Rache [Part 8]

rache

Happy Reading N sorry For Typho

@miss_hoon

***

Shanghai. Salah satu kota modern di China. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku disini. Pagi ini aku dan Kyuhyun mengambil penerbangan pertama ke sini tanpa sepengetahuan Ahra Eonni, sesuai permintaanku.

Sebelum kesini aku bercerita sedikit dengan sikap Kyuhyun pada Sekyung. Berhubung kami tidak tau kapan kembali jadi aku putuskan untuk berkonsultasi dengannya via telepon. Kami seperti pasangan suami istri yang normal. Itu komentarnya. Entah harus senang atau sedih saat mendengarnya. Setelah malam itu, Kyuhyun jauh lebih baik dari sebelum-sebelumya. Dia menjadi lebih terbuka dan lebih mudah diajak berbicara saat aku mengutarakan keinginanku.

Sesuai yang aku dan Kyuhyun sepakati, kami akan berlibur sekaligus berbulan madu selayaknya wisatawan dan sambil mencari kakakku. Kyuhyun memesan hotel tepat di pusat kota. Dia menyewa sebuah penthouse. Tidak terlalu berlebihan karena ini untuk acara bulan madu kami. Itu Katanya saat kutanya kenapa harus membuang-buang uangnya meskipun dia sendiri tidak peduli. Yang menjadi masalah adalah aku sangat buta disini. Aku tidak bisa kemanapun tanpa Kyuhyun. Selain buta arah aku juga tidak bisa berbahasa mandarin.

“Kau suka?” Kyuhyun memelukku dari belakang saat aku menikmati pemandangan kota Shanghai dari penthouse kami.

Aku mengangguk “ini pertama kalinya aku ke luar negri” kataku jujur

Kyuhyun tertawa kecil “Aku bisa membawamu tempat yang kau mau. kau hanya tinggal mengatakannya”

Aku mengangguk semangat lalu berbalik menghadapnya “Jadi apa rencana kita hari ini Tuan Cho?”

“Bagaimana kalau kita makan siang di China Garden?” tawarnya

Aku yang tidak mengerti hanya mengangguk menyetujui. Dia sangat yakin aku akan menyukainya. Dan tentu saja tebakannya tidak pernah salah. Dia membawaku ke sebuah bangunan bergaya tradisional China. Rumah panggung Dengan atap berbentuk pagoda yang di bawahnya terdapat kolam luas yang dipenuhi ratusan ikan koi.

Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat memberi makan ikan-ikan di bawahku. Dan Kyuhyun tidak berhenti menyuapiku. “Aku akan meledak jika kau tidak berhenti menyuapiku” keluhku.

“Kau hanya memikirkan ikan, tidak memikirkan dirimu sendiri”

Aku menoleh padanya, menatapnya penuh harap “kita harus punya satu dirumah”

Kyuhyun mengangkat alisnya sebelah

“Kau tau, kemarin aku melihat Aquarium sangat cantik dirumah Sekyung. Kurasa kita harus memilikinya. Bagaimana?”

Kyuhyun mengangkat bahunya “aku tidak begitu mengerti soal binatang peliharaan”

“Ayolah” bujukku

Dia tersenyum sambil mengangguk “Jika kau menginginkannya” Aku ikut tersenyum dan mencium pipinya sekilas “Gomawo”

Selama satu minggu pertama di Shanghai seperti surga untukku. Kyuhyun sangat memanjakanku. Kami tidak menyia-nyiakan waktu sedetikpun disini. Aku mengunjungi banyak tempat, mulai dari yang modern sampai ke tempat tradisonal atau peninggalan jaman Kolonial Inggris dulu. Kota Shanghai sangat menakjubkan.

Oh ya aku juga berbelanja banyak barang. Sebagian besar untuk ibuku, aku dan Kyuhyun. Sebenarnya Sikap Kyuhyun yang membuatku semakin nyaman, dia mau menggunakan transportasi umum. Kami menaiki bus khusus untuk para turis, berkeliling menggunakan trem dan mencoba kendaraan tradisional yang ditarik oleh manusia. Meskipun beberapa kali Kyuhyun harus menahan geramannya saat beberapa orang melihatku. Tapi dia bisa mengatasinya. Sebenarnya bukan hanya dia. Aku pun harus menahan diriku pada wanita yang secara terang-terangan menatap suamiku dengan pandangan tidak sopan.

Hari ini Kyuhyun mengajakku ke daerah pinggiran Kota Shanghai. Butuh waktu lama untuk Kyuhyun membawaku bertemu orang tuanya. Dia terus menggenggam tanganku salama perjalanan. Tubuhnya tidak pernah rilex semenjak kami masuk ke dalam mobil.

“kau tidak apa-apa?” bisikku

“Hmm” gumamnya. Hanya itu jawabannya dan Aku tidak bertanya lagi sampai mobil berhenti. Kyuhyun Menarik nafas dalam sebelum mengajakku keluar. Dia membimbingku ke jalan setapak yang di kelilingi padang rumput, Kemudia sedikit mendaki melewati jembatan kecil yang dibawahnya terdapat sungai yang tidak terlalu besar tapi memiliki arus yang lumayan deras. Kemudian kami sampai di sebuah pagar besi rendah yang sudah berkarat nyaris menghitam karena dimakan usia.

Bunyi berderit saat Kyuhyun membukanya perlahan. Dia berhenti sejenak, lalu menoleh padaku. Antara ragu, takut dan cemas. Aku tersenyum lembut, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dengan itu dia membawaku semakin masuk kedalam.

