangkat bahu “aku merasa sedikit aneh bagaimana kalian berdua bisa menahannya”

“Sudah kubilang hubungan kami tidak seperti itu” dengusku

“Lalu seperti apa?” tanyanya menantang. “karena jujur saja aku tidak mengerti?”

“Apa kau tidak pernah jatuh cinta?”

Dia terkekeh “ Kurasa kau terlalu banyak membaca cerita putri dan pangeran”

Mataku menyipit tidak senang “Sekedar informasi, sejak aku kecil ibuku sudah sakit-sakitan sehingga dia tidak bisa membacakan dongeng untukku” kataku ketus.

“Ouch..” dia mengangkat kedua tangannya seolah menyerah “Aku tidak bermaksud menyinggung soal ibumu”

Aku mendengus dan membuang muka ku malas.

“Hyura-ya”

“Jangan bicara padaku, percuma menjelaskannya padamu. Kau tidak akan mengerti”

Dia meletakkan telunjuknya di bawah daguku, memaksaku melihatnya.Dia menatapku intens, Wajahnya tepat didepanku, hidung kami hampir bersentuhan “Kalau begitu tunjukan padaku, seberapa hebat perasaan yang kau sebut cinta itu” katanya serius. Matanya menghujam lurus ke dalam mataku hingga menjalar ke tulang punggungku. Matanya turun ke bawah, ke arah bibirku. Sebelum dia memajukan wajahnya lebih dekat, aku mendorong dadanya menjauh.

“Jangan mencoba-coba mencuri kesempatan”

Dia menarik salah satu sudut bibirnya “Apa aku pernah begitu?”

Aku berdiri cepat “Sebaiknya kau pulang. Ini sudah malam”

“Kau tidak bisa mengusirku Park Hyura. Ingat”

Aku menunduk memegang kedua lengan kursi sebagai sanggahanku, dia tidak memundurkan wajahnya seperti yang kulakukan tadi tapi malah tersenyum seolah menantang.

“Kau penasaran seperti apa perasaan cintaku pada sepupumu. Salah satunya adalah membiarkanmu tetap disini” kataku tajam. Menegakkan tubuhku dan siap berbalik masuk kedalam rumah. Namun tangan Kyuhyun menarik lenganku hingga aku tertarik dan jatuh di pangkuannya.

Dia tersenyum penuh kemenangan. Aku melotot kea rah “Apa yang kau lakukan?”

“Jangan lupa kau juga harus mengikuti aturanku Nona Park. Penjelasanmu barusan sama sekali tidak memberiku pencerahan”

Aku ingin meneriakinya dengan sumpah serapah yang sudah berada di ujung lidahku. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara Ayahku dari belakang.

“Hyura-ya….” Aku menoleh cepat  “Ups, maaf Appa tidak tau…”

Aku berdiri cepat menjauh dari Kyuhyun “Appa. Ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan”

“Appa hanya ingin mengingatkan. Jangan terlalu malam, Kyuhyun”

“Yes sir” sahut Kyuhyun sambil memberi Hormat. Ayahku tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Kyuhyun sebelum kembali ke dalam.

Aku menoleh pada Kyuhyun “apa-apaan tadi?Apa Kau merencanakannya?”

Dia mengangkat bahu acuh lalu berdiri, meregangkan ototnya.

“Ya Cho Kyuhyun!”

Dia pura-pura menguap “kau benar ini sudah malam. Aku harus pulang. Selamat malam Hyura-ya” dia tersenyum sebelum berjalan menjauh.

***

Aku benar-benar tidak tahan dengan prilaku Kyuhyun, di tambah lagi Ayahku yang secara terang-terangan seperti menjodohkan aku dengannya.Dan Kyuhyun pun terlihat tidak masalah dengan itu. Apa arti dari ucapannya tempo hari ‘aku tidak ingin menghancurkan hatimu’? omong kosong. Jadi sekarang aku nekat pergi ke asrama dekat kampus sebelum apotik terdekat untuk membeli peralatan yang kubutuhkan.Aku tidak sabar menunggu adiknya Nammie pulang dari liburan keluarga mereka selama Chuseok.

“Yoon sera?” petugas Apotek melihat tanda pengenal yang kupinjam dari teman sekampus Nammie.Dia satu-satunya orang yang kutemui di asrama. Dengan memberinya setumpuk makanan yang bisa dia simpan sebulan, aku mendapatkan kartu mahasiswa kedokteran miliknya. Di Sini peralatan kesehatan seperti alat suntik dan semacamnya tidak dapat dijual bebas tanpa tanda pengenal atau surat keterangn dari rumah sakit atau dokter.

Aku menaikkan kacamataku dan mengangguk. Sera menggunakan kacamata di kartu identitasnya. Jadi aku membelinya di penjual kaki lima di sebrang Apotek.

Petugas di depanku melihatku heran “Sekarang bukankah musim liburan”

Aku tersenyum sebisa mungkin “Aku gagal dalam  materi praktek di semester lalu, jadi professor memintaku untuk lebih berusaha. Yah semacam itu lah”

Dia mengangguk mengerti lalu berjalan ke dalam mengambil pesananku. Aku mendesah lega saat dia keluar dan memberikan barangku. Menghitungnya di mesin kasir lalu aku memberinya uang. Aku tersenyum membayangkan akan menyiksa Kyuhyun dengan jarum suntik. Selain itu aku akan menguras darahnya hingga dia lemas dan dia tidak bisa lagi menggodaku dengan komentar-komentarnya. Setelah mendapatkan beberapa kantong darah, aku akan menendang bokongnya agar menjauh dari rumahku.

Kembali ke rumah dan seperti biasa mobil Eomonim terparkir di depan rumahku. Kyuhyun menggunakan semua fasilitas di rumah Donghae seenaknya.Bahkan dengan mudahnya dia tidur di semua kamar di rumah itu dan bukannya menempati kamar tamu.

“Kau tidak bilang akan pergi keluar?” Kyuhyun sedang berbaring di sofa bermain X-box di ruang keluarga. Sepertinya bukan hanya di rumah Donghae, dia berprilaku sama saat di sini.

“Kau bukan pengasuhku” sahutku ketus.

“Terserah” gumamnya. Matanya tidak pernah lepas dari tv.

Aku naik ke kamarku, meletakkan semua peralatan yang baru saja kubeli kedalam kotak sebelum aku kembali menemui Kyuhyun.

Aku tau dia mendengarku mendekat, meskipun dia tidak menoleh. Aku duduk di bawah sofa. Dia melirikku sekilas “Ada apa?” tanyanya.

Aku menekan tombol bulat besar di permukaan X-box dan seketika layar tv berubah biru.

“YAK!!”

“Tanganmu” tanpa memperdulikan protesnya aku mengisyaratkan agar dia mengulurkan tangannya

Dia melihat kotak yang kubawa kemudian beringsut bangun “Kau mau apa?” dia menjauh ke ujung sofa.

“Ya! Cho Kyuhyun, kau berjanji akan membantu kan, sekarang berikan tanganmu”

“Membantu apa, kau tidak lihat, bekasnya saja belum hilang” dia memamerkan lengannya yang tempo hari kulukai.

“Aku janji kali ini akan berhasil, aku sudah berlatih”

“Kau bohong. Aku selalu bersamamu. Kau tidak pernah memegang jarum suntik lagi dari yang terakhir kali”

Sial.

“Baiklah aku mengaku, aku tidak belajar lagi. Tapi bukankah itu tugasmu untuk membantuku. Apa kau mau ingkar janji?”

“Bukan itu maksudku, setidaknya tunggulah sampai bekasnya menghilang dan sementara kau bisa menggunakan tanganmu sendiri”

Aku mengernyit “Tidak kah itu terdengar aneh?”

“Sama sekali tidak aneh. Cukup adil bukan untukku. Kecuali kau berniat melubangi seluruh tanganku”

Aku tidak menjawabnya lalu berdiri berjalan ke meja makan yang tidak jauh dari belakang sofa. Meletakkan kotak dan menarik kursi sebelum mendudukinya. Kyuhyun tidak berkomentar, dia hanya melihat apa yang kulakukan. Dia benar, aku harus memastikan diriku mampu melakukannya tanpa melukai orang lain. Aku tidak bisa membayangkan aku akan melukai Eomonim saat aku mengambil darahnya nanti.

Aku mendengar suara televisi lagi, Kyuhyun kembali Bermain X-box. Aku mengeluarkan tali karet, lalu membuka pembungkus jarum dan memasangkannya. Mengikat lenganku dengan tali, mencari vena sebelum mengusap permukaan kulitku dan menusukkan jarum. Namun gagal. Kesalahanku tidak menusuknya dengan tepat. Aku tidak putus asa dan mencobanya lagi. Aku bahkan tidak peduli meskipun aku harus melubangi seluruh tubuhku.

Aku mengibaskan tanganku yang hampir kebas saat percobaan ketiga. Mengayunkannya ke udara sebelum meletakkannya lagi di atas meja makan. Aku bersiap untuk mengikat lenganku saat Kursi di sebelahku bergeser. Kyuhyun duduk disana sambil mengulurkan tangannya.

“Apa kau berniat memutuskan tanganmu?” ujarnya ketus. Aneh, bukankah dia sendiri yang menyuruhku berlatih sendiri sekarang kenapa jadi dia yang kesal?

“Gagal mengambil darah tidak akan membuat tanganku putus” sahutku

“Sudahlah, pakai tanganku sebelum aku berubah pikiran.”

Aku terlihat ragu namun dia melepaskan tali yang ada di tanganku lalu mengarahkan ke lengannya sendiri “Kau mau membantuku atau aku harus melakukannya sendiri?”

Aku tersenyum dan mengambil tali di tangannya “Gomawo” kataku tanpa melihatnya.

“Kau lihatkan betapa kerennya aku” katanya bangga.

Aku memutar bola mata, dia hanya terkekeh. Sementara Aku mulai meraba tangannya mencari-cari. Namun tiba-tiba saja Kyuhyun mengangkat daguku untuk melihatnya.“Hey, konsentrasi. Kau pasti bisa” bisiknya. Sesaat aku terbuai oleh kepercayaan yang dia berikan. Dia tersenyum tulus dan aku mengerjap cepat.

“E..eoh” aku menunduk cepat, mencoba berkonsentrasi pada tangannya lagi meskipun kurasakan pipiku memanas. Yah, tentu saja aku harus bisa. Agar kau bisa melihat Kekasihku lagi.

“Kepalkan tanganmu dan tahan” kataku lembut. Dia menurut, aku mengintip dari balik bulu mataku. Mata Kyuhyun terpejam rapat namun tidak setegang sebelumnya. Aku menusukkan jarum dan darah mengalir keluar. Aku tersenyum lalu menyiapkan kantung darah.

“Buka matamu” bisikku. Dia membuka matanya dan melihat ke bawah “kau berhasil?”

Aku mengangguk sabil tersenyum “Tunggu sepuluh menit”

Dahinya mengernyit “Bukankah ini hanya latihan? Kenapa kau mengambil darahku juga?”

“Kenapa tidak sekalian saja mendonorkan darahmu” Kataku

“Apa kau akan menjualnya ke bank darah?”

“Menurutmu?” aku membereskan sisa sampah kapas dan jarum serta plastic. Mengumpulkannya jadi satu dan membuangnya. Kyuhyun duduk tenang sambil melihat darahnya sendiri mengalir turun ke kantong darah dengan tatapan kagum.

Aku duduk di sampingnya. Dia menoleh masih dengan senyumnya “Apa ini pertama kalinya untukmu?” tanyaku

Dia mengangguk “Sejak kecil aku benci jarum, aku juga belum pernah di infuse. Dan menurutku ini tidak terlalu sakit”

“Bagus untukmu. Kau bisa melakukannya dengan rutin. Kau tau mendonorkan darah sangat bagus untuk kesehatan”

“Oh ya Ngomong-ngomong apa kau calon dokter atau perawat?” tanyanya

Aku tersenyum canggung sambil berdiri menjauh menuju cabinet tempat obat “Karena ini pertama kali untukmu, Kau harus minum vitamin setelah ini” kataku mengalihkan topic. Aku tidak ingin berbohong lagi. Aku sudah cukup merasa bersalah dan Setelah ini aku tidak perlu menemuinya, Kyuhyun juga akan pulang ke Denver.  Sekantung darah darinya cukup untuk persediaanku kurang lebih tiga bulan setelah itu aku akan memikirkan bagaimana mendapatkannya lagi.

Mengambil vitamin dan air. Aku kembali ke sisinya dan mengecek kantung darah.

“Berapa banyak yang kau ambil?”

Aku melepas jarum dan selang lalu menutup luka Kyuhyun dengan kapas “Pegang dan tekan” Kyuhyun menggantikan tanganku untuk menekan kapas. Lalu aku menempelkan plester di atas kapas.“Jangan gunakan tanganmu untuk mengangkat beban setidaknya lima belas menit kedepan” dia mengangguk mengerti.Aku menunduk mengambil kantung darah Kyuhyun.

“Ini sekitar tiga ratus cc”

“Wow. Boleh aku memegangnya?”

Aku mengangguk

Kyuhyun mengambil kantung darah sambil melihatnya kagum dan heran “aku tidak menyangka ini darahku”

Aku mengambilnya kembali “Sudah cukup mengagguminya. Sekarang minum vitaminmu” aku memasukkan darah Kyuhyun ke dalam box sebelum memasukkannya ke dalam kulkas.

“Kau benar-benar akan menjualnya ke bank darah?” tanyanya lagi

Aku mengangkat bahu “Sore ini aku ada urusan. Kau boleh pulang atau tetap disini. Terserah” dengan itu aku kembali ke kamarku. Dan berdoa agar Kyuhyun cepat pulang. Aku tidak bisa menghadapinya sementara dia terus bertanya. Aku tidak bisa berbohong lagi. Entahlah semakin lama aku merasa semakin terbebani. Semoga ini hanya perasaan sementara dan akan menghilang setelah Kyuhyun kembali ke negaranya.

***

“Merindukanku?”

Aku membuka mata, Donghae tersenyum di depanku. Otomatis aku bibirku tertarik ke atas. Dia merentangkan tangannya mengundangku.Dengan senang hati aku berlari ke arahnya, memeluknya. Namun tidak ada yang bisa ku gapai, aku melewatinya.Aku seperti memeluk udara kosong. Aku tidak bisa menyentuhnya.Tubuh Donghae seperti udara dan transparan.

Aku mengangkat tanganku memegang dadanya namun tanganku menembus tubuhnya.

“O..oppa….”

Donghae menatapku sedih

“Ke..kenapa begini?” kenapa bisa begini? Tubuh Donghae benar-benar transparan seolah dia bisa menghilang kapan saja.Tidak.Ini tidak boleh terjadi. Aku belum siap.

“Aku tidak tau Hyura” sahutnya lemah

“Apa kau merasa ada yang aneh?Atau sesuatu?Atau semacamnya?” tanyaku frustasi.

Dia menggeleng “Aku tidak merasakan apapun, ini seperti biasanya. Kau memanggilku dan aku disini sekarang”

 “Mungkin karena aku tidak meminum darah langsung dari ibu atau kakakmu. Aku hanya menggunakan darah sepupumu. Mungkin…mungkin ini bisa saja terjadi karena ikatan darah kalian tidak sekuat saudara kandung” aku memaksa tersenyum. Kemungkinan itu masuk akal. Yah aku harus percaya bahwa itulah penyebabnya.

“Kau menggunakan darah Kyuhyun?”

Aku mengangguk “Kau tidak melihatnya? Dia mengunjungimu saat Chuseok”

Donghae  menggeleng “Aku tidak bisa melihat seseorang yang masih hidup saat dia tidak menginginkanku”

“Maksudmu?’

“Kemarilah” dia duduk diatas rumput tepat didepan nisannya, menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.Aku mendekat dan duduk di sisinya.

“Seperti sekarang, aku muncul karena kau menginginkanku”

“Aku tidak mengerti”

“Yah aku muncul di hadapanmu sekarang karena kau memikirkanku, hatimu menarikku kuat hingga aku bisa berada disini. Kita bisa bertemu dan berbicara karena perasaanmu yang menginginkannya. Meskipun Kyuhyun mengunjungiku tetapi dia tidak menginginkanku maka aku tidak bisa muncul di hadapannya”

Aku mengangguk mengerti

“Oh ya, bisakah kau ceritakan kenapa tiba-tiba Kyuhyun mengunjungiku sedangkan kau seharusnya belum kembali dari Denver”

Aku mulai bercerita mengenai pertama kali pertemuanku dengan Kyuhyun di rumahnya beberapa hari lalu, sikap Kyuhyun, hingga dia mau memberikan darahnya meskipun dengan kebohongan.

“Oppa, kau tidak pernah cerita Kyuhyun pernah mendorongku hingga aku jatuh dari tangga”

Donghae mendesah pelan “Itu bukan cerita yang menyenangkan, lagipula kau sudah  melupakannya, jadi kupikir lebih baik kalau kau tidak tau”

“Aneh, kenapa aku bisa lupa” gumamku.

“Aku juga tidak mengerti, saat sadar kau hanya melupakan Kyuhyun. Kau lupa bahwa dia pernah ada, datang, sering mengganggumu dan membuatmu menangis. Jadi ibumu memutuskan untu tidak pernah memberitaumu mengenai Kyuhyun. Dan sejak kejadian itu, Kyuhyun juga tidak pernah datang lagi”

“Dia bilang dia membenciku Tapi sekarang dia seperti permen karet, setiap hari datang ke rumahku, menggangguku, menghabiskan persediaan makanan kami, mengoceh sepanjang hari dan yang paling parah Appa mendukungnya. Dia semakin tidak tau malu, kau tau” gerutuku..

Donghae tergelak “Dia masih mengganggumu?”

Aku mengangguk cepat “Setiap.Hari. Dia bertingkah seperti anak kecil, terkadang seperti remaja tanggung yang menyebalkan”

“Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Dia memang seperti itu, meskipun begitu dia orang yang baik dan perhatian. Ya ampun aku sangat merindukannya”

Aku tersenyum tipis mengingat karena dialah aku bisa bertemu Donghae lagi “Ya, Kau benar” kataku menyetujuinya. “Aku bisa membawanya kesini kalau Oppa merindukannya”

Dia terlihat ragu “hmm aku tidak yakin dia bisa melihatku”

“Kenapa?”

“Sudah kubilang, dia harus memiliki keinginan untuk menemuiku baru kami bisa saling melihat”

“Tentu dia juga merindukanmu, lihat saja sekarang dia berada disini”

Donghae tidak menjawab melainkan hanya tersenyum. Selanjutnya kami mengobrol ringan, menceritakan persiapanku saat Chuseok dan tentu saja Kyuhyun berada di dalamnya. Tanpa Kusadari di setiap obrolan kami selalu ada Kyuhyun dan aku tidak bisa berhenti membicarakannya. Aneh.

Aku pulang ke rumah dan melihat lampu rumahku sudah menyala. Ini pertama kalinya, membayangkan ada seseorang yang menunggu di rumah cukup menyenangkan. Membuka Pintu, Kyuhyun masih berbaring di sofa, Dia tidak lagi bermain X-box namun membaca majalah game. Dia menurunkan majalahnya saat mendengar aku masuk.

“Kemana saja kau?Aku kelaparan” dia melempar majalah ke bawah sofa lalu terduduk.

“Ya!Kau pikir aku pembantumu, kenapa minta makan padaku. Apa kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri?”Sahutku sebal. Aku salah, memiliki seseorang yang menunggu di rumah sama sekali tidak menyenangkan.

“Kau tuan rumah yang buruk. Tentu saja kau harus memberi makan tamu”

Aku mendengus tidak percaya “tentu, kau tamu tidak diundang”

“ Diundang atau tidak aku tetap lah tamu”

“Terserah” aku berjalan sambil menghentakkan kaki menuju lemari es, meletakkan kembali kotak yang berisi darah Kyuhyun sebelum naik ke kamarku.

“Yak!Kau mau kemana?” Teriaknya saat aku hendak naik ke tangga

“Bukan urusanmu!” balasku tak kalah keras, mengambil dua anak tangga sekaligus agar lebih cepat masuk ke dalam kamar.

“Aku tidak akan berhenti sampai kau memberiku makan!” aku masih mendengar teriakannya sebelum menutup pintu

“Bukan urusanku kalau kau mati kelaparan” balasku lalu menutup pintu. Membanting tasku ke ranjang, melepas coat dan terdengar suara gedoran di pintu kamarku. Aku mengerang.

