Famiglia [Part 1]

stb

Happy Reading N Sorry for Typho ^^

@Miss_Hoon

***

Aku membencinya dengan seluruh hidupku. 16 tahun lalu dia datang masuk ke dalam kehidupanku. Merusak segala kenyamanan hidupku dan juga keluargaku. Lee Donghae. Bocah laki-laki yang dibawa kakekku dari panti asuhan seminggu setelah kematian Appa. Bagaimana mungkin pria tua yang selalu kukagumi itu tiba-tiba saja datang dan mengatakan bahwa aku memiliki oppa. Anak ayahku dari wanita lain.

“Oppa?” Tanyaku bingung

“Geure Hyura-ya, mulai hari ini dia akan menjadi Oppa mu. Donghae-ah, cepat beri salam”

“Annyeonghaseo, Lee Donghae imnida. Bangaupseumnida” ucap bocah itu sambil menunuduk dalam. aku mendongak melihat wajah ibuku. Memastikan apa benar dia adalah oppaku? lalu kenapa kami memiliki marga yang berbeda? Tapi bukan jawaban yang kuperoleh justru wajah terluka ibuku yang kulihat.

Saat itu aku tidak mengerti kenapa wajah ibuku harus seperti itu? Bukankah sangat bagus jika aku memikiki oppa. Dengan begitu aku memiliki teman bermain dan kakek tidak akan terus menekanku.

Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya aku mengerti kenapa sikap ibuku sangat dingin padanya, memandangnya dengan tatapan tidak nyaman dan bagaimana sikap kakek yang selalu melindunginya, membuatnya menjadi prioritas utama, menjadikanku selalu yang kedua. Tentu saja Kakek mencari anak haram seperti dia bukan tanpa alasan. Sepeninggal ayahku, dia membutuhkan seorang anak laki-laki sebagai penerus. Sedangkan aku yang terlahir sebagai anak perempuan hanya sebagai pelengkap.

***

“Apa hanya ini yang bisa kau tunjukan?” Kakek melempar cd presentasi yang akan ku tunjukan pada rapat besok. Aku memandang pria tua didepanku ini dengan pandangan tidak percaya. “Harabeoji, ini……..”

“Donghae-ah, kau yang tangani proyek ini” potong kakek. Aku menatap pria tua didepanku tidak percaya kemudian membuang nafas kasar, Benar-benar tidak bisa di percaya.

“Hyura-ya, kenapa kau memberikan cd yang lama? Bukankah sudah kau perbaikinya” Donghae merangsek maju lalu memberikan cd yang bentuknya hampir sama dengan milikku. Aku memandangnya bingung. Apa yang dia lakukan?

Kakek mengambil cd yang dia berikan lalu langsung menyetelnya. Donghae sedikit menoleh ke arahku kemudian tersenyum. Cih apa-apaan dia?

Baru beberapa menit cd itu di putar tanganku langsung mengambik remot dan menekan tombol stop membuat kakek dan Donghae menatapku heran. “Itu bukan milikku” kataku dan menyerahkan remot ke dada Donghae sambik melriknya sinis sekilas kemudian beranjak dari sana tanpa memperdulikan teriakan kedua pria itu.

“Hyura-ya….Hyura-ya……” aku mempercepat langkahku. Aku bisa mendengar langkahnya semakin mendekat. Aku hampir mencapai ruanganku saat tangan itu menarik dan memaksaku berbalik.

Aku menatapnya sinis “lepaskan tanganmu”

Donghae mendesah lelah ” ada apa denganmu?”

“Kau masih bertanya ada apa?” Aku membuang nafas kasar “kau ini tolol atau apa hah? Memberikan karyamu dan mengakuinya sebagai memiliku. Kau bertingkah seperti pahlawan kesiangan”

“Siapa yang seperti pahlawan kesiangan? Itu memang karyamu, aku hanya menambahkan sedikit. Benar-benar sedikit”

“minggir!” kataku tegas dan menarik tanganku kasar lalu membuka pintu dan membantingnya di depan wajah Donghae. Aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di daun pintu lalu memerosotkan tubuhku. Menambahkanya sedikit? Cih jangan bercanda. apa dia tidak sadar tindakannya barusan sangat menghinaku.

 

“Park Hyura sadarlah!!”Eomma memegang kedua bahuku dan menatapku serius “Eomma mempertaruhkan segalanya untukmu. Kita tidak membutuhkan kakek atau anak haram itu. Eomma percaya kau dapat melakukan segalanya”

“E..eomma….” aku merengek saat merasakan ucapan ibuku seperti balok yang menimpa bahuku, setiap ucapannya bagaikan beban untukku. Tentu hal yang berat bagi anak berumur 8 tahun saat aku hanya tau cara memainkan Barbie.

“PARK HYURA!! siapa yang mengijinkanmu merengek” Eomma membentakku hingga air mataku keluar ketakutan. Hari itu pertama kalinya Eomma membentakku, Dia bukan seperti ibuku yang kukenal lemah lembut dan selalu tersenyum meskipun aku berbuat nakal.

“kenapa kau menangis? Jangan pernah tunjukan kelemahanmu dengan air mata! Seorang pemimipin yang kuat tidak akan menunjukkan kelemahannya. Kau akan memimpin Park Land suatu hari nanti. Tetaplah tersenyum meskipun masalahmu semakin berat. Jika kau ingin menangis, menangislah sendiri. Jangan pernah tunjukan kelemahanmu pada orang lain! Jangan percaya siapapun! Jangan tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya! Begitulah cara Park Hyura akan memimpin Park Land. Arasseo!!”

“Waeyo Eomma? kenapa aku tidak boleh menangis”aku mengusap air mataku yang mulai menggenang dan sebisa mungkin tidak menangis, seperti kata ibuku.

“Karena takdirmu bukan menjadi wanita biasa. Ayahmu mengkhianatiku, dan hanya kau satu-satunya orang yang bisa ku percaya Hyura-ya. Kau mengerti?”

Meskipun aku tidak terlalu paham apa yang Eomma katakan pada akhirnya Aku hanya mengang