Dibandingakn kompleks pemakaman, ini lebih tepat disebut sebuah taman. Banyak jenis tanaman dan bunga-bunga di sekeliling jalan setapak, dan semuanya tampak terawat. Kami berhenti di sebuah nisan berkanopi yang dibentuk secara sengaja seperti Gazebo. kHas pemakaman Orang China. Terdapat dua foto di setiap batu nisa dilengkapi dengan ukiran bertuliskan kanji mandarin dan Hangul.

Aku melirik Kyuhyun sekilas. Dia menatap nisan tersebut dengan tatapan yang sulit kuartikan. Hingga beberapa menit kami hanya berdiri terdiam. Kediaman ini membuatku resah, aku ingin tau apa yang Kyuhyun pikirkan, apa yang dia rasakan. Aku tidak ingin membuatnay semakin sulit

Aku berdeham memecah kesunyian “seharusnya kita membawa bunga. Mereka suka bunga apa?”

“Aku tidak tau” sahutnya berupa bisikan. Kurasa aku salah melemparkan pertanyaan yang justru membuatnya tidak lebih baik.

“Eomonim, Aboenim. Aku Park Hyura. Meskipun agak terlambat tapi aku Senang akhirnya Kyuhyun bisa membawaku bertemu kalian” aku menunduk dalam memberi hormat.

“Kyu, kau tidak memberi salam?”

Kyuhyun memejamkan matanya kemudian mendesah dalam, Dia mengusap wajahnya frustasi “Aku tidak tau apa yang harus kukatakan Hyura-ya. Ini—terasa sangat aneh bagiku. Setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah menemui mereka”

“Ya tentu saja ini aneh, tapi kau harus berusaha, kau tidak bisa terus seperti ini, Eoh”

Dia melihatku, menatapku lama sebelum akhirnya menoleh pada nisan di depan kami. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya. “Aku… aku datang. Eo..E..Eomma—Appa. Yah, akhirnya setelah sekian lama. Beberapa hari terakhir kalian terus menghantuiku” Kyuhyun tersenyum miris. “Aku nyaman dengan tidak mengingat kalian membuatku lupa dengan rasa kehilanganku tapi…..” Kyuhyun melirikku sekilas, aku mengangguk “hal itu juga membuatku lupa rasa cintaku pada kalian. Maafkan aku setelah sekian tahun aku melupakan kalian.” Dia menunduk lalau terdiam cukup lama sebelum melanjutkannya lagi. aku meremas tangan Kyuhyun “Sejujurnya aku membenci kalian, karena itu bagiku tidak ada gunanya untuk mengingatnya. Kalian sangat kejam meninggalkanku terlalu cepat. Tapi….” Kyuhyun monelah padaku sambil tersenyum tipis, melepaskan tangannya dari genggamanku lalu menarik pinggangku menempel pada tubuhnya “Kurasa sekarang tidak lagi. Membenci orang tua adalah hal paling tidak berguna bukan?”

Aku mengangguk

Dia kembali pada nisan orang tuanya “Ðan—Terima kasih sudah mengirimkan malaikat yang sanagt cantik untukku” lanjutnya lalu mengecup pipiku sekilas “saranghae” bisiknya.

Aku tersenyum lebar, bahkan sangat lebar lalu memeluknya. Aku senang dia menerima kenyataan tentang orang tuanya.

Kyuhyun menjauhkan wajahnya membalas senyumku lalu menciumku intens.

“Ya!” Aku melepasnya paksa lalu memukul lengan “apa kau mau bermesaraan di pemakaman?”

Dia tergelak “Kurasa hari ini cukup. kita pulang?”

Aku mengangguk setuju, Kyuhyun membimbingku kembali ke jalan setapak.

“Pemandangan disini sangat indah” komentarku.

Kyuhyun hanya mengendikkan bahunya “seindah apapun ini hanya sebuah kuburan” sahutnya tidak peduli. Kami sampai di mobil, supir yang mengantarkan kami menunduk memberi hormat sebelum dia berbicara dalam bahasa mandarin yang tidak kumengerti,

            Aku tidak tau apa yang dikatakan supir kami tapi setelah mendengarnya postur tubuh Kyuhyun menengang dan raut wajahnya berubah seketika.

            “Ada apa? Apa ada masalah?”

            Kyuhyun menoleh padaku lalu tersenyum di paksakan “bukan apa-apa”

            “kau yakin?” tanyaku. Aku tau dia berbohong. Untuk apa, hanya dia dan tuhan yang atu, atau barangkali supir kami juga tau.

            Dia mengangguk lalu membukakan pintu mobil untukku, aku masuk dan bergeser hingga ke sisi berlawanan samapi Kyuhyun duduk di sisiku. Dia kembali berbicara pada supir kami dengan bahasa Mandarin. Tanpa menjawab, supir didepan hanya mengangguk patuh lalu menjalankan mobil.

            “Kita mau kemana? Kembali ke hotel?” tanyaku pelan.

            Kyuhyun tersenyum “Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi?”

            Aku menggeleng “Aku tidak tau”

            “Baiklah, kita beristirahat di hotel saja” katanya lalu berpaling menatap lurus kedepan. Aku tau ada dia sembunyikan. Wajahnya tidak serilex sebelumnya, tidak setelah supir kami mengatakan sesuatu padanya.

            “Kyu…”

            “……”

            “Kyuhyun-ah” Aku memanggilnya sedikit lebih keras

            “Eoh” dia sedikit terlonjak denagn suaraku yang tiba-tiba meninggi “Kau memanggilku?”

            Aku menilik wajahnya seksama, mencoba membacanya, tapi tentu saja aku tidak bisa. Ayolah aku bukan pembaca mimic wajah atau semacamnya.