“Kau akan menyesal, aku akan menghantuimu. Kau dengar itu Park Hyura! Aku akan menghantuimu!”

Aku melempar salah satu sepatuku ke pintu “Pergi dari sana dasar hantu jelek!”

“Berikan aku makan atau aku akan terus menghantuimu! Berikan aku makan! Berikan aku makan! Berikan aku makan!” dia mengatakan hal itu terus sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku secara konstan. Aku menutup telingaku dengan bantal namun ocehannya tidak berhenti dan malah membuat kepalaku sakit.

Menyerah, aku membuka pintu. Dia nyengir “Berikan aku makan”

“Arasseo arasseo. Berhentilah mengatakan itu”

Dia memamerkan semua giginya “Aku ingin daging”

Aku memutar bola mata “akan kubuatkan dengan syarat kau tetap diam”

Dia mengangguk “aku janji! Sstttt” dia meletakkan telunjuknya di depan mulut.

Aku menggeleng pelan sebelum berbalik dan turun ke dapur, dia mengekoriku.Duduk di meja makan sambil menontonku bekerja di dapur.Aku memasak dengan cepat secepat aku ingin dia pergi dari sini.Namun tentu saja tidak semudah itu. Dia mengancam tidak akan memakan makanannya jika aku tidak menemaninya. Jadi sekarang aku duduk sambil melihatnya malas.

“Cepat selesaikan makanmu” kataku tidak sabar.

“Aku bisa tersedak, apa kau mau aku mati tersedak di rumahmu. Itu sangat tidak keren, kau tau” dia sengaja memakan nasinya dengan sangat lambat, menyumpit nasi dengan jumlah yang sangat sedikit, saking tidak sabarnya aku ingin menuangkan semua isi mangkuk ke mulutnya.

“Sebenarnya kapan kau akan pulang?”

“Tentu setelah makan aku akan pulang”

“Maksudku kembali ke Denver”

Dia berhenti, menatapku sejenak sebelum mengangkat bahu “Entahlah”

“Apa kau tidak merindukan ayah dan ibumu?”

“Tidak” sahutnya santai

Aku mengernyit “Kenapa?”

“Aku sedang kabur dari rumah, jadi kenapa aku harus merindukan mereka?”

“Dasar kekanak-kanakan, kenapa harus kabur dari rumah?”

Dia mendengus “Kau tidak tau apa-apa!”

“Kalau begitu katakan saja”

“Tidak ada yang harus kukatakan padamu”

“Kenapa?” tanyaku sedikit menantang

Dia meletakkan sumpitnya dengan kasar “Kau merusak selera makanku” katanya sambil Menatapku jengkel.

“Bagus, kalau begitu kau bisa pulang sekarang” sahutku tak kalah sebal. Dia merengek meminta makanan dan sekarang mengomel tidak jelas. Tanpa mengatakan apapun dia berdiri dan pergi tanpa melihatku lagi. Dan jujur saja sikapnya yang seperti itu membuatku lebih buruk dari seharusnya. Apa masalahnya? Aku hanya bertanya kenapa dia jadi marah-marah. Dengan kesal aku memberesakn sisa makananya dan melemparkannya ke bak cuci tanpa perlu mencucinya.

Keesokan paginya Kyuhyun tidak datang dan dengan bodohnya aku menunggunya sampai aku harus pergi menemui Donghae. Aku menceritakan padanya apa yang terjadi padaku dan Kyuhyun semalam. Donghae bilang itu tidak akan bertahan lama, Kyuhyun akan kembali karena dia butuh makanan mengingat dia hanya bisa meracuni dirinya sendiri. Namun hingga hari kelima Kyuhyun tidak juga datang ke rumahku. Meskipun tidak ingin mengakuinya rumahku menjadi terlalu tenang tanpa Kyuhyun, dan Aku sedikit merindukannya—sedikit.

Mungkinkah dia sudah kembali ke Denver?

Pemikiran dia pergi tanpa mengatakan apapun membuatku panic, selain itu aku berjanji pada Donghae untuk memastikan keberadaan Kyuhyun, Jadi aku mendatangi rumah Donghae.

Pintu gerbang langsung terbuka saat aku menekan bel untuk pertama kali. Aku membuka pintu perlahan, Kyuhyun berdiri bersandar di dinding sambil bersedekap. Dia menatapku dengan sangat tidak bersahabat, aku tidak tau pertanyaanku tempo hari membuatnya semarah itu.

            “Ada Apa?” Tanyanya dingin.

            “Hanya memastikan kau baik-baik saja dan masih berada di Korea. Aku sudah melihatmu jadi…..” aku tidak tau harus mengatakan apa lagi dan hanya mendesah sebelum melanjutkan “Kalau begitu aku permisi” aku berbalik dan Kyuhyun memanggilku. Aku berhenti lalu menoleh malas.

            “Apa yang kau lakukan dengan darahku di kuburan Lee Donghae?”

            Aku berbalik perlahan menatapnya terkejut,. Bagaimana dia bisa tau?

            Aku tertawa hambar menyembunyikan kegugupanku. Dia tidak mungkin tau kan “Apa yang kau bicarakan?”

            “Aku melihatmu. Disana. Setiap hari di jam yang sama. Kau berbicara sendiri.” Kyuhyun memutar matanya sambil tersenyum mencemooh “Kupikir kau memang sudah gila. Lalu aku bertanya pada Ayahmu, kau bukan mahasiswa kedokteran , kau juga bukan anggota palang merah atau semacamnya. Kau menipuku mentah-mentah untuk alasan…” dia menggeleng sambil mengangkat tangannya ke atas “Hanya Tuhan dan Kau sendiri yang tau”

            Aku menelan ludahku kasar “Tidak ada yang harus kujelaskan” kataku berusaha bersikap tenang, tapi tidak. Aku ketahuan.

            “Aku juga tidak mengharapkan apapun darimu” sahutnya dingin “Terima ksaih sudah mengecekku, aku baik – baik saja. Sekarang pergilah dan jangan pernah datang lagi” dengan itu dia berbalik masuk ke dalam tanpa melihatku lagi.

            Aku mengerjap dua kali untuk menyadarkan diriku, berbalik perlahan sambil memegangi dinding., langkahku terhuyung menuju mobil. Saat memutar kunci menyalakan mesin kurasakan pipiku basah, aku mengusapnya. Aku menangis? Kenapa?

            Mengangkat kedua telapak menekan mataku agar tidak mengeluarkan air mata lagi namun justru air mataku semakin deras. Kenapa? Kenapa aku menangis? Seharusnya tidak begini. Berapa kali aku mengusapnya air mata tidak juga mau berhenti. Menyerah, aku Menekan kepalaku ke stir dan tersedu –sedu disana. Aku tidak pernah menagis lagi semenjak pemakaman Donghae. Karena aku sadah berjanji tidak akan menagisinya lagi. Tapi kali ini aku tidak menangisinya. Aku sendiri tidak tau kenapa aku menangis. Mungkin aku ketakutan. Yah itu alasan paling masuk akal. Aku ketakutan karena katahuan olah Kyuhyun, aku ketakutan seandainya dia mengatakannya pada Eomonim. Tidak, tentu saya itu tidak boleh terjadi.

            Mengambil nafas dalam, menenangkan diri dan menunggu air mataku berhenti baru setelah itu membersihkan wajahku dengan tisu. Mematikan mesin mobil, aku kembali ke rumah Donghae. Aku sudah memikirkan cara-cara dramatis agar aku bisa masuk ke dalam rumah itu seandainya Kyuhyun tidak membukakan pintu untukku. Namun seperti sebelumnya, dia bahkan membukakan pintu saat pertama kali aku menekan bel.

            Dengan posisi yang sama, Kyuhyun menungguku saat aku membuka pintu. Seperti reka adegan yang aneh. Dia melihatku menunggu.

            Aku menutup pintu di belakangku sebelum bicara “Boleh aku masuk?” tanyaku

            “Katakan saja disini”

            Entah untuk alasan apa, ucapannya sangat melukaiku lebih dari seharusnya. Ini bahkan bukan rumahnya. Aku lebih mengenal rumah ini ketimbang dia tapi dia tidak mengijinkanku untuk masuk.

            “Bagaimana kau tau aku selalu berada disana. Makam Donghae Oppa” Tanyaku hati-hati.

            Dia memutar mata sambil menarik salah satu sudut mulunya “Jadi karena itu kau kembali”

            “Apa kau mengikutiku?” tanyaku tanpa menghiraukan komentar sinisnya.

            Dia mendekat lalu berhenti di depanku. Menunduk menyamakan wajah kami, dia menatapku langsung ke dalam mataku otomatis aku memundurkan wajahku.

            “Kau habis menangis” itu bukan pertanyaan

            Aku menggeleng kaku

            “Kenapa Kau menangis?”

            Aku mengambil langkah mundur, dia menegakkan tubuhnya “Jawab Pertanyaanku Cho Kyuhyun! Apa kau mengikutiku?”

            Dia mengangkat bahu “Tidak ada yang harus ku jelaskan”

            “Apa kau akan mengatakannya pada Eomonim?”

            “Apa aku harus mengatakannya”

            Aku mendesah berat “Bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa melontarkan pertanyaan lain”

            “Bisakah kau tidak usah bertanya saja padaku karena aku muak dengan semua pertanyaanmu Park Hyura ssi” katanya tajam. “Kau tidak dalam posisi bertanya disini, justru aku lah yang seharusnya mendapatkan penjelasan. Apa yang kau lakukan dengan darah sialanku?”

            “A..aku…” aku menggeleng lemah “Aku tidak bisa menjelaskannya”

            Dia mengangguk “Kalau begitu kau membuang waktumu karena aku pun tidak akan menjawab apapun” dia berbalik namun aku buru-buru memanggilnya sebelum dia masuk kedalam rumah.

            “Aku bisa menunjukkannya” dia berhenti lalu menoleh perlahan. Dahinya berkerut bingung. “Aku bisa menunjukkannya. Ikutlah denganku” kataku meyakinkan. Dia terlihat ragu namun akhirnya mengangguk.

***

            Kyuhyun mengernyit saat ku sodorkan cawan berisi rumput kering dan darahnya sendiri. Dia melihatku seolah aku sudah gila.

            “Kau menyuruhku meminum ini?” tanyanya tidak percaya

            Aku mengangguk “Tidak apa, rasanya mungkin sedikit aneh tapi tidak apa-apa”

            “Tidak apa katamu?” Omelnya “Aku harus meminum darahku sendiri kau bilang tidak apa? Apa Kau sudah tidak waras Hah?”

            Aku melihat sekeliling sebelum menatapnya lagi “Ya.. jangan berteriak di pemakaman” bisikku kasar

            “Kenapa? Ini hanya kuburan. Tempat orang mati kau tau! Hanya kita berdua di sini”

            Aku mendengus “Sebenarnya kau ingin meminumnya tidak?”

            “Jangan harap”

            “Aku tidak bisa menunjukkan apapun kalau kau tidak mau meminumnya Cho Kyuhyun” kataku sesabar mungkin.

            Dia mengernyit jijik “Demi Tuhan aku tidak akan meminumnya, melihatnya saja membuatku mual”

            “Kalau begitu tutup matamu”

            “Aku tidak mau, aku tidak akan melakukanya” sahutnya keras kepala.

            “Dasar Pengecut”

            “Itu tidak akan berhasil Park Hyura! Dulu kau mengatakan hal yang sama agar aku mau mendonorkan darahku dan sekarang kau mengatakannya lagi untuk memaksaku meminum darahku sendiri. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya’

            “Aishhh” aku merebut kasar cawan dari tangannya lalu meminumnya dalam sekali tegukan.

Kyuhyun menutup mulutnya dengan tangan “Astaga, kupikir aku benar-benar ingin muntah” dia mundur menjauh dariku.

Aku menggeleng pelan lalu berbalik ke arah nisan. Tidak ada yang berubah, kami tetap berdua, hanya ada aku dan Kyuhyun. Donghae tidak muncul. Aneh.

“Oppa…” panggilku “Donghae Oppa?…”

“Dia tidak akan bangun dari kuburnya meskipun kau memanggil-manggil namanya” kata Kyuhyun di belakangku

            Aku meliriknya kesal dari balik bahuku “Tutup Mulutmu”

            “Donghae Oppa” panggilku lagi “Kau jangan menakutiku. Oppa….”

            “Park Hyura. Kau sudah gila atau bagaimana?”

            “Sudah kubilang tutup mulutmu…..” lenganku ditarik dengan kasar hingga aku dan Kyuhyun berhadapan. Dia menatapku marah. Seharusnya aku yang marah.

            “Sadarlah Park Hyura!” bentaknya

            Aku berusaha mendorongnya menjauh tapi tangannya begitu kuat mencengkramku.

            “Lepas! Ini semua gara-gara kau hingga dia tidak muncul”

            Dahinya berkerut dalam “Apa maksudmu dengan tidak muncul”

            Aku menggeleng lemah, pikiraku tidak focus. Kenapa bisa begini? Donghae Oppa selalu muncul, tidak pernah tidak. Aku melakukan semuanya seperti biasa, tapi kenapa dia tidak muncul?

            “Katakan apa maksudmu dengan tidak muncul!” Kyuhyun bertanya lagi dengan tidak sabar

            “Seharusnya dia muncul. Donghae Oppa seharusnya muncul setelah aku meminum darahmu”

            Perlahan cengkraman tangannya di lenganku lepas “Apa?” tanyanya tidak percaya “Apa yang sudah kau lakukan Park Hyura?”

            “Aku….” Memejamkan mata sambil mengigit bibirku sebelum mendongak menatapnya. “Aku mencintainya. Sangat. Dan itu membunuhku” air mataku jatuh tanpa bisa ku cegah. “Karena itu aku melakukan ritual aneh untuk menemuinya. Aku benar-benar mencintainya Kyu, Aku tidak bisa kehilangan dirinya. Aku sudah mencoba tapi aku tidak bisa”

            Tatapan jijik dan merendahkan terpancar dari matanya

            “Kau tidak mencintainya tapi kau mencintai dirimu sendiri” katanya rendah namun tajam.

            “Kau sama sekali tidak mengerti!” balasku keras

            “Jangan Bicarakan soal cinta lagi padaku karena aku tau dengan jelas ini sama sekali bukan cinta! Jika kau mencintainya maka kau akan melepaskannya, membiarkannya menemukan kedamaian. Kau tidak bisa mengatasi perasaanmu karena itu kau melakukan hal ini. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri”

            “Tutup mulutmu!” geramku

            “Kita pulang!” dia menarikku kasar, Aku menahan tanganku “Aku tidak akan kemana-mana”

            Dia melotot “Kau tau aku sama sekali tidak keberatan membopongmu dan melemparkanmu ke dalam mobil. Percayalah kau tidak ingin aku mencobanya”

            “Kau tidak bisa memaksaku”

            “Jangan coba peruntunganmu sayang. Karena aku benar-benar benci kuburan”

            Belum sempat aku membalas dalam sedetik aku sudah berada di pundaknya “Ya! Cho Kyuhyun! Turunkan aku!” Aku memukul-mukul punggungnya, namun dia tidak bergeming dan terus berjalan menuju mobil. Dia juga membuktikan ucapannya dengan melemparku ke dalam mobil dengan kasar.

            “Jangan berniat kabur! Pakai sabuk pengamanmu sebelum aku mengikatnya diseluruh tubuhmu” Aku tau ancamannya serius, jadi aku menurut. Sambil menatapnya kesal sebelum menarik seatbelt

            Dia berjalan cepat menuju balik kemudi. Kyuhyun menjalan mobilku dengan tenang, berbanding terbalik dengan kekesalan yang dia simpan. Terlihat dari postur tubuhnya. Bukan hanya dia yang marah disini. Begitu juga denganku. Dia menghakimi ku tanpa mengerti apa yang sudah kulalui.

            Kami berhenti di depan rumahku. Tanpa menungguku dengan cepat dia keluar mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya, saat masuk ke dalam, aku melihat Kyuhyun melintasi ruang tengah menuju kamar mandi sambil meneteng box tempat aku menyimpan persediaan darah miliknya.

            Dia mau apa?

            Aku berlari menyusulnya namun terlambat. Dia membuang darahnya ke dalam bidet lalu memflushnya. Aku terjatuh di pintu kamar mandi. Memandang bidet dengan tatapan tidak berdaya.

            “Apa yang kau lakukan?” bisikku lemah.

            Kyuhyun berjongkok di depanku “Ini hal yang tepat yang bisa kulakukan untukmu” dia meletakkan tangannya di bawah lututku lalu membawaku ke ruang tengah. Dia mendudukkan ku di sofa panjang

            “Apa kau akan mengatakannya pada Eomonim?” dari semua kemarahan yang ada justru pertanyaan konyol seperti itu yang ku lontarkan. Ketakutan Eomonim tau apa yang telah kulakukan tetap menjadi yang pertama.

            Dia mengambil tempat di sampingku. Memiringkan duduknya menghadapku.

            “Setalah apa yang terjadi  kau masih berniat mengambil darahnya juga?”

            Aku menunduk tanpa menjawabnya

            “Kuanggap itu sebagai jawaban iya. Maka aku akan mengatakanya pada Imo”

            Aku menatapnya dengan mata berair “Kenapa? Kenapa kau melakukannya?”

            “Ini tidak benar Park Hyura!”

            Aku menunduk, air mataku jatuh membasahi baju terusanku

Dia mendesah berat “Ya Tuhan, Kumohon jangan begini” Kyuhyun mengangkat wajahku lalu mengusap air mataku. Menatapku dalam sebelum berbicara. “Dengar Hyura-ya. Aku benar-benar membencimu saat aku tau kau menipuku karena membuatku melakukan hal yang paling kubenci. Aku tidak berniat mengikutimu. Tapi saat aku datang ke sini aku melihatmu keluar rumah membawa box yang terakhir kulihat sebagai tempat penyimpanan darah. Aku menelpon Ayahmu, bertanya apa kau akan ke rumah sakit atau ke kampus. Namun jawabannya sama sekali di luar dugaanku. Karena itu aku mengikutimu”

            Aku tidak menjawabnya karena wajahku penuh air mata dan membuatku sulit berbicara

            “Ku mohon Hyura-ya, berhentilah menangis” Dia mengusap air mataku lagi, memegangi ke dua pipiku “Lihat aku” pintanya lembut. Aku melakukannya meskipun dengan mata berkabut

            “Aku tidak akan mengatakannya pada Imo. Okey?”

            Aku mengangguk.

            “Tapi aku juga tidak bisa membenarkan tindakanmu”

            Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk lagi. Aku ingin berhenti menangis namun membayangkan aku tidak bisa bertemu Donghae membuat dadaku tersengat  dan sangat menyakitkan hingga air mata ini tidak mau berhenti.

            Dia membersihkan air mataku lagi dan lagi. Kemudian menyerah lalu membenamkan wajahku di dadanya. Dia merengkuhku erat. “jangan menangis lagi. Kumohon” bisiknya. Aku membalas pelukannya. Mencengkram kaosnya dengan erat. Demi apapun bau tubuhnya sangat menyenangkan dan pelukan Kyuhyun membuatku nyaman berlama-lama disana.

            Aku tidak tau berapa lama kami berpelukan, karena posisi kami tidak lagi duduk melainkan rebah di sofa. Aku tidak tau dia mengguman atau sedang bernyanyi aku tidak terlalu jelas namun suaranya menenangkan. Tangan Kyuhyun menyisir rambutku atau terkadang mengelus punggungku lembut.

            Aku tidak lagi menangis. Meskipun mataku terpejam namun sepenuhnya aku sadar. Semua kenyamanan yang dia berikan padaku membuatku sesat akan lupa mengenai kejadian buruk hari ini. Aku kehilangan satu-satunya kesempatan untuk bertemu Donghae, kejadian aneh karena Donghae tidak muncul siang tadi, dan ketakutanku Kyuhyun akan mengadukanku pada Eomonim.

            “Kyu…” panggilku serak. Masih dengan mata terpejam

            “Hmm” sahutnya pelan

            “Kapan kau pulang?”

            “Kau ingin aku pulang?” gerakan tangannya di punggungku berhenti

            “Maksudku ke Denver”

            “Aku tidak tau” sahutnya berbisik

            “Aku membutuhkanmu” kataku tak kalah pelan. Tangannya mulai bergerak lagi

            “Maksudmu darahku” katanya tidak suka.

            “……..”

