this fate or?

Author             : jeonghoon 20180
Judul Cerita     : this fate or?
Tag (tokoh)     : Lee donghae, park hyura(Oc), Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Park jungso

Genre              : romance

Disclaimer       : cerita ini murni dari pikiran saya jadi SAY NO TO PLAGIAT

 

this is fate or

Happy reading

 

***

Waktu belalu begitu saja. Bagiku waktu sudah sangat tidak berarti lagi. Entah sudah beberapa hari, minggu atau bulan yang kuhabiskan hanya termenung di sini sambil memegang buku harianku. Yah buku harian yang selalu kepegang tanpa pernah ada niatan lagi untuk menulis didalamnya. Sampai setahun lalu.

“hyura-ya, oppa berangkat dulu. Kau jangan lupa makan dan jaga dirimu baik-baik” kata Leeteuk oppa sebelum pergi kekantor dan kemudian ia mencium puncak kepalaku.

Begitulah ia setiap harinya tidak bosan untuk menyapaku, padahal sekalipun ia tidak pernah mendapat balasan dariku. Leeteuk oppa dia adalah satu-satunya kakak laki-lakiku yang masih bertahan disisiku. Tidak dengan kedua orang tua ku yang sudah menyerah dengan sikap abnormal anaknya ini.

Sudah sejak setahun lalu aku menutup diri dan memutuskan kehidupan sosialku. Mereka. Teman-temanku, kenalanku bahkan keluargaku beranggapan aku gila dan depresi berat. Karena kejadian itu. Yah kejadian setahun lalu yang membuatku kehilangan segalanya. Yaitu kecelakaan yang merenggut nyawa tunanganku, atau bisa dibilang aku sendiri yang merenggutnya. Aku masih ingat dengan jelas saat itu kami dalam perjalanan pulang dari daegu, aku menemaninya dalam perjalanan bisnis.

hari itu kami. Aku dan Lee sungmin, tunanganku bertengkar hebat. Saat itu aku sangat marah padanya. Sebulan menjelang pernikahan kami tiba-tiba ia meminta membatalkannya karena ia harus menikahi wanita lain. Aku mengamuk didalam mobil dan sungmin oppa mencoba menenangkanku tanpa menghentikan mobilnya. Alhasil mobil yang kami tumpangi terbalik dan menabrak pembatas jalan. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih kumiliki dan mengabaikan rasa nyeri disekujur tubuhku, aku berusaha membuka mata. Ku lihat sungmin oppa disebelahku sudah berlumuran darah.

“oppa…oppa ireona, oppa apa kau dengar aku?”aku terus mengguncang tubuh sungmin oppa “oppa kita harus keluar dari sini, oppa kumohon buka mata mu” aku berusaha melepas seatbelt yang menghimpit tubuhnya

“eunghh…eungghhh” sungmin oppa mengerang namun belum membuka matanya

“oppa kumohon buka matamu, kita harus keluar dari sini”aku masih berupaya membuka seatbeltnya, besi penguncinya bengkok dan aku kesulitan membukanya

“eung.. jihyun-ah, mianhe jihyun-ah”tanganku yang masih berkutat pada seatbelt miliknya tiba-tiba berhenti. Aku menatap sungmin oppa tidak percaya. Bahkan saat ini, saat maut sudah didepan kami, ia masih sempat menyebut nama wanita lain dan meminta maaf padanya. Amarah dan emosi menguasaiku. Seandainya kami berdua selamat maka aku akan tetap menderita karena harus melihat tunanganku menikahi wanita lain. Jadi kuputuskan untuk meninggalkannya, aku tidak sanggup melihatnya  diambil orang lain biarlah tuhan yang mengambilmu. Dengan terseok-seok aku menyeret diriku keluar dari mobil.

DUUAAAARRRR

Mobil itu tiba-tiba terbakar dan meledak tidak jauh setelah aku menyelamatkan diri. Aku memandang kobaran api itu dengan pandangan yang buram, karena mataku sudah tergenang, tapi hari itu hari terakhirku menangisinya. Bahkan saat pemakaman aku tidak menangis sama sekali, aku hanya memandang nisannya dengan pandangan kosong. Semua orang menganggapku depresi karena aku kehilangan calon suamiku sebulan sebelum hari pernikahan.

Dan disinilah aku sekarang, setiap hari aku hanya termenung ditaman belakang rumahku. Pada awalnya teman-temanku dan keluarga dekatku secara berkala mengunjungiku tapi lama-kelamaan mereka menyerah mendapatiku tidak ada perubahan. Aku seperti tidak mempunyai kehidupan. Kosong. Itulah yang mereka bilang. Ibuku sampai mencoba memanggil psikiater tapi aku malah mengamuk. Yah sebenarnya aku baik-baik saja. Aku tidak gila, aku tidak depresi, aku bersikap begini hanya untuk mengurangi rasa bersalahku pada sungmin oppa. Dan beginilah caraku menghukum diriku sendiri. aku juga  tidak perlu repot-repot menjelaskannya pada orang lain. Menyesal? Yah mungkin itulah yang kurasakan sekarang. Sampai sekarang pun aku masih dihantui rasa bersalah, aku sering bermimpi Sungmin oppa dia mendatangiku sambil menangis dan justru meminta maaf. Alhasil aku terbangun dengan menjerit dan keringat di sekujur tubuhku.

“nona muda, sebaiknya anda masuk, anginnya terlalu kencang, aku bisa dimarahi tuan muda kalau anda sampai sakit” ucap kim ahjumah sambil menyampirkan selimut tebal di bahu ku.

Tanpa memandangnya aku pun bangkit dan masuk kedalam rumah. Kudengar ia menghela nafas berat.

~

Tok~tok

Leeteuk oppa menyembulkan kepalanya di pintu kamarku. Aku menengok kearah jam yang ada dinakas sebelah tempat tidurku. Ini satu jam lebih cepat dari biasanya. Biasanya setelah pulang kantor Leeteuk oppa akan kekamarku dan menyapaku lagi dan dengan sedikit keberuntungan ia akan menawarkan makan malam bersama yang selalu mendapat gelengan kepala dariku. Tapi hari ini ia pulang kerumah lebih awal. Leeteuk oppa adalah orang yang teratur jadi kalau ada yang melenceng dari jadwalnya pasti ada sesuatu.

“boleh aku masuk?” tanyanya meminta izin, aku pun menganggukkan kepalaku. Begitulah aku, jarang sekali aku berbicara dan sekalinya berbicara tidak lebih dari 2 kata. Leeteuk oppa berjalan masuk dan duduk ditepi tempat tidur. Dia memandangku lekat kemudian tersenyum hangat sambil mengusap kepalaku.

“aku ingin meminta izin darimu” katanya memulai “tadi aku bertemu dengan junior ku waktu dulu aku kuliah di US. Dia baru pulang kekorea dan bekerja di perusahaan kita” Leeteuk oppa menarik nafas sebentar, sepertinya ia agak sedikit ragu. Tapi kemudian ia memulai lagi

“dia baru tiba hari ini, dan belum mendapatkan tempat tinggal, jadi kubawa ia pulang” aku memandang nya tanpa ekspresi. Aku sendiri bingung kenapa ia harus minta izin dariku, padahalkan ini bukan rumahku, maksudku ini rumah kedua orang tua kami.

“aku janji, ia tidak akan lama tinggal disini. Paling lama hanya seminggu, aku akan segara menyuruhnya mencari tempat tinggal. Dan kupastikan ia tidak akan mengganggumu. Bagaimana? Apa boleh?” tanyanya penuh  harap,

Aku mengangguk lemah. dan Leeteuk oppa tersenyum lega kemudian langsung memelukku

“gomawo hyura-ya, aku tidak tau bagaimana cara mengusirnya kalau kau tidak setuju” katanya sambil melepas pelukanku. Aku mengerutkan dahiku, memandangnya dengan tatapan apa-maksud-mu

“sebenarnya ia sudah ada dibawah” ucapnya malu-malu dan lagi-lagi aku hanya mengangguk mengerti

“kau sudah makan? Kau mau makan bersamaku?” tawarnya. Dan seperti biasa aku hanya menggeleng menolak ajakannya.

“araseo, kalau begitu istirahatlah” Leeteuk oppa mengecup puncak kepalaku dan pergi meninggalkan kamarku.

 

****

 

Author pov

Seperti biasanya di pagi yang berangin ini hyura keluar dari kamarnya dan menghabiskan waktunya di taman belakang. Tapi kali ini ia tidak hanya duduk saja di bangku kayu melainkan berjalan-jalan kecil dengan kaki telanjang menikmati basah nya rumput karena embun. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mengamatinya dari balik jendela.

“donghae-ah  kau sudah bangun?”panggil sebuah suara dari belakang. Pria yang dipanggil donghae itu pun membalikkan tubuhnya

“ne hyung, kau mau sarapan?”

“eo, kita sarapan bersama” ajak Leeteuk

“hyung, siapa dia?” donghae menunjuk seorang gadis yang memainkan kakinya dirumput basah sambil membelakangi mereka. Tadinya ia ingin menahan diri untuk tidak bertanya tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“hyura, dia adik perempuanku satu-satunya. Dan kau jangan mengganggunya .arra!”

“kau tidak mengajaknya sarapan bersama?” tiba-tiba saja raut muka Leeteuk berubah sendu.

“sudah hampir setahun ini kami tidak pernah duduk bersama di meja makan” Leeteuk mendesah berat. Ia juga bingung apa yang harus ia lakukan terhadap adik perempuannya itu.

“wae? Dia lebih suka makan sendiri?”

“mungkin, aku juga tidak tau. Tapi yang jelas sudah setahun ini ia memutuskan hubungan sosialisasinya. Bahkan denganku. Ia tidak pernah mau bicara padaku kalau aku tidak memulainya duluan, ia juga tidak pernah menjawab ucapanku lebih dari 2 kata”

“lalu bagaimana dengan orang tuamu hyung?”

“ayah dan ibuku sudah menyerah menghadapinya, bahkan ibuku yang dikenal sabar pun menyerah dan memilih tinggal bersama ayahku di US. Dan sekarang tinggallah aku sendiri yang ada disampingnya. aku tidak tega kalau harus meninggalkannya disaat semua orang menganggapnya depresi berat”

“depresi berat? Tapi dia terlihat baik-baik saja. Tidak seperti orang yang sedang depresi. Dan kenapa dia bisa seperti itu?”

“aku juga merasa seperti itu. Terkadang ia terlihat baik-baik saja. Mungkin ia hanya tidak mau berbicara tapi terkadang dia akan histeris dengan sesuatu yang aku tidak tau sebabnya. Selain itu sepertinya ia sering bermimpi buruk dan berteriak di tengah malam. Ibuku sampai membawa psikiater tapi lagi-lagi ia menjerit dan mengamuk. Sebenarnya aku juga tidak setuju dengan tindakan ibuku yang menganggapnya sudah gila sampai membawa psikiater segala…..”

“…..hal itu bermula setahun lalu saat ia kehilangan calon suaminya karena kecelakaan mobil, mereka berdua ada dimobil yang sama tapi adikku selamat karena ia terlempar keluar dari dalam mobil sedangkan calon suaminya masih terjebak didalam saat mobil itu meledak. Aku akan lebih lega kalau dia menangis histeris, tapi hingga hari ini ia bahkan tidak pernah mengeluarkan air matanya sama sekali untuk menangisi kepergian calon suaminya.” Leetuk tertunduk lemas dan menatap nanar sosok gadis yang ia bicarakan.

“kau yakin hanya itu penyebabnya? Aku juga kehilangan adik perempuanku tapi tidak separah ini”

“ya! kau tidak bisa menyamakannya, adik mu itu masih hidup”

“yah secara tidak langsung aku kehilangan sosok adikku.  kau mau aku membantumu? Mungkin aku bisa mengajaknya berbicara

“aniya, sudah kubilang jangan ganggu dia, belakangan ini sikapnya semakin membaik. Dan kau! cepat cari apartemen. Jangan kau harap bisa tinggal lama dan gratis disini”

“cih, padahal aku baru berniat begitu” kekehnya

***

“donghea-ah tolong gantikan aku ke jeju, besok ada presentasi mengenai resort baru kita disana, ini semua berkas yang harus kau bawa” Leeteuk dengan terburu-buru menyiapkan lembar demi lembar dokumen yang harus donghae bawa

“wow wow, tunggu dulu, apa maksudmu ke jeju? Aku ini karyawan baru, baru masuk kemarin kenapa sekarang sudah harus keluar kota?”

“donghae-ah tolong aku, ini hanya perjalanan 2 hari, eo!”

“ya! bukannya aku tidak mau menolongmu, tapi aku mana mengerti tentang pembangunan resort itu? aku tidak ikut andil dalam proyek itu, kau justru malah menggagalkan presentasi kita nantinya kalau mengirimku”

“tapi aku tidak mungkin meninggalkan hyura apalagi membawanya”

“hanya 2 hari kan? Aku bisa menjaganya untukmu” Leeteuk memandang donghae ragu, tapi ia tidak punya pilihan lain, benar kata donghae jika bukan ia sendiri yang berangkat maka rencana pembangunan resort bisa-bisa gagal

“aisshhh, percayalah padaku, aku janji tidak akan mengganggunya, aku akan menjaganya”

“baiklah, kalau ada apa-apa kau harus telpon aku!”

“araseo, sudahlah  kau pergi sana” donghae mendorong pelan bahu leeteuk, tapi baru beberapa langkah Leeteuk kembali lagi sambil mengacungkan jari telunjuknya seolah  mengingatkan “ingat jangan mengganggunya!”

“araseo, araseo”

~

Donghae sengaja pulang lebih awal, bukan karena pekerjaannya sudah selesai melainkan ingin cepat sampai rumah dan melihat adik kesayangan hyungnya itu. donghae terdorong rasa penasaran yang amat besar, ia ingin sekali melihat wajahnya karena tadi pagi ia hanya melihat dari belakang. Ia juga tidak tau seberapa depresinya gadis itu, karena dimata donghae gadis itu baik-baik saja dan mungkin memang tidak terlalu suka berbicara.

“ahjumah, apa hyura ada?” donghae langsung bertanya pada kim ahjumah setibanya dirumah, tapi kim ahjumah justru mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan donghae

“nona muda tidak pernah kemana-mana tuan, dia selalu ada dirumah” oke, donghae merasa salah mengucapkan pertanyaannya “err maksudku dia ada dimana?” donghae meralat pertanyaannya

“nona ada di halaman belakang” tunjuk kim ahjumah dengan dagunnya

“hah? Sejak tadi pagi dia masih disana?”

“nona belum akan masuk kalau belum gelap, bahkan terkadang dia masih disana meskipun hawa dingin sekali dan kalau itu terjadi aku yang akan dimarahi tuan muda” terdengar sekali ahjumah ini sudah muak dengan kelakukan majikannya itu.

“oh ya boleh kutanya satu hal lagi? kenapa aku sama sekali tidak menemukan foto disini?” ia cukup bingung dengan keadaan rumah ini, disini banyak sekali lukisan pemandangan alam tapi tidak satupun foto dari keluarga ini terpampang.

“beberapa foto nona sudah hancur ia pecahkan saat mengamuk dulu, karena itu nyonya besar menyimpan semua foto digudang dan menggantikannya dengan lukisan”

“oh kalau begitu terima kasih atas penjelasannya” kata donghae dan beranjak kehalaman belakang

“tuan” kim ahjumah memanggil donghae setelah donghae berjalan beberapa langkah di depannya

“ne wae?”

“saat ini tuan muda sedang tidak ada jadi ku mohon jangan ganggu nona muda”

“tenang saja aku tidak akan menganggunya, aku Cuma ingin menyapanya seperti yang biasa Leeteuk hyung lakukan”

~

Donghae berjalan perlahan mendekati hyura yang sedang duduk dikursi kayu sambil menunduk dan membolak balikan buku yang ia pegang dan donghae tidak tau pasti buku apa itu.

Ehem, donghae berdeham sebelum memulai,

“annyonghaseo” ucap donghae tegas dan otomatis membuat hyura mengangkat kepalanya memandang donghae. Mata mereka bertemu pandang untuk sekian detik. Donghae tertegun melihat mata itu. matanya indah dan teduh namun terkesan dingin, dan ia semakin yakin bahwa gadis cantik didepannya ini tidak gila atau pun depresi.

“Lee donghae imnida” donghae mengulurkan tangannya ke depan hyura, tapi hyura hanya memandang tangan itu bingung dan hanya sedikit menunduk membalas sapaan donghae. donghae menarik lagi tangannya, merasa salah tingkah.

‘boleh aku duduk disini?” donghae meminta izin tapi belum sempat hyura menjawab dia sudah duduk tepat di sebelah hyura.

“aku hoobae dari Leeteuk hyung, kakakmu. Dan hari ini ia tidak bisa pulang karena ada urusan di jeju, jadi aku yang menggantikannya untuk menjagamu” hyura menoleh cepat kearah donghae dengan tatapan tidak bersahabat, hyura merasa tersinggung dengan ucapan donghae. ia merasa sudah cukup besar tanpa perlu penjagaan, hyura mengira Leeteuk percaya padanya bahwa ia tidak gila tapi ternyata Leeteuk tidak jauh berbeda dengan orang tua dan teman-temannya.

Dengan cepat hyura bangkit dan meninggalkan donghae yang masih kebingungan dengan sikap gadis itu.

“ya! apa aku salah bicara? Kenapa kau pergi begitu saja? Apa kau marah padaku?” teriak donghae tapi tidak digubris oleh hyura.

***

“aishh” donghae membanting sumpit yang sedang ia pegang “ aku benci makan sendirian” gerutunya

“kenapa tuan apa masakannya tidak enak?” Tanya kim ahjumah yang tidak sengaja lewat di depan donghae

“aniyo, masakanmu sangat enak, hanya saja….” Donghae melihat sekeliling, memandang meja makan yang besar itu tapi hanya dia sendiri yang ada disitu. “oh ya, kau mau kemana ahjumah? Tidak bisakah kau temani aku duduk disini?” pinta donghae

“ye?” kim ahjumah menautkan kedua alisnya bingung dengan kelakuan tamu keluarga ini yang memintanya sebagai pelayan untuk duduk 1 meja dengan tamu majikannya

“iya, temani aku makan disini”

“ah maaf aku tidak bisa tuan, aku harus ke swalayan membeli bahan makanan yang sudah hampir  habis, kalau menemanimu dulu aku bisa kemalaman”

“araseo, kalau begitu pergilah” sahut donghae lesu, tapi donghae tidak kehabisan akal, kemudian ia pergi kedapur dan mengambil nampan lalu membawa makanan tersebut dengan nampan yang ia bawa

Tok~tok

Donghae membuka kenop pintu dengan perlahan dan memasukkan kepalanya sedikit untuk meminta izin kepada pemilik kamar tersebut.

Hyura memandang sengit pada seorang pria yang kini tengah duduk santai sambil memakan makanan yang ia bawa dengan lahap ke kamarnya.

“keluar dari kamarku” desis hyura

“setelah aku menyelesaikan makanku aku pasti keluar” donghae meletakan sumpitnya dan memandang hyura lurus-lurus “Apa kau tidak tau makan sendirian itu sangat tidak enak, hyura-ya”  hyura menutup dengan kasar buku yang sedang ia baca.

“wajahmu saat marah terlihat jauh lebih cantik daripada tanpa ekspresi, yah mungkin kalau tersenyum bisa lebih cantik lagi” ujar dongahe santai

“cepat keluar sebelum kesabaran ku habis” hyura menggertakan giginya menahan emosi sedangkan donghae dengan santainya melahap berbagai macam makanan yang ia bawa tadi.

“Lee donghae ssi kubilang KELUAR”

“kalau kubilang tidak mau, apa yang akan kau lakukan?” donghae semakin menantang hyura

“keluar kau BRENGSEK” hyura melempar buku yang masih di pegangnya kearah donghae tapi dengan sigap donghae menghindar dan berakhir dengan bunyi debuman keras saat buku itu membentur tembok. Bukannya mundur tapi donghae malah semakin menyeringai dan mendekati hyura. Gadis itu pun merasa terancam dan memundurkan langkahnya hingga ia tidak bisa kemana-mana lagi karena ia terpojok.

Donghae meletakkan satu tangannya disisi kepala hyura. Jarak wajah mereka tidak lebih dari 3 senti. “hari ini pertama kali aku melihatmu, dan aku sudah bisa melihat ekspresi marahmu. Begitulah seharusnya manusia, harus berekspresi” donghae berbalik dan mengambil nampan makanannya “terimaksih sudah menemani ku makan malam” ucapnya sesaat sebelum keluar

Tubuh hyura melorot ke lantai, ia meringkuk mendekap tubuhnya atau lebih tepatnya menekan dadanya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Hal yang tidak mungkin terjadi padanya ketika dalam keadaan sadar. Biasanya ia begitu setelah sungmin datang kemimpinya.

***

“ahjumah mana sarapanku?” Tanya hyura begitu ia tidak mendapati meja tempat biasa kim ahjumah meletakan makanan kosong. Biasanya pukul 6 pagi kim ahjumah sudah meletakkan sarapan di sana tapi ini hampir jam 7 dan itu membuat hyura turun sendiri untuk memastikan pelayannya tidak kabur dari rumah

“a anu itu ….” Kim ahjumah gelagapan dan bingung menjawab hyura

“aku yang menyuruhnya” sebuah suara muncul dari belakang, tidak perlu melihat siapa itu, karena dirumah ini hanya dia yang bersikap ekstrim

Hyura seolah menulikan pendengarannya, dan ia tidak mau terpancing lagi emosinya seperti semalam “ahjumah antarkan sarapanku seperti biasanya” kata hyura datar tanpa memperdulikan donghae

“baiklah nona muda” sahut kim ahjumah patuh. Hyura berbalik dan melewati donghae tanpa perlu memandangnya. tapi harapan hyura untuk melewati pagi ini dengan damai pupus sudah. Donghae menahan lengan hyura dan menariknya ke meja makan. Begitu pun dengan donghae yang seolah menulikan telinganya mendengar teriakan hyura.

“mulai hari ini kau akan makan di meja ini, sarapan bersamaku, dan setiap makan siang aku akan pulang untuk makan bersama mu, begitu pula dengan makan malam” ucap donghae tanpa memperdulikan tatapan tajam hyura

“kau. Siapa kau mengatur-ngatur ku? Bahkan kakakku pun tidak pernah melakukannya!”

“tapi aku bukan kakakmu nona park” sahut donghae santai, kemudian mendudukkan dirinya disamping hyura, berjaga-jaga agar gadis disampingnya ini pergi begitu saja. “kau mau sarapan apa? roti atau nasi?” donghae mulai mengoleskan selai coklat pada lembaran roti yang ia pegang

Kim ahjumah hanya melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan majikannya Leeteuk pun tidak berani memaksa nona muda. “ nona biasa sarapan dengan nasi dan susu hangat” kata kim ahjumah sambil meletakkan susu di depan hyura, kali ini ia mendukung tindakan donghae.

Donghae tersenyum puas mendapti hyura memakan sarapannya tanpa membantah lagi, meskipun dengan muka memberengut, tapi baginya itu sudah kemajuan yang cukup baik.”aku berangkat dulu, nanti siang aku kembali” ucap donghae sebelum pergi.

***

“YA! Lee donghae! apa yang kau lakukan pada adikku hah?” Leeteuk berteriak di telepon dan otomatis membuat donghae menjauhkan ponselnya dari telinga.

“wah cepat sekali beritanya menyebar, kau tau dari mana?”

“ tadi kim ahjumah menelpon katanya kau tidak mengizinkannya mengantar makanan untuk hyura, apa kau mau membiarkan adikku mati kelaparan? Apa kau ingin membunuhnya? Hah?” semprot Leeteuk

“aku hanya memintanya menemaniku makan di ruang makan, kau kan tau aku benci makan sendirian” sahut donghae tanpa dosa

“ya! kau mau membuat keadaannya semakin memburuk? Hah? seharusnya aku tidak mempercayakannya padamu”

“hyung, dia itu baik-baik saja, dia tidak depresi seperti yang kalian anggap. Masa kau  sebagai kakaknya begitu saja tidak mengerti. Aku saja yang sekali lihat langsung tau”

“adikku memang baik-baik saja kalau segalanya berjalan sesuai suasana hatinya, dia hanya terlihat seperti orang depresi di waktu-waktu tertentu”

“kata-kata mu berbelit-belit hyung, bilang saja kalau dia terlihat baik-baik saat sedang tidak kumat, begitukan maksudmu”

“y ya begitulah kira-kira”

“ck, kalau begitu tetap saja kau mengangggapnya seperti orang yang terganggu jiwanya. Kau ini bukan kakak yang baik”

“ya! aku sudah berusaha semampuku, bertahan terus berada di sisinya, walaupun aku merasa seperti hidup dengan patung”

“nah kau sudah melakukan bagianmu, sekarang biarkan aku melakukan bagianku”

“mwo? maksudmu?”

“hyung, adikmu itu seperti membangun dunianya sendiri dan membatasinya dengan tembok yang tidak bisa kita lalui. Selama ini kau terus menemaninya di balik tembok itu dan sekarang biarkan aku yang mencoba menghancurkan temboknya”

“kau ini sedang bicara bahasa apa sih? Kenapa aku tidak mengerti maksudmu?”

“aishh, sudahlah yang penting kau harus percaya padaku”

“tidak, aku tidak percaya padamu dan jangan lakukan hal itu lagi pada adikku. Arra!”

“mianhe hyung, aku tidak bisa janji….” Donghae langsung memutuskan sambungan dan mengeluarkan baterai dari ponsel miliknya. Kemudian ia mengangkat telepon yang langsung tersambung dengan sekertarisnya

“nona Jang kalau direktur park jungso menghubungi bilang aku tidak ada ditempat”

“ne algeuseumnida “ jawab orang di sebrang sana.

***

Seperti yang donghae katakan, setiap pagi kim ahjumah dilarang mengantarkan sarapan ke kamar hyura dan mau tidak mau hyura harus turun dan akhirnya ia harus bertemu Lee donghae yang lagi-lagi memaksanya sarapan bersama. begitupun dengan makan siang. Donghae pulang saat istirahat siang dan menarik hyura ke meja makan untuk makan bersama. Tidak mudah memang, karena donghae harus menjadi orang yang sangat keras kepala saat menghadapi hyura.

Lain halnya dengan makan malam. Biasanya saat donghae pulang hyura sudah masuk kamar dan sangat sulit menarik hyura untuk keluar dari kamar. Alhasil donghae lag-lagi harus membawa makanannya kekamar hyura, tapi kali ini dia membawa untuk dua orang. Untuknya sendiri dan untuk hyura. Awalnya hyura bersikeras akan memakan jatahnya nanti tapi donghae mengancam tidak akan keluar dari kamarnya sampai gadis itu mau memakan makanannya. Tapi hyura tidak mau lagi donghae datang kekamarnya untuk makan malam, karena dikamarnya donghae tidak bisa diam dan terus memperhatikan setiap barang yang ada dikamarnya. Alhasil sekarang dirinya dan pria yang baru 3 hari menempati rumahnya itu makan malam bersama di meja makan.

“bagaimana? Lebih enak makan bersama kan ketimbang sendirian?” kata donghae di sela-sela makan malam mereka.

“aku sudah selesai” hanya itu sahutan hyura, ia melap mulutnya denga tisu kemudian beranjak kembali kekamarnya. Tapi gadis itu merasa aneh karena donghae malah mengikutinya ke kamar. Hyura berbalik menatap donghae tajam saat ia sudah didepan pintu kamarnya

“aku hanya ingin mengambil gantungan ponselku, sepertinya terajatuh di kamarmu semalam” hyura menyipitkan matanya, menelisik curiga pada pria dihadapannya ini.

“aku hanya ingin mengambil barangku yang jatuh, gantungan itu penting sekali. kau tau”

“memangnya kau tidak bisa membelinya lagi?” Tanya hyura ketus

“bukan masalah barangnya tapi maknanya, itu pemberian dari orang yang ku sayangi”

“bukan urusanku” gadis itu sudah mau berbalik dan masuk tapi donghae menahan lengannya

“oh ayolah, ini hanya hal sepele”

“sudah kubilang bukan urusanku, lepas!!” hyura meronta dan mencoba melepaskan pegangan tangan donghae

“ani, aku akan terus begini sampai kau mengizinkan kumasuk.” Hyura mendengus kasar. Ia makin merasa daerah privasinya selalu dengan mudah di tembus oleh donghae. akhirnya hyura menyerah dan menyingkirkan badannya memberi space untuk donghae agar bisa masuk kekamarnya.

“kalau sudah ketemu, keluarlah!” pinta hyura, kemudian ia berbaring diranjang dan menyenderkan badannya di kepala ranjang. Gadis itu mengambil buku di nakas sebelah tempat tidurnya. Membukanya dan mencoba menenggelamkan diri ke dalam cerita buku tersebut.

“aku heran kenapa kau selalu membaca buku yang sama setiap harinya, apa kau tidak bosan” hyura menarik nafas dalam dan tetap mencoba berkonsentrasi pada buku yang sedang ia pegang. Tapi sulit sekali. karena suara pria itu terdengar sangat jelas di telinga nya. Dan lagi entah sudah keberapa kali buku itu ia baca, bahkan ia sudah mengafal ceritanya di luar kepala

“apa sebegitu menyenangkannya menjadi pengangguran? Setiap hari hanya duduk di halaman dan membaca buku yang sama. Aku tidak bisa membayangkan betapa membosankannya hidup mu”

“kalau sudah ketemu kau bisa keluar dari kamarku tuan Lee” desis hyura tanpa mengangkat wajahnya. tapi kemudian ia merasakan ranjangnya bergoyang sedikit yang menandakan bertambahnya beban diranjang itu.

Hyura mengangkat kepalanya dan bingo Lee donghae sudah ada di depan matanya sambil tersenyum tanpa dosa, membuatnya menggeram tertahan

“kau punya ponsel tidak?”

“eobso” jawab hyura malas dan kembali menekuni bukunya. Jelas saja hyura tidak punya ponsel. Ponselnya terbakar bersama mobil yang dulu ia tumpangi dan ia tidak berminat untuk membelinya lagi, toh tidak ada orang yang ingin ia hubungi.

“ck kau ini bukan hanya membosankan tetapi ketinggalan jaman” cibir donghae

Hyura menutup bukunya dengan kasar “kau bisa keluar sekarang tuan Lee!!” habis sudah kesabaran gadis itu. tapi donghae sama keras kepalanya dengan gadis itu jadi ia tidak akan mau mendengarkan apa yang diminta hyura.

Donghae menarik tangan kanan hyura dan meletakkan benda elektronik keluaran terbaru. “aku sudah memasukkan panggilan no 1 Leeteuk hyung dan aku di no 2” jelasnya tanpa menghiraukan keterkejutan gadis dihadapannya.

“aku tidak butuh benda ini” gadis itu melemparnya sembarang, untung saja masih terjatuh diatas ranjang. Dengan sabarnya donghae mengambil benda itu kembali dan mengutak-atiknya sebentar kemudain memberikannya lagi pada hyura.

“ini, aku sudah menghapus nomer ku, didalamnya hanya ada nomer Leeteuk hyung”

“sudah kubilang aku tidak butuh, tidak peduli ada berapa banyak nomer yang kau masukkan”

“wae? Kau tidak mau berhubungan dengan kakakmu juga?”

“aku bisa menggunakan telpon rumah ini kalau hanya untuk menghubunginya”

“apa kau pernah menggunakannya? Kurasa tidak. Dan lagi, apa kau menghafal nomernya? Kurasa tidak juga. Tidak kusangka kau senaif ini nona park”

“mwo? mworago?”

“kau yang merasa tidak butuh orang lain, hidup dalam dunia yang kau ciptakan sendiri, tapi tanpa kau menyadari karena siapa kau bisa hidup hingga kini……..”

“geumanhe”

“…….. kau kesepian tapi bukan mereka yang meninggalkanmu melainkan kau yang meninggalkan mereka.

“donghae ssi kumohon…….”

“……Sampai sekarang kakakmu masih menanggung semua kebutuhan mu, tapi kau justru merasa tidak membutuhkan kehadirannya. Seandainya ia tau bahwa adiknya berpikiran begitu mungkin ia akan menangis saat itu juga”

“geuman hara geo” hyura berteriak dan menutup telinganya, berharap tidak mendengar kata-kata tajam yang terlontar dari mulut seorang Lee Donghae. tapi nyatanya setiap ucapan donghae terdengar sangat nyaring ditelinganya bagai anak panah yang terus-terusan menusuk dadanya hingga ia marasakan nyeri yang amat sangat

“Kau terlalu egois nona park, didunia ini bukan hanya kau yang memiliki perasaan” ucap pria itu tajam, kemudian donghae bangkit dan meninggalakan hyura yang seperti orang sekarat. Donghae sebenarnya sangat sadar apa yang ia ucapkan, bahkan ia bisa melihat kepedihan di mata gadis itu.

“mianhe hyung, aku melukai adik kesayanganmu” gumam donghae di balik pintu kamar hyura.

***

Gadis itu meringkuk sendirian di sudut tempat tidurnya. Ia terus-terusan memukul dadanya berharap rasa sesak dan sakitnya akan hilang tapi tidak setetes air matapun yang keluar dari matanya.

“oppa, mianhe….” Kata itulah yang terus-terusan hyura ucapkan sejak donghae meninggalkannya. Tapi bukan ucapan pada umunnya, ini lebih terdengar seperti rintihan. Dan siapapun yang mendengarnya maka ia seperti merasakan apa yang di rasakan gadis ini.

Donghae yang sedari tadi masih berdiri didepan kamar hyura sudah tidak tahan  mendengarnya. Ia pun merangsek masuk kembali ke kamar itu dan menemukan betapa tidak berdayanya gadis yang ada dihadapannya sekarang. Gadis itu terlihat sangat menyedihkan.

“hyura-ya mianhe…..” donghae langsung menghampiri hyura dan memeluknya “hyura kumohon jangan begini, mianhe hyura-ya jeongmal mianhe”

“oppa…..aku… aku…”

“arasso….aku yang salah jangan diteruskan lagi” donghae makin mengeratkan pelukannya. Dan hyura pun semakin mencengkram kaos yang dikenakan donghae, berharap ia terus memeluknya seolah menahan agar dirinya tidak hancur berkeping-keping.

“aku pembunuh….. aku yang membunuhnya….. oppa mianhe… aku membunuhmu oppa” ucap hyura sambil terisak, air mata yang selama setahun ini tertahan akhirmya keluar juga. Donghae hanya terdiam dan ikut meringis merasakan apa yang salama ini hyura pendam sendiri. rasa kehilangan, penyesalan dan rasa bersalah yang begitu besar.

“keluarkanlah, keluarkan semuanya” lirih pria itu

“aku yang salah, aku yang membunuhnya, aku yang meninggalkannya. Aku membunuhmu oppa… harusnya aku ikut bersamamu. Oppa mianhe” airmata hyura terus mengalir tanpa ampun, donghae pun tidak keberatan baju rusak karena air mata hyura.

***

“tuan, anda sudah pulang” sapa kim ahjumah saat Leeteuk masuk kedalm rumah. Dan hanya dijawab dengan anggukan singkat dari majikannya itu

“apa hyura sudah bangun?”

“sepertinya nona belum bangun” Leeteuk pun melihat jam tangannya, merasa aneh. Ini hampir pukul 7 padahal biasanya hyura bangun pukul 6 “tidak biasanya hyura kesiangan” gumamnya

“lalu donghae?” Tanya lagi

“sepertinya tuan Lee juga belum bangun” Leeteuk semakin heran

“apa selama aku pergi meraka biasa bangun lebih siang?”

“tidak tuan, baru hari ini mereka bangun lebih siang”

“aneh sekali” gumamnya lagi “oh ya apa rumah baik-baik saja saat aku tidak ada?”

“baik tuan, malah sangat baik, nona hyura sudah mau makan bersama lagi, meskipun harus dengan paksaan dari tuan Lee”

“jeongmal?”

“ne tuan”

“baiklah sebaiknya aku melihat hyura dulu” ucap Leeteuk sebelum meninggalkan kim ahjumah

~

Leeteuk memotar kenop pintu dengan perlahan, ia takut akan membangunkan hyura. Ia baru menyelipkan kepalanya dipintu namun dalam sepersekian detik ia langsung melebarkan daun pintu selebar-lebarnya

“IGE MWOYA??” ucap Leeteuk menggelegar. Ia baru pergi beberapa hari tapi kemudian ia disuguhkan pemandangan yang entah baik atau tidak. Hyura dan donghae tidur disatu ranjang dan saling berpelukan.

Mereka. Donghae dan hyura pun terbangun dengan tiba-tiba karena teriakan Leeteuk.

“wae, waegurae?” Tanya donghae yang masih belum sepenuhnya sadar

“YA! apa yang kau lakukan pada adikku?” donghae dan hyura yang menyadari apa yang terjadi mereka langsung menjauhkan diri dan hyura semakin merapatkan selimut untuk menutupi tubuhnya.

“hyung ini bukan seperti yang kau pikirkan” ucap donghae kelabakan

“hyura-ya gwenchana? Apa si brengsek ini melukai mu?” kata leeteuk sambil berjalan menghampiri hyura, memastikan dongsaengnya ini baik-baik saja

“mwo? brengsek? Ya! hyung”

“diam kau, atau kau mau kubunuh hah?” ancam Leeteuk

“aniyo oppa, nan gwenchana”

“benarkah? kau yakin tidak apa-apa?”

“ya! hyung aku tidak melakukan apapun” sela donghae

“ya! kau bisa diam tidak?” leeteuk melemparkan bantal kearah muka donghae

“aishhh” donghae menggerutu sebal

“ne oppa, aku benar-benar tidak apa-apa” sahut hyura menenangkan

“benarkah?” Leeteuk menyipitkan matanya. Curiga “tapi kenapa matamu bengkak begini?” Leeteuk membelai lembut mata adiknya yang sembab karena menangis semalaman. Tapi hyura buru-buru mengusap matanya “aniyo oppa, mungkin ini karena kurang tidur saja” tapi Leeteuk tetap tidak percaya dan melemparkan Death glarenya pada donghae

“ya! neo” tunjuknya pada donghae “cepat katakan apa yang kau lakukan pada adikku semalam?”

“oppa, ini benar bukan apa-apa, jeongmal”

 

“lalu kenapa kalian bisa tidur satu ranjang dan berpelukan?” Tanya Leetuk lagi dan ia mendapati adiknya tertunduk malu serta semburat merah dipipinya. Hal yang mustahil terjadi dalam satu tahun belakangan ini.

Leeteuk memegang dagu hyura dan mengangkat wajahnya perlahan. Dia mengangumi bagiamana rona merah yang menjalari kedua pipi adiknya itu.

“hyura, kau adikku hyura kan? Aku tidak salah lihat kan? Kau benar-benar adikku kan?” Leeteuk memandangi wajah hyura takjub sedangkan hyura hanya mengernyitkan dahinya bingung maksud kakak laki-lakinya itu.

“ya tuhan terima kasih kau mengembalikan adikku” Leeteuk bersyukur dan langsung memeluk hyura. Ada perasaan hangat saat memluk adiknya lagi. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, ia merasa seperti memeluk patung yang dingin. Dan donghae pun menarik sudut bibirnya tersenyum melihat adegan didepannya itu

***

Ringan. Mungkin itulah yang hyura rasakan. Beban yang ada di dadanya seakan lepas begitu saja. Namun ia juga merasa heran kenapa didepan donghae dia begitu mudah mengatakan itu semua?

“bagaimana kalau sekali-kali kau duduk dibangku taman?” tawar donghae ketika hyura duduk di halaman belakang rumahnya. Yah meskipun hyura sudah agak sedikit terbuka namun ia masih sulit untuk bersosailisasi dengan orang asing.

“ehm, itu…”

“setidaknya keluar rumah sebentar saja” bujuk donghae “atau kita bisa ke toko buku, kau selalu membaca buku yang sama, apa kau tidak bosan?”

“tapi aku….” Hyura bingung mencari alasan, karena memang dia belum mau untuk membuka diri

“baiklah, sepertinya toko buku terlalu ramai, bagimana kalau kita ke taman dekat sini saja, eo?”

“donghae ssi tapi aku….”

“sst aku tidak terima penolakan, kajja” donghae langsung menarik tangan hyura tanpa perduli penolakan gadis itu.

~

“pegangan yang kuat yah!” seru donghae saat mulai mengayuh sepedanya

“ommo” hyura langsung memeluk pinggang donghae. ada rasa membuncah dalam dadanya saat merasakan terpaan angin yang menampar wajahnya. ia tidak tau bahwa hanya dengan naik sepeda ia bisa merasa sebebas ini. “donghae ssi pelan sedikit” pinta hyura

“apa? aku tidak dengar, keras sedikit” donghae menyahuti dengan berteriak

“kubilang pelan sedikit” gadis itu pun menjawab dengan suara yang sama kerasnya dengan donghae

“kurang keras HYURA-YA” donghae berteriak sambil tertawa, dia sebenarnya dengar apa yang dikatakan oleh gadis dibelakangnya itu, tapi ia sengaja dan justru lebih cepat mengayuh sepedanya.

“ya! Lee donghae, kubilang pelan-pelaaaaaaaaannnnnn” orang lain yang melihat mereka melintas hanya menggelengkan kepala. Karena Sepanjang jalan hyura dan donghae berbicara sambil berteriak.

***

“ini” donghae memberikan paper bag yang cukup besar pada hyura

“apa ini?” hyura menerima dan melihat isi paper bag tersebut, “banyak sekali bukunya?” gumamnya tapi masih cukup terdengar oleh telinga donghae

“itu semua milikku, mulai sekarang jangan hanya baca 1 buku saja, arra!”

“tapi ini semua kan milikmu, lagipula kenapa banyak sekali novel mistery? Aku tidak suka novel seperti ini”

“ya! aku sudah merelakan buku-buku kesayanganku, hargailah sedikit!”

“aku kan tidak memintanya”

“ya! Otakmu itu sudah terlalu lama tidak dipakai” donghae menoyor kepala hyura pelan” Novel-novelku ini sangat bagus untuk mengasah otak”

“aishh maksudmu otakku tumpul, begitu?” hyura tidak terima dengan pernyataan pria di hadapannya itu.

“aku kan tidak bilang apa-apa” donghae mengendikkan bahunya. “oh ya aku butuh bantuan mu?”

“bantuan? kau masih butuh bantuan dari wanita yang otaknya tumpul?” ujar hyura sengit

“ayolah, aku kan hanya bercanda?” bujuk donghae

Hyura memutar bola matanya malas “ bantuan apa?”

“besok aku pindah, apa kau mau membantuku?” hyura menoleh cepat, ia tidak menyangka donghae aka pindah secepat ini

“pindah?” Tanya hyura memastikan, dan donghae hanya mengangguk singkat sebagai jawabnnya.

“kenapa secepat ini?” terdengar sekali gadis itu tidak suka dengan keputusan yang diambil donghae

“ini sudah seminggu lebih hyura-ya, seharusnya aku pindah sejak 2 hari yang lalu” donghae pun sebenarnya tidak ingin meninggalkan hyura, ia takut gadis itu kembali tertutup jika ia pergi. Namun Leeteuk terus mendesak nya untuk segera keluar dari rumah itu. dengan alasan ia tidak mau kejadian saat ia pulang dari jeju terulang lagi. Meskipun donghae sudah meyakinkan Leeteuk hal itu tidak mungkin terjadi lagi tapi tetap saja orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya  itu tidak percaya

“aku akan tetap kesini setiap hari, dan aku janji akan pulang saat jam makan siang agar kita bisa makan bersama, otte?”

Hyura mendesah pelan “arasseo” jawabnya lemah, ia seperti masih tidak rela donghae pergi dari rumahnya. Pria itupun memeluk hyura hangat, sungguh ia juga tidak ingin meninggalkan gadisnya itu.

“kau takut kangen padaku eh?” donghae mencoba menggoda gadis yang ada dipelukannya itu.

“cih, pede sekali kau tuan Lee” donghae terkekeh mendengar gadisnya itu sudah bisa menyindirnya. “ah aku ada ide, bagiamana kalau kau bekerja saja”

“mwo?” hyura langsung melepas pelukan donghae begitu saja, memandangnya bingung “bekerja?”

“iya bekerja, hyung bilang kau penah bekerja di perusahaan, bagiamana kalau kau kembali lagi?”

Hyura berpikir sebentar “entahlah, aku tidak yakin untuk kembali bekerja disana”

“wae? Aku yakin kemampuanmu masih sama. Kau bisa menjadi sekertarisku kalau kau mau. Dengan begitu kita akan selalu bersama sepanjang hari. Otte?”

“ya! lalu mau kau kemanakan sekertarismu?”

“aku bisa meminta hyung untuk memindahkannya ke divisi lain, Leeteuk hyung juga pasti senang jika kau kembali ke perusahaan”

“kau mau aku jadi bahan guncingan karyawan lain? Tiba-tiba saja kembali dan mengambil posisi orang lain”

“kalau begitu bagaimana kalau bekerja dirumahku saja?”

Alis hyura saling bertaut “maksudmu?”

“kau bisa bekerja mengurus rumahku, dan aku akan membayarmu” jawab donghae polos

“mwo? kau mau menjadikanku pembantu? aish mimpi saja kau tuan Lee” sahut hyura sewot dan meninggalkan donghae begitu saja sedangkan donghae sudah tertawa geli melihat reaksi gadis itu

***

 

6 month later

Ini sudah hari ketiga donghae tidak datang kerumah untuk menemani hyura makan siang. Dan karena hal itu mood hyura selama 3 hari itu pun benar-benar buruk.

Hyura menutup buku pemberian donghae dengan kasar “tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi, sebenarnya kemana kau tuan Lee?” ujar hyura gusar. Ia sudah berkali-kali mencoba menelponnya tapi hanya suara operator yang ia dapatkan. Begitulah sekarang gadis itu. sangat bergantung pada donghae, karena 6 bulan belakang ini tiada hari tanpa bertemu pria itu dan harinya akan terasa kurang jika tidak melihat sosoknya

Tanpa ia sadari ia sangat membutuhkan kehadiran sosok pria itu. mereka memang tidak saling mengutarakan kata cinta, tapi mereka berdua sadar mereka saling membutuhkan.

Hyura merasa risih saat Semua mata melihat kearahnya, ia seperti papan reklame yang berpendar dan menarik semua perhatian orang. Ini sudah lebih dari setahun setengah ia tidak menginjakkan kaki di perusahaan milik keluarganya itu. Wajar saja semua orang jadi memperhatikannya. Karena mereka mengira putri pemilik tempat mereka bekerja sedang mengalami depresi berat. Tiba-tiba datang dengan wajah yang jauh lebih bersinar dan lebih cantik sejak setahun lalu.

Hyura mendesah lega saat ia sudah masuk lift, tapi perasaan leganya hanya sementara sampai lift berhenti di lantai 3 dan ada orang yang hendak memasuki lift yang sama dengan hyura.

“park hyura? Kau park hyura kan?” pekik seorang gadis yang baru saja memasuki lift yang sama dengan hyura

“choi sooyong?”

“ommo, ternyata benar ini kau” gadis yang dipanggil sooyong itu pun langsung memeluk hyura. Sooyong adalah teman satu divisi saat hyura masih bekerja di perusahaan keluarganya.

“tidak kusangka 1 tahun tidak bertemu kau bertambah cantik saja” puji sooyong saat mereka melepaskan pelukannya

“gomawo sooyong ssi, bagiamana kabarmu?” Tanya hyura berbasa-basi

“aku? Aku baik-baik saja, kita harus mengobrol, banyak sekali yang ingin kubicarakan padamu”

“ah, mianhe aku tidak bisa sekarang. Aku ada urusan”

“gwenchana, lain kali kalau luang kau bisa datang lagi kesini” sahut sooyong yang diiringi senyum ramah,

Ting

“ah, aku dulan” ucap hyura saat pintu lift terbuka “kau juga mau le lantai ini?” Tanya hyura bingung saat sooyong ikut keluar dari lift. Setahu dia harusnya sooyong bekerja di lantai 21 sedangkan ini baru dilantai 18.

“temanku dari divisi perencanaan meminta bantuanku, katanya bosanya sedang sakit dan sudah beberapa hari tidak masuk. Dan kau bukannya mau bertemu direktur park? Kenapa kau juga turun disini?”

Hyura mengusap tengkuknya, ia sedikit malu karena ia jauh-jauh kesini bukan untuk menemui kakaknya “ani, aku kesini untuk bertemu Lee donghae” jawab hyura malu-malu

“maksudmu manajer Lee?” hyura mengangguk singkat. “aigoo~ pantas saja Manajer Lee tidak pernah melirik wanita dikantor, ternyata dia sudah punya kau” pernyataan sooyong membuat hyura semakin tertunduk

“oh ya memang kau tidak tau manajer Lee sudah 3 hari tidak masuk, ia sedang sakit”

“mwo?” hyura berjengit kaget. ia bahkan tidak tau kalau donghae sedang sakit. “kalau begitu aku duluan” ucap hyura tergesa-gesa kembali lagi masuk kedalam lift. Tujuannya saat ini adalah ruangan Leeteuk. Ia perlu menanyakan alamat apartement donghae.

***

Hyura berdiri kaku didepan apartement donghae. ini pertama kalinya ia datang kesini. Dulu saat donghae meminta bantuan saat pindahan  ke apartemen hyura menolaknya.

Hyura menarik nafas panjang sebelum ia menekan bel apartemen donghae. pria itu berdiri dengan senyum mengembang saat membukakan pintu untuk hyura. Penampilannya memang menunjukan dia sedang sakit. Hidungnya yang merah dan mukanya yang pucat.

“wasseo?” ucap donghae dengan suara serak

“kau tidak membiarkanku masuk?” mendengar itu donghae langsung menyingkirkan badannya untuk memberikan jalan masuk untuk hyura.

“kenapa tidak memberi tahu ku kalau kau sakit? Dan kemana ponsel mu?” omel hyura sambil mendudukkan dirinya di sofa yang terletak di ruang tamu.

“aku lupa menaruh ponselku dimana, sepertinya tertinggal di mobil. Aku Tidak punya tenaga untuk turun ke basement” sahut donghae manja, kemudian memeluk pinggang hyura dan meletakkan kepalanya di bahu gadis yang duduk disebelahnya itu.

“lalu bagaimana kau menghubungi kantor? Rekan kerjamu saja tau kau sakit sedangkan aku tidak tau apa-apa”

“aku tidak menghubungi kantor sama sekali, semalam sekertarisku datang menyerahkan dokumen yang harus kutanda tangani” jelasnya dengan mata tertutup. Hyura melirik sekilas, kemudian tangannya memegang kening donghae dan memeriksanya.

“kau demam, sudah minum obat?” Tanya hyura lembut, donghae menggeleng pelan.

“tidurlah di kamar aku akan buatkan bubur dulu, setelah itu kau harus minum obat” tapi donghae justru semakin mengeratkan pelukannya, ia tidak mau melepaskannya

“donghea-ah” keluh hyura

“shiro, aku sangat merindukanmu, biarkan begini sebentar saja eo”

“tapi kau perlu makan dan minum obat. Apa kau tidak mau sembuh?” pria itu tidak menjawabnya, ia lebih memilih mengabaikan protes hyura dan melepaskan kerinduannya pada gadis itu.

“Lee donghae” hyura mulai tidak sabar dengan kelakuan manja pria disampingnya itu.

“arasseo arasseo” donghae langsung melepas pelukannya dan berjalan kekamarnya dengan menghentak-hentakan kaki yang menandakan dia kesal. Dan hyura hanya bisa menggeleng-geleng melihatnya.

***

 Hyura bersiap pulang setelah membereskan sisa bubur yang tadi ia berikan pada donghae. ia juga tidak lupa memberikan donghae obat.

“kau mau pulang?” Tanya donghae dengan nada tidak suka. Yah pria itu masih merindukan gadisnya.

“aku janji pada Leeteuk oppa, aku sudah sampai rumah saat dia pulang nanti”

“tapi kan aku sedang sakit, masa kau tega meninggalkanku” rengek donghae

“oppa bisa membunuh mu kalau aku pulang terlambat”

“setidaknya tinggallah sampai makan malam, kalau kau pulang sekarang, malam ini aku tidak mau makan”  hyura mendesah berat mendengar rengekan donghae.

“arasseo, aku akan pulang setelah makan malam” sahutnya mengalah “kau mau makan apa? biar aku masakkan”

“aku ingin sup kuah ikan” ucap donghae sambil nyengir seperti anak umur 5 tahun yang habis diberikan permen

Donghae menyenderkan badannya di konter dapur sambil melipat kedua tangannya. Kedua matanya pun tak lepas dari hyura yang sibuk memasakkan pesanannya

“lebih baik kau istarahat di kamar” ucap hyura sambil mengaduk sup “bagaimana kau tidak sakit, kulihat di tempat sampah hanya ada bungkus mi instan. Apa kau hanya makan mi instan? jangan-jangan kau makan nasi hanya saat di rumahku. Bukankah waktu itu aku sudah bilang lebih baik tidak usah pindah. Aku bisa bicara pada oppa. Kau ini keras kepala sekali” donghae tersenyum melihat hyura terus berbicara.

“kau terlalu banyak bicara nona park, tapi aku suka mendengar suaramu, terus lah berbicara!”  ucap donghae sambil tersenyum

“kau ingin aku bicara apa? memangnya kau mau aku terus mengomel seperti ibu-ibu yang cerewet? Mengomeli mu yang tidak bisa mengurus diri sendiri”

“seharusnya kau yang jadi sekertarisku, jadi aku ada yang mengurus” hyura melirik donghae dengan malas, ia tidak mau membahas soal pekerjaan lagi. Belakangan ini memang Ia berpikir akan bekerja kembali tapi tidak diperusahaan milik keluarganya

“aku tidak mau mengambil posisi orang lain” ucap hyura sambil mulai menata meja makan, masakan yang ia masak hampir selesai semua.

Donghae berjalan perlahan mendekati hyura kemudian memeluknya dari belakang. Ia sangat menyukai aroma shampo hyura. Gadis itu sedikit berjengit saat donghae mencium tengkuknya

“kita menikah eo” bisik donghae di telinga hyura dan otomatis gadis itu menjatuhkan sumpit yang tengah ia pegang.

“mworago?” hyura menolehkan kepalanya cepat.  Donghae pun mengambil kesempatan ini untuk mengecup bibir hyura

Cup

“aku ingin memilikimu seutuhnya” jawab donghae singkat

“donghae-ah, apa ini tidak terlalu cepat?” Tanya hyura ragu

“ kau meragukanku?” hyura menggelang cepat. Ia tidak meragukan donghae sama sekali tapi ia tidak terlalu yakin ia cukup baik untuk pria itu mengingat masa lalunya yang menurutnya sangat buruk.

“lalu?”

“a aku tidak yakin dengan diriku sendiri, aku merasa tidak cukup baik untuk mu”

“kau yang terbaik untukku” ucap donghae sebelum akhirnya ia melumat bibir hyura lembut “saranghae nyonya Lee”

“ya! kau mau menulariku?” donghea pun terkekeh

***

 “kita mau mengunjungi siapa?” Tanya hyura saat donghae memakirkan mobilnya di pelataran rumah sakit yang letaknya dipinggiran kota seoul. “siapa yang sakit?” Tanya gadis itu lagi.

“adikku, aku ingin mengenalkan adikku padamu” jawab donghae sambil mengulurkan tangannya pada hyura seteleh ia membukakan pintu mobil untuk gadisnya.

Terlihat seorang gadis dengan pakaian rumah sakit sedang menjahit boneka tedybear. Gadis itu terlihat sangat menikmati kegiatannya. Sedangkan sepasang kekasaih itu hanya memperhatikan dari balik kaca yang terdapat pada pintu kamar tempat gadis yang sedang menjahit itu.

“dia… sakit apa?” Tanya hyura akhirnya setelah mereka berdua sama-sama terpaku pada pemandangan didepannya itu.

Donghae mendesah pelan “tanpa kuberitahu pun kau pasti sudah bisa menebaknya” ujar donghae sendu. Kemudian ia berbalik dan menduduki salah satu kursi yang tersedia di lorong rumah sakit tersebut. Ia tidak sanggup terlalu lama melihat keadaan adik satu-satunya itu.

hyura memandang gadis itu dengan pandangan iba. Kemudian ia duduk disebelah donghae, menggenggam tangannya seolah menguatkan.

“namanya jihyun, dulu ia adalah gadis yang manis dan sangat ceria” donghae menerawang ke langit-langit atap rumah sakit, mengenang bagaimana adiknya dulu. “aku dan jihyun sudah terpisah lebih dari 6 tahun saat orang tua kami bercerai. Aku ikut dengan appa ke US sedangkan jihyun ikut eomma di sini. Aku baru mengetahui jihyun sakit sekitar 6 bulan lalu saat eomma meninggal. Eommaku jadi sakit-sakitan setelah mengetahui keadaan jihyun dan akhirnya meninggal…..”

“….. aku juga tidak terlalu jelas kenapa adikku bisa seperti itu, tapi kudengar dari sepupuku, Lee Hyukjae. Jihyun sudah lebih dari setahun di rawat disini. Sepupuku bilang jihyun dihamili seorang laki-laki yang sudah ia kejar sejak sekolah menengah. Dan beruntungnya laki-laki itu mau bertanggung jawab dan menikahi jihyun tapi memang dewi fortuna sepertinya tidak berpihak padanya, karena beberapa hari sebelum upacara pernikahan pria itu meninggal. Jihyun sangat terpukul dengan kepergian orang yang ia cintai sampai ia pun mengalami keguguran. Bahkan ia beberapa kali mencoba untuk bunuh diri. dan ibuku sudah tidak sanggup menangani jihyun hingga ia memasukkannya kesini……”

“…..setelah mengetahui hal itu, aku memutuskan untuk kembali kesini untuk merawatnya setelah menyelesaikan study ku. Selama aku dan appa di US, sepupuku lah yang datang mengunjunginya secara berkala.”

“kau lupa ada aku?” ucap hyura dan membuat donghae memandangnya lekat “aku juga akan merawatnya, aku yakin jihyun masih punya kesempatan untuk sembuh”

“gomawo chagi-ah” sahut donghae kemudian memeluk hyura.

***

Hyura baru saja keluar dari kamar mandi dan masih dengan handuk di kepalanya. Matanya terbelalak saat melihat donghae sedang duduk santai di sofa sambil membuka-buka buku diary nya.  Melihat itu hyura pun langsung merebut buku diary miliknya dari tangan donghae

“ya! apa yang kau lakukan?” ucap hyura spontan. Sedangkan donghae memandangnya tidak suka

“kenapa disitu hanya tertulis nama mantan pacarmu? Tidak ada namaku sama sekali. bahkan kau masih menyimpan fotonya”

“aku tidak pernah menulisnya lagi sejak kejadian itu. dan foto ini” hyura menunjukkan foto sungmin “hanya ini foto yan tersisa, jadi bolehkah aku memilikinya sebagai kenang-kenangan?” donghae berpikir sebentar sebelum menjawab permintaan hyura.

“baiklah, toh dia hanya masa lalumu” sahut donghae santai “tapi dengan satu syarat”

Hyura mengerutkan keningnya ”syarat? Syarat apa?”

“aku akan memberikanmu buku diary yang baru dan kau hanya boleh menulis namaku disitu. Arra!” hyura tersenyum dan mengangguk singkat menanggapi permintaan kekasihnya itu.

“ini kan belum jam makan siang, kenapa kau sudah datang?” Tanya hyura sambil mengambil posisi di sebelah donghae

“aku tidak lama, aku kesini hanya ingin pamit. hyung memberikanku cuti dan Hari ini aku akan ke mokpo mengunjungi sepupuku sekalian menengok eomma”

“berapa lama?” hyura terdengar cemas, ia tidak suka donghae meninggalkannya terlalu lama.

“paling lama 3 hari, aku janji akan terus menghubungimu”

“arsseo” sahut hyura lemah

“aigoo~ belum pergi saja aku sudah kangen padamu” celoteh donghae sambil memeluk hyura dan menghirup aroma gadisnya itu dalam-dalam. Sebagai persediaan selama mereka tidak bertemu.

“kalau begitu cepat lah pergi dan cepat kembali!”

“siap nyonya Lee” hyura terkekeh menanggapi perkataan donghae

***

Hyura pov

Sudah lebih dari seminggu donghae pergi kekampung halamannya. Dan selama seminggu itu ia hanya menghubungiku sekali saat ia tiba disana. Selain itu dia tidak pernah lagi menghubungi ku. Aku sudah beberapa kali mencoba menghubunginya tapi hanya suara operator yang kudapatkan. Sampai tadi malam aku bertanya pada oppaku. Dan aku sangat terkejut saat mendengar ternyata donghae sudah masuk kerja sejak 4 hari yang lalu. tapi ia tidak menghubungi ku sama sekali. jadi kuputuskan untuk kembali mendatanginya.

“apa manager Lee ada?” Tanyaku pada sekertarisnya. Dan gadis yang di depanku ini terlihat ragu saat hendak menjawabku

“ada, silahkan masuk jika anda ingin menemuinya”

“kau tidak memberitaunya kedatanganku?” tanyaku bingung. Biasanya seorang sekertaris akan meminta izin terlebih dahulu jika ada tamu yang ini menemui bosnya.

“ah, tidak perlu, anda bisa langsung masuk saja”

“baiklah kalau begitu” ucapku setuju, meskipun masih agak sedikit bingung.

Aku membuka pintu ruangan donghae perlahan. Baru separuh terbuka tapi aku sudah bisa melihat pemandangan yang rasanya bisa mengulitiku hidup-hidup. Donghae sedang beciuman dengan seorang wanita. Aku tidak tau siapa wanita itu karena posisinya membelakangiku tapi tidak dengan donghae. ia melihatku tapi bukannya melepaskan ciuman itu ia malah mengeratkan pelukannya pada wanita yang sedang di ciumnya.

Aku mencengkram bagian bawah blusku sambil berjalan gontai menyusuri jalanan seoul yang masih padat oleh pedestrian. setelah melihat kejadian itu aku berlari sekuat tenaga,

“itu bukan apa-apa, itu bukan apa-apa, semuanya akan baik-baik saja” aku terus mensugesti diriku sendiri segalanya akan baik-baik saja. Mungkin ini hanya salah paham, tidak mungkin donghae melakukan hal itu. dia mencintaiku. Yah benar donghae tidak akan melakukan ha itu di belakangku

***

Tililit

Aku medengar pintu terbuka dan tertutup, dan aku langsung bangkit dari dudukku dan menunggunya masuk. Yah saat ini aku ada di apartement donghae. aku memutuskan untuk menunggunya dan meminta penjelasan langsung darinya. Untungnya ia belum merubah kode keamanannya

Kulihat ia terkejut melihatku sudah berdiri di ruang tamunya, tapi dengan cepat ia menguasai dirinya kembali.

“apa kau yang kau lakukan disini?” Tanya nya dingin.

Aku menautkan kedua alisku saat mendengar pertanyaannya. Apa ini? Donghae tidak pernah berbicara dengan nada sedingin itu padaku.

“kapan kau pulang? Kenapa tidak menghubungi ku?” aku menyadari suaraku bergetar tapi aku menguatkan diri, aku tidak boleh menangis. Lagi-lagi aku mencengkaram bagian bawah blusku untuk menahan tubuhku agar tetap berdiri karena kakiku gemetaran

“5 hari yang lalu, aku lupa menghubungimu” jawabnya santai sambil melewatiku dan melemparkan jasnya ke sofa.

Apa dia bilang? lupa?. Apa dia tidak memikirkanku sama sekali? padahal setiap saat aku memikirkannya, merindukannya. Aku selalu menebak-nebak apa yang sedang ia lakukan? apa dia akan menceritakan tentang diriku pada ibunya atau pada sepupunya?

“tadi kau melihatku kan? Apa yang kau lakukan dengan wanita itu?” aku bertanya dengan nada setenang mungkin

“bukankah kau sudah melihatnya, untuk apa bertanya lagi apa yang ku lakukan”

“mwo? mworago?” tanyaku tidak percaya “Lee donghae, apa maksudmu?”

“kita akhiri saja sampai disini, ternyata membuatmu jatuh cinta padaku tidak sesulit yang dibayangkan. Aku juga sudah mulai bosan” aku semakin tidak mengerti apa yang ia maksudkan.

“kau masih tidak mengerti?” tanyanya sambil tertawa mengejek dan aku hanya menggeleng pelan.

“mantan tunangan mu yang sudah kau bunuh itu lah yang sudah menghamili adikku, jihyun. Lee jihyun. Apa kau tidak pernah mendengar namanya”

“eung.. jihyun-ah, mianhe jihyun-ah”

Ucapan terakhir sungmin oppa terlintas begitu saja di kepalaku. Tubuhku tersentak mengingat hal itu.  jadi selama ini…………… dia?

“donghae-ah…” tenggorokanku tercekat, dan nafasku sesak “ jadi, k kkau?”

“yah benar karena emosimu itu lah, aku kehilangan ibuku dan adikku menjadi gila. Bisa kau bayangkan jika hal itu terjadi pada kakakmu tersayang?” ucapnya sinis.

Aku menggelengkan kepalaku cepat, air mata yang kutahan mati-matian akhirnya meleleh juga “kumohon jangan lakukan apapun pada kakakku atau keluargaku. Aku yang salah, hukum aku saja. Kumohon padamu” aku berlutut memohon padanya. Sakit hati kehilangan pria yang aku cintai masih bisa kutanggung sendiri, tapi jika terjadi sesuatu pada keluargaku karena diriku aku tidak bisa memaafkan diriku.

“kau sangat beruntung nona park, keluargamu sangat baik padaku jadi aku tidak akan menyentuh mereka. Dan aku juga cukup berbaik hati padamu karena aku tidak menghancurkan hidupmu seperti kau menghancurkan hidup adikku. Sekarang pergilah! Aku muak melihatmu” dengan perasaan yang hancur dan pikiran kalut aku menyeret kakiku keluar dari apartemennya.

Mungkin inilah hukuman yang pantas aku terima setelah apa yang telah ku lakukan. Aku membuat orang yang kucintai menderita. Aku kehilangan sungmin oppa karena perbuatanku sendiri dan untuk yang kedua kalinya aku kembali kehilangan orang yang kucintai kerena perbuatanku juga.

***

1 year later

Aku berlari sekuat tenaga melewati taman dan jalan setapak menuju tempat yang selalu ku datangi setiap pagi selama 1 tahun terakhir ini.

“kau ini bodoh sekali hyura, kenapa bisa kesiangan lagi” rutuk ku dalam hati.

Aku mengatur nafasku sebelum membuka pintu besar di depanku. Dan benar saja ternyata misa pagi ini sudah di mulai dan pastor sedang menyampaikan ceramahnya. Aku berjalan mengendap-endap ke bangku bagian belakang berusaha tidak menarik perhatian. Dan mulai memfokuskan diriku pada ibadah pagi ini.

“suster kepala, apa hari ini aku boleh minta izin keluar?” tanyaku pada suster kepala setelah kami keluar dari gereja.

“tentu saja nona park, kalau boleh ku tau ada urusan apa?” tanyanya lembut

“hari ini aku mau ke seoul, kakakku berulang tahun hari ini”

“baiklah, sampaikan salamku untuk kakakmu. Apa kau akan menginap?”

Aku menggelang cepat “tidak, tentu saja tidak. Besok ada acara donor darah kan. Aku akan kembali sebelum malam,”  suster kepala hanya mengangguk dan tersenyum padaku

“baiklah nak, kalau begitu hati-hati” ucapnya sebelum beranjak meninggalkanku

***

Aku memandangi pemandangan yang terlihat dari samping jendela bus yang kutumpangi saat ini. Jantungku berdegup dengan kencang karena Ini pertama kalinya aku kembali ke seoul setelah 1 tahun lamanya.

Setelah malam itu, malam dimana aku hancur untuk yang kedua kalinya. Aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan mengabdikan diri ku dipanti asuhan yang dulu selalu dikunjungi sungmin oppa. Aku tidak ingin melihat kakakku mencemaskanku lagi. Aku sudah cukup membuatnya kerepotan karena masalahku. Dan lagi aku juga tidak ingin merusak hubungannya dengan Lee donghae yang sudah mereka jalin selama bertahun-tahun. Jadi hingga saat ini kakakku belum tau apa yang telah terjadi pada kami berdua. Ia hanya tau kami berpisah karena sudah tidak cocok lagi. Itulah alasan yang kukatakan pada kakakku.

Jika sempat Leeteuk oppa akan mengunjungiku di panti asuhan dan sekalian memberikan donasinya pada panti asuhan ini. Awalnya Leeteuk oppa setiap datang mengunjungiku ia akan membujukku pulang. Tapi lama-kelamaan ia melihatku lebih sering tertawa bersama anak-anak disana dan akhirnya ia merelakanku untuk tinggal di sana

“apa disini membuatmu bahagia?”Tanya Leeteuk oppa saat mengunjungiku untuk pertama kalinya

“entahlah, yang jelas aku cukup nyaman disini. Setidaknya aku bisa melihat masih banyak orang  yang tidak seberuntung diriku. Aku punya segalanya tapi tidak dengan mereka. Hal itu membuka mataku betapa bodohnya aku selama ini. Bahagia? Mungkin. Aku bisa tertawa saat melihat anak-anak itu tertawa dan aku bisa menangis saat mereka juga menangis. Yah bisa dibilang inilah caraku untuk membayar sebuah kebahagiaan. Dengan membuat orang lain bahagia”

“tidak kusangka, adik kecilku sudah dewasa sekarang” ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku.

~

“agashi, anda sangat cantik. Apa agashi mau membeli bungaku?” tawar seorang nenek begitu aku keluar dari toko kue. Aku memandangnya iba. Nenek itu sudah sangat tua tapi dia membawa ember yang penuh dengan bunga. Aku yakin ember itu pasti berat.

“agashi bunga ini kupetik sendiri dari ladangku dan masih sangat segar” lanjutnya lagi. Aku melirik ke bungkusan kue yang kubawa. Bagaimana ini? Uangku sudah kubelikan kue untuk Leeteuk oppa. Akan sangat memakan waktu jika aku harus mencari atm.

“halmeoni, bisa tunggu disini sebentar? Aku kan segera kembali” ucapku kemudian aku berlari masuk ke kantor oppa ku. Kebetulan toko kue yang kudatangi letaknya tidak jauh dari kantor Leeteuk oppa.

“aisshhhh lama sekali” aku menggerutu tidak sabar didepan lift dan akhirnya kuputuskan menggunakan tangga darurat. Lantai 19. Mungkin aku gila jika harus menggunakan tangga untuk sampai keruangan kakakku. Tapi aku tidak segila itu. setiap aku mencapai 1 lantai aku akan melongok keluar dan melihat pintu lift terbuka atau tidak. Dan aku sangat beruntung saat aku baru mencapai lantai 3 pintu lift tersebut terbuka.

“tahan, tunggu aku” aku berlari mencapainya sebelum pintunya tertutup kembali. Beberapa orang didalam lift memandangiku aneh. Apa yang mereka lihat? Apa tampangku sekusut itu? padahal aku baru berlari 3 lantai. “ah masa bodoh” pikirku

“OPPA SAENGIL CHUKKAE” teriakku begitu memasuki ruangannya. Ia sedikit terkejut dengan kedatanganku. Tapi hanya sedetik karena detik berikutnya ia tersenyum dan memelukku

“gomawo. Tidak kusangka kau akan datang” ucapnya dengan senyum terkembang

“ini” aku menyerahkan kue yang ku bawa. Dan Leeteuk oppa menerimanya dengan senang hati. Kemudian ia membukanya dan menaruh lilin diatas kue tersebut.

“oppa, chakkaman” ucapku menginterupsinya yang hendak menyalakan lilin yang berada diatas kue yang ku bawa

“waeyo” tanyanya bingung

“acara tiup lilinnya nanti saja, sekarang pinjami aku uang dulu” kataku sambil menadahkan tangan ke arahnya

“mwo? uang? Untuk apa?”

“eo, aku butuh uang tunai sekarang nanti kujelaskan” Leeteuk oppa mengeluarkan dompetnya dan kembali menatapku “kau butuh berapa?”

“aishh kau terlalu lama” ucapku kemudian mengambil dompetnya dan berlari keluar

“Ya! kau mau merampokku?” teriaknya

“nanti akan ku ganti oppa” teriakku dari balik pintu

Aku tersenyum lega saat melihat nenek itu masih duduk menungguku di depan toko kue. “helmeoni, aku akan membeli bungamu” ucapku begitu aku ada di depannya

“jeongmalyo? Kau mau beli berapa tangkai agashi?” aku mengeluarkan semua uang yang ada di dompet Leeteuk oppa dan menyodorkannya pada nenek penjual bunga

“apa ini cukup untuk membeli semua bungamu?”

“ommo agashi ingin membeli semua bungaku?” tanyanya terkejut dan aku mengangguk mantap

“kamsahamnida agashi, jeongmal kamsahamnida” ucap nya sambil membungkuk berkali-kali dan aku buru-buru menghentikannya.

“aniyo helmeoni. Ini bukan apa-apa sungguh”

“agashi, selain cantik kau juga sangat baik hati, karena kau aku bisa pulang lebih cepat untuk bertemu cucuku” nenek penjual bunga itu menyentuh wajahku lembut “kuharap tuhan selalu menyertaimu”

“kamsahamnida helmeoni, dan sampaikan salamku untuk cucumu”

“tentu akan kusampaikan.”ucapnya sebelum meninggalkanku.

Aku tersenyum Mengingat bagimana bahagianya reaksi nenek itu tadi. Yah begitulah caraku membeli sebuah kebahagiaan yaitu dengan memberikan orang lain kebahagiaan.

Aku mengangkat ember yang penuh dengan bunga mawar. Aku membawanya ke meja receptionist yang berada di lobby

Aku mengambil satu tangkai sebelum menyerahkan bunga-bunga tersebut “tolong bagikan ini. Maaf merepotkan mu” ucapku pada seorang resepsionis

***

“ini untuk mu” aku menyerahkan setangkai bunga mawar yang tadi sempat ku ambil pada Leeteuk oppa. Dan ia memandang bunga itu dan aku secara bergantian dengan pandangan heran.

“ini hadiah ulang tahun untukku?” tanyanya tidak percaya.

“aniya. Hadiah mu hanya kue itu” aku menunjuk kue tart yang tergeletak di meja rendah dengan daguku “lagipula mana ada hadiah yang diberikan tapi menggunakan uang orang yang ingin kau hadiahi” sahutku santai kemudian mendudukan diri di sofa tepat berhadapan dengan meja yang diatasnya sudah bertengger kue tart.

“maksudmu?” tanyanya lagi dan sekarang ia sudah duduk disebelahku

“sudahlah tidak usah dibahas. Kau mau meniup lilinnya tidak?” tanyaku mengingatkannya

“ah hampir saja aku lupa” Leetuk oppa mengeluarkan pemantik dari sakunya dan menyalakan lilin yang sudah bertengger di puncak kue tart. “kita make a wish  bersama dan tiup lilinnya bersama” tawarnya padaku

“oke” kataku setuju dan aku mulai memejamkan mataku, menimbang-nimbang apa yang kuinginkan. Tapi belum ada sedetik aku memejamkan mata aku mendengar suara Leeteuk oppa dengan jelas dan nyaring, otomatis aku membuka mataku lagi dan dengan cepat menoleh ke arahnya.

Leeteuk oppa mengaitkan kedua tangannya menjadi satu dan tetap dengan mata terpejam “aku ingin melihat adikku tersenyum, bahagia. Tidak peduli untuk ulang tahun yang ke berapa aku ingin terus merayakannya bersamanya. Amin” ia membuka matanya dan melemparkan senyumnya padaku  “ayo kita tiup lilinnya. Hana deul set. Fuuuhhhhh” aku meniup lilin itu bersamaan. Tapi aku masih memandangnya heran

“ya! ini kan ulang tahun mu, kenapa hanya berdoa untukku?”

“karna memang hanya itu keinginanku” ujarnya santai. “kau akan menginapkan?” Tanya nya lagi

Aku menggeleng “tidak bisa, besok ada acara donor darah di panti”

“tapi lusa kau akan datangkan?”

“eh? Lusa?”

“jangan bilang kau lupa?” tanyanya tidak percaya dan aku hanya tersenyum polos. Aku memang tidak ingat lusa itu ada acara apa

“harusnya aku sudah menduga hal ini” Leeteuk oppa menggerutu pada dirinya sendiri “ lusa eomma dan appa akan pulang, karena lusa hari ulang tahun perusahaan yang ke 25thn. Pestanya akan diadakan cukup meriah. Jadi pastikan kau datang kesana. Arra!”

“arasseo oppa” sahutku kemudian memeluknya sebagai tanda perpisahan “baiklah aku pulang dulu” Leeteuk oppa melepas pelukan kami dengan cepat “mwo? pulang?” teriaknya.

“tentu saja aku harus pulang. Jarak dari sini ke sana cukup jauh oppa, aku tidak mau kemalaman”

“ya! kau kesini hanya memberiku kue dan bunga lalu pulang begitu saja? Oh ya kau juga mengambil dompetku. Mana dompetku? Kembalikan!” aku mengembalikan dompetnya yang tadi sempat ku ambil. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat isinya sudah kosong. Dan menatapku seolah bertanya apa-maksudnya-dengan-ini.

Aku tersenyum meminta maaf padanya”hehehe. Mianhe oppa aku menggunakan semua uangmu. Tapi nanti aku akan menggantinya”

“tidak perlu. Memang kau gunakan untuk apa?”

“kugunakan untuk membeli senyum seorang nenek”

“maksudmu?” tanyanya tidak mengerti

“sudahlah kujelaskan pun kau belum tentu mengerti” ujarku acuh dan bangkit dari dudukku, hendak keluar dari ruangannya

“ishh, chakkaman” Leeteuk oppa menahan lengan ku sebelum aku melangkah lebih jauh “biar kim ahjushi yang mengantarmu”

“tidak usah aku bisa menggunakan bis”

“aku hanya memastikan keselamatan adikku. Dan lain kali kalau mau kesini bilang padaku. Biar aku atau kim ahjushi yang menjemputmu Arra!”

“aku bukan anak kecil” protesku

“tapi bagiku kau tetap adik kecil ku. Jadi jangan membantah. Atau aku tidak akan mengijinkan mu kembali kesana”

“ck. araseo” aku menurutinya meskipun tetap tidak setuju dengan pendapatnya.

***

Author pov

Leeteuk mencium kening hyura sebelum ia menutup pintu mobil untuk adiknya itu. kemudian ia berbalik saat mobil yang hyura tumpangi sudah melesat jauh. Tapi sebelum melangkah untuk masuk ia mendongakkan kepalanya melihat keatas atau lebih tepatnya melihat gedung perusahaannya sendiri. yah walau hanya sebentar tapi itu cukup membuatnya tersenyum tipis.

“aku tau kau melihatnya. Donghae-ah” gumamnya singkat dan kemudian masuk kembali ke kantornya.

~

Pria itu. pria yang sejak tadi berdiri di jendela ruangannya sambil memegang bunga mawar yang ia dapatkan saat melintas di lobby tadi. Ia menghirup aroma yang menguar dari bunga tersebut “kau terlihat baik-baik saja hyura-ya” lirihnya kemudian memandangi ponselnya yang masih terpampang wajah gadis yang baru saja ia sebut namanya.

“aku tidak tau kalau ponselmu semenarik itu donghea-ah ” terdengar suara berat seorang pria yang sangat familiar baginya. Pria bernama donghae itu pun mengangkat wajahnya

“ya! Lee hyukjae! kapan kau masuk? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?”

“aku sudah berkali-kali mengetuk pintu tapi kau tidak menjawabnya. Jadi aku masuk saja” jawabnya santai

“kapan kau tiba di seoul? dan Kenapa tidak menghubungiku?” Tanya donghae sambil mempersilahkan tamunya itu duduk di sofa yang ada di ruangannya.

“aku baru sampai dan aku langsung kesini” ucap pria itu sambil menepuk tas yang tidak terlalu besar yang ada di sampingnya.

“aku baik-baik saja, kau tidak perlu repot-repot datang kesini hanya untuk memastikan keadaanku”

“cih pede sekali kau Lee donghae. aku jauh-jauh kesini bukan untuk bertemu dengan mu tapi aku ada pekerjaan disini. Yah untuk mengecek keadaanmu juga sih”

“itu sama saja” cibir donghae “memangnya ada pekerjaan apa?”

“aku di minta untuk mengajar di universitas, yah mungkin kira-kira selama sebulan” jelas hyukjae. pria bernama hyukjae itu memang pengajar tari dan termasuk penari terbaik yang ada di korea.

“lalu kau akan berencana tinggal dimana?”

“tentu saja di rumahmu, sepupu”

“cih sudah kuduga” donghae merogoh sesuatu di kantong celananya  “pakai ini” donghae melempar kunci aparteman dan dengan sigap hyukjae menangkapnya.

“ayo” hyukjae berdiri dan mengisyaratkan donghae untuk mengikutinya

“kemana?”

“kau harus mentraktirku, aku ini habis dari perjalanan jauh. Kau tau”

“sudah tinggal gratis sekarang kau juga mau makan gratis” gerutu donghae namun ia tetap berdiri dan mengikuti sepupunya itu. dan hyukjae hanya terkekeh mendengarnya

Saat mereka baru keluar dari lift secara tidak sengaja mereka berpapasan dengan Leeteuk. Dan donghae menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat bawahan kepada atasannya. Dan Leeteuk pun hanya mengagguk singkat kemudian berlalu begitu saja. Hyukjae yang berdiri di belakang donghae hanya memperhatikan sikap kedua orang itu dengan seksama dan kemudian mengagguk seolah mengerti dengan situasi yang ada di hadapannya.

“jadi pria tadi itu atasanmu? Yang bernama Leeteuk?” Tanya hyukjae saat mereka sudah sampai di restoran yang letaknya tidak jauh dari kantor donghae.

“hmmm” jawab donghae acuh sambil sibuk membolak balikkan buku menu.

“aku heran, ia masih mau mempekerjakan mu di perusahaannya. Jika aku jadi dia, Meskipun kau temanku aku tidak akan segan-segan untuk menendangmu jauh-jauh. Mengingat bagiamana kau menyakiti adiknya”

Donghae mendengus kasar dan meletakkan kembali buku menunya “hyura bukan wanita sepeti itu, ia tidak mungkin merusak hubunganku dengan kakaknya” ujar donghae ketus

“aigoo~ lihat, kau bahkan masih membelanya” hyukjae menggelengkan kepalanya pelan “kau hanya menyakiti dirimu sendiri donghae-ah”

“aku pesan steak beef well done dan orange jus” ucap donghae ketika seorang pelayan menghampiri meja mereka.

“sama” sahut hyukjae pada pelayan tersebut tanpa memalingkan wajahnya, ia tetap menatap donghae seolah menuntut pembenaran atas ucapannya barusan.

“aku baik-baik saja” sahut donghae singkat dan melemparkan pandangannya ke jalanan melalui kaca jendela di sisi kirinya.

Hyukjae memutar bola matanya malas “bahkan nenek-nenek pikun pun bisa melihatnya dengan jelas. Kau sangat menyedihkan donghae-ah” perkataan hyukjae mendapat sorotan tajam dari donghae, namun pria itu tidak peduli dan tetap melanjutkan perkataannya

“kau bilang padaku gadis itu menyedihkan tapi menurutku justru kau yang jauh lebih menyedihkan”

“aku tidak butuh penilaianmu”

“aku hanya ingin kau berpikiran terbuka. Kau tau, aku merasa terbebani saat mengetahui kau meninggalkan gadis itu. karena aku lah yang memberi tau mu bahwa mantan tunangan gadis itu yang menghamili jihyun. Tapi pernahkah kau berpikir bagaimana posisi hyura saat itu? kurasa tidak. Kau hanya berpikir hyura lah yang menghancurkan kehidupan jihyun.”

“kau jangan melupakan ibuku, karena dia aku kehilangan 2 orang yang kusayangi. Menurutmu bagaimana aku bisa menghadapi ibuku kelak hah? Aku jatuh cinta pada seseorang yang harusnya kubenci. Dan lagi, bagaimana mungkin aku membiarkan jihyun di rawat oleh orang yang membuatnya seperti itu. kau memintaku untuk memikirakan posisinya? Yang bahkan kau sendiri tidak mengerti posisiku saat ini” ucap donghae dengan nafas memburu. Yah topic ini termasuk sensitive baginya

“benar. Aku memang tidak mengerti posisimu” kata hyukjae menyetujui dan donghae menatap sepupunya itu lurus-lurus “tapi aku masih bisa melihat segalanya lebih jelas dibandingkan dirimu. Kau melimpahkan segala kesalahan pada hyura atas apa yang terjadi pada keluarga mu……”

“……..Tapi Pernahkah kau membayangkan bagaimana seandainya orang yang bernama Lee sungmin itu masih hidup?” Tanya hyukjae skeptis “gadis itu harus melihat tunangannya menikahi gadis lain. Perlu kau tau!!!  jihyun tidak sepolos yang kau bayangkan. Ia sudah mengejar sungmin sejak sekolah menengah tapi pria itu tidak pernah milirik jihyun sama sekali. bisa kau bayangkan bagaimana jihyun bisa hamil karena orang yang tidak pernah meliriknya?……”

“….. dan ibumu. Kau sudah tau sejak lama ibumu mengidap ginjal. Dan sebelum kau meneruskan gelar mastermu ia sudah memintamu pulang berulang kali tapi kau menolaknya. Dengan alasan pendidikan disana lebih baik…..”

“…. Pada akhirnya jihyunlah yang menghancurkan kehidupan gadis itu. ia membuat gadis itu 2 kali kehilangan orang yang ia cintai”

“hyuk-ah” donghae hendak menyela tapi pelayan datang dan membawakan pesanan mereka. Tanpa memperdulikan makanan yang sudah tersaji di meja, hyuk jae berdiri dan menghampiri donghae

“sudah kubilang, aku hanya ingin kau berpikiran terbuka. Lupakan dan hiduplah dengan  bahagia” ucap pria itu sambil menepuk bahu donghae pelan dan berbalik pergi meninggalkannya. Sedangkan donghae hanya menatap nanar punggung sepupunya itu yang semakin menjauh.

***

hyura menenggak air mineral langsung dari botolnya. Hari ini ia lelah sekali karena harus mengurusi acara donor darah di panti asuhan. Selain itu ia juga ikut mendonorkan darahnya.

“chogi, apa kau park hyura?” terdengar suara berat, yang otomatis membuat hyura menolehkan kepalanya.

“ah ternyata benar” ujar namja di depan hyura tersenyum lega

“ne, nuguseyo?”

“kau lupa padaku? Aku siwon. choi siwon”

“choi siwon? Kau teman sungmin oppa kan?” pria bernama siwon itu tersenyum dan mengangguk. Merasa cukup senang gadis itu masih mengingatnya.

“bagaimana kau bisa disini?” Tanya hyura penasaran

“aku meneruskan apa yang biasa dilakukan sungmin hyung. Tapi beberapa bulan belakangan ini aku sangat sibuk jadi tidak bisa mengunjungi panti asuhan ini dan kemarin suster kepala menelponku untuk datang karena ada acara donor darah. Tidak kusangka bisa bertemu denganmu”

Hyura hanya membulatkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara.

“bagaimana kabar mu?” Tanya hyura berbasa-basi

“aku cukup baik, justru aku penasaran dengan kabarmu, karena selama lebih dari 2 tahun ini kau seperti menghilang. Terakhir aku melihat mu saat pemakaman sungmin hyung”

Hyura tersenyum namun tidak sampai menyentuh matanya “aku hanya menenangkan diri, tapi sejauh ini aku baik-baik saja”

Pria bernama siwon itu melihat jamnya sebelum kembali berkata pada hyura “kalau kau ada waktu datanglah kekantorku, ada yang ingin ku berikan padamu.”

“mwo?”

“mianhe aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Aku harus pergi. Senang bisa bertemu dengan mu lagi”

Hyura mengangguk mengerti “arasseo” baru beberapa langkah siwon meninggalkan hyura kemudian pria itu berbalik lagi menatap hyura lurus-lurus

“minumlah vitamin penambah darah! wajahmu pucat sekali” ucapnya sesaat sebelum benar-benar pergi dari tempat itu

***

 

Pagi-pagi sekali kim ahjushi menjemput hyura dan mengantarkannya ke bandara, karena hari ini orang tuanya datang untuk merayakan ulang tahun perusahaan.

“eomma” pekik hyura saat melihat kedua orang tuanya keluar dari pintu kedatangan luar negri.

“hyura-ya” Ny park langsung memeluk anaknya begitu mereka saling berhadapan

“neomu bogoshippo eomma” ucap hyura dalam pelukan ibunya

“eomma juga merindukanmu sayang. Mianhe eomma meninggalkanmu”

“gwenchana eomma” hyura melihat ayahnya tersenyum dari balik bahu ibunya, kemudian ia melepas pelukan ibunya dan menghampiri ayahnya

“appa, neomu bogoshippo” ujar hyura dan memeluk ayahnya. Tuan park tersenyum dan mengelus lembut punggung putrinya yang sanagt ia rindukan

“appa juga sangat merindukanmu dan kakak mu” ujar pria tua itu lembut

***

Dress dan make up. Sebuah hal yang tabu bagi hyura selama 2 tahun belakangan ini. Tapi tidak untuk hari ini, karena ia tidak mungkin mempermalukan keluarganya di depan para kolega ayah dan kakaknya.

Hyura menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya memasuki sebuah ballroom hotel termewah di seoul. Ia berjalan beberapa langkah di belakang kedua orang tuanya dan Leeteuk disamping kanannya.

Hyura memasuki ruangan tersebut dengan wajah tertunduk, karena ia menyadari semua mata tertuju padanya. Selain ulang tahun perusahaan, secara tidak langsung acara ini juga terlihat seperti keluarga park sedang memamerkan putri mereka. Karena selama ini banyak orang yang beranggapan bahwa putri keluarga park sedang terganggu jiwanya.

Melihat perubahan ekspresi adiknya, Leeteuk langsung menggenggam tangan hyura. Gadis itu pun mengangkat kepalanya menoleh kaearah samping saat merasakan sebuah tangan hangat menggenggam tangannya. Ia mendapati Leeteuk tersenyum hangat seolah mengatakan semuanya-akan-baik-baik-saja. Mau tidak mau ia pun ikut tersenyum.

~

Leeteuk terus memegang tangan hyura meskipun ia sedang berbicara pada rekan bisnisnya. Karena ia ingin terus mengawasi adiknya. Hyura sedikit risih dengan perlakuan Leeteuk, padahal ia ingin menyapa beberapa temannya yang dulu bekerja bersamanya.

“oppa, bisa kau lepaskan tangan mu? Aku ingin menyapa temanku” hyura berbisik pada Leeteuk yang sedang berbicara pada kolega ayahnya.

“jangan terlalu lama, sebentar lagi acaranya di mulai” balas Leeteuk

“ne arasseo” kemudian gadis itu melangkahkan kakinya menjauh dari Leeteuk dan mulai memanjangkan lehernya mencari seseorang yang mungkin ia kenal. Tapi tiba-tiba tubuhnya menegang melihat sosok yang setahun lalu mencampakkannya.

Sama halnya dengan donghae. pria itu juga tak kalah terkejutnya melihat gadis yang ia rindukan setiap malamnya. Gadis di hadapannya kini sedikit berbeda. Ia terlihat lebih cantik. Bukan. Malah sangat cantik. Dengan balutan gaun berwana pink soft yang sangat pas di tubuh mungilnya dan make up natural serta rambut coklatnya yang di biarkan tergerai. Membuat pria manapun akan rela bertekuk dihadapannya.

Entah keberanian dari mana, donghae berjalan perlahan mendekati gadis itu. ia ingin menikmati wajahnya lebih dekat. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia mendapati gadis di depannya menarik kedua sudut bibirnya. Ya gadis itu tersenyum padanya tapi bukan senyum yang biasa dulu hyura lemparkan padanya. Tapi seperti senyum basa-basi yang biasa orang berikan pada orang yang baru pertama kali bertemu.

Sungguh hatinya sakit sekali mendapati sang gadis memperlakukannya seolah ia adalah orang asing. Tapi memangnya apa yang ia harapkan setelah perlakuannya pada gadis itu. ia masih cukup beruntung karena hyura masih mau tersenyum padanya.

“hei apa yang kau lihat?” seseorang menepuk pundaknya. Dan ia tidak perlu repot-repot untuk menoleh siapa orang tersebut. Sepupunya Lee hyukjae memaksa ikut ke pesta ulang tahun perusahaan tempatnya bekerja dengan alasan ia ingin makan gratis.

Donghae menepis tangan hyukjae dengan kasar.

“jangan dekat-dekat denganku. Cara mu melihat makanan membuatku malu” gerutu donghae dan meninggalkan sepupunya itu, sedangkan hyukjae hanya tertawa tidak peduli.

***

 

“sayang, apa kau baik-baik saja?” Ny park bertanya pada putrinya saat ia melihat hyura entah sudah yang keberapa kali mengusap keringat di keningnya.

“nan gwenchana eomma” ucap hyura bohong. Ia menyesal tidak mendengarkan nasihat siwon kemarin untuk meminum vitamin penambah darah. Alhasil sekarang kepalanya terasa sangat pening bahkan untuk berdiri tegak pun ia merasa kesulitan. Ditambah lagi pertemuannya dengan donghae makin membuatnya sesak.

“kau yakin? Tapi wajah mu pucat dan kau terus berkeringat”

“jeongmal gwenchana eomma” ucap hyura mencoba meyakinkan tapi Ny park tau kalau putrinya sedang berbohong.

“sebaiknya kita pulang”

“aniyo eomma, acara inti belum dimulai, bahkan appa belum memberikan pidatonya. Aku bisa pulang sendiri” ucapnya. Ia hanya tidak ingin merusak suasana pesta. Dan ia juga sudah tidak betah berlama-lama disana, ia takut akan bertemu donghae lagi.

“andwe, eomma tidak akan membiarkanmu pulang sendiri. eomma akan bicara pada appa, pasti appa mengerti”

“eomma andweyo, aku bisa beristriahat di kamar hotel saja. Eomma disini bersama yang lain”

“baiklah” ucap Ny park setuju “eomma akan mengantar mu ke kamar” hyura mengangguk dan Ny park membimbing hyura ke loby hotel untuk check in.

***

“Ny park bisakah anda kembali ke dalam? Tn park akan segera naik panggung, anda harus disampingnya” ucap seorang wanita yang diketahui sebagai sekertaris Leeteuk pada Ny park yang sedang memapah hyura

“eomma sebaiknya kau kembali, aku bisa sendiri” ucap hyura sambil mengambil keycard dari tangan ibunya. Ny park memandangi putrinya dengan tatapan bersalah.

“nona jung, bisakah kau antar putriku?” pinta Ny park pada sekertaris Leeteuk

“tentu saja Nyonya” ucapnya ramah dan berdiri disisi hyura yang bersebrangan dengan Ny park

“kalau begitu aku titip putri ku. Hyura-ya mianhe eomma tidak bisa mengantarmu. Tapi setelah selesai eomma akan langsung ke kamarmu”

“gwenchana eomma. Aku hanya butuh berbaring sebentar.” Hyura memaksakan tersenyum meskipun kepalanya pusing sekali dan sebelum beranjak pergi Ny park mengusap pipi hyura sekilas.

“mari nona” Sekertaris Jung membimbing hyura dengan sabar.

“bisa dudukkan aku sebentar?” pinta hyura setelah mereka berjalan beberapa langkah. Ia merasa akan jatuh sewaktu-waktu karena kepalanya berputar. Sekertaris Jung mendudukan hyura di sofa yang ada dilorong hotel saat mereka hendak ke lift.

“nona anda baik-baik saja? Perlu kupanggilkan seseorang?” Tanya sekertaris jung cemas. Hyura menganggkat tangannya seolah menolak.

Hyura menyenderkan kepalanya ke punggung sofa dan memejamkan matanya sebentar

“aku hanya anemia, biarkan aku duduk sebentar saja” ucapnya dengan mata terpejam

“tapi nona anda pucat sekali, Tn park bisa…..”

“maaf apa ada masalah?” ucapan sekertaris jung terpotong oleh suara seorang pria. Hyura mendengar suara pria asing itu tapi ia tidak mau repot-repot membuka matanya.

“sepertinya Nona Park anemia, aku mau mengantarnya kekamar tapi ia sudah tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi” jelas sekertaris jung. Pria itu menatap iba hyura.

“biar ku bantu” kata pria itu singkat. Dan sedetik kemudian hyura sudah tidak merasa tubuhnya berada di sofa melainkan di tangan seseorang. Hal itu sontak membuat hyura membuka matanya

“nu nuguseyo?” Tanya hyura lemah, pria yang sedang menggendongnya itu menundukkan wajahnya dan tersenyum singkat.

“acara berkenalannya nanti saja nona, setidaknya saat kau benar-benar sadar” ucapnya santai

Sebenarnya hyura ingin membantah ucapan pria ini, tapi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi lagi. Ia hanya bisa memejamkan matanya untuk meredakan pening yang mendera.

Hyura mendengar bunyi pintu lift terbuka yang menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan mereka. Setelah itu ia juga mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Sepertinya mereka sudah tiba di kamar yang hyura pesan.

Pria yang tengah membopong hyura cukup terkesan dengan interior kamar hotel yang baru saja mereka masuki ini. Ny park memesankan kamar president suit untuk hyura. Di kamar itu terdapat satu kamar dengan ranjang king size, satu ruang pertemuan, bar yang lengkap dengan minumannya serta 1 ruangan yang mirip seperti ruang tamu.

Sekertaris jung menyibakkan selimut dan pria itu merebahkan hyura diatasnya. Kemudian sekertaris jung melepaskan sepatu hyura dan menyelimutinya sampai sebatas leher.

“gomawo, kalian bisa pergi sekarang!” kata hyura tanpa membuka matanya sedikit pun.

“baiklah, kalau begitu kami permisi dulu nona. Mari tuan” sahut sekertaris jung dan mengajak pria disampingnya ini untuk keluar.

Sebelum mereka keluar dari kamar hotel hyura, pria tersebut menahan lengan sekertaris jung. Sedangkan sekertaris jung memandang bingung pria dihadapannya.

“ada apa tuan?”

“bisa kau panggilkan tuan Lee donghae kesini?”

“ye?” sekertaris jung makin mengerutkan keningya.

“kau kenal Lee Donghae kan? Manager Lee?” sekertaris jung mengangguk pelan tapi tidak menghilangkan raut bingung dari wajahnya.

“kalau begitu cepat panggilkan” pria tersebut mendorong bahu sekertaris jung hingga ke pintu masuk

“tapi tuan, aku tidak bisa……”

“tidak ada tapi tapian” kata pria tersebut sembari membuka pintu dan mendorong sekertaris jung keluar. Tapi sepertinya wanita itu tidak begitu saja mengalah. Ia memegang erat daun pintu sebelum pria didepannya ini menutup pintu rapat-rapat.

“lalu bagaimana dengan nona park? Aku tidak mungkin meninggalkannya dengan orang asing sepertimu”

“karena itu…..” pria tersebut berusaha melepaskan pegangan tangan sekertaris jung yang masih menempel di daun pintu “cepat panggilakan manager Lee sebelum aku berbuat macam-macam terhadap nona mu” akhirnya pegangan sekertaris jung terlepas karena ia tidak mampu melawan kekuatan seorang pria, hingga akhirnya ia terdorong ke belakang dan pintu kamar di depannya sudah tertutup.

Pria tersebut berjalan perlahan dan menghampiri gagang telepon yang ada di ruang tamu kamar hotel tersebut.

“ne, bisa aku minta obat untuk anemia?”

“…..”

“ya vitamin penambah darah juga boleh”

“….”

“ne gamsahamnida”

Setelah menelpon layanan kamar, pria tersebut berjalan perlahan mendekati hyura dan menarik kursi yang ada di dekat ranjang.

“tidak kusangka kau secantik ini. Pantas saja si bodoh itu tergila-gila padamu. “gumam pria tersebut.

Hyura tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya. Ia bisa merasakan ada orang lain di dekatnya dan ia masih bisa mendengar gumaman orang tersebut meskipun tidak jelas apa yang dikatakan orang tersebut.

Dengan berat hati hyura membuka matanya untuk memastikan siapa orang tersebut.

“nuguseyo?” Tanya hyura lemah

Pria tersebut tersenyum lembut “oh ya kenalkan namaku Lee hyukjae, aku juga tamu di acara perusahaanmu”

“kalau begitu kau bisa kembali ke pesta” ucap hyura sambil mengangkat tangannya dan mentupi matanya dengan punggung lengan.

“pesta itu tidak menarik, kurasa tontonan disini lebih menarik”

“aku tidak mengerti maksudmu tuan Lee, tapi saat ini aku ingin istirahat” sahut hyura masih dengan wajah tertutup punggung lengannya.

“tentu saja aku akan pergi tapi setelah ada yang mengantarkan obat untuk mu, aku tidak yakin kau sanggup berjalan untuk membukakan pintu”

“terima kasih atas perhatianmu tuan Lee, ingat kan aku untuk membalasnya. Aku tidak suka berhutang budi”

“tentu tentu. Aku pasti akan mengingatnya”

mereka sama-sama terdiam untuk sesaat,

“kau tau, aku bahkan pernah melihat kondisi mayat yang jauh lebih baik daripada wajah mu saat ini” kata hyukjae mencoba untuk berkelakar

“ha…ha…ha..” hyura menirukan suara tertawa tanpa humor sedikit pun “kuanggap itu pujian”

Ting tong

“sepertinya obatmu sudah datang” hyukjae bangkit dan menuju pintu masuk

~

“ini pesanan obat anda tuan” ucap seorang bellboy sambil memberikan sebuah bungkusan kecil pada hyukjae.

“kamsahamnida” sahut hyukjae dan memberikan tip pada bellboy tersebut. Saat bellboy tersebut membungkuk sebagia ucapan terimakasih, donghae Nampak di balik tubuh bell boy tersebut. Ternyata donghae datang bersama dengan bell boy

“ya! apa yang kau lakukan disini?” Tanya donghae ketika mereka tinggal berdua. Dan masih di depan pintu masuk

“kenapa kau datang lama sekali?” hyukjae protes tanpa mengindahkan pertanyaan donghae

“sekertaris jung hanya memberi tau nomer kamar tanpa memberi tau di lantai berapa. Beruntung aku bertemu bellboy tersebut.” Sungut donghae “lalu apa yang kau lakukan disini?” tanyanya lagi.

“ini” hyukjae memberikan bungkusan obat yang baru saja ia terima. Sedangkan donghae memandangi bungkusan tersebut dengan pandangan bingung. belum sempat donghae bertanya tapi hyukjae sudah menukar posisi mereka.

Hyukjae memegang kedua sisi bahu donghae dan menempatkannya di bagian dalam kamar sedangkan ia sendiri sudah berpindah tempat menjadi di bagian luar kamar.

“good luck sepupu” katanya sesaat sebelum menutup pintu yang menjadi pemisah diantara mereka.

Donghae yang masih kebingungan kemudian membuka pintu kembali untuk bertanya namun sepupunya itu sudah lenyap.

Pria tersebut berjalan perlahan sambil melihat-lihat sekeliling kamar, sampai pria itu menemukan sebuah pintu kamar yang terbuka dan ia melongok sedikit sebelum masuk kedalam.

Tubuhnya menegang seketika saat melihat sosok yang terbaring disana. Meskipun wajahnya tertutup separuh karena penggung lengan gadis itu, tapi ia masih bisa mengenalinya dengan jelas.

Donghae melihat bungkusan di tangannya dan kemudian melemparkan lagi pandangannya pada hyura. Bibir gadis itu sangat pucat dan sekitar leher serta bahunya terlihat jentik jentik keringat. Bahkan cara gadis itu menarik napas sungguh kepayahan. Seolah oksigen di sekitarnya menipis.

Ingin sekali pria itu berlari kearah gadisnya, memeluk dan menanyakan bagaimana keadaannya. Namun ia mampu menguasai dirinya dan ia hanya berjalan perlahan mendekati hyura tanpa melepaskan pandanganya dari gadisnya itu.

“kau mendapatkan obatnya hyuk……” ucapan hyura terpotong saat ia menyikirkan tangannya dan membuka mata. Ia mendapati donghae tengah berdiri tepat di samping ranjangnya sambil memandanginya dengan pandangan yang tidak bisa ia artikan.

Hyura bangun dengan cepat dan mengkibatkan sakit di kepalanya semakin menjadi

“ah…..” hyura meringis sambil memegangi kpalanya.

“gwenchana?” tanpa sadar donghae pun terduduk di ranjang hyura dan ikut memegangi tangan hyura yang sedang menyentuh kepalanya.

“ah mianhe” ucap donghae ketika menyadari apa yang tengah ia lakukan.

Mereka berdua sama-sama tertunduk dan terdiam

“ah iya.. ini.. hampir saja aku lupa” ucap donghae terbata sambil membuka bungkusan obat di tangannya kemudian ia menuangkan air mineral dari botol ke gelas yang tersedia di nakas meja.

Hyura memperhatikan donghae yang sibuk di depannya. Ia memperhatikan setiap lekuk wajah pria didepannya kini. Tidak ada yang berubah, Ia tetap tampan tapi ia terlihat lebih kurus. Tulang pipinya terlihat lebih tirus, selain itu lingkaran hitam di bawah matanya sangat kontras dengan wajah putihnya.

Ingin sekali hyura bertanya “apa dia hidup dengan baik? Makan dengan baik? Apa dia masih sering makan makanan instan?”

“buka mulutmu!” perintah donghae lembut membuyarkan lamunan hyura

“aku bisa sendiri” tolak hyura, dan ia hendak mengambil obat dari tangan donghae tapi pria itu mengelak dan menggeleng

“buka mulutmu!” perintahnya sekali lagi. Dan untuk kali ini hyura menurut.

Setelah meminumkan obat untuk hyura, donghae hendak beranjak untuk meletakkan obat tapi hyura menahan tangannya. Gadis itu ingin memuaskan matanya dan ingin memotret wajah pria didepannya ini, Karena ia tidak tau kapan bisa melihat donghae lagi.

“bisakah….. bisakah seperti ini dulu?” sekuat tenaga hyura mengeluarkan suaranya. “bisakah aku melihatmu tanpa harus memikirkan masa lalu atau masa depan. hanya untuk saat ini saja. Apa bisa?” ucapan gadis itu sarat akan permohonan, hyura memandang donghae dengan penuh harap

Donghae terdiam sesaat sampai akhirnya ia mengangguk pelan. Hyura tersenyum singkat menanggapinya.

1 menit

2 menit

3 menit

Sudah lebih dari 15 menit mereka berdua hanya terdiam dan saling memandang. Sampai donghae mengangkat tangannya, menyentuh pipi hyura lembut.

“rona pipimu sudah kembali” Ucap donghae yang seperti sebuah bisikan. Menyadari hal itu hyura buru-buru memegang tangan donghae dan menjauhkan dari wajahnya.

Donghae terlihat sedikit kecewa karena penolakan hyura.

Hyura menarik nafas panjang “gomawo. Maaf merepotkanmu. Kau bisa pergi sekarang” kemudian hyura kembali berbaring dan membelakangi donghae.  gadis itu menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. ia memejamkan matanya serapat mungkin dan mencengkram ranjang di bawahnya.

Permintaan yang bodoh, itulah yang hyura pikirkan. Semakin ia melihatnya semakin serakahlah dia. Ia menjadi semakin menginginkan lebih.

Gadis itu merasakan donghae beranjak dari ranjangnya dan langkah kaki donghae semakin menjauh. Meskipun matanya terpejam tapi ia masih bisa merasakan cairan bening keluar dari sudut matanya.

***

Hyura pov

Aku terduduk di salah satu bangku taman yang ada di seoul university. Pria yang 3 hari yang lalu  menolongku saat di hotel tiba-tiba saja menghubungiku dan meminta bertemu disini. Aku bahkan tidak tau dari mana dia mendapatkan nomer ponselku.

“sudah lama menunggu?” aku mendongakkan kepalaku saat mendengar sebuah suara

“aniyo, aku juga baru sampai” sahutku, kemudian ia duduk disampingku

“bagaimana keadaan mu?” kulihat dari sudut mataku ia menatapku lekat tapi aku tetap memandang lurus kedepan tanpa menoleh padanya.

“aku baik-baik saja, terima kasih saat itu kau mau menolongku”

“tidak masalah. Jadi, bolehkah aku menagih janjimu?”

“oh tentu saja, bukankah sudah kukatakan. Aku tidak suka mempunyai hutang budi…. Jadi apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanyaku langsung. Pria didepanku ini kemudian mengeluarkan notes dan menulis sesuatu disana. Setelah selesai ia merobek notes tersebut dan menyerahkannya padaku.

Aku membaca tulisan yang tertera di notes tersebut dengan seksama.

“ini? Alamat?”

“ne, itu sebuah alamat. Aku ingin kau mendatangi alamat yang ada di situ”

“ini tempat apa? dan kenapa aku harus kesana?” aku masih bingung dengan keinginan orang ini

“disana ada kerabatku, ia sedang sakit. Tapi karena aku punya pekerjaan disini jadi aku tidak bisa merawatnya. Jadi aku minta tolong padamu untuk menggantikanku menjaganya” jelasnya

“apa sakitnya parah? Kenapa tidak dirawat dirumah sakit saja?” aku bertanya lagi. Sejujurnya aku agak keberatan dengan permintaannya. Aku takut tidak bisa merawat orang sakit apalagi kalau orang tersebut memiliki penyakit parah.

“bisa dibilang parah bisa juga tidak, tergantung dari sudut mana kau memandangnya”

“ye?” aku menautkan kedua alisku, tidak mengerti apa yang ia bicarakan

“orang ini sangat keras kepala, dia juga benci dengan rumah sakit. Jadi dia hanya ingin di rawat di rumah. Mungkin jika kau yang merawatnya ia bisa cepat sembuh” jelasnya lagi

“sebenarnya kerabatmu ini sakit apa?” desakku

“kau akan tau setelah melihatnya”

“tunggu, bisakah kau menjelaskannya lebih detail!! Bagaimana orang yang akan kurawat nanti, siapa namanya dan bagaimana aku harus mengurusnya?”

Bukannya menjawab pertanyaanku, tapi ia malah tertawa

“apa ada yang lucu?” Tanyaku ketus

“aniya” jawabnya masih dengan tawa di bibirnya “nona park, kau jangan terlalu berpikiran rumit. Orang ini memang sakit tapi ia masih bisa mengerjakan segalanya sendiri. kau hanya perlu mengawasinya kalau sewaktu-waktu keadaannya tiba-tiba memburuk. Dan untuk mengenai detailnya kau akan tau setelah melihatnya”

“lalu berapa lama aku harus merawatnya?”

“hmm kurasa 2 hari cukup”

“apa dengan 2 hari, orang ini akan sembuh?”

“tergantung bagaimana kau merawatnya, mungkin iya atau justru malah lebih parah” jawabnya santai.

Aku menggigit bibir bawahku, aku tidak tau apa harus menuruti pria ini atau tidak, tapi jika tidak aku akan tetap berhutang budi padanya. Dan aku tidak suka itu.

“chogi… apa kau tidak punya permintaan lain? Kurasa ini terlalu berat untukku dan…. Ini jauh sekali dari seoul. Di mokpo, aku bahkan tidak tau dimana kota itu” ujarku mencoba bernegosiasi dengan sedikit memelas

Hyukjae mendesah dan kelihatan sedikit berpikir “nona park, anggap saja aku memohon padamu eo. Kerabatku sedang sakit dan aku tidak bisa menjaganya. Jika kau memenuhi permintaanku maka aku akan sangat berterimakasih padamu”

“tapi ini…..”

“jebal” hyukjae kembali memohon padaku, bisa dibilang tampangnya kini lebih memelas dibandingkan diriku

“arraseo”jawabku akhirnya meskipun masih ragu “ hanya 2 hari kan?”

“tentu hanya 2 hari tidak lebih dan tidak kurang” sahutnya tiba-tiba bersemangat.

***

Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku di kota kecil bernama mokpo. Setibanya di stasiun aku langsung menyetop taksi dan memberikan alamat yang kutuju pada sopirnya.

“apa ini rumahnya?” gumamku saat aku tiba di depan rumah yang menurutku tidak terlalu besar tapi kelihatannya cukup nyaman. Dengan ragu aku memasuki pekarangan rumah tersebut.

“oke, ini hanya 2 hari. Semuanya akan baik-baik saja” ucapku pada diriku sendiri, mensugesti adalah hal yang jitu menurutku.

Aku menarik nafas panjang sebelum menekan bel rumah yang ada dihadapanku ini. Tapi berapa kalipun aku menekannya tidak ada orang yang membukakan pintu untuk ku sampai akhirnya aku menggedor pintu tersebut dengan tanganku.

“permisi, apa ada orang?” teriakku untuk kesekian kalinya. “apa di dalam ada orang?”

“sepertinya rumah ini kosong” aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah ini. “atau mungkin penghuninya sedang keluar? Tapi bukankah hyukjae bilang orang itu sedang sakit?”

Aku terus menebak-nebak dalam hati. Dan kuputuskan untuk menunggu penghuni rumah ini sampai tengah hari, jika sampai tengah hari tidak muncul juga maka aku akan kembali ke seoul.

***

Author pov

Hyura bersenandung ringan sambil memainkan kakinya di lapisan semen yang tengah ia duduki. Hyura menunggu sang empunya rumah di undakan tangga teras rumah itu. tidak lama berselang muncullah seorang pria memasuki pekarangan rumah tersebut.

Pria itu mengenakan pakaian santai, hanya sweater dan celana training. Ia sangat terkejut melihat seorang wanita duduk di teras rumahnya sambil membawa travel bag yang tidak terlalu besar menurutnya. Padahal ia hanya pergi sekitar 30 menit untuk berjalan-jalan dan menikmati udara pantai yang menenangkan.

Tapi sepertinya gadis didepannya ini tidak menyadari kehadirannya, gadis itu seperti asik dengan dunianya sendiri.

Pria tersebut mendekati hyura dan sedikit menundukkan kepalanya  “chogi, nuguseyo?” pertanyaan yang terlontar dari mulut pria tersebut sontak membuat hyura mengangkat kepalanya.

Dalam waktu sepersekian detik wajah kedua orang tersebut menampakkan kekagetan yang nyata. Bahkan mata hyura seperti hampir  keluar dari rongganya.

Hyura berdiri dengan cepat dan mengakibatkan tas yang ia pangku jatuh begitu saja ke tanah“D-Donghae ssi” ucap hyura dengan nada keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Begitu pula dengan donghae, ia memundurkan kakinya 1 langkah kebelakang. Melihat hyura di depan rumahnya membuat perasaannya menjadi campur aduk antara senang, kaget, bingung dan bahagia. “hyura-ya, apa yang kau…..”

“mi-mianhe” potong hyura cepat, suara gadis itu terdengar sedikit gemetar karena ia benar –benar tidak menyangka terjadi hal seprti ini “sepertinya aku salah alamat” ucap hyura cepat. Dan ia buru-buru mengambil tasnya yang sempat terjatuh kemudian hendak beranjak pergi.

Tapi belum sempat hyura melangkah, donghae menahan lengannya, hal itu sontak membuat hyura menolehkan kepalanya dan menatap donghae bingung

“masuklah dulu kau pasti lelah” ujar donghae selembut mungkin

“tapi, aku…..” belum selesai hyura berbicara, tiba-tiba saja donghae mengambil tas yang ada ditangannya

“masuklah dulu!” ucap donghae pelan namun sarat dengan nada memerintah. Mendengar hal itu, hyura mendesah pasrah dan mengikuti donghae masuk ke dalam rumahnya itu.

“oke, masuk sebentar, berbasa-basi kemudian pulang. hwaiting” ucap hyura dalam hati.

***

Donghae pov

Aku sedang didapur membuat teh hangat dan sesekali mengintip ke ruang tamu, dimana gadisku sedang duduk dengan kaku. Tunggu, gadisku? Sangat menyenangkan bisa memanggilnya dengan gadisku lagi.

Aku mati-matian menahan diriku untuk tidak berlari kearahnya dan memeluknya. Damn aku benar-benar merindukannya

“minumlah” kataku sambil meletakkan cangkir teh didepannya.

“gomawo” balasnya singkat tanpa memandang wajahku. Ia terlihat sangat tidak nyaman dengan duduknya. Sejak tadi ia terus menggengam dengan erat tali travel bag yang ia bawa.

Kami terdiam sesaat, tidak tau harus memulainya dari mana. Sebenarnya tadi pagi sepupuku hyukjae memang menghubungiku. Ia bilang, ia mengirimkan hadiah istimewa untukku. Tapi tidak kusangka ternyata ia mengirimkan hyura kesini. aku tidak tau apa yang dikatakan si bodoh itu sampai-sampai hyura mau jauh-jauh datang kesini.

“sebenarnya…”hyura terlihat ragu saat mulai berbicara “seseorang memintaku kemari untuk membantunya merawat kerabatnya yang sedang sakit, tapi…… tapi aku tidak tau kalau ini rumah mu. Mungkin orang itu salah memberikan alamatnya”

“boleh ku tau siapa yang memintamu?” akhirnya hyura mengangkat wajahnya dan menatapku.

“pria bernama Lee hyukjae”

Tanpa sadar aku tersenyum tipis mendengar nama sepupuku, dan kulihat hyura mengangkat satu alisnya bingung. “kau lupa aku pernah bercerita tentang Lee hyukjae?”

“Lee…. hyukjae?” tanyanya mengulangi, ia terlihat berpikir keras. Tapi tidak lama sampai ia membuka mulutnya. Sepertinya ia mengingatnya  “maksudmu, yang dulu kau ceritakan di rumah sakit?” Tanyanya memastikan dan aku mengangguk sebagai jawabannya.

“pantas saja waktu di hotel……..”hyura menghentikan ucapannya tiba-tiba, kemudian menarik nafas panjang sebelum bicara lagi “hmm sepertinya sepupumu itu salah, tidak ada yang bisa kukerjakan disini, jadi sebaiknya aku kembali” aku tidak suka melihatnya berusaha menjauhiku.

Untuk yang kedua kalinya aku menggenggam tangannya lagi sebelum ia benar-benar berniat pergi. Ia memandangi tanganku yang memegang tangannya kemudian ia mengangkat kepalanya melihatku

“tinggallah disini, dengan begitu setidaknya kau sudah memenuhi janjimu pada sepupuku”

“kurasa sepupumu membohongiku, dan aku tidak perlu memenuhi janji pada orang yang berbohong”

“ kalau begitu anggap saja ini demi aku” perkataan itu lolos begitu saja dari mulutku

“YE?” tanyanya terkejut. Sungguh ekspresi terkejutnya benar-benar lucu. Mungkin jika keadaan kami masih seperti dulu aku pasti sudah menertawakannya habis-habisan. Tapi tidak dengan sekarang.

Hyura buru-buru mengendalikan ekspresinya lagi “maaf, aku tidak mengerti maksudmu donghae ssi”

“yah bisa dibilang kau menemaniku disini” sahut ku santai dan terlihat ia sangat keberatan dengan permintaanku. Apa sesulit itu hanya untuk menemaniku? Aku bisa mengerti jika perasaannya berubah padaku mengingat apa yang dulu pernah kuperbuat padanya.

Tapi aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku menginginkannya dan Aku lelah terus menjauh darinya. Mungkin terdengar egois tapi bukankah cinta memang egois?

“kita tidak mempunyai hubungan dimana aku harus menemanimu”

“lalu hubungan seperti apa yang kau inginkan agar kau mau tetap disini?” tanyaku menantang

“i-itu….. itu”  gadis didepanku ini sudah tidak bisa lagi menjawabku

“sudahlah aku tidak menerima penolakan” ucapku tegas. aku tidak mau berdebat lagi dengannya

Dia menunduk dalam sebelum akhirnya memandangku dengan tatapan lelah. Aku tidak suka raut wajahnya yang seperti itu. membuatku terjatuh ke dalam jurang penyiksaan karena aku manyadari itu semua karena diriku.

“donghae ssi…..kumohon jangan begini” suaranya mulai bergetar dan ucapannya sarat akan permohonan. Aku benci melihatnya memohon padaku. Harusnya aku yang memohon maaf padanya. Tapi sepertinya keegoisanku mengalahkan segalanya

“sudah kubilang aku tidak menerima penolakan”

“ta-tapi donghae ssi…….” Aku tidak mau mendengar penolakannya lagi, jadi aku langsung menarik tangannya yang sedari tadi masing ku genggam dan tidak lupa membawa tasnya di tanganku yang satu lagi menuju ke kamar yang akan ia tempati.

Aku membuka salah satu kamar yang ada di rumahku ini, dan membawanya masuk.

“kau bisa istirahat disini, kau pasti lelah” ucapku dan meninggalkannya yang masih menatapku dengan semua penolakannya dan raut wajah yang…. Terluka.

See  aku melukainya lagi. Tapi itu yang harus kulakukan agar kau tetap di sisiku. Aku tidak ingin melepaskanmu lagi. Jika aku kehilanganmu untuk kedua kalinya aku tidak tau bagaimana aku bisa menjalani hidup.

Aku mengambil ponsel dari sakuku dan menekan beberapa tombol diatasnya, kemudian menempelkannya ke telingaku

“yeoboseyo” jawab orang di sebrang sana

“apa maksudmu dari semua ini?” tanyaku pura-pura kesal

“wah mendengar pertanyaanmu sepertinya hadiahku sampai dengan selamat di rumahmu” terdengar kekehan di sela ucapannya

“tapi kau membohonginya mentah-mentah, kalau saja kau bisa melihat wajah terkejutnya saat melihatku”

“aku tidak berbohong padanya, kau itu memang sedang sakit donghae-ah. Sakit rindu lebih tepatnya”

“yakkk!!….”

“ingat!!” potongnya  “Kau harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jangan sampai kejadian di hotel kemarin terulang lagi. Bodoh sekali kau ini meninggalkannya begitu saja”

“arraseo, aku tau apa yang harus kulakukan”

“cih, kalau kau tau apa yang harus kau lakukan tidak mungkin dulu kau mencampakkannya begitu saja. Sayang sekali kau sepupuku, jika bukan aku tidak akan berpikir 2 kali untuk mengambilnya dari mu”

“mworago?? YA!!!! Lee hyukjae! kau mau mati?”

“kadang cinta butuh keegoisan sepupu.”

“tidak peduli kau sepupuku atau bukan, tapi jika kau berani mendekatinya aku tidak akan tinggal diam” geramku

“Hahahaha….. aku hanya bercanda, kau ini serius sekali”

“berbicara denganmu membuatku jengkel” aku langsung mematikan sambungan sebelum dia mempermainkan emosiku lagi.

~

Author pov

Setelah donghae meninggalkan hyura dikamar asing itu,. Hyura mendudukan dirinya di tepi ranjang dan mendesah berat. ia melihat sekelilingnya. Ia bisa menduga bahwa kamar yang donghae berikan padanya adalah kamar seorang wanita

Berada disekitar Lee donghae adalah penyiksaan batin bagi gadis itu. ia mencintainya, tentu saja. Hatinya tidak berubah sama sekali meskipun pria itu telah menyakitinya. Tapi melihat wajah pria itu mengingatkannya pada kesalahan yang ia lakukan dulu. Seolah setiap apa yang dilontarkan donghae merupakan sebuah tuduhan padanya.

Yang jelas saat ini ia merasa berada ditempat yang salah. Tidak seharusnya dia datang. Semenjak kejadian di hotel waktu itu dia sudah bertekad menyingkir dari kehidupan Lee donghae. Ia juga sedang memikirkan tawaran ibunya untuk tinggal bersama mereka di amerika dan mulai belajar menggantikan ayahnya mengurus cabang perusahaan yang ada disana.

Drrtt drrrt drrrt

Dering ponsel hyura menginterupsi pikiran-pikirannya.

“wae?” jawab hyura ketus. Ia kesal dengan orang yang sedang menelponya sekarang ini

“ kau galak sekali hyura-ya, aku hanya ingin menanyakan kabar mu” dengan santai orang disebrang menjawabnya

“kau membohongiku tuan Lee. Harusnya aku menyadari akal busukmu setelah kejadian di hotel waktu itu.”

“aku tidak bohong hyura-ya. kerabatku memang sedang sakit. Dia sakit karena merindukanmu” kekehan hyukjae membuat hyura makin kesal padanya

“jangan membuat lelucon yang tidak lucu, dan berhenti memanggilku seperti itu. aku tidak suka kau sok akrab denganku” omel hyura dan langsung mematikannya secara sepihak.

Sedangkan pria bernama Lee hyukjae hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal

“aisshhh kenapa pasangan ini kompak sekali memarahiku” gumamnya sambil mengendikkan bahunya.

~

“sekarang apa yang harus kulakukan?” keluh hyura. ia bahkan tidak berani beranjak dari kamar yang ia tempati saat ini. Meskipun hal itu tidak bisa dihindari karena mereka berada dirumah yang sama.

Lee donghae, pria yang dengan kurang ajarnya masuk kedalam kehidupan hyura, mengangkat gadis itu tinggi-tinggi dan kemudian menjatuhkannya begitu saja.

Hyura tersenyum pahit mengingat sepenggal bayangan masa lalu saat donghae dengan gamblangnya menyatakan kebenciannya pada dirinya. Karena secara tidak langsung ia telah Membuat pria tersebut kehilangan 2 orang yang sangat ia sayangi.

Hyura tidak bisa menebak-nebak apa tujuan donghae memintanya untuk tinggal. Apa pria itu akan menyakitinya lagi. Tapi hyura ragu akan hal itu karena Tatapan mata donghae sama seperti dulu.  saat mereka masih menjalin hubungan. Tatapan sayang dan sarat akan pemujaan. Mungkin sedikit berlebihan tapi memang itu lah yang hyura rasakan. Bahkan hyura ragu bahwa donghae sengaja mendekatinya hanya untuk balas dendam. Karena pada mulanya hyura benar-benar merasakan ketulusan seorang Lee donghae.

“dasar gadis bodoh, kau terlalu banyak berharap park hyura” ucapnya pada diri sendiri. kemudian ia berbaring berniat untuk sedikit meghilangkan penatnya.

 

***

Tok tok tok

Donghae mengetuk kamar hyura pelan. Kamar jihyun sebenarnya. Padahal  ia ingin hyura menempati kamar nya saja. Tapi kamar donghae sudah tidak terurus karena lebih dari 6 tahun kamar itu tidak ada yang mengisi. Dan sekarang pria itu pun menggunakan kamar ibunya

Merasa panik karena hyura tak kunjung membukakan pintu untuknya. Akhirnya ia memutuskan untuk menerobos masuk dan mengecek apa gadis itu kabur atau tidak.

Pria itu bernafas lega saat melihat hyura tengah terlelap. Ia berjalan mendekati hyura sehati-hati mungkin, tidak ingin membangunkan gadisnya.

Donghae berjongkok disisi ranjang dan tanpa sadar tersenyum saat melihat gadisnya tertidur pulas. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah hyura, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadisnya.

Donghae naik ke ranjang dan ikut berbaring di samping hyura. Menarik gadisnya ke dalam pelukannya. Hyura sedikit menggeliat saat donghae menyelipkan lengannya ke bawah kepala hyura untuk menggantikan bantal.

“saranghae” bisik donghae tepat di telinga hyura.

~

Hyura pov

Hal pertama yang kusadari aku mendengar suara detak jantung yang mengalun lembut ditelingaku. Aku yakin itu bukan suara detak jantung milikku dan yang kedua aku merasakan kenyamanan dan kehangatan yang melingkupi tubuhku.

Aku perlu mengerjapkan mataku berkali-kali untuk menyadari apa yang ada di depan mataku sekarang. Lee donghae sedang menatapku dalam dan kemudian tersenyum tulus. dan mataku tidak berkedip sama sekali saat menyadari posisi kami, ia yang memelukku dengan erat didadanya.

“kau sudah bangun?” tanyanya seperti sebuah bisikan. aku diam, tenggorokanku serasa tercekat meskipun hanya  untuk mengucapkan 1 kata. Terlalu terkejut mungkin.

Ini terlalu nyata jika hanya sebuah mimpi dan terlalu mustahil jika ini sebuah kenyataan. Tapi jika seandainya ini hanya mimpi aku rela untuk tidak bangun lagi.

“k kau…..a apa yang kau lakukan?” aku berusaha mengumpulkan kembali kekuatanku untuk bersuara.

“menemanimu tidur” jawabnya lembut dan tetap dengan senyum diwajahnya.

Aku tidak mengerti kenapa dia menjadi seperti ini? bukankah seharusnya dia membenciku?

Kenapa dia kembali lagi menjadi Lee donghaeku yang dulu? Atau ia ingin menyiksaku lagi?

“tapi….” Ucapanku terpotong begitu saja saat perutku dengan sopannya berbunyi. Donghae yang mendengar hal itu pun langsung tesenyum simpul. Sedangkan aku tertunduk dan menyembunyikan wajahku.

“kau melewatkan makan siangmu, tentu saja kau lapar. Tunggu sebentar, aku kan menyiapkan makanan untukmu” ucapnya kemudian melepaskan pelukannya ditubuhku dan berjalan keluar.

Aku menghembuskan nafas lega saat aku sudah sendirian. Aku butuh waktu untuk menetralkan detak jantungku.

Aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku dulu sebelum keluar menemui donghae. Setalah merasa segar setelah mandi aku membongkar barang bawaanku dan meletakkannya di almari yang ada dikamar ini.

Aku menjatuhkan pakaian yang tengah ku pegang begitu saja ke lantai saat aku membuka pintu almari. Dibagian dalam pintu almari penuh dengan foto seorang pria yang sangat kukenal. Sungmin oppa.

“I igeo mwoya?” aku memperhatikan semua foto itu. sepertinya foto-foto tersebut diambil tanpa sepengetahuan sungmin oppa. Ada foto sungmin oppa sedang ngobrol sambil tertawa dengan teman-temannya, sedang bermain gitar, bahkan ada foto ia sedang tertidur diatas tumpukan buku.

Mungkin foto ini diambil waktu sungmin oppa masih di sekolah menengah, dan saat itu aku belum mengenalnya. Aku mengenal sungmin oppa saat ia bermain gitar mengiringi temanku di acara tahunan universitas dan saat itu aku baru tingkat 3.

Dengan cepat aku membuka pintu lemari satunya lagi, karena lemari ini memiliki 3 pintu. Dan benar saja dibalik pintu ini pun penuh foto sungmin oppa. Namun disini seharusnya banyak foto yang ada fotoku juga. Tapi bagian fotoku seperti dirobek dengan sengaja.

Foto saat pertunangan kami dan saat kelulusanku terpampang disini tapi foto bagianku tidak ada hanya ada foto sungmin oppa. Jika dugaanku benar mungkin kamar yang sedang ku tempati saat ini adalah kamar jihyun. Adik donghae. Lee Jihyun, gadis seperti apa dia sebenarnya? Obsesinya sangat mengerikan. Mungkin sebenarnya ia sudah gila sebelum sungmin oppa meninggal. Apa donghae tau soal ini?

Aku meraba salah satu foto. Foto pertunangan kami. Dimana wajah sungmin oppa terlihat tersenyum bahagia saat ia hendak memasangkan cincin pertunangan kami dijariku. Tanpa sadar bibirku tertarik keatas.

“Oppa, bagaimana kabarmu??, oppa neomu bogoshippo.”

“ Mianhe aku tidak pernah mengunjungimu, aku terlalu takut bertemu denganmu, aku terlalu takut kau tidak akan pernah memaafkanku. Aku tidak tau bahwa ada seseorang yang menyukaimu sampai seperti ini. lalu, bagaimana dengan perasaanmu padanya? Apa kau juga menyukainya? Kalau kau menyukainya kenapa kau mau bertunangan denganku? Dan kalau kau tidak menyukainya kenapa kau sampai menghamilinya? Sebenarnya apa yang dulu telah kau lakukan dibelakangku? Apa kau mengkhianatiku?”

“Oppa…. Kau sudah tidak ada di dunia ini. lalu aku harus bertanya pada siapa?”

Tok..tokk

Aku terkesiap saat mendengar ketukan pintu, Aku pun buru-buru menutup pintu lemari dan bergegas menuju pintu kamar.

“makanannya sudah sudah siap. Ayo!” donghae tersenyum lembut dan menggengam tanganku menuju ke meja makan.

“maaf aku hanya bisa memasak ini” donghae menatapku seolah meminta maaf, saat ku lihat ada 2 mangkuk ramyon tersaji di meja makan.

“gomawo”sahutku singkat kemudian duduk dan mulai menyantap ramyon yang ada di depanku. Kulihat donghae pun melakukan hal yang sama denganku.

***

“biar aku saja” kataku setelah kami berdua menyelesaikan santapan kami. Aku mengambil mangkuk dari hadapan donghae dan bergegas ke bak cuci. Kudengar langkah kaki yang mengekor di belakangku.

Demi tuhan Lee donghae, apa dia tidak bisakah ia membiarkan ku sendiri? bahkan saat makan tadi pun kulihat melalui ekor mataku, matanya tidak lepas dari wajahku. Sebenarnya ada apa dengannya?

Sebelum mencuci bekas makan kami, aku membalikkan tubuhku menghadapnya. “apa ada yang ingin kau sampaikan?” tanyaku langsung. Donghae sedikit terkesiap saat aku tiba-tiba tubuhku berbalik dan menanyakan hal tersebut.

Donghae memegang tengkuknya sesaat sebelum berbicara “hmm, kalau boleh kutahu sampai kapan sepupuku memintamu tinggal disini?”

“2 hari, tapi besok aku akan kembali ke seoul”

“wae? ” protesnya, ada nada tidak suka di dalam nada bicaranya

“seperti yang tadi kukatakan, tidak ada yang bisa kulakukan disini”  donghae merangsek maju dan memangkas jarak diantara kami. Ia memegang kedua bahuku dan menatapku serius

“hyura-ya….. bisakah, kita mulai lagi dari awal?” tanyanya pelan dan sarat akan permohonan. Barusan dia bilang apa? mulai lagi dari awal? Bukankah ia membenciku? Lalu Apa dia mau menghancurkan hati ku lagi? tapi aku  tidak menemukan kebohongan dimatanya yang ada hanya keseriusan dan ketulusan. Yah dulu aku juga melihat ketulusan yang sama darinya tapi apa yang kudapat? Ternyata ia hanya membalas dendam padaku.

Aku melepas kedua tangannya dibahuku dengan perlahan kemudian mengeleng pelan. Tidak ada keterkejutan sama sekali di wajahnya, yang ada hanya kesedihan dan keputusasaan. Kenapa dia harus menatapku seperti itu?

“kumohon berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Memperbaiki hubunganmu dengan ku dan hubungan keluarga kita.eo?

“boleh ku tau? Apa hubungan kita pernah benar-benar dimulai? Bukankah kau dulu mendekatiku hanya untuk balas dendam? Kau berhasil tuan Lee, kau berhasil menghancurkan hatiku. Apa itu masih belum cukup? Apa kau mau membuatku sama seperti adik mu baru kau puas? ”

“hyura-ya…….” Donghae menatapku dengan penuh kepedihan, entah lah aku tidak mengerti maksudnya. Tapi yang jelas aku berharap dia membenciku saja karena jika ia begini terus justru semakin menyakitiku “….kumohon dengarkan aku dulu hyura-ya”

Aku menunggu dan ia menarik nafas dalam sebelum berbicara “maaf, aku minta maaf. Mungkin hanya kata itu yang bisa kuucapkan”

“ibuku. ia meninggal karena penyakit ginjal yang sudah lama ia derita. Karena terlalu mengurusi jihyun ia sendiri lupa mengenai kesehatannya dan melewatkan jadwal cuci darahnya. Sebenarnya saat ia mengetahui ia memiliki penyakit itu, ia memintaku untuk pulang dan tinggal bersamanya. Tapi aku menolak karena aku masih ingin meneruskan gelar masterku disana. Tapi eomma tidak bilang kalau jihyun sakit….”

“…..dan waktu itu, saat aku pamitan denganmu untuk mengunjungi sepupuku disini, Aku menceritakanmu pada sepupuku. Aku bercerita padanya aku sudah melamar mu dan ingin menikahimu. Aku menceritakan kisah mu dengan mantan tunangan mu. Tapi setelah aku bercerita sepupuku menunjukan isi lemari jihyun padaku dan memperlihatkan foto mantan tunanganmu disana…..”

“ …..saat itu aku terlalu shock dan bingung. Dan perlu kau tau!! aku tidak pernah berniat untuk balas dendam padamu.”

“….. Aku menyatukan setiap penggalan cerita yang pernah kau sampaikan padaku, bagaimana kau meninggalkan tunanganmu di dalam mobil karena emosimu. Dari situ aku menyimpulkan seandainya kau tidak gegabah mungkin pria itu masih hidup dan adikku tidak akan seperti ini, dan mungkin juga ibuku masih hidup…..”

“…..aku terlalu menyalahkanmu tanpa melihat kenyataan yang ada. Aku tidak tau bagaimana kehidupan adikku selama disini dan kemarin aku memutuskan pulang kesini untuk mulai mencari sesuatu yang menyangkut dirinya….”

Donghae menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, bibirnya sedikit gemetar “mental adikku sebenarnya sudah terganggu saat mengetahui kalian bertunangan. Dia terus mengganggu sungmin dan puncaknya ia membuat tunanganmu menidurinya hingga jihyun hamil. Jihyun mengancam jika ia tidak bertanggung jawab maka ia akan mengganggu hidupmu dan  mencelakakanmu. Itu semua tertulis jelas di buku harian jihyun.”

Aku mengangkat tanganku untuk menutup mulutku. Kenyataan ini sangat menyakitkan bagiku. Aku tidak adil pada sungmin oppa.

tubuh ku merosot begitu saja. Air mata yang entah sejak kapan telah mengalir dengan sendirinya.

“oppa….oppa, sungmin oppa….” Aku terus menggumamkan namanya di sela isak tangisku. Aku jahat sekali padanya. Aku telah merenggut nyawanya padahal ia rela mengorbankan dirinya untukku. Ya tuhan hukuman apa yang pantas kuterima?

Kurasakan ada yang mendekap tubuhku “hyura-ya mianhe, jeongmal mianhe” ucap donghae lirih di telingaku

***

Author pov

Pagi ini hyura dan donghae memutuskan kembali ke seoul. Sebenarnya hanya hyura yang ingin pulang dan donghae memaksa untuk pergi bersama.

Sepanjang perjalanan hyura lebih banyak diam. Ia hanya memandangi kaca disebelah kanannya. Wajahnya tidak menunjukan ia baik-baik saja. Matanya sembab karena semalaman menangis dan lingkaran hitam di bawah matanya sangat mencolok di kulit wajahnya yang seputih susu.

“bisa antarkan aku ke Choi Coorporate?” pinta hyura saat mereka sudah memasuki seoul

“untuk apa kau kesana?” donghae sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa ingin taunya

“ada seseorang yang ingin ku temui”

“aku ikut!!” hyura memandang donghae tidak suka. Ia tidak suka pria ini terus-terusan membuntutinya

“ini tidak ada hubungannya denganmu”

“aku tidak meminta izinmu” sahut donghae santai dan hyura hanya berdecak sebal

***

“apa aku bisa bertemu dengan tuan Choi siwon?” Tanya hyura pada seorang wanita di menja receptionist.

“apa anda sudah memiliki janji?”

“belum, tapi bilang saja park hyura ingin bertemu”

“baiklah tunggu sebentar nona” ucap receptionist tersebut dan mengangkat gagang telpon melakukan apa yang diminta hyura.

“kau mengenal choi siwon?” Tanya donghae dari belakang. Dan hyura menengok kemudian mengangguk singkat.

“ada hubungan apa kau dengan dia?” Tanya donghae menyelidik. Donghae tidak suka mengetahui  kenyataan bahwa hyura mengenal choi siwon secara pribadi. Karena sepengetahuan donghae, siwon terkenal dengan kesempurnaannya. Dan sangat jauh bila dibandingkan dengan dirinya.

“hanya kenalan” jawab hyura acuh

“kau yakin?” pertanyaan donghae seakan menuduh bahwa hyura tidak jujur dengannya.

Hyura memutar bola matanya malas, belum sempat menjawab tiba-tiba suara receptionis menginterupsi mereka “nona, anda diminta langsung saja keruangan tuan Choi”

“ne kamsahamnida” jawab hyura dan langsung berjalan menuju ruangan siwon dan donghae tetap mengekor di belakang dengan muka tertekuk

“wah hyura ssi, akhirnya kau datang menemuiku” siwon menyambut hyura dengan tangan terbuka.

“ehemm” donghae berdehem untuk mengalihkan perhatian siwon dari hyura “Lee donghae imnida” donghae langsung memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.

“Choi Siwon imnida” siwon pun menjabat tangan donghae dan tersenyum pada pria itu “ mari silahkan duduk” siwon mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di sofa.

“choi siwon ssi, bisa langsung saja?” Tanya hyura tanpa basa basi.

“oh tentu, tunggu sebentar” siwon beranjak dari duduknya menuju meja kerja dan mengambil sesuatu dari laci mejanya”

“ini” siwon menyerahkan sebuah kotak kecil berbahan beludru berwarna perak.

Hyura dan donghae mengernyitkan dahinya melihat benda tersebut. Mereka berdua tidak sebodoh itu sampai harus bertanya apa isinya. Tapi kenapa siwon memberikan benda itu pada hyura ‘apa dia ingin melamarnya’ geram donghae dalam hati

“ya! apa maksudnya ini?” Tanya dongahe tidak sabar

“ini adalah cincin pernikahan hyura. Sungmin hyung langsung memesan cincin tersebut dari pengrajin berlian di prancis dan baru tiba disini seminggu setelah pemakaman sungmin hyung. Dan cincin itu dikirimkan kemari. Aku ingin memberikannya padamu tapi kau seolah menghilang selama 2 tahun ini. jadi aku baru bisa memberikannya sekarang”

Hyura membuka kotak tersebut dan meraba kedua cincin yang tertancap sempurna dikotaknya. Terdapat ukiran sungmin&hyura dibagian dalam masing-masing cincinnya.

***

“maaf baru mengunjungimu. Kau merindukanku, eh? Kurasa tidak. Atau mungkin kau membenciku? Itu sudah pasti kan? Apa aku terlalu hina jika aku memohon maaf darimu? Dan  Tentu saja kau tidak boleh memaafkan ku mengingat aku yang membuat mu berada disini” hyura tersenyum miris

Hyura menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan. Ia mengangkat kelima jarinya seolah menunjukan sesuatu “lihatlah! Aku memakai cincin darimu. Aku tidak menyangka oppa mendengarkan ucapanku ketika aku bercerita mengenai seorang pengrajin perhiasan yang sangat terkenal itu”

“ini sangat indah. Kau tau. aku rela melakukan apa saja seandainya kau sendiri yang memasangkannya untukku, oppa” hyura mendongakkan kepalanya menahan laju air mata yang mendesak ingin keluar “kau tidak tau betapa beruntungnya aku pernah memiliki mu. Meskipun aku mencintai orang lain saat ini tapi kedudukan mu di hatiku tidak akan ada yang bisa menggantikannya”

“oppa, neomu bogoshippo” lirihnya “jeongmal sarangheyo oppa” hyura meletakan karangan bunga di depan nisan sungmin dan mulai beranjak pergi. Baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba ia merasakan hembusan angin “nado sarangheyo” terdengar sebuah bisikan pelan namun sangat jelas di telinga hyura. tanpa sadar hyura menoleh kembali dan tersenyum simpul “arasseo oppa, kau memang tidak pernah meninggalkanku” kata hyura sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu.

***

Hyura tidak terkejut saat melihat donghae tengah duduk santai di sofa yang berada di kamarnya. Beberapa hari belakangan ini pria itu terus saja berada di sekitar hyura seperti bayangan.

“kau dari mana? kemana lagi kali ini? kenapa tidak memberitahu ku? bukannya sudah kubilang kau harus menungguku!” pria itu merajuk dan hyura memilih untuk mengabaikannya dan berbaring di ranjangnya.

“Hyura-ya….”

“….”

“nona Park”

“….”

“Park Hyura”

“……”

“YA!!!! Lee Hyura” teriak donghae kesal karena tidak di hiraukan oleh hyura

“Mwoya?” sahut hyura kesal dan donghae tersenyum melihat gadis itu menjawabnya meskipun dangan nada kesal.

“wah kau baru menyahut setalah kupanggil dengan namaku, apa kau sebegitu tidak sabarnya? Tenang saja sebentar lagi kau akan segera menjadi Ny Lee”

“apa kau tidak bisa berhenti menggangguku?” Tanya hyura ketus

“tidak” sahut donghae santai dan membuat hyura mendengus kesal “aku lelah. Aku ingin istirahat, kau pulanglah!”

“baiklah, aku juga harus kembali kekantor. Aku kesini hanya ingin memberitau mu, nanti malam kita akan malam bersama ayahku”

“apa?” Tanya hyura terkejut “ makan malam dengan ayah mu?”

“hanya makan malam biasa, tidak terlalu formal. Ayahku ingin melihat calon menantunya” ujar donghae santai

“calon menantu?” hyura mengangkat sebelah alisnya “ hey, Memangnya siapa yang akan menikah dengan mu tuan Lee?”

“ya tentu saja dirimu, kau lupa aku sudah melamar mu?”

“cih, lamaranmu sudah tidak berlaku sejak aku melihat mu berciuman dengan wanita lain” cibir hyura. donghae tertegun sejenak mendengar ucapan hyura kemudian melangkah dan berjongkok disamping ranjang gadis itu. perlahan namun pasti, donghae mendekatkan bibirnya ke bibir mungil milik hyura.

Hanya kecupan-kecupan kecil yang lembut tanpa nafsu dan tuntutan. Hyura seperti terhipnotis dengan sikap donghae dan ia tidak menolak ataupun membalas ciuman tersebut.”aku tidak pernah mencium gadis itu” ujar donghae lembut “aku hanya membuatnya seolah terlihat begitu. Dan aku akan rela melakukan apa saja agar kau mau memaafkanku dan membiarkanku tetap berada disisimu. Meskipun kau tidak menghiraukanku, aku tidak apa-apa. tapi kumohon biarkan aku tetap di sisimu, biarkan aku tetap memandangmu hmm” pria itu mengusap pipi hyura lembut dan menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga hyura.

Hyura baru saja akan membuka mulutnya tapi donghae membungkam mulut hyura dengan ciumannya. Kali ini bukan kecupan-kecupan melainkan ciuman yang lebih dalam

“aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau mencoba meninggalkanku lagi” jawab hyura saat donghae melepaskan tautan bibir mereka. Donghae pun tersenyum senang mendengar jawaban hyura.

“aku adalah tawanan mu seumur hidup Nyonya Lee”

“ hmm apa aku boleh tetap memakai ini?” hyura bertanya ragu sambil menunjukan cincin pemberian dari sungmin.

Donghae tersenyum lembut “ tentu saja. Ia juga pernah menjadi bagian hiduppmu dan aku tidak ingin mengambilnya”

“gomawo donghae-ah” hyura memeluk donghae erat dan meletakkan kepalanya di bahu pria itu. “besok aku ingin mengunjungi calon adik iparku, apa kau ingin menemaniku?” Tanya hyura.

Mendengar hal itu donghae langsung melepaskan pelukannya dan menatp hyura intens. “kau ingin menengok jihyun?” Tanya donghae ragu. Dan hyura mengangguk singkat

“jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku tidak memintamu untuk memaaf…..”

“aku sudah memaafkannya” potong hyura cepat “ dan aku memutuskan untuk merawatnya juga” donghae menatap hyura dengan seksama, mencari keraguan di wajah gadis itu. tapi nihil, ia hanya menemukan kesungguhan disana.

“terimakasih. Terimakasih kau mau menerimaku dan keluargaku” sahut donghae dan kembali memeluk gadisnya

“your welcome” 

THE END

 

Tulisan ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , . Tandai permalink.

64 Balasan ke this fate or?

  1. Ayunie CLOUDsweetJewel berkata:

    Whoaaaaaaaaa~ ff ini ceritanya menarik banget, feel-nya dapet dan alurnya pas. Pokoknya, cetar membahana. Apalagi Lee DongHae jadi main cast-nya.

    Btw, ff “My actress.. My Mine” itu masih dilanjut kan? Alnya aku tungguin di blog sebelah, tapi ga publish juga. Meski sama dengan “actress and Marriage” tapi aku pengen yg cast-nya LDH. Hhohoho…

    Trus, PW Actress and Marriage, apa author bisa kirim ke email aku ajj? Alnya twitterku lagi error, ekawahyuni98@gmail.com. Gomawo..

  2. devi berkata:

    walau udah baca dtetangga sebelah tapi tetep kgk bosen

  3. Asdfghjkl berkata:

    Woaahh..gak nyangka kalau alur ceritanya begini!! Daebakk keep writing thor !! 😉

  4. abrian berkata:

    Fff ini bgs bngt, knpa gak di publish di wp lain agarbanyak yg bs baca

    alurnya bgs, bngt. . . .

  5. entappi berkata:

    waaaahh daebak beneran mau nangis pas di hotel itu. waahh feelnya kerasa banget. di tunggu ff lainnya huhu serruuww bgt. fightinggg!!

  6. Cho handa berkata:

    Wehhh perjalanan panjang lee donghae yg penuh liku berakhir manis. Dari bhgia bersama dan datang kehidupan suram yg harus di tanggung donghae,dari kisah hyura,ibu ya hingga adiknya jihyun. semua serasa memeras otak dan energi. tp semua derita itu berbuah manis di penghujung kesabaran 😀 😀

    ff ya Longgggshoot bngt. berapa jam aku baca ini wkwk.. tp sama sekali gk buat bosan. asli tiap part malah buat penasaran akan part selanjutnya … Di tunggu ff lainnya 😀 😀

  7. nie p.nie berkata:

    LDH emang cocok lah buat peranan melow2 kaya gni.
    pokonya keren.

  8. nurul berkata:

    Panjaaaaaaaaanggg keren lah pkok’a…

  9. hinata berkata:

    Klo sungmin hidup pst crtnya laen
    😛
    V i lile this
    😛

  10. Putri Puspa Ayu berkata:

    Sumpahhhhhhhhhh!!! Ini Sdh jd slh satu FF terfavoritku! Jujur aku jrg ngasih komen di blog kalo abis bca FF xD tp ini bnran daebakk!! I love this story :)feel dapet, emosi nya cetar bgt.. Pokoknya keren!! Lanjutkan menulis nya thor! 🙂

  11. zuzica berkata:

    Wah bener bener longshoot sampe sejam bacanya

  12. putri berkata:

    begetarr hatiku membacanyaa*plakkk…
    Tapii beneran chinguuu, ceritaa bener benerr mengaduk ngadukk emosii, sempet nangis trus senyum, nangiss lagi, aishhh pokoknyaaa kerenn bangett

  13. neezhaa berkata:

    Alhamdullah akhrnya tamat jg bca ni certa,.asli panjang bngt ni ff..
    Keren banget pake pisan..

  14. hyunsoo28 berkata:

    Wwooaahh puas bgt bacanya, ini bnr” longshoot
    Suka bgt sm alurnya, seru konfliknya, nyesek sedih kesel kecewa semuanya dapet bgt
    Ada rasa mau marah juga sm si ikan amis itu #plak
    Aduh ga ada lg deh yg hrs di komen udh bgs bgt

  15. YeKyuwifeRAsya berkata:

    Wow very very longshot bagus banget ini ff thor feelnya dapet banget penasaranx juga..
    Daebak pokokx.. aku suka

  16. tiwiw berkata:

    gak tau kenapa pas bacanya pengen banget nangis T__T
    kereeennnn

  17. desak chintia berkata:

    Hallo thor, aku readers bru ni ^^
    Ini ff pertama yg aku bca d’blog ini ^^
    Duuhh kyaknya bakaln pr bgt deh buat bca semua ff yg ada d’sini , hehe 😀

    Btw ff nya daebak thor, sedihnya dapet bgt, itu si hyukjae emng bener” deh, salut deh udh bisa nyatuin mereka lagi ^^b

    Oke segitu dulu koment aku ya, mau baca yg lain dulu ~
    *suka bgt sma ff yg longshoot kyak gini* 🙂

  18. xXx berkata:

    Huaaa akhir tamat juga, panjang bgt ceritanya. Asli baca ini bikin nangis terus. Keren pisan euyyy !!!

  19. dhp berkata:

    Akhir nya selesai jg baca ni ff~ ini ff very very longshoot tp gak ngbosenin bacanya !!! Salah satu ff terbaik yg pernah sya baca loh

  20. dhp berkata:

    Huaaa~ akhir nya selesai jg baca nih ff~ salah satu ff terbaik yg prnh sya baca .
    Ff ini ceritanya keren abisss !!! Di tunggu tulisan selanjutnya

  21. Maulina Jelita berkata:

    wahhhh,,, akhirnya happy ending walapun konfliknya gag kelar-kelar,,,, tapi aku masih penasaran gimana reaksi jihyun kalo ketemu sama hyura,,,

  22. hartini berkata:

    Wow … sangat panjang tpi ga ngebosenin .crita’y mengalir begitu wajar, bahasa’y jga sngat rapih .
    Lee hyuk jae karkter yg paling aku suka
    Prokk…prokkk…prokkk, tepung tangan yg meriah buat crita ini^^

  23. Huhu berkata:

    Eonni crtnya udh bgus tpi kok cma smpe stu??sequel dong XD

  24. Xian Miya berkata:

    asekkk ff’nya keren, aduhh romance’nya berasa banget, speechlesss . No comment . Aishhh donghae ><

  25. Park Ji Ae berkata:

    Sangat panjaaannggg, tapi konfliknya seru jadi ga bosen 🙂 Keren keren untung akhirnya happy ending hehe Semangat terus author!! Fighting!!

  26. haemi berkata:

    akhhh terharu thor
    Sumfehh keren banget ceritanya
    i love it

  27. ayu.y berkata:

    wahhh..
    ini keren..
    perjalanan cinta hyura donghae pnjng bangt.

  28. Dwita berkata:

    Ceritanya keren ^^

  29. shinmin berkata:

    Ceritanya TOP BGT. Biasanya keseringat ff bisa ketebak ceritanya dari awal cerita. Tapi ff yang satu ini ga kebayang kalau alurnya bakal jadi ini. Bener bener romance. 4 jempol deh buat author.
    Ga ta akunya yang lelet bacanya atau emang ceritanya yang panjang, aku butuh waktu sekitar 4 jam buat nyelesein baca ni fanfict. Puas banget.
    Author Fighting!!

  30. Marsceill berkata:

    Ff.a daebak thor 🙂 . Konflik.a pasang surut suka kalo dah nemu ff konflik.a kek begini . Mana cast.a abang ikan lagi trus ada siwon.a jga . Ash poko.a keren pluss menarik dah . Baca ni ff ampe keroncongan ni perut . Reader nyasar disini salam kenal *bow 🙂

  31. jena berkata:

    uwahh~
    keren banget, serius. aku bahkan gak mau lewatin satu katapun pas lagi baca. aku suka banget sama idenya. apalagi pas di awal saat hyura lebih milih ninggalin sungmin di mobil pas kecelakaan. soalnya akupun akan ngelakuin hal sama kalo jadi hyura. bayangin coba, orang yang kita cintai tiba2 mau ngebatalin pernikahan gara2 orang 3 siapa yang rela.
    sukses truss yaaa

  32. sakura berkata:

    .bener2 keren critanya
    .dapet bgt feelnya
    .like like like:)

  33. entik berkata:

    Keren, cakep.
    Itu 2 kt yg bisa aku utrain.
    Oke aku mau ungkapin pemikiran aku, awal mikir sungmin ko jadi maen cewe, tau nya enggk, hae yang bisa bener2 sembuhin hyura dari 1th yg orang2 anggp dia depresi berat mpe ortunya ngejauhin dia, kakanya yg udah ampir putus asa.
    Cerita yang bikin trus2an penasaran pgn baca mpe beres.
    Ending yang bagus, dan happy.
    Ups aku reader baru, salam kenal.

  34. lovey denalisa berkata:

    Sumpah dari awal q kira sungmin tu pria brengsek, pas ke tengah agak jengkel seolah pada nyalain hyura,nd pas ahir ternyata ade d0nghae yg jahat. 🙂 ya sukur kalo happy ending.

  35. lovey denalisa berkata:

    Sumpah dari awal q kira sungmin tu pria brengsek, pas ke tengah agak jengkel seolah pada nyalain hyura,nd pas ahir ternyata ade d0nghae yg jahat. 🙂 ya sukur kalo happy ending. feel dapet bgt…

  36. allyn berkata:

    longshoot 😀
    akhirnya semua berakhir dengan manis.. 🙂
    this story so hurt.. bener2 bikin sesek 🙁 tapi nasib bisa berubah dan menjadi sebuah takdir yg manis ..
    kesannya pas baca ni story tuh.. berawal penasaran, habis itu bahagia, terus nyeseknya ga ketulungan tapi terbayar dengan ending mereka bersatu 😉 😀

  37. Khairunnisa berkata:

    Idenya kereeen, unyuuuu.
    Wuuhuuu, I like endingnya.
    Feelnya dapat..
    Cuman bahasanya mgkin yg masih perlu di perhatikan..
    Oke, author fightiinggg! 😉

  38. Riffa berkata:

    keren bgt ceritanya ampe nangis,,, ceritanya gak pasaran,, kasian bgt lee sungmin nya harus mati karna sebuah kesalahpahaman,, ni ff benar” menguras emosi feelnya dapet banget,, ^^

  39. lay lina berkata:

    Ceritanya keren… ^-^ seru..

  40. chochocho berkata:

    Eonni ceritanya sungguh cetar membahana suka pokoknya, lee dongdong manis bingits cie tapi tapi tapi q jga suka ama karakter hyuk dia pintar tumben(?) maksud loe??? Spechless lah eon gag tau mau komen apa lagi

  41. lovey denalisa berkata:

    Baca ini lagi dan nangis lagi.
    kau sukses buat crita yg bkin mata qu bengkak ma alurny eonni.
    nangis sdih nd bahagia..
    untng happy ending 🙂

  42. niul berkata:

    Owaaaah daebak bgt ini ff nya dapet bgt feelnya uhhh nano naon nih ada sedih haru nyesek dkk nya wkwk
    suka bangettttttt!! Karakter main cast nya kuat bgtbakal susah move on nih T.T

  43. leica uw berkata:

    Aney0ng aq reader bru ……
    pernah bca epep m.u yg judulnya D0n’t remember me di wp sebelah, bedanya ma yg disini, disana genrenya nc.

    aq suka sekali ma l0ng sh0t ceritamu yg nie, walaupin panjang k0nflik dri ceritanya ntuh gak memb0sankan, sehingga tanpa sadar bca smpe habis deh 😀 *hehehe

  44. myandromedalee berkata:

    ini ff pertama yg smpai akhir aku baca di blog ini. dan engga nyangka sama alur ceritanya sama sekali! dunia emang sempit banget ya kayanya, bahakan di ff sekalipun. feelnya dpat banget,

  45. kyukyukyuniw berkata:

    Waaww panjang bgt ini .. Puas bacanya.
    Perjalanan kisah cinta hyura dari yg manisss, pahit hingga mais lagi.
    Ahhh kerennnn ffnya

  46. kyura8891 berkata:

    gak salah dah kalo ff ini favoritnya miss hoon..;) gilaaaaa.. panjaaaaang syekali, tapi gak berasa bosan pas bacanya.. feelnya dapet buaaaaangettt kayak ff mu yg lainnya..;) hahahaha..XD sekali-sekali emang donghae harus dinistakan, jangan kyuhyun mulu, aku sebagai istrinya serasa tidak rela..:3 wkakakakaakkaaka..XD

    dulu pertama aku baca ini di wp mana ya?? lupa..:3 di wp sebelah sepertinya.. tapi ngulang-ngulang baca lagi disini..:D

    LANJUTKAN!!!!

  47. Yoon Hyemi berkata:

    Annyeong, hyemi imnida.. Line 91.
    Wooooaaaahhh, ff oneshoot terpanjang yg aku bacaaa…
    Donghae oppa yg lembut dan penyayang lagi castnya..
    Dari kegigihannya menarik perhatian hyura, ketulusannya, kemarahannya, kesalahpahaman, kerinduan yg mendalam semuanya bercampur menjadi satu..
    Sayangnya aku baru buka wp ini. Coba dri dlu… Hhhhh, ijin baca ff yg lainnya yaaaa… 🙂

  48. Lia puspita berkata:

    ceritanya keren banget kaka,
    feel nya dapet banget pas baca ff ini,dari mulai sedih nya,bahagia nya,ampe romance nya juga keren bangetttt….

    buat hyukjae makasih ya udah bantuin donghae buat dapetin hyura..
    dan aku suka sama perennya leeteuk di sini,walau pun hanya sedikit tapi perannya leeteuk keren banget

  49. nia kurnianti berkata:

    entah kenapa setiap ff disini rasanya kurang panjangggggggggggg semua,,,kekeke
    ini campur aduk deh pokoknya

  50. atif309 berkata:

    daebakk .. suka banget sama ff ini ..
    panjang tapi ga bikin bosen, oneshoot juga jadi slesai baca ppuass … hihihihii
    ini ff terkeren yang pernh aku baca ..
    nga kerasa sepanjang apapun .. mengalir begitu saja *ciellllahhh .. 😀
    keep writing and fighting thorrr .. !!

  51. misschoii1 berkata:

    akhirnya happy ending^
    suka banget sama ceritanya. Dulu FF ini sengaja ngga aku baca karena cast nya Donghae biasanya baca dengan cast kyuhyun. Entah kenapa sejak kemarin temanku bilang donghae ingin punya anak namanya haru aku jadi suka donghae 😀 ahh Donghae. #Curhat Fou yang lebih nge-hits daripada ini mungkin karena cast utamanya si abang Cho eonn.. hhee Aku udah tebak kalau donghae hanya pura-pura sama wanita itu, tapi pas baca alasan donghae meninggalkan hyura aku hanya tersenyum sedih saja. Tapi semuanya baik-baik saja. Terima kasih Lee Hyukjae^ Adiknya donghae terobsesi sekali sama sungmin -_- mungkin arti ucapan terakhir sungmin adalah dia ingin memberitahu nama wanita itu jihyun dan sungmin meminta maaf kepada hyura karena telah menyakitinya. Eonni sekalinya post FF baik oneshoot ataupun chapter pasti feelnya berasa banget dan ketikannya panjang sekali. Ditunggu Famiglia part 6 eon, kemarin aku baca lagi yang part 5 hhee Jadi ngga sabar. FIGHTING!!

  52. KyuRa berkata:

    Aduhh ini msh kurang… Abis mereka blm nikah >.< but its okey yg pnting happy end! Yeyyy yippi!!!!!
    #very nice!

  53. Shinherin berkata:

    Keren.
    Bingung harus ninggalin komenan apa.
    Feelnya ngena bgtttt. Coba klo ada sequel. Tambahhh mantepp kali ya

  54. siti nss berkata:

    pokoknya donghae harus bsa ngejaga hub mereka

  55. oriiigamine berkata:

    haaaaa…
    akhirnya happy ending dan so sweeeeeettt.

  56. selene berkata:

    Setelah ngubek-ngubek isi library akhirnya ketemu yg lead cast-nya Hyura-Donghae 😀 … Temanya umum, tapi ff ini keren dgn jalan cerita yg pas bgt 🙂

  57. Nur berkata:

    Ceritanya mengena di hati, sampe bingung mau komentar apa. 🙂

  58. nina berkata:

    Nyesek nyesek gimana gitu..
    Aduhh.. :’)
    Happy ending..
    Feelnya kerasa banget berasa bgt jd hyura maupun jd donghaenya…

  59. Mrs.Donghae berkata:

    Tumben di cerita ini cast’a bukan Kyuhyun. Bahkan ga kesebut sama sekali. Tapi walaupun begitu, cerita ini ttp keren bingits dri awal smp akhir.
    Feel’a dapet bgt. Feeling Hyura ataupun Donghae, semua jelas. Yg baca jdi gregetan!
    Plus, happy ending pula…

  60. aleynayyaracho berkata:

    Salam kenal…..iiihhhhh Keren bgt ya tulisan2mu……prtama baca Aq lgsung suka….pdahal sore td sblm baca ff ini Aq smpt baca novel…..cast’nya cho Kyuhyun….Tp Aq bnr2 bosen dan gak lanjut…..tp malah buka blog ini……dannnnnn sprti dpt hadiah baru….Sumpah FF ini lebih Keren drpada novel yg td smpt kubaca….padahal tau sndiri cho kyuhyun masternya peran dlm sbuah cerita….okelah gak ush dibahas wkwkkkk yg jelas cerita ini kerennnnn dan terimakasih Udah membuat dan mmposting karya se-Keren ini……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *