this fate or?

Author             : jeonghoon 20180
Judul Cerita     : this fate or?
Tag (tokoh)     : Lee donghae, park hyura(Oc), Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Park jungso

Genre              : romance

Disclaimer       : cerita ini murni dari pikiran saya jadi SAY NO TO PLAGIAT

 

this is fate or

Happy reading

 

***

Waktu belalu begitu saja. Bagiku waktu sudah sangat tidak berarti lagi. Entah sudah beberapa hari, minggu atau bulan yang kuhabiskan hanya termenung di sini sambil memegang buku harianku. Yah buku harian yang selalu kepegang tanpa pernah ada niatan lagi untuk menulis didalamnya. Sampai setahun lalu.

“hyura-ya, oppa berangkat dulu. Kau jangan lupa makan dan jaga dirimu baik-baik” kata Leeteuk oppa sebelum pergi kekantor dan kemudian ia mencium puncak kepalaku.

Begitulah ia setiap harinya tidak bosan untuk menyapaku, padahal sekalipun ia tidak pernah mendapat balasan dariku. Leeteuk oppa dia adalah satu-satunya kakak laki-lakiku yang masih bertahan disisiku. Tidak dengan kedua orang tua ku yang sudah menyerah dengan sikap abnormal anaknya ini.

Sudah sejak setahun lalu aku menutup diri dan memutuskan kehidupan sosialku. Mereka. Teman-temanku, kenalanku bahkan keluargaku beranggapan aku gila dan depresi berat. Karena kejadian itu. Yah kejadian setahun lalu yang membuatku kehilangan segalanya. Yaitu kecelakaan yang merenggut nyawa tunanganku, atau bisa dibilang aku sendiri yang merenggutnya. Aku masih ingat dengan jelas saat itu kami dalam perjalanan pulang dari daegu, aku menemaninya dalam perjalanan bisnis.

hari itu kami. Aku dan Lee sungmin, tunanganku bertengkar hebat. Saat itu aku sangat marah padanya. Sebulan menjelang pernikahan kami tiba-tiba ia meminta membatalkannya karena ia harus menikahi wanita lain. Aku mengamuk didalam mobil dan sungmin oppa mencoba menenangkanku tanpa menghentikan mobilnya. Alhasil mobil yang kami tumpangi terbalik dan menabrak pembatas jalan. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih kumiliki dan mengabaikan rasa nyeri disekujur tubuhku, aku berusaha membuka mata. Ku lihat sungmin oppa disebelahku sudah berlumuran darah.

“oppa…oppa ireona, oppa apa kau dengar aku?”aku terus mengguncang tubuh sungmin oppa “oppa kita harus keluar dari sini, oppa kumohon buka mata mu” aku berusaha melepas seatbelt yang menghimpit tubuhnya

“eunghh…eungghhh” sungmin oppa mengerang namun belum membuka matanya

“oppa kumohon buka matamu, kita harus keluar dari sini”aku masih berupaya membuka seatbeltnya, besi penguncinya bengkok dan aku kesulitan membukanya

“eung.. jihyun-ah, mianhe jihyun-ah”tanganku yang masih berkutat pada seatbelt miliknya tiba-tiba berhenti. Aku menatap sungmin oppa tidak percaya. Bahkan saat ini, saat maut sudah didepan kami, ia masih sempat menyebut nama wanita lain dan meminta maaf padanya. Amarah dan emosi menguasaiku. Seandainya kami berdua selamat maka aku akan tetap menderita karena harus melihat tunanganku menikahi wanita lain. Jadi kuputuskan untuk meninggalkannya, aku tidak sanggup melihatnya  diambil orang lain biarlah tuhan yang mengambilmu. Dengan terseok-seok aku menyeret diriku keluar dari mobil.

DUUAAAARRRR

Mobil itu tiba-tiba terbakar dan meledak tidak jauh setelah aku menyelamatkan diri. Aku memandang kobaran api itu dengan pandangan yang buram, karena mataku sudah tergenang, tapi hari itu hari terakhirku menangisinya. Bahkan saat pemakaman aku tidak menangis sama sekali, aku hanya memandang nisannya dengan pandangan kosong. Semua orang menganggapku depresi karena aku kehilangan calon suamiku sebulan sebelum hari pernikahan.