            “Katakan Hyura-ya. Kau membutuhkanku atau darahku?”

            “Aku….Mungkin…keduanya”

            “Bagaimana cara kerjanya?”

            “Hmm?” aku membuka mata, mendongak melihatnya. Dia menunduk, mata kami bertemu.

            Kyuhyun memiringkan badannya menyangga tubuhnya dengan siku “Maksudku bagaimana kau bisa bertemu dengan orang yang sudah mati? Apa kau melakukan sihir atau semacamnya?’

            Aku tersenyum tipis “Sekedar informasi, aku bukan penyihir. Aku bertemu seseorang yang memberi tauku untuk mencampur ramuan aneh dengan darah dari keluarga Donghae Oppa, maka dengan begitu aku bisa bertemu dengannya”

            Dahinya berkerut “Seseorang? Siapa?’

            Aku mengangkat bahu “Aku juga tidak tau”

            Matanya menyipit “Aneh sekali” gumamnya

            “Percayalah aku juga berpikir begitu”

            “Tapi kau tetap melakukannya” katanya menuduh

            Aku bangun menegakkan tubuhku, Kyuhyun mengikutiku. Aku manatapnya sekilas sebelum menekuk lutut ku lalu mengubur wajahku disana “Well, Aku tidak punya pilihan” aku mengakui.

            Kurasakan tangannya mengusap lembut rambutku “Hey, Kau selalu punya pilihan”

            Mendongak menatapnya tidak setuju  “Mencintai dan kehilangannya bukanlah pilihanku”

            Dia menurunkan tangannya kemudain mendesah pelan “Okey sejujurnya aku tidak mengerti seperti apa hubungan kalian” Dia memajukan duduknya hingga kaki kami bersentuhan sambil menatapku ingin tau “Tapi aku penasaran, kau yakin belum pernah melakukan hubungan sex dengan……” dia berhenti saat aku melototinya. Aku tau kemana arah pembicaraannya.

            Dia mengangkat keduda tangan seolah menyerah “Hanya penasaran. Okey? Kau tidak perlu melihatku seperti itu”

            “Apa dipikiranmu hanya ada hal seperti itu?” tanyaku sebal

            “Kami para pria memang selalu memikirkan hal seperti itu, jadi aku heran kenapa Donghae Hyung bisa bertahan denganmu”

            Aku melihatnya tidak setuju

          “Jika kau menemuinya lagi bisakkah kau menanyakan hal itu untukku? Karena jujur saja aku sangat penasaran”

            Aku menatapnya tidak percaya “Apa kau serius?”

            “Tentu, apa aku terlihat bercanda?”

            “Kalau begitu kau akan memberikan darahmu lagi?” tanyaku bingung

            “Tergantung”

            Dahiku berkerut “Kupikir kau tidak setuju dengan apa yang kulakukan”

            “Memang. Aku hanya memberikannya sekali Park Hyura. Aku memberikanmu kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Setelah itu kau harus merelakannya, melupakan atau semacamnya. Pokoknya kau harus melanjutkan hidupmu”

            Aku memejamkan mata sesaat.. Aku tau dia akan seperti ini dan aku juga tau aku tidak memiliki pilihan lain. “Aku… belum siap” kataku pelan.

            Kyuhyun membuang nafas kasar. Dia berdiri tiba-tiba, aku mendongak “Kau mau pergi?” tanyaku.

            “Kita” tegasnya “Ayolah, disini terasa sumpek” dia mengulurkan tangannya.

            “Kita mau kemana”

            “Ikut saja. Aku yang menyetir” dia menyodorkan tangannya lagi. Aku melihat tangannya sebentar seblum menyambutnya.

            Kyuhyun membawaku berkeliling kota yang sepertinya tanpa tujuan, dia tidak mau memberi tauku kemana tujuannya. Kami berhenti sejenak di minimarket. Dia kelaparan, memang dia selalu kelaparan. Aku tidak lapar namun dia memaksaku untuk makan ramen instan bersamanya. Meskipun kukatakan aku tidak makan makanan seperti itu.  dia malah mengatakan aku sama sekali tidak menikmati hidup.

            “Bisa jelaskan padaku kenapa memakan ramen instan disebut menikmati hidup?” tanyaku sarkatis.

            Kyuhyun menyodorkan ramen yang sudah diisi air panas ke arahku. Lalu dia mematahkan sumpit menjadi dua sambil menatapku geli “Setiap orang pasti pernah memakan ramen instan Park Hyura. Dan itu pengalaman hidup yang sangat menakjubkan”

            “Apa aku bilang aku tidak pernah memakan ramen” sungutku sambil menarik ramenku kasar ke arahku. Mematahkan sumpit dengan kesal dan memandangnya sengit.

            “Kalau begitu katakan kapan terakhir kali kau memakannya?”

            Aku terdiam. Kapan? Aku tidak mengingatnya. Sepeninggal ibuku karena sakitnya aku sangat berhati-hati dengan segala macam hal yang berbau dengan kesehatan. aku selalu hidup sehat dan Donghae sangat mendukung apa yang kulakukan. Tapi pria ini justru membelokkanku.

            “Lihat. Kau bahkan tidak bisa menjawabnya” Kyuhyun mengaduk ramen lalu meniup dan memakannya dengan bunyi seruput nikmat. Aku mengikutinya dan—bohong jika kukatakan ini tidak enak. Aku menangkap Kyuhyun menyunggingkan senyumnya saat aku terus memakan ramenku. Aku berusaha tidak perduli dan focus pada makananku.

            Aku tidak bisa menutup mulutku saat Kyuhyun membawaku masuk ke dalam salah satu club di Seoul.

            “Kau mengajakku ke Bar?” Aku berteriak di telinganya karena suara music menenggelamkan suaraku.

            Tubuh Kyuhyun sudah mulai bergerak perlahan mengikuti irama. Dia menyeringai ke arahku “Ini Clunb Hyura-ya. Bukan Bar” balasnya berteriak.

            Aku mendengus “Aku pulang!”

            Berbalik tapi Kyuhyun menahan lenganku “Sebentar saja. Aku janji tidak akan lama. Ayolah. Please”

            Aku menggeleng

            “Kau lupa dengan janjimu?” dia memberengut.

            Aku melepas pegangan tangannya “Hanya sebentar?”

            Dia menganguk antusias sambil nyengir “Tidak akan lama”

            Aku melengos berjalan didepannya. Terlalu banyak orang, mereka berdiri di tengah jalan sambil membawa minuman, ngobrol atau bahkan bergerak angun mnegikuti irama. Aku tidak tau harus kemana sampai tangan Kyuhyun menarikku ke  pinggir ke arah meja bar.

            “Duduklah” perintahnya. Aku menurut. Lalu dia menoleh ke arah bartender “Berikan gadis ini satu minuman dengan kadar paling kecil dan satu Corona untuku”

            Bartender di depanku mengangguk memberikan botol pada Kyuhyun lalu kembali mulai meracik minuman yang kelihatannya untukku.

            “Kau tidak duduk” aku mencondongkan tubuhku  ke arahnya karena jarak kami tidak terlalu dekat.

            “Aku berdiri saja” katanya. Aku bisa melihat dia menikmati music disini, dilihat dari Bahasa tubuhnya yang sedari tadi bergoyang-goyang mengikuti irama. Aku menoleh saat bartender menyodorkan segelas minuman untukku”

            Aku menoleh lagi ke arah Kyuhyun, dia membelakangi meja bar sambil menyandarkan tubuhnya. Matanya tidak melihatku melainkan ke lantai dansa. Aku berteriak lebih keras menginterupsinya “Kau janji hanya sebentar kan?”

            Dia mengangguk sambil mengangkat botol minumannya “setelah minumanku habis kita akan pulang”

            Aku mengangguk setuju. Tapi sedetik kemudian aku dikejutkan kedatangan dua gadis. Gadis pertama  berdiri diantara aku dan Kyuhyun dan gadis yang lain berada di sisi yang lain. Mereka memakai gaun super pendek dan berkilau yang mengancam kebutaan permanen. Dahiku berkerut. Siapa mereka?

            “Hai. Tuan Cho. Kau datang lagi” kata gadis pertama sambil menumpangkan lengannya diatas bahu Kyuhyun seperti teman lama.

            Lagi?

            Kyuhyun pernah kesini sebelumnya?

            Tidak  kusangka Kyuhyun malah melingkarkan tangannya di pinggang gadis pertama, mungkin di gadis kedua juga. Aku tidak bisa melihatnya karena dia berada disisi lain.

            “Bukan kah aku sudah berjanji?” Sahutnya sambil menyeringai. Kedua gadis itu tertawa cekikikan. Gadis kedua meletakkan telunjuknya di bawah dagu Kyuhyun memaksa Kyuhyun untuk melihatnya lalu secepat kilat dia mengecup bibir Kyuhyun.

            Aku melongo seperti orang tolol melihat mereka bertiga.

            “Hey Kau curang” kata gadis pertama.

            “Tempo hari kau yang mencuri start” bela gadis kedua.

            “Wow Eazy girls.” Kyuhyun menengahi.

            “Aku tidak akan lama malam ini”

            Kedua gadis tersebut mengerang kecewa.

            Kyuhyun menelengkan kepalanya ke arahku. aku cepat-cepat berpaling sebelum ketahuan menonton mereka

            “Hyura-ya” panggilnya

            “E..eoh” sahutku gugup, aku melihat ke arahnya. Lalu dua gadis di sisi Kyuhyun menatapku. Si gadis pertama tersenyum mengejek melihat penampilanku dari atas ke bawah. Sedangkan gadis kedua menahan senyumnya melihat ke arah minumanku.

            “Kau tidak keberatan aku turun sebentar?”

            Aku mengangguk kaku tanpa bisa bersuara. Kyuhyun tersenyum “Tidak akan lama. Aku janji”

            Aku mengangguk lagi

            Si gadis pertama menempel pada dada Kyuhyun seperti peremen karet. Ingatkan aku untuk tidak akan lagi memeluk Kyuhyun, aku tidak sudi berbagi dengan kedua pelacur itu. mereka berjalan ke arah lantai dansa masih dengan tangan Kyuhyun melingkar di kedua pinggang mereka.

            “Siapa wanita itu?” aku masih mendengar salah satu dari mereka bertanya namun aku tidak bisa mendengar jawaban Kyuhyun. Mereka sudah menjauh. Aku tau Kyuhyun besar di Amerika. Dia telah memiliki budaya seperti ini tapi tidak denganku. Ini pertama kalinya aku datang ke club. Aku dan Donghae bukan tipe orang yang suka bersenang-senang di tempat seperti ini. Aku seorang kutu buku, dan aku lebih suka perpustakaan atau café. Disana lebih tenang dan mudah untuk mengobol. Disini bahkan berbicara saja sulit karena music yang terlalu keras. Aku menyesal mengikuti Kyuhyun, ini bukan tempaku, aku merasa asing dan sendirian disini. Tanpa sadar air mataku turun dan aku buru-buru mengusapnya.

            Dalam sekali tegukan aku menghabiskan minumanku. Kyuhyun tidak bisa berkilah lagi saat aku mengajaknya pulang. Seandainya dia tidak mau aku bisa menggunakan taksi.

            “Mau tambah minumannya nona?” Tanya bartender menunjuk ke arah gelasku

            Aku menggeleng

            Seolah mengerti aku tidak mau di ganggu dia menjauhiku. Aku memutar bangku mengarah ke lantai dansa dan saat itu aku berharap tidak pernah melakukannya. Aku melihat si gadis pertama meliuk-liukkan badannya dengan sensual di depan Kyuhyun, menggesek-gesekkan pantat besarnya sedangkan tangan Kyuhyun memegang kedua pinggul gadis itu, Lalu gadis kedua kulihat sudah menari bersama orang lain.

            Aku memutar kembali kursiku, mencengkram gelas yang sudah kosong dengan kedua tangan. Memejamkan mataku sementara music semakin keras dan bayangan Kyuhyun menari sambil menyentuh perempuan lain membuat kepalaku berdenging.

Aku tidak tahan.

Berdiri cepat meninggalkan meja bar menuju pintu keluar. Di luar aku seperti mendapat udara segar. Bau minyak wangi bercampur rokok dan minuman berganti dengan hembusan angin malam. suara music yang memekakan telingapun sudah menghilang. Aku berjalan ke arah jalan raya. Meskipun aku minum dengan kadar yang sangat sedikit aku tidak yakin bisa menyetir. Jadi kuputuskan menggunakan taksi.

Melirik Jam, ini belum terlalu malam, jalanan masih terlihat ramai dan ayahku pun belum menelpon. Aku penasaran reaksinya saat mengetahui Kyuhyun mengajakku ke club, apa Appa tetap akan menyukainya.

Aku melihat Taksi dari kejauhan saat tanganku tertarik ke belakang. Kyuhyun dengan dada naik turun seperti habis berlari. Tubuhnya penuh keringat mungkin kelelahan karena menari penuh energic di lantai dansa tadi.

“Apa sih yang kau lakukan?” semburnya

Aku menarik tanganku “Aku ingin pulang”

“Bukankan kau sudah berjanji akan menunggu? Dan lihat apa yang kau lakukan sekarang? Menyelinap pulang? Hah?”

Kenapa jadi dia yang marah-marah?

“Aku tidak tahan di dalam sana, aku tidak suka tempat itu, itu bukan tempat untukku” sahutku

“Kau bisa memanggilku dan bukannya pergi diam-diam!” nada suaranya semakin meninggi

“Apa kau mabuk? Kenapa kau marah padaku?” tanyaku tidak terima. Dia yang memaksaku kesini dan sekarang dia marah-marah padaku

Dia mendengus lalu mengacak rambutnya frustasi “Kau menghilang! Aku ketakutan setengah mati saat tidak melihatmu di meja bar, aku takut sesuatu terjadi padamu! Setidaknya kau bisa memanggilku, memberitauku atau semacamnya dan bukan membuatku khawatir!”

“Dan mengganggu kesenanganmu Tuan Cho? Tidak. Terima kasih. Aku bisa pulang sendiri”

“Apa sih yang kau bicarakan!” dia menarik tanganku lagi tapi aku menepisnya. Bayangan tangannya berada di beberapa bagian tubuh wanita tadi membuatku jijik.

“Jangan menyentuhku dengan tanganmu!”

Kyuhyun terlihat tersinggung dengan penolakanku“Aku tidak ingin bertengkar denganmu disini. Kalau kau mau pulang. Pulanglah” katanya tertahan

Aku tidak menjawab dan langsung berbalik menjauhinya. Aku tidak tau kemana arahnya, aku hanya berjalan di trotoar mencari halte bus, stasiun, taxi atau apapun yang bisa membawaku pulang. Aku tidak ingin menangis tapi air mataku turun lagi. aku tidak ingin menangisi pria brengsek tidak bertanggung jawab seperti dia, jadi aku terus mengusap setiap titik air mata yang keluar.

Aku duduk di salah satu bangku beton di pinggiran trotoar. Mengeluarkan ponsel dari saku lalu menekan angka satu.

“Hai ini Lee Donghae. Silahkan tinggalkan pesan”

“Oppa. apa kau bisa menjemputku? Aku—“ aku tersedak air mataku sendiri, mengusap cairan yang keluar dari hidungku “Seandainya kau masih disini aku pasti mengatakan hal itu” aku tertawa miris. Lagi, mengusap air mataku kasar “Kau tau hari ini sangat berat untukku, dan hari ini aku terlalu banyak menangis. Sama seperti ketika aku harus melepasmu” aku menjauhkan ponsel, mengusap mataku dengan kedua tangan lalu menempelkan ponselku lagi ke telinga “Aku—aku merindukanmu. Bogoshippo, Oppa” menjatuhkan tanganku, meletakkan ponsel disisiku. Aku menunduk, menenggelamkan wajahku di kedua telapak tangan beberapa saat sebelum membersihkan sisa air mata.

Memasukkan ponsel sebelum berjalan lagi. Tidak ada siapapun, hanya ada aku. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain, hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.

Tidak jauh dari tempatku duduk aku menemukan halte bus, tidak perlu menunggu terlalu lama sampai bus yang akan membawaku kerumah datang. Mengambil tempat duduk di sisi jendela. Memejamkan mata sambil menyandarkan keningku ke jendela yang dingin. Aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali aku menggunakan bus. Ayahku dan keluarga Donghae benar-benar bekerja keras agar aku bisa hidup nyaman.

Donghae selalu mengantar dan menjemputku, saat dia tidak bisa Donghwa Oppa yang akan menggantikannya. Selain itu ayahku membelikanku kendaraan setelah aku bisa menyetir sendiri. Mungkin mereka terlalu memanjakanku dan saat aku kehilangan itu semua, aku seperti orang tua  yang kehilangan tongkat.

***

Keesokan harinya aku belum melihat mobilku kembali, jadi kuputuskan untuk kembali ke club semalam. Club masih tutup saat matahari masih terang, namun ada petugas keamanan club yang mengatakan semua mobil pelanggan telah pergi sebelum subuh. Dan tidak ada yang meninggalkan mobilnya disini. itu berarti Kyuhyun membawa mobilku pulang kerumahnya.

Meskipun enggan tapi aku sangat membutuhkan mobilku, dia seperti kaki kedua untukku. menggunakan transportasi umum sangat merepotkan. Jadi mau tidak mau aku harus mendatanginya lagi.

Peristiwa yang sama selalu terjadai saat aku datang ke rumah Donghae. Kyuhyun selalu membukakan pintu tidak lebih dari bel ketiga, membuka pintu dan dia selalu berdiri ditempat yang sama dengan pose yang sama saat menungguku.

“Kunci mobilku” kataku tanpa perlu berbasa basi.

Tanpa mengeluarkas suara Dia hanya menunjuk ke arah dalam rumah dengan kepalanya. Tanpa memperdulikan sopan santun aku melewatinya masuk ke  dalam rumah, aku tau seluk beluk rumah ini dan aku tau dimana tempat menyimpan kunci. Aku langsung menuju lemari kayu di ruang keluarga dan membuka laci pertama.

Dahiku berkerut. Tidak ada.

Berbalik cepat, Kyuhyun sudah berdiri di pintu lorong yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga.”Di kamar Donghae” hanya itu yang dia katakan.

Aku tidak tau apa alasannya menyimpan kunci mobilku di kamar Donghae, jadi aku hanya menatapnya sekilas sebelum melewatinya lagi menuju ke tangga dan naik kelantai dua. Aku berhenti sejenak di depan kamar Donghae. menarik nafas dalam sebelum memutar kenop pintu.

Tidak ada yang berubah, semuanya tetap sama. Posisi barang-barang Donghae masih pada tempatnya. Bahkan kamar ini masih berbau Donghae meskipun sudah berbulan-bulan ditinggalkan pemiliknya. Jelas aku tidak pernah lagi kesini semenjak kecelakaan itu. Tidak ingin berlama-lama disini, aku Berjalan cepat menuju meja komputer dan menarik laci pertama. Kunci mobilku berdampingan dengan kunci cadangan milik Donghae.  Tentu saja mobil Donghae berakhir menjadi rongsokan di tukang besi loak pasca kecelakaan.

Aku ingin segera keluar dari sini, namun mataku menangkap sesuatu yang tidak kusukai saat baru saja menutup laci. Berjalan ke sebrang ruangan, kaca panjang membujur persis di samping lemari, disana tertempel banyak fotoku dan Donghae dengan berbagai pose konyol, beberapa foto Polaroid yang kuambil diam-diam. Aku yang menyusunnya sendiri disini. Donghae tidak keberatan dengan apa yang kulakukan dengan kamarnya, sebenarnya dia tidak pernah keberatan dengan apa yang kulakukan.

Foto-foto ini tidak berguna disini. Si pemilik telah pergi, tidak ada yang akan melihat mereka lagi. satu-persatu aku melepaskan foto-foto tersebut dari cermin. Menumpuknya menjadi satu. Menoleh ke samping ke arah tempat tidurnya. Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku tertidur di sana. Sambil memegang tumpukan foto aku duduk disisi ranjang. Tidak pernah terpikir olehku aku akan masuk ke kamar ini lagi. Belakangan ini tempatku dan Donghae bercengkrama bukan disini melainkan di pemakaman. Jadi aku merasa aneh berada disini, sendirian dan justru meratapi kenangan kami.

“Belum selesai bernostalgianya?” Suara Kyuhyun menarikku dari lamunan. Dia bersandar di ambang pintu sambi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Aku meliriknya jengkel, dia merusak sedikit momen yang kumiliki disini.