“Apa ada sesuatu yang tidak kau beritaukan padaku?” tanyaku hati-hati.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

Aku mengangkat bahuku “hanya firasat”

Dia menatapku sebentar sebelum akhirnya mendesah “Yah, Ada kabar mengenai kakakmu”

Aku terkesiap “Benarkah?”

“Tapi belum dapat dipastikan. Aku harus memastikannya lebih dulu”

“Katakan padaku!” tuntutku

“Ada laporan mengenai warga Korea yang di rawat di salah satu rumah sakit di Daerah Hengshan”

“Aku mau kesana”

Dia menggeleng “Tidak sampai kupastikan itu benar-benar kakakmu”

“Aku ingin memastikannya sendiri. kumohon Kyu” Pintaku sedikit memelas

Dia tetap menggeleng

Aku meraih tangannya dan menggenggamnya, menatapnya penuh harap “Kumohon. Eoh”

Dia memejamkan mata sambil mendesah dalam. Aku tau aku berhasil melihat ekspresinya yang seperti itu. diam-diam aku tersenyum.

“Baiklah. Apapun yang kau mau honey” desahnya. Aku tersenyum dan memeluknya singkat

“Gomawo, Honey” sahutku. Dia tersenyum lebar, bahkan sangat lebar mendengar pertama kalinya aku memanggilnya dengan sebutan yang selalu dia gunakan untuk memanggilku. Aku khawatir apa pipinya tidak sakit.

Meskipun belum pasti tapi aku berharap ini sebuah kesalahan. Aku ingin menemukannya dalam keadaan senang dan bahagia. Seperti dia bertemu dengan gadis China yang sangat cantik lalu menikah dan saking bahagianya dia sampai lupa menghubungi kami. Yah meskipun hal itu lebih tidak mungkin. Tapi Aku tidak ingin menemui kakakku di rumah sakit. Kenapa dia bisa berada disana? Apa dia sakit? Atau kenapa?. Pertanayan it uterus berputar-putar dikepalaku selama perjalanan kesaan.

Hampir satu jam kami berkendara sampai mobil yang kami tumpangi terparkir di pelataran salah satu rumah sakit besar di Hengshan. Kyuhyun mengulurkan tangannya saat turun dari mobil. Dia membimbingku masuk kedalam. Bau Khas rumah sakit langsung menyerang penciumanku bahkan saat kami baru sampai di lobi.

Kyuhyun menghampiri bagian informasi dan berbicara pada suster yang bertugas. AKu tidak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Tentu saja aku sama sekali tidak mengerti bahasa Asing bahkan bahasa Inggrisku sangat payah. Aku begitu kagum pada kemampuannya berbahasa mandarin yang sangat lancar.

            “Apa katanya?” bisikku saat petuga di depan kami sibuk dengan kertas dan komputer diidepannya.

            “Dia sedang memastikan apakah orang yang dirawat disini benar-benar kakakmu” balas Kyuhyun tak kalah pelan

            “Menurutmu berapa persentasenya?”

            “aku tidak bisa menebak” sahutnya

            Petugas di depan kami mendongak dan mulai bicara lagi. Kyuhyun mendengar penjelasannya dengan seksama kemudian dia mengangguk dan menjawab dengan singkat yang di akhiri denagn ‘xie xie’

            “Apa katanya?” tanyaku lagi tidak sabar. Kyuhyun tersenyum tipis sambil melingkarkan tangannyadi bawah punggungku.

            “kita harus menunggu salah satu petugas keamanan yang akan mengantar kita”

            “Petugas keaaman?”

            “Pasien ini masih dalam pengawasan polisi. Karena itu kita perlu di damping petugas keamanan”

            Aku semakin tidak mengerti. Apa maksudnya dalam pengawasan polisi? Belum sempat aku bertanya seorang pria tinggi berseragam menghampiri kami. Dengan bahasa tubuhnya dia mempersilahkan untuk mengikutinya.

            “Kajja” Kyuhyun menggiringku di belakang pria tinggi tadi.

            “Apa maksudnya dengan pengawasan polisi?” Kami menaiki tangga ke lantai atas dan menyusuri lorong.

            “Pasien yang akan kita temui korban tabrak lari. karena itu masih dalam pengawasan polisi” jelasnya. Aku mengangguk mengerti sembari berdoa bahwa orang yang akan kami temui bukanlah kakakku. Petugas didepan kami membuka pintu ganda berwarna putih, Aku bisa melihat satu-satunya tulisan Alfabet besar yang bertuliskan ‘ICCU

            Jantungku berdetak lebih cepat saat kami memasuki ruangan tersebut. Kami menyusuri lorong yang dikelilingi kaca yang langsung bisa melihat pasien yang terbaring di raung intensive care. Petugas di depan kami berenti dan menunjuk ke sisi kiriku. Aku dan Kyuhyun menoleh sekaligus mendapat jawaban atas doaku. Begitu melihatnya, Aku tidak merasakan bumi dibawah kakiku lagi. Lututku lemas dan aku bisa jatuh kapan saja jika Kyuhyun tidak memegangi pinggangku.

            “Leeteuk Oppa” panggilku tanpa sadar. Kondisinya benar-benar mengerikan. Selang disekujur tubuhnya. Dihidung bahkan ada satu yang masuk kedalam mulutnya. Mesin-mesin medis di sekelilingnya yang menunjangnya agar tetap hidup.

            Aku menutup mulutku dan air mata yang sudah menusuk sejak tadi mengalir begitu saja. Aku tersisak sambil memanggilnya. Aku tidak percaya dengan apa yang telah di alami kakakku.