Dan disinilah aku sekarang, setiap hari aku hanya termenung ditaman belakang rumahku. Pada awalnya teman-temanku dan keluarga dekatku secara berkala mengunjungiku tapi lama-kelamaan mereka menyerah mendapatiku tidak ada perubahan. Aku seperti tidak mempunyai kehidupan. Kosong. Itulah yang mereka bilang. Ibuku sampai mencoba memanggil psikiater tapi aku malah mengamuk. Yah sebenarnya aku baik-baik saja. Aku tidak gila, aku tidak depresi, aku bersikap begini hanya untuk mengurangi rasa bersalahku pada sungmin oppa. Dan beginilah caraku menghukum diriku sendiri. aku juga  tidak perlu repot-repot menjelaskannya pada orang lain. Menyesal? Yah mungkin itulah yang kurasakan sekarang. Sampai sekarang pun aku masih dihantui rasa bersalah, aku sering bermimpi Sungmin oppa dia mendatangiku sambil menangis dan justru meminta maaf. Alhasil aku terbangun dengan menjerit dan keringat di sekujur tubuhku.

“nona muda, sebaiknya anda masuk, anginnya terlalu kencang, aku bisa dimarahi tuan muda kalau anda sampai sakit” ucap kim ahjumah sambil menyampirkan selimut tebal di bahu ku.

Tanpa memandangnya aku pun bangkit dan masuk kedalam rumah. Kudengar ia menghela nafas berat.

~

Tok~tok

Leeteuk oppa menyembulkan kepalanya di pintu kamarku. Aku menengok kearah jam yang ada dinakas sebelah tempat tidurku. Ini satu jam lebih cepat dari biasanya. Biasanya setelah pulang kantor Leeteuk oppa akan kekamarku dan menyapaku lagi dan dengan sedikit keberuntungan ia akan menawarkan makan malam bersama yang selalu mendapat gelengan kepala dariku. Tapi hari ini ia pulang kerumah lebih awal. Leeteuk oppa adalah orang yang teratur jadi kalau ada yang melenceng dari jadwalnya pasti ada sesuatu.

“boleh aku masuk?” tanyanya meminta izin, aku pun menganggukkan kepalaku. Begitulah aku, jarang sekali aku berbicara dan sekalinya berbicara tidak lebih dari 2 kata. Leeteuk oppa berjalan masuk dan duduk ditepi tempat tidur. Dia memandangku lekat kemudian tersenyum hangat sambil mengusap kepalaku.

“aku ingin meminta izin darimu” katanya memulai “tadi aku bertemu dengan junior ku waktu dulu aku kuliah di US. Dia baru pulang kekorea dan bekerja di perusahaan kita” Leeteuk oppa menarik nafas sebentar, sepertinya ia agak sedikit ragu. Tapi kemudian ia memulai lagi

“dia baru tiba hari ini, dan belum mendapatkan tempat tinggal, jadi kubawa ia pulang” aku memandang nya tanpa ekspresi. Aku sendiri bingung kenapa ia harus minta izin dariku, padahalkan ini bukan rumahku, maksudku ini rumah kedua orang tua kami.

“aku janji, ia tidak akan lama tinggal disini. Paling lama hanya seminggu, aku akan segara menyuruhnya mencari tempat tinggal. Dan kupastikan ia tidak akan mengganggumu. Bagaimana? Apa boleh?” tanyanya penuh  harap,

Aku mengangguk lemah. dan Leeteuk oppa tersenyum lega kemudian langsung memelukku

“gomawo hyura-ya, aku tidak tau bagaimana cara mengusirnya kalau kau tidak setuju” katanya sambil melepas pelukanku. Aku mengerutkan dahiku, memandangnya dengan tatapan apa-maksud-mu

“sebenarnya ia sudah ada dibawah” ucapnya malu-malu dan lagi-lagi aku hanya mengangguk mengerti

“kau sudah makan? Kau mau makan bersamaku?” tawarnya. Dan seperti biasa aku hanya menggeleng menolak ajakannya.

“araseo, kalau begitu istirahatlah” Leeteuk oppa mengecup puncak kepalaku dan pergi meninggalkan kamarku.

 

****

 

Author pov

Seperti biasanya di pagi yang berangin ini hyura keluar dari kamarnya dan menghabiskan waktunya di taman belakang. Tapi kali ini ia tidak hanya duduk saja di bangku kayu melainkan berjalan-jalan kecil dengan kaki telanjang menikmati basah nya rumput karena embun. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mengamatinya dari balik jendela.

“donghae-ah  kau sudah bangun?”panggil sebuah suara dari belakang. Pria yang dipanggil donghae itu pun membalikkan tubuhnya

“ne hyung, kau mau sarapan?”

“eo, kita sarapan bersama” ajak Leeteuk

“hyung, siapa dia?” donghae menunjuk seorang gadis yang memainkan kakinya dirumput basah sambil membelakangi mereka. Tadinya ia ingin menahan diri untuk tidak bertanya tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“hyura, dia adik perempuanku satu-satunya. Dan kau jangan mengganggunya .arra!”

“kau tidak mengajaknya sarapan bersama?” tiba-tiba saja raut muka Leeteuk berubah sendu.

“sudah hampir setahun ini kami tidak pernah duduk bersama di meja makan” Leeteuk mendesah berat. Ia juga bingung apa yang harus ia lakukan terhadap adik perempuannya itu.

“wae? Dia lebih suka makan sendiri?”

“mungkin, aku juga tidak tau. Tapi yang jelas sudah setahun ini ia memutuskan hubungan sosialisasinya. Bahkan denganku. Ia tidak pernah mau bicara padaku kalau aku tidak memulainya duluan, ia juga tidak pernah menjawab ucapanku lebih dari 2 kata”

“lalu bagaimana dengan orang tuamu hyung?”

“ayah dan ibuku sudah menyerah menghadapinya, bahkan ibuku yang dikenal sabar pun menyerah dan memilih tinggal bersama ayahku di US. Dan sekarang tinggallah aku sendiri yang ada disampingnya. aku tidak tega kalau harus meninggalkannya disaat semua orang menganggapnya depresi berat”

“depresi berat? Tapi dia terlihat baik-baik saja. Tidak seperti orang yang sedang depresi. Dan kenapa dia bisa seperti itu?”

“aku juga merasa seperti itu. Terkadang ia terlihat baik-baik saja. Mungkin ia hanya tidak mau berbicara tapi terkadang dia akan histeris dengan sesuatu yang aku tidak tau sebabnya. Selain itu sepertinya ia sering bermimpi buruk dan berteriak di tengah malam. Ibuku sampai membawa psikiater tapi lagi-lagi ia menjerit dan mengamuk. Sebenarnya aku juga tidak setuju dengan tindakan ibuku yang menganggapnya sudah gila sampai membawa psikiater segala…..”

“…..hal itu bermula setahun lalu saat ia kehilangan calon suaminya karena kecelakaan mobil, mereka berdua ada dimobil yang sama tapi adikku selamat karena ia terlempar keluar dari dalam mobil sedangkan calon suaminya masih terjebak didalam saat mobil itu meledak. Aku akan lebih lega kalau dia menangis histeris, tapi hingga hari ini ia bahkan tidak pernah mengeluarkan air matanya sama sekali untuk menangisi kepergian calon suaminya.” Leetuk tertunduk lemas dan menatap nanar sosok gadis yang ia bicarakan.

“kau yakin hanya itu penyebabnya? Aku juga kehilangan adik perempuanku tapi tidak separah ini”

“ya! kau tidak bisa menyamakannya, adik mu itu masih hidup”

“yah secara tidak langsung aku kehilangan sosok adikku.  kau mau aku membantumu? Mungkin aku bisa mengajaknya berbicara

“aniya, sudah kubilang jangan ganggu dia, belakangan ini sikapnya semakin membaik. Dan kau! cepat cari apartemen. Jangan kau harap bisa tinggal lama dan gratis disini”

“cih, padahal aku baru berniat begitu” kekehnya

***

“donghea-ah tolong gantikan aku ke jeju, besok ada presentasi mengenai resort baru kita disana, ini semua berkas yang harus kau bawa” Leeteuk dengan terburu-buru menyiapkan lembar demi lembar dokumen yang harus donghae bawa

“wow wow, tunggu dulu, apa maksudmu ke jeju? Aku ini karyawan baru, baru masuk kemarin kenapa sekarang sudah harus keluar kota?”

“donghae-ah tolong aku, ini hanya perjalanan 2 hari, eo!”

“ya! bukannya aku tidak mau menolongmu, tapi aku mana mengerti tentang pembangunan resort itu? aku tidak ikut andil dalam proyek itu, kau justru malah menggagalkan presentasi kita nantinya kalau mengirimku”

“tapi aku tidak mungkin meninggalkan hyura apalagi membawanya”

“hanya 2 hari kan? Aku bisa menjaganya untukmu” Leeteuk memandang donghae ragu, tapi ia tidak punya pilihan lain, benar kata donghae jika bukan ia sendiri yang berangkat maka rencana pembangunan resort bisa-bisa gagal

“aisshhh, percayalah padaku, aku janji tidak akan mengganggunya, aku akan menjaganya”

“baiklah, kalau ada apa-apa kau harus telpon aku!”

“araseo, sudahlah  kau pergi sana” donghae mendorong pelan bahu leeteuk, tapi baru beberapa langkah Leeteuk kembali lagi sambil mengacungkan jari telunjuknya seolah  mengingatkan “ingat jangan mengganggunya!”

“araseo, araseo”

~

Donghae sengaja pulang lebih awal, bukan karena pekerjaannya sudah selesai melainkan ingin cepat sampai rumah dan melihat adik kesayangan hyungnya itu. donghae terdorong rasa penasaran yang amat besar, ia ingin sekali melihat wajahnya karena tadi pagi ia hanya melihat dari belakang. Ia juga tidak tau seberapa depresinya gadis itu, karena dimata donghae gadis itu baik-baik saja dan mungkin memang tidak terlalu suka berbicara.

“ahjumah, apa hyura ada?” donghae langsung bertanya pada kim ahjumah setibanya dirumah, tapi kim ahjumah justru mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan donghae

“nona muda tidak pernah kemana-mana tuan, dia selalu ada dirumah” oke, donghae merasa salah mengucapkan pertanyaannya “err maksudku dia ada dimana?” donghae meralat pertanyaannya

“nona ada di halaman belakang” tunjuk kim ahjumah dengan dagunnya

“hah? Sejak tadi pagi dia masih disana?”

“nona belum akan masuk kalau belum gelap, bahkan terkadang dia masih disana meskipun hawa dingin sekali dan kalau itu terjadi aku yang akan dimarahi tuan muda” terdengar sekali ahjumah ini sudah muak dengan kelakukan majikannya itu.

“oh ya boleh kutanya satu hal lagi? kenapa aku sama sekali tidak menemukan foto disini?” ia cukup bingung dengan keadaan rumah ini, disini banyak sekali lukisan pemandangan alam tapi tidak satupun foto dari keluarga ini terpampang.

“beberapa foto nona sudah hancur ia pecahkan saat mengamuk dulu, karena itu nyonya besar menyimpan semua foto digudang dan menggantikannya dengan lukisan”

“oh kalau begitu terima kasih atas penjelasannya” kata donghae dan beranjak kehalaman belakang

“tuan” kim ahjumah memanggil donghae setelah donghae berjalan beberapa langkah di depannya

“ne wae?”

“saat ini tuan muda sedang tidak ada jadi ku mohon jangan ganggu nona muda”

“tenang saja aku tidak akan menganggunya, aku Cuma ingin menyapanya seperti yang biasa Leeteuk hyung lakukan”

~

Donghae berjalan perlahan mendekati hyura yang sedang duduk dikursi kayu sambil menunduk dan membolak balikan buku yang ia pegang dan donghae tidak tau pasti buku apa itu.

Ehem, donghae berdeham sebelum memulai,

“annyonghaseo” ucap donghae tegas dan otomatis membuat hyura mengangkat kepalanya memandang donghae. Mata mereka bertemu pandang untuk sekian detik. Donghae tertegun melihat mata itu. matanya indah dan teduh namun terkesan dingin, dan ia semakin yakin bahwa gadis cantik didepannya ini tidak gila atau pun depresi.

“Lee donghae imnida” donghae mengulurkan tangannya ke depan hyura, tapi hyura hanya memandang tangan itu bingung dan hanya sedikit menunduk membalas sapaan donghae. donghae menarik lagi tangannya, merasa salah tingkah.

‘boleh aku duduk disini?” donghae meminta izin tapi belum sempat hyura menjawab dia sudah duduk tepat di sebelah hyura.

“aku hoobae dari Leeteuk hyung, kakakmu. Dan hari ini ia tidak bisa pulang karena ada urusan di jeju, jadi aku yang menggantikannya untuk menjagamu” hyura menoleh cepat kearah donghae dengan tatapan tidak bersahabat, hyura merasa tersinggung dengan ucapan donghae. ia merasa sudah cukup besar tanpa perlu penjagaan, hyura mengira Leeteuk percaya padanya bahwa ia tidak gila tapi ternyata Leeteuk tidak jauh berbeda dengan orang tua dan teman-temannya.

Dengan cepat hyura bangkit dan meninggalkan donghae yang masih kebingungan dengan sikap gadis itu.

“ya! apa aku salah bicara? Kenapa kau pergi begitu saja? Apa kau marah padaku?” teriak donghae tapi tidak digubris oleh hyura.

***

“aishh” donghae membanting sumpit yang sedang ia pegang “ aku benci makan sendirian” gerutunya

“kenapa tuan apa masakannya tidak enak?” Tanya kim ahjumah yang tidak sengaja lewat di depan donghae

“aniyo, masakanmu sangat enak, hanya saja….” Donghae melihat sekeliling, memandang meja makan yang besar itu tapi hanya dia sendiri yang ada disitu. “oh ya, kau mau kemana ahjumah? Tidak bisakah kau temani aku duduk disini?” pinta donghae

“ye?” kim ahjumah menautkan kedua alisnya bingung dengan kelakuan tamu keluarga ini yang memintanya sebagai pelayan untuk duduk 1 meja dengan tamu majikannya

“iya, temani aku makan disini”

“ah maaf aku tidak bisa tuan, aku harus ke swalayan membeli bahan makanan yang sudah hampir  habis, kalau menemanimu dulu aku bisa kemalaman”

“araseo, kalau begitu pergilah” sahut donghae lesu, tapi donghae tidak kehabisan akal, kemudian ia pergi kedapur dan mengambil nampan lalu membawa makanan tersebut dengan nampan yang ia bawa

Tok~tok

Donghae membuka kenop pintu dengan perlahan dan memasukkan kepalanya sedikit untuk meminta izin kepada pemilik kamar tersebut.

Hyura memandang sengit pada seorang pria yang kini tengah duduk santai sambil memakan makanan yang ia bawa dengan lahap ke kamarnya.

“keluar dari kamarku” desis hyura

“setelah aku menyelesaikan makanku aku pasti keluar” donghae meletakan sumpitnya dan memandang hyura lurus-lurus “Apa kau tidak tau makan sendirian itu sangat tidak enak, hyura-ya”  hyura menutup dengan kasar buku yang sedang ia baca.

“wajahmu saat marah terlihat jauh lebih cantik daripada tanpa ekspresi, yah mungkin kalau tersenyum bisa lebih cantik lagi” ujar dongahe santai

“cepat keluar sebelum kesabaran ku habis” hyura menggertakan giginya menahan emosi sedangkan donghae dengan santainya melahap berbagai macam makanan yang ia bawa tadi.

“Lee donghae ssi kubilang KELUAR”

“kalau kubilang tidak mau, apa yang akan kau lakukan?” donghae semakin me