“Beri tau aku kalau sudah selesai, aku ingin keluar” katanya malas

“Tidak. Aku sudah selesai. Aku akan pulang” kataku cepat sebelum dia berbalik. Aku bangkit berjalan melewatinya tapi kali ini dia tidak membiarkanku. Tangannya menahan lenganku dan dengan kasar aku menepisnya.

“Sudah kubilang jangan menyentuhku!”

“Aku akan pulang ke Denver” katanya.

Aku terkesiap, berdeham kecil menyembunyikan keterkejutanku “Kapan?”

“Itu tidak penting, Aku hanya ingin tau kau seharusnya sudah siap melepaskannya sebelum aku pergi, karena itu kesempatan terakhirmu”

Aku tergagap “A..a…aku….”

“Kudengar dari Ayahmu kau memiliki rencana liburan dan mengunjungi Donghwa Hyung. Aku bisa menangkap maksud dari ‘mengunjungi’ Dan kupastikan jika kau berani melakukan hal itu, aku akan membongkar rahasiamu”

“Ke..kenapa?” tanyaku lirih. Aku tidak mengerti kenapa dia begitu kejam padaku.

“Cukup beritau aku kapan kau siap” katanya lalu melengos meninggalkanku yang mematung di ambang pintu kamar Donghae.

Aku berjalan di lorong perlahan antara sadar dan tidak. Kyuhyun benar-benar tidak memberikanku pilihan. Aku juga tidak bisa mengabaikan tawarannya, dia memberikanku satu kesempatan. Ambil atau tidak sama sekali. begitulah cara dia menyiratkannya.

Aku melihat Kyuhyun dari puncak tangga, dia sedang menelpon seseorang. Aku tiak bisa membayangngakn dia akan pulang dan entah kapan datang membuat dadaku nyeri tanpa alasan. Mungkin aku ketakutan karena aku tidak akan memiliki kesempatan lagi. Aku melangkah turun tapi dalam sepersekian detik aku tidak bisa melihat anak tangga, pegangan di tanganku pun menghilang, Aku tidak tau apa yang terjadai karena semuanya terlalu cepat, yang kutau Kyuhyun meneriakkan namaku sebelum semuanya menggelap.

***

Jangan pernah datang kesini. kau sangat mengganggu perempuan jelek

Kenapa kau selalu menempel dengan Donghae Hyung? Aku tidak suka.

Kau tidak pantas dengan Donghae Hyung

Perempuan jelek!

Menjauh dari Donghae Hyung!

 

Aku mengerjap perlahan, menyesuaikan mataku dengan cahaya yang menusuk. seperti dejavu. Aku pernah mengalami hal ini, sakit disekujur tubuhmu seolah semua tulangku tidak pada tempatnya. Aku mengerang lalu suara panic ayahku mendekat.

“Sayang. Kau sadar. Apa yang kau rasakan? Dimana yang sakit?” wajah tua Ayahku terlihat sanagt cemas.

“Apa yang terjadi? Seluruh tubuhku sakit” kataku lemah.

“Tunggu sebentar, Appa akan memanggil Dokter” Ayahku menghilang lalu kembali dengan cepat bersama Seorang Dokter wanita dan perawat. Mereka melakukan beberapa tes pada anggota tubuhku. Dokter bilang tanda vitalku semuanya bik-baik saja namun teteap harus menjalankan pemeriksaan secara menyeluruh. Mereka membawaku ke ruangan yang jauh lebih terang. Memasukkanku dalam tabung besar dan semua alat-alat aneh yang menempel ditubuhku.

“Kau terjatuh dari tangga di rumah Donghae” kata Appa. Dia mengaturkan bantal di balik punggungku agar dudukku lebih nyaman.

“Kyuhyun menelpon dan aku langsung kemari” tambahnya.

“Dimana Kyuhyun?” tanyaku

“Dia diluar, dia tidak pernah pergi, kau tau. apa kau ingin menemuinya?”

Aku menggeleng lemah

“Kau tidak berpikir dia melakukan sesuatu terhadapmu kan?” Tanya Ayahku hati-hati

“Tentu saja tidak, itu murni kecerobohanku sendiri, apa Ayah mencurigainya?”

Ayahku terdiam sesaat. Lalu mengagguk “Sedikit” akunya malu

“Dia pernah melakukannya kan?—sebelumnya?”

Ayahku mengangguk lagi “Tapi aku tau dia tidak begitu, Dia tidakakan mencelakaimu. Kyuhyun menyayangimu Nak. Bahkan Jauh sebelum Donghae”

Aku mendengus. Omong kosong, lihat saja apa yang telah dia lakukan padaku. dia itu penyiksaan untukku di dunia. Mungkin ini yang harus kutanggung karena mencoba berkomunikasi dengan orang mati.

“Appa terlalu mempercayainya”

Dia mengusap rambutku lembut “Kau akan tau saat mengenalnya lebih dalam”

Aku mengernyit “Appa, kau terdengar seperti Ayahnya”

“Apa Kau cemburu?” tanyanya geli

“Tentu saja tidak, tapi kalian kan baru mengenal beberapa minggu”

“Meskipun kau lupa tapi Aku mengenal Kyuhyun sejak kecil, Sama seperti Donghae, aku juga menganggapnya seperti anakku sendiri”

“Aku tidak lupa” bantahku “Aku mengingatnya, dia anak yang nakal, dia selalu memanggilku perempuan jelek”

Mata Ayahku terbelalak “Kau ingat?”

Aku mengangkat “Aku juga tidak tau, ingatan itu tiba-tiba saja muncul”

Appa melihatku seksama kemudian menggumam sesuatu yang tidak kupahami. “Sepertinya kalian harus bertemu”

“Mwo? Ani—Appa…tung….” Dia sudah menghilang di balik pintu dan digantikan oleh Kyuhyun. Dia masuk dan mendekatiku, wajahnya tidak jauh berbeda dengan Ayahku. Dia sangat Khawatir.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya saat sudah di sisiku, dia mengambil tempat duduk yang sebelumnya di gunakan Appa.

“Aku baik-baik saja, setidaknya kali ini aku tidak menimbulkan luka yang harus di jahit” kataku menyindir.

“Abeonim bilang kau ingin menemuiku?”

Aku memutar mata “Ayahku yang berpikir ‘mungkin’ aku ingin menemuimu”

Dia mendesah pelan “Aku minta maaf” katanya cepat

“Maaf? Untuk?”

“Semuanya. Maaf tidak menjagamu dengan baik” dia mengarahkan tangannya ke arah tempat tidur “Maaf juga soal kemarin, maaf memaksamu menggali kenangan tentang Donghae. aku tau itu tidak mudah”

“Jadi kau sengaja membuatku masuk ke kamar Donghae Oppa?” tanyaku tidak percaya

Dia mengngguk pelan

“Kenapa?”

“Aku ingin kau menghadapinya, menerima kenyataan bahwa dia sudah tidak ada. Setidaknya itu membantumu untuk melanjutkan hidup. Dengan begitu aku bisa kembali dengan lega”

“Lalu apa?” tanyaku sinis “Setelah aku merelakannya kau pun akan pergi. Kau hanya menambah luka yang harus kutanggung. Apa kau tidak sadar yang kau lakukan hanya untuk dirimu sendiri. Untuk melegakan perasaanmu. Katakan jika kau salah”

Dia terlihat tersinggung dengan ucapanku “Aku tidak bertangung jawab apapun padamu Park Hyura, aku tidak menomorsatukan perasaanku. Aku berharap kau bisa melanjutkan hidupmu,menggapai impianmu, kembali menjadi gadis yang paling ceria dan bersemangat yang pernah ku kenal. Dan bukannya seseorang yang mengasihani dirinya sendiri hanya karena orang yang sudah mati” katanya emosi, dia berdiri menjulang di atasku “Kau tau!” tegasnya “Aku bahkan tidak keberatan jika kau melupakanku seperti sepuluh tahun lalu, menghapusku dari ingatanmu. Apapun yang  bisa kau lakukan asal itu membuatmu lebih baik. Aku tidak memintamu untuk berhenti mencintainya! Hanya—kumohon” Dia berhenti sejenak mengambil nafas panjang“Relakan dia” desahnya.

Aku membuka mulutku tapi kemudian menutupnya lagi. tidak tau apa yang harus kukatakan.

“Aku akan pulang minggu ini, kuharap kau menghubungiku sebelum aku pergi” katanya kemudain berbalik pergi.

***

Kemarin aku keluar dari ruamh sakit, aku belum menghubungi Kyuhyun. dia juga tidak pernah datang lagi kesini. Waktuku tidak banyak dan  aku terlalu banyak berpikir. Aku mengingatnya, bahkan sangat jelas. Cho Kyuhyun bocah laki-laki yang datang dari luar negri untuk berlibur ke rumah sepupunya.

Dia anak yang sangat nakal. Atau bisa dibilang dia hanya nakal terhadapku. Aku ingat bagaimana dia memanggilku dengan perempuan jelek, mendorongku saat aku bermain dengan Donghae, menyembunyikan atau membuang bonekaku, dia juga pernah menaruh permen karet di rambutku. Senakal apapun Kyuhyun, Donghae hanya menegurnya kemudian menenangkanku hingga aku berhenti menangis. Meskipun begitu aku tidak membencinya, aku tidak tau alasan kenapa Kyuhyun begitu membenciki padahal aku tidakpernah mengganggu mereka. Aku ingat mereka bertiga bermain bola di taman, aku duduk di pinggiran taman sambil menonton, tapi Kyuhyun dengan sengaja menendang bola ke wajahku hingga hidungku berdarah. Lihatlah betapa kejamnya Kyuhyun padaku sejak kecil.

Ketukan dipintu menarikku kembali ke dunia nyata, Kepala Ayahku menyembul dari balik pintu. “Sayang, Appa harus kembali ke kantor. Kau tidak apa sendirian dirumah?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Ayah janji tidak akan lama”

Aku pernah mendengar kata itu sebelumnya “Aniyo Appa. Kau bisa mengambil waktumu sebanyak yang kau butuhkan. Hanya.. jangan berjanji seperti itu”

Dahi Ayahku berkerut bingung

“Pergilah, nanti kau terlambat” kataku

“Eoh kau benar. Appa pergi dulu”

Aku mengangguk kemudian pintu tertutup.

Hari berlalu kelewat cepat. Menyelesaikan berlusin-lusin film yang ku pinjam dari tempat penyewaan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menonton dan membaca saat dokter menyuruhku untuk beristirahat beberapa hari di rumah. Aku menelpon Namie, menanyakan kabarnya. Dia akan kembali satu setengah bulan lagi saat perkuliahan akan di mulai. Masih lama bukan?

Ayahku kembali pada aktivitasnya, setiap hari pulang saat aku sudah tidur. Dia berusaha untukku namun pekerjaannya sebagai Deptheaddi salah satu stasiun televise swasta menuntut waktunya lebih banyak.

Lalu bagaimana denganku?

Aku menimbang-nimbang untuk menghubungi Kyuhyun tapi pada akhirnya aku hanya melempar ponselku lagi. seperti yang kukatakan aku terlalu banyak berpikir. Aku harus merelakan Donghae dan juga menerima kepergiannya, bukankah itu terdengar tidak adil?

Tanpa sadar film terakhir yang kutonton sudah mencapai credit. Menonton film drama romantic sama sekali tidak membantu, yang ada aku semakin mengkhayal yang tidak-tidak. Melirik jam dan sudah hampir menjelang tengah malam, tapi masih ada satu film yang masih ingin kutonton. Titanic menjadi salah satu film favorite Donghae, aku tidak bisa menghitung berapa kali aku menonton film ini bersamanya. Dan bukan hanya sekali matanya berkaca-kaca saat menonton film tersebut. Aku pun sama namun hanya pada waktu tertentu, lama kelamaan jadi terasa hambar karena kami terlalu sering menontonnya.

Menekan tombol play, aku mulai berkonsentrasi pada film. Saat dipertengahan film aku tidak mengerti kenapa jaman dahulu kesenjangan social menjadi halangan dalam suatu hubungan. Dunia sangat tidak adil.

Aku sampai pada klimaks film, perjuangan mereka dalam untuk menyelamatkan satu sama lain meskipun pertemuan mereka begitu singkat. Aku bisa membayangkan seberapa kuat perasaan mereka. Hingga Jack harus mengorbankan dirinya untuk keselamatan Rose. Aku menangis saat si pemeran wanita melepaskan cintanya. Rose bisa menggunakan kesempatan yang Jack berikan dengan baik. Hidup dan bahagia namun dia tidak pernah melupakannya.

 Berkaca pada diriku sendiri, betapa lemah dan bodohnya aku. Aku tidak menggunakan apa yang Donghae perjuangkan untukku, hanya berkubang pada perasaanku sendiri. Kyuhyun benar, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Detik itu juga aku menagmbil ponsel dan menghubungi Kyuhyun tidak peduli msekipun sudah dini hari.

Dia mengangkat pada dering kedua. Terdengar suara hingar bingar di belakangnya.

Dia di club?

“Hyura? Inikah kau?” suaranya terdengar lega

“Apa kau sedang di club?” tanyaku tidak suka

“Ya Tuhan, terima kasih akhirnya kau menelponku” gumamnya rendah namun masih bisa terdengar olehku meskipun suara music lumayan keras.

“Cho Kyuhyun, katakan padaku apa kau sedang diclub?”

“Eoh, aku di club”

Aku mendengus, bayangan dia bermandi keringat sambil menari dan menyentuh wanita-wanita disana membuatku mual. “Baiklah singkat saja, aku tidak ingin mengganggu kesenanganmu, besok sore…..”

“Tidak, tunggu tunggu Hyura-ya, aku akan kerumah mu. Sekarang. Apa kau keberatan?”

Aku berpikir sejenak, aku ingin menemuinya. Jujur saja aku sedikit merindukannya tapi tentu saja sekarng bukan waktu yang tepat.

“dua puluh menit, aku janji. Dalam dua puluh menit aku akan sampai disana”

“Andwe.  Besok sore temui aku di pemakaman”

“Park Hyura, dengarkan aku dulu…..”

“Apa?” potongku tidak sabar

Dia diam sejenak lalu desahan panjang keluar dari mulutnya “Besok siang aku pulang”

“A..apa? Apa kau bilang?”

“Ayahku ingin aku pulang secepatnya. Maaf”

“Ka..kau” tenggorokanku seperti tersumbat “Kau sudah berjanji Kyu, ini bahkan belum satu minggu”

“Aku tau, aku benar-benar minta maaf”

“Aku tidak butuh maafmu!” semburku

“Aku akan kesana, tunggu aku” setelah itu dia menutup teleponnya tanpa menunggu jawabanku.

Aku melempar ponselku ke samping. Mengubur wajahku di bantal. Ini diluar dugaan, terlalu tiba-tiba untukku. Kyuhyun akan pergi besok lalu bagaimana denganku? Air mataku mengalir membasahi bantal, membayangkan hari-hari suramku seperti dulu.

Aku mendongak saat bel pintu berbunyi, membersihkan sisa air mataku lalu beranjak ke pintu depan. Kyuhyun menggunakan kaos abu-abu di padu jaket hitam dan celana jins gelap. Tidak ada yang mengatakan Kyuhyun tidak menarik, tapi selama ini aku tidak membiarkan diriku melihatnya dengan cara seperti itu. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan perasaanku tapi melihat dia sekarang, berdiri di depan pintu rumahku membuatku ingin tersenyum konyol.

“Kau menangis?” dia menatapku seksama

Aku menggeleng

“Jangan bohong!” dia melawatiku, aku menutup pintu. Bau tubuhnya bercampur dengan parfum wanita dan minuman keras. Aku  tidak menyukainya.

 “Kau tau itu tidak berguna” tambahnya. dia langsung menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil air. Matanya menangkap tumpukan film yang berada di sofa.

Aku berjalan mendekatinya lalu berhenti di belakang meja makan. Dia melihat bagaimana aku menjaga jarak. Dia berbalik ke konter dapur mengambil pisau dan cangkir kecil. Membawanya ke meja makan, lalu dia menarik kursi lalu mendudukinya.

Dia mengangkat pisau “Akan kuberikan darahku, jadi kau tetap bisa menemuinya besok sore” dia meletakan cangkir dibawah dua jarinya, aku melihatnya ngeri saat dia mendekatkan mata pisau ke kulitnya.

“Tunggu!” jeritku. Dia mendongak bingung.

“Biar aku yang mengambil darahmu, kau bisa terluka”

“Dan membiarkanmu mengambil sekantong darah dariku? Tidak terima kasih. Aku lebih memilih terluka”

“Aku tidak akan melakukannya” belaku

“Oh ya? Benarkah?”  tanyanya tidak percaya.

“Aku sudah berjanji”

Dia melihatku menimbang-nimbang

“Kau bisa terluka, aku janji hanya satu tabung kecil” jariku membentuk huruf C, menggambarkan sebarapa banyak aku akan mengambil darahnya.

Dia akhirnya mengangguk “Baiklah”

Aku tersenyum tipis kemudian kekamar mengambil peralatanku. Dia masih duduk di meja makan saat aku kembali. Aku menggunakan tabung kecil yang biasa digunakan untuk sample urine. Kali ini aku mengambil darah Kyuhyun dengan lancar tanpa gagal. Lalu meletakkannya ke dalam kulkas.

Kyuhyun menggulung kembali jaketnya. “Kau semakin mahir, tidak sakit sama sekali” komentarnya.

“Gomawo” kataku. Aku berdiri di depan kulkas, Kyuhyun memutar duduknya menghadapku.

“Bukan masalah” katanya “sampaikan salamku pada Donghae jika kau menemuinya”

Dia berdiri

“Jam berapa besok kau akan pulang?”

“Pesawatku jam satu siang”

Aku mengangguk.. Secepat itu?  “sampaikan salamku juga pada Eomoni dan Donghwa Oppa”

Dia mengangguk. “Akan kusampaikan”

Setelah itu kami terdiam, Dia berdiri canggung, begitu juga denganku. Biasanya Kyuhyun sangat suka berbicara, dia sering mengoceh hal-hal yang tidak penting yang terkadang membuatku kesal, namun sekarang dia seperti kehabisan kata-kata.

“Apa…” “Kau….” Kata kami berbarengan. Aku dan Kyuhyun tertawa canggung.

“Kau duluan” katanya

“Bukan hal yang penting. Bagaimana denganmu?”

“Apa aku boleh memelukmu? Untuk terakhir kalinya” ada kepahitan di akhir kalimatnya.

Aku melihat dada dan tangannya bergantian kemudian mengernyit “Apa kau tadi turun ke lantai dansa dan menari?” tanyaku.

“Eoh, kenapa?”

Rahangku mengeras mendengarnya “Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak ingin berada di dalam pelukanmu bekas sentuhan para pelacur itu” kataku dengan nada jijik

Alisnya bertaut “Pelacur?”

Aku memutar mata “Ayolah, gadis-gadis sialan tempo hari yang menempel padamu di club”

Dia tertawa geli “Aku tidak tau kau bisa mengumpat” lalu mengangguk seolah mengerti “Jadi itu alasanmu tidak ingin kusentuh?” sudut mulutnya bergetar menahan tawa

“Apa menurutmu itu lucu?”

“Tidak, sama sekali. Hanya…. Menarik” dia terkekeh lagi “kau terlihat seperti seorang pacar yang sedang cemburu”

Aku tergagap, leherku terasa panas hingga ke pipi “A..apa maksudmu? Aku tidak begitu”

“Aku tau” dia tersenyum tipis, ada sedikit kekecewaan dimatanya “Hanya sedikit berharap” dia mengendikkan bahunya. “Jadi aku tidak mendapatkan pelukan selamat tinggal?”

“Bersihkan dirimu, kau berbau minuman dan parfum wanita”

Dia membuka jaket dan kausnya, membuatnya setengah telanjang

“A. a..apa yang kau lakukan?”

Dia merangsek maju dan memelukku erat.

“Ya!” protesku. Suhu tubuhnya hangat dan bau kulitnya sanagt Khas Kyuhyun.

“Mereka tidak menyentuh kulit tubuhku” bisiknya di telingaku sebelum menyurukkan kepalanya di sela leherku, aku membalas pelukannya. Diam-diam aku mengendus baunya, menyimpannya dalam otak bagaimana harum tubuhnya. Besok aku tidak bisa menemuinya lagi, Kyuhyun akan kembali ke kehidupannya di Denver. Kami akan kembali pada jalan kami masing-masing. Air mata mulai menusuk mataku tapi aku sekuat tenaga menahannya.