            “sstt semua akan baik-baik saja Hyura-ya” Kyuhyun memelukku sambil mengelus lembut punggungku.

            Aku membenamkan kepalaku di dadanya. Menumpahkan air mataku disana. Ini benar-benar tidak adil. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kakakku? Kenapa dia menjadi korban tabrak lari saat dia ingin menyelamatkanku?.

            Seorang petugas medis keluar dari ruang perawatan kakakku. Dia menayapa kami dan Kyuhyun. Aku membersihkan sisa-sisa air mataku dan menjauh dari Kyuhyun. Tersenyum minta maaf terhadap petugas tersebut karena menimbulkan sedeikit keributan. Petugas itu tersenyum memaklumi kemudian mulai berbicara dan sepertinya bertanya-tanya mengenai suatu hal pada Kyuhyun.

            “Dia bilang kau bisa masuk untuk melihatnya” kata Kyuhyun lembut

            Aku hanya mengangguk, belum bisa mengatakan sepatah katapun. Aku takut saat membuka mulut aku akan menangis lagi.

            “Honey, kau harus tetap tenang”

            Aku mengangguk lagi.

            Kyuhyun mengatakan sesuatu lagi pada petugas di depan kami. Dia mengangguk lalu mempersilahkanku untuk mengikutinya. Aku diberikan jubah dan sebuah masker steril sebelum masuk ke ruang perawatan Leeteuk Oppa.

            Aku melangkah perlahan mendekati tempat pembaringan kakakku. Aku tidak yakin dia masih hidup jika dadanya tidak bergerak naik turun. Aku begitu merindukannya, aku ingin sekali menyentuhnya tapi aku takut menyakitinya. Meskipun Dia tidak terlihat orang yang habis mengalami kecelakaan. Wajahnya masih terlihat tampan, walaupun ada bekas luka yang kelihatannya hampir sembuh di pelipis kirinya tapi itu sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.

            Aku menoleh kebelakang, ke tempat Kyuhyun berdiri di balik kaca. Dia melihatku lalu tersenyum tipis. Untuk sesaat aku benci merasa sendirian di dalam sini. Aku butuh Kyuhyun di sisiku. Aku ingin dia memelukku seperti biasanya.

            “Gwenchana?” tanyanya tanpa suara dari balik kaca.

            Aku memaksa senyumku lalu mengangguk. Aku kembali memandangi tubuh kakakku namun itu tidak bertahan lama. Aku buru-buru keluar, melepas dengan kasar jubah dan maskerku sembarang dan langsung menghambur ke pelukan Kyuhyun.

            “Hey..hey. semua akan baik-baik saja” bisiknya lembut. “kakakmu akan sembuh Hyura-ya. Kita akan melakukan pengobatan terbaik untuknya”

            “Apa yang harus kukatakan pada Eomma?”

            “Kau ingin Ibumu datang? Untuk melihatnya?”

            Aku menggeleng cepat “Aniya. Aku tidak ingin membuat Eomma jauh-jauh datang kesini hanya untuk melihat anaknya terbaring tidak berdaya”

            “baiklah kalau itu mau mu. Kita harus bicara dengan dokter”

            Aku mengangguk lalu mengikuti Kyuhyun.

            “Gomawo” ujar ku lemah

            “Untuk?”

            “membantuku menemukan kakakku”

            “Aku sudah berjanji padamu”

            “Apa kau masih tidka menyukainya?”

            “Tidak setelah melihatnya seperti itu. Aku turut meyesal”

            “Gomawo” kataku lagi.

            Kami berhenti di depan pintu, Kyuhyun mengetuknya sampai terdengar jawaban dari dalam baru dia membukanya. Seorang wanita pertengahan tiga puluh tahun mengenakan jubah putih dan seorang suster tersenyum saat melihat kami. Kemudian mempersilahkan kami duduk.

            Aku hanya diam saat Kyuhyun serta Dokter dan juga suster terlibat percakapan serius. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan saat aku bahkan tidak mengerti apa yang keluar dari mulut mereka.

            “Katakan padaku setiap detailnya! Aku tidak ingin satu katapun yang terlewat” pintaku saat aku dan Kyuhyun keluar dari ruangan dokter.

            “Akan kuceritakan di Hotel”

            “Kenapa tidak sekarang?”

            “ini hampir gelap. Kau kelelahan dan kau belum makan apapun sejak sarapan tadi pagi”

            “Aku tidak lapar. Aku juga tidak mau kembali ke hotel. Aku mau menemani kakakku disini. Jadi Katakan padaku sekarang”

            “Itu tidak akan terjadi. Kita pulang sekarang”

            “Shireo” rengekku

            Dia mendesah berat “Kau tidak akan merubah apapun dengan bersikap seperti ini Hyura-ya”

            “Tapi aku ingin disini Kyu…”

            “Kita kembali besok. Aku janji. Tapi sekarang kita harus kembali ke hotel”

            Aku cemberut. Aku benar-benar tidak butuh istirahat. Aku memang sedikit lelah tapi itu bukan masalah untukku.

            “Park Hyura!”

            Aku mendengus “arasseo”

***

Sudah lebih dari lima bulan kakakmu mengalami gejala mati otak. Atau biasaya orang lebih mengenalnya dengan istilah koma” kata Kyuhyun memulai. Setelah membersihkan diri lalu dilanjutkan dengan makan malam paksaan. Disinilah kami. Di kamar ternyaman di hotel ini. aku duduk bersandar di kepala ranjang sedangkan Kyuhyun duduk di sisi berlawanan denganku sambil memangku kakiku dan memijat telapaknya. Seharian memakai stiletto membuat kakiku mati rasa. Dan dengan baik hatinya Kyuhyun bersedia memberikan pijatannya.

