Don't Remember Me

Judul Cerita     : Don’t Remember Me

Author            : Jeonghoon20180

Main cast         :  Cho Kyuhyun, Park hyura(Oc),

Other Cast       : Lee donghae, Lee Sungmin

 

3087541177_1_3_bBAD7SzV

“Hidupku….dan Hidupmu!!”

“lebih baik aku mati saja”

 “aku akan mengejarmu meskipun harus sampai ke ujung neraka”

Hyura pov

“hah..hah..hah..” aku mengatur nafasku yang sedikit tersengal. Astaga, mimpi itu lagi. entah sudah berapa kali aku mengalami mimpi yang sama. Mimpi abstrak yang tidak bisa kuingat detailnya namun menyuarakan suara-suara aneh dan membuat kepalaku sakit seperti ditusuk-tusuk.

“mimpi buruk lagi?” aku menoleh dan mendapati Kyuhyun ikut terbangun. Kemudian ia menyalakan lampu kecil yang persis ada disebelahnya.

“maaf membangunkanmu” kataku dan berniat beranjak dari tempat tidur tapi tangan Kyuhyun menahan lenganku.

“mau kemana kau?” tanyanya dengan nada sedikit tidak suka

“aku mau ambil air”

“biar aku yang ambil” sahutnya datar kemudian memakai pakaiannya yang tercecer di lantai dan keluar kamar.

Aku menghela nafas lega saat Kyuhyun meninggalkanku. Setidaknya aku butuh waktu untuk  menjernihkan kepalaku. Rasanya aku ingin sekali mengingat apa yang barusan kulihat dimimpiku, tapi aku tidak bisa, karena jika aku memaksa yang ada kepalaku kembali seperti ditusuk-tusuk.

“ini” tanpa kusadari Kyuhyun sudah ada didepanku dan menyodorkan segelas air putih. Tanpa pikir panjang aku mengambil dan meminumnya sampai habis. Aku sendiri cukup terkejut, ternyata aku sehaus itu.

“tidurlah! Besok akan jadi hari yang melelahkan” kata Kyuhyun malas dan kembali berbaring disampingku.

Aku memilih untuk tidak mendengarkannya dan menyenderkan punggungku di kepala ranjang. Hal tersebut menjadi sorotan tajam Kyuhyun. “Hyura-ya tidurlah! Kau tidak lihat ini jam berapa?”

“aku tidak bisa tidur, lagipula besok kita punya waktu yang panjang di pesawat” kataku keras kepala

Kyuhyun menghela nafas kemudian ia menarikku paksa ke dalam pelukannya. “kubilang aku tidak bisa tidur” aku mencoba melepaskan pelukan Kyuhyun. tapi tenaganya jauh lebih kuat dan menahan kepalaku tetap didadanya.

“pejamkan matamu dan mulailah menghitung domba” ia semakin mengeratkan pelukannya dan mulai mengelus pelan kepalaku. Hangat. Pelukan Kyuhyun hangat dan nyaman, membuatku seolah terlindungi. Tanpa sadar tanganku ikut terangkat dan membalas pelukannya.

“aku janji tidak akan ada lagi mimpi buruk” katanya sebelum aku benar-benar terlelap.

***

Kyuhyun semakin mengeratkan pegangan tangannya di jemariku saat keluar bandara Incheon. Seorang pria paruh baya langsung menghampiri kami begitu kami keluar dari pintu kedatangan luar negeri.

“anyyonghasseo Tuan muda Kyuhyun” sapa pria tersebut dan Kyuhyun mengangguk membalasnya. “silahkan tuan, nona. Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu anda di rumah” kami mengikuti pria tersebut ke mobil yang telah menunggu kami di parkiran.

Selama perjalanan pulang Kyuhyun jarang sekali berbicara. Lebih dari 13 jam, perjalanan dari LA ke Seoul bisa dihitung berapa kali ia membuka mulutnya. Sebenarnya ia memang menjadi lebih sering uring-uringan semenjak ayahnya meminta ia kembali ke Seoul beberapa minggu lalu. dan puncaknya hari ini ia benar-benar tidak pernah mengulum senyumnya sedikitpun, walaupun itu untukku.

“kau tidak akan bekerja disini!” katanya tiba-tiba dan otomatis membuatku menatapnya bingung.

“maksudmu?”

“Aku sudah bicara pada eomma, kau akan membantunya di café”

“tapi Kyu….”

“kau akan mulai bekerja jam 10 dan selesai sebelum aku pulang kantor, dengan begitu jam kerjamu lebih flexible” katanya tanpa menoleh ataupun mendengarkan pendapatku.

Aku menghela nafas lelah dan memilih tidak membantahnya. Begitulah Cho Kyuhyun, dia tunanganku yang sangat otoriter. Dia selalu mengatur hidupku tanpa terkecuali. Terkadang aku merasa lelah dan muak, tapi ada bagian dari dalam diriku yang selalu ingin menurutinya dan tidak bisa meninggalkannya.

4 tahun lalu, saat aku membuka mataku untuk pertama kalinya, sosoknya lah yang kulihat. Saat itu ia sangat asing di mataku. Dia bilang namaku Park Hyura dan dia, Cho Kyuhyun adalah tunanganku. tapi sampai satu tahun kami bersama aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Yah Mungkin ini efek karena aku tidak mengingatnya.

“aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi” itulah yang ia ucapkan saat aku bilang tidak mengenalnya. Dan ia membuktikan ucapannya. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, meskipun itu memakan waktu yang cukup lama, setidaknya sampai setahun lalu.

“ayo turun” kata Kyuhyun sekaligus membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk dan turun mengikutinya masuk ke kediaman keluarga Cho. Rumah yang hanya bisa kukunjungi sekali dalam setahun pada saat perayaan natal. Dan itu pun hanya sehari, karena besoknya Kyuhyun pasti sudah membawaku kembali ke LA.

“aigoo~ Hyura-ya, neomu bogoshippo” eomonim menyambut kami dan langsung memelukku.

“ne eomonim, kami juga sangat merindukanmu” sahutku masih dalam pelukannya. Ia menoleh dan mendapati Kyuhyun di sampingku.

“dasar anak nakal” kata eomonim dan melepas pelukanku kemudian memeluk anak laki-lakinya itu.

~

Tidak seperti yang diharapkan, makan malam bersama keluarga Cho tidak seceria biasanya. Kali ini suasana lebih hening dan hanya terdengar dentingan bunyi alat makan. “kalian akan tinggal disini kan?” tanya eomonim sekaligus memecahkan keheningan.

“aniyo, aku sudah membeli rumah yang dekat dengan perusahaan dan KonaBeans” sahut Kyuhyun datar.

“Kyuhyun-ah, kalian belum menikah, tidak baik kalau kalian tinggal bersama” kata Aboenim, jelas sekali ia tidak menyetujui keputusan Kyuhyun.

“kalau begitu percepat pernikahannya” jawab Kyuhyun santai

“baiklah kami akan mempercepat pernikahan kalian, tapi sampai hari itu tiba, kalian harus tinggal terpisah dan biarkan Hyura tinggal disini” kali ini eomonim yang membujuknya.

“SHIREO” sahut Kyuhyun keras atau bisa dibilang ia membentak ibunya. Astaga, apa yang bocah ini pikirkan. Apa susahnya sih membiarkanku tinggal dengan orang tuanya.

“CHO KYUHYUN!! jaga bicaramu! Berani sekali kau berbicara seperti itu pada ibumu” kata aboenim tak kalah kerasnya dengan Kyuhyun.

“Appa! Aku sudah menurutimu untuk kembali kesini meskipun aku tidak mau. Dan sebagai gantinya aku hanya ingin pernikahan kami di percepat, bukannya malah memisahkanku dengan Hyura!”

“dasar anak bodoh! Memisahkan apanya? Dia hanya tinggal bersama kami” geram Aboenim

“Kyuhyun-ah” aku memegang tangan Kyuhyun berusaha menenangkannya, ini hari pertama kami tiba tapi sudah di warnai pertengkaran yang tidak berarti menurutku.

Diluar dugaanku, ia malah menepis tanganku kasar “aku sudah menuruti Appa untuk kembali dan bekerja disini. Tapi Hanya sampai situ batas toleransiku, diluar hal itu sepenuhnya adalah keputusanku. Permisi!” Kyuhyun langsung bangkit dan pergi meninggalkan ruang makan.

“dasar keras kepala” desah Aboenim

“Jesoanghamnida Aboenim, eomonim. Aku akan bicara dengannya” kataku sebelum meninggalkan mereka.

Aku membuka pintu kamar Kyuhyun perlahan. Kamarnya gelap karena ia tidak menyalakan lampu, tapi masih ada sedikit cahaya bulan yang menerobos masuk melalui beranda yang terbuka. Ia duduk di pinggir ranjang dan membelakangiku.

Ia sedikit menoleh saat aku menutup pintu namun tidak berbalik. “kenapa? Kau juga lebih memilih tinggal terpisah denganku?” tanyanya langsung dan masih membelakangiku

“Kyu, ini korea, bukan Amerika. Orang tua mu hanya ingin menjaga nama baik keluarga. Lagipula ini hanya sementara sampai kita menikah”

Ia berdiri dan berbalik menghadapku dengan cepat. Tanpa sadar aku memundurkan kakiku 1 langkah saat ia menatapku tajam, seolah apa yang kukatakan barusan adalah kesalahan fatal.

“menikah? Kapan? 1 bulan? 2 bulan? Atau 1 tahun hah?” katanya penuh emosi.”mereka sudah menjanjikan pernikahan sejak 6 bulan lalu tapi mana? Mereka malah menyuruh kita pulang dan membuatmu menjauh dariku”

“menjauh bagaimana maksudmu? Kita hanya tinggal terpisah dan kau bisa kemari kapan saja, ini kan rumahmu! Lagipula aku tidak akan kemana-mana” kataku tidak sabar, entahlah kali ini aku benar-benar seperti berhadapan dengan anak kecil yang keras kepala.

“kau…” ucapnya tertahan, kemudian ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar “ bagaimana aku bisa melewati satu malam tanpa kau di sampingku Hyura-ya” katanya frustasi.

aku berjalan mendekat dan kemudian memeluknya “nado Kyuhyun-ah, aku tidak bisa melewati malamku tanpamu” kataku lirih. Ia membalas pelukanku dan menyurukkan kepalanya disela leher dan bahuku. “tapi bertahanlah, hanya untuk sementara sampai kita menikah. Demi keluargamu eo”

bukannya menjawabku ia malah mengecupi bahuku dan manjilat leherku “ahh Kyu… sebaiknya akuh….ahhh” aku berusaha melepas pelukannya tapi ia semakin mengeratkan pelukannya

“sebaiknya apa honey hmmm” bisiknya lirih dan mengecupi telingaku sekaligus membuat bulu kudukku berdiri. Ia mulai menghisap-hisap kecil leherku dan membuat tanda disana “Kyu, jangan disituhh, ahhh…nanti eomonim….” susah payah aku berbicara tapi yang keluar malah desahan-desahan yang semakin membuat Kyuhyun bersemangat

Ia mengangkat kepala dan menatapku dalam “biar saja mereka tau, mungkin dengan kau hamil kita bisa menikah dengan cepat”

“Mwo?”

“malam ini kau tidak akan kubiarkan tidur Nyonya Cho” katanya sembari menyeringai

***

“hoaamm” aku menutup mulutku untuk kesekian kalinya. Kyuhyun benar-benar membuktikan ucapannya dan baru membiarkanku terlelap saat menjelang subuh.

“Hyura-ya kau lelah? Sebaiknya kau beristirahat saja” suara lembut eomonim menginterupsiku

Aku tersenyum simpul kemudian menggeleng lemah “aniyo eomonim, gwenchana. Lagipula ini baru tengah hari”

“mianhe, gara-gara Kyuhyun kau jadi harus bekerja disini” kata eomonim sarat akan penyesalan “anak itu memang sangat keras kepala jika sudah menyangkut dirimu” desahnya lagi

“gwenchana, dengan begini aku jadi bisa membantu eomonim”

“tapi pekerjaan ini sebenarnya bisa dikerjakan oleh pekerja paruh waktu, dan bukan kau”

Aku tersenyum kaku mendengarnya, Entahlah aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Kyuhyun dengan memintaku untuk membantu ibunya di KonaBeans, padahal menjaga kasir bisa dilakukan siapapun. Dan akhirnya aku tidak bisa bekerja sesuai bidangku.

~

Aku menunduk dalam pada eomonim sebelum meninggalkan KonaBeans “sampai besok eomonim”

“ne hati-hati dijalan” sahutnya dan menepuk bahuku ringan.

Aku mengangguk kemudian berbalik dan berjalan ke luar, menghampiri mobil Kyuhyun yang sudah menungguku.

Pada akhirnya aku, aboenim ataupun eomonim tidak ada yang bisa mencegah keinginan Kyuhyun untuk tinggal dirumah yang telah ia beli. Dan dengan begitu aku semakin terkekang. Setiap hari aku diantar jemput oleh Kyuhyun ke KonaBeans, dan dia tidak akan membiarkanku pergi sendirian.

“bagaimana hari pertamamu di kantor?” tanyaku begitu masuk ke mobil Kyuhyun

“biasa saja” sahutnya datar sembari menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.

“Kyu, aku harus ke supermarket sebentar. Kita tidak mempunyai apapun dikulkas”

“kita pergi bersama” jawabnya masih dengan fokus jalanan di depannya.

~

Kupikir ini ide yang cukup bagus mengajak Kyuhyun berjalan-jalan meskipun hanya ke supermarket. Dia cukup banyak menjelaskan beberapa jenis barang yang tidak bisa ku temui di LA. Disini aku juga cukup banyak menemukan makanan yang bisa dimakan gratis sebagai tester. Tapi berita buruknya, aku sama sekali tidak bisa memasak masakan korea, sedangkan Kyuhyun memasukkan belanjaan yang tidak kumengerti cara memasak.

“kyu, bisakah kita makan dengan makanan yang biasanya” kataku saat ia memasukkan bungkusan yang dia bilang itu namanya Chunjjang. Dia menatapku sesaat kemudian mengangguk mengerti. “mianhe, aku lupa kau belum terbiasa” katanya dan mengembalikan beberapa barang kembali ke raknya.

Setelah membayar ke kasir aku menunggu Kyuhyun yang sedang mengambil mobil di pintu masuk.

“Hyura-ya” aku membalikkan tubuhku saat mendengar suara dibelakangku. Terlihat seorang pria yang sangat manis memandangku lekat. Ia melihatku dari atas sampai bawah.

“ne, nuguseyo?”

“K kau benar-benar Park Hyura?” tanyanya lagi dengan nada takjub.

Aku mengerutkan keningku. dasar aneh, kalau dia tidak yakin kenapa memanggil namaku. “ne, nuguseyo?” aku mengulang pertanyaanku

“kau tidak mengenalku?”tanyanya tidak percaya dan ia berjalan semakin dekat denganku. Ia manatap mataku dalam,

jantungku berdetak lebih cepat saat matanya yang mengintimidasi memerangkap mataku. Tanpa sadar aku mundur satu langkah “k kau mengenalku?”

“ternyata kau benar-benar sudah melupakanku” gumamnya lirih.

“bu bukan begitu” selaku buru-buru “mianhe, bukan aku melupakanmu. Tapi….” Aku sedikit ragu apa aku harus menceritkannya pada orang yang baru kutemui.

“tapi….?” Tanyanya menunggu

“sebenarnya 4 tahun lalu aku mengalami kecelakaan, dan aku tidak mengingat apapun” jawabku akhirnya. Sepertinya dia benar-benar mengenalku, jadi kupikir tidak masalah untuk memberitahunya.

“apa? kecelakaan?” dia terbelalak mendengar pernyataanku dan aku hanya mengangguk mengiyakan.

Tiinnn Tiinnnn

Aku sedikit tersentak mendengar suara klakson mobil didepanku “mianhe, aku harus pergi” tanpa menunggu jawabannya aku mengambil kantong belanjaanku dan masuk ke mobil Kyuhyun.

“sudah kubilang berapa kali!!Jangan pernah bicara pada orang asing!!” hardik Kyuhyun begitu aku masuk ke mobilnya

“dia hanya tanya jalan” dustaku. Entahlah aku merasa tidak perlu berbicara hal yang sebenarnya pada Kyuhyun

“apa dia pikir kau ini penunjuk jalan? Memangnya tidak ada bagian informasi atau satpam?”

“sudahlah Kyu, ini bukan sesuatu yang harus diributkan!”

Dia mendengus kasar kemudian dengan terburu-buru ia memacu mobilnya 2 kali lebih cepat dari biasanya. Kulihat dari sudut mataku mulutnya masih menggerutu tidak jelas.”mulai besok setiap jam makan siang kau akan bersama denganku!” katanya tegas atau bisa dibilang itu perintah “kita akan makan siang bersama” tambahnya

“wae? Saat jam makan siang KonaBeans sangat ramai” protesku

“justru itu, tadi kulihat kau selalu tersenyum pada para pria. Apa kau tidak lihat bagaimana cara mereka menatapmu?”

“ya! Mereka itu pelanggan, masa aku harus cemberut saat melayani mereka”

“tapi kau tidak perlu tersenyum semanis itu pada mereka, senyum itu hanya aku yang boleh melihatnya. Arra!!”

“cih, kekanak-kanakan”

Dia menoleh cepat ke arahku dan memelototti ku “wae?” tantangku dan balas memelototinya.

“kau selamat karena ini masih dijalan, kalau tidak aku pasti akan langsung menyerangmu” aku sedikit bergidik mendengarnya. Kyuhyun adalah tipe orang yang selalu memegang kata-katanya, bahkan dulu saat di LA kami pernah bercinta di dalam perpustakaan karena aku lupa waktu dan membuatnya menunggu terlalu lama. Seberapa besar kami bertengkar pasti akan selalu berakhir di tempat tidur.

“kenapa? Kau takut?” Ejeknya begitu melihat ekspresiku “pushy” desisnya

im not pushy Mr Cho! Malam ini biar aku yang memimpin”

as your wish honey” sahutnya menyeringai

***

Author pov

“Aaahh… Kyuu…uuughh…” suara erangan itu terdengar dari kamar Kyuhyun dan Hyura di rumah baru mereka.

Hyura  melenguh sambil mendekap kepala kyuhyun, milik pria itu menekan kuat titik nikmatnya, membuatnya klimaks sementara Kyuhyun menyemburkan cairannya saat ia mengerang panjang.

“kau lelah” bisik Kyuhyun lembut dan mengecup kening Hyura penuh sayang. Gadis itu mengangguk pelan dan bergelung turun dari atas badan Kyuhyun dan memeluknya. Kyuhyun pun menarik selimut dan mendekap Hyura posesif.

“jangan pernah lakukan itu lagi!”kata Kyuhyun lembut dengan nada sedkit memohon.

“apa?” gumam Hyura di dada Kyuhyun.

“jangan pernah bicara pada orang asing, siapapun itu! atau aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah ini. Bahkan sesentipun” ujar Kyuhyun masih dengan nada lembut namun tegas.

“Hmmm” Hyura kembali bergumam, sebenarnya ia tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan Kyuhyun karena ia terlalu lelah.

“saranghae. Jeongmal saranghae Park Hyura” bisik Kyuhyun kemudian mengecup puncak kepala Hyura dan semakin mengeratkan pelukannya

***

“ini pesanan anda tuan” Hyura meletakkan kopi pesanan pelanggannya. Ia baru berbalik hendak menuju konter tapi ada tangan yang menahan lengannya.

“Nona Park!” sapa seorang pria begitu Hyura menghadapnya. Gadis itu begitu terkejut melihat pria yang semalam ia temui di supermarket datang ke KonaBeans.

“k kau, bukankah pria yang semalam?” tanya Hyura takjub, entah untuk alasan apa Hyura sangat senang bertemu kembali dengan pria ini. “bagaimana bisa kau….”

“plat nomer” sahut pria tersebut cepat. “berkat plat nomer mobil yang kau tumpangi semalam. Apa kau punya waktu?” tanya pria tersebut to the point

Hyura menoleh cepat ke kiri dan ke kanan seolah takut ada yang melihat mereka “15 menit lagi kutunggu kau di parkiran gedung sebrang” bisik Hyura sepelan mungkin tapi pria itu masih bisa mendengarnya “dan kuharap kau membawa mobil” kata Hyura lagi sebelum meninggalkan pria itu.

Tokk tokk

“masuk” sahut orang dari balik pintu

Hyura memasuki ruangan tersebut dengan sedikit gugup, ia tidak terlalu pandai dalam urusan berbohong.

“oh Hyura-ya, ada apa? Apa ada masalah di bawah?” tanya Nyonya Cho ramah

“aniyo eomonim, aku hanya..hanya mau minta izin untuk pulang lebih awal. Sepertinya aku kurang enak badan” kata Hyura tertunduk

“benarkah?” tanya eomonim terkejut “apa perlu ku telpon Kyuhyun?”

“ani, aniyo eomonim” sergah Hyura cepat “aku hanya anemia, aku bisa pulang naik taksi”

“tapi Kyuhyun bisa marah kalau dia tau kau sakit tapi tidak menghubunginya”

“gwenchana eomonim, ini hanya anemia dan aku Cuma perlu beristirahat sebentar” keringat dingin mulai membasahi tengkuk Hyura, sulit baginya untuk terus beralasan

“tapi Hyura-ya…”

“kalau begitu aku permisi” potong Hyura cepat sebelum calon ibu mertuanya itu berbicara lagi.

Gadis itu menghembuskan nafas lega saat keluar dari KonaBeans dan berlari menyebrang menuju parkiran gedung sebrang.

~

Hyura menghampiri pria yang tadi mengunjunginya di cafe. Pria tersebut terlihat elegan dengan pakaian yang tidak terlalu formal namun terkesan rapi sambil menyender di kap mobilnya.

“menunggu lama?” sapa Hyura dan otomatis membuat pria tersebut mendongak.

Pria itu mengulum senyumnya dan menggeleng pelan “kajja, mumpung sudah disini aku ingin menunjukkan suatu tempat padamu”

Hyura mengernyitkan keningnya “kemana?”

“naik saja” sahutnya kemudian membukakan pintu mobil untuk Hyura

***

Hyura pov

Aku sedikit ragu saat pria yang tidak ku ketahui namanya ini mengajakku memasuki pekarangan sebuah rumah. “ini rumah siapa?” tanyaku akhirnya

“ini rumahmu”

“mwo?” aku terbelalak kaget saat mendengarnya. Rumahku? Sejak kapan aku punya rumah di Seoul?

“kau bilang kau tidak ingat apapun? Apa kau tidak pernah mencoba mencari identitas dirimu?”

“identitas? Aku tau siapa diriku. Namaku Park hyura dulu aku berkuliah di Kyunghae University kemudian karena kecelakaan aku pindah ke LA dan meneruskan pendidikanku disana” jelasku

“lalu bagaimana dengan orang tuamu?” tanya pria itu skeptis

“mereka sudah meninggal” sahutku mantap

“apa kau pernah mengunjungi makam mereka?” tanyanya lagi. Dia seperti detektif yang mengintrogasi tersangkanya

“tentu. Setiap natal aku pasti mengunjungi mereka”

“bagaimana orang tua mu meninggal dan bagaimana kau bisa kecelakaan?”

“apa aku harus menceritakan hal itu padamu?” protesku, dia benar-benar seperti sedang mengorek-ngorek kehidupanku

“tidak juga, tapi aku hanya ingin mendengar versimu dan versiku”

“versi ku?” tanyaku semakin bingung

Pria didepan ku ini tersenyum miris. Kenapa dia? “kau membuatku bingung” kataku terus terang.

“sebenarnya aku sangat terkejut begitu mengetahui ternyata mobil yang semalam kau naiki adalah mobil Cho Kyuhyun” katanya dengan nada sinis kemudian ia kembali tersenyum miris “tragis” katanya lirih tapi aku masih bisa mendengarnya

“kau kenal Kyuhyun?” tanyaku kaget ternyata pria didepanku ini mengenal tunanganku

“tentu saja aku mengenalnya. Karena 4 tahun lalu kami berseteru di pengadilan”

“pengadilan?” tanyaku bingung. Setauku Kyuhyun tidak pernah terlibat kasus hukum

Dia mengangguk pelan kemudian menatapku tajam “dan itu untuk membela mu Hyura-ya”

“YA! Kau membuatku semakin bingung!! Apa kau tidak bisa menceritakannya dengan jelas” sejujurnya aku takut dengan apa yang akan orang ini katakan. Entahlah aku merasakan firasat yan tidak enak.

Dia menghela nafas sebelum kembali berkata “baiklah sepertinya aku harus membawamu menemuinya langsung” kata pria itu dan langsung berbalik menuju mobil

“Ya! Kau mau kemana? Kita mau menemui siapa?” teriakku tapi dia tidak menggubrisnya. Aisshh pria ini sungguh menyebalkan.

~

Kami memasuki sebuah rumah sakit terbesar di seoul. Selama perjalanan aku terus bertanya padanya tapi ia sama sekali tidak berniat menjawabnya. Dia hanya bilang “akan kukatakan setelah kau melihatnya”

Aku memasuki sebuah ruang perawatan VIP dan disana terbaring seorang pria tampan yang dilengkapi dengan selang-selang yang membantu menopang hidupnya.

DEG

Perasaan apa ini? Jantungku seperti dipukul-pukul dengan palu, Dadaku nyeri saat melihat wajah pucat pria itu. Dan aku merasakan kerinduan yang amat sangat menyergap hatiku. Tanpa terasa air mata menetes disudut mataku. Dengan cepat aku mengusapnya agar pria didepanku ini tidak melihatnya.

“si siapa dia?” tanyaku gugup

“dia adikku Lee Donghae. dan dia adalah tunanganmu”

“Mwo? Tunangan?” aku memandangnya tak percaya tapi aku tidak menemukan kebohongan atau keraguan sama sekali di wajahnya. Yang ada hanya keseriusan dan kepedihan “Jadi kau?” tanyaku menggantung

“oh ya, aku lupa mengenalkan diriku. Aku Lee sungmin, calon kakak iparmu”

“tapi sekarang aku…”

“aku tau” potongnya cepat “sekarang kau adalah tunangan Cho Kyuhyun, dan karena itu juga membuatku sulit untuk menyeretnya lagi ke pengadilan”

Aku berdecak kesal “bisa tidak kau berbicara dengan jelas? Ucapanmu membuatku bingung”

Sungmin mendesah dalam kemudian memandang Donghae nanar “adikku sudah lebih dari 4 Tahun terbaring disini. Bahkan Kedua orang tuaku hampir menyerah tapi aku yakin ia masih punya kesempatan hidup”

Sungmin berjalan mendekati Donghae dan menggenggam tangannya. Kemudian ia melepaskan cincin yang tersemat di jari manis pria itu. “malam itu hari pertunanganmu dengan Donghae. masih bisa kuingat bagaimana tawa bahagianya saat memasangkan cincin ini di jarimu” Sungmin mendekati ku dan meletakkan cincin yang baru ia lepas dari tangan Donghae ke telapak tanganku.

“tapi malam itu juga terakhir aku melihat tawanya, karena kalian mengalami kecelakaan. Donghae koma dan kedua orang tua mu meninggal di tempat sedangkan kau menghilang dari tempat kejadian”

“kupikir kau memang tidak ikut dengan mobil itu karena jejakmu sama sekali tidak ditemukan disana”

“lalu apa hubungannya dengan Kyuhyun?” tanyaku takut-takut

“Kyuhyun lah yang menabrak mobil mereka dan mengakibatkan mobil itu keluar dari jalur kemudian terlindas oleh truk dari arah yang berlawanan”

“a apa kau bilang?” tanyaku tercekat

“yah begitulah, sekarang kau bertunangan dengan orang yang telah membuatmu kehilangan ingatanmu, orang tuamu dan tunanganmu yang sebenarnya. Tragis bukan?” katanya dan diiringi tawa miris

Lututku lemas, rasanya aku bisa terjatuh kapan saja. tenggorokanku tercekat dan cairan bening itu menetes begitu saja tanpa bisa kutahan lagi. Sungmin menghampiriku dan langsung memelukku “sebenarnya aku berharap kau mencari tau nya sendiri dan bukan mendengar dariku” katanya dengan sedikit nada menyesal. Aku semakin mengeratkan peganganku di kemejanya dan tersedu-sedu disana.

“aku menyayangimu seperti adikku sendiri, sekarang kau sudah tau semuanya dan keputusan sepenuhnya ada ditangan mu”katanya tenang dan masih memelukku.

***

aku menatap nanar rumah Kyuhyun. entah apa yang akan kuhadapi setelah memasukinya. Aku pergi terlalu lama dan aku mematikan ponselku. Tapi aku tidak peduli lagi dengan pria itu, pria yang secara tidak langsung mengahancurkan hidupku dan menipuku mentah-mentah.

Dengan lunglai aku membuka dan menutup pintu. seperti dugaanku, Kyuhyun sudah berdiri menungguku dan menatapku tajam seolah ia ingin menelanku hidup-hidup. Tapi tatapan itu sudah kehilangan kuasanya dan menjadikannya tidak berarti apa-apa.

“darimana saja kau?” tanyanya tajam dan mengintimidasi. Saat ini Tubuh dan pikiranku sangat lelah jadi aku memilih untuk tidak menghiraukannya. Aku tidak punya tenaga untuk bertengkar dengannya.

“aku berbicara pada mu Park HYURA” bentaknya dan menahan lenganku. Aku menatap tangannya yang memegang lenganku dengan sinis kemudian mengangkat wajahku dan menatapnya tak kalah sinis

“nuguseyo?”

Ia terbelalak kaget Dan kurasakan pegangannya mengendur. Dengan segera aku menepis kasar pegangan tangannya. “Hy Hyura-ya, apa maksudmu dengan siapa? Ini aku!”

Aku tersenyum sinis “geurom, ini memang kau. Tuan Cho Kyuhyun yang terhormat! Dan kau adalah tunangan ku, tapi…” aku sedikit memberi jeda pada ucapanku “apa benar kau adalah tunanganku? Karena aku tidak pernah merasa kita pernah mengadakan acara pertunangan”

“i itu…” dia terlihat gusar tapi hanya sepersekian detik hingga ia bisa mengusai dirinya lagi “bukankah sudah kubilang, kita bertunangan sebelum kau kecelakaan dan kau tidak mengingatnya sama sekali” rasanya aku ingin muntah mendengarnya, ia terus-terusan menipuku.

Pria ini yang selalu mengata