Dia menjauhkan wajahnya untuk melihatku tanpa melepaskan pelukan kami

“Pakai bajumu, nanti kau bisa sakit” kataku memperingatkan

Dia tersenyum “Gomawo”

“Untuk?”

“Mengakhiri liburanku dengan manis”

Welcome” sahutku membalas senyumnya.

Perlahan Dia melepaskan pelukannya, berbalik berjalan beberapa langkah lalu berhenti. Setengah berbalik ke arahku. “Maaf Hyura-ya, aku harus melakukannya” dengan sangat cepat dia kembali padaku  dan melumat bibirku.

Aku terkesiap, tangannya menekan tengkukku agar aku tidak mengelak dan tangan yang lain di pinggangku. Dia melumat bibirku dengan sangat rakus, lidahnya mendesak bibirku untuk terbuka, aku tidak pernah mengingat kapan terakhir kali aku berciuman seperti ini. Sepertinya tidak pernah. Dan entah setan apa yang merasukiku, aku membuka mulut dan membalas ciumannya. Tangannya semakin menekanku mendekat hingga tubuh kami menempel, dan aku melingkarkan tanganku ke lehernya.

Kyuhyun melepas tautan bibir kami namun tidak menjauhkan wajahnya, hidung kami masih bersentuhan. Nafasnya terengah-engah, begitu juga denganku”

“Katakan kau tidak mencium siapapun malam ini” kataku disela nafasku yang tersengal.

Dia menyeringai “Kau benar-benar seperti pacar yang cemburu” dengan itu dia memagutku lagi. Kami berciuman lagi dan lagi, memuaskan hasrat masing-masing. Aku tidak keberatan, karena esok semuanya akan berubah. Kami mendengar pintu gerbang dibuka, aku mendorong Kyuhyun.

“Appa” kataku panic. “Pakai bajumu” Aku mengusap wajahku dan bibirku, semoga tidak bengkak.

Kyuhyun terkekeh tapi dia melakukan apa yang kuminta. Dia memakai kaosnya lagi namun jeketnya dibiarkan tersampir dikursi dapur. Langkah Ayahku semakin dekat ke dapur, Kyuhyun merapikan rambutku yang tadi dia cengkram. Senyum tidak pernah meninggalkan bibirnya.

“Anak-anak” Ayahku melihat kearah Kyuhyun heran lalu melihat jam “tidak kusangka melihatmu jam segini” tidak ada nada meyindir dalam suara Ayahku tetapi hanya perasaan lega yang mendominasi

Kyuhyun tersenyum “Hyura kesepian, Jadi aku menemaninya”

“Terima kasih Kyu. Hyura-ya, Maaf aku meninggalkanmu terlalu lama”

Aku menghampiri Ayahku sambil mengeleng dan tersenyum. Melingakarkan tanganku dipinggangnya dan bersandar di dada Ayahku “Aku tidak apa-apa”

Ayahku Merangkul pundakku “Terima kasih Nak”

Aku mengangguk.

Kyuhyun berdeham “Sebaiknya aku pulang”

Aku terkesiap lalu melepaskan Ayahku. “Kuantar” kataku

“Ini hampir pagi Park Hyura, aku akan mencari taksi”

“Kyuhyun benar sayang, tidak baik kau keluar jam segini” kata Ayahku menyetujui

“Tapi mencari taksi jam segini?” bantahku

“Mudah saja, aku bisa jalan kaki. Lagipulan tidak terlalu jauh”

Aku tidak menyukai ide berjalan kaki

“Kau bisa menginap disini Kyuhyun-ah” Ayahku menawarkan “Kami punya kamar tamu”

Kyuhyun menatapku meminta persetujuan dan aku mengangguk. Seolah dia menunggu hal itu keluar dari mulutku

Dia tersenyum “Aku tidak akan menolak, berhubung aku sudah mengantuk”

Ayahku tersenyum “Naiklah ke atas. Hyura, Kau bisa menunjukkan kamarnya”

Aku mengangguk “Ne Appa” Aku menatap Kyuhyun ”Ayo” aku memimpin jalan diikuti olehnya.

            Kamar tamu berada di puncak tangga, aku berhenti di depan pintu “Ini kamarnya” kataku lalu menunjuk ke ujung lorong “Kau tau dimana kamarku kan? Panggil aku kalau kau membutuhkan sesuatu” aku berbalik dan Kyuhyun menahanku “Hei…” dia menarikku hingga tubuhku menempel padanya.

            “Ayahku ada di bawah” bisikku

“Bisakah aku tidur denganmu saja?”

Aku melotot “Apa?”

“Aku tidak melakukan apapun, aku janji. aku hanya ingin tidur denganmu” dia membentuk angka dua dengan tangannya “aku bersumpah”

“Appa bisa membunuh kita jika dia tau kau tidur di kamarku”

“Dia tidak akan tau”

Aku ragu-ragu kemudian Kyuhyun mengecup bibirku sekilas “Ayolah, please. Aku ingin menghabiskan sisa malam ini denganmu”

Aku mengangguk “Baiklah”

Dia tersenyum lebar. Kami melangkah perlahan ke kamarku. Kyuhyun melempar jaketnya sembarang lalu menyibak selimut. Dia berbaring sambil menepuk-nepuk sisi kosong disebelahnya “kemarilah”

Aku naik ke tempat tidur sebelum mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur, Kyuhyun menyelimuti tubuh kami berdua lalu dia menarikku ke dalam pelukannya. Kyuhyun menempel di keningku

“Masih ada tiga setengah jam lagi sebelum pagi” gumamnya di keningku.

“hmm”

“Aku tidak ingin tidur”

Aku memejamkan mataku karena Jujur saja aku mengantuk, mataku lelah seharian memelototi tv. Jadi aku tidak menjawabnya.

“Ciuman tadi” katanya memulai “aku tidak menyesalinya dan aku menyukainya”

Aku membuka mata “Kenapa kau menciumku?” tanyaku berbisik

“Karena aku menginginkannya”

“Kau menyukaiku?” dadaku berdetak lebih cepat saat aku menanyakannya

“….”

“Kyuhyun-ah?”

“Jika aku mengatakannya apa kau akan memilihku?”

Aku menjauhkan wajahku untuk melihatnya, dan aku tau dia serius.

“kalau begitu Jangan mengatakan apapun, bagaimanapun juga kau akan pergi. Aku tidak tau apa yang harus kutanggung nanti”

Tangannya terangkat membelai pipiku lalu menyisir rambutku “Ikutlah denganku ke Denver”

“Apa?”

Dia mensejajarkan wajah kami “Ikutlah denganku Park Hyura”

Aku menggeleng “aku tidak bisa meninggalkan ayahku”

Kyuhyun tersenyum lalu mengecup keningku “Kita akan kembali, ada yang harus kulakukan di sana. Dan aku ingin mengenalkanmu dengan orang tuaku”

“Tidakkah… ini terlalu cepat?” ekspresi ketakutan muncul di wajahku, aku tidak tau apa yang kuharapkan dengan hubungan aneh ini. Aku tidak tau bagaimana perasaanku pada Kyuhyun, yang aku tau aku masih mencintai Donghae namun aku juga tidak bisa kehilangan Kyuhyun. Aku menyukai dia berada disisiku. Dan aku tidak suka pelacur-pelacur itu melatakkan tangannya pada Kyuhyun.

Dia tersenyum lagi “Aku tidak memintamu menikahiku, Aku hanya ingin orang tuaku mengenalmu”

“Hanya itu?”

Dia mengangguk “Hanya itu”

“Berapa lama?”

“Paling lama satu bulan, tapi akan kuusahakan hanya beberapa minggu. Kapan perkuliahanmu dimulai?”

“Satu setengah bulan lagi”

“Waktu nya sangat tepat, kita akan kembali sebelum itu”

“Tapi besok terlalu cepat, aku belum pergi menemui Donghae Oppa, aku belum melakukan persiapan apapun”

“Kau bisa menemuinya setelah kembali dari Denver. Aku bisa memberikan darahku kapanpun kau inginkan”

“Tapi aku belum mengatakan apapun pada Ayahku”

Dia mendesah “Ayahmu tau kau akan berlibur kesana, dia tidak akan terkejut kau mengatakannya tiba-tiba”

“Bagaimana dengan Visa?”

Kyuhyun memutar matanya “Kau bisa mengurusnya disana selama ada aku, aku tidak menggunakan paspor korea, ingat”

Aku berpikir alasan apa lagi yang bisa kugunakan, namun seolah dia bisa membaca pikiranku “Jangan mencari alasan Hyura-ya. Pikirkanlah kau ingin ikut denganku atau tidak. Aku tidak akan memaksa. Tapi jika kau memutuskan untuk tidak ikut maka aku tidak akan kembali. Semuanya berakhir malam ini dan kita akan kembali menjalani hidup kita masing-masing”

“Kau tidak mengatakan kau menyukaiku, tidak ada alasan bagiku untuk ikut denganmu. Setidaknya aku harus tau apa yang sedang kuperjuangkan”

“Aku tidak akan mengatakannya sampai kau benar-benar yakin dengan perasaanmu sendiri. Dan Aku tau bagaimana perasaanmu pada sepupuku, aku tidak ingin menekan atau memaksamu. Kita bisa menjalaninya dengan cara seperti ini”

“Bagaimana jika aku memiliki perasaan yang sama terhadapmu seperti perasaanku terhadap Donghae?”

“Maaf Hyura-ya, aku tidak bisa berbagi. Saat kau memutuskan untuk memilihku maka hatimu pun harus menjadi milikku”

“Kau memintaku melupakan Donghae?”

“Bukan itu maksudku, tapi saat kau yakin dengan perasaanmu padaku benar-benar nyata maka aku akan mengungkapkan semuanya”

Aku mengangguk “Aku mengerti”

Dia tersenyum “Bagus, kau bisa memikirkannya baik-baik sebelum besok tengah hari”

“Boleh aku tidur? Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan mengantuk”

Kyuhyun tesenyum dan mengangguk “Selamat malam” dia mengecup keningku sebelum dai menutup matanya juga”

***

One month Later

Memejamkan mata, Konsentrasi dan …. Hanya angin berhembus yang menghampiriku. Mendesah berat. Ini percobaan di hari ketiga setelah aku pulang dari Denver. Donghae tidak pernah muncul lagi sejak hari dimana aku dan Kyuhyun bertengkar disini. Aku tidak tau kenapa bisa begini.

Aku duduk merosot di depan makamnya. “Mungkinkah hatiku tidak menginginkanmu muncul? Kau dulu pernah bilang, kita tidak akan saling bisa melhat selama aku tidak menginginkanmu” kemudian aku menggeleng “tidak mungkin, dulu aku sangat ingin kau muncul di hadapan Kyuhyun  agar aku bisa menjelaskannya” lalu aku mengigit bibir sedikit takut apa yang sebenarnya terlintas di kepalaku.

“Atau memang sebenarnya aku tidak ingin kau menampakkan diri dan mengetahui apa yang kusembunyikan. Perasaanku. Aku takut kau melihat bagaimana perasaanku padanya yang tanpa kusadari sebenarnya telah muncul sejak saat itu”

Aku tertawa hambar “Aneh sekali bukan, ku pikir aku membenci Kyuhyun. Dia sering membuatku menangis, dia berbuat seenaknya, memaksaku, dia bahkan pernah berciuman dengan wanita lain di depanku. Sesuatu hal yang tidak akan pernah kau lakukan padaku. Dia memaksaku bahkan menarikku dari lubang yang kuciptakan sendiri, dia membuatku lebih mandiri. Kalian mencintaiku dengan cara yang sangat berbeda. Kyuhyun membuatku kuat dengan caranya sendiri dan Kau membuatku kuat dengan keberadaanmu. Kalian dua pria hebat yang ada di hidupku. Aku mencintai kalian berdua”

Menarik nafas panjang sebelum aku berbicara lagi “Kau tau, aku menonton Film Titanic dan aku menangis. Sekarang aku mengerti kenapa kau menyukai film itu. Aku akan berusaha menjadi seseorang yang kau inginkan, menggunakan kesempatan yang kau berikan padaku, Maaf beberapa bulan lalu aku merengek karena keegoisanku. Dan sekarang… aku merelakanmu”

Aku mencondongkan tubuhku ke depan lalu mencium nisannya “Aku mencintainmu. Lee Donghae. Dan aku melepaskanmu”

Menegakkan tubuhku lalu berdiri, berjalan menjauh, keluar dari kompleks pemakaman. Kyuhyun berada di mobil menungguku. Dia mengerti dan memberikanku privacy bersama Donghae.

Dia keluar dari mobil saat melihatku  “Dia muncul?” tanyanya

Aku menggeleng.

“Kau butuh darahku lagi?”

Aku tersenyum sambil mengeleng lagi “Aku sudah mengatakan apa yang harus kukatakan”

Kyuhyun menatapku curiga “Apa jangan-jangan sebenarnya dia muncul lalu kalian berpacaran di atas sana”

Aku memukul lengannya “YA!”

Kyuhyun terkekeh “Aku hanya bercanda. Aku percaya padamu “Dia mengecup bibirku.

“Ayo, nanti kita terlambat makan malam dengan Appa” Aku masuk kedalam mobil. Dia mengikutiku.

“Kau sudah memesan restoran yang kubilang?” tanyanya sambil menyalakan mesin.

“Aku tidak suka makanan itali”

Dia menoleh cepat ke arahku “Lalu dimana kau melakukan Reservasi?”

“Kita lihat saja nanti” sahutku jahil

“Ya! Kau tau aku alergi sayuran”

“Itu bukan urusanku! Kau membuatku memakan paprika di rumahmu. Kau pikir Aku tidak bisa balas dendam?”  aku menjulurkan lidahku

“PARK HYURA! Awas kau”

***

FIN

Tulisan ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , . Tandai permalink.

151 Balasan ke Let Him Go

  1. raneaa♡♥ berkata:

    Good ♥♡

  2. msallets berkata:

    Huaaaaaa ini super super super bagusss ><

    One shot terpanjang yang pernah aku baca kayanyaaa 🙂

    Dear, aku kangen baca tulisanmu dan ini bagus banget T T

    Terus nulis yaaa, aku seneng baca nya ^^

    Semangat terussss dear ^^

    Fighting! <3

  3. Angel_Cho berkata:

    Hoh… Miss Hoon update, absen dulu ajh laah eon hehehheee

    • Angel_Cho berkata:

      Oh yeaahh… aku baca satu jam lebih eonni buat oneshoot ini.hahahaa 😀 😀
      Okee okee… seriuss nyaa feel dpt bgt eonni aku kok kayak bisa ngrasain jadi Hyura ya, dia rela kayak gtu demi ketemu Donghae.
      Persis orang gila? Yeahh, I thing so.

      Dan aku pikir Kyuhyun bner, Hyura itu terlalu mencintai dirinya sendiri, dia terlalu terpukul kehilangan Donghae, jadi dia gunain cara apapun biar dia gak sedih lagi, termasuk cara gila dia. Ugh!
      Seriuss kasian bgt jadi Hyura hahhaa..
      Tapi yg nama nyaa kehilangan pasti sakit juga sii, tapi gak pake cara gila juga kan? -___-”

      Well, kehadiran Kyuhyun ternyata berdampak positif, secara gak langsung sebenenya Hyura itu udah suka dari awal sama Kyuhyun cuma yaa, dia masih ajh terpaku sama Donghae. Blum bisa rela, gitu. Kasian!

      Curiga aku mah Kyuhyun itu sebenernya udah suka Hyura dari kecil. See, dia gangguin Hyura mulu kan? Ingat, orang benci sama cinta itu tipis wkwkwkw 😆

      Oyaa eonni kok ending gtu ajh yaa?
      Blom ada kata cinta dari mulut masing-masing siih..
      Tapi yaa buktinya Hyura udah gak bisa liat Donghae, gak beda jauh lah kau hati Hyura udah lari sama Kyuhyuh. Okee baguss! Hahahaaa

      Ada sequl kah eon???

  4. EkaShfly berkata:

    Ooooh good… Rela bacasampe tengah malam, tp masih pensran dg perasaan Kyuhyun, hemm atau mngkin dia memang sudahmenyukai hyura jauh sbelum donghae, jd alasn dia menganggu hyura hnya agar tetap dpt perhatian hyura mungkin.. #keeep writting

  5. choco717 berkata:

    Ini bener2 ff yang panjang.-. Melelahkan bacanya tapi karna cerita ny bagus ya ga jadi deh lelah nya hehee
    Serem juga malem malem gini baca ff yang ada orang mati nya.-. Donghae ga muncul lg apa karna hyura udh sering make ya(?). Kaya yg dikatain ahjuma aneh yg katanya ada konskuensi gitu. Ah ntahlah. Pdhl brharap donghae muncul dan ngobrol buat yg trakhir kalinya sm hyura.
    Berharap jg tadi ada scene hyura sama kyu di denver trs disana ketemu sama donghae eomma :3 uh squel please eon ‘-‘/
    Keep writting! Nunggu famiglia juga nih jgn lama ya eon ;;)

  6. entik berkata:

    Konyol dan gila, sebenr nya hyura bisa liat hae bkan karna darah dan ramuan, tapi karna ke sepian dan keinginan yg begitu kuat buat ketemu hae.
    Hyura jadi kaya ngikutin sekte tertntu yang nyeremin minum darah, aku bisa bayangin hal itu kalo orang normal dan waras pasti mual dan muntah.

    Sedikit demi sedikit kyu bisa bikin hyu ngerelain hae.
    Jujur aku smpe nangis baca nya sedih plus kasian ke hyura nya.

    Dan 1 lagi, di bayar berapa pun aku mah gk mau ngelakuin hal kaya kyu rela di coba coba buat ambil darah.

  7. eunhyukwife berkata:

    kata siapa onnie feel nya ga dapet ini tuh bagus banget dan feel nya dapet banget aq sampe nangis ini bacanya terharu aja sampe kaya gitu,bikin ngebut aja bisa bagus kaya gini…
    aq terharu sama kisah hyura sama donghae sampe sampe hyura rela ngelakuin itu, tapi aq heran itu yang ngasih ramuan itu sebenernya siapa truz nyata apa engga mungkin aja kan itu hanya hayalannya hyura aja hihiii ….
    salut sama kyuhyun bisa buat hyura sadar bahwa slama ini yang dia lakuin itu salah dan akhirnya mreka bisa brsatu hwahhhh sumpah ini ceritanga keren bangedddddddddd pokonya

    dan abis baca ini ” Aku bisa membayangkan
    seberapa kuat perasaan mereka. Hingga
    Jack harus mengorbankan dirinya untuk
    keselamatan Rose. Aku menangis saat
    si pemeran wanita melepaskan cintanya.
    Rose bisa menggunakan kesempatan
    yang Jack berikan dengan baik. Hidup
    dan bahagia namun dia tidak pernah
    melupakannya” aq juga baru ngeh sama arti dari film itu hihiiii slama nnton titanic aq nangisnya karna kisah cinta yg tragis aja ehhh tapi artinya gitu tohh
    pokonya trima kasih author.

  8. kyura8891 berkata:

    buset dah.. hyura minum darah??? dia aliran apa????? sampe segitunya…:3 si hyura sudah benar-benar dibutakan cinta nih..>,,< dan sampe mereka tidur (hanya) bareng… kampret! itu sweeeett..:* hahaha..XD

    ini oneshoot? tapi bagiku ini loooongshoot.. panjaaaang, tapi bisa PUAS beeuuhh.. feelnya? gak usah ditanya, dapet maahh..;)
    tapi, famiglia-nya kapan??? jgn bilang abis lebaran..:( laahh.. gpp dah aku pasrah..:')

    sering-sering buat oneshoot juga gpp kok… aku baca juga..:* hehehe^^

    • kyura8891 berkata:

      komenku kepotong ih gak asik..>,<

      • kyura8891 berkata:

        seharusnya yg ini:

        buset dah.. hyura minum darah??? dia aliran apa????? sampe segitunya…:3 si hyura sudah benar-benar dibutakan cinta nih..>,,< dan sampe mereka tidur (hanya) bareng… kampret! itu sweeeett..:* hahaha..XD

        ini oneshoot? tapi bagiku ini loooongshoot.. panjaaaang, tapi bisa PUAS beeuuhh.. feelnya? gak usah ditanya, dapet maahh..;)
        tapi, famiglia-nya kapan??? jgn bilang abis lebaran..:( laahh.. gpp dah aku pasrah..:')

        sering-sering buat oneshoot juga gpp kok… aku baca juga..:* hehehe^^

  9. kyura8891 berkata:

    kepotong lagi masaaa.. ㅠ___ㅠ

  10. kokyu berkata:

    Kangen sama tulisanmu.. tapi tetep kere cerita ini.. kyuhyun kenala kau begitu mempesona hiks

  11. amoy berkata:

    Takjub sama one shoot ini…panjaaaang dan puas bangeet.
    tp agak mual dan ngak kebayang pas baca harus minum darah…oww…apa rasanya?..
    Pokoknya ff ini sangat..sangat…sangaaaat memuaskan….kl kata makanan sih..kenyang bangeeeet.