            “lima bulan lalu kakakmu di temukan sebagai korban tabrak lari. Tidak ada identitas atau tanda pengenal lainnya. Jadi pihak rumah sakit ataupun kepolisian tidak bisa menghubungi siapapun”

            “Bagaimana dengan pelakunya? Apa mereka tidak menangkapnya?”

            Kyuhyun menggeleng “tidak ada petunjuk yang kuat untuk menemukan pelakunya”

            “Tidak mungkin”

            Kyuhyun berhenti lalu menatapku “Aku akan berusaha sebisaku” janjinya

            “Kau mau membantuku?”

            Kyuhyun tersenyum lalu mengangguk “Kau istriku dan dia keluargaku sekarang”

            Aku tersenyum, senang mendengarnya, Kyuhyun bisa menerima kakakku. “Ngomong-ngomong soal keluarga. Aku tidak mendengar kabar dari Ahra Eonni. Apa dia masih di Korea?”

            “Noona sudah kembali ke Shanghai sehari setelah kita tiba disini. karena aku mengambil cuti jadi dia sangat sibuk”

            “Apa kita bisa bertemu dengannya?”

            “Tentu. Aku akan mencari waktu jika kau mau menemuinya” katanya kemudian beralih ke kakiku yang lain.

            Aku mengangguk kaku. Cukup terkejut sebenarnya mendengar Ahra Eonni sudah kembali kesini. aku butuh berbicara dengannya. semoga kecurigaanku tidak benar.

            “Apa kita bisa membawa pulang kakakku?”

            “Akan kuurus. Kau tidak perlu khawatir. Apa kau mau sudah mau pulang?”

            Aku menggeleng sambil tersenyum malu-malu “aku masih suka kota ini”

            Kyuhyun terkekeh, dia menurunkan kakiku lalu merangkak menedekatiku lalu memelukku “kita akan tinggal selama yang kau mau”

            Aku tersenyum di dadanya “gomawo”

***

Keesokannya paginya Kyuhyun membawaku ke kantor pusat Cho”s Industries. Dia bilang ada sesuatu yang harus diurus sebentar. Baru setelah itu kami akan ke rumah sakit. Kantor pusat memang berbeda, ukurannya jauh lebih besar daripada kantor Kyuhyun yang ada Seoul. Pengamanan disini pun jauh lebih ketat. Aku harus melewati dua orang penjaga keamanan dan security detector.

Kyuhyun mengajakku naik ke kantornya. Aku tidak tau disini dia juga memiliki ruang kerja tersendiri. Dia langsung duduk dan menyalakan komputer di mejanya. Aku berdiri membelakanginya tidak jauh dari tempat duduknya sambil melihat pemandangan kota.

“Aku minta maaf harus tetap bekerja padahal kita sedang berbulan madu” katanya penuh penyesalan.

Aku menoleh. Dia memiringkan duduknya menghadapku “gwenchana. bukankah kita punya banyak waktu” aku tidak bohong. Aku tidak masalah meskipun dia tetap harus bekerja. Sebenarnya aku lebih senang tinggal di rumah sakit menemani Leeteuk Oppa sementara di bekerja di sini. Tapi kemungkinan besar dia tidak akan setuju.

“Aku janji tidak akan lama”

“Tidak usah terburu-buru. Gunakan waktumu sebaik-baiknya”

“Tidak, tidak. Ini benar-benar tidak akan memakan banyak waktu”

Aku hanya tersenyum “Aku mau ke toilet”

“Aku antar” dia bangkit dari kursinya. Aku buru-buru menahannya.

“Aku bisa sendiri”

“Tidak kau tidak bisa. Kau bahkan tidak tau dimana letak toilet”

“kalau begitu beritau aku”

“Aku antar!” katanya bersikeras

Aku menekan bahunya mendudukkannya lagi “duduklah disini dan cepat selesaikan pekerjaanmu. Dengan begitu kita bisa lebih cepat keluar dari sini”

“Tapi….”

Aku menciumnya sekilas sekaligus membungkam protesnya. Aku menjadi semakin ahli dalam hal ini. “Apa kau mau mengurungku disini seharian?” ujarku manja

“Kau benar” gumamnya. Dengan cepat dia mengangkat gagang telepon dan berbicara cepat dalam bahasa mandarin. Dia menutup teleponnya lalu melihatku “tunggu sebentar. Akan ada staff yang akan mengantarmu”

Aku tidak menjawab. Hanya mentapnya. Entah itu hanya alasannya takut aku tersesat karena memang aku asing dengan tempat ini atau dia belum bisa mempercayaiku. Seperti beberapa bulan lalu saat aku pergi meninggalkannya. Aku berharap kemungkinan yang pertamalah yang dipikirkannya tapi jika memang dia belum mempercayaiku setelah apa yang kuberikan dan kupercayakan padanya malam itu, sungguh itu menyakitiku.

Pintu di ketuk dua kali. Kemudain muncul wanita muda diambang pintu menunduk dalam. Kyuhyun mengatakan sesuatu padanya.

“Dia akan mengantarmu” kata Kyuhyun

Wanita tersebut tersenyum ramah dan mempersilahkanku. Aku melangkah mengikuti wanita tersebut tanpa melihat Kyuhyun. Aku menutup pintu kantor Kyuhyun lalu berjalan sepelan mungkin.

Do you speak English?” tanyaku. Kami menelusuri lorong panjang kemudian berbelok ke lorong yang lebih kecil.

Wanita itu menoleh dan masih tersenyum. Dia membukakakn pintu toilet untukku“Ofcourse Mam, what can I do for you?

Aku berhenti kemudian berdeham mengurangi kegugupanku karena minimnya kemampuanku berbahasa asing sambil berpikir apa yang harus kukatakan “my name is Park Hyura. and Cho Kyuhyun is my husband” wanita di depanku masih tersneyum dan sabar menunggu. Ya ampun aku terdengar seperti anak SD yang sedang melakukan perkenalan.

Park Jungso. Have ever heard that name?”tanyaku hati-hati

Wanita di depan terlihat berpikir sebentar lalu menggelang pelan sambil tersenyum minta maaf “I’m sorry mam, I never heard that name

Aku tersenyum kecut “its okay” kataku kemudian masuk ke bilik toilet. Aku menyelesaikan buang airku dengan cepat. Keluar bilik lalu mencuci tangan dan mengeringkannya. Wanita yang mengantarku masih berdiri di tempatnya saat aku masuk ke dalam tadi. tapi dia terlihat melamun. Dia bahkan tidak melihatku.

Aku berdeham keras membantu mengembalikan kesadarannya.

I’m sorry” dia menunduk meminta maaf.

Aku mengangguk dan berjalan melewatinya tapi dia memanggil namaku saat aku hendak menarik handle pintu.

Mrs Park”

Aku berbalik menghadapnya“ya”

”I’d just remember. Mr Park Jungso. He had came here to meet Miss Ahra”

“benarkah?” tanyaku spontan.

Excusme

“Ani maksudku. I mean are you sure? Really?”

Dia mengangguk mantap “six or five months ago. they meet at Miss Ahra’s Office”

thank you” aku menggenggam tangannya tiba-tiba. Dia sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum “welcome

Aku berbalik cepat kembali ke ruangan Kyuhyun. Dia sedang menelpon saat aku kembali, dia mengisyaratkan agar aku duduk tapi aku tidak melakukannya. Aku mendekati dan menunggunya. Dia balas menatapku. Seakan mengerti dia menyudahi pembicaraannya di telepon

I’ll call back you later” katanya sebelum menutup sambungan

“Aku ingin bertemu dengan Ahra Eonni” semburku langsung bahkan sebelum Kyuhyun membuka mulutnya.

“Noona sedang tidak disini. apa ada hal penting?” tanyanya kebingungan

“yah, mengenai Leeteuk oppa”

Dia mengernyit “Apa maksudmu?”

“Akan kujelaskan setelah kita bertemu dengan Ahra Eonni”

“Apa itu sesuatu yang mendesak?” tanyanya menyelidik.

“Tidak. Tidak juga” aku membuang muka. Entah kenapa aku merasa lebih baik berbohong. Jika tidak Kyuhyun tidak akan berhenti mendesakku sampai dia mendapatkan jawabannya.

“Kalau begitu duduklah. Akan kuselesaikan pekerjaanku setelah itu aku akan menghubungi Ahra Noona”

Aku mengangguk menurut. Duduk di sofa mencoba tenang , tapi aku tidak bisa. Aku duduk gelisah. Mengambil majalah meencoba mengalihakn perhatianku tapi percuma aku tidak mengerti apa yang tertulis disana. Menyerah. Aku mengambil remote lalu menyalakan tv. Memindahkan chanel tanpa tau apa yang harus ku tonton. Tanganku terus bergerak di atas remote tapi pikiranku melayang entah kemana. Aku benar-benar berharap kecelakaan yang kakakku alami tidak ada kaitannya dengan Ahra Eonni. Semoga itu semua hanya kebetulan.

Aku menoleh saat remote yang kupegang tiba-tiba menghilang. Kyuhyun sudah duduk di sisiku. Sejak kapan dia di situ? Kyuhyun menekan tombol off

“Apa aku mengganggumu? Mian, kupikir aku sudah menyetelnya dengan suara cukup rendah” kataku.

“Apa ada yang mengganggumu?”

“eh?”

Dia mendesah “Kau melamun dan terlihat gelisah, kau bahkan tidak sadar sudah mencapai channel dua ratusan. Apa ada yang mengganggumu?”

Aku bersandar di pungung sofa lalu mendesah “Hanya memikirkan Leeteuk Oppa. Aku ingin pelakunya di tangkap. Orang yang mencelakainya”

“Sudah kukatakan, aku akan beusaha sebisaku Hyura-ya. Kau….” Ucapannya terhenti saat terdengar ketukan di pintu.

Kyuhyun mendengus “masuk” sahutnya kasar

Pintu terbuka dan menampakkan seorang pria berpakaian rapi dengan jas dan dasinya. Dia tersenyum saat melihat kami, begitu pun dengan Kyuhyun. Kyuhyun berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. mengisyaratkan agar aku mengikutinya juga.

“Kau datang. Kenapa tidak memberitau ku?” Pria itu melenggang masuk lalu memeluk Kyuhyun singkat. Mereka terlihat seperti teman lama, terlihat bagaimana mereka saling menyapa begitu akrab. Bukankah Kyuhyun bilang dia tidak punya teman. Lalu siapa pria ini?

“Mian, tapi Aku hanya sebentar” sahut Kyuhyun

Pria itu menoleh melihatku “Ini….”

“Ini Istriku. Park Hyura. Hyura-ya ini Hangeng Asistan Noona”

Aku menunduk memberi salam “Park Hyura”

Dia menunduk singkat lalu kembali pada Kyuhyun. Entahlah, tapi sepertinya dia tidak nyaman melihatku.

“Sampai kapan kau akan ada di Shanghai?”

“Kami belum tau” sahut Kyuhyun sambil tersenyum dan menoleh padaku sekilas lalu melingkarkan tangannya dipinggannku. “kami masih ingin berbulan madu”

Hangeng tertawa Kecil “Aku tidak percaya kau tidak mengundangku ke pernikahanmu”

“Maaf tapi kami tidak mengundang siapapun. Tidak ada pesta dan tidak ada acara pernikahan. Kami menikah dengan cara yang sangat sederhana”

“Benarkah?” Tanya Hangeng keheranan

Kyuhyun hanya tersenyum sambil mengangguk pelan

Hangeng mengangkat bahunya “Yah mungkin kau punya alasan melakukan hal itu”

“Itu permintaan Hyura”

Hangeng mengernyit lalu melirikku seklias tapi kemudain wajahnya berubah santai lagi seolah mengatakan ‘itu bukan urusanku’

“Oh ya ada apa kau datang ke kantor padahal kalian sedang berbulan madu?”

“Ada sedikit masalah di Seoul, Aku harus mengeceknya sendiri”

“Ada yang bisa kubantu?”

“Terima kasih. Aku sangat menghargainya. Kau tau, aku membuat Istirku bosan menungguku bekerja”

Hangeng terkekeh “Senang bisa membantu. Jadi apa yang bisa kulakukan?”

Kyuhyun beralih ke meja kerjanya kemudian diikuti Hangeng. Dia menjelaskan apa yang harus Hangeng lakukan sambil menunjuk ke arah komputer dan beberapa kertas yang baru saja di print. Pria itu kelihatan pintar. Dia mendengarkan penjelasan Kyuhyun dengan serius, terkadang menanyakan sesuatu dan selebihnya dia hanya mengangguk.

“ Akan kubantu sebisaku”

Kyuhyun tersenyum sambil menepuk pundak Hangeng “Aku berhutang padamu”

“Jangan sungkan buddy

“Gomawo” kata Kyuhyun kemudian beralih padaku “Kau siap pergi?”

Aku mengangguk

Kyuhyun menepuk lengan atas Hangeng “Kami pergi dulu, terima kasih sekali lagi”

“Eoh, bersenang-senanglah. Anggap ini hadiah pernikahan dariku” katanya kemudian mereka berdua tertawa ringan. Kyuhyun menghampiriku. Aku menunuduk singkat pada Hanggeng sebelum berjalan keluar ruangan.

“Kalian terlihat Akrab. Apa dia temanmu?” kami berjalan menuju lift

Kyuhyun mengendikkan bahunya “Kami memang lumayan dekat tapi dia bukan temanku. Kami dekat karena dia asistan kakakku. Otomatis aku sering berinteraksi dengannya. Tentu saja kami hanya membicarakan masalah pekerjaan”

“Sepertinya dia tidak menyukaiku:

Langkah Kyuhyun berhenti lalu menatapku tidak suka “Untuk apa dia menyukai istri orang lain? Apa kau menyukainya?”

Aku memutar bola mataku “Menyukai dalam artian aku sebagai istrimu Cho Kyuhyun ssi”

Ekspresi Kyuhyun tidak berubah, dia masih menatapku tidak suka.

Aku mendesah keras “Dia tidak menyukaiku sebagai istrimu. Apa kau mengerti maksudku.”

“Tidak. Aku tidak mengerti. Lagipula Siapapun istriku itu bukan urusannya. Dia Suka atau tidak itu juga bukan urusanku”

“Arasseo arsseo” Aku mengamit lengan Kyuhyun memaksanya kembali berjalan. Dia mengikutiku tanpa protes meskipun tatapannya tidak begitu. “lagipula ini bukan pembahasan yang penting” gerutuku pelan.

***

Aku mengerjapkan mataku perlahan saat cahaya menusuk retina mataku. Aku melihat langit-langit dan kemudian menyadari aku barada di Hotel. Sejak kapan? Hal yang terakhir kuingat setelah pergi dari kantor Kyuhyun, kami ke rumah sakit dan menghabiskan waktu disana. Jadi kapan aku pulang?

Aku Berguling kesamping namun tidak menemukan apapun selain kekosongan. Aku terbangun cepat begitu menyadari Kyuhkanyun tidak ada di sampingku lalu kemudian mendesah lega saat mendengar gemericik air di kamar mandi. Aku merasa konyol dengan kebutuhanku atas keberadaan dirinya yang tidak beralasan.

Aku berniat melanjutkan tidurku saat bel pintu berbunyi. Mau tidak mau aku bangkit lalu mengenakan jubah tidurku. Mungkin itu pelayan hotel yang membawa sarapan kami. Karena Kyuhyun lebih suka sarapan di sini dibanding harus turun ke restoran.

“Surprise!!” seru Ahra Eonni begitu aku membuka pintu. Dia tersenyum lebar sambil mengangkat dua kantung belanjaan besar “Aku membawakan sarapan” katanya riang. Aku yang masih terkejut hanya terdiam.

“Apa kau tidak membiarkan aku masuk?” dengusnya pura-pura tersinggung.

“E..eoh. mian” aku menyingkir memberikan dia jalan. Tanpa ragu Ahra Eonni melangkah kedalam kemudian bersiul “Waw, tempat menginap yang sangat bagus” dia separuh menoleh sambil mengedipkan matanya padaku.

Ahra Eonni menuju dapur mini yang ada di penthouse kami. Meletakkan barang bawaannya di atas meja lalu membuka setiap laci di kitchen set memeriksa isinya.

“Sebaiknya aku ganti baju” kataku.

“Eoh” dia mengibaskan tangannya tidak peduli dan masih sibuk menyiapkan makanan yang dibawanya. Aku kembali ke kamar, Kyuhyun masih belum keluar dari kamar mandi, beruntung dia tidak mengunci pintunya.

“Hyura?” Panggilnya dari bilik shower saat aku membuka pintu.

“Eoh. Ini aku. Aku hanya mencuci muka” aku mengambil sikat dan pasta gigi di samping wastafel.

Dia membuka pintu geser lalu menyembulkan kepalanya. “Mau bergabung denganku?” tanyanya jail sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku memandangnya dari pantulan kaca di depanku sambil memutar bola matku malas. “Ahra Eonni datang. Cepat selesaikan mandimu”

“Benarkah? Eoh Arasseo” dia menutup lagi pintu geser. Aku kembali menggosok gigiku lalu mencuci muka dan mengeringkannya. Mengambil Jeans dan camissole sederhana berwarna putih lalu menguncir rambutku menjadi ekor kuda sebelum keluar menemui Ahra Eonni.

Bau harum langsung menyeruak begitu aku membuka pintu lalu menghampirinya. Dia sedang sibuk memanaskan sesuatu di microwave, sambil memblender buah. Kurasa tomat atau strawberri kalau dilihat dari warnanya. Pandanganku langsung menuju meja makan yang sudah penuh dengan berbagai jenis makanan yang kurasa tidak akan habis untuk dimakan bertiga.

“Kau mau sarapan?” tanyanya tanpa memandangku “roti? Waffle? Panekuk? Atau sup dan nasi?” dia mematikan blender lalu berbalik menghadapku.

“Segelas susu saja” sahutku singkat sambil mengambil sarung tangan saat bunyi ting terdengar dari microwave. Aku mengangkat pan berbentuk sedang yang berisi pasta dari dalam kotak pemanas itu kemudian menyajikannya di meja bersama teman-temannya yang lain.

“Hanya itu?” tanyanya heran.

“Hanya itu” sahutku membenarkan sambil membuka kulkas lalu mengeluarkan sekotak susu dan menuangkannya ke gelas. Sedangkan Ahra Eonni menuangkan hasil blenderannya ke dalam gelas kaca besar dan bersamaan kami meletakkannya di atas meja. Dia menarik bangku begitu juga denganku.

Dia mengambil roti lalu mengoleskan selai blueberry sambil berdecak pelan saat aku baru menyesap susuku sedikit. Aku berhenti dan meletakkan lagi gelasku. “Tidak heran kenapa kau begitu kurus” komentarnya

“Mwo?” aku menatapnya tidak terima

Dia tertawa kecil “ya ampun aku hanya bercanda”

Aku mendengus

“Tapi serius, kau terlalu kurus. Seolah adikku tidak memberimu makan”katanya tidak peduli lalu mengigit rotinya dalam gigitan besar.

“Eonni….” keluhku

“Arasseo arasseo. Minumlah susumu” dia mengisyaratkan agar aku kembali mengambil gelasku. Tapi aku sudah merasa kenyang melihat cara makan Ahra Eonni. Cara makannya seperti pengemis yang tidak makan berhari-hari. Aku heran dengannya, dia bisa bersikap seolah sebagai wanita kelas atas yang angkuh tapi bersikap seperti ini di depanku. Seperti memiliki kepribadian ganda.

“Oh ya tempat apa saja yang sudah kalian kunjungi di Shanghai?”

“Banyak”

Dia mengambil pasta langsung dari tempatnya. Aku memandangnya ngeri. Astaga, apa dia akan menghabiskan semuanya. Ahra Eonni berhenti sesaat begitu melihat ekspresiku “kau mau?” tanyanya polos

Aku menggeleng kaku “aniyo. Gwenchana. Eonni saja yang makan”

Dia mengangguk lalu mulai menyuap pastanya. “Berapa lama kalian berencana tinggal disini?” tanyanya lagi.

“kami belum tahu”

Ahra Eonni tersenyum “Baguslah, butuh berminggu-minggu untuk benar-benar menjelajahi kota ini. Aku senang kalian memutuskan untuk berbulan madu disini. Aku merasa sedang dikunjungi”

“Bukan tanpa alasan kami kesini”

“Oh ya” sahutnya tanpa melihatku

“Eoh, karena Kyuhyun ingin membawaku menemui orang tuanya”

“Uhuk..uhuk…” Ahra Eonni tersedak makanannya. Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri. Aku menyodorkan segelas air. Dia meminumnya tanpa bicara.

“Gwenchana?”

Dia mengangguk lalu mengangkat wajahnya menatapku tidak percaya, terkejut sekaligus takjub “kau bilang apa tadi? Orang tua? Maksudmu orang tua kami?”

“Ya tentu saja. Tidak mungkin orang tuaku kan”

“Di..Dia mengingatnya? Orang tua kami? Kyuhyun mengingatnya? Benarkah?” Ahra Eonni hampir berteriak saking bingung bercampur senang.

Aku hanya mengangguk menjawab semua pertanyaannya. Dia tiba-tiba saja berdiri dan tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca lalu menubrukku memelukku erat “Gomawo Hyura-ya. Aku tau kau bisa. Gomawo Hyura-ya. Jeongmal Gomawoyo”

“E..Eoh” Aku membalas pelukannya dengan canggung. Dia menjauhkan wajahnya sejenak untuk melihat wajahku kemudian tersenyum konyol dengan air mata di pipinya. Mau tidak mau aku ikut tersenyum. “Oh Ya Tuhan maafkan aku begitu cengeng