Fou

fou

 

Happy Reading N Sorry For typho ^^

 

***

Lagi. Untuk yang kesekian kalinya pria itu berdiri sambil menatap nanar adiknya yang tidak berdaya di ranjang rumah sakit. Pagi ini Hyura ditemukan tekapar di kamarnya dengan mulut berbusa. Tentu saja ini bukan pertama kalinya gadis itu mencoba mengakhiri hidupnya. Bahkan luka di pergelangan tangannya belum benar-benar sembuh.

“Eomma” Leeteuk menggoyangkan bahu ibunya yang tertidur di sofa. “Eomma, bangunlah”  panggilnya lagi. Nyonya Park sedikit mengerang lalu perlahan membuka matanya.

“eohh, Leeteuk-ah wasseo?”

“Hmm, eomma pulanglah. Istirahat dirumah. biar aku yang menjaga Hyura.”

“Kau pasti juga lelah setelah pulang bekerja”

” aku tidak apa-apa”

Nyonya Park mendesah lelah “seharusnya hal ini tidak terjadi” mereka berdua menoleh mamandangi Hyura. Leeteuk duduk disamping ibunya lalu merangkul dan mengelus lelan bahu wanita paruh baya tersebut.

“Semuanya akan baik-baik saja” kata Leeteuk mencoba menenangkan ibunya meskipun terdengar tidak meyakinkan. Ia sendiri ragu adiknya akan baik-baik saja.

“Oh ya, bagaimana dengan Donghae?” Nyonya Park menatap anaknya penasaran.

“sepertinya ia juga mulai menerima keputusan keluarga kita. Kudengar ia juga sudah mulai berkencan dengan wanita”

“syukurlah kalau begitu”

Leeteuk tertawa kecil “dia bukan tipe pria yang akan terpuruk terlalu lama”

“Tapi sepertinya tidak dengan uri Hyura” desah Nyonya Park. Kalau boleh jujur ia sendiri lelah dengan keadaan anak perempuannya. “Leeteuk-ah, apa Hyura akan kembali seperti dulu?”

“Tentu, ia hanya perlu waktu” sahut pria itu sambil tersenyum tipis. “Sekarang sebaiknya eomma pulang sebelum terlalu malam” Nyonya Park mengangguk sembari menjauhkan tubuhnya dari Leeteuk. “Kau juga jangan lupa makan”

“Arasseo eomma”

“Baiklah kalau begitu eomma pergi dulu. Besok pagi eomma kembali”

“Eoh hati-hati” Leeteuk mencium kening ibunya sekilas sebelum ibunya pergi.

Sepeninggal ibunya suasana kamar rawat Hyura begith sepi. Hanya ada suara kardigraf dan suara tetesan air yang berasal dari infusan Hyura. Ingatan pria itu melayang pada malam sebulan lalu. Dimana awal mula adiknya menjadi seperti ini.

***

Malam itu Hyura pulang kerumah dengan keadaan lusuh. Ia bahkan tidak menjawab saat kakak dan ibunya bertanya. Mereka masih bisa mendengar tangisan gadis itu dari luar kamar. Namun gadis itu tetap bergeming dan tidak mau bicara meskipun Kakak dan ibunya memohon-mohon. Hampir 2 hari Hyura tidak mau keluar kamar. Bahkan gadis itu tidak makan dan minum.

“Hyura-ya, kau kenapa sayang? Eoh, eomma mohon buka pintunya”

“Hyura-ya……Park Hyura…… ”

Brakkkk

Nyonya Park terlonjak mendengar suara bedebum keras dari kamar putrinya yang membuatnya panik kalang kabut lalu memanggil Leeteuk. Tanpa berpikir dua kali Leeteuk mendobrak pintu kamar adiknya. Hyura ditemukan terbaring dibawah pintu kamar mandi dengan kain panjang yang diubah menjadi tali yang masih tersangkut di lehernya. Yah gadis itu mencoba gantung diri. Nyonya Park menjerit dan menangis melihat keadaan putrinya sedangkan Leeteuk hanya memandang tubuh adiknya tidak percaya. Adiknya yang begitu ceria bisa berpikiran untuk mengakhiri hidupya,

~

“Sepertinya sebelum ini nona Hyura mengalami kekerasan fisik” jelas kang uisanim

“Bagaimana bisa?” tanya Leeeteuk tidak percaya

“Luka lebam yang sepertinya sudah berhari-hari didiamkan itu ditemukan dibeberapa bagian tubuhnya” jelasnya lagi. Nyonya Park memenutup mulutnya tidak percaya kemudian terisak “astaga, Hyura-ya apa yang terjadi padamu”

“Eomma” Leeteuk merangkul ibunya Mencoba menenangkannya.

“Sebaiknya kalian harus lebih menjaga nona Park. Karena tidak menutup kemungkinan ia akan mencobanya lagi” mendengar hal itu air mata Nyonya Park semakin deras Dan menggeleng kasar.

“Seosangnim, aku ingin adikku di visum.tanpa terkecuali”

“Baiklah. Kami mengerti”

***

Tangan Leeteuk bergetar saat memegang hasil pemeriksaan visum adiknya. Sedangkan ibunya hanya bisa menangisi nasib putrinya. Hyura diduga menjadi korban pemerkosaan. Karena ditemukan luka di bagian kewanitaannya dan bercak merah keunguan di sekitar paha dan payudara gadis itu. Leeteuk menggeram parah lalu meremas kertas yang masih dipegangnya. Matanya mengilat penuh amarah dan rahangngya mengeras memperlihatkan urat-urat dibalik kulit putihnya.

“Aku bersumpah akan menemukan pelakunya dan kupastikan ia menerima akibatnya” geramnya dengan nafas masih memburu

“Hyura-ya….. aigoo uri Hyura-ya…..”Nyonya Park terisak, tubuhnya terhuyung kebelakang hampir terjatuh jika Leeteuk tidak menahannya. “Kenapa ini bisa terjadi padamu nak….ya tuhan , dosa apa yang pernah kami lakukan hingga menghukum putriku seperti ini….. Hyura-ya… Hyura Putriku…”

“Eommma” Leeteuk mati-matian menahan air matanya. Sedih, kesal, marah terlebih pada dirinya sendiri karena Ia merasa gagal menjadi seorang kakak untuk Hyura.

“Leeteuk-ah, katakan ini tidak benar eoh. Katakan….kumohon katakan!” Nyonya Park hampir memenjerit saat mengatakan kali