  12. liyahseull berkata:

    Suka gini sih. Kalau mau komentar, lupa nama OC nya. Padahal baru selesai dibaca >_< maaf ya kak.

  13. songhyorin88 berkata:

    daebakk eonnie.. cerita yg mengharukan.. akhirnya hyunra bisa merelakan donghae dan hidup bahagia bersama kyuhyun.

  14. rara berkata:

    dan akhirnya hyura hrs merelakan donghae
    gk mngkin selamany trpurukkn
    donghae jg psti sedihkn
    gk bs tenang
    skrg ad kyuhyun yg jaga dy
    mngkin mncintai hyura melebihi donghae

  15. fey berkata:

    ikutan lega abis ff oneshotnya kelar…

    masih ada yang ganjel sih abisan slese baca. cewek yang ngasih ramuan bilang akan ada konsekuensi nya kalo make ramuan ini..nah masih rada blur konsekuensinya apa?
    trus kesan bapaknya si hyura udah kenal kyuhun lebih dulu dari donghae gak ada penjelasan lebih rincinya..

    tapi overall menurutku semuanya perfect terutama scene kyuhyun-hyura..
    gak ada yang berlebihan..dan semuanya adalah scene yang menjelaskan gimana kedekatan mereka tumbuh semakin besar..dan paling suka pas scene kyuhyun pamitan trus balik lagi buat nyium hyura…aaaaauuuwww… so sweet abiss..
    and last tengkyu miss hoon..for ur update..waiting for the next..

  16. Krysdha berkata:

    Wah,,Oneshoot terpanjang,,Butuh waktu hampir Dua Jam..Saking Panjang’x…
    Feel’x dpt bgt,,Kasian Hyura,,Sking cinta’x ama Donghae Smpai,,Dia Brn Minum darah kayak gt..
    Sm kayak Kyuhyun Aq jg ji2k,,Apalagi Itu kan drh’x Kyuhyun sndiri,,
    Hyura,,kalau di lihat2,secara gak langsung Kayak Vampir aja..
    Tp,,lucu jg..

    Suka bgt ama Ending’x..Lucu bgt…!!!

  17. cupulah berkata:

    huaaaaa menangis bombay di awal cerita melihat hyura dengan donghae..btw kayakny ada yg kurang thor, harusnya endingnya di ceritain respon donghae gmn..

    tp seneng akhirnya hyura move on

  18. citraarum96 berkata:

    Sumpah kak, puas bget bca ff ini ada scene yang bkin aku mewek..huhhu

    Kyaknya ini jga ff oneshoot terpanjang yang pernah aku baca, dan ini woww bnget…

    Beruntung ya ada kyuhyun disamping hyura jadi dia bisa relain donghae pergi, itu jauh lbih baik dari pda hrus cari cari alasan buat ambil darah keluarga hae, cuma buat bertemu donghae yg faktanya emang udah meninggal..
    Penasaran sih sma ahjuma yg kasih ramuan itu ke hyura, apa ahjuma itu dukun???#plakk
    Berharap ada kata cinta dari mereka berdua kyuhyun juga hyura,hikss
    Tpi seenggaknya mereka udah sama sama…
    Makassih ya kak udh post ff kerennn ini:)
    Fighting!!!

  19. KIKI berkata:

    Huaaaaaaaaa pada akhirnya pun akan melepaskan nya.. Donghae kau tak nyata dalam cerita itu.. Menyedihkan. menyesaka.. Tak ada kata perpisahan yang terucap..
    Bagaimana bisa ini terlalu kejam untuk Donghae.. Yang sudah tiada

  20. hyunsoo28 berkata:

    ini bukan oneshoot eonnie
    inu longshoot
    aduuuh apa yah suka banget dpt bgt feelnya dpt bgt maksud ceritanya
    sempet sedih
    senper aduh kok bisa
    biarpun kyuhyun agak nakal yaah
    tapi masih ad yg mengganjal
    apakah kyuhyun udh suka hyura dr kecil, aduuuug msh penasaran sama yg satu ituuuuu

  21. azizashiyou10 berkata:

    YA TUHAAANNN keren banget storynyaaa
    aku sempet ngeri sihh pas baca kalau Hyu-Ra itu harus minum darah buat bisa ketemuan sama Dong-Hae. kirain tadi kayak ada genre triller nya gitu. tapi nggak ada. syukurlah.
    Nah, Loh. aku suka deh sama karakter Kyu-Hyun di sini. dia jadi pria yang iseng. resek. jahil dan nyebelin. jadi gemes bacanya, hehe
    Dan yang paling bikin aku geregetan adalah pas adegan di club.
    SUMPAH aku, kalau jadi Hyu-Ra. juga nggak mau diajak ketempat yang begituan. apalagi ngeliat Kyu-Hyun disentuh dan ciuman sama cewek lain. rasanya mau muntah. dan aku udah setuju dan mendukung banget waktu Hyu-Ra keluar dari club. harus lenyap dari sana. tapi aku malah senyum2 sendiri pas ternyata Kyu-Hyun malah nahan Hyu-Ra dan bilang kalau dia ketakutan setengah mati melihat Hyu-Ra menghilang.
    huaa keren deh pokoknya. aku suka sama ceritanyaa ditunggu story lainnya
    ehh thor… ngengomong. ada kepikiran buat bikin SEQUEL dar RACHE, nggak? aku suka banget sama yang satu itu. kkk oke. sebelum tangan saya tak terkendali dan ngetik komment nggak tanggung2. lebih baik saya berhenti di sini.
    tengkyu ^^

  22. hany kim berkata:

    Uuaaaa sumpah ceritanya keren banget, feelnya dapet banget
    airmata aku sampe netes nih
    Pokoknya keren banget
    tapi aku pengenya sih donghae muncul terus ngerelain hyura sama kyuhyun

  23. Lia puspita berkata:

    Daebakkkk eonni,ceritanya keren banget aq sukaa,apa lagi pas momen donghae sama hyura nya itu bikin terhatu banget

  24. Eliza ELF berkata:

    Waahh!! Sumpah ini bagus banget ceritanya. Jujur aku selalu nunggu kelanjutan semua FF kamu^^ Semangat buat nulis yaa!:)

  25. inggarkichulsung berkata:

    Jarang bgt membaca ff dgn line story seperti ini, ternyata Hyura benar2 lupa siapa Kyu oppa, sbtlnya mrk bertiga Hyura Kyu oppa Donghae oppa sdh berteman dr kecil.. Kyu oppa dan Donghae oppa mencintai Hyura dgn cara yg berbeda, seharusnya memang dr awal Hyura hrs merelakan kekasihnya yg telah meninggal dan tetap berjalan di area kenyataan, Kyu oppa seperti datang ke dlm kehidupan Hyura lg sbg malaikat penolongnya, daebak ff chingu

  26. bellsahn berkata:

    jinjja…. feelingnya dpt. sukaaaa !!!!
    ceritanya keren..
    ceritanta lain dr yg lain. gx bisa ngebayangin kalau bisa ketemu orang mati kayak gitu.

    karakter kyu cerewet wkwkwkwk…. udah kaya ajhumma2, ngoceh mulu kkk~

    thorr,, ditunggu ff lainnya loch… fighting. love you dech :*

  27. camet cline berkata:

    Wwhooooaaaaa… keren abis ceritanya sumpah jadi merinding bacanya

  28. Na Bin Jo berkata:

    kerennnn abis….. ga nyangka alurnya bisa gini… temanya juga~~ trus puassss panjang…. ahhh

  29. nathyan berkata:

    Huahhhhhh eonnie tiap hari aku buka blok ini nunggu ff terbaru eonnie.. akhirnya muncul juga..
    suka ff one shot nya.. ceritanya bagus.
    cintanya sama donghae rumit tapi cintanya dengan kyuhyun begitu simple tapi bermakna..ishhh aku suka ceritanya..
    eonni rachenya di bikin sequel lagii pleasee:'(

  30. Hana berkata:

    keren banget thor, sampe berkaca-kaca bacanya :”), salut deh ama karakter yura entah knapa dia slalu jadi salah satu tokoh fiksi favoritku (beneran loh)
    agak kecewa karna famiglia nya gak dilanjutin sih tp ini udah ngobatin kangen kyuhyun-hyura kok

  31. aakartiniaa berkata:

    aku suka bgt cerita ini walaupun panjang dan maaf yaa baru bisa komen, ini ke…3 atau 4 kalinya aku baca hihiXd pertama kali aku baca jam 12 malem baru abis jam 3.45 hahaa 😀 keep writing yaaa, ditunggu famiglia dan mungkin sequel ini^^

  32. syalala berkata:

    gausah ditanyaaaa!! feelnya dapet kok! hahaha seneng bgt sama karakter kyuhyun disini. banget. banget. cowo pengertian aaaahhh gimana ga klepek? wakakaka aahh seneng bgt kamu bawa ff lagi asliii kangen kan baca tulisannya hahaha ditunggu selalu ff lainnya dam lanjutannyaaa

  33. Yunita berkata:

    ya ampuuun.. kyu asik bgt disini.. daebak ini bgus bgt!!

  34. angelkim393 berkata:

    INI ff plg panjang yg pernah aku baca, tp q suka ff INI , cuman KNP part akhirnya kyuhyun g ngungkapin p yg dia janjikan PD hyura di akhir cerita? Bahkan dia g bilang kl dia cinta sm hyura 🙂 he he Mian q comment NY gtu

  35. donghaecouple berkata:

    Te2p hyura sm kyu…
    keren bgt… suka bgt sm nie couple…

  36. Dwi berkata:

    Inie ff oneshoot terpaanjang yg prnh aq bc
    didunia per ffan baru kali inie bc ff yg seperti ini
    gila! Sumpah…. Nie ff bikin aq sdr akan suatu hal kkkk
    menginspirasi banget
    inie masih ad sequelx kand thor
    berhubung status mereka masih belum jelas
    wokkie ditunggu ff yg lainx…..

  37. niza berkata:

    bener bener oneshot kyk kereta api panjang. tp bagus dan bkin aku jadi mikir hyura gak malu ya mlkkn itu semua. gak tkut dianggap org gila gitu.

    trus apa alasan hyura ke donghae eomma saat hyura mnta drh nya.
    trs donghae eomma gak curiga apa ya sm hyura mau dipergunakan utk apa itu darah

    curiga sma isi hatinya kyuhyun, apa kyuhyun sdh jth cinta dri dlu dg hyura ya meski kyuhyun ngmngnya benci.
    dan ahrnya hyura sdr klo slm ini apa yg dilakukannya slh. trs gmn klnjutan hbngn kyuhyun dan hyura stl plg dri Vender

  38. eLa0215 berkata:

    daripada ga ada yang dibaca ..
    dan saya suka ini .panjang banget dan feelnya aku dpet ko ka ..pas kyuhyun ciuman sama cewe lain .rasanya aku juga cemburu …
    donghae juga sebenernya rela kan klo hyura sama kyuhyuñ ?? mangksnya dia ga bisa muncul lagi..

    nex t buat yang oneshoot lagi yahhh . famiglia ttep aku tungguin ko’ !! 😀

  39. cho haneul(tia) berkata:

    Ya ampun Hyura menyedihkan sekali di tinggal donghae kekasihnya…. omo ~ apa yang hyura lakukan dengan ritual meminum darah keluarganya donghae – dia sudah menyimpang dan kasian donghae yang tak bisa tenang di alamnya karna hyura belum mengikhlaskan kepergian kekasihnya… * sumpah aku terus mengalir air mataku bagaikan sungai Han.. aku juga pernah mengalami kehilangan sosok sahabat sejatiku yang sudah ku lewati sejak sd sampai kuliah… bahkan sahabatku meninggal disaat aku tak tau dia akan pergi tuk selamanya sejak saat itu bukan ritual yang aku lakukan tapi aku menangisi kepergiannya sampai dia datang ke dalam mimpiku selama 30 hari dan disana dia berpamintan ya ampun setiap aku rindu dengannya dia akan selalu hadir dalam mimpiku.. bahkan tahun ini ke 3 tahun dia perginya ..bagaikan kemarin dia pergi..banyak kenangan yang kita lakuin bersama2 dr kecil… apa yang harus ku lakukan dengan hanya merelakannya dia pegi & mengirimkannya doa.. tapi setiap saat selalu teringat tentangnnya… maaf sedikit curcol *

    sumpah feelnya dapet banget… aku nyampe sedih pas scene hyura & donghae di kuburan itu..

    kesel pas scene kyuhyun ngajak hyura ke club.. tapi disna keliatan banget hyura punya perasaan sama kyuhyun. hahaha

  40. ddeessttyy berkata:

    HUL ~~~~~~~~~~~~~~ BAHKAN SEORANG PENULIS YG SUDAH MEMILIKI BANYAK JAM TERBANG PASTI TIDAK PERNAH BERPIKIR AKAN MENGGUNAKAN IDE INI.

    INI SEJENIS, SUPRANATURAL, DICAMPUR ROMANCE, GITU DEH. HEHEHEHE.
    ALWAYS LOVE MISSS HOON’S STORY.

    THANKYOU FOR YOUR AMAZING STORY. SAYA HARAP RACHE ADA SEQUELNYA O.O HEHEHEHE

  41. lindachoore berkata:

    Kirain update baru famiglia yg keluar eeh malah ff baru lagi.. Tapi baca, eehh sumpah ini ff paling bgus yg pernah aku baca, ceritanya keren bangeeettt!! Salut deh ma author, feelnya dapat bnget, menguras emosi ampe mau ikutan nagis jg tadi. Ceritanya yg super panjang bkin puas bacanya. Pokoknya recomended bnget. Aku suka karakter kyuhyun dsini, dia kok kyknya keren bnget yah. Dia kyk sengaja bersikap gitu biar hyura bisa ngelupain semua kesedihannya, biar bisa ngerelain donghae. Pokoknya author keren bnget lah ceritanya. Ttp ditunggu karya2 author yg lain (famiglia kapan update jg thor?? Hehehe). Fightingg!!!!

  42. shelitaxcho berkata:

    Ini keren bgt..mpe nangis jg wkt donghae ga muncul,brrti hyura emang dah ngerjain donghae..
    Kyu keren bgt disni..cool n cara ia narik hyura tuh ga perlu byk aksi cmn bikin hyura kangen kl ga ad kyu dkt dia ..ughhh..
    Senang bgt deh bacanya..
    Long shot..hehehhe..puas dah..
    ttp brhrap Famiglianya muncul hehehe..
    Tapi ternyata one shot nya ga kalah keren..

  43. alana berkata:

    Keren. Terharu aku bacanya.. Oneshootnya panjang yah min. Memuaskan sekali 😀 sebenernya masih gak ngerti alasan kyu ngajakin hyura ke club sih. Tapi gak penting juga sih min 😀 keren thor aku suka !

  44. kyukyukyuniw berkata:

    Ya ampun ya ampun ya ampun demi apa hyura minum darah sama rumput2an itu. Demi apa itu kan bau anyirrrrr.
    Hyura di butakan oleh ahjuma2 itu. Ya ampun ga kebayang minum darah.
    Cinta hyura ke dongek gede banget. Tapi untung ada kyuhyun penyelamat dunia aherat yg dteng tepat waktu buat nyelametin hyura dari kegilaan minum darah. Bisa2 dia jadi vampire hahaaha

    Sumpah ini longshooooottttttt kerennnnnnnnnnnnnnn.
    Famiglia ga publish tapi di obatin sama ini. Ahhhhh bener2 bikinnnnnnnnnnnnnn ngobatin.

  45. ddd berkata:

    hor bgt minum dara.. tapi ya cinta mau di apain kkkk
    untung aja kyu datang setidaknya dapat move on.. kkkk

    ee maaf tadi udah baca tapi blom komen kkk jadi baca lagi baru komen

  46. Rhenol berkata:

    Sumpah ceritanya bagus baget, memang cukup panjang tp benar2 puas karena bisa membaca dr awal hingga akhir. Author memang keren.

  47. hikarinta berkata:

    Amazing story…….

    Demi apa dari sedih biasa sampe air mata bercucuran bacanya sampe senyum manis terakhirnyaaa.
    Gak tau mw komen apa sangking kerennya,pokoknya ini ceritanya yg jd salah 1 yg terbaik yg pernah aku baca.
    Apa yg harus dikritik? Ga adaaaa.
    Cuma akan selalu sabar nungguin kmu update hihihihi

    Thx for amaz strory ya authorrrrr

  48. ttaemyeon berkata:

    Ini bagus banget! Gak tau knp miss hoon harus merendah dg karya sebagus ini. Habis baca ini tuh rasanya hangat dan meletup letup kayak yg kasmaran hahahaha

    Kangen banget sama ff ff KyuHyun yang kayak gini, storylinenya dalem dan ceritanya gak berputar-putar di sekitar perjodohan dan marriage life. Aku berharap aja supaya Miss Hoon terus berkarya sampai nanti nanti dan nanti hahahaha aamiin. Biar pun entar cast nya bukan KyuHyun lagi

    Hwaiting♥

  49. hyerilee berkata:

    kereeenn bener bener keren ffnya
    ceritanya ga mainstream tapi tetep ya kyuhyun ga ninggalin sifat bossy nya gamau kalah suka merintah kkk
    boleh minta sequel thor? hehe
    ditunggu karya berikutnya semangat^^

  50. Monika sbr berkata:

    Ahahahahahaa….. Endnya manis banget. Akhirnya hyura bisa move on juga, dan bisa bahagia dgn kyuhyun.

  51. meyameylan berkata:

    kakak the best !!! selalu dan pasti bikin feel kerasa di aku. Tapi kak seandainya aku berada di posisi hyura aku juga akan memilih hal yg sama melakukan hal diluar nalar demi bertemu orang yg telah pergi. Aku juga ingin… bodoh mungkin. Tapi ketika berada di posisi yg sama kyk hyura pasti tau rasanya. Karna aku juga seandainya bisa aku pasti nglakuin itu.

  52. ikachiroo berkata:

    dan author harus bersiap-siap denngan rengekan para readers minta dibuat part berikutnya .
    author terlalu merendah. Ini bahkan tidak akan membuat bosan walaupun dibuat beberapa chapter. ^^
    Sepertinya one shot memang keahlian miss yoon.

  53. nuy azizah berkata:

    Keren keren walau bukan pamiglia tapi keren ka karya mu itu gak ada yang jelek semua bagus keren gak bisa comment lagi bingung mau bilang apa keep writing yaa ka jangan lama lama publlish fflain nya di tunggu banget

  54. O berkata:

    Pas awal dibuat bingung, pas pertengahan dibuat ngakak, pas bagian akhirnya dibuat nyesek. Daebak!!!

  55. misschoii1 berkata:

    Tiba-tiba tadi siang aku ingin buka blog ini.
    ternyata ada ff oneshoot terbaru. ff nya beda dari yang lain.
    mistis-mistis gimana gitu waktu baca story nya -,- 😀 aku baca nyambung-nyambung. Dan akhirnya, baca lagi mlm ini dari jam 10 lewat dan berakhir pukul 12 lewat -,- #curhat hhee
    sumpaahh, ini ff oneshoot DAEBAK!! minum darah yang dicampur rumput laut kering -,- ngomong-ngomong ajhumma tua itu kemana ya? kok ngga muncul lagi? hhee 😀
    ahh sumpah deh, si kyuhyun jorok banget -,- masa ketemu hyura penampilan dan kelakuannya begitu -,-
    ckckck..
    kasihan sama ruh nya donghae. selalu ada disekitar situ 🙁 ya ampuun, mereka itu yah bener-bener bikin haduh gimana gitu. Dan hyura beneran rela minum darah hanya untuk bertemu donghae.
    jinjaa, kyuhyun makannya banyak sekali !! gembul deh kamu nya -,- jinjaaa!! kyuhyun mau apa coba memperlihatkan kemesraannya didepan hyura bersama wanita-wanita itu?
    eugghh! beneran deh.
    beneran deh ff nya DAEBAK!
    feel nya dapet banget onn. apalagi saat di bagian-bagian menuju akhir. ahh so sweet. aku baca sambil nebak, kalo kyuhyun grep-grep cewe pasti dia bakalan buka baju karena tubuhnya ngga kena cewe-cewe itu. 😀 dan ternyata bener! hahaha kyuhyun berasa sixpack gitu? ah adegan kiss nya uhuuiii.. bonus yang keren untuk para pembaca yang menunggu adegan romantis!
    Finally hyura bisa melepaskan Donghae^
    aku kira perkataan kyuhyun yang intinya kalo hyura akan menyesal suka dia karena kyuhyun menghidap penyakit aids terus nular ke hyura karena dia minum darah kyuhyun-,- imajinasi ku sungguh ngawur hahaaa..
    DAEBAKK! FEEL NYA DAPET !! DAN aku nga tau mau koment apa lagi.
    Famiglia jangan lupa ya onn hhee
    FIGHTING !! ♥♥♥♥

  56. rita_khun berkata:

    Miris radanya jd hyura.. Ngerti perasaan dia.. Tp penasaran knp yah ga mncl lg hmmmm
    Eon sekuel donk ah… Bln puasa hars byk menumpuk pahala.. Dgn menyenangkan hati para reader pahala nya byk..bygkan brp reader yg baca wkwkwkwkwkwk
    Kyuuu perasaan mash ambigu n byk yg msh blm jls.. Mau nya se lbh detail..soalnya yg ini msh brhubg dgn donghae..walaupun scr ga lgsg… Penasrn sm hub mrk slnjutnya… Semangat eon

  57. ayum berkata:

    Sedih banget pas awalnya.. Hyura yg ga bisa move on dari donghae. Di tengah nya lucu.. Karakter nya kyuhyun disini bengal2 asik.. Beda kayak kyuhyun rache atau famiglia.. Thank you miss hoon..Karyamu semuanya kereen

  58. nita berkata:

    Pas kyunya blng nyuruh hyura merhnti nyukainya sblum perasaannya dlm aku kira endingnya mreka ngk akan sma 🙂
    Aku suka sma jlan critanya,porsi konfliknya juga aku suka, biasanya ff kyuhyun identik dgn perjodohn dn married life dan peran kyu jga agk beda disni, biasanya dia memernkan cwo yg dingin, kren dn berkuasa.
    Tpi aku ngk terlalu puas sma endingnya pdhalkn pngen bca lbih bnyk kisah awal mreka memulai hubungn ^o^

    Need sequel (^~^)

  59. eMJe berkata:

    Woaahhh,,, gag bisa berkata banyak lagi,,, emang karya miss hoon keren semua, ceritanya anti mainstream! ^^

  60. Awaelfkyu13 berkata:

    selalu jatuh cinta sama karakter kyuhyun yg kamu buat disini…kereeeennn… ditunggu ff lainnya yaa..semangaaatt!!

  61. puput caca berkata:

    knp ya ff yg km buat feelnya sllu dpt….crta ini bgus ada nyeseknya ada ketawanya apakh nnti ada sequelnya ???

  62. lovey denalisa berkata:

    yang di runguin famiglia…tapi yg muncul ini tapi gapa…

    ngeri ya walu ini cuma karangan aja…pegang darah aja q geli apa lagi minum..bayangin jijiknya kayak apa.

    hmmm suka adegan hyura donghae dan hyura kyuhyun sesuai porsi….cuma mau minta sequel ajbuat ni ff…kurang gmana kalo kyura belum nyatain cinta ma mesra mesraan ga jelas ahahhaha…..

    di tunggu famiglia nya….di tunggu kary, eonn…

  63. lovey denalisa berkata:

    yang di runguin famiglia…tapi yg muncul ini tapi gapa…

    ngeri ya walu ini cuma karangan aja…pegang darah aja q geli apa lagi minum..bayangin jijiknya kayak apa.

    hmmm suka adegan hyura donghae dan hyura kyuhyun sesuai porsi….cuma mau minta sequel ajbuat ni ff…kurang gmana kalo kyura belum nyatain cinta ma mesra mesraan ga jelas ahahhaha…..

    tapi q suka ma karatkter kyuhyun disinilohh….keliatan bgt nakalnya tpi perhatoan umum ma hyura
    di tunggu famiglia nya….di tunggu kary, eonn…

  64. Aha ne ff keren eoh kayak2 sinetron indonesia gitu unik,,
    yah percaya g percaya hal kyak gini ada jg loh,,,
    dan y akhirnya hyura bs membuka mata hati utk melepaskan donghae,,

  65. Aha ne ff keren eoh kayak2 sinetron indonesia gitu unik,,
    yah percaya g percaya hal kyak gini ada jg loh,,,
    dan y akhirnya hyura bs membuka mata hati utk melepaskan donghae,,!!!!!

  66. nana berkata:

    ff nya kereeenn, kyuhyun dengan sifatnya yg bossy, itu kyuhyun banget wkwk tp ttp, donghae yg jdi tumbalnya miss hoon/g wkwkkk
    famiglianya di tunggu kaaa, fightiiingg^^

  67. Mrs choi berkata:

    aku termasuk penggemar wp ini walau jarang apdet, baca ff ini bikin mewek hiks ditunggu famiglianya ya fighting!

  68. ckh berkata:

    Ff’a KEREN !!
    tp msh ada satu yg ngeganjel di otak, soal perkataan ayah’a hyura ttg kyuhyun yg menyanyangi hyura bahkan sblum donghae.
    but diluar itu
    suka bget ff’a gk ada kata lain kecuali
    KEREN !! 🙂 🙂
    good job ^o^

  69. ulandsurya berkata:

    yaampun, ini apaan??
    ceritanya bagus banget..
    bagaimana kyuhyun memperlakukakn hyura itu kayaknya nyata dikehidupan…
    kerennn…

  70. Fee berkata:

    cerita yang menarik, aq suka alur ceritanya…
    dan aq juga dapat pelajaran dari cerita ini untuk hidup ku dan cinta ku…
    ya, kau benar thor,,,kita tidak akan bisa merasakan dan melihat-nya jika hati kita tidak benar-benar menginginkan-nya…
    terima kasih untuk pelajaran nya…
    tetap semangar thor…

  71. ryeopie berkata:

    sukkaaaaaaa pake bgt.. knp ff eon selalu keren2.. kata2 ngena bgt bikin aku nangis
    selalu suka ff yg eon tulis

  72. ChoChoKyu88 berkata:

    ff ini keren banget… konfliknya simple tapi penuh makna/? ditunggh ff famiglianya 😀

  73. BabyBoo berkata:

    Woaaaahhhhhhh *o* kereeeennnnn sebenernya agak geli sih ngebayangin hyura minum darah hahaha tapi akhirnya dia mulai bisa merelakan donghae dan berakhir dengan kyuhyun ;D

  74. vhiy zaza berkata:

    suka suka, tapi masih butuh penjelasan, apa kyu lebih dulu temenan sama hyura ? soalnya ayah hyura bilang kyu lebih dulu menyayangi hyura dibanding donghae..

  75. lianshijianlee berkata:

    keren, seru banget ^^ aku sampek sebel banget daritadi karena ada aja yg gangguin aku baca ini… ceritanya mengena aja di hati aku, pokoknya keren deh…

  76. kyura8891 berkata:

    yaelah baca ini berkali-kali berakibat fatal euy.. sweet maksimal! bikin diabetes..;) semuanya ada, awal senyum, terus mewek, senyum lagi sampe akhir.. gimana gak diabetes coba..XD

  77. julia berkata:

    eonnie, seatle seperti fifty shade of grey?
    klo hyura beneran liburan kesana jgn2 ketemu mr grey wkwkwk…

    eonnie, ceritanya bagus bgt tp semoga ada sequel soalnya ada yg belum jelas wlopun sedikit, kenapa Kyuhyun sering ngejahilin Hyura waktu kecil? sejak kapan Kyuhyun suka Hyura… semoga pertanyaanku ini eonnie mau membuat sequel wkwkwk ngarep bgt deh hihihi…

    untuk Famiglia kapan dipublish eonnie? pengen tau kelanjutannya… please eonie jangan 2 bulan nunggu FF nya itu sangat menyiksa tp aq gak maksa kok eon,..
    Keep Writting 🙂

  78. widya choi berkata:

    Hadohhhh q jd gregetan am ni ff. Thor bisa bikin sekuelny g?.. demi ap q msih pnsaran am hubngn mrk ber 2. Kyu kykny udh suka lama deh am hyura. N hyura jg kykny cemburu tu pas liat kyu am wanita lain. Tp knp hyura lupa am kyu y?…n kok kykny appa hyura sk liat kyu dekatin hyura.
    Tp syukur deh..hyura akhrny bs move on dr donghae. Bhrp hubngn kyu am hyura bs lbih jelas lg..kan dsini msh lom jls ap mrk pacarn ap blom.. pngen ny sih nikah hahaha. Thor please d buat skuel y hehe. Slu d tgu lnjutnny thor. Trutama yg familigia

  79. ismaenha berkata:

    Sebelum baca tinggalin jejak dulu 😀

  80. Hilda hidayah berkata:

    Sebenernya sih yg ditunggu tu famiglia atau MBG..tapi yg barusan itu…sesuatu bgt!!
    Feel’y dpt bgt ko..ga da krg..
    Poko’y istimewa
    keep writing author!

  81. CR Kyuin berkata:

    Hwahhhhhh … Keren kerennnnn .. Pas baca awalnya , agak merinding gitu, dikiranya cerita horor .. Tapi ternyata itu kisah cinta yang terpisahkan oleh maut , huhuhu .. Walaupun cintanya ke donghae itu udah kelewat batas, akhirnya kyuhyun bisa nyadarin juga kalau yang dilakuin itu salah..

  82. aayu berkata:

    Dapet ko eon, cuman aku rada bingung ama genre nya =D◦нă*☺*нăă*☺*нăă◦

    Masih penasaran ama orang yg ngasih tau cara itu ke hyura ama apa konsekuensinya ? Aku kira dia bakalan muncul lagi

    Hyura segitu cintanya ya ama donghae ampe cara apapun dia jabanin,

    Rada penasaran juga sbenernya masa kecil mreka itu gmana sih ? Ampe bapaknya hyura juga tau kalo kyuhyun syang ama hyura ?

    Need sequel please eoooon

  83. lina berkata:

    sudah membaca 5 kali dan belum bosan. Kenapa author tidak mencoba merilis novel seperti yang lain? atau malah sudah?^^

  84. shinahra29 berkata:

    Ceritax kerennñnnnnnnn…..
    Kyuhyun oppa….. saya makin cinta sm km…

  85. may guixian berkata:

    wow wow wow ini beda dari yang lain, super keren kak (y) ga biasanya si cwe ekstrim gini dan kyuhyun juga urakan gt, kga jaim.
    pokonya ini daebak :DDD
    kalo dilihat dari ucapan appanya hyura keknya butuh sequel nih kak, sepertinya di masa lalu ada sesuatu yang perlu dijelasin hehe

    jan lupa update famiglia juga ya kak, aku tungguin terus loh :DDD
    keep writing kak^^

  86. ism1004 berkata:

    Ff nya keren banget eon :'(
    Udah ga bisa berkata-kata lagi
    Pokoknya keren, Kyuhyun Hyura Donghae semuanya keren!!!

  87. uchie vitria berkata:

    biar cuma oneshoot dan dibuatnya ngebut tapi ini lebih dari kerennn
    walau sedikit gila aja hyunra nglakuin ritual itu tapi cinta hyunra yang harus diputus oleh keadaan yang tiba” benar” membutakan logikanya hingga donghae beneran hadir
    dan hingga akhirnya kedatangan kyuhyun yang mungkin emang dia sengaja buat jadi penyemangat daa kekuatan baru buay hyunra tanpa gadis itu tahu
    dan akhirnya perasaan hyunra benar” teralihkan dari ketidak relaannya atas kepergian donghae bisa membuatnya menemukan hal baru
    makanya kan donghae udah gk muncul lagi
    karna hyunra udah bisa menerima sepenuhnya kalo dia dan donghae tida mungkin bisa bersama

    walau ceritanya rada horor tapi kesannya malahan sweet romantic hahahahahaha
    biarin lah kyuhyun suka ngajak hyunra keclub dan ngajarin yang enggak” tapi kan mereka bakal menikahkan
    dan hyunra bisa melupakan ritual anehnya itu

  88. atif309 berkata:

    bingung mau nulis apaan 😀
    tapi aku suka bgt! kyu yg awalnya bar bar … oemjihh .. sebenr.a donghae tu gmn?
    sumpah ak suka sikap nya kyuhyun ..
    ya ampu miss hoon .. kamu kalo bikin cerita selalu ampe ke hati aku *cielahh 😀
    wkwkwkwkkw … tapi ak jujur ngomong beginih.. ak suka sama semua cerita d blog ini ..
    oh iya ama satu lagi .. bener tuhh … knp famigilia blom d lanjutin .. hayooh :p 😀 ^^

  89. Gitnul berkata:

    Awalnya gue mikir ini genre fantasy, ehh pas tamat ternyata romance. Gue suka sama ceritanya thor, ga pasaran. Seneng si kyu jail akhirnya bisa dapetin hyura hehe

  90. ya ampun ini bagus banget :”D ga ada kata kata yang cocok buat ngegambarin betapa sukanya aku baca ff ini /plak wkwkw. seriusan bagus banget ceritanyaaaa. ngena juga pesan moralnya *ea xD semangat terus yah buat nulis nulis cerita lainnya~

  91. Nuur al hidayah berkata:

    Ini bagus banget thor… Jjang!!!
    Feel’nya dapet banget, aku suka karakter kyuhyun disini juga cara kyuhyun mengungkapkan perasaanya, aaarrgghh.. Keren banget!! Sequel thor… Please…

  92. end berkata:

    Hyak!! blokmu selalu membuatku menyukai kyuhyun hihihi. Emmm mungkin efek oneshoot, tapi menurutku hyura terlalu cepat move on. Kalau dibuat part sebenernya bakalan lebih ngena menurutku. #plak#modus. Tapi aku suka banget, kyu di sini nggak digambarin jadi org yg dingin. Ngebayanginyya jadi lucu. Cuma satu yg aku gagal terbayang, kyuhyun kehilangan keseksiannya setelah perutnya menggelembung sekarang. Wkwkwkw.. Tapi overall aku suka banget. Kyu manis, donghae as always selalu baik.. Hihi… Good joblah kak .

  93. Rithaa16 berkata:

    Ini bener bener keren banget ceritanya .. Masih penasaran sama wanita yang ngasi saran hyura agar bisa ngelihat donghae.. Padahal ingin banget dibuat kelanjutnya bisa gk kak? Ditunggu karya selajutnya kak semangatt

  94. ChoKyu_Latte berkata:

    Seriously, ini cakep bgt ceritanya, Eon! Feel nya dpt bgt.
    Suka bgt karakter kyuhyun yg yg yg ga bisa di jelasin. Duuh pokoknya syukaaa
    Semangat for next story ^_^

  95. chocomuses berkata:

    ini bagus banget sumpah, gak nyangka kalo bakal ada ff oneshoot sebagus ini.. dan jalan ceritanya kaya film satuan.. gak berhenti nangis dr awal cerita sampe akhir.
    feel dapet banget.. rada sedih sihh pas liat udah fin padahal panjang bgt ff nya hahahaha
    tapi masih penasaran sih itu ahjumma siapa, trs masalah kenapa donghae gak muncul mungkin karena dia udah cinta sama kyuhyun??? mungkin?
    duh pengen baca dr awal lg tp selalu nangis ㅠㅠ
    aku terus nungguin ff baru dr mu.. dan ff sebagus ini aku harap GA AKAN ADA YANG PLAGIAT please.. karena aku tau ini ff bagus dan org yg suka plagiat dgn ga tau dirinya bakal nge copy -_-

  96. AnzelinaCha berkata:

    Suka dgn jalan ceritanya. Akhirnya si hyura bisa juga mengikhklaskan kepergian donghae. Berharap ada sequelnya. Hihi..

  97. gamekyu54 berkata:

    Keren bgt jln critanya,agak ngeri juga ngebayangin hyura minum darah..
    Masih kpikiran ma ibu2 yg ngasih tu saran ma hyura,dia nyata juga ngk sih..
    Momen kyura nya kurang panjang,lucu aja ngebayangin kyuhyun pas minta makan,kaya kyuhyun pacaran ma cwe yg lebih tua dari dia.
    Keren deh paling suka aku sma ff oneshot,lega bacanya..

  98. lutkyu berkata:

    ceritanya keren! aku sukaaa… manis.. tapi apa perasaan ku aja ya. kayanya kurang gada penjelasan ttg kyuhyun yg suka hyura dri duu. kenapa kyu ga bsa liat hae. kenapa ayah hyura tau kyu suka lebih dlu dri hae dan kenapa kyu marah pas bahas ttg ortu mreka. ? tapi over all nice!

  99. Sakura berkata:

    Huhu romantis.. Karya author selalu romantis..
    Kyuhyun mencintai hyura dg caranya sndri keren!

  100. chriss berkata:

    aku sukaaa banget sama ceritanyaaa. ini daebakkk. baguss banget eonni

  101. Beautifullworld berkata:

    Nyesek tapi happy ending ternyata 😀 sequel ya :*
    Ehh faminglianya diterusin dong thor,, kangen nih 😀

  102. inet berkata:

    keren!!!feelny kena bgt..simple tp emosiny campur aduk..kata2ny sdrhana tp dlm bgt..pe tb2 ngs sndr bacanya..
    aq suka bgt karakter kyu dsni.kereeennnn!hehehe.. ^^
    pkonya daebak!!!

  103. EunKyu berkata:

    Ngeri juga ya harus minum darah… Nah bikinin sequel dong thor… Pliss ya…. Tapi masih rada bingung di bagian “tapi ingat anak muda, setiap yang bertentangan dengan alam ada konsekuensinya” nah konsekuensinya apa ya thor bingung gk di jelasin sih atau jangan2 aku nya yang lemot…. Hehehe

  104. Dwkndrr berkata:

    Emang rada nyimpang si. Tapi keren kok gada ff yg ceritanya kayak gini. Mau minta sequel nya rache dongg hehe *abaikan *belumbisamoveondarirache kkkk~

  105. Sakura berkata:

    Huhu kyuhyun romantis ..

  106. nanaelsha berkata:

    Haiii kak akhirnya setelah sekian lamaa aku bisa berkunjung ke page ini lagi dan seneng banget ternyata bnyk yg baru, dan lagi ini nama aku gnti2 mulu haha biasa labil.. btw kak ini bagus ceritanya, feelny dapet banget , berasa true story gtuu.. sukaa bnget

  107. sheillap berkata:

    Aku suka sama jalan ceritanya kereeen banget. Kebetulan donghae dan kyuhyun biasku jadi dapet deh feelnya 😀 semoga dibikin sequelnya hehe terus banyakin momen kyuhun hyuranya 😀

  108. RenyLHJ berkata:

    Suka banget thor. Apalagi pas partnya hyura pas telepon donghae yang dijawab. “Hai, ini Lee Donghae. Silahkan tinggalkan pesan.”
    aku mewek thor. T-T
    bagus, good job thor.
    Bikin lagi yang lebih greget ye thor 😀

  109. nazaki berkata:

    it’s a longshot but i love it,hd puas bcanya. awalnya agk kwtir, scra aq mngkhususkn diri bca ff yg maincastnya kyu & diawsl g da tnda sma skali bkal da kyu tp akhirnya mncul jg. critanya fresh,lum prnh bca yg ky gini…

  110. dyan berkata:

    suka pas bagian kyuhyunnya…..
    Waktu pertama baca aku kira bakalan jadi cerita horor ternyata akhir yg tak ku duga….
    (y)

  111. • 최혜경♪ berkata:

    awalnya aku kira ini cuma oneshot pendek, sempet harap-harap cemas soalnya kalo baca ff tuh kamu gak bisa yang pendek, kalo ceritanya panjang rasanya lebih puas gitu XD
    Dan, untunglah panjang. Keren ya, jarang banget yang ngambil tema kaya gini. Ada unsur mistiknya gitu, seru seru 😀
    Tapi… kok endingnya rada gantung ya/? eh gak gantung juga sih, sebenernya mah udah cukup jelas. Tapi ya gitu, bawaannya masih belom puas baca aja wkwkwk
    kalo gini masih boleh gak ya ngarepin sequel? :’)
    ah, pas di bagian kata-kata ayahnya Hyura yang “Tapi aku tau dia tidak begitu, Dia tidakakan mencelakaimu. Kyuhyun menyayangimu Nak. Bahkan Jauh sebelum Donghae” Artinya bocah ini berusaha minta sequel

    • • 최혜경♪ berkata:

      yaampun kenapa komentarku jadi berarakan gitu? ada yang kepotong, ada typo pula :'( untung udah dicopas buat jaga jaga. Komen lagi deh:

      awalnya aku kira ini cuma oneshot pendek, sempet harap-harap cemas soalnya kalo baca ff tuh gak bisa yang pendek, kalo ceritanya panjang rasanya lebih puas gitu XD
      Dan, untunglah panjang. Keren ya, jarang banget yang ngambil tema kaya gini. Ada unsur mistiknya gitu, seru seru 😀
      Tapi… kok endingnya rada gantung ya/? eh gak gantung juga sih, sebenernya mah udah cukup jelas. Tapi ya gitu, bawaannya masih belom puas baca aja wkwkwk
      kalo gini masih boleh gak ya ngarepin sequel? :’)
      ah, pas di bagian kata-kata ayahnya Hyura yang “Tapi aku tau dia tidak begitu, Dia tidakakan mencelakaimu. Kyuhyun menyayangimu Nak. Bahkan Jauh sebelum Donghae” 《== menurut aku itu masih belom diceritain secara rinci gimana perasaan kyuhyun dimasa lalu, yang bahkan lebih dulu dibanding donghae. Dan ditambah lagi, aku masih ngarepin bagian ‘gimana ya nanti pas mereka nikah?’ ditambah dengan kejelasan perasaan kyuhyun yang udah terpendam sejak dulu XD♥ ==》 Artinya bocah ini berusaha minta sequel

  112. prahezty berkata:

    suka !!
    sukaa bangett..
    keren, idenya keren bgd !!

  113. Christina Dwi Nuryani berkata:

    Ya ampun eon, ngga dapet feel apanya? Justru aku merasa ff ini bener2 hidup. rasanya kayak nonton kehidupannya langsung. aku sampe tak bela-belain begadang lho buat nyelesain bacanya, habis ff nya eonni selalu longshoot. tapi aku suka kok.. hehhe.. jadi ngga kerasa oneshoot ini.. dan kalo aku pribadi ya eon, aku lebih suka ff oneshootnya eonni, soalnya kalo chapter, keburu penasaran sama kelanjutannya.. hehehe
    Sekarang kembali ke cerita. Beneran deh eon, aku suka banget critanya. Awalnya ngrasa horor, kok sebut hantu-hantu gitu. Mana bacanya malem-malem lagi. Kalo nantu ngga bisa tidur gimana? Ngga berani pipis gimana? Dan harus sekali baca rampung, ndak nanti kebawa mimpi. kalo horor kan gitu, ngga selesai ya siap-siap ngga tidur tenang.. Tapi ternyata critanya romance. Sebel sih sama kelakuannya hyura yg kayak gitu. Alay deh. Dari awal kan donghae jg udah nyuruh buat ngrelain. Tapi hyuranya malah ambil cara kotor kayak gitu. Ngeri tau minum rambut kering+darah gitu. Mending kalo darah sendiri, lha Ini darahnya orang e. Kan situ bukan vampire yg emang makanan pokoknya darah.. Untung aja ada kyuhyun yg jadi superhero untuk menuntun hyura ke jalan yg benar. Dan aku suka banget karakter kyuhyun disini, cocok banget. Apalagi suju mau comeback dengan “devil”, kyuhyun banget itu. Paling suka pas bahas “membawa ke tempat tidur”, ngakak banget deh. Ditambah hyura nya tanggapannya jg gitu. Walau sampulnya kesel sama kyuhyun, tapi dalemnya lope lope jg.. Jedug-jedug sampe kringetan tiap scene nya kyu-ra.. intinya eon, aku suka bingitzz sama yg satu ini. ya emang selalu suka sama oneshoot nya eonni satu ini.. dan sampai sekarang hanya dua author yg aku rasa bahasanya top banget dan bikin readers bener-bener masuk ke dalam cerita, cuma miss hoon sama miss vanilla

    Aku tunggu serita selanjutnya ya eon.. Dan yg paling kutunggu kelanjutannya my brother’s girl.. tapi cerita baru aku jg mau.. hehehe

  114. christinadwi berkata:

    Ya ampun eon, ngga dapet feel apanya? Justru aku merasa ff ini bener2 hidup. rasanya kayak nonton kehidupannya langsung. aku sampe tak bela-belain begadang lho buat nyelesain bacanya, habis ff nya eonni selalu longshoot. tapi aku suka kok.. hehhe.. jadi ngga kerasa oneshoot ini.. dan kalo aku pribadi ya eon, aku lebih suka ff oneshootnya eonni, soalnya kalo chapter, keburu penasaran sama kelanjutannya.. hehehe
    Sekarang kembali ke cerita. Beneran deh eon, aku suka banget critanya. Awalnya ngrasa horor, kok sebut hantu-hantu gitu. Mana bacanya malem-malem lagi. Kalo nantu ngga bisa tidur gimana? Ngga berani pipis gimana? Dan harus sekali baca rampung, ndak nanti kebawa mimpi. kalo horor kan gitu, ngga selesai ya siap-siap ngga tidur tenang.. Tapi ternyata critanya romance. Sebel sih sama kelakuannya hyura yg kayak gitu. Alay deh. Dari awal kan donghae jg udah nyuruh buat ngrelain. Tapi hyuranya malah ambil cara kotor kayak gitu. Ngeri tau minum rambut kering+darah gitu. Mending kalo darah sendiri, lha Ini darahnya orang e. Kan situ bukan vampire yg emang makanan pokoknya darah.. Untung aja ada kyuhyun yg jadi superhero untuk menuntun hyura ke jalan yg benar. Dan aku suka banget karakter kyuhyun disini, cocok banget. Apalagi suju mau comeback dengan “devil”, kyuhyun banget itu. Paling suka pas bahas “membawa ke tempat tidur”, ngakak banget deh. Ditambah hyura nya tanggapannya jg gitu. Walau sampulnya kesel sama kyuhyun, tapi dalemnya lope lope jg.. Jedug-jedug sampe kringetan tiap scene nya kyu-ra.. intinya eon, aku suka bingitzz sama yg satu ini. ya emang selalu suka sama oneshoot nya eonni satu ini.. dan sampai sekarang hanya dua author yg aku rasa bahasanya top banget dan bikin readers bener-bener masuk ke dalam cerita, cuma miss hoon sama miss vanilla

    Aku tunggu serita selanjutnya ya eon.. Dan yg paling kutunggu kelanjutannya my brother’s girl.. tapi cerita baru aku jg mau.. hehehe

  115. achiedonghae berkata:

    Sukkaaa,,,sukaa bgt sma critanyaa eonn,,,critanya beda dr yg lain,,tpi emank aga sdikit ngeri sich klo harus minum drah,,c kyu mh jgnkn sma hantu sma orangnya za dia gg pernah mau nglah,,,tpi suka bgt sma perjuangan c kyu buat nyadarin hyura klo dia harus relain abng ikann,,sbenernya gga rela abng ikan d bkin meninggal dcni,tpi mau gmn udh jln critanya,,seruuu bgt eonn daebakkk,,gomawo

  116. seulgi95 berkata:

    ini oneshoot panjang bgt yaa ternyata eon haha, ampe 3x buka baru selesai. Dan bikin baper parah!!
    di peluk kyuhyun gapake baju beneran bikin baper. Suka bgt sm karakternya kyu yg blak-blakan tp perhatian. Yahhh tambah baper dah..

  117. akyuikha berkata:

    pas awal baca judulnya aku mikir ‘oh pasti ceritanya nanti gitu…’ dan ternyata diluar prediksi. Baca paragraf pertama makin lama makin pingin lanjut terus dan gk terasa udah nyampe bagian akhir… dan aku bner2 speechless…. ‘ini ceritanya keren banget’ belum lagi gaya bahasa yg author pake mudah di mengerti jadi imajinasi reader mengalir bebas… good job ( two thumbs for u)

    Walaupun bisa nebak kalau pada akhirnya Hyura pasti sama Kyuhyun… hahaa entahlah, itu seperti ciri khas authornya. Hampir semua kisah di blog ini menggunkn tema triangle love dan nyaris semuanya berakhir dg Kyuhyun sbg pemilik hati sekaligus fisik Hyura…. but overall it was a nice story

    di tunggu cerita lainnya…. ^^

  118. chicyaceskyu berkata:

    Sumpah yee, suka bngt sm ff ini. Wlopun oneshoot, tp puas bngt. Gak kecepatan jg alurnya. Ceritanya jg unik, bru bc ff yg kyk gni. Dan suka bngt bgmn penggambaran perilaku kyu d sni yg bkin greget. Dan smuax terasa wajar malah, author pintr bngt mendeskripsikan bgmn cinta hyura ke donghae dan cinta hyura ke kyu. Bgmn 2 pria itu bs dicintai dngn hyura. Romantis bngt pula. Sy sukaaaaaa.

  119. Chohiro berkata:

    Saeng kya nya ini cocok bgt loch klo di jadiin film, asli seru bgt. Slama ini yg sya tau blm ada film yg kya gni jalan crita nya,seru abis gila bgt… Beda dr ff yg lain,ide nya cemerlang bgt,aduch mesti ngomong apalagi, klo bsa jgn cma d jadiin buku aja, ini mesti jd tontonan yg seru.kereeeeeeeeennn saeng ailoveyou lach..

    Ga pernah nyesel dtg k blog ini mach.. Semangat saeng

  120. kyutheee berkata:

    Ini keren eonni….
    Tapi smpai sekarang masih gak bisa bayangin gimana dia minum darah, apa seperti minum sirup? Masih bnyak sebenarnya misteri2 yg lainnnya belum terungkap dissini, rahasia kyuhyun donghae juga

  121. iiz_leekim berkata:

    Cerita’y bagus cuma pas diakhir berasa kurang jelas status hubungan kyu sama hyura pengen’y dibannyakin lg kyu hyura’y

  122. idenya keren ,,, hiks Hyura sampai seperti vampire aja meminum darah demi bertemu Hae,,, harusnya di akhir cerita diselipin Hae yg melihat Kyu Hyura biar lebih dramatis…

  123. nyonya cho berkata:

    Daebak daebak daebak!!
    Sumpah demi apapun cerita ini bener-bener diluar ekspektasi reader. Idenya menarik dan alurnya bener-bener rapih.
    Ceritanya hidup dan berhasil bikn reader hanyut sama ceritanyaa.
    Authornim…. Ini mah butuh bangeeet sekueeeeel pleasee 😀

  124. yusnitaa berkata:

    KEREN!! aaaaa gak nyangka udah End gitu.. aku terlalu hanyut sama cerita ini dan tiba2 udah end aja. Aku tau ini panjang. panjang banget. dan aku berterimakasih. banget. udah bikin ff sekeren ini. jujur kayaknya aku baru nangkring disini. berkat bantuan rekomendasi ff bagus di google yang ternyata gak bohong. aku bener2 puas. rasanya tuh bahagia kalo nemu ff bagus. yahh menurutku rasanya gak lengkap kalo gak baca ff. tapi gk sembarangan. aku bener2 pemilih buat dibaca. Dari bahasa dan penulisan itu penilaian pertama bagiku. kedua makna/pelajaran apa sih yang bisa aku ambil setelah baca ini. DAN andaikan aku jadi Juri, Fanfic buatan kamu bakal lolos uji *kkkk atau menang? intinya aku puas dan berterimaksih banget!! kemaren aku hampir frustasi gegara gak ada ff yang cocok sama kriteriaku. dan akhirnya ketemu wp ini.. aaaaa senangnya!! Fighting!! aku bakal baca yang lain juga yaa!! <3<3

  125. saecha berkata:

    satu kata buat ff ini kereeeeennnnnnn…

    selama ini hampir frustasi nyari ff yg bagus yg sesuai dg kriteria saya dan gak nemu-nemu sampai akhirnya terdampar disini, gak nyangka ff oneshoot yg dibuat ngebut kaya gini pny alur yg pas yg cepet jg gk lambat visualisasi keadaannya jg pas jd dpt bngt feelnya..

    sebelumnya saya dh jarang nangis pas baca ff dan sekarang saya nangis lagi sampai nyesek rasanya bener-bener dpt feelnya..

    sepuluh jempol saya buat eonnie yg nulis ini^^

    penasaran sm beberapa hal yg msh ambigu, berharap ada sequel tp kayaknya gak ada deh 🙂

    terus lanjutkan menulis karya yg mengagumkan kaya gini ya^^

    keep writing and hwaiting..!!^^ 🙂

  126. saecha berkata:

    satu kata buat ff ini kereeeeennnnnnn…

    selama ini hampir frustasi nyari ff yg bagus yg sesuai dg kriteria saya dan gak nemu-nemu sampai akhirnya terdampar disini, gak nyangka ff oneshoot yg dibuat ngebut kaya gini pny alur yg pas,yg gk cepet jg gk lambat,visualisasi keadaannya jg pas jd dpt bngt feelnya..

    sebelumnya saya dh jarang nangis pas baca ff dan sekarang saya nangis lagi sampai nyesek rasanya bener-bener dpt feelnya..

    sepuluh jempol saya buat eonnie yg nulis ini^^

    penasaran sm beberapa hal yg msh ambigu, berharap ada sequel tp kayaknya gak ada deh 🙂

    terus lanjutkan menulis karya yg mengagumkan kaya gini ya^^

    keep writing and hwaiting..!!^^ 🙂

  127. siti nss berkata:

    ngena gini, kyuhyun udah jelas namja bad boy, hyura mungkin mash ga rela atas kepergian donghae :/ :'(

  128. Rhuyky93 berkata:

    Serem bgt bagian atasnya tp kebawah bgs bgt jee. Suka.
    Kyu usah ada rasa dl sblm hae jee ternyata tp ga dilihat kshn bgt dia.
    Hahahhaha.

  129. Onnie, ff Rache dibuatin sequel dong 🙁

  130. darkchocolate27 berkata:

    Kereeeeennnn oh iyaau tanya apakah ini author yg buat ff first love and last love yg di poat di onlykoreannc? Kalo iya, aku mau tanya kok ga di post di sini dan akan ada sequel ga? Hehehehe… oh iya ff kamu keren2 ya thor alurnya bener2 pas ga kecepetan dan mudah dipahami bahasanya ga terlalu baku dan memusingkan

  131. kiki anchovy berkata:

    Anyeong reader baru dsini eonn. Prtama kali bca ff eonni yg first love last love baru kmren gk sngja ad yg ng.share ff eonni d fb. . Ini kedua kalinya ak baca bner2 gk bsa ngmong apa2 kereeennn bnget ide dan jlan certinya TOP BANGET. Tp msih ad beberapa pertanyaan di pikiranku eonn n kyanya btuh sequel dehh. .
    1. Siapa wanita yg ngasih ramuan itu?
    2. Apa yg dimaksud ada konsekuensinya?
    3. Kenapa hyura cma liat byangan donghae pas minum darah kyu?
    4. Masih pnasaran knp gk ad kata2 perpisahan antara donghae sma hyura?
    5. Apa yg dimaksud ayah hyura bahwa kyu uda lebih lama dri hae suka sma hyura?
    6. Trus d akhir kyu prnah bilang klo hyura mau ikut dia akan jelasin semua tntang perasaannya(kalo gk salah. Hehe) tp koq gk d jlasin eonn gmn sbnernya dulu kyu n hyura?
    Jadi itu masih bkin penasaran gmn kira2 tnggapan hae klo hyura ma kyu n kta2 perpisahan mereka (msih byangin sndiri. Hehe) n btuh sequel eonn ampe mnikah klo bsa. Hihihi. .
    Tp overall daebaaakkkkk. .

  132. oriiigamine berkata:

    akhirnya selesai jg.
    panjang bgt ceritanya.
    hahaha.

    klo beneran ada yg ky gitu, ih serem amat. atuuuuut.
    kkkkkkk

  133. zahra syifa berkata:

    rada ngeri bner dg ap yg dlakukan hyunra. tp untunglah ada kyu yg bsa mmbwa hyunra prg dr kubangan kenangan n keegoisan. suka deh sm ide critanya kakak. ada ada ajah…

  134. rei berkata:

    authorrr sumpah ceritanya kereennn bangettt aku sukaaaa . ceritanya bagus authorr aku kasih nilai 10 deh buat author kereenn kl bisa buatin sekuelnya dong 🙂 gak maksa sih author pasti sibuk kan

  135. wiwiex lee berkata:

    ceritanya menarik bgt, game kebayang han cur bgt hidup hyunra ditinggal donghae…tp lega jg akhirnya dia bisa move on dan mendapatkan cinta sejatinya …kyuhyun is the best lah..bisa nyadarin hyunra klo kebiasaannya selama ini salah…

  136. Mrs.Donghae berkata:

    Ini adalah oneshot yg panjang. Dan aku puasss bgt baca’a.
    Feel’a Hyura dapet bgt…
    Memang susah yg nama’a melepaskan org yg sgt kita cintai.
    Dan akhir’a berkat Kyuhyun akhir’a Hyura bisa merelakan Donghae.
    Keren bgt cerita’a… hiks, terharu aku baca’a. Beneran baper deh…

  137. Han Cemunung berkata:

    Serem bangets sama tindakan hyura yang bertentangan dengan alam dan akal manusia, segitu cinta ataukah hanya belum ikhlas ngelepas dongek pergi, padahalkan kasian juga sama donghae walau bagaimanapun alamnya udah beda ma hyura. Masih banyak pertanyaan eonni tentang hubungan hyura dan kyu semasa kecil dan kenapa pas hyura bercanda bilang kalo suka sama kyu malah kyu nya ngelarang padahalkan kyu udah sayang dari dulu sana hyura kata appanya hyura. Seharusnya juga penjelasan kenapa hae udah nggak nongok lagi lagi salam perpisahan hae sama kyu,hae yang ikhlas merelakan hyura ke kyu..tapi gapalah eonii biarlah kita berimajinasi sendiri tentang hubungan mereka semua…kkkkk
    Nggak kebayang kalo nggak ada kyu yang nyadarin tindakan salah hyura, sampai kapan hyura mau minum darah eomma hae dan hyung nya hae??
    Ayo semangat ters eonni…!!!

  138. mitarashi8899 berkata:

    Ff nya kerennn.. Feelnya dapet banget walaupun msh ada eyd yg tidak pada tempatnya.. Tapi lainnya oke banget..

  139. aiaini berkata:

    Ahh selesai, keren ceritanya eonni
    Pas di awal baca berasa nyesek, feelnya dpet bnget suka deh, aku pkir bkalan sad ending pas awal baca trnyata … daebak eon
    Ohya slam kenal reader baru, maaf baca dulu baru ngenalin diri

  140. nana berkata:

    bagus banget, aku gak bisa ngomong apa” lagi bagus banhet……..

  141. elsytan berkata:

    Ihh seru banget, suka baget sama cerita ini… Endingnya engga ketebak banget, aku kira Hyura bakalan terus hidup sama bayangan Donghae, ternyata Kyuhyun dateng di saat yang engga terduga yaa… Bahagian terus Hyuranya yaa Kyu…

  142. ElvaZavier berkata:

    aq suka bgt ff ini. ceritanya hidup bgt!
    yg bikin sebel, kenapa kyuhyun yadong bgt. isshh …
    seneng akhirnya Hyura mendapatkan takdirnya dan merelakan Donghae … 😀

  143. kikyo berkata:

    aq nangis bombay pas adegan donghae n hyura huwaaaaaa… nyesek kasian banget.. kata katanya bikin mewek.. T.T
    but, syukurlah hyura sudah ikhlas, donghae bisa tenang jadinya, gak perlu bolak balik akhirat – kuburan ==!

  144. rei berkata:

    aku udah bolak-balik baca FF ini tapi gak pernah bosen. author kapan nih the crown nya di lanjutin penasaran banget kira2 apa yang akan di lakukan hyura selanjutnya pleasee

  145. Camila O'Pry berkata:

    Sambil nunggu The Crown part 4. Baca ini lagi